Chapter 6

White Christmas


Markas Angkatan Laut Yokosuka sedikit demi sedikit mulai sedikit sepi. Semua Gadis Kapal mulai merasakan hal tersebut karena jarang sekali melihat Laksamana mereka. Kecuali, tentu saja karakter utama kita, Viltus Amarov yang sedang beristirahat dari bekerja.

Ia memperhatikan salju yang terus turun dari kemarin. Ia langsung berkata,

"Sepertinya... Harus mulai membersihkan salju deh... Ini sudah terlalu banyak..."

Viltus langsung menghela nafas dan kemudian duduk kembali di kursinya. Tidak berapa lama, terdengar ketukan dari luar diiringi suara dari Taihou dan Yuudachi. Viltus langsung mempersilahkan mereka berdua masuk.

Taihou masuk sembari membawa nampan minuman dengan dua gelas berisi coklat panas. Taihou langsung memberikan satu gelas kepada Viltus, yang langsung dibalas oleh Viltus,

"Terima kasih banyak, Taihou."

"Sama-sama, Viltus" Jawab Taihou sembari tersenyum.

Viltus langsung meminum coklat panasnya, sementara Taihou memperhatikan dokumen yang dikerjakan oleh Viltus. Sementara, Yuudachi langsung duduk di sofa di kantor Viltus dan membaca manga yang ia simpan di sana.

Sembari membaca dokumen tersebut, Taihou langsung berkata,

"Viltus, rasanya Yokosuka menjadi sedikit sepi ya..."

"Tentu saja... Mayoritas sudah kembali ke kampung halaman masing-masing untuk bertemu keluarga mereka... Sembari menunggu tahun baru."

"Padahal tahun baru kan masih dua minggu lagi..."

"Ya... Itu karena ada beberapa Laksamana dari luar negeri, butuh waktu untuk pulang pergi. Laksamana Ichijou sendiri sudah memberi lampu hijau kepada semuanya untuk kembali ke kampung halaman masing-masing lebih awal... Ya, itu untuk mengisi semangat mereka kembali."

"Laksamana Kouga juga pulang ?"

"Iya. Bagusnya sih... Tidak terlalu banyak dokumen yang dikerjakan. Jadi aku dapat tenang sedikit."

Mendengar itu, Yuudachi langsung menjatuhkan manga yang ia baca dan Taihou langsung mundur sedikit. Viltus kemudian berkata,

"Ada apa ? Apa karena aku berkata seperti tadi ?"

"Tentu saja... Dirimu yang senang bekerja berkata seperti itu..." Ujar Taihou dengan wajah yang sangat terkejut.

"Ada saatnya aku jenuh dengan pekerjaan, mengerti ?"

"Iya sih... Tapi, aku tidak menyangka keluar dari mulutmu."

Viltus hanya tertawa saja mendengar komentar dari Taihou. Yuudachi melihat ke arah Taihou yang mendapat tanda dirinya pun tidak tahu apa yang dipikirkan oleh Viltus. Taihou kemudian ingat sesuatu dan bertanya,

"Viltus... Apa kau..."

"Aku tidak pulang... Ayah masih di sini untuk siaga jika ada masalah... Dan karena ayah masih di sini, maka aku tidak pulang..."

"Ah..."

"Ditambah Shiro-nee juga kemari selama satu minggu... Perutku sakit memikirkan hal tersebut..."

"Ahahahaha... Aku mengerti..."

Taihou kembali membaca dokumen yang berisi ijin untuk kembali ke kampung halaman masing-masing. Mendadak Viltus berkata,

"Seandainya saja semuanya pulang... Tentu saja tempat ini akan sangat tenang..."

"Huh ? Memangnya ada yang tidak pulang selain dirimu ?"

"Ada... Dan mereka adalah..."

Belum sempat menyelesaikan apa yang ada di kepalanya, pintu dibuka seperti dibanting oleh seseorang. Di sana berdiri dua orang yang sangat familiar bagi mereka bertiga. Mereka adalah Elisa von Manstein, mekanik divisi Viltus, dan Magyar Libyet, pembaca radar di kapal komando Viltus.

Viltus melihat mereka berdua dengan wajah yang tanpa ekspresi khasnya, dan membenarkan posisi kacamata miliknya sekaligus berkata,

"Mereka..."

"Ahahahaha..."

Taihou langsung tertawa kecil melihat Elisa dan Magyar yang baru tiba di ruangan tersebut. Elisa dan Magyar langsung berkata secara bersamaan,

"Viltus !"

"Daripada kau terus menunjukkan wajah tanpa ekspresimu di bulan yang indah ini..." ujar Elisa.

"Bagaimana jika kita semua membuat sebuah acara..." Magyar langsung menimpali Elisa.

"Dan berhubung ini bulan Desember..."

"Dan satu minggu lagi adalah hari itu..."

"Kami berdua..."

"Sudah memikirkan..."

"Satu acara yang sangat cocok..."

"Itu adalah..."

Elisa dan Magyar melihat satu sama lain dan kemudian berkata secara bersamaan,

""PESTA NATAL !""

Taihou tidak dapat berkata apa-apa mendengar hal tersebut, hanya tertawa kecil saja. Yuudachi terlihat antusias pada saat mendengar hal tersebut. Sementara, Viltus memberikan tatapan yang akan membunuh mereka berdua, atau lebih tepatnya menghukum mereka berdua.

Viltus menghela nafas dan kemudian berkata,

"Kalian berdua... Apakah kalian tidak memiliki pekerjaan lain selain memikirkan membuat acara seperti itu ?"

"Tidak ada !" ujar Elisa sembari mengembangkan dadanya, diiringi anggukan dari Magyar.

"Aku rasa kalian seharusnya memiliki pekerjaan lain... Benar ?"

"Ahahahahaha... Mengenai itu..."

"Seperti dugaanku... Ker..."

"Tapi sekarang sedang suasana libur ! Sebaiknya tidak bekerja selama dua minggu ini..." ujar Magyar.

"Tidak ada tapi-tapi... Dan untuk acara itu, aku..."

"Apa kau dapat menolaknya melihat tatapan antusias dari dia !"

Elisa dan Magyar menunjuk ke arah Yuudachi yang terlihat sangat antusias dan senang akan diadakan acara yang sangat besar. Layaknya seorang anak kecil yang diberikan sesuatu. Viltus langsung terdiam.

"Kau tidak akan membiarkan harapan anak murni seperti dia sirna benar ?" ujar Elisa

"Dan tentu saja kau orang yang cukup baik untuk mengabulkan acara tersebut... Untuk mata yang murni ini !" ujar Magyar.

Viltus terdiam. Taihou langsung melihat ke arah Viltus dan merasakan aura yang seperti mengatakan, 'Aku akan menghabisi mereka suatu hari nanti jika aku ada kesempatan'.Taihou langsung menenangkan Viltus yang sudah hampir sampai di ujung kesabarannya mendengar desakan dari Magyar dan Elisa.

Mendadak terdengar suara seseorang dari luar ruangan,

"Kantormu sangat hidup sekali, Viltus..."

"Tunggu... Suara ini..." ujar Viltus mendengar suara tersebut.

Setelah itu muncul seorang wanita dengan rambut merah yang diikat braid dan mengenakan sebuah baju hitam dengan jaket hijau tua. Ia mengenakan sebuah celana jeans biru muda. Ia tersenyum ke arah Viltus dan menyapanya,

"Lama tidak jumpa, Viltus."

"Shiro-nee ! Kau sejak kapan di sini ?"

"Dari kemarin aku sudah sampai di Yokosuka, dan aku sudah bertemu beberapa Gadis Kapal dari divisimu."

