Chapter 15
New Division
Beberapa minggu sudah lewat semenjak kepergian semua Laksamana dari Amerika. Semua orang kembali melakukan aktivitas normal mereka masing-masing. Dan pekerjaan yang menumpuk karena acara selama seminggu itu mulai terasa.
Rata-rata isi dari dokumen tersebut adalah keluhan karena kekurangan sumber daya, kehancuran di beberapa bagian dari daerah penyerangan, dan sebagian masalah kesehatan psikologi beberapa Laksamana yang ikut di pertempuran tersebut.
Divisi Viltus sendiri baru mulai mengurus dokumen tersebut dua hari yang lalu. Dan dikarenakan mereka sudah cukup dekat dengan deadline, mereka langsung mengerjakannya dengan cepat. Dan mengapa mereka baru mengerjakannya sekarang ? Itu karena Magyar dan Anastasia meminta ijin untuk libur sebentar, dan Viltus membantu dokumen milik Haruto sehingga tidak ada satu pun yang mengerjakan dokumen mereka sendiri.
Dan setelah meminta ijin kepada Taihou untuk tidak mengusir dirinya bersama kedua orang tersebut, dikarenakan sudah mendekati tenggat waktunya. Taihou membiarkan mereka begitu saja, karena sudah lama sekali semenjak Viltus begadang.
Pagi harinya, pada saat Taihou dan Aoba mengecek ke dalam kantor Viltus, mereka melihat tiga manusia yang seperti kehilangan nyawanya, dengan kertas yang berserakan di depan mereka.
Taihou langsung berjalan ke arah jendela dan membuka gordin. Sinar matahari yang masuk ke dalam ruangan tersebut menyadarkan mereka bertiga, namun hanya Viltus yang benar-benar tersadar. Taihou langsung menyiapkan secangkir kopi untuk Viltus sembari berkata,
"Selamat pagi, Viltus."
"Ah... Selamat pagi... Taihou..."
Viltus langsung menguap, dan kemudian membereskan semua dokumen di hadapannya. Ia melihat Aoba yang terlihat memotret wajah Anastasia yang sedang tertidur di depan dokumen, dan juga Magyar. Viltus langsung berkata,
"Kau... Untuk apa ? Berita ?"
"Tidak... Aoba memberikan ini untuk beberapa orang."
"..."
"Ada apa, Viltus ?"
"Tidak... Tidak apa-apa..."
"Aku yakin dia pasti akan senang pada saat aku mengirimnya lewat surel !"
"Sejak kapan dia memberikan dirimu surel miliknya ?"
"Setelah kejadian tersebut... Fufufufufufu."
"Dan Magyar ?"
"Oh... Kau masih bertanya juga, ya ?"
Viltus langsung menghela nafas melihat wajah Aoba yang tersenyum. Aoba kemudian berkata,
"Lagipula sebentar lagi..."
"Sebentar lagi ?"
"Ah... Tidak tidak tidak..."
Aoba langsung tersenyum ke arah Viltus. Viltus menatap tajam ke arah Aoba, dan bermaksud menanyakannya lebih lanjut lagi. Namun, Taihou langsung menghalangi Viltus, menaruh secangkir kopi, dan kemudian berkata,
"Sebaiknya kau tidak mengetahuinya sekarang..."
"Huh ?"
"Sebentar lagi kau akan tahu."
"Jika kau berkata demikian."
Viltus langsung merenggangkan badannya dan berdiri. Ia kemudian mendekati Taihou, dan mencium Taihou tepat di keningnya. Setelah itu, ia berjalan ke depan meja Anastasia dan Magyar, lalu ia berkata,
"Hei... Kalian berdua... Ayo bangun sekarang juga !"
Anastasia dan Magyar langsung terbangun karena suara Viltus yang cukup nyaring tersebut. Magyar langsung berkata,
"Viltus... Biarkan kami tidur sebentar saja..."
"Tidak... Kita masih dikejar waktu mengerti."
"Huuu... Pemimpin kejam ! Berikan kami waktu istirahat sekarang !" ujar Anastasia
"Huuu... Pemimpin sadis ! Kejam ! Diktator !" ujar Magyar menimpali Anastasia.
Viltus hanya tertawa saja mendengar beberapa kata-kata kasar dari mereka berdua. Ia langsung berkata,
"Sudah kalian kembali ke kamar dan mandi saja,setelah itu kembali lagi kemari. Jika kita selesai hari ini, aku akan mentraktir kalian vodka yang sudah kukumpulkan selama di markas angkatan laut ini."
"Begitukah ?!" ujar mereka berdua bersama-sama.
Anastasia dan Magyar langsung berlari keluar untuk kembali ke asrama dan mandi. Taihou dan Aoba langsung tertawa kecil melihat hal tersebut. Viltus kemudian berkata,
"Mudah sekali untuk menaikkan semangat mereka."
"Kau benar." ujar Taihou
"Sudahlah... Aku ingin mandi dahulu... Taihou, tolong jaga kantor dulu."
"Maaf... Aku hari ini ada latihan... Jadi..."
"Ah... Tidak apa-apa... Biarkan saja ruangan ini kosong... Dan Aoba, dapatkah kau mengambil tiga botol vodka dari gudang penyimpanan ?"
"Eh ? Kenapa harus Aoba ? Aoba ada pekerjaan lain." teriak Aoba
"Kau kira aku sudah memaafkan dirimu atas kejadian koran itu, huh ?"
"Ah... Ahahahahahahaha... Aoba lupa."
"Sudah, ambil saja dahulu."
Viltus langsung berjalan keluar meninggalkan mereka berdua. Taihou langsung menyuruh Aoba untuk pergi dahulu, agar tidak dimarahi kembali oleh Viltus.
Gudang penyimpanan di Yokosuka terletak cukup dekat dengan tempat latihan para Gadis Kapal. Tempat itu merupakan tempat yang paling cocok untuk beristirahat atau sekedar kabur dari pekerjaan sebentar saja.
Pada umumnya, Laksamana akan melakukan cuci mata dengan duduk di depan gudang penyimpanan tersebut. Pada saat Kapal Penjelajah Ringan, Kapal Penjelajah Berat, Kapal Tempur, dan Kapal Induk yang latihan semuanya membiarkan saja. Namun, pada saat Kapal Perusak yang berlatih terdapat penjagaan ketat dari beberapa Gadis Kapal.
Kembali ke masalah gudang penyimpanan. Apa isi dari gudang penyimpanan tersebut ? Dapat dikatakan beberapa koleksi pribadi dari Laksamana yang tinggal di Yokosuka. Seperti Viltus, ada yang menyimpan alkohol pribadi mereka. Ada yang menyimpan cukup banyak gucinya di dalam sana. Ada pula yang menyimpan cukup banyak jaket. Saking banyaknya barang di sana, mereka terkadang menyelundupkan beberapa majalah porno di dalam sana. Dan masing-masing Laksamana memiliki kunci ke gudang masing-masing yang terpisah satu sama lain.
Aoba berjalan dengan tenang ke arah gudang penyimpanan. Ia sempat mengejar Viltus karena Viltus belum memberikan kunci gudangnya kepada Aoba. Ia kemudian ingat saat itu seharusnya Kapal Induk yang berlatih dekat gudang tersebut. Taihou sendiri sudah meminta ijin untuk tidak ikut pada latihan awal untuk membangunkan Viltus dan ketiga orang tersebut.
Pada saat ia berjalan ke arah gudang, ia melihat banyak pesawat yang terbang ke sana kemari. Ia tahu jadwal hari ini adalah latih tanding antar Kapal Induk. Namun, ia sama sekali tidak mendapatkan informasi mengenai antara kelompok mana dengan kelompok mana.
Beberapa ratus meter dari gudang milik Viltus. Ia mendadak melihat sebuah pesawat yang terbang cukup rendah. Aoba berkata pada diri sendiri,
"Pesawat itu... Apa tidak terlalu rendah ? Huh ?"
