Chapter 18
Memory
Viltus berjalan dari asramanya menuju ke kantornya seperti biasanya. Namun, sekarang ia mendapat berbagai pertanyaan dari Laksamana lain dikarenakan mereka mengkhawatirkan kondisi dari Viltus yang pingsan beberapa waktu yang lalu.
Pada saat ia tiba di kantornya, ia mendapat sambutan berbagai pertanyaan dari anggota divisinya sendiri.
"Apakah kau benar-benar sudah baik-baik saja, Laksamana ?" tanya Akizuki
"Kau sebaiknya istirahat saja..." ujar Teruzuki
"Kau istirahat saja... Kami bisa koq melakukan semuanya..." ujar Furutaka
"Jangan memaksakan dirimu, Laksamana... Jika kau pingsan lagi, kami akan sangat bingung." ujar Shoukaku
"Laksamana, kau sebaiknya kembali saja ke kamar. Biar kami semua yang mengerjakan dokumen ini." ujar Noshiro
Viltus hanya tertawa kecil saja mendengar semua itu. Ia kemudian berkata sembari menggerakkan tangannya,
"Tenang saja... Aku sudah baik-baik saja. Aku cuma kelelahan kemarin-kemarin."
"Tetap saja..." ujar Noshiro
"Aku sudah katakan tenang saja. Jadi, aku akan kembali bekerja."
"Ba... Baiklah..."
Semua Gadis Kapal tersebut menyerah kalah karena Viltus sudah tidak dapat diubah pendiriannya. Taihou yang melihat itu langsung berjalan ke dekat Viltus. Semua Gadis Kapal melihat ke arah Taihou dengan penuh harapan. Taihou memegang wajah Viltus dan berkata,
"Kau yakin... Kau baik-baik saja ?"
"Iya... Aku baik-baik saja..."
"Ehehehehe... Kau menutupi sesuatu rupanya."
"Aku sudah bilang kau hanya kelelahan saja. Lagipula... Kau sudah..."
"Ahahahahaha... Apa perlu aku..."
"Mungkin... Setiap malam..."
Semua Gadis Kapal pertama terdiam sebentar mendengar apa yang dikatakan oleh mereka berdua. Dan kemudian mereka langsung berpikir sesuatu. Noshiro langsung panik dan menutup telinga Akizuki. Begitu pula dengan Yahagi yang menutup telinga Teruzuki. Sementara, Hatsuzuki ditutup telinganya oleh Anastasia. Furutaka terlihat merah mendengar pembicaraan mereka, hingga akhirnya Agano yang tidak mengerti apa-apa langsung bertanya,
"Ummm... Apa yang kalian lakukan kemarin malam ?"
"Ah... Mengenai itu..." ujar Viltus.
"Apa kalian melakukan *** ?"
"Tidak..." ujar mereka berdua dengan tegas dan bersama-sama.
Pada saat itu mereka melihat reaksi satu kantor tersebut dan langsung menyadari pembicaraan mereka membuat semuanya berpikir yang tidak-tidak, Viltus langsung menghela nafas dan berkata,
"Aku meminta tolong kepada Taihou untuk menemaniku hingga aku tertidur pulas... Dan mendengar sedikit keluh kesahku."
"Ahahahaha... Keluh kesahmu hingga pukul 12 malam, mengerti..."
"Tapi, kau janji, kan ?"
"Iya... Iya..."
"Daripada itu... Kau menentukan deh... Karena kau pacarku... Apakah aku boleh bekerja atau tidak. Ehehehehehe..."
"Tumben..."
"Aku tidak ingin membuat masalah. Itu saja."
"Hmmm..."
Semuanya sangat terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Viltus sebelumnya. Tentu saja, ini pertama kalinya Viltus memberikan keputusan kepada orang lain. Setelah berpikir lama, Taihou akhirnya berkata,
"Kau boleh... Tapi, kau yang tahu kapan harus berhenti... Mengerti ?"
"Siap."
Taihou langsung mencium Viltus di keningnya, dan mengelus kepalanya. Semuanya merasakan, Taihou sedikit lebih lengket dari biasanya, dan Viltus sendiri sedikit berubah. Tidak berapa lama, mereka semua mendengar ketukan pintu dan di sana berdiri Uzuki dan Yayoi yang membawa satu paket bunga dengan isi bunga Freesia, Calla Lily, dan Peony.
Melihat Viltus, Uzuki langsung berlari membawa bunga tersebut dan berkata,
"Laksamana... Kau sembuh, pyon ?"
"Dapat dikatakan demikian."
"Kau yakin, pyon ?"
"Iya."
Viltus langsung mengelus kepala Uzuki. Yayoi yang masuk berikutnya langsung memberi salam dan berkata,
"Laksamana... Jaga kesehatan."
"Iya... Jangan marah seperti itu dong, Yayoi."
"Aku tidak marah."
"Ahahahahaha... Aku tahu... Aku tahu..."
Viltus langsung mengelus kepala Yayoi, yang kesal dengan komentar dari Viltus. Setelah itu, Yayoi dan Uzuki memberikan bunga tersebut kepada Viltus. Mereka berkata,
"Ini untukmu, Laksamana... Semoga kau sehat selalu, ya..."
Viltus sangat terkejut dengan mereka berdua dan kemudian berkata sembari tersenyum,
"Terima kasih banyak, Yayoi, Uzuki."
"Iya... Paman." ujar Uzuki.
"Huh ?! Paman ?!"
"Iya... Soalnya kau itu sudah seperti saudara bagi ayah."
Viltus terdiam sebentar melihat senyum dan apa yang dikatakan oleh Uzuki. Ia sadar, dirinya telah kalah dari Uzuki dalam masalah ini. Ia langsung tersenyum dan berkata,
"Aku tidak setua itu, mengerti."
"Tapi..."
"Jika kalian berdua ingin memanggilku demikian... Maka silakan."
