Chapter 26
Mercy
Viltus memperhatikan seluruh laporan yang masuk mengenai lokasi dari setiap divisi Abyssal yang menjadi lawannya saat ini. Ia duduk di bangku kayunya sembari memegang kertas dan terus mendengar laporan langsung di lapangan dari beberapa Laksamana yang di bawah arahannya melalui headsetnya.
Ia menulis setiap laporan dari salah satunya, dan kemudian berkata,
"Akira, dapatkah kau memperhatikan posisi lawan sekitar 1000 KM di tenggara kita ?"
"Huh ? Kenapa harus diriku yang melakukannya ?" ujar Akira.
"Sudah, lakukan saja. Saat ini armadaku dan armada Laksamana Tinggi Tadahisa sedang istirahat setelah melakukan patroli selama beberapa hari."
"Unryuu juga lelah mengerti !"
"Lakukan saja. Setelah itu, besok kau dapat beristirahat."
"Begitukah ?!"
"Aku tidak akan mengulangnya."
"Baik, Kapten Amarov !"
Viltus langsung menghela nafas dan kemudian langsung menutup komunikasi untuk sementara. Setelah itu, ia langsung berjalan ke arah meja yang berada di tengah ruangan dan kemudian langsung menaruh satu pion di salah satu sudut dari peta. Ia langsung bergumam,
"Abyssal menurunkan lima armada untuk melindungi pulau tersebut. Empat armada Kapal Induk yang sudah diketahui lokasinya berada sekitar 250 KM dari pulau target."
Ia kemudian langsung menggerakkan pion lain, dan kemudian bergumam,
"Armada utama sudah melakukan penyerangan di pulau lain, namun berdasarkan apa yang kudengar mereka sedang menghadapi lawan yang cukup besar jumlahnya sehingga harus mundur ke markas darurat. Masalah mereka pun pesawat yang dirumorkan berasal dari pulau tersebut."
Setelah itu, ia melihat ke dinding dan memperhatikan laporan dari mekanik mengenai Gadis Kapal yang ikut mereka. Berdasarkan catatan yang tertera di sana, Yamashiro dan Fusou mengalami gangguan di peluncur pesawat mereka sehingga tidak dapat turun dalam waktu dekat. Selain itu, Furutaka, Noshiro dan Yahagi terkena serangan telak dan tidak dapat diturunkan juga. Waktu perbaikan untuk mereka bertiga jauh lebih lama dari dugaan karena jumlah mekanik yang sedikit.
Ia langsung menghela nafas dan kemudian membaca laporan lain. Laporan mengenai ditemukannya keberadaan Kapal Selam Abyssal yang sedang berpatroli di sekitar pulau tersebut. Ia sudah mengirimkan permintaan untuk mengirimkan peralatan untuk menghadapi Kapal Selam, dan peralatan tersebut sedang dalam perjalanan.
Tidak berapa lama, ia mendengar ketukan pintu dan langsung mengijinkan untuk masuk. Di sana berdiri Marcos, Taihou, dan Anastasia. Viltus langsung berkata,
"Maaf telah membuat kalian semua bekerja dengan keras."
"Itu bukan masalah, soalnya itu merupakan tugas kita semua. Lagipula, hari ini sebagian dapat beristirahat. Dan itu sudah lebih dari cukup." ujar Taihou
"Baguslah..."
Marcos dan Anastasia membiarkan Taihou dan Viltus berbincang-bincang dan langsung melihat ke atas meja. Mereka memperhatikan posisi dari lawan berdasarkan laporan di lapangan langsung. Anastasia langsung berkomentar,
"Pulau tersebut dijaga cukup banyak divisi Abyssal juga rupanya."
"Padahal sebelumnya kita berhasil menghancurkan divisi Kapal Induk mereka di sana." ujar Marcos
"Pada saat kau masih mengincar balas dendam, benar ?" tanya Anastasia
"Tepat sekali." ujar Marcos
Mereka berdua memperhatikan seluruh peta yang berada di hadapan mereka. Pulau target mereka memiliki gugusan kepulauan yang memungkinkan untuk meluncurkan pesawat dari beberapa teluk, dan juga menyembunyikan kapal selam dengan keadaan alam di bawah laut.
Tidak berapa lama, Magyar masuk ke dalam dan berkata,
"Ah, Viltus kebetulan sekali."
"Ada apa, Magyar ?" tanya Viltus
"Kelompok mekanik yang akan membantu Elisa sudah tiba, selain itu peralatan yang kau minta pun sudah tiba." ujar Magyar
"Terima kasih banyak atas informasinya, Magyar." ujar Viltus
"Bukan masalah. Selain itu..."
"Ada apa, Magyar ?"
"Berdasarkan laporan dari Elisa, Yamashiro dan Fusou dapat kembali ke lini depan besok siang."
"Itu lebih dari cukup."
Viltus melihat ke arah Taihou, dan Taihou langsung mengerti. Mereka semua langsung mengelilingi peta di hadapan mereka, dan memperhatikan dengan seksama semua yang diberitahu oleh Viltus. Anastasia dan Taihou mempersiapkan diri untuk mencatat semua yang akan Viltus terangkan sebentar lagi. Viltus langsung berkata,
"Baiklah, aku akan memulai memberitahu kalian mengenai apa yang baru saja kudapatkan."
Semuanya mengangguk dan langsung memperhatikan peta di hadapan mereka. Viltus langsung berkata,
"Berdasarkan laporan dari Akira, ia menemukan dua divisi Kapal Induk baru yang berkeliaran di dekat pulau target."
"Lebih banyak kapal Induk, berarti pesawat kita dan Akizuki bersama kedua saudarinya bekerja lebih keras lagi." ujar Anastasia
"Itu tidak dapat kupungkiri lagi. Mengingat jumlah pesawat yang cukup banyak, kita pasti akan kesulitan untuk melewati bombandir mereka. Tidak mungkin langsung ke target utama tanpa menghancurkan asal dari pesawat tersebut." ujar Magyar
"Untuk perlengkapan serangan udara kita, mungkin dapat kukatakan kapal komando kita dapat melindungi diri kita sendiri." ujar Marcos
"Jika boleh tahu, berapa jumlah Chaff Grenade yang kita miliki saat ini ?" tanya Viltus
"Itu justru yang ingin kubicarakan setelahnya. Jumlah peluru yang kita miliki untuk menghindari radar lawan hanya lima buah saja. Untuk torpedo yang membuat kita hilang dari radar mereka pun juga tinggal dua buah." ujar Marcos
"Itu karena apa yang terjadi terakhir kali, ya..." ujar Viltus
Semuanya langsung terdiam mendengar hal tersebut. Namun, bukan berarti mereka tidak berpikir untuk mencari cara untuk menghadapi lawan. Mendadak, mereka mendengar sirene yang berbunyi tanda pesawat lawan yang lewat diiringi dengan ledakan yang cukup hebat. Viltus langsung berkata,
"Mereka menghancurkan markas palsu kita..."
"Namun, bukan berarti mereka akan berhenti berpatroli." ujar Anastasia
"Aku tahu, mari kita lanjutkan ke taktik kita selanjutnya."
Viltus langsung menunjuk ke salah satu titik di peta. Sebuah pulau yang berjarak sekitar 100 KM dari pulau target. Ia langsung berkata,
"Tempat ini merupakan salah satu tempat yang sangat strategis untuk melakukan peluncuran pesawat ke berbagai arah."
