Chapter 19
Language
Markas Angkatan Laut Yokosuka sedikit lebih tenang setelah Laksamana Ichijo kembali pergi ke Kure untuk membantu Laksamana Yanagi Shiro. Dan selama Mo masih di Yokosuka, banyak Laksamana yang sedikit hati-hati dalam tingkah laku mereka terhadap Gadis Kapal. Mereka khawatir, Gadis Kapal kesayangan mereka akan dibebastugaskan oleh Ichijo. Salah satunya adalah Viltus.
Dan setelah Mo pergi, Viltuslah yang paling lega. Ia pagi itu kembali berjalan ke arah kantornya setelah beberapa hari sebelumnya berdiskusi dengan Tadahisa dan Mo perihal kemungkinan akan menyerang salah satu pulau dekat dari markas mereka, dan akan membuat markas tambahan lagi di daerah tersebut. Setelah banyak perbincangan akhirnya disetujui mereka akan menyerang di akhir tahun tersebut.
Viltus tiba di depan pintu kantornya dan membuka pintunya. Ia hanya menemukan Furutaka di dalam ruangan tersebut. Viltus langsung berkata,
"Selamat pagi, Furutaka."
"Ah... Selamat pagi, Laksamana."
"Tumben sekali dirimu sudah tiba pagi ini..."
"Ini... Ummm..."
"Ahahahahahaha... Sudah tidak apa-apa."
Viltus melihat ke kiri dan kanan, dan kemudian berkata,
"Taihou di mana ?"
"Dia yang memintaku untuk datang lebih dahulu."
"Huh ?"
"Dia berkata ada urusan sebentar dan pergi bersama dengan Anastasia-san."
"Mereka ?!"
"Iya. Katanya ke kota."
Viltus langsung melihat ke kalendar, dan kemudian langsung menepuk keningnya. Ia baru ingat Taihou sebelumnya pernah berkata akan pergi ke kota bersama dengan Anastasia untuk mencari barang. Viltus kemudian duduk dan mencari dokumen yang akan dikerjakan olehnya hari ini. Furutaka yang memperhatikan Viltus, kemudian bertanya,
"Ummm... Laksamana..."
"Ada apa ? Dan bukankah aku sudah berkata untuk memanggil namaku daripada memanggil Laksamana ? Membingungkan mengerti jika ada temanku di sini."
"Ah... Maaf... Viltus-san."
"Sudahlah... Ada apa ?"
"Ummm... Apakah kau sudah benar-benar sembuh ?"
"Sudah... Kenapa ?"
"Tapi dari wajahmu..."
"Wajahku ?"
Viltus melihat ke arah cermin dekat situ, dan melihat wajahnya yang lelah. Lelah karena kebohongan yang dikatakan oleh Hakai sebelumnya mengenai mimpinya. Ia masih bermimpi mengenai masa lalunya. Viltus langsung menghela nafas dan kemudian berkata,
"Secara fisik... Iya... Aku sudah lebih baik."
"..."
"Namun, secara mental belum sepenuhnya sembuh."
"Apa... apa karena kematian Kimura-san ?"
"Kau sepertinya mengenal Kimura, ya ?"
"Iya. Dari Aoba."
"Sebelum atau sesudah kematian dirinya ?"
"Sebelum kematiannya... Pada saat Aoba masih di bawah Kimura-san."
"Aku yakin... Pada saat itu Aoba masih mempertanyakan apakah dia mencintai Kimura atau tidak. Benar ?"
"Iya."
"Aku sudah menduganya. Selama dua tahun diriku di Yokosuka ini, yang paling mengubah semuanya adalah Kimura. Walaupun sebagian mengatakan bahwa Haruto pun melakukan hal yang sama. Aku tidak sepenuhnya tahu."
"..."
"Aku seharusnya sadar... Jika Kimura tidak melakukan hal tersebut, kita tidak mungkin dapat berbincang-bincang seperti ini. Bahkan, mungkin aku tidak akan bersama Taihou sekarang."
"Viltus-san, maksudmu..."
"Aku tidak mensyukuri kematian Kimura. Namun, aku belajar satu hal dari mereka semua yang kehilangan Kimura. Mereka tidak meratapinya, mereka menggunakan kematian dari Kimura untuk melecut semangat mereka. Dan dari situ aku sadar, diriku yang telah kalah."
"..."
"Dari sebuah kejadian buruk, kita pun dapat memetik hal positif dari kejadian tersebut. Walaupun sangat sulit."
"Jika seseorang berbuat buruk, pada saat ia meninggal akan membuat semua orang rindu dengan tindakannya."
"Huh ?"
"Aoba pernah berkata seperti itu... Dan itu sepertinya dari Kimura-san."
"Heh ? Dia bisa filosofis juga."