"Begitukah ?"
"Terima kasih banyak, Paman Viltus." ujar Yayoi.
Setelah itu Yayoi dan Uzuki pamit dan berlari keluar dari ruangan. Viltus hanya tersenyum saja melihat kelakuan dari Gadis Kapal yang dulunya di bawah kepemimpinan Kimura tersebut. Viltus kemudian melihat semua Gadis Kapal dan anggota kru di dalam kantornya yang menahan tawa mereka. Viltus langsung berkata dengan wajah kesal,
"Jika kalian ingin tertawa, silakan saja tertawa."
Semuanya tertawa dengan keras, termasuk Taihou. Viltus sendiri membiarkan mereka semua tertawa sepuas mereka, karena ia sedang memikirkan cara untuk menghukum mereka semua nanti.
Beberapa jam berlalu, dan sudah cukup banyak orang yang datang ke ruangan Viltus untuk menanyakan kondisinya. Semua Gadis Kapal dari divisinya juga kembali ke asrama karena mereka sudah tidak ada pekerjaan lain, kecuali Taihou. Anastasia dan Magyar juga masih tetap di ruangan tersebut karena mereka mendapat tugas dari Tadahisa untuk memperhatikan Viltus.
Tidak berapa lama, mereka mendengarkan ketukan dari pintu. Viltus mempersilahkan masuk, dan di setelah pintu terbuka di sana berdiri seorang wanita dengan rambut ungu yang biasa menganggu dirinya dahulu. Ia merupakan Gadis Kapal yang sebelumnya ada di bawah kepemimpinan temannya sebelum pindah ke divisinya dan kemudian pindah kembali. Gadis itu adalah Aoba.
Aoba masuk dan kemudian berkata,
"Halo... Kakak ipar !"
"Sekarang kau memanggilku demikian... Haaah..."
"Ahahahahaha... Habis anak-anak itu memanggilmu 'paman' sih."
"Kalian jangan tertawa." ujar Viltus mendadak melihat ke arah Magyar dan Anastasia yang menahan tawa mereka.
Aoba kemudian berjalan ke arah Taihou yang tertawa kecil saja. Aoba langsung memeluk Taihou dan berkata,
"Lama tidak jumpa, Taihou..."
"Lama tidak jumpa, Aoba."
"Bagaimana kabarmu dengan Viltus ? Sudah mencoba sesuatu yang baru ? Aoba dengar dari Agano kalian..."
"Jangan percaya pada Agano."
"Begitukah ?"
"Iya."
Aoba melihat ke wajah Taihou yang tersenyum, dan kemudian langsung tertawa. Ia kemudian menyalakan kameranya dan kemudian memotret Viltus dan Taihou. Viltus langsung berkata,
"Hei... Reporter... Jangan menulis macam-macam, ya."
"Iya... Iya... Aoba masih sayang sama nyawa Aoba. Aoba tidak ingin mendadak ada serangan dari belakang dan pandangan Aoba terbalik 180 derajat."
"Heh..."
"Jadi itu yang kau lakukan dulu..." ujar Taihou
"Mungkin..." balas Viltus sedikit menggoda Taihou.
Taihou langsung sedikit marah kepada Viltus, yang diperhatikan oleh Aoba. Aoba kemudian berkomentar,
"Jadi... Dirimu sudah benar-benar sembuh ?"
"Iya... Tentu sa..."
Viltus melihat ke arah Aoba, dan melihat bayangan hitam yang ia lihat pada saat ia bertemu dengan Hakai. Wajah penuh dendam, yang ingin membunuh dirinya. Viltus langsung menutup mata sebentar, dan tidak berapa lama ia mendengar suara Taihou yang berkata,
"Viltus... Kau..."
"Aku sepertinya cukup lelah..."
"Apa karena yang kau..."
"Iya..."
Aoba yang melihat itu langsung berkata,
"Ada apa ini ? Aoba penasaran."
"Itu bukan urusanmu, Aoba." ujar Viltus
"Begitukah ?"
"Iya. Sudah..."
"Ahahahahaha... Kalau melihat dirimu yang seperti ini... Tentu saja Aoba menjadi tidak yakin bahwa dirimu kemarin sakit hingga pingsan, terutama pada saat di dekat asrama Gadis Kapal."
"Terserah apa katamu. Bukankah kau ada pekerjaan ?"
"Tidak... Tidak ada. Aoba sedang menganggur, makanya Aoba datang kemari."
"Begitukah..."
"Maka dari itu, Aoba akan menunggu di sini."
"Memangnya Laksamanamu tidak..."
"Dia sedang ditegur oleh petinggi di Yokosuka atas tindakannya yang cukup ceroboh."
"..."
"Ehehehehe... Sama seperti dia."
Viltus diam sejenak mendengar itu. Karena pada saat Aoba menyebut 'dia', ia mendengar di kepalanya suara orang-orang yang membenci dirinya. Ia sedikit bergetar, dan Taihou melihatnya. Taihou langsung mengambilkan minuman favorit Viltus selain vodka dan menghidangkannya kepada Viltus. Ia langsung berkata,
"Setelah ini... Setelah dokumen ini, kau kembali ke kamarmu..."
"Iya... Aku tahu."
"Tidak ada tapi-tapi..."
"Iya."
Aoba yang melihat itu terdiam sejenak. Dan dalam sekejap ekspresi dari Aoba berubah drastis. Ia langsung bertanya kepada Taihou,
"Taihou... Sejak kapan kau mampu..."
"Dengan sedikit dorongan, dia mau mendengarkan diriku."
"Oh... Dorongan apakah itu ?"
"Itu... Ahahahahahaha..."
"Apakah itu *** ?"
"Bukan..."
"Kukira kalian sudah melakukan itu..."
"Bagaimana mungkin jika ada peraturan ketat mengenai tinggal di asrama Laksamana dan Gadis Kapal." ujar Viltus sembari memalingkan wajahnya.