"Hmmm... Menurutku tempat tersebut tidak terlalu bagus." ujar Magyar
"Mengapa kau berkata demikian ?" tanya Anastasia
"Secara geografis, teluk di mana mereka dapat bersembunyi cukup dekat dengan bukit yang cukup tinggi. Mereka akan kesulitan untuk meluncurkan pesawat mereka, kecuali pesawat mereka memutar mengelilingi pulau." ujar Magyar
"Hal tersebut dapat diperhitungkan, dengan melakukan taktik tersebut kita tidak akan pernah menduga pesawat tersebut berasal dari sana." ujar Viltus
"Kau berkata demikian... Itu merupakan sebuah asumsi, benar ?" tanya Marcos
"Tepat sekali. Kita tidak pernah mengetahui apa yang ada di sana." ujar Viltus
Radio mendadak berbunyi, dan Viltus langsung mengangkatnya. Dari sana, ia mendengar laporan dari Akira, dan langsung mempersilahkan Akira untuk kembali dengan berhati-hati terhadap serangan dari Kapal Selam. Viltus langsung berkata,
"Akira memberi laporan bahwa lawan baru saja mengirimkan dua divisi yang membawa sumber daya ke pulau target kita."
"Jika boleh tahu, sumber daya apa yang dikirimkan oleh mereka ?" tanya Anastasia
"Bauksit, dan beberapa bahan bakar. Akira telah menghancurkan setidaknya empat dari dua puluh kelas Wa yang berada 500 KM dari pulau target." ujar Viltus
"Tunggu, Akira sampai sedekat itu ?" tanya Marcos dengan wajah heran
"Tidak. Pesawat yang diluncurkan oleh Katsuragi, Amagi dan Unryuu dapat mencapai area tersebut." ujar Viltus sembari menghela nafas.
"Jika boleh tahu, pesawat apa saja yang kembali ke mereka ?" tanya Taihou mendadak
"Aku tidak tahu. Kita baru mengetahuinya setelah mereka kembali kemari." ujar Viltus
"Kau harus tahu, jumlah pesawat yang kita miliki saat ini terbatas. Kita bukan di Yokosuka saat ini, sehingga untuk mengirim pesawat baru akan memakan waktu yang cukup lama." ujar Taihou
"Aku tahu, itu semua memakan waktu satu minggu." ujar Viltus
Viltus langsung menyadari jumlah sumber daya yang ia miliki saat ini. Dapat dikatakan jumlah bahan bakar yang dimiliki oleh mereka saat ini hanya cukup untuk melakukan operasi sebanyak dua kali saja. Dengan kata lain, dia tidak boleh gagal untuk menyerang pulau tersebut sebanyak dua operasi tersebut. Ia sudah memperhitungkan semua itu, dan sedang mempersiapakan satu operasi untuk menghancurkan dua dari lima divisi lawan, sebelum operasi utama untuk menguasai pulau tersebut.
Selain itu jumlah pesawat yang ia miliki pun tidak terlalu banyak. Ia hanya memiliki sepuluh squadron Tenzan, lima belas squadron Reppu, dua belas squadron Suisei, dan squadron divisi Zuiun. Jumlah tersebut sudah termasuk yang saat ini dipegang oleh Akira. Jadi, dapat dikatakan ia tidak dapat membuang-buang pesawat tersebut, atau ia terpaksa menunda menyerang lawan.
Itu sebenarnya sudah masuk ke dalam perkiraan Viltus. Namun dikarenakan tekanan dari divisi utama untuk menguasai pulau tersebut, ia tidak dapat menunda untuk menyerang pulau tersebut.
Viltus langsung menghela nafas dan kemudian langsung melihat kembali ke laporan yang ia miliki. Semua laporan tersebut tidak menjelaskan mengenai pulau tersebut sama sekali, karena tidak ada satu pun pesawat pengintai yang selamat hingga sampai sana.
Ia mengasumsikan pulau tersebut merupakan salah satu Markas Angkatan Laut Abyssal, dan itu memiliki dasar yang cukup jelas. Penjagaan ketat di pulau tersebut, ditambah seringnya kapal pengangkut datang ke pulau tersebut.
Viltus langsung berkata sembari menunjuk dua pulau,
"Kita akan melakukan penyisiran di dua pulau ini."
"Hmmmm... Dua pulau tersebut, ya." ujar Marcos
"Untuk operasi satu ini, target utama adalah menghancurkan dua atau tiga divisi lawan ditambah kapal selam lawan yang berpatroli di sana." ujar Viltus
"Berarti diriku tidak ikut ?" tanya Taihou
"Khusus yang satu ini, iya. Kau akan tetap di markas ini." ujar Viltus
"Baik, Laksamana." ujar Taihou
"Namun, bukan berarti dirimu dapat libur. Kau akan memimpin divisi yang terdiri dari Ryuujou, Shoukaku, Zuikaku, Hiryuu, dan Souryuu untuk mengirimkan serangan udara sebagai tenaga bantuan kami." ujar Viltus
"Berarti kami akan membawa Suisei dan Reppu." ujar Taihou
"Iya. Tolong." ujar Viltus
Taihou langsung mengangguk, sementara Viltus langsung berkata,
"Kita akan menurunkan dua divisi. Satu divisi yang terdiri dari Yamashiro dan Kako dengan divisi pendukung dengan isi Agano, Asagumo, Yamagumo, dan Akizuki. Sementara divisi yang kedua terdiri dari Fusou dan Mogami dengan divisi pendukung dengan isi Michisio, Shigure, Teruzuki dan Hatsuzuki. Untuk Kapal Perusak di divisi pendukung milik Fusou selain Teruzuki, dan Hatsuzuki akan membawa perlengkapan untuk menghadapi Kapal Selam. Fusou dan Yamashiro akan menggunakan perlengkapan terbaik mereka dengan membawa masing-masing satu divisi Zuiun."
Semuanya mendengar apa yang dikatakan oleh Viltus, dengan Anastasia dan Taihou mencatat semuanya. Viltus kembali menekankan lokasi yang akan menjadi target operasi mereka besok sembari berkata,
"Pada jam 0900, kita akan memulai operasi ini. Aku tahu, kita tidak memiliki cukup banyak informasi mengenai ini, namun aku mengharapkan yang terbaik dari semuanya."
Semuanya mengangguk dan langsung memperhatikan kembali catatan yang ditulis oleh Taihou dan Anastasia. Dan pada saat itulah, Anastasia menyadari Viltus yang sedikit lelah. Ia memberi tanda kepada Taihou sebentar, dan langsung mengajak semuanya untuk pergi sekarang.
Satu per satu pun mulai meninggalkan ruangan tersebut, dan meninggalkan Viltus dengan Taihou. Viltus melihat ke Taihou sebentar, dan kemudian melihat Taihou yang melebarkan tangannya seakan-akan meminta Viltus untuk mendekati dirinya. Viltus langsung berjalan, dan kemudian membiarkan dirinya terjatuh untuk ditangkap oleh Taihou. Taihou memeluknya, mengelus kepalanya, dan kemudian langsung bertanya,
"Viltus, kau kenapa ?"
"Lelah..." jawab Viltus
"Aku tahu kau pasti sangat lelah. Begitu pula dengan diriku."
"Aku tahu..."
"Maka dari itu... Eh ?"
Viltus semakin memperat pelukannya, dan Taihou tahu Viltus sedikit gugup dengan operasi ini. Itu yang membuat Viltus tidak terlalu nyaman. Walaupun ia sudah mampu melewati beberapa operasi besar, namun ia masih sedikit dihantui oleh kegagalan di masa lalunya. Taihou langsung mengelus kepala Viltus dengan pelan, dan berkata,
"Kau pasti akan berhasil..."
"Aku tahu..." ujar Viltus
"Ehehehehe, siapa yang menyangka dirimu dapat bersikap seperti ini..."
"..."
"Sangat imut... Dan rapuh..."
"Jangan sampai ada yang tahu aku bertindak seperti ini... Aku khawatir mereka akan menganggap diriku menjadi benar-benar lunak, apalagi anak-anak baru tersebut."
