Chapter 7
New Year
Viltus, Shiro dan Tadahisa berkumpul bersama di ruangan besar di Gedung Administrasi. Mereka mengeluarkan kotatsu yang mereka simpan sebelumnya atas permintaan dari Shiro. Dan saat ini mereka bercengkerama bersama sembari memakan beberapa jeruk. Mereka menunggu pergantian tahun di Markas Angkatan Laut Yokosuka.
Shiro langsung berkata,
"Uaaaahhhh... Tahun ini akan berakhir... Sangat menyenangkan sekali."
"Menyenangkan bagi dirimu, Shiro-nee... Bukan untukku." ujar Viltus sembari memakan satu jeruk.
Shiro hanya tersenyum saja melihat adiknya. Ia langsung meminta kepada Viltus sebuah jeruk untuk dia makan. Viltus melihat ke arah Shiro, dan melihat ke jeruk di dekatnya. Ia mengambil satu, dan melemparnya dengan keras ke wajah Shiro, hingga Shiro terjatuh ke belakang.
Shiro langsung bangkit kembali dan melihat ke arah Viltus sembari tersenyum. Ia langsung berkata,
"Viltus... Kau berani juga ya..."
"Ohohohoho... Tentu saja..."
Shiro langsung mengambil koran di sebelah kirinya dan menggulungnya. Ia langsung mengarahkannya ke kepala Viltus, Viltus langsung menahan koran tersebut dan tersenyum. Viltus langsung mengambil koran yang lain dan berdiri. Mereka berdua langsung memukul satu sama lain dengan koran tersebut.
Tadahisa yang melihat kelakuan dari dua anaknya hanya dapat tertawa saja. Sudah cukup lama ia tidak melihat kedua anaknya bermain-main seperti itu. Tidak berapa lama, pintu terbuka dan di sana muncul Houshou yang membawa beberapa makanan. Houshou langsung berkata,
"Wah... Wah... Wah... Hidup sekali ruangan ini ya..."
"Ahahahahaha... Biarkan saja... Sangat jarang aku melihat mereka berdua seperti itu lagi."
"Fufufufufu... Justru ini sesuatu yang baru bagi saya melihat Amarov-san seperti itu."
"Ahahahahahaha..."
Houshou kemudian menyajikan makanan tersebut di kotatsu mereka. Setelah itu, Houshou langsung pamit karena akan makan bersama seluruh Gadis Kapal di asrama. Tadahisa mempersilahkan Houshou untuk pergi. Setelah Houshou keluar, Tadahisa langsung berkata,
"Anak-anak... Sudah jangan main-main lagi. Makanan sudah siap. Silakan kalian nikmati."
Shiro dan Viltus melihat satu sama lain dan melempar koran masing-masing dan kembali masuk ke dalam kotatsu sembari memakan makanan tersebut bersama-sama. Setelah selesai, Shiro bertanya kepada Viltus,
"Viltus, di mana Magyar dan Elisa ?"
"Mereka bilang mereka memiliki acara masing-masing. Sepertinya Elisa memiliki acara dengan para mekanik yang sudah kembali, sementara Magyar menghadiri acara dengan Laksamana yang kembali lebih awal."
"Wah... Wah... Kau tidak ikut acara itu ?"
"Tidak. Aku lebih senang menghabiskan waktu ini dengan kalian berdua."
"Fufufufu... Jadi Taihou tidak kau hitung ?"
Viltus langsung diam saja, dan memalingkan wajahnya. Shiro langsung berkata,
"Dia kan kekasihmu... Kenapa..."
"Tidak... Dia belum menjadi kekasihku..."
"Huh ?!"
"Aku bilang..."
"Bukan kekasihmu ? Mustahil ! Kalian sudah..."
Viltus hanya diam saja dengan wajah yang sedikit merah. Tadahisa yang melihat reaksi dari Viltus hanya tertawa saja. Pada saat Tadahisa ingin membantu Viltus, Viltus mendadak berkata,
"Ya... Aku di sini juga menemani wanita yang belum memiliki pasangan saat ini..."
"HEI !"
"Belum pernah ada yang dicintainya atau mencintainya... sungguh malang sekali..."
"KAU !"
Shiro bermaksud memukul kepala Viltus sekali lagi, namun ditahan oleh Tadahisa. Tadahisa langsung menenangkan Shiro yang sedikit naik pitam, sementara Viltus melanjutkan memakan makanan yang dihidangkan.
