Chapter 8
White Kiss
Setelah Shiro meninggalkan Yokosuka dan kembali ke Kure, Taihou menemukan Viltus di dalam ruang kerjanya yang sedang beristirahat. Ia merebahkan dirinya di sofa yang tersedia di ruangan tersebut. Taihou langsung berjalan ke dekat Viltus, dan jongkok di sebelah Viltus.
Viltus melihat ke arah kanannya, dan melihat Taihou yang tersenyum. Ia pertama diam saja. Namun, lambat laun wajahnya menjadi merah dan langsung ke posisi duduk, dan kemudian berkata,
"Taihou... Sejak kapan kau..."
"Aku baru saja tiba di sini. Tumben sekali kau beristirahat."
"Ahahahaha... Aku memikirkan langkah untuk misi besar nanti."
"Oh... Atau kau sedang kangen dengan Shiro-san ?"
"Enak saja..."
Taihou langsung berdiri dan duduk di sebelah Viltus. Ia kemudian berkata,
"Daripada itu... Apa kau melihat Aoba ?"
"Aoba... Di dock..."
"Eh ? Kenapa ? Jangan bilang kau..."
"Aku tidak melakukan apapun..."
"Hmmm..."
"Ayolah... Percaya saja pada diriku..."
"Baiklah..."
Taihou langsung melihat ke arah langit-langit dengan tampang masih belum percaya. Mendadak Viltus menyentuh pipinya beberapa kali, dan kemudian berkata,
"Kau masih belum percaya ?"
"Tentu saja ! Jika Aoba mendadak masuk dock... Hanya dirimu yang mampu !"
"Tanpa bukti kau tidak dapat..."
"Siapa orang di markas ini yang mampu memotong kabel di asrama dengan rapi... Lalu diikuti pergerakan yang rapi, dan suara teriakan dari Aoba..."
"..."
"Siapa yang mampu bergerak tanpa diketahui oleh orang lain ?"
"..."
Viltus langsung memalingkan wajahnya pada saat mendengar itu. Taihou langsung merengut dan melihat ke arah Viltus. Ia memicingkan matanya dan kemudian berkata,
"Memang kau... Yang membuat Aoba masuk ke dalam Dock..."
"..."
"Viltus... kenapa ?"
"Itu karena ia memang pantas merasakan kekuatan dari Siberia..."
"Tapi, kenapa ?"
"Itu... Bukan masalahmu..."
"Mengapa kau selalu berkata seperti itu, sih ?"
Taihou langsung memalingkan wajahnya dengan wajah kesal. Viltus tersenyum kecil, dan kemudian menyentuh pipi Taihou beberapa kali, hingga Taihou benar-benar kesal. Pada saat Viltus tidak siap, Taihou langsung melihat ke arah Viltus, dan kemudian mengigit jari Viltus.
Viltus langsung menarik tangannya, dan melihat Taihou yang menjulurkan lidahnya. Viltus langsung menyentil dahi Taihou, yang dibalas hanya dengan tawa kecil. Viltus langsung mengacak-ngacak rambut Taihou untuk membalasnya.
Tidak berapa lama, mereka mendengar suara dering telepon. Viltus langsung berdiri dan mengangkat telepon tersebut. Pada saat mendengar suara dari seberang, Viltus langsung berkata,
"Oh... Kau... Huh ? Kau pulang sedikit terlambat ? Mengapa ?"
Viltus mengangguk-angguk mendengar alasan dari temannya tersebut. Pada saat ia bertanya siapa namanya, ia hanya mendengar,
"Aku sulit mengucapkan namanya. Dan satu hal... Karena aku kalah bertaruh dengan dirinya... Aku menjadi miliknya... Maka dari itu aku kabur sementara waktu ! Dapatkah kau membantuku ?"
"Kau ini..."
"Aku sudah memberitahu ayahmu perihal hal ini..."
"HEI !"
"Ya sudah... Selamat tinggal."
*tuut tuut* *tuut tuut*
Viltus langsung membanting teleponnya karena kesal. Taihou yang melihat itu hanya tertawa kecil saja. Ia kemudian berdiri dan bertanya,
"Viltus... Tadi Haruto ?"
"Bukan... Itu bukan Haruto..."
"Oh..."
"Dia seniorku... Ya, lebih kurang satu angkatan di bawah Shiro-nee"
"Apa yang dia minta ?"
"Dia berkata agar menjaga Laksamana baru di bawah arahannya. Entah mengapa dari satu yang dia katakan mengingatkan diriku pada seseorang..."
"Mungkin teman lamamu."
"Aku harap tidak... Ahahahahahaha..."
"Kapan dia akan kemari ?"
"Katanya hari ini..."
"Begitukah ?"
"Ya kita sambut saja setelah ia datang. Bagaimana ?"
"Baik."
Viltus langsung duduk di kursinya, dan menunggu laporan dari ayahnya perihal hal tersebut.
Aoba akhirnya kembali ke ruangan Viltus, dan melihat tatapan ingin membunuhnya dari Viltus. Namun, dengan bantuan dari Taihou, ia dapat mengalihkan pandangan tersebut. Pada saat itu, ia menyadari semua Gadis Kapal di divisi Viltus sudah berkumpul di tempat itu, bersama dengan Magyar.
Aoba langsung bertanya kepada Yura,
"Yura... Tumben sekali kita semua dipanggil kemari..."
"Katanya ada satu laksamana baru yang akan bersama kita selama beberapa saat... Hingga saat ini, belum ada laporan siapa orang tersebut..."
"Oh... Aku harap orang tersebut seperti Magyar."
"Aku setuju."
Aoba dan Yura tertawa bersama-sama. Pada saat itu, Viltus langsung menghela nafas. Sudah dua jam semenjak seniornya menelepon dirinya, namun belum ada tanda-tanda Laksamana tersebut datang. Ia berkata,
"Sepertinya... Dia mengelabui diriku..."
Semuanya terdiam mendengar itu. Tidak berapa lama, mereka mendengar suara dari Tadahisa diikuti satu suara seorang wanita. Semuanya melihat ke arah pintu. Namun, pada saat mendengar suara wanita tersebut, Viltus langsung menyadari siapa orang tersebut. Matanya langsung berubah drastis menjadi tatapan dingin.