Taihou tersenyum sedikit, dan membiarkan Viltus memeluknya sebentar. Setelah itu, Viltus melepas pelukannya, dan dapat terlihat dengan jelas Viltus sedikit lebih segar. Viltus langsung berkata,
"Aku sebenarnya ingin tidur... Cuma masih ada pekerjaan yang harus kulakukan."
"Ehehehehehe..."
"Huh ? Tumben sekali dirimu tidak menyuruhku untuk istirahat."
"Khusus kali ini kuijinkan, karena kami masih membutuhkan dirimu... Setelah itu, kita dapat tidur sebentar."
Taihou tersenyum ke arah Viltus, yang langsung dibalas oleh Viltus. Setelah itu, mereka berdua berjalan keluar bersama sembari membicarakan apa langkah mereka selanjutnya di operasi selanjutnya.
Jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Viltus sudah melakukan pengecekan dari jumlah pesawat yang jatuh selama digunakan oleh Akira sehari sebelumnya. Dari sana, ia mengetahui ia kehilangan dua squadron Reppu. Selain itu, Akatsuki dan Inazuma yang membantu Akira pun cedera parah yang langsung ditangani oleh Elisa.
Pada saat kapal komandonya akan bergerak, Viltus bergumam,
"Setelah ini aku akan memberikan Elisa libur seminggu."
"..."
Semuanya menatap Viltus dengan wajah tidak percaya. Viltus langsung berkata,
"Tidak hanya dirinya, kalian pun juga akan mendapatkan liburan setelah ini semua selesai."
"Kau ini siapa ?!" ujar Marcos sembari mendekati Viltus
"Marcos, mundur sedikit... Aku dapat melihat kerut di dahimu dengan jelas dari sini." ujar Viltus mendorong Marcos sedikit
"Kau benar-benar jadi sangat baik..." ujar Anastasia
"Apa maksudmu, Anastasia ?" tanya Viltus sembari melihat ke arah Anastasia
"Ada sisi bagusnya sih dia seperti itu." ujar Magyar
Viltus langsung tersenyum, dan kemudian langsung memanggil semua Gadis Kapal yang akan masuk ke dalam operasi ini. Yang masuk ke dalam ruang komando adalah Fusou dan Yamashiro. Mereka memberi hormat dan kemudian memberitahukan perihal kesiapan dari semua yang terlibat di operasi hari tersebut. Viltus langsung berkata,
"Baiklah, divisi yang dipimpin oleh Yamashiro merupakan divisi yang bertanggungjawab untuk menghancurkan dua atau tiga divisi lawan."
"Dua atau tiga ? Bukan lima-limanya ?" tanya Yamashiro
"Sebaiknya kita memasukkan yang terburuk, atau mungkin kita tidak menemukan sama sekali divisi lawan di operasi ini."
"Iya juga sih, jika itu menyangkut diriku yang memimpin mereka." ujar Yamashiro
"Tidak juga, ada beberapa faktor yang harus diperhitungkan dalam menentukan target jumlah yang harus dihancurkan. Satu adalah masalah lokasi, lawan pasti akan melakukan patroli dan pergerakan mereka akan sedikit berbeda dari yang diharapkan. Lalu, yang kedua adalah masalah sumber daya yang kita miliki saat ini." terang Viltus
Yamashiro melihat ke arah Viltus dengan wajah tidak percaya dengan yang ia dengar. Itu dapat dikatakan ada seorang Laksamana yang tidak menyalahkan dirinya jika dirinya gagal. Viltus langsung berkata,
"Yang utama dari operasi ini adalah menjaga semuanya agar kembali dengan selamat."
"..."
"Aku tahu itu terdengar cukup mudah bila kuucapkan seperti ini, namun tidak di lapangan sana. Semuanya akan sangat sulit."
"Aku mengerti itu, kau tidak perlu memberitahuku mengenai hal ini." ujar Yamashiro sembari menghela nafas.
"Fusou, tugasmu adalah mencari kapal selam yang melalukan patroli. Semua anggota divisimu akan menggunakan perlengkapan untuk menghadapi Kapal Selam, kecuali Teruzuki dan Hatsuzuki." ujar Viltus
"Baik, Laksamana." ujar Fusou
"Semua anggota sudah di kapal komando ?" tanya Viltus
"Semuanya sudah di dalam ruang tunggu di kapal komando." lapor Anastasia sembari menyiapkan headsetnya
"Elisa, apakah perlengkapan yang diperlukan oleh kami sudah siap ?" tanya Viltus melalui radio
"Semua sudah dimasukkan, dan untuk kapal komandomu sendiri aku sudah memperkuat beberapa bagiannya, jadi kau tidak perlu khawatir." ujar Elisa
"Terima kasih banyak, Elisa." ujar Viltus
Viltus langsung berdiri dan kemudian menunggu laporan dari masing-masing krunya. Anastasia yang memulai lebih dahulu,
"Semua perlengkapan sonar sudah siap."
"Radar tidak ada masalah, kita dapat melakukan pelayaran sekarang." ujar Magyar
"Semua sistem persenjataan baik. Tidak ada masalah. Kau dapat memulai operasi ini tanpa ada masalah dari sisi ini, Kapten." ujar Marcos
"Bagus, Laksamana kepada sistem. Memasukkan nama Viltus Amarov."
"Autentikasi sedang berjalan... Melakukan pemindaian wajah... Diterima... Selamat datang, Kapten Viltus Amarov."
"Laksamana kepada Sistem, jalankan kapal komando dengan kecepatan 30 knots hingga titik yang sudah saya pasang di peta."
"Sistem kepada Laksamana, Kapal Komando mulai berjalan."
Dan dalam sekejap suasana ruang komando menjadi sangat serius, sesuatu yang dilihat oleh Yamashiro dan Fusou selama mereka bekerja bersama mereka, dan hal tersebut sangat kontras pada saat mereka berempat di Yokosuka. Namun, sisi serius itu yang membuat Yamashiro dan yang lainnya merasa aman di tangan mereka. Operasi pertama mereka pun dimulai.
Viltus mendengarkan berbagai laporan yang masuk dari Yamashiro dan Fusou selama dirinya menunggu di kapal komando. Posisi Kapal komando mereka berada di salah satu teluk di pulau keempat 400 KM dari pulau target.
Anastasia dan Magyar sibuk dengan perlengkapan mereka, sementara Marcos membantu Viltus untuk memasang posisi target lawan dengan menggunakan pion di atas peta di tengah ruangan. Viltus memperhatikan semua posisi dari Yamashiro dan Fusou, sekaligus mendengarkan laporan dari Taihou mengenai posisi lawan.
Posisi lawan sesuai dengan yang diprediksikan oleh Viltus, namun posisi Kapal Selam sama sekali belum diketahui. Itu yang ia khawatirkan sedari tadi. Sonar yang digunakan oleh Kapal Induk, dan juga yang digunakan oleh Gadis Kapal sama sekali tidak menangkap keberadaan dari Kapal Selam.
Viltus langsung bertanya,
"Hmmmm... Marcos, kita sama sekali tidak memiliki torpedo yang dapat menembakkan suara di dalam air, ya..."
"Memangnya ada yang seperti itu ? Dan untuk apa torpedo tersebut ?" tanya Marcos
"Kau tahu sistem yang digunakan oleh kelelawar pada saat gelap ? Itu yang ingin kugunakan... Untuk melihat kontur bawah laut kita."
"Kau curiga mereka bersembunyi di sela-sela bebatuan ? Lagipula, Sonar sendiri juga bekerja seperti yang kau minta." ujar Marcos
"Iya juga sih."
"Dan jika menggunakan torpedo macam itu, kau dapat membuat telinga operator sonar kita rusak dalam sekejap."
"Ah, kau ada benarnya."