Aoba melihat ke arah Viltus, dan langsung berkata pelan,
"Rupanya... dia yang ingin..."
"Ada apa, Aoba ?" tanya Viltus
"Tidak... Tidak apa-apa..."
"Lagipula... Aku tidak ingin Taihou marah."
"Eh ?"
"Bila dia marah... Hampir sama seperti Houshou-san..."
"Dari nada bicaramu... ada yang ingin kau tambahkan."
"Iya sih... Karena orang yang kubicarakan akan tiba sebentar lagi."
"Huh ?"
Semuanya bingung dengan apa yang dikatakan oleh Viltus. Tidak berapa lama mereka mendengar suara langkah kaki yang sangat cepat. Viltus langsung menutup diri dengan buku di dekatnya. Dan melihat reaksi dari Viltus, Taihou langsung tahu siapa yang mendekat.
Pintu langsung dibuka dan di sana berdiri dua orang Gadis Kapal. Mereka adalah Shigure dan Yuudachi. Shigure langsung masuk ke dalam kantor Viltus, kemudian berjalan ke dekat Viltus. Semua orang di dalam ruang tersebut dapat melihat dengan jelas, Viltus terlihat sangat ketakutan dengan hal tersebut.
Shigure langsung melipat tangannya dan dengan tatapan tajam, ia langsung berkata,
"Laksamana..."
"Ummm... Ini tidak ada hubungannya dengan..."
"Apa kau lembur lagi ? Berhari-hari ?"
"Ti... Tidak..."
"Aku kecewa pada dirimu."
"Shigure... Ayolah... Aku..."
"Setelah aku tidak di divisi ini kau langsung melunjak... Aku kecewa..."
"Shigure dengarkan diriku dahulu..."
Shigure masih memarahi Viltus yang berusaha meyakinkan Shigure ini bukan karena kebiasaan dia lembur. Yuudachi sebenarnya ingin membantu, namun dikarenakan tatapan dari Shigure yang menakutkan, ia langsung mengurungkan niatnya.
Taihou kemudian menepuk pundak dari Shigure dan kemudian berkata,
"Ummm... Shigure..."
"Ada apa, Taihou ? Aku kira kau akan memperhatikan dia..."
"Dia sudah lama tidak lembur bekerja. Aku selalu menyuruh dia untuk tidur setelah waktu untuk istirahat Laksamana."
"Lalu... Kenapa dia..."
"Penyakit dia..."
"Eh ?!"
"Sepertinya Viltus tidak memberitahu dirimu mengenai hal ini, ya ?" ujar Taihou sembari menatap ke arah Viltus.
Viltus yag melihat itu langsung memalingkan wajahnya. Shigure melihat ke arah Viltus lalu ke arah Taihou. Ia langsung sadar, dan kemudian berkata,
"Ah... Maafkan aku... Aku..."
"Tidak apa-apa..." jawab Viltus
Shigure masih meminta maaf kepada Viltus mengenai tuduhan yang diberikan sebelumnya. Taihou sendiri juga membantu Viltus. Tidak lama kemudian, Yuudachi juga ikut ke dalam pembicaraan mereka bertiga. Aoba yang memperhatikan hal tersebut langsung berkata,
"Sungguh... Keluarga yang baik, ya..."
"Begitukah ?" ujar Anastasia
"Iya."
"Mengapa kau berkata demikian ?"
"Itu karena... Jika dia masih di sini, Aoba yakin kami berempat juga akan seperti mereka berempat."
Anastasia, Magyar dan Ryuujou terdiam mendengar hal tersebut. Aoba kemudian berjalan ke dekat mereka berempat, dan kemudian berkata,
"Hei... Hei... Viltus..."
"Apa ?"
"Kapan kau akan meminang Taihou ?"
Wajah Taihou dan Viltus langsung memerah mendengar itu. Viltus kemudian berkata,
"Itu... Masih terlalu cepat..."
"I... Iya..." jawab Taihou
"Begitukah ? Menurutku... Eh... Benar juga, ya." ujar Shigure
"Tapi, jika Viltus-san dan Taihou-san benar-benar menikah, Yuudachi akan senang sekali, poi !" ujar Yuudachi
"Yuudachi !" ujar Viltus dan Taihou bersama-sama.
Aoba langsung tertawa. Ia kemudian melihat ke arah Viltus dan kemudian berkata sembari menunjuk ke arah dadanya,
"Mungkin... Aoba akan..."
"Tidak... Tidak..." ujar Viltus
"Eh ?"
"Itu adalah cincin dirimu dan Kimura. Aku tidak berhak memilikinya."
"Ehehehehe..."
"Cuma itukah jawabanmu ?"
"Aoba tahu kau pasti akan berbicara seperti itu."
Aoba langsung membalikkan badannya, dan langsung tertawa kecil sembari melihat wajah dari Viltus yang sedikit kesal dengan apa yang baru saja Aoba lakukan. Dan pada akhirnya, Aoba langsung menjulurkan lidahnya.
Setelah itu, mereka semua berbincang-bincang ringan satu sama lain hingga sore.
Viltus berjalan bersama Taihou ke kamar Viltus, dikarenakan Viltus terlihat sedikit lelah. Setelah tiba, di kamarnya Viltus langsung merebahkan diri di kasurnya, sementara Taihou langsung duduk di sebelah Viltus. Taihou langsung berkata,
"Sungguh hari yang menyenangkan..."
"Iya..."
"Walaupun pertanyaan dari Aoba tadi... Cukup..."
"Aku tahu... Aku tahu..."
Viltus langsung memegang tangan Taihou. Taihou sendiri langsung tersenyum ke arah Viltus. Tidak berapa lama, Viltus kemudian bertanya,
"Namun... Bila aku melakukan itu ?"
"Itu... Ummm..."
"Ahahahahaha... Aku yakin akan sulit untuk menjawabnya... Dan akan sangat sulit untuk menanyakannya juga."
"Iya... Ahahahaha..."
"Entah mengapa aku cukup iri dengan Kimura..."
"Eh ?"
"Dia itu... Sangat terbuka... Dan sangat mudah mengucapkan apa yang ada di kepalanya."
"Viltus..."
"Heh... Kenapa aku..."
Taihou langsung memegang tangan Viltus dengan kedua tangannya, dan kemudian berkata,
"Kau tidak perlu khawatir dengan hal tersebut..."
"Eh..."
"Kau itu... Mudah dibaca..."
"Begitukah ? Aku tidak terlalu yakin..."
"Semuanya dapat terlihat... Dari matamu yang indah itu..."
Viltus melihat ke arah Taihou, dan langsung memegang wajahnya. Dan langsung menyadari ia masih mengenakan kacamatanya. Viltus langsung berkata,
"Taihou... Kenapa kau tidak memberitahuku bahwa aku masih mengenakan kacamataku ?"
"Ahahahahaha... Itu karena aku ingin melepaskannya dari matamu..."
"..."
"Ada apa, Viltus ?"
"Kau tahu... Itu terdengar... Mengerikan..."
"Ahahahaha... Maaf... Maaf..."
Viltus langsung menghela nafas. Ia kemudian pindah ke posisi duduk. Begitu Viltus duduk, Taihou langsung menyandarkan diri di bahu Viltus. Taihou langsung berkata,
"Kau... Masih memikirkan mengenai mimpi itu ?"
"Iya..."
"Apa karena Aoba menceritakan mengenai Kimura terus ?"
"Dapat dikatakan demikian..."
"Aku sudah katakan semuanya tidak berpikir seperti itu, kan ?"
"Iya..."
"Lalu..."
Viltus langsung menunduk. Taihou melihat ke arah wajah Viltus, dan langsung memegang pipinya. Taihou langsung berkata,
"Kau..."
"Iya... Aku melihatnya..."
"..."
"Aku... Aku... Takut..."
"Viltus..."
Taihou langsung memperkuat genggamannya, dan tidak lama ia merasakan Viltus yang melihat ke arah dirinya dengan senyum yang dipaksa. Taihou tahu, Viltus sama sekali tidak ingin dirinya khawatir. Taihou langsung menyandarkan kepalanya kembali ke bahu Viltus.
Tidak berapa lama, Taihou kemudian bertanya,
"Hari ini... Aoba banyak berbicara mengenai Kimura... Ada apa gerangan ?"
"Kau benar... Mengapa..."
Viltus melihat ke kalendar dan langung terdiam. Taihou yang melihat ke kalendar pun langsung sadar. Mereka sudah mendekati akhir dari musim semi. Dan dapat dihitung, sebentar lagi merupakan peringatan satu tahun operasi besar yang gagal tersebut. Dan dalam satu tahun itu, area tersebut sudah dibebaskan dengan usaha yang lebih matang lagi.
Taihou melihat ke arah Viltus dan kemudian berkata,
"Viltus..."
"Aku..."
"Huh ?"
"Sepertinya aku akan mengambil cuti selama dua hari... Dan harus bertemu dengan ayah untuk membahas mengenai sesuatu..."
"Kau ingin..."
"Iya... Ke tempat itu... Ke tempat di mana Shigure dan Yuudachi berpisah dengan Harusame, dan Aoba kehilangan Kinugasa dan Kimura."
"Viltus..."
"Tenang saja. Aku tidak akan membiarkan suara itu... Menuntun diriku..."
Taihou tersenyum kecil saja. Ia kemudian menyuruh Viltus untuk tidur. Setelah ia melihat Viltus yang tertidur, ia langsung mencium Viltus sebelum kembali ke asramanya.
Dua hari sebelum peringatan satu tahun.
Viltus berjalan di tengah kota untuk mencari bunga yang akan ia persembahkan kepada mereka yang meninggal di pertempuran tersebut. Ia keluar lebih siang dari dugaan karena sebelumnya ia bertemu ayahnya terlebih dahulu. Ia mengingat apa yang terjadi pagi tadi.
Pagi itu, Viltus masuk dan menemukan Norio bersama Tadahisa. Viltus langsung berkata,
"Selamat pagi, Shibata-san."
"Ah... Selamat pagi, Viltus."
"Ummm... Sepertinya saya menganggu pembicaraan anda dengan ayah. Saya akan menunggu..."
"Tidak perlu."
"Eh ?"
"Keperluanku dengan ayahmu sudah selesai, jika dirimu ingin berbicara silakan."
Norio langsung melihat ke arah Tadahisa dan berkata,
"Jadi... Hanya sampai situ saja, Yanagi-san..."
"Baiklah... Aku akan mengikuti apa yang kau minta." ujar Tadahisa.
"Sampai berjumpa lagi di kesempatan berikutnya."
Norio langsung berjalan dan meninggalkan kedua orang tersebut. Setelah itu, Viltus langsung berkata,
"Maafkan aku, ayah... Sepertinya tadi..."
"Tidak apa-apa... Ayah dan Shibata-san sudah berbincang-bincang mengenai beberapa hal."
"Begitukah..."
"Ahahahahaha... Dan tumben sekali dirimu datang kemari sendiri. Ada apa gerangan ?"
Viltus diam sebentar dan kemudian berkata,
"Ayah... Aku ingin minta ijin untuk cuti besok dan lusa. Apakah diijinkan ?"
"Hari ini dan besok ?"
"Hari ini aku ingin ke kota. Untuk mencari beberapa bunga."
"Bunga ? Untuk Taihou, ya ? Ahahahahaha..."
"Bukan..."
"Huh ?"
Tadahisa melihat ke arah kalendar, dan melihat ke arah kalendar. Tadahisa langsung sadar dan kemudian berkata,
"Kau... Ingin ke sana, ya ?"
"Ayah dapat membacanya dari wajahku..."
"Apakah hanya dirimu sendiri atau..."
"Aku tidak mungkin pergi sendirian ke sana. Kapal komandoku sudah kapal komando khusus, maka dari itu aku akan mengajak Anastasia dan Magyar. Elisa mungkin sekalian."
"Gadis Kapal ?"
"Taihou itu pasti akan ikut. Namun yang lain... Itu yang ingin kubahas juga."
"..."
"Aku mohon ijin untuk membawa Aoba, Uzuki, Yayoi, Shigure, Yuudachi, Shiratsuyu, Murasame, Kawakaze, Umikaze, Samidare dan Suzukaze."
"Mereka semua..."
"Iya... Beberapa orang yang dekat dengan diriku... Yang juga kehilangan sesuatu pada pertempuran tersebut. Gadis Kapal yang dekat dengan Harusame dan Kimura."
Tadahisa diam sebentar dan kemudian berjalan ke arah mejanya. Viltus memperhatikan Tadahisa. Tadahisa langsung berkata,
"Aku... Dapat mengijinkan dirimu pergi. Namun, untuk Gadis Kapal tersebut..."
"Ayah... Kumohon..."
"Ini sulit Viltus."
"..."
"Harap kau ketahui... Pertempuran satu tahun yang lalu... Merupakan bencana terbesar bagi kita semua. Itu menunjukkan betapa lemahnya kita."
"Aku tahu..."
"Dan semua Laksamana akan berkumpul untuk memperingati dosa tersebut di Yokosuka ini."
"Termasuk Laksamana Ichijo, ya..."
"Itu yang menjadi masalah..."
"..."
Tadahisa melihat wajah Viltus yang sangat kecewa. Ia langsung menarik nafas panjang dan kemudian mengangkat telepon. Sebelum ia mulai menelepon, Tadahisa berkata,
"Kau keluar dahulu."
"Eh ?"
"Nanti kau akan kupanggil."
Viltus keluar sebentar. Ia melihat ke arah langit-langit dan langsung menghela nafasnya. Ia tahu, semua ini akan sangat sulit dikarenakan mereka semua bukan di divisinya lagi. Ditambah fakta bahwa Laksamana Ichijo akan datang, itu mempersulit kondisinya. Ia bersandar di dekat jendela, dan menutup matanya.
Tidak berapa lama, ia mendengar namanya dipanggil oleh Tadahisa. Maka dari itu, Viltus masuk ke dalam ruangan Tadahisa. Setelah masuk, Tadahisa langsung berkata,
"Kau diijinkan oleh Laksamana Ichijo."
"Eh ?"
"Kau akan menjadi delegasi dari Yokosuka untuk membawa bunga dari kita semua kepada Laksamana yang meninggal di pertempuran tersebut."
"Hanya Laksamana..."
"Iya..."
"..."
"Aku tahu... Setidaknya diri sudah mendapat ijin. Dan Laksamana Ichijo berkata kau sebaiknya menemui Laksamana yang bertanggung jawab atas mereka semua. Aku tidak dapat membantumu untuk masalah ini. Harus dirimu."
"Siap..."
"Bagus... Sudah, jangan membuang waktumu lagi."
Viltus pamit dan mulai berlari mencari Laksamana bersangkutan.
Kembali ke kota.
Viltus berhenti di depan toko bunga. Di sana, ia langsung berkata,
"Permisi..."
"Ah... Apa mau anda di sini..."
"..."
"Jika dirimu hanya ingin melihat saja, pergi."
"Saya kemari hanya ingin membeli dua set bunga untuk mereka yang meninggal."
"Huh ?"
"Dapatkah anda memberikan kepada saya beberapa masukan untuk hal tersebut ?"
"..."
Terdapat keheningan antara Viltus dengan pemilik toko. Hingga akhirnya, pemilik toko tersebut berkata,
"Kau bekerja untuk Angkatan Darat atau Angkatan Laut ?"
"Angkatan Laut."
"Oh... Saya kira anda di Angkatan Darat."
"..."
"Tunggu sebentar... Tadi kau bilang dua set, benar ?"
"Iya..."
Viltus melihat perubahan suasana dari pemilik toko tersebut. Tidak berapa lama, ia membawa keluar dua set yang isinya adalah Pink Carnation, Hyacinth, dan Red Spider Lily. Pemilik toko tersebut berkata,
"Sebenarnya aku ingin memasukkan bunga Lily, namun sepertinya dari matamu kau bukan orang yang senang Lily putih digunakan untuk pemakaman..."
"Ahahahahaha..."
"Untuk mereka yang tenggelam ?"
"Untuk dia yang meninggal dan mereka yang tenggelam."
"Oh... Okazaki Kimura..."
"Anda mengenalnya ?"
"Tentu saja. Dia itu sering datang kemari, menanyakan bunga apa yang cocok untuk diberikan kepada seorang gadis."
"..."
"Dan kau tahu... Dia mengingatkan diriku dengan anakku."
"Eh..."
"Anak itu sekarang masih di Angkatan Darat."
"Apakah dia..."
"Tidak... Dia masih hidup. Hanya saja dia juga berjuang di luar negeri."
"Apa yang terjadi ?"
"Di luar sana, terutama daerah yang tidak terjamah oleh laut... Diserang oleh beberapa monster... Maka dari itu, Angkatan Darat dengan dibantu oleh salah satu akademi melakukan penyerangan balik."
"Begitukah..."
Pemilik toko tersebut mengeluarkan sebuah foto, dan menujukkan seorang pria dengan rambut hitam pendek dan mengenakan pakaian formal angkatan darat berwarna coklat. Dari mata pria tersebut, terlihat dengan jelas mata seseorang yang penuh dengan semangat. Dan di sekitar dia ia melihat tiga orang gadis.
Satu Gadis memiliki rambut ungu pendek. Ia mengenakan pakaian putih, dan sebuah topi dari Amerika. Gadis lain memiliki kulit yang kecokelatan dengan rambut hitam pendek. Ia hanya mengenakan sebuah celana yang benar-benar pendek dan bikini. Ia memegang seekor meerkat. Dan satu gadis lagi memiliki rambut ungu pendek, mata kuning, dan mengenakan pakaian yang cukup kebesaran. Ia sendiri membawa seekor kucing hitam. Untuk dua gadis terakhir, terlihat mengenakan sebuah kuping palsu di kepala mereka. Yang paling menarik perhatian Viltus adalah, ketiga gadis tersebut mengenakan sebuah perlengkapan. Seperti perlengkapan besi, dan sebuah meriam. Layaknya seorang Gadis Kapal.
Pemilik toko tersebut melihat ke arah Viltus dan kemudian berkata,
"Ahahahahaha... Maafkan saya menghabiskan cukup banyak waktu anda. Ini kebiasaan saya. Maaf... Maaf..."
"Itu bukan masalah..."
"Jika dia datang kembali kemari, aku akan memberitahumu. Aku yakin dirimu akan sering datang kemari. Dan kalian berdua akan berteman baik."
"Terima kasih banyak."
"Sama-sama."
"Ah... Semua ini..."
"Kau tidak perlu membayarnya... Semua itu gratis."
"Terima kasih banyak... Ummm..."
"Nama saya adalah Suzuki Akemi. Jika saya boleh tahu, siapakah nama anda ?"
"Vil..."
Viltus diam sebentar dan kemudian berkata,
"Namaku adalah Hakuno Kazuki. Namun, jika anda datang ke Yokosuka dan ingin mencari saya... Mayoritas mengetahui nama saya sebagai Viltus Amarov."
"Baiklah... Hakuno-san."
"Senang berkenalan dengan anda Suzuki-san. Saya akan datang kemari lagi untuk membeli bunga."
"Ahahahahaha... Saya dengan senang hati membantu anda."
Setelah itu, Viltus kembali berjalan ke markasnya. Dikarenakan perjalan dirinya akan sangat lama besok.
H-1
Viltus berdiri di geladak kapal, dan melihat ke arah langit biru. Ia kemudian memperhatikan bunga yang diberikan kepada dirinya. Semua bunga itu ditujukan kepada Kimura yang meninggal di pertempuran tersebut. Bukan kepada Gadis Kapal yang tenggelam. Ia langsung menghela nafas. Tidak berapa lama, ia mendengar shutter kamera. Ia langsung berkata,
"Hei... Jangan seenaknya saja memotret orang."
"Ehehehehe..."
"Aoba..."
Viltus melihat ke arah belakang dan menemukan Aoba di sana. Aoba langsung berjalan ke dekat Viltus dan kemudian berkata,
"Terima kasih banyak, kau membawa kami semua."
"Bukan masalah."
"Mengapa dirimu bersikeras ingin ke tempat itu ?"
"Itu..."
Aoba melihat ke arah anjungan dan kemudian berkata,
"Jika Taihou melihat kita... Apakah dia akan cemburu ?"
"Entahlah... Mungkin akan."
"Ehehehehe..."
Viltus melirik ke arah Aoba sebentar dan melihat bayang-bayang itu kembali. Ia kemudian melihat ke arah laut karena ia muak dengan bayang-bayang tersebut. Aoba mendadak berkata,
"Viltus... Hei... Viltus !"
"Ah... Maaf... Aku..."
"Kau... Masih tersiksa oleh kejadian itu, ya ?"
"Tidak... Aku..."
"Kau menutupinya... Aoba tahu... Kau sempat tidak dapat tidur berhari-hari, setelah kau pingsan..."
"..."
"Atau mungkin sebelum itu pun... Terkadang dirimu tidak dapat tidur... Benar ?"
"..."
Aoba kemudian memegang pundak Viltus dan kemudian berkata,
"Kau... Bermimpi apa ?"
"Apa maksud..."
"Taihou memberitahu Aoba semuanya."
"Apa..."
Viltus melihat ke arah anjungan, dan langsung menundukkan kepalanya. Aoba langsung berkata,
"Viltus... Aoba yakin... Dirimu masih merasa bersalah atas semua itu..."
"..."
"Viltus..."
"Jika... Jika saja diriku dapat menahan dirinya... Aku yakin dirimu akan lebih bahagia... Tidak hanya dirimu... Uzuki... Yayoi... Semua orang di Yokosuka."
"..."
"Selama beberapa hari... Aku mendengar suara... Suara orang yang membenciku... Di dalam mimpiku... Aku... Juga melihat tanganku yang bersimbah darah... Aku takut... Aku sangat takut..."
"Viltus... Hei..."
"Pada awalnya aku hanya mendengar suara... Namun, aku melihatnya... Aku melihat Kimura... Dan dirimu... Kalian... Ingin... Membunuhku... kalian..."
"Hei..."
"Aku berusaha untuk melupakannya setelah bertemu dengan dirimu... Namun, mimpi itu tetap kembali... Bersama semuanya... Semua mimpi itu... Di mana aku... Aku..."
"Viltus !"
Aoba langsung menarik Viltus. Setelah itu, ia langsung berkata,
"Viltus... Lihat Aoba sekarang... Apakah Aoba ingin membunuh dirimu ?"
"..."
"Viltus..."
"Tidak..."
"Li..."
"Tapi... Aku tidak tahu dengan di dalam dirimu... Aku..."
"Untuk apa Aoba membunuh seseorang yang seperti saudara bagi Kimura ?"
"Itu..."
"Jika itu adalah Aoba yang sekarang dapat berkata seperti itu. Lain pada saat kehilangan Kimura..."
"Eh..."
"Pada saat itu, Aoba membenci dirimu. Aoba mengutuk dirimu. Aoba ingin sekali membunuhmu."
"..."
"Namun, pada saat dirimu menampakkan diri dengan wajah yang hancur seperti itu, Aoba sadar, dirimu pun juga hancur."
"Aku..."
"Aoba tahu... Itu semua bukan sepenuhnya salah Viltus... Aoba tidak dapat menahan semua amarah Aoba pada saat itu."
"..."
"Dan melihat wajahmu yang menanggung semua dosa itu sendirian... Aoba sadar.. Untuk apa Aoba membenci dirimu ? Untuk apa Aoba mengutuk dirimu ? Untuk apa Aoba ingin membunuh ? Itu semua tidak ada gunanya."
"Kau berhak melakukan itu semua. Aku yang telah..."
"Itu bukan dirimu. Itu semua karena kepribadian Kimura yang sulit diubah."
"..."
"Maka dari itu, Aoba berpikir... Untuk membantu dirimu. Kimura pernah berkata kepada Aoba bahwa, ia merasa Viltus memiliki trauma yang berat. Dan sepertinya ini adalah tugas dirinya sebagai sahabat untuk membantu dirimu."
"Darimana Kimura..."
"Kimura dan Aoba itu hebat dalam mengumpulkan informasi."
"Benar juga..."
"Dan dikarenakan Kimura sudah meninggal... Sekarang tugas itu diemban oleh Aoba, dan semua orang yang dekat dengan dirimu."
"Itu dirimu... Bagaimana dengan Uzuki dan Yayoi ?"
"Mimpi apa sih yang kau lihat ?"
"Itu..."
Aoba langsung tersenyum melihat wajah Viltus yang sedikit masam. Aoba kemudian berkata,
"Yayoi yang paling cepat menerima hal tersebut. Sementara, Uzuki... Pada awal divisimu terbentuk yang baru, sebenarnya Uzuki tidak menyukainya... Karena harus dibawah kepemimpinan orang yang telah membunuh ayahnya."
"Aku tahu itu... Pasti itu yang dia rasakan. Aku hanya membuat wajah seakan-akan tidak merasakan situasi."
"Namun, sedikit demi sedikit Uzuki dapat melepas Kimura... Dia melihat dirimu juga tersiksa, jauh lebih tersiksa. Apalagi setelah mendengar cerita Shiro-san."
"Eh ? Shiro-nee mengatakan apa ?"
"Mengenai keluargamu... Yang juga mendapat anggukan dari Shigure..."
"Shiro-nee... Shigure... Kenapa kalian..."
"Uzuki langsung sadar, dirimu jauh lebih tersiksa... Dan ia melihat betapa dirimu berusaha sebisa mungkin untuk melindungi kami semua. Untuk membawa kami semua kembali, dengan bayang-bayang kegagalan dari perang tersebut."
"Itu..."
"Perang pasti akan merenggut nyawa banyak orang. Baik itu orang yang tidak kita kenal. Maupun orang yang sangat kita cintai."
"Kau benar..."
"Dan dikarenakan kita maju sebagai ujung tombak manusia... Kita harus siap dengan semua pengorbanan tersebut. Aoba dan dirimu merasakannya dengan cara yang sangat kasar. Namun, itu menyadarkan Aoba."
"Iya..."
Aoba kemudian melihat ke arah langit. Ia kemudian berkata,
"Itu dari sisi Aoba... Bagaimana dengan Shiratsuyu dan yang lainnya ?"
"Itu..."
"Kau masih belum bertemu mereka selain Yuudachi dan Shigure ?"
"Tidak... Aku sudah bertemu dengan Shiratsuyu, Samidare, Suzukaze, Kawakaze, dan Umikaze..."
"Murasame ?"
Viltus langsung mengepalkan tangannya. Aoba yang melihat itu langsung menghela nafas. Viltus kemudian berkata,
"Aku tahu... Murasame pasti membenci diriku... karena Murasame merupakan salah satu yang paling perhatian dalam memperhatikan Harusame."
"..."
"Jika... Jika saja aku... Tidak... Tidak ada gunanya... Hanya akan membuatku semakin terpuruk..."
"Sekarang aku mengerti..." ujar seseorang.
Pada saat Viltus melihat ke belakang, ia melihat seorang gadis dengan rambut twintail. Ia adalah Murasame. Viltus langsung memalingkan wajahnya. Murasame kemudian berkata,
"Aku selama ini bertanya-tanya mengapa dirimu tidak menampakkan diri di hadapanku lagi."
"Aku..."
"Sekarang aku tahu... Aku tahu dirimu sangat tersiksa dengan semua itu."
"..."
"Tapi, aku pun juga tersiksa. Aku ingin mendengarkan kabar itu dari mulutmu. Semua itu. Bukan dari orang lain."
"Maaf..."
"Haah... Namun, setidaknya dirimu banyak berubah..."
"Tidak juga... Aku masih..."
"Terikat dengan rantai masa lalumu ?"
"..."
"Apa yang dikatakan oleh Taihou ada benarnya..."
"Taihou memberi tahu apa lagi ?"
"Semuanya."
"Kepada semuanya, ya..."
"Tidak."
"Eh ?"
"Dia hanya memberitahu diriku dan Aoba-san."
Viltus melihat kembali ke arah anjungan dan melihat Taihou yang tersenyum. Wajah Viltus seakan-akan berkata bahwa kenapa kau memberitahu mereka. Viltus langsung menghela nafas saja. Murasame dan Aoba kemudian melihat satu sama lain, dan kemudian
"Laksamana... Mulai saat ini, mari kita bekerja sama kembali... Berusaha sebisa mungkin untuk kembali ke Yokosuka." ujar Murasame.
"Mudah mengatakan... Sulit melakukan."
"Namun, dirimu mampu membantu Magyar-san yang trauma." ujar Aoba.
