Chapter 13

Test


Viltus bangun dengan mata yang sedikit merah dan di bawah matanya terdapat kantung mata yang sangat terlihat. Walaupun ia tidur, badannya masih belum sepenuhnya pulih. Tentu saja, semenjak apa yang dikatakan oleh Neo sebelumnya, ia harus memberikan pertanggungjawaban mengenai apa yang dikatakan oleh Neo. Terutama mengenai Abyssal.

Selain itu, ia harus melobi dan meyakinkan atasan baik dari Jepang maupun dari Amerika untuk membiarkan dirinya tetap berada di dalam tim untuk melakukan penyerangan. Cukup sulit karena rasa curiga yang diberikan. Namun, akhirnya mereka membiarkan Viltus dengan catatan.

Catatan inilah yang dinantikan oleh Viltus. Pada saat melakukan misi tersebut, kapal komando Viltus akan diisi oleh Viltus, Magyar, Anastasia, Shiro dan Neo. Selain itu, Gadis Kapal yang berada di bawah komando Viltus ditambah dengan Iowa akan berada di kapal itu. Dan selama misi itu, yang akan memimpin adalah Neo. Jika Viltus membuat masalah yang berujung pada kekalahan telak dari angkatan laut gabungan tersebut, maka dirinya akan langsung dihukum dan dikeluarkan dari angkatan laut.

Viltus sedikit keberatan dengan hal tersebut dan melakukan tawar menawar untuk membiarkan dirinya mengambil alih jika ada situasi yang cukup genting. Pada awalnya ditolak, namun atas alasan pengalaman yang telah ditempuh oleh Viltus dalam bertempur dengan divisi lain di operasi yang sama besarnya, maka mereka menberikan hak tersebut kepada Viltus.

Viltus berjalan ke arah gedung administrasi untuk memberitahu hasil rapat yang memakan waktu berjam-jam tersebut. Pada saat ia masuk ke dalam kantornya, ia langsung disambut oleh Taihou, Shigure dan Yuudachi. Taihou langsung bertanya,

"Viltus... Jadi..."

"Aku tidak akan memimpin dari awal... Neo yang akan memimpin kalian."

"..."

"Namun, jika dirinya benar-benar MENERAPKAN taktik yang biasa ia lakukan di Amerika, yang sangat berlawanan dengan rencana taktik awal dan terlihat tanda-tanda kekalahan... Aku akan mengambil alih kendali..."

"Taktik apa ?"

"Aku tidak akan memberitahu kalian perihal hal tersebut sekarang. Aku akan menyimpan kartu itu hingga waktunya tiba."

Taihou menatap ke arah Viltus dan dapat terlihat dengan jelas, Viltus tahu apa yang akan dia lakukan. Taihou sendiri sudah mendengar apa yang akan terjadi seandainya karena Viltus operasi ini gagal. Melihat wajah dari Taihou, Shigure langsung menarik Yuudachi dan kemudian berkata,

"Laksamana... Saya dan Yuudachi akan bersiap-siap di dermaga... Anastasia dan Elisa berkata kapal komando akan siap dalam beberapa jam lagi."

"Baiklah... Kalian mendapat ijin."

"Terima kasih banyak. Yuudachi, ayo"

Pada awalnya Yuudachi menolak untuk ikut. Namun, melihat kondisi di ruangan tersebut Yuudachi akhirnya mengerti dan ikut dengan Shigure pergi ke dermaga. Viltus langsung berkata,

"Mereka... Mengerti suasana hatimu... Taihou..."

"Begitukah ?"

"Tidak hanya mereka... Aku pun dapat melihatnya dari wajahmu, Taihou..."

"..."

"Kau pasti sangat khawatir dengan operasi ini... Benar ?"

"Tentu saja... Jika misi ini gagal... kau..."

"Aku tidak akan keluar dari Angkatan Laut... Aku harus membersihkan apa yang telah dibuat oleh ayahku... Aku harus..."

"..."

Taihou langsung menunduk mendengar hal tersebut. Ia tahu, Viltus akan berkata demikian. Viltus langsung mengelus kepala Taihou dengan pelan dan kemudian berkata,

"Tenang saja... Semuanya akan baik-baik saja..."

"Kau berani berkata seperti itu... Padahal kenyataannya..."

"Aku tahu... Aku tahu... Aku hanya ingin semuanya tetap berpikir positif."

"..."

"Ada apa dengan wajah itu, Taihou ?"

Viltus langsung memegang wajah dari Taihou, dan melihat mata Taihou yang terlihat ingin menangis. Viltus menghela nafas dan kemudian berkata,

"Namun, jika pada akhirnya aku keluar... Aku masih dapat bertemu denganmu."

"..."

"Dengan menyusup seperti biasanya."

"Eh ?!"

"Jadi tenang saja"

"Kau ini... Haruto dan Kimura benar-benar bukan orang yang paling tepat untuk mempengaruhi pikiranmu."

"Begitukah ? Ahahahahaha"

Taihou langsung tersenyum mendengar itu. Ia tahu, Viltus sama sekali tidak ingin melihat dirinya sedih dengan melakukan hal tersebut. Ia langsung memeluk Viltus dan membenamkan wajahnya di dada Viltus. Viltus langsung mengelus kepala Taihou dan berkata,

"Semuanya... Akan baik-baik saja..."

"Iya..."

Mereka berdua terdiam hingga akhirnya mereka mendengar pintu yang terbuka. Pada saat mereka melihat ke arah pintu, di sana berdiri Iowa yang terlihat sedikit khawatir. Yang pada saat bersamaan, wajah Iowa memerah dan kemudian berkata,

"Maaf... Aku menganggu waktu kalian !"

"Ah... Tunggu !" teriak Viltus

Mereka berdua langsung mengejar Iowa yang lari dari depan pintu kantor Viltus.


Setelah Iowa berhasil diyakinkan untuk kembali ke kantor Viltus, Taihou langsung menyiapkan minuman untuk Iowa, sementara Viltus berdiri dan memperhatikan Iowa yang terlihat sedikit gelisah. Viltus langsung berkata,

"Sebelum kita memulai pembicaraan ini... Apakah ada yang ingin kau tanyakan kepada diriku ?"

"Umm... Mengenai itu..."

"Aku akan menjawab apapun pertanyaan tersebut... Bahkan mengenai masalah kemarin..."

"Baiklah..."

"Silakan... Aku memberikanmu ijin untuk bertanya."

Taihou memberikan secangkir kopi kepada Iowa dan kepada Viltus. Ia langsung duduk untuk mendengar pertanyaan dari Iowa. Iowa melihat ke arah Taihou lalu ke arah Viltus dan kemudian bertanya,

"Yang pertama ini... Sedikit ringan... Namun, apakah kalian berdua berkencan ?"

"Iya..." Viltus menjawab singkat sembari melirik ke arah Taihou yang tersenyum.

"Ummm... Bukankah ada peraturan..."

"Aku tidak peduli dengan hal tersebut... Ya, ini semua karena seseorang sih."

"Siapa ?"

"Aku tidak dapat menyebutkannya."

"Baiklah."

"Jika kau menyebut 'yang pertama ini', berarti dirimu masih memiliki pertanyaan lain. Dapatkah kau menyebutkannya ?"

"Kau yakin ?"

"Iya."

"Baiklah... Apakah yang dikatakan oleh Laksamana Ri... Maksudku... Neo... Itu benar ?"

Taihou langsung melihat ke arah Viltus dengan wajah khawatir. Viltus langsung menatap mata Iowa dengan tenang dan berkata,

"Ya, itu semua benar."

"Jadi, keluargamu yang..."

"Aku tidak dapat menyangkal hal tersebut. Karena itu adalah kenyataannya."

"Lalu mengapa dirimu..."

"Aku akan menghancurkan semua yang telah dibentuk oleh ayahku... dan menghancurkan mereka... karena apa yang telah mereka lakukan kepada ibu dan adikku." Jawab Viltus tanpa mendengarkan apa yang akan ditanya oleh Iowa.

"Apa yang terjadi kepada..."

"Mereka berdua dibunuh oleh Abyssal... dua tahun setelah ayah menghilang." Viltus kembali menyelak Iowa seakan-akan dirinya mengetahui apa yang dipikirkan oleh Iowa.

"Maafkan aku..."

"Tidak apa-apa."

"..."

"Apakah ada yang ingin kau katakan lagi sebelum operasi ini dimulai ? Aku tidak ingin membuat suasana semakin runyam dengan menahan Taihou dan dirimu di sini."

Iowa menunduk mendengar apa yang dikatakan oleh Viltus. Berita mengenai apa yang akan terjadi seandainya operasi ini gagal, sudah tersebar hingga ke Gadis Kapal. Iowa melihat ke mata Viltus dan berkata,

"Maafkan... Neo... Dia..."

"Tenang saja. Aku sudah membiarkan hal tersebut lewat."

"Eh ?!"

"Aku tidak ingin pikiranku terhalang karena rasa kesal atau benci kepada teman seperjuangan di operasi sebesar ini. Aku... Tidak ingin kehilangan satu orang pun lagi."

"..."

"Apakah masih ada yang ingin dibicarakan ?"

"Tidak..."

"Sebelum operasi ini dimulai... Aku akan meminta maaf terlebih dahulu."

"Untuk apa ?"

"Untuk yang akan terjadi selanjutnya. Jika telingamu menjadi panas atas apa yang terjadi di kapal komando, aku sarankan untuk menyerahkannya kepada Taihou."

"Apakah kau mengerti ?"

"Mengerti."

"Bagus. Mari, kita ke kapal komando sekarang. Semuanya seharusnya sudah tiba di sana."

Viltus mengambil topinya dan menghabiskan kopi miliknya. Ia membuka pintu dan mengajak Taihou dengan Iowa untuk berjalan sekarang. Mereka berdua mengangguk, dan berjalan mengikuti Viltus.


Di kapal komando, semua Gadis Kapal dari divisi Viltus dan Iowa sudah hadir. Selain itu, Magyar dan Anastasia pun sudah hadir dan mempersiapkan peralatan mereka masing-masing dengan bantuan Elisa. Dan tepat pada saat Viltus masuk, Elisa bermaksud untuk pindah membantu di kapal komando Haruto. Elisa langsung berkata,

"Ah... Selamat pagi, Viltus !"

"Selamat pagi, Elisa... Mereka berdua meminta apa ?"

"Magyar meminta untuk memperkuat jaringan radarnya. Sehingga dapat terhubung dengan milik Iowa. Sementara, Anastasia meminta untuk melakukan sedikit perubahan dengan headphone baru miliknya."

"Baguslah. Apakah semua perlengkapan Gadis Kapal sudah siap ?"

"Tentu saja !"

"Dan tambahan kursi di sini ?"

"Ada di sana."

"Baguslah."

Elisa terdiam sebentar dan kemudian bertanya,

"Hei..."

"Apa ? Jika menyangkut masalah aku dikeluarkan atau tidak, aku akan menjawab lihat saja nanti."

"Bukan itu..."

"Lalu ?"

"Untuk satu kali ini saja atau mungkin seterusnya... Aku tidak akan melihat dirimu yang duduk di sana. Sangat disayangkan ada orang yang berani melakukan hal sangat kotor seperti itu kepada dirimu dan duduk di kursi pemimpin kapal komando ini."

"Itu bukan masalah. Selama ada Shiro-nee, semua mungkin akan baik-baik saja."

"Benar juga, ahahahahaha"

"Sudah. Bantu divisi Haruto. Aku yakin dia butuh bantuan."

"Siap, Laksamana !"

Elisa langsung berlari keluar dari ruang komando ke arah kapal komando Haruto. Viltus masuk dan langsung disambut dengan wajah kesal dari Anastasia. Viltus berusaha untuk tidak menghiraukan Anastasia, namun Anastasia langsung berdiri dan kemudian berteriak,

"Mengapa kau membiarkan orang itu mengambil alih kendali dari kapal komando ini !?"

"Ini semua perintah dari petinggi. Sudah cukup beruntung aku dapat ikut di operasi ini."

"Tetapi..."

"Anastasia !"

"Uh..."

"Tenang saja... Aku mendapatkan ijin untuk mengambil alih pada saat genting."

"..."

"Jadi... Tenang saja. Dan, di mana Neo ?"

"Aku tidak tahu."

"Baiklah... Kembali saja ke posmu... Kau harus fokus untuk misi nanti."

Viltus berjalan ke arah meja di tengah ruang komando dan memperhatikan semua laporan dari divisi pengintai sehari sebelumnya. Ia membagikan kepada semua Gadis Kapal di kapal komando tersebut, yang tentu saja membuat Iowa terkejut. Ia langsung menerima dokumen tersebut dan membacanya.

Pada saat Iowa melihat ke Viltus, ia melihat wajah Viltus yang sangat fokus. Ia berjalan ke arah Magyar dan memperhatikan semua yang Magyar katakan. Pada saat ada Gadis Kapal yang bertanya kepada dirinya, ia langsung menjawab apa yang ia ketahui. Sangat berbeda pada saat ia dipimpin oleh Neo.

Tidak berapa lama, Neo masuk ke dalam ruang komando dan melihat Viltus yang sedang di sebelah Anastasia memperhatikan aktifitas sonar yang terlihat di layar milik Anastasia. Neo langsung berkata,

"Wah... Wah... Pengkhianat di sini rupanya."

"Ah... Selamat datang Laksamana Rickman."

"Sudahlah... Daripada itu, pengkhianat... Mengapa kau ada di sini ?"

"Saya sudah mendapatkan ijin untuk ikut dalam operasi ini. Dan anda yang akan memimpin divisi ini selama operasi ini."

"Begitukah ? Ahahahahahaha."

"Semoga anda membawa semuanya kembali dengan selamat."

"Tenang saja. Ada Iowa. Aku malah tidak percaya dengan semua Gadis Kapal dari Jepang."

Mendengar itu, semua Gadis Kapal dari divisi Viltus langsung bereaksi. Namun, melihat tatapan tajam dari Viltus semuanya langsung terdiam. Viltus kemudian menyerahkan kepada Neo dokumen pengintaian, namun langsung ditolak oleh Neo dengan alasan,

"Aku sudah mendengarnya langsung dari petinggi."

"Apakah kau tahu lawan yang akan kita hadapi ?"

"Tentu saja."

"Apakah kau tahu seperti apa kondisi di lapangan ? Pertempuran laut terbuka atau di antara pulau-pulau ?"

"Tentu saja."

"Apakah kau tahu isi dari lawan, dan kemungkinan adanya unit bantuan mereka ?"

"Tentu saja !"

"Dan..."

"Sebaiknya kau diam saja. Aku sudah mengetahui semuanya."

Neo membuat tanda seakan-akan dirinya tidak peduli dengan semua yang ditanyakan oleh Viltus. Anastasia semakin jengkel melihat kelakuan dari Neo. Sementara, Viltus tersenyum mendengar semua jawaban dari Neo.

