Chapter 21

Past


Viltus memposisikan dirinya tidur terlentang di atas tiga kursi yang ada di markas darurat yang dibuat oleh divisinya. Saat ini, divisi Viltus dan Marcos sudah melakukan operasi mereka bersama-sama, dengan diawali pembuatan tiga markas darurat di tiga pulau berbeda. Ketiga markas itu cukup strategis dikarenakan sumber daya yang tersedia cukup baik, dan cukup tertutup dari udara terbuka.

Viltus membuka kemejanya dan kemudian melepasnya. Ia kemudian berkata,

"Panas sekali... Lebih enak operasi di utara daripada di sini..."

Viltus langsung mengambil beberapa dokumen dan menggunakannya sebagai kipas. Kipas angin yang ada di ruangan tersebut sama sekali tidak berguna untuk melindungi Viltus dari hawa panas tersebut. Viltus kemudian melihat ke arah langit-langit, dan menutup matanya. Ia sedang memikirkan mengenai satu hal. Hingga akhirnya, konsentrasi dirinya pudar setelah mendengar suara,

"Laksamana~"

Viltus membuka mata dan melihat Agano yang melompat ke arah dirinya. Viltus hanya dapat berkata singkat,

"Eh ?"

Beberapa saat setelah itu, Agano menimpa Viltus dan membuat Viltus terjatuh dari kursinya bersama Agano. Viltus mendengar gelak tawa dari Taihou dan Teruzuki yang melihat kejadian tersebut. Agano langsung berkata,

"Selamat pagi, Laksamana !"

"Agano... Ugh..."

Viltus melihat ke arah Taihou dan memberi tanda kepadanya untuk membantu dirinya mengusir Agano dari atasnya, yang langsung mendapat sebuah anggukan. Taihou langsung membujuk Agano, dan setelah itu Viltus berkomentar,

"Sepertinya... Tulang punggungku bergeser sedikit deh... Bersama dengan beberapa tulang yang lain... Kasihan sekali tulangku... Uuuuhhhh..."

"Kakek, kau masih baik-baik saja ?" tanya Taihou yang tertawa mendengar itu.

Taihou langsung membantu Viltus untuk berdiri. Setelah berdiri, Viltus langsung merapikan diri dan kemudian berkata,

"Ada apa pagi-pagi seperti ini sudah membuat kekacauan ?"

"Itu..."

"Laksamana ! Apakah Laksamana masih menyimpan Ramune lagi ?" tanya Agano

"Itu ya..." jawab Viltus

"Bu... Bukan seperti itu..." ujar Taihou dengan wajah yang sedikit panik

"Tapi, tadi kau berkata ingin minum Ramune." ujar Agano mendadak

Taihou melihat ke arah Agano dengan wajah semakin panik,dan melihat situasi tersebut Viltus langsung tertawa. Ia kemudian berjalan ke arah kulkas dan mengambil tiga Ramune dan diberikan kepada mereka bertiga. Pada saat memberikan kepada Taihou, Taihou langsung berkata,

"Te... Terima kasih..."

"Jika kau mau, kau harusnya langsung meminta saja..."

"Aku tahu."

"Ahahahahahaha."

Mereka bertiga meminum Ramune, dan kemudian Teruzuki langsung bertanya kepada Viltus,

"Laksamana... Aku dengar kau belum tidur hari ini ?"

"Belum... Sama sekali belum..."

"Eh ? Apa karena mimpimu lagi ?" tanya Taihou

"Bukan..."

"Lalu, apa yang menyebabkan anda tidak dapat tidur ?" tanya Teruzuki kemudian

"Mata..."

"Huh ?"

"Mata mereka berlima... Tidak dapat kuhilangkan dari ingatanku... Mata yang penuh dendam dan keinginan untuk membunuh Abyssal... Mereka seakan-akan memiliki satu tujuan, menghancurkan lawan dengan bayaran tubuh mereka sendiri."

"Ah... Mengenai divisi milik Marcos."

Viltus langsung mengangguk. Dari mereka berempat hanya Agano yang terlihat sama sekali tidak tertarik untuk mengikuti pembicaraan tersebut. Viltus kemudian langsung melanjutkan,

"Harap kau ketahui... Mereka sangat berbeda..."

"Namun, satu jam kemudian mereka semua kembali menjadi seseorang yang kita kenal." ujar Teruzuki

"Aku tidak tahu secara pasti apa yang terjadi... Juga aku belum sempat menanyakan apakah dia seperti itu sebelumnya."

"Apa perlu kau mencari tahu mengenai dirinya ?" tanya Taihou

"Mudah mengucapkan, sulit melakukan... Kita saat ini berada jauh dari markas utama, dan juga sumber informasi yang menikmati dinginnya laut Siberia di utara."

"..."

"Mungkin... Khusus kali ini, aku akan membiarkan Marcos untuk membicarakannya dengan diriku... Jika dia mau."

"Kami tahu..."

Viltus kemudian berdiri dan membereskan ketiga kursi yang akan dia gunakan untuk tidur. Agano mendadak berkata,

"Ano~ Laksamana..."

"Ada apa, Agano ?"

"Mengenai Marcos-san... Dia sudah seperti itu semenjak di divisi sebelumnya."

"Apa kau bilang ?"

"Pada awalnya kami takut, namun sedikit demi sedikit kami dapat menerima dirinya."

"..."

"Kau tahu... Dia itu cukup keren pada saat seperti itu."

"Huh ?"

"Dan ada beberapa Gadis Kapal yang berusaha mendekati dia."

Viltus melihat ke arah Taihou dengan wajah sedikit heran. Sementara itu, Agano langsung berjalan mengambil Ramune lagi. Viltus kemudian bertanya,

"Lalu, bagaimana dengan dirimu ? Sepertinya dirimu..."

"Dia cuma teman."

"Huh ?"

"Dia itu hanya teman... Teman yang menyenangkan." ujar Agano tersenyum.

"Entah mengapa walaupun konteksnya berbeda... Rasanya ada sedikit rasa sakit dari kata-katanya ditambah wajah polos itu..." ujar Viltus memalingkan wajahnya sedikit

"Ada apa, Laksamana ?"

Taihou langsung menepuk pundak Viltus dan kemudian langsung tertawa. Teruzuki yang mendengarkan itu pun langsung tertawa. Tidak berapa lama, Elisa masuk ke dalam ruangan tersebut dan berkata,

"Viltus..."

"Ah... Elisa, ada apa ?"

