Chapter 17

Dream


Taihou berjalan dengan tenang ke kantor Viltus. Di dalam hati, ia cukup khawatir dengan kondisi Viltus. Tentu saja, setelah selesai acara yang diselenggarakan oleh Viltus beberapa hari yang lalu, Viltus pingsan di dekat asrama Gadis Kapal. Dan setelah itu, selama beberapa hari ini, kondisi kesehatan Viltus sangat mengkhawatirkan.

Wajah Viltus sangat pucat. Ia sangat sering kehilangan fokus. Pernah satu kali, ia muntah darah. Namun, yang paling sering adalah Viltus sering sekali tidak dapat menggerakkan bagian tubuhnya.

Walaupun demikian, Viltus selalu berkata untuk tidak mengkhawatirkan dirinya. Taihou dan semua anggota kru Viltus hanya dapat menghela nafas saja.

Taihou akhirnya tiba di depan pintu kantor Viltus. Ia bermaksud membuka pintu, dan mendengar suara seseorang yang terjatuh. Taihou yang mendengar itu langsung membuka pintu dan menemukan Viltus yang terkapar di lantai. Nafasnya sangat berat. Taihou langsung berlari ke dekat Viltus dan berkata,

"Viltus... Viltus..."

"..."

Taihou langsung memanggil bantuan, dan menemukan Magyar di sana. Mendengar itu, Magyar langsung berlari ke arah kantor. Ia langsung mengangkat Viltus dan membawanya ke atas sofa. Magyar langsung meluruskan kaki dari Viltus, sementara Taihou duduk dan membiarkan kepala Viltus di pangkuannya. Taihou berkata,

"Viltus... Sadarlah..."

"..."

"Viltus..."

"I...Ibu..."

"Eh ?"

"Ibu... Jangan... Tinggalkan..."

"Viltus..."

"Ibu !"

Viltus langsung tersadar. Dan pada saat itu, Taihou dan Magyar melihat kembali apa yang mereka lihat pada saat Viltus pingsan dahulu. Matanya berubah menjadi merah darah. Nafasnya sangat berat, dan ia berkeringat.

Pada saat Viltus melihat sekitar, ia melihat Taihou dan Magyar. Viltus langsung berkata,

"Taihou... Magyar..."

"Viltus... Kau..." ujar Taihou, yang langsung ditahan oleh Magyar.

"Kau sebaiknya beristirahat hari ini. Atau tidak kau bertemu dengan dokter." ujar Magyar

"Aku tahu... Aku sudah membuat janji dengan dokterku. Dia yang biasa mengecek kondisi tubuhku." ujar Viltus masih dalam kondisi tidur terlentang.

"Dokter pribadi ?" tanya Taihou

"Mungkin... Aku tidak tahu apakah orang itu memiliki pasien lain selain diriku atau tidak."

"Kapan kau akan bertemu dengan dirinya ?"

"Hari ini. Aku harus ke ruangan ayah dahulu."

"Eh ?"

"Yang mempertemukan diriku dengan dirinya adalah ayah. Ini karena kondisiku yang tidak stabil dulu. Terutama setelah kehilangan 'Ayah'ku."

"Begitukah ?"

Viltus mengangguk. Ia kemudian berusaha duduk, dan langsung dibantu Taihou. Ia menarik nafas panjang, dan kemudian berkata,

"Magyar... Beritahu semuanya bahwa hari ini tidak ada pertemuan divisi kita. Aku pergi untuk masalah kesehatan."

"Siap." ujar Magyar.

"Taihou... Dapatkah kau membantuku ke ruangan ayah ? Aku tidak yakin mampu berjalan ke sana."

"Baik..."

Taihou langsung membantu Viltus berdiri dan memapah dirinya untuk berjalan ke kantor Tadahisa.


Pagi itu, Tadahisa sedang mempersiapkan kedatangan dokter pribadi dari Viltus. Ia menarik nafas panjang, dan memperhatikan kalender. Ia langsung berkata,

"Semakin lama... Semakin sering tidak stabil... Apakah tubuhnya..."

Pikiran ia terganggu dengan suara dering telepon. Ia langsung mengangkat telepon dan berkata,

"Selamat pagi, Yanagi di sini..."

"Ayah..." ujar suara dari seberang telepon

"Ah... Shiro. Tumben sekali dirimu menghubungi diriku."

"Ahahahahaha... Sekali-kali aku menyapa ayahku."

"Hahahahaha... Bagaimana kabarmu di sana, putriku ?"

"Baik. Laksamana Ichijo mempersilahkan diriku untuk membangun gedung baru di sini. Namun, aku bingung kenapa satu gedung sama sekali tidak diijinkan oleh Laksamana Ichijo untuk dihancurkan."

"Gedung yang terletak di pinggir utara dari Markas Angkatan Laut Kure ?"

"Iya..."

"Itu dapat dimaklumkan... Karena..."

"Tempat itu merupakan tempat percobaan awal dari Abyssal dan Gadis Kapal."

"..."

"Ayah... Selama ini aku penasaran kenapa Viltus sangat sering sakit..."

"Shiro..."

"Aku menemukan sesuatu dari data di dalam gedung itu."

"Shiro, apakah kau masuk ke dalam gedung itu tanpa ijin ?"

"Tentu saja. Aku sama sekali tidak diberitahu apa alasan aku ditolak oleh Laksamana Ichijo, sehingga aku masuk ke dalam sana."

"Shiro..."

"Dan di sana aku melihat data mengenai Viltus yang..."

"SHIRO !"

Shiro terkejut mendengar ayahnya membentak dirinya. Tadahisa langsung menarik nafas panjang dan langsung berkata,

"Shiro... Maafkan ayah membentak dirimu."

"I... Iya..."

"Namun, ada alasan kenapa ayah tidak memberitahu Viltus mengenai hal ini."

"Kenapa ?"

"Demi keselamatan dirimu juga."

"Eh ?"

"Maka dari itu, jangan mengangkat permasalahan ini kembali. Kau kembali saja ke pembangunan Kure."

"Tapi, kenapa ?"

"Jika waktunya sudah tiba, aku akan memberitahu dirimu."

"Ayah !"

"Jangan angkat masalah ini atau mencarinya. Jika waktunya tiba, aku akan memberitahu dirimu. Atau mungkin Viltus sendiri yang akan memberitahu dirimu."

"..."

"Shiro ?"

"Baiklah... Jika ayah berkata demikian."

"Baguslah..."

"Kalau begitu, aku mohon undur diri. Laksamana Ichijo sepertinya sudah menunggu diriku."

"Silakan. Laksamana Ichijo bukanlah orang yang dapat bersabar."

Tadahisa langsung menutup telepon, dan menghela nafas saja. Sungguh pagi yang berat bagi Tadahisa.


