Chapter 14
Relation
Pertempuran tersebut sudah berakhir dengan kembalinya divisi ofensif ke Markas Angkatan Laut Yokosuka. Pihak yang paling berjasa adalah divisi milik Haruto yang menghancurkan divisi utama lawan. Sementara itu, semua Laksamana dari Amerika mengeluk-elukan nama Neo sebagai salah satu Laksamana yang cukup berhasil memimpin di lini depan. Itu semua atas permintaan dari Viltus.
Sementara itu, Viltus kembali dipanggil oleh atasan dari Amerika dan Jepang untuk memberitahukan perihal operasi sebelumnya. Viltus sempat mendapatkan pertanyaan mengenai hasil pembicaraan selama di dalam kapal komando. Viltus yang sudah mengetahui dirinya akan ditanya demikian, angkat bicara dan menjelaskan situasi di lapangan dengan di dalam kapal komando selama operasi tersebut.
Terdapat sedikit ketidakpercayaan dari pihak Amerika dan Jepang atas jawaban dari Viltus. Namun, karena tindakan Viltus dapat dikatakan cukup benar selama operasi tersebut, maka mereka mengangkat hukuman yang diberikan kepada Viltus, dan juga membiarkan dirinya tetap berada di Yokosuka.
Viltus berjalan dengan cukup senang dengan hasil rapat tersebut. Ia langsung bergerak ke arah kantornya dan mendapatkan Anastasia, Magyar dan semua Gadis Kapal di divisinya yang terlihat sangat khawatir dengan dirinya.
Taihou yang melihat Viltus langsung berdiri dan bertanya,
"Viltus..."
"..."
"Bagaimana hasil rapat tadi ? Kau tidak disuruh keluar kan ? Kau masih tetap bersama kami..."
Viltus diam sebentar dan di kepalanya terbesit sebuah ide untuk menganggu mereka. Ia langsung memalingkan wajahnya. Taihou yang melihat itu langsung berlari ke arah Viltus dan memeluknya. Ia kemudian berkata,
"Tidak... Tidak mungkin... Operasi ini berhasil... Kau seharusnya tidak keluar..."
"Maafkan aku... Taihou..."
"Aku... Aku... Akan berbicara dengan mereka..."
"Maafkan aku..."
"Viltus..."
"Aku tidak jadi keluar dari angkatan laut. Mereka menerimaku kembali."
"Eh ?"
Gadis Kapal lain selain Taihou, dengan Magyar dan Anastasia yang melihat wajah Viltus langsung menyadari apa yang ada di dalam kepala Viltus dan membiarkannya saja. Taihou melihat ke arah Viltus yang menjulurkan lidahnya. Mengetahui dirinya ditipu oleh Viltus, dengan wajah yang sangat merah Taihou langsung memukul perut dari Viltus dan menyikut wajah dari Viltus.
Taihou langsung membalikkan badannya dan berkata,
"Aku sangat khawatir mengerti... Kau... Kau malah..."
"Maaf... Maaf..."
"Maaf... Maaf... Hanya itu yang dapat kau katakan... Jika dirimu keluar... Apakah kau akan..."
Viltus langsung berdiri dan memeluk Taihou dari belakang. Viltus berbisik kepada Taihou,
"Maafkan aku, Taihou. Aku tidak hanya ingin membuat suasana ini cair saja."
"Tapi... Tidak seperti itu mengerti."
"Aku tahu..."
"Kau ini..."
Viltus bermaksud mencium Taihou sebelum mereka berdua mendapat sorotan tajam dari Anastasia dan Magyar. Magyar langsung berdehem dan berkata,
"Ummm... Taihou... Viltus... Kalian tahu kan... Di sini ada banyak anak-anak."
Menyadari hal tersebut, Viltus langsung melepas pelukannya dan melihat keempat Kapal Perusak miliknya terpana melihat kejadian tersebut. Viltus dan Taihou melihat satu sama lain, dan kemudian menunduk dan berkata,
"Ma... Maaf..."
"Hah... Kalian ini... Aku tahu kalian sudah berkencan... Namun, kalian harus mengetahui tempat dan waktu. Benar tidak Zuihou ?" ujar Anastasia sembari menarik Zuihou ke pangkuannya.
"Maafkan aku... Anastasia..." ujar Viltus
Magyar dan Anastasia langsung tertawa saja melihat ekspresi dari Viltus dan Taihou yang terlihat malu dengan situasi saat itu. Suasana di dalam kantor itu sangat cair dengan kejadian kecil yang terjadi seperti itu.
Tidak berapa lama, ketukan terdengar di pintu. Dan dari pintu yang terbuka terlihat Neo yang mengenakan pakaian rapi masuk ke dalam kantor. Melihat Neo, Anastasia langsung memalingkan wajahnya dengan kesal. Magyar langsung menenangkan Anastasia. Sementara, Viltus langsung menyambut Neo dan berkata,
"Selamat datang, Neo."
"Viltus..."
"Ada apa ?"
"Dapatkah kau menghadiri acara pesta kemenangan yang diselenggarakan oleh semua Laksamana Amerika untuk Laksamana Jepang ?"
"Itu hari ini ya... Hmmmm..."
Viltus melihat ke arah jam di dinding, dan kemudian berkata,
"Boleh saja."
"Baguslah. Kau merupakan orang yang paling diharapkan untuk hadir di acara tersebut."
"Sebagai gantinya..."
"Eh ?"
"Nanti sore temui diriku di kantor ini."
Neo diam sebentar dan berpikir. Ia langsung bertanya,
"Untuk apa ?"
"Kau akan melihatnya nanti. Kau merupakan orang yang paling kuharapkan untuk hadir nanti sore."
"Jika kau berkata demikian, maka saya akan hadir."
"Baguslah."
"Jadi... Mari kita berjalan..."
"Apakah boleh membawa Gadis Kapal ?"
"Tentu saja. Semua Laksamana membawa Gadis Kapal yang menjadi sekretaris masing-masing."
"Berarti ada Ooyodo, huh ?"
"Eh ?"
"Bukan... Bukan apa-apa."
"Ayo... Kita mulai berjalan sekarang." ujar Neo.
Neo kemudian berjalan keluar dari kantor Viltus. Viltus melihat ke arah Magyar dan Anastasia, dan kemudian berkata,
"Kalian berdua juga temui aku nanti sore."
"Baik."
"Aku akan pergi sekarang. Taihou, ayo."
Taihou langsung mengangguk dan berjalan di belakang Viltus.
Selama berjalan ke kantin, Viltus, Neo, Taihou dan Iowa hanya diam saja. Viltus berpikir sebentar sembari berjalan, dan kemudian berkata,
"Neo..."
"Apa Viltus..."
"Kau tahu... Kau telah menghancurkan apa yang telah kubuat selama di Angkatan Laut ini."
"Eh ?"
Viltus berjalan lebih cepat dari Neo, dan kemudian bertanya kepada Neo,
"Apakah kau tahu... Beberapa Laksamana Jepang... Tidak, semua orang Jepang itu membenci orang luar ?"
"Aku tidak tahu."
"Mereka selalu mengucilkan orang luar karena beberapa hal..."
"..."
"Aku salah satunya. Elisa, Magyar dan Anastasia pun mendapatkan perlakuan serupa."
"Lalu..."
"Aku membuat situasi di markas ini dapat menerima semua orang... Baik itu orang luar sekalipun... Bahkan, Taihou pun pada awalnya juga membenci orang luar."
Neo dan Iowa melihat ke arah Taihou yang hanya menggaruk-garuk kepalanya saja. Viltus kemudian melanjutkan,
"Cukup sulit mengerti... Mereka bahkan menuduh diriku masuk karena koneksi dari dalam."
"Tapi, ayahmu itu salah satu petinggi di Angkatan Laut, benar ?"
"Ayah yang mana kau maksud ? Karena kau mengetahui mengenai ayah asliku."
"Laksamana Besar Yanagi Tadahisa."
"Ah... Iya. Dia adalah petinggi di sini."
"Jadi, bisa saja..."
"Tidak. Aku mengikuti prosedur yang sama dengan semua Laksamana Jepang, dengan sedikit tambahan yang tidak kusukai jika boleh jujur. Mereka semua menambahkan tugas dan semacamnya kepada diriku."
"..."
"Namun, setidaknya pada akhirnya semua dapat menerima diriku, Elisa, Magyar dan Anastasia dengan tangan terbuka... Hingga kalian datang."
"Maaf..."
"Haaah... Padahal aku berharap kalian akan tenang dan tidak menjelek-jelekkan kami dari Jepang. Namun, aku salah."
"Jika demikian... Mereka seharusnya langsung mengatakannya secara langsung kepada kami."
"Tidak... Mereka tidak ingin emosi mereka muncul karena merasa segan dengan diriku. Mereka khawatir berkata yang cukup rasis dan mengenai diriku pula."
"..."
Viltus langsung menghentikan langkahnya dan kemudian berkata,
"Ya... Efek samping dari kedatangan kalian, aku mendengar kabar dari Elisa yang mendapat perlakuan yang cukup tidak menyenangkan dari sesama mekanik."
"Maafkan aku..."
Viltus melihat ke arah Neo dan tersenyum. Ia membalikkan badannya dan kemudian menepuk pundak dari Neo, dan kemudian berkata,
"Sudahlah... Aku harus memulai dari awal lagi. Aku ingat ada beberapa Laksamana dari luar negeri lain di sini."
"Sebenarnya di sini ada berapa ?"
"Jika aku tidak salah ingat ada dua..."
"Tinggal satu." ujar Taihou
"Eh ?!" Viltus sangat terkejut mendengar jawaban dari Taihou.
Taihou tersenyum dan kemudian berkata,
"Laksamana dari Jerman mengundurkan diri beberapa hari yang lalu. Sementara, yang tersisa adalah yang dari Brasil."
"Uhhhh... Baiklah..."
"Aku cukup terkejut dirimu tidak mengetahui hal tersebut."
"Tentu saja. Sudah berapa kali aku dipanggil oleh atasan dalam beberapa hari ini."
"Setidaknya Aoba harusnya memberitahumu."
"Kapan terakhir kali aku bertemu Aoba ? Setelah pertempuran itu pastinya."
"Ah... Kau benar..."
Taihou dan Viltus berbincang-bincang ringan satu sama lain. Melihat hal tersebut, Neo merasa cukup iri karena Viltus dapat berkomunikasi dengan lancar pada saat bersama dengan Gadis Kapal. Iowa menepuk pundak Neo dan kemudian berkata,
"Kau pasti iri."
"Tentu saja."
"Kapan kau akan memberitahukan keputusanmu ?"
"Mungkin pada saat acara itu."
Iowa tersenyum dan kemudian berbisik,
"Apakah kau tahu..."
"Apa Iowa... Sebaiknya kau langsung ke pokok pembicaraannya."
"Laksamana Amarov dan Taihou itu sudah berkencan."
"Oh... Sudah berkencan... Eh ?"
Neo melihat ke arah Viltus dan Taihou yang tertawa bersama, dan langsung berkata,
"Melihat dari ekspresi mereka... Aku dapat mengatakan mereka memang sudah berkencan. Tapi, bukankah..."
Iowa hanya tersenyum saja. Ia kemudian menarik Neo dan Viltus untuk berjalan ke arah kantin secepatnya dikarenakan acara akan dimulai.
Acara pun dimulai, dan pada saat itu tatapan dari Viltus sedikit seperti orang yang tanpa ekspresi. Jika mendengar apa yang dikatakan oleh Neo sebelumnya, yang menyebutkan bahwa acara itu dibuat oleh Laksamana dari Amerika untuk merayakan kemenangan bersama Laksamana Jepang.
Kenyataannya berbeda jauh. Tidak ada satu pun Laksamana dari kedua belah pihak yang berbincang-bincang satu sama lain. Mereka berkumpul di kelompok masing-masing. Dan bila ada yang bertatap muka, mereka akan memberikan aura yang akan saling menerkam satu sama lain.
Taihou langsung tertawa kecil dan kemudian berkata,
"Wah... Ini sih kacau sekali..."
"Kau benar... Sangat kacau..."
"Bagaimana rasa minuman itu ?"
"Rasanya... Cukup hambar... Seperti meminum minuman yang diberi sangat banyak garam ke dalam gelasnya."
"Bukannya itu asin, ya ? Bukan hambar..."
"Ah... Kau benar."
Viltus langsung meminum kembali minuman yang ia pegang sedari tadi. Ia pun merasakan tatapan yang sangat tajam dari kedua belah pihak. Beberapa Laksamana Jepang yang dahulu menjadi temannya, entah mengapa seperti menjauhi dirinya. Sentimen terhadap orang luar mulai Viltus rasakan kembali. Sementara dari pihak Laksamana Amerika, mereka terlihat segan untuk berbicara dengan Viltus yang merupakan bagian dari Jepang.
Viltus menghela nafas dan kemudian berjalan ke arah meja makan, dan duduk di tempat yang kosong bersama dengan Taihou. Ia langsung berkata,
"Aku ingin kembali..."
"Ke kantor..."
"Kau juga, Taihou ?"
"Iya... Suasana ini sangat tidak menyenangkan."
"Untung Magyar dan Anastasia tidak di sini."
Mereka berdua langsung menghela nafas bersama-sama. Mendadak mereka mendengar seseorang yang berkata,
"Terlalu banyak menghela nafas itu tidak baik mengerti."
Viltus melihat ke depannya dan menemukan Haruto yang membawa makanan dan minuman dengan Ooyodo di belakangnya. Haruto tanpa berkata apapun langsung duduk di meja tersebut bersama dengan Viltus dan Taihou. Ia langsung berkata,
"Maaf mengganggu waktu mesra kalian."
"Kau bilang kami yang memiliki wajah tidak nyaman ini mesra... aku yakin kepalamu habis terbentur sesuatu."
"Ahahahahahaha... Tidak juga."
Taihou dan Ooyodo tersenyum mendengar itu. Sudah cukup lama Viltus tidak bertemu dengan Haruto karena ia selalu dipanggil oleh atasan. Dan akhirnya mereka bertemu kembali. Viltus langsung berkata,
"Semuanya... Sangat jauh..."
"Itu hanya menurutmu saja mengerti."
"Tidak juga."
"Semuanya sangat segan dengan dirimu. Sangat. Itu pendapatku."
"Mengapa ?"
"Karena dirimu merupakan orang yang tidak memperdulikan batas antara kedua masalah ini."
"Heh ? Bagaimana dengan dirimu ?"
"Aku... Hmmm..."
"Tumben berpikir keras."
Viltus langsung tertawa melihat tampang dari Haruto. Tidak berapa lama, Neo berjalan ke arah mereka berdua dan bertanya,
"Apakah aku boleh duduk di sini ?"
"Silakan... Silakan... Dengan senang hati saya menyambut salah satu pahlawan dari operasi sebelumnya." ujar Viltus sembari tertawa kecil.
"Tidak... Kau yang..."
"Aku sudah mengatakan kepada semuanya dirimulah yang paling berjasa... Selain pahlawan sebenarnya di sini."
Viltus tersenyum melihat ke arah Haruto yang hanya tertawa kecil saja. Neo langsung duduk dengan wajah yang masih ingin protes terhadap dirinya. Setelah duduk, Neo memperhatikan Viltus yang dengan tenangnya berbincang-bincang dengan Haruto. Ia langsung berkata,
"Kau... Sangat berbeda sekali pada saat bekerja dan seperti ini..."
"Heh ? Apakah itu benar, Haruto ?"
Haruto hanya mengangkat bahunya saja. Viltus hanya menjawab singkat,
"Mungkin saja."
"Coba saja... Semuanya seperti dirimu. Aku yakin tidak mungkin ada pertengkaran atau kesenjangan seperti ini."
"Semuanya seperti orang ini ?! Itu neraka namanya !" ujar Haruto mendadak
"Apa maksudmu dengan neraka, huh ?" Viltus langsung menjawab dengan wajah kesal.
"Ya mudah saja. Jika semuanya orang yang dapat dikatakan workaholic dan memiliki tampang masam 24 jam penuh, apa kau mau di tempat seperti itu ?"
"Tentu saja tidak..." ujar Neo
"Baguslah." ujar Haruto sembari mengangguk.
"Apa maksudmu dengan wajah masam 24 jam, huh ?"
"Ahahahahaha... Tampangmu itu sangat masam mengerti."
"Sudahlah."
Viltus kembali menghela nafas, sementara Taihou tertawa terkekeh mendengar hal tersebut. Semua orang memperhatikan meja Viltus, dan tatapan mereka semua semakin tajam. Viltus langsung berdiri dan berkata,
"Sepertinya... Aku akan kembali ke kantorku lebih cepat."
"Eh ? Kenapa ?" tanya Neo
"Ya..." Viltus langsung diam dan melirik ke sekitarnya.
Neo dan Haruto langsung mengetahui apa yang dimaksud oleh Viltus. Viltus sama sekali tidak menyukai suasana seperti ini, dan ia khawatir akan terjadi sesuatu yang menakutkan setelah ini. Saat ini, yang ada di dalam pikirannya adalah bagaimana caranya mengembalikan kepercayaan semua Laksamana di Jepang kepada dirinya tanpa memperdulikan kewarganegaraannya.
Viltus kemudian berkata kepada semua orang di dalam ruangan tersebut,
"Aku akan kembali lebih ke kantorku. Aku ada urusan lain..."
Semuanya mengangguk saja tanpa memperhatikan Viltus sama sekali. Setelah berkata demikian, ia kembali berkata kepada Neo,
"Jangan lupa... Temui aku nanti..."
"Baik..."
"Daripada itu, di mana Iowa ?"
"Ah, dia..."
Viltus melihat ke wajah Neo, lalu berkata,
"Nanti saja. Di sini banyak orang. Sudah, aku pergi dahulu. Laporan kepada atasan harus kuserahkan sebentar lagi."
"Ah... Baik..."
Viltus langsung berjalan diikuti dengan Taihou kembali ke kantornya.
Sore itu, Viltus duduk di dalam kantornya. Di sofa dekat meja kantornya, Elisa dan Anastasia sedang berbincang-bincang mengenai beberapa hal, sementara Magyar memperhatikan luar jendela. Viltus langsung menggoda Magyar,
"Kesepian ?"
"Apa maksudmu ?"
"Tidak... Tidak... Ahahahahaha"
"Kau..."
Magyar melihat ke arah Viltus dengan tatapan sedikit tajam, kemudian langsung memukul kepala Viltus dengan keras. Viltus hanya tertawa saja mendapat perlakuan seperti itu. Anastasia mendadak bertanya,
"Apa kau yakin membawa dirinya ke acaramu ?"
"Tentu saja. Anggap saja sebagai kado perpisahan kita dengan dirinya."
"Aku tidak setuju dengan hal tersebut..."
"Mengapa ?"
"Ia telah merusak harga dirimu. Ia telah mengambil alih posisimu sebagai kapten kapal. Dia telah menjelek-jelekkan dirimu. Dia telah menghancurkan semua yang telah kau buat !"
"Kau benar. Namun, itu sudah berlalu. Aku tidak terlalu memikirkan hal tersebut sekarang."
"Tapi..."
"Tidak ada tapi-tapi... Daripada itu, mengapa kau bersikeras membuat dirinya tidak ikut kita."
Anastasia langsung terdiam. Magyar dan Elisa langsung melihat ke arah Anastasis dengan tatapan yang sama dengan Viltus. Bingung dengan tindakan dari Anastasia. Viltus langsung berkata,
"Dulu kau pernah bertengkar hebat dengan salah satu anggota dari kamp kita. Namun, kau tidak sampai seperti ini."
"..."
"Mengapa sekarang kau benar-benar..."
Viltus langsung diam sebentar. Ia sama sekali tidak ingin berspekulasi mengenai sesuatu. Itu semua karena wanita yang sedang dibicarakan adalah Anastasia. Salah berkata, dirinya akan dihajar habis-habisan oleh Anastasia.
Anastasia yang melihat Viltus mendadak diam saja, langsung bertanya,
"Ada apa, Viltus ?"
"Tidak... Tidak ada apa-apa" ujar Viltus sembari memalingkan wajahnya.
"Viltus..."
Anastasia menatap dengan tajam ke arah Viltus, dan Viltus langsung berkeringat dengan tatapan dari Anastasia. Tidak berapa lama, mereka mendengar ketukan dari pintu. Viltus langsung berkata,
"Silakan masuk."
Pintu terbuka dan di sana berdiri Neo. Ia langsung berkata,
"Maaf... Aku terlambat. Aku tadi masih berpikir sebentar mengenai ajakan dari dirimu, Viltus."
"Tidak apa-apa. Kami sendiri juga baru datang."
"Begitukah ?"
"Iya."
Itu merupakan kebohongan yang paling sering diutarakan oleh semua orang agar orang yang terlambat menjadi sedikit nyaman. Neo langsung masuk dan mendapat tatapan yang tajam dari Anastasia. Viltus langsung merasakan ruangan tersebut menjadi cukup mencekam. Ia langsung berdehem, namun Anastasia masih tidak bergeming.
Mengetahui faktor utama dari suasana tersebut adalah dirinya, Neo langsung berkata,
"Maafkan aku... Aku menggali masa lalu dirimu, Viltus... Aku hanya ingin agar ada yang menjadi kambing hitam saja."
"Ahahahahaha... Itu bukan masalah. Sudah cukup lama aku tidak mendengar mengenai hal tersebut mengerti." ujar Viltus sedikit tertawa.
"Eh..."
"Lagipula, aku juga harus meminta maaf karena aku pun menggali beberapa berkas dari misi terdahulu dari dirimu... Walaupun kau tidak menggalinya, aku pasti..."
"Untuk apa kau minta maaf kepada orang ini ?!" ujar Anastasia mendadak
"Hei... Anastasia" jawab Viltus dengan wajah sedikit terkejut.
"Ia mengatakan berbagai macam hal tanpa mengetahui perasaanmu. Keluargamu itu bukan penjahat. Mereka... Mereka..."
"Anastasia... Ayahku memang benar orang yang membuat Abyssal. Itu suatu fakta."
"..."
"Lagipula, selama menggali informasi mengenai misi dari Neo sebelumnya, aku pun tidak memikirkan apa yang ada di dalam kepala orang ini. Jadi dapat dikatakan kami impas."
"Tapi..."
"Anastasia, sudahlah buang saja masalah ini."
"Tch."
Anastasia langsung membuang mukanya dari Viltus dan kemudian melihat ke arah Neo. Ia langsung berkata,
"Aku tidak akan pernah memaafkan dirimu. Atas semua yang telah kaulakukan kepada Viltus."
"Aku tahu kau pasti akan berkata demikian."
"Baguslah..."
"Namun, sangat disayangkan wajah manis seperti dirimu selalu menunjukkan wajah yang selalu kesal."
Viltus yang sedang meminum air putih langsung tersedak mendengar hal tersebut. Magyar dan Elisa pun juga terkejut. Anastasia sendiri membuat wajah datar khasnya dan langsung berkata,
"Oh... Kau berusaha menggoda diriku agar dapat dimaafkan ?"
"Tidak aku hanya berkata yang sebenarnya saja."
"..."
Anastasia hanya diam saja mendengar hal tersebut. Viltus langsung berdiri dan kemudian melerai mereka berdua. Ia langsung berkata,
"Daripada lebih banyak waktu terbuang, bagaimana jika kita berjalan sekarang ?"
"Boleh saja." ujar Anastasia yang kemudian berjalan ke arah Elisa.
"Eh, acaranya bukan di sini ?" tanya Neo
"Kau seharusnya sudah mengetahui dengan melihat ruangan ini yang kosong melompong. Hanya berisi dokumen milikku." ujar Viltus
"Ah... kau benar... Berarti kita ke kantin ?" ujar Neo
"Tidak"
"Lalu kita ke mana ?"
"Asrama Gadis Kapal." ujar Viltus
Yang terjadi saat ini adalah Neo yang protes kepada Viltus dengan hal tersebut. Yang paling ditekankan oleh Neo adalah mereka semua gila karena mereka yang mengunjungi asrama Gadis Kapal, pada malam hari pula.
Viltus langsung bergumam,
"Haruto... Kimura... Jadi dulu aku seperti ini, ya..."
"Apa katamu ?" ujar Neo
"Tidak... Tidak ada apa-apa..."
Neo kembali protes kepada Viltus, yang hanya mendapat helaan nafas saja dari Viltus. Anastasia langsung berkata,
"Apa perlu aku buat orang ini pingsan ?"
"Susah jika kita ingin membangunkan orang ini bila pingsan."
"Kau benar..."
"Daripada itu..."
Viltus memperhatikan jalur yang biasa dilewati oleh penjaga, namun tidak melihat satu pun orang di sana. Pada saat itulah, ia sadar orang lain sudah melewati jalur itu dan langsung mengetahui siapa orangnya.
Viltus mempercepat langkahnya, dan pada saat tiba di pintu belakang, ia langsung membuka pintunya. Ia terus berjalan tanpa memperhatikan keempat orang yang mengikutinya hingga akhirnya,
ia membuka pintu tempat acara tersebut dan mendapat sambutan dari seseorang yang ia kenal,
"Kau terlambat sekali, Viltus."
"Shiro-nee ?! Bagaimana kau dapat..."
"Aku tahu dari seseorang yang sangat dekat dengan dirimu. Benar tidak, Taihou-chan ?"
Viltus melihat ke arah Taihou yang hanya menggaruk-garuk wajahnya saja. Ia langsung menghela nafas. Shiro kemudian berkata,
"Kau kejam sekali tidak mengajak diriku untuk ini, Viltus."
"Shiro-nee... Aku membuat acara ini untuk acara perpisahan..."
"Oh... Pantas saja kau mengajak Gadis Kapal dari Amerika. Dan dari wajah mereka, mereka sepertinya terkejut dirimu hadir di sini."
"Tentu saja, aku meminta bantuan dari Aoba dan Taihou mengenai hal ini."
"Tetapi tetap saja, kau kejam tidak mengajak diriku yang merupakan kakakmu ke acara ini."
"..."
"Aku juga di kapal itu, kan ? Jadi aku seharusnya bagian dari acara ini..."
"Iya... Iya... Daripada aku semakin merasa bersalah."
Shiro langsung menjulurkan lidahnya tanda dia menang melawan Viltus. Shiro kemudian melihat ke belakang Viltus dan tidak menemukan siapapun di belakang sana. Ia bertanya,
"Haruto mana ?"
"Aku tidak mengajak Haruto..."
Mendengar itu, ia mendapat beberapa teriakan tanda kecewa dari beberapa Gadis Kapal. Viltus hanya tertawa saja, dan kemudian berkata,
"Namun, sekarang aku membawa beberapa orang untuk kuperkenalkan lebih lanjut kepada kalian semua. Aku yakin kalian sudah bertemu dengan mereka, namun agar lebih mengenal mereka saja."
Viltus tersenyum ke arah semua Gadis Kapal, termasuk kepada Gadis Kapal dari Amerika. Viltus melihat ke arah luar dan mengetahui keempat orang tersebut sudah berada di dekat pintu. Ia langsung berkata,
"Baiklah... Kita mulai saja acara ini. Kalian tinggal berbicara dengan mereka saja."
Elisa, Magyar, Anastasia dan Neo langsung masuk ke dalam ruangan tersebut. Viltus memperkenalkan mereka semua. Ryuujou yang melihat Magyar langsung berteriak,
"Kau membawa manusia mesum ini ?!"
"Siapa yang kau bilang mesum, huh ?" ujar Magyar sambil berjalan ke arah Ryuujou mengacak-acak rambut Ryuujou.
Semuanya langsung tertawa melihat hal tersebut, kecuali Neo. Viltus langsung menepuk punggung dari Neo, dan kemudian berkata,
"Sudahlah jangan terlalu kaku seperti itu. Semuanya bisa langsung menyatu."
Neo melihat Magyar yang berkumpul dan duduk di sebelah Ryuujou. Sementara, Anastasia langsung menangkap Zuihou dan menarik dia ke arah Kapal Perusak yang ikut di acara tersebut. Elisa sendiri bergabung dengan beberapa Gadis Kapal dari Amerika, ia sangat tertarik dengan mereka.
Neo bermaksud menjawab, namun ia melihat Viltus yang berjalan ke arah Taihou dan berbincang-bincang dengan dirinya. Viltus kemudian berkata mengambil sesuatu dan kemudian berkata,
"Baiklah... Mari kita bersulang untuk selesainya operasi sebelumnya !"
Semuanya mengangkat minuman mereka semua. Hingga akhirnya Taihou menyadari Viltus memegang satu botol vodka penuh, tidak seperti yang lainnya yang mengangkat gelas saja. Taihou langsung berkata,
"Viltus !"
"Eh ?! Kenapa Taihou ?"
"Kau akan meminumnya langsung dari botol itu ?"
"Jika iya, memangnya kenapa ?"
"Tidak boleh !"
"EH ? Kenapa ? Aku kan sudah..."
Taihou langsung menunjuk ke arah Kapal Perusak di dekat Anastasia. Ia melihat sebentar, dan langsung duduk dan berkata,
"Selama mereka tidak melihat... Semuanya akan..."
"Tidak... TIDAK BOLEH !"
"Ayolah... Orang Russia itu selalu seperti itu !"
"Viltus !"
Taihou langsung menarik botol vodka milik Viltus yang didekap erat-erat. Semua orang melihat Viltus dan langsung tertawa, termasuk dari Gadis Kapal Amerika. Bahkan Neo pun tertawa.
Setelah 30 menit, Viltus akhirnya menyerah karena Houshou yang akhirnya turun tangan. Neo yang melihat itu langsung tertawa melihatnya. Viltus kemudian berjalan ke arah Neo dengan wajah yang cukup hancur. Neo langsung berkata,
"Kau kalah melawan mereka ?"
"Kekuatan mereka jauh lebih menakutkan mengerti... Apalagi Houshou."
"Ahahahahahaha... Tidak kusangka orang sekuat dirimu dapat kalah..."
"Ya begitulah..."
Viltus menghela nafas saja dan kemudian berkata,
"Daripada itu... Apa yang ingin kau bicarakan tadi ?"
"Ah... Itu... Iowa..."
Neo langsung memanggil Iowa. Iowa yang berbincang-bincang dengan Elisa langsung berdiri dan duduk di meja tempat Neo dan Viltus berkumpul. Di sana Iowa langsung berkata,
"Baiklah... Apakah Neo tadi sudah membicarakan mengenai kondisi saat ini ?"
"Tidak... Belum sama sekali."
"Heh ? Kau tadi berkata akan memberitahu Viltus mengenai hal ini ?!" ujar Iowa kepada Neo.
Neo membuat tanda dirinya tidak sempat sama sekali karena Viltus keluar lebih cepat dari dugaan. Iowa langsung menarik nafas panjang. Dan kemudian ia berkata,
"Kau tahu... Aku keluar dari..."
"Dari divisi Neo Rickman karena masalah cara berpikir dan taktik yang tidak sejalan dengan dirimu."
"Kau..."
"Aoba... Aku mengetahuinya dari Aoba."
Viltus langsung meminum vodka dari gelas yang diberikan oleh Taihou. Viltus kemudian bertanya,
"Lalu, bagaimana dengan dirimu sendiri Neo ?"
"Aku sudah meminta atasan untuk memasukkan diriku ke divisi lain. Aku dapat belajar banyak di divisi lain."
"Baguslah jika kau mengerti."
"Ya... Begitulah."
Neo meminum air putih yang ia pegang sedari tadi, begitu pula dengan Iowa. Neo kemudian bertanya,
"Daripada itu Viltus..."
"Apa ?"
"Apakah kau sudah berkencan dengan Taihou... Aku hanya penasaran saja."
"Hmmm... Iya"
"Kau menjawabnya tanpa berpikir panjang."
"Ahahahahahaha... Untuk apa berpikir panjang untuk masalah seperti ini ? Jika ini adalah sebuah fakta."
"Tapi, bukankah ada peraturan..."
"Aku tidak peduli... Aku akan melawan mereka... Karena bagiku Gadis Kapal pun manusia."
Viltus melirik ke arah Gadis Kapal lain yang berbincang-bincang satu sama lain. Neo kemudian berkata,
"Jika... Jika dirinya tenggelam..."
"..."
Neo langsung mendapat sorotan tajam dari Iowa. Ia kemudian berkata,
"Maaf... Aku..."
"Itu bukan masalah... Aku tahu... Gadis Kapal merupakan pihak yang paling rentan... Mereka dapat tenggelam suatu saat..."
"..."
"Dan aku mendengar rumor... bahwa Abyssal terbentuk dari tubuh Gadis Kapal yang tenggelam..."
"Ah... Aku juga mendengar mengenai hal tersebut..."
"Aku berjanji pada dirinya... Jika dia akhirnya menjadi Abyssal... Maka dirikulah yang akan membunuh dirinya..."
Neo dan Iowa melihat wajah Viltus yang tersenyum. Ia terlihat sangat tenang dan mengerti tantangan yang akan dihadapi bila berhubungan dengan Gadis Kapal. Semua konsekuensi yang akan terjadi. Viltus kemudian langsung tertawa kecil dan kemudian berkata,
"Ya... Ini semua karena satu orang sih..."
"Eh ?"
"Orang itu yang paling mempengaruhi diriku... Dan jika tidak ada orang itu, mustahil diriku dapat membuat acara seperti ini..."
"Kouga ?"
"Bukan."
"Lalu siapa ? Di mana dia ?"
"Hmmm... Dia itu kekasih dari Aoba... Dan dia... Memperhatikan kita di dunia sana."
Mendengar itu, Neo kembali meminta maaf yang mendapat jawaban sebuah tawa dari Viltus. Viltus memberitahu Neo bahwa itu adalah masa lalu, jadi itu bukan masalah. Setelah berkata demikian, Viltus merasakan hawa yang cukup berat dari Iowa dan Neo. Ia kemudian berkata,
"Daripada itu, mengapa kalian berdua hanya meminum jus dan air putih saja ? Apa kalian tidak kuat dengan alkohol ?"
"Ah mengenai itu..."
"Kami memiliki beberapa varian minuman keras di sini... Ya, jika bertanya pada diriku aku pasti akan mengatakan Vodka sih."
Neo dan Iowa langsung tertawa mendengar itu. Iowa kemudian menjawab,
"Ya... Neo tidak terlalu kuat dengan minuman keras."
"Aku dapat melihatnya koq" jawab Viltus dengan tawa.
"Ehehehehe... Jadi kami membawa ini... Daritadi kami menyimpannya."
Iowa berdiri sebentar dan mengambil beberapa botol yang cukup familiar. Warna hitamnya sangat terkenal. Magyar, Anastasia dan Elisa yang sedari tadi memperhatikan tempat Neo dan Viltus langsung terkejut dengan botol tersebut. Botol itu adalah minuman soda yang sangat terkenal pada saat mereka semua masih muda. Namun, dikarenakan terputusnya jalur perdagangan dapat dikatakan di daerah asal masing-masing cukup sulit untuk mendapatkannya.
Viltus langsung berkata,
"Ini... Ini... Dapat dikatakan sebagai... Minuman yang paling langka dari semuanya !"
"Heh... Sudah berapa lama kau tidak meminum ini ?"
Viltus menghitung dengan jarinya dan berusaha mengingat-ingat. Sementara itu, Magyar langsung berjalan ke dekat mereka bertiga dan kemudian berkata,
"Ini... Apakah ini benar... Minuman itu ?!"
"Iya." ujar Iowa dengan wajah penuh kemenangan.
"Aku... Aku minta satu gelas !"
Iowa langsung menuangkannya dan kemudian pada saat Iowa melihat ke kanan Magyar, ia sangat terkejut melihat Anastasia yang duduk di sebelah Magyar dan memajukan gelasnya. Ia langsung menuangkannya ke gelas Anastasia. Mereka berdua meminumnya, dan dapat terlihat dengan jelas wajah seorang yang sangat bahagia dari mereka.
Viltus memperhatikan mereka, dan kemudian memanggil semua Gadis Kapal dari kelas perusak yang ada di tempat itu. Ia kemudian memberitahu mengenai minuman tersebut, dan mengatakan untuk mencobanya. Setelah mencoba satu gelas, mereka meminta lagi. Viltus tertawa dan berkata untuk tidak meminum terlalu banyak karena akan merusak gigi. Semuanya berteriak serentak tanda mengerti apa yang dikatakan oleh Viltus.
Satu jam berlalu, Viltus sudah meminum botol vodka ketiganya. Dan selama itu, ia memperhatikan Akatsuki yang berusaha mencuri vodka untuk membuktikan dirinya adalah seorang wanita, dan Hibiki yang juga berusaha mencuri vodka favorit milik Viltus.
Sementara itu, Magyar dan Neo terlihat berbincang-bincang mengenai satu hal. Dan dari yang didengar oleh Viltus, mereka membicarakan mengenai wanita idaman masing-masing. Elisa di sisi lain sedang memeluk beberapa Gadis Kapal kelas Kapal Penjelajah Berat dari Jepang dan Amerika. Ia seperti membandingkan sesuatu dari mereka semua.
"Jika aku yang melakukan itu... Aku yakin aku akan menjadi seonggok daging di sini." ujar Viltus sembari memperhatikan Elisa.
"Tentu saja... Ada tiga orang yang akan menyerangmu, Viltus" Shiro menimpali Viltus.
"Kau benar... Yang akan menyerangku adalah dirimu, Taihou dan Houshou."
Shiro tertawa mendengar itu. Ia langsung mengacak-acak rambut Viltus hingga Viltus kesal. Taihou yang sedari tadi berbincang-bincang dengan Kapal Induk dari Amerika akhirnya duduk di sebelah Viltus dan berkata,
"Viltus... Satu gelas..."
"Baik... Baik..."
Viltus langsung menuangkan vodka ke gelas Taihou. Shiro langsung berkata,
"Sudah terbiasa dengan vodka ?"
"Sudah... Bagaimana mungkin aku yang merupakan pacar dari Viltus tidak terbiasa dengan vodka yang diberikan olehnya."
"Kau benar... Ahahahahahaha"
"Shiro-nee... Kapan kau..."
Pada saat mendengar itu, Viltus sangat terkejut. Ia melihat ke arah Shiro dan Taihou sebentar, lalu bertanya,
"Sejak kapan..."
"Ah... Saat itu kau langsung ke kamarmu di kapal komando... Pada saat mereka kembali, aku yang memintanya untuk memanggilku demikian... Lagipula dia ini sudah pacarmu" ujar Shiro sembari tertawa lebar.
"Ah... Begitu ya..."
"Dengan kata lain, aku sudah menerima hubungan kalian... Entahlah dengan ayah dan ibu."
"Ayah pasti sudah sih... Mungkin... Kalau Ibu..."
Shiro kembali mengacak-acak rambut Viltus. Viltus langsung merapikan rambutnya dan membenarkan kacamata miliknya. Dan kemudian berkata,
"Taihou, tadi kau ingin menanyakan apa ke Shiro-nee ?"
"Ah... Kapan kau akan kembali ke Kure ?" tanya Taihou melanjutkan pertanyaannya
"Besok, setelah semua Laksamana Amerika kembali."
"Cepat sekali." ujar Viltus
"Ahahahahahaha"
Shiro kemudian menarik Taihou dan bertanya,
"Ngomong-ngomong... Taihou..."
"Apa Shiro-nee ?"
"Kau... Apakah kau masih gadis ?"
"Eh ?!"
"Habis... hanya kalian saja yang berkencan di sini. Seharusnya kalian sudah melakukan *** atau mungkin ****, atau..."
Viltus langsung membekap mulut Shiro dengan panik dan berkata,
"Shiro-nee... Ingat ada anak-anak di sini."
"Ahahahahahahah... Aku tahu... Aku tahu... Aku cuma bercanda."
"Bercanda dengan wajah serius seperti itu..."
"Tapi, tetap saja... Aku penasaran..."
Viltus melihat ke arah Taihou, dan kemudian menjawab,
"Belum... Kami belum..."
"Belum ?"
"Kau tahu... Aku cukup banyak pekerjaan... Dan sangat ketat untuk bertemu di malam hari atau menginap di asrama Gadis Kapal atau di asrama Laksamana."
"Berarti kalian akan..."
"Mungkin." jawab Viltus melihat ke arah Taihou, yang sedikit memerah.
Shiro langsung tertawa mendengar jawaban yang sangat jujur dari Viltus tersebut. Ia langsung menuangkan vodka ke gelas Viltus dan Taihou. Shiro kemudian berkata,
"Kau tahu... Aku tidak menyangka Neo itu orang yang sangat terbuka dan suka melucu seperti itu."
"Aku pun tidak." jawab Viltus sembari meminum vodka miliknya.
"Jika dia seperti itu sedari awal, pasti semuanya akan baik-baik saja."
"Ahahahahahaha... Yang ada aku sakit kepala karena ada dua Magyar mengerti..."
Viltus langsung mendengar suara tanda tidak setuju dari Magyar. Ia hanya tertawa saja mendengar itu, dan memberi tanda agar dirinya terus bercumbu dengan Ryuujou saja yang langsung mendapat acungan jari tengah dari Ryuujou. Ia kemudian memperhatikan sekitarnya dan tersenyum, lalu berkata,
"Jika seperti ini... Semuanya akan menyenangkan..."
"Kau benar." jawab Shiro
"Namun, aku koq sudah tidak mendengar suara Zuihou yang daritadi berusaha kabur ?"
"Kau benar..."
"Anastasia sekarang duduk di meja mana ?"
Viltus melihat ke belakang dan melihat Anastasia yang wajahnya sangat merah. Di tangannya terdapat satu gelas kecil dan botol sake di dekatnya. Di dekatnya Zuihou yang wajahnya sangat merah karena efek alkohol. Dan di meja tersebut terdapat Chitose, Junyou, Ashigara, dan Takao. Shiro dan Viltus berpikir satu hal yang sama,
"Gawat sekali... Kita mati !"
Viltus langsung berdiri dan memukul kepala Junyou dengan keras sembari berkata,
"Kau ini..."
"Ah... Viltus... Ayo bergabung kemari..."
"Tidak... Aku tadi sudah bilang... Jangan memberi sake kepada Anastasia..."
"Heh ? Kenapa ? Dia sepertinya sangat menikmatinya..."
"Dia itu cukup kuat jika meminum Vodka... Namun, dirinya sangat tidak kuat dengan minuman alkohol lain..."
"Memangnya kau berkata seperti itu tadi ?"
Viltus langsung memukul kepala Junyou sekali lagi, dan kemudian menghela nafas. Junyou sendiri langsung menjulurkan lidahnya, tertawa dan kemudian meminum sakenya kembali. Viltus langsung duduk di sebelah Anastasia, dan mendengar suara,
"Aku ini tidak menarik perhatian..."
"Hei... Anastasia..."
"Viltus membenci diriku..."
"Hei..."
"Viltus memarahi diriku terus..."
"Anastasia !"
Viltus langsung menggoyang-goyangkan Anastasia. Anastasia melihat ke arah Viltus dan berkata,
"Viltus..."
"Kau mabuk... Sebaiknya kau diam dahulu saja..."
"Muuuu... Padahal aku baru mulai..."
"Anastasia ayolah..."
"Muuu... Kembalikan Viltus yang kukenal..."
"Hei... Ini aku Viltus ?!"
"Tidak kau bukan dia... Huhuhuhuhu..." jawab Anastasia sembari menangis.
Viltus menyadari Anastasia akan mulai berbicara mengenai masa lalu dirinya pada saat masih kecil dengan kondisi mabuk seperti itu. Namun, tidak hanya Viltus, semua yang ada di dalam ruangan itu menyadarinya terutama Aoba.
Aoba memberi tanda dan langsung mendapat anggukan dari Magyar. Sebelum Viltus sempat membekap Anastasia, tangannya ditarik oleh Magyar dan ditahan oleh dirinya. Neo kemudian ikut menarik tubuh Viltus agar menjauh dari Anastasia. Agar tidak terlalu meronta, kakinya ditahan oleh Elisa. Viltus kemudian berkata,
"Kalian semua... PENGKHIANAT !"
"Maafkan aku... Aku penasaran dengan masa lalumu..." ujar Neo
"Lepaskan... Lepaskan a.. arhuahfnlcnl"
Mulut Viltus ditahan oleh Taihou. Taihou memberi tanda meminta maaf karena dirinya pun penasaran. Viltus menyadari, tidak ada yang memihak dirinya sama sekali dan berhenti meronta.
Aoba kemudian berjalan ke arah Anastasia dan bertanya,
"Anastasia-san... Memangnya Viltus yang kau kenal itu seperti apa ?"
"Viltus yang kukenal itu tidak kejam. Ia juga tidak mengeluarkan kata-kata dingin."
"Oh..."
"Selain itu, dia itu penakut. Sedikit sedikit mengajak diriku untuk menemani dia."
"Eh ?"
"Dia itu juga mudah menangis bila dijahili. Pasti selalu berlari ke arah ibunya jika dia kalah dalam sesuatu sembari menangis."
Semuanya melihat ke arah Viltus dengan tatapan tidak percaya. Viltus sendiri malu bukan main. Dari matanya dapat terlihat dengan jelas dirinya seperti tidak ingin di ruangan ini lagi. Dan ia bergumam,
"Apa salahku... Mendengarkan itu semua kembali... Apa salahku... Huhuhuhuhu"
Anastasia melanjutkan menceritakan masa lalu kelam Viltus selama di Russia. Seperti impiannya dahulu yang akan menjadi pahlawan dunia, sangat dekat dengan Anastasia, kejadian bertengkar hebat, dan semacamnya. Ada yang menarik perhatian, ada pula yang membuat Viltus malu setengah mati. Setelah itu, Magyar, Neo, Elisa dan Taihou melepas Viltus karena fokus mendengarkan apa yang Anastasia ceritakan. Viltus langsung berjalan ke pojok ruangan dan berkata,
"Ahahahahaha... Sangat menyenangkan sekali..."
"Maafkan aku Viltus... Aku penasaran..." ujar Taihou yang menyadari hal tersebut dan memeluk Viltus dari belakang.
Taihou memegang pipi dari Viltus beberapa kali, untuk meminta maaf kepada Viltus. Sementara itu, Anastasia mendadak diam saja. Ia kemudian berjalan ke arah Neo dan menunjuk ke arah Neo sembari berkata,
"Kau..."
"Anastasia-san... Kau..."
"Jika saja kau tidak bersikap buruk seperti itu... Aku pasti memiliki cara pandang yang berbeda mengenai dirimu..."
"Huh ?"
"Kau itu memiliki wajah yang cukup tampan... Hehehehehe"
"Ummm... Anastasia-san..."
Anastasia semakin mendekati Neo. Jari dari Anastasia menyentuh dada dari Neo, dan kemudian naik hingga ke hidung dari Neo. Wajah Neo sedikit merah karena Anastasia cukup dekat dengan dirinya. Viltus yang melihat itu langsung mengetahui ke arah mana hal tersebut. Ia memberi tanda kepada Aoba untuk tidak melakukan apapun.
Anastasia kemudian memegang kedua pipi dari Neo, dan langsung mencium Neo. Semua orang di dalam ruangan tersebut langsung kaget. Semua membuat ekspresi yang berbeda satu sama lain. Aoba sendiri memotret tepat pada kejadian tersebut. Neo kemudian berkata,
"Anastasia-san..."
"Jika... Kau bersikap lebih baik... Aku pasti... Jatuh pada dirimu... Dan melupakan... Viltus..."
Anastasia langsung jatuh tertidur di dada Neo. Viltus terdiam sebentar dan kemudian berkata,
"Aoba..."
"Iya ?"
"Aku tadi berkata untuk tidak memotret, benar ?"
"Iya."
"Lalu mengapa kau masih memotretnya ?"
"Aku refleks melakukannya..."
"Hapus."
"Tidak"
"Demi keselamatan dirimu"
"Aoba yakin kau akan..."
"Bahkan diriku ditambah Shiro-nee belum tentu dapat menahan amarah dari beruang yang mengamuk mengerti..."
"..."
"Jika perlu... Jangan kau masukkan ke dalam berita..."
"Tenang saja... Aoba masih sayang nyawa koq..."
Aoba langsung menjulurkan lidahnya dan berjalan ke tempat lain. Viltus hanya menghela nafas saja. Setelah itu acara itu berjalan cukup normal hingga akhirnya rombongan Viltus berjalan kembali ke kamar masing-masing.
Keesokan harinya.
Semua Laksamana dari Amerika dan Gadis Kapal dari Amerika sudah berkumpul untuk berangkat kembali ke negeri mereka. Dari pihak Jepang, semuanya berkumpul untuk melepas mereka. Sebenarnya mereka sama sekali tidak ingin, namun karena aturan mereka harus ikut.
Hanya beberapa yang memberi pelepasan dengan baik. Salah satunya adalah Viltus. Ia berjalan ke arah Neo, dan kemudian mengulurkan tangannya, sembari berkata,
"Semoga kau sukses pada saat kau kembali di Amerika..."
"Aku tahu... Kau juga semoga kau sukses di sini... Dan hubunganmu tetap awet bersama Taihou..." jawab Neo sembari menjabat tangan Viltus.
"Terima kasih banyak."
"Mungkin aku akan membuat sesuatu seperti dirimu..."
"Tidak... Itu adalah caraku... Kau harus menemukan caramu sendiri... Karena tidak semua orang dapat melakukan sesuatu yang sama."
"Kau benar... Ahahahahahaha"
"Apa kau memiliki sesuatu yang ingin kau titip kepada diriku ?"
"Tentu saja..."
"Apakah itu ?"
"Jangan sampai ada yang serangga yang mendekati bunga cantik itu."
"Tentu saja... Tidak kusangka kau jatuh pada dirinya."
"Ehehehehehe..."
Neo mendengar bahwa dirinya telah dipanggil langsung memberi tanda salut kepada Viltus dan berkata,
"Sampai berjumpa di kesempatan lain, Kapten Amarov ! Senang bekerja dengan dirimu."
"Sungguh sebuah kesempatan yang langka di dalam kehidupan saya untuk bekerja bersama Laksamana sehebat dirimu, Kapten Rickman. Semoga kita dapat bertemu kembali di kemudian hari."
"Aku akan menitipkan beberapa botol minuman itu di markas yang baru kalian kuasai itu."
"Itu memang disengaja digunakan untuk menerima ekspor dari negeri kalian."
"Ehehehehe... Sudahlah, aku pergi sekarang atau atasanku akan marah."
Neo langsung berlari ke arah kapal yang mengangkut semua Laskamana. Setelah itu, kapal tersebut bergerak dengan dilindungi oleh Gadis Kapal dari Amerika. Setelah cukup jauh, semua laksamana Jepang langsung melanjutkan aktivitas masing-masing. Tadahisa berjalan mendekati Viltus dan berkata,
"Kau... Sepertinya dapat berteman dengan dirinya..."
"Dapat dikatakan seperti itu..."
"Coba semua orang toleran seperti dirimu..."
"Itu sesuatu yang tidak mungkin... Lagipula..."
"Lagipula ?"
"Siapa yang ingin tinggal di utopia seperti itu ?"
Viltus tersenyum ke arah Tadahisa. Tadahisa hanya tersenyum kecil saja. Tidak berapa lama, Aoba berlari melewati Viltus. Melihat itu, Viltus bertanya,
"Aoba... Kau kenapa ?"
"Aoba lupa... Aoba malah meminjamkan kameraku kepada Anastasia !"
"..."
"Aoba harus kabur sejauh mungkin."
Setelah cukup jauh, Tadahisa dan Viltus merasakan aura membunuh yang sangat kuat. Pada saat melihat ke belakang, mereka melihat seorang wanita menyerupai setan yang berlari dengan kencang sembari berteriak,
"AOBA !"
Anastasia langsung melewati Tadahisa dan Viltus. Melihat itu, Tadahisa bertanya kepada Viltus mengenai kejadian tersebut dan hanya mendapat jawaban itu bukan urusan dirinya sama sekali. Mendadak beberapa laksamana mendekati Viltus dengan wajah menahan tawa. Viltus langsung berkata,
"Setelah mereka pergi, kalian kembali ke persona normal kalian..."
"Maafkan kami... Namun, yang satu ini... hmpf"
"Huh ?"
Salah satu laksamana memberikan koran kepada Viltus. Viltus menerima hal tersebut dan membaca halaman tersebut. Dan di sana tertulis dengan jelas, semua masa lalu kelam dari Viltus. Semuanya tertawa, termasuk Tadahisa. Pada saat mereka berhenti tertawa, mereka melihat Viltus dan langsung ketakutan. Wajah Viltus sangat datar, dan tanpa ekspresi. Aura hitam mulai terpancar dari Viltus. Ia merobek koran tersebut dan kemudian berteriak dengan keras,
"AOBA !"
Kapal Amerika.
Neo bersandar di pagar kapal Amerika dan melihat ke arah langit. Ia mendengar Iowa memanggil dirinya. Neo langsung berkata,
"Ada apa, Iowa ?"
"Mereka... Orang yang baik..."
"Iya..."
"Apa kau akan bertemu dengan mereka ?"
"Pertanyaanmu aku ganti... Apa kita akan bertemu dengan mereka kembali ?"
"Kau benar..."
"Aku yakin kita pasti akan bertemu dengan mereka kembali... Karena mereka orang yang menyenangkan."
Tidak berapa lama, mereka mendengar teriakan dari seseorang yang sangat keras. Jarak dari kapal tersebut dengan Markas Angkatan Laut sudah cukup jauh, sehingga teriakan tergolong sangat keras. Neo yang mengenal suara tersebut langsung tertawa dan kemudian berkata,
"Ya... Kita pasti bertemu dengan mereka kembali... Pasti !"
HakunoKazuki di sini
Ya... Bagian dengan Amerika kelar... Chapter setelah ini merupakan cerita random like usual...
Dan berhubung chapter ini kelar, aku akan membuat satu one-shot lain dahulu... Istirahat dari seri ini
Bagian yang sulit dari chapter ini adalah menuliskan kejadian di acara tersebut. Ya, aku bukan makhluk sosial jadi cukup sulit mengerti.
Dan aku belajar satu hal...
Jika mendapatkan ide dalam menulis... Catat ide itu ! Atau kau akan lupa...
Ya, aku mendapat banyak ide untuk chapter ini, namun pasti sebelum akan tidur ?! WTF BRAIN ?!
Dan mungkin aku akan melakukan pembacaan ulang dari chapter 1 dan melakukan update di chapter sebelum-sebelumnya... Untuk lebih baik lagi
Sudahlah, semoga kalian menikmati seri ini... Oh, aku melakukan sedikit update di profil saya... Jika kalian penasaran... Ahahahahaha
Sudah... Sampai jumpa di chapter berikutnya
Ciao !