"Begini, divisi Marcos sudah kembali dari operasi pengintaian..."

"Sudah kembali... Tunggu... Kenapa kau menekankan di bagian pengintaian ?"

"Jika dirimu melakukan pengintaian, apa yang akan kau lakukan dengan komposisi satu Kapal Penjelajah Ringan dan tiga Kapal Perusak ?"

"Aku akan meminta mereka untuk bergerak sepelan mungkin dengan tetap memperhatikan sonar dan radar mereka... Selain itu, aku akan meminta untuk menerbangkan pesawat pengintai dari Kapal Penjelajah Ringan... Dan hindari pertempuran sebisa mungkin, kecuali terpaksa."

"Dan jika terpaksa tidak akan sampai peluru habis..."

"Mungkin sampai habis... Mungkin tidak... Tergantung dari jumlah Abyssal yang menyerang."

"Bila kondisi harus menghadapi Abyssal seperti itu, dengan komposisi dua Kapal Penjelajah Ringan dan empat Kapal Perusak, apakah itu mungkin hingga seluruh peluru habis ?"

"Tidak..."

"Itu dia masalahnya. Ia kembali kemari dengan Naka dan Suzukaze cedera ringan, sementara Miyuki dan Sazanami cedera parah. Peluru dan torpedo mereka semua pun terpakai semua."

Viltus langsung berdiri dan kemudian mengambil dokumen yang ada di tangan Elisa. Ia membaca dengan seksama, dan kemudian berkata,

"Bagaimana dengan kabar dari Marcos ?"

"Dia langsung kembali ke kamarnya."

"Seperti biasanya."

"Saat ini, kami sedang menangani Miyuki dan Sazanami.. Jadi, jangan berani-beraninya memindahkan kita ke markas darurat lainnya."

"Aku tahu... Aku tahu..."

Viltus kembali membaca dokumen tersebut. Yang menjadi pertanyaan terbesar dari Viltus sangat mudah. Mengapa Marcos bertindak sangat gegabah seperti itu. Selain itu, ia pun bertanya-tanya mengenai Kapal Komando milik Marcos yang sedikit berbeda.

Sama seperti milik Viltus yang sudah dimodifikasi, kapal komando milik Marcos memiliki dua buah meriam, dan beberapa torpedo. Selain itu, lambungnya jauh lebih tebal dari kapal komando milik Viltus. Itu lebih menyerupai sebuah kapal yang siap tempur daripada menjadi kapal komando.

Viltus langsung melihat ke arah Elisa dan kemudian berkata,

"Apakah kau sudah mengambil data pergerakan dari kapal komando milik Marcos ?"

"Saat ini sedang diproses."

"Bagaimana dengan semua sistem perintah dan rekaman di kapal komando milik Marcos ?"

"Itu pun sedang diproses. Kami akan memberikannya kepada dirimu nanti."

"Terima kasih banyak."

"Tumben sekali dirimu tidak..."

"Reporter itu sedang di utara, akan memakan cukup banyak waktu hingga laporan itu tiba di sini."

"Begitu ya..."

Viltus langsung menghela nafasnya dan mempersilahkan Elisa untuk kembali mengurus Miyuki dan Sazanami. Setelah keluar, Teruzuki berkata,

"Ini sepertinya..."

"Sangat sulit... Terlalu sulit. Jika divisi lain tidak dapat diajak bekerja sama, semua ini akan sangat sulit."

"..."

"Aku akan memikirkan langkah berikutnya. Aku harap dapat menemukan titik terang mengenai alasan dia bertindak gegabah seperti itu."

"Siap."

"Daripada itu... Agano, kau meminum berapa botol ?"

"Eh ?"

Agano kaget pada saat mendengar itu. Ia langsung menghitung botol di depannya dan kemudian berkata,

"Empat !"

"Apa kau bilang ?!"

Viltus langsung mencubit pipi dari Agano sembari memberitahu jumlah Ramune mereka terbatas. Dengan pipi yang dicubit tersebut, Agano terlihat meminta maaf kepada Viltus. Sementara itu, Teruzuki dan Taihou hanya tertawa saja melihat kejadian tersebut.


Keesokan harinya

Viltus berdiri di ruangan tersebut, dan kemudian melempar sebuah dadu ke tanah. Hari itu, mereka semua akan menjalankan operasi pengintaian sekali lagi, ditambah menghancurkan divisi lawan di bagian timur target utama.

Dadu jatuh ke tanah, dan semuanya langsung melihat ke arah dadu tersebut. Viltus membenarkan kacamatanya, dan kemudian berkata,

"Baiklah... Setelah operasi ini selesai, kita akan pergi ke markas darurat C. Beritahu Elisa mengenai hal ini."

"Siap" ujar Magyar

"Kau ini terlalu berharap pada sesuatu yang bernama keberuntungan sepertinya." ujar Marcos dengan wajah heran

"Semakin sulit ditebak apa yang keluar, semakin sulit pula lawan untuk mengetahui langkah kita selanjutnya."

"Memangnya Abyssal..."

"Kita harus berasumsi bahwa lawan dapat menggunakan taktik. Mereka tidak serta merta menyerang tanpa arahan."

"Begitu ya..."

"Daripada itu, Marcos."

"Huh ?"

"Jangan bertindak gegabah."

"Iya... Iya..."

Marcos langsung keluar dari ruangan tersebut untuk bersiap-siap di kapal komandonya. Sementara itu, Viltus langsung menghela nafas dan kemudian berkata,

"Aku yakin... Nanti akan bermasalah..."

"Jangan berkata seperti itu." ujar Taihou

"Sudahlah... Magyar."

"Siap." jawab Magyar

"Apakah radar di kapal kita sudah diperbaiki ?"

"Sudah. Itu yang dikatakan oleh Elisa kemarin, dan sudah kutes. Semuanya aman."

"Bagus. Anastasia."

"Siap." jawab Anastasia

"Kau akan bekerja sedikit lebih keras, karena aku meminta kepada Elisa untuk menyambungkan sonar miliki Miyuki, Sazanami, Suzukaze, Naka dan kapal komando Marcos kepada kita."

"Eh ?!"

"Maaf, aku baru memberitahumu. Namun, apakah kau mampu ?"

"Tentu saja saya mampu, Viltus. Kau meremehkan diriku ?"

"Tidak... Tidak... Ahahahaha."

Viltus langsung mengambil jaket dan topinya, dan kemudian berkata,

"Baiklah mari kita mulai menjalankan misinya."