Setelah Shiro cukup tenang, Ia langsung melanjutkan memakan makanan tersebut dan berkata,
"Sudahlah... Jika membahas mengenai cinta, kau dapat membalas lebih kejam."
"Fufufufufu... Kau sadar juga."
Shiro hanya tertawa kecil saja mendengar komentar dari Viltus. Pria yang ada di hadapannya adalah Viltus yang ia kenal. Viltus yang selalu usil kepada dirinya, dan penuh canda. Bukan Viltus yang senang bekerja.
Tadahisa mendadak berkata,
"Viltus... Apa kau sudah mengenal semua Laksamana baru yang berasal dari luar negeri ?"
"Huh ? Belum... Aku belum kenal semuanya."
"Ohohohohoho... Berarti yang kaukenal saat ini masih Magyar saja, benar ?"
"Magyar saja sudah cukup... Ia sudah membuatku memiliki sakit kepala parah."
"Ahahahahaha... Tapi, aku yakin kau mengenal Laksamana dari Russia di markas ini."
Shiro melihat ke arah Tadahisa dengan wajah yang sangat terkejut pada saat Tadahisa menyebut Russia. Viltus langsung berkata,
"Aku mengetahui kita memiliki Laksamana dari Russia lain selain diriku. Namun, aku belum pernah..."
"Kau pernah bertemu dengannya."
"Huh ?"
"Sudahlah. Suatu hari kau akan bertemu dengan orang tersebut."
Viltus tidak terlalu mengambil pusing dengan apa yang dikatakan oleh Tadahisa. Karena baginya, selama orang tersebut dapat membantunya membawa kembali Gadis Kapal dalam keadaan utuh maka itu bukan masalah.
Tidak berapa lama, jam menunjukkan pukul 12 malam. Mereka bertiga berdiri dan saling memberi selamat tahun baru.
Satu jam kemudian, Shiro terlihat berpikir cukup keras mengenai sesuatu. Viltus melihat ke arah Shiro, kemudian ke arah Tadahisa. Ia langsung bertanya,
"Ayah... apa di dekat sini ada kuil ?"
"Ada... Ada... Kuil itu dibangun agar Gadis Kapal dapat mengunjunginya pada saat tahun baru."
"Oh... Jadi, sepertinya alasan Shiro-nee terlihat berpikir..."
"Sepertinya itu..."
Viltus langsung berkata kepada Shiro,
"Shiro-nee..."
"Apa Viltus ?"
"Sepertinya kau memikirkan mengenai pakaian yang akan kau gunakan untuk ke kuil benar ?"
"Fufufufufu... Kau hampir..."
"Menurutku... Apapun yang kau kenakan akan membuatmu seperti seorang TANTE-TANTE."
"Huh ?! Apa kau bilang Viltus ?"
Shiro langsung merah karena marah kepada Viltus. Viltus langsung meminta maaf dan berkata,
"Mau kubantu lagi merapikan rambutmu untuk nanti pagi ?"
"Ah... Tentu saja."
Viltus dan Shiro langsung berbincang-bincang mengenai banyak hal, sementara Tadahisa memperhatikan televisi yang menampilkan berbagai perayaan tahun baru. Mendadak, Shiro berkata,
"Hmmm... Rasanya cukup bosan juga ya..."
"Menunggu sampai pagi ? Iya juga sih..."
"Untungnya hari ini kau tidak bekerja."
"Aku ingin mencoba tidak bekerja satu hari saja..."
"Ahahahahaha..."
"Jadi... Apa yang ingin kau lakukan ?'
Shiro berpikir sebentar, dan terlihat tidak memiliki satu pun ide. Ia melihat ke arah Viltus, berharap setidaknya ia memiliki ide. Namun, Viltus langsung menggelengkan kepalanya. Mereka berdua langsung menghela nafas sekali lagi.
Tadahisa yang melihat itu langsung berkata,
"Kalian berdua ini... Tahun ini baru saja beberapa menit, tetapi kalian berdua sudah menghela nafas saja. Pertanda tidak baik, lho..."
"Habis... Kami bosan..." ujar Shiro sembari mengembangkan pipinya.
"Bagaimana jika kalian bertanding saja ? Dan yang kalah harus mendapat hukuman yang harus dapat selesai di tahun ini."