Pintu terbuka dan di sana berdiri Tadahisa dan seorang wanita lain. Wanita tersebut memiliki rambut perak pendek, dengan mata biru. Tatapan tersebut sangat tenang. Ia tersenyum ke arah semuanya, hingga ia melihat ke arah Viltus. Entah mengapa senyumnya berubah menjadi senyum yang berbeda. Sangat menakutkan. Pada saat Tadahisa ingin memperkenalkan orang di sebelahnya, wanita tersebut langsung maju dan berkata,
"Perkenalkan... Nama saya Anastasia Konoplyanka. Laksamana baru yang satu angkatan dengan Magyar Libyet."
"Kau..." ujar Viltus dengan suara yang berbeda dari biasanya.
"Sungguh hari yang menyenangkan untuk kita bertemu kembali, Viltus."
"Mengapa kau masuk kemari... Anastasia ?"
Semua Gadis Kapal sangat terkejut mendengar hal tersebut. Wanita tersebut, Anastasia, mengetahui Viltus yang merupakan senior bagi dirinya. Dan dari tatapan Viltus, mereka dapat membaca dirinya membenci Anastasia walaupun ada sedikit perasaan campur aduk.
Tadahisa mengerti situasi saat ini, dan langsung berkata,
"Aku akan membiarkan dia di sini... Kalian tolong jaga dia, sebelum misi besar itu. Jangan kau lupa dengan hal tersebut, Viltus."
"..."
"Dan jangan macam-macam..."
"Aku tahu..."
Tadahisa langsung berjalan keluar dari ruangan tersebut, sementara Anastasia langsung berjalan ke dekat Viltus dan berkata,
"Kau tidak banyak berubah, Viltus..."
"Begitu pula dengan dirimu..."
"Hehehehe... Daripada itu..."
Anastasia tersenyum ke arah Viltus dan kemudian berkata,
"Di mana gadis itu ? Dia pasti satu angkatan dengan..."
"Dia sudah meninggal..."
"Eh ?"
"Aku tidak ingin membahasnya lebih lanjut..."
"Oooohhh... Kasihan sekali beruang kecilku ini..."
Anastasia langsung mengelus kepala Viltus, yang langsung mendapat penolakan dari Viltus. Viltus langsung berkata,
"Sebaiknya kau tidak membuat terlalu banyak masalah di sini, Anastasia..."
"Ohohohoho... Sepertinya Gadis itu telah berhasil membuatmu menjadi lebih 'pria'..."
"..."
"Apa yang ingin kau lakukan, Viltus ?"
"Bukan masalahmu... Magyar, tolong bantu Anastasia dalam bergabung dengan divisi ini. Aku sedikit sibuk dengan beberapa hal."
Semuanya sangat terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Viltus, karena tidak seperti biasanya dia seperti itu. Selain itu, Viltus langsung duduk tanpa memperdulikan Anastasia yang tersenyum ke arah dirinya. Sementara itu, Taihou menyadari ada sesuatu yang aneh dari Anastasia dan menatap tajam ke arah Anastasia. Tidak berapa lama, Anastasia menyadari dirinya diperhatikan dan melihat ke arah Taihou. Pada awalnya dia terkejut, dan kemudian tersenyum.
Dan pada saat itulah, Taihou menyadari keadaan ini akan sangat berbahaya.
Taihou mendapat laporan dari beberapa Gadis Kapal mengenai intimnya Anastasia dengan Viltus di beberapa kesempatan. Dan setiap kali ia mendengar itu, ia langsung berkata,
"Apa hubungannya masalah ini dengan diriku ?"
Dan pada umumnya, ia dapat pergi tanpa mendapat pertanyaan lain dari Gadsi Kapal tersebut. Walaupun demikian, ia tetap penasaran dengan kabar tersebut. Ia pernah meminta bantuan dari Aoba, namun Aoba terlihat sedikit segan dengan masalah ini. Ia sadar, Aoba diancam oleh Anastasia mengenai sesuatu.
Ia sedikit demi sedikit mulai khawatir dengan kondisi tersebut, dan bermaksud menemui Viltus yang sedang mengikuti rapat di lantai 1. Ia langsung turun ke bawah, dan berjalan ke arah ruang rapat. Dan pada saat itu, ia melihat semua orang sudah keluar dari ruang rapat tersebut. Taihou langsung menanyakan keberadaan Viltus, dan mendapat jawaban yang sama. Namun, dari wajah mereka, Taihou dapat mengetahui apa yang terjadi pada Viltus.
Pada saat ia berjalan ke arah tangga di sudut lain gedung, ia melihat sosok yang ia cari, Viltus. Ia bermaksud memanggil nama Viltus, namun terhenti karena melihat seorang wanita berjalan di sebelahnya. Wanita tersebut adalah Anastasia.
Anastasia menoleh ke arah belakang, dan langsung tersenyum. Viltus yang menyadari Anastasia berhenti langsung berkata,
"Ada apa, Anastasia ?"
"Bukan masalah..."
"Pada saat kau tersenyum seperti itu... Kau selalu menyembunyikan sesuatu... Seperti pada saat kau menyiksa dia dulu..."
"Ohohohoho... Kau mengetahuinya..."
"..."
"Maafkan aku atas masalah itu... Lagipula..."
Anastasia langsung mendekat ke Viltus, Viltus mendorong Anastasia sedikit dengan tampang jijik. Anastasia langsung berkata,
"Jangan lupa... Kau kalah saat itu..."
"Ugh..."
Anastasia langsung mendorong Viltus sedikit ke tembok dan mendekatkan wajahnya ke wajah Viltus. Anastasia berkata,
"Sangat disayangkan... Ciuman pertamamu bukan dari diriku..."
"..."
"Fufufufufufu..."
"Apa yang kau pikirkan, wanita rubah ?"
"Tidak ada... Tidak ada..."
Anastasia langsung mundur, dan dari wajah Viltus terlihat ia cukup kesal dengan tindakan dari Anastasia. Namun, dapat terlihat dengan jelas dari matanya ia tidak dapat melakukan apapun. Ia ingin membalas, namun karena satu hal ia tidak mampu.