Misi tersebut merupakan sebuah bencana. Marcos yang sama sekali tidak mendengarkan perintah dari Viltus menerjang ke depan dengan menggunakan Kapal Komando miliknya. Begitu pula semua Gadis Kapal di bawah arahan dari Marcos. Akibat dari operasi tersebut adalah Noshiro dan Agano cedera ringan. Sementara, Yahagi, Suzukaze, Akizuki dan Shoukaku cedera parah.

Di markas darurat, Viltus dapat mendengar dengan jelas erangan dari semua Gadis Kapal yang cedera parah. Ia langsung menghela nafas dan kemudian melihat ke arah luar ruangan. Ia berkata,

"Ini... Terlalu parah..."

Viltus di dalam kantor untuk meminta mengirimkan tenaga teknisi tambahan dikarenakan korban yang cukup parah. Dan dikarenakan hal ini, operasi terpaksa sedikit mundur dari jadwal. Sementara itu, Magyar dan Anastasia sedang berusaha untuk menasihati Marcos yang ada di dalam kamarnya.

Viltus kembali berkomentar,

"Sekali operasi gabungan... Langsung memakan korban sebanyak ini. Aku tidak dapat berkata apa-apa lagi."

"Viltus !" teriak Elisa mendadak.

Viltus melihat ke arah belakang, dan melihat Elisa yang berjalan sedikit tergesa-gesa ke arah dirinya. Viltus langsung berkata,

"Maafkan aku... Aku..."

"Itu bukan sepenuhnya salahmu. Aku tahu itu. Mustahil kau akan menyuruh Gadis Kapalmu untuk melakukan itu semua kecuali terpaksa."

"..."

"Daripada itu... Aku sudah selesai."

"Selesai ? Selesai apa ?"

"Apa yang kau minta sebelumnya."

Elisa langsung memanggil teknisi lainnya untuk masuk. Yang paling pertama diperlihatkan adalah jalur yang ditempuh oleh Kapal Komando milik Marcos dalam tiga operasi pertama. Viltus yang memperhatikan hal tersebut langsung menepuk kepalanya dan kemudian berkata,

"Orang ini... Dia benar-benar menggerakkan kapal komandonya untuk menghancurkan lawan."

"Dan gerakan dari kapal komandonya..." ujar Elisa

"Itu dikarenakan manuver dari kapal sebesar itu akan sangat lambat. Maka dari itu, ia akan bergerak zig-zag untuk menghindari peluru."

"..."

"Dia benar-benar jauh dari titik yang kuminta..."

"Eh ?"

Viltus langsung mengeluarkan dokumen tiga operasi tersebut dan kemudian bergumam,

"Posisi mereka... Cukup dekat dengan target... Apakah ia bermaksud untuk menghancurkannya sendiri ?"

"Sepertinya..."

"Target kita adalah sebuah pulau, dan hingga hari ini tidak ada satu pun pesawat yang selamat untuk memotret pulau tersebut."

"Mungkin itu adalah sebuah pangkalan ?"

"Aku asumsikan demikian. Atau di dekat pulau tersebut ada beberapa Kapal Induk."

"Hmmmm..."

"Apakah kau tahu apa saja yang dihancurkan oleh divisi Marcos ?"

"Dari laporan di kapal komando Marcos, mereka menghancurkan empat Kapal Tempur..."

"Kapal Tempur ?!"

"Iya."

Viltus langsung menepuk kepalanya dan kemudian berkata,

"Pantas saja pelurunya habis. Mereka ini..."

"..."

"Ini terlalu parah... Sangat parah. Aku bingung mengapa dia bertindak gegabah seperti itu."

"Ummm..."

"Ada apa, Elisa ?"

"Mungkin... Rekaman dari kapal komandonya akan membuat dirimu dapat membaca apa yang ada di kepalanya."

Elisa langsung menyerahkan satu kaset kepada Viltus. Viltus memasukkan itu ke dalam pemutar kaset, dan mengenakan headset miliknya. Pada saat itu, ia mendengar suara,

"Hancurkan... Hancurkan mereka... Seperti yang telah mereka lakukan... Kepada kita..." ujar Marcos

"Hancurkan... Atas apa yang mereka lakukan... Kepada Harusame." ujar Suzukaze

"Hancurkan... Atas apa yang mereka lakukan... Kepada Isonami dan Hatsuyuki." ujar Miyuki

"Hancurkan... Atas apa yang mereka lakukan... Kepada Ushio..." ujar Sazanami

"Hancurkan... Atas apa yang mereka lakukan... Kepada Jintsuu..." ujar Naka

"Hancurkan... Biarkan mereka... Merasakan apa... Yang telah kita rasakan... Seperti suara mereka... Yang mati di tangan Abyssal bangsat itu..." ujar Marcos

"Hancurkan... Hancurkan... Hancurkan..." ujar keempat Gadis Kapal tersebut

"Hancurkan... Balaskan dendam... Atas semua yang mereka lakukan... Hancurkan... Tanpa henti..."

Setelah itu, Viltus langsung melepas headsetnya dan kemudian melihat kepada Elisa. Ia langsung menggelengkan kepalanya, tanda ia sama sekali tidak percaya divisi Marcos yang sangat periang dapat menjadi senjata pembunuh tanpa pandang bulu seperti itu. Hanya demi sebuah dendam.

Viltus kemudian berkata,

"Berarti ada suatu kejadian di masa lalunya... Yang menyebabkan dirinya seperti ini."

"Iya, benar."

"Namun, aku tidak tahu... Mungkin... Yang dapat merasakannya adalah Magyar. Aku yakin itu."

"Jadi..."

"Hingga waktunya tiba, aku akan meminta bantuan Magyar untuk masalah ini."

"Baiklah..."

"Daripada itu, bagaimana sistem operasi di Kapal Komando Marcos ?"

Elisa langsung memalingkan wajahnya. Ia kemudian mengambil satu dokumen dan memberikan kepada Viltus. Viltus membaca dokumen tersebut dan kemudian melihat ke arah Elisa dengan wajah tidak percaya.

Di dokumen tersebut dituliskan, mayoritas beban memori diberikan untuk ofensif, dan hampir tidak ada sama sekali untuk radar dan sonar. Selain itu, selama operasi kapal komando Marcos mematikan radio untuk kapal komando lain, dan itu digunakan juga untuk ofensif.

