Chapter 25
Present
Viltus berjalan bersama dengan Taihou, Yuudachi dan Shigure yang baru saja kembali dari menjalankan patroli di wilayah sekitar markas angkatan laut Yokosuka. Viltus merenggangkan badannya dan kemudian melihat ke arah luar gedung administrasi dan berkata,
"Tenang sekali hari ini..."
"Jangan berkata seperti itu, biasanya pasti akan terjadi sesuatu yang tidak terduga nanti." ujar Taihou
"Ada benarnya sih..."
Taihou tertawa kecil mendengarkan jawaban dari Viltus. Tidak berapa lama mereka berdua menyadari Yuudachi dan Shigure yang berbincang-bincang mengenai satu hal. Mereka berdua berhenti sebentar, dan dikarenakan Shigure dan Yuudachi tidak menyadari hal tersebut mereka menabrak Taihou dan Viltus.
Viltus langsung menangkap Yuudachi, sementara Taihou menangkap Shigure. Viltus langsung berkata,
"Jika berbincang-bincang, lihat jalan juga."
"Papa jahat mendadak berhenti, poi~" ujar Yuudachi dengan wajah kesal
"Padahal wajahmu sudah cukup garang, tapi kau masih imut saja. Apalagi kalau kesal." ujar Viltus sembari menepuk kepala Yuudachi.
Yuudachi terlihat masih cukup kesal kepada Viltus, sementara Taihou dan Shigure terlihat tertawa melihat mereka berdua. Viltus dan Taihou dapat dikatakan sudah cukup terbiasa dipanggil sebagai 'Papa' dan 'Mama' oleh kelompok Shiratsuyu, sehingga konversasi seperti ini merupakan konversasi yang lumrah.
Yuudachi baru tenang setelah Viltus berjanji membuatkan Yuudachi kue. Setelah itu, Shigure berkata,
"Ummm... Papa..."
"Ada apa, Shigure ?" jawab Viltus
"Begini... Ummm..."
"Kami sebenarnya ingin membuatkan sebuah pesta untuk seseorang." ujar Yuudachi
"Huh ? Seseorang ? Untuk Marcos ?" ujar Taihou
"Bu... Bukan untuk dirinya." ujar Shigure sedikit malu
Taihou dan Viltus langsung tertawa melihat reaksi Shigure yang langsung memerah pada saat nama Marcos disebut. Setelah cukup tenang, Shigure dan Yuudachi melihat satu sama lain dan kemudian berbisik kepada Viltus. Viltus langsung berkata,
"Membuat pesta untuk Uzuki ?"
"Iya." ujar Shigure
"Tapi, dalam rangka apa ?" tanya Taihou
"Soalnya dia baru saja mendapatkan MVP, poi~" ujar Yuudachi
"Eh ? Begitukah ?"
Viltus dan Taihou terlihat sangat terkejut mendengarkan itu, namun dari hal tersebut mereka langsung tersenyum. Mereka melihat wajah penuh semangat dari Shigure dan Yuudachi. Dari tatapan mereka berdua, mereka sadar dikarenakan tugas mereka yang cukup besar, mereka melewatkan sebuah kejadian besar seperti itu.
Akhirnya Viltus menepuk pundak dari Shigure dan kemudian berkata,
"Baiklah, aku akan membantu kalian membuatkannya."
"Begitukah ?!" ujar Yuudachi dengan mata berbinar-binar
"Iya."
"Bagus sekali, poi~"
Yuudachi melompat ke sana kemari dengan wajah girang. Shigure pun ikut tertawa, dan kemudian berkata,
"Terima kasih, papa."
"Itu bukan masalah." ujar Viltus
"Tapi, kita akan mengadakannya di mana dan kapan ?"
Viltus berpikir sebentar, diikuti oleh Taihou, Shigure dan Yuudachi yang sadar akan hal tersebut. Akhirnya, Viltus menepuk tangannya dan kemudian berkata,
"Ah... Sudah lama sekali kita tidak mengadakan acara tersebut..."
"Acara tersebut ?" tanya Yuudachi
"Taihou, bagaimana jika mengadakan acara tersebut kembali sembari merayakan keberhasilan dari Uzuki ?" tanya Viltus
"Hmmm... Boleh saja." jawab Taihou
"Aku akan memberitahukan Myoko mengenai masalah ini."
"Aku akan mengundang Houshou dan Nagato juga."
"Wow... Jadi acara itu jadi besar sekali, poi~" ujar Yuudachi
Viltus dan Taihou melihat ke Shigure dan sadar mengenai jumlah yang akan hadir pasti akan cukup banyak. Viltus langsung melihat ke udara dan kemudian berkata,
"Baiklah..."
"Huh ?"
"Shigure, ajak semua saudarimu ke acara tersebut termasuk anggota divisimu."
"Eh ? Anggota divisiku ?" ujar Shigure
"Iya. Begitu pula dengan dirimu, Yuudachi."
"Baik, poi~" ujar Yuudachi
"Jadi, kau hanya akan mengajak anak-anak ini saja ?" tanya Taihou
"Tidak... Aku akan mengajak mereka yang pernah di bawah kepemimpinan diriku. Tidak perlu mengajak yang lainnya."
