Chapter 22

Nightmare


Divisi Viltus sudah kembali dari operasi kecil lainnya, dan hasil dari operasi itu sangat berguna untuk operasi lanjutan. Magyar berjalan dengan pelan sembari berkata,

"Capeknya..."

"Aku setuju." ujar Marcos sembari merenggangkan badannya.

Viltus berjalan di sebelah Anastasia dan kemudian bertanya,

"Sudah berapa lama kita tidak tidur dengan tenang ?"

"Dua hari... Selama operasi tersebut." ujar Anastasia.

"Pasti Gadis Kapal sangat lelah..."

"Kau benar. Hatsuzuki terlihat sangat lelah pada saat tiba tadi."

"Di mana mereka ? Aku tidak melihat mereka pada saat kita turun dari kapal tadi."

"Beberapa menemui Elisa, ada pula yang langsung pergi entah kemana." ujar Magyar

"Heh ? Aku yakin kau pasti akan menemui Ryuujou setelah ini." ujar Viltus sembari tertawa.

"Lihat dahulu siapa yang berbicara." ujar Magyar

Marcos dan Anastasia tersenyum melihat mereka berdua yang berbicara dengan tenang. Tidak berapa lama, muncul dua orang gadis di depan mereka berempat dan mereka berdua membawa empat botol minuman. Viltus yang melihat itu langsung berkata,

"Terima kasih banyak, Shigure."

"Bukan masalah, Laksamana. Aku dengar dirimu baru kembali, maka dari itu aku memberikan botol itu kepada kalian. Minuman khusus." ujar Shigure

"Khusus ?" tanya Anastasia

"Iya. Katanya dari Kure. Sebuah Jus."

"Oh... Kure."

Wajah Viltus langsung berubah menjadi sangat khawatir pada saat mendengar kata 'Kure'. Viltus melihat ke arah botol yang tertutup tersebut, dan kemudian membukanya. Pada saat itu, ia mencium bau yang sangat tidak enak. Ia bermaksud menahan semuanya, namun semuanya sudah meminumnya lebih dahulu. Satu per satu mulai berjatuhan, dan membuat kaget Shigure.

Viltus menghela nafas dan kemudian berkata,

"Ini pasti kiriman dari Shiro-nee... Sudahlah..."

"Ah... A... Apa..."

"Bisakah kau mengurus mereka ? Aku ingin ke kantorku lebih dahulu."

"Ta... Tapi..."

"Yuudachi, jangan tertawa saja. Bantu Shigure."

"Siap, poi" ujar Yuudachi

Viltus langsung menepuk pundak Shigure dan kemudian langsung berjalan meninggalkan mereka berdua. Setibanya di kantor, ia melihat Taihou yang tertidur di sofa. Pertempuran sebelumnya sangat menghabiskan tenaga mereka semua, terutama Taihou yang bekerja keras dikarenakan Shoukaku dan Ryuujou membantu di sisi lain. Ia langsung tersenyum dan mengambil selimut untuk menutupi tubuh Taihou. Ia berkata,

"Dasar... Wanita secantik dirimu, seharusnya sadar pada saat kau tidur kau itu sangat rentan..."

Viltus langsung tersenyum dan mencium kening Taihou, ia langsung memutuskan untuk menunggu di ruangan tersebut hingga Taihou bangun dari tidur pulasnya.


Air

Aku merasakan itu di wajahku

Aku... Tenggelam ?

Tidak

Aku belum tenggelam

Gelap

Sama seperti masa laluku... Tidak dapat kulihat bagaimana pun caranya.


Taihou membuka matanya dan menemukan ia melayang di udara. Ia langsung bergumam,

'Mimpi ?'

Ia langsung ingat dirinya langsung berjalan ke kantor untuk menunggu Viltus dikarenakan kebiasaan mereka setelah operasi pasti akan bertemu di kantor untuk menyemangati satu sama lain dan juga melepaskan sisi mereka selama mereka berperan sebagai 'Laksamana' dan 'Gadis Kapal'. Ia pun ingat dirinya merebahkan diri di sofa.

Ia langsung tertawa kecil dan berkata,

'Aku tertidur rupanya...'

Taihou langsung memperhatikan sekitarnya, dan ia merasa sangat tenang di dalam mimpinya. Ia sama sekali tidak merasakan tekanan, maupun rasa takut. Air yang mengalir di sekitarnyalah yang menenangkan jiwanya, seakan-akan dirinya ikut terbawa air tersebut. Ia kemudian melihat ke bawah dan melihat sebuah pemandangan seperti sebuah film.

Sebuah ruangan kelas, dengan beberapa orang di dalamnya. Ia melihat seorang wanita yang mendekati seorang pria yang terlihat sangat sedih. Pada saat Taihou memperhatikan wajah orang tersebut, ia tidak mengenalnya dikarenakan wajahnya berubah menjadi mosaic. Taihou langsung berkata,

'Siapa ? Siapa dia ?'