"Hmmm... Menarik..." ujar Viltus sembari tiduran.
"Namun, pertandingan apa ? Jika kendo tentu saja aku akan menang telak... Dan jika pertandingan memanah..." ujar Shiro dengan wajah yang sedikit datar.
"Siapa yang berkata pertandingan itu ? Yang kumaksud adalah pertandingan catur... Kalian berdua ini adalah Laksamana, tentu saja cara berpikir kalian sudah cukup baik untuk taktik catur. Bagaimana ?"
Viltus langsung ke posisi duduk dan melihat ke arah Shiro yang tersenyum. Mereka berdua setuju. Tadahisa yang akan menjadi wasit dari pertandingan tersebut. Mereka bertanding tiga kali, pada pertadingan pertama Viltus menang tipis, lalu pertandingan kedua Shiro menang telak. Pada saat akan memulai pertandingan ketiga, Shiro berkata,
"Hei... Viltus, jika kau menang kau akan menghukum diriku apa ?"
"Aku belum memikirkannya... Karena hukuman ini harus selesai tahun ini..."
"Fufufufufu..."
"Sepertinya kau sudah mendapatkan hukuman untuk diriku, ya ?"
"Tentu saja. Apa kau ingin tahu ?"
"Tidak perlu. Karena aku yakin aku akan menang di pertandingan ini."
"Kita lihat saja."
Tadahisa tersenyum melihat kedua orang tersebut cukup yakin akan kemampuan mereka. Pertandingan terakhir memakan waktu paling lama dari semua pertandingan. Lima belas menit hingga Shiro berkata,
"Skak..."
"..."
"Mat... Kau kalah Viltus."
"Ahahahahaha..."
"Jadi, apakah kau siap dengan hukuman yang akan kuberikan ?"
"Iya... Iya... Aku siap."
Shiro tersenyum, kemudian melihat ke arah Tadahisa. Tadahisa mengerti apa yang ada di dalam pikiran Shiro. Ia mengangguk, dan memberi tanda kepadanya bahwa akan ada yang dibicarakan setelah itu. Shiro tersenyum kembali dan melihat ke arah Viltus. Ia kemudian berkata,
"Baiklah... Di tahun ini... Dirimu harus..."
"Harus..."
"Menyatakan perasaanmu kepada Taihou."
"Eh ?!"
Wajah Viltus langsung merah padam mendengar apa yang dikatakan oleh Shiro kepada dirinya. Ia melihat ke arah Tadahisa yang hanya menutup mata saja. Shiro kemudian berkata,
"Kau tahu... Rasanya seperti kesal sekali melihat kalian berdua... Sangat..."
"Uuuhhhh..."
"Aku akan menanyakan ini... Apakah kau membenci Taihou ?"
"Ti... Tidak..."
"Lalu, mengapa kau terus bertengkar dengan dirinya ?"
"Uuuhhh... Mengenai itu..."
"Sepertinya... Itu tanda cintamu kepadanya, ya ?"
Viltus langsung memilih tidur, dan menutup wajahnya dengan selimut di dekatnya. Wajahnya sangat merah karena apa yang dikatakan oleh Shiro. Shiro langsung tertawa kecil melihat itu. Tadahisa kemudian berkata,
"Shiro... Sepertinya kau benar-benar dapat membaca Viltus ya..."
"Ayah... Aku sudah sering melihat dia... Dan dari matanya... Seperti saat itu..."
"Fufufufufu... Kau benar..."
"Dan..."
"Dan kenapa, putriku yang cantik ?"
"Aku tidak ingin mereka seperti Kimura dan Aoba... Sebelum semuanya terlambat."
"Aku tahu. Namun, masalah utama akan muncul setelah Ichijo-san kembali kemari."
"Aku sedang memikirkan langkah berikutnya jika demikian. Maka dari itu..."
Shiro melihat ke arah Viltus yang sudah menutup dirinya dengan selimut. Ia tahu, Viltus masih mendengarkan. Shiro langsung melanjutkan,
"Aku tunggu sampai kau berkata kepada diriku, kau sudah berkencan dengan Taihou."
Matahari sudah terbit. Tadahisa sudah siap dengan pakaiannya untuk pergi ke kuil. Ia menunggu di depan pintu gedung asrama dan berkata,
"Kalian berdua... Apakah kalian sudah selesai ?"