Di belakang pesawat tersebut, terdapat pesawat lain yang mengejarnya. Aoba menyadari sesuatu, jika kedua pesawat tersebut tidak melakukan manuver, atau lebih tepatnya pemilik pesawat tersebut tidak menyuruh melakukan manuver, maka pesawat tersebut akan menabrak gudang milik Viltus.
Aoba berdoa dalam hati,
"Semoga tidak terjadi apa-apa... Semoga..."
Namun, itu hanya tinggal harapan. Yang terjadi selanjutnya adalah sebuah ledakan yang cukup hebat terjadi. Gudang milik Viltus meledak dan setelah itu terbakar. Dikarenakan mendengar ledakan tersebut, divisi cepat tanggap dari angkatan laut mulai bergerak. Aoba sendiri langsung membantu memadamkan api yang mulai menjalar.
Setelah api padam, cukup banyak Laksamana yang hadir di sana untuk melihat tempat kejadian. Mereka semua bersyukur bukan gudang milik mereka yang kena. Ada pula yang meratapi karena sebagian dari koleksi mereka rusak atau terbakar dikarenakan cukup dekat dengan lokasi ledakan tersebut. Aoba, yang mengesampingkan tugas dari Viltus, dan beberapa koleganya di divisi percetakan juga mulai bekerja.
Semua Laksamana berkumpul di sana, kecuali Viltus yang sedang fokus membereskan dokumen mereka. Ketiga orang tersebut sebenarnya penasaran, namun dikarenakan keinginan untuk membereskan semua itu dengan cepat, mereka tidak menghiraukan kejadian tersebut.
Kumpulan massa mulai bubar setelah Tadahisa memerintahkan semuanya untuk kembali ke pos masing-masing. Sementara Aoba dipilih oleh bagian percetakan untuk menginvestigasi kejadian tersebut. Aoba sendiri mengangguk sembari berkeringat dingin. Yang ada di kepalanya,
"Viltus mengamuk... Viltus mengamuk... Viltus mengamuk..."
Di dekat situ, Aoba melihat sekumpulan Gadis Kapal yang membuat sebuah lingkaran. Di pusatnya, Houshou terlihat memarahi seseorang. Atau lebih tepatnya dua orang. Pada saat Aoba berjalan melewati cukup banyak Gadis Kapal, ia melihat dua orang wanita yang berlutut. Wanita pertama mengenakan dougi dengan bawahan biru dan memiliki rambut hitam yang diikat ke samping. Seorang wanita lain dengan bawahan dougi berwarna merah, mengenakan warna kamuflase untuk atasan, dan memiliki warna rambut hijau tua yang diikat twintail duduk di sampingnya.
Houshou terlihat memarahi mereka berdua. Aoba langsung mendekati Taihou dan bertanya kepada dirinya,
"Taihou-san..."
"Ah... Aoba..."
"Apa yang sebenarnya terjadi ?"
"Ya... Kejadian biasa antara mereka berdua..."
"Zuikaku dan Kaga lagi..."
"Iya..."
Aoba langsung mencatat di buku catatannya. Setelah ia mencatat beberapa kata, pada saat itulah ia teringat kembali atas tugas yang diberikan oleh Viltus. Ia langsung berkata,
"Taihou... Ini gawat..."
"Gawat ? Gawat kenapa ?"
"Kau tahu salah satu gudang yang meledak itu milik siapa ?"
"Itu milik Vil..."
Mengetahui itu, ia langsung berkeringat dingin. Taihou langsung bertanya kepada Aoba,
"Kau sudah mengambilnya, kan?"
"Aoba baru saja tiba di sini... Jadi..."
"Semua itu... Hancur ?"
"Iya."
Taihou menelan ludah. Ia kemudian mengangkat tangan dan memanggil Houshou. Melihat Taihou yang memanggil namanya, Houshou langsung berkata,
"Taihou... Jangan sekarang... Mereka ini selalu bertengkar setiap saat... Jika seperti ini terus akan membahayakan nyawa semuanya..."
"Ya... Seperti sekarang... Kita ada situasi gawat dan sangat genting..."
"Huh ? Kenapa ? Apa Aoba mendengar kabar mengenai mereka berdua akan dibesituakan ?"
Zuikaku dan Kaga terdiam mendengar hal tersebut. Tatapan mereka berdua seperti saling menyalahkan. Taihou langsung menggelengkan kepalanya, dan berkata,
"Houshou-san... Apakah kau tahu jika Viltus, Anastasia dan Magyar baru saja lembur beberapa hari ini ?"
"Ah... Aku ingat mengenai hal tersebut. Untuk mengejar dokumen mereka yang belum dikerjakan."
"Hari ini mereka hampir menyelesaikan semuanya."
"Oh... Lalu ?"
"Dan mereka bermaksud mengadakan minum vodka bersama dengan vodka yang disimpan oleh Viltus..."
"Itu bukan masalah besar... Tunggu kau bilang yang disimpan oleh Viltus ?"
"Iya..."
"Di gudang penyimpanannya ?"
Taihou mengangguk. Houshou memperhatikan gudang milik Viltus yang sudah runtuh total dan tidak ada satu pun botol yang selamat. Houshou melihat ke arah kedua gadis yang sedang berlutut dan berkata,
"Sebaiknya... Kita melindungi mereka berdua..."
"Kau benar... Aku dapat menahan Viltus." ujar Taihou.
Beberapa Gadis Kapal pun bersedia menahan Viltus atau Magyar. Namun, yang anehnya ada satu nama yang tidak pernah disebut oleh mereka. Aoba yang menyadari hal tersebut langsung bertanya,
"Bagaimana dengan Anastasia-san ? Jika aku bandingkan antara Viltus dan Anastasia, Anastasia-san jauh lebih menyukai Vodka. Ia menganggap minuman itu sebagai anaknya sendiri, benar ?"
Terdapat keheningan sementara dari semua Gadis Kapal, dan langsung menyadari betapa berbahayanya situasi ini. Jika Magyar mengamuk, setidaknya Kelas Perusak atau Ryuujou dapat menahannya. Jika Viltus, Taihou dan Houshou yang turun tangan. Namun, jika Anastasia yang mengamuk, tidak ada jaminan seorang Kapal Tempur dapat menghentikan Anastasia. Dan rumor mengatakan, Anastasia dapat menghadapi Abyssal sendirian pada saat dirinya masih aktif di militer Russia. Jika ia dapat menghadapi Abyssal sendirian, tentu saja Kapal Tempur bukan masalah bagi dirinya, benar ?
Sementara itu, di kantor Viltus pada waktu bersamaan.
Viltus merenggangkan badannya dan mengistirahatkan matanya dari dokumen yang ia kerjakan dari tadi pagi. Selain itu, Anastasia dan Magyar pun ikut beristirahat sebentar. Pada saat itu, Magyar berkata,
"Aku penasaran... Ledakan tadi itu apa..."
"Kau benar..." ujar Viltus sembari melihat ke arah jendela.
Asap yang mengepul dari hasil ledakan tersebut masih terlihat, walaupun sudah tidak terdengar suara dari divisi penanganan darurat. Viltus berpikir sebentar, dan kemudian berkata,
"Tidak ada sirene tanda kehadiran pesawat Abyssal atau pemberitahuan mengenai Abyssal menyerang kemari... Berarti ada kecelakaan dari latihan Gadis Kapal..."
"Bukankah hari ini Kapal Induk yang berlatih ?" ujar Anastasia
"Semoga Taihou baik-baik saja."
Magyar dan Anastasia langsung tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Viltus. Tentu saja dirinya akan sangat khawatir dengan kondisi tersebut. Magyar langsung berkata,
"Jika tidak ada pengumuman dari atasan, berarti bukan Gadis Kapal yang bermasalah... Jadi bukan masalah."
"Berarti pesawat..." ujar Viltus
Viltus tersenyum lega dan kemudian duduk kembali. Anastasia langsung mengambil dokumen selanjutnya. Sementara Magyar berpikir sebentar. Melihat Magyar yang berpikir, Viltus langsung bertanya,
"Ada apa Magyar ?"
"Aku cuma penasaran... Tempat apa yang meledak dekat situ ?"