Anastasia tersenyum menggoda Viltus dan kemudian berjalan ke arah berlawanan dari Viltus. Viltus langsung bertanya,
"Kau... Kau ingin kemana ?"
"Fufufufufu... Kau penasaran ?"
"..."
"Jawabanku mudah... Ra. Ha .Si .A"
"Terserah pada dirimu... Tapi jangan menganggu Gadis Kapal..."
"Terutama Taihou, benar ?"
Viltus menatap tajam ke arah Anastasia, dan kemudian langsung berjalan menjauh dari Anastasia. Anastasia langsung berkata,
"Jangan mengira aku tidak tahu rumor itu, Viltus. Aku selalu tahu. Aku selalu memperhatikan dirimu."
"Terserah apa katamu... Hanya itu saja permintaan dari diriku..."
"Memangnya... Anjing seperti dirimu dapat memiliki hak ?"
Viltus langsung berhenti dan melihat ke arah belakang. Di sana sudah tidak ada siapapun. Khawatir dengan apa yang akan terjadi, ia langsung mencari seseorang untuk mengisi tempatnya dahulu selagi ia pergi mencari Taihou dan Anastasia.
Taihou berlari kembali ke arah asrama. Ia sama sekali tidak tahan melihat kejadian sebelumnya. Apa yang dikatakan oleh semua Gadis Kapal kepada dirinya benar. Ia tidak dapat berkata apa-apa lagi.
Rasanya seperti ada yang menusuk dengan tajam ke arah dadanya. Ia terus berlari hingga akhirnya ada yang berdiri di depannya. Taihou melihat orang tersebut dan langsung menatap tajam ke arah dirinya.
Anastasia langsung tersenyum ke arah Taihou, dan berkata,
"Halo... Taihou..."
"Selamat siang... Laksamana..."
"Ada apa ? Kau seperti melihat seseorang yang seharusnya tidak ada di sini..."
"..."
"Aku yakin kau bertanya-tanya mengapa diriku ada di sini dan bagaimana..."
"Apa maumu..."
"Aku hanya ingin menyapa salah satu gadis kapal paling imut dari semuanya..."
"..."
Anastasia langsung berjalan perlahan ke dekat Taihou. Ia semakin tersenyum dan kemudian berkata,
"Seorang Laksamana yang jatuh hati kepada salah satu Gadis Kapalnya... Seorang Gadis Kapal yang mencintai Laksamananya..."
"..."
"Aku dengar mengenai kisah Kimura dan Aoba dari seniorku... Salah satu teman dari Viltus... Dan aku sudah dengar akhir dari mereka..."
"Apa..."
"Menyedihkan."
"..."
"Menyedihkan karena salah satunya mati... Tetapi menyedihkan karena seorang manusia mencintai Gadis Kapal."
"Eh..."
Anastasia sudah di depan Taihou dan langsung mendorong Taihou hingga jatuh. Ia langsung berkata kepada Taihou,
"Hei... Gadis Kapal..."
"..."
"Sebaiknya kau tahu statusmu di sini... Kau ini hanya senjata... Bukan manusia yang memiliki hak untuk mencintai seseorang..."
"Setidaknya kami..."
"Kau TIDAK memiliki hak tersebut !"
Anastasia langsung menjambak rambut Taihou dan membenturkan kepala Taihou ke pohon di dekat situ. Anastasia langsung berkata,
"Apalagi mengambil hati dari pria itu ! Aku sudah cukup melihat dia diambil oleh wanita lain... Dan cukup senang saat mendengar wanita itu meninggal..."
"Kau..."
"Tapi, kemudian dia jatuh cinta kepada sebuah senjata... Aku tidak tahan melihat itu... Dan kau tahu apa yang paling tidak kusuka ?"
Anastasia langsung menarik rambut Taihou dan kemudian berkata,
"Dirimu... Seperti wanita itu..."
"Eh ?"
"Kau bermaksud mencurinya dariku dengan membuat dirimu mirip dengan dirinya ?"
"Apa maksudmu ?"
"Rambut ini... Mata ini... Cara bicaramu... Semuanya sama seperti wanita rubah sialan itu !"
"Awww..."
"Dia milikku... Dia milikku... DIA MILIKKU !"
Taihou langsung dilempar ke samping oleh Anastasia. Taihou bernafas sangat berat pada saat mendengar hal tersebut. Ia melihat ke wajah Anastasia. Wajah penuh dendam. Wajah seseorang yang sangat membenci dirinya. Anastasia langsung berkata,
"Dengarkan aku... Kau tidak boleh mendekati dirinya... Kecuali tentang pekerjaan..."
"Haaah... Haaah... Haaah..."
"Jika kau berani mendekati dirinya... Kau akan tahu akibatnya..."
"Bagaimana jika..."
"Dia mendekati dirimu ? Kau tahu apa yang harus kau lakukan... Ah... Ini akan jadi pengingatnya..."
Anastasia langsung mengeluarkan pisau dari pinggangnya dan menebas tangan dari Taihou. Anastasia berkata,
"Aku tidak main-main... Camkan itu..."
Taihou bernafas sangat berat dan memegangi kepalanya sendiri berharap Anastasia pergi. Ia juga menutup matanya. Di kepalanya yang ada hanya satu,
"Pergi... Pergi... Pergi... Pergi..."
Tidak berapa lama, ia mendengar suara pria yang sangat ia kenal. Ia melihat Viltus yang membuat wajah sangat khawatir. Sementara, Viltus melihat wajah Taihou yang sangat ketakutan. Viltus langsung berkata,
"Taihou... Kau baik..."
Pada saat Viltus ingin memegang Taihou, tangannya langsung dipukul oleh Taihou. Viltus sangat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Taihou. Viltus langsung berkata,
"Taihou... Kau..."
"Menjauh dariku..."
"Eh..."
"Menjauh dariku sekarang juga..."
"Taihou..."
"PERGI !"
Viltus langsung terdiam dan kemudian berdiri. Ia melihat sekali lagi ke arah Taihou yang masih ketakutan. Sementara, Taihou melihat wajah Viltus yang sangat terkejut sekaligus sedih. Viltus langsung tersenyum, sebuah senyum palsu. Ia membalikkan badannya, dan kemudian berkata,
"Jika itu yang kau inginkan... Taihou..."
"..."