Viltus langsung melihat ke arah Taihou, yang menggaruk-garuk pipinya sembari menghindari tatapan dari Viltus. Viltus langsung berkata,

"Mengapa kau..."

"Laksamana Yanagi yang memintanya..."

"Uuuhhh..."

Pada saat ia melihat kembali ke arah Shiro, ia melihat Magyar dan Elisa memberitahu rencana mereka untuk menghabiskan waktu minggu depan, lebih tepatnya pada saat natal. Shiro mengangguk-angguk sebentar, dan kemudian tersenyum. Ia melihat ke arah Viltus, dan tersenyum kembali. Viltus langsung mengetahui apa yang ada di dalam pikiran dari Shiro. Shiro langsung berkata,

"Viltus... Menurutku sih... Ada baiknya mengadakan acara seperti itu..."

"Tidak kau juga..."

"Sebaiknya kau beristirahat di saat seperti ini..."

"..."

Mendadak Magyar berkata,

"Benar apa kata kakak... Yang harus kau lakukan adalah menikmati saat libur ini !"

"Tepat sekali... Kakak benar !" Elisa menimpali Magyar.

Viltus langsung melihat ke arah jendela, berharap setidaknya jendela terbuka agar dirinya dapat melompat dari ruangan tersebut meninggalkan pembicaraan saat ini. Namun, ia mengurungkan niat tersebut. Itu semua karena beberapa hal. Satu, jendela kantornya tertutup rapat. Kedua, kantor dia ada di lantai tiga dan di bawah sana ada banyak batu di balik salju. Dan ketiga, jika selamat dia akan dimarahi oleh Houshou DAN Taihou.

Viltus memilih untuk tidak menyerah begitu saja. Pada saat ia bermaksud memberi alasan lain, terdengar suara dari ayahnya,

"Wah... Wah... Seperti biasa ada keributan di sini, ya... Namun, kali ini sepertinya berbeda..."

Tadahisa langsung muncul bersama Houshou dengan sedikit tertawa kecil. Pada saat melihat Shiro, Tadahisa langsung berkata,

"Wah... Wah... Putriku yang cantik sudah tiba di Yokosuka rupanya. Tidak menyapa ayahnya, namun langsung bertemu dengan adiknya."

"Halo, ayah. Maaf tidak memberitahu perihal kepulangan diriku."

"Ahahahaha... Tidak apa-apa. Daripada itu, tumben Laksamana Ichijou memberikan waktu libur lebih cepat..."

"Dia berkata cukup rindu dengan cucu-cucunya, jadi memberikan kami libur cukup cepat. Namun, ada beberapa yang memilih tinggal. Jika ada masalah, aku langsung kembali ke Kure."

"Ahahahahaha... Luar biasa sekali."

Tadahisa melihat ke arah semua orang di dalam ruang kerja Viltus, dan kemudian berkata

"Untuk sebuah ruangan yang cukup sempit, ada cukup banyak orang ya... Ada apa gerangan..."

Sebelum Viltus sempat memberitahu, Magyar dan Elisa langsung memberitahukan rencana mereka. Tadahisa langsung tersenyum dan tertawa,

"Ohohohohoho... Pesta Natal dengan semua Gadis Kapal... Menarik sekali..."

"Jadi, bagaimana Laksamana Yanagi ?" ujar Magyar.

"Tentu saja aku izinkan."

Magyar dan Elisa langsung senang mendengar hal tersebut. Viltus langsung jatuh seperti seseorang yang kalah. Namun, ia langsung sadar sesuatu dan kemudian berdiri. Ia langsung berkata,

"Baiklah... Pemimpin tertinggi sudah memberi ijin... Namun, kalian setidaknya harus mendengarkan dari pihak Gadis Kapal !"

"Viltus... Kau tahu... Kau sudah kalah... Kau ingin meminta siapa ?" Ujar Elisa dengan wajah sedikit meledek Viltus.

"Tentu saja... Taihou, menurutmu bagaimana ?"

Magyar dan Elisa terlihat terkejut pada saat Viltus berkata demikian. Taihou langsung berpikir sejenak, dan kemudian berkata,

"Dari kami sih... Bukan masalah. Lagipula kau harus beristirahat seben... Hei, Viltus... Viltus !"

Viltus langsung duduk di kursinya, dan kehilangan semangatnya. Ia langsung bergumam,

"Tidak ada... Tidak ada yang di pihakku... Tidak ada... Huhuhuhuhu..."

Magyar dan Elisa saling melihat satu sama lain dan kemudian keduanya berjalan ke dekat Viltus dan menepuk pundaknya. Magyar yang berkata lebih dahulu,

"Sudahlah... Ikut saja."

"Pasti menyenangkan koq..." ujar Elisa.

Viltus melihat ke arah Elisa dan Magyar dengan wajah yang sedikit kurang yakin. Magyar kemudian membisikkan sesuatu ke Viltus. Setelah mendengar itu, wajah Viltus sedikit memerah dan kemudian berdiri.

Ia menarik nafas panjang, dan kemudian berkata,

"Baiklah... Baiklah... Aku kalah. Aku akan membantu kalian berdua."

Elisa dan Magyar langsung menepuk satu sama lain melihat perubahan sikap dari Viltus. Mereka akhirnya tahu bagaimana cara membuat suasana dari Viltus sedikit berubah, dan semakin yakin mengenai sesuatu. Namun, pada saat mereka senang, Viltus langsung membuat angka tiga dan berkata,

"Tiga..."

"Ah... Tidak dua..."

"Tiga... Atau aku hanya akan melihat saja."

"Baiklah... Kami akan berikan itu."

Magyar dan Elisa langsung melihat ke dompet masing-masing dan menghela nafas. Setidaknya mereka mendapat bantuan dari Viltus untuk acara tersebut.


Setelah itu, mereka menyuruh Yuudachi untuk pergi dan memanggil dari masing-masing kelas satu wakil selain dari Kapal Perusak. Pada saat Yuudachi bertanya mengapa, Viltus hanya menjawab singkat,

"Rahasia."

Tidak berapa lama, ruang kerja Viltus sudah terisi cukup banyak orang. Banyak orang mungkin berlebihan, namun di sebuah ruangan yang kecil jumlah ini cukup banyak. Di sana duduk Tadahisa, Shiro, Viltus, Magyar dan Elisa dari pihak manusia yang ingin membuat acara. Dan dari Gadis Kapal, muncul Nagato, Taihou, Akagi, Houshou, Myouko, dan Noshiro.

Tadahisa langsung berkata,

"Kalian semua tentu saja sudah mendengar acara apa yang akan kita bicarakan sekarang ini, benar ?"

"Iya. Mengenai natal..." ujar Nagato.

"Apa kalian merasa keberatan jika diadakan acara tersebut ? Aku akan berikan waktu kepada kalian semua untuk memberitahu pemikiran kalian masing-masing."

Nagatolah yang pertama kali berdiri. Ia langsung berkata,

"Kami dari kelas Kapal Tempur merasa itu diperlukan untuk berkenalan dengan beberapa Laksamana di sini. Dan aku dengar salah satu Laksamana di sini sudah terbiasa berbicara dengan beberapa Gadis Kapal."

Nagato melihat ke arah Viltus. Viltus hanya tertawa kecil saja mendengar hal tersebut. Nagato langsung berkata,

"Setidaknya kami sudah sering mendengar hal tersebut, Mutsu tidak melaporkannya kepada Laksamana Ichijou."

"Ahahahahahaha..."

"Jadi, lain kali undang kami. Katakan saja kapan kepada diriku."

"Tentu saja."