"Kilang minyak mungkin ?" ujar Anastasia mendadak
"Tidak mungkin kilang minyak... Jika kilang minyak maka akan terjadi ledakan yang jauh lebih besar dari yang kulihat tadi." ujar Magyar.
"Magyar... Dari arah mana tadi kau melihat ledakannya ?"
"Dari arah sana..."
Magyar menunjuk ke arah tempat latihan Gadis Kapal. Viltus diam sebentar. Ia ingat gudang penyimpanan dekat sekali dengan tempat itu. Dan pada saat mengingat mengenai Aoba. Viltus langsung bergumam,
"Aoba pergi kemana ya ? Ia belum kembali membawa vodka milikku sama sekali..."
"Kau benar..." ujar Magyar.
"Pasti dia pergi ke mana dulu... Mencari bahan berita yang menarik seperti biasa." ujar Anastasia sembari membuat nada sedikit kesal.
"Kau pasti masih kesal karena foto itu, ya ?" ujar Magyar yang langsung mendapat lemparan dokumen dari Anastasia.
Viltus langsung tertawa melihat kejadian tersebut. Tidak berapa lama, mereka mendapat ketukan dari pintu. Viltus mempersilakan masuk, dan di sana berdiri Tadahisa. Dari raut wajah Tadahisa, terdapat sedikit perasaan campur aduk. Magyar dan Anastasia langsung berdiri dan memberi hormat. Sementara, Viltus langsung menyambut Tadahisa sembari berkata,
"Selamat siang, ayah. Tumben sekali kau datang kemari."
"Aku hanya ingin melihat kinerja dari putraku."
"Suatu hal yang sangat langka."
"Selain itu..."
"Huh ? Selain itu ?"
Tadahisa melirik ke kiri lalu ke kanan. Ia kemudian berkata,
"Bagaimana cara menjelaskannya, ya ?"
"Mengenai ledakan yang terjadi sebelumnya ?"
"Iya. Jika boleh tahu, apakah kalian datang ke sana ?"
"Tidak. Kami bertiga mengerjakan dokumen yang harus diserahkan besok."
"Mengapa kalian tidak ke sana ?"
"Itu semua dikarekan tidak adanya sirene tanda pesawat Abyssal atau Abyssal yang datang kemari. Kami mengambil asumsi itu adalah kesalahan manusia atau kecelakaan dalam latihan."
"Kalian ini... Kalian tahu protokol mengenai situasi darurat..."
"Maafkan kami, namun kami harus mengerjakan dokumen ini karena sudah cukup dekat dengan tenggat waktu. Dan... Jadi, ledakan itu..."
"Itu karena pesawat dari Kapal Induk yang menabrak ke arah gudang penyimpanan."
"Gudang penyimpanan ?!" ujar tiga orang secara bersamaan.
Tadahisa menelan ludahnya, dan kemudian berkata,
"Dan... Gudang yang hancur total adalah... Gudangmu, Viltus."
Mendengar itu Viltus diam sebentar. Ia kemudian berdiri dan mulai berlari keluar, diikuti dengan Magyar dan Anastasia. Mereka bertiga berlari untuk melihatnya secara pasti, demi keselamatan vodka mereka !
Kembali ke lokasi ledakan.
Semua Gadis Kapal berpikir keras untuk menyelamat Kaga dan Zuikaku. Bahkan kedua tersangka tersebut juga ikut berpikir, hingga akhirnya Aoba berkata,
"Setidaknya... Mereka pasti masih lama... Dan jika ingin kemari tentu akan memakan waktu yang cukup lama, benar ?"
"Kau benar..." ujar Taihou
"Tapi... Kita sudah berpikir berapa lama ?" ujar salah satu Gadis Kapal.
Mendengar itu semuanya mulai panik. Dan tidak berapa lama, mereka mendengar suara orang yang dikenal. Mereka semua mendengar nafas yang terengah-engah karena mendengar kabar terbaru dari Tadahisa. Pada saat sampai di depan gudang penyimpanannya, Viltus melihat reruntuhan yang terbakar. Viltus langsung terjatuh. Begitu pula dengan Anastasia dan Magyar yang melihat hal tersebut. Mereka semua mendengar komentar yang berbeda-beda,
"Vodkaku... Semua itu... Hancur... Hilang... Semuanya..." ujar Viltus berulang-ulang.
"Semua usaha ini... Tanpa hasil sama sekali..." ujar Magyar sambil menangis.
"Ah... Mengapa ini terjadi..." ujar Anastasia dengan tatapan kosong.
Semua Gadis Kapal menelan ludahnya pada saat itu. Mendadak Anastasia melihat ke arah semua Gadis Kapal tersebut dan berkata,
"Siapa..."
"Siapa yang menghancurkan gudang ini ?"
Semuanya menelan ludah. Dan yang paling panik adalah Zuikaku. Mata Anastasia cukup tajam dan melihat gerak-gerik dari Zuikaku yang cukup panik. Ia berdiri dan menunjuk ke arah Zuikaku. Dengan tatapan yang sangat tajam, ia berkata,
"Kau... Kau yang menghancurkannya, ya ?"
"Hiiiii..."
"Kau... Akan menerima akibatnya ! Atas dosa yang kau buat dengan menghancurkan semua vodka ini !"
Anastasia langsung berlari maju ke arah kumpulan Gadis Kapal untuk menyerang Zuikaku. Gerakan Anastasia cukup cepat, dan matanya seperti membuat sebuah jejak seperti La***lot dari F***. Ia terlihat sangat marah dengan aura hitam yang sangat mencekam sama seperti La***lot dari F***.
Mengetahui situasi sudah sangat gawat. Taihou melihat ke arah Viltus yang masih meratapi semua vodka miliknya. Ia langsung berteriak,
"Viltus ! Hentikan Anastasia sekarang !"
Viltus yang masih tidak di dalam alam sadarnya, mulai kembali ke dunia nyata dan melihat Anastasia yang menerjang ke arah Gadis Kapal. Ia langsung mengoyang-goyangkan Magyar dan berkata,
"Magyar... Status merah... Status merah !"
"Huh ? Merah ?"
"Beruang lepas !"
Magyar langsung menyadari apa yang dimaksud oleh Viltus dan melihat ke arah kumpulan Gadis Kapal. Anastasia masih berlari ke arah mereka, dan akan menerjang beberapa Kapal Perusak. Magyar langsung berdiri, menarik nafas panjang, dan kemudian mengambil ancang-ancang. Ia kemudian berkata,
"Aku akan menghentikan dirinya !"
"Bagaimana caranya ? Dia sudah cukup jauh dari..."
"Jangan meremehkan kecepatan lari dari diriku... Yang merupakan salah satu pemain rugby terbaik di angkatannya !" ujar Magyar sembari mengacungkan jempolnya.
Magyar langsung berlari ke arah Anastasia. Jarak mereka berdua sedikit demi sedikit terpotong, hingga akhirnya Magyar melompat ke punggung Anastasia sembari berteriak,
"MAGYAR TACKLE !"
Dikarenakan kecepatan lari Magyar yang cukup cepat, ia mendorong Anastasia beberapa senti ke depan, dan kemudian terjatuh dengan wajah mengenai tanah. Magyar langsung berteriak,
"Tali... Tidak... Rantai ! Berikan aku rantai sekarang !"
"Ah... Baik... Baik..." ujar salah satu Gadis Kapal.
Gadis Kapal yang lain melihat kejadian tersebut dengan wajah cukup terkejut dengan sebagian menahan tawa. Viltus sendiri menepuk wajahnya melihat kejadian tersebut.
Setelah Anastasia ditahan dengan rantai dan dibuat pingsan oleh Viltus, Viltus langsung berjalan ke arah Houshou, dan bertanya,
"Sebenarnya, apa yang terjadi di sini ?"
"Pada saat melakukan latihan, Kaga dan Zuikaku bertengkar satu sama lain sehingga tidak fokus dengan salah satu pesawat mereka yang bertempur satu sama lain... hingga menabrak gudang anda."