Tidak berapa lama, Tadahisa mendengar ketukan pintu. Pada saat pintu terbuka, ia melihat Viltus dan Taihou di ambang pintu. Tadahisa langsung berjalan dan membantu Taihou memapah Viltus ke kursi di ruangan Tadahisa.

Tadahisa langsung bertanya kepada Taihou,

"Apa yang terjadi di kantornya tadi ?"

"Dia... Pingsan..."

"Apakah tubuhnya panas ?"

"Iya."

Tadahisa langsung berjalan ke dekat Viltus dan memegang kening Viltus. Ia langsung berkata,

"Ia cukup panas..."

"Ummm..."

"Taihou, dapatkah kau meninggalkan kami sendiri ?"

"Eh ?"

"Aku tahu kau khawatir... Namun, ini adalah masalah keluarga. Jadi, saya mohon untuk dirimu keluar sekarang."

"Tapi..."

"Tenang saja... Viltus pasti akan sembuh."

"Ba... Baik..."

Taihou melihat kembali ke arah Viltus dan memegang wajahnya. Viltus memaksakan diri untuk tersenyum kepada Taihou, yang langsung mendapat balasan senyum dari Taihou.

Setelah Taihou keluar, Tadahisa langsung bertanya,

"Viltus... Apa saja yang terjadi selama ini ?"

"Jika aku hitung... Semenjak acara yang kuselenggarakan dengan divisiku... Aku sudah pingsan tiga kali, jika aku tidak salah ingat..."

"Apa yang kau rasakan sebelum itu ?"

"Kepalaku seperti berputar... Berputar sangat hebat."

"Seperti biasa, ya ?"

"Iya... Namun, ini jauh lebih parah..."

Tadahisa melihat ke arah Viltus dan langsung mengelus kepalanya dengan langsung berkata,

"Wajahmu juga jauh lebih pucat dari biasanya..."

"Begitukah ?"

"Viltus... Apa yang kau pikirkan ?"

"..."

"Viltus ?"

"Aku... Bermimpi itu lagi..."

"Ibumu dan adikmu..."

"Iya..."

"Apakah kau dapat mengingat wajah mereka ?"

Viltus langsung menggelengkan kepalanya. Tadahisa langsung terdiam melihat jawaban dari Viltus. Ia langsung bertanya kembali,

"Selain itu ?"

"Akhir-akhir ini... Aku cepat lelah... Sangat lelah..."

"Dan tanganmu ?"

"Sulit digerakkan..."

Tadahisa langsung memegang tangan Viltus, dan ia melihat wajah Viltus yang sedikit meringis kesakitan pada saat Tadahisa menggerakkan tangan Viltus. Tadahisa langsung mengangguk. Dan pada saat Tadahisa akan berjalan ke arah mejanya, Viltus mendadak bertanya,

"Ayah..."

"Ada apa, Viltus ?"

"Apakah di Yokosuka ini... Ada seseorang yang berambut putih selain diriku dan Anastasia ?"

"Tidak..."

"Mungkin lebih tepatnya... Seseorang dengan penutup mata mungkin ?"

"Tidak... Tidak ada..."

"Begitu..."

"..."

"Sepertinya aku berhalusinasi parah..."

"Sepertinya itu efek dari penyakitmu..."

"Mungkin saja..."

Tadahisa langsung mengambil segelas air putih, dan ia berikan kepada Viltus. Viltus menerimanya dan langsung meminumnya. Ia langsung menghela nafas dan berkata,

"Apakah... Aku dapat sembuh dari penyakit ini ?"

"Mungkin saja..."

"Baru mungkin..."

"Aku tidak tahu... Selama ini dokter Shibata tidak memberitahukan aku apapun..."

"Begitu ya..."

"Ngomong-ngomong mengenai dokter Shibata, tumben sekali dia belum hadir."

Dokter Shibata Norio merupakan dokter pribadi Viltus selama ia diasuh dan tinggal di keluarga Yanagi. Selama ini, Viltus sama sekali tidak mengetahui asal muasal dari Norio, maupun latar belakangnya. Norio sudah dipilih semenjak awal.

Tadahisa melihat ke arah pintu kantornya, dan kemudian melihat ke arah jam dinding. Waktu menunjukkan sudah mendekati pukul dua belas siang. Tadahisa kembali berbincang-bincang dengan Viltus, dan mendadak mereka mendengar suara Taihou dari luar. Tadahisa langsung berjalan ke pintu dan berkata,

"Taihou, aku sudah..."

"Ummm... Aku membawa makan siang untuk Viltus..."

"Eh ?"

Tadahisa langsung membuka pintu, dan melihat Taihou yang membawa nampan makanan. Tadahisa langsung tersenyum dan berkata,

"Maafkan aku... Aku lupa sudah hampir jam makan siang."

"A... Aku akan pergi sekarang..."

"Tidak... Tidak... Sebaiknya kau membantu pasanganmu itu makan..."

"Ummm..."

"Tidak apa-apa..."

Taihou langsung menunduk dan berjalan ke arah Viltus. Tadahisa melihat kembali wajah dari Taihou, dan ia semakin mengigit bibir bawahnya. Ia bergumam pelan,

"Maafkan... Aku..."

"Ayah tadi berkata apa ?" tanya Viltus mendadak.

"Ah... Tidak... Tidak... Sudah, nikmati waktu kalian berdua saja. Aku tidak akan menganggu."

"Ayah !" ujar Viltus dengan wajah merah.

Tadahisa langsung berjalan keluar menuju ke kantin untuk makan siang.


Tadahisa berjalan kembali setelah makan, dan memperhatikan Viltus yang tertidur dengan menggunakan paha Taihou sebagai sandaran. Namun, ia dapat melihat tangan Viltus yang menggenggam tangan Taihou dengan keras. Ia takut. Ia dikejar oleh masa lalunya di dalam mimpi. Sesuatu yang sering terjadi setiap tahun semenjak kehilangan ibunya.

Tadahisa langsung masuk dan berkata,

"Taihou..."

"Ah... Laksamana..."

"Apakah dia tadi makan dengan benar ?"

"I... Iya..."

"Sepertinya ada yang kau sembunyikan ? Apakah itu ?"

"Ummm..."

"Tidak apa-apa... Dia tertidur pulas..."

"Tadi... Dia... Bercerita mengenai penyakitnya..."

"Oh..."

"Apakah dia selalu seperti itu ?"

"Dapat dikatakan seperti itu... Hampir setiap tahun... Dan interval pada umumnya satu tahun, namun sekarang jauh lebih cepat..."

"Begitukah..."

"Salah satu yang menjadi permasalahan adalah... Jika dia sudah mulai menunjukkan tanda-tanda seperti itu... Emosi dia sering tidak stabil."

"Seperti yang Shigure ceritakan..."

Tadahisa melihat wajah Taihou yang sangat khawatir. Ia langsung mengelus kepala Taihou dan berkata,

"Tenang saja... Dia pasti akan baik-baik saja besok..."