"Namun, akan kuberitahu kau satu hal... Jika kau ingin menemui diriku... Aku ada di tempat biasa..."
"..."
"Selamat tinggal Taihou... Aku akan menunggunya..."
Viltus langsung berjalan meninggalkan Taihou yang masih duduk di sana.
Dua hari kemudian, satu per satu Laksamana kembali ke markas angkatan laut Yokosuka dikarenakan mereka akan menjalankan misi yang cukup sulit. Mereka yang baru kembali mayoritas adalah Laksamana yang bertugas di bagian ekspedisi dan bagian perlindungan. Kecuali Haruto.
Namun, pada saat mereka kembali, mereka menyadari sesuatu yang sangat tidak lazim. Viltus terlihat kesepian, walaupun ia masih tersenyum. Dan hal lain adalah Taihou yang terlihat menjauhi Viltus. Haruto tahu Viltus tidak akan menjawab pertanyaannya sehingga ia bertemu dengan Magyar dan Elisa untuk membahas masalah tersebut.
Saat mereka bertiga berkumpul, Haruto langsung memulai pembicaraan,
"Elisa... Magyar... Sebenarnya apa yang terjadi pada Viltus selama aku pergi... Tidak, lebih tepatnya setelah tahun baru..."
Magyar dan Elisa melihat satu sama lain, dan kemudian langsung berbisik sedikit. Elisa akhirnya yang menjawab,
"Viltus... Kedatangan salah satu teman masa kecilnya dari Russia..."
"Eh ? Russia ?"
"Iya... Seorang gadis yang cukup cantik... Namun, sedikit berbahaya..."
"Apa maksudmu..."
Elisa melihat ke arah Magyar. Magyar mengangguk dan kemudian berkata,
"Aku mendengar rumor... gadis ini menyiksa Taihou secara mental sehingga ia harus menjauh dari Viltus..."
"Eh... Apa katamu ?!"
"Itu hanya rumor saja... Yang mengetahui kejadian sebenarnya hanya Taihou... Namun..."
"Dia tidak menceritakan apapun kepada kalian ?"
"Tidak..."
"Aoba ?"
"Tidak berhasil..."
Haruto langsung berpikir sebentar. Dan setelah itu, ia langsung berdiri dan berkata kepada mereka berdua,
"Aku akan menanyakan langsung kepada Viltus..."
"Eh ?!" Elisa sangat terkejut mendengar itu.
"Hanya itu satu-satunya jalan agar lebih pasti..."
Haruto langsung meninggalkan Magyar dan Elisa yang masih membatu karena komentar dari Haruto.
Haruto tiba di kantor Viltus, dan mendapati Viltus yang duduk di kursinya namun tidak bekerja sedikit pun. Ia melihat ke dokumen, namun pikirannya tidak ada di sana. Haruto menarik nafas panjang, dan langsung berkata,
"Viltus... Aku kembali dari liburan !"
"Eh... Haruto... Selamat datang kembali..."
"Kau masih bekerja saja..."
"Sebentar lagi akan ada misi... Aku harus bekerja..."
"Dengan kondisi seperti itu ?"
Viltus langsung terdiam mendengar hal tersebut. Ia melihat ke arah Haruto dengan tatapan yang sangat kosong. Ia kemudian membalas,
"Kondisi apa ? Aku baik-baik..."
"Apa yang terjadi pada dirimu dengan Taihou ?"
"Apa maksud..."
"Viltus... Katakan saja pada diriku..."
"Tidak terjadi apa-apa pada dirinya" ujar seorang wanita dari belakang Haruto.
Haruto menoleh ke belakang, dan melihat Anastasia di sana. Haruto langsung tersenyum dan kemudian berkata,
"Maaf jika saya salah... Kau adalah Anastasia Konoplyanka, benar ?"
"Fufufufufu... Kau benar, dan kau adalah Kouga Haruto."
"Aku sepertinya sudah cukup terkenal juga di kalangan Laksamana baru..."
"Tentu saja. Sebagai satu-satunya Laksamana yang mau mendekati Laksamana Baru dengan tenang."
Haruto hanya tertawa saja. Dan pada saat ia menoleh sedikit ke arah Viltus, ia langsung tahu penyebab kejadian ini adalah wanita di hadapannya. Haruto langsung berkata,
"Kau yang menyebabkan masalah ini, ya ?"
"Wah... Wah... Wah... Baru berkenalan sudah berkata seperti itu."
"Lebih baik langsung ke pokok permasalahannya... Lebih cepat lebih baik dikarenakan aku membutuhkan kepala orang ini untuk operasi besar yang akan datang..."
"Baiklah... Aku tidak ingin dikatakan sebagai pelaku dari..."
"Kau yang menyerang Taihou secara mental, benar ?"
"Huh... Kau sangat tajam juga... Sumbermu dari siapa ? Aoba ?"
"Bukan dari Aoba... Jika sebuah kejadian yang menyangkut sahabatku, pasti aku dapat mendengarkannya dari siapapun."
"Hohohohoho... Aku tidak perhitungan dengan hal tersebut."
"Apa hubunganmu dengan Viltus ?"
"Viltus adalah milikku..."
"Milik ? Seperti memiliki sebuah barang ?"
"Mungkin..."
"Kau sakit..."
"Fufufufufufu"
"Apa yang menyebabkan dirimu dan Viltus memiliki hubungan seperti itu ?"
"Dia kalah... Pada saat menghadapi diriku dulu... pada saat kamp pelatihan..."
"..."
"Dan karena kalah, ia tidak memiliki hak untuk masalah tersebut."
Haruto diam sebentar dan kemudian melihat ke arah Anastasia dan Viltus yang terlihat terdiam mendengar hal tersebut. Haruto langsung melihat ke arah Anastasia dan bertanya,
"Apakah ada cara agar hubungan tersebut terputus ?"
"Huh ?"
"Aku yakin pasti ada cara..."
"Ah... Aku ingat... Ada satu cara... Kalahkan diriku di pertarungan yang sama... Namun, ia hanya memiliki kesempatan satu kali... Memangnya dia memiliki..."
"Oh... Hanya itu ?"
"Hmmmm ?"