"Ah ! Lebih masuk akal." ujar Taihou
"Ditambah Houshou tentunya, kurang menyenangkan dan cukup lancang untuk tidak mengajak beliau ke acara seperti itu."
"Kau ada benarnya sih." ujar Taihou
"Berarti jika demikian aku akan meminta bantuan dari Anastasia, Shoukaku, Zuikaku dan dirimu untuk masalah makanan."
"Eh ?! Kenapa diriku ?"
"Aku yang akan mengundang dan mendekorasi bersama para pria. Jika, kami sudah selesai aku akan membantu kalian."
"Uuuuhhhh..."
Viltus langsung mencubit pipi dari Taihou dan kemudian berbisik,
"Pasti ada sesuatu dengan Shoukaku, ya ?"
"..."
"Dari wajahmu aku dapat mengetahuinya, dia pelakunya."
Taihou langsung menunduk, namun kepalanya langsung ditepuk dengan pelan oleh Viltus. Ia kemudian melihat ke tanggal dan kemudian berkata,
"Shigure, beritahu mereka bahwa acara ini akan diadakan satu minggu dari sekarang."
"Eh ? Satu minggu ?"
"Iya... Jika terlalu cepat, pasti akan terburu-buru."
"Iya, sih..."
Viltus langsung mengelus kepala Shigure dan kemudian berkata,
"Baiklah... Ayo, kita jalan ke kantor sekarang. Aku yakin semuanya cukup khawatir."
"Baik." ujar mereka bertiga.
Dua hari kemudian, Viltus sedang berhenti membaca dokumen dan melanjutkan menjahit. Ia mengambil benang berwarna merah muda dan mulai melanjutkan menjahit di bagian kepala. Ia sedikit bersiul tanpa memperhatikan sekitar mereka.
Tidak berapa lama, ia mendengar suara shutter kamera yang menutup dan melihat ke arah kirinya. Ia tersenyum dan kemudian berkata,
"Lama tidak jumpa, Paparazzi yang paling kubenci."
"Lama tidak jumpa juga, Laksamana paling menakutkan di Yokosuka." ujar Aoba.
"Jadi, bagaimana menurutmu mengenai rencana dari Shigure dan Yuudachi ?"
"Boleh saja sih. Aoba cukup senang dirimu masih memberikan hadiah untuk dirinya."
"Dia itu anak Kimura dan dirimu, dan sebagai pamannya yang baik setidaknya aku membuatkan ini untuk dirinya."
"Ehehehehehehe."
Aoba langsung duduk di sofa dan kemudian melihat sekitar ruangannya. Ia kemudian berkata,
"Sudah cukup lama aku tidak kemari."
"Sangat. Dapat dikatakan Taihou cukup rindu dengan dirimu." ujar Viltus
"Bagaimana dengan dirimu ?"
"Tidak juga. Justru aku senang tidak ada pembuat masalah di divisiku ini."
"Kau kejam."
Viltus langsung menjulurkan lidahnya dan kemudian langsung melanjutkan membuat boneka untuk Uzuki. Aoba kemudian melihat ke arah Viltus dan kemudian berkata,
"Hei, Viltus..."
"Tumben sekali dirimu memanggilku dengan nama." ujar Viltus
"Terima kasih."
"Huh ? Untuk apa ?"
"Untuk menaruh perhatian kepada kami semua di sini."
"Bukankah itu sudah menjadi tugas diriku untuk menjaga kalian semua ?"
"Apakah itu karena Kimura atau ada yang lain ?"
"Jika aku berkata bukan karena Kimura, aku pasti berbohong."
"Seperti dugaanku."
"Namun, itulah diriku. Aku akan menjaga mereka yang merupakan keluarga bagi diriku."
"Eh ?"
"Bukankah kalian yang mengatakan bahwa diriku adalah paman dari Uzuki dan Yayoi ?"
"Jadi, hanya karena itu saja."
"Tidak juga. Walaupun tidak dikatakan seperti itu pun aku akan melakukan ini."
Aoba melihat wajah Viltus yang tersenyum. Wajah yang semakin Aoba sering lihat setelah melewati berbagai kejadian bersama. Aoba sendiri langsung tertawa dan kemudian berkata,
"Aoba pasti tidak akan percaya dirimu dapat berkata demikian, jika mengingat betapa dinginnya dirimu dahulu."
"Dingin ? Mungkin kau kurang mengenal diriku saja. Ahahahahaha"
"Kau ada benarnya. Ahahahahaha"
Aoba tertawa dan kemudian berjalan ke arah Viltus. Ia langsung berkata sembari memegang tangan Viltus,
"Viltus, jadi apakah kau... Eh ?"
"Tanganku dingin, ya ?"
"Sangat dingin..."
"Sudah biasa..."
"Kau ini... Sebaiknya istirahat saja dahulu."
"Tidak bisa, ahahahahahaha..."
"Atau nanti Taihou..."
"Aku tahu, aku masih ingin mengerjakan ini sebentar lagi."
Aoba menghela nafas, melihat ke arah pintu dan mengambil kameranya yang tergeletak di atas meja. Viltus langsung berkata,
"Masih menggunakan kamera tersebut ?"
"Tentu saja. Ini adalah hadiah dari suamiku yang kabur."