"Viltus-san... Aku akan bertanya sekarang, apakah dirimu masih meratapi kematian Kimura ?"
"Tentu saja. Walaupun rantai penyesalan itu sudah sedikit hancur karena apa yang dikatakan oleh Aoba dan Murasame saat itu."
"..."
"Sudahlah... Pagi-pagi membicarakan hal ini... Sungguh tidak enak mengerti."
"Ah... Maaf..."
"Tidak apa-apa."
Viltus kembali memperhatikan dokumen yang ia kerjakan, sementara Furutaka terlihat masih ingin menanyakan mengenai satu hal. Viltus yang merasakan tatapan tersebut, langsung melihat ke arah Furutaka dan kemudian bertanya,
"Ada apa, Furutaka ?"
"Ummm..."
"..."
"Begini... Ummm..."
"Kau tidak perlu khawatir, aku akan menjawab pertanyaanmu... Kecuali pertanyaan yang sedikit menganggu."
"..."
"Jadi ?"
"Viltus-san... Kau selalu menyebut Tadahisa sebagai ayah... Namun, aku tidak melihat dirimu mirip dengan dirinya."
"Oh... Dia itu... Ayah angkatku."
"Eh ?"
"Ahahahahaha... Aku ini diangkat oleh keluarga Yanagi, makanya aku memanggil beliau dengan ayah, begitu pula dengan Shiro-nee."
"Lalu... Apa yang terjadi dengan..."
"Maaf, itu tidak dapat kujawab."
"Baiklah..."
"Ada pertanyaan lain ?"
"Ada... Jika dirimu adalah bagian dari keluarga Yanagi, mengapa dirimu tidak menggunakan nama keluarga mereka, dan tetap menggunakan nama... A... Ama..."
"Amarov."
"Iya."
"Itu adalah nama keluarga Ibuku. Aku memilih nama itu, untuk mengingatkan diriku dengan ibuku."
"Eh ?! Ibu anda orang Russia ?!"
"Ahahahaha... Aku tidak akan menjawabnya. Bahkan Taihou belum mengetahuinya."
"Uuuuhhh... Maaf..."
"Tidak apa-apa..."
Viltus kemudian kembali mengerjakan dokumen miliknya. Furutaka memperhatikan Viltus dengan seksama, dan kemudian berkata,
"Laksamana..."
"Kembali memanggilku Laksamana, huh ?"
"Ah... Maaf..."
"Sudah bukan masalah. Ada apa ?"
"Apakah anda ingin dibuatkan minum ?"
"Boleh saja. Biasanya Taihou langsung membuatkan diriku, dan diriku lupa dia sedang pergi. Dapatkah kau membuatkan Russian Earl Grey ?"
"Eh ? Eh ?"
"Itu yang..."
"Oolong."
"Ummm..."
"Buatkan saja Oolong. Aku tidak ingin membuat dirimu yang menjadi sekretaris pengganti sementara kebingungan."
"Baik."
Viltus langsung tersenyum melihat Furutaka yang bersemangat membuat minuman tersebut. Ia langsung kembali mengerjakan dokumennya. Dan pada saat itu, ia langsung berkata,
"Furutaka... Hati-hati membawa nampan. Tempat ini cukup li..."
"Laksamana... Awas !"
"Huh..."
Viltus melihat ke depannya dan melihat nampan dan gelas favoritnya yang melayang. Di depannya ia pun melihat Furutaka yang terpeleset. Pertanyaannya sangat mudah di kepala Viltus. Mengapa dia dapat terpeleset seperti itu, dan mengapa di depan mejanya bukan di tempat lain. Apakah ini permainan dari dewa di atasnya. Atau memang kesialan dia saja.
Seluruh isi dari gelasnya tumpah di dokumennya. Viltus sedikit diam sebentar, sementara Furutaka langsung menunduk dan berkata,
"Ah... Maafkan aku..."
"Tidak apa-apa..."
"Tapi... Tapi..."
"Aku akan memberitahu ayah mengenai ini. Aku yakin dirinya dapat mengerti."
"Tapi... Tapi... Tapi..."
Viltus yang melihat Furutaka panik, langsung menghela nafas dan kemudian berdiri. Ia langsung memukul kepala Furutaka dengan pelan, sembari berkata,
"Aku sudah katakan, bukan masalah."
"..."
"Sudah... Kau istirahat saja."
"Ba... Baik..."
"Kau sudah berusaha sebisamu... Namun, dengan kondisi kepalamu yang tidak tenang seperti ini, akan menganggu kinerja kita."
"Baik..."
Furutaka langsung menunduk dan berjalan keluar dengan lesu. Viltus langsung melihat celananya yang sedikit basah karena terkena tetesan air. Viltus langsung berkata,
"Sebaiknya aku kembali ke kamarku saja dahulu."