"Dan sekarang adalah giliran kami semua yang membantu dirimu... Menghadapi trauma tersebut." ujar Murasame kemudian
"Namun, tidak seluruhnya... Taihou yang harus mengambil bagian penting dari ini." ujar Aoba.
"Aku yakin kau pasti mampu melakukannya." ujar Murasame
Viltus melihat mereka berdua, dan melihat bayangan yang menghantui dirinya mulai memudar walaupun tidak sepenuh hilang, setiap kali ia mendengar kata-kata penuh semangat dari kedua orang tersebut. Kata-kata itu seakan menghancurkan rantai yang mengekang dirinya. Viltus langsung menunduk dan kemudian tersenyum. Aoba dan Murasame yang melihat itu langsung terkejut. Viltus kemudian memeluk mereka berdua, dan kemudian berkata,
"Terima kasih banyak... Kalian berdua..."
"Bukan masalah... Laksamana..." ujar Murasame
"Kami di sini akan membantumu, Viltus." ujar Aoba.
Taihou yang melihat itu langsung tersenyum. Setidaknya ia tahu, Viltus dapat sedikit lebih tenang, walaupun tidak sepenuhnya.
Viltus masuk ke dalam kembali, dan melihat Taihou yang berdiri di lorong. Viltus langsung berjalan dan berkata,
"Kau..."
"Ehehehehe... Maafkan aku."
"Haah... Tidak apa-apa..."
Taihou langsung berhenti di depan Viltus dan memegang wajah Viltus. Ia langsung berkomentar,
"Keriputmu sudah berkurang, Ehehehehe.."
"Sudahlah..."
"Tapi, setidaknya kau tahu apa yang mereka pikirkan, benar ?"
"Iya... Tapi, bayangan itu masih ada... Masih menghantui diriku."
"Tenang saja. Kami semua ada di sini. Pasti akan membantumu..."
"Iya... Aku tahu..."
Viltus langsung memeluk Taihou, karena ia sangat lega. Setidaknya ia tahu semua yang ada di kepala orang yang ia takuti.
Dua hari itu, kelompok Viltus berhenti dua kali. Pemberhentian pertama adalah tempat di mana Yuudachi dan Shigure bersama dengan Harusame. Viltus melempar satu paket bunga, dan langsung berdoa. Semuanya juga ikut berdoa. Dan pada saat itu, Viltus mendengar suara,
"Oni-chan..."
"Huh ?"
"Ada apa, Viltus ?" tanya Taihou
"Tidak... Tidak apa-apa... Sepertinya tadi ada angin..."
"Baiklah..."
Viltus kemudian berdiri dan kemudian memerintahkan kapal komando ke titik terakhir kapal komando milik Kimura. Setelah tiba di sana, Viltus langsung melempar bunga yang ia beli, lalu diikuti dengan bunga dari semua orang di Yokosuka. Aoba melempar bunga yang ia beli sendiri juga. Mereka kemudian berdoa sebentar. Setelah itu, mereka kembali ke Yokosuka.
Selama perjalanan, Viltus, Aoba, dan Shigure menceritakan mengenai pertempuran tersebut. Setelah itu, Viltus langsung berkata,
"Aku akan berusaha... Untuk membawa semuanya kembali... Sebisaku untuk membawa semuanya... Apakah kalian dapat membantuku ?"
"Kau masih bertanya mengenai hal tersebut ? Tentu saja, Magyar Libyet akan dengan senang hati membantu dirimu !" ujar Magyar
"Kau tidak perlu menanyakan itu. Aku pasti akan mengikuti dirimu." ujar Anastasia
"Ehehehehe... Aku tahu kau pasti akan membawa semuanya kembali. Tapi, bila satu tenggelam... Itu bukan sepenuhnya salahmu... Aku tahu dunia ini kejam. Jadi, kau harus membagi semuanya dengan kita semua." ujar Elisa.
"Iya... Terima kasih banyak..."
Viltus langsung berdiri dan kemudian melihat keluar dari kapal. Laut luas. Tempat di mana manusia seharusnya memilikinya. Namun, semuanya diambil alih oleh Abyssal. Dan itu adalah tugasnya sebagai Laksamana dan ujung tombak manusia untuk membawanya kembali ke tangan manusia.
HakunoKazuki di sini...
SPRING EVENT SUDAH TIBA !
Yey ! Saatnya untuk...
H : *Stare
V : *Stare
T : *Stare
HK : Gw tw Hakai dan Viltus pasti... Tapi Taihou juga ?!
Tenang saja, gw masih lanjut nulis koq... Tenang saja.
Dan berhubung event baru muncul... Berarti saatnya untuk mengecek... HIME BARU !
Jika mayoritas ingin melihat seperti apa Kanmusu baru, gw lbh senang melihat HIME BARU... Because... mereka lebih cantik...*ehem
Dan kalian tahu... Salah satu nama dari Hime yang baru itu... Sangat indah... Iya... Sangat indah... Jika kalian dapat menebak Hime yang mana dan apa makna dari nama itu... Gw kasih kesempatan bwt nulis one shot dari Kanmusu favorit kalian... Ahahahahahaha... Just PM me. Untuk 5 pembaca yang beruntung... Jika pada mau sih...
Maka dari itu saya akan berkata...
BERJUANGLAH ABYSSAL JANGAN SAMPAI KALIAN KALAH BERIKANLAH SALT SEBANYAK MUNGKIN ! DAN DRAIN SANITY MEREKA !
P.S. Jangan dibakar atau dihajar massa... Saya bercanda...
P.S.S. Hakai yang mengancam diriku !
Dan untuk sesama pemain Kancolle... Jangan biarkan sanity kalian benar-benar hilang... Kalian masih dibutuhkan di dunia nyata mengerti... Nanti malah seperti Hakai lagi.
H : How about you ?
HK : Gw butuh sanity gw di bawah normal... Untuk menulis ini semua !
Sampai jumpa di kesempatan berikutnya