Viltus mengangguk mendengar apa yang dikatakan oleh Nagato. Mulut Elisa dan Magyar langsung terbuka lebar pada saat mendengar hal tersebut. Sementara, Tadahisa dan Shiro hanya tertawa kecil saja. Kemudian, Akagi berkata,

"Kami tidak masalah... Ada catatan dari Junyou dan Chitose... Mereka meminta untuk disiapkan beberapa sake saja..."

"Untuk alkohol tidak masalah, namun itu akan diberikan setelah semua Gadis Kapal dari kelas Kapal Perusak tidur. Aku tidak ingin mereka terpengaruh oleh kita semua." ujar Viltus sembari menyandarkan diri di sofa yang tersedia.

"Jadi... Alkohol diijinkan..."

"Setelah Kapal Perusak tidur... Aku tidak ingin berurusan dengan ne... maksudku Houshou karena masalah ini."

Viltus memalingkan wajahnya dari Houshou yang tersenyum ke arah dirinya. Walaupun sudah cukup lama semenjak Viltus diceramahi oleh Houshou, ia masih takut kepada Houshou. Viltus kemudian menarik nafas panjang dan berkata,

"Baiklah... Selanjutnya... Berhubung sepertinya dari Kapal Induk sudah diberikan oleh Akagi, jadi kita langsung ke Myouko-san... Apakah kalian akan ikut ?"

"Tentu saja ! Apa lagi sekarang ada Shiro-san di sini."

Myouko langsung melihat ke arah Shiro dan tersenyum. Viltus langsung mengangguk mendengar hal tersebut. Belum sempat ia bertanya kepada Noshiro, Noshiro langsung berkata,

"Kami tidak masalah."

"Baguslah."

"Tapi daripada itu... Mengapa tidak mengajak dari Kapal Perusak kemari ? Aku yakin mereka..."

"Itu mudah. Karena kita akan membuat sebuah acara dengan mengirimkan salah satu dari kita menjadi Ded Moroz."

Semuanya terlihat cukup bingung pada saat Viltus mengucapkan nama tersebut. Pada saat itu, Viltus langsung menepuk keningnya dan kemudian berkata,

"Ahahahaha... Maafkan aku. Yang kumaksud adalah seseorang dari kami akan menjadi santa untuk membagikan hadiah kepada mereka semua."

Viltus kemudian menjelaskan beberapa hal mengenai acara tersebut. Magyar dan Elisa sangat terkejut dengan penjelasan dari Viltus, karena acara yang dikatakan oleh Viltus jauh lebih baik dari yang mereka pikirkan sebelumnya. Dan satu hal lain, Viltus terlihat sangat antusias pada saat menjelaskan itu semua.

Taihou yang duduk di sebelah Shiro, kemudian menarik lengan baju dari Shiro dan berbisik,

"Ummm... Boleh aku memanggil anda Shiro ?"

"Silakan. Aku sedang tidak bekerja..."

"Shiro-san... Apa Viltus selalu seperti itu ?"

"Dia... Dia itu selalu malu-malu mengakui ingin mengikuti suatu kegiatan... Atau lebih tepatnya sedikit tertutup jika ada acara yang dibuat oleh orang lain. Di mulut ia berkata tidak ingin, namun di hati sebenarnya ingin mengikutinya."

"Begitukah ?"

"Namun, setidaknya ada satu wanita yang berhasil membuat dia mengikuti kata hatinya beberapa kali."

"Eh ?"

"Tapi sayangnya wanita tersebut sudah tiada..."

"Maaf aku..."

"Tidak apa-apa... Sebentar lagi dia akan selesai."

Tidak berapa lama, semua Gadis Kapal dan orang di ruangan tersebut mengangguk mendengar rencana dari Viltus. Viltus kemudian berkata kepada semuanya,

"Semoga rencana ini berhasil."

"Siap !"

Setelah itu, semua Gadis Kapal langsung kembali. Magyar dan Elisa berdiri dan kemudian Magyar berkata,

"Viltus... Kami harus..."

"Ya. Aku yakin kalian akan mampu mencari itu semua. Kalian mempunyai waktu satu hari untuk menanyakan hadiah yang mereka inginkan. Masih ada waktu seminggu. Tenang saja."

"Baiklah jika itu yang kau minta."

Magyar dan Elisa langsung pamit kepada Viltus, Tadahisa dan Shiro yang masih di dalam ruangan tersebut. Shiro kemudian mengelus kepala Viltus dan kemudian berkata,

"Kau seharusnya berkata ingin ikut saja. Tidak perlu seperti tadi..."

"Mengenai itu..."

"Sudahlah. Besok kita akan mulai membuat acara tersebut. Aku akan memberikan gambar pakaian untuk santa besok. Dan mungkin aku tahu satu Gadis Kapal yang dapat membantu ayah."

Tadahisa hanya tertawa saja saat mendengar konversasi antara Viltus dan Shiro yang menyebut dirinya. Tadahisa kemudian pamit karena waktu sudah cukup malam. Setelah Tadahisa keluar, Shiro kemudian bertanya,

"Jadi... Bagaimana hubungan dirimu dengan Taihou ?"

"Ah... Mengenai itu..."

"Aku yakin... Adikku yang idiot ini sama sekali tidak dapat menyatakan perasaannya..."

"Ahahahaha... Dikatai seperti itu oleh orang yang belum pernah menyatakan atau dinyatakan cinta."

"Kau ini..."

Shiro langsung memukul kepala Viltus dengan pelan. Setelah itu, Shiro berjalan keluar dan kemudian berkata,

"Jangan terlalu lama... Atau tidak akan tersampaikan... Seperti Kimura."

"..."

"Sudah aku ingin menggambar sebentar. Selamat malam, Viltus."

"Selamat malam, Shiro-nee."

Setelah Shiro keluar, Viltus kemudian melihat ke arah luar dan melihat salju yang turun. Ia menutup matanya sebentar, lalu menutup jendela tersebut. Ia memiliki satu misi penting saat ini. Membuat acara natal tersebut menjadi sangat berkesan.


Keesokan harinya, Viltus duduk di kantornya sembari membaca koran. Tidak ada dokumen yang masuk hari ini. Walaupun demikian, ia terlihat masih menunggu sesuatu untuk datang ke kantornya.

Tidak berapa lama, Taihou masuk sembari membawa beberapa kertas. Taihou langsung menghela nafas dan berkata kepada Viltus sembari memberikan kertas tersebut kepada Viltus,

"Kau masih bekerja pada saat seperti ini..."

"Dapat dikatakan seperti itu."

"Kau sebaiknya beristirahat mengerti..."

"Namun, acara itu juga salah satu pekerjaanku, ahahahahahaha..."

"..."

"Maaf... Maaf... Mari aku lihat..."

Viltus membaca yang ada di kertas tersebut kemudian mengangguk. Ia kemudian mengambil sebuah notes kecil miliknya dan menulis beberapa hal di sana. Ia kemudian berkata,

"Seperti dugaanku... Aku harus pergi belanja hari ini."

"Eh ?"

"Kemarin aku ke tempat Mamiya untuk menanyakan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk makanan pada saat acara tersebut, selain itu aku bertanya kepada Akashi dan Ooyodo apakah ada bahan untuk menghias markas ini."

Taihou langsung melihat ke kertas tersebut, dan melihat beberapa barang yang tidak familiar bagi dirinya. Taihou kemudian bertanya,

"Kau... Akan memasak ya ?"

"Tentu saja."

"..."

"Ada apa dengan wajah yang kau tunjukkan itu ?"

"Begini... Makanan dari Shiro-san dapat membunuh Abyssal... Aku yakin itu... Bagaimana dengan makanan buatanmu ? Aku yakin dapat menghancurkan seluruh dunia."

