Chapter 24

Forbidden


"Ah... Laksamana... Ah... Ah... Jangan... Ah..."

Hampir setiap malam Zuikaku mendengar suara tersebut pada malam hari. Ia terlihat sudah cukup bosan mendengarnya, dan juga cukup khawatir mendengarnya. Itu bukanlah suara dari Taihou yang bersetubuh dengan Viltus. Melainkan suara dari Shoukaku bermain dengan tubuhnya sendiri seakan-akan melakukan itu dengan Viltus.

Pada awalnya, Zuikaku diam saja mengenai hal tersebut. Hingga akhirnya, ia menemukan sebuah buku catatan dari Shoukaku yang menuliskan mengenai berbagai hal yang diinginkan oleh Shoukaku. Jika pada umumnya Zuikaku akan melakukan apa saja untuk membantu Shoukaku, namun kali ini merupakan tugas yang mustahil. Itu semua dikarenakan ada satu nama yang tertera di sana.

'Viltus'

Dia mulai berpikir bagaimana caranya dapat membuat Shoukaku sadar mengenai kondisi tersebut, namun itu cukup sulit. Hingga akhirnya, selama beberapa minggu ia mendengar suara tersebut setiap malam.

Keesokan paginya, pada saat Zuikaku sampai di kantor. Ia melihat Furutaka dengan Mogami yang sedang berbincang-bincang, dan juga Taihou yang sedang membereskan dokumen milik Viltus. Zuikaku langsung berkata,

"Selamat pagi, semuanya."

"Selamat pagi, Zui..."

Semuanya terlihat sedikit terkejut dengan sesuatu. Zuikaku terlihat tidak dapat tidur sama sekali. Kantung matanya semakin terlihat dari sehari sebelumnya. Mogami dan Furutaka sontak langsung berdiri dan membiarkan Zuikaku duduk di sofa. Taihou kemudian berkata,

"Zuikaku... Sebaiknya kau istirahat di sofa."

"Aku baik-baik saja..."

"Kau yakin ? Apa kau bergadang setiap malam ?"

"Itu..."

Zuikaku langsung memalingkan wajahnya. Tidak berapa lama, pintu terbuka dengan Viltus dan beberapa Laksamana yang akan tergabung di bawah divisi pengintai arahan Viltus berdiri di depan pintu. Viltus yang melihat Taihou langsung berkata,

"Taihou... Maaf, sepertinya ruangan ini akan digunakan sebagai ruang rapat."

"Ah... Tidak apa-apa."

"Furutaka, Mogami, Zuikaku... Dapatkah kalian bertiga ikut keluar ?"

"Ummm..."

"Ada apa, Taihou ?"

"Mungkin nanti saja. Kau sedikit sibuk saat ini, benar ?"

"Iya... Ahahahahaha..."

Viltus mendengar beberapa Laksamana yang tersenyum mendengar konversasi dirinya dengan Taihou. Bahkan beberapa menirukan pembicaraan mereka dan membuatnya lebih mesra. Viltus langsung pura-pura memarahi mereka, diiringi dengan tawa dari Taihou. Taihou langsung mengajak Zuikaku,

"Zuikaku, ayo kita bicarakan di kantin."

"Ah... Baik..."

Zuikaku, Mogami dan Furutaka langsung meminta ijin diikuti oleh Taihou. Namun, mereka menunggu beberapa menit hingga akhirnya Taihou keluar dari ruangan. Taihou langsung berkata,

"Maaf... Tadi aku membuatkan minum untuk mereka semua."

"Sudah kami duga." ujar Mogami

"Enaknya Viltus-san... Mendapatkan pelayanan dari istrinya sendiri di markas ini." sindir Furutaka sedikit tertawa

"Hei... Kalian ini..." balas Taihou sedikit panik

Taihou kemudian melihat ke arah Zuikaku, dan kemudian langsung menarik Zuikaku untuk ikut mereka bertiga menuju kantin.


Sesampainya di kantin,

Zuikaku terus menguap karena ia terlihat masih sangat mengantuk. Sementara Mogami dan Furutaka terus saja memperhatikan Zuikaku dengan wajah heran. Sementara, Taihou baru saja kembali setelah dipanggil oleh Katori perihal diperlukannya bantuan Kapal Induk untuk latihan serangan udara Kapal Perusak.

Setelah itu, Taihou langsung bertanya,

"Ok... Sekarang kita akan memulainya..."

"Uuuhhh... Aku masih mengantuk..." ujar Zuikaku setengah sadar

"Zuikaku-san... Mengapa dirimu terlihat semakin lelah setiap hari ?"

"Aku susah sekali tidur akhir-akhir ini."

"Memangnya dirimu terlelap pukul berapa ?"

"Aku baru tidur pukul 12 malam..."

Ketiga Gadis tersebut melihat ke arah Zuikaku dengan wajah heran. Mereka tahu, pukul 12 merupakan waktu paling riskan untuk mulai tidur dikarenakan adanya suara yang cukup keras di asrama mereka. Taihou langsung berkata,

"Tapi, bukankah kalau tidur pukul 12..."

"Aku tahu... Kawauchi pasti akan sangat ribut... Aku tahu itu... Sepertinya aku baru benar-benar terlelap sekitar pukul 3 pagi, dan harus bangun pukul 5 pagi." ujar Zuikaku yang menopang dagunya sendiri

"Itu sangat berbahaya untuk tubuhmu."

"Aku tahu..."

"Memangnya kenapa kau tidak tidur lebih awal ?" tanya Furutaka

"Aku ingin... Hanya saja..."

"Hanya saja ?"

Zuikaku langsung memalingkan wajahnya. Ia kemudian melihat ke kiri dan kanan, dan langsung mendekatkan diri ke agar tidak didengar yang lain. Ia langsung berbisik, dan setelah mendengar itu ketiga orang lainnya terdiam sebentar, dan sedikit tertawa. Mogami langsung berkata,

"Bukankah itu normal, ya ?"

"Iya, sih..."