Ia kemudian berjalan keluar dari kantornya menuju ke kamarnya, untuk mengganti pakaiannya.
Dua jam berlalu.
Viltus sudah kembali ke kantor, namun tidak satu pun anggota dari divisinya yang muncul. Ia baru ingat Magyar sedang membantu Elisa dikarenakan sistem radar di kapal komandonya sedikit bermasalah sehingga butuh bantuan pihak terkait. Sementara, Anastasia sedang keluar bersama Taihou. Gadis Kapal yang lain tidak hadir dikarenakan mereka mengadakan latihan tempur di bawah komando Laksamana lain, yang sudah mendapat persetujuan dari Viltus.
Dan dikarenakan tidak ada yang hadir, Viltus melepas kemejanya, dan menggantungnya di kursinya. Dokumen yang basah sudah diberikan kembali kepada Viltus, dengan sedikit ceramah dari petinggi dari Yokosuka dilanjutkan dengan ceramah dari Tadahisa.
Viltus membaca semua dokumen yang diberikan kepada divisinya. Ia melihat divisinya akan menjalankan sebuah misi lain sebelum misi besar tersebut untuk melakukan pembebasan kembali di satu wilayah, ditambah tugas untuk memberikan perlindungan udara terhadap divisi lain dekat wilayah operasionalnya. Operasi tersebut memakan waktu satu bulan penuh, dan tidak akan kembali ke markas selama waktu tersebut.
Viltus yang membaca hal tersebut langsung menghela nafas, dan berkata,
"Berarti... Harus menyiapkan kembali ransum makanan ditambah beberapa es dan minuman dingin... Kapal komando sangat panas pada saat itu."
Viltus kemudian membalikkan dokumen tersebut dan melihat laporan awal mengenai lokasi yang akan mereka ambil. Viltus memperhatikan sebuah gugusan pulau kecil yang dapat digunakan oleh Viltus sebagai tempat istirahat darurat, dan juga tempat Elisa akan tinggal sementara waktu bersama beberapa marinir. Ia pun memperhatikan sumber pangan di daerah tersebut, sebelum memperhatikan seluruh divisi lawan.
Setelah cukup yakin dengan sumber pangan, ia melihat laporan mengenai divisi lawan. Ia melihat target utama mereka adalah sebuah pulau yang cukup besar, dengan beberapa gugusan pulau kecil yang berjarak sekitar 2500 KM dari gugusan pulau tempat markas sementara Viltus. Dan dari laporan tersebut, Viltus menangkap setidaknya lawan memiliki divisi Kapal Induk yang cukup besar dan beberapa Kapal Tempur.
Viltus kemudian bergumam,
"Di sini pun dilaporkan mengenai kemungkinan munculnya wanita dengan gaun hitam tersebut... Abyssal yang telah merenggut nyawa dari Harusame, Kimura dan Kinugasa..."
"Begitukah ?"
Viltus melihat ke depan, dan melihat Aoba yang berlutut dengan bertopang dagu di hadapannya. Viltus sangat terkejut dan langsung berkata,
"Aoba ! Sejak kapan dirimu di sini ?!"
"Hehehehe... Baru saja."
"Bukankah dirimu sedang latihan ?!"
"Aoba sudah selesai berlatih... Jadi, Aoba kemari."
"..."
"Tenang saja, Aoba cuma berkunjung saja koq."
"Daripada itu... Bagaimana kau dapat..."
"Pintu terbuka lebar. Itu kan kebiasaanmu."
Viltus melihat ke arah pintu, menghela nafas, dan kemudian bersandar di kursinya. Aoba memperhatikan dokumen yang dikerjakan oleh Viltus dan berkata,
"Wah... Kau pergi ke arah timur, ya ?"
"Iya... Ada kemungkinan bertemu dengan Neo."
"Fufufufufufu... Aku yakin dia bahagia sekali."
"Iya..."
"Sementara kau pergi ke timur yang sangat hangat, Aoba pergi ke utara yang sangat dingin."
"Itu lebih baik daripada panas di timur."
"Tidak juga !"
Viltus tersenyum mendengar jawaban dari Aoba. Aoba kemudian menatap ke arah Viltus dan kemudian berkata,
"Wanita itu ada di sana ?"
"Itu baru rumor... Semenjak pertempuran kita saat itu, ia sama sekali belum menunjukkan batang hidungnya sama sekali."
"Walaupun demikian, ada banyak laporan mengenai munculnya wanita tersebut."
"Kau tahu darimana ? Itu merupakan informasi penting yang..."
"Kau sendiri tahu dari mana ?"
Viltus langsung terdiam mendengar itu, yang langsung mendapat tawa dari Aoba. Viltus langsung menghela nafas dan kemudian berkata,
"Sudahlah..."
"Daripada itu, Viltus-san... Maukah kau menjadi model untuk foto Aoba ?"
"Hah ?"
"Aoba lihat... Tubuhmu cukup proporsio... Eh... Itu bekas operasi ?"
"Ah..."
Viltus melihat ke bahunya dan langsung mengangguk. Viltus kemudian berkata,
"Ya... Ini bekas operasi... Setelah kejadian yang merenggut nyawa ibuku."
"Oh..."
"Jawabanmu sangat mudah sekali..."
"Daripada itu..."
"Dan kau pun cepat mengalihkan pembicaraan..."
"Di mana Taihou ?"
"Sedang ke kota... Bersama Anastasia."
"Lalu apa yang kau lakukan sehingga membuat Furutaka terlihat kecewa ?"
"Apa-apaan kau ? Paparazzi ?"
"Hehehehehe..."
"Dia panik setelah menjatuhkan gelas ke mejaku... Aku minta dia istirahat."
"Oh... Begitu..."
"Kembali lagi... Jawabanmu sangat singkat..."
Aoba sedikit tertawa mendengar itu. Viltus kemudian mengambil satu dokumen terakhir, yang berisi mengenai divisi yang akan membantunya. Pada saat membaca nama Laksamana yang tertera, Viltus sedikit diam. Melihat ekspresi dari Viltus, Aoba langsung mengintip dan juga terdiam. Aoba langsung berkata,
"Laksamana luar negeri lain..."
"Iya..."
"Dia sudah jadi pemimpin divisi, jangan buat dia patah semangat !"
"Aku tahu... Aku tahu..."
Tidak berapa lama, pintu terbuka dan di sana berdiri Agano dengan wajah sangat bahagia. Agano yang melihat Viltus langsung berkata dengan riang,
"Boa tarde, o almirante !"
"Boa tarde, Agano... Huh ?"
Viltus yang tadi fokus membaca dokumen langsung terkejut sembari melihat ke arah Agano. Agano langsung berjalan ke arah sofa dan duduk di sana. Ia mengambil manga dari lemari, dan juga mengambil beberapa snack.
Viltus yang masih terkejut, melihat ke arah Agano dan kemudian melihat ke arah Aoba. Aoba yang melihat Viltus langsung berkata,
"Ara... Ara... Apakah Viltus-san terpesona dengan Aoba ? Maaf, Aoba tahu Viltus-san sudah memiliki pasangan."
"Bukan itu..."
"Lalu ?"
"Apakah kau mendengar apa yang dikatakan oleh Agano ?"
"Tidak."
"Tunggu sebentar."
Viltus melihat ke arah Agano kembali, dan berkata,
"Agano, dapatkah kau mengatakan yang kau katakan tadi ?"
"Huh ? Boa tarde, o almirante..."
"Sejak kapan kau dapat berbicara bahasa Portugis jika saya boleh tahu ?"
"Oh... Aku diajarkan oleh salah satu Laksamana yang dibantu oleh Laksamanaku dulu."
"Dan jika boleh tahu, siapakah namanya ?"
"Marcos Luiz de Souza !"
Viltus duduk di kursinya. Anastasia duduk di sofa sembari memangku Hatsuzuki. Dan Magyar dengan Elisa sendiri sedang berbincang-bincang mengenai radar mereka yang sudah diperbaharui. Taihou, yang sudah kembali dari kota, langsung berjalan ke arah Viltus yang sedang berpikir sebentar. Taihou langsung bertanya,
"Ada apa, Viltus ? Tumben sekali dirimu berpikir seperti itu."
"Ah... Itu karena... Eh, kau membeli anting ?"
"Ah... Ahahahahaha..."
"Itu cocok dengan dirimu... Sangat cocok..."
"Kau ini... Ehehehehe..."
Aoba yang ada di dalam kantor Viltus dikarenakan Laksamananya kembali mendapat ceramah panjang dari Tadahisa, melihat ke arah Viltus dan kemudian bergumam,
"Sekarang siapa yang dengan mudahnya mengalihkan pembicaraan..."
"Apa maksudmu, Reporter gagal ?" ujar Viltus sedikit kesal.
Aoba langsung menjulurkan lidahnya, dan kembali berbincang-bincang dengan Furutaka dan Kako. Taihou langsung bertanya kembali,
"Ada apa ?"
"Oh... Kita akan mendapatkan misi lain, sebelum misi besar di akhir tahun."
"Begitukah ? Misi apakah itu ?"
"Misi pembebasan wilayah, dikarenakan wilayah tersebut akan digunakan sebagai tempat markas cadangan bagi divisi pengintaian."
"Oh... Begitu..."
"Dan kita akan dibantu oleh divisi lain dalam proses ini."
"Begitukah ? Siapakah laksamana tersebut ?"
"Marcos Luiz de Souza."
Mendengar nama itu, Agano langsung melihat ke arah Viltus dengan wajah sangat bahagia. Ia langsung meninggalkan Yahagi dan Noshiro, lalu melompat di depan Viltus sembari berkata,
"Marcos-san akan membantu kita ? Yey !"
Viltus dan Magyar melihat Agano, dan dari wajahnya dapat terlihat jelas di kepala mereka berpikir itu yang bergerak dan bergoyang dengan indah di depan mereka. Namun, mereka menyadari tatapan yang jauh lebih tajam dari orang lain, sehingga mereka langsung kembali fokus mengerjakan tugas mereka.
Agano kembali bertanya,
"Ne... Neee... Marcos-san pasti datang kemari, benar ?"
"Iya... Seharusnya dia melapor kepada diriku..."
"Yey !"
"Daripada itu, dia yang mengajarimu bahasa tadi, benar ?"
"Iya."
"Bagaimana ceritanya ?"
"Pada saat perkenalan ia mengucapkan sesuatu kepada diriku, dan aku langsung tertarik."
"Hoooh... Apakah itu ?"
"Voce tem um bom podia apalpar-lo?"
"Huh ?"
"Ia berkata artinya, 'Sungguh senang sekali berkenalan dengan gadis secantik saya berkenalan ?'"
Viltus yang mendengar itu langsung memberikan tatapan kosong. Ia kemudian membuka lacinya dan mengambil pistol miliknya. Ia mengecek peluru tanpa memperhatikan apa yang dikatakan oleh Agano berikutnya. Anastasia yang melihat itu langsung berkata, (Dalam bahasa Russia)
"Ada apa,Viltus ?"
"Kau tahu, aku harus menghukum seseorang... atas komentar konyolnya kepada Agano."
"Eh ?"
"Bagaimana mungkin dia berani membohongi gadis murni ini ?"
"Apa yang ia katakan kepada Agano ? Aku yakin Agano berkata mengenai senang bertemu dengan dirinya atau semacamnya..."
"У вас есть хорошая грудь.Мог ли я нащупать его?"
"Eh ?"
Anastasia yang mendengar itu langsung menunjukkan wajah tanpa ekspresinya. Agano dan Taihou yang mendengar pembicaraan antara Anastasia dan Viltus terlihat sangat bingung. Agano langsung menggebrak meja, dan berkata,
"Viltus-san... Kau jangan seperti itu dong..."
"Aku juga ingin mengerti apa yang kalian bicarakan."
"Mengenai itu..."
"Sebenarnya... Apa sih yang kalian bicarakan ?" tanya Taihou mendadak
Viltus memberi isyarat kepada Taihou mengenai apa yang dikatakan oleh Marcos sebelumnya kepada Agano. Melihat tanda itu, Taihou langsung tersenyum dan berkata,
"Pantas saja Anastasia seperti itu."
"Iya."
"Viltus-san... Mengapa Taihou saja yang diberikan terjemahannya ? Apa karena ia pacarmu ?" ujar Agano dengan wajah kesal.
"Mungkin." jawab Viltus dengan enteng.
Agano masih kesal kepada Viltus yang tidak ingin memberitahukan apa-apa kepadanya. Sementara itu, Magyar yang merasakan tatapan dari Anastasia langsung berkata kepada Viltus,
"Hei Viltus, mengapa Anastasia menunjukkan mata menakutkan itu lagi ? Apakah ini mengenai apa yang Agano katakan sebelumnya ?" (Dalam bahasa Hungaria)
"Ya, tepat sekali. (Idem)
"Apakah ini mengenai sesuatu seksual ? Mungkin mengenai dadanya yang besar itu ?"
"Ya, tepat sekali."
"Seperti dugaanku"
"Sebelum kau bertanya, Elisa... Ini mengenai seorang pria yang melakukan serangan seksual kepada Agano, tanpa Agano ketahui... Mengenai dadanya yang besar." ujar Viltus dalam bahasa Jerman kepada Elisa.
"Hooo... Terima kasih atas informasinya." jawab Elisa dengan tatapan yang sangat tajam, tidak kalah dengan Anastasia.
Viltus kemudian melihat ke depannya, dan melihat Agano yang tidak kesal. Ia mendadak sangat terkesan, dan dengan mata berbinar-binar, ia berkata,
"Viltus-san... Viltus-san !"
"Ada apa, Agano ?"
"Kau bisa berbicara dalam bahasa apa saja ?"
"Eh..."
"Habis... Kau terlihat lancar dalam berbicara bahasa lain. Bisa beritahu Agano apa saja yang kau kuasai ?"
"Hmmm... Mari kita lihat..."
Semua Gadis Kapal langsung melihat ke arah Viltus yang terlihat seperti menghitung. Viltus langsung berkata,
"Aku cukup fasih dalam Bahasa Jepang, Inggris dan Russia. Cukup mumpuni dalam Bahasa Ukraina, Jerman, Hungaria, Portugis, Italia, dan Spanyol. Untuk Korea dan China, dapat dikatakan lumayan. Bahasa Czech dan Kroasia masih dasar. Selain itu, tidak bisa."
Semuanya kaget dengan mulut dari Elisa dan Magyar yang terbuka lebar. Taihou langsung berkata,
"Kau bisa semua bahasa tersebut ?!"
"Dapat dikatakan demikian."
"..."
"Ada apa ?"
Agano langsung berjalan ke sebelah Viltus lalu memeluknya sembari berkata,
"Ajarkan aku semua itu, Viltus-san !"
"Agano-nee !" teriak Noshiro panik melihat itu.
Viltus tidak dapat berkata apa-apa mengenai kejadian tersebut. Sudah cukup lama ia tidak merasakan sesuatu yang sangat empuk dan lembut tepat di wajahnya, semenjak Shiro-nee dulu. Kepalanya benar-benar kosong. Ia berpikir,
'Perasaan ini... Sangat...'
Tidak berapa lama, ia merasakan tatapan membunuh dari kanannya. Ia melihat ke kanan, dan menemukan Taihou yang tersenyum sembari menutup mata. Viltus langsung sadar, jika ia tidak berkata apa-apa, dia akan mati.
Noshiro berusaha menarik Agano yang tidak mau melepaskan Viltus. Viltus bermaksud mengatakan sesuatu, namun ia merasakan genggaman di bahunya. Viltus tidak dapat berkata apa-apa selain berkeringat dingin. Taihou langsung berkata,
"Sepertinya kau menikmatinya..."
"..."
"Viltus..."
"Tolong... Bantu lepaskan..."
"Baik."
Taihou langsung memberitahu Agano untuk melepaskan Viltus. Setelah bernegosiasi cukup lama, akhirnya Agano melepaskannya karena Viltus berjanji akan mengajarkan beberapa bahasa. Setelah itu, Taihou berkata,
"Bagaimana ? Enak merasakannya ?"
"..."
"Viltus ... Вам нравится?"
"Eh..."
"Viltus..."
"Maafkan aku..."
Taihou melihat wajah Viltus yang sangat ketakutan, dan langsung mengelus kepalanya. Taihou langsung berkata,
"Aku tahu... Itu tadi Agano... Hehehehehe.."
"Tatapanmu itu..."
"Iya... Iya..."
"Daripada itu... Apakah kau mengerti apa yang kukatakan dengan Anastasia tadi ?"
"Sedikit."
"Belajar dari siapa ? Anastasia ?"
"Tebak sendiri."
Viltus langsung menghela nafas saja melihat Taihou yang menjulurkan lidahnya. Setelah itu, semua Gadis Kapal berjalan keluar mengikuti Taihou dikarenakan sebentar lagi merupakan jam makan siang. Mereka semua terlihat sangat fokus, dikarenakan mendengar kabar makanan penutup hari itu adalah Monaka buatan Irako. Tidak berapa lama, Viltus dan krunya pun pergi ke kantin untuk makan siang.
Viltus, Anastasia, Magyar dan Elisa berjalan kembali dari kantin. Selama perjalanan, Anastasia berkata,
"Seperti apakah pria yang berkata seperti itu kepada Agano ? Mempermainkan kepolosannya."
"Kita lihat saja... Hari ini harusnya dia datang ke kantorku." ujar Viltus
"Dan akan kita hukum dia." ujar Magyar
"Tepat sekali." timpal Elisa
Mereka berempat berbincang-bincang hingga tiba di dalam kantor Viltus. Di sana, Viltus langsung duduk kembali, dan mengambil benang dan alat jahit. Ia sedang membuat sesuatu untuk seseorang. Sementara itu, Anastasia langsung duduk dan membaca buku memasak milik Viltus. Magyar dan Elisa sendiri memilih bermain kartu selagi menunggu semuanya kembali.
Pada saat itu, Viltus berkata,
"Sudah tiga puluh menit berlalu.. Namun, mereka belum datang."
"Kau benar..." ujar Anastasia memperhatikan pintu
"Selain mereka, Laksamana itu pun belum hadir pula."
"Jangan-jangan... Dia sudah mengetahui nasib yang akan dia terima bila datang kemari ?"
"Sepertinya Aoba yang besar kemungkinan memberitahu dirinya." ujar Magyar.
Dan tepat pada saat itu, mereka mendengar suara dari luar. Seperti suara seorang pria dan beberapa orang wanita. Viltus melihat ke arah pintu dengan wajah heran. Ia kemudian berkata,
"Waktu makan siang sudah lewat sih... Tapi, kenapa ada yang masih di lorong ?"
"Mungkin kantor mereka lewat sini." ujar Elisa
"Bisa jadi... Tunggu, tidak mungkin... Ayah sudah memberikan ruangan kita paling ujung."
"Ah... Kau benar... berarti tujuannya adalah kemari."
"Berarti..." ujar Anastasia
"Orang yang ada di sana..." lanjut Magyar
"Adalah pria itu..." lanjut Elisa kemudian
"Marcos." ujar Viltus paling akhir.
Mereka berempat mengangguk dan menyiapkan sesuatu. Dikarenakan pistol milik Viltus diamankan oleh Taihou, Viltus langsung mengambil busur dan satu anak panah. Anastasia mengeluarkan benang nylon, sementara Magyar mengenakan sarung tangannya. Elisa sendiri menyiapkan satu ember penuh air untuk disiram kepada Marcos.
Dan pada saat mereka bersiap-siap, pintu dibuka dengan keras diiringi dengan empat gadis kapal masuk terlebih dahulu. Salah satu Gadis Kapal tersebut sangat dikenal oleh Viltus, yaitu Suzukaze. Satu Gadis Kapal memiliki rambut hitam pendek dengan mata yang sangat cerah. Pakaiannya menyerupai pakaian dari Fubuki. Gadis Kapal yang kedua memiliki rambut pink yang diikat twintail dan mengenakan pakaian seperti Akebono. Dan satu Gadis terakhir memiliki rambut coklat yang diikat bun dan mengenakan pakaian menyerupai Jintsuu.
Yang paling pertama memperkenalkan diri adalah gadis dengan rambut hitam dengan gaya mengangkat tangan ke kiri.
"Kapal Perusak dari Divisi Marcos yang maha hebat, kelas Fubuki yang keempat, Miyuki-sama sudah hadir di sini !"
"Kapal Perusak dari Divisi Master yang baik, kelas Ayanami, Sazanami, Salam kenal !"
"Kapal Perusak dari Divisi Marcos ! Kelas Shiratsuyu, Suzukaze ! Eh..." ujar Suzukaze sembari mengangkat tangan ke kanan
"Dan yang ada di tengah adalah idola seluruh markas Yokosuka, Naka-chan... Salam kenal."
Tidak berapa lama, muncul seorang pria dengan kulit coklat, dan rambut hitam pendek. Dilihat dari tingginya, ia memiliki tinggi 173 cm, 5 cm lebih tinggi dari Viltus. Ia mengenakan pakaian hitam dan kemeja Laksamananya dibiarkan tidak dikancing. Ia juga mengenakan celana panjang putih yang satu setel dengan kemejanya. Ia langsung bergaya sembari berkata,
"Dan saya adalah Laksamana yang memimpin mereka ! Marcos Luiz de Souza yang hebat !"
Viltus, Anastasia, Magyar dan Elisa sama sekali tidak bergerak melihat tindakan tersebut. Anastasia langsung terdiam, sementara Magyar membatu di tempat. Viltus langsung menutup matanya dan kemudian berkata dalam bahasa Jerman yang pelan,
"Elisa... Air..."
"Eh ?"
"Air itu sudah diberkati ? Kejadian ini..."
"Ahahahahaha..."
Viltus menghela nafas sebentar dan kemudian melihat ke arah Marcos dan semua Gadis Kapal di bawah arahan Marcos. Marcos melihat ke arah keempat Gadis Kapalnya dan mendapat anggukan, kecuali dari Suzukaze. Ia kemudian berkata dengan riang menggunakan bahasa Portugis sembari menunjuk ke arah Anastasia,
"Ahahahahhaha... Aku yakin kita dapat menjadi teman baik... Lagipula, gadis itu memiliki dada yang..."
"Aku dapat memberitahu apa yang kau katakan barusan kepada Anastasia... Aku tidak menanggung amarahnya." ujar Viltus
Kali ini giliran Marcos, Naka, Sazanami dan Miyuki yang terkejut. Viltus langsung mengembalikan aura membunuhnya dan kemudian berkata dengan bahsa Portugis,
"Marcos..."
"Kau mengerti bahasa Portugis ?!"
"Sangat..."
"Ahahahahahahaha..."
"Kau tahu... Apa yang kau katakan kepada Gadis Murni itu..."
"Aku tahu... Aku tahu..."
"Maka dari itu..."
"Jangan hukum diriku..."
"Kau kira kau dapat kabur ?"