"Ahahahahaha..."
"Sudahlah, daripada nanti ada yang cemburu..."
"Hati-hati, Paparazzi"
"Kau juga jaga kesehatanmu, Viltus."
Aoba langsung berlari keluar sembari melihat ke arah Viltus yang kembali menjahit boneka.
Sorenya, Taihou kembali bersama Anastasia, Marcos dan Magyar dari kota setelah meminta ijin untuk keluar. Taihou membawa beberapa kain dan kapas, sementara yang lain membawa peralatan untuk menghias ruangan. Viltus langsung menaruh boneka yang sudah setengah jadi di atas meja dan kemudian berkata,
"Baiklah, aku sudah mendapatkan ijin dari Laksamana Masamune untuk acara ini. Jadi, kita semua memiliki akses ke asrama Gadis Kapal selama beberapa hari."
"Tapi, bukankah nanti akan ketahuan ?" ujar Marcos
"Tidak juga. Jika Uzuki melihatnya, katakan saja perayaan untuk divisi baru kita."
"Kau yakin berkata demikian ?" tanya Magyar
"Iya."
Magyar dan Marcos melihat satu sama lain dengan wajah tidak yakin. Anastasia yang melihat mereka pun langsung meyakinkan mereka mengenai alasan yang remeh seperti hal tersebut dapat berguna. Sementara, Taihou memperhatikan boneka yang dibuat oleh Viltus dan kemudian berkata,
"Aku lupa kau dapat menjahit."
"Tapi, tidak sebaik dahulu sih." balas Viltus
"Tetap saja..."
Viltus langsung memegang pipi dari Taihou, dan dari situ Taihou sadar. Tangan Viltus sangat dingin walaupun belum memasuki musim gugur. Taihou langsung memegang tangan dari Viltus dan berkata,
"Kau..."
"Iya... Sedikit kurang sehat."
"Sebaiknya kau beristirahat saja."
"Setelah boneka ini selesai."
"Tidak... Kau harus beristirahat."
"Ayolah."
"Viltus..."
Viltus langsung menghela nafas dan kemudian langsung mengangguk. Taihou langsung membantu Viltus berdiri. Anastasia yang melihat itu, langsung memberitahu Magyar dan Marcos untuk membantu Taihou dan menemani Viltus hingga kamarnya, sekaligus memberitahu mereka untuk berhati-hati terhadap Shoukaku. Semua kru Viltus sudah mengetahui seperti apa perangai dari Shoukaku dan mulai bersiaga kapan saja.
Mereka berempat sampai di kamar Viltus, Marcos dan Magyar langsung meminta ijin untuk membantu Anastasia sekarang. Viltus melihat ke arah Marcos dan Magyar, dan kemudian Taihou yang duduk di sebelahnya. Taihou langsung berkata,
"Sejak kapan kau seperti ini ?"
"Tadi pagi."
"Sebaiknya kau beristirahat."
"..."
"Kau ingin mengerjakan boneka tersebut ?"
"Tidak..."
"Lalu ?"
"Temani aku di sini."
"Eh ?"
"Pada saat ruangan kosong... Rasanya sepi. Memang sih tadi sempat berbincang-bincang dengan Aoba. Tapi, setelah itu... Sepi."
"Viltus..."
"Aku sudah terbiasa dengan kondisi seperti itu. Dan rasanya... seperti itu..."
Taihou langsung mengelus kepala Viltus dan kemudian berkata,
"Aku tadi sempat bertemu dengan Aoba juga, dan ia memberitahu mengenai dirimu."
"Begitukah ?"
"Hei, Viltus... Selama ini, apakah kau membenci hidupmu sendiri ?"
"Iya. Dan juga tidak."
"Pasti... Pada saat kau kehilangan keluargamu, dan dirinya."
"Tepat sekali."
"..."
"Tapi, setidaknya aku mendapatkan hadiah yang sangat indah selama di angkatan laut Yokosuka ini. Sesuatu yang dapat kupanggil sebagai keluarga."
"Viltus."
"Dan karena aku mendapatkan kebahagiaan, bukankah seharusnya aku sebisa mungkin memberikan kebahagiaan kepada mereka yang tidak mendapatkannya ?"
"Maka dari itu, kau melakukan ini semua sebagai pengganti Kimura ?"
"Bukan pengganti Kimura, aku tidak dapat menggantikan posisi dia. Aku hanya memberikan kepada Uzuki, apa yang dapat diberikan oleh Kimura."
"Kau ini..."
Taihou langsung mencium kening dari Viltus, yang langsung dibalas oleh Viltus. Setelah itu, Viltus kembali merebahkan diri dan berkata,
"Kepalaku rasanya sangat berat..."
"Sudah tidur saja."
"Iya..."
Viltus menutup matanya, dan tertidur. Taihou langsung mencium Viltus dan keluar dari kamar Viltus. Setelah menutup pintu, ia melihat Shoukaku yang berdiri di depan sana. Taihou langsung berkata,
"Viltus sedang tidur... Jangan ganggu dia."
"Aku tahu itu." ujar Shoukaku sembari tersenyum
"Apa yang akan kau lakukan ?"
"Hanya... mengunjunginya saja."
