Chapter 10

Valentine


Yokosuka yang sebelumnya sangat sibuk dikarenakan persiapan dari pertempuran besar menguasai pelabuhan beberapa minggu yang lalu, akhirnya kembali normal. Hal itu dapat dilihat dengan Haruto yang kembali kabur ke tempat biasanya dia kabur bersama Sendai. Elisa yang kembali membuat beberapa percobaan bersama Yuubari. Dan Viltus kembali mengerjakan dokumen yang semakin banyak.

Viltus menghela nafas, dikarenakan ia juga mengurus masalah pembangunan di pelabuhan yang baru dikuasai oleh mereka, sehingga dokumen yang ia kerjakan jauh lebih banyak. Setidaknya, sebagian dari dokumen miliknya akan dikerjakan oleh Ooyodo dan ayahnya sendiri.

Ia menaruh dokumen yang telah ia kerjakan di sudut lain dari meja. Tidak berapa lama, Viltus melihat satu cangkir telah tiba di hadapannya. Viltus melihat ke depan dan menemukan Taihou yang menaruh cangkir tersebut. Taihou tersenyum dan berkata,

"Wah... Wah... Dokumenmu banyak sekali..."

"Ah... Mengenai ini..."

"Apa kau belum tidur lagi ?"

"Bagaimana mungkin aku dapat bekerja terus di ruangan ini... Jika setiap pukul 12 malam, kalian akan menendangku keluar dari ruangan ini ?"

"Ahahahahaha..."

"Haaahh... Padahal aku ingin secepatnya menyelesaikan semua ini..."

Taihou memperhatikan semua dokumen milik Viltus dan langsung berkata,

"Dokumen ini... Dokumen untuk pelabuhan itu, ya ?"

"Tepat sekali..."

"Dan ini... Milik Haruto ?"

"Iya..."

"Apa perlu aku cari dia ?"

"Tidak... Aku akan menghukum dia nanti..."

Taihou langsung tertawa mendengar itu. Ia langsung memegang tangan kanan dari Viltus, dan hanya mendapat tatapan tanpa ekspresi dari Viltus. Taihou langsung berkata,

"Sudah tidak sakit ?"

"Sudah kukatakan... Sudah tidak terasa sama sekali dari beberapa hari yang lalu."

"Kau tidak bohong... Cepat sekali kau sembuh..."

"Aku sudah bilang..."

Mendadak ia mendengar suara dari luar. Seperti suara dua orang yang berlari. Viltus berpikir sebentar, dan kemudian tersenyum. Ia langsung berkata,

"Taihou..."

"Apa ?"

"Bagaimana jika kita bertaruh ?"

"Apa taruhannya ?"

"Jika aku menang, kau akan membantuku menyelesaikan semua dokumen ini..."

"Kalau aku menang... Kau harus memasak untukku, Viltus."

"Fufufufufu... Menarik..."

"Apakah yang dipertaruhkan ?"

"Siapa saja orang yang akan kita lihat pada saat pintu terbuka ?"

Taihou berpikir sejenak. Viltus langsung berkata,

"Aku akan mengatakan itu adalah Haruto dan Elisa..."

"Aku malah berpikir itu adalah Magyar dan Ryuujou." ujar Taihou dengan wajah penuh percaya diri.

"Hoooh... Menarik..."

"Mari kita lihat."

Tidak berapa lama pintu terbuka. Di sana berdiri dua orang, satu pria dan satu wanita. Pria tersebut memiliki paras orang Eropa dan yang wanita memiliki rambut coklat yang diikat twintail. Di tangan mereka terdapat sebuah kotak. Mereka adalah Magyar dan Ryuujou.

Taihou langsung tertawa dan melihat ke arah Viltus yang terlihat tidak percaya. Ia langsung berkata,

"Jangan lupa janjimu..."

"Aku ta... Hei... Aw... Apa ini ? Kacang ?"

Viltus dilempari oleh Magyar dan Ryuujou sembari berteriak secara bersama-sama,

"Roh Jahat KELUAR ! Keberuntungan MASUK !"

Viltus langsung melihat ke kalender, sembari menahan gempuran kacang dari Magyar dan Ryuujou. Ia langsung sadar hari ini adalah Setsubun. Ia langsung melihat ke arah Magyar dan Ryuujou kemudian tersenyum. Magyar langsung berkata,

"Ummm... Bukannya roh jahat harusnya lari karena kesakitan..."

"Aku sudah bilang tadi... Jangan membuat orang ini menjadi target..."

"Ah... Kau benar..."

Magyar dan Ryuujou langsung menyadari apa yang akan terjadi selanjutnya jika mereka masih di ruangan tersebut. Mereka langsung lari sembari berteriak,

"Setan lepas !"

"Siapa yang kau maksud sebagai setan, haaah ?!"

Viltus langsung lari mengejar Magyar dan Ryuujou diiringi dengan tawa dari Taihou yang melihat kejadian tersebut.


Taihou duduk di kursi milik Viltus sembari menunggu Viltus kembali. Ia membaca beberapa buku yang biasa dibaca oleh Viltus. Namun, ia sadar satu hal. Mayoritas yang dibaca oleh Viltus adalah buku memasak, menjahit, dan sebagainya. Setidaknya ada satu atau dua buku bacaan normal milik Viltus.

Taihou langsung berkata,

"Dia ini..."

Mendadak pintu terbuka, dan Taihou melihat ke arah pintu. Di sana ia melihat Anastasia yang tersenyum ke arah dirinya. Anastasia langsung bertanya,

"Di mana, Viltus ?"

"Mengambil peran sebagai setan di acara ini."

"Oh... Tumben..."

"Ya, karena Magyar dan Ryuujou tadi."

"Aku kalah dong..."

"Eh ?! Kau bertaruh dengan siapa ?"

"Magyar... perihal hal tersebut..."

Taihou langsung tertawa kecil diiringi dengan tawa dari Anastasia. Anastasia langsung masuk dan duduk di sofa. Ia mengambil satu buku dan membacanya.