"Jangan meremehkan diriku... Aku cukup yakin dengan makanan buatanku."

"..."

"Jangan bilang kau masih..."

"Tentu saja. Tapi kalau wajahmu sangat yakin seperti itu, aku tidak akan menanyakan lebih jauh."

Viltus hanya tertawa kecil saja mendengar komentar dari Taihou. Taihou melihat ke arah Viltus dan berkata,

"Lalu... Kapan kau akan pergi belanja ?"

"Aku menunggu Shiro-nee sebentar... Dia berkata akan membawa satu 'korban' yang menjadi Santa dan desain yang ia inginkan."

"Oh..."

"Kenapa ? Mau ikut diriku belanja ?"

"Ah... Mengenai itu..."

Viltus tersenyum ke arah Taihou yang wajahnya sedikit memerah. Sebelum sempat menjawab, pintu terbuka dan di sana berdiri Ryuujou dan Shiro. Namun, pada saat melihat Taihou dan Viltus yang berbincang-bincang, Shiro langsung berkata,

"Maaf... Aku menganggu waktu kalian berdua... Aku akan..."

"Tunggu dulu !" ujar Taihou dan Viltus secara bersamaan.

"Aku tidak ingin menganggu waktu spesial kalian... Dadah..."

Shiro langsung menutup pintunya dan tertawa. Sementara Viltus dan Taihou langsung terdiam mendengar hal tersebut.


Shiro akhirnya masuk ke dalam kantor Viltus setelah dipaksa oleh Taihou. Shiro langsung memberikan desain dari baju santa yang ia maksud dan berkata,

"Dan yang cocok untuk mengenakan pakaian ini adalah Ryuujou..."

"Hei ! Kenapa aku yang cocok menggunakan ini ?" Teriak Ryuujou.

"Itu mudah... Karena..."

Shiro langsung memeluk Ryuujou dan memutar-mutar dirinya. Layaknya seorang anak yang bermain dengan mainannya. Shiro langsung berkata,

"Itu karena dirimu sangat imut, Ryuujou..."

"Hentikan DADA MONSTER ! Hei... Hentikan !"

Taihou tertawa dengan keras melihat itu, sementara Viltus hanya menghela nafas saja melihat kelakuan dari kakaknya. Ia kemudian melihat ke desain baju santa dari Shiro dan kemudian melihat ke arah Ryuujou dan mengangguk. Taihou juga melihat ke desain baju tersebut, dan terlihat sangat senang melihatnya.

Ryuujou akhirnya bisa lepas dari Shiro dan berlari ke belakang Taihou. Shiro langsung membuat tanda minta maaf kepada Ryuujou dan kemudian melihat ke arah Shiro, dan bertanya,

"Jadi, bagaimana menurutmu ?"

"Bukan masalah sih... Ini semua dapat dilakukan."

"Baguslah... Jadi berapa lama dapat selesai ?"

Mendengar itu, Taihou dan Ryuujou langsung melihat ke arah Viltus dengan tatapan yang tidak percaya. Viltus tidak terlalu memikirkan apa yang dipikirkan oleh Taihou dan Ryuujou. Ia melihat ke arah langit-langit dan menghitung. Tidak berapa lama ia berkata,

"Ya... jika tidak ada masalah sih, aku dapat menyelesaikannya dalam waktu tiga hari tanpa istirahat..."

"Seperti dugaanku... Kau akan berkata seperti itu."

"Ya... Pembuatan acara baru dipikirkan satu minggu sebelumnya."

"Kau benar, sih..."

"Shiro-nee... Tolong ukur tubuh Ryuujou dahulu. Aku harus menghitung berapa kain yang dibutuhkan untuk membuat pakaian ini."

"Siap !"

Shiro melihat ke arah Ryuujou dengan wajah berbinar-binar, sementara Ryuujou terlihat masih syok setelah diputar-putar oleh Shiro sebelumnya. Shiro langsung menangkap Ryuujou dan mengukur ukurannya. Sementara, Taihou langsung berkata kepada Viltus,

"Kau yang akan menjahit pakaian ini ?!"

"Iya... Kenapa ?"

"Tidak... Tidak apa-apa..."

"Kau yakin ?"

Taihou menarik nafas panjang dan kemudian berkata,

"Kau ini... Sangat ahli dalam bela diri, teknik kabur, memanah, memancing... Sangat teroganisir dalam bekerja... Dan juga ahli dalam memasak, sepertinya menjahit, dan sebagainya... Kau dapat membuat wanita tergila-gila dan iri secara bersamaan..."

"Jadi... Dirimu yang mana ?"

"Eh ?"

"Yang tergila-gila atau iri ?"

Taihou langsung memalingkan wajahnya, tidak berani melihat wajah Viltus yang tersenyum ke arah dirinya. Viltus langsung duduk dan menuliskan di notesnya apa yang harus dibelinya nanti. Tidak berapa lama, Shiro memberikan ukuran dari Ryuujou. Pada saat melihat salah satu ukuran, Viltus melihat ke arah Taihou, lalu ke arah Ryuujou. Ia langsung berkata,

"Sepertinya... Untuk masalah ini... Ryuujou juaranya..."

"Hei ! Apa maksudmu ?!" teriak Ryuujou.

"Sudahlah, aku akan pergi sekarang... Shiro-nee bantu aku, ya..." ujar Viltus tanpa mempedulikan Taihou.

Shiro langsung mengacungkan jempolnya mendengar permintaan dari Viltus. Pada saat Viltus bersiap-siap untuk pergi, Shiro terdiam sebentar dan kemudian bertanya,

"Sebelum itu, apa kau butuh bantuan lain ?"

"Bantuan seperti apa ?"

"Misalnya, aku bantu memasak. Aku akan membuat beberapa kue..."

Mendengar itu, pikiran dari Taihou dan Viltus menyatu satu sama lain. Wajah mereka terlihat seperti seseorang yang mendapat sebuah tamparan yang sangat keras berkali-kali. Dan gelap. Ryuujou terlihat bingung melihat ekspresi dari mereka berdua. Akhirnya, Viltus berkata,

"Shiro-nee... Kau tidak perlu membantu memasak..."

"Eh... Kenapa ?"

"Itu karena kami butuh bantuan dalam mendekorasi tempat ini..." ujar Taihou.

"Mendekorasi ? Bukankah sudah cukup banyak orang yang..."

"Kami membutuhkan bantuan seseorang yang memahami seni dalam mendekorasi tempat ini." ujar Viltus berusaha meyakinkan Shiro.

"Tapi... Apa kau tidak terlalu..."

"Tidak... Tidak... Aku dapat mengerjakan semuanya tenang saja. Lagipula Mamiya dan Houshou akan membantuku nanti."

"Begitu ya..."

Viltus dan Taihou berkeringat berharap Shiro menjauh dari dapur untuk acara ini. Demi keselamatan seluruh perut satu markas angkatan laut. Shiro berpikir sebentar dan kemudian berkata,

"Baiklah... Aku akan membantu mendekorasi tempat ini."

"Terima kasih banyak, Shiro-nee..."

Viltus dan Taihou langsung bernafas lega pada saat Shiro berkata demikian. Shiro kemudian berkata,

"Sudahlah... Ayo, Viltus kita pergi. Taihou apa kau ingin ikut ?"

Taihou menunjuk dirinya dengan sedikit terkejut. Viltus berjalan ke arah pintu dan kemudian berkata,

"Ikut saja... Lebih banyak orang jauh lebih baik..."

"Aku kan seorang..."

"Gadis Kapal tanpa perlengkapannya akan terlihat seperti Gadis biasa bukan ? Tidak akan ada yang mampu membedakannya."

"Kau benar..."

"Jadi, kau ikut atau tidak ?"