Wanita tersebut semakin mendekati pria tersebut, dan berkata,

"Hei, ******"

"Huh ?"

Taihou sama sekali tidak mendengar nama yang disebut oleh wanita tersebut. Seperti suara radio yang rusak. Semakin ia ingin mendengarkan apa yang dikatakan oleh kedua orang tersebut, semakin kuat suara tersebut. Ia semakin tidak dapat mendengarkan apapun, selain memperhatikan apa yang dilakukan oleh wanita tersebut.

Wanita tersebut terlihat sangat ingin menghibur pria tersebut, hingga akhirnya ia melihat ke seluruh kelas dan terlihat sangat kesal dengan sesuatu. Pria tersebut langsung menarik lengan dari wanita tersebut dan terlihat sangat panik. Sedikit demi sedikit semuanya menjadi pudar dan di sekitar Taihou berubah menjadi putih.

Taihou merasakan tubuhnya turun dengan perlahan, hingga akhirnya ia dapat menapak. Ia melihat sekelilingnya yang sangat tenang. Ia berjalan ke depan, dan pada saat itu ia melihat semakin ia berjalan, semakin berubah pemandangan di sekitarnya. Ia melihat hutan yang sangat rindang, dan pada ujungnya ia melihat sekelompok anak muda yang mengikuti latihan militer.

Taihou melihat kembali wanita yang ia lihat sebelumnya, dan kali ini ia bersama tiga orang lainnya. Seorang pria dan dua orang wanita. Ia mendengar dengan jelas pembicaraan mereka.

"Hei... ******"

"Ada apa, ***** ?"

"Jadi... Tadi kau sebenarnya bersembunyi di mana ? Aku sama sekali tidak melihatmu."

"Aku... Aku hanya berjalan berkeliling di hutan saja. Setiap mendengar suara orang melangkah aku langsung diam dan menunduk."

"Eh ?! Hutan di sana ?"

Wanita tersebut menunjuk ke arah Taihou, dan memperlihatkan wajah yang sangat terkejut. Taihou berjalan perlahan ke dekat wanita tersebut, dan mencoba untuk menyentuhnya. Namun, yang ia rasakan adalah tangannya yang menembus wanita tersebut, seperti menyentuh sebuah hologram.

Taihou berjalan ke tengah mereka, dan kemudian memperhatikan ketiga orang lainnya. Wajah mereka seperti sebuah mozaic, namun ia mengenal salah satunya. Wanita dengan rambut merah yang ada di kirinya. Itu adalah Yanagi Shiro.

Taihou langsung berkata dengan pelan,

"Shiro-san ?! Siapakah gadis ini ? Ia sepertinya sangat mengenal Shiro-san."

Mendadak ia merasakan seseorang memperhatikan dirinya. Pria di depannya seperti menatap dirinya, dan kemudian berkata,

"Siapa... Dirimu ?"

'Huh ?' ujar Taihou sedikit terkejut

"Ada apa ****** ?"

"Ah... Tidak apa-apa..." ujar pria tersebut

"Aku penasaran... Sejak kapan kalian sangat akrab seperti itu." ujar wanita yang Taihou yakini sebagai Yanagi Shiro.

"I... Itu bukan masalahmu." ujar pria itu kemudian.

Taihou menarik nafas panjang, dan kemudian berjalan dengan perlahan ke depan kembali. Sedikit demi sedikit hutan di sekitarnya menghilang, dan kali ini digantikan dengan atap sekolah. Ia terus berjalan dan merasakan salju yang turun dari langit. Taihou melihat ke arah langit, dan ia langsung merasakan sakit di kepalanya.

Ia langsung jatuh berlutut, dan kemudian menggelengkan kepalanya sebentar. Ia kemudian melihat ke depan, dan memperhatikan pria yang sama berdiri di ujung dari atap tersebut. Tidak berapa lama, pintu di belakang Taihou terbuka dan di sana berdiri wanita tersebut. Wanita yang menarik perhatian dari Taihou. Wanita itu maju ke depan dan kemudian berkata,

"Kau ingin membunuh dirimu kembali ?!"

"..."

"****** !"

"Mungkin..."

"Hei ?! Bagaimana dengan janjimu untuk terus hidup hingga diriku menjadi Laksamana Tinggi di Angkatan Laut ?"

"..."

"Bagaimana dengan janjimu untuk menemani diriku hingga aku dapat menghancurkan semua Abyssal yang membuat dirimu menderita ?! Dan kemudian hidup bersama ?"

"Itu..."

"****** ! Kau tidak dapat seenaknya saja..."

"Kau tahu..."

"Huh ?"

"Dari atas sini, aku dapat melihat dengan jelas sebagian dari kota ini..."

"Eh ?"

"Aku tidak akan melompat... Untuk apa aku melompat, hanya untuk dimarahi oleh dirimu. Lagipula, diriku tidak tahan melihat wajah marahmu..."