Selama tiga puluh menit mereka berdua menunggu Viltus kembali. Namun, dapat terlihat tidak ada tanda-tanda dari Viltus yang akan datang. Taihou langsung menghela nafas dan mengembangkan pipinya. Anastasia tersenyum dan kemudian berkata,

"Sekarang sudah awal Februari..."

"Iya..."

"Jika dihitung, hampir satu tahun dia di markas ini ya ?"

"Tepat sekali..."

"Hmmm... Taihou, dapatkah kau menjelaskan lebih jauh mengenai festival Setsubun ini ?"

"Eh ? Kau tidak mengetahuinya ?"

"Aku sering ke Jepang dulu... Namun, jarang sekali aku tiba pada saat festival Setsubun."

"Oohh..."

"Dapatkah kau memberitahuku ? Sebagai gantinya aku akan memberitahu lebih lanjut mengenai Viltus."

"Tentu saja."

Taihou langsung menjelaskan apa yang ia ketahui mengenai festival Setsubun yang saat ini berlangsung. Anastasia mengangguk mendengar itu. Tidak berapa lama, mereka mendengar ketukan dari luar, dan Taoihou mempersilahkan masuk. Pada saat pintu terbuka, mereka melihat Houshou dengan beberapa Ehomaki yang akan ia bagikan. Pada saat melihat yang berada di kantor Viltus, Houshou langsung bertanya,

"Ummm... Amarov-san di mana ?"

"Mengambil peran sebagai Oni..." ujar Taihou

"Eh... Dia menjadi Oni ?" ujar Houshou dengan wajah terkejut.

Taihou langsung memberitahu runtut kejadian pagi itu, dan pada saat mendengar itu Houshou langsung tertawa. Setelah itu, Houshou memberikan Ehomaki kepada Taihou dan Anastasia. Pada saat diberikan kepada Anastasia, Houshou berkata,

"Anastasia-san... Apakah kau mengetahui cara memakannya ?"

"Ummm... Seperti sushi biasa ?"

"Tidak... Tidak..."

"Lalu ?"

"Kau harus memakan sushi ini tanpa berhenti sembari menghadap ke arah mata angin yang menunjukkan keberuntungan di tahun ini."

"Oh... Tapi Sushi ini sangat besar..."

"Aku tahu... Oh... Kau harus memegang sushi ini dengan kedua belah tangan dan tidak boleh berbicara hingga sushi ini habis."

"Begitu ya..."

"Lihat saja, Taihou... Mungkin kau akan melakukannya..."

"Boleh saja."

Anastasia berdiri dan berjalan ke arah Taihou. Taihou langsung menanyakan kepada Houshou arah keberuntungan. Dengan melihat Taihou, Anastasia ikut memakan Ehomaki tersebut. Houshou tersenyum sebentar, dan langsung pergi untuk memberikan Ehomaki kepada Gadis Kapal lain.

Setelah selesai memakan Ehomaki masing-masing, Anastasia langsung duduk dan berkomentar,

"Mulutku... lelah..."

"Ahahahaha... Kau belum terbiasa saja..."

"Ya... Aku harap sih aku dapat keberuntungan di tahun ini..."

"Semoga saja... ahahahaha..."

Anastasia kemudian langsung berdiri dan menyentil dahi Taihou. Ia kemudian berkata,

"Baiklah... Sesuai dengan janjiku... Aku akan memberitahumu mengenai Viltus..."

"Tolong..."

Anastasia langsung menceritakan semua hal lain yang ia ketahui dari Viltus.


Sepuluh menit kemudian, mereka berdua mendengar suara kapal perusak dari luar gedung. Pada saat memperhatikan dari kantor tersebut, mereka melihat Haruto, Viltus, Nagato dan Sendai mengambil peran sebagai Oni, dan semua Kapal perusak melempari mereka kacang.

Taihou langsung tertawa melihat itu, sementara Anastasia hanya menghela nafas saja. Anastasia kemudian melihat ke arah kalendar dan berkata,

"Umm... Taihou, apakah kau akan membuat cokelat ?"

"Eh ?"

"Kau tahu... Sepuluh hari lagi..."

"Ah... Entahlah... Aku tidak tahu..."

Anastasia langsung tersenyum dan kemudian berkata,

"Namun, sangat disayangkan jika kau melewatkan hari itu mengerti..."

"Uuuh..."

"Mungkin aku dapat meraih sedikit langkah lebih maju dalam mendekati Viltus..."

"..."

"Ya... itu terserah dirimu sih."

Anastasia melihat ke arah Taihou yang terlihat sedikit gelisah. Anastasia langsung tahu apa masalah dari Taihou, ia kemudian berkata,

"Sepertinya... Kau tidak dapat membuat cokelat dan kesulitan dalam memberikan cokelat ya ?"

"I... Iya..."

"Hmmm..."

Anastasia terlihat berpikir sebentar dan kemudian berkata,

"Bagaimana jika aku mengajarimu cara membuat cokelat ?"

"Eh ?!"

"Walaupun tidak terlalu ahli... Setidaknya aku berpengalaman dalam membuat cokelat"

"Begitukah... Kau yakin akan..."

"Tentu saja..."

"..."

"Bagaimana ?"

"Boleh saja."

"Tapi, untuk masalah memberikan itu caramu sendiri."

"Uuuhhh..."

Anastasia langsung mengulurkan tangannya dan berkata,

"Ya... Siapa tahu, kau dapat menyatakan perasaanmu saat itu."

"A... Anastasia-san..."

"Hehehehe..."

"Bukankah kita..."

"Aku tahu... Namun, itu bukan masalah... Berarti aku kalah... Mudah."

Taihou langsung tersenyum dengan muka merah dan menjabat tangan Anastasia. Anastasia langsung memberitahukan kepada Taihou kapan saja dia akan membuat cokelat. Selain itu, Anastasia memberitahukan setidaknya ada beberapa hari di mana Viltus pasti akan membantu Gadis Kapal dalam membuat cokelat, jadi hari itu harus dihindari. Taihou mengangguk.