"Aku ikut... Tunggu aku sebentar..."

Taihou langsung berlari keluar dari ruangan tersebut. Viltus dan Shiro hanya tersenyum saja melihat Taihou yang berlari keluar. Ryuujou sendiri juga ikut tertawa melihat hal tersebut.


Di kota, mereka bertiga sudah berkeliling cukup banyak toko untuk membeli bahan pakaian untuk pakaian santa, beberapa bahan makanan, dekorasi dan semacamnya. Viltus sendiri sudah cukup kelelahan dengan semua hal tersebut. Apalagi ditambah Shiro yang kadang-kadang menghilang sendiri mencari barang, dan kembali dengan barang tambahan.

Viltus hanya menghela nafas saja melihat kelakuan dari kakaknya. Taihou, yang baru saja membantu Shiro, mendekati Viltus dan berkata,

"Tempat ini cukup ramai, ya..."

"Tentu saja. Banyak toko yang memberikan diskon pada saat mendekati natal dan membuat beberapa wanita... Seperti Shiro... tidak dapat berpikir panjang..."

"Ahahahaha... Kau benar..."

Taihou melihat ke arah Shiro yang masuk kembali ke toko yang lain. Melihat Taihou yang tersenyum, Viltus langsung membuat tanda untuk duduk di sebelahnya. Taihou dengan senang hati duduk. Viltus kemudian berkata,

"Apakah ada yang mencurigai dirimu sebagai itu ?"

"Ah... Tidak... Tidak ada..."

"Lihat... Jika dirimu tanpa perlengkapan tersebut... Kau hanya seorang gadis biasa..."

"Kau benar... Ahahahahaha..."

"Jadi... Bagaimana rasanya kembali merasakan suasana seperti ini ?"

"Suasana seperti ini..."

"Iya... Kau pernah berkata... Kau tidak ingat dengan masa lalumu... Dan ini, walaupun tidak sama, akan menjadi ingatan yang cukup indah."

"Kau benar..."

"Jadi... Bagaimana rasanya ?"

"Sangat menyenangkan... Walaupun aku cukup kesal dengan beberapa gadis yang seenaknya saja mengambil barang targetku tadi..."

Taihou langsung mengembangkan pipinya karena kesal. Viltus langsung menyentuh pipi Taihou beberapa kali, dan berkata,

"Ahahahaha... Jarang sekali aku lihat dirimu seperti ini..."

"Kau yakin ?"

"Selain itu... Apa yang kaurasakan ?"

Taihou langsung menceritakan semua hal yang ia alami selama di dalam toko yang ia kunjungi. Viltus hanya tertawa saja mendengar apa yang diceritakan oleh Taihou. Tidak berapa lama, Shiro keluar dari toko dan berkata,

"Kalian sudah selesai ?"

"Aku seharusnya yang bertanya demikian, Shiro-nee..."

"Ahahahahaha... Maaf... Maaf..."

"Sudahlah... Ayo kita kembali ke markas sekarang..."

Shiro dan Taihou langsung mengangguk mendengar ajakan dari Viltus dan mulai berjalan bersama. Taihou dan Shiro berbincang-bincang sebentar, sebelum menyadari Viltus tidak di bergerak sama sekali.

Taihou langsung berlari ke belakang dan bertanya,

"Ada apa, Viltus ?"

"Ah... Maaf... Tidak ada apa-apa..."

Taihou melihat ke etalase toko jam di depan mereka. Banyak jam yang ditampilkan di sana. Dan tatapan dari Viltus mengarah ke salah satu jam tangan di sana. Taihou langsung berkata,

"Kau ingin memiliki jam itu ?"

"Ah... Tidak... Aku hanya melihat saja"

Taihou melihat ke arah tatapan dari Viltus dan cara bicara dari Viltus. Berkontradiksi. Taihou menarik nafas panjang dan langsung berkata,

"Viltus... Ayo... Shiro-san menunggu kita..."

"Ah... Baik..."

Taihou dan Viltus langsung berlari ke Shiro yang menunggu mereka. Taihou sempat melihat ke arah toko tersebut sekali lagi dan tersenyum ke sana.


Tiga hari kemudian, Taihou masuk ke dalam kantor Viltus dan mendapati pakaian untuk Ryuujou sudah selesai dijahit oleh Viltus. Ia kemudian melihat ke arah sofa dan melihat sebuah selimut yang terbentang dengan seseorang di dalamnya. Orang tersebut adalah Viltus. Malam sebelumnya, Viltus meminta Taihou untuk membangunkan dirinya sebelum pukul 9.

Taihou langsung menggoyang-goyangkan Viltus dan berkata,

"Viltus... Ayo bangun..."

"Uuuuhhh... Uhh ?"

"Viltus..."

"Pukul berapa ?"

"Sudah pukul 8.30 pagi..."

"Masih ada 30 menit lagi."

Viltus langsung menutup kepalanya dengan selimut miliknya. Taihou terkejut melihat hal tersebut. Ia sama sekali tidak menyangka Viltus dapat seperti itu. Ia langsung menarik selimut tersebut dan berkata,

"Hei ! Viltus... Bangun..."

"Masih 30 menit lagi... Taihou..."

Akhirnya Taihou menyerah membangunkan Viltus. Taihou memperhatikan wajah Viltus yang tidur dengan tenang tanpa memikirkan apapun, tidak seperti wajah yang biasa ia tunjukkan. Taihou mengerti sekali, Viltus sangat lelah sehingga setelah ia tidur ia dapat melepaskan penat tersebut.

Pada saat melihat wajah Viltus, Taihou berpikir untuk menciumnya. Ia melihat ke kiri dan kanan. Tidak ada siapa-siapa. Ia pun menunduk dan menggerakkan wajahnya ke wajah Viltus. Ia menarik nafas panjang. Dan tidak lama bibirnya mengenai bibir Viltus yang tidur dengan pulas.

Pada saat ia berdiri dengan wajah merah, ia sangat terkejut mendapati beberapa orang dengan ekspresi berbeda di depan pintu.

Uzuki dan Yayoi yang matanya ditutup oleh Ryuujou dan Shiro. Aoba yang memotret kejadian singkat tersebut. Yuudachi dan Shigure yang menutup mulut mereka karena kaget. Ryuujou yang tanpa ekspresi dan Shiro yang tertawa kecil.

Viltus mendadak bangun, dan melihat sekitarnya. Ia langsung berkata,

"Ah... Selamat pagi semuanya..."

"..."

"Taihou... Kau kenapa ?"

"..."

"Kau tahu... aku merasa seseorang baru saja... Eh ?"

Viltus melihat wajah Taihou yang merah karena malu dan melihat ke arah Viltus. Tidak berapa lama tangannya diangkat dan menampar wajah Viltus dengan keras.


Viltus duduk di kursinya sembari memegang pipinya yang panas karena tamparan dari Taihou. Ia melihat ke semua orang di ruangan tersebut dan berkata,

"Taihou... Mengapa kau menampar diriku ?"

"Mengenai itu..."

Taihou terlihat tidak ingin menjawab pertanyaan dari Viltus. Viltus langsung melayangkan pertanyaan kepada yang lainnya. Namun, belum sempat ada yang menjawab, Taihou berkata,

"Dengar Viltus..."

"Apa ?"

"Yang kau alami ini hanya pikiranmu saja..."

"Huh ? Rasa sakit ini... Aww..."

Taihou mencengkram bahu dari Viltus dan melihat ke wajah Viltus. Pada saat melihat bibir dari Taihou, Viltus langsung sadar apa yang terjadi sebelumnya. Viltus langsung memalingkan wajahnya dan berkata,

"Baiklah... Aku tidak akan menanyakan hal ini lagi."