"Baiklah... Besok, kau akan menghadapi Viltus dalam pertandingan tersebut. Jika dia menang, kau tidak memiliki hubungan tersebut sama sekali... Jika kau menang, dia 100% milikmu ditambah diriku."
Anastasia dan Viltus sangat terkejut mendengar hal tersebut. Tidak berapa lama, Anastasia tertawa dan kemudian berkata,
"Boleh... Boleh saja... Tapi, apa kau yakin dia mampu ?"
"Aku yakin... Viltus akan mengalahkan dirimu."
"Hahahahahahaha... Menarik... Menarik sekali..."
"Jadi, bagaimana ?"
"Boleh saja. Aku akan menunggu itu besok. Kita lihat... dia menjadi milikku sepenuhnya..."
Anastasia langsung membalikkan badannya dan berjalan menjauh. Haruto menghela nafas dan kemudian melihat ke belakang. Di sana, ia melihat Viltus sudah berdiri tepat di belakangnya. Viltus langsung berkata,
"Kau gila ! Apa-apaan itu membuat sebuah keputusan mengenai diriku tanpa memberitahuku."
"Lebih cepat lebih baik, Viltus..."
"Ini sama saja seperti bunuh diri... Mustahil aku..."
"Kau menyerah dahulu ?"
"..."
Haruto langsung menarik kerah dari Viltus dan kemudian berkata,
"Kau menyerah dari nasib ini ? Kau memiliki kesempatan untuk lepas dari rantainya... Namun, aku memilih menyerah ?"
"..."
"Kenapa ? Karena kau takut ? Pengecut..."
"Aku tahu... Aku..."
"Kau pasti mampu... Viltus..."
"Mengapa kau yakin sekali ? Aku sama sekali tidak..."
"Kau kuat... Sangat kuat... Yang kau butuhkan adalah sebuah dorongan..."
Haruto langsung melepas genggamannya dan kemudian berkata,
"Viltus... Apakah kau akan melepas Taihou begitu saja ?"
"..."
"Aku tanya sekali lagi... Apa kau akan melepas Taihou begitu saja ?"
"Tidak..."
"Kau yakin ?"
"..."
"Kau masih bingung... Jika seperti ini... Kau akan kalah lagi..."
"Aku tahu... AKU TAHU MENGENAI MASALAH INI ! KAU TIDAK PERLU..."
Haruto langsung memukul wajah dari Viltus dengan keras hingga dirinya terjungkal ke belakang. Haruto kemudian berkata,
"Kau lemah... Kau pengecut... Aku kecewa dengan dirimu..."
"..."
"Jika seperti ini terus... Kau akan selalu kehilangan seseorang sangat penting bagi dirimu, Viltus."
"Aku tahu..."
"Apa kau ingin kehilangan Taihou ?"
"Tidak..."
"Maka, maju... Hanya ini kesempatanmu... Jangan pasrah pada nasibmu..."
"..."
"Kau ingat... Dalam beladiri aku yang paling baik dari semua Laksamana... Hanya dirimu yang mampu menandingi diriku. Dari situ aku yakin dirimu mampu."
"..."
"Berdiri... Dan kejar nasibmu... Hancurkan rantai yang menahan dirimu..."
Viltus melihat ke arah Haruto yang tersenyum yakin kepada dirinya. Ia menunduk sebentar, dan kemudian tersenyum. Ia langsung memukul wajah Haruto pada saat ia tidak siap. Viltus kemudian berdiri dan berkata,
"Haah... Kau tahu... Pukulan itu menyakitkan..."
"Hahahaha... Kau sudah kembali seperti semula..."
"Namun, tetap saja... aku masih belum yakin... Namun, jika aku tidak mencoba... Darimana aku dapat tahu ?"
"Kau benar..."
Haruto dan Viltus tertawa bersama, dan kemudian langsung keluar dari kantor untuk melakukan sparring untuk pertarungan besok.
Sementara itu, Taihou mengurung dirinya sendiri di dalam kamarnya. Ia sama sekali tidak ingin keluar, karena takut akan menemui Viltus. Ia melihat ke arah tangan yang memiliki luka dari pisau milik Anastasia, dan kembali menutup matanya.
Tidak berapa lama, ia mendengar ketukan diiringi suara,
"Taihou... Ayolah... Keluar sekarang juga..."
"Aoba... Tinggalkan diriku... Aku tidak ingin menemui siapapun !"
"Selama dua hari ini ? Kau mengurung diri di dalam ruanganmu dan itu mengkhawatirkan semua orang, mengerti !"
"Biarkan saja demikian !"
"Taihou !"
"PERGI !"
Setelah itu, tidak terdengar suara Aoba sama sekali. Taihou sudah sedikit lega dengan hal tersebut. Namun, mendadak ia mendengar seperti suara sebuah pintu yang akan dibuka dengan kunci. Ia akhirnya sadar, Aoba akan masuk ke dalam walaupun tanpa ijin darinya.
Akhirnya pintu terbuka, dan Aoba melihat Taihou yang duduk di salah satu pojok kamarnya sendiri. Ruangan tersebut sangat gelap, dan terasa cukup sumpek karena seluruh jendela ditutup oleh Taihou.
Aoba melihat ke arah Taihou dan kemudian duduk di atas kasur kemudian melihat ke arah Taihou. Ia langsung berkata,
"Taihou... Sebenarnya ada apa ? Kau tidak seperti biasanya saja..."
"Itu bukan..."
"Taihou... Aku ini temanmu... Aku sangat khawatir jika dirimu seperti ini terus."
"..."
"Ada apa ? Mengapa kau menjauhi Viltus ?"
"Itu..."
"Kau tahu... Viltus sangat kesepian... Aku dapat melihat dari aura mata yang ia pancarkan..."
"..."
"Apa karena Anastasia ?"
Taihou langsung mengangguk mendengar pertanyaan dari Aoba. Aoba langsung berkata,
"Haaah... Dia itu..."
"Aku takut... Aku sangat takut..."
"Sudah... Sudah..."
"Aku... Aku..."
"Aku tahu... Aku tahu rasa itu..."
Aoba langsung berjalan ke arah Taihou dan memeluknya. Ia langsung mengelus kepala Taihou dengan lembut. Dan pada saat itulah, Taihou mulai menangis di dada Aoba.