Tidak berapa lama, Viltus kembali ke ruangannya sembari berkata,

"Aku kembali... Taihou... Rasanya badanku sakit sekali... Huh ?"

Viltus langsung terkejut melihat Anastasia dan Taihou. Dan melihat dari wajah mereka berdua, Viltus tahu satu hal,

"Kalian... Pasti merencanakan sesuatu..."

"Mungkin... Benar tidak, Taihou ?" ujar Anastasia sembari mengangkat bahunya.

"Iya, mungkin." Ujar Taihou sembari tersenyum

Viltus hanya menghela nafas saja mendengar jawaban dari mereka berdua. Viltus kemudian duduk di sofa, dan mendapat pertanyaan dari Taihou dan Anastasia mengenai berbagai hal, terutama pengalaman dia menjadi seorang Oni.


13 Februari. Taihou dan Anastasia terlihat sibuk dengan cokelat masing-masing. Anastasia memperhatikan cokelat buatan dari Taihou, kemudian berkata,

"Wow... Kau bilang tidak bisa... Tapi ini..."

"Tapi, aku tidak tahu bagaimana dengan rasanya."

"Hmmm... Boleh kucoba lagi ? Ini cokelat yang baru benar ?"

"Si... Silakan..."

Selama Anastasia mengajari Taihou, ia sudah merasakan cukup banyak cokelat buatan Taihou. Yang pertama memiliki rasanya sangat pahit. Untuk yang kedua terlalu manis, dan dapat membuat gigi sakit. Sementara yang ketiga, hancur lebur karena gagal menggunakan kacang.

Dan untuk yang keempat ini, Anastasia sudah mempersiapkan perutnya. Ia mengambil satu potong, dan kemudian memasukkannya ke dalam mulutnya. Setelah ia menggigit cokelat tersebut, mata Anastasia terbuka lebar dan mengangguk. Ia kemudian berkata,

"Kau tahu... Ini cukup enak..."

"Begitukah ?"

"Jika aku bandingkan dengan cokelat buatan Shiro-san... Ugh... Mengingatnya saja sudah membuatku mual..."

"Memangnya Shiro-san pernah... Tunggu, kau mendapat cokelat ?!"

"Saat itu di tengah pelatihan, dan Shiro-san dengan sukarela membuat cokelat untuk kami semua... Yang selamat hanya Viltus dan gadis itu saja..."

Aura yang dipancarkan oleh Anastasia menyerupai aura yang dipancarkan oleh Viltus bila membicarakan mengenai makanan buatan Shiro. Taihou langsung tertawa kecil saja. Anastasia kemudian berkata,

"Selanjutnya hanya masalah membungkusnya... dan memberikan kepada dirinya."

"Uuuhhh..."

"Pilihannya mudah... Pasti besok akan cukup banyak Gadis Kapal yang akan menaruh cokelat ke tempat Viltus pada saat dirinya belum masuk ke kantor... Kau bisa menaruhnya di sana bersama yang lain... Kekurangannya, Viltus pasti tidak tahu itu dari siapa..."

"Yang lain ?"

"Memberikannya langsung..."

"Langsung... Eh ?"

"Itu paling mudah untuk diketahui dari siapa... Dan paling sulit dilakukan."

"..."

"Kau memilih yang mana ?"

"Itu... Ummm..."

"Jangan terlalu banyak berpikir..."

"Aku... Akan memberikannya secara langsung."

"Aku akan mendengarnya nanti, apa yang akan terjadi selanjutnya."

"I... Iya..."

Taihou dan Anastasia langsung membungkus cokelat masing-masing sembari bercengkerama mengenai berbagai hal.


14 Februari. Viltus dan Haruto terlihat sedang berjalan menuju ke arah gedung administrasi untuk memasukkan dokumen yang telah mereka kerjakan dalam beberapa hari terakhir ini. Setelah memasukkan dokumen tersebut, Viltus langsung merenggangkan badannya dan berkata,

"Akhirnya selesai... Aku dapat beristirahat selama dua hari..."

"..."

"Kenapa ?"

"Kau bilang... Beristirahat ?"

"Iya."

Haruto mundur dengan membuat wajah yang sangat terkejut. Viltus hanya diam saja dan berkata,

"Aku tahu... Aku bukan orang yang paling diinginkan jika berkata seperti itu."

"Ya... Itu alasan utamanya..."

"Kau tahu... Jika manusia terlalu sering mengerjakan sesuatu, suatu saat akan jenuh dan butuh istirahat..."

"Ohh..."

"Lagipula ini juga permintaan dari ayah..."

"Eh ? Kenapa ?"

Viltus diam sebentar dan langsung berkata,

"Itu bukan masalahmu..."

"Haah... Kau ini."

"Tapi... Daripada itu... Entah mengapa..."

"Aku tahu... Perasaan ini... Yang saat ini kita rasakan..."

"Sekarang tanggal berapa ?"

"Tunggu sebentar..."

Haruto langsung mengecek kalender di dekatnya dan berkata,

"14 Februari..."

"Hari Kasih Sayang..."

"Pantas rasanya..."

"Iya..."

Haruto dan Viltus langsung menghela nafas. Pada saat itu, Haruto langsung bertanya kepada Viltus,

"Hei, Viltus..."

"Apa ?"

"Kira-kira... Berapa banyak cokelat yang akan kau dapat ?"

"Entahlah..."

"Aku yakin kau mendapatkan cukup banyak du..."

"Tidak juga... Karena statusku yang memiliki kewarganegaraan ganda."

"Ah... Aku lupa."

"Satu-satunya cokelat yang kudapat dulu hanya dari Shiro-nee saja."

"Shiro-san... Apakah itu dapat dimakan ?"