"Bagus..."

Viltus kemudian berdiri dan kemudian berkata,

"Ryuujou... Itu pakaianmu... Dan kenapa ada Uzuki, Yayoi, Shigure dan Yuudachi di sini ?"

"Ah... Mereka ingin melihat pakaian yang akan dikenakan oleh Ryuujou..." ujar Aoba

"Tidak boleh... Keluar dulu... Karena pakaian ini akan menjadi sebuah kejutan untuk kalian semua."

Mereka berempat terlihat kecewa dengan apa yang dikatakan oleh Viltus dan berjalan keluar dari ruangan. Setelah mereka keluar, mendadak Magyar masuk dan berkata,

"Wah... Wah... Anak-anak Kapal Perusak itu terlihat sangat kecewa... Apa yang kaulakukan Viltus ?"

"Aku tidak ingin membuyarkan kejutan ini... Hei, Ryuujou kau sudah selesai ?"

Terdengar teriakan dari Ryuujou yang berkata belum selesai. Magyar langsung berkata,

"Jadi... si Papan yang dipilih oleh Yanagi-san ?"

"Tepat sekali. Dan sekarang aku setuju... dia memang papan."

"Ahahahaha... Lihat ?"

Mereka berdua tertawa dengan keras. Sementara Aoba dan Taihou yang duduk di sana hanya dapat menghela nafas saja.

Beberapa detik kemudian, Magyar terkapar di lantai. Lebih tepatnya setelah ditendang oleh Ryuujou yang kesal mendengar hal tersebut. Shiro sama sekali tidak sempat menahan Ryuujou yang berlari dan menendang Magyar. Sementara, Viltus, Taihou dan Aoba melihat pakaian yang dikenakan oleh Ryuujou dan kemudian berkata,

"Pakaian ini lumayan juga... Cukup imut..." ujar Aoba

"Aku entah mengapa iri dengan dirimu yang imut ini Ryuujou..." ujar Taihou

"Seperti dugaanku... Sangat cocok..." ujar Viltus

Mereka bertiga melihat satu sama lain dan mengangguk tanda setuju. Sementara itu, Magyar berdiri dan melihat ke arah Ryuujou. Ia memperhatikan Ryuujou sebentar dan kemudian berkata,

"Kau tahu.. Ini ada yang kurang..."

"Huh ? Apa yang kurang Laksamana Mesum ?"

"Sini... Ikut aku..."

"Hei... Untuk apa aku ikut dirimu... Hei !"

"Aku akan mendadani dirimu !"

"APA ?! TIDAK... TIDAK !"

Ryuujou diseret oleh Magyar keluar diikuti dengan Shiro. Aoba, Taihou dan Viltus hanya tertawa saja melihat hal tersebut. Setelah itu, Viltus berkata,

"Sepertinya aku akan memasak hari ini... Lagipula acara pestanya malam natal... dan ada acara lagi pada hari natal bersama para Kapal Perusak."

"Iya sih... Perlu aku bantu ?" tanya Taihou

"Tidak perlu... Aku akan membuat beberapa sendiri... Sisanya akan dibuat oleh Houshou dan Mamiya."

Taihou mengangguk, walaupun ada kekecewaan di dalam dadanya pada saat Viltus berkata demikian. Viltus kemudian pamit untuk pergi ke dapur.


Keesokan paginya, Taihou langsung berjalan ke arah dapur. Ia berharap setidaknya Viltus ada di sana. Dan ia mendengar dari Houshou dan Mamiya mengenai makanan yang dibuat oleh Viltus. Jenis makanan untuk natal dari daerah Eropa dengan beberapa kue khas dari Eropa. Dan dari komentar Houshou dan Mamiya, kue buatan dari Viltus cukup enak jika dibandingkan dengan buatan mereka sendiri.

Pada saat Taihou mengintip ke dalam dapur, ia mendengar suara Viltus yang bernyanyi sembari menunggu kue matang. Ia pun melihat Viltus yang melipat lengan bajunya, dan mengenakan sebuah celemek hitam. Taihou berjalan perlahan, dan kemudian mengagetkan Viltus. Viltus sedikit terkejut dan melihat Taihou yang menjulurkan lidahnya. Viltus langsung memukul kepala Taihou dengan pelan dan berkata,

"Jangan melakukan hal tersebut di dapur... Jika aku memegang pisau akan melukai dirimu mengerti..."

"Ehehehehe... Aku tahu kau tidak akan melakukan itu."

"Semua dapat terjadi mengerti."

Taihou kemudian melihat ke arah oven, kemudian ke atas meja makan. Di sana terdapat banyak makanan untuk acara nanti malam. Selain itu, di salah satu sudut terdapat cukup banyak alkohol untuk diminum oleh banyak orang. Dan pada saat melihat satu botol di sana, Taihou langsung melihat dengan tatapan yang tajam. Ia langsung berkata,

"Viltus... Kau bilang tidak akan meminum Vodka lagi..."

"Uuuhhh... Kau tahu kan... Aku punya banyak simpanan vodka... Sayang jika..."

"Viltus !"

"Ayolah... Untuk memperingati natal ini..."

Taihou menatap tajam ke arah Viltus, dan langsung menghela nafas saja. Sangat sulit menghadapi Viltus yang benar-benar terikat dengan Vodka, terutama mengingat kejadian saat itu. Viltus hanya tersenyum saja. Kemudian perhatiannya kembali fokus ke kue yang sedang di dalam oven.


Tiga puluh menit kemudian, Taihou terlihat cukup bosan dan berjalan ke salah satu meja. Di sana terdapat kue dengan bentuk menyerupai rusa dan memiliki cukup banyak gula. Selain itu, ia dapat melihat ada sedikit madu di atasnya.

Taihou bermaksud mengambil satu kue untuk dicoba, namun tertahan oleh suara dari Viltus,

"Tidak boleh mengambilnya..."

Taihou langsung melihat ke arah kirinya dan menemukan Viltus sudah berdiri di sana. Ia membuat wajah tersenyum menggoda ke arah Taihou. Taihou melihat ke arah Viltus dan berkata,

"Aku ambil satu tidak..."

"Tidak... Tidak... Semua makanan harus dalam keadaan utuh pada saat disajikan."

"Tapi... Tapi..."

"Tidak ada tapi-tapi..."

"Tapi kemarin kau memberikannya kepada Houshou dan Mamiya ! Kau curang..."

Taihou langsung membalikkan badannya dan mengembangkan pipinya karena kesal. Viltus tersenyum melihat tingkah laku dari wanita di hadapannya. Tidak berapa lama, Viltus berkata,

"Hei... Taihou..."

"Apa... Uuupp..."

Pada saat Taihou membalikkan badannya, Viltus memasukkan satu kue ke mulut Taihou. Tentu saja Taihou sangat terkejut dengan hal tersebut. Ia kemudian memakan kue tersebut. Viltus tersenyum dan berkata,

"Bagaimana ? Kau suka dengan rasanya ?"

"I... Iya..."

"Apa kau masih marah ?"

"A... Aku tidak marah..."

Viltus langsung menyentuh pipi dari Taihou beberapa kali, dan berkata,

"Tadi aku lihat kau cemberut."

"A... Aku tidak..."

"Ahahahaha..."

"UUUUHHH... Viltus kau idiot..." ujar Taihou sembari memukul Viltus dengan pelan.

Viltus kemudian berjalan ke meja lain dan menyiapkan makanan lain. Pada saat itu, Taihou berdiri di kiri Viltus dan memperhatikan proses pembuatan makanan dari Viltus. Viltus akhirnya mengijinkan Taihou membantunya.