"Tapi, dari wajahmu kau terlihat sedikit khawatir mengenai beberapa hal." ujar Taihou

"..."

"Memangnya siapa yang ada digunakan oleh Shoukaku-san sebagai delusinya ?"

"Laksamana Amarov."

Semuanya terdiam sebentar, dan langsung berteriak dengan nada yang sama,

"APA ?!"

Zuikaku langsung tersadar karena teriakan mereka. Dan mengetahui kesalahan mereka bertiga, mereka langsung meminta maaf kepada semua orang yang lain. Setelah itu, Taihou langsung berkata,

"Aku maklum sih jika ada seorang Gadis Kapal yang mencintai Viltus."

"Semua Gadis Kapal sudah mengetahui mengenai hubungan kalian. Aku yakin Shoukaku-san akan sedikit segan dengan itu, apalagi kalian satu divisi." ujar Mogami tertawa

"Apa yang dikatakan oleh Mogami-san itu benar." ujar Furutaka

"Tapi..." ujar Zuikaku sedikit tidak yakin

"Tapi, kenapa Zuikaku ?"

"Walaupun Shoukaku-nee terlihat tenang saja... Dia..."

"Shoukaku-san kenapa ?" ujar Anastasia dari belakang Zuikaku

Mereka berempat terkejut dan melihat Anastasia yang sedang berdiri bersama dengan Akizuki, Teruzuki dan Hatsuzuki. Taihou langsung mempersilahkan mereka berempat duduk, dan mengikuti pembicaraan mereka dengan memberitahukan apa yang menjadi pembahasan mereka. Anastasia diam sebentar, dan kemudian berkata,

"Kalian tahu... Tindakan kalian sama sekali tidak baik... Membicarakan orang lain tanpa diketahui oleh orangnya."

"Iya, sih..." ujar Taihou

"Tapi, ini merupakan masalah untuk Taihou-san juga." ujar Zuikaku

"Eh ?"

"Shoukaku-nee... Akan melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang ia inginkan."

"Shoukaku yang itu ?!" ujar Akizuki sedikit terkejut

"Iya. Walaupun di luar ia terlihat anggun dan menawan... Di dalamnya ia akan melakukan apapun..."

"Apakah kau dapat memberikan kami contoh, Zuikaku ?" tanya Furutaka mendadak

Zuikaku mengangguk dan kemudian mulai bercerita mengenai beberapa hal. Semuanya yang mendengar itu langsung melihat satu sama lain, dan akhirnya Anastasia berkata,

"Dapat aku asumsikan... Dia menginginkan Viltus ?"

"Iya..."

"Fufufufufufu..."

"Eh ? Ada apa, Anastasia-san ?"

"Dia harus melewati tiga orang dahulu jika ingin merebutnya dari Taihou."

"Entah mengapa tatapanmu sangat mengerikan..."

"Siapa yang harus dilewati ?" tanya Mogami.

"Diriku, Shiro-san, dan Laksamana Yanagi."

"Itu sih tiga musuh besar..." ujar Furutaka

"Fufufufufufu..."

"Ummm... Memangnya dirimu sudah menerima Taihou sebagai..." tanya Zuikaku yang langsung diselak oleh Anastasia,

"Sudah."

Taihou langsung melihat ke arah Anastasia dengan wajah yang sangat merah. Ia sama sekali tidak menyangka Anastasia sudah merelakan Viltus untuk jatuh kepada dirinya. Zuikaku kemudian berkata,

"Itu mungkin bisa menahan dirinya... Mungkin..."

"Memangnya dia segila itu ?" tanya Anastasia dengan tatapan sinis

"Iya..."

"Aku yakin dia akan kesulitan... Viltus itu tipe pria yang akan terus setia kepada pasangannya... Kecuali jika ada yang meracuni dia atau semacamnya."

"Ahahahahaha... Memangnya ada ramuan seperti itu ?"

Mereka semua tertawa, dan pada saat membuka mata Mogami merasakan seseorang yang berjalan di belakangnya. Selain itu, ia mendengar tawa kecil dari sana. Ia sontak melihat ke belakang, namun tidak melihat siapapun. Furutaka langsung bertanya,

"Ada apa, Mogami ?"

"Ah...Tidak... Tidak ada apa-apa..."

Mereka melanjutkan berbincang-bincang dengan topik yang berbeda, yang akhirnya menginterogasi Anastasia mengenai satu hal dikarenakan handphone miliknya terus berbunyi dan pasti ia teralihkan ke handphonenya.


Malam itu, Zuikaku langsung meminum pil tidur yang diberikan oleh Viltus tadi siang. Pada siang itu, setelah Viltus selesai rapat, Zuikaku dan Taihou langsung mendatangi Viltus. Viltus yang melihat itu langsung menyambut mereka berdua sembari berkata,

"Selamat datang kembali, kalian berdua."

"Sepertinya rapat berjalan sangat lancar, ya ?" ujar Taihou

"Lumayan... Ini semua dibutuhkan untuk operasi besar nanti pada akhir musim gugur."

"Eh ? Itu masih lebih kurang tiga bulan lagi kan ?"

"Iya."

"Berarti kita masih punya banyak waktu senggang, ya."

"Dan cukup banyak waktu untuk membuatkan hadiah ulang tahun untuk Shiro-nee."

Zuikaku dan Taihou melihat satu sama lain, dan kemudian langsung melihat ke arah Viltus dengan wajah terkejut. Viltus langsung tertawa dan kemudian ia berhenti karena ingat sesuatu. Ia langsung berkata,

"Tadi kau berkata akan memberitahu diriku sesuatu, benar ?"

"Ah... Iya, aku lupa."

"Ada apa ? Pasti ada hubungannya dengan Zuikaku yang sedikit lelah di sebelahmu ini."

"Iya."

"Pasti minta saran untuk dapat tidur, ya ? Ahahahahahaha"

"Iya..." ujar Zuikaku

"Hmmm... Mungkin kau dapat tidur satu tempat dengan kakakmu."

"Eh ?"