"Tapi... nanti dia..."

"Aku tahu..."

"Apakah ada kemungkinan bagi dirinya untuk sehat kembali ?"

"Aku tidak tahu..."

Taihou langsung melihat ke arah Viltus dan mengelus kepalanya dengan tangannya yang bebas. Mereka mendadak mendengar Viltus berkata,

"I... Ibu... Ja... Jangan... Pergi..."

Taihou langsung berbisik kepada Viltus,

"Viltus... tenang saja... semuanya... ada... di sini..."

Viltus mendadak terbangun dan melihat Taihou dan Tadahisa. Ia langsung duduk dan memegang wajahnya. Ia kemudian berkata,

"Ayah... Taihou... Berapa lama aku..."

"Entahlah... Yang mengetahuinya hanya Taihou saja." jawab Tadahisa

"Begitu..."

"Tumben dokter Shibata... Eh..."

Mereka bertiga mendengar ketukan di pintu kantor. Tadahisa langsung berjalan ke arah pintu dan membukanya. Tadahisa langsung berkata,

"Akhirnya anda datang juga..."

"Maafkan saya. Saya tadi masih memiliki sedikit pekerjaan sehingga datang terlambat."

"Tidak apa-apa... Silakan masuk."

Seorang pria yang memiliki rambut coklat pendek, mengenakan kacamata dan mengenakan celana panjang hitam dan kemeja hitam diiringi dengan jubah lab, masuk ke dalam ruangan tersebut. Taihou yang melihat itu langsung berdiri dan menyambut pria tersebut. Melihat Taihou, pria tersebut diam sebentar dan langsung tersenyum. Ia kemudian berkata,

"Saya yakin... Anda adalah Taihou, salah satu Gadis Kapal... Benar ?"

"Ah... Iya. Anda benar."

"Ahahahaha... Maafkan saya, nama saya adalah Shibata Norio. Saya adalah dokter pribadi bagi Viltus. Salam kenal."

"Ah... Salam kenal..."

Taihou menjabat tangan dari Norio, pria tersebut. Norio tahu, Taihou sepertinya berusaha mengingat sesuatu. Maka dari itu, Norio bertanya,

"Ada apa, Taihou ?"

"Ah... Aku sepertinya pernah mendengar namamu dan melihat dirimu... Tapi, aku lupa..."

"Ahahahahaha... Kau tidak perlu khawatir... Aku merupakan salah satu dokter terkenal di daerah ini... Dan mungkin kau melihatku lewat beberapa kali, karena umumnya pasienku ada di dalam markas angkatan laut ini."

"Begitukah..."

"Iya. Jadi tenang saja."

"..."

"Daripada itu... Di manakan pasanganmu ?"

"Eh ?!"

Taihou sangat terkejut dan wajahnya langsung memerah. Norio langsung tertawa dan berkata,

"Tentu saja aku tahu... Berita itu sudah tersebar di seantero Yokosuka..."

"Uuuuhhh..."

"Dan aku sudah mengetahuinya dari dulu..."

"Eh ?"

"Ah... Tidak... Tidak... Jadi di mana Viltus ?"

"Dia ada di sana."

Norio melihat Viltus yang terduduk lemah, dan ia melihat warna matanya yang sedikit berubah. Menjadi campuran warna biru dan merah. Selain itu, ia dapat melihat kesadaran Viltus sedikit menghilang. Norio langsung berjalan ke dekat Viltus, mengambil kursi dan duduk di depan Viltus. Norio kemudian berkata,

"Viltus..."

"..."

"Viltus... Kembali ke alam sadarmu..."

"Urgh..."

"Viltus !"

Norio langsung menjentikkan jarinya di depan wajah Viltus, dan dalam sekejap Viltus mulai tersadar kembali. Norio langsung berkata,

"Viltus..."

"Ah... Dokter Shibata..."

"Baguslah... Aku akan mulai pengecekan dasar dulu di sini..."

"Ba... Baik..."

"Taihou... Dapatkah dirimu keluar ?"

"Eh ?" jawab Taihou bingung

"Atau kau ingin melihat tubuh dari Viltus ini ?"

"Ah... Itu... Ummm..."

"Jadi, apakah anda dapat keluar ?"

"Ba... Baik..."

Taihou langsung keluar dari kantor Tadahisa. Setelah keluar, Norio langsung melakukan pengecekan tubuh dari Viltus. Dan pada saat itu, dapat terlihat jelas di tubuh Viltus terdapat cukup banyak bekas operasi. Di perutnya. Di dadanya. Sangat banyak. Norio mulai mengecek nafas dari Viltus setelah itu matanya.

Tadahisa melihat proses tersebut hanya diam saja. Norio kemudian bertanya,

"Terakhir kali kita bertemu... Bulan Februari kemarin, benar ?"

"Iya..."

"Berarti ini yang paling cepat dari semuanya."

"Tepat sekali..."

"Hmmm..."

"Ada apa ?"

"Tidak... Tidak apa-apa..."

"..."

"Baiklah... Kenakan kembali kemejamu. Kita akan berjalan menuju ruang kerjaku."

"Baik..."

Viltus langsung mengenakan kembali kemejanya, dan mengikuti Norio. Tadahisa pun mengikuti Norio dari belakang untuk membantu Norio jika akhirnya Viltus lepas kendali.


Viltus akhirnya tiba di dalam ruang kerja Norio. Ruangan tersebut sangat berantakan dan terdapat cukup banyak kabel. Selain itu, di sana juga terdapat banyak alat percobaan. Norio langsung berkata,

"Maaf berantakan..."

"Ini mah seperti biasanya. Jadi aku dapat memakluminya." ujar Viltus

"Ahahahahaha..."

Norio langsung mengambil beberapa alat percobaanya dan menaruhnya di meja lain. Ia langsung menepuk tempat tersebut dan berkata,

"Silakan... Kau merebahkan diri di meja ini."

"Baik..."

"Jangan lupa lepas kemejamu."

Viltus melepas kemejanya dan merebahkan diri di meja operasi di ruangan tersebut. Norio kemudian mengikat kedua tangan dan kaki dari Viltus, dan mengikatnya juga di daerah perut. Viltus langsung berkata,

"Sepertinya... Makin bertambah saja..."

"Aku khawatir kau akan menyerang diriku mengerti..."

"Aku tidak memegang pisau atau semacamnya dahulu."

"Iya... Kau benar... Tapi, ini untuk bersiap-siap saja."

Viltus langsung menghela nafas saja. Norio kemudian mengambil sebuah tabung dan kemudian berkata,

"Sekarang kau akan tertidur..."

"..."

"Kau tidak akan merasakan apapun selama pemeriksaan."

"Aku tahu..."

"Baguslah..."

"..."

"Kau akan..."

"Dokter..."

"Ada apa, Viltus ?"

"Apakah aku dapat sembuh ?"