Neo langsung memperhatikan semua kondisi di ruang komando dan berkata,

"Daripada itu... Mengapa kapal komando ini sangat berbeda ?"

"Aku yang memintanya..."

"Untuk apa ? Untuk menampung dua manusia tidak kompeten ini ? Ahahahahahaha"

Anastasia langsung berdiri dan menarik kerah dari Neo. Ia langsung berkata,

"Kau sebaiknya menutup mulutmu !"

"Heh ? Untuk apa ?" tanya Neo sedikit meledek.

"Kau..."

"Kalian... Berhenti bertengkar !"

Mereka melihat ke arah pintu ruang komando dan melihat Shiro yang berdiri di sana. Ia terlihat sedikit kesal dengan tingkah laku dari Neo. Melihat Shiro yang hadir, Neo langsung berkata,

"Wah... Selamat datang... pelindung sang pengkhianat dunia !"

"Kau sebaiknya menjaga kata-katamu kepada atasanmu sendiri, Laksamana Rickman."

"Ohhh... Memangnya dirimu apa di sini ?"

"Saya yang akan bertanggung jawab di kapal komando ini. Sebaiknya kau menjaga sikapmu..."

"Untuk apa ?"

Melihat situasi menjadi semakin panas, Viltus langsung berkata,

"Daripada kita menghabiskan tenaga kita untuk sesuatu yang tidak perlu, sebaiknya kita mulai berangkat sekarang. Sebentar lagi adalah waktu yang ditentukan untuk berangkat dari dermaga."

"Ah... Sudah waktunya ? Baguslah. Kita berangkat sekarang. Dan sebaiknya kau mendengarkan perintahku."

"Terserah pada anda sendiri, Laksamana Rickman."

Neo langsung berjalan ke arah kursi Laksamana, sementara Viltus masih berdiri terdiam di tempatnya. Shiro langsung menepuk pundak Viltus dan kemudian duduk di kursi yang tersedia. Semua yang berada di ruang komando langsung terdiam mendengar itu. Sementara, Iowa terkejut melihat tatapan dari Viltus yang tersenyum puas. Ia tahu, Viltus sudah mulai menggerakkan rencananya dengan Neo sudah terjebak ke dalam jebakan yang disiapkan.


Neo terlihat tenang-tenang saja tanpa memperhatikan dokumen yang tersedia, sementara Shiro terlihat tidak terlalu senang dengan hal tersebut. Untuk mengalihkan perhatian dari Neo, ia memilih untuk melihat kondisi di lapangan sekali lagi dari laporan pengintaian.

Sementara itu, Viltus terlihat sibuk memperhatikan layar dari Anastasia dan Magyar. Ia sepertinya sangat fokus setiap kali Magyar dan Anastasia bereaksi dengan sesuatu. Sekali ia mendengar Neo yang mencemooh dirinya, namun dirinya sama sekali tidak peduli. Ia memilih mengecek semuanya hingga ia mendapatkan gambaran keseluruhan.

Ia kemudian berjalan ke arah Shiro dan berkata,

"Berdasarkan laporan pengintai, aku mendapatkan informasi mengenai lawan yang akan kita hadapi adalah salah satu divisi kapal induk dari Abyssal."

"Iya. Empat kelas Wo. Itu sangat banyak."

"Apakah divisi yang dipimpin oleh Akizuki akan membantu kita ?"

"Iya."

"Baiklah..."

"Sepertinya ada yang kau pikirkan..."

"Ada..."

Viltus menunjukkan salah satu dokumen yang belum dibaca oleh Shiro. Melihat itu, Shiro sedikit terdiam dan kemudian bertanya,

"Apakah dia..."

"Dia sama sekali tidak membaca laporan dari divisi pengintaian. Bagi dirinya, apa yang dikatakan oleh atasan sudah lebih dari cukup."

"Aku mendengar kabar dirinya baru menjalankan operasi kecil saja."

"Operasi kecil dapat diselesaikan dengan cepat... Cukup dengan tembakan dari Iowa. Mereka semua dapat kabur dari daerah penyerangan sebelum unit bantuan tiba."

"Namun, kondisi sekarang adalah operasi yang cukup besar di mana kita akan membuka jalur tambahan ke arah Eropa, melalui Russia."

"Dengan dibukanya jalur ini, akan lebih mempermudah pengiriman logistik ke utara melalui lautan."

"Tepat sekali. Dan yang menjaga jalur ini cukup ketat."

"Sangat... Dengan daerah penyerangan kita dapat dijangkau dengan mudah dari tiga divisi Abyssal di sekitarnya."

Shiro langsung terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Viltus dan memperhatikan semua laporan dari divisi pengintai. Shiro langsung bertanya,

"Daerah ini... Apakah daerah ini rawan terhadap Kapal Selam ?"

"Aku cukup yakin tidak ada kapal selam di daerah sana karena laut terbuka. Namun, kita tetap harus memperhatikan sekitar dengan seksama. Semuanya mungkin saja terjadi di pertempuran."

"Kau benar..."

Shiro memperhatikan Neo sekali lagi yang terlihat cukup yakin, dan tertawa sendiri. Shiro langsung memberi perintah kepada Viltus untuk melakukan komunikasi dengan divisi lain secara diam-diam tanpa diketahui oleh Neo. Dan sebelum Viltus menjalankan tugasnya, Shiro memberitahu,

"Semoga saja... Orang ini tidak melakukan tindakan konyol..."

"Percaya satu hal, Shiro-nee..."

"Apakah itu ?"

"Dia pasti akan melakukannya."

Viltus langsung berjalan ke depan Neo. Melihat Viltus, Neo langsung berkata,

"Kau... Menganggu mengerti..."

"Aku tahu... Maka dari itu, aku mohon ijin untuk kembali ke kamar hingga operasi mulai berjalan."

"Ya... Silakan saja... Eh, tunggu..."

"Apa Laksamana Rickman ?"

"Kau tidak boleh sendirian... Hmmm..."

Neo melihat ke sekitarnya dan kemudian berkata,

"Kau, gadis yang berambut hitam dan Iowa akan memperhatikan semua gerak-gerik dari pengkhianat ini."

Shigure sama sekali tidak merespon apa yang dikatakan oleh Neo. Ia kemudian mengangguk setelah mendapat tatapan tajam dari Viltus. Viltus pun keluar diikuti dengan Shigure dan Iowa.

Pada saat mereka berjalan, Iowa berkata,

"Maafkan dia..."

"Aku sudah katakan... Bukan masalah..."

"..."

"Laksamana, mengapa kau membiarkan dia melakukan hal tersebut ? Dan juga membiarkan dirimu diolok-olok ?" tanya Shigure kepada Viltus

"Aku biarkan saja. Aku akan melakukan observasi selama operasi ini... Hingga satu titik." jawab Viltus dengan tatapan yang sangat serius.

"Hingga apa ?" tanya Iowa

"Hingga... Ia akan mengorbankan Gadis Kapal milikku hanya untuk menyelamatkan... Kebanggaannya."

Iowa dan Shigure terkejut mendengar hal tersebut. Mereka berhenti di depan kamar Viltus. Dan pada saat Viltus membuka kamarnya, mereka melihat seperti peralatan radio di dalamnya. Viltus langsung duduk dan kemudian berkata,

"Semua pembicaraan melalui radio ini tidak akan direkam oleh Kapal Komando. Bahkan di Kapal Komando lain. Aku akan bekerja di sini hingga kapal berhenti."

"..."

"Iowa..."

"I... Iya..."

"Jangan beritahu dia mengenai hal ini. Ini adalah salah satu taktikku... Diam..."

"Siap !"

Iowa dan Shigure langsung menutup pintu kamar dari Viltus. Viltus yang di dalam kamar langsung menghubungi berbagai divisi yang mengikuti operasi tersebut, dan menanyakan lokasi mereka dan apakah sudah meluncurkan Gadis Kapal mereka, sekaligus informasi terkini dari setiap divisi yang mengikuti operasi. Ia mencatat semua yang dikatakan oleh setiap divisi. Dan juga menanyakan sesuatu mengenai Neo kepada kolega Neo di setiap divisi. Sebagian memilih diam, namun mayoritas memberitahukannya kepada Viltus sebagai bentuk simpati kepada Viltus. Setelah mendapatkan itu semua dan memberitahukan salah satu rencananya, Viltus langsung melepas headphonenya dan langsung berkata,

"Pertempuran ini... Akan dimulai sebentar lagi."


Kapal komando akhirnya telah tiba di tempat tujuan. Neo langsung memanggil Viltus. Pada saat Viltus sudah tiba di ruang komando bersama Shigure dan Iowa, Neo langsung menyindir Viltus,

"Sudah memberitahu teman-temanmu di Abyssal mengenai rencana kita ?"

"Ah... Mereka sangat senang sekali mendengar hal tersebut."

"Ohhh... Kau ini sangat percaya diri juga ya..."

"Tidak juga."

Neo langsung tertawa singkat dan kemudian berkata,

"Kau duduk saja. Dan tidak perlu menganggu jalannya rencana ini."

"Tidak. Aku akan berjalan ke Anastasia dan Magyar. Sama sekali tidak enak hanya duduk berjam-jam tanpa melakukan apapun."

"Apakah kau mengijinkan diriku ?"

"Silakan."

"Namun, ingat ini... Laksamana Rickman."

"Apakah itu ?"

"Bawa mereka semua kembali... Dalam keadaan utuh."

"Huh ?"

"Dan juga di sini ada Laksamana Yanagi, bersama dengan Magyar dan Anastasia... Jika kau perlu bantuan... Silakan meminta bantuan mereka. Terutama Magyar dan Anastasia mengenai informasi radar dan sonar."

"Heh ? Baiklah... Aku akan mendengarkan hal tersebut. Walaupun aku yakin... Tidak berguna."

Viltus hanya tersenyum saja mendengar hal tersebut. Setelah itu, semua Gadis Kapal berjalan keluar dari ruang komando menuju ke arah lambung kapal. Sebelum keluar, Taihou berbisik kepada Viltus,

"Jangan terlalu jauh... Memancing dirinya..."

"Aku tahu... Namun, itu diperlukan."

"Jika kau sudah memasang wajah seperti itu, bahkan diriku dan Aoba tidak dapat membaca apa yang ada di dalam pikiranmu."

"Ahahaha... Baguslah jika demikian."

"Ini adalah pertempuranmu... Kami di luar akan melindungimu."

"Hati-hati di sana... Karena kita memiliki acara itu nanti, kan ?"

"Iya."

Taihou tersenyum, namun dirinya tidak dapat melakukan kebiasaan yang biasa mereka lakukan bila melakukan operasi, karena saat ini sedang ada tamu dari markas lain dan Viltus sedang bersiap untuk pertempuran yang akan ia lewati sendirian. Namun, hanya dengan senyum mereka menyemangati satu sama lain.


Di dalam ruang komando, semua orang terlihat diam. Tidak ada yang bergerak sama sekali. Viltus memperhatikan dengan seksama semua gerak gerik dari Neo. Ia sama sekali tidak bergerak dari kursinya. Dan pada saat itu, ia menyadari suasana di dalam ruang komando tersebut sangat sunyi. Tidak ada suara radio atau apapun.

Viltus langsung bertanya,

"Sepertinya... Kau tidak menyalakan radio untuk menghubungi divisi lain..."

"Huh ?"

"..."

"Untuk apa ? Setiap divisi memiliki misi tersendiri. Kita tidak perlu bantuan dari divisi lain."

"..."

Viltus langsung diam mendengar itu, dan tentu saja membuat Neo cukup senang. Tidak berapa lama, Anastasia memberitahu kepada Neo,

"Laksamana Rickman, terdapat indikasi empat kapal selam sekitar 10 KM di utara divisi kita."

"Kapal selam ? Kau tidak salah membaca ?"

"Saya yakin itu kapal selam."

"Mustahil... Di laporan dari petinggi tidak ditemukan adanya indikasi kapal selam lawan berkeliaran di sekitar laut ini."

"Itu yang saya temukan..."

"Tidak... Saya yakin kau salah. Sudah... Tidak perlu membahas masalah ini lagi. Saya ingin fokus pada saat Iowa melapor nanti."

Anastasia sedikit geram mendengar apa yang dikatakan oleh Neo. Belum sempat ia membalas, Viltus menepuk pundak Anastasia dan bertanya,

"10 KM ? Itu bukankah di dekat divisi teman kita ?"

"Huh ? Ada divisi kita di sana ?"

"Ada. Jika aku ingat mereka melengkapi persenjataan untuk menghadapi Kapal Selam."

"..."

"Namun, aku sedikit khawatir mengenai satu hal... Dapatkah kau memperluas jangkauan radar dengan menyambungkan milik Uzuki, Yayoi, Shigure dan Yuudachi ? Jangan lupa perdalam kedalamannya."

"Ah... Siap."

Viltus kemudian melihat ke arah Neo, dan hanya menghela nafas saja. Dan pada saat itu, ia berkata pelan,

"Apakah kau mendengarnya, Taihou ?"

"Sangat jelas. Kami akan melakukan manuver..."

"Tidak... Tidak... Aku hanya akan meminta kalian untuk tetap waspada. Laut sangat luas, dan dapat dipastikan ada beberapa Kapal Selam yang belum terdeteksi. Kalian persiapkan saja diri kalian."

"Siap."

Viltus langsung berjalan kembali ke kursi 'sementara' miliknya dan langsung duduk. Ia memberi tanda kepada Shiro untuk mengambil alih dari sini. Shiro langsung mengangguk dan berjalan memperhatikan kinerja dari Neo, Magyar dan Anastasia.


Sementara itu, di lini depan.

Iowa melihat ke arah Taihou dengan wajah terkejut. Ia ingin bertanya, namun Taihou berkata,

"Jika ingin menanyakan ini... Matikan dahulu radio ke kapal komando."

"Tapi..."

"Viltus dapat mendengarkan apa yang terjadi di sini, dan akan memberi perintah tanpa diketahui oleh Neo. Wajah tanpa ekspresi dia benar-benar berguna saat ini."

"..."

"Jadi, apakah kau akan mematikan sementara ?"

"Tentu saja."

Iowa langsung mematikan radionya dan kemudian bertanya,

"Sejak kapan... kau..."

"Aku memegang radio ini semenjak kemarin malam. Viltus memberikannya kepada diriku karena ia tahu bahwa dirinya tidak akan mendapatkan satu pun hak dalam menggunakan radio."

"..."

"Dapat dikatakan dirinya sangat khawatir dengan kita semua..."

"Mengapa ? Mengapa ia khawatir dengan diri kita semua ? Kita dapat digantikan dengan..."

Aoba langsung menyelak Iowa dan kemudian berkata,

"Iya... Kita digantikan... Namun, persona dari pengganti kita berbeda jauh dengan diriku. Jika beruntung mungkin akan sama dengan diri kita."

"Aoba... Kau jangan..." ujar Taihou dengan wajah sedikit kesal.

"Aoba hanya memberitahu saja. Aoba pernah memberitahu masalah ini kepada Kimura." ujar Aoba tersenyum ke arah Taihou sembari bergerak mendekati divisinya.

"Apa alasannya ? Pasti terjadi sesuatu dengan..." tanya Iowa dengan wajah sedikit takut.

Taihou terdiam mendengar hal tersebut. Ia sama sekali tidak ingin membicarakannya karena hal tersebut sangat tabu bagi Viltus. Namun, mendadak ia mendengar suara dari Viltus. Ia masih khawatir hingga akhirnya ia mendengar,

"Itu bukan masalah... Yang pasti... Nanti malam temani aku..."

"Baiklah... Aku akan menemanimu... Vodka ?"

"Tentu saja. Ambil di gudang penyimpanan."

"Baiklah."

Taihou tersenyum sebentar dan kemudian melihat ke arah Iowa. Taihou berkata,

"Pada pertempuran besar pertamanya, ia kehilangan satu Gadis Kapal dan sahabatnya."

"Eh ? Sahabatnya ?"

"Iya. Mungkin pada saat itu yang menjadi masalah adalah komunikasi..."

"Mungkin ?"

"Aku masih baru pada saat operasi itu berlangsung... Sehingga aku tidak dapat mengetahui dengan pasti apa yang terjadi pada saat itu."

"..."

"Mungkin... Aoba dapat..."

"Aoba tidak perlu menceritakannya. Singkat kata, adalah dia kehilangan dua orang. Dan itu yang membuat dirinya menjadi seperti ini." ujar Aoba.

Iowa langsung terdiam mendengarnya. Taihou mendadak bertanya,

"Bagaimana dengan dirimu, Iowa ?"

"Eh ? Aku ? Aku tidak melakukan..."

"Kau selalu terluka di pertempuran... Namun, tidak pernah kau beritahu kepada Laksamana Rickman... Benar ?"

"Darimana kau..."

"Maafkan Aoba. Aoba menemukannya dari beberapa sumber." ujar Aoba menatap tajam ke arah Iowa.

"..."

"Mengapa kau tidak memberitahu Laksamanamu ?"

"..."

"Kau tahu... Hal tersebut dapat berakhir fatal..."

"Aku..."

Iowa menunduk mendengar pernyataan dari Taihou. Taihou menatap tajam ke arah Iowa. Ini adalah perintah yang diberikan oleh Viltus kepada Taihou. Taihou harus mencari tahu apa alasan Iowa tidak pernah memberitahu Neo mengenai cedera yang ia terima. Tepat sebelum Iowa menjawab, Kinu mendadak berkata,

"Ummm... Maaf... Tapi kita memiliki tamu di sini."

"Tamu ? Apakah itu ?"

"Pesawat !"

Taihou dan Aoba langsung terdiam mendengarnya. Mereka melihat ke udara dan melihat beberapa pesawat yang mendekati mereka. Taihou langsung berkata,

"Iowa... Pimpin kami."

"Eh ?"

"Nyalakan radiomu. Beritahu kepada Laksamana Rickman kita telah melakukan kontak dengan pesawat lawan."

"..."

"Kau adalah kapal flagship dari operasi ini. Semua ada di bawah perintahmu."

"Baik..."

"Namun, aku hanya meminta satu hal..."

"Apakah itu ?"

"Bawa kami semua kembali ke markas kami... Dalam keadaan utuh."

Iowa sangat terkejut melihat tatapan dari Taihou yang sangat tajam. Taihou berubah seratus persen pada saat lawan muncul. Ia menjadi fokus demi melindungi semuanya. Iowa langsung menggigit bibir bawahnya, karena ia merasa iri dengan Taihou akan satu hal. Determinasi untuk bertempur.

Iowa langsung menarik nafas panjang, dan kemudian memberitahu Neo mengenai situasi saat ini dan kemudian mulai bergerak untuk bertempur. Tepat pada saat itu, Taihou bertanya,

"Apakah kau ingat dengan apa yang dikatakan oleh Viltus sebelumnya ?"

"Apa ?"

"Jika kau tidak kuat... Berikan kepada diriku..."

"Mengapa..."

"Karena... Orang itu akan memulai... Membuka semua kartunya... Dengan dimulainya pertempuran ini."


Kapal komando terdengar sangat sepi hingga Iowa memberi laporan mengenai kehadiran dari divisi Abyssal di dekat situ. Neo langsung berkata,

"Lima jam... Mereka baru menemukannya setelah lima jam... Apa-apaan ini..."

"Abyssal selalu bergerak... Seperti melakukan patroli. Harap dimaklumi mereka tidak sesuai dengan tempat terakhir kali ditemukan." ujar Shiro

"Ini pasti ulah pengkhianat itu ! Dia..."

Neo melihat ke arah Viltus yang sedang membaca laporan dari divisi pengintai yang masuk ke dalam sistem Kapal Komando. Neo melihat Viltus menjadi orang yang sangat berbeda pada saat fokus. Shiro kemudian bertanya,

"Kau masih ingin menuduh dirinya ?"

"Tentu saja ! Dia ini..."

"Shiro-nee... Dapatkah kau tidak meladeni pria ini ? Satu kali saja ?" ujar Viltus sembari membaca laporan lain yang datang.

"..."

"Heh ? Pengkhianat berkata demikian. Luar biasa..."

Viltus mendadak terdiam setelah mendapat laporan dari divisi pengintai dan salah satu divisi penyerangan yang terletak cukup dekat dengan divisi Viltus dan Iowa. Viltus langsung berdiri dan kemudian bertanya,

"Hei... Neo..."

"Huh ? Siapa yang mengijinkan dirimu untuk memanggilku secara kasual seperti itu ?"

"..."

"Sudahlah. Apa ?"

"Baca ini..."

"Huh ?"

Mendadak di depan Neo muncul sebuah layar dan menemukan laporan yang baru saja dibaca oleh Viltus. Pada saat membaca itu, Neo kemudian berkata,

"Mustahil... Dari mana..."

"Dari divisi pengintai yang bergerak di sisi kanan dan kiri dari posisi kita."

"Ini... Tidak sesuai dengan apa yang dikatakan oleh pemimpin tertinggi."

"Semua laporan ini diberikan oleh divisi pengintai secara berkala kepada semua divisi yang mengikuti operasi ini. Baik itu divisi pertahanan maupun divisi ofensif seperti kita."

"Tapi..."

"Laporan yang diberikan oleh atasan itu merupakan hasil dari pengintaian sehari sebelumnya yang diminta oleh Laksamana Yanagi Tadahisa."

"Seharusnya..."

"Dalam tempo 24 jam dari pengintaian, dapat dipastikan lawan sudah bergerak ke tempat lain..."

"..."

Neo melihat ke arah Viltus dan kemudian berkata,

"Ini menunjukkan bahwa divisi pengintaian kalian sangat lemah ! Mustahil dapat..."

"Hasil dari pengintaian sehari sebelumnya hanya dapat digunakan sebagai acuan saja."

"Tetap saja..."

"Apakah kau pernah menjalankan misi di divisi pengintain sebelumnya, Neo ?"

Neo langsung terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Viltus. Mendadak mereka mendengar suara dari radio,

"Laksamana Rickman ! Radar kami menangkap kehadiran dari divisi lawan yang lain !"

"Iowa... Apakah radarmu benar ?! Tidak mungkin..."

Viltus mendengarkan pembicaraan antara Iowa dengan Neo, dan tidak berapa lama ia mendapat laporan tambahan dari divisi pengintain. Laporan mengenai divisi dari barat dan utara lawan mendekat ke arah divisinya. Ia mengetahui divisi lawan terdiri dari tiga kelas Ta, dan beberapa kelas penjelajah berat.

Shiro terlihat khawatir mendengar laporan tersebut, sementara Neo pun mulai panik. Viltus menarik nafas panjang, dan kemudian bertanya,

"Iowa ! Berikan laporan di lapangan !"

"Eh ?!"

"Berikan sekarang."

Neo melihat ke arah Viltus dan menarik kerah Viltus sembari berkata,

"Siapa yang memberimu ijin untuk..."

Viltus langsung mencengkram lengan dari Neo dengan keras dan kemudian berkata,

"Apa kau masih ingin mengikuti apa yang dikatakan oleh atasan ?"

"..."

"Aku akan mengambil alih dari sini..."

"Tidak ! Kau tidak akan kuijinkan untuk..."

"Atau... Kau masih ingn memimpin mereka ? Jika masih ingin, aku akan membiarkan dirimu... Hingga menurutku sudah terlalu parah."

Viltus langsung melepas lengan Neo, dan berjalan ke arah kursinya. Ia melihat ke arah Neo dengan wajah sedikit merendahkan Neo. Neo langsung geram dan kemudian berkata,

"Iowa ! Habisi semuanya !"

"Eh..."

"Gunakan semua yang kau miliki dan hancurkan semua lawan ! Jangan sampai ada yang tersisa."

"Tapi..."

"Gunakan semua !"

Viltus semakin tersenyum sinis mendengarkan apa yang dikatakan oleh Neo. Ia memperhatikan kembali ke arah layarnya, dan langsung menutup matanya.


Taihou yang mendengar perintah itu langsung melihat tajam ke arah Iowa dan berkata,

"Apakah dia sadar saat ini, Uzuki dan Yura sudah terkena medium damage ?!"

"..."

"Iowa, dirimu sendiri pun..."

"Sudahlah, Taihou... Perintah adalah perintah... Kita tidak dapat..."

"Iowa ! Mengapa kau tidak memberitahukan kondisi di sini !"

Iowa diam saja. Ia kemudian mengarahkan meriamnya ke arah lawan di hadapannya. Taihou kemudian menarik pundak Iowa dan berkata,

"Iowa ! Apakah kau ingin mengorbankan mereka ?!"

"Taihou saat ini kita..."

"Aoba ! Kau ambil alih sementara kendali dari unit ini... Aku akan memberi wanita ini sesuatu..."

Taihou mengatakan hal tersebut tanpa mengalihkan perhatiannya ke Iowa. Aoba langsung mengangguk dan memimpin unit mereka untuk bertahan. Iowa melihat ke arah Taihou yang terlihat sama sekali tidak senang dengan apa yang diminta oleh Neo kepada mereka. Iowa kemudian berkata,

"Taihou... Kita harus..."

"Mundur."

"Tapi... Tapi..."

"Uzuki dan Yura sudah mendapatkan medium damage... Itu sudah salah satu alasan untuk divisi kita mundur."

"Namun..."

"Bahkan dirimu sendiri sudah masuk situasi heavy damage ! Kau harusnya menyadari itu !"

"..."

Taihou langsung menampar Iowa dan kemudian bertanya,

"Mengapa kau tidak memberitahu kondisi di lapangan ini ?!"

"Itu karena..."

"Iowa... Kau selalu seperti ini di setiap operasi yang pernah kau ikuti di bawah kepemimpinan Neo. Mengapa kau tidak pernah memberitahu dia ?"

"..."

"Iowa !"

"Itu karena dia keras kepala dan sama sekali tidak mau mendengarkan apa yang kukatakan ! Ia selalu saja memaksa dengan taktiknya karena berhasil dalam tiga operasi kecil beruntun ! Ia besar kepala... Aku... Aku..."

"Mengapa kau tidak meminta untuk dipindahkan saja ? Dipindahkan di bawah Laksamana lain ?"

"Tidak... Aku tidak bisa..."

"Kenapa ?"

"Karena... Karena dia masih belum mampu... Dia masih harus kujaga... Dia... Seperti adikku sendiri..."

"Iowa..."

Taihou menutup matanya sebentar dan memperhatikan sekitarnya. Semuanay berusaha untuk tidak membiarkan lawan mendekati mereka berdua, maupun menyerang mereka. Taihou tahu, waktunya tinggal sebentar lagi, maka ia berkata,

"Iowa... Kau tahu bahwa dirimu dapat menolak taktik yang diberikan oleh Laksamanamu ?"

"Laksamana itu..."

"Mereka manusia... Mereka dapat membuat kesalahan mengerti."

"Eh ?"

"Aku terkadang bertengkar dengan Viltus karena beberapa kali taktik yang ia berikan sangat berbahaya. Ia juga keras kepala juga dengan taktik dirinya. Hingga akhirnya ia berkata,"


'Baiklah... Kau mengambil alih kendali pada saat di lapangan ! Karena kau yang lebih mengerti situasi di depan sana daripada diriku. Namun, bila aku memberi perintah dari kapal komando untuk melakukan hal lain, berarti aku mendapat laporan dari divisi pengintai yang lain !'


"Kau tahu... Saat itu aku sangat terkejut dengan apa yang ia katakan. Sangat." ujar Taihou tertawa.

"Kau berani menghadapi..." Iowa terlihat sangat terkejut.

"Tentu saja. Aku terkadang memukul kepala Viltus bila ia terlalu banyak bekerja."

"..."

"Iowa... Dengarkan aku, kita ada untuk membantu Laksamana kita dalam menghadapi Abyssal. Mereka yang memiliki kehendak dalam memberi perintah kepada kita. Namun, kita juga harus mengingatkan kepada mereka bahwa mereka memiliki tanggung jawab untuk semua Gadis Kapal di bawah dirinya."

"Aku tahu..."

"Dan jika pada akhirnya kau pindah ke divisi lain, dia dapat belajar banyak hal dari Gadis Kapal lain."

"Kau benar..."

Taihou tersenyum melihat ke arah Iowa dan kemudian berkata,

"Jadi..."

"Huh ?"

"Apakah kalian mendengar semuanya dengan jelas ? Viltus-kun..."


Di dalam kapal komando semuanya sangat terkejut dengan apa yang baru saja mereka dengar. Salah satu yang paling terkejut adalah Neo. Ia sama sekali tidak mengetahui bahwa Iowa sudah cukup kesal dengan dirinya selama ini. Viltus langsung berkata,

"Haah... Taihou... Kau tahu..."

"Apa, Viltus ?"

"Semua orang di sini... Sangat terkejut... Dan yang paling kena adalah..."

"Laksamana Rickman benar ?"

"Iya... Kau benar"

Viltus mendapatkan tatapan tajam dari Shiro. Ia sama sekali tidak memperdulikan tatapan tersebut dan melihat ke arah Neo. Ia berkali-kali berkata,

"Tidak mungkin... Tidak mungkin... Tidak mungkin..."

Viltus langsung berdiri dan kemudian bertanya,

"Apakah di Amerika sana... Juga menggunakan kapal komando seperti ini ?"

"Tidak..."

"Jadi menunggu di markas angkatan laut, ya ?"

"Iya..."

"Apakah kau pernah menyambut divisimu pada saat kembali ?"

Neo langsung menggelengkan kepalanya. Viltus langsung menarik nafas panjang dan kemudian berkata,

"Neo Rickman... Selama ini dirimu ada di divisi mana ?"

"Ofensif !"

"Namun, kenyataannya tidak... Berdasarkan data dari semua operasimu, aku dapat melihat bahwa dirimu ada di divisi pertahanan... Pantas saja kau sangat yakin dengan hasil pengintaian dari atasanmu."

"Tidak... Itu tidak..."

"Jika lawan mengejar divisi ofensif... Tentu saja dapat dikatakan kemana mereka akan pergi."

"..."

Viltus langsung melempar beberapa dokumen ke meja di depan Neo. Pada saat Neo membaca dokumen tersebut, ia benar-benar terkejut. Selama ini, ia menyerahkan dokumen kepada Iowa untuk dikerjakan sehingga dirinya sama sekali tidak tahu apa yang terjadi. Ia hanya mengerjakan apa yang dikatakan secara verbal oleh atasan kepada dirinya.

Viltus menutup matanya sebentar, dan kemudian berkata,

"Aku sendiri pun selalu di divisi pengintaian... Justru aku penasaran mengapa mereka meminta kita yang tidak memiliki pengalaman dalam melakukan ofensif... menjadi tulang punggung operasi ini..."

"Aku tidak tahu..."

"Huh ?"

"Aku sama sekali tidak tahu... Apa yang harus kulakukan lagi... Ini... Ini..."

Viltus langsung menepuk pundak dari Neo dan kemudian berkata,

"Apa tujuan dari operasi ini ?"

"Menghancurkan divisi kapal induk lawan..."

"Apakah kau akan melanjutkan semuanya ?"

"Aku..."

"Aku akan mengambil alih dari sini..."

Neo melihat ke arah Viltus. Ia bukan berada di posisi untuk menyelak atau menolak apa yang dikatakan oleh Viltus. Ia baru sadar, semua ini adalah rencana dari Viltus dan ia sudah masuk jauh ke dalam perangkapnya. Ia menundukkan kepalanya, dan mendadak ia mendapat tepukan di kepalanya. Pada saat ia melihat ke belakang, Shiro yang melakukannya.

Viltus langsung berkata,

"Laksamana kepada Sistem. Hubungkan komunikasi dengan semua Kapal Komando yang tergabung di dalam operasi ini."

Sistem Kapal Komando milik Viltus langsung membuka semua komunikasi dengan kapal komando lain, dan dalam sekejap semua Laksamana di kapal komando lain langsung bersama-sama menanyakan apa yang terjadi. Viltus hanya diam saja, dan langsung menanyakan lokasi dari setiap divisi ada di mana. Mengetahui Viltus sama sekali tidak menjawab, mereka langsung memberitahu lokasi yang diminta oleh Viltus.

Viltus kemudian melempar radio kecil miliknya ke Neo, dan kemudian berkata,

"Coba kau dengarkan... Apa yang dikatakan oleh teman-temanmu yang saat ini di kapal komando lain."

"Eh..."

"Lakukan saja... Dan juga perhatikan, caraku bertempur."

Viltus tersenyum sebentar, dan kemudian melihat ke arah meja di hadapannya. Hologram dari lokasi pertempuran yang dibiarkan oleh Neo, akhirnya digerakkan oleh Viltus. Viltus langsung bertanya kepada Taihou,

"Taihou... Apakah dari semua Kapal Perusak kita menangkap kehadiran dari Kapal Selam lawan ?"

"Shigure menangkapnya..."

"Berarti ada yang lepas..."

"Iya."

"Taihou... Ubah formasi menjadi formasi berlian... Iowa harus berada di tengah, bersama dengan Uzuki dan Yura di dekat Iowa. Kalian harus mundur, namun tetap menyerang lawan."

"Siap."

"Sebelum itu, beritahu diriku berapa pesawat yang kau miliki saat ini ?"

"Dua divisi pesawat tempur, dan dua divisi pesawat pembawa torpedo."

"Ryuujou dan Zuihou ?"

"Mereka masing-masing hanya tersisa dua divisi pesawat pembawa torpedo."

"Baiklah... Hubungkan diriku dengan Aoba."

Radio sempat statis sebentar dan kemudian Aoba langsung bertanya,

"Apakah Laksamana memanggil Aoba ?"

"Tentu saja."

"Ehehehehehe..."

"Haaah... Berapa peluru yang kau miliki ?"

"Cukup untuk setidaknya 10 kali menembak. Dan Aoba masih memiliki 10 torpedo tersisa."

"Hmmm... Lebih dari cukup. Apakah semuanya juga sama ?"

"Yura sudah habis."

"Eh ?!"

"Ia menyerang bertubi-tubi daritadi..."

Viltus langsung memukul wajahnya dengan telapak tangan. Setelah itu, ia berkata,

"Sudah... Yang memiliki peluru, ikuti arahan dari Aoba. Kau yang memilih targetnya, Aoba."

"Siap !"

Viltus kemudian mematikan radio ke arah mereka dan kemudian bertanya kepada Anastasia mengenai kondisi dari Kapal Selam, dan juga kepada Magyar yang mengenai pesawat lawan.

Neo yang melihat itu langsung terdiam. Situasi yang ia lihat sangat jauh berbeda. Dan pada saat ia melihat ke arah Shiro, ia tahu Shiro sangat terkejut. Neo langsung bertanya,

"Laksamana Yanagi... Dia sepertinya sudah sangat terbiasa dengan semua ini..."

"Mungkin."

"Eh ?"

"Aku baru pertama kali melihat dia memimpin dengan kru. Aku sangat terkejut dirinya dapat melakukan ini semua."

"..."

"Jadi... Neo Rickman... Menurutmu pengkhianat ini bagaimana ?"

"Menurutku... Dia cukup kompeten... Berbeda dengan diriku..."

"Tidak juga."

"..."

"Kau juga kompeten. Namun, harus diasah. Ia pun juga masih harus diasah."

"Kau benar..."

Neo melihat ke arah Viltus yang baru saja menghubungi Yuubari dan Akizuki untuk membantu divisinya dalam menghadapi divisi lawan. Setelah itu, Viltus berkata,

"Taihou !"

"Apa laksamana ?"

"Kami akan memindahkan lokasi dari kapal komando kami."

"Pesawat atau Kapal Selam ?"

"Dua-duanya."

"Baiklah. Tapi, beritahu di mana lokasi selanjutnya."

"Tentu saja."

Viltus tersenyum dan kemudian berkata,

"Laksamana kepada sistem. Angkat sauh dan bergerak dengan kecepatan 40 knot. Arahkan kapal 35 derajat ke arah barat. Siapkan untuk meluncurkan chaff grenade dan menggunakan smoke screen dalam interval masing-masing 3 menit setelah mengangkat sauh. Siapkan pula depth charge. Ada kemungkinan dari kapal selam di dekat kita. Aktifkan 10mm anti-air gun kita untuk menghancurkan dari balik asap."

Kapal komando langsung mengangkat sauh dan bergerak sesuai dengan arahan dari Viltus. Neo langsung memperhatikan semua yang diberikan oleh Viltus untuk didengar oleh dirinya sendiri.


Pertempuran itu berakhir. Kapal Komando Viltus kembali membaung sauhnya dan menunggu kehadiran dari divisinya untuk kembali. Viltus langsung duduk di lantai ruang komando. Ia terlihat cukup lelah karena selain memimpin divisinya, ia juga harus menggerakkan kapal komandonya. Anastasia dan Magyar terkapar di meja masing-masing. Anastasia langsung berkomentar,

"Ini... Sangat berat... Sangat berat..."

"Kau benar..." ujar Magyar menimpali apa yang dikatakan oleh Anastasia.

"Tenang saja... Kita mendapatkan libur tiga hari setelah ini..."

"Tiga hari ?!" ujar Anastasia dan Magyar bersama-sama. Mereka terlihat sangat bahagia dengan kabar itu.

Shiro langsung menepuk kepala Viltus dan berkata,

"Kau... Caramu sangat kotor mengerti."

"Sama kotornya dengan dirinya."

"Aku tidak dapat menolak fakta tersebut."

Viltus melihat ke arah Neo yang tertunduk. Neo menyadari dirinya bukan apa-apa di hadapan Viltus. Mereka berbeda jauh satu sama lain. Viltus langsung berdiri dan kemudian berkata,

"Itu adalah caraku bertempur."

"..."

"Kau memiliki cara sendiri."

"Aku tahu."

"Kau hanya perlu belajar. Belajar di divisi lain. Mungkin kau akan menemukan taktik apa yang cocok dengan dirimu."

"Kau benar..."

Viltus tersenyum mendengar itu. Ia kemudian berkata,

"Shiro-nee..."

"Apa ?"

"Ambil alih kendali dari kapal komando ini."

"Kau ingin ke mana ?"

"Kamar. Aku ingin istirahat."

"Tumben."

Shiro hanya tertawa saja mendengar apa yang dikatakan oleh Viltus. Sebelum Viltus keluar, Neo langsung bertanya,

"Amaro..."

"Viltus. Panggil saja Viltus."

"Viltus... Mengapa kau membuat rencana seperti itu... Dan mengapa kau membantu..."

"Agar kau tidak mengalami apa yang kualami."

"Eh ?"

"Aku tidak ingin... Orang lain kehilangan seseorang yang cukup penting bagi dirinya. Cukup diriku saja mengerti."

"Kau..."

"Mungkin aku terlalu berlebihan. Namun, intinya... Aku tidak ingin kau melewati kondisi di mana kau menenggelamkan Gadis Kapalmu... Untuk sadar."

"Tamparan ini sangat menyadarkanku... Sangat."

"Baguslah... Aku akan kembali ke kamar. Selamat tinggal."

Viltus langsung meninggalkan ruang komando menuju ke kamarnya sendiri di kapal komando.


Semua Gadis Kapal telah kembali, dan menyambut mereka adalah Shiro dengan Neo. Magyar sebenarnya ingin, namun dilarang oleh Shiro untuk melakukan pengawasan kembali. Pada saat melihat Iowa, Shiro langsung berkata,

"Iowa."

"Ah... Baik..."

"Kau sebaiknya berbicara empat mata dengan Neo. Neo, kau cari tempat untuk berbicara dengan Iowa."

Neo mengangguk dan kemudian berjalan diikuti oleh Iowa. Aoba langsung berkata,

"Ini semua sangat berat..."

"Komentarmu sama seperti Anastasia mengerti."

"Oh... Beruang Siberia itu berkata demikian ?"

"Kau sebut dia apa ?"

"Beruang Siberia... Aoba dan Viltus yang memberi kode Anastasia demikian."

"Viltus ?"

"Iya."

Shiro langsung tertawa kecil mendengar itu. Shiro kemudian berlari membantu Yura dan Uzuki untuk duduk di salah satu kursi, dan kemudian ia mendapat tepukan dari belakang,

"Laksamana..."

"Panggil saja Shiro-nee jika kau mau..."

"Eh ?!"

"Kau ini kekasih dari adikku... Tentu saja kau kuijinkan untuk memanggilku demikian."

"Coba kau panggil seperti itu."

"Shiro-nee..."

"Bagus."

Shiro langsung mengusap rambut dari Taihou dan kemudian berkata,

"Pasti mencari Viltus."

"Iya."

"Dia di kamarnya."

"Tumben."

"Sudah pergi saja ke sana. Aku yakin dia menunggu dirimu."

"Ba... Baik..."

Taihou langsung berlari meninggalkan mereka semua menuju ke kamar Viltus. Aoba tersenyum dan kemudian berkata,

"Sepertinya akan tejadi sesuatu yang... Aw"

"Kau tidak boleh." ujar Shiro memukul kepala Aoba.

"Uuuuhhh... Kejam."

Shiro hanya tertawa saja mendengar jawaban dari Aoba.


Taihou tiba di depan kamar Viltus dan pada saat akan mengetuk pintu, ia mendengar suara dari Viltus,

"Kau boleh masuk... Taihou."

Taihou langsung membuka pintu dan menemukan Viltus duduk di kasurnya. Ia tersenyum ke arah Taihou. Ia kemudian memberi tanda untuk duduk di pangkuannya.

Taihou langsung berjalan ke Viltus dan duduk di pangkuan Viltus. Viltus langsung memeluk Taihou dari belakang, dan kemudian menjatuhkan dirinya di kasur. Taihou sangat terkejut pada saat Viltus menjatuhkan dirinya ke kasur. Ia sontak berkata,

"Viltus..."

"Aku lelah..."

"Eh ?"

"Aku lelah... Biarkan aku... Mengisi energiku..."

"Kau tahu... Aku bau keringat saat ini... Apa kau tidak apa-apa..."

"..."

"Viltus..."

"Bukan masalah..."

Wajah Taihou memerah sedikit. Ia kemudian berkata,

"Kau hebat... Viltus."

"Hebat kenapa ?"

"Kau sudah mampu menahan emosimu..."

"Namun, itu sangat melelahkan..."

"Aku tahu."

Viltus langsung mencium rambut dari Taihou. Taihou tersenyum dan kemudian berkata,

"Sebaiknya kau tidur saja dahulu..."

"Aku tahu..."

"Nanti malam..."

"Tentu saja... Kita akan minum bersama."

"Ehehehehehe."

"Dan acara itu... Apa kau sudah menyiapkannya ?"

"Tentu saja."

"Baguslah."

"Sudah... Kau tidur saja dahulu. Jika sudah tiba di pangkalan, kau akan kubangunkan."

"Heh ? Aku yakin kau akan tidur juga."

"Ti... Tidak..."

Viltus hanya tersenyum saja mendengar jawaban dari Taihou. Rasa kantuk mulai menghinggapi dirinya dan ia tertidur. Taihou merasakan nafas yang sangat teratur dari Viltus, dan langsung mengetahui Viltus sudah tertidur di belakangnya. Ia tersenyum sebentar, dan kemudian menutup matanya. Ia menikmati situasi seperti ini. Sangat tenang. Akhirnya, rasa lelah dari dirinya mulai terasa dan ia tertidur di pelukan Viltus.

Mereka berdua tertidur hingga akhirnya tiba di Markas Angkatan Laut Yokosuka.


HakunoKazuki di sini,

Hanya Chapter 0, 1, 2, dan 5 saja yang tidak terjadi update... Fufufufufufu...
*Update naon huh ?
HK : Update apa ? Well... Who knows

Selanjutnya...

Maafkan saya chapter ini memakan waktu yang cukup lama. Ya, urusan di dunia nyata. Maklum... Maklum...

Dan sekalian saja di sini.

Karena saya berada di satu situasi, saya menghapus salah satu karya saya. Jika bertanya mengapa, aku tidak akan menjawabnya karena itu adalah sebuah rahasia. Nanti kalian akan mengetahuinya, fufufufufu

Sudahlah...

Sekian saja dari saya. Semoga kalian menikmati seri ini, dan menunggu chapter berikutnya untuk akhir dari arc ini dan dimulai arc lain fufufufufufu.

Good Bye !