"Terkadang, Taihou pasti di sisiku pada saat aku akan tidur. Ahahahahahaha"

"Mooo... Viltus, itu memalukan sekali mengerti." ujar Taihou

Wajah Taihou benar-benar merah padam pada saat Viltus memberitahu hal tersebut. Ia memukul-mukul pelan Viltus, sementara Zuikaku langsung berpikir bahwa mereka berdua benar-benar tidak memikirkan waktu dan tempat pada saat sedang bercumbu. Akhirnya, Viltus langsung berhenti tertawa dan kemudian langsung berjalan ke mejanya. Ia langsung mengambil satu tabung dengan isi obat, dan melemparnya ke Zuikaku sembari berkata,

"Itu obat yang diberikan oleh dokter pribadiku untuk mengatasi kesulitan tidurku."

"Eh ? Kau yakin memberikan ini kepada diriku ?" tanya Zuikaku

"Ambil dua tablet saja. Walaupun diriku masih belum yakin itu efektif untuk Gadis Kapal."

"Ba... Baik..."

"Jadi, itu obat yang diberikan oleh doktermu ?" tanya Taihou

"Iya." jawab Viltus singkat

"Memangnya siapa dokter pribadimu ?" tanya Zuikaku kemudian

"Dokter Shibata Norio."

"Eh ?! Dokter Shibata ?!"

"Ada apa dengan fakta tersebut ?"

"Ti... Tidak apa-apa..."

"Kau yakin ?"

"Iya."

Zuikaku sangat kaget mendengar nama tersebut keluar dari mulut Viltus. Namun, setidaknya ia tidak akan berpikir macam-macam mengenai obat yang ada di tangannya. Dan obat itu terbukti sangat efektif untuk Zuikaku karena ia langsung terlelap.

Namun, pada saat ia bangun keesokan paginya. Ia melihat Shoukaku yang terlihat sangat kelelahan, dan juga beberapa tabung yang sangat mencurigakan. Zuikaku memperhatikan Shoukaku yang tersenyum bahagia dan langsung memilih untuk langsung mandi.


Pada saat ia di kantin. Ia mendengar beberapa orang yang terlihat kehilangan beberapa bejana dan tabung reaksi mereka. Selain itu, ia pun mendapatkan beberapa protes dari beberapa Gadis Kapal dikarenakan bau yang sangat menyengat dari kamar Zuikaku dan Shoukaku.

Namun, yang menjadi perhatian dari Zuikaku adalah betapa efektifnya obat tidur yang diberikan oleh Viltus kepada dirinya. Itu semua dikarenakan ia sama sekali tidak mendengar keributan maupun mencium bau tersebut.

Pada saat sarapan itu, ia bertemu dengan Anastasia dan langsung menyapanya,

"Selamat pagi, Anastasia-san."

"Ara... Selamat pagi, Zuikaku-chan."

Anastasia melihat Zuikaku yang sedikit lebih ceria dan bersemangat dari sebelumnya. Anastasia langsung berkata,

"Sudah dapat tidur dengan tenang ?"

"Iya. Obat yang diberikan oleh Laksamana Amarov benar-benar ampuh."

"Eh ?! Obat yang diberikan Viltus ?"

"Iya..."

"Pantas saja dia dapat tidur dengan tenang dengan obat tersebut... Gadis Kapal saja dapat tidur dengan tenang. Berarti dosis dari obat tersebut sangat berbahaya."

"Ahahahahahahaha..."

Zuikaku kemudian langsung mempersilahkan Anastasia untuk duduk, dan langsung berbincang-bincang mengenai beberapa hal. Hingga akhirnya Zuikaku langsung berkata,

"Ummm, Anastasia-san..."

"Ada apa, Zuikaku ?"

"Jika aku boleh tahu, Taihou-san di mana ?"

"Taihou ? Hmmm... Sedang bersama dengan Viltus sih seharusnya..."

"Begitukah ?"

"Iya. Ada apa ?"

Zuikaku melihat ke kiri dan kanan. Ia langsung mendekati Anastasia dan membisikkan sesuatu. Anastasia yang mendengar itu langsung berkata,

"Itu... Masalah besar !"

"Aku tahu... Walaupun aku kurang yakin dengan apa yang dibuat oleh Shoukaku-nee... Tapi, aku yakin itu adalah obat semacam itu."

"Kita sebaiknya ke kantor Viltus sekarang !"

Anastasia langsung menarik Zuikaku ke arah kantor milik Viltus.


Sementara itu,

Viltus sudah tiba di kantor dan melihat secangkir teh telah tersedia di atas mejanya. Ia langsung tersenyum dan kemudian berkata,

"Ya... Siapapun ini yang menyiapkan teh ini, terima kasih banyak. Namun, aku akan meminumnya nanti."

Viltus langsung duduk, melepas topinya, dan kemudian membenarkan letak kacamatanya. Ia kemudian memperhatikan setiap dokumen baru dari tiga markas darurat dia di misi sebelumnya. Selain itu, ia pun membaca hasil dari pengintaian awal, dan ketersediaan sumber daya.

Tidak berapa lama, ia mendengar ketukan dan mempersilahkan orang tersebut untuk masuk. Yang sama sekali tidak disangka oleh Viltus, orang tersebut adalah Yamashiro. Yamashiro langsung membuat wajah kesal dan kemudian berkata,

"Selamat pagi, Laksamana !"

"Selamat pagi, Yamashiro. Tumben sekali dirimu datang kemari pagi-pagi, tanpa ditemani oleh onee-samamu."

"Aku tidak akan menerimanya jika saja Taihou-san tidak memintanya langsung kepada diriku."

"Eh ? Taihou memangnya pergi ke mana ?"

"Dia berkata ada urusan dan sedang pergi ke kota bersama dengan Aoba."

"Hoooh... Sepertinya mencari bahan untuk diberikan kepada Shiro-nee."

"Laksamana Yanagi ?"

"Itu bukan urusanmu... Lalu, apa yang akan kau lakukan ?"

"Aku akan menjadi sekretarismu sementara waktu, hingga Taihou kembali kemari."