"Aku tidak tahu... Hanya dirimu sajalah yang dapat mengerti."

"Baiklah..."

"Ada pertanyaan lain ?"

"Tidak ada."

"Baiklah. Kau akan tertidur, dan tersadar begitu semuanya selesai."

Norio langsung memberikan obat kepada Viltus, dan sedikit demi sedikit Viltus menutup matanya.


Aku... Kembali kemari

Gelap... Semuanya gelap

Tapi

Aku sangat tenang

Sampai kapan kau akan termakan mimpi ini lagi ?

Suara itu lagi...

Kau tidak dapat selamanya tertipu

Tertipu oleh apa ?

Semuanya... Mimpimu adalah kenyataan

Kenyataan ? Kenyataan yang pahit

Kau masih belum percaya... Maka mimpi itu akan menjadi mimpi burukmu


Viltus membuka mata, dan merasakan tubuhnya melayang. Tidak berapa lama, ia merasakan kakinya dapat menapak di tanah. Ia langsung memperhatikan sekitarnya. Semuanya gelap. Tidak berapa lama, ia mulai bergerak. Ia sama sekali tidak tahu kemana ia pergi. Dan pada saat itu, ia mendengar suara,

"Ayah !"

"Ahahahaha... ******, selamat datang..."

"Ehehehehehe..."

Viltus melihat ke depan, dan sedikit demi sedikit kegelapan itu menghilang. Dan di sana, ia melihat seseorang dengan rambut perak yang mengenakan pakaian peneliti, dan seorang anak kecil dengan rambut hitam. Ia dapat melihat mereka, namun setiap kali mendengar satu nama pasti sangat sulit untuk mendengarnya.

Anak kecil itu kemudian berkata,

"Ayah... Ini semua untuk apa ?"

"Ah... Ini untuk percobaan ayah."

"Oh... Besar sekali !"

"Iya... Ini diperlukan untuk melindungi semuanya."

"Semuanya ?"

"Iya... Dirimu, *****, dan Ibumu."

"Begitu... Tapi... Kenapa sangat mengerikan ?"

"Ayah bukan orang yang tepat untuk mendesain sesuatu. Ini yang dipikirkan oleh ayah mengenai bentuknya."

"Oh..."

"Dan suatu hari nanti... Ayah yakin dirimu akan memimpin mereka untuk melindungi seluruh dunia. Seperti janjimu kepada *********."

"Ayah dengar dari siapa ?!"

"Tentu saja dari dia..."

"Ayah !"

Setelah itu cahaya itu menghilang. Dan tidak berapa lama, cahaya kembali muncul di salah satu sisi. Namun, yang dirasakan adalah suasana yang sangat menyedihkan. Anak yang sama sedang memegang sebuah telepon. Dan pada saat itu, ia dapat mendengarnya,

"Ayah..."

"******... Ada apa ?"

"Kapan ayah pulang ?"

"Itu..."

"***** dan diriku sudah rindu pada ayah..."

"Maafkan ayah... Ayah tidak dapat kembali dalam waktu dekat."

"Apa... Apa karena aku membantu ayah waktu itu ?"

"..."

"Ayah ?"

"Setidaknya... Dirimu baik-baik saja..."

"Iya... Tadi aku melihat sesuatu yang ajaib... Mataku berubah menjadi merah. Sama seperti yang ayah buat."

"..."

"Ayah ?"

"******, dengarkan ayah... apapun yang terjadi mulai saat ini... Jangan mencari ayah..."

"Eh ?"

"Jaga ***** dan ibumu."

"Kenapa ?"

"Ayah... Tidak dapat menceritakan kepadamu... Ayah harus berbicara dengan seseorang..."

"Tapi..."

"******... Maafkan ayah... Dan ayah mencintai dirimu..."

"Ayah !"

*tut tut tut*

Viltus langsung berjalan tanpa memperhatikan cahaya itu kembali. Ia mulai berjalan, dan ia mulai merasakan sakit di kepalanya. Dan pada saat itu, ia melihat anak kecil tersebut juga berjalan di tengah kegelapan. Ia mendengar isak tangis dari anak kecil tersebut. Mendadak ia mendengar lolongan dari serigala, dan setelah itu semuanya kembali gelap.


Viltus kembali membuka matanya, dan melihat ke sekitarnya.

Sebuah ruangan yang sangat gelap seperti sebelumnya. Inilah mimpi yang ia ingat terus menerus akhir-akhir ini. Mimpi mengenai seorang ayah dengan anaknya. Dan, Viltus menebak sekarang adalah mimpi mengenai seorang ibu dengan anaknya.

Viltus melihat sebuah ruangan percobaan. Di sana berdiri seorang wanita dengan rambut hitam yang sangat panjang. Tidak berapa lama, muncul dua orang. Satu orang pria dengan rambut hitam dan satu orang wanita dengan rambut putih. Melihat kedua orang tersebut, wanita tersebut langsung berkata,

"Ah... Selamat datang, ******"

"Selamat siang, Ibu."

"Tumben kau datang bersama*****."

"Aku juga rindu dengan ibu, mengerti ?!" ujar wanita yang lain

"Ahahahaha... Maaf... Maaf... Ibu agak sibuk."

"Ibu... Kau harus menjaga kesehatan ibu..."

"Aku tahu."

"Aku dengar Ibu sempat pingsan minggu lalu."

"Ahahahaha... Sudah sampai di telingamu, ya ?"

"Mataku ada di area ini juga. Jadi, Ibu tidak dapat lembur terus."

"Baik... Baik... Daripada putraku ini marah."

"Haah... Apapun yang kukatakan, pasti dirimu tidak akan mendengarkannya."

Wanita berambut hitam tersebut langsung mengelus kepala pria tersebut dan kemudian berkata,

"Bagaimana kabar ********-san ?"

"Ah... Beliau baik-baik saja."

"Ahahahahaha..."

"*****-nee juga baik."

"Aku harap kalian berdua tidak bertengkar dengan dirinya selama kalian menetap di sana."

"Tidak akan... Benar tidak, ***** ?"

"Iya." ujar wanita yang lain.

Mendengar itu wanita berambut hitam tersebut langsung tersenyum. Dan mendadak wanita tersebut seperti melihat ke arah Viltus. Viltus yang memperhatikan mereka, sama sekali tidak dapat melihat dengan jelas wajah wanita tersebut, begitu pula dengan wanita yang lain. Dan sedikit demi sedikit suara dari pembicaraan tersebut menghilang seperti kaset yang rusak.

Tidak berapa lama, ia merasakan panas di sekitar dirinya. Panas api yang membara. Dan pada saat itu, ia mendengar suara,

"Ibu... Ibu di mana ?! Ibu..."