Viltus langsung menghela nafas pada saat itulah ia mendengar suara seseorang yang sangat pelan,
"Oni-chan..."
Viltus terkejut dan kemudian melihat ke kiri dan kanannya. Ia memperhatikan radar yang dimiliki oleh Magyar, dan sama sekali tidak menemukan apapun di sana. Viltus langsung menutup matanya sebentar, dan kemudian langsung berkata,
"Berdasarkan peta ini, Kapal Selam lawan sangat mungkin berada sangat dekat dengan posisi Yamashiro. Marcos, beritahu Fusou untuk bertemu dengan divisi Yamashiro dan membuat formasi penyerangan pertama... Ah, tidak formasi penyerangan kedua."
"Baik."
Marcos langsung menghubungi Fusou dan memberitahu mengenai perihal tersebut. Tidak berapa lama, Viltus kembali mendengar suara,
"Bukan... Di... Sana... Dekat... Dirimu"
Suara tersebut bukanlah suara seseorang yang dikenal oleh Viltus, namun entah mengapa ia cukup rindu dengan suara tersebut. Ia menutup matanya, seakan-akan berusaha mencerna apa yang dimaksud. Dan pada saat itulah, ia sadar sesuatu. Ia langsung berkata,
"Marcos, isi torpedo sekarang. Dan dalam hitungan 180 detik setelah menembakkan satu torpedo, persiapkan kapal kita untuk masuk ke dalam perlengkapan untuk menghadapi Kapal Selam !"
"Huh ? Kau kenapa ?" tanya Marcos
"Mengenai itu..." ujar Viltus yang disela oleh Anastasia
"Aku menemukan lokasi kapal selam lawan. Mereka tidak di dekat Yamashiro, melainkan di dekat kita."
"Jarak mereka dengan kita berapa ?" tanya Viltus
"50 KM dengan kedalaman 1500 M." ujar Anastasia
"Itu cukup dekat dengan kita. Baiklah, aku akan memasukkannya sekarang." ujar Marcos
"Fusou, Yamashiro. Aku akan mengubah posisi dari Kapal Komando dikarenakan mereka menemukan posisi kita." lapor Viltus kepada Fusou dan Yamashiro yang langsung mendapat konfirmasi dari mereka.
Viltus langsung meminta kapal komando untuk bergerak dengan kecepatan yang cukup rendah, dan bergerak agar satu garis lurus dengan posisi kapal selam. Viltus langsung bertanya kepada Anastasia,
"Berapa jumlah kapal selam lawan ?"
"Berdasarkan apa yang kudapat terdapat lima." ujar Anastasia
"Terima kasih, Anastasia. Lanjutkan pengawasanmu. Marcos, siapkan Depth Charge untuk situasi ini, sesuai dengan rencana awal." perintah Viltus
"Siap." ujar Marcos langsung memperhatikan layar di hadapannya dengan laporan dari Anastasia
"Magyar, apakah ada pesawat yang melewati posisi kita ?" tanya Viltus
"Daripada pesawat, mungkin dapat kukatakan PT Imps yang mengarah kemari." ujar Magyar
"Berapa jumlahnya ?" tanya Viltus kemudian
"Tiga kapal. Mereka berada di tenggara dari posisi kita. Jarak 100 KM." jawab Magyar
Viltus langsung duduk di kapalnya sembari memikirkan langkah selanjutnya untuk menghadapi PT Imps yang mendekat. Viltus langsung berkata,
"Marcos, fokus saja untuk menghadapi Kapal selam."
"Kau yakin ?" tanya Marcos
"Iya."
Viltus berdiri, dan kemudian berkata,
"Taihou, kau mendengar diriku ?"
"Sangat jelas. Ada apa ?" jawab Taihou dari ujung radio
"Dapatkah kau mengirimkan dua squadron Suisei ke dekat kapal komandoku ?"
"Sepertinya ada sesuatu yang mendekati dirimu, ya ?"
"Kau sudah mengetahui jawabannya."
"Ehehehehehe... Katakan saja posisi lawannya."
"Saat ini jarak mereka 100 KM di tenggara dari posisi kami."
"Kapal kalian menghadap ke mana dari markas darurat ?"
"Ke arah barat."
"Kecepatan mereka ?"
"Kecepatan maksimal."
"Satu squadron Suisei berada di 20 KM di utara dari posisi kalian. Saya akan mengirim mereka menuju ke target."
"Bagaimana dengan satu lagi ?"
"Satu lagi berada di 150 KM di barat daya dari posisi kalian."
"Siap. Aku mohon bantuanmu untuk masalah ini."
"Tentu saja, Viltus."
Viltus ingin melanjutkan sesuatu, namun ia merasakan tatapan tajam dari tiga orang. Viltus memperhatikan mereka bertiga, dan tidak ada satu pun yang melihat ke arah Viltus. Viltus menghela nafas sebentar, dan kemudian mendengar Taihou berkata,
"Viltus, hati-hati di depan sana."
"Tentu saja. Aku akan kembali." ujar Viltus
Setelah itu, Viltus mematikan radio dan mendengar Marcos berkata,
"Sesuatu yang akan mengarah ke Death Flag, benar ?"
"Itu tidak mungkin karena diriku adalah karakter utama di cerita ini." ujar Viltus
"Kau yakin dengan rekor dari pemilik dunia ini yang kejam ?" tanya Anastasia sedikit tertawa
"Mengenai itu..."
Viltus melihat ke arah lain, dan langsung berkata,
"Sudah, fokus saja ke tugas di hadapan kalian !"
Semuanya tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Viltus. Viltus sendiri langsung duduk dan memperhatikan dengan seksama semua laporan yang masuk kembali ke kapal komandonya. Tidak berapa lama, Marcos berkata,
"Mengapa kapal selam itu tidak melakukan penyerangan ?"
"Kita bergerak ke arah mereka, sehingga membuat mereka berasumsi bahwa mereka telah ketahuan. Walaupun ini merupakan pertaruhan." ujar Viltus
"Pertaruhan yang sangat berbahaya." ujar Anastasia sembari terus memperhatikan layar di hadapannya.
Hal tersebut dikarenakan kapal selam lawan dapat saja melakukan serangan terhadap kapal komandonya pada saat ia bergerak. Informasi yang ia ketahui saat ini adalah jumlah kapal selam, namun bukan arah yang diperhatikan oleh kapal selam tersebut.
"Hmmm... Torpedo terdeteksi dari lokasi terakhir kali Kapal Selam !" teriak Anastasia
"Semuanya bersiap dengan yang terburuk !" teriak Viltus
Namun, tidak terjadi apapun dengan kapal komando mereka. Mereka berempat melihat satu sama lain, dengan Viltus yang paling bingung. Setelah diam sebentar, Viltus memutukan kembali ke rencana awal. Kapal komando berjalan dengan pelan, dan tidak berapa lama mendengar laporan dari Taihou,
"Semua PT Imps sudah musnah."
"Terima kasih, Taihou. Lanjutkan memberi perlindungan udara untuk divisi Yamashiro dan Fusou." perintah Viltus
"Baik, Laksamana."
Viltus sendiri terlihat sangat fokus dengan kondisi saat ini. Jika berdasarkan apa yang disebutkan oleh Anastasia, seharusnya mereka sudah cukup dekat dengan salah satu Kapal Selam lawan. Anastasia langsung berkata,
"Salah satu dari kapal selam ada di bawah kita... Sementara yang empat sisanya menghilang dari layarku."
"Marcos, hancurkan kapal selam tersebut. Kita akan tetap waspada terhadap empat..." ujar Viltus yang terhenti pada saat mendengar suara
"Oni-chan... Sudah... Hancur... Tidak... Ada..."
