Chapter 16
Feast
Taihou berjalan dengan wajah riang ke ruang kerja milik Viltus. Hari ini, Viltus seharusnya sudah kembali dari misinya bersama seluruh awak kapalnya dan semua Gadis Kapal kelas Kapal Perusak dan Kapal Penjelajah Ringan.
Namun, pada saat dirinya tiba di kantornya tidak ada siapapun. Ia melihat ke kiri dan kanan, berharap setidaknya Viltus memberikan kejutan kepada dirinya. Namun, tidak ada satu pun di sana. Ia langsung khawatir. Ia langsung berlari keluar dan pada saat itu, ia menabrak Magyar yang baru saja tiba.
Taihou yang melihat Magyar langsung bertanya kepada dirinya,
"Viltus... Viltus di mana ?"
"Dia... Hmmm..."
"Magyar-san..."
Magyar berpikir sebentar, dan mengingat-ingat sesuatu. Dan pada saat itu, Anastasia menepuk pundak Taihou dan berkata,
"Selamat pagi, Taihou."
"Ah... Anastasia-san... Apa kau melihat kemana perginya Viltus ?"
"Eh... Kau belum tahu ?"
"I...Iya..."
"Pada pertempuran sebelumnya, Akizuki dan Agano terluka parah."
"Eh..."
"Maka dari itu... Viltus memberikan laporan kepada atasan mengenai pertempuran tersebut."
"..."
"Dan sepertinya hari ini, ia menemui Elisa untuk membahas mengenai perbaikan mereka. Aku yakin dia akan dimarahi oleh Elisa karena hal tersebut."
Anastasia melihat ke arah Taihou dan melihat wajah yang sangat khawatir. Anastasia langsung menghela nafas dan kemudian berkata,
"Tenang saja. Tadi aku sempat bertemu dengan dirinya koq. Dia aman."
"Begitukah ?"
"Iya. Paling sedikit terlambat dari biasanya. Atau mungkin akan lebih lama lagi tergantung dari amarah Elisa."
"Ahahahahaha..."
Taihou membuat wajah orang yang lega, dan kemudian melihat ke arah Anastasia dan Magyar. Ia langsung berkata,
"Magyar... Anastasia... Apakah Viltus memberikan tugas kepada kalian ?"
Magyar dan Anastasia melihat satu sama lain, dan kemudian ingat sesuatu. Magyar langsung berkata,
"Aku ingat Viltus meminta kami untuk mencari Shigure, Yuudachi, dan Zuihou."
"Ah...Zuihou aku saja..." ujar Anastasia
"Tidak... Tidak boleh !" teriak Magyar sembari menyilangkan kedua tangannya.
"Eh... Kenapa ?" ujar Anastasia
"Karena... Kau akan membuat dirinya kabur !"
"Uuuhhh..."
"Maka dari itu, kau diminta untuk mencari Uzuki, Yayoi, Yura, Kinu, dan Aoba..."
"Tunggu... Aoba ?"
Pada saat mendengar nama 'Aoba', Anastasia langsung tertawa kecil. Mengingat itu, Magyar langsung berkata,
"Tunggu... Tunggu... Aoba aku saja."
"Eh ? Kenapa ?" tanya Anastasia dengan senyum palsu.
"Karena... Kau akan..."
"Akan apa ?" ujar Anastasia sekali lagi
"... Sudah, biar diriku saja yang mencari Aoba."
"Buuuu... Baiklah, jika itu maumu."
Magyar dan Anastasia seperti membicarakan sesuatu, hingga akhirnya Taihou bertanya,
"Ummm... Apa sih yang kalian bicarakan ?"