"Tunggu sebentar, Ayah... Viltus sedang merapikan sedikit pakaianku."
Tadahisa langsung tertawa mendengar jawaban dari Shiro. Sudah menjadi kebiasaan dari Viltus untuk membantu Shiro bersiap-siap jika ada festival yang membutuhkan pakaian khusus. Pada saat ia melihat Shiro dan Viltus sudah berjalan keluar dari gedung, ia mendengar,
"Shiro-nee... Sebaiknya kau belajar merapikan pakaianmu sendirian..."
"Ahahahahaha... Maaf... Maaf..."
"Aku merasa kasihan jika pada akhirnya kau mendapatkan pasangan di masa depan... Melihat dirimu yang sangat tidak ahli dalam merawat diri sendiri..."
"Uuuuuhhhhh..."
"Bukankah aku sudah mengajari dirimu dulu ?"
"Masih kesulitan... Ahahahahahaha..."
"Kau ini..."
Viltus dan Shiro langsung melihat Tadahisa yang berdiri dan tersenyum ke arah mereka berdua. Viltus dan Shiro langsung berjalan cepat mengikuti Tadahisa untuk pergi ke kuil. Di kuil, Viltus sudah cukup banyak orang yang berdoa di sana. Selain itu, ia melihat cukup banyak Gadis Kapal yang juga berdoa.
Setelah mereka berdua selesai berdoa di depan kuil, Viltus melihat sekelompok Laksamana yang sudah kembali dari libur. Mereka semua bersama Magyar yang pertama kali melakukan kegiatan seperti ini. Pada saat mereka melihat Tadahisa, Viltus dan Shiro, mereka semua langsung memberi salam kepada mereka bertiga dan kemudian menarik Viltus. Viltus langsung ijin kepada ayahnya untuk pergi bersama mereka.
Setelah cukup jauh, salah satu dari Laksamana tersebut bertanya,
"Viltus... Siapa wanita dengan rambut merah tadi ?"
"Huh ? Oh... Shiro-nee..."
"Shiro... Maksudmu Yanagi Shiro ? Laksamana yang terkenal sebagai pembunuh Abyssal yang haus darah itu ?!"
"Aku baru tahu dia diberi julukan seperti itu..."
"Tidak kusangka... Dia cantik sekali. Benar semuanya ?"
Semuanya mengangguk, kecuali Magyar. Ia setidaknya sudah pernah melihat sisi asli dari Shiro selama persiapan acara natal sebelumnya. Salah satu dari Laksamana tersebut langsung berkata,
"Dia cantik... Tubuhnya sangat proporsional... Dan dilihat dari itu dia dapat merias dirinya sendiri..."
"Hmmmppphh..."
"Viltus kau kenapa ?"
"Ah... Tidak apa-apa..."
"Selain itu... Dia juga dihormati... Tetapi, kenapa ia masih belum memiliki pasangan ya ?"
"Entahlah..."
"Jangan-jangan... Banyak pria yang merasa kalah pada saat melihat dirimu !"
"Eh ?"
"Jangan-jangan semua pria menganggap dirimu sebagai pasangannya ! Tentu saja... Banyak tidak tahu kau ini adalah adiknya..."
"Mengapa kau..."
"Kau ini... Sangat ahli dalam berbagai hal... ditambah dengan wajah seperti ini... huh... Tunggu..."
"Apa ?"
"Aku melihat ada rambutmu yang berwarna putih..."
"Ah... Aku... Ups..."
Semuanya melihat ke arah Viltus dan menatap tajam. Mereka langsung melihat satu sama lain dan kemudian berkata,
"Jangan bilang kau..."
"Aku..."
"Penuaan dini ya ?"
Viltus sangat terkejut mendengar hal tersebut. Ia melihat Magyar yang menahan tawanya saat mendengar hal tersebut. Viltus langsung menghela nafas dan kemudian berkata,
"Apakah kalian tahu... dulu dan sekarang Jepang selalu menganggap remeh semua orang dengan kewarganegaraan ganda ? Semuanya dikucilkan..."
"Ah... Aku ingat itu... Tunggu, kalau tidak salah kau memiliki kewarganegaraan Russia kan ?"
"Tepat sekali... Aku mengecat rambutku menjadi hitam pada saat aku selesai dari pelatihan militer pada saat libur musim panas di SMA kelas satu."