Taihou menatap tajam ke arah Shoukaku, dan kemudian langsung dibalas oleh senyum dari Shoukaku. Shoukaku langsung menunduk dan kemudian berkata,
"Jika pasangannya tidak mengijinkan sebaiknya saya mundur saja."
"..."
"Aku pun tidak akan membuat masalah dengan wanita rambut putih itu."
"Sebaiknya kau..."
"Namun, bukan berarti Viltus adalah milikmu."
Shoukaku sendiri langsung pergi meninggalkan Taihou yang masih menatap tajam ke arah dirinya. Setelah itu, Taihou langsung menghela nafas dan memberitahu Anastasia bahwa dirinya akan membantu mereka. Setelah itu, ia berjalan dan melihat kembali ke pintukamar Viltus dan tersenyum.
Keesokan harinya, Viltus sudah lebih sehat dan kembali mengerjakan hadiah untuk Uzuki. Dan pada saat itulah, ia sadar boneka tersebut jauh dari selesai. Waktu untuk menyelesaikan boneka tersebut adalah empat hari lagi, dan dirinya akan sangat sibuk dua hari ini. Maka dari itu, ia memilih berhenti membuat bonekanya, dan menggunakan sisanya untuk membuat hadiah yang lebih mudah.
Dan tidak berapa lama, Taihou masuk dengan Houshou untuk membicarakan mengenai rapat yang akan mereka hadiri sebentar lagi. Viltus menaruh hadiah tersebut di laci, dan kemudian berdiri. Setelah itu, ia berjalan bersama mereka hingga ke ruang rapat.
Empat jam kemudian, Viltus sudah kembali ke ruangannya disambut oleh Magyar, Marcos dan Anastasia yang membaca laporan mengenai wilayah yang akan divisi mereka serang nanti. Mereka memperhatikan hal tersebut, namun pembicaraan mereka tidak ada hubungannya dengan hal tersebut. Marcos yang paling pertama angkat bicara,
"Jadi, apakah kita menjalankan operasi ini setelah acara itu atau sebelumnya ?"
"Tenang saja, kita akan menjalankan ini setelahnya. Dan aku tahu, kau pasti khawatir Shigure kecewa, benar ?" jawab Viltus
"Tentu saja kita butuh persiapan untuk ini semua operasi ini. Apakah tidak akan menganggu acara tersebut ?" tanya Magyar
"Aku sudah berbicara dengan Elisa. Saat ini, dia sedang menjalankan pemeriksaan rutin kepada semua Gadis Kapal di bawah arahanku. Dan dikarenakan hal tersebut, tidak ada satu pun gadis kapal di ruangan ini."
"Ah... Kau ada benarnya."
"Viltus, mengenai operasi ini. Kita ada di posisi mana ?" tanya Anastasia
"Akhirnya ada yang menanyakan operasi ini tanpa menanyakan mengenai acara tersebut."
"Sudah, jawab saja."
"Baik... Baik... Lokasi kita berada sekitar 5000 KM dari divisi utama yang akan melakukan penyerangan."
"Jarak tersebut cukup jauh, kecuali kita..."
"Ya, kita akan menjadi divisi Kapal Induk. Yamashiro dan Fusou akan menjadi divisi pendukung sekaligus pelindung divisi utama kita."
"Apakah..."
"Dia masuk ke dalam divisi utama lain dalam penyerangan ini. Ini semua karena keberhasilan dia selama ini."
"Berarti, pesta itu dapat juga digunakan untuk permohonan agar semuanya kembali dengan selamat."
"Kau benar, Anastasia."
Viltus langsung berdiri dan kemudian mengisi dokumen untuk pengecekan setiap Gadis Kapalnya dalam waktu dekat dan juga permohonan untuk melakukan pengecekan kesiapan setiap personal yang akan masuk ke dalam operasi tersebut.
Setelah itu, Viltus langsung meminta Magyar dan Marcos untuk melanjutkan tugas mereka menghias ruangan, dan ia pergi bersama Anastasia untuk membantu memasak karena ada sedikit kekacauan di dapur. Hari itu berakhir tanpa ada masalah apapun.
Sehari sebelum pesta. Viltus sudah membungkus hadiah untuk Uzuki. Taihou yang melihat hal tersebut langsung bertanya kepada Viltus,
"Viltus, bukankah kau membuat boneka untuk Uzuki ?"
"Aku kurang yakin dapat selesai dengan beberapa hari terakhir ini cukup sibuk."
"Jadi, kau membuat apa ?"
"Rahasia."
Taihou tahu Viltus akan menjawab demikian, sehingga ia langsung menghela nafas saja. Viltus kemudian menyentuh rambut dari Taihou dan kemudian berkata,
"Rambutmu sedikit lebih panjang."
"Kau sadar rupanya."
"Kalau demikian, duduk dahulu di sana."
"Eh ?! Kau ingin memotongnya ?"
"Tidak juga."
Taihou sedikit bingung dengan jawaban dari Viltus dan akhirnya memilih mengikuti apa yang diminta oleh Viltus. Viltus kemudian langsung melepas pelindung kepala Taihou, dan mulai menyisirnya. Setelah itu, Viltus mulai mengikat rambut Taihou selama beberapa menit dengan diakhiri memberikan pelindung kepalanya lagi. Taihou langsung berkata,
"Pantas saja Shiro-nee sangat kesulitan dalam merapikan dirinya."