"Ah... Maaf... Maaf..." ujar Magyar
"Taihou-chan... Apakah kau ingat Viltus pernah berjanji untuk mentraktir makan dulu ?" ujar Anastasia
"Ah... Iya, aku ingat... Tapi, bukankah dia..." jawab Taihou dengan wajah sedikit khawatir
"Tenang saja. Sepertinya, semua ini dikarenakan dirinya sedikit lelah bekerja sehingga tidak membaca laporan paling penting... Dan dikarenakan hal tersebut, dia diminta untuk beristirahat oleh atasan dan ayahnya, itu hukuman dari atasan/" ujar Magyar.
"Tunggu sebentar... Darimana kau tahu itu ?" tanya Anastasia
"Bukankah... Viltus mengatakannya tadi ? Eh... Tunggu, tadi aku sendiri baru saja bertemu dengan dirinya." jawab Magyar
"Kapan ?!" ujar Anastasia
"Bukan masalahmu. Yang penting Viltus aman, benar ?"
"Iya." ujar Taihou sedikit tertawa.
"Sudahlah... Sebaiknya kita mencari mereka, semoga saja tidak ada yang sedang menjalankan misi hari ini."ujar Magyar
"Iya..." ujar Anastasia dengan wajah sedikit kecewa dengan Magyar.
Anastasia kemudian melihat ke arah Taihou. Ia langsung bertanya,
"Taihou, daripada kau menunggu di ruangan kosong sendirian, bagaimana jika ikut dengan diriku ?"
"Eh... Hmmm... Boleh saja. Aku yakin Viltus masih cukup lama..." ujar Taihou
"Baiklah. Kalau begitu, ayo kita cari mereka dan undang mereka."
"Siap."
Mereka bertiga pun berpencar.
Tiga jam berlalu. Di kantor Viltus.
Taihou duduk di sofa dan berbincang-bincang dengan Anastasia. Sementara itu, Magyar dan Ryuujou sedang menikmati angin yang berhembus masuk ke dalam kantor. Taihou mendadak berkata,
"Kita sudah berkeliling untuk memberitahukan acara tersebut... Selama TIGA jam... Tapi, Viltus..."
"Kau benar... Dia lama sekali..." ujar Anastasia
"Ummm... Memangnya Viltus ke mana ?" tanya Ryuujou
"Dia pergi menemui Elisa karena kejadian di operasi sebelumnya. Dapat dikatakan operasi gagal dirinya yang kedua." ujar Taihou
"Oh... Eh ? Ada yang tenggelam ?"
"Tidak... Tidak... Hanya saja Agano dan Akizuki cedera parah."
"Eh... Jika mereka cedera parah... Bukankah tidak dapat membuat acara untuk hari ini ?"
"Acaranya kan minggu depan."
"..."
"..."
"Ryuujou... Jangan bilang kau tidak tahu tanggalnya." ujar Taihou sembari melihat ke arah Magyar.
"Aku baru tahu ! Aku kira hari ini !" ujar Ryuujou
Ryuujou langsung melihat ke arah Magyar dengan wajah kesal. Magyar hanya tertawa kecil saja dan meminta maaf kepada Ryuujou mengenai hal tersebut. Taihou dan Anastasia hanya tertawa saja melihatnya.
Tidak berapa lama, pintu terbuka dan di sana berdiri Kako dan Furutaka. Furutaka langsung berkata,
"Maaf saya terlambat... Eh..."
"Viltus belum tiba... Dia masih ada urusan dengan Elisa." ujar Taihou
"Ah... Eh... Begitukah ? Jadi... Kami..."
"Lihat Furutaka... Tenang saja... Ihihihi." ujar Kako riang dan langsung masuk ke dalam kantor.
Furutaka tidak sempat menasihati Kako, dan langsung meminta maaf kepada Anastasia dan Magyar. Setelah itu, Furutaka masuk, sementara Kako langsung merebahkan diri di sofa yang lebih besar, dan langsung tertidur di sana. Setelah itu, Furutaka langsung mengikuti Taihou dan Anastasia yang sepertinya sedang berbagi informasi mengenai kisah cinta beberapa Gadis Kapal yang mereka ketahui.