"PELATIHAN MILITER ?!"
"Ahahahahaha... Sudahlah... Warna rambut asliku adalah putih... Dan aku mengecat hitam agar tidak banyak orang yang mengangguku."
"Tapi warna matamu..."
"Aku pernah ingin menggunakan lensa kontak... Tapi..."
"Kami mengerti... Kami mengerti... Lagipula, tujuan kami menarikmu bukan untuk urusan warna rambutmu..."
"Lalu ?"
Semuanya melihat satu sama lain, dan menatap tajam ke arah Viltus. Pada saat Viltus melihat ke arah Magyar, ia langsung tahu apa yang ingin ditanyakan oleh mereka semua. Salah satu dari mereka langsung berkata,
"Bagaimana hubunganmu dengan Taihou ? Kudengar kalian sudah berkencan..."
"Huh ? Sudah ?"
"Eh... Jangan bilang kau belum..."
"Ahahahahaha..."
"Mustahil !"
Viltus langsung terkejut pada saat mendengar itu. Mendadak salah satu dari Laksamana tersebut langsung mengeluarkan beberapa foto. Seperti foto pada saat Viltus dan Taihou yang menunggu Shiro, pada saat Viltus sedang memasak ditemani oleh Taihou, dan foto Taihou yang mencium dirinya yang tertidur. Laksamana tersebut langsung berkata,
"Mustahil dengan foto-foto ini... Kalian belum berkencan sama sekali ! Mustahil !"
"..."
"Viltus... Kami setidaknya berharap kau..."
"Jadi... yang dimaksud oleh Haruto dulu adalah KALIAN..."
"Eh... Ahahahahaha..."
"Dan foto ini... Dari siapa ?"
"Haruto..."
"Sumbernya... Haruto pasti memiliki sum..."
Mendadak Viltus terdiam, dan tertawa kecil. Sedikit demi sedikit ia tertawa cukup keras, dan melihat ke arah mereka semua. Melihat wajah Viltus mereka semua ketakutan setengah mati, karena tatapannya kosong diiringi senyum sinis. Selain itu, aura yang dipancarkan oleh Viltus cukup menakutkan. Ia langsung berkata,
"Kalian... Terima kasih banyak... Aku tahu siapa..."
"Uuuuh..."
"Sudah... Jangan bahas masalah ini lagi. Atau aku akan marah kepada kalian semua..."
Semuanya mengangguk dan melihat satu sama lain. Salah satu dari Laksamana tersebut menunjuk ke arah Viltus dan melihat ke arah Magyar. Magyar hanya mengangguk saja melihat masalah tersebut. Sementara, Viltus tertawa semakin keras dan melihat ke salah satu sudut dari kuil tersebut.
Sementara itu, di kuil semua Gadis Kapal mendapatkan kertas yang memberitahukan peruntungan mereka di tahun ini. Pada saat Taihou mengambil miliknya, ia melihat kertas bertuliskan "Kesialan kecil". Taihou langsung berkata,
"Ini... Pertanda buruk..."
"Ahahahahaha... Jangan berkata seperti itu."
Pada saat Taihou melihat ke belakang, ia melihat Aoba dengan Uzuki dan Yayoi di belakangnya. Taihou langsung berkata,
"Selamat tahun baru, Aoba."
"Selamat tahun baru juga, Taihou."
"Kau ingin mengambil peruntunganmu ?"
"Iya... Kau tahu, Aoba juga penasaran dengan peruntungan Aoba sendiri."
"Ahahahahaha..."
Uzuki dan Yayoi langsung menarik baju Aoba dan menunjukkan kertas peruntungan mereka. Mereka mendapatkan "Keberuntungan Kecil". Aoba langsung tersenyum dan melihat ke arah Taihou. Ia langsung berjalan untuk mengambil peruntungannya.
Pada saat ia membuka kertas tersebut, tidak ada tulisannya sama sekali. Ia menunjukkannya kepada Taihou dan berkata,
"Tumben... Mereka melewatkan satu..."
"Tumben sekali ya..."