Viltus langsung memalingkan wajahnya dengan tampang tanpa ekspresi dan gelap. Haruto langsung mengerti apa yang ada di dalam pikiran Viltus, dan langsung menepuk pundak Viltus. Haruto kemudian berkata,

"Tapi, setidaknya tahun ini kau akan dapat... Satu atau dua..."

"Eh..."

"Jangan membuat wajah seakan-akan bertanya-tanya siapa yang kumaksud..."

"..."

"Mungkin... Taihou akan datang ke tempatmu dan langsung memberikannya kepada dirimu... Dan kau tahu itu saatnya untuk apa ?"

"Apa ?"

"Kau ini... Tentu saja... MENYATAKAN PERASAANMU padanya... PERASAANMU !"

"..."

"Jangan bilang kau..."

"Tidak... Aku..."

Haruto langsung membalikkan badannya dan berteriak,

"Kimura... Tolonglah beri pencerahan dari dunia sana kepada pria idiot ini agar dapat menyatakan perasaannya pada Taihou... Tolonglah !"

"Apa maksudmu, huh ?" ujar Viltus dengan nada sedikit kesal.

"Habis... Kalian sudah sangat dekat, tetapi masih belum menyatakan perasaan kalian berdua... Kau tahu tidak... Kami semua hampir habis kesabaran menunggu hal tersebut !"

"..."

"Apa kau mau dia direbut oleh Laksamana lain ?"

"Tentu saja tidak !"

"Maka, dari itu... Kau harus..."

"Aku tahu... Aku tahu... Kita lihat saja nanti..."

Haruto langsung menghela nafas dan melihat ke arah luar. Ia kemudian berkata,

"Ya, mumpung dirimu istirahat... Kau ingin minum-minum di kedai Houshou ?"

"Masih pagi... Aku harus ke dokter dahulu sebentar...

"Eh ? Kenapa ?"

"Mereka ingin mengecek darahku dahulu... kemudian aku akan mencari makan di kota."

"Hmmm... Menarik..."

"Kau ingin ikut ? Aku akan mengajak Magyar juga. Aku traktir"

"Ok ! Ajak aku kapan saja !"

"Tentu saja."

Mereka berdua kemudian berjalan keluar dari gedung administrasi mencari Magyar untuk diajak makan di kota.


Taihou dan Anastasia membawa cokelat masing-masing dan berjalan ke arah kantor Viltus. Pada saat Taihou memutar kenop pintu, ia merasakan pintu kantor terkunci. Taihou melihat ke arah Anastasia dengan wajah sedikit khawatir. Anastasia langsung bertanya,

"Ada apa, Taihou ?"

"Ummm... Kantor masih terkunci..."

"Eh ?"

Anastasia langsung mencoba membuka pintu dan sadar pintu benar-benar terkunci. Anastasia melihat ke arah Taihou dan kemudian berkata,

"Viltus... Dia..."

"Sebaiknya aku mencari dia di asrama..."

"Aku setuju."

Mereka langsung berjalan menuju ke asrama Laksamana. Selama perjalanan, mereka melihat Gadis Kapal yang memberikan cokelat kepada beberapa Laksamana. Ada yang terlihat bahagia, ada yang masih malu-malu. Pada saat mereka berjalan di taman, mereka melihat Aoba yang terlihat memotret beberapa pasangan tanpa sepengetahuan mereka. Taihou dan Anastasia melihat satu sama lain, dan kemudian langsung berjalan pelan-pelan ke belakang Aoba. Setelah itu, mereka menepuk pundak Aoba secara bersama-sama dan membuat Aoba kaget.

Aoba langsung melihat ke belakangnya dan melihat Taihou dengan Anastasia. Aoba langsung berkata,

"Kalian jangan seperti itu mengerti... Kamera milik Kimura hampir jatuh, tahu..."

"Maaf... Maaf..." ujar Taihou

"Huuuhhhh..."

"Tapi, apa yang kau lakukan itu juga tidak baik... Memotret tanpa diketahui orang..." ujar Anastasia sembari tersenyum.

"Ya... Kau tahu... Aoba butuh foto untuk berita Aoba besok... Para Gadis Kapal hanya memberikan saja tanpa menyatakan perasaan mereka... Aoba kesal..."

"Hmmm... Mungkin nanti ada..."

"Nanti ?"

Aoba melihat ke arah lirikan mata dari Anastasia, dan melihat Taihou yang memegang sebungkus cokelat. Aoba langsung tertawa kecil dan berkata,

"Ohohoho... Untuk Viltus-san pasti..."

"Eh... Uh... Ummm... I... Iya..."

"Kau ingin menaruh cokelatnya di kamar dia seperti beberapa Gadis Kapal lain ?"

"Eh ?"

"Sudah cukup banyak Gadis Kapal yang menaruh cokelat di kamarnya... Sainganmu banyak sekali Taihou."

"Aku tahu..."

"Atau kau ingin memberikannya kepada Viltus langsung ?"

"Ah..."

"Sepertinya tepat... Namun, sayang sekali..."

"Sayang sekali ?"

"Viltus tadi pergi bersama Haruto dan Magyar ke kota. Sepertinya mereka sedang mencari makan siang."

"Eh ?!"

Taihou sangat terkejut mendengar hal tersebut. Sangat jarang sekali Viltus akan pergi keluar dari Markas Angkatan Laut pada hari kerja seperti hari ini. Taihou langsung tertunduk sebentar. Aoba kemudian berkata,

"Dia bilang sih... Cuma makan siang... Namun, Aoba yakin... Mereka ada acara lain..."

"Perkiraan mereka kembali ?"

"Hmmm... Kemungkinan sore... Kau bisa menunggunya di pintu gerbang."

"..."

"Kau tahu... Yang kau butuhkan adalah kesabaran." ujar Anastasia mengikuti alur pembicaraan antara Aoba dan Taihou.

Taihou langsung mengangguk mendengar hal tersebut. Anastasia dan Aoba tersenyum melihat wajah dari Taihou yang sedikit lebih tenang. Anastasia kemudian bertanya,

"Lalu... Kau sendiri ?"