"Begitu, ya..."

"Tch... Kenapa aku harus menjadi sekretarismu."

"Aku mendengarnya... Sudahlah, ambil dokumen yang ada di sebelah sana dan perhatikan semuanya. Jangan lupa disortir berdasarkan prioritas."

"Baik... Baik..."

Yamashiro langsung mengambil dokumen tersebut dan mulai menyortirnya di sofa, sementara Viltus memperhatikan dokumen penting yang menjadi tulang punggung dari operasi besar selanjutnya. Tidak berapa lama, ia melepas kemejanya, menyisakan kaus putihnya saja. Ia kemudian menyalakan kipas di ruangan tersebut. Viltus langsung berkata,

"Ini panas sekali..."

"Tentu saja. Ini tengah musim panas."

"Jika saja Agano tidak menghabiskan kuota ramune divisi ini dulu."

"Eh ?! Kuota ramune sudah habis ?"

"Agano menghabiskan semuanya."

"..."

"Diam... Jangan berkomentar... Aku sama sekali tidak ingin mendengar komentar dari dirimu."

Viltus langsung mengambil dokumen di kirinya dan kemudian langsung meminum teh tersebut. Setelah itu, ia melanjutkan membaca setiap dokumen di hadapannya. Tidak berapa lama, ia merasa sangat pusing, dan kesadaran dia mulai menghilang. Ia terjatuh dengan kepala membentur meja. Yamashiro yang melihat itu langsung berdiri dan berlari ke arah Viltus. Ia kemudian berkata dengan panik,

"Laksamana Amarov... Hei, sadarlah..."

"..."

"Laksamana... Laksamana !"

"..."

"Mengapa dirimu mendadak pingsan seperti itu ? Ini merupakan kemalangan... Apa yang harus kulakukan ?"

"..."

"Tunggu... Memangnya dirimu... Sekecil ini ?"

"Siapa ?"

"Eh ?"

"Onee-san, siapa ?"

"Ummm... Laksamana..."

Yamashiro melihat air mata mulai mengalir dari wajah Viltus dan kemudian langsung jatuh ke belakang. Ia kemudian berkata dengan terbata-bata,

"Shiro-nee... Kamu di mana ? Ayah ? Ibu ? Keiko ? Kalian di mana ?"

"A... Amarov-san ?"

"Kalian di mana ? Hik... Hik..."

Yamashiro mulai sedikit panik, dan kemudian langsung mengambil telepon di dekatnya. Ia tahu, ini merupakan kondisi genting yang akan dia hadapi.


Tiga puluh menit kemudian.

Tadahisa sudah berada di dalam ruangan tersebut bersama dengan Norio. Selain mereka berdua terdapat pula Yamashiro, Fusou, Furutaka, Anastasia, Taihou dan Zuikaku. Viltus terlihat sedikit bersembunyi di belakang Tadahisa, layaknya anak kecil yang ketakutan. Norio kemudian berkata,

"Hmmmm... Ini dapat sembuh dalam waktu dekat sih..."

"Begitukah ? Baguslah." ujar Tadahisa tertawa

"Tubuhnya dapat sembuh paling cepat sehari. Paling lambat lusa. Jika sampai lusa seperti ini, hubungi aku kembali. Begitu pula dengan kepribadiannya."

"Baik, dokter Shibata. Namun, apakah..."

"Tidak... Tidak akan tenang saja."

"Jika demikian, terima kasih banyak."

Norio langsung mohon pamit kepada Tadahisa dan keluar dari ruangan tersebut. Tadahisa langsung berkata,

"Taihou, sebagai sekretarisnya sebaiknya kau memberitahu divisi Viltus bahwa dirinya tidak dapat bekerja hari ini."

"Ah... Baik..." jawab Taihou

"Furutaka, dapatkah kau memberitahu Kinugasa bahwa diriku sedikit terlambat untuk hadir di rapat hari ini karena ada sedikit urusan ?"

"Baik, Laksamana." jawab Furutaka langsung keluar dari ruangan tersebut

"Dan, Yamashiro... Aku harap dirimu dapat memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai masalah ini."

"Seperti dugaanku... Ini kemalangan..." jawab Yamashiro

"Aku tidak menuduh dirimu, aku penasaran saja... Apa yang terjadi di sini."

Yamashiro melihat tatapan tajam dari Taihou dan Anastasia dan langsung memberitahukan kejadian dari pagi itu. Tadahisa melihat ke arah segelas teh yang ada di atas meja Viltus. Ia langsung berkata,

"Hmmm... Ini sepertinya yang menyebabkan ini semua..."

"Dan sepertinya itu teh ini disiapkan oleh Shoukaku." ujar Anastasia setelah ingat sesuatu

"Eh ? Apa maksudmu, Anastasia-chan ?"

"Zuikaku, mungkin kau dapat menjelaskannya lebih lanjut lagi."

"Baik..." ujar Zuikaku

Zuikaku langsung maju dan melapor kepada mereka Tadahisa mengenai apa yang ia lihat pagi tadi di ruangannya. Zuikaku berkata,

"Tadi pagi, saya melihat di ruangan saya terdapat beberapa tabung dan gelas beker yang tidak saya ketahui asal muasalnya dan di dalamnya terdapat cairan yang bahkan tidak dapat saya deskripsikan."

"Ruanganmu ?"

"Jika anda menuduh itu adalah diri saya, saya akan beritahu anda bahwa saya meminum obat tidur yang diberikan oleh Laksamana Amarov."

"Obat tidur ? Obat yang diberikan oleh Dokter Shibata ?"

"Iya. Dan itu dikarenakan beliau mengetahui bahwa diriku tidak dapat tidur selama beberapa hari."

"Apakah ada yang dapat memberikan pernyataan bahwa apa yang dikatakan oleh Zuikaku, benar ?"

Taihou langsung mengangkat tangannya dan memberitahu kejadian pada saat Zuikaku diberikan oleh Viltus obat tidurnya. Tadahisa langsung mengangguk dan kemudian berkata,

"Jadi... Besar kemungkinan yang memberikan ini adalah Shoukaku, benar ?"