Mendadak Aoba mendapat tepukan dari belakang, dan salah satu staff dari kuil tersebut meminta maaf kepada Aoba perihal hal tersebut. Aoba berkata bukan masalah, dan ia diberikan satu kertas lain. Pada saat ia membukanya, wajahnya langsung terdiam. Taihou, Uzuki dan Yayoi melirik ke arah kertas tersebut dan melihat ke arah Aoba. Di sana, bukan berisi keberuntungan atau kesialan. Hanya satu kata. Mati.
Aoba langsung berkeringat dingin dan berkata,
"Sepertinya... Aoba harus kabur ke tempat yang sangat jauh..."
"Kenapa ?"
"Kau tahu... Sepertinya Monster tersebut sudah mengetahui kenyataan..."
"Kenyataan apa ?"
"Aku tidak ingin membahasnya... Aoba harus kabur sekarang."
"Uh ?"
Aoba langsung lari terbirit-birit karena sesuatu. Sementara, Taihou melihat ke arah Uzuki dan Yayoi yang terlihat juga bingung. Tidak berapa lama, muncul Viltus di belakang mereka sangat terkejut karena Viltus mendadak muncul di belakangnya. Ia langsung berkata,
"Viltus ! Sejak kapan kau..."
"Aku baru saja tiba di sini... Selain itu, apakah kalian melihat Aoba ?"
"Eh... Dia baru saja pergi. Memangnya kenapa ?"
"Itu karena..."
Viltus terdiam sebentar, dan melihat ke arah wajah Taihou. Ia langsung memalingkan wajahnya dan terlihat sedikit merah. Taihou terlihat bingung dengan reaksi dari Viltus langsung berkata,
"Ini semua karena apa, Viltus ?"
"Uuuhhh... Itu bukan masalahmu."
"Kau menyembunyikan sesuatu, ya ?"
"Ti... Tidak..."
"Ya sudahlah... Jika kau tidak ingin membicarakannya..."
Taihou tersenyum menggoda Viltus sedikit. Viltus langsung menghela nafas mendengar hal tersebut. Mendadak Taihou diseret oleh beberapa Gadis Kapal menjauh dari Viltus ke arah tempat di mana semua Gadis Kapal dan beberapa Laksamana wanita menanyakan peruntungan cinta mereka.
Taihou langsung berkata,
"Mengapa kalian menarik diriku ?!"
"Itu mudah... Kami penasaran dengan kemungkinan cintamu nanti..."
"Huh ?!"
"Sudahlah masuk saja."
Taihou langsung duduk di depan seorang miko yang tersenyum ke arah Taihou. Ia melihat ke mata Taihou dan kemudian mulai membaca Taihou. Ia kemudian berkata,
"Namamu..."
"Taihou... Gad.."
"Aku tahu..."
"..."
"Dalam waktu dekat... Pria yang kau cintai akan menyatakan sesuatu kepada dirimu..."
Mendengar itu wajah Taihou langsung merah, diiringi dengan suara siulan dari Gadis Kapal lain. Kemudian, miko tersebut melanjutkan,
"Namun... Kau akan mendapatkan beberapa rintangan sebelum itu. Aku tidak mengetahui secara pasti, namun ada seseorang yang akan menghalangi dirimu. Aku melihat salju..."
"Salju..."
"Sepertinya kau mengetahui sesuatu yang berhubungan dengan salju ?"
"Aku... Hanya mengetahui salju adalah sesuatu yang dibenci oleh dirinya..."
Mendengar itu, semuanya langsung terdiam. Sementara, mereka Gadis Kapal yang memiliki hubungan dengan salju atau musim dingin sangat terkejut. Taihou melihat ke arah mereka, dan tertawa kecil. Taihou kemudian melihat ke arah miko dan berkata,
"Saya berterima kasih banyak dengan hal tersebut..."
"Bukan masalah. Ini semua belum tentu dapat terjadi. Saya hanya dapat berkata seperti ini saja."
"Ahahahahaha..."
"Tetapi..."
"Eh... Tetapi ?"
"Apakah kau siap untuk semua rintangan ?"
"Eh ?"
Taihou melihat ke arah miko tersebut yang tersenyum. Taihou terdiam sebentar, dan kemudian menunduk ke arah dirinya. Ia setelah itu pergi bersama seluruh Gadis Kapal, untuk kembali ke Markas Angkatan Laut.