"Begitu ya..."
"Maafkan mereka..."
"Aku tahu."
"Jangan kau hukum..."
Viltus langsung membuat tanda untuk diam kepada Houshou, dan kemudian berkata,
"Tenang saja. Mereka bukan dari divisiku, sehingga aku tidak memiliki hak untuk menghukum mereka berdua."
Ia tersenyum ke arah Zuikaku dan Kaga. Melihat senyum itu, mereka tahu Viltus sama sekali tidak senang dengan situasi ini. Viltus kemudian melanjutkan,
"Aku akan menahan Anastasia agar tidak menyerang mereka... Karena mereka bukan dari divisiku."
"Namun, jika mereka di divisimu ?" tanya Houshou
"Aku akan membiarkan Anastasia satu hari saja."
Semuanya langsung terdiam mendengar jawaban dari Viltus yang masih tersenyum. Viltus kemudian menghela nafas, dan kemudian berkata,
"Namun, tetap saja... Aku kehilangan cukup banyak koleksiku..."
"Ahahahahaha." ujar Taihou
"Setidaknya... Aku akan mendapatkan vodka lain yang sedang dikirim dari Russia."
Pada saat itu, suasana di tempat itu kembali hening. Suara dari angin yang berhembus terdengar dengan jelas. Begitu pula dengan ombak. Viltus langsung membuat wajah khawatir dan bertanya,
"Ummm... Mengapa kalian semua diam ?"
"Be... Begini..." ujar Nagato yang sedikit bingung menjelaskannya kepada Viltus.
"Apa terjadi sesuatu di utara ?"
"Ahahahahaha... Jadi... Begini..." ujar Noshiro yang mengganti Nagato yang sedikit ketakutan.
"Kalian berdua sama sekali tidak menjelaskan apapun... Jika berikutnya juga menjawab demikian maka aku akan..."
"Abyssal melakukan penyerangan besar-besaran di daerah utara..." ujar Taihou
"Lalu ? Tunggu di utara ?"
"Iya... Sehingga semua kiriman barang terpaksa terhenti sementara waktu." lanjut Taihou.
Viltus terdiam sebentar dengan tatapan kosong. Ia langsung jatuh berlutut dan berkata dengan pelan,
"Semua ini... Ahahahaha..."
Setelah meratapi sebentar ia langsung berteriak mengeluarkan semua kekesalannya.
Keesokan harinya.
Semua anggota divisi Viltus kembali berkumpul di kantor. Namun, ada yang sedikit berbeda. Bukan suasana lega karena dokumen mereka sudah selelai. Suasana yang mereka pancarkan adalah suasana seseorang yang sudah kehilangan sesuatu. Seseorang yang kehilangan tujuan hidup.
Viltus duduk dengan tatapan seperti mata ikan mati melihat ke arah langit-langit. Taihou menggoyang-goyangkan Viltus untuk mengembalikan kesadaran Viltus. Sementara itu, di sofa Anastasia memainkan rambut Zuihou dan menahan dirinya agar tidak kabur dari dirinya. Ia mengelus rambut Zuihou, dan terkadang membenamkan kepalanya di rambut Zuihou. Dan satu orang terakhir, Magyar duduk di lantai sembari memeluk Ryuujou seperti boneka. Ryuujou sendiri memainkan pipi dari Magyar untuk membangkitkan semangat dari Magyar yang sudah pudar.
Setelah beberapa kali digoyang-goyangkan oleh Taihou, Viltus langsung menghela nafas dan kemudian berkata,
"Sudah... Sudah... Jangan kau menggoyang-goyangkan diriku kembali, Taihou."
"Habis... kau seperti itu."
"Iya... Iya..."
"Kau sebenarnya lebih memilih mana... Diriku atau vodka ?"
Viltus sebenarnya sudah memiliki jawaban, namun dikarenakan ia ingin menganggu Taihou sedikit, ia langsung pura-pura berpikir. Melihat Viltus yang berpikir, Taihou langsung berteriak kesal sembari memukul Viltus, yang mendapat jawaban berupa tawa dari Viltus.
Pada saat itu, mereka berdua mendadak mendengar suara dari Ryuujou,
"Hei... Magyar..."
"Apa..."
"Jika kau... Kau akan memilih siapa ? Aku atau vodka ?"
"Hmmm..."
"Berpikir, huh ?"
Ryuujou kembali memainkan pipi dari Magyar yang berpikir. Viltus dan Taihou melihat satu sama lain sebelum melihat ke arah Magyar dan Ryuujou. Ryuujou yang menyadari dirinya menjadi pusat perhatian, ia langsung berkata,
"Aku hanya tidak ingin dia bermuka masam saja... Itu..."
"Aku memilih dirimu..." ujar Magyar.
Ryuujou langsung memerah mendengar hal tersebut. Taihou dan Viltus awalnya terkejut, lalu langsung tertawa mendengar itu. Ryuujou sendiri langsung memukul wajah Magyar beberapa kali karena malu. Viltus kemudian bertanya dengan wajah penasaran,
"Sejak kapan kalian berkencan ?"
"Kami tidak berkencan !" ujar Ryuujou
"Oh... Lalu semua tindakan mesra kalian pada selama ini apa dong ?" ujar Taihou menggoda Ryuujou
"Kalian sebut itu mesra ?!" ujar Ryuujou sedikit panik
Taihou dan Viltus tertawa bersama karena itu merupakan jawaban yang biasa dikatakan oleh Viltus bila dirinya dan Taihou bertengkar dulu. Ryuujou mengetahui dirinya pasti kalah langsung diam dan memukul-mukul pipi dari Magyar beberapa kali.
Anastasia yang melihat itu langsung berkata pelan,
"Huuuuhhh... Enaknya yang punya pasangan..."
"Ahahahaha..." ujar Zuihou pasrah
"Apa aku perlu jatuh ke dunia itu, ya ?"
"Dunia apa ?"
"Ya... Seperti mencintai dirimu..."
"Hieeeeee !"
Zuihou terkejut dan berteriak panik mendengar itu. Ia semakin meronta-ronta ingin pergi. Anastasia langsung meminta maaf kepada Zuihou, dan berkata itu hanya candaan ringan. Ia langsung menahan Zuihou dan mengelus rambut dari Zuihou dengan kepalanya.
Setelah itu, ruangan tersebut kembali hening. Dan pada saat itulah, Viltus mendengar seperti suara sesuatu yang diganti. Pada awalnya Viltus tidak terlalu peduli, namun karena semakin keras dirinya keluar sebentar dan melihat tanda huruf di pintunya.
Dengan wajah sedikit bingung, Viltus masuk ke dalam kantornya dan kemudian berkata,
"Taihou..."
"Ada apa di luar sana ?"
"Beberapa pekerja menuliskan beberapa huruf di pintu kantor. Sepertinya ada yang masuk ke divisi lagi, ya ?"
"Mungkin lebih tepatnya... Ada yang akan pindah dari divisi kita dan masuk kemari."
"Eh ?"
"Tidak semuanya pindah sih..."
Taihou kemudian melihat wajah Anastasia, Magyar dan Viltus yang sangat terkejut. Magyar langsung mengeratkan pelukannya kepada Ryuujou. Sementara, Anastasia terlihat sedikit sedih. Viltus langsung bertanya,
"Kau... Kau akan tetap di divisi ini, kan... Taihou ?"
"Maafkan aku..."
"Taihou..."
Viltus langsung berjalan ke Taihou dan memeluknya. Ia langsung menggelengkan kepalanya sembari berkata,
"Tidak... Kau tidak boleh... Kau tidak boleh..."
"Maafkan aku..."
"Aku tahu... Aku akan... berbicara dengan ayah."
Viltus melepas pelukannya dan bermaksud untuk berlari keluar mencari ayahnya. Taihou langsung menahan lengan baju dari Viltus dan berkata,
"Viltus..."
"Taihou... Biarkan aku bernegosiasi dengan..."
"Maafkan aku... Aku akan tetap membantu dirimu di divisi ini."