Viltus melihat ke kiri dan kanan, dan itu benar-benar menarik perhatian dari Magyar. Magyar langsung bertanya,
"Ada apa, Viltus ? Kita saat ini membutuhkan dirimu untuk operasi ini."
"Tidak... Hanya saja tadi aku..." ujar Viltus yang kembali disela, yang kali ini oleh Anastasia
"Kapal selam lawan hancur..."
"Terima kasih, Anastasia." ujar Viltus
"Viltus, ada apa ?" kali ini Anastasia yang bertanya
"..."
"Viltus, jika ada sesuatu di kepalamu, katakan saja. Kami sudah terbiasa dengan dirimu." ujar Marcos
"Terbiasa apa ? Terbiasa mengucapkan kata-kata gila ?" ujar Viltus
"Lebih kurang, di mana semuanya ternyata benar." ujar Magyar sembari mengangkat bahunya.
"Hah, kalian ini." ujar Viltus tersenyum sinis
"Jadi, ada apa ?" tanya Magyar
"Aku mendengar suara yang tidak pernah kukenal... Suara seorang wanita dengan aksen yang cukup aneh..." ujar Viltus
Mereka bertiga melihat satu sama lain, kemudian mendengar Viltus melanjutkan,
"Ia yang mengatakan mengenai lokasi Kapal Selam yang bukan di daerah Yamashiro..."
"Berarti itu alasan mengapa dirimu memintaku menyiapkan ini semua..." ujar Marcos
"Iya."
"Lalu, suara itu berkata apa ?" tanya Anastasia
"Empat Kapal Selam lain sudah tenggelam."ujar Viltus
"Apakah itu dapat dipercaya ?" tanya Magyar
"Aku tidak tahu." ujar Viltus
Magyar dan Marcos langsung berpikir sebentar, sementara Anastasia melihat ke arah Viltus yang juga berpikir. Tidak berapa lama, Marcos berkata,
"Kita mungkin dapat mempercayai suara tersebut."
"Kau yakin dengan hal tersebut ?" tanya Magyar sembari mengambil satu botol air minum
"Jika sebelumnya informasi yang diberikan akurat, kita dapat mempercayai yang satu ini." ujar Marcos
"Bagaimana jika yang satu ini merupakan informasi palsu ?" tanya Anastasia
"Mengenai itu..."
Mereka bertiga langsung terdiam mendengarnya. Mereka kembali berpikir hingga akhirnya Viltus berkata,
"Kita lanjutkan saja pergerakan kita ke arah teluk di selatan."
"Huh ?"
"Jika memang benar keempat kapal selam tersebut berada di sini, seharusnya mereka sudah menembakkan torpedo mereka kemari."
Mereka bertiga meyadari kapal komando sama sekali tidak bergerak, dan juga tidak mengawasi semua tugas mereka sama sekali. Viltus langsung berkata,
"Salah satu yang tidak dapat dipungkiri adalah kondisi kita yang tidak siap selama perbincangan ini."
"Kau... Ada benarnya..." ujar Anastasia
"Dan selain itu, torpedo lawan yang tidak mengarah kemari. Berarti mereka menghadapi sesuatu sebelumnya, dan itulah yang menenggelamkan kapal selam yang lain." ujar Viltus
Semuanya melihat ke arah Viltus dan langsung mengangguk. Viltus sendiri langsung fokus untuk mendengarkan laporan dari Yamashiro dan Fusou yang kembali masuk ke dalam kapal komando. Walaupun demikian, ia masih bertanya-tanya siapa yang memberitahu dirinya. Dan beberapa jam kemudian, mereka kembali ke markas mereka untuk istirahat.
Pertempuran sehari sebelumnya merupakan suatu keberhasilan. Mereka berhasil menenggelamkan tiga divisi lawan, dan hanya menyisakan dua divisi saja. Korban dari pihak Viltus hanya Yamashiro yang cedera ringan dan juga Kako yang cedera parah. Yamashiro langsung mendapat perawatan, sementara Kako diberi perawatan kecil sebelum dikirim kembali ke Yokosuka lebih dini.
Viltus saat ini sedang bersama dengan Akira untuk menghitung jumlah pesawat yang mereka miliki saat ini. Sehari sebelumnya, mereka kehilangan satu squadron Zuiun, dua squadron Reppu, dan satu squadron Suisei. Akira melihat ke arah Viltus dan langsung berkata,
"Umm... Senpai, aku harap kau tidak marah."
"Ada apa, Akira ?" tanya Viltus
"Kemarin... Aku... Ummm..."
"Kau kenapa ?"
"Aku mengirim pesawat ke arah pulau tersebut pada saat kau sedang pergi." ujar Akira sedikit takut
"Huh ? Kau melakukan itu tanpa memberitahu diriku ? Mungkin Taihou..."
"Tidak... Dia tidak tahu."
"Eh ?"
"Maafkan aku... Maafkan aku..."
"Jika kau memiliki alasan yang cukup baik, aku dapat menerimanya. Selain itu, apa hasil dari pengiriman pesawat tersebut ?"
"Mengenai alasan aku mengirimkan pesawat ke sana itu karena aku merasa pulau tersebut menyimpan sesuatu atau lebih tepatnya ada seseorang."
"Seseorang ?"
"Iya. Dapat dikatakan itu adalah pesawat pertama yang berhasil mencapai pulau tersebut dan memotretnya."
"Apakah kau dapat memberikan kepadaku hasil fotografi pesawatmu ?"
"Ah... Tentu saja."
Akira berlari ke arah kamarnya, sementara Viltus memperhatikan kesiapan dari kedua kapal komando yang berlabuh di markas darurat tersebut. Dan pada saat itulah, ia menyadari kapal komando ayahnya sama sekali tidak ada di sana. Viltus langsung bertanya kepada Elisa,
"Elisa, apakah kau tahu ayah pergi ke mana ? Dan juga yang lainnya."
"Ia mendapatkan panggilan dari Laksamana Masamune untuk membantu divisi utama." jawab Elisa
"Huh ? Kita sangat membutuhkan bantuan dari Hiryuu dan Souryuu miliknya."
"Berdasarkan apa yang diberitahukan oleh Laksamana Yanagi, Laksamana Masamune menganggap Gadis Kapal yang berada di bawah arahan dirimu dan Akira sudah lebih dari cukup untuk masalah ini."
"..."
"Sebenarnya, aku cukup setuju sih dengan apa yang dikatakan oleh Laksamana Yanagi dan Laksamana Masamune. Kau itu selalu mengirimkan lebih banyak dari yang diminta, sehingga itu membuat jumlah pengeluaran kita sangat banyak, dan memakan banyak waktu kami para mekanik jika ada yang rusak."
"Maaf..."
Elisa memperhatikan gerak-gerik dari Viltus dan kemudian langsung mengerti. Elisa langsung berkata,
"Agar tidak ada yang bernasib sama seperti Harusame, ya ?"
"Kau dapat menebaknya dengan mudah, aku tidak perlu memberitahu lebih jauh, benar ?" tanya Viltus
"Iya sih."
"..."
"Kau mengorbankan jumlah sumber daya untuk lebih memperkuat perlindungan antar Gadis Kapal yang terlibat di lini depan. Itu yang ingin kau raih, benar ? Dan aku yakin itu untuk melindungi Taihou."
"Tidak hanya Taihou." jawab Viltus
"Huh ?"
"Untuk semuanya, agar mereka semua kembali bersama-sama. Karena mereka memiliki seseorang yang menunggu mereka kembali di Yokosuka. Melihat wajah hancur dari Murasame dari jauh itu sangat menyakitkan bagi diriku. Aku tidak ingin ada yang mengalami hal tersebut, walaupun itu akan sangat sulit."
"Begitu, ya..."
"Konsekuensinya adalah kondisi ini akan membuat kondisi lebih runyam jika ada yang tenggelam."