"Kau tahu, pada awalnya dia itu yang membantuku. Namun, pada akhirnya dirinya yang meminta diriku." ujar Viltus
"Ahahahahaha..."
"..."
"Ada apa, Viltus ?"
"Ah... Maaf... Aku tidak dapat mengalihkan perhatianku dari kecantikanmu."
Wajah Taihou langsung memerah dan melihat ke arah Viltus. Viltus langsung mengusap pipi Taihou yang memerah dan kemudian berkata,
"Kau masih saja seperti itu..."
"Mooo... Kau ini selalu berkata seperti itu pada saat diriku tidak siap."
Viltus tersenyum dan kemudian memeluk Taihou. Taihou sadar, Viltus terlihat cukup lelah karena kegiatan selama beberapa hari ini. Ia memeluk Viltus dengan erat, dan kemudian melihat ke arah wajahnya. Ia sadar, Viltus akan mencium dirinya dan kemudian berkata,
"Viltus, kita ini di tempat umum... Bagaimana jika ada orang yang masuk kemari ?"
"Tenang saja..."
"Kau yakin ?"
"Tenang saja."
Taihou sedikit malu-malu, dan menutup wajahnya. Viltus mendadak melihat ke arah pintu dan memberi tanda untuk berikan mereka berdua waktu, yang langsung disetujui oleh Anastasia, Shigure dan Furutaka.
Setelah itu, mereka berdua mendengar ketukan pintu. Viltus langsung mempersilahkan mereka untuk masuk. Taihou melihat Anastasia, Shigure dan Furutaka yang masuk ke dalam dengan wajah penuh senyum. Taihou langsung sadar dan melihat ke arah Viltus yang memalingkan wajahnya. Dalam sekejap wajah Taihou memerah.
Anastasia langsung tersenyum dan kemudian berkata,
"Enaknya yang pasangannya selalu ada di sampingnya."
"Mengenai itu... Huh ?" ujar Viltus kemudian
Viltus membuat wajah seakan-akan bertanya apakah Anastasia sudah diambil oleh seseorang. Anastasia hanya membuat raut wajah yang mengatakan untuk mencari tahu hal tersebut sendirian. Viltus langsung menghela nafas dan kemudian berkata,
"Jadi, bagaimana kondisi di ruangan itu ?"
"Tidak ada masalah." ujar Furutaka
"Uzuki sudah mengetahuinya ?"
"Belum sama sekali. Itu karena Uzuki sangat bersemangat untuk operasi selanjutnya dan fokus untuk berlatih." ujar Shigure.
"Kita memang membutuhkan tenaga seperti itu untuk operasi nanti." ujar Viltus
Viltus langsung mengambil bungkusan lain, dan kemudian berkata,
"Dari sini hingga Kure itu butuh berapa lama, ya ?"
"Untuk Shiro-nee ?" tanya Taihou
"Iya."
Anastasia, Furutaka, dan Shigure membiarkan Viltus dan Taihou untuk berbincang-bincang sendiri. Mereka memilih membicarakan masalah lain,
"Jadi, Anastasia-san. makanannya sudah siap ?" tanya Furutaka
"Tadi Viltus berkata sudah menyiapkan kue dan beberapa makanan ringan." ujar Anastasia
"Eh ? Kukira yang mengurus makanan adalah dirimu." ujar Furutaka
"Pada awalnya... Hingga ia masuk ke dalam dapur dan membuat beberapa kue sendiri."
"Dia itu... sangat ahli."
"Kenapa Furutaka ? Kau iri dengan Taihou ?"
"Sedikit."
"Aku pun demikian."
"Eh ?"
"Hingga aku menemukan orang yang tepat... Hingga saat ini, sih."
Furutaka dan Shigure melihat satu sama lain, dan kemudian langsung bertanya kepada Anastasia, yang langsung dijawab olehnya,
"Rahasia."
Anastasia langsung mengajak Taihou dan Viltus untuk bersiap-siap di dapur kembali. Dan selama berjalan ke dapur, Viltus sempat bertanya,
"Jadi, apakah semua makanan itu sudah siap ?"
"Tentu saja. Bukankah kau yang menyiapkannya sendiri ?" ujar Anastasia
"Ada yang kalian buat, benar ?"
"Ah... Kau benar." ujar Taihou langsung ingat.
"Aku akan membantu kalian semua kalau begitu."
Taihou dan Anastasia langsung mengangguk mendengar itu, dan berjalan lebih dahulu dari Viltus. Namun, pada saat Anastasia melewati Viltus, Viltus berbisik,
"Jadi, kau menerima Neo ya ?"
"Eh ?!"
"Sudahlah... Memang sih kalian bertengkar terus. Tapi, mengingat diriku dengan Taihou, itu merupakan hal yang mungkin."
Anastasia sedikit panik dan berlari ke arah Taihou. Viltus tersenyum melihat mereka berdua dan terus berjalan. Ia melihat ke arah luar jendela dan melihat beberapa Gadis Kapal yang berlatih dengan salah satunya adalah Uzuki. Ia terlihat sangat penuh dengan semangat. Viltus langsung tersenyum dan berkata,
"Aku iri dengan dirinya... Memiliki semangat seperti itu."