Viltus kembali menggelengkan kepalanya, tanda bahwa dirinya sama sekali tidak percaya. Ia kemudian memperhatikan blueprint dari kapal komando Marcos dan melihat sistem pertahanan Marcos sangat tidak dapat diandalkan. Kapal komando tersebut dapat menahan cukup banyak, namun jika untuk kabur sama sekali tidak dapat diharapkan.

Viltus langsung memberikan kembali dokumen tersebut kepada Elisa dan langsung duduk. Ia sama sekali tidak habis pikir mengenai semua informasi yang ia dapatkan. Tidak berapa lama, Taihou, Anastasia dan Magyar masuk ke dalam kantor. Viltus langsung bertanya,

"Taihou, apakah Yahagi, Akizuki, Suzukaze dan Shoukaku sudah tidur ?"

"Ya... Mereka sudah tidur saat ini. Sebaiknya, jangan menjalankan satu pun operasi dalam waktu dekat." jawab Taihou

"Aku tahu mengenai itu. Aku tidak ingin membahayakan nyawa keluargaku sendiri."

Viltus langsung menghela nafas dan kemudian melihat ke arah Anastasia yang terlihat sangat kesal. Viltus langsung berkata,

"Sepertinya, kalian gagal membujuk Marcos..."

"Maafkan kami... Kami pun patut disalahkan atas semua kejadian ini." ujar Magyar

"Itu bukan salah kalian saja. Ini semua salah kita semua."

"Tapi... Yang paling bersalah adalah..." ujar Anastasia yang langsung disela oleh Viltus

"Jangan menyalahkan Marcos. Dia memiliki masalahnya sendiri, mengerti."

"Masalah apa ?!"

"Dengarkan rekaman ini... Mungkin kalian akan mengerti."

Viltus mempersilahkan Magyar dan Anastasia mendengarkan rekaman dari kapal komando Marcos. Mereka berdua melihat satu sama lain, dan sedikit mengerti. Anastasia langsung berkomentar,

"Dia seharusnya tidak bertindak gegabah... Namun, apakah penyebab dia melakukan itu semua ?"

"Kemungkinan besar trauma di masa lampau... Seperti diriku." ujar Magyar

"Mungkin... Dan itu adalah masalah terbesarnya... Aku sama sekali tidak mengetahui masa lalu dia sekarang." ujar Viltus sembari mengangkat bahu

"Karena Aoba ada di utara, benar ?" ujar Elisa

Viltus langsung mengangguk mendengar pertanyaan dari Elisa. Magyar kemudian memperhatikan seluruh peta dan sistem di kapal komando Marcos. Pada saat melihat ke peta, Magyar mendadak berkata,

"Viltus... Kau tahu, dari pulau target kita... Aku mendapatkan sinyal pesawat yang cukup besar."

"Berarti dapat disimpulkan di sana adalah sebuah pangkalan atau terdapat cukup banyak Kapal Induk."

"Jika kulihat dari bentuk alam pulau itu sendiri, aku simpulkan terdapat cukup banyak Kapal Induk di daerah sana. Beberapa titik dari pulau ini dapat digunakan sebagai tempat sembunyi mereka."

"Kau benar... Ini sangat menyulitkan... Apalagi ditambah situasi internal seperti ini."

Semuanya kemudian terdiam mendengar komentar dari Viltus. Viltus langsung berdiri dan melihat ke arah luar ruangan sebentar, sebelum ia mendengar Magyar berkata,

"Kau tahu... Aku merasa sebenarnya dia berasal dari salah satu Angkatan Darat atau Angkatan Laut di daerah Brazil."

"Mungkin..."

"Itu sangat mudah... Semua pergerakan dirinya... Tubuhnya... Cara dia memimpin di kapal komando... Seperti seseorang yang sudah pernah memimpin satu unit."

"..."

"Jika seseorang kehilangan sesuatu di masa perang, akan ada tiga kemungkinan seseorang akan bertindak... Pertama seperti diriku, akan kabur karena rasa malu... Kedua, akan bertindak biasa saja... Di mana itu paling sulit... Dan ketiga, akan membalas dendam... Walaupun itu berarti akan membunuh dirinya sendiri."

"Itu semua baru asumsi jika dirinya di angkatan bersenjata."

"Dapat saja dia seseorang yang kehilangan keluarga karena serangan dari Abyssal."

"Haah... Ini semakan memusingkan saja."

Viltus langsung menepuk kepalanya sebentar, dan kemudian berkata dengan tegas,

"Baiklah... Aku putuskan agar kita membiarkan Marcos sebentar saja... Namun, jika terlalu parah, kita akan mulai menanyakan kepada dirinya secara langsung... mengapa dia bertindak seperti itu."

"Ta... Tapi..." ujar Elisa sedikit khawatir

"Aku tahu kau pasti khawatir... Namun, situasi sekarang sama sekali tidak kondusif untuk menanyakan itu. Satu-satunya jalan adalah selama perjalanan menggunakan Kapal komando ke titik aman."

"Ba... Baik..."

"Anastasia, kau dilarang menyiksa Marcos... Kau mengerti ?"

"Baik." ujar Anastasia.

Setelah itu, Anastasia, Magyar, dan Elisa keluar dari ruangan tersebut diikuti oleh semua teknisi di bawah arahan Elisa. Viltus langsung duduk di kursi, sementara Taihou membawa satu kursi dan menaruhnya di samping Viltus untuk ia duduki kemudian.

Taihou melihat ke arah Viltus dan kemudian berkata,

"Sepertinya ini yang paling berat, ya ?"

"Sangat berat... Terlalu berat..."

"Sebaiknya kau beristirahat saja dahulu... Aku tidak ingin dirimu malah hancur karena ini semua."

"Aku akan beristirahat sebentar lagi."

"Kazuki..."

"Jika dirimu sudah memanggilku demikian, aku tidak dapat melawannya."

Taihou langsung tersenyum melihat wajah kalah dari Viltus. Viltus melihat ke arah Taihou sebentar, dan tersenyum. Ia kemudian mencium Taihou sebentar dan kemudian berkata,

"Kau pun sebaiknya beristirahat juga."

"Iya, aku tahu."

"Sudah... Aku ingin tidur sebentar..."

"Ummmm..."

"Ada apa, Taihou ?"

"Bo... Bolehkah aku..."

"Silakan."

Taihou langsung tersenyum mendengar jawaban dari Viltus. Mereka pun memilih untuk tidur bersama hari itu.


Teknisi yang dikirim dari Yokosuka sudah tiba semenjak dua hari yang lalu, dan kondisi dari semua yang cedera parah sudah pulih. Viltus menarik nafas panjang dan kemudian melemparkan dadunya kembali. Ia langsung menghela nafas, dan kemudian berkata,

"Kita akan menjalankan operasi kembali..."

Semuanya mengangguk, termasuk Marcos. Viltus kemudian memberitahukan rencananya,

"Baiklah... Target hari ini adalah melakukan pengintaian di sisi barat, dan hancurkan divisi di sana. Apakah kalian mengerti ?"

"Siap."

Viltus kemudian melihat ke arah Marcos sebentar, dan kemudian ia berkata,

"Kalian semua diijinkan untuk ke kapal komando masing-masing... Kecuali Marcos."

"Eh ?!" ujar Marcos sedikit terkejut.

"Ada yang ingin kubicarakan."

Viltus langsung meminta semuanya bersiap-siap saja terlebih dahulu. Setelah itu, Viltus melihat ke arah Marcos dan kemudian berkata,

"Tentu saja kau tahu apa alasan diriku menahan dirimu di sini."

"Iya... Aku tahu... Maaf deh..."

"..."

"Ada apa lagi ?"

"Aku ada beberapa pertanyaan..."

"..."

"Pertanyaan pertama... Mengapa dirimu memutus komunikasi dengan kapal komando lain selama operasi berlangsung ?"

"Itu menganggu beban memori kapal komandoku..."

"Untuk ofensif... Di mana kondisi kita sekarang adalah menjadi kapal untuk memberikan arahan kepada Gadis Kapal secepatnya."

"..."

"Aku sudah meminta kepada mekanik agar membuka komunikasi dengan kapal komandoku selama operasi... Aku butuh laporan dari kapal komando lain untuk menentukan langkah selanjutnya."

"Ba... Baik..."

"Sudah... Sekarang dirimu kuijinkan untuk ke kapal komandomu."

Viltus kemudian langsung meninggalkan Marcos yang tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Viltus. Setelah sampai di kapal komando, Anastasia langsung berkata,

"Bagaimana dengan Marcos ?"

"Laksamana kepada Kapal Komando... Nyalakan komunikasi dengan Kapal Komando Marcos..." ujar Viltus tanpa menjawab pertanyaan dari Anastasia

Viltus langsung memberi tanda kepada Magyar dan Anastasia untuk mendengarkan apa saja yang diperintahkan oleh Marcos. Begitu pula dengan semua Gadis Kapal di bawah arahannya. Setelah itu, Viltus berkata,

"Semua ini... Akan tergantung dari sikap Marcos... Mari kita mulai menjalankan operasi ini."


Operasi tersebut sudah berjalan selama tiga puluh menit, namun yang mereka dengar selama itu adalah sumpah serapah dari Marcos diiringi dengan semua kalimat kebencian kepada Abyssal. Viltus dan Magyar terlihat diam saja mendengarkan itu, sementara Anastasia lebih memilih mendengarkan sonarnya saja.

Gadis Kapal dari divisi Marcos dan Viltus sendiri sudah bergerak dan menjalankan misi mereka. Viltus memperhatikan peta yang ada di dalam kapal komandonya, dan mendengarkan laporan langsung dari mereka semua. Tidak berapa lama, ia mendengar Marcos berkata,

"Temukan... Hancurkan..."

Viltus, Magyar dan Anastasia hanya diam saja mendengar itu. Sedikit demi sedikit, laporan dari Gadis Kapal dan apa yang dikatakan oleh Marcos semakin kacau, terutama gerak-gerik dari Gadis Kapal di bawah arahan Marcos. Hingga akhirnya Marcos berkata,

"Hancurkan... Agar... Mereka... Bertemu... Di dunia sana !"

"Bertemu dengan siapa, Marcos ?" tanya Magyar mendadak.

Dari suara Marcos terdengar jelas ia sangat terkejut. Marcos langsung berkata,

"Kalian... Kalian mendengarkan..."

"Tentu saja... Sangat jelas, bukankah aku sudah katakan kepada dirimu mengenai masalah komunikasi." jawab Viltus

"Tch..."

"Posisi dari Gadis Kapalmu cukup dekat dengan daerah lawan seperti biasa..."

"..."

"Mengapa kau bertindak gegabah seperti itu ? Apa tujuanmu ?"

"..."

"Dengar kita di sini bertempur dengan membawa nyawa mereka juga. Kau tidak dapat seenaknya gegabah."

"Aku tahu..."

"Lalu ?"

Marcos diam saja. Viltus langsung menghela nafas saja dikarenakan tindakan dari Marcos. Magyar yang mendengar dari tadi mendadak bertanya kepada Marcos,

"Marcos... Apakah kau pernah memimpin sebuah unit dari angkatan bersenjata di negaramu ?"

"..."

"Pasti telah terjadi sesuatu... Aku tahu itu."

"Tahu ? Kau tahu rasanya ? Jangan berbohong kepada diriku."

"..."

"Kalian semua merupakan orang baru di pertempuran ini. Kalian sama sekali tidak mengerti bagaimana rasanya dihancurkan oleh Abyssal !"

Magyar yang mendengar itu langsung berdiri dan kemudian berkata,

"Itu bukan hanya dirimu saja ! Banyak dari kami yang juga merasakan hal tersebut !"

"Heh ? Bagaimana mungkin ? Diri kalian masih tergolong muda !"

Viltus langsung diam saja mendengar Magyar dan Marcos yang mulai bertengkar melalui radio. Maka dari itu, ia langsung memerintahkan Anastasia untuk waspada dan meminta satu divisi untuk melakukan sesuatu.

Sementara itu, Magyar bertanya,

"Memangnya apa yang terjadi pada dirimu, huh ?"

"Pertempuran di dekat laut Brazil... Diriku yang menjadi operator senjata dari kapal tempur di sana... Kami menghadapi Abyssal hanya untuk dihabisi... Dan diriku adalah satu-satunya yang selamat dari kapal itu. Aku marah kepada diriku... Dan juga kepada Abyssal atas ini semua !"

"Lalu, kau membalas mereka dengan tindakan sembrono ? Itu tidak bisa !"

"Memangnya apa kau mengerti ? Rasanya kehilangan kawan baik di suatu pertempuran ? Aku yakin dirimu..."

"Pegunungan Alpen... Tiga tahun yang lalu... Aku yakin dirimu pernah mendengarnya."

"Eh ?"

"Penghancuran salah satu markas yang menjadi pengawas udara di sana... Yang hancur berkeping-keping... Dan menyisakan segelintir orang saja, termasuk diriku."

"..."

"Aku tahu rasanya gagal melindungi orang lain... Aku tahu rasa bersalah karena semua ini."

"..."

"Aku kabur... Dan kembali lagi kemari untuk semua menebus semua itu."

"Dan kau dapat melakukannya sekarang ?"

"Walaupun perlahan... Tidak sembrono... Dan semacamnya..."

"Kau tahu... Akan lebih cepat dengan yang kulakukan."

"Namun, dalam prosesnya kau akan membunuh orang lain... Yang mungkin akan membuat dirimu semakin tertekan atas itu semua."

"..."

"Suara... Tatapan... Aku yakin itu..."

Viltus yang mendengar apa yang dikatakan oleh Magyar langsung memalingkan kepalanya. Ia sadar Magyar dan Anastasia tahu mengenai dirinya. Magyar kemudian berkata,

"Apakah kau ingin keluar dari semua itu ? Dan juga tidak menambah rasa bersalahmu ?"

"..."

"Kau dapat melakukannya. Aku yakin itu !"

"Kau terlalu percaya diri ! Kau kira hanya dengan itu saja dapat selesai ?! Kau kira semudah itu ?!"

Magyar sangat terkejut mendengar itu. Marcos langsung melanjutkan,

"Aku tidak akan senang... Hingga akhirnya dapat menghabisi mereka dengan tanganku sendiri... Terutama inangnya yang menyebabkan semua kejadian ini !"

"Marcos..." ujar Magyar sedikit tidak percaya.

"Dia harus merasakan seperti apa rasanya kehilangan... Dia harus merasakan yang kebencian dari orang lain ! Yang memunculkan Abyssal ke dunia ini !"

"Aku sudah merasakannya..." ujar Viltus mendadak.

"Eh ?"

"Akan kuberitahukan kepada dirimu... Ayahku adalah ilmuwan yang membentuk Abyssal ini."

"Ayahmu ?! Berarti dirimu adalah..."

"Ya, anak dari pengkhianat dunia ini... Aku sudah sering mendengarnya, bahkan pada saat Neo datang kemari. Apakah kau tidak mendengarkannya pada saat itu ?"

"Laksamana Amerika itu... Aku tidak tahu siapa yang disebut olehnya karena terlalu berisik."

"Itulah aku..."

Marcos diam sebentar dari ujung komunikasinya. Viltus langsung melanjutkan,

"Walaupun demikian... Abyssal telah membunuh beberapa orang yang penting bagiku... Ibuku... Adikku... Bahkan gadis yang kucintai..."

"Itu memang pantas kau dapat..."

"Iya... Ditambah mimpi di mana aku mendengarkan berbagai suara yang menghina dan mengutuk diriku... Itu memang sangat tepat... Sebuah hukuman yang pantas bagiku..."

"Kau terdengar sangat tenang... Untuk seseorang yang dituduh sebagai pengkhianat..."

"Aku tahu..."

"Lalu, mengapa..."

"Itu mudah... Ada beberapa orang yang masih percaya pada diriku... Dan membantuku untuk tidak menanggung dosa itu sendirian... Sebuah dosa yang dilakukan oleh keluargaku kepada dunia ini."

"..."

"Dan tujuan utamaku masuk ke angkatan laut ? Membereskan dan menghancurkan apa yang telah dibuat oleh keluargaku kepada dunia ini... Walaupun aku yakin noda itu tidak dapat hilang... Seperti setitik nila yang merusak susu sebelangga."

"Kau tahu itu, lalu mengapa..."

"Gadis itu... Kaede... Dia yang menyadarkan diriku untuk itu semua... Walaupun aku sempat kehilangan arahanku lagi pada saat dia meninggal."

"..."

"Maka dari itu, aku tahu dirimu cukup mampu untuk menghadapi Abyssal... Aku tahu dirimu merupakan orang yang mumpuni dalam masalah menghabisi Abyssal... Aku mohon, bantu diriku untuk menghancurkan lawan... Tapi tidak sembrono."

"..."

"Kau dapat menghajarku kapan saja... Jika dirimu mau."

Anastasia dan Magyar sangat terkejut mendengar itu. Anastasia langsung berdiri dan ditahan oleh tatapan dari Viltus. Viltus langsung berkata,

"Bagaimana... Marcos ? Aku mohon jangan melanjutkan tindakan sembrono seperti ini lagi... Aku tidak ingin dirimu tersiksa atas mereka yang..."

"Ahahahahahahahahaha..."

"Huh ?"

"Aku rasa yang dikatakan oleh semua orang itu benar... Kau ini tipe orang yang sangat perasa... Dan juga orang yang menanggung semuanya sendirian."

"..."

"Aku pun demikian... Semua dosa karena diriku yang gagal melindungi teman-temanku... Namun, dosamu jauh lebih berat dari diriku."

"Aku tahu..."

"Argh... Aku jadi malu, mengerti..."

"Eh ?"

"Dosaku memang tergolong berat... Tapi, aku sudah bertindak seperti orang idiot... Sementara, dirimu yang memiliki dosa jauh lebih berat dari diriku... Masih dapat berdiri tegak dan menghadapi berbagai rintangan di hadapanmu... Baik itu manusia atau Abyssal..."

"..."

"Seharusnya diriku yang bersikap seperti itu... Menunjukkan kepemimpinan... Kematangan dalam hidup... Lebih dewasa... Ternyata aku kalah oleh orang lebih muda dari diriku. Aku malu."

"Marcos..."

"Baiklah ! Aku akan mengikuti perintahmu... Dan ijinkan aku menghajar dirimu setelah kita kembali."

"Silakan."

"Dan setelah... Saya, Marcos Luiz de Souza... Akan menjadi tamengmu dari orang yang menganggu dirimu."

"Eh ?"

"Jadi... Letkol... Apa perintahmu berikutnya ?"

"Agano... Hancurkan pesawat itu."

"Eh ?"

Pada saat itu, mereka mendengar suara dari sisi kapal komando Marcos seperti ledakan dari pesawat. Viltus langsung tersenyum dan berkata,

"Marcos... Pindahkan kapal komando milikmu ke posisi aman. Lalu, arahkan semua Gadis Kapalmu untuk membentuk formasi dengan divisiku."

"Siap, Letkol"

Viltus langsung menghela nafasnya dan kemudian melihat ke arah Magyar dan Anastasia. Ia langsung duduk dan kemudian berkata,

"Semoga... Berhasil..."


Operasi tersebut sedikit berhasil dengan korban cedera ringan Yahagi. Dan mereka berhasil mendapatkan sebuah foto mengenai bentuk pulaunya, dan juga lokasi kapal induk lawan yang mengirimkan cukup banyak pesawat. Selain itu, mereka semua melihat Viltus yang dipukul habis-habisan oleh Marcos. Taihou dan Elisa bermaksud menghentikan, namun Magyar menghalangi mereka berdua, begitu pula dengan Anastasia.

Setelah selesai, Marcos langsung membantu Viltus berdiri, dan kemudian berkata,

"Aku sudah cukup..."

"Kau yakin ?"

"Iya."

"Baguslah... Ini sudah cukup menyakitkan, mengerti."

Viltus langsung berdiri sembari memegang wajahnya. Taihou langsung berjalan ke dekat Viltus dan langsung membantu Viltus. Ia kemudian bertanya,

"Aku tadi sudah dengar dari Magyar... Kenapa kau melakukan tindakan seidiot itu sih ?"

"Ahahahahahahaha..."

"Jangan tertawa saja."

"Uhhhh..."

Marcos yang melihat itu langsung tertawa dan berkata,

"Wah... wah... tindakanku malah membuat pertengkaran suami istri."

"Diam kau, pria mesum." ujar Viltus

"Jangan marah seperti itu dong."

Viltus langsung menenangkan Taihou, dan kemudian berkata,

"Baiklah... Operasi kita akan selesai dalam waktu dekat. Target kita adalah menghancurkan seluruh Kapal Induk lawan. Apakah kalian mengerti ?"

"Siap."

"Marcos, kau..."

"Tidak akan. Aku tidak ingin mendengar kisah sengsaramu." ujar Marcos sedikit tertawa

"Kau..."

"Daripada itu, sepertinya... Rumor itu tidak benar, ya ?" ujar Elisa

"Rumor ? Ah... Kau benar... Abyssal dengan gaun hitam itu tidak muncul..."

"Dapat dikatakan dia berada di tempat lain."

"Tepat sekali."

"Jadi... Apa yang harus kita lakukan ?"

Viltus tersenyum, dan melihat senyum itu seluruh divisi dari Viltus sudah tahu rencana dari Viltus. Mereka semua tersenyum, hingga Viltus berkata,

"Kita akan melakukan yang biasa kulakukan... Apakah kau ingin mengikutinya ?"

"Tentu saja. Kau ini kepala operasional dari operasi ini." ujar Marcos

"Ahahahahahaha."

Viltus langsung memerintahkan semuanya untuk beristirahat, dikarenakan misi mereka dua hari lagi akan sangat berat.


Satu minggu berlalu,

Operasi dari divisi Viltus sudah selesai, dan persiapan untuk seluruh divisi pengintaian pun sedang dipersiapkan. Ketiga markas darurat Viltus pun digunakan untuk tempat tinggal sementara divisi pengintaian di operasi besar berikutnya.

Viltus berjalan bersama ayahnya untuk membahas mengenai tempat tersebut. Ayahnya kemudian berkomentar,

"Kau melewati sesuatu yang berat lagi rupanya..."

"Kau tahu dari siapa ?"

"Ahahahahahaha... Taihou menceritakan semuanya."

"Taihou..."

"Jangan seperti itu, kita lihat berkahnya..."

"Ya, kita menguasai area itu dan menjadi markas untuk divisi pengintaian."

"Benar sekali."

"Kapan kira-kira divisi pengintaian akan bersiaga di sana ?"

"Dikarenakan operasi selanjutnya memakan waktu satu bulan. Maka, kalian semua akan disiagakan di sana pada akhir musim panas."

"Hooh... Masih cukup lama."

"Ahahahahahaha..."

"Daripada itu, apakah aku dapat membawa dokter Shibata ke sana ? Aku khawatir diriku sakit..."

"Maaf, dokter Shibata ada pekerjaan di sini. Jadi, dia tidak dapat ikut."

"Begitu, ya..."

Tadahisa melanjutkan berjalan bersama dengan Viltus, hingga akhirnya Viltus berkata,

"Di Yokosuka ini, berkumpul orang-orang yang ingin membalas dendam kepada Abyssal."

"Iya."

"Mereka semua berkumpul dengan dalih ingin melindungi manusia... Di mana sebenarnya keinginan mereka adalah menghancurkan Abyssal atas apa yang mereka lakukan kepada orang yang mereka kasihi, seperti Marcos atau mereka idolai, seperti Magyar."

"Kau khawatir jika ada yang bertindak seperti Marcos ?"

"Tepat sekali... Untungnya di hari terakhir dia mau bekerja sama. Penyerangan itu memakan waktu berjam-jam, dan kami berhasil menghancurkan kapal induk lawan di tiga titik."

"Itu luar biasa... Sangat luar biasa. Kau sepertinya akan menjadi pemimpin yang hebat nanti."

"Tapi, itu hanya keberuntungan semata. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika dia tidak pengertian... Atau mungkin ada orang yang jauh lebih parah dari Marcos... Besar kemungkinan kita akan kehilangan cukup banyak orang."

"Aku tahu..."

"Daripada itu, ayah..."

"Ada apa ?"

"Apakah ayah mengenal seseorang bernama Keiko ?"

"Huh ? Kei... ko ?"

"Iya... Beberapa minggu yang lalu, nama itu seperti lepas begitu saja dari lidahku. Namun, aku sama sekali tidak ingat siapakah Keiko itu."

"Tidak... Ayah tidak kenal."

"Begitu, ya ? Mungkin temanku pada masa sekolah dasar."

"Mungkin."

Viltus berpikir sebentar, sebelum akhirnya ia berkata,

"Baiklah... Aku pamit dahulu..."

"Ah... Silakan."

"Per..."

"Ah... Sebelum itu, ayah akan memberikan bocoran kepada dirimu."

"Bocoran apa ?"

"Saat ini, seluruh petinggi sedang memikirkan mengenai kemungkinan untuk memperkuat beberapa Gadis Kapal."

"Hooh... Bagaimana caranya ?"

"Entahlah... Itu tugas para mekanik. Namun, yang sudah ada beberapa kandidat."

"Kandidat ?"

"Iya. Dan yang terpilih untuk itu adalah..."

Tadahisa membisikkannya ke telinga Viltus, dan Viltus langsung berkomentar,

"Mereka ?!"

"Iya. Mereka sudah cukup terlatih dan salah satu dari Gadis Kapal yang cukup baik dalam misinya."

"Aku dapat menerima alasan itu sih."

"Hahahahahaha... Aku yakin dirimu akan senang."

"Iya... Iya... Sudah, aku kembali ke kantorku dahulu, ya."

"Iya."

Viltus langsung berjalan menaiki tangga meninggalkan ayahnya yang sedang berpikir keras. Sesampainya di kantor, Viltus membuka pintu dan melihat seluruh anggota divisinya di sana. Ia melihat Ryuujou dan Magyar yang saling menggoda, Anastasia yang sedang bermain bersama Hatsuzuki, Teruzuki dan Akizuki, Elisa yang sedang berbincang-bincang dengan Yahagi dan Shoukaku, begitu pula dengan Marcos yang sedang berbincang-bincang dengan Agano.

Pada awalnya Viltus tidak menyadari dan berjalan begitu saja. Taihou memberikan satu gelas kopi kepada Viltus, dan pada saat Viltus melihat Marcos sekali lagi, ia langsung menyemburkan kopi tersebut. Ia kemudian mengambil sapu tangan, dan berkata,

"Marcos ?! Apa yang kau lakukan di sini ?"

"Bermain bersama Agano." ujar Marcos yang langsung mendapat anggukan.

"Tunggu... Bukan itu... Bukankah operasi kemarin sudah selesai ? Kau seharusnya..."

"Aku mengundurkan diri dari jabatanku..."

"Eh ?!"

"Ada apa ?"

"Tidak bisa ! Bisa-bisa ada rumor miring yang menyebutkan bahwa diriku akan menjatuhkan mental orang lain..."

Marcos langsung menatap tajam ke arah Viltus dan kemudian berkata,

"Bukankah aku berkata akan menjadi tamengmu ? Aku akan memberitahukan alasanku kepada mereka."

"..."

"Lagipula, Laksamana Yanagi sudah setuju koq."

"Lalu, bagaimana dengan divisimu ?"

"Mereka semua menyebar dan bergabung dengan divisi lain. Setidaknya sebelumnya kami berpesta."

Viltus langsung ingat suara yang sangat keras pada saat itu, diiringi dengan amarah dari Houshou. Viltus langsung duduk dan kemudian berkata,

"Jangan bilang dirimu bergabung kemari..."

"Tepat sekali !" ujar Marcos sembari berdiri.

Viltus langsung menutup matanya sembari berkata dalam hati,

"Oh Tuhan, jangan orang berisik lainnya !"

Marcos kemudian berjalan ke dekat Viltus dan kemudian berkata,

"Aku yang akan mengurus seluruh persenjataan di kapal komandomu."

"Kapal komandoku hanya memiliki Depth Charge, Chaff Grenade, dan High Angle Gun. Semua itu merupakan perlengkapan wajib untuk operasi."

"Aku tahu..."

"Lalu ?"

"Aku sudah meminta Elisa untuk memasukkan torpedo..."

"Torpedo ?! Tidak aku..."

"Dengarkan dulu... Itu adalah torpedo yang dapat merusak sistem sonar lawan selama beberapa menit."

"Eh ?"

"Banyak yang tidak dimasukkan karena akan memakan cukup banyak memori, itu sisi buruk dari penggunaan senjata di kapal komando kita. Semua senjata itu selalu aktif. Dan dikarenakan semua persenjataan akan diaktifkan manual oleh diriku, maka torpedo tersebut dapat dimasukkan ke dalam kapal komandomu."

"..."

"Bagaimana ?"

"Elisa akan lembur lagi, nih..."

Marcos tersenyum ke arah Viltus. Viltus menarik nafas panjang dan kemudian berkata,

"Baiklah... Saya terima."

"Baguslah."

"Marcos Luiz de Souza. Dengan ini kau resmi bergabung dengan divisi hitam ini. Semoga kau tidak menghalangi jalan kami."

"Tidak akan."

Semuanya tersenyum melihat itu, dan kemudian Marcos langsung merangkul Viltus dan berbisik,

"Jadi... Apakah kau ingin dada Taihou sedikit..."

"Ingin kutinju lagi ?"

"Aku cuma bercanda..."

"Beritahu saja... Biar diriku yang melakukannya"

"Eh ?"

Marcos melihat wajah Viltus yang tersenyum, dan mereka tertawa bersama. Taihou yang melihat itu langsung bertanya,

"Ada apa, Viltus ?"

"Bukan masalah..."

Mereka berdua tertawa bersama yang menandakan awal kerja sama mereka sebagai satu divisi yang sama. Anggota Kru Viltus semakin bertambah besar dan semakin baik. Viltus Amarov, seorang Laksamana muda yang memiliki cara berpikir yang di lebih dari rata-rata. Elisa von Manstein, seorang mekanik muda yang sangat luar biasa. Magyar Libyet, seorang mantan pengawas udara di Eropa. Anastasia Konoplyanka, seorang mantan tentara Russia yang pernah menghabisi Abyssal. Dan sekarang mereka mendapatkan Marcos Luiz de Souza, seorang mantan marinir yang cukup handal dalam penggunaan senjata. Ini merupakan awal dari divisi yang terkenal akan kehebatan mereka di medan pertempuran dan disegani oleh banyak orang di Jepang, bahkan di dunia.


HakunoKazuki di sini !

Ya, arc Marcos sudah selesai dengan chapter ini... Yeay !

Dan dengan chapter ini juga... Event Kancolle sudah kelar ! Dan sudah mendapat IOWA !
V : *uhuk Yankee *uhuk
HK : Percayalah... Iowa akan level 1 dalam waktu yang cukup lama...

Event sudah selesai di account saya, walau belum resmi karena masih mencari Amagi...
H : Hooo... Amagi...
HK : Shut Up... Event sebelumnya nggak drop ama sekali
H : Teru ?
HK : Not interested

Step A Side... Seri ini akan hiatus sebentar hingga seri Deep Abyss : Seasonal Event berhenti bertepatan dengan selesainya event Kancolle... jadi setelah Spring Event Kancolle selesai, seri ini akan berlanjut. Jadi ditunggu ya.

Ya, sekian saja dari saya... Semoga kalian menikmati chapter ini, dan tunggu chapter berikutnya !

Sampai Jumpa