Tidak berapa lama, ia mendengar suara rintihan kesakitan. Viltus sama sekali tidak melihat ke belakang. Karena apa yang ia lihat, akan sangat menyakitkan. Itu dikarenakan pria berambut hitam terkapar di lantai, dengan beberapa besi yang menusuk tangan dan badannya. Namun, dirinya masih dapat hidup karena sebuah 'keajaiban'. Tidak ada yang dapat menjelaskan bagaimana caranya ia dapat hidup dengan luka tersebut.

Viltus kembali mendengar suara,

"Ibu... Sakit... Sakit sekali... Ibu..."

"..."

"Di mana ***** ?"

"..."

"Hei..."

"..."

"Mengapa dirimu tidak membantuku ?"

"..."

"Di mana Ibu ? Di mana dia ?!"

Dan tidak berapa lama, sebuah lubang terbentuk dari salah satu dinding. Dan di sana terdapat sebuah monster besar berwarna hitam. Monster tersebut adalah Abyssal, dan Abyssal tersebut menyerang lab tersebut. Viltus mendengar suara penuh ketakutan, dan sembari menggigit bibirnya, ia melihat ke belakang.

Pria tersebut menangis dan berkata,

"Ibu... Aku takut... Aku takut... Aku takut..."

"..."

"Ibu... Ayah... Di mana..."

"..."

"*****... Maafkan aku... Aku... memang pengecut..."

Viltus berjalan ke arah pria tersebut dan berlutut. Ia dapat merasakan darah yang mengalir dari pria tersebut, dan kengerian dari monster tersebut yang mendekat. Mulut dari monster tersebut sudah sangat dekat dan seperti akan memakan Viltus beserta dengan pria tersebut. Dan tidak berapa lama, semuanya kembali menjadi gelap.


Viltus membuka matanya.

Dan kali ini semuanya gelap. Ia memegang kepalanya, dan kemudian melihat sesuatu yang paling tidak ingin ia lihat. Seorang wanita dengan rambut coklat pendek yang tersenyum ke arah seorang pria yang matanya sudah kehilangan sinar kehidupan. Wanita tersebut kemudian berkata,

"Hei... ******..."

"..."

"******... Hei !"

"Kau... Memanggilku ?"

"Tentu saja. Kau masih memikirkan ibumu ?"

"..."

"Haah... Kau ini..."

Wanita tersebut langsung mengelus kepala pria tersebut dan kemudian berkata,

"******-chan..."

"..."

"Jika ada yang ingin kau bicarakan, bicarakan saja."

"..."

"Aku akan mendengarkannya, koq."

"Aku tidak ingin membahasnya..."

"Begitukah ?"

"..."

"Kalau begitu, jangan membuat wajah murung seperti itu dong."

"Itu bukan masalahmu."

"Aku tahu dirimu baru saja terkena musibah, namun jangan terus-terusan menunjukkan wajah murung seperti itu selama tiga bulan ini."

"..."

Wanita tersebut langsung memegang pundak dari pria tersebut, mengoyang-goyangkan tubuhnya dan kemudian berkata,

"Ayolah... Kembalikan ****** yang kukenal !"

"Diam..."

"Huh ?"

"Aku... Tidak ingin membahasnya."

"Kau yakin, ******-chan ?"

"Itu bukan urusanmu... Dan berhenti memanggil nama itu..."

"Eh ? Kenapa ?"

"Itu karena..."

"Nama itu sangat bagus, mengerti ? Dan namamu yang lain itu menyulitkan."

"Tetap saja..."

"Apa karena kau meratapi fakta yang ada di dunia ini ?"

"..."

"Itu bukan salahmu, mengerti."

"Jangan bilang... ada yang menganggu dirimu lagi."

Pria tersebut langsung memalingkan wajahnya. Wanita tersebut langsung menarik nafas panjang dan kemudian berdiri. Ia langsung berkata dengan lantang,

"Ayo, mengaku ! Siapa yang menganggu ****** ?"

"Ah... *****, hentikan !"

"Tidak bisa !"

"Tapi..."

"Tidak ada tapi-tapi. Jika kau terus diam, kau akan diganggu"

"..."

"Ayolah..."

"..."

Wanita itu langsung duduk kembali dan memperhatikan wajah dari pria tersebut. Pria tersebut langsung menghela nafas, dan kemudian berkata,

"Apa maumu ?"

"Senyum."

"Huh ?"

"Senyummu. Senyum yang kau tunjukkan pada kami semua setiap hari dahulu."

"..."

"Jadi..."

"Baiklah... Baiklah... Jika ini yang kau inginkan."

Pria itu tersenyum. Sebuah senyum yang dipaksakan. Wanita tersebut mengangguk puas dengan hal tersebut. Dan setelah itu, semuanya mulai berkabut. Dan setelah kabut tersebut, butir putih mulai turun dari langit. Viltus membuka telapak tangannya, dan merasakannya dengan jelas. Dingin dari salju yang turun. Ia melihat sebuah pohon yang tanpa daun, dengan banyak salju di sekitarnya. Dan di sana berdiri seorang pria. Pria yang memiliki sebuah harapan tinggi.

Dan pada saat itulah, ia mendengar sebuah nama yang sangat asing bagi dirinya.

"Kaede... Dia seharusnya sudah tiba..." ujar pria tersebut

"Jangan menunggu... Kau..." ujar Viltus mendadak

"Hah... Cuma ini kesempatan diriku untuk menyatakan perasaanku padanya."

"Jangan... Jangan mengharapkan itu..."

"Aku... Tidak ingin kehilangan orang yang penting bagi diriku kembali."

"Jangan..."

"Dia sendiri yang berkata untuk mengikuti masa sekarang dan menanti masa depan, tanpa perlu melihat ke masa lalu. Maka dari itu, aku akan menanti masa depan bersama dirinya."

"Jangan... Jangan..."

Viltus bermaksud berlari ke arah pria naif tersebut. Namun, dirinya ditahan oleh beberapa tangan. Semua tangan tersebut melilit kaki, tangan dan lehernya. Viltus bermaksud memanggil pria tersebut. Namun, tidak ada satu pun suara yang keluar. Ia melihat ke arah tangan tersebut dan kemudian melihat ke depan, hanya untuk melihat pria tersebut duduk lesu di mejanya. Ia juga mendengar suara,


Kaede-chan... Kenapa kau harus meninggal lebih dahulu...

Kaede-chan...

Aku dengar... Pria itu yang memanggil Kaede sehari sebelumnya

Jangan-jangan... Dia yang telah

Pembunuh

Iya... Dia pasti yang telah membunuhnya...

Keluarga Kaede juga menghilang... Sepertinya dia juga membunuhnya

Pembunuh

Kembalikan Kaede-chan, dasar monster !

Pembunuh

Pembunuh... Pembunuh... Pembunuh... Pembunuh


Viltus sama sekali tidak dapat menutup telinganya, dan melihat pria tersebut bergetar hebat mendengar semua itu. Pria itu kemudian melihat ke arah Viltus dengan tatapan dingin dan mematikan. Dan di sana ia melihat air mata. Tidak berapa lama, Viltus mendengar


Ah... Pembunuh itu melihat kemari

Aku takut

Pergi kau monster

Kembali saja ke negaramu !

Kau tidak perlu kemari

Kau hanya akan membawa kematian kepada kami !

Mati saja kau monster

Mati saja

Mati saja

Mati saja... Mati saja... Mati saja !


Viltus berteriak,

"HENTIKAN !" sembari menutup matanya.


Viltus membuka matanya, dan nafasnya sangat berat.

Ia langsung duduk dan melihat sekitarnya. Ia langsung menunduk. Ia sangat takut. Ia sangat tertekan. Dan tidak berapa lama, ia merasakan air. Viltus langsung berdiri dan melihat air yang mulai mengalir. Ia berlari menjauhi air tersebut, namun air tersebut jauh lebih cepat dan menelan Viltus.

Viltus membuka matanya, dan melihat cahaya yang dipantulkan di air. Dan pada saat ia melihat ke bawah, tempat yang sangat gelap. Ia langsung menutup matanya sebentar, dan mendadak ia merasakan tangan seseorang yang menyentuh dadanya. Pada saat ia membuka matanya, ia melihat Harusame. Viltus membuat tatapan ngeri dengan hal tersebut. Harusame kemudian berkata,

"Laksamana... Kau... Gagal..."

"Hiiii.."

"Mengapa mesti diriku yang mati ?"

"Harusame... Aku... Aku..."

"Mengapa mesti diriku ?"

"Aku..."

"Kau berjanji untuk membawa kami semua kembali !"

Tangan Harusame mencengkram dada Viltus. Viltus langsung meronta kesakitan. Ia kemudian merasakan tangan lain di lengannya, dan melihat Murasame dan Shiratsuyu. Viltus langsung menggelengkan kepalanya, karena ia mendengar,

"Mengapa..." ujar Shiratsuyu

"Kau..." ujar Murasame

"Tidak..." ujar Shiratsuyu kembali

"Membawa..." ujar Murasame

"HARUSAME PULANG !?" teriak mereka berdua.

Viltus melihat mata mereka yang hitam. Seperti mata seseorang yang penuh dendam. Viltus bermaksud berteriak, namun tidak bisa. Ia mulai merasa seperti tenggelam. Harusame langsung berkata,

"Kau membuatku tenggelam..."

"Ha...Ru...Sa..."

"Maka... Kau akan merasakannya juga..."

"Arhjhjgaksm..."

Viltus berusaha melepas genggaman mereka, dan pada saat itu ia merasakan sebuah tangan di lehernya, yang memeluk dirinya dari belakang. Dan pada saat itulah, ia melihat sebuah kamera yang tenggelam lebih cepat dari dirinya. Ia mengetahui siapa yang ada di belakangnya. Dia adalah Aoba. Aoba berkata,

"Mengapa dirimu tidak menahan dirinya..."

"Aoba..."

"Mengapa ?"

"Aku..."

"Kau harusnya dapat menahan dirinya..." ujar Aoba sembari semakin memperkuat pelukannya.

"Argh..."

"Kimura... Kimura... Kimura... Kimura..."

"A...O..."

"Dan sekarang... Kau bahagia karena memiliki orang lain..."

"B...A..."

"Bahagia... Di atas kesedihan orang lain..."

"Aku..."

"Aoba seharusnya yang mendapat kebahagiaan tersebut !"

"Arhj..."

"Aoba kesepian... Kesepian... Kesepian..."

"Maaf..."

"Maaf... Maaf... Itu tidak dapat mengembalikan Kimura..."

"Arhk..."

"Maka... Sebaiknya... Kau juga merasakan seperti apa tenggelam seperti Kimura..."

Viltus semakin merasakan dirinya semakin jatuh. Tidak hanya mereka. Ia juga melihat tangan dari semua Gadis Kapal yang meninggal di pertempuran besar tersebut. Semuanya menyalahkan Viltus, karena kelemahannya. Viltus langsung berkata,

"Ta...ihou..."

"MATI... MATI... MATI... MATI !" teriak semuanya

"To... long..."

Dan pada saat itulah, ia melihat sebuah tangan yang menggapai dirinya. Dan pada saat itu, ia merasakan dirinya ditarik ke permukaan dan dapat bernafas kembali. Nafas Viltus terengah-engah. Ia menutup mata sebentar, dan merasakan air hujan yang turun mengenai wajahnya. Ia melihat ke langit yang gelap, dan kemudian ia mendengar suara,

"Kau adalah milikku..."

"Eh..."

"Kau adalah milikku..."

"Siapa..."

"Dan karena kau melawan... Aku mengambil apa yang penting bagi dirimu..."

"Siapa !"

"Kau merupakan anak yang baik..."

"Siapa ?!"

Dan pada saat itulah, ia melihat tangan kanannya bersimbah darah. Dan di hadapannya, terdapat seorang wanita yang menyerupai wanita yang bernama Kaede. Mengapa menyerupai, itu dikarenakan tubuhnya sudah tidak seperti wanita tersebut sama sekali. Ia melihat lubang di dadanya, dan kemudian mendengar wanita tersebut berkata,

"Ahahahaha... Lihat wajahmu..."

"Ah... Ah... Ahhhhh"

"Jangan membuat wajah seperti itu..."

"Ah... Tidak... Tidak... Tidak !"

"Hehehehe... Aku ingat semuanya... Siapa diriku... Siapa nama asliku... Semuanya..."

"Tidak... Tidak... Tidak..."

"Hei... Jangan menangis seperti itu..."

"Jangan... Jangan..."

Suara dari wanita tersebut mulai kabur. Viltus melihat ke arah wanita tersebut. Ia bermaksud memegang wajah dari wanita tersebut, namun wanita tersebut berkata,

"Maaf... Aku... Tidak muncul hari itu..."

"Ka...ede..."

"Maafkan aku... Maka dari itu... Berikan senyum itu..."

"Tidak..."

"Baguslah... Aku tahu... Kau akan menyusulku..."

"Jangan..."

"Kita ini sudah... jadi... tolong..."

"Jangan tinggalkan aku..."

"Maka dari itu... Ini...Terakhir kita... Aku... cintai... mu..."

Viltus melihat semuanya mulai kabur, seperti sebuah film rusak. Dan dalam sekejap semuanya menjadi gelap.


Viltus membuka matanya kembali, dan mendapati dirinya berada di suatu tempat. Seperti sebuah gua. Dan di hadapannya terdapat sebuah meja dengan dua kursi, dengan pria yang ia lihat pada saat itu duduk di sana. Pria itu melihat ke arah Viltus dan berkata,

"Wah... Wah... Akhirnya kau sampai juga di sini."

"..."

"Bagaimana dengan perjalanan mimpimu ?"

"Itu..."