Viltus langsung merenggangkan dirinya dan berkata,
"Yosh ! Saatnya bekerja... Aku tidak ingin membuat dirinya bersedih."
Setelah itu, ia kembali berjalan ke arah dapur untuk membantu Anastasia dan Taihou.
Hari yang dinanti pun tiba.
Yuudachi terlihat sangat senang dengan kondisi di ruangan tersebut. Ruangan tersebut benar-benar diperuntukkan untuk pesta. Viltus, yang sudah meminta ijin untuk cuti, melihat hair flap milik Yuudachi yang bergerak-gerak karena senang. Ia pun ikut tersenyum. Marcos mendadak berkata,
"Ini ditaruh di mana ?"
"Kau pasang saja di sisi sana." ujar Viltus
"Baiklah."
"Daripada itu, hadiahmu untuk Uzuki mana ?"
"Shigure yang menyimpannya."
"Seperti dugaanku. Sudahlah."
Viltus langsung mengambil satu hiasan dan memasangnya di dinding. Setelah semuanya selesai dipasang, Viltus meminta semuanya untuk melakukan aktivitas seperti biasanya. Selain itu, ia meminta tolong kepada Yuudachi dan Shigure agar membawa Uzuki pada pukul 6 malam, sementara yang lain datang pada pukul 5 sore.
Viltus langsung kembali ke kamarnya, dan mengecek kembali beberapa barang yang akan dibagikan nanti. Dan pada saat itulah, ia melihat lima bungkus kado di atas kasurnya. Ia berjalan ke sana dan melihat dengan jelas namanya tertera namanya.
Dikarenakan ia terlalu fokus untuk menyiapkan perayaan untuk Uzuki, ia lupa dengan ulang tahunnya sendiri. Ia baru sadar, dirinya sudah bertambah satu tahun kembali. Ia melihat ke kalendar dan tersenyum. Ia langsung berkata,
"Aku lupa... Ulang tahunku dan Shiro-nee kan cukup dekat."
Ia kemudian mengambil bungkusan pertama. Ia membukanya, dan di dalam situ terdapat tulisan dengan nama Marcos dan Shigure tertera di sana. Di dalamnya terdapat sebuah topi baru. Topi berwarna hitam, dan tidak terlalu mencolok. Viltus tersenyum dan membaca suratnya. Setelah itu, ia membuka yang kedua dengan nama RJ dan MG tertera di sana. Viltus membukanya dan terdapat dua volume buku novel yang diincar oleh Viltus cukup lama. Viltus langsung mengambil bukunya dan menaruhnya di lemari miliknya.
Ia membuka yang berikutnya dan di sana tertera nama Russia. Dari situ ia tahu siapa yang memberikan dirinya. Ia membukanya dan mendapatkan sebuah buku notes. Di halaman pertama tertera dengan jelas siapa yang memberikan hadiah tersebut. Yang membuatnya terkejut adalah nama lain di sana. Ia langsung berkata,
"Dasar... Dia itu... Sudahlah."
Viltus langsung ke bungkusan berikutnya. Di sana tertera nama Taihou. Ia tersenyum sedikit dan membukanya. Sebuah jam saku dan kalung di dalamnya. Viltus langsung berkata,
"Terima kasih semuanya... Untuk hadiah ini..."
Ia melihat hadiah terakhir. Sebuah bungkusan yang sangat kecil. Di sana tertera nama Shiro. Ia membukanya, dan di sana sebuah kotak kecil dengan dua benda di dalamnya. Sepasang cincin. Di sana terdapat pesan dari Shiro,
"Hadiah ini ditujukan untuk dirimu dan Taihou. Semoga kalian terus berbahagia di sana, ya."
Viltus langsung menutup dan mulai berpikir. Ia mengingat kembali semuanya selama ia bersama dengan Taihou. Ia langsung tersenyum dan bergumam,
"Shiro-ne... Ini terlalu cepat..."
"Apa maksudmu terlalu cepat ?" tanya Taihou
Viltus melihat ke belakang, dan menaruh kotak cincinnya di dalam sakunya. Taihou langsung berkata,
"Semua hadiah ini untuk dirimu. Dan semuanya sudah cukup terlambat mengerti ?"
"Kau ada benarnya. Tapi, dari mana kalian tahu ulang tahunku ?"
"Tentu saja Aoba." ujar Taihou
"Ah... Kau ada benarnya..."
"Ehehehehehe."
Viltus langsung memeluk Taihou dan mengucapkan terima kasih kepada dirinya. Taihou sendiri langsung tersenyum mendengar itu. Dan pada saat itulah, Taihou bertanya kembali kepada Viltus,
"Jadi, apa yang kau maksud terlalu cepat ?"
"Itu..."
"Viltus ?"
Viltus menarik nafas panjang, dan kemudian mengeluarkan kotak cincin yang diberikan oleh Shiro. Taihou langsung memerah melihatnya, dan Viltus berkata,
"Ini... diberikan oleh Shiro-nee... Agar tidak ada yang mendekati dirimu."
"Uuuuuhhhh... Bukankah ini... Ummmm..."