"Dapat dikatakan demikian..."

"Namun, dirimu sama sekali tidak yakin mengenai hal tersebut."

"Tanpa bukti yang kuat... Kita tidak dapat menuduh dirinya." ujar Anastasia.

"Kau benar..."

Selagi ketiga orang tersebut berbicara satu sama lain, Yamashiro dan Taihou langsung melihat ke arah Viltus yang terlihat sangat ketakutan. Taihou langsung berjalan ke depan Viltus dan kemudian langsung berkata,

"Viltus-chan..."

Namun, yang ia dapat adalah wajah penuh ketakutan dari Viltus. Ia langsung berlari menjauh ke sisi ruangan lain. Taihou terlihat sedikit terkejut dengan itu, dan melihat wajah Viltus yang tidak ingin melihat mata Taihou. Setelah itu, ia mendengar Viltus berkata,

"Shiro-nee... Tolong... Shiro-nee..."

"Viltus..."

"Kaede ada di sini... Tolong..."

"Eh ?"

"Kaede... Di sini... Hik... Hik... Kaede... di sini..."

Taihou terlihat sangat terkejut mendengar itu. Viltus melihat Taihou sebagai orang lain, dan yang lebih menyakitkan adalah nama Kaede yang keluar dari mulutnya. Tadahisa yang melihat dan mendengar kejadian tersebut langsung berkata,

"Ummm... Taihou, ada apa ?"

"Ah... Ini... Ummm..."

"Taihou-san ingin berbicara dengan Laksamana Amarov... Namun, ia menyebut nama seseorang yang sama sekali tidak kukenal." ujar Yamashiro.

"Nama seseorang ? Siapakah itu, Yamashiro ?"

"Kaede. Chiba Kaede." ujar Taihou

Wajah Tadahisa sangat terkejut mendengar itu. Ia langsung bertanya,

"Setelah melihat siapa ?"

"Diriku..."

"..."

"Ada apa, Laksamana Yanagi ?"

"Tidak... Tidak apa-apa..."

Taihou sedikit bingung dengan reaksi dari Tadahisa. Tadahisa langsung berjalan ke dekat Viltus dan kemudian berkata,

"Viltus..."

"Papa... Aku takut..."

"Dengarkan ayah... Kau akan baik-baik saja."

"Aku takut... Aku sangat takut..."

"Viltus... Dengarkan ayah... Onee-san di sini akan membantumu, mereka tidak menakutkan."

"Tapi, ada Kaede di sini. Dia akan mengata-ngatai diriku. Dia akan memukulku. Dia akan menendangku. Aku takut."

"Viltus..."

Viltus kembali menangis. Taihou langsung bertanya kepada Tadahisa mengenai beberapa hal,

"Apakah dia..."

"Sejak kecil dia itu seperti ini... Terutama setelah kehilangan ayahnya. Dan untuk ini Anastasia jauh lebih mengetahui masalah ini daripada diriku."

"Tapi, bukankah Kaede itu..."

"Pada awalnya Kaede itu sama saja seperti orang yang lain di Jepang. Menyiksa dirinya. Memojokkan dirinya."

"Kenapa ?"

"Sentimen negara kita kepada masyarakat luar negeri pada saat itu sangat kuat. Bahkan, untuk dirinya yang memiliki dua kewarganegaraan."

"Begitu, ya..."

"Aku pun tidak tahan melihatnya... Begitu pula dengan Shiro. Namun, itulah yang membentuk karakter Shiro dan Viltus."

Tadahisa kembali berusaha menenangkan, namun usahanya sia-sia. Viltus benar-benar kembali menjadi dirinya pada saat ia disiksa dahulu. Tadahisa langsung berdiri dan kemudian berjalan keluar. Taihou yang melihat itu langsung berkata,

"Laksamana... Anda ingin ke mana ?"

"Aku... Akan menghubungi seseorang yang dapat membantu kalian... Semoga saja dirinya tidak sibuk."

Tadahisa langsung keluar dari ruangan tersebut. Yang tersisa di ruangan tersebut adalah Yamashiro, Taihou, Zuikaku dan Anastasia. Mereka berempat berkumpul sebentar hingga akhirnya Zuikaku berkata,

"Yamashiro... Tadi kau gagal menenangkan dia, benar ?"

"Iya..."

"Baiklah... Aku yang akan mencoba menenangkan dirinya sekarang."

"Silakan dicoba." ujar Yamashiro sedikit pesimis

Zuikaku langsung maju dan kemudian duduk di depan Viltus. Zuikaku langsung berkata,

"Viltus-chan..."

"Hik... Hik..."

"Kenapa dirimu menangis ?"

"Itu karena... Hik... Semua orang... Membenciku."

"Tidak juga... Tidak semua orang membencimu."

"Hik... Hik..."

"Ayahmu... Ibumu... Mereka semua tidak membencimu."

"Hik... Hik..."

"Begitu juga dengan Onee-chan..."

Viltus terdiam sebentar mendengar itu. Zuikaku langsung berkata,

"Apakah kau memiliki seorang adik ?"

"Iya..."

"Siapakah namanya ?"

"Keiko..."

"Apakah kau tidak malu kepada dirinya jika kakaknya terus menerus menangis ?"

"..."

"Tentu saja dia akan malu."

"I... Iya..."

"Jadi, berhentilah menangis."

"Ba... Baik... Onee-san..."

"Anak pintar..."

Zuikaku langsung mengelus kepala Viltus yang mulai sedikit tenang. Zuikaku langsung melihat ke arah Taihou dan menarik Taihou ke depan Viltus. Viltus menunjukkan wajah penuh ketakutakan karena melihat Taihou di depannya. Zuikaku langsung berkata,

"Viltus..."

"..."

"Apakah kau masih takut kepada dirinya ?"

Viltus mengangguk. Zuikaku langsung berkata,

"Kenapa ?"

"Karena... Dia... Memukulku... Mencaci diriku..."

"Apakah dia melakukannya sekarang ?"

"..."

"Viltus, dengarkan onee-san, ya..."

"..."

"Kaede tidak akan melakukan itu lagi. Onee-chan janji akan menjaganya."

"Begitukah ?!"

"Iya... Sekarang, Kaede-chan..."

"Eh ?" ujar Taihou sedikit terkejut

"Viltus, silakan coba berbicara dengan Kaede ? Atau mungkin coba tanya dia" ujar Zuikaku

"Eh... Umm..."

Viltus terlihat sedikit segan pada awalnya, hingga akhirnya ia berkata,

"Kaede..."

"Ah... Ada apa, Viltus ?"

"Apakah... Apakah dirimu membenci diriku ?"

"..."

"Kaede..."

"Tidak, aku sama sekali tidak membenci dirimu."

Taihou langsung memeluk Viltus, dan membuat Viltus sangat terkejut. Mereka yang ada di ruangan tersebut tersenyum dan kemudian membiarkan berdua untuk sementara waktu.


Setelah lima menit berlalu, Zuikaku langsung mendekati Viltus dan kemudian berkata,

"Jadi, Viltus apakah dirimu masih takut kepada Kaede-chan ?"

"Tidak."

"Bagus... Bagus..."

"Ehehehehehe... Terima kasih banyak, Onee-chan." ujar Viltus sembari tersenyum.

Rupanya senyum tersebut cukup letal. Zuikaku dan Yamashiro yang melihat itu langsung diam saja. Zuikaku melihat ke arah Yamashiro dan kemudian berkata kepada Taihou,

"Ummm... Taihou..."

"Ada apa, Zuikaku ?" ujar Taihou

"Dapatkah kau tidak memonopoli senyumnya ?"

"Eh ? Apa maksudmu ?"

"Habis tadi..."

Zuikaku menjelaskan berbagai hal kepada Taihou mengenai apa yang dilihat olehnya diiringi tawa dari Anastasia. Sementara, Yamashiro mendekati Viltus dan kemudian berkata,

"Viltus-chan... Dapatkah kau tersenyum lagi ?"

"Tersenyum ?" ujar Viltus

"Iya. Tersenyum..."

"Baik, Onee-chan."

Viltus kembali tersenyum dan entah mengapa ada sesuatu dari dalam Yamashiro yang muncul. Namun, Anastasia langsung mengetahuinya dan memukul kepala Yamashiro sembari berkata,

"Dia sudah ada yang punya..."

"Aku tahu... Aku tahu..."

"Sudahlah... Huh ?"

Mereka melihat mata Viltus yang berbinar-binar melihat pagoda milik Yamashiro. Entah mengapa kepribadian Yamashiro yang asli sedikit menghilang dan dengan senang hati menjelaskan semua mengenai dirinya. Setelah itu, Taihou dan Zuikaku. Tidak berapa lama, Viltus sedikit mengantuk dan diketahui oleh Taihou. Maka dari itu, Taihou berkata,

"Viltus... Ayo kita tidur sekarang."

"Baik, Onee-san..."

Taihou langsung mengajak Viltus untuk ke kamar Viltus dengan menggendong dirinya. Sepanjang perjalanan ke asrama, banyak orang yang bertanya mengenai Viltus. Taihou berbohong agar tidak membuat kehebohan dengan menyebutkan bahwa anak ini menyerupai Viltus dan datang ke angkatan laut. Dan di tengah jalan, Taihou bertemu dengan Aoba yang memberitahu mengenai sesuatu kepada Taihou. Taihou yang mendengar itu dia saja, dan mengatakan bahwa Aoba diijinkan untuk pergi sekarang.

Setelah itu, ia langsung berjalan ke arah asrama Laksamana. Setelah sampai di kamar Viltus, Taihou menurunkan Viltus. Tepat sebelum keluar, Viltus menahan Taihou dan berkata,

"Kaede..."

"Ada apa, Viltus ?"

"Apakah kau membenci diriku ?"

"Tentu saja tidak..."

"Begitukah ?"

"Iya."

Viltus tersenyum dan menutup matanya. Taihou dapat mendengar Viltus yang tertidur dengan pulas. Ia kemudian langsung berkata dengan pelan,

"Viltus... Aku tidak akan membencimu... Tidak akan pernah... Karena... Aku mencintai dirimu."

Taihou langsung mencium kening dari Viltus, dan kemudian berjalan keluar. Ia tahu siapa yang sudah menunggu di depan pintunya. Ia membuka pintu dan melihat Shoukaku. Shoukaku langsung berkata,

"Aku dengar Laksamana Amarov sakit, ya ?"

"Shoukaku-san..."

"Hmmm ?"

"Apa tujuanmu melakukan itu semua ?"

"Tujuanku ?"

"Tepat sekali... Kau yang menyiapkan minuman itu di dalam kantornya."

"Darimana kau tahu itu diriku ? Kau tidak memiliki alasan yang cukup kuat untuk..."

"Aoba melihat dirimu."

"Eh ?"

"Kau benar-benar meremehkan Aoba... Aku dan Viltus selalu meminta bantuan Aoba jika ada kejadian seperti ini."

"Kamera tersembunyi rupanya... Tch..."

"Jadi, apa tujuanmu Shoukaku..."

Shoukaku diam saja, dan kemudian tersenyum. Ia langsung berkata,

"Taihou..."

"..."

"Aku tidak perlu menjawabnya... Karena tujuanku ada di balik pintu di belakangmu itu."

"Apa yang akan kau lakukan dengan Viltus ?"

"Membuat dirimu dibenci... Sehingga dia menjadi milikku."

"..."

"Aku sudah berusaha agar ia jatuh kepada diriku... Melupakan dirimu... Dengan kontak fisik, dengan menunjukkan fisikku yang cedera... Dengan bertindak ceroboh."

"Namun, kau tahu dirinya tidak akan seperti itu."

"Tepat sekali. Maka dari itu, aku membuat ramuan itu agar dia menjadi kecil dan membenci dirimu. Namun, aku gagal karena tindakan dari adik idiotku itu."