Setelah Taihou cukup tenang, Aoba langsung bertanya,
"Maaf ya... Jika aku sedikit terburu-buru... Tapi, dapatkah kau beri tahu diriku... Apa yang dilakukan oleh Anastasia ?"
"..."
"Jika kau tidak mau... Itu bukan masalah..."
"Dia... menyerangku pada saat aku akan kembali ke asramaku..."
"Dengan alasan apa ?"
"Itu karena dia membenci diriku... wajahku... semuanya..."
"Apa karena mendekati Viltus ?"
"..."
"Sepertinya benar."
Aoba langsung berdiri dan kemudian jongkok di depan Taihou. Ia langsung berkata,
"Aoba akan bertanya... Apakah kau akan membiarkan Viltus diambil oleh orang lain ?"
"Aku tidak mau..."
"Lalu, mengapa kau..."
"Daripada itu... Aoba, aku punya pertanyaan lain..."
"Apakah itu ?"
"Apakah kita merupakan orang yang tepat untuk mengisi hati Laksamana kita ?"
"Tentu saja."
"Padahal kita adalah senjata... Kita hanya diperintahkan untuk menghadapi Abyssal..."
"..."
"Kita tidak memiliki tujuan hidup lain selain itu..."
"Taihou... Maaf..."
"Huh ?"
Aoba langsung menampar Taihou, dan langsung menyentil dahinya. Taihou sangat terkejut dengan tindakan dari Aoba. Aoba langsung berkata,
"Taihou... Tidak ada gunanya kau memakan semua ucapan dari wanita tersebut !"
"..."
"Dia hanya ingin agar dirimu tidak mendekati Viltus... Agar Viltus dapat dia miliki sendiri."
"Aku tahu..."
"Pada saat aku memberitahu Kinugasa mengenai perasaanku kepada Kimura dulu, aku sempat seperti dirimu... Namun, aku sadar akan satu hal..."
"..."
"Kimura akan mengajariku apa yang tidak kudapatkan. Dia akan mengajarkan kepadaku apa makna dari hidup ini. Mengapa diri kita lahir, selain untuk berperang."
"Tapi... Kita..."
"Kita bukan senjata... Kimura, Viltus dan Haruto membantu kita untuk membuang sisi kita sebagai 'senjata' dan mengangkat sisi kita sebagai 'manusia'. Kita dapat berinteraksi dengan mereka, kita dapat merasakan indahnya dunia. Kita dapat merasakan emosi. Kita dapat merasakan ini semua karena mereka."
"Itu..."
"Apa kau ingin membuat usaha mereka sia-sia ? Dengan membuang kembali apa yang telah diajarkan oleh mereka bertiga, terutama Viltus."
"Tidak... Aku tidak ingin..."
"Apa kau akan melepas Viltus begitu saja kepada wanita lain ?"
"Tidak..."
"Maka... Lawanlah wanita tersebut."
Taihou melihat ke arah Aoba yang dengan tenang berkata seperti itu. Ia melihat wajah Aoba yang yakin akan semua yang ia katakan. Taihou berpikir sebentar, dan melihat ke arah tangannya. Ia bermaksud mengatakan sesuatu, tetapi sadar Aoba pasti akan menyuruhnya mengikuti kata hatinya sendiri.
Aku tidak ingin kehilangan Viltus. Itulah yang ada di dalam hati Taihou. Ia langsung tersenyum ke aran Aoba dan berkata,
"Aoba..."
"Ada apa Taihou ?"
"Mengapa kau selalu menyebut Viltus ? Memangnya apa hubungannya dia dengan diriku ?"
"Karena... Kau adalah orang yang telah membuat dirinya seperti sekarang... Dan dirinyalah yang membuat dirimu seperti ini."
"Ahahahahaha... Jawaban yang menarik..."
"Jadi..."
"Pada saat aku menghadapi Anastasia... Maukah kau membantuku saat kesulitan ?"
"Tentu saja. Karena kita teman baik."
"Eh ?"
Aoba tertawa kecil melihat reaksi dari Taihou. Taihou langsung ikut tertawa karena hal tersebut. Malam itu, Aoba memilih tidur di tempat Taihou dibandingkan di kamarnya yang hanya sendirian saja. Mereka berbincang-bincang hingga pagi hari, tanpa mengetahui apa yang terjadi pagi harinya.
Pagi itu, Haruto dan Viltus menunggu kedatangan dari Anastasia di tanah lapang, tempat di mana Kimura dan Haruto biasa kabur dari pekerjaan mereka. Viltus terlihat lebih fokus dari biasanya, karena ia tahu lawan yang ia hadapi adalah wanita yang sangat menakutkan. Seseorang yang telah membuat banyak orang menyerah hanya dengan berbicara saja.
Haruto langsung berkata,
"Kau sudah siap, benar ?"
"Tentu saja..."
"Ingat ini demi..."
"Itu bukan masalah... Karena wanita tersebut sudah di sini..."
Viltus melepas kemeja putihnya dan mengenakan sarung tangan hitam. Sementara itu, Anastasia datang dengan mengenakan baju putih dan celana panjang tentara. Ia juga mengenakan sarung tangan hitam.
Anastasia langsung berkata,
"Selamat pagi semuanya..."
"..."
"Mengapa kau tidak menyapa diriku balik, Viltus ? Sangat tidak sopan..."
"Hmmm... Selamat pagi, Anastasia..."
"Fufufufufu..."
Anastasia langsung tertawa melihat reaksi dari Viltus yang juga menatap dirinya dengan tajam. Ia kemudian berkata,
"Jadi... Apakah kau sudah siap menjadi milikku selamanya ?"
"..."
"Ohohohoho... Bermain diam saja... Menarik... Sangat menarik..."
Anastasia langsung melihat ke arah Haruto dan kemudian berkata,
"Dan kau akan menjadi juri di pertandingan ini ?"
"Aku hanya akan memperhatikan saja... Dan jika sudah kacau, aku akan turun tangan."
"Fufufufufufu... Menarik... Sebagai barang ketigaku... Kau sepertinya sangat menarik."
"Ketiga ?"
"Itu bukan masalahmu..."