"Aku tahu itu... Tapi, apakah kau ingin menerimanya ?"
"Untuk..."
"Agar... Tidak ada yang mendekati dirimu..."
Taihou menunduk dan kemudian langsung mengangguk. Viltus mengambil tangan kanan Taihou, dan menyematkan cincin di tangan kanannya. Bagi banyak orang, mungkin cara Viltus ini cukup tidak lazim atau cukup tidak masuk di nalar. Namun, mereka berdua tahu dan tidak dapat diucapkan dengan kata-kata.
Taihou melihat ke arah tangannya dan tersenyum. Viltus sendiri langsung memalingkan wajahnya dan kemudian berkata,
"Itu hanya..."
"Aku tahu mengenai hal tersebut. Kau jangan mengulangnya."
Viltus langsung tersenyum, sementara Taihou melihat ke arah cincin di tangannya. Saat ini, mereka sudah lebih dekat dari sebelumnya, dan tantangan yang harus mereka hadapi jauh lebih besar. Walaupun demikian, mereka masih belum sepenuhnya resmi. Itu karena, lokasi cincin tersebut.
Taihou mencium cincin tersebut dan kemudian berkata,
"Padahal ini ditujukan untuk ulang tahunmu."
"Ahahahaha..."
"Lalu..."
"Kau tahu, aku tidak terlalu butuh hadiah seperti ini lagi tahun ini."
"Eh ? Kenapa ? Kau tidak suka..."
"Karena aku sudah mendapatkan hadiah yang terindah... Walaupun lebih cepat dari ulang tahunku."
Viltus langsung menarik Taihou dan memeluknya. Wajah Taihou memerah dan melihat ke arah Viltus. Viltus sendiri tersenyum, dan kemudian menciumnya. Setelah itu, Viltus melepas Taihou dan kemudian duduk di kasur, diikuti oleh Taihou. Taihou kemudian berkata,
"Setidaknya... Kau benar-benar berubah."
"Begitukah ? Baguslah... Ehehehehe..."
Taihou sendiri langsung memegang lengan Viltus dan menutup wajahnya. Viltus tersenyum, dan kemudian langsung mengelus kepala Taihou, sembari menutup matanya. Mereka melepas penat bersama, sembari menunggu acara mereka selanjutnya.
Semua anggota sudah berkumpul, Viltus sendiri sudah menyiapkan beberapa hiasan baru untuk ruangan tersebut. Dan, yang mengejutkan mereka semua adalah sesuatu yang ada di tangan Taihou. Banyak orang yang bertanya kepada mereka berdua, yang langsung dijawab singkat oleh mereka berdua.
Tidak berapa lama, Viltus menaruh hadiah miliknya diikuti oleh Magyar, Marcos, dan Anastasia. Viltus langsung berkata,
"Kalian ini... Ulang tahunku sudah lama lewat."
"Kami tahu... Tapi, setidaknya kau berhak mendapatkan itu." ujar Magyar
"Atau kau tidak senang dengan itu ?" tanya Anastasia
"Tidak juga. Aku cukup senang mendapatkan hadiah dari kalian semua." ujar Viltus
Viltus tersenyum kepada semua orang di dalam ruangan tersebut. Houshou langsung berkata,
"Kau sudah berubah..."
"Kau bukan orang pertama yang berkata demikian, namun juga bukan orang terakhir yang akan mengatakan hal tersebut." ujar Viltus sembari menutup mulut Houshou.
"Kau ada benarnya." jawab Houshou
Mendadak mereka mendengar Shigure yang memberi tanda kepada semuanya karena Uzuki yang sudah cukup dekat dengan ruangan mereka. Mereka semua diam sebentar, hingga akhirnya mereka mendengar suara protes dari Uzuki,
"Yayoi... Kenapa kau menarikku kemari ?! Aku harus bangun pagi besok."
"Sudah, Uzuki... Ikut..."
"Yayoi !"
Dan pada saat Yayoi membuka pintu, Uzuki langsung melihat confetti yang terlempar ke arah dirinya. Selain itu, ia melihat semua Gadis Kapal yang ia kenal di tempat tersebut. Uzuki langsung melihat ke arah Yayoi sembari berkata,
"Yayoi... Ini... Ummm..."
"Sudah masuk saja, Uzuki." ujar Yayoi.
Pada saat Uzuki masuk, Aoba langsung berlari memeluk Uzuki. Dan satu per satu mulai memberikan selamat kepada Uzuki atas keberhasilannya masuk ke divisi utama untuk operasi penyerangan berikutnya. Setelah itu mereka semua mulai makan semua makanan yang tersedia.
Viltus dapat melihat dengan jelas wajah penuh kebahagiaan dari seluruh orang di dalam ruangan tersebut. Ia tersenyum hingga Taihou memeluknya dair langsung berkata,
"Sekarang jauh lebih bahagia... Semuanya dapat tersenyum..."
"Bukannya semua seperti itu dari dulu, ya ?" tanya Viltus
"Tidak juga. Semuanya masih sedikit menjauh dari sesamanya... Dan juga dari Laksamana. Tidak ada yang tersenyum seperti ini dahulu." ujar Taihou
"..."
"Jadi, terima kasih..."