Siang harinya, Taihou mengetuk pintu kantor Viltus dan tidak menemukan Viltus di dalam kantornya. Ia langsung khawatir dengan kondisi tersebut. Ia langsung berjalan ke arah asrama dan menanyakan ke beberapa orang lokasi Viltus, namun tidak ada yang tahu. Setiap kali ia bertanya seperti itu, beberapa terlihat tersenyum ke arah Taihou.
Hingga akhirnya, ia bertemu dengan Tadahisa dan diberitahukan olehnya Viltus sedang membantu Shiro saat ini. Taihou langsung mohon ijin untuk pergi ke ruangan Shiro. Setelah tiba di depan ruangan Shiro selagi dia berlibur di Yokosuka, ia mendengar suara,
"Shiro-nee..."
"Ada apa, Viltus ?"
"Kau ini... Rapikan pakaian yang baru saja kau kenakan..."
"Ahahahahaha... Maaf... Maaf..."
"Haaah..."
"Soalnya ada..."
"Jika kau menyebut pekerjaan... Sepertinya aku tahu dari siapa aku jadi sering bekerja seperti ini..."
"Ahahahahaha..."
"Selain itu... Rambutmu..."
"Eh ?!"
Taihou mengintip dari pintu yang terbuka sedikit dan melihat Viltus yang menyisir rambut dari Shiro. Ia melihat Viltus terlihat sedikit berbeda, seperti seseorang yang sangat perhatian dengan kakaknya. Pada saat itu, ia mendengar Shiro berkata,
"Taihou... Masuk saja..."
"Eh ?"
Viltus melihat ke arah pintu dan menemukan Taihou di sana. Setelah Taihou masuk, Shiro langsung berkata,
"Sepertinya kau mencari Viltus, ya ?"
"I... Iya..."
"Bukankah dia berkata hari ini tidak akan masuk kerja ?"
"Eh ?"
Taihou melihat ke arah Viltus dengan wajah sangat terkejut. Viltus langsung berkata,
"Aku sudah katakan kemarin, hari ini aku ingin istirahat... Lagipula besok Shiro-nee akan pulang ke Kure."
"Ah... Aku baru ingat."
"Aku yakin banyak yang kaget mendengar hal tersebut."
"Ahahahahaha..."
"Sudahlah... Aku akan memasak. Shiro-nee kau ingin apa ?"
Viltus langsung berdiri dan berjalan ke arah dapur yang tersedia di ruangan tersebut. Shiro berkata terserah kepada Viltus. Viltus kemudian melihat ke arah Taihou dan berkata,
"Kau ingin sesuatu ?"
"Ummm... Terserah kau saja..."
"Baiklah... Jangan protes dengan hal ini..."
Viltus langsung masuk ke dalam dapur dan menyiapkan bahan-bahannya. Setelah itu, Shiro langsung berkata,
"Kau tahu... aku merasa iri dengan adikku ini..."
"Karena ia sangat terampil, benar ?"
"Fufufufufu... Kau sudah mengetahuinya, ya ?"
"Tentu saja."
"Seandainya, dia bukan adik angkatku... Aku pasti sudah membuat di pasanganku..."
Viltus langsung berkata dari dalam dapur,
"Jika kau pasanganku... Aku akan bunuh diri satu bulan setelah berkencan dengan dirimu..."
"Ahahahaha... Kau mendengarkanku ya..."
Taihou terdiam mendengar canda dari Shiro dan Viltus yang lain dari biasanya. Shiro kemudian melihat ke arah Taihou, dan kemudian duduk di sebelahnya dan berkata dengan pelan,
"Tolong jaga, Viltus..."
"Eh ?"
"Aku sebenarnya sudah meminta kepada Haruto dan Kimura... Tetapi..."
"..."
"Maka dari itu, aku memintamu untuk..."
"Aku akan menjaganya."
"Baguslah..."
Shiro langsung menepuk kepala Taihou dengan pelan. Taihou langsung melihat ke arah Shiro dan tersenyum. Tidak berapa lama, Viltus keluar dengan membawa makan siang mereka bertiga. Dan selama makan itu, Shiro menceritakan beberapa masa lalu dari Viltus dan sedikit kegiatan dia selama di Kure.
HakunoKazuki di sini...
Atas satu pertimbangan... Akhirnya cerita ini akan dibagi menjadi chapter 7 dan chapter 8... agar lebih enak dibacanya ahahahahahaha
ok...
Sekian saja, semoga anda menikmati seri ini