"..."
"Sudahlah, aku tidak ingin membahas masalah ini lebih lanjut. Aku khawatir ini akan mempengaruhi diriku kembali."
Elisa langsung tersenyum mendengar hal tersebut. Elisa langsung mengelus kepala Viltus, dan membuat Viltus terkejut. Elisa sendiri langsung tersenyum dan berkata,
"Memang benar sih apa yang dikatakan banyak orang."
"Apa ?" tanya Viltus dengan wajah sedikit kesal
"Jika kami para wanita sama sekali tidak mempersiapkan diri pada saat berbincang-bincang dengan dirimu, pasti kami akan jatuh hati pada dirimu."
"Aku..."
"Aku tahu, kau sudah memiliki Taihou... Ahahahahaha, Aku penasaran apa wajah yang ditunjukkan oleh Taihou pada saat melihat diriku melakukan ini kepada dirimu."
"Entahlah..."
Elisa kembali tertawa melihat reaksi dari Viltus. Tidak berapa lama, Akira muncul membawa beberapa lembar foto. Elisa dan Viltus memperhatikan foto tersebut dan sangat terkejut. Mereka melihat seorang wanita dengan pakain putih panjang, dan memiliki kulit yang sangat pucat. Rambut hitam panjangnya sangat sesuai dengan tubuhnya. Namun, ada sesuatu yang sangat aneh. Di kepalanya terdapat sesuatu yang menyerupai tanduk. Viltus langsung berkata,
"Apa-apaan ini ?!"
"Pada saat saya pertama kali melihatnya pun juga sangat terkejut." ujar Akira
"Jika kita membahas Abyssal, mereka memiliki bentuk seorang wanita. Jadi, itu merupakan hal yang lumrah jika wanita ini adalah seorang Abyssal juga." ujar Elisa
"Namun, dia tidak memiliki perlengkapan sama sekali. Tidak seperti mereka yang memiliki bentuk humanoid lainnya." ujar Viltus
"Kau ada benarnya..." ujar Akira
Mereka bertiga berpikir sebentar, sebelum akhirnya Elisa berkata,
"Namun, tugas kita adalah menguasai pulau tersebut agar divisi utama dapat melakukan penyerangan, benar ?"
"Iya." jawab Viltus
"Sepertinya kau berpikir sesuatu, Senpai." tanya Akira
"Iya. Aku akan memberitahu semuanya pada saat pengarahan nanti sore. Katakan kepada Anastasia, Magyar dan Marcos untuk menemui diriku nanti sore. Elisa, beritahu Taihou dan Unryuu untuk datang juga."
"Siap" jawab mereka berdua
"Ah, nanti juga berikan laporan mengenai kesiapan semua Gadis Kapal di operasi ini. Apakah kau dapat memberikannya kepadaku, Elisa ?" tanya Viltus
"Tentu saja. Kecuali Kako, benar ?" jawab Elisa
"Iya." jawab Viltus
Ia langsung mohon undur diri untuk mempersiapkan pengarahan nanti sore perihal operasi selanjutnya dua hari ke depan dengan target utama menguasai pulau yang bersangkutan.
Semuanya sudah hadir di ruang pertemuan, dan melihat Viltus menaruh beberapa foto di atas meja, dengan peta di dekatnya. Viltus langsung berkata,
"Selamat sore semuanya, kita akan memulai pengarahan untuk operasi selanjutnya."
Semuanya langsung berjalan mendekati meja, dan kemudian Anastasia langsung menyadari sesuatu. Ia mengangkat tangan dan bertanya,
"Maafkan saya, namun di mana Laksamana Yanagi dan yang lainnya ?"
"Mereka semua dikirim untuk membantu divisi utama secara langsung. Perintah langsung dari Laksamana Masamune." jawab Viltus
Semuanya langsung terdiam. Viltus tersenyum sedikit dan kemudian langsung berkata,
"Baiklah, kembali ke masalah utama kita. Apakah kalian ingat mengenai target utama kita ?"
"Menguasai pulau yang dirumorkan menjadi salah satu pusat operasi lawan." jawab Marcos
"Tepat sekali. Namun, sekarang aku dapat yakin akan satu hal. Pulau tersebut merupakan salah satu Markas Angkatan Laut." ujar Viltus
"Dari mana kau yakin mengenai hal tersebut ?" tanya Taihou
"Akira, silakan dirimu menjelaskan foto yang berada di atas meja ini." ujar Viltus
Akira langsung mengangguk, dan menjelaskan mengenai foto yang ia dapatkan sehari sebelumnya tanpa pemberitahuan kepada Viltus maupun Taihou. Mereka semua memperhatikan foto tersebut dan kemudian Anastasia langsung berkata,
"Wanita ini ?!"
"Itu baru asumsi saja. Kita sama sekali tidak mengetahui apa hubungan antara dirinya dengan Abyssal di sekitarnya." ujar Viltus
"Namun, tanduk ini sangat aneh... Tanduk putih ini." ujar Marcos
"Itu yang membuatku berpikir bahwa dirinya adalah salah satu dari Abyssal." ujar Viltus kemudian
"Namun, tetap saja..." ujar Magyar sedikit tidak yakin
Semuanya terdiam sebentar, sebelum Elisa berkata,
"Namun, bukankah semua Abyssal yang kita hadapi terutama dari kelas Kapal Penjelajah Ringan ke atas memiliki bentuk humanoid ?"
"Itu ada benarnya." ujar Taihou
"Namun, untuk masalah ini... Wanita ini lebih menyerupai manusia, jika tidak memperhitungkan tanduknya." ujar Magyar
Perdebatan mengenai kondisi lawan pun semakin tinggi, hingga akhirnya Viltus memukul meja dan berkata,
"Semuanya diam !"
"..."
"Sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk memperdebatkan masalah ini. Kita sudah menghancurkan banyak Abyssal dengan bentuk humanoid selama ini. Mengapa sekarang kita mempermasalahkan ini sekarang ?"
"..."
"Kita akan menghancurkan pulau tersebut, dan jika perlu menghadapi Gadis ini." ujar Viltus
"Eh ? Bagaimana jika dia manusia ?!" tanya Marcos
"Maka, aku akan menanggungnya. Dan, jika dia adalah salah satu dari Abyssal, maka kita yang diuntungkan." ujar Viltus
Semuanya terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Viltus. Viltus langsung melanjutkan,
"Jika kita tidak menghancurkan pulau tersebut, kita akan kehilangan sangat banyak teman kita. Tujuan dari operasi ini adalah menguasai pulau tersebut, baik itu menghancurkan atau hanya membuat lawan tidak mengirim bantuan ke divisi utama kita."
"Mengenai itu..." ujar Marcos sembari menunduk
"Apakah kau akan mengorbankan nyawa teman-teman kita hanya untuk satu wanita yang tidak kita ketahui ini ?"
Semuanya langsung menunduk mendengar itu. Viltus sendiri langsung menutup matanya, dan menenangkan dirinya. Setelah itu, Viltus langsung berkata,
"Elisa, berikan laporanmu sekarang."
"Ah... Eh... Baik... Ummmm..." jawab Elisa dengan panik
"..."
"Furutaka, Yamashiro, Yahagi dan Noshiro sudah dapat diturunkan. Akatsuki pun juga demikian. Namun, Inazuma dan Kako terpaksa dikirim pulang karena kerusakan mereka cukup parah." ujar Elisa
"Terima kasih, Elisa."
Viltus menyadari suasana di dalam ruangan tersebut menjadi sangat berat. Viltus langsung kembali berkata,
"Aku sudah mengatakannya, biar diriku saja yang menanggungnya. Kalian tidak perlu membawa beban tersebut."