Tidak berapa lama, Viltus mendadak melempar pisau ke belakang dan mengenai dinding. Taihou sangat terkejut dengan hal tersebut. Viltus dengan tatapan tajam ke arah pintu kemudian berkata,

"Maaf... Tanganku licin..."

"Kau harus berhati-hati ! Dapat saja mengenai orang mengerti..."

"Aku tahu... Maaf. Aku akan mengeringkan tanganku nanti."

Setelah itu, Viltus tidak terlalu memikirkan masalah itu dan melanjutkan memasak hingga semua makanan sudah selesai.


Malam pun tiba, dan semua makanan sudah dikeluarkan di acara malam natal tersebut, termasuk alkohol. Semua Gadis Kapal kecuali dari kelas Kapal Perusak berkumpul bersama di ruang besar yang terletak di Gedung Administrasi.

Di sana semuanya bersama dengan Tadahisa, Shiro, Viltus, Magyar, dan Elisa saling bercengkerama satu sama lain. Dan semua kejadian itu diabadikan oleh Aoba yang berkeliling memotret semua orang.

Satu jam kemudian, semuanya mulai memberikan penampilan masing-masing. Shiro dan Tadahisa terkadang tertawa terpingkal-pingkal melihat tingkah laku dari beberapa Gadis Kapal. Dan pada saat itu, Aoba dan Taihou tidak melihat keberadaan dari Viltus sama sekali.

Pada saat Taihou melihat ke kiri dan kanannya untuk mencari Viltus, mendadak seseorang menepuk pundaknya. Di sana berdiri Shiro yang tersenyum ke arah dirinya. Shiro kemudian mengajak Taihou keluar dari ruangan tersebut.

Setelah di luar ruangan, Shiro langsung berkata,

"Taihou... Terima kasih banyak ya..."

"Eh... untuk apa ?"

"Menjaga adik idiotku... Agar tidak..."

Taihou langsung mengingat saat itu. Ia tersenyum sedikit, dan kemudian berkata,

"Bukan masalah... Agak sulit membuat dia tetap positif..."

"Memang benar... Orang keras kepala itu... Selalu menanggung beban itu sendirian..."

"Dia memang benar-benar keras kepala...Aku setuju dengan hal tersebut."

Mereka berdua tertawa bersama. Setelah itu, Taihou melihat ke arah Shiro dan bertanya,

"Jadi... Viltus di mana ?"

"Dia... Ingin menyendiri sebentar... Kemungkinan dia ada di kantornya..."

"Pasti mengenai masa lalunya..."

"Iya... Karena hari ini... Dia kehilangan gadis yang dicintainya..."

"Aku tahu... Gadis itu mening..."

"Dia tidak meninggal. Menghilang. Lebih tepatnya seperti itu."

"Eh ?"

"Pada tanggal ini... beberapa tahun yang lalu... Viltus bermaksud menyatakan perasaanya pada gadis tersebut... Ia menunggu di bawah salju yang sangat ia benci... Namun, ia tidak pernah muncul..."

"..."

"Keesokan harinya... ia mendengar kabar bahwa gadis itu menghilang... Tidak ditemukan jejak satu pun kemana perginya gadis itu... Keluarganya pun menghilang."

"Dan dia menganggap..."

"Iya... Ia menganggap ini semua karena dirinya... Sama seperti pada saat ia kehilangan keluarganya..."

Pada saat Shiro menceritakan hal tersebut, entah mengapa Taihou merasakan rasa sakit di dadanya. Rasa sakit yang sangat menusuk pada saat Shiro menceritakan mengenai gadis tersebut. Ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak dapat mengeluarkannya.

Shiro kemudian melihat ke arah Taihou dan berkata,

"Dan karena kau mampu... membuat dirimu didengar oleh dirinya... Dapatkah kau membantuku sekali lagi ?"

"Tentu saja..."

"Temui dia... Temani dia... Jaga dia... Tolong..."

"Tentu saja."

Taihou mengangguk. Shiro langsung tersenyum dan berkata,

"Dan jangan lupa... Berikan hadiah itu kepadanya."

"Hadiah ?! Ha... Hadiah apa ? Ahahahahaha"

"Yang kau beli untuk dirinya..."

"Ahahahahaha... Ketahuan ya..."

"Tenang saja, Viltus tidak mengetahuinya. Dia sedang fokus bekerja saat itu."

"Uuuuhhh..."

Shiro melihat Taihou yang sedikit malu-malu, kemudian mendorongnya menjauh dari ruangan tersebut. Setelah itu, Shiro berkata,

"Jaga dia..."

"Tentu saja..."

Taihou langsung berlari ke arah kantor Viltus. Aoba kemudian berjalan keluar ke arah Shiro, dan berkata,

"Dia pergi..."

"Iya..."

"Tidak... Kau tidak boleh pergi ke sana..."

"Ehehehehe... Ketahuan ya..."

"Tentu saja. Sudah ayo masuk lagi. Kita lanjutkan pesta ini."

Shiro langsung masuk ke dalam ruangan. Aoba melihat ke arah Taihou yang berlari dan berkata dengan pelan,

"Semoga kau berhasil... Taihou. Aku dan Kimura akan mendukungmu."


Taihou berjalan dengan pelan hingga tiba di depan kantor milik Viltus. Pada saat ia membuka pintu, ia melihat Viltus yang memperhatikan jendela sembari meminum vodka miliknya. Taihou melihat wajah Viltus yang sangat sedih.

Taihou masuk dan berkata,

"Viltus..."

Viltus melihat ke arah pintu dan melihat Taihou yang masuk ke dalam. Ia terlihat sangat khawatir kepada dirinya. Viltus langsung menghela nafas dan berkata,

"Pasti Shiro-nee..."

"Iya..."

Setelah itu mereka terdiam. Viltus kembali melihat ke arah salju yang turun dengan perlahan. Taihou berjalan ke dekat Viltus, dan menaruh hadiahnya di atas meja. Ia kemudian berdiri di sebelah Viltus. Taihou melihat ke wajah Viltus, kemudian berkata,

"Kau... Masih belum menceritakan semuanya..."

"Aku tahu..."

"Dapatkah kau menceritakannya... Tidak perlu ditahan lagi..."

"..."

"Ingat... Aku akan mendengarkanmu... Aku akan membantumu..."

Taihou menarik lengan baju Viltus. Viltus melihat ke arah Taihou dan tersenyum kecil. Ia kemudian mulai bercerita.

"Kau tahu... Dulu aku tidak terlalu memiliki banyak ekspresi seperti saat ini. Aku dijauhi oleh semuanya karena tatapanku yang tajam."

"..."

"Namun, setidaknya ada satu orang yang mau mendekati diriku... Seorang gadis yang sangat baik... periang... penuh semangat... Dia yang merubah diriku hingga menjadi sekarang. Gadis yang sangat kucintai..."

"Gadis itu..."

"Dia juga yang mengajariku berbagai hal... Dan karena dia aku dapat berteman dengan siapa saja..."

"Viltus..."

"Lalu... pada tanggal ini... di bawah salju yang turun... aku bermaksud menyatakan perasaanku kepadanya... Namun, ia tidak pernah muncul lagi... hingga saat ini..."

"..."

"Dan kau tahu apa alasanku menjadi Laksamana ?"

Taihou menggelengkan kepalanya. Viltus kemudian melanjutkan,

"Bukan karena Ayahku atau Shiro-nee... Tapi karena dia..."

"..."

"Dia pernah berbicara kepada diriku bahwa dirinya ingin menjadi seorang Laksamana yang memimpin Gadis Kapal... Untuk diriku... Untuk menghancurkan seluruh Abyssal yang telah merenggut semuanya dariku..."