Pria tersebut tertawa kecil tanpa melihat ke belakangnya. Wanita tersebut terdiam sebentar dan kemudian berkata,

"Lalu, mengapa dirimu di sini ?"

"Kau ingat... Di sini pertama kali kita bertemu pada saat kita masuk ke sekolah ini ?"

"Ah... Aku ingat dirimu yang memiliki tatapan kosong..."

"Kau ingat... Di sini kau memarahi diriku atas beberapa tindakan konyolku ?"

"..."

"Kau ingat... Aku selalu lari kemari setelah kematian ibuku ?"

"Hei..."

"Dan apakah kau ingat... Di sini... Dirimu membantu diriku untuk bangkit kembali ? Berkelakar, bercerita berbagai hal... Dan memberitahukan mimpimu..."

Wanita tersebut langsung terdiam. Sementara Taihou, yang mendengar itu langsung menyentuh dadanya. Ia merasakan panas di dadanya. Seperti terdapat penyesalan atas semua yang dikatakan oleh pria tersebut. Pria tersebut langsung menunjuk ke arah salah satu pohon dan kemudian berkata,

"Ummm... Apakah kau bebas besok ?"

"Huh ?"

"Aku tidak akan mengulanginya lagi... Apakah kau bebas besok ?"

"I... Iya..."

"Bagaimana jika kita ke kota besok... Kita bertemu di pohon sebelah sana..."

"Bi... Bisa..."

"Aku akan menunggu kehadiranmu."

Pada saat mendengar itu, Taihou kembali merasakan sakit di dadanya. Seperti kejadian yang penting, namun tidak terjadi. Taihou berusaha mengingatnya, namun gagal. Taihou langsung berlutut dan kemudian berkata,

"Siapa ? Siapa dirimu ? Siapa ?!"

Taihou melihat ke depan, dan melihat wajah kedua orang tersebut berubah menjadi putih. Taihou langsung menutup matanya, berharap itu semua hanyalah mimpi buruk saja.


Taihou membuka matanya kembali dan memperhatikan sekitarnya. Kali ini sangat gelap. Ia langsung berdiri dan berjalan dengan pelan. Hingga akhirnya, ia tiba di depan sebuah rumah. Pada saat melihat rumah tersebut, ia terlihat sangat rindu akan sesuatu. Ia berjalan dan membuka pintu tersebut.

Pada saat ia membuka pintu, yang ia lihat adalah seorang pria yang cukup tua dengan wanita tersebut. Taihou berjalan dengan pelan dan mendengarkan,

"Mengapa diriku tidak boleh pergi ?! Aku sudah memiliki janji dengan seseorang !"

"Janji dengan siapa ? Dengan pria kotor itu ?"

"Ayah ! Bisakah kau tidak menyebut dirinya dengan pria kotor ? Dia itu sangat rentan."

"Bah ! Itu cuma rencana dirinya saja agar dirimu percaya."

"Tidak ! Aku merasakan sendiri dari wajahnya, dari cara dia berbicara dan bersikap. Ia sangat menderita ! Wajah seperti itu tidak mungkin berbohong !"

"..."

"Ayah..."

Pria tersebut langsung menunduk dan kemudian berkata,

"Putriku... Kau benar-benar ingin pergi ?"

"Tentu saja. Aku harus menepati janjiku..."

"Begitu ya..."

"Huh ?"

"Sebelum kau pergi, apakah kau masih ingin menjadi Laksamana ?"

"Tentu saja !"

"Apa tujuanmu masuk ke Angkatan Laut ? Kau dapat saja..."

"Membantu dirinya... Agar ia tidak merasa terbebani !"

"Begitu ya... Itu karena dirinya."

Wanita tersebut langsung terdiam. Dan ia kemudian membalikkan badannya. Pria itu langsung berkata,

"Kau... Sama keras kepalanya dengan ibumu..."

"..."

"Seandainya kau masih mau mendengarkan diriku..."

"Ayah... Maaf... Tapi, ini yang kupercayai..."

"Aku tahu... Aku tahu..."

Wanita tersebut tersenyum sebentar, dan kemudian melihat ke arah ayahnya. Ia kemudian berkata,

"Aku pergi dahulu... Ayah..."

"Silakan..."

Tidak berapa lama, pintu terbuka dan di sana berdiri beberapa orang dengan pakaian angkatan laut. Di sana berdiri juga beberapa orang, yang mayoritas tidak dapat dilihat mukanya oleh Taihou. Taihou sedikit mundur. Dan pada saat itu, ia mendengar,

"Jadi ini wanita tersebut ?" ujar salah satu prajurit yang menahan wanita tersebut

"Ayah, apa-apaan ini ?!"

"Maafkan ayah... Ayah tidak ingin dirimu mendekati pria tersebut... Karena pria itu adalah dosa seluruh umat manusia."

"Tapi, ayah..."