"Namun, tetap saja." ujar Marcos
"Untuk meraih sesuatu bernama kedamaian, kita memang harus mengorbankan sesuatu. Dan jika perlu menjadi iblis seperti ini. Kau tidak dapat selamanya bermain bersih." ujar Viltus
"Kami tahu itu." ujar Anastasia
"Aku akan melanjutkan ke komposisi setiap divisi walaupun kalian tidak siap. Taihou."
"Ah... Siap." ujar Taihou
"Armada pertama dan kedua memiliki komposisi mayoritas Kapal Induk, Armada pertama dengan Kapal Utama Taihou, Zuikaku dan Shoukaku dengan divisi pendukung Yahagi, Noshiro, dan Michisio. Sementara Armada kedua dengan Kapal Utama Unryuu, Amagi, Katsuragi dan divisi pendukung Akatsuki, Hibiki, dan Ikazuchi."
"Aku akan menurunkan semua divisiku ?" tanya Akira
"Iya. Kita akan benar-benar menyerang pulau tersebut dengan kekuatan penuh." jawab Viltus
"Baik..."
"Aku akan melanjutkannya, Armada ketiga dengan Kapal Utama Yamashiro, Mogami, dan Ryuujou dengan divisi pendukung Hatsuzuki, Teruzuki, dan Furutaka. Sementara Armada keempat dengan kapal utama Fusou dan Agano dengan divisi pendukung Akizuki, Asagumo, Shigure, Yamagumo, dan Agano." ujar Viltus
"Kita langsung menurunkan empat armada. Seperti biasa." ujar Elisa sembari menghela nafas
"Jika boleh tahu, apakah semua perlengkapan dalam keadaan prima ?" tanya Viltus
"Ya, semuanya dalam keadaan prima." ujar Elisa
"Baguslah. Apakah kita masih memiliki peluaru Type 3 ?"
"Masih ada, namun jumlahnya cukup terbatas." jawab Elisa
"Jika boleh tahu, ada berapa jumlahnya ?"
"Kita hanya memiliki dua puluh peluru saja."
Viltus dan Elisa melanjutkan pembicaraan mereka, sementara yang lain masih memperhatikan foto yang ada di hadapan mereka. Foto tersebut benar-benar membuat bingung banyak orang, apakah wanita tersebut Abyssal atau manusia normal. Hingga akhirnya Akira bertanya,
"Sepertinya ini pertama kalinya kalian seperti ini, ya ?"
"Iya. Viltus sedikit... dingin." jawab Magyar
"Namun, sepertinya itu merupakan keputusannya setelah memikirkan masalah ini cukup lama." ujar Akira
"..."
"Semua keputusan itu sangat sulit untuk diambil. Ada orang yang dapat mengambil keputusan dengan cepat, apapun resikonya. Adapula yang sangat sulit untuk mengambil keputusan sendiri."
"Kami tahu mengenai hal tersebut." ujar Anastasia
"Kita dapat dikatakan beruntung Senpai dapat mengambil keputusan dengan cepat. Walaupun itu akan menimbulkan perdebatan seperti ini. Saat ini waktu adalah segalanya." ujar Akira
Anastasia, Magyar, dan Marcos melihat satu sama lain dan langsung menghela nafas saja. Mereka sadar saat ini, waktu mereka sangat sempit. Mereka benar-benar ditunggu oleh Divisi utama agar menghentikan bantuan pesawat dari lawan.
Tidak berapa lama, Viltus sudah selesai menanyakan semuanya kepada Elisa dan kemudian berkata,
"Baiklah... Kita aku akan memulai memberitahukan taktik kita kepada kalian semua."
Viltus langsung menunjuk ke dua pulau yang sebelumnya disisir oleh Viltus, Ia langsung berkata,
"Armada dari Fusou dan Yamashiro akan menyerang melalui tempat ini lagi. Tugas mereka adalah menghancurkan apapun yang lewat kemari dan terus maju ke arah pulau tersebut. Mereka semua akan dilengkapi dengan persenjataan berat mereka ditambah Type 3 untuk menghadapi pesawat yang datang. Untuk semua Kapal Perusak, mereka akan menggunakan perlengkapan untuk menghadapi pesawat juga."
"Penggunaan serangan udara... Kau yakin menggunakan itu semua ?" tanya Marcos
"Lawan kita memiliki pesawat yang cukup banyak. Selain itu, dikarenakan kita menurunkan lebih banyak Carrier dengan tujuan ofensif, tentu saja pesawat tersebut tidak dapat terus melindungi divisi Fusou dan Yamashiro." ujar Viltus
"Apa yang dikatakan oleh Senpai ada benarnya. Itu merupakan keputusan terbaik saat ini, mengingat kita akan menghadapi cukup banyak pesawat." ujar Akira
"Jika kau berkata demikian, maka itu akan kusiapkan." ujar Elisa
"Terima kasih, Elisa. Aku akan melanjutkannya." ujar Viltus
Viltus langsung menunjuk sisi barat dari pulau, dan juga sisi barat daya dari pulau. Viltus langsung berkata,
"Unryuu kau akan mengirimkan pesawat dari sisi barat lawan. Kirim setengah dari pesawatmu untuk ke lini depan. Setelah itu, aku bergerak ke arah utara untuk melakukan pencegatan terhadap divisi transportasi lawan." ujar Viltus
"Divisi transportasi ?" tanya Unryuu
"Iya."
"Anda yakin dengan hal tersebut ?" tanya Unryuu sekali lagi
"Berdasarkan laporan yang masuk sebelumnya, mereka pasti akan mengirimkan divisi transport ke arah pulau itu." ujar Viltus
Viltus langsung mengambil sebuah pion, dan kemudian menaruhnya di atas peta. Ia kemudian menggerakkan pion tersebut mendekati pulau tersebut. Viltus langsung melanjutkan,
"Tugasmu sebisa mungkin menghancurkan divisi tersebut. Namun, bila mereka sudah memasuki 50 KM dari pulau tersebut, biarkan saja."
"Baik." ujar Unryuu
"Untuk divisi Yamashiro dan Fusou, mereka akan mengincar sesuatu yang menarik perhatianku." ujar Viltus
"Menarik perhatianmu ? Apakah itu ?" tanya Anastasia
Viltus mengambil dua buah foto, dan kemudian berkata,
"Menurut kalian ini apa ?"
Mereka semua melihat foto tersebut, dan langsung terkejut. Di balik dari hutan yang lebat tersebut, mereka melihat sesuatu yang menyerupai landasan pacu. Selain itu, mereka pun melihat banyak meriam untuk serangan jarak jauh dari foto kedua. Viltus langsung berkata,
"Pulau ini benar-benar merupakan sebuah markas."
"Dan wanita tersebut..." ujar Magyar yang langsung disela oleh Viltus
"Jangan memikirkan wanita tersebut. Target kita adalah kedua benda ini. Jika dia terkena ledakannya, ia merupakan korban tidak langsung dari pertempuran ini." ujar Viltus
Semuanya langsung terdiam mendengar hal tersebut. Setelah itu, Viltus melihat ke peta dan berkata,
"Armada Taihou akan melakukan penyerangan dengan menggunakan pesawat dan menghancurkan pesawat sebanyak mungkin. Target utama mereka adalah mengurangi jumlah pesawat lawan sebanyak mungkin."
"Bukankah sebelumnya sudah berkurang banyak ?" tanya Taihou
"Namun, aku kurang yakin dengan hal tersebut. Apalagi dengan adanya sesuatu seperti ini." ujar Viltus sembari mengambil foto lain.
Mereka memperhatikan di sana terdapat sesuatu yang bulat dan sangat banyak. Viltus langsung berkata,
"Di benda bulat tersebut, aku melihat sesuatu yang menyerupai sirip dari pesawat. Aku khawatir itu merupakan salah satu dari senjata Abyssal yang tidak kita ketahui."