"Jangan melukai Zuikaku..."

"Aku tahu... Aku tahu..."

"..."

"Karena... Jika aku gagal, maka yang akan kuhabisi adalah... Dirimu, Taihou."

Shoukaku langsung menerjang Taihou yang tidak siap. Dalam sekejap, Taihou terdorong ke dinding dengan Shoukaku yang memegang leher Taihou. Shoukaku langsung berkata,

"Kau itu tidak pantas bersama dirinya."

"Ugh..."

"Kau tidak pantas memonopoli kasih sayangnya."

"Shou..."

"Kau sama sekali tidak cocok bersama dirinya ! Karena yang boleh bersama dirinya hanya diriku !"

"Shoukaku..."

"Shoukaku ? Kaede kau lupa diriku ?"

"Kaede ? Siapa yang kau maksud dengan Kaede ? Aku Taihou, bukan wanita yang dahulu dicintai oleh Viltus !"

"Ah... Begitu rupanya..."

"..."

"Begini jauh lebih baik... Agar kau tidak ingat... Supaya kau merasakan... Penderitaanku in... Huh ?!"

Shoukaku mundur sedikit karena sebuah pisau yang dilempar. Pada saat ia melihat ke arah kanannya, ia melihat Anastasia dengan mata yang berwarna kuning terang. Taihou sangat terkejut melihat Anastasia yang datang kemari. Sementara, Shoukaku mundur sebentar dan kemudian menatap mata Anastasia dengan tajam. Shoukaku langsung berkata,

"Apa maumu kemari, Wanita Jalang ?!"

"Huh... Kau seharusnya yang mendapat julukan seperti itu. Bukan diriku." ujar Anastasia dingin

"Heh ? Apa yang kau inginkan kemari ?"

"Aku hanya ingin mengecek apa yang akan dilakukan oleh wanita kotor seperti dirimu terhadap Taihou."

"..."

"Ada apa ? Kau sama sekali tidak dapat menjawab ?"

"Jadi, ini yang kau maksud dengan melewati dirimu juga ?"

"Seperti dugaanku, kau menguping pada saat itu."

"Namun, bukankah dirimu masih mencintai Viltus ? Mengapa dirimu tidak membiarkan hal ini terjadi sehingga kau dapat memberikan kesempatan pada dirimu untuk mencintainya ?"

"Shoukaku... Aku sudah merelakan Viltus agar dapat bersama dengan Taihou. Itu yang kupelajari dari dirinya."

"Dirinya ?"

"Kau tidak perlu mengetahuinya."

"..."

"Sepertinya kau masih belum dapat melupakan dendam lamamu terhadap wanita bernama Kaede tersebut."

"Tentu saja... Karena dia, Viltus sama sekali tidak melihat kepada diriku. Karena dia, Viltus melupakan diriku. Karena dia, Viltus meninggalkan diriku !"

"Sampai kapan dendam itu membutakan dirimu ? Wanita di hadapanmu adalah Taihou, bukan Kaede."

"..."

"Sepertinya... Dirimu benar-benar tidak dapat diajak berbicara, ya."

Shoukaku tersenyum dan kemudian langsung mengambil pisau yang dilempar oleh Anastasia. Ia langsung menerjang Anastasia dengan cepat. Namun, Anastasia langsung menahan pisau dari Shoukaku dan kemudian langsung menjatuhkan Shoukaku. Shoukaku langsung berdiri dan menjauh dari Anastasia, yang dilanjutkan dengan melempar pisau tersebut ke arah Anastasia. Anastasia dengan mudah menangkisnya. Shoukaku langsung terdiam sebentar, dan kemudian berkata,

"Apa yang dapat dilakukan oleh seorang wanita biasa untuk menghadapi seorang Gadis Kapal ? Tidak mun..."

"Wanita biasa ? Aku ? Kau pasti bercanda... Kau sudah mendengar rumor mengenai diriku, benar ?"

"Huh ?"

"Kau jangan meremehkan generasi pertama pembasmi Abyssal dari Eropa."

"Apa maksudmu..."

"Diriku, adalah Jaeger. Salah satu pembasmi Abyssal dari negara Russia di bawah komando di Jerman. Dan kau sebaiknya jangan main-main dengan diriku."

"Hoooh ? Begitukah ? Berarti prajurit tua seperti dirimu tidak akan mampu menghadapi kami yang..."

Belum sempat Shoukaku menyelesaikan kalimatnya, Anastasia sudah menodongkan pisau di belakangnya. Anastasia kemudian berkata,

"Diriku sudah pernah menghadapi Abyssal kelas Kapal Tempur sendirian. Hanya dengan menggunakan pisau khusus ini. Aku menggorok lehernya. Aku menyayat tangannya. Aku menusuk bola matanya. Tidak hanya satu. Banyak. Sampai aku dijuluki 'The Red Snow', karena selalu kembali dengan bersimbah darah."

"Tentu saja kau tahu, bahwa Abyssal tidak akan mati hanya dengan peluru biasa. Perlu sebuah persenjataan khusus untuk membunuhnya. Kami, para Jaeger, menggunakan jenis persenjataan yang sama seperti angkatan bersenjata pembasmi Abyssal milik Jepang yang sudah musnah dahulu. Dan pisau ini adalah salah satunya."

"Jadi ini... Yang dirumorkan itu..."

"Jika aku dapat membunuh Abyssal dengan mudah... Tentu saja, kalian para Gadis Kapalmu akan dapat mati di tanganku dengan mudah... Bagaimana, Shoukaku ?"

"Tch..."

"Jadi, apa yang akan kau lakukan, Shoukaku ?"

Shoukaku diam sebentar dan kemudian mengangkat tangannya. Shoukaku langsung berkata,

"Baiklah, aku menyerah untuk sekarang."

"Sekarang ?" ujar Taihou

"Aku menyatakan kalah untuk urusan ini. Namun, bukan berarti diriku akan berhenti."

"Kau jangan membuat masalah pada saat operasi nanti." ujar Anastasia.

"Shoukaku ?"

"Iya, aku tahu."

Shoukaku langsung berjalan meninggalkan Anastasia dan Taihou. Tidak berapa lama, Anastasia terkulai lemas, dan langsung dibantu oleh Taihou. Taihou langsung berkata,

"Anastasia-san ?!"

"Tenang saja, Taihou. Aku hanya kelelahan karena sudah lama tidak menggunakan ini."

"..."

"Ada apa, Taihou ?"

"Terima kasih banyak, aku..."

Anastasia langsung tersenyum dan kemudian berkata,

"Tidak perlu. Lagipula, hanya ini yang dapat kulakukan."

"Tapi..."

"Hei, aku sudah pernah berkata kau pasti akan melewati banyak rintangan. Jadi, kau harus terus sebisa mungkin menghadapinya."

"Iya..."

Anastasia langsung tersenyum, dan kemudian dengan dibantu oleh Taihou, ia kembali ke dalam kamarnya dan menceritakan semuanya kepada Taihou dan seseorang yang membuat Taihou sedikit terkejut.


Keesokan harinya,

Viltus sudah kembali normal, dan sekarang ia di kantornya dengan wajah yang sangat lelah. Taihou berdiri di sebelah Viltus, sementara Anastasia duduk sembari meminum secangkir teh. Viltus langsung berkata,

"Jadi... Kejadiannya seperti itu..."

"Iya..."

Taihou dan Anastasia menceritakan semuanya, kecuali bagian siapa pelakunya. Dan pada saat Viltus bertanya siapa pelakunya, mereka berdua selalu berkata bahwa sampai saat ini tidak ada yang mengetahui siapa pelakunya. Viltus langsung bersandar dan kemudian berkata,

"Sudahlah... Yang penting ini semua dapat selesai dengan cepat..."

Taihou langsung tersenyum mendengar itu. Tidak berapa lama, mereka mendengar pintu yang dibuka dan di sana berdiri Yamashiro yang tersenyum. Viltus yang melihat itu langsung menggelengkan kepalanya, sementara Yamashiro yang melihat Viltus sudah kembali normal kembali membuat wajah masam. Viltus langsung berkomentar,

"Ya... Sepertinya tadi aku benar-benar sangat kelelahan karena melihat seseorang yang biasa berwajah masam tersenyum dengan riang."

"Tch... Kau sudah kembali rupanya, Laksamana." ujar Yamashiro

"..."

"Coba saja dirimu yang sekarang masih memiliki kemurnian dari dirimu yang lama."

"Halah... Aku tidak peduli dengan itu... Sebaiknya dirimu saja yang mengganti wajah masammu dengan hal lain."

"Apa kau bilang ?!"

Yamashiro dan Viltus kembali bertengkar seperti biasa diiringi dengan tawa dari Taihou dan Anastasia. Taihou mendadak diam, dan melihat seseorang yang ia kenal. Shoukaku, yang memperhatikan mereka semua dari luar ruangan. Taihou sadar dirinya harus semakin aktif untuk melindungi Viltus, agar tidak dapat terjadi hal seperti itu kembali.


Malam itu.

Di anjungan Markas Angkatan Laut Yokosuka. Seorang pria duduk di ujung anjungan dan menikmati angin yang berhembus. Tidak berapa lama, Anastasia muncul dari kegelapan malam. Pria itu langsung berkata,

"Lama tidak jumpa, Anastasia-chan..."

"Master... Mengapa dirimu ada di sini ?"

"Itu bukan masalah, selama mereka tidak menyadari semua ini... Akan baik-baik saja."

"Anda memperhatikan Viltus..."

"Dan Taihou, Anastasia..."

Anastasia langsung terdiam. Pria itu tersenyum dan kemudian berkata,

"Kau harus bersiap-siap... Dalam waktu dekat... Akan ada kehilangan di markas ini... Satu langkah salah, akan membuat ini semua tidak menarik perhatian."

"Apakah itu..."

"Viltus ? Mungkin saja..."

"..."

"Anastasia... Ingatlah... Aku yang menyelamatkan dirimu dan memberikanmu kekuatan itu semenjak dirimu masih muda dahulu... Pada saat penyerangan oleh serigala di tengah padang salju di Russia..."

"Aku tahu mengenai hal tersebut."

"Ya, aku cuma dapat berkata seperti ini saja. Dalam waktu dekat kau tidak perlu khawatir untuk kembali ke tempat itu... Karena inilah duniamu yang asli."

"..."

"Sudah... Lanjutkan kembali semuanya... Sebisa mungkin tidak ada yang mengetahuinya."

"Baik."

"Dan nikmati waktumu bersama pria itu... Ahahahahahaha"

"Eh ?!"

"Sudah, Aku permisi dahulu."

Anastasia langsung membalikkan badan, seakan-akan ia tidak peduli kemana perginya pria yang disebut sebagai 'Master'. Ia menutup matanya dan memikirkan mengenai misi yang ia dapat. Ia langsung berkata,

"Maafkan aku Taihou... Ini semua untuk misiku..."


HakunoKazuki di sini !

Yeay ! Akhirnya Chapter ini selesai juga... Dan sesuai dengan yang ada di Facebook, ada mereka bertiga benar ?

Aku akan membuat post mengenai apa yang akan dilakukan dalam satu minggu ke depan, dan berbagai info di Facebook, jadi jika ada waktu silakan dicek ya !

Baiklah, apakah ada pertanyaan ?
H : Who the hell the man at the last part ?
HK : That one ? Who cares Ahahahahahahaha
H : Apa kau bilang ?
HK : Lihat saja nanti... Kalian pasti akan tahu koq

Sudah sekian saja dari diri saya. Selamat menikmati chapter ini dan menunggu chapter selanjutnya !

Disclaimer : Seluruh karakter Gadis Kapal di seri ini berasal dari Game Kantai Collection yang merupakan hak milik dari Kadokawa Games selaku pemegang lisensi Kantai Collection..