Marcos melihat ke arah Anastasia, Magyar dan Elisa yang sudah mendapatakan kembali aura membunuhnya. Marcos langsung menyadari situasi gawat yang akan terjadi, dan bermaksud untuk kabur. Namun, rencana itu gagal karena Anastasia menariknya lebih dahulu. Viltus langsung meminta kepada Gadis Kapalnya untuk keluar lebih dahulu, dan menganggap suara dari dalam hanya sebuah ilusi. Setelah itu, mereka berempat menyiksa Marcos.
Tiga puluh menit kemudian
Divisi Viltus sudah berkumpul di kantor. Mereka melihat Marcos dengan banyak bekas tamparan di wajahnya. Taihou yang melihat itu langsung berkata,
"Kau..."
"Bukan aku."
"Tapi..."
"Aku sudah katakan itu bukan aku..."
Viltus kemudian berdiri tanpa memperdulikan tatapan dari Taihou. Viltus kemudian memberi tanda kepada Taihou untuk menemaninya lagi nanti sekaligus menceritakan jalan cerita yang terjadi pada saat itu, yang mendapat helaan nafas darinya. Viltus kemudian berkata,
"Laksamana Luiz de Souza..."
"Panggil saja Marcos... Nama itu terlalu panjang."
"Baiklah... Saya, Letnan Viltus Amarov menyatakan selamat datang di divisiku. Semoga kita dapat saling membantu di operasi ini."
"Tentu saja. Sebuah kehormatan bagi saya untuk bergabung di divisi yang sangat terkenal ini."
Viltus langsung mengulurkan tangan dan kemudian berjabat tangan dengan Viltus. Marcos kemudian bersiul dan berjalan ke satu orang. Melihat itu, Suzukaze langsung menahan Marcos dan berkata,
"Marcos-san... Jangan... Itu..."
"Ayolah... Aku hanya akan bertanya saja."
"Itu bunuh diri !"
"Tidak ada yang namanya bunuh diri."
Viltus melihat ke arah Marcos dan Suzukaze dengan wajah yang kebingungan. Begitu pula semuanya. Marcos kemudian mengambil satu bunga yang ada di vas, dan kemudian berdiri di depan Taihou. Ia kemudian berkata,
"Wahai, Gadis Manis... Kau menyerupai bunga yang indah ini... Maukah kau memberitahukan namamu ?"
"Ah... Aku..."
"Wajah yang sangat mulus... Dan mata yang sangat indah... Ingin sekali aku..."
Marcos memegang wajah Taihou yang sangat panik. Mendadak Marcos merasakan pundak yang ditekan dengan keras. Pada saat ia melihat ke belakang, ia melihat Viltus yang tersenyum sadis. Viltus langsung berkata dalam bahasa Portugis,
"Marcos..."
"Tunggu jangan bilang kau..."
"Ayo, ikut aku ke belakang."
"AH... Mengenai itu..."
"Ikut aku..."
Viltus langsung menarik Marcos keluar, yang langsung mendapat helaan nafas dari semua anggota divisinya sendiri. Pertemuan pertama yang baik antara divisi Marcos dan Viltus dalam rangka penyelesaian operasi tersebut.
HakunoKazuki di sini
LotusCrimson : Maaf anda salah. Tapi tunggu saja nanti.
Roka Jisute : Hakai... Huh... Pertama kali membuat Deep Abyss, yang paling susah adalah memberi nama Main Protagonist kita yang satu ini. Bahkan teman saya sempat mengira itu singkatan dari Hakuno Kazuki dengan ditambah huruf I di belakang. But No. Hakai adalah bahasa Jepang dari 'Kehancuran', seperti makna dari Abaddon. Rencana awal adalah menggunakan nama Abaddon, tapi nanti dikira hero dota... So, terpilihlah Hakai dengan bantuan G**gle. Step a side, terima kasih banyak atas reviewnya. Dan penulisnya sendiri sih... Nggak mau masuk ke dunia ini... Karena... ya begitulah...
Mungkin... Gw ngerasa tone nulis gw sedikit lebih cerah... Sebaiknya gw kembali ke tone awal gw dengan tema Hakai kembali. Apa yang akan dilakukan oleh Hakai, lihat saja nanti. *Sudah terjadi di seri baru ** Tulisan ini dibentuk sebelum seri itu dipost
Dan berarti... Arc baru, mulai dari chapter ini... Total berapa chapter, ya kita lihat saja. Dan rencana awal ingin menggunakan huruf dari negara bersangkutan, namun karena tidak ingin membuat masalah dalam grammar bahasa mereka, ya tetap kutulis dalam bahasa Indonesia.
Tapi, update dua seri itu... Sangat... Ya, kita lihat saja nanti
Sampai di sini saja, semoga kalian menikmati seri ini. Sampai jumpa !