"Bentuk mereka sangat aneh... Bulat... Seperti Takoyaki." ujar Anastasia
"Kita masukkan saja untuk persiapan." ujar Viltus
"Baik, jika kau berkata demikian." jawab Taihou
"Kita akan memulai operasi ini pada jam 0900, aku harap kalian akan berkumpul pada jam 0830. Apakah kalian mengerti ?" tanya Viltus
"Baik !" teriak semuanya
"Kalian diijinkan untuk pergi dari ruangan ini." ujar Viltus
Satu per satu mulai keluar dari ruangan tersebut, kecuali Taihou. Taihou berjalan ke dekat Viltus dan bertanya,
"Kau..."
"Aku tahu... Sangat kejam..." ujar Viltus sembari memalingkan wajahnya.
Viltus tertawa lirih, dan kemudian bermaksud berjalan keluar. Taihou langsung menarik lengan bajunya, dan kemudian berkata,
"Aku tahu... Kau sangat tertekan..."
"..."
Viltus sama sekali tidak melihat ke belakang, namun ia tahu Taihou sangat khawatir dengan kondisinya. Namun, ia sama sekali tidak tahu apa yang harus ia katakan. Tidak berapa lama, Taihou melepas lengan baju Viltus, dan menunduk ke bawah. Viltus berbalik dan kemudian mengelus kepala Taihou. Ia berkata,
"Ini akan sangat berat... Aku tahu itu..."
"Iya... Pengorbanan memang harus dilakukan." ujar Taihou
Taihou melihat wajah Viltus yang memaksakan tersenyum. Ia semakin yakin, Viltus benar-benar sangat tertekan. Taihou sendiri langsung memegang pipi dari Viltus dan berkata,
"Kita lakukan saja yang terbaik..."
"Iya..."
Mereka berdua berjalan bersama meninggalkan ruangan tersebut, untuk beristirahat hari itu.
Keesokan harinya, Viltus sudah tiba di kapal komandonya lebih dahulu dari semua anggota krunya. Ia memperhatikan semua mekanik yang sedang mempersiapkan semua perlengkapan untuk Gadis Kapal. Ia langsung masuk ke dalam kapal komandonya, dan menyapa semua orang yang sudah ada di dalam ruangan tersebut.
Setelah itu, ia membaca laporan kesiapan dari kapal komandonya. Tidak terlalu banyak perubahan, dan semua sistem berjalan dengan normal. Viltus langsung bergumam,
"Sekarang tinggal Anastasia dan Magyar melakukan penyesuaian sesuai dengan yang mereka harapkan. Untuk masalah persenjataan..."
Viltus membaca laporan mengenai jumlah semua peluru yang dibutuhkan oleh kapal komandonya, dan bergumam,
"Ini semuanya lebih dari cukup... Semoga tidak ada masalah."
Ia langsung menaruh laporan tersebut dan membantu salah satu mekanik yang meminta bantuannya sebentar. Setelah itu, ia kembali ke ruang komandonya dan menemukan Magyar, Anastasia dan Marcos yang sudah ada di dalam ruangan tersebut. Magyar melihat ke arah Viltus dan langsung berkata,
"Aku akan bertanya kepada dirimu sekali lagi, apakah..."
"Kita akan tetap melakukannya." ujar Viltus
"Kau..."
"Aku sudah memikirkan semuanya dengan seksama. Kita tidak memiliki waktu yang cukup untuk masalah ini. Jika kita terus berdebat untuk hal seperti ini, aku khawatir kita akan kehilangan beberapa Gadis Kapal di divisi utama." ujar Viltus
"Baiklah... Baiklah..." ujar Magyar sedikit menyerah
"Namun, kita lihat saja nanti." ujar Viltus mendadak sembari berjalan ke arah kursinya.
Semuanya melihat ke arah Viltus dengan wajah terkejut. Viltus sendiri langsung mengambil laporan baru yang datang tanpa memperdulikan apapun yang dilakukan oleh ketiga krunya. Anastasia langsung tersenyum dan bertanya,
"Jadi, apakah kalian masih ingin mengikuti dirinya ?"
"Orang yang memiliki sesuatu yang disembunyikan dari kita... Terkadang menyebalkan, namun itulah dirinya. Dan itu sangat menarik. Jadi, aku akan tetap mengikuti dirinya." ujar Magyar
"Aku akan tetap mengikuti dirinya apapun keputusannya. Lagipula diriku bergabung ke divisinya karena diriku yang ingin. Tidak ada gunanya aku membenci orang ini. Orang ini memiliki banyak kejutan." ujar Marcos
"Lihat ?" tanya Anastasia sembari berjalan ke mejanya.
Marcos dan Magyar hanya dapat tertawa kecil saja dan berjalan ke arah meja mereka. Mereka bertiga mempersiapkan diri mereka untuk penyesuaian sistem mereka. Tidak berapa lama, satu per satu Gadis Kapal masuk. Viltus langsung mengaktifkan sistem radio dari kapal komando dan berkata,
"Kapten Amarov kepada Komandan Aoki, apakah armada anda siap ?"
"Semuanya siap, Kapten Amarov." jawab Akira
"Dalam hitungan beberapa menit dari sekarang, kita akan mulai bergerak sesuai dengan apa yang kuberitahu kemarin sore. Kita akan menjalankan misi ini dengan sepenuh tenaga kita. Apakah kalian semua mengerti ?" ujar Viltus
"Siap !" teriak semuanya termasuk di sisi Akira
"Baiklah, saya tidak akan mengganggu persiapanmu Komandan Aoki. Semoga semuanya akan baik-baik saja di operasi ini." ujar Viltus
"Bukan masalah, dan begitu pula dengan dirimu Kapten Amarov. Semoga semuanya baik-baik saja untuk anda." ujar Akira
Viltus langsung langsung tersenyum dan kemudian mematikan radio sebentar. Ia kemudian berdiri dan memberikan pengarahan terakhir untuk semuanya. Hingga akhirnya waktu yang ditentukan sudah tiba. Viltus langsung berkata,
"Apakah semuanya sudah siap ?"
"Sonar sudah aktif, tidak masalah." jawab Anastasia
"Radar hijau ! Kita dapat berangkat kapanpun yang kau mau, Viltus !" jawab Magyar
"Sistem persenjataan hijau. Kita dapat berangkat sekarang, Kapten." jawab Marcos
"Baiklah. Laksamana kepada sistem, aktifkan mesin kita akan bergerak sekarang !"
Kapal komando Viltus mulai bergerak. Pertempuran mereka untuk operasi tersebut pun dimulai.
Viltus menunggu dengan tenang di kapal komandonya, sembari mendengarkan semua laporan dari Gadis Kapal yang terlibat di operasi tersebut. Semuanya memberitahukan perihal banyak pesawat lawan, selain itu terdapat pula beberapa pesawat yang bentuknya berbeda. Seperti yang terlihat di foto sebelumnya.
Viltus langsung mengambil satu botol air minum dan sembari membuka tutupnya, ia berkata,
"Hmmmm... Jumlah pesawat yang mendekati mereka sangat banyak..."
"Itu terlihat jelas dari radar kita sih..." ujar Magyar
Viltus meminum botolnya sebentar, dan kemudian berjalan ke arah Magyar. Ia melihat banyak titik di radar mereka yang terhubung dengan semua radar Gadis Kapal. Viltus langsung berkata,
"Akizuki, Teruzuki dan Hatsuzuki pasti akan sangat lelah setelah ini."
"Tidak hanya mereka. Semuanya pasti akan sangat lelah." ujar Anastasia
"Aku tahu... Aku tahu... Ahahahahaha." ujar Viltus
Berdasarkan laporan dari Taihou dan Fