Chapter 12

Family


Satu hari sudah berlalu semenjak latih tanding tersebut. Viltus dipanggil kembali oleh seluruh atasan dari Amerika dan Jepang di Yokosuka. Di sana ia mendengar salah satu dari mereka berkata,

"Laksamana Amarov... Saya ingin memberitahukan kepada anda bahwa dirimu akan menjadi pemimpin dari divisi gabungan pada operasi mendatang."

"Mohon maaf... Namun, saya dengan halus menolak permintaan dari anda sekalian."

"Mengapa jika kami boleh tahu ?"

"Seorang pemimpin dari suatu operasi harus mengetahui seperti apa kepribadian setiap orang yang terlibat dalam sebuah operasi yang sama dan tidak terlibat konflik dengan salah satunya."

"Oh..."

"Namun, saat ini saya sepertinya sedang dalam keadaan perang dingin dengan salah satu dari Laksamana Amerika..."

Saat penerjemah memberitahu apa yang dikatakan oleh Viltus, salah satu petinggi dari Amerika kemudian berkata,

{"Neo Rickman"}

{"Saya sama sekali tidak ingin menyebutkan siapa orang tersebut... Namun, dapat terlihat dari sikap beliau bahwa dirinya sama sekali tidak mempercayai saya."}

{"Kami mengerti apa yang anda katakan... Kami akan memasukkan kondisi tersebut ke dalam rencana ulang kami."}

{"Terima kasih banyak."}

Dari pihak Jepang juga mengangguk setelah penerjemah memberitahukan apa yang dikatakan oleh Viltus. Salah satu dari petinggi Jepang kemudian berkata,

"Baiklah... Kami akan memberitahu perihal tersebut kepada pemimpin tertinggi Laksamana Ichijo di Kure... Kami akan meminta beliau untuk mengijinkan mengirim Laksamana Yanagi untuk sementara waktu kemari."

"Eh ? Laksamana Yanagi ?"

"Kami sudah membuat perhitungan bila engkau menolak permintaan kami..."

"Terima kasih banyak atas informasi yang anda berikan..."

Laksamana dari Amerika kemudian berdiri dan kemudian menjabat tangan dari Viltus, yang dilanjutkan dengan berkata,

{"Dan selama kami menunggu kehadiran dari pemimpin dari operasi tersebut, untuk mempersiapkan moral semua orang yang ikut dalam misi ini... Kami mengirim banyak orang dari negara kami..."}

{"Mengirim ?"}

{"Tidak hanya dari negara kami... Negara kalian Jepang pun melakukannya..."}

{"Jika saya boleh tahu... Apakah yang akan anda semua lakukan ?"}

Laksamana dari Amerika dan Jepang melihat satu sama lain dan kemudian memberitahu semua rencana mereka hingga sore.


Rapat hari itu sudah selesai, Viltus keluar dari ruangan dengan tatapan yang sangat kelelahan dan berjalan ke arah kantornya. Pada saat ia membuka pintu kantor, ia melihat Taihou yang duduk menunggu dirinya. Taihou tersenyum dan kemudian berkata,

"Selamat datang kembali, Viltus..."

"Ah... Taihou... Ummm..."

"Aku tahu apa yang ada di pikiranmu."

Taihou tersenyum dan langsung berdiri. Ia berjalan ke arah Viltus dan memeluk dirinya. Viltus membenamkan wajahnya di rambut Taihou selama beberapa menit. Setelah mendengar detak jantung dari Viltus sudah normal, Taihou melihat ke arah Viltus dan menciumnya.

Taihou tersenyum dan kemudian menarik Taihou untuk duduk di sebelahnya. Taihou kemudian bertanya,

"Jadi... Bagaimana rapatnya ?"

"Aku tidak perlu memimpin operasi ini... Aku menjadi salah satu anggota saja."

"Wah... Tumben sekali mereka menerima alasanmu..."

"Ya... Itu karena Shiro-nee yang akan memipin operasi ini."

"Eh ?!"

"Dia akan tiba besok. Mereka sudah memberitahu Shiro-nee semenjak kemarin, namun masih merahasiakannya dariku untuk mendengar alasan utamaku. Walaupun aku yakin mereka sudah mengetahui alasannya."

"Ehehehehehe... Ayahmu tidak membantumu ?"

"Tidak. Ia hanya diam saja dari awal."

Taihou langsung mengelus kepala Viltus dengan pelan. Viltus tersenyum ke arah Taihou. Taihou kemudian bertanya,

"Lalu mengapa dirimu seperti sedang memikirkan sesuatu ?"

"Ahahahaha... Terlihat dengan jelas, ya ?"

"Tentu saja."

"Ahahahaha..."

"Sebenarnya kau ingin untuk memimpin, kan ?"

"Tidak... Ini karena markas ini akan mengadakan sesuatu sebelum operasi besar atas prakarsa dari Amerika. Besok mereka semua hadir."

"Eh ? Apakah itu ?"

"Orang tua dari semua Laksamana akan datang kemari, baik dari Amerika maupun dari Jepang."

"Oh..."

"Begitulah..."

"Kau lebih enak... Orang tuamu, lebih tepatnya ayahmu, dan besok ditambah kakakmu akan hadir dan selalu ada di sekitarmu..."

"Memang sih..."

"Lalu mengapa..."

"Aku iri..."

"Mengapa kau iri ?"

"Aku... Ingin bersama dengan keluarga asliku... bersama ayahku, ibuku dan adikku..."

Taihou pertama terkejut dan langsung tersenyum. Ia langsung mengelus kepala dari Viltus sembari berkata,

"Kasihan bayi kesayanganku ini..."

"Hei..."

"Ehehehehe..."

Viltus langsung tersenyum dan langsung mengusap rambut dari Taihou. Ia kemudian berkata,

"Haah... Kau ini, Taihou..."

"Viltus... Ingatlah ini..."

"Ingat apa ?"

"Kita satu divisi ini adalah keluargamu sekarang... Dan kau adalah pemimpinnya..."

"Taihou..."

"Kau memiliki adik bernama Magyar dan Anastasia... Beberapa sepupu wanita... Dan..."

"Memiliki seorang istri yang sangat cantik..."

"Ah..."

Viltus langsung tersenyum melihat wajah Taihou yang memerah karena malu. Viltus langsung merebahkan diri di paha Taihou, dan kemudian berkata,

"Terima kasih banyak, Taihou..."

"Untuk apa ?"

"Untuk apa yang kau katakan tadi... Aku... Sempat lupa..."

"Bukan masalah..."

"Hei..."

"Apa, Viltus ?"

"Bangunkan aku tiga puluh menit lagi... Aku ingin istirahat sebentar..."

"Tentu saja..."

Viltus menutup matanya dengan wajah tersenyum. Taihou sendiri juga menutup matanya, dan sedikit demi sedikit ia mulai tertidur, karena cahaya matahari yang mulai terbenam dan angin yang berhembus masuk ke dalam kantor tersebut.


Keesokan harinya, semua orang tua hadir di markas tersebut. Selain itu, Shiro pun sudah tiba. Dan hal pertama yang dilakukan oleh Shiro adalah menemui Viltus di kantornya. Ia melihat Taihou dan Viltus yang bercengkerama satu sama lain. Selain itu, Ryuujou dan Magyar yang sedang bermain kartu, Anastasia yang memeluk Zuihou, yang sebenarnya ingin kabur, dan beberapa Gadis Kapal lain. Tepat sebelum masuk, Shiro ditarik oleh Aoba sebentar.

Aoba yang berkata lebih dahulu,

"Lama tidak jumpa Laksamana Yanagi !"

"Aoba... Kenapa kau menarik diriku ?"

"Kenapa ? Kau tidak ingin mendengar berita paling menyenangkan untuk dirimu saat ini ?"

"Apakah itu ? Apakah ini mengenai Viltus dan Taihou ?"

"Ohohohoho... Instingmu sangat tajam sekali..."

"Apa yang terjadi dengan mereka ?"

"Mereka..."

"Aoba..." ujar Viltus dengan nada datar.

"Ah... Laksamana... Ahahahahaha..." Aoba langsung mundur sebentar dan berlari menjauh.

Shiro melihat ke arah Aoba yang berlari dan kemudian ke arah Viltus yang langsung menghela nafas. Di belakang Viltus terlihat dengan jelas Magyar dan Anastasia yang mengintip dari punggung Viltus. Viltus kemudian berkata,

"Lama tidak berjumpa, Shiro-nee..."

"Lama tidak berjumpa juga, Adikku yang idiot. Jika saja dirimu menerima tugas itu dengan tangan terbuka, aku tidak akan ada di sini."

"Ahahahahaha... Maaf... Maaf..."

"Daripada itu... Apa sih yang terjadi antara dirimu dan Taihou ? Aku penasaran."

"Mengenai itu..."

Viltus mengintip ke arah Taihou, dan mendapat anggukan dari Taihou. Viltus langsung membisikkannya ke telinga Shiro, yang langsung terkejut. Ia melihat ke arah Taihou, lalu kembali ke arah Viltus. Ia menghela nafas dan kemudian berkata,

"Ya... Aku hanya dapat mengucapkan selamat saja."

"Terima kasih banyak..."

"Daripada itu... Kalian tidak berkumpul ke ruang utama ? Untuk Anastasia aku sudah mengetahui alasannya kenapa, tapi bagaimana dengan dirimu Magyar ?"

Magyar langsung menggelengkan kepalanya, dan berkata,

"Keluargaku sudah meninggal karena serangan dari Abyssal. Maka dari itu, aku tidak perlu ikut..."

Mendengar itu Viltus terlihat terdiam. Ada rasa gelisah dari raut wajahnya, namun ia berusaha sembunyikan. Magyar kemudian berkata,

"Lagipula... Saat ini keluargaku adalah divisi ini... Aku memiliki kakak angkat yang baik-baik..."

"Jika aku memiliki adik seperti dirimu, aku sudah membuangmu di tengah laut semenjak kau kecil, mengerti ?" ujar Viltus dengan nada datar

"Kejam..."

Yang diikuti dengan tawa dari Anastasia dan Shiro. Setelah berbincang-bincang sebentar, Shiro akhirnya dapat menarik Viltus, Anastasia dan Magyar untuk pergi ke ruang utama di gedung tersebut. Di sana mereka melihat Haruto dengan kedua orang tuanya, dan juga Elisa dengan pamannya. Melihat Viltus yang hadir, mereka berdua memperkenalkan keluarga mereka kepada Viltus.

Tidak berapa lama, Viltus melihat dua orang yang berbincang-bincang dengan Iowa. Dari sana, ia dapat menebak bahwa kedua orang tersebut adalah orang tua dari Neo Rickman. Ia langsung berjalan sedikit menjauh agar tidak terjebak dalam masalah di hari itu.

Shiro yang melihat Viltus berjalan menjauh langsung memberikan satu gelas anggur kepada Viltus dan berkata,

"Aku sudah dengar dari ayah... Kau memiliki masalah dengan salah satu Laksamana Amerika, ya ?"

"Dapat dikatakan dia tidak mengakui diriku. Itu saja."

"Fufufufufu..."

"Ada apa gerangan ?"

"Tidak... Hanya saja... Jarang sekali dirimu seperti itu."

Viltus hanya tersenyum kecil saja mendengar apa yang dikatakan oleh Shiro. Mendadak kedua orang yang daritadi berbincang-bincang dengan Iowa melihat ke arah Viltus setelah ditunjuk oleh Iowa. Viltus yang berbincang singkat dengan Shiro menyadari hal tersebut dan tidak berapa lama kedua orang tersebut sudah di hadapan Viltus. Salah satu dari mereka memperkenalkan diri mereka.

"Selamat... Siang... Kami..."

{"Jika tidak terbiasa berbicara dalam bahasa Jepang, saya dapat mengerti dan dapat berbicara bahasa inggris. Dengan begini tidak ada pihak yang merasa terbebani."}

{"Ah... Anda mengerti bahasa Inggris... Baguslah..."}

{"Iya."}

{"Perkenalkan kami adalah orang tua dari Neo Rickman."}

{"Jika demikian perkenalkan nama saya adalah Viltus Amarov. Kolega selama dia berada di markas ini."}

{"Kami sudah mendengarnya dari Iowa mengenai diri anda."}

Viltus melihat ke arah Iowa yang terlihat membuat tanda minta maaf. Viltus hanya menghela nafas saja dan melihat kembali ke arah kedua orang tua Neo. Mereka kemudian berkata,

{"Kami mohon maaf bila anak kami membuat masalah dengan anda."}

{"Itu bukan masalah. Saya sudah terbiasa menghadapi hal tersebut."}

{"Itu yang sering dikatakan oleh Iowa."}

{"Iowa ?"}

{"Iya... Dia sering menyembunyikan dirinya jika dia terluka karena pertempuran pada saat dipimpin oleh Neo. Dan karena itu ia sering bertindak gegabah."}

{"Bagaimana anda dapat..."}

{"Kami mendengarnya sendiri dari Iowa beberapa saat yang lalu. Ia berkata untuk tidak memberitahukannya kepada Neo."}

{"..."}

{"Maka dari itu... Saya mohon untuk menjaga dirinya..."}

{"Baiklah jika itu yang anda minta... Saya akan..."}

Mendadak mereka bertiga mendengar suara dari Neo yang berteriak,

{"Mengapa kalian berbicara dengan pengkhianat itu ?!"}

Viltus melihat ke arah Neo yang bergerak dengan cepat dan membuat pembatas antara orang tuanya dengan Viltus. Dan karena teriakan itu, semua orang melihat ke arah Viltus, termasuk dari Jepang dan semua Gadis Kapal.

Viltus langsung bertanya,

"Apa yang kau maksud dengan pengkhianat, Neo ?"

"Huh ? Kau masih tidak mengerti, pengkhianat ?"

"..."

"Oh... Kau tidak dapat berkata apa-apa lagi rupanya... Baiklah... Hei, penerjemah... Bantu aku kemari."

Penerjemah yang bersama dengan Neo langsung berjalan ke sebelah Neo dan mengangguk mendapat tanda dari Neo. Viltus langsung terdiam melihat ke arah Neo, dan kemudian berjalan ke dekat meja. Neo kemudian memulainya,

{"Selama ini kita bersusah payah menghadapi Abyssal yang terus menyerang kita tanpa henti... Apakah itu benar ?"}

Semua orang mengangguk. Pada saat itu, Shigure dan Yuudachi langsung mengerti ke mana arah pembicaraan tersebut. Begitu pula dengan Taihou, Shiro, dan Tadahisa. Viltus memberi tanda kepada mereka untuk tidak melakukan apapun. Neo kemudian melanjutkan,

{"Dan selama ini kita selalu diberitahu bahwa asal muasal mereka sama sekali tidak diketahui... Mereka muncul tiba-tiba di dunia ini... Benar ?"}

{"Itu benar..."} ujar Viltus

{"Heeehhh ? Kau yang menjawabnya... Pengkhianat sepertimu..."}

{"..."}

{"Tahukah kalian jika sebenarnya... ABYSSAL itu dibentuk oleh seseorang ?"}

Semuanya sangat terkejut mendengar hal tersebut. Dan di dalam ruangan tersebut mereka semua mulai berbicara satu sama lain. Neo langsung tertawa dan kemudian berkata,

{"Aku mendapatkan informasi ini dari seseorang yang sangat kukenal !"}

Semua dari divisi Viltus melihat ke arah Aoba, yang di mana Aoba langsung menggelengkan kepalanya. Viltus tidak bergeming sedikit pun. Neo kemudian berkata,

{"Dan satu keluarga telah membuat dosa besar tersebut !"}

{"Siapakah keluarga yang telah menjatuhkan monster itu ke dunia ini ?"} teriak salah satu Laksamana Amerika

"Keluarga itu harus dihukum seberat-beratnya... Atas semua darah telah ditumpahkan di bumi ini !" teriak salah satu Laksamana Jepang

Satu per satu kata-kata kasar mulai terdengar. Semua kata-kata itu mengutuk keluarga yang telah membuat Abyssal ke dunia ini. Neo kemudian melihat ke arah Viltus dan kemudian berkata,

{"Semua diam... Aku akan memberitahu nama keluarga itu..."}

{"..."}

{"Nama keluarga itu adalah keluarga Hakuno..."}

Tubuh Viltus sedikit bergetar pada saat mendengar nama keluarga itu. Nama keluarga yang telah dibuangnya. Nama keluarga yang ia kutuk, harus ia dengar kembali dari seseorang yang baru saja tiba dari Amerika. Neo kemudian maju ke depan Viltus dan berkata,

{"Jadi... Bagaimana... Pengkhianat ? Viltus Amarov... Oh, bukan... Hakuno Kazuki ?"}

Semua orang terkejut mendengar itu dan melihat ke arah Viltus. Viltus sama sekali tidak bergerak maupun berbicara. Ia seperti sebuah patung yang tidak bergerak. Neo langsung tertawa dan berkata,

{"Ahahahahahahaha... Lihat... Pengkhianat ada di antara kita... Dia telah membunuh sangat banyak orang di dunia ini ! Keluarga dia adalah monster di dunia ini dan angkatan laut membiarkan dirinya masuk... Jangan bilang, ia memberitahu semua rencana kita kepada Abyssal agar kita hancur !"}

{"..."}

{"Hei... Jawab pertanyaanku... Apakah kau melakukan itu ?"}

{"..."}

{"Heh ? Tidak mau menjawab... Ah... Bagaiamana jika kau membunuh dirimu sendiri agar menghapus semua darah itu... Ahahahahahahahaha..."}

Neo tertawa dan kemudian melihat ke arah Viltus. Viltus tersenyum dan menutup wajahnya. Ia kemudian tertawa. Tawa sinis. Semua orang melihat ke arah Viltus dengan tatapan yang berbeda dari biasanya. Viltus kemudian berkata,

{"Iya... Aku memang keluarga Hakuno... Kenapa ?"}

{"Hooh... Kau mengakuinya ? Keluarga Hakuno yang telah membunuh banyak orang... yang telah membuat banyak orang menangis... yang membuat banyak orang ketakutan..."}

{"Aku tahu... Aku tahu..."}

{"Lalu..."}

Viltus langsung menendang kaki Neo hingga terjatuh, dan ia langsung mengambil pisau di atas meja dan bermaksud membenamkannya di leher Neo. Pada saat itu, Neo melihat wajah dari Viltus yang sangat menakutkan. Dengan matanya yang berubah menjadi merah. Pada saat tangan Viltus diangkat, tangan tersebut langsung ditahan oleh Shiro, dan berkata,

"Viltus... Tenangkan dirimu..."

"..."

"Viltus..."

Viltus langsung melepas genggamannya dan mulai berjalan mundur. Tatapannya kosong dan tidak berani melihat ke sekitarnya. Nafasnya pun berat. Neo langsung berdiri dan berkata,

{"Kau sebaiknya membunuh dirimu agar dunia ini menjadi lebih baik !"}

{"..."}

{"Haah... Dasar..."}

{"Kau benar..."}

{"Huh ?"}

{"Aku seharusnya melakukannay dari dulu... Kau benar..."}

{"Huh ? Huh ?"}

Viltus langsung berjalan ke arah pintu, namun ditahan oleh Taihou. Viltus langsung berkata,

"Biarkan aku sendiri dahulu..."

"Tidak... Kau akan..."

"Kau tahu... Aku akan ada di mana... Jadi tolong..."

Taihou melihat ke arah Viltus dan melihat wajah yang sangat berbeda. Wajah tersebut bukan wajah yang biasa ditampilkan oleh Viltus. Dan selain itu, matanya berubah menjadi merah.

Taihou langsung menyingkir dan membiarkan Viltus pergi. Anastasia langsung mendekati Taihou dan bertanya mengapa. Sementara, Shiro bertanya kepada Neo,

"Hei... Apakah kau dapat berbicara dalam Jepang ?"

"Ya... Aku bisa... Kenapa ?"

"Kau... Apakah kau tidak tahu apa yang dia rasakan selama ini ?!"

"Huh ? Apa ? Mengenai pengkhianat itu ?"

"KAU MENGATAKAN PENGKHIANAT INI... PENGKHIANAT ITU ! KAU BAHKAN BELUM MENGENAL DIRINYA SAMA SEKALI !"

Semua orang terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Shiro. Neo langsung bertanya,

"Memangnya dirimu siapa ?"

"Aku adalah Yanagi Shiro... Kakak angkat dari Viltus Amarov..."

"Jangan sebut Viltus... KAZUKI... Itu namanya..."

"Aku akan tetap memanggilnya Viltus... Karena dia pun mengutuk nama itu."

"Huh ? Eh... Tunggu... Yanagi ? Itu bukannya nama pemimpin di sini... Oh..."

"Kenapa ?"

"Pantas saja... Berarti keluarga Yanagi melindungi pengkhianat... Maka dari itu..."

"Kau..."

"Shiro... Hentikan sekarang !" teriak Tadahisa.

Semua orang yang tadinya ribut terdiam pada saat Tadahisa berjalan dan berteriak seperti itu. Shiro membuat tanda tidak setuju dengan ayahnya, namun Tadahisa langsung berjalan ke depan Neo dan bertanya,

"Namamu adalah Neo Rickman... Benar ?"

"Iya... Kenapa ?"

"Aku akan bertanya seperti ini... Apakah tujuanmu menjadi Laksamana ?"

"Tujuanku ? Melindungi dari Abyssal yang dibuat oleh pengkhianat tersebut..."

"Begitu... Baiklah... Namun apakah kau tahu... Apa tujuan dia bergabung dengan Angkatan Laut ?"

"Memberi informasi kepada Abyssal mengenai..."

"Kau salah..."

"Huh ?"

"Dia menjadi Laksamana untuk memenuhi permintaan seorang Gadis yang ia cintai... yaitu melindungi semua orang... Dan menghancurkan semua yang telah dibuat oleh ayahnya..."

"Hoooh... Tidak kusangka kau..."

"Jika, keluargamu yang membuat hal tersebut... Apakah yang akan kau lakukan ?"

"Hmmm... Aku tidak akan di sini... Aku sudah mati..."

"Dia berbeda... Dia menanggung semua darah yang telah dikucurkan di dunia ini, dan berusaha untuk mencegah lebih banyak darah yang jatuh."

"..."

"Aku bertanya seperti ini... Apakah kau dapat menanggung beban seperti itu ?"

"..."

"Dia juga sudah berkali-kali ingin membunuh dirinya sendiri karena beban tersebut... Kau kira beban seperti itu tidak berat... Sangat berat untuk dirinya..."

"..."

"Untuk seseorang yang paling ahli dari Amerika... Sifatmu sungguh tidak terpuji..."

"..."

"Sudahlah... Shiro, kau cari Viltus sekarang... Aku sedikit khawatir dengan kondisinya."

Shiro mengangguk dan mulai berjalan ke arah pintu keluar. Selain itu, seluruh anggota divisi Viltus juga pergi keluar. Tidak berapa lama, Haruto dan Elisa pamit, dan pergi mengikuti mereka semua, yang kemudian diikuti oleh Gadis Kapal dan semua Laksamana dari Jepang. Hingga yang tersisa di dalam ruangan tersebut hanya Tadahisa bersama Laksamana Amerika dan orang tua dari semua Laksamana.


Viltus berjalan ke arah anjungan di markas angkatan laut. Ia duduk di ujungnya dan kemudian melihat ke arah laut. Di sana, ia melihat matanya yang berwarna merah seperti darah. Ia tertawa dan kemudian berkata,

"Hehehehehe... Aku... Kembali seperti ini..."

Ia tersenyum sebentar dan kemudian langsung menghela nafas. Ia mengingat kembali tindakan yang ia lakukan sebelumnya. Ia menyesalinya dan tidak dapat melakukan apapun. Hingga akhirnya ia mendengar suara,


Kau kembali kemari...

"Haah... Aku mendengar suara ini kembali..."

Apa yang dikatakan oleh pria itu... Benar... Kau mengetahui hal tersebut...

"Aku tahu... Aku tahu..."

Apa yang akan kau lakukan ?

"Aku... Tidak dapat membunuh diriku sendiri..."

Mengapa ? Mengapa kau tidak mengakhiri dirimu sendiri ?

"Dia..."

Ah... Taihou... Seorang gadis kapal yang menaruh hati kepada dirimu

"Itu alasan utamanya... Aku..."

Eh... Bagaimana dengan yang lainnya ?

"..."

Mereka sekarang membenci dirimu...

"Aku tahu..."

Mereka tidak ingin dirimu di sini... Mereka semua membenci dirimu... Mereka ingin kau mati...

"..."

Hehehehehehe... Bagaimana jika kau melihat kembali ke laut... wajahmu sendiri...

"Aku tahu..."

Bagaimana jika dirimu menyeberang sekarang ?

"Aku..."

Dengan ini semua orang tidak akan membenci dirimu...

"Taihou..."

Tidak usah kau pikirkan dirinya... Kemari... Kemari...


Viltus langsung mencondongkan tangannya ke depan dan melihat sebuah mata berwarna merah. Viltus langsung tersenyum dan bermaksud melompat ke dalam laut. Namun, dirinya ditahan oleh seseorang dan di sana ia melihat Taihou. Di belakang Taihou, semua orang yang ia kenal. Taihou tanpa berpikir panjang langsung menampar Viltus dan memeluk dirinya. Semua orang sepertinya membiarkan Taihou melakukan tugasnya untuk saat ini sebelum mereka semua akan berbicara dengan Viltus.

Taihou langsung berkata,

"Viltus..."

"..."

"Apa kau ingin membunuh dirimu kembali ?"

"Itu..."

"Apa ?"

"Aku hanya akan menyelam sebentar... Ahahahahaha..."

"Bohong..."

"Ugh..."

Viltus langsung memalingkan wajahnya dari Taihou yang menatap tajam ke arah dirinya. Taihou tersenyum kecil dan membenamkan wajahnya di tubuh Viltus, yang langsung mendapat tepukan pelan dari Viltus diiringi dengan,

"Maafkan aku... Taihou..."

"Tidak apa-apa... Aku tahu kau pasti emosi..."


Setelah cukup tenang, Viltus melihat ke arah semua orang yang berkumpul di sana. Viltus langsung berdiri dan kemudian menutup matanya dan berkata,

"Maafkan aku... Aku..."

"Huh... Kau ini benar-benar, ya..." ujar Haruto

"Benar-benar apa ?"

"Jika kau bunuh diri... Siapa yang akan mengecek dokumenku, huh ?"

"Heh... Itu yang kau pikirkan, ya..."

"Hehehehehe..."

Viltus menarik nafas panjang dan kemudian melihat ke seluruh Gadis Kapal dan Laksamana dari Jepang. Ia kemudian berkata,

"Jadi... Inilah kenyataannya... Keluargakulah yang telah membuat semua orang di dunia ini menderita... Keluargakulah yang telah menumpahkan darah di dunia ini... Karena percobaan dari ayahku..."

Semuanya terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Viltus. Dan pada saat itu, mendadak Nagato berkata,

"Huh... Abyssal itu rupanya yang paling membebani pikiran dari Laksamana kita... Mari kita hancurkan mereka... Agar Laksamana kita dapat menjadi sedikit lebih tenang !"

"Eh ?"

Satu per satu Gadis Kapal memberikan satu per satu masukan dan dukungan kepada Viltus. Kemudian mendadak Magyar berkata,

"Viltus... Memang benar Abyssal yang telah membunuh orang tuaku..."

"..."

"Namun, aku tidak menyalahkan dirimu... Semua kejadian ini... Bukan karena dirimu... Namun, ayahmu..."

"Namun... tetap saja..."

"Kau tidak perlu menanggungnya sendirian... Lagipula, kami semua ada di sini kan ?"

"Eh ?"

"Kami semua ini keluargamu... Satu Markas ini... Benar, tidak ?"

Semuanya mengangguk mendengar apa yang dikatakan oleh Magyar. Magyar kemudian berkata,

"Jika ada masalah... Beritahu saja semua orang di sini... Kami akan membantu..."

"Magyar..."

"Ingat... Di divisimu ada adikmu yang paling baik... MAGYAR LIBYET !"

"Huh... Kau lupa... Jika dirimu adalah adikku... Aku sudah membuangmu di tengah laut semenjak dahulu..."

"Hei !"

Semuanya tertawa mendengar komentar dari Viltus. Setelah itu, salah satu dari Laksamana bertanya kepada Viltus,

"Hei... Viltus, kenapa kau tidak mau menggunakan nama Ka..."

"Kazuki... Aku... Itu mengingatkan diriku kepada ayahku... Maka dari itu... Aku..."

"Baiklah... Kami mengerti... Viltus."

"Terima kasih banyak..."

Viltus melihat ke semuanya dan kemudian berkata,

"Aku harap kejadian ini tidak mempengaruhi operasi yang akan datang..."

"Tidak akan" ujar Haruto

"Hehehehehe... Aku yakin dengan hal tersebut..."

Viltus kemudian menarik nafas panjang. Ia berpikir sebentar dan kemudian tersenyum,

"Dan karena dia bermain seperti itu... Maka, aku pun dapat bermain sama kotornya..."

"Ummm... Viltus ?" Shiro terlihat sedikit khawatir dengan wajah Viltus yang tersenyum sinis.

"Tenang saja... Aku akan memberi dia pelajaran... Aoba !"

"Aoba di sini ! Ada apa, Laksamana ?" ujar Aoba maju

"Dapatkah kau mencari informasi mengenai misi dari Neo dari awal hingga akhir ? Terutama mengenai cedera dari Iowa ?"

"Ah... Aoba dapat mencarinya... Kapan diberikan kepada..."

"Besok pagi."

"Eh ?"

"Besok... Pagi..."

"Ummm... Mustahil..."

"Aku yakin kau bisa... Kau saja dapat mengumpulkan informasi mengenai hubungan diriku dengan Taihou dengan sangat cepat..."

"Uhhh..."

"Aku yakin kau mampu..."

"Sebagai gantinya..."

"Apa ?"

"Kau tidak akan memanah diriku dan ijinkan aku mengambil foto resmi kalian berdua..."

Viltus melihat ke arah Taihou, dan mengangguk dengan malu-malu. Dan dengan wajah sedikit merah, Viltus mengangguk ke arah Aoba. Aoba langsung mengangguk dan berlari menjauh untuk menjalankan tugas barunya.

Viltus kemudian berkata,

"Sebaiknya kita kembali... Untuk meyakinkan tidak terjadi apapun kepada diriku..."

Semuanya mengangguk, termasuk Shiro. Pada saat semuanya sudah berjalan cukup jauh, Shiro kemudian berkata,

"Viltus... Sebaiknya kau di sini saja dahulu..."

"Eh ? Kenapa ?"

"Matamu..."

"Ah... Baiklah..."

Shiro tersenyum dan kemudian berbisik,

"Dan nikmati waktumu dengan Taihou..."

"Shiro-nee..."

Shiro langsung berjalan menjauh dari Viltus yang wajahnya memerah.


Viltus dan Taihou langsung duduk dengan menggunakan punggung masing-masing. Viltus langsung berkata,

"Maaf..."

"Untuk apa ?"

"Karena aku memiliki niat untuk membunuh diriku kembali..."

"Bukan masalah... Karena kau tidak jadi, benar ?"

Viltus langsung tertawa. Taihou mendadak berkata,

"Aku ingat kau berkata kau membenci nama itu..."

"..."

"Aku sangat ingin..."

"Kau saja yang kuijinkan..."

"Eh ?"

"Mungkin... Hanya dirimu saja yang kuijinkan untuk memanggil nama itu..."

"Vil..."

"Eit... Aku sudah memberimu ijin... Panggil aku dengan nama itu pada saat hanya berdua saja tapi..."

"Baiklah... Kazuki..."

Taihou langsung tertawa kecil setelah mendengar itu. Taihou langsung berkata,

"Kau tahu... Matamu yang berubah menjadi merah... Sangat indah mengerti..."

"Begitukah ?"

"Tapi... Kenapa matamu dapat berubah seperti itu ?"

"Aku pun tidak tahu... Setiap emosiku sudah memuncak... Pasti menjadi merah... Pasti..."

"Tapi, matamu sama indahnya..."

Viltus terdiam mendengar hal tersebut. Mendadak Viltus terbatuk-batuk sebentar. Taihou yang mendengar itu langsung membalikkan badannya dan memeluk Viltus dari belakang. Viltus hanya dapat tersenyum saja pada saat Taihou melakukan hal tersebut. Viltus kemudian berkata,

"Hei... Taihou..."

"Apa ?"

"Apakah kau dapat mempersiapkan acara seperti biasa... Tiga hari setelah pertempuran ?"

"Hmmm ? Bisa saja..."

"Ajak juga mereka dari Amerika..."

"Baiklah..."

"Karena... Pertempuran ini... Akan mengubah dirinya... Aku yakin itu..."

Taihou melihat tatapan dari Viltus yang penuh keyakinan, dan langsung mengangguk sembari menyandarkan kepalanya di kepala Viltus yang terasa sangat dingin.


HAKUNOKAZUKI di sini

Wahahahahahahahahahaha Chapter 12 sudah selesai... Tepuk tangan

*clap clap clap clap

HK : Terima kasih... Terima kasih

Baiklah... Arc America tinggal dua chapter lagi

*Woi... Spoiler

HK : Nggak apa-apa lah... Spoiler dikit

Namun, chapter berikutnya baru selesai setelah aku menyelesaikan hal lain... Jadi, maafkan saya...

Jadi... Selagi menunggu... Silakan menikmati seri ini...

до свидания