"Aku ? Aku sudah memberikan coklat kepada Kimura."

"Eh ? Bukankah... Aww..."

Taihou mencubit Anastasia sedikit karena pertanyaan itu cukup sesuatu yang personal bagi Aoba. Aoba langsung tertawa dan berkata,

"Kau tidak perlu melakukan itu, Taihou. Aku tahu... Kimura sudah meninggal..."

"..."

"Tetapi, dia setidaknya masih hidup di sini."

Aoba menepuk dadanya dan tersenyum ke arah mereka berdua. Taihou sadar, Aoba tidak dapat lepas dari Kimura walaupun sudah meninggal sekalipun. Ia tidak akan mengkhianati perasaan dari Kimura. Dan pada saat itu, ia bertanya-tanya apakah dia dapat seperti Aoba atau tidak jika akhirnya dia bersama dengan Viltus.

Aoba kemudian berkata,

"Sudah... Aku harus mencari foto lagi. Jangan terkejut jika melihat foto dirimu dan Viltus di koranku besok, ya..."

"Hei... Kau mencari mati dengan melakukan itu, ya ?" ujar Taihou dengan wajah merah

"Ya... Itu resiko dari berita bagus... Setan itu pasti memanah kepalaku. Setelah koran itu terbit lebih tepatnya."

"Ahahahahaha... Silakan, kau boleh mencari foto lagi."

"Ok... Sampai jumpa pada saat makan malam nanti."

"Iya."

Aoba langsung pergi berlari untuk mencari foto yang lain. Anastasia tersenyum melihat semangat dari Aoba dan berkomentar,

"Dia itu... Wanita yang sangat kuat."

"Memang..."

"Dan sepertinya dirimu masih bertanya-tanya... Apakah kau dapat seperti dirinya atau tidak..."

"..."

"Kau tidak perlu memikirkannya... Karena itu akan menjadi beban bagi dirimu."

"Aku tahu."

"Sudah... Kau tunggu Viltus saja dulu."

"Ba... Baik..."

Anastasia tersenyum melihat Taihou yang berlari ke arah gerbang. Ia menutup mata dan berjalan ke arah kamar Viltus untuk menaruh cokelat miliknya.


Taihou menunggu kembalinya Viltus dari kota dengan sabar. Ia terlihat cukup gelisah karena masih sedikit malu jika memberikan cokelat tersebut. Pada saat ia sedang berdiri, mendadak ia ingat apa yang dikatakan oleh Anastasia,

"Ya... Siapa tahu, kau dapat menyatakan perasaanmu saat itu."

Wajah Taihou langsung merah mengingat apa yang dikatakan oleh Anastasia. Ia langsung membuat simulasi dirinya memberikan cokelat tersebut sekaligus menyatakan perasaannya pada Viltus. Ia membuat berbagai skenario di kepalanya, hingga akhirnya ia berkata,

"Tidak... Tidak bisa... Ini terlalu memalukan... Uuuhhh..."

Taihou langsung memukul-mukul kepalanya ke tembok di belakangnya dan membuat kaget penjaga di dekatnya. Setelah itu, ia menarik nafas panjang dan berkata dengan pelan,

"Taihou... Jangan panik... Kenapa dirimu panik... Kau tidak perlu... Pan..."

Belum sempat dirinya dapat tenang, ia mendengar suara Magyar, Viltus dan Haruto yang sudah kembali dari kota. Ia langsung bersembunyi di balik tembok sembari memperhatikan Viltus.

Viltus langsung melapor kepada penjaga di hadapan dirinya,

"Laksamana Amarov melapor kembali dari kota."

"Selamat datang kembali... Laksamana... Amarov..."

"Ada apa dengan kalian ?"

Viltus terlihat bingung dengan tampang dari penjaga di hadapannya. Mereka seperti ingin memberitahu sesuatu, namun tertahan karena tatapan seseorang. Viltus memperhatikan sekitar, tetapi tidak menemukan siapapun selain mereka bertiga dan dua penjaga di hadapan dirinya.

Viltus langsung berkata,

"Kalian ini bekerja yang benar..."

"Maaf... Maaf..."

Viltus langsung berjalan masuk ke dalam bersama Magyar dan Haruto yang sepertinya tahu siapa yang menunggu di sana. Mereka berdua berharap setidaknya ada seorang wanita dengan rambut cokelat pendek akan menghentikan langkah mereka, dan memberikan cokelat secara langsung kepada Viltus.

Namun, apa daya itu hanya skenario di kepala mereka. Yang terjadi di luar adalah Viltus yang berjalan dengan santai menuju ke arah asrama. Magyar dan Haruto melihat ke belakang dan hanya menghela nafas saja.

Sementara itu, Taihou tidak dapat bergerak sama sekali pada saat melihat Viltus yang baru saja lewat. Otaknya sama sekali tidak dapat bekerja sama sekali. Ia membalikkan badannya sebentar dan memukul kepalanya ke tembok sekali lagi dan berkata,

"AHHHHH... IDIOT... IDIOT... IDIOT !"

Setelah cukup tenang, ia melihat ke arah cokelat miliknya dan langsung menghela nafas. Ia bermaksud membuang cokelat tersebut, namun mengingat usaha dia, ia mengurungkannya. Ia kemudian berjalan ke arah asrama Gadis Kapal, sebelum teringat sesuatu.

"Tunggu sebentar... Kunci kantor dia kan... Ada di vas dekat pintu..."

Ia berpikir sebentar dan langsung menghela nafas. Sekarang ia memiliki satu tujuan. Menunggu Viltus di kantor miliknya.


Viltus sampai di depan kamarnya dengan tatapan kosong. Di dalam kamarnya sudah terdapat beberapa cokelat yang ditaruh di atas kasurnya. Viltus langsung berkata,

"Siapapun yang menyebarkan bahwa kamarku tidak pernah kukunci... Aku akan menghukumnya..."