Anastasia langsung berjalan mundur dan kemudian mengeluarkan pisau dari sarung di pinggangnya. Melihat itu, Haruto sangat terkejut dikarenakan pisau tersebut. Pada saat ia akan menahan mereka, Viltus sudah mengeluarkan pisau dari sarungnya.
Anastasia langsung berkata,
"Kita gunakan peraturan..."
"Tidak... Kita akan bertarung hingga salah satu menyatakan dirinya kalah..."
"Oh ? Kau kira aku akan..."
"Kau pasti akan... Lagipula... Aku tidak akan mengatakan apapun mengenai itu..."
Anastasia dan Viltus langsung tertawa bersama. Anastasia tahu Viltus tidak akan menyerah apapun yang terjadi, namun dia ingin menyiksa Viltus hingga akhirnya dia kehilangan motivasi untuk bertarung dan menyerah.
Mereka berdua berjalan menjauh di sana benar-benar sangat tenang, dengan salju putih yang luas di taman tersebut. Nafas mereka berdua dapat terlihat dengan jelas.
Dan dalam hitungan detik, mereka berdua berlari ke arah lawan mereka. Layaknya dua beruang yang bertarung, mereka menyerang satu sama lain dengan ganas. Tebasan pisau mereka memecah keheningan di tempat tersebut.
Tidak berapa lama, bercak darah mulai terlihat di salju. Pipi dari Viltus tertebas pisau milik Anastasia. Viltus masih dengan tatapan dinginnya melihat ke arah Anastasia yang terlihat menikmati pertarungan tersebut. Kedua pisau mereka bertabrakan satu sama lain. Hingga akhirnya, Anastasia mundur sebentar. Pipinya terkena beberapa tebasan dari pisau Viltus. Namun, tidak separah Viltus. Tangan kanannya sudah terkena cukup banyak tebasan pisau, begitu pula dengan wajahnya.
Anastasia langsung berkata,
"Mengapa dirimu keras kepala seperti ini, Viltus ?"
"Itu bukan masalahmu..."
"Mereka hanya senjata... Mereka ada hanya untuk..."
"Mereka bukan senjata... Mereka adalah manusia..."
"Huh ?"
"Mereka adalah manusia yang sudah kehilangan apa tujuan mereka selain bertempur... Dan itulah tujuan kita mengajari mereka apa makna dari hidup."
"Heh ? Mereka dapat diberikan hal seperti itu ?"
"Tentu saja. Itu adalah tugas kita sebagai Laksamana."
Anastasia langsung tertawa keras. Pada saat itulah, Viltus melihat matanya yang penuh dengan dendam. Ia langsung menerjang ke arah Viltus. Viltus menghindari tebasan pisau milik Anastasia, dan pada saat ada kesempatan, ia menjatuhkan pisau miliknya dan melayangkan pukulan dengan tangan kanannya. Anastasia langsung menangkap tangan tersebut dan menguncinya sekaligus menjatuhkan Viltus. Anastasia langsung berkata,
"Kau kalah... Kau tidak memiliki kesempatan la..."
"Bukankah aku berkata hingga aku mengakuinya ?"
"Eh ? Hei... HEI !"
Viltus berusaha membebaskan diri dari kunci tersebut. Anastasia langsung menyadari Viltus akan melakukan apapun untuk menang. Dan pada saat itulah, ia mendengar suara tangan dari Viltus yang patah. Anastasia langsung melepas kuncinya dan membiarkan Viltus lepas.
Viltus berdiri dan mengambil pisau dengan tangan kirinya. Ia tidak dapat merasakan apapun di tangan kanannya. Tapi, ia tidak memperdulikannya. Yang ada di kepalanya hanyalah kemenangan saja. Anastasia melihat ke arah Viltus dengan tampang jijik dan langsung berkata,
"Kau adalah milikku... MILIKKU..."
Anastasia langsung menerjang Viltus. Viltus menghindari semua serangan dari Anastasia hingga akhirnya dia terjatuh karena terlalu fokus pada pergerakan pisau dari Anastasia. Anastasia langsung menduduki Viltus dan mengarahkan pisaunya ke leher Viltus. Haruto yang melihat itu bermaksud menghentikan pertarungan tersebut, namun tatapan dari Viltus sangat tajam dan membuat dirinya mengurungkan niat menghentikan hal tersebut.
Viltus menatap Anastasia dengan tenang. Anastasia langsung berkata,
"Mengapa... Mengapa... Mengapa kau tidak memilih diriku ?"
"Bukankah itu mudah... Anastasia ?"
"Mengapa..."
"Aku tidak mencintai dirimu... Kau... Menakutkan..."
"Eh..."
"Kau... Dulu sangat baik... Mungkin jika dirimu tetap seperti itu... Aku dapat jatuh cinta kembali pada dirimu... Namun... Sekarang..."
"Kau milikku... Viltus... Kau milikku..."
"Maafkan aku..."
"MENGAPA KAU MEMILIH GADIS ITU DARIPADA DIRIKU !"
Viltus menutup matanya dan berkata,
"Itu karena... Dia yang telah membuatku menjadi sangat tenang... Dia yang telah menyelamatkan diriku..."
"Jika... Jika aku menyelamatkan dirimu..."
"Aku dapat jatuh cinta pada dirimu..."
"Lalu... Mengapa kau memilih Taihou daripada diriku... Mengapa ? Apa karena dia mirip dengan gadis itu ?"
"Mungkin dapat dikatakan seperti itu... Mungkin ini sebagai upayaku menghilangkan rasa sakit di dadaku ini... Pada saat kehilangan dirinya... Sebagai caraku untuk menebusnya..."
Viltus membuka mata karena ia merasakan air mata yang jatuh ke pipinya. Ia melihat ke arah Anastasia, yang mulai berlinang air mata. Anastasia langsung bertanya,
"Jika... Aku berubah... Apakah kau akan memberikan aku kesempatan ?"
"Mungkin..."
"Uuuuhhh..."
Anastasia langsung melepas pisaunya dan mulai menangis. Ia merebahkan dirinya di atas Viltus. Viltus langsung menutup matanya dan mengelus rambut Anastasia dengan lembut.
Setelah cukup tenang, Anastasia langsung menyatakan dirinya kalah, walaupun dia berada di atas kertas selama pertarungan tersebut. Anastasia mengakuinya dengan lapang dada. Haruto membantu Viltus untuk berdiri dan bermaksud untuk pergi membawa Viltus ke ruang dokter.