"Ini yang ayah dapat berikan kepada dirimu... Masuk ke angkatan laut..."

"Ayah... Kau..."

"Sudahlah... Aku mendapatkan uangku ? Mana uangnya ? Aku perlu untuk bayar hutangku..."

"Uang ?" ujar salah satu prajurit

"Iya... Seperti yang kau janjikan..."

"Oh... Tunggu sebentar..."

Salah satu prajurit mengangguk, dan kemudian langsung menembak pria tersebut. Wanita tersebut langsung berteriak histeris, sembari berteriak,

"Ayah... Ayah..."

"Diam kau !"

"Huhuhuhuhu..."

"Kau tidak perlu khawatir... Kau... Hilang..."

Taihou menyadari sedikit demi sedikit suara itu mengecil. Dan dalam sekejap seluruh ruangan tersebut menjadi gelap. Taihou melihat yang benafas sangat berat melihat ke kiri dan kanan, dan langsung berlari. Dan setiap kali ia berlari ia mendengar suara,

"Dia menungguku..."

"Tidak... Tidak... Aku tidak ingin..."

"Mengapa diriku..."

"****** ! Tolong aku..."

"Argh... Sakit... Sakit... Sakit..."

Hingga akhirnya ia menabrak sesuatu. Ia melihat ke depan, dan di sana berdiri sebuah tabung dengan kabel di dalamnya. Dan pada saat itulah, ia sadar tabung tersebut merupakan tabung di mana dirinya 'Lahir' kembali. Taihou langsung berteriak histeris, dan menggelengkan kepalanya. Ia berharap dirinya sadar dari mimpinya tersebut.


Taihou kembali membuka matanya, dan melihat suasana kembali menjadi tenang. Ia mendengar alunan musik klasik, dan di sekelilingnya hewan-hewan laut berenang dengan tenangnya. Lalu, ia melihat seorang pria dengan rambut putih dan mengenakan penutup matanya. Ia terlihat mendengarkan musik klasik tersebut, sebelum ia melihat ke arah Taihou. Melihat Taihou, ia langsung berkomentar,

"Kukira aku hanya akan bertemu dengan orang itu... Ternyata..."

Taihou sedikit terdiam dan langsung waspada melihat pria tersebut. Pria tersebut langsung melihat ke arah langit berkata,

"Aku memiliki urusan lain, dan dirimu memanggilku kemari ? Kau itu tidak waras..."

"..."

"Aku tahu... Aku sedang mengubah mereka... Jadi... Huh ?"

Taihou sedikit mundur dari pria tersebut, yang langsung mendapat helaan nafas darinya. Pria tersebut langsung berjalan ke dekat Taihou dan berkata,

"Maafkan aku, aku tidak dapat menyambutmu dengan baik... Seseorang memasukkan diriku tanpa memberikan kesempatan untuk diriku bersiap-siap."

"Siapa..."

"Kau sepertinya melihat sesuatu... Di mimpimu..."

"..."

"Ah... Maaf... Maaf... Tadi kau bertanya mengenai apa ?"

"Siapa dirimu ?"

Pria itu tersenyum sedikit dan langsung duduk di kursi yang mendadak muncul. Taihou sangat terkejut melihat itu. Pria itu kemudian membuat tanda agar Taihou duduk dahulu. Ia langsung berkata,

"Dahulu aku pernah bertemu dengan seseorang yang sangat kesal pada saat aku menjawab dengan asal saja..."

"Huh ?" ujar Taihou sambil duduk

"Perkenalkan namaku adalah Hakai."

"Eh ?"

"Sesuai dengan nama tersebut, diriku adalah salah satu penghancur dunia... Walaupun itu bukan dunia kalian... Mungkin..."

Taihou langsung berdiri dan menatap tajam ke arah Hakai. Hakai tidak peduli dengan hal tersebut dan meminum teh yang ada di mejanya. Hakai kemudian berkata,

"Tatapan yang sama dengan orang itu..."

"Orang itu ?"

"Sudahlah..."

"..."

"Ada apa ?"

"Hakai... Benar ?"

"Iya... Aku tidak perlu menyebutkan namaku lagi."

Taihou langsung berjalan pelan dan duduk kembali. Ia langsung bertanya,

"Kau tadi menyebutkan dirimu adalah salah satu penghancur dunia... Jadi, kau akan..."

"Menghancurkan duniamu ? Tidak... Tidak... Aku tidak akan... Mungkin."

"Kau mengatakan mungkin kembali..."

"Itu mudah... Tidak pernah ada yang tahu geliat seseorang di masa depan. Apa yang dikatakan oleh mulut sekarang belum tentu mereka lakukan di kemudian hari. Satu kata, 'mungkin', itu yang paling sering dikatakan oleh kebanyakan orang. Lagipula, aku sering memperhatikan dunia lain. Tidak hanya duniamu dan tidak melakukan apapun di sana."

"..."

"Lagipula... Bagaimana mungkin diriku yang merupakan salah satu bagian dari mimpimu melakukan manifestasi ke dunia duniamu ? Tidak mungkin..."

"Bagaimana caranya aku..."

"Dapat percaya ? Lihat ini."

Hakai langsung membentuk sebuah gelas di tangannya dari sesuatu yang kosong. Hakai kemudian berkata,

"Ini semua ada di dalam kepalamu..."

"..."

Hakai langsung meminum secangkir teh dan kemudian melihat ke arah wajah Taihou yang sama sekali tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Hakai. Hakai langsung menghela nafas dan kemudian berkata,

"Jadi... Kau tidak percaya bahwa diriku ini hanyalah seseorang yang memperhatikan kalian saja tanpa ada keinginan untuk menghancurkan kalian ?"

"Iya..."

"Haaahhh... Baiklah..."

Hakai menjentikkan jarinya dan kemudian dalam sekejap di belakang Hakai muncul sesuatu yang menyerupai film. Di sana berdiri seorang pria dengan beberapa Gadis Kapal yang tidak pernah ditemui oleh Taihou. Hal pertama yang menarik perhatian dari Taihou adalah Gadis Kapal di sebelah pria itu yang memiliki rambut abu-abu panjang dengan mata biru. Hakai langsung berkata,

"Nama pria itu adalah Kapten John Curtiss... Salah satu Laksamana dari Amerika Serikat."

"Amerika Serikat ?! Aku tidak pernah mendengar nama itu dari Neo-san."

"Heh ? Aku bilang tadi tidak hanya duniamu saja."

"Tunggu, tadi kau bilang..."

"Itu adalah dunia lain di mana terjadi konflik antara Abyssal dan manusia, seperti dunia kalian."

Taihou langsung memperhatikan kembali ke belakang Hakai. Bagaimana pria itu berkomunikasi dengan semua Gadis Kapalnya, dan pertemuan dengan beberapa Gadis Kapal yang dikenal oleh Taihou. Ia melihat emosi yang berbeda-beda. Hingga ia melihat Viltus berada di sana. Hakai berkata,

"Orang yang sama... Dunia yang berbeda... Dan mereka memiliki masa depan yang berbeda... Huh ?"

Taihou terlihat fokus melihat Viltus yang berbicara dengan seorang wanita dengan rambut biru. Taihou langsung berkata,

"Dunia itu..."

"Dunia yang satu itu... Pria itu masih bersama dirimu."

"Eh ?"

"Dapat saja seseorang yang sama di dunia yang berbeda akan menemukan sesuatu yang sama dalam hidup mereka... Mungkin dalam kasus ini pasangan mereka."

Pemandangan di belakang Hakai masih belum menghilang, dan Hakai kemudian berkata,

"Ini adalah salah satu dari dunia yang kuperhatikan..."

"Kau..."

"Namun, aku pun setidaknya pernah turun di dunia lain... Yang hasilnya adalah kehancuran."

"..."

"Tenang saja... Aku akan menjadi seseorang yang memperhatikan saja di dunia ini."

"..."

Hakai tersenyum dan kemudian ingat akan sesuatu. Ia langsung bertanya,

"Jadi... Mengapa dirimu ada di sini ? Melewati sebuah mimpi ?"

"I... Iya..."

"Hmmm..."

Hakai berpikir sebentar. Taihou langsung bertanya kepada Hakai,

"Hakai-san..."

"Apa ?"

"Siapakah wanita yang kulihat selama ini ? Siapa dia ?"

"Huh ? Kau tidak mengetahuinya ? Itu adalah Kaede."

"Kaede ?"

"Chiba Kaede."

"Apakah itu... wanita yang sama dengan yang ditemui oleh Viltus..."

"Viltus ?"

"Iya... Pasanganku..."

"Hooh..."

"Tapi, jika itu Kaede... Mengapa ia ada di dalam mimpiku ?"

Hakai melihat kembali ke arah Taihou dan tersenyum. Ia tahu akan sesuatu, namun ia sembunyikan. Maka dari itu, ia langsung bertanya kepada Taihou,

"Taihou..."

"..."

"Bagaimana menurutmu mengenai mimpimu itu ?"

"Sedih... Aku kasihan pada pria tersebut... Dan juga Viltus"

"Hooh... Kau tidak kasihan dengan wanita tersebut ? Wanita bernama Kaede tersebut ?"

"Aku... Juga kasihan... Sepertinya dia mencintai pria itu... Lebih daripada mencintai Viltus..."

"Hooh... Begitu ya..."

Taihou langsung menunduk. Ia marah pada saat mengetahui mengenai fakta bahwa wanita tersebut adalah Kaede. Wanita yang dicintai oleh Viltus sebelumnya. Hakai langsung mengangguk dan kemudian bertanya,

"Seandainya... Kau mendapatkan kemampuan untuk mengubah kejadian tersebut... Apakah kau ingin mengubahnya ?"

"Itu..."

"Jawab saja."

"Iya... Agar setidaknya Viltus dapat bersama Kaede dan membuang pria tersebut."

"Lalu bagaimana dengan dirimu ?"

"Itu..."

Taihou semakin menunduk. Alunan musik di ruangan tersebut berubah menjadi sangat melankolis, namun secara mendadak menjadi sangat mencekam. Taihou melihat ke arah gramophone di salah satu sudut ruangan, lalu melihat ke arah Hakai. Ia sangat terkejut.

Di belakang Hakai, film yang ia lihat berubah drastis. Ia melihat dirinya sendiri, walaupun ia sama sekali tidak yakin. Itu dikarenakan wanita tersebut memiliki beberapa bagian Abyssal. Di depan wanita tersebut, terdapat seorang pria yang menusukkan sesuatu ke dadanya. Pria tersebut juga mengenakan beberapa armor dari Abyssal.

Taihou langsung menutup mulutnya, dan kemudian ia mendengar suara yang sangat dikenalnya.

"... Ini akan menghilangkan semua penderitaanmu..."

"Ahahahaha... Beginikah caramu menyambutku kembali ?"

"Ah..."

Pembicaraan yang didengar oleh Taihou adalah rasa bersyukur dan rasa bersalah dari kedua belah pihak. Hingga akhirnya ia mendengar,

"Aku tahu semuanya... Aku ingat semuanya..."

"..."

Taihou terdiam mendengar itu. Mendadak Hakai berkata,

"Huh ? Siapa yang memainkan film ini ? Matikan !"

Hakai menjentikkan jarinya dan kemudian langsung menghela nafas. Taihou kemudian bertanya kepada Hakai,

"Itu tadi..."

"Salah satu dunia di mana aku memperhatikan mereka... Sama seperti diriku memperhatikan dunia kalian."

"..."

"Ya, itu salah satu akhirnya sih... Aku melihat di mana mereka berakhir bahagia... Aku pun melihat di mana mereka sama sekali tidak saling mengenal."

"Siapakah pria itu ?"

"..."

"Siapa pria tersebut ?"

"******"

"Huh ?"

"Aku memanggil namanya... Namun, dirimu tidak dapat mendengarnya."

"Siapa..."

"Pria itu sama... Sama seperti pria yang kau lihat sebelumnya."

"Eh ?"

Taihou melihat ke belakangnya dan menemukan kedua pria tersebut. Mereka bersahut-sahutan

"*****"

"Kau tidak..."

"Mengenal diriku ?"

"Kau melupakan..."

"Diriku ?"

"Kau meninggalkan..."

"Diriku lagi ?"

"Siapakah diriku ?"

"Untuk apa diriku hidup ?"

Taihou langsung berdiri dan kemudian berjalan mundur menjauhi kedua pria tersebut. Semakin ia mundur, semakin ia merasakan tangan yang menarik dirinya. Ia mendengar suara,

"Kejam sekali kau melupakan dia..."

"Siapa..."

"Kau benar-benar kejam..."

"Siapa... Siapa ?"

"Kau..."

"Viltus... Tolong..."

"Kau adalah diriku..."

"Viltus... Viltus..."

"Kau akan mengerti itu... Satu saat nanti..."

Taihou berusaha untuk melepaskan dirinya. Namun, di depannya berdiri Hakai dengan wajah tersenyum. Ia langsung berkata,

"Ya... Aku berharap kau melindungi Viltus ya..."

"Kau... Kau..."

"Semoga ia tidak menjadi... Seperti pria itu... Ahahahahahahaha..."

"Kau..."

"Sampai berjumpa lagi, Taihou... Tidak... *****"

"Ugh..."

"Dia menunggumu... Di sana..."

Taihou semakin ditarik keluar dan kesadaran dia mulai menghilang.


Taihou terbangun dari tidurnya dan melihat Viltus yang memperlihatkan wajah yang sangat khawatir. Viltus langsung menyeka keringat Taihou dan berkata,

"Taihou... Eh ?"

Taihou langsung memeluk Viltus dan mulai menangis. Viltus sangat terkejut dengan hal tersebut, dan merasakan air mata dari Taihou. Ia pun merasakan tubuh dari Taihou yang bergetar cukup hebat. Viltus langsung memeluk Taihou dengan erat, dan kemudian berkata,

"Tenang saja... Aku di sini..."

Viltus langsung mengelus kepala Taihou, dan melihat Shigure dan Yuudachi yang ingin masuk. Viltus membuat tanda untuk pergi dan meninggalkan mereka berdua saja, yang langsung mendapat anggukan dari mereka berdua.

Setengah jam berlalu, akhirnya Taihou sudah cukup tenang. Ia langsung berkata,

"Ma... Maafkan aku..."

"Itu bukan masalah..."

Viltus langsung mengusap kepala Taihou, lalu menyeka air mata Taihou. Setelah itu, Viltus duduk di sebelah Taihou dan berkata,

"Kau tahu... Aku sedang enak-enaknya melihat wajah tidurmu yang cantik..."

"Eh ?!"

"Sebelum kau mulai panik akan sesuatu."

"..."

"Kau bermimpi buruk..."

"Iya..."

Terdapat keheningan di ruangan tersebut. Viltus langsung mengusap rambut Taihou kembali dan berkata,

"Kau tidak perlu mengkhawatirkan mimpi itu lagi. Aku ada di sini... Untuk melindungimu dari mimpi buruk itu... Sama seperti kau melindungiku kemarin."

"Terima kasih, Viltus."

"Jadi, sekarang giliranku yang bertanya kepada dirimu... Apa yang kau lihat di mimpimu ?"

Taihou diam sebentar, dan kemudian berkata,

"Aku melihatnya..."

"Melihatnya ?"

"Aku melihatnya dan berbicara dengannya."

"Dengan siapa ?"

"Pria yang kau sebut sebagai Hakai..."

"Eh ?!"

Wajah Viltus sangat terkejut mendengar itu. Ia sama sekali tidak menyangka nama itu keluar dari mulut Taihou sendiri. Viltus langsung menunduk dan terlihat sedang berpikir. Viltus langsung menghela nafas dan berkata,

"Biar kutebak... Dia berkata sedang memperhatikan dunia kita dan tidak akan melakukan apapun di dunia kita."

"Iya."

"Aku semakin yakin... Dirinya memiliki maksud tertentu."

"Seperti..."

"Entahlah... Aku merasa... Dia bermaksud untuk mencari sesuatu di dunia ini."

"Begitu, ya..."

Taihou diam sebentar, dan kemudian ingat kepada pertanyaan dari Hakai sebelumnya. Ia menunduk dan kemudian berkata,

"Viltus..."

"Ada apa, Taihou ?"

"Kau harus menjawab sejujur-jujurnya..."

"Baik..."

"Seandainya... Wanita bernama Kaede itu mencintai orang lain, bukannya dirimu apa yang akan kau lakukan ?"

"Jika itu adalah diriku yang lama, aku akan bunuh diri."

"..."

"Namun, jika itu adalah diriku setelah ditampar oleh Kaede... Aku akan terus tersenyum dan terus memperhatikan dirinya hingga ia meraih mimpinya, walaupun itu bukan diriku yang menjadi pendampingnya."

Taihou sangat terkejut mendengar. Ia melihat wajah Viltus yang dengan tulus menjawab pertanyaan itu, dan itu tanpa berpikir panjang. Taihou menunduk dan kemudian berkata,

"Jika kau dapat mengubah masa lalu... Apakah kau akan mengubahnya ? Atau..."

"..."

"Kau akan... Awww..."

Viltus langsung menyentil kepala Taihou, dan kemudian berkata,

"Kau ini kenapa ? Sepertinya pertanyaan dari pria aneh bernama Hakai itu sudah masuk sampai kepalamu, ya ?"

"..."

"Haaaah... Aku akan memberitahu dirimu jawabannya... Dan itu sangat mudah."

"Apakah itu ?"

Taihou sudah siap dengan jawaban terburuk dari Viltus. Namun, yang ia dengar dari Viltus adalah,

"Aku tidak akan mengubahnya."

"Eh ?"

"Jika aku mengubah masa lalu, mungkin aku akan dapat hidup dengan Kaede... Atau malah hanya melihat punggungnya saja... mungkin aku akan mati lebih cepat lagi... Namun, yang paling menyakitkan adalah tidak bertemu dengan dirimu."

"Viltus..."

"Aku yang sekarang sudah tidak terikat sama sekali dengan wanita bernama 'Kaede'... Namun, aku terikat dengan dirimu."

"..."

"Dan jika aku mengubah masa lalu... Kita mungkin tidak akan bertemu... Dan mungkin tidak ada kejadian seperti di awal musim dingin itu. Kau ingat ?"

"Di mana kau ingin melompat ke dalam laut yang dingin..."

"Lagipula, kenapa dirimu bertanya mengenai masa lalu seperti itu ? Padahal dulu kau berkata sendiri kan ?"

Taihou baru ingat dengan apa yang ia katakan dahulu pada saat ia membantu Viltus dahulu,


"Tidak ada gunanya dirimu terikat dengan masa lalu... Itu adalah dirimu yang dulu... Sekarang kau adalah Viltus yang kukenal yang tidak terikat dengan masa lalu... Dan yang akan kau seharusnya terikat masa depanmu sendiri."


Taihou langsung menunduk dan kemudian Viltus mengelus kepala Taihou sekali lagi. Viltus berkata,

"Memang terlihat sangat indah jika dapat mengubah masa lalu, namun itu semua hanyalah ilusi semata. Aku ingin menolong ibuku dan adikku, namun aku khawatir tidak akan ada pertemuan antara diriku dengan Kaede, diriku dengan Shiro-nee, diriku dengan Kimura., dan yang paling penting pertemuan dengan dirimu."

Viltus langsung mencium kening dari Taihou. Taihou tersenyum simpul mendengar itu, dan dapat terlihat dengan jelas wajah Taihou memerah karena malu. Viltus langsung berkata,

"Sekarang sudah jelas jawabanku ?"

"Iya."

Taihou sekarang mengerti, Viltus sudah tidak terlalu terikat dengan masa lalunya dan ia lebih memilih untuk tetap di masa sekarang dan menanti masa depan. Ia merasa malu dengan pertanyaan tersebut, dan mungkin sama dengan Viltus yang ia lihat di dunia lain. Ia langsung menarik nafas panjang, dan kemudian berkata,

"Aku akan melindungimu..."

"Aku sudah sering mendengarnya darimu..."

"Ehehehehehe..."

Viltus kemudian duduk di sebelah Taihou, dan Taihou langsung bersandar di bahu Viltus. Taihou langsung berkata,

"Temani aku..."

"Kapan pun... Untuk dirimu, Taihou..."

Taihou langsung tersenyum dan menutup matanya sembari tersenyum.


Marcos, Anastasia dan Magyar berjalan kembali ke arah kantor setelah dirawat sebentar di ruang inap karena keracunan makanan. Setelah dokter memeriksa minuman dari Kure tersebut, mereka menetapkan minuman tersebut sebagai racun yang sangat berbahaya.

Magyar berkata kepada yang lainnya sembari memegang perutnya,

"Itu... Minuman buatan dari kakaknya Viltus..."

"Aku pernah mendengar rumor mengenai apapun yang dibuat oleh kakaknya Viltus... Pasti akan hancur lebur." ujar Marcos

"Ahahahaha... Seharusnya aku sadar lebih dahulu sih..." ujar Anastasia kemudian

"Viltus benar... Kita seharusnya selalu siap sedia dengan obat pencahar di saku kita.. Ugh..." ujar Magyar kemudian.

"Aku penasaran... Dia diajari siapa saja..."

"Aku dengar... Ia diajari oleh Isokaze dan Hiei." jawab Magyar.

"Kombinasi pembunuh..."

"Iya... Ahahahahaha..."

"Daripada membicarakan mengenai minuman itu, apakah kalian tahu di mana Viltus berada ?" tanya Anastasia

Marcos dan Magyar melihat satu sama lain, dan kemudian melihat ke jam dinding di dekat mereka. Magyar langsung berkata,

"Paling... Dia sudah kembali setelah berbincang-bincang dengan Taihou."

"Kau benar" ujar Anastasia

"Daripada itu, untuk apa kita ke kantor ?"

"Hari ini tugasku membereskan kantor, mengerti."

"Ah... Aku lupa..."

"Sudahlah..."

"Kami bantu... Karena aku yakin dirimu pasti lelah." ujar Marcos

"Tumben sekali kau baik hati seperti itu." ujar Anastasia

Marcos langsung memegang dadanya, dan ia merasa seperti tertusuk sesuatu yang sangat tajam. Magyar sendiri menepuk pundak dari Marcos yang berhenti berjalan karena kata-kata dari Anastasia yang sangat tajam.

Tidak berapa lama, mereka hampir sampai di depan pintu. Dan mendadak Anastasia menahan mereka berdua dan membuat tanda untuk diam. Magyar dan Marcos penasaran dengan hal tersebut, dan melihat ke dalam kantor. Mereka melihat Taihou dan Viltus yang tertidur, dan dari wajah mereka mereka terlihat sangat tenang dan damai. Anastasia mendadak memotret mereka, dan kemudian langsung berkata,

"Kita biarkan mereka istirahat sejenak..."

"Foto itu untuk apa ?" tanya Magyar

"Rahasia."

Mereka bertiga berjalan meninggalkan Taihou dan Viltus agar mereka dapat tidur bersama setelah kejadian pada saat natal tahun sebelumnya.


HakunoKazuki di sini

BUSTED ! Just Kidding

Itu memang disengaja agar selesai seperti itu... Intinya sama dengan char yang berbeda... I know that... I know... Dan khusus chapter ini merupakan perluasan dari beberapa chapter yang lalu... yaitu Dream.

Di Chapter ini ada sedikit potongan dari cerita lain yang saya baca bahkan sampai menyebutkan nama karakter utamanya yaitu, 'The Lionheart' karya dari Lord Godzilla. Semoga kalian membaca karyanya, ya.

Ya, sekarang ini saya sedang mengerjakan versi Inggris dari Deep Abyss untuk satu hal... menebus dosa atas ending yang kurang lazim itu !
H : Akhirnya kau benarkan juga.
HK : Harus... Itu dosa terbesar gw

Sudahlah... Daripada memakan waktu lebih lama lagi

Semoga kalian menikmati chapter ini, tunggu kelanjutannya ya.