Chapter 11

American !


Satu bulan sudah berlalu semenjak hari Valentine. Semua Laksamana di Yokosuka sudah mengetahui status Viltus sekarang yang merupakan pasangan dari Taihou, dan mereka semua terlihat cukup senang dengan kondisi ini. Dan pagi itu, Viltus baru saja selesai berolahraga mengelilingi markas angkatan laut Yokosuka.

Selama ia berkeliling, ia melihat cukup banyak orang yang melewati dirinya. Pada awalnya, ia sama sekali tidak memperdulikan hal tersebut. Hingga akhirnya pada saat ia tiba di asrama, ia bertemu dengan ayahnya, Tadahisa.

Viltus langsung memberi hormat kepada Tadahisa dan berkata,

"Selamat pagi, ayah..."

"Selamat pagi juga, Viltus. Tumben sekali dirimu belum di kantor."

"Khusus hari ini, aku ingin memulai hari dengan berolahraga... Aku kemarin tidak ikut olah raga bersama."

"Oh... Aku lupa"

"Bukankah dirimu yang memintaku untuk mengerjakan sesuatu kemarin ?"

"Ah... Iya... Iya... Aku lupa..."

Viltus langsung menghela nafas mendengar hal tersebut. Tadahisa kemudian langsung menepuk pundak Viltus, dan meminta dirinya untuk bersabar. Kemudian, Tadahisa berkata,

"Daripada itu, kau tidak mengecat rambutmu lagi ? Ada bagian putih yang terlihat di sana..."

"Tidak... Aku tidak ingin menyembunyikan apapun dari semuanya."

"Terutama dari Taihou, benar ?"

"Kau sudah mampu membaca pikiranku dengan baik, ayah."

"Ahahahahahahaha... Apa yang dikatakan Shiro itu benar, kau benar-benar mudah dibaca."

Viltus langsung menghela nafas kembali mendengar hal tersebut, diiringi dengan tawa dari Tadahisa. Tidak berapa lama, muncul Taihou membawa sebotol air mineral untuk Viltus. Melihat Tadahisa di sebelah Viltus, Taihou langsung memberi hormat kepada Tadahisa.

"Selamat pagi, Laksamana Yanagi !"

"Tidak perlu memanggilku dengan formal seperti itu, Taihou... Kau ini sudah calon menantuku... Ahahahahahaha."

"Uuuuhhhh..."

"Sudahlah... Aku tidak ingin menganggu dua orang yang masih dimabuk cinta seperti kalian... Ahahahahaha..."

"Ayah !" Teriak Viltus dengan sedikit muka memerah.


Viltus menerima air mineral dari Taihou dan meminumnya dengan cepat. Ia kemudian bertanya kepada Tadahisa,

"Ayah... Ada apa gerangan dengan keadaan sangat sibuk seperti ini ? Apakah kau merencanakan penyerangan kembali ?"

"Tidak..."

"Lalu ? Apakah Laksamana Ichijou akan kembali kemari ?"

"Tidak juga... Aku dengar dari Shiro, saat ini Laksamana Ichijou sedang mengerjakan sebuah proyek di Kure. Entahlah proyek apa."

"Lalu semua ini untuk apa ?"

Tadahisa tersenyum ke arah Viltus dan kemudian bertanya,

"Apakah kau ingat dengan pelabuhan yang waktu itu kita kuasai ?"

"Ah... Iya... Jangan bilang tempat itu dikuasai..."

"Tidak... Tidak..."

"Lalu ?"

"Dari pelabuhan itu, kita mampu membuka sebuah jalur transportasi dengan salah satu pelabuhan dari Amerika."

"Eh ? Bukankah jaraknya sangat jauh ?"

"Tepat sekali. Namun, kita diuntungkan dengan beberapa wilayah laut terbuka yang sudah dikuasai oleh Markas Angkatan Laut lain dan Amerika."

"Ah..."

"Dan sebagai upaya untuk bekerja sama... Dua hari dari sekarang, perwakilan dari Amerika bersama dengan Gadis Kapal kebanggaan mereka dan beberapa Laksamana muda terbaik mereka akan kemari."

"Biar kutebak... Melakukan latih tanding ?"

"Dan misi secara langsung..."

Taihou dan Viltus melihat satu sama lain dan kemudian melihat ke arah Tadahisa secara bersama-sama. Viltus kemudian berkata,

"Jangan bilang ayah menemui diriku untuk..."

"Inilah alasan ayah memilihmu... Instingmu sangat tajam."

"Aku menolaknya !"

"Kenapa kau menolaknya ?"

"Jika ayah memberikan tugas kepada diriku terus, aku khawatir semua Laksamana akan menganggap diriku menjadi anak emas di markas ini karena hubungan keluarga."

"Kau benar..."

"Jadi..."

"Namun, itu hasil dari jajak pendapat yang dilakukan oleh Aoba beberapa waktu yang lalu dan hasil rapat bersama lintas generasi di Yokosuka."

"Tunggu sebentar... Jajak pendapat ?"

"Dan hasilnya adalah secara mutlak memilih dirimu untuk bersama dengan Laksamana muda tersebut selama misi sebenarnya. Satu minggu dari mereka datang."

"..."

Viltus langsung bersandar di pundak Taihou, hendak menangis. Taihou langsung tertawa kecil dan mengelus kepala Viltus dengan pelan. Tadahisa kemudian tersenyum dan kemudian berkata,

"Jadi... Selamat berjuang, Viltus..."

"Baik, ayah..."

Tadahisa kemudian pergi meninggalkan Taihou dan Viltus. Yang selanjutnya terdengar adalah suara isak tangis dari Viltus yang menyerah kepada nasib di hadapannya.


"Viltus... Apa maksudmu kita akan menerima kehadiran satu anggota lagi di kapal komado kita ?! Dan dari Amerika ?!"

Itulah yang Viltus dengar dari Magyar setelah ia memberitahu semua anggota divisinya siang itu. Anastasia melihat ke arah Viltus yang terlihat sedikit kesal dengan keputusan mengenai Laksamana muda yang akan bergabung dengan divisinya selama satu minggu.

Anastasia langsung menarik Magyar dan kemudian bertanya,

"Apakah kau mengetahui mengenai orang yang akan bergabung dengan kita ?"

"Hmmm... Sebentar..."

"Tunggu... Jangan bilang kau BENAR-BENAR baru mengetahui hal tersebut hari ini ?"

"Tepat sekali."

Anastasia melihat ke arah Viltus yang menjawab dengan singkat pertanyaan dirinya. Anastasia kemudian berkata,

"Aku hanya berharap satu..."

"Sama..." ujar Viltus dengan melipat tangan

"Sifat dari orang tersebut..."

"Harus tidak menyerupai..."

"Magyar." ujar Anastasia dan Viltus mengangguk bersama.

Magyar yang mendengar hal tersebut benar-benar terkejut, yang diikuti dengan tawa dari Ryuujou yang baru saja minum. Magyar langsung berdiri dan berkata,

"Mengapa kalian mengatakan tidak menyerupai diriku ?!"

"Pertama... Kau berisik." ujar Anastasia.

"Ummm... Mengenai itu..."

"Kedua... Kau tidak pernah mengerjakan tugasmu dengan baik kecuali pada awal-awal saja." ujar Viltus dengan tatapan kosong.

"Ahahahahaha... Haruto..."

"Jangan membawa nama Haruto di sini... Ini menyangkut divisi kita..." ujar Viltus dengan nada datar.

"Ahhh... Ummm..."

"Dan terakhir... Kau selalu kabur pada saat dibutuhkan..."

"Ahahahahaha..."

"Apakah kau memiliki satu alasan untuk tidak menolak orang baru ini dan melindungi hargad dirimu?" tanya Anastasia.

Magyar melihat tatapan dari Anastasia dan Viltus yang sangat tajam. Magyar melihat ke semua Gadis Kapal di dalam ruangan tersebut, dan semuanya langsung memalingkan wajah mereka. Kecuali Taihou yang hanya tersenyum saja, yang memberi tanda untuk melewati semuanya sebisanya.

Magyar langsung menarik nafas panjang dan kemudian berkata,

"Ya... Aku minta maaf untuk kejadian sebelumnya..."

"Iya..." ujar Viltus masih dengan tatapan kosong.

"Namun, pada saat aku mendengar itu dari Amerika... Aku langsung teringat dengan sahabatku yang meninggal saat itu. Dia sempat berkata salah satu Laksamana di angkatan laut Amerika merupakan saudaranya. Aku mungkin dapat bertemu dengan orang tersebut dan memberikan peninggalan orang tersebut."

"..."

"Ya... Singkatnya seperti itu."

"Apakah nama belakang dari temanmu adalah Rickman ? Atau mungkin bernama Neo Rickman ?" tanya Viltus sembari membaca kertas perihal hal tersebut.

"Bukan..."

"Mungkin kau dapat menitipkannya kepada orang tersebut..."

"Eh ?!"

"Ya... Jika ada satu orang yang berkata seperti itu, aku tidak dapat menolaknya... Haaahhh... Semoga saja permintaan kita dikabulkan..."

"Hei..."

"Iya... Semoga saja" ujar Anastasia.

Magyar hanya dapat menghela nafas saja, yang diikuti dengan tawa dari Viltus, Anastasia dan semua Gadis Kapal lain di ruang kerja Viltus.


Dua hari kemudian, semua Laksamana di markas angkatan laut di Yokosuka sudah bersiap-siap di pelabuhan untuk menunggu kehadiran utusan dari Amerika. Viltus terlihat sangat tenang, mengingat tugas yang diberikan kepada dirinya jauh lebih berat dari Laksamana lain.

Haruto yang berdiri di sebelah Viltus kemudian berbisik kepada Viltus,

"Hei... Viltus"

"Apa Haruto ?"

"Kudengar dirimu akan mendapatkan Laksamana muda yang paling berpengalaman dari Amerika, ya ?"

"Yang kudengar dari ayah sih seperti itu..."

"Hmmm..."

"Ada apa ?"

"Ya... Karena dirimulah yang mampu mengerti mereka... Jadi aku maklum..."

"Mungkin."

"Ahahahaha... Aku harap dia merupakan orang menyenangkan seperti Magyar..."

"Aku justru berharap orang seperti Anastasia... Tenang... Dan tidak terlalu berisik..."

"Kita lihat saja nanti..."

Mereka berdua terhenti karena mendengar terikan dari Tadahisa yang menyuruh mereka berdua untuk diam dikarenakan kapal pengangkut Laksamana dan Gadis Kapal dari Amerika sudah hampir tiba di pelabuhan. Beberapa suara gemuruh meriam untuk menyambut delegasi dari Amerika mulai terdengar diikuti dengan pesawat yang melayang di atas kepala mereka.

Viltus melihat ke arah depan dan memperhatikan Gadis Kapal milik Amerika. Di sana ia paling tertarik dengan satu Gadis Kapal. Seorang wanita dengan rambut blonde panjang, dengan pakaian yang nyaris tidak menutup dadanya yang cukup berisi, dan mengenakan rok pendek. Banyak Laksamana yang memperhatikan bagian tersebut, tidak terkecuali Haruto. Khusus Viltus, ia merasakan tatapan yang sangat tajam dari Taihou, sehingga ia memalingkan wajahnya.

Akhirnya, kapal komando milik Amerika turun. Dan yang pertama kali turun adalah seorang pria yang cukup tua dan dapat terlihat dengan jelas dari pangkatnya dia adalah salah satu dari petinggi di Amerika. Setelah cukup banyak laksamana, Viltus melihat seorang pria dengan rambut blonde pendek, dan mengenakan pakaian Laksamana putih, menyerupai foto di laporan dia.

Setelah pidato dari kedua belah pihak, Viltus akhirnya maju ke depan pria sebelumnya dan kemudian bertanya,

"Maaf, bila saya salah... Apakah anda..."

"Hmmm ? Seorang Jap mau berbicara dengan santai seperti itu kepada diriku ?"

"Maaf ?"

"Kau sebaiknya menjaga kata-katamu di hadapan Laksamana terbaik ini, Neo Rickman. Ingat nama itu."

"..."

"Dan siapakah dirimu ? Huh ? Rambutmu sedikit putih... Ahahahahaha... Kau sudah tua rupanya..."

Viltus langsung terdiam mendengar hal tersebut. Neo langsung bertanya,

"Daripada itu... Apakah kau mengetahui seseorang bernama... Ummmm... Vil... Vil... Filthy ?"

"Viltus Amarov..."

"Ah... Iya... Nama seperti orang Russia di Jepang..."

"Itu adalah saya... Salam kenal..."

Viltus mengulurkan tangannya kepada Neo. Mendengar itu dan melihat ke arah tangan Viltus, ia langsung memukul tangan Viltus dengan pelan sembari berkata,

"Sebaiknya kau jangan menyentuh diriku... Aku khawatir... Karismaku akan menghilang karena hal tersebut..."

"Dan mungkin... semua keburukanmu akan menular kepada diriku..."

"..."

"Sudah selamat tinggal... Aku akan pergi sebentar mengelilingi markas ini..."

Neo langsung melewati Viltus yang masih terdiam. Melihat kejadian tersebut, Gadis Kapal yang tadi dilihat oleh Viltus mendadak mendekati Viltus dan kemudian berkata,

"Ah... Maafkan kelakuan dari Laksamana saya..."

"Oh... Kau... Gadis Kapal di bawah arahan dia ?"

"Iya... Perkenalkan, namaku adalah Iowa..."

"Kapal Tempur ? Kau di bawah arahan Laksamana baru ?"

"Iya..."

"Ah... Aku bukan orang yang tepat untuk menyebut masalah tersebut karena sudah memiliki beberapa Kapal Induk."

"Baguslah..."

"..."

"Aku... benar-benar minta maaf atas kelakuan dari dia... Dia memang selalu seperti itu..."

Viltus terdiam sebentar mendengar itu. Ia terlihat berpikir sebentar mengenai sesuatu, sebelum akhirnya mereka dikejutkan dengan suara dari seseorang dari belakang Iowa.

"Viltus..."

"Ah... Taihou..."

"Kau daritadi memperhatikan gadis ini... Jangan bilang kau..."

"Tidak... Tidak..."

"Viltus..." ujar Taihou sembari mengembangkan pipinya dan terlihat sedikit cemburu.

Iowa yang melihat tingkah laku dari Viltus dan Taihou kemudian bertanya kepada Viltus,

"Ummm... Kalian terlihat cukup dekat..."

"Kenapa memangnya, huh ?" ujar Taihou sedikit kesal

"Wah... Wah... Gadis ini cukup cepat naik pitam ya..."

"..."

"Sudah... Sudah... Taihou, dia cuma meminta maaf mengenai Neo... Itu saja." ujar Viltus menenangkan Taihou

"Begitukah ?" ujar Taihou melihat ke arah Viltus.

"Iya..." jawab Viltus sembari memperhatikan ke arah perginya Neo.

Melihat tatapan dari wajah Viltus, Taihou langsung tahu Viltus tidak berbohong. Ia kemudian melihat ke arah Iowa dan kemudian berkata,

"Ah... Maafkan aku... Aku..."

"Tidak apa-apa..." jawab Iowa dengan tawa

"Ah... Perkenalkan... Diriku Taihou, dari kelas Kapal Induk Taihou."

"Namaku adalah Iowa..."

Iowa kemudian menarik Taihou, dan membisikkan sesuatu kepada Taihou yang membuat wajah Taihou sedikit merah. Sementara itu, Viltus langsung memberi tanda kepada Aoba untuk mencari tahu mengenai sesuatu, yang mendapat anggukan dari Aoba. Viltus kemudian melihat ke arah Iowa dan Taihou. Ia tersenyum dan kemudian berkata,

"Hei... Taihou, dapatkah kau mengajak Iowa berkeliling markas ini ? Aku ingin mempersiapkan diri untuk beberapa misi nanti..."

"Tentu saja."

Taihou langsung berjalan menarik Iowa untuk berkeliling Markas Angkatan Laut Yokosuka, sementara Viltus langsung kembali ke kantornya.


Sore itu, Taihou mengajak Iowa datang ke kantor tempat mereka akan bekerja bersama selama satu bulan ke depan. Pada saat melihat ke dalam, Iowa terlihat sedikit terkesima dikarenakan ruangan tersebut cukup rapi, dan unik. Unik dikarenakan terdapat beberapa pernak-pernik milik Magyar dan Anastasia di dalam ruangan tersebut. Berbanding terbalik dengan Iowa, Taihou terlihat cukup khawatir dikarenakan ia tidak menemukan Viltus, Anastasia maupun Magyar di ruangan tersebut.

Tidak berapa lama, ia mendengar suara Viltus dari luar,

"Anastasia... Aku mohon jangan bertindak seperti itu..."

"Aku tahu... Aku tahu... Tapi, orang itu..."

"Aku memang sudah mendapat perlakuan seperti itu sejak awal... Aku..."

"Haah... Kukira dia akan seperti sifat temanku itu... Ternyata tidak..." suara Magyar pun terdengar.

"Magyar... Tidak semua orang itu sama mengerti... Dan Anastasia... Jangan bertindak kecuali jika kuminta..."

"Baik... Baik..." ujar Anastasia sedikit pasrah.

Taihou melihat ke belakang, dan melihat ketiga orang tersebut sudah tiba di depan pintu. Melihat Iowa dan Taihou yang berada di dalam ruangan, Viltus langsung menarik nafas panjang, dan kemudian berkata,

"Taihou... Hari ini divisi kita istirahat lebih cepat..."

"Eh ? Kenapa ?"

"Aku... Akan menceritakannya nanti..."

Iowa melihat ke arah Viltus dengan wajah sedikit resah. Viltus bermaksud menyembunyikan apa yang terjadi sebelumnya, namun pada saat melihat wajah Iowa yang berkata,

"Apa yang dilakukan oleh Neo..."

"Dia..."

"Dia menolak taktik yang diberikan oleh Viltus dikarenakan taktik itu terlalu kuno dan tidak menarik... Dia berkata di mana tantangannya dengan berjalan lambat dan berhati-hati... Seperti kakek-kakek saja dirimu..." ujar Anastasia dengan wajah sangat kesal.

"Yang dilanjutkan dengan Anastasia menarik pisau dan mengarahkan ke leher Rickman..." ujar Magyar melanjutkan.

"Kalian berdua... Dapatkah kalian diam saja pada saat seperti ini ?"

"Uhhh..." Anastasia dan Magyar langsung terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Viltus.

Viltus melihat ke arah Iowa dan kemudian bertanya,

"Iowa... Apakah dia pernah memimpin divisi yang cukup besar ?"

"Eh ?"

"Mungkin lebih tepatnya... Apakah dia pernah memimpin divisi yang sangat banyak ?"

"Belum... Dia belum pernah..."

"Apakah dia pernah memimpin divisi yang terdiri dari kapal-kapal kecil seperti Kapal Perusak dan Kapal Penjelajah Ringan ?"

"Belum... Dia belum pernah..."

"Bagaimana mungkin dia..."

"Itu karena intuisi dia sangat tajam, sehingga ia langsung dimasukkan untuk memimpin divisi Kapal Tempur..."

"Untuk pertempuran cepat... Tentu saja menguntungkan membawa Kapal Tempur karena akan menghancurkan cukup banyak lawan dalam sekali tembak."

"..."

"Aku tidak tahu secara pasti karena aku tidak memiliki Kapal Tempur di divisiku..."

"Aku..."

"Itu bukan salahmu... Lagipula..."

Mendadak Aoba muncul di belakang Magyar dan Anastasia. Melihat Aoba yang hadir, Viltus langsung meminta ijin sebentar dan kemudian kembali ke depan Iowa tidak berapa lama. Viltus langsung bertanya,

"Apakah dia mengetahui target dari misi ini ?"

"Sama sekali tidak... Ia berpikir semua akan selesai dengan taktik miliknya..."

"Dan taktik dia adalah menyerang terus hingga semua lawan hancur... Benar ?"

"Iya..."

"Apakah ia memiliki pengalaman dalam menghadapi Kapal Induk ? Atau mungkin pesawat ?"

Iowa langsung menggelengkan kepalanya. Viltus melihat ke langit-langit, dan terlihat wajah yang sedikit pasrah. Ia kemudian bertanya,

"Apakah dia tahu... Misi ini adalah misi gabungan ?"

"Iya..."

"Dan, apakah dia tahu bahwa diriku yang memegang kendali penuh operasi ini ?"

"Tidak..."

"Seperti dugaanku..."

"Dia menganggap kalian tidak setara dengan dirinya... Ia berpikir hanya dia yang mampu."

"Ini pertanyaan terakhir..."

"Apakah itu ?"

"Apakah dia pernah kehilangan seseorang di medan perang ini ? Atau mungkin Gadis Kapal ?"

"Belum... Dia belum pernah..."

"Itu menjelaskan semua ini..."

Mendengar itu, Taihou dan Aoba terlihat terdiam. Viltus kemudian menutup mata sebentar dan kemudian berkata,

"Sudahlah... Kembalilah ke asrama kalian... Aku ingin berbincang-bincang sebentar dengan Anastasia dan Magyar di sini..."

"Kau yakin mengenai hal ini ?" Tanya Taihou

"Iya... Jika tidak... Anastasia akan seperti Beruang lepas di tengah Markas ini... Aku khawatir beberapa delegasi dari Amerika akan terluka karena Anastasia..."

"Hei..." teriak Anastasia sedikit kesal.

Taihou langsung tertawa kecil mendengar hal tersebut. Tepat sebelum Taihou dan Iowa keluar, Viltus memberi tanda kepada Taihou untuk menunggunya sebentar di luar ruangan. Taihou langsung mengangguk.

Lima menit kemudian, Viltus keluar sebentar dari kantornya dan melihat Taihou, Aoba dan Iowa yang berbincang-bincang kecil. Melihat Viltus, Taihou langsung berjalan ke dekat Viltus, dan kemudian bertanya,

"Ada apa, Viltus ?"

"Apakah kau dapat menjaga dia ?" tanya Viltus dengan pelan

"Dia ? Oh... Iowa... Hmmmm..."

"Apa ?"

"Seperti dugaanku, kau memiliki perasaan kepadanya, ya ?"

"Tidak... Hanya saja... Dia mengingatkanku dengan Harusame..."

"Eh ?"

"Neo... Memiliki cara berpikir yang sama dengan diriku dahulu... Dan Harusame sama seperti Iowa..."

"Kau merasa..."

"Satu langkah salah... Dia bisa... Dan Neo akan..."

Taihou melihat tubuh Viltus yang sedikit bergetar. Taihou langsung memeluk Viltus dan kemudian berkata,

"Sudahlah... Aku akan menjaganya... Tenang saja..."

"Terima kasih..."

"Hei... Jangan menciumku sekarang... Ada orang lain... Bahkan salah satunya orang asing..."

"Ah... Mengenai itu..."

"Ehehehehe... Nanti saja..."

"Baiklah..."

Taihou melihat ke belakang, dan melihat Aoba yang memotret dengan Iowa yang terlihat sangat terkejut sekaligus tertawa kecil. Taihou langsung berlari ke arah mereka dan pamit kepada Viltus. Viltus tersenyum dan kemudian masuk kembali ke dalam kantor. Di sana mereka bertiga memikirkan langkah terbaik untuk membantu Neo keluar dari zona nyamannya.


Keesokan harinya.

Viltus, Anastasia, Magyar, Haruto dan Elisa makan satu meja di kantin. Selain mereka, semua Laksamana termasuk dari Amerika. Mereka yang berasal dari Amerika cukup berisik dengan menggunakan bahasa ibu mereka, dengan anggapan tidak ada satu pun yang mengerti.

Haruto kemudian berkata,

"Kau tahu... Ada baiknya kau mengajarkan aku bahasa inggris dulu... Aku mengerti apa yang mereka katakan..."

"Lihat sangat berguna, bukan ?"

"Iya..."

"Jadi... Seperti apa Laksamana yang satu tim denganmu ?"

"Hmmmm... Dia selalu berkata kasar, dengan anggapan diriku tidak mengetahui apa yang dia katakan. Ya, aku selalu berkata dapatkah kau berbicara dengan bahasa Jepang atau mungkin menerjemahkannya. Satu menit kemudian, datang satu orang yang menerjemahkan jauh dari apa yang ia katakan."

"Seperti dugaanku... Bagaimana denganmu, Elisa ?"

"Mereka tidak mau macam-macam dengan diriku setelah aku berbicara dengan bahasa Jerman... Mereka seperti berpikir diriku adalah bahaya setelah aku mengacungkan salah satu peralatan mekanikku dan berkata kasar dalam bahasa Jerman." ujar Elisa sedikit kesal dengan memakan sarapannya.

Mendengar pengalaman tersebut, Anastasia terlihat sedikit kesal dan memainkan pisau makannya. Viltus langsung berkata,

"Anastasia..."

"Baik... Baik..."

"Bagaimana dengan dirimu, Viltus ?" tanya Haruto

"Ya... Aku masih belum menggunakan bahasa Inggris maupun Russia... Aku biarkan saja mereka bermain-main dengan permainan mereka... Namun, aku khawatir suatu hari nanti salah satu teman kita akan naik pitam..."

"Itu salah satu yang kukhawatirkan juga..."

"Pada saat itu, aku serahkan semuanya padamu... Haruto..."

"Siap... Dengan bayaran..."

"Iya... Iya... Dokumenmu akan kuurus..."

"Baguslah..."

Viltus langsung menghela nafas mendengar apa yang dikatakan oleh Haruto yang terlihat sangat senang. Tidak berapa lama, ia mendengar suara dari orang yang ia kenal. Neo terlihat sedikit kesal kepada salah satu staff kantin dan berkata dalam bahasa inggris,

{"Apa-apaan makanan sampah ini ? Pantas saja mereka semua terlihat lemah..."}

"Apakah yang anda maksud tadi ? Saya tidak mengerti..."

"Yang kumaksud... Makananmu kurang... Sebaiknya ditambah sedikit lagi..."

"Ba... Baiklah..."

{"Huh... Mereka ini benar-benar membuatku kesal... Benar tidak semuanya ?"}

Semua Laksamana Amerika mengangguk mendengar hal tersebut. Laksamana dari Jepang terlihat sedikit bingung dengan apa yang dikatakan. Sementara, pemimpin dari Amerika terlihat meminta maaf kepada Tadahisa yang mengerti apa yang dikatakan oleh mereka.

Sementara, kelima orang yang duduk bersama sebelumnya terlihat akan meninggalkan kantin untuk bersiap-siap kegiatan mereka selanjutnya. Melihat itu, Neo kemudian berkata,

{"Wah... Wah... Ada yang pergi... Tidak berani menghadapi kami, huh ? Pasti tidak... Eh, aku lupa... Kalian tidak mengerti apa yang kukatakan... Kemarin aku berbicara dengan Bahasa Jepang yang lancar... Ahahahahaha..."}

{"Lancar dari mana ? Tingkat Bahasa Jepangmu setara dengan anak Sekolah Dasar"} ujar Viltus sembari meninggalkan kantin.

Mendengar itu, Neo dan semua Laksamana dari Amerika terlihat sangat terkejut. Sementara Tadahisa hanya tersenyum saja mendengar apa yang dikatakan oleh Viltus, yang sudah tidak terlihat kembali.

Neo langsung berdiri dan kemudian berkata,

"Siapa orang itu ?!"

Semua orang di dalam ruangan tersebut terdiam. Semua Laksamana yang sepertinya mengikuti Neo langsung melihat ke sekitarnya. Tadahisa langsung berkata,

"Dia adalah Viltus Amarov... Laksamana yang akan membantumu di markas ini..."

"Oh... Viltus yang kemarin itu ? Huh ? Dia sepertinya sangat percaya diri..."

Tadahisa kemudian melihat ke arah pemimpin dari Amerika yang sedikit ketakutan. Neo kemudian berkata,

"Aku akan memberi dia pelajaran... Ayo, semuanya... Ikut aku... Kita akan memberi pelajaran mereka..."

Semua Laksamana dari Amerika berdiri dan mengikuti Neo. Pemimpin dari Amerika terlihat tidak dapat berbuat apa-apa, sementara Tadahisa berkata,

"Apakah mereka tidak apa-apa jika memimpin dengan sedikit perban di tubuh mereka ?"

"Eh ? Tidak apa-apa..."

"Mungkin dengan tulang yang patah..."

"Memangnya kenapa ?"

"Viltus Amarov... Dia sudah cukup terlatih karena pernah mengikuti latihan unit khusus Jepang, Magyar Libyet... salah satu mantan dari tentara Hungaria yang terkenal cukup kuat... Anastasia Konoplyanka... Salah satu mantan tentara Russia yang pindah kemari... kudengar cukup dekat dengan KGB... Kouga Haruto... Salah satu juara dalam bela diri di negara ini... Dan Shinonome Elisa... Dia... Cukup menakutkan..."

"Eh..."

"Kurasa mereka berlima dapat memberi pelajaran berharga untuk semuanya..."

"Itu mungkin yang mereka butuhkan..."

Setelah itu, di kantin menjadi sedikit lebih tenang.


Siang itu, pada saat Taihou berjalan ke kantor. Ia mengintip sebentar dan melihat Viltus yang sedikit memarahi Anastasia, Anastasia yang terlihat cukup senang, Magyar dan Haruto yang kepayahan, ditambah Elisa yang duduk di kursi yang tersisa.

Taihou belum sempat mengetuk pintu, ia langsung ditarik oleh Aoba. Taihou langsung bertanya,

"Ada apa gerangan ?"

"Mereka berlima tadi bertarung dengan sekitar 20 Laksamana dari Amerika..."

"Apa ?!"

Taihou bermaksud masuk kembali, namun ditarik oleh Aoba. Aoba kemudian berkata,,

"Dan kau tahu apa ?"

"Mereka berlima babak belur ?"

"Tidak... Kedua puluh Laksamana Amerika tersebut yang babak beluar oleh mereka... Empat di antara mereka masih pingsan... Lima terlihat memiliki trauma dengan pisau... Sisanya ada patah tulang yang cukup parah..."

"Ahahahaha... Lima orang yang cukup menakutkan..."

"Untung tidak ada Shiro di sini..."

"Eh ? Memangnya jika ada Laksamana Yanagi..."

"Mereka berdua puluh akan dibabat habis olehnya..."

"Kurasa lebih baik cuma mereka berlima saja."

"Sebaiknya... Aoba jangan membuat masalah dengan mereka..."

"Bukannya kau pasti akan dipanah, ya ?"

"Ah... Benar juga."

"Daripada itu... Apakah ada yang..."

"Viltus..."

"Eh ?!"

Mendengar itu, Taihou langsung masuk ke dalam membuka pintu dan melihat ke arah Viltus. Viltus membuat raut wajah seakan-akan ibunya ada di hadapannya yang mengetahui apa yang baru saja ia lakukan. Viltus langsung berkata,

"Tenang saja... Aku..."

"Yang luka di mana..."

"Ini bukan ma..."

"Yang mana ?!"

"Ugh..."

Viltus langsung menunjuk ke tangan kirinya. Ia tidak dapat mengangkat tangan kirinya sama sekali. Taihou langsung berjalan melewati Anastasia dan memegang tangan kiri Viltus. Viltus langsung meringis kesakitan karenanya. Anastasia kemudian berkata,

"Maafkan aku... Taihou... Aku..."

"Tidak apa-apa..."

"..."

"Jadi, Viltus... Kenapa kau bertengkar ? Dan untuk apa ?"

"Mengenai itu..." Viltus terlihat tidak ingin membahas hal tersebut.

"Kau ceritakan itu sembari aku mengobati tanganmu... Aoba, ambilkan P3K di dekat sana..."

Aoba langsung mengangguk dan mengambil beberapa obat-obatan. Viltus langsung menghela nafas dan mendengarkan apa yang dikatakan oleh Viltus. Semuanya mengenai Neo yang tidak terlalu menyukai semua hal yang dikatakan oleh Viltus, dan sebaiknya diam saja sebagai pihak yang lebih lemah. Mereka semua yang naik pitam lebih dahulu setelah didesak oleh Anastasia. Dan setelah itu, semuanya terjadi sangat cepat.

Setelah selesai bercerita, Viltus kemudian berkata,

"Sudahlah..."

"Sudahlah... Sudahlah... Bagaimana jika kau cedera parah ?" ujar Taihou dengan wajah khawatir

"Aku bilang sudahlah... Lagipula..."

Viltus berdiri dari kursinya, dan kemudian berjalan ke arah pintu keluar. Tepat sebelum pintu keluar, ia berkata,

"Magyar, Anastasia... Di latih tanding besok, kalian yang akan memimpin divisi ini bersama dengan Neo."

"Eh ?! Kami ?" teriak Magyar dan Anastasia bersama-sama.

"Iya. Taihou, besok kau tidak perlu turun di latihan. Dan sebagai pengganti kapal utamanya adalah kau Aoba."

"Siap." ujar Aoba dengan wajah senang.

"Apa yang ingin kau lakukan, Viltus ?" tanya Taihou kemudian.

"Aku... sekarang akan menghadiri pertemuan dengan petinggi dari Yokosuka dan sebagian dari Laksamana Amerika yang lebih senior. Taihou, kau ikut dengan diriku."

"Eh... Siap..."

Viltus langsung berjalan keluar ruangan meninggalkan semua orang dengan wajah yang sangat kebingungan dengan apa yang diperintahkan oleh Viltus.


Pihak Amerika dan pihak dari Jepang mengadakan latih tanding keesokan harinya. Latih tanding tersebut dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama, pertandingan antara pihak Amerika dan Jepang. Pada bagian pertama ini, sangat sengit namun pihak Amerika dapat menang.

Sementara, pada bagian kedua sebagian dari Laksamana yang ditunjuk akan mengadakan simulasi penyerangan. Mereka semua akan diberikan informasi mengenai lokasi dari beberapa divisi milik senior mereka di Amerika dan Jepang.

Neo bertemu dengan Anastasia dan Magyar, dan kemudian berkata,

{"Kalian sangat lemah... Ahahahahaha"}

{"Itu bukan urusanmu..."} ujar Anastasia ketus

{"Heeh... Ya sudahlah... Daripada itu, di mana Laksamana itu ? Dia tidak ada di sini daritadi... Sepertinya dia takut..."}

{"Saya tidak tahu kemana perginya dia... Namun, aku akan memberitahumu satu hal..."}

{"Apakah itu ?"}

{"Kau terlalu sering membual... Dan menyebalkan"}

Neo sedikit terkejut dan langsung tertawa. Ia kemudian berkata,

{"Membual ? Aku membual ?"}

{"..."}

{"Terserah apa katamu ! Kau bukan Laksamana di divisi ini... Mana dia ?"}

{"Aku sudah mengatakannya... Aku tidak tahu..."}

{"Hah... Berarti aku yang akan memimpin divisi ini selama tidak ada pengecut itu..."}

Anastasia berusaha menahan diri pada saat Neo menyebut Viltus sebagai 'pengecut'. Magyar langsung menepuk pundak Anastasia, dan kemudian berkata,

{"Daripada kita menunda lebih lama lagi... Mari kita mulai misinya..."}

{"Oh... Baik... Baik..."}

Neo masuk ke dalam kapal komando bersama Anastasia, Magyar dan Gadis Kapal di divisinya.


Latihan kedua dimulai. Tujuan utama dari latihan kedua adalah mengambil beberapa sumber daya dari tempat yang dijaga ketat oleh barikade divisi Gadis Kapal lain. Dari pihak penyerang mereka semua mampu menyerang dengan baik, sesuai dengan apa yang diberikan oleh instruktur mereka mengenai lokasi lawan.

Selain itu, karisma dari Neo dapat memimpin semuanya dengan baik. Walaupun memiliki sifat yang sangat merendahkan. Namun, taktik dia membuat divisi pertahanan kewalahan.

Di dalam ruang komando yang terletak di Yokosuka. Semua petinggi dari Amerika yang hadir di Jepang, bersama dengan petinggi dari Jepang di bawah arahan Tadahisa dan Viltus yang ditunjuk untuk memimpin divisi pertahanan memperhatikan semua langkah yang diambil oleh divisi penyerangan.

Salah satu dari petinggi Jepang langsung berkata,

"Kau berkata dapat menjaganya... Lihat itu sudah tembus di bawah pimpinan dari Amerika !"

"..."

"Seperti dugaanku... Kita akan..."

Viltus langsung membuat tanda diam, dan kemudian memberi tanda kepada salah satu pengirim pesan di dalam ruang komando. Melihat tanda dari Viltus, ia langsung memperbesar suaranya. Dari sana terdengar suara dari Taihou,

"Kami semua sudah siap, Laksamana !"

"Apakah mereka semua sudah mundur ke posisi yang kusebutkan kemarin ?"

"Sudah."

"Bagus... Katakan kepada Kongou untuk memulai Salvo penyerangan pertama... Arahkan ke sisi paling kanan dari divisi lawan."

"Siap."

Viltus langsung berjalan ke depan, dan melihat ke arah meja di hadapannya. Semua orang di dalam ruang komando terdiam dengan apa yang dikatakan oleh Viltus. Salah satu petinggi dari Amerika berdiri dan kemudian berkata,

{"Ini tidak sesuai dengan apa yang diberikan... Kau sama sekali tidak menyebut mengenai..."}

{"Kami membuat situasi ini menyerupai situasi di pertempuran sebenarnya... Kita diberikan sebuah informasi, namun harus tetap siap dengan kemungkinan terburuk adanya unit bantuan dari lawan."}

{"Aku penasaran... Apakah mereka menyadari ada beberapa Gadis Kapal yang sama sekali tidak ikut dalam latihan pertama tadi, atau tidak."}

Di lapangan, sisi kanan dari pasukan penyerangan terpaksa mundur karena mendapat serangan mendadak. Neo terlihat sedikit terkejut dengan hal tersebut. Ia langsung sedikit panik dengan sesuatu, sementara Anastasia dan Magyar langsung menyadari apa yang dibicarakan oleh Viltus sehari sebelumnya.

Di ruang komando, Viltus kembali memasukkan perintah,

"Ooi... Pimpin pasukan torpedomu bersama beberapa Gadis Kapal dari Amerika untuk menyerang sisi kiri mereka... Untuk dirimu, arahkan target ke divisi yang sudah mengambil sumber daya kita."

"Tapi, di sana ada Kitakami-san..."

"Lakukan saja..."

"Tch..."

"Aku mendengarmu..."

"Ahahahahaa..."

"Lagipula setelah ini kalian semua mendapat libur... Lakukan saja..."

"Ditambah dengan kue buatanmu untuk diriku dan Kitakami-san ?"

"Iya... Iya.."

Semua orang, termasuk Tadahisa sangat tercengang dengan apa yang dikatakan oleh Viltus. Viltus memimpin semua Gadis Kapal tersebut sangat mudah, dan setiap pembicaraan mereka seperti sangat dekat. Tidak ada batasan antara atasan dan bawahan dari pembicaraan mereka.

Viltus tersenyum sebentar, dan kemudian mendapat laporan dari Fubuki,

"Fubuki melapor..."

"Huh ? Fubuki ? Ada apa ?"

"Divisi utama lawan terus maju... Divisi Fusou dan Yamashiro sangat kewalahan menghadapi Iowa."

"Hoooh..."

Viltus mengangguk dan kemudian berkata,

"Lanjutkan saja..."

Viltus langsung memperhatikan sekitarnya dan kemudian bertanya kepada petinggi dari Amerika,

{"Jika saya boleh tahu... Apakah Laksamana Rickman selalu menerapkan taktik seperti ini ?"}

{"Iya... Dan selalu berhasil..."}

{"Hooohhh..."}

Semuanya terdiam melihat wajah dari Viltus. Viltus langsung memanggil Fubuki sekali lagi, dan berkata,

"Fubuki... Pergantian taktik... Kau pimpin divisimu untuk menarik Iowa menjauh..."

"Eh ?! Bagaimana caranya ?"

"Terserah dirimu..."

Viltus kemudian langsung memanggil Taihou dan berkata,

"Taihou... Apakah kau memperhatikan dengan pesawat pengintaimu ?"

"Iya... Dengan jelas..."

"Hmmm... Kenapa pesawat pengintaimu belum ditemukan, ya ?"

"Entahlah."

"Sudahlah... Kau tentu saja tahu apa yang kupikirkan..."

"Tentu saja."

"Serangan ini..."

"Akan membuat kemenangan untuk divisi bertahan."

Viltus tersenyum mendengar jawaban dari Taihou. Semua orang di dalam ruangan tersebut akhirnya sadar, karisma yang dimiliki Viltus sangat berbeda dengan yang diberikan oleh Neo. Dan itu sangat berguna untuk pertempuran jangka panjang. Dan dengan diakhirinya pembicaraan tersebut, latih tanding tersebut telah berakhir.


Neo terlihat sangat kesal dengan kekalahannya di latih tanding kedua. Ia langsung berkata,

{"Ini semua karena kalian... Kita kalah !"}

{"Aku sudah memintamu untuk tidak termakan jebakan lawan !"} ujar Anastasia sedikit emosi.

{"Kau bukan atasanku ! Dan aku yang menentukan pilihan di sini !"}

Mendengar itu Anastasia langsung berdiri dan menampar Neo dengan keras. Tidak berapa lama, mereka mendapat laporan mengenai kapal komando sudah merapat. Gadis Kapal tidak berkata apa-apa dan langsung berjalan keluar dari kapal komando, bersama dengan Anastasia dan Magyar.

Neo pertama terdiam, dan kemudian langsung berteriak

{"SIALAN ! SIALAN ! SIALAN ! SIALAN !"}

Ia menendang kursi di hadapannya karena kesal, dan kemudian berkata,

{"Orang Jepang itu... benar-benar mempermalukan diriku... Tidak dapat kumaafkan ! Tidak akan ku..."}

Pada saat itu, ia teringat satu hal. Viltus sama sekali tidak ada daritadi. Ia tersenyum dan kemudian tersenyum dan tertawa sangat keras di dalam ruang komando.


Di ruang komando, Viltus memberikan semua laporan dari latihan tersebut, dan dilanjutkan dengan kondisi di lapangan pada operasi gabungan beberapa hari kemudian. Semua orang yang mendengar itu langsung mengangguk dan tidak berapa lama pergi dari ruang komando.

Tadahisa berjalan ke arah Viltus dan berkata,

"Aku sangat salut dengan dirimu, Viltus... Aku yakin jika Shiro juga di sini..."

"Justru masalah akan dimulai dari sini..."

"Eh ?"

"Aku... Hanya berharap... Tidak terjadi apa-apa..."

Tangan Viltus sedikit bergetar dan itu diperhatikan oleh Tadahisa. Ia langsung menepuk kepala anak angkatnya tersebut dengan pelan, dan kemudian berkata,

"Hari ini pasti sangat berat. Sudah, beristirahat saja dahulu. Kami butuh dirimu pada hari operasi."

"Baik... Saya undur diri dahulu, pemimpin."

"Silakan."

Viltus berjalan keluar dari ruang komando dan menutup pintu ruang komando tersebut, berjalan ke arah asrama untuk istirahat dari hari yang melelahkan tersebut.


HakunoKazuki di sini

Well... Well... Well...

Aku tidak dapat berkata apa-apa... Jadi

Semoga kalian menikmati chapter ini...

Sayonara !