Viltus menahan Haruto dan kemudian berkata,
"Aku... Mungkin akan memberikan dirimu satu kesempatan... Aku tidak senang melihat dirimu yang seperti itu..."
"Ahahahaha... Itu karena aku pernah kehilangan dirimu..."
"Huh... Begitukah ?"
"Iya..."
Viltus langsung berjalan ke arah Anastasia, dan tanpa disadari oleh semua orang, dirinya mencium Anastasia. Haruto dan Anastasia sangat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Viltus. Wajah Anastasia langsung merah padam dengan tindakan dari Viltus. Viltus langsung berkata,
"Ini... Untuk balasanmu dahulu..."
"Eh ?"
"Mungkin kau lupa... Tapi, itu bukan masalah..."
"Memangnya kejadian apa ?"
"Ra. Ha. Si. A"
"Uuuhhh..."
Viltus langsung berjalan kembali ke arah Haruto dan berkata,
"Lalu, Anastasia..."
"Apa Viltus ?"
"Kau sebaiknya mengundurkan diri sebagai Laksamana... Kau tidak cocok menjadi Laksamana dengan pemahaman seperti itu..."
"Aku tahu..."
"Apa perlu aku beritahu ayahku... perihal hal tersebut..."
"Tidak perlu... Aku bermaksud mengundurkan diri..."
"Baguslah..."
"Ehehehehe..."
"Kau boleh mengunjungi kami jika kami tidak terlalu sibuk..."
"Aku tahu..."
Viltus tersenyum dan langsung berjalan ke arah dokter di Yokosuka diikuti oleh Haruto. Sementara, Anastasia masih diam di sana dan berkata,
"Sepertinya... Apapun usahaku... Dia akan memilih dirinya... Ya, aku berusaha saja deh... Mungkin... Aku akan mendapatkannya..."
Ia tersenyum dan langsung berjalan ke arah gedung administrasi.
Atas alasan kesehatan, divisi Viltus tidak berkumpul pada hari pertarungan Viltus menghadapi Anastasia. Pada saat Taihou menanyakan apa yang terjadi, Haruto sama sekali tidak menjawab pertanyaannya.
Keesokan harinya, Taihou bermaksud berjalan ke kantor. Namun, pada saat akan menaiki tangga, ia bertemu dengan Anastasia. Anastasia melihat ke arah Taihou dan tersenyum sekaligus menyapa Taihou,
"Halo... Taihou..."
"Ah... Lak..."
"Panggil aku Anastasia..."
"Ana..."
"Anastasia..."
"Anastasia-san..."
Mereka berdua berjalan bersama ke kantor Viltus tanpa berkata apapun. Semuanya merasakan aura yang saling menerkam dari mereka berdua. Hingga akhirnya Taihou berkata,
"Aku... Tidak akan membiarkan dirimu mengambil dirinya..."
"Ooohhh... Kau benar-benar mencintai dirinya..."
"Iya..."
"Maka... Aku akan menghadapi dirimu... Dalam mendapatkan perhatian dirinya..."
"Eh..."
"Kita akan bertarung secara sehat... Bagaimana ?"
Taihou melihat ke arah Anastasia dan melihat sedikit perubahan suasana dari Anastasia. Ia kemudian tersenyum dan berkata,
"Baiklah."
"Baguslah... Sebagai perawalan... Aku akan memberitahumu semua yang kuketahui mengenai Viltus, agar kita ada di posisi yang sama."
"Eh ?"
"Bagaimana ?"
"Boleh saja."
Anastasia langsung menceritakan semua yang ia ketahui mengenai Viltus kepada Viltus hingga tiba di depan ruangan Viltus. Di sana, Anastasia langsung berkata,
"Sepertinya... Viltus tidak ada di ruangan..."
"Mengapa ?"
"Ah, itu..."
"..."
Taihou langsung membuka pintu dan melihat Viltus di dalam kantornya dengan perban di pipinya, dan tangannya ditopang. Viltus tersenyum dan berkata,
"Lama sekali kalian..."
"VILTUS ! Apa yang terjadi pada dirimu ?"
"Ah... Ini... Aku bergulat dengan beruang..."
"Apa maksudmu ?"
Taihou menanyakan beberapa hal kepada Viltus yang dijawab dengan pelan oleh Viltus. Hingga akhirnya, Viltus melihat Anastasia dan bertanya,
"Dan... Anastasia... Mengapa dirimu di sini ? Aku sudah mendengar dari ayah dirimu sudah mengundurkan diri..."
"Aku sudah mengundurkan diriku... Namun, aku langsung mendaftarkan diriku kembali untuk satu hal..."
"Huh ?"
"Aku dengar ada kapal yang sonarnya harus dikendalikan secara manual..."
Pada saat mendengar hal tersebut Taihou dan Viltus langsung tahu apa yang dimaksud oleh Anastasia. Anastasia langsung berkata,
"Dan dikarenakan aku memiliki pengalaman dalam menggunakan sonar, aku mendaftarkan diriku untuk bergabung dengan unitmu... Viltus..."
"Apa..."
"Jadi, mohon bantuannya mulai sekarang... Viltus."
Viltus langsung berteriak dengan keras karena mendengar hal tersebut. Sementara Taihou hanya tertawa kecil saja melihat reaksi dari Viltus, begitu pula dengan Viltus. Dan mulai hari itu, divisi dari Viltus semakin besar.
HakunoKazuki di sini...
Ahahahahahahahaaa *uhuk uhuk
Hype Iowa dapat terasa dengan jelas... Diikuti dengan hype L*ws*n Kashima... Apa perlu aku buat dengan hal tersebut... Menarik...
Mengenai chapter ini... Maaf jika agak lama... Ya karena ada masalah dengan kehidupan nyata, jadi... ya agak lama buatnya...
Dan ditambah dengan adanya inspirasi dan bisikan setan untuk membuat seri lain... Well... Jadinya... Kepecah-pecah... Maaf...
Ya, sekian saja dari saya...
Semoga anda menikmati chapter ini dan menunggu chapter selanjutnya...
Dan sekarang... HAKUNOKAZUKI out !