Viltus terkejut dan melihat ke arah Taihou yang menjulurkan lidahnya. Ia sadar, ia kena kebohongan dirinya dahulu. Viltus langsung menghela nafas dan memukul kepala Taihou dengan pelan. Taihou sendiri langsung berkata,
"Ehehehehe... Ini pembalasan untuk saat itu."
"Iya... Iya..."
Ryuujou yang memperhatikan kelakuan dua orang tersebut langsung menghela nafas saja. Magyar sendiri tertawa melihat hal tersebut. Ia kemudian bertanya,
"Bagaimana dengan dirimu, Ryuujou ?"
"Aku akan tetap di sini, koq..."
"Itu benar atau kau berbohong ?"
"Fufufufufu... Kau harus mengetahuinya sendiri."
Magyar langsung mengacak-acak rambut Ryuujou. Ryuujou sendiri hanya tertawa saja dengan hal tersebut. Sejak kapan mereka sangat dekat, tidak ada yang mengetahuinya. Hanya mereka yang tahu dan mereka merahasiakannya dari siapapun, kecuali Aoba yang mengetahuinya pada saat itu.
Anastasia kemudian melihat ke arah Zuihou dan berkata,
"Bagaimana dengan dirimu, Zuihou ?"
"Mengenai itu..."
Mendadak mereka semua mendengar ketukan dari luar. Dan pada saat dipersilahkan masuk, Shigure, Yuudachi, Uzuki, Yayoi, Yura, Kinu, dan Aoba masuk. Mereka kemudian berkata satu per satu sembari memberi hormat,
"Kapal Perusak Shigure, Flagship kedua dari divisi milik Viltus Amarov. Datang melapor"
"Kapal Perusak Yuudachi, melapor poi~"
"Kapal Perusak Uzuki, melapor pyon"
"Kapal Perusak Yayoi, melapor kepada Laksamana Amarov."
"Kapal Penjelajah Ringan Yura, melapor"
"Kapal Penjelajah Ringan Kinu, hadir !"
"Kapal Penjelajah Berat Aoba, melapor hadir di tempat."
Viltus yang melihat mereka semua langsung menyambut mereka dengan memberi hormat. Setelah itu, Shigure langsung berkata,
"Saya mewakili beberapa Gadis Kapal dari divisi Laksamana Amarov, ingin memberitahukan perihal perpindahan kami dari divisi anda ke divisi lain."
"Kalian semua ?"
"Termasuk Zuihou juga." ujar Shigure sembari melihat ke arah Zuihou.
Mendengar itu, Anastasia semakin hancur dan memeluk Zuihou dengan keras. Dapat terlihat dengan jelas dirinya tidak akan membiarkan Zuihou untuk pergi. Shigure langsung menggaruk-garuk kepalanya saja. Viltus kemudian melihat ke arah Aoba dan berkata,
"Jadi... Ini yang kau maksud, ya... Aoba..."
"Iya... Ehehehehehe."
"Haahh... Sudahlah..."
"..."
"Aku yakin ini karena tindakanku dulu..."
"Tidak... Itu bukan salahmu Viltus."
Viltus hanya tersenyum saja mendengar itu. Shigure kemudian berkata,
"Laksamana, saya mengucapkan terima kasih atas semua arahan yang telah anda berikan kepada kami semua."
"Saya pun merasa cukup berbahagia dapat memimpin kalian semua. Kalian merupakan Gadis Kapal yang cukup hebat."
"Walaupun demikian, kau ini sudah membuat diriku susah beberapa kali."
"Ya... Pada saat itu sih... Ahahahahahaha"
Shigure dan Viltus langsung tertawa bersama. Taihou yang melihat itu tersenyum. Ia tahu, Viltus berusaha untuk tidak larut dalam kesedihan karena harus berpisah dengan Shigue dan Yuudachi setelah bekerja sama cukup lama. Viltus berhenti tertawa dan kemudian berkata,
"Selain itu... Terima kasih banyak atas bantuanmu saat itu, Shigure."
"Sama-sama, Laksamana Amarov."
Viltus dan Shigure langsung berpelukan satu sama lain. Suatu ikatan kuat yang terbentuk semenjak mereka pertama kali di dalam satu divisi kecil, hingga menjadi seperti sekarang. Setelah Viltus kemudian mengulurkan tangannya, sembari berkata,
"Walaupun kalian sudah bukan bagian dari divisi ini, kalian tetaplah keluarga bagi kami. Jika kalian punya masalah, pintu kami terbuka dengan lebar."
"Terima kasih banyak, Laksamana."
"Jika kalian tidak ada pekerjaan dan merasa bosan, kalian dapat berkunjung kemari."
"Ahahahaha... Tenang saja mengenai itu."
Viltus kemudian mengelus kepala dari Shigure, ia kemudian berkata,
"Tenang saja, semua manga dan camilan pasti tersedia jika kalian datang kemari."
Mendengar itu, Yuudachi dan Uzuki langsung senang dan melompat bersama. Semua yang di dalam ruangan tersebut langsung tersenyum melihat kedua orang tersebut. Setelah itu, Viltus langsung berkomentar,
"Kalian seharusnya memberitahu diriku dari dulu... Jika aku mengetahuinya, aku pasti akan membuat acara untuk kalian semua."
"Hehehehe... Memberikan acara seperti apa ?" tanya Shigure.
"Mungkin makan-makan dengan aku yang akan mentraktir kalian."
"Baik sekali..."
"Mungkin setelah aku bertemu dengan anggotaku yang baru, aku akan mentraktir kalian semua. Bersama dengan anggota baru. Bagaimana menurut kalian ?"
Semuanya langsung mengangguk mendengar itu. Setelah itu, mereka semua berbicara satu sama lain membicarakan mengenai pertempuran yang mereka lalui bersama. Hingga akhirnya, satu per satu mulai pamit untuk bertemu dengan Laksamana baru mereka. Tepat sebelum Aoba pergi, Viltus berkata,
"Aoba."
"Ah... Ada apa Laksamana ?"
"Walaupun dirimu ada di divisi lain, tidak menutup kemungkinan aku akan meminta bantuan dari dirimu lagi."
"Tenang saja, Aoba selalu siap menerima perintah dari dirimu kapan saja."
"Baguslah."
"Tapi... Sekarang ada sisi bagusnya."
"Apakah itu ?"
"Aoba tidak dapat dipanah oleh dirimu lagi, Viltus."
"..."
"Kau kan pernah berkata untuk tidak menghukum dari divisi lain."
"Ya... Kau benar sih."
"Ahahahahaha..."
"Namun, setidaknya aku memiliki izin untuk melakukan itu."
"Eh ?!"
Viltus mengeluarkan sebuah surat dengan tanda tangan dari semua Laksamana mengenai hal tersebut. Aoba langsung terdiam dan berkeringat dingin. Viltus langsung tersenyum dan kemudian berkata,
"Jadi... Jangan main-main, ya... Aoba"
"I... Iya..."
Viltus langsung berjalan ke depan Aoba dan menepuk pundak Aoba. Ia kemudian berkata,
"Sudahlah... Sana kau pergi temui Laksamanamu."
"Iya."
"Dan jaga dia..."
"Aku tahu."
"Bersama seluruh Gadis Kapal di sekitarmu, sama seperti kau melindungi kedua anakmu itu."
"Ahahahahahaha... Viltus kau bisa saja berkata seperti itu."
Aoba langsung membungkuk dan berkata,
"Sekali lagi, Aoba akan mengucapkan terima kasih banyak atas semuanya."
"Bukan masalah."
"Terutama setelah kejadian itu."
"Kita berdua membantu sama lain... Walaupun..."
"Walaupun ?"
"Bukan masalah."
"Jika kau berkata demikian... Aoba akan pergi dahulu."
Aoba langsung berjalan meninggalkan kantor Viltus. Kantor Viltus langsung sepi dalam sekejap. Viltus langsung menghela nafas, dan kemudian berjalan ke tempat duduknya. Dari sana, ia menunggu semua Gadis Kapal baru yang akan masuk ke dalam divisinya.
Tiga puluh menit berlalu, Magyar, Ryuujou, Anastasia dan Zuihou, yang diperintahkan oleh Viltus untuk menunggu hingga ada yang menarik perhatian Anastasia, bermain kartu. Viltus sendiri membereskan beberapa dokumen lain dengan bantuan dari Taihou.
"Aku kalah lagi..." ujar Anastasia dengan wajah cukup sedih.
Semuanya tertawa melihat ekspresi dari Anastasia, yang langsung memeluk Zuihou kembali. Tidak berapa lama, mereka mendengar ketukan dari luar. Viltus langsung berkata,
"Silakan masuk."
Setelah itu, pintu terbuka. Di pintu tersebut berdiri dua orang wanita. Kedua wanita tersebut mengenakan pakaian yang sama, yaitu pakaian putih pendek dan rok biru pendek. Satu wanita memiliki rambut hitam yang dikuncir panjang. Dan dari wajahnya terlihat jelas ia sangat mengantuk. Sementara, wanita yang satu lagi memiliki rambut coklat pendek, dan di wajahnya seperti terdapat luka terbakar. Salah satu mata dari wanita tersebut berwarna kuning.
Wanita dengan rambut coklat yang memperkenalkan diri lebih dahulu.
"Kapal Penjelajah Berat dari kelas Furutaka yang pertama, Furutaka. Melapor untuk bertemu dengan Laksamana."
"Kapal Penjelajah Berat dari kelas Furutaka yang kedua, Kako. Melapor."
"Kako... Kau harus lebih menaruh hormat kepada Laksamana..."
"Iya... Iya..."
Wanita yang bernama Furutaka tersebut terlihat memberi sedikit nasihat kepada Kako mengenai beberapa hal, hingga akhirnya Viltus menyela mereka berdua,
"Bagaimana jika kalian berdua duduk saja dahulu. Di sini cukup banyak sofa."
"Ah... Begitukah ? Terima kasih banyak... Ihihihi" ujar Kako langsung duduk di sofa
"Kako ! Ah... Maafkan kelakuan dari dirinya." ujar Furutaka membungkuk kepada Viltus, Magyar dan Anastasia.
"Tidak apa-apa... Bukan masalah. Dan mungkin kami semua akan memperkenalkan diri kami masing-masing setelah semua anggota dari divisi ini berkumpul. Apakah kalian berdua setuju dengan hal tersebut ?" ujar Viltus
"Jika Laksamana berkata demikian, maka saya akan mengikutinya." ujar Furutaka
"Boleh saja. Saya bosan jika mendengarkan hal sama terus menerus." ujar Kako
"Kako !" teriak Furutaka
Viltus langsung tertawa melihat itu. Ia kemudian memberi perintah kepada Taihou untuk membuatkan kedua gadis tersebut minuman. Tidak berapa lama kemudian, ada ketukan lain yang terdengar. Dan setelah mendapat izin, tiga gadis berdiri bersama di depan pintu. Melihat itu, Viltus langsung berkata,
"Ah... Akizuki ?! Kau di sini ?"
Salah satu dari gadis itu adalah Akizuki. Ia kemudian masuk bersama dua orang lain yang memiliki pakaian yang sama dengan dirinya. Mereka satu per satu mulai memperkenalkan diri.
"Kapal Perusak kelas Akizuki yang pertama, Akizuki. Melapor untuk bertugas."
"Kapal Perusak kelas Akizuki yang kedua, Teruzuki. Melapor untuk bertugas !"
"Kapal Perusak kelas Akizuki yang keempat, Hatsuzuki. Melapor untuk bertugas."
Viltus ingin menyambut mereka. Namun, ia teralihkan oleh Anastasia yang terlihat cukup senang. Ia langsung melepas Zuihou, dan kemudian menunjuk ke arah Hatsuzuki. Ia kemudian berkata sembari menunjuk ke sisi dirinya,
"Ka... Kau... Bi... Bisa duduk di sini tidak ?"
"Saya ? Bisa..."
Hatsuzuki langsung berjalan dan duduk di sebelah Anastasia. Dan dalam sekejap, Anastasia memeluk Hatsuzuki dan berkata berulang-ulang,
"Aduh... Imutnya... Imutnya... Imutnya !"
Semua orang yang ada di ruangan tersebut sangat terkejut, dan langsung berubah menjadi tawa. Zuihou yang melihat hal tersebut langsung pamit kepada semuanya dan berlari keluar dari ruangan tersebut. Viltus langsung mempersilahkannya pergi. Setelah itu, Anastasia seperti menanyakan beberapa hal kepada Hatsuzuki yang dijawab singkat. Furutaka sendiri sedikit bingung dengan suasana yang jauh berbeda dari divisi dirinya sebelumnya. Suasana yang sangat akrab. Viltus yang melihat itu langsung berkata,
"Furutaka."
"Ah... Ba... Baik..."
"Kau tidak perlu terlalu kaku seperti itu... Di sini semua bebas berekspresi... Bahkan jika tidak setuju kau dapat memberitahu diriku."
"Eh... Tapi..."
"Tidak usah pedulikan dengan peraturan. Lagipula peraturan tersebut sudah mengijinkan kedua belah pihak untuk dapat berkomunikasi satu sama lain tanpa batasan."
"Iya sih..."
"Jadi... Bagaimana menurutmu, Furutaka ?"
"Bi... Bisa..."
"Baguslah."
Viltus tersenyum, dan melihat Taihou yang memberikan minuman kepada Akizuki, Teruzuki dan Hatsuzuki. Namun, entah mengapa rona dari mereka bertiga terlihat sangat cerah, seperti beberapa orang yang baru pertama kali merasakan itu. Viltus ingat, walaupun sudah mengenal Akizuki, ia belum mengajak mereka bertiga ke acara yang biasa mereka adakan.
Viltus menghela nafas sebentar dan kemudian berkata,
"Hmmm... Jika sebelumnya divisi ini berisi dua Kapal Induk Ringan, satu Kapal Induk Armor, dua Kapal Penjelajah Ringan, satu Kapal Penjelajah Berat, dan empat Kapal Perusak... Aku akan mendapatkan..."
"Kau pernah memiliki Kapal Penjelajah Berat, Laksamana ?" tanya Furutaka
"Jika pernah, berarti kami aman... aman... ihihihihi" ujar Kako
"Iya. Aku memilikinya. Walaupun pada awalnya bukan di divisiku sih " ujar Viltus
"Siapa ?" tanya Furutaka
"Aoba."
Mendengar nama itu, entah mengapa Teruzuki, Hatsuzuki, Kako dan Furutaka terlihat sangat takut. Viltus yang melihat perubahan tersebut langsung bertanya,
"Ada apa dengan kalian ?"
"Ber... Berarti... Kau... Kau..." ujar Furutaka sedikit terbata-bata.
"Aku ?"
"Manusia Iblis Viltus Amarov !" teriak Kako
"Manusia... apa ?"
"Setan... Akizuki-nee... Aku takut..." ujar Teruzuki memeluk Akizuki yang hanya tertawa kecil saja.
"Hei... Jadi reputasiku di antara Gadis Kapal sejelek ini, Taihou ?"
"Tidak juga..." ujar Taihou
"Lalu... Mengapa..."
"Ka... karena Aoba sering menceritakan mengenai dirimu... Yang kejam... Yang..." ujar Furutaka
"Tunggu... Tunggu... Tunggu... Siapa ? Siapa yang memberitahu hal tersebut ?" sela Viltus
"Aoba..."
"..."
"Ummm... Laksamana ?"
"Tenang saja... Aku bukan seperti itu koq... Ahahahahaha" ujar Viltus.
Padahal di dalam hatinya, ia berkata,
'Aoba... Jika kita bertemu kembali, aku akan menghabisi dirimu ! Percayalah'
Di tempat lain, Aoba yang bertemu dengan Laksamana barunya langsung berkeringat dingin. Ia merasakan aura membunuh yang sangat kuat berasal dari kantor milik Viltus. Dan saat itulah, ia berkata pelan,
"Minggu ini... Tidak, bulan ini... Aoba sebisa mungkin menghindar dari Viltus... Demi keamanan Aoba."