Tidak berapa lama, Shoukaku dan Zuikaku pun tiba dan Zuikaku mendapat tatapan tajam dari Anastasia seperti biasanya. Dapat dimaklumi, vodka merupakan sesuatu yang sangat sakral bagi Anastasia, dan apa yang dilakukan oleh Zuikaku adalah dosa besar bagi Anastasia.
Setelah mendapat sedikit paksaan dari Taihou, akhirnya Zuikaku juga ikut dalam pembicaraan mereka. Bahkan, Magyar dan Ryuujou pun juga ikut. Yang saat ini paling ingin mereka dengarkan adalah Unryuu, Shiratsuyu, dan Fubuki. Ketiga Gadis Kapal itu merupakan yang paling dapat dirasakan oleh mayoritas orang di Yokosuka.
Mereka semua membuat berbagai kemungkinan untuk mereka bertiga. Terkadang ada yang setuju. Ada pula yang tidak. Yang paling mengejutkan adalah Magyar merupakan orang yang paling tahu kegiatan ketiga orang tersebut, dan ketiga Laksamananya. Semua Gadis Kapal, termasuk Anastasia melihat ke arah Magyar dengan wajah bertanya-tanya, bagaimana caranya Magyar mengetahui semua itu.
Dari membicarakan gosip mengenai ketiga orang tersebut, berubah menjadi interogasi kepada Magyar. Mereka mendera Magyar dengan berbagai pertanyaan, hingga akhirnya
"Aku kembali..." ujar Viltus dengan wajah ketakutan dan lelah.
Viltus langsung berjalan ke arah mejanya, dan duduk. Semuanya dapat melihat dari wajahnya bahwa dirinya sangat ngeri akan sesuatu. Taihou langsung berdiri dan menyambut Viltus,
"Selamat datang, Viltus."
"Ah... Halo... Taihou..."
"Ummm... Sepertinya kau..."
"Ingatkan aku..."
"Eh ?"
"Untuk membaca semuanya dengan teliti..."
"Ummm..."
"Dan juga ingatkan aku untuk tidur..."
"Kau belum..."
"Dan juga ingatkan aku untuk tidak gegabah..."
"... Kau siapa ?"
"Elisa... Elisa... Sangat menakutkan... Sangat..."
Viltus langsung merebahkan kepalanya di meja, dan terdengar ingin menangis. Taihou hanya menghela nafas saja dan mengelus kepala Viltus dengan pelan. Setelah itu yang terdengar adalah suara tangis dari Viltus.
Setelah cukup tenang, Viltus langsung menarik nafas panjang dan kemudian berkata,
"Maafkan aku... Menunjukkan sisi yang tadi..."
"Tidak apa-apa, Laksamana... Menurutku... Kau cukup berbeda pada saat menangis tadi." ujar Shoukaku.
"... Aku seperti apa tadi, Taihou ?"
"Mengenai itu... Ehehehehehe... Rahasia." ujar Taihou sembari menjulurkan lidah
Viltus langsung protes kepada Taihou, yang masih menyembunyikannya. Hingga akhirnya pintu terbuka dan di sana berdiri Yahagi, Noshiro, Teruzuki dan Hatsuzuki. Melihat mereka berempat, Viltus langsung menunduk dan kemudian berkata,
"Maafkan aku..."
"Tidak apa-apa... Aku tahu kau sedikit lelah karena tugas yang menumpuk..." ujar Teruzuki.
"Tapi... Tetap saja... Jika saja aku lebih hati-hati dan fokus..."
"Laksamana, kau jangan berkata seperti itu..." ujar Noshiro
"Tapi..."
Tanpa peringatan apapun, Taihou memukul kepala Viltus dengan pelan dan berkata,
"Mereka berkata itu tidak apa-apa... Jadi jangan menjadi beban."
"Tapi... Tapi..."
"Tidak ada tapi-tapi..."
"Uuuuhhh..."
"Sudahlah... Mumpung mereka semua sudah di sini, bagaimana jika kau mengajak mereka ?"
Viltus langsung ingat dan berdiri dari kursinya. Ia menarik nafas panjang, dan kemudian berkata,
"Ya... Ini mungkin bukan waktu yang tepat untuk mengajak kalian, namun apakah kalian dapat hadir untuk acara makan malam satu divisi minggu depan ?"
"Acara yang biasa kau adakan setiap malam itu ?" ujar Yahagi
"Bukan... Ini acara yang berbeda. Hanya kita saja. Ditambah anggota divisi yang lama."
"Aoba ikut ?" tanya Furutaka
"Magyar ?" tanya Viltus kepada Magyar
"Ia berkata ia akan hadir ke acara itu. Tenang saja." ujar Magyar
"Jika kau berkata demikian." ujar Furutaka
"Dan mungkin acara ini juga sebagai permintaan maafku kepada kalian semua." ujar Viltus sembari menunduk
Noshiro dan Yahagi melihat satu sama lain, dan kemudian Yahagi berkata,
"Jika Laksamana berkata demikian, maka kami akan menerimanya dengan tangan terbuka"
"Baguslah. Berarti minggu depan kita akan makan bersama !"
Semuanya mengangguk mendengar itu semua.
Satu minggu berlalu. Agano dan Akizuki sudah pulih benar, dan Viltus sendiri sudah kembali beraktifitas setelah libur satu minggu.
Malam itu, mereka semua ditambah Elisa berjalan ke salah satu kedai di Yokosuka. Mereka masuk dan memesan meja untuk mereka semua.
Setelah duduk, Viltus langsung berkata,
"Kalian semua dapat memesan sesuka kalian. Jangan tanggung-tang..."
Viltus melihat wajah Magyar, Anastasia, dan Elisa yang tersenyum lebar ke arah dirinya. Viltus langsung sadar, ketiga orang tersebut akan menguras semua uang ia miliki saat ini. Ia ingin mengganti apa yang baru saja ia katakan, namun pada saat melihat semua Gadis Kapalnya semuanya menunjukkan wajah yang sangat ceria.
Ia langsung menyerah dan berkata,
"Kalian tidak perlu memikirkannya... Pesan saja apa yang ingin kalian makan."
Semuanya langsung mengangguk dan kemudian membaca menu yang tersedia. Setelah tiga puluh menit berlalu, Viltus merasakan bajunya ditarik oleh Taihou. Ia melihat ke arah Taihou dan berkata,
"Ada apa ? Kau sudah ingin memesan ?"
"Bukan... Bukan itu..."
"Lalu ?"
"Itu... Kau coba dengar deh..."
"Huh ?"
Viltus melihat Taihou menunjuk ke arah kelompok Akizuki, Teruzuki dan Hatsuzuki. Viltus memfokuskan diri untuk mendengar mereka bertiga. Dan inilah yang didengar oleh Viltus,
"Makanan ini sepertinya cukup enak, Akizuki-nee..." ujar Teruzuki
"Yang ini... sama..." ujar Hatsuzuki pelan
"Yang ini menggunakan daging ?! Wah..." ujar Teruzuki lagi.
"Aduh... Aku bingung mau yang mana... Kalian mau yang mana ?" ujar Akizuki
"Aku ikut dirimu saja." ujar Hatsuzuki
"Bagaimana jika kita berbagi saja." ujar Teruzuki yang mendapat anggukan dari Akizuki dan Hatsuzuki.
Mendengar percakapan itu, Viltus kehilangan kata-kata. Ia berusaha menelaah apa yang baru saja ia dengar, dan kemudian melihat ke arah Taihou. Taihou hanya menggaruk-garuk kepalanya saja, dan pada saat itu Viltus berkomentar,
"Setelah ini... Aku akan mendatangi bagian kantin dan Houshou... Mengapa mereka seperti itu !"
Viltus menarik nafas panjang, dan kemudian berkata,
"Ummm... Akizuki..."
"Ah... Iya, Laksamana ?"
"Kalian dapat memesan untuk diri masing-masing."
"Eh ? Kami boleh ?"
"Iya. Bukankah tadi aku sudah berkata kalian bebas memesan masakan ?"
"Begitukah ? Terima kasih banyak, Laksamana."
Setelah itu, Akizuki, Teruzuki dan Hatsuzuki kembali melihat ke arah menu dan terlihat sangat bahagia. Viltus langsung tersenyum melihat mereka bertiga. Mendadak Aoba berkata,
"Wah... Wah... Menunjukkan sisi sebagai ayah yang baik, ya ?"
"Ini hanya ucapan maafku kepada Akizuki..."
"Oh... Tapi, kau sangat baik mengerti."
"Terserah apa katamu."
"Fufufufufu... Apa jadinya jika semua Gadis Kapal mendengar apa yang baru saja kau lakukan, ya ?"
"Sebaiknya kau jangan melakukannya..."
"Kenapa ? Kau tidak dapat menahan Aoba untuk..."
"Dan aku tidak dapat menahan Anastasia selamanya."
Aoba terdiam sebentar, dan langsung melirik ke arah Anastasia yang sibuk membaca menu. Ia langsung berkata,
"Kau menang..."
"Tentu saja. Aku memiliki kartu untuk menghadapi dirimu."
"Haah... Apa boleh buat."
"Daripada itu, bagaimana di divisi barumu ? Kau bersama siapa ?"
"Aoba cukup senang dengan Laksamana baruku. Dia sepertinya sangat terpengaruh dengan kebiasaan dirimu."
"Ahahahahaha... Pantas saja kau tidak pernah berkunjung ke kantorku."
"Kalau itu... Ada alasan lain sih..."
"Alasan ? Alasan a..."
Viltus terdiam sebentar dan mengingat kejadian pada saat pertama kali divisi barunya berkumpul. Aoba yang merasakan dirinya salah berbicara, langsung bermaksud pamit. Namun, dirinya ditahan oleh Viltus yang berkata,
"Aoba..."
"Ada apa... Viltus-san..."
"Apa yang kau sebarkan di antara para Gadis Kapal ?"
"Ti... Tidak ada..."
"Lalu kenapa mereka semua menyebutku 'Iblis', ya ?"
"..."
"Aoba ?"
Aoba langsung memalingkan wajahnya dari Viltus yang tersenyum sadis. Aoba langsung memberikan berbagai alasan kepada Viltus. Namun, Viltus masih tersenyum.
Jika saja Taihou tidak menyadari lebih cepat, pasti Aoba masih diinterogasi oleh Viltus.
Taihou langsung menuangkan sake ke wadah milik Viltus dan berkata,
"Sudahlah... Jangan menginterogasi Aoba terus."
"Iya... Iya..."
"Daripada itu... Kau sepertinya belum memesan apapun."
"Aku menunggu yang lain memesan dahulu. Siapa yang sudah memesan makanan ?"
"Aku sudah. Aku memesan Unadon ditambah dengan Karaage dan Miso."
"..."
"A... Ada apa ?"
"Kau yakin kau akan kenyang dengan itu semua ?"
"I... Iya..."
"Kau sepertinya tidak yakin..."
"Aku... Yakin !"
Viltus melihat wajah Taihou yang sedikit memerah. Ia langsung berkata dengan pelan,
"Sedang diet, ya..."
"Argh..."
"Sepertinya tepat sasaran..."
"Ahahahaha..."
"Menurutku... Kau tidak terlalu gemuk."
"Tapi..."
Viltus langsung mencubit pipi dari Taihou dan berkata,
"Kau tidak perlu khawatir mengenai tubuhmu, mengerti ?"
"Ba... Baik..."
"Tapi, kenapa kau mendadak ingin melakukan diet ?"
"Itu... Ummm..."
Taihou langsung mendekati telinga dari Viltus dan membisikkan sesuatu. Setelah itu, Viltus berkata pelan,
"Agano ?"
"Iya..."
"Dia kan..."
Viltus diam sebentar dan melihat Agano. Makanan yang ia pesan sudah tiba, dan di sana terdapat cukup banyak makanan gorengan dan beberapa makanan manis. Viltus membuat wajah sedikit tertawa dan kemudian berkata,
"Agano sih lain kasus... Dia memang sedikit... ummm... gemuk..."
"Maka dari itu..."
"Aku sih tidak masalah... Bagiku kau tetap cantik, koq... Taihou..."
"Vi... Viltus..."
Wajah Taihou langsung memerah mendengar itu. Ia memukul-mukul pelan Viltus, yang langsung mendapat balasan tawa dari Viltus. Agano, Noshiro dan Yahagi melihat ke Viltus dan Taihou dengan wajah heran. Agano langsung bertanya,
"Ada apa, Laksamana ? Tadi Agano lihat, Laksamana melirik ke arah Agano."
"Ah... Tidak... Tidak... Tidak ada apa-apa." ujar Viltus sedikit melirik kearah Taihou.
"Daripada itu... Hei... Hei... Laksamana..."
"Uh... Ada apa Agano ?"
"Mengapa kau menyukai Taihou ?"
"Huh ?"
"Agano-nee... Kau tidak boleh mendadak bertanya hal seperti itu..." ujar Noshiro sedikit panik.
"Tidak boleh ?" ujar Agano dengan wajah polos.
"Ahahahaha... Tidak apa-apa... Aku dengan senang hati menjawabnya." ujar Viltus
"Eh... Begitukah ? Bagaimana ceritanya kau dapat jatuh cinta kepada Taihou ?"
Viltus tersenyum sebentar, dan kemudian menceritakan semuanya. Dari mereka pertama kali bertemu dan bertengkar hebat langsung. Mendengar itu, Taihou langsung merah dan protes ke arah Viltus. Dan sembari mendengar protes dari Taihou, Viltus terus menceritakannya. Agano akhirnya bertanya kembali,
"Lalu... Apa yang membuatmu benar-benar jatuh cinta kepada Taihou ?"
"Hmmm... Itu mudah..."
"Apa itu ?" ujar Taihou dengan wajah penasaran.
"Akhirnya kau penasaran juga." ujar Viltus
"Habis..."
"Itu adalah wajahmu... dan kepribadianmu... Tapi, lebih ke wajahmu."
Taihou langsung merah karena Viltus memperhatikan Taihou menerus. Agano langsung mengangguk mendengar itu. Viltus kemudian berkata,
"Namun... Ada alasan lain, sih..."
"Eh ? Apa itu ?" tanya Noshiro yang juga penasaran
"Rahasia." ujar Viltus
"Eh... Apa itu ?" ujar Agano
Viltus hanya diam saja dengan memberi senyum. Taihou sudah tahu jawabannya dan memilih untuk diam saja. Agano langsung berkata,
"Enaknya ya... Yang sudah punya pasangan... Sama seperti Ryuujou."
"Eh ? Ryuujou ?!" ujar Taihou dan Viltus bersama-sama.
"Iya."
"..."
"Daripada itu... Aku dengar dari seseorang... Kalian sudah melakukan *** atau ****... dan *******. Lalu..."
Mendengar itu, Noshiro dan Yahagi menepuk wajahnya masing-masing, dan Viltus langsung menutup mulut dari Agano dan berkata,
"Jaga mulutmu... Ada anak kecil di sini."
"Ahahahahaha... Maaf... Maaf..."
"Dan untuk menjawab itu, belum..."
"Oh..."
"Dan jika boleh tahu... Siapa yang menyebar rumor itu ?"
Taihou langsung menyiapkan beberapa barang yang tergolong berbahaya. Agano dengan polosnya berkata,
"Aoba."
"Terima kasih banyak, Agano." ujar Viltus sembari melihat ke arah Aoba yang ketakutan karena mendengar hal tersebut.
"Yey... Noshiro, aku dipuji oleh Laksamana."
"Dan membawa korban..." ujar Noshiro
"Eh ?"
Pada saat mereka melihat ke sebelah mereka, Taihou dan Viltus sudah menghilang, begitu pula dengan Aoba. Yang mereka dengar berikutnya adalah teriakan dari Aoba. Semua di dalam kedai itu membuat tanda semoga selamat kepada Aoba.
Viltus sudah kembali, dan kemudian melihat ke arah ketiga krunya. Ia langsung berkata,
"Kalian jangan bicarakan hal tadi."
"Tenang saja. Kami mengerti." ujar Magyar.
"Daripada itu... Apakah kalian sudah memesan sesuatu ?"
Pada saat Viltus melihat ke pelayan di kedai tersebut, dia terlihat sedikit bingung. Viltus langsung bertanya,
"Apa yang kalian pesan ? Pasti sekitar Kare..."
"Tentu saja... Goulash, ditambah dengan Szüz tekercsek dan hidangan penutup Flódni." ujar Magyar.(*Jika tidak tahu silakan dicari)
"Huh ?"
"Aku tidak ingin terlalu berat, maka dari itu aku meminta Okroshka ditambah dengan Rassolnik dan Sbiten." ujar Anastasia
"Huh ? Huh ?"
"Aku memesan Tafelspitz... Memang sih agak sulit... Selain itu aku juga memesan Erdäpfelsuppe, ditambah dengan Sachertorte dan segelas Bir." ujar Elisa
"Kalian ini... Apakah kalian kangen dengan makanan kampung halaman kalian ?"
"Iya." ujar mereka bertiga bersama-sama.
"Di sini tidak menjual hal tersebut..."
"Eh ? Begitukah ?" ujar Elisa sedikit kecewa
"Kalian pesan makanan biasa saja di sini... Sebagai gantinya minggu depan aku akan memasak untuk kalian bertiga."
"Eh ?!" ujar mereka bertiga bersama-sama.
Viltus tersenyum dan mengangguk. Mereka bertiga langsung mengangguk dan memesan pesanan lain, dan langsung dimasukkan ke pesanan. Akhirnya, pelayan mendekati Viltus dan bertanya,
"Anda ingin memesan apa ?"
"Hmmm... Aku sudah cukup lama tidak memakan ramen. Aku pesan satu."
"Ada lagi ?"
"Tidak. Itu saja."
"Baiklah."
"Ah... Apakah ada Vodka di sini ?"
"Maaf... Tidak ada."
"Kalau begitu, ditambah sake dan yakitori sekalian."
"Baiklah."
Setelah itu, pesanan dari semuanya sudah tersedia dan semuanya memakan makanan tersebut dengan tenang. Setelah makan, mereka berbincang-bincang mengenai banyak hal. Dan acara tersebut diakhiri dengan permintaan dari anggota divisi lama kepada anggota divisi baru untuk menjaga Viltu dan semua krunya.
Setelah satu per satu kembali, Viltus berdiri dan berjalan bersama dengan Taihou dan semua anggota krunya, termasuk Ryuujou. Selama perjalanan ke asrama Gadis Kapal, Viltus dan Taihou menginterogasi Ryuujou dan Magyar mengenai hubungan mereka.
Mendapat berbagai penolakan dari pihak terkait, mereka mengganti pembicaraan menjadi pembicaraan yang jauh lebih ringan. Magyar kemudian berkata,
"Daripada itu... Besok kita akan menjalankan operasi seperti biasa..."
"Dan dokumen." ujar Viltus
"Kau benar... Ahahahahaha."
"Jadi, aku harap kalian semua bekerja dengan giat."
"Baik !" ujar Magyar dan Anastasia.
Viltus hanya tersenyum saja. Mereka berjalan dan melewati hutan. Dan pada saat mendekati asrama Gadis Kapal, Viltus merasakan sesuatu yang sangat aneh. Angin seperti tidak bergerak. Ia juga melihat kelelawar yang sama sekali tidak bergerak. Semuanya sama sekali tidak bergerak.
Dan pada saat itu, ia mendengar suara seseorang yang berjalan mendekat. Pada saat ia melihat ke belakang, ia melihat seorang pria dengan rambut putih, dan mengenakan sebuah penutup mata. Ia tersenyum ke arah Viltus dan berkata,
"Sampai kapan kau akan bermain-main seperti itu ?"
"Suara ini... Kau..."
"Hei... Apakah kau tidak mendengarku ? Mengapa juga kau tidak berbicara kembali dengan diriku ?"
"Aku tidak membutuhkan dirimu. Aku... Memiliki alasan hidupku..."
"Alasan hidup ? Alasan hidupmu ada di sisi lain... Bukan di sini."
"Tidak... Alasan hidupku... Ada di depan mataku... Taihou... Dia..."
"Oh... ***** rupanya... Sepertinya ******* benar-benar mempermainkan kepalamu..."
"Huh ? Aku tidak dapat mendengar apa yang..."
"Sangat disayangkan kau sama sekali tidak mengingat *****, maupun *********..."
"Apa maksudmu ?!"
"Mungkin ini terlalu cepat... Untuk apa aku memberitahukan sesuatu untuk seseorang yang masih bingung... Tidak menarik..."
"Tunggu... Siapa dirimu ? Kau itu apa ?"
"Namaku ? Aku tidak akan memberitahumu... Namun, aku adalah 'dewa' yang memperhatikan seluruhnya."
"Kau..."
"Sepertinya hanya sampai di sini saja... Mungkin... Kita dapat bertemu kembali di satu waktu... Sampai jumpa... Hakuno Kazuki..."
"Tunggu !"
"Wanita itu... Sudah tidak sabar... Dia akan bertindak gegabah dalam waktu dekat... Mampukah kau menahannya ?"
"Tunggu... Jawab pertanyaanku ?!"
"Sampai jumpa lagi... Ahahahahahaha..."
Setelah itu, semuanya menjadi gelap.
Pada saat Viltus membuka matanya kembali, ia melihat wajah Taihou yang sangat khawatir. Selain itu, Elisa, Magyar, Anastasia, Ryuujou dan dua penjaga juga mengelilingi dirinya. Taihou langsung berkata,
"Viltus... Bangun..."
"Taihou ?"
"Kau... Baik-baik saja ?"
"Entahlah..."
Taihou langsung memeluk Viltus. Viltus dapat mendengar suara Taihou yang khawatir sekaligus lega. Pada saat itu, Elisa langsung bertanya,
"Kau..."
"Ada apa ?"
"Tadi kau pingsan... Aku tidak tahu kenapa..."
"Mungkin... Aku masih lelah..."
"Viltus..."
"Ada apa ?"
"Tidak... Tidak apa-apa... Sebaiknya kau kembali ke asrama saja. Magyar, bawa Viltus ke kamarnya."
"Aku dapat..."
"Tidak... Magyar, bawa dia."
"Siap..." ujar Magyar
Viltus langsung dipapah oleh Magyar. Mereka berdua berjalan ke asrama Laksamana untuk beristirahat. Dan selama perjalan tersebut, Viltus bertanya-tanya siapakah orang yang tadi dia lihat sebelumnya dan apa tujuan sebenarnya. Namun, dikarenakan rasa kantuk yang menyerang dirinya ia tertidur setelah tiba di kamarnya.
HakunoKazuki di sini
Chapter terbaru sudah keluar... Yey
Karena tidak ada masalah dengan koneksi, semuanya lancar
Sebenarnya ingin mengeluarkan satu one shot... Tapi, tidak jadi karena beberapa faktor
Dan selama pembuatan chapter ini... Jadi lapar...
Sudahlah... Semoga kalian menikmati seri ini
Sampai jumpa di chapter selanjutnya.