"Ucapkan rasa terima kasih itu kepada Kimura." ujar Viltus sembari melihat ke arah Taihou
"Eh ?"
"Kalau dia tidak ada... Aku tidak mungkin kejadian hari ini tidak akan terjadi. Dan semuanya yang telah kita lalui."
Taihou melihat wajah Viltus yang sedikit menunduk, dan langsung mengusap kepala Viltus. Viltus langsung berkata,
"Hei, apa-apaan ini Taihou ?"
"Sudah... Sudah... Dan kembalikan Viltus kembali kepada diriku."
"Ini sudah diriku..."
"Ehehehehehe..."
"Jadi... Paman dan Bibi yang merencanakan acara ini, pyon ?" tanya Uzuki mendadak
Viltus dan Taihou melihat ke arah Uzuki yang matanya berbinar-binar. Mereka berdua melihat satu sama lain dan akhirnya langsung mengangguk. Uzuki langsung melompat ke arah mereka berdua dan mengucapkan terima kasih kepada mereka berdua.
Viltus melihat ke arah Aoba yang tersenyum ke arah mereka berdua, dan ia berpikir bahwa hal seperti ini merupakan sesuatu yang ia rindukan dari dahulu. Setelah itu, seluruh kru dari Viltus memberikan Uzuki hadiah, dan yang paling akhir adalah Viltus. Pada saat Uzuki membuka semuanya, ia langsung mengucapkan terima kasih kepada Viltus dan yang lainnya.
Dan yang paling pertama ia kenakan adalah hadiah dari Viltus. Sebuah ikat rambut hasil tangan Viltus dan juga gelang. Viltus dan Taihou tersenyum dari jauh, dan langsung mendapatkan beberapa permintaan dari Kelas Shiratsuyu untuk memberikan mereka yang sama. Viltus hanya tertawa saja mendengar itu dan mengiyakan setelahnya.
Mereka semua berbincang-bincang sembari memakan hidangan yang tersedia hingga tengah malam. Houshou langsung mengantar semua Gadis Kapal kembali ke kamar mereka,sementara Viltus dan seluruh krunya masih di dalam ruangan. Viltus langsung mengambil vodka miliknya dan kemudian berkata,
"Pertempuran besar sudah menanti kita semua..."
"Namun, itu bukan akhir semuanya." ujar Magyar menerima Vodka yang dituang oleh Viltus
"Walaupun demikian, itu merupakan salah satu awal dari kebebasan kita semua." ujar Marcos yang juga menerima Vodka yang dituang oleh Viltus.
"Ini pasti akan sangat berat..." ujar Elisa
"Namun, aku yakin kita semua mampu menghadapi halangan tersebut." ujar Anastasia
"Tiga hari sebelum unit kita dikirim ke lini depan..." ujar Viltus
"Waktu yang lama..." ujar Elisa
"Namun, akan terasa sebentar." ujar Marcos
"Maka, dari itu... Mari kita berikan kemampuan terbaik kita untuk menghadapi mereka." ujar Viltus sembari mengangkat gelasnya.
Semuanya mengangkat gelasnya dan meminumnya bersamaan. Mereka semua berdiri, dan berjalan kembali ke kamar mereka. Lima gelas di dalam ruangan tersebut menunjukkan determinasi mereka berlima untuk membawa semuanya kembali dan kembali berkumpul di tempat ini.
Hari yang ditentukan pun sudah sudah berada di kapal komandonya sembari memperhatikan laporan dari Elisa. Magyar melakukan pengecekan terhadap setiap radar, sementara Anastasis membereskan meja sonarnya.
Marcos baru masuk ke dalam ruang komando setelah mengecek semua perlengkapan dari kapal komando. Elisa sendiri akan ikut ke dalam kapal tersebut karena mereka akan tinggal di markas yang mereka buat sebelumnya.
Semua Gadis Kapal di bawah arahan Viltus sudah tiba, dan Viltus langsung berdiri dan berkata,
"Baiklah... Kita akan meluncur ke salah satu dari ketiga markas kita terdahulu..."
Dari sana, ia melihat wajah penuh persiapan dari semuanya. Ia langsung tersenyum dan kemudian langsung berkata,
"Tidak seperti biasanya aku berkata demikian, namun mari kita terus berjuang hingga kita mampu membebaskan manusia dari belenggu Abyssal."
Semua mengangguk dan berteriak mendengar apa yang dikatakan oleh Viltus. Mereka langsung kembali ke pos masing-masing, dan Viltus langsung membaca semua hasil pengintaian sebelumnya. Kapal Komando Viltus meninggalkan pelabuhan dan itu menandakan sesuatu. Pertempuran tersebut pun dimulai.
HakunoKazuki di sini
Akhirnya... GREAT PHOENIX lanjut !
Maafkan saya atas lamanya seri ini berlanjut... Dari pengecekan ulang, hingga mengganti tema ceritanya... Namun, entah mengapa yang paling susah adalah di bagian akhir dari ceritanya. Ya, semoga kalian maklum dengan ini semua.
Jika kalian memiliki komentar, silakan saja komentari. Tapi jaga bahasanya.
Sekian dari saya, semoga kalian masih mau mengikuti seri ini, ya !
Sampai jumpa !