"Vil... Ah..."

"Namun... Ia tidak pernah mampu melakukan itu... Ia menghilang... Tanpa memberitahu diriku... Dia menghilang karena diriku... Karena itu... Aku..."

Taihou melihat air mata mulai menetes dari mata Viltus. Viltus langsung terjatuh di lututnya dan mulai menangis. Tanpa berpikir panjang, Taihou langsung memeluk Viltus dan menutup matanya sembari menenangkan Viltus. Yang terdengar setelah itu adalah suara tangis dari Viltus.


Setelah Viltus cukup tenang, mereka berdua duduk di sofa. Viltus melihat ke langit-langit dan berkata,

"Terima kasih... Taihou.. Dan maaf..."

"Tidak apa-apa... Lagipula aku sudah mengijinkanmu..."

Viltus tersenyum ke arah Taihou. Dan kali ini senyum itu jauh lebih cerah dari sebelumnya. Viltus kemudian menepuk kepala Taihou dengan pelan. Pada saat Taihou memegang tangan Viltus, ia merasakan tangan Viltus yang sangat dingin. Taihou langsung berdiri dan mengambil selimut. Ia kemudian melingkarkan selimut ke Viltus. Viltus diam sebentar kemudian menarik Taihou ke dalam selimut. Viltus langsung berkata,

"Seperti ini... Tentu lebih hangat... Benar ?"

"I... Iya..."

Wajah Taihou sangat merah pada saat itu dan menunduk karena malu. Mendadak Viltus berdiri sebentar dan mengambil hadiah dari Taihou. Melihat hadiah tersebut, Taihou berkata,

"Buka saja..."

"Eh ? Ini untukku ? Bukan hadiah yang diberikan oleh Santa kepadamu ?"

"Itu hadiah santa untukmu..."

Viltus berjalan ke arah Taihou dan duduk di sebelahnya lagi. Kemudian, ia membuka hadiah tersebut. Matanya terbuka lebar, dan kemudian tersenyum lebar. Hadiah tersebut berisi jam tangan yang dilihat oleh Viltus sebelumnya. Viltus kemudian berkata,

"Kapan santa ini pergi ke kota lagi ?"

"Ehehehehe..."

"Kau tahu... Aku hanya..."

"Kau sebenarnya ingin, benar ? Aku mulai dapat membaca dari raut wajahmu."

"Ahahahaha... Diberitahu oleh Shiro-nee ya..."

"Iya."

Viltus langsung mengenakan jam tangan tersebut, dan memperlihatkannya kepada Taihou. Viltus kemudian berkata,

"Aku sebenarnya ingin menabung untuk membeli ini... Tapi, karena santa sudah membelikannya... Terima kasih banyak, Taihou..."

"Sama-sama..."

"Padahal kita memiliki cukup banyak jam dinding..."

"Ya, itu biar kau dapat melihat waktumu sendiri."

"Ahahahaha..."

Viltus langsung mengelus kepala Taihou dan berkata,

"Sayang... Aku tidak dapat memberikan sesuatu kepada Santaku..."

"Kau sudah memberikannya... Acara ini merupakan kado yang..."

"Acara ini adalah kado untuk seluruh Gadis Kapal... Namun, aku tidak dapat memberikan hadiah untuk santaku secara pribadi..."

Taihou melihat ke arah Viltus dengan tatapan menggoda dan berkata,

"Apa yang akan kau berikan seandainya kau memiliki hadiahnya ?"

"Rahasia..."

"Kau ini..."

"Natal berikutnya... Aku akan memberikannya kepada dirimu..."

"Aku akan menunggunya."

Taihou langsung menyandarkan kepalanya ke bahu Viltus. Viltus melihat ke arah Taihou dan berkata,

"Ummm... Mau minum sedikit ?"

"Heh... Kau pasti akan memberikanku Vodka..."

"Tentu saja..."

"Ya... karena ini kau yang mentraktir... Aku terima saja."

Viltus dan Taihou meminum Vodka bersama, dan berbincang-bincang banyak hal pribadi dari Viltus. Taihou sedikit demi sedikit mulai mengetahui kepribadian lain dari Viltus, terutama setelah 'kematian' dari gadis yang dicintai oleh Viltus. Sekaligus mengetahui seperti apa gadis yang dicintai olehnya.


Dua jam berlalu, Aoba dan Shiro berjalan ke arah kantor Viltus karena acara pesta malam natal sudah usai. Ryuujou dan Tadahisa memulai tugas mereka membagikan hadiah ke setiap kamar dari Kapal Perusak di markas angkatan laut Yokosuka.

Pada saat Shiro membuka pintu, ia sedikit terkejut dan langsung tersenyum. Ia membuat tanda untuk tidak berisik kepada Aoba. Pada saat Aoba melihatnya, ia mengerti mengapa.

Di dalam kantor Viltus yang gelap, dan hanya disinari oleh sinar bulan yang diiringi dengan salju yang turun. Dua orang tertidur di sofa. Viltus tidur dalam keadaan duduk, dan wajahnya terlihat cukup bahagia. Dan disebelahnya, Taihou tidur dengan menggunakan bahu dari Viltus sebagai sandaran. Mereka berdua tertidur setelah meminum Vodka dan letih berbincang-bincang.

Aoba memotret mereka berdua yang tertidur, dan kemudian menutup pintu. Shiro langsung berkata,

"Mengapa kau memotret mereka ?"

"Untuk laporan kepada Haruto-san."

"Oh..."

Shiro dan Aoba kemudian mulai berjalan menjauh dari kantor Viltus. Pada saat berjalan itu, Aoba mendadak berkata,

"Kau tahu... Aku tidak ingin melihat hubungan mereka kandas... seperti diriku... Kandas karena suatu kejadian yang tidak dapat diubah lagi..."

"Aoba..."

"Setidaknya... Aku ingin mendengar dari mereka... Mereka sudah berpacaran... Itu saja sudah cukup. Tidak sampai seperti diriku dan Kimura, yang tidak akan pernah dapat bersatu."

"Kau ini... Berkata seperti itu di malam natal..."

"Ehehehehe... Maaf..."

"Kau tahu, Viltus sangat tersiksa dengan kata 'Malam Natal' karena ia kehilangan orang paling ia cintai di malam ini... Sehingga ia tidak dapat menikmati Natal."

"Begitukah ?"

"Namun, khusus tahun ini... Ini merupakan Malam Natal terindahnya... Setelah cukup lama. Aku senang melihat wajahnya yang tersenyum di malam ini... Sama seperti pada saat masih ada Gadis itu."

Aoba mengangguk mendengar apa yang dikatakan oleh Shiro. Setelah itu, mereka berdua berpisah untuk kembali ke kamar masing-masing untuk menyongsong pagi hari.


HakunoKazuki di sini...

Saat ini... Kondisi gw... Sekarat... Karena... Terlalu manis di chapter ini untuk ukuran gw !... I need some medicine...

Atau lebih tepatnya bikin cerita yang nggak manis macem ini ! Fyi perut gw terkadang mual nulis ini...

Tapi nulis tema Natal dekat Valentine... Hmmmm

But at least... Masih ada sedikit romantisnya mereka ahahahahaha

Dan berhubung butuh obat (*ngebuat sesuatu yang despair)... mari kita cari siapa Gadis Kapal yang tepat... Hmmm... Akagi... Malas... Libeccio... Nggak tega bunuh loli... Kashima... What a good Idea... Kashima akan bertemu dengan Hakai !
*Tidak tertarik
HK : Kau yakin ? Ya sudahlah.

Well, step a side...

Selamat menikmati seri ini selagi saya sedang recover dari kebanyakan hal-hal yang manis seperti ini... ugh...