"Bukannya itu sudah rahasia umum ?"

"Memang sih..."

"Jadi tidak perlu mencari siapa pelakunya..."

"Haruto..."

Viltus langsung menghela nafas dan kemudian masuk ke dalam. Ia mengecek satu per satu cokelat. Namun, dari matanya ia berharap cokelat dari seseorang. Haruto dan Magyar hanya dapat diam saja. Pada saat itu, Viltus langsung ingat,

"Tunggu sebentar... Aku ingat... Aku belum memberitahu divisiku bahwa aku istirahat hari ini..."

"..."

"Apa mereka menunggu di kantor, ya..."

Magyar dan Haruto tahu yang dimaksud dengan "Mereka" adalah Taihou. Tidak berapa lama, Anastasia muncul bersama Aoba, dengan Aoba berkata,

"Ah... Viltus..."

"Aoba... Eh... Apakah semua anggota divisi tahu bahwa diriku hari ini ?"

"Eh... Semuanya tahu bahwa dirimu pergi..."

"Begitukah ?"

Wajah Viltus terlihat sedikit kecewa mendengar hal tersebut. Anastasia yang memperhatikan Viltus langsung tahu apa yang dipikirkan olehnya. Anastasia langsung berkata,

"Tapi tidak semuanya... Daritadi aku pergi bersama dengan Aoba, namun ada yang tidak mengetahuinya..."

"Eh... Siapa ?"

"Daripada menanyakan hal tersebut, sebaiknya kau pergi saja ke sana lebih dahulu."

"Ah... Kau benar... Daripada kau membuat orang itu mereka menunggu di sana..."

Viltus langsung berlari keluar dari ruangan menuju ke kantornya. Magyar kemudian berjalan ke arah Anastasia dan kemudian bertanya,

"Kau yakin memberitahu hal tersebut ? Bisa jadi dirimu kalah..."

"Mungkin kalah... Mungkin juga tidak... Aku tahu dalam menyatakan perasaan itu sangat sulit... Kita lihat saja nanti. Dan Aoba... Huh ?"

Pada saat Anastasia, Haruto dan Magyar melihat ke sisi Anastasia, Aoba sudah menghilang. Haruto dan Magyar langsung membuat tanda semoga selamat kepada Aoba, sementara Anastasia berkata,

"Ya... Kita lihat saja besok..."


Viltus telah tiba di depan pintu kantornya. Ia langsung mengecek di bawah vas dan tidak menemukan kunci di sana. Ia menarik nafas panjang dan kemudian memutar kenop pintu kantornya. Setelah terbuka, ia melihat ruangan yang disinari dengan sinar matahari yang mulai terbenam. Di sana, ia melihat seorang gadis yang menutup wajahnya di atas meja. Di sampingnya terdapat sebungkus cokelat.

Viltus langsung tersenyum dan kemudian langsung berjalan dengan pelan ke dekat gadis itu. Ia langsung berlutut di depan gadis itu, dan kemudian berkata,

"Apakah kau tidur dengan nyenyak, putri Taihou ?"

"Eh ?"

Taihou langsung duduk dengan tegak dan melihat Viltus yang berlutut di depannya dengan wajah tersenyum. Wajah Taihou langsung merah melihat hal tersebut. Viltus sama sekali tidak dapat melihat wajah merah dari Taihou karena sinar matahari yang terbenam menyinari wajahnya.

Viltus kemudian berdiri dan kemudian berkata,

"Maafkan aku... Tidak memberitahumu bahwa diriku pergi ke kota tadi..."

"Huuuhhh... Kau tahu... Aku tadi sempat khawatir karena dirimu belum ada di ruangan mengerti..."

"Maaf... Maaf..."

Taihou langsung mengembangkan pipinya dan memalingkan wajahnya dari Viltus. Viltus langsung bersandar di mejanya, satu tangannya menyentuh pipi Taihou berkali-kali dan kemudian berkata,

"Jadi... Untuk membuat dirimu tidak marah lagi kepada diriku... Apa yang harus kulakukan ?"

"Hmmm..."

"Apakah itu ?"

"Ummm... Dapatkah kau... Mengelus kepalaku ?"

Viltus sedikit terkejut mendengar hal tersebut, dan langsung tersenyum. Ia langsung mengelus dengan pelan kepala Taihou, dan berkata,

"Bagaimana ?"

"Te... Terima kasih banyak..."

Viltus kembali tersenyum dan dibalas dengan senyum malu-malu dari Taihou. Viltus kemudian mengambil satu kursi dan duduk di depan Taihou. Sebagai permintaan maafnya kepada Taihou, ia menceritakan apa yang ia lakukan selama di kota.

Setelah itu terdapat keheningan antara mereka berdua. Ini semua dikarenakan mereka menyadari kehadiran masing-masing individu sebagai pria dan wanita. Hingga akhirnya, Taihou berdiri dan berkata,

"Viltus..."

"Ada apa, Taihou ?"

"I... Ini... Untukmu..."

Taihou langsung mengambil cokelat miliknya dan diberikan kepada Viltus. Ia menutup matanya karena malu. Sementara, Viltus terdiam sebentar. Ia melihat sisi lain dari Taihou. Taihou yang malu-malu di hadapan dirinya. Ia sama sekali tidak berkedip pada saat Taihou memberikan hal tersebut.

Viltus langsung mengambil cokelat tersebut dan tersenyum. Ia kemudian berkata,

"Terima kasih... Taihou..."

Taihou langsung melihat ke arah Viltus dengan wajah bahagia. Taihou langsung teringat dengan apa yang dikatakan oleh Anastasia dan bermaksud mengatakan perasaanya kepada Viltus. Namun, belum sempat ia mengatakannya, Viltus langsung memeluk dirinya. Viltus kemudian berkata,

"Aku... Aku sudah lelah menahannya..."

"Eh... Viltus..."

"Aku tidak ingin menyesal lagi... Seperti pada saat bersama gadis itu..."

"..."

"Daripada aku... menyesal kembali... Aku akan mengatakannya..."

Viltus melepas pelukannya dan kemudian melihat ke mata Taihou. Ia menarik nafas panjang dan dengan wajah yang merah ia berkata,

"Taihou... Aku mencintai dirimu..."

"Eh ?"

"Apakah kau mau menjadi ke..."

"Tentu saja... Viltus... Aku mau... Aku... Aku mencintai dirimu..."

Taihou langsung memeluk Viltus dengan erat. Viltus yang mendengar itu juga langsung memeluk Taihou, dan kemudian berkata,

"Aku... Tidak ingin menyesal..."

"Pasti... Karena apa yang dikatakan oleh Haruto dan Magyar selama ke kota, ya ?"

"Iya..."

"Aku akan menjadi pengganti dari..."

"Kau tidak bisa menjadi gadis itu..."

"Eh ?"

"Kau adalah Taihou... Bukan Gadis itu... Namun, kau dapat mengisi bagianku yang hilang."

"Viltus..."

Taihou melihat ke arah Viltus dan tersenyum ke arah dirinya. Viltus langsung mencium bibir dari Taihou.


Taihou dan Viltus kemudian duduk di sofa dan terdapat keheningan antara mereka berdua. Pada saat itu, Taihou bertanya,

"Jadi... Kita sudah menjadi pasangan ?"

"Iya..."

"Apa yang harus kita lakukan ?"

"Mengenai itu..."

"Ehehehehe... Sepertinya kita lebih baik bersikap seperti biasa saja..."

"Mungkin... Lebih baik seperti itu..."

Taihou langsung mendekatkan dirinya ke Viltus dan menyandarkan kepalanya di dada Viltus. Taihou kemudian berkata,

"Hei... Viltus..."

"Apa..."

"Apakah kau siap... Dengan mencintai dan menyatakan perasaanmu kepadaku yang merupakan Gadis Kapal... untuk menghadapi semua hal... Seperti nanti pada saat Laksamana Ichijou kembali kemari ?"

"Tentu saja... Aku siap..."

"Apakah kau siap... Jika pada akhirnya aku tenggelam pada suatu pertempuran ?"

"Dan kau menjadi Abyssal ?"

"Iya..."

"Aku akan mengakhirimu... dengan tanganku sendiri... Aku tidak akan membiarkan orang lain untuk membunuhmu..."

"Ehehehehehe..."

"Sekarang giliranku..."

"Baiklah..."

"Kami manusia hidup jauh lebih singkat dari kalian... Apakah kau siap jika aku meninggalkan dirimu dan pergi ke dunia sana ?"

"Aku siap... Jika Aoba mampu melewatinya, maka diriku pun juga mampu..."

Viltus langsung mengelus kepala Taihou. Taihou kemudian berkata,

"Jika dirimu sudah di dunia sana... Tunggu aku..."

"Begitu juga dengan dirimu..."

Taihou langsung mencium pipi dari Viltus dan mengangguk. Mereka berdua tertawa dan kemudian Viltus langsung berkata,

"Kita baru saja resmi... Tapi sudah membicarakan mengenai kematian..."

"Ehehehehe... Tapi, aku yakin... Aku dapat menjaga diriku sampai akhir."

"Tentu saja."

Taihou langsung berdiri dan berputar untuk melihat Viltus. Viltus tersenyum ke arah Taihou dan kemudian berkata,

"Jadi... Apa yang ingin kau ketahui dari diriku selain dari Anastasia ?"

"Eh ? Kau tahu ?"

"Tentu saja."

"Ehehehehe... Semuanya..."

"Baiklah... Aku akan menceritakan semuanya... Yang tidak diketahui oleh Anastasia... Hanya untuk dirimu..."

Taihou langsung tersenyum dan duduk kembali di sebelah Viltus, untuk mendengarkan apa yang diceritakan oleh Viltus.

Setelah bercerita, Viltus mengantar Taihou kembali ke asrama Gadis Kapal dan menemukan dua penjaga yang biasa dibuat pingsan oleh Viltus. Melihat Viltus dan Taihou, salah satu dari penjaga tersebut berkata,

"Hei... Laksamana dilarang ke asrama..."

"Aku hanya mengantar dirinya saja. Setelah itu aku akan kembali ke asramaku..."

"Uh ? Baiklah... Tapi, jangan membuat kami pingsan kembali..."

"Iya... Iya..."

"Baguslah..."

Setelah Viltus melewati mereka berdua, Viltus mendadak melempar satu kunci ke salah satu penjaga, Viltus langsung berkata,

"Hei... Itu kunci ke dapur... Kalian pergi ke ruangan di sisi kiri dapur... Di sana tersedia kopi, dan cokelat yang dapat kalian minum pada saat istirahat bekerja."

"Eh ? Kau yakin ?"

"Ya... Sebagai permintaan maaf."

"Terima kasih banyak, Laksamana."

Viltus kemudian kembali berjalan bersama Taihou menuju ke asrama. Di depan pintu Asrama Gadis Kapal, Taihou melihat ke arah Viltus dan berkata,

"Sampai jumpa besok pagi... Viltus..."

"Iya..."

Viltus melihat tanda dari Taihou yang ingin dicium oleh dirinya, sehingga ia langsung mencium Taihou tanpa basa-basi. Setelah itu, Taihou berkata,

"Aku yakin... Besok pasti ribut..."

"Haaah... Entahlah... Kita lihat saja besok... Selama tidak ada yang mengetahuinya, kita berdua aman."

"Aku setuju... Selamat malam, Viltus..."

"Selamat malam, Taihou."

Viltus langsung melambaikan tangan dan berjalan kembali ke kamarnya.


Keesokan paginya.

Viltus terlihat cukup lelah dan dapat terlihat ia sama sekali tidak dapat tidur karena ia terlalu senang. Haruto langsung menepuk pundak dari Viltus dan berkata,

"Selamat pagi, Viltus..."

"Ah... Selamat pagi, Haruto... Hoaem..."

"Tidak dapat tidur ?"

"Iya..."

"Kenapa ?"

"Ahahahaha... Bukan masalahmu..."

Haruto yang melihat itu langsung terdiam. Ia kemudian bertanya,

"Jadi... Cokelat dari Taihou bagaimana ?"

"Enak... Sangat enak..."

Haruto melihat Viltus yang tersenyum sembari menjawab pertanyaan tersebut. Haruto terlihat curiga akan sesuatu, namun dia tidak terlalu memikirkannya. Haruto kemudian bertanya,

"Kau... Bukankah dirimu akan istirahat hari ini ?"

"Aku merasa ingin bekerja... Semangat diriku kembali naik."

"Oh... Baguslah..."

Mereka berdua berjalan hingga tiba di depan ruangan masing-masing. Haruto dan Viltus langsung berjanji untuk bertemu pada saat makan siang. Viltus masuk ke dalam kantornya dan duduk di kursinya. Tidak berapa lama, ia berkata,

"Aku mengantuk..."

Ia memperhatikan sekitar dan langsung tertidur karena belum ada yang datang. Tidak berapa lama, ia merasa tubuhnya digoyang-goyangkan dan langsung membuka mata. Pada saat itu, ia langsung melihat Taihou, Aoba, Uzuki dan Yayoi. Viltus langsung berkata,

"Ah... Taihou... Selamat pagi..."

"Selamat pagi..."

"..."

"Kau tidak bisa tidur ?"

"Iya... Ahahahahaha..."

"Dasar kau ini..."

Uzuki dan Yayoi hanya tertawa kecil saja melihat hal tersebut. Sementara Aoba diam. Viltus kemudian bertanya kepada Aoba,

"Hei, Aoba... Di mana koran hari ini ?"

"Ah... Hari ini redaksi kami dalam masalah... Jadi tidak dapat mengirimkan... Eh ?"

Semua yang di dalam kantor Viltus terkejut karena mendengar suara riuh dari luar ruangan. Seperti orang yang bertanya-tanya mengenai sesuatu, dan mereka terlihat takut untuk menanyakannya. Aoba berkata dalam hati,

'Aku akan mati sebentar lagi... mungkin...'

Viltus dan Taihou saling melihat satu sama lain, sementara Aoba melihat ke arah jendela dan bermaksud untuk kabur jika diperlukan. Mendadak mereka semua mendengar suara dari luar,

'Selamat pagi, Laksamana Yanagi !'

Mendengar itu, Viltus sangat terkejut dan berkata,

"Ayah di luar ?!"

"Laksamana Yanagi... Ada apa gerangan beliau kemari ?"

"Entahlah... Atau dia..."

"Uuuhhh..."

Pintu pun terbuka dengan di balik pintu tersebut terdapat Tadahisa, semua Laksamana dan semua Gadis Kapal yang bertanya-tanya. Tadahisa langsung bertanya,

"Laksamana Amarov !"

"Siap !"

"Saya mendapatkan sebuah laporan dari seseorang mengenai sebuah informasi... Dan kau harus menjawabnya dengan jujur..."

"Siap !"

"Apakah informasi itu benar ?!"

"Infor... Eh..."

Viltus sadar, Tadahisa mengetahui apa yang terjadi kemarin malam. Ia tidak menyangka tantangan pertama datang dari ayahnya sendiri. Viltus menarik nafas panjang dan berkata,

"Itu benar..."

"Begitukah ?"

"Iya... Jika ayah tidak setuju dengan... Eh ?"

Tadahisa mendadak menitikkan air mata dan berkata,

"Akhirnya... AKHIRNYA..."

"Ayah..."

"Akhirnya dirimu dapat menemukan pasangan... Ayah sangat bahagia... SANGAT BAHAGIA..."

Viltus melihat ke arah Taihou yang juga tersenyum. Viltus langsung maju ke depan dan mengelap air mata ayahnya. Tadahisa kemudian berkata,

"Aku yakin, kakakmu akan bahagia mendengarnya..."

"Tentu saja..."

"Ini sungguh pagi yang indah... Tepat setelah membaca koran..."

"Koran ?"

"Iya... Koran yang terbit hari ini... Benar semuanya ?"

Semua Gadis Kapal dan Laksamana mengangguk. Aoba mulai berkeringat dingin.


-5 menit


Viltus langsung bertanya,

"Koran apa ? Aoba berkata tidak terbit hari ini..."

"Ini..."

Viltus dan Taihou melihat koran yang ditunjukkan oleh Tadahisa. Viltus mengambilnya dan setelah membacanya dengan Taihou. Setelah itu, mereka berdua memancarkan aura hitam membunuh. Karena yang ditampilkan adalah foto mereka berdua lengkap dengan apa yang dikatakan oleh mereka berdua malam itu.


-1 menit


Aoba mendadak berlari ke arah jendela yang tertutup dan menabraknya. Ia sama sekali tidak peduli dengan ketinggian karena saat ini yang ia pedulikan adalah nyawanya sendiri. Ini semua karena dua setan sudah bangkit dan akan menghabisi dirinya.

Tidak berapa lama terdengar suara yang menggetarkan seluruh gedung administrasi,

"A !" teriak Viltus

"O !" teriak Taihou

"BA !" teriak mereka berdua.

Sungguh sebuah hari yang sangat indah di Kure. Sangat indah untuk semuanya, kecuali Aoba.


HakunoKazuki di sini...

Ah... Chapter 10... Sangat tumben sekali saya tidak menulis sesuatu yang berat di chapter yang dapat dibagi 5 *mengingat setiap chapter tersebut biasanya berat

Sudahlah... Semua akan menjadi sulit setelah ini... Karena

MY INSPIRATION ABOUT COUPLE IS NOT BROAD ENOUGH

Arrrgggghhhh... Berharap saja semuanya dapat lancar... Semoga

Sudahlah... Sampai di sini saja dahulu

See you next chapter !