"Aku beritahu saja... Ini juga bagian dari mimpimu. Namun, sedikit unik... Karena kita dapat berbicara satu sama lain."

"..."

"Ah... Tuan rumah macam apa yang tidak mempersilahkan tamunya untuk duduk. Silakan duduk."

Viltus terdiam mendengar hal tersebut. Pria tersebut langsung tersenyum dan berkata,

"Kau tidak ingin duduk ? Baiklah..."

"Sebelum itu... Aku bertanya..."

"Apa ? Siapakah diriku ?"

"Iya."

"Aku adalah 'dewa' atau mungkin 'tuhan' di duniaku."

"Duniamu ?"

"Hah... Aku tidak memiliki waktu untuk membahas hal tersebut. Karena... Ada orang yang menyaksikan kita."

"Menyaksikan ?"

"Ahahahahahaa... Sudah, kau tidak perlu mengetahuinya... Duduk saja."

Pria itu kemudian berdiri dan berjalan mendekati Viltus. Ia kemudian berkata,

"Viltus... Tidak... Kazuki..."

"..."

"Ohohohoho... Jangan membuat wajah seperti itu..."

"Mengapa kau di sini ? Kau ini sebenarnya apa ? Jangan menyebut 'dewa' atau 'tuhan' !"

"Hahahahahaha... Seperti manusia pada umumnya, ya."

"Eh ?"

Pria itu kemudian duduk dan kemudian berkata,

"Namaku... Aku sudah membuang dahulu. Sama seperti dirimu yang membuang nama keluargamu dan menggunakan nama keluarga dari Russia. Namun, aku berbeda."

"Apa maksudmu..."

"Akan kuberitahu dirimu..."

"..."

"Kita sama."

"Eh ?!"

"Aku membantu seseorang... Dan menjadi seperti ini. Dan sepertinya dirimu akan menjadi seperti diriku, mungkin ?"

"Apa maksudmu ?"

"Aku menghancurkan duniaku... Dan menjadi penguasa di seluruh duniaku."

"..."

"Namaku sangat mudah... Hakai."

"Eh..."

"Unik sekali benar ? Ahahahahahaha."

Viltus sedikit mundur dari Hakai. Hakai langsung tersenyum dan kemudian berkata,

"Ayolah... Dirimu dan diriku sebenarnya terikat. Ups..."

"Apa maksudmu ?"

"Itu bukan masalahmu. Aku sama sekali tidak mengetahui apakah dunia ini akan mengarah ke sana... atau tidak."

"Hei..."

"Ahahahaha maaf... maaf..."

Hakai langsung duduk kembali dan melihat ke belakangnya. Ia kemudian berkata,

"Apa yang ingin kau capai dari perang ini ?"

"Pembalasan dendam."

"Mengapa ? Abyssal itu buatan ayahmu."

"..."

"Dendam karena apa ?"

"Itu..."

"Yang membunuh Kaede, kah ?"

"..."

"Ahahahahahaha... Sebenarnya kau mencari pembunuh Kaede, benar ?"

"..."

"Aku sama sekali tidak mengetahuinya. Atau mungkin kau akan mengetahuinya... Walaupun akan memakan waktu yang cukup lama."

"Hakai... Apa maksudmu ?"

"Tidak apa-apa... Jika pada akhirnya Kaede ada, kita tidak tersambung... walaupun di duniaku kita tersambung satu sama lain. Jika Kaede tidak ada, ada kemungkinan kita tersambung satu sama lain."

"Kau menyebut diriku tersambung dengan dirimu..."

"Mungkin... Di dunia ini mungkin. Aku sama sekali tidak tahu apa yang terjadi di dunia ini, karena sekarang aku hanya menjadi penonton."

"Maksudmu..."

"Beberapa kali, aku diam-diam menbantu manusia dan berakhir menjadi utopia. Namun, apakah semuanya indah ? Tidak... Tidak selalu. Ada yang sangat indah. Ada pula yang lebih busuk dari duniaku. Ini semua menyangkut mereka yang menjadi Gadis Kapal. Ada yang mendapatkan kebahagiaan. Ada pula yang menjadi bahan untuk melepas nafsu manusia."

"..."

"Satu kali, aku membantu pihak Abyssal. Dan yang terjadi adalah... Kehancuran. Manusia tidak dapat menghadapi diriku. Tidak. Walaupun ada yang masih melawan. Di duniaku sendiri, aku benar-benar tidak dapat dihancurkan. Dan di dunia lain, ada saatnya aku hancur... Namun, itu terlambat."

"..."

"Dan aku mengetahui sesuatu... Hakuno Kazuki. Di duniamu ini, semua tergantung dari pilihanmu ke depan. Ada kalanya kau akan mendapat akhir bahagia. Namun, ada pula di mana kau benar-benar kehilangan semuanya. Semuanya tergantung pada dirimu."

"Aku tahu... Masa depan ini aku yang menentukannya."

"Ahahahahaha... Bagus... Bagus... Namun, tidak selamanya aku akan muncul di hadapanmu. Aku juga memperhatikan berbagai dunia. Masa lalu dari Gadis Kapal berbeda-beda, begitu pula Abyssal. Namun, semuanya menyenangkan bagiku. Bagaimana mereka berjuang. Apa alasan mereka berjuang. Ingin menjaga. Dendam. Bagaimana ekspresi mereka... Ahahahahahahahaha."

"Aku penasaran. Sangat penasaran dengan dirimu."

"Kau..."

"Apakah yang akan terjadi pada dirimu dan Kaede ?"

Viltus langsung terkejut dan marah mendengar itu. Viltus langsung berkata dengan marah,

"Kaede sudah mati !"

"Dia mati di hatimu. Namun, dia masih hidup. Walaupun jiwanya bukan Kaede lagi. Ia menjadi... Orang lain."

"Tidak mungkin !"

"Hahahahahaha... Rupanya ** benar-benar sudah mencuci otakmu."

"Siapa yang kau maksud ?"

"Huh ? **... apa kau tidak mendengarnya ?"

"Tidak... seperti suara radio yang rusak... aku tidak..."

"OH... rupanya seperti itu... Nama-nama yang penting bagi dirimu sudah dihapuskan. Nama-nama yang memiliki hubungan erat dengan orang pentingmu... Ahahahahaha"

Hakai tertawa. Viltus kemudian berkata,

"Kau..."

"Apa... Apa perlu aku membentuk wujudku di duniamu ? Dan pasti semua akan berakhir dengan cepat."

"Apa..."

Hakai mendadak berubah bentuk menjadi bentuk yang lain. Tangannya tidak menyerupai manusia. Viltus langsung terjatuh melihat itu. Hakai langsung berkata,

"Kau sekarang mengerti... Seperti apa mengerikannya diriku..."

"Kau... Monster..."

"Iya... Kau benar..."

"Apa maumu..."

"Kau lemah... Sangat lemah..."

"..."

"Namun, kau dapat menjadi kuat... Jika menerima 'dirimu'..."

"Aku menerima diriku sendiri..."

"Tidak... Kau masih menolaknya..."

Pada saat itulah, Viltus melihat satu orang lain yang menyerupai dirinya. Tatapannya sangat dingin. Pria itu melihat ke arah Viltus dan tersenyum. Tidak berapa lama, Viltus merasakan 'Ayah', 'Ibu', 'Kaede', 'Shiratsuyu', 'Murasame', dan 'Aoba' di belakangnya. Mereka menangkap Viltus dan menahannya di tanah. Mata mereka hitam. Viltus berusaha melepas dirinya, namun Hakai mendadak berkata,

"Kau sangat lemah... Lihat..."

"Argh..."

"Sudahlah... Dirimu yang sekarang masih belum dapat mengetahuinya..."

Hakai kemudian menaruh tangannya di dada Viltus. Ia kemudian berkata,

"Kau harus cepat... atau kau akan kehilangan dia..."

"Dia..."

"Taihou..."

"Kau..."

"Ahahahahahahaha..."

"Aku akan membunuhmu... Aku akan..."

"Tunjukkan wajah itu... Bagus... Bagus..."

"Kau..."

"Ah... Sebelum kau kembali ke duniamu... Aku akan memberitahu satu hal... Kau tidak akan melihat mimpi ini... maupun bertemu dengan diriku... Hingga waktu yang tepat."

"..."

"Ahahahaha... Hingga saat itu, sampai jumpa... Aku akan menunggumu..."

Hakai langsung menusukkan tangannya ke dada Viltus. Dan dalam sekejap semuanya kembali gelap.


Viltus membuka mata, dan melihat cahaya lampu yang sangat terang. Nafasnya sangat berat, dan dia berkeringat. Ia melihat ke kirinya, di sana ia melihat Norio yang sedang melakukan pengecekan terhadap sesuatu, sembari berbicara dengan Tadahisa.

Menyadari Viltus yang sudah sadar, Norio langsung berkata,

"Ah... Kau sadar juga, Viltus."

"Dokter..."

"Kau sepertinya bermimpi buruk."

"Sangat..."

"Dan dari wajahmu... Sepertinya dirimu tidak ingin membicarakannya."

Viltus mengangguk. Ia langsung duduk, dan melihat ke ayahnya. Ia kemudian berdiri dengan dibantu oleh Tadahisa, dan kemudian berkata,

"Ayah... Aku akan kembali ke kantorku sekarang."

"Tidak... Kau harus..."

"Aku... hanya ingin melihat seseorang..."

"Eh..."

"Boleh ?"

"Silakan..."

Viltus mengambil kemejanya, dan kemudian pamit kepada Norio dan Tadahisa untuk berjalan ke kantornya.


Sampai di kantornya.

Viltus membuka pintu dan melihat Taihou yang terkejut melihat dirinya di sana. Taihou langsung berdiri dan kemudian berkata,

"Viltus... Kau..."

"Sudah lebih baik..."

"Kau sebaiknya kembali ke kamarmu saja."

"Aku tahu... Aku tahu..."

Viltus melihat ke arah Taihou dan mengingat apa yang dikatakan oleh Hakai sebelumnya, mengenai dirinya akan kehilangan Taihou. Ia langsung berjalan ke dekat Taihou dan kemudian memeluknya.

Taihou sangat terkejut dengan hal tersebut. Ia langsung berkata,

"Vi... Viltus..."

"Aku... Aku akan melindungi dirimu..."

"Eh..."

"Aku tidak akan membiarkan dirimu... lepas... seperti dirinya..."

"Hei..."

"Aku... Akan..."

Taihou merasakan air mata Viltus yang mengalir mengenai wajahnya. Taihou langsung berkata,

"Viltus... Aku ada di sini... Dan akan selalu bersama dirimu."

"Taihou..."

"Dan aku akan melindungi dirimu. Maka dari itu, mari kita saling melindungi. Ok ?"

"Iya."

Viltus kemudian mencium bibir dari Taihou. Setelah itu, Taihou menuntun Viltus kembali ke kamarnya, dan menunggu di sana hingga Viltus tertidur pulas.


Kantor Tadahisa.

Tadahisa menunggu seseorang untuk datang ke kantornya. Dan tidak berapa lama, pintu diketuk dan suara Norio terdengar. Tadahisa membukakan pintu, dan kemudian menutupnya setelah Norio masuk. Ia juga menguncinya. Setelah itu, Tadahisa bertanya,

"Bagaimana hasilnya ? Aku harus memberitahu Mo mengenai kondisinya."

"Sangat disayangkan."

"Apa ?"

"Dia lebih mendekati 'mereka' daripada 'kita'... Semakin lama semakin dekat... Aku khawatir suatu hari nanti, ia akan menjadi 'mereka'."

"Apakah tidak dapat..."

"Aku tidak tahu... Hanya 'beliau' yang mengetahuinya. Kau harus lebih memperhatikan orang itu. Karena, dengan semakin dekat dengan 'mereka', emosi dirinya tidak stabil."

"Aku tahu. Terima kasih banyak, dokter Shibata."

"Bukan masalah. Saya mohon undur diri dahulu. Saya ada pekerjaan untuk memeriksa Asashio dan Isuzu."

"Silakan."

Norio langsung keluar dari ruangan tersebut. Tadahisa menghela nafas dan kemudian melihat ke arah luar kamarnya. Situasi menjadi sangat gawat. Dan di dalam kepalanya, ia berkata,

"Mulai saat ini... Akan jauh lebih berat lagi."


HakunoKazuki di sini

Sungguh sangat sulit untuk mengerjakan chapter ini karena beberapa hal di dunia nyata. Sudahlah tidak ada gunanya meratapinya.

Di chapter ini sangat banyak simbol *... Itu karena nama mereka sangat penting di chapter-chapter berikutnya. Jadi, tunggu saja hingga akhirnya nama tersebut muncul.

LotusCrimson... Selamat anda menebaknya. Namun, Deep Abyss merupakan salah satu kemungkinan terburuk dari masa depan cerita saya. Namun, cerita saya ini tidak akan menghasilkan masa depan di mana Hakai ada. Karena, jika benar mengikuti Last Smile, siapakah ibu dari Hakai ?
H : Lalu kenapa diriku...
HK : Bukankah kau mudah melakukan hal ini ?
H : Kau ada benarnya...
HK : Ada pertanyaan lain ?
H : Tidak ada

Hakai merupakan karakter yang didesaian untuk dapat berpindah dari satu seri ke seri lain karena statusnya yang menyerupai dewa dan penguasa Abyssal. Maka dari itu harap dimaklumi jika ada Hakai di seri lain buatan saya.

Mungkin hanya sampai di sini saja. Semoga kalian menikmati seri ini.

Good bye !