Kembali ke kantor Viltus.
Viltus berhasil meyakinkan Hatsuzuki, Teruzuki, Furutaka dan Kako bahwa rumor tersebut sama sekali tidak benar. Cukup lama untuk meyakinkan hal tersebut karena Anastasia, Magyar, Ryuujou dan Taihou sama sekali tidak mau membantu dirinya.
Ia kemudian langsung duduk kembali dan melihat ke arah langit-langit. Ia langsung berkata,
"Ah... Jika kalian ingin membaca manga... Manga tersebut ada di laci sebelah kiri."
"Manga ?! Kau memilikinya ?" ujar Kako
"Itu milik Yuudachi... Entah mengapa ia menyimpannya di sini."
"Oho... Aku akan membaca satu."
"Silakan."
Kako langsung berdiri dan membuka laci yang ditunjuk oleh Viltus. Namun, Magyar mendadak berteriak,
"Tunggu... Laci itu !"
Kako membuka laci tersebut dengan wajah yang cukup bingung. Dan pada saat itu, terjatuh satu lembar foto. Taihou langsung mengambil foto tersebut, dan dalam sekejap wajahnya menjadi merah padam. Viltus yang bingung dengan reaksi dari Taihou meminta kepada Taihou untuk menunjukkan foto tersebut kepada dirinya. Namun, Taihou langsung menggeleng. Sementara Kako, yang melihat semua foto tersebut langsung melihat ke arah Magyar yang mendadak sudah di belakang Kako. Ia langsung berkata,
"Kau... Kau harus melupakan apa yang kau lihat !"
Dalam sekejap Kako dibuat pingsan oleh Magyar. Ia langsung merebut foto dari tangan Taihou, menaruhnya di laci, menutup laci tersebut dan mengunci laci tersebut. Ia langsung berkata,
"Aku tidak dapat melakukan hal sama terhadap Taihou... Karena aku pasti akan menghadapi Viltus karena hal tersebut..."
"Magyar... Apa isi laci tersebut ?" tanya Viltus
"Ti... Tidak ada apa-apa..."
"Lalu... Mengapa kau menyembunyikannya dariku ?"
"Itu... Bukan masalah..."
Viltus langsung menghela nafas dan kembali memperhatikan dokumennya. Ia tahu, Magyar sama sekali tidak akan memberitahu dirinya apa yang ada di dalam laci tersebut. Mendadak Taihou berjalan ke dekat Viltus dan membisikkan sesuatu. Dari situ, Viltus langsung tersenyum dan berkata,
"Oh... Begitu..."
"Ke... Kenapa ?"
"Bukan masalah... Ahahahahahaha... Berarti aku ada temannya..."
Magyar langsung merah padam karena hal tersebut. Begitu pula dengan Ryuujou. Magyar kemudian duduk kembali di sebelah Ryuujou yang langsung dimarahi Ryuujou karena sesuatu. Sepuluh menit kemudian, pintu kembali diketuk dan di sana berdiri tiga orang wanita. Mereka semua mengenakan pakaian putih tanpa lengan, sarung tangan putih dan rok merah. Satu wanita memiliki rambut hitam panjang, wanita lain memiliki rambut cokelat yang diikat braid dan satu lagi rambut hitam yang diikat ponytail.
Wanita yang diikat ponytail memperkenalkan diri lebih dahulu,
"Maafkan keterlambatan kami. Kapal Penjelajah Ringan kelas Agano yang ketiga, Yahagi. Melapor bertugas."
"Kapal Penjelajah Ringan kelas Agano yang kedua, Noshiro. Melapor bertemu dengan Laksamana."
"Kapal Penjelajah Ringan kelas Agano yang pertama, Agano. Melapor ~"
"Agano-nee... Tolong lebih sopan kepada Laksamana kita. Apalagi ini Laksamana baru." ujar Noshiro.
Yang ada di pikiran Magyar, Anastasia dan Viltus sama. Deja-vu atas apa yang dilakukan Furutaka dan Kako sebelumnya. Dan pada saat Noshiro menasihati Agano, Yahagi langsung maju dan berkata,
"Anda Laksamana Amarov, jika saya tidak salah..."
"Ya... Itu tepat sekali." jawab Viltus.
"Heh..."
"Ada apa, Yahagi ? Menggoda Laksamana langsung ? Hati-hati..."
"Taihou akan memarahi diriku, benar ?"
"Ahahahahahaha... Sepertinya kau mengetahuinya, ya ?"
"Tentu saja. Dari Laksamana Yanagi."
"Eh ? Ayah atau Shiro-nee ?"
"Yang kedua. Beliau adalah Laksamana yang memimpin kami dahulu."
"Eh ?!"
"Ahahahahaha... Kau sepertinya sangat terkejut dengan hal tersebut."
"Tentu saja."
"Lagipula, kami bertiga masuk ke divisi anda atas rekomendasi dari Laksamana Yanagi sendiri."
"Apa kau bilang ?"
"Dan ini ada pesan dari Laksamana Yanagi."
Viltus melihat secarik kertas, dan mengambilnya. Di sana tertulis pesan dari Shiro yang meminta Viltus untuk menjaga mereka semua. Ia langsung tersenyum dan mengangguk. Ia langsung berkata,
"Aku akan berusaha... Namun, jangan bandingkan diriku dengan Shiro-nee... Dia itu jauh lebih baik dari diriku."
"Kau tidak dapat menilai tersebut sendiri. Biar kami yang menentukan."
"Ahahahahahahaha... Silakan... Silakan..."
Yahagi langsung tersenyum ke arah Viltus. Viltus langsung berdiri dan kemudian mempersilahkan mereka bertiga untuk duduk. Ia kemudian berkata,
"Jika... Dalam tiga puluh menit tidak ada yang datang lagi... Aku akan memulai prosesi penerimaan divisi baru ini."
Semuanya mengangguk tanda setuju.
Dua puluh tujuh menit sudah berlalu. Viltus langsung berdiri dan berpikir sudah tidak ada yang datang lagi kemari. Namun, mendadak ia mendengar suara seorang wanita yang cukup dikenalnya. Suara wanita yang menghancurkan gudang penyimpanannya. Ia mendengar,
"Shoukaku-nee... Setidaknya aku tidak ingin satu divisi dengan Kaga !"
"Tenang saja, Zuikaku. Kaga-san ada di divisi milik Laksamana Yanagi... Sangat kecil kemungkinan kita masuk ke sana."
"Namun, tetap saja tidak menutup kemungkinan tersebut !"
"Zuikaku..."
"Ah... Shoukaku-nee... Kita sudah tiba di depan kantornya. Ayo..."
"Iya."
Viltus dan Taihou langsung berkeringat dingin mendengar suara tersebut. Orang pertama yang mereka perhatikan adalah Anastasia. Dapat terlihat jelas Anastasia sedikit teralihkan oleh Hatsuzuki. Viltus berbisik kepada Taihou,
"Ini... Gawat..."
"Aku tahu..."
"Jika mereka masuk..."
"Uuuuhhh..."
Ketukan pintu terdengar, dan pintu yang terbuka juga terdengar. Anastasia memperhatikan ke arah pintu dan tatapannya menjadi kosong. Zuikaku yang masuk lebih dahulu, melihat Anastasia, Magyar dan Viltus langsung berkeringat dingin. Anastasia langsung berdiri dan berkata,
"Kau..."
"Aduh... Mati aku..." ujar Zuikaku berkeringat dingin
"Aku... Akan menghabisi dirimu ! Atas semua vodka itu !"
Viltus langsung memerintahkan Magyar,
"Magyar ! Kode Merah !"
"Tidak perlu kau beritahu aku sudah tahu, mengerti !"
Anastasia langsung menerjang ke arah Zuikaku. Zuikaku yang ketakutan langsung berlari ke arah belakang dan menabrak Shoukaku. Furutaka dan Kako terdiam melihat hal tersebut. Viltus langsung berdiri dari kursinya, dan mengambil pistol dengan isi peluru bius. Magyar melompat ke arah Anastasia. Itu merupakan adegan pertama.
Magyar menangkap Anastasia dan mendorong Anastasia hingga menabrak dinding. Zuikaku langsung memeluk Shoukaku dengan wajah ngeri. Viltus langsung mengarahkan pistolnya, sembari memegang wajahnya karena merasa ngilu dengan suara tabrakan tersebut. Akizuki, Teruzuki dan Hatsuzuki langsung berkumpul di dekat Taihou dan Ryuujou. Ini merupakan adegan kedua.
Dan adegan terakhir adalah Viltus menembakkan peluru dan mengenai lengan dari Anastasia. Furutaka langsung berkata,
"Kau baru saja..."
"Itu peluru bius... Aku gunakan jika keadaan gawat seperti ini..." ujar Viltus
"Eh..."
"Dengar... Anastasia mengamuk... Itu mimpi buruk... Untuk menghentikan beruang... Harus dengan bius... Benar ?"
Semuanya sama sekali tidak dapat menjawab pertanyaan tersebut. Viltus langsung menghela nafas, dan kemudian menaruh pistol tersebut. Ia kemudian berjalan dan memeriksa denyut nadi dari Anastasia. Setelah yakin masih terasa, ia langsung mengangkat Anastasia dan membiarkan Anastasia tertidur di atas sofa, setelah Furutaka dan Kako berdiri.
Viltus kemudian berkata,
"Maafkan kami menunjukkan kejadian seperti itu."
"Ah... Ti... Tidak apa-apa..." ujar Zuikaku.
"Jadi... Dapatkah kalian berdua memperkenalkan diri kalian ?"
Tepat sebelum Zuikaku dan Shoukaku memperkenalkan diri mereka, Elisa masuk ke dalam kantor Viltus. Ia langsung berkata,
"Wah... Jadi ini divisi barumu... Dan... Kenapa Anastasia-san..."
Viltus langsung menunjuk ke arah Zuikaku dan langsung mendapat anggukan dari Elisa. Viltus langsung mempersilahkan Zuikaku dan Shoukaku untuk memperkenalkan diri mereka.
Yang pertama memperkenalkan diri mereka adalah Shoukaku.
"Kapal Induk kelas Shoukaku yang pertama, Shoukaku. Melapor"
"Kapal Induk kelas Shoukaku yang kedua, Zuikaku."
Viltus melihat ke arah jam di dinding dan kemudian berkata,
"Sepertinya sudah tidak ada yang akan datang lagi kemari. Jadi, mari kita mulai berkenalan. Nama saya adalah Viltus Amarov, Laksamana yang bertanggung jawab atas kesalamatan kalian semua. Aku akan melakukan sebisaku untuk membawa kalian semua kembali, jadi aku harapkan kalian memberikan semaksimal mungkin. Dan satu hal, panggil saja diriku Viltus jika hanya kita semua di ruangan ini saja."
Semuanya mengangguk. Magyar langsung berdiri dan kemudian berkata,
"Namaku adalah Magyar Libyet. Panggil saja Magyar. Salah satu kru dari kapal komando milik Viltus. Aku bertugas di bagian radar. Aku akan berusaha sebisa mungkin memberitahukan lokasi pesawat lawan kepada kalian !"
"Petugas radar ?!" ujar Akizuki
"Jadi, tugas kalian akan sedikit berkurang dengan adanya diriku... Ehehehehehe"
Semuanya tersenyum melihat Magyar. Viltus kemudian berkata,
"Aku mewakili dia yang tertidur. Namanya adalah Anastasia Konoplyanka. Ia adalah petugas sonar di Kapal Komando untuk pertempuran dengan Kapal selam."
Semuanya mengangguk, dengan Zuikaku terlihat masih cukup ngeri dengan Anastasia. Dan yang terakhir adalah Elisa. Ia langsung maju dan berkata,
"Perkenalkan namaku adalah Elisa von Manstein. Aku adalah mekanik yang bertanggungjawab atas semua perlengkapan kalian. Jika kalian ada masalah dengan perlengkapan dan masalah hidup kalian, kalian dapat menemui diriku."
Semua Gadis Kapal langsung mengangguk. Taihou kemudian maju dan berkata,
"Perkenalkan Kapal Induk kelas Taihou yang pertama, Taihou. Saya adalah flagship di divisi ini perkenalkan."
"Dan juga merupakan kekasih dari Viltus ini... ehehehehehe..." ujar Elisa mendadak
Semuanya melihat ke arah Viltus dan Taihou yang tertawa saja. Kemudian, Ryuujou berdiri dan kemudian berkata,
"Perkenalkan. Kapal Induk Ringan kelas Ryuujou, Ryuujou. Salam kenal semuanya."
Semuanya mengangguk dengan hal tersebut. Viltus kemudian berkata,
"Sebelum kita melanjutkan, apakah kalian ada pertanyaan ? Aku yakin kalian pasti akan bertanya mengenai kami berdua."
Satu per satu mulai bertanya mengenai apa yang dipikirkan oleh Viltus dan Taihou. Mereka menjawabnya tanpa menutupi sama sekali. Hingga akhirnya, Viltus berkata,
"Baiklah... Aku akan menutup pertemuan kita sekarang. Aku hanya akan berharap kita semua dapat bekerja dengan baik dan menjadi satu sebagai sebuah tim. Mari kita tunjukkan kepada semua Abyssal apa yang dapat dilakukan oleh kita semua !"
Semuanya mengangguk dan atas aba-aba dari Viltus langsung berteriak yang cukup keras. Divisi baru dari Viltus terbentuk dan akan memulai misinya sebentar lagi.
HakunoKazuki di sini
Sungguh... Sebuah kehormatan salah satu karakter saya ada di karya lain. Jika penasaran, yang saya maksud adalah karya dari Lord Godzilla yang berjudul The Lionheart. Fufufufu penasaran saya apa yang akan Viltus lakukan di sana.
V : Apa maksudmu dengan hal itu ?!
HK : Bukan masalahmu... Sudah kembali tahan Anastasia bersama Magyar. Zuikaku ketakutan.
Jika ada penulis lain ingin meminjam karakter saya, kalian dapat PM saya. Ahahahahahaha
V : Kau... Menjual diriku...
HK : Tidak juga... Selama itu dapat membantu yang lain bukan masalah, benar ?
Selain itu, saya ingin memberitahukan bahwa ada setidaknya satu karakter saya yang sudah cukup lama masuk di cerita saya, yang sebenarnya merupakan karakter pinjaman. Dikarenakan kami memiliki satu rencana dengan karakter tersebut dan karakter saya, dia mengijinkannya.
H : Siapa, huh ?
HK : Hakai... Mengapa kau di sini ?!
H : Sudah jawab pertanyaanku, siapa ? Lagipula selama ini kau menaruh namaku dengan asterisk saja
HK : Nanti saja... Saya beritahu saja pengumuman itu sekarang
Dan saat ini saya akan cukup sulit untuk melakukan update dikarenakan sangat seringnya mati lampu di daerah saya yang berimbas dengan sering matinya koneksi internet. Ya satu paket matinya !
Ehem
Saya sendiri tidak menyangka seri ini akan sampai chapter 15... Deep Abyss sampai di chapter ini untuk penghujungnya.
H : Dengan ending yang abal-abal
HK : I know... I know...
H : Lagipula... Secara teknis ini seharusnya chapter 16
HK : Iye... Gw tahu... Cuma karena mulai dari chapter 0... So... Let it slide
V : Jangan-jangan aku dan Taihou akan... Mendapatkan ending abal-abal seperti...
HK : Tenang saja... Kalian aman... Kalian aman *smirk
Sudahlah. Saya hanya akan mengucapkan. Semoga kalian menikmati seri ini. Sampai jumpa di chapter berikutnya. Kami bertiga akan sangat senang jika kalian memberi review hingga chapter ini. Sehingga ada peningkatan di kemudian hari.
Terima kasih banyak.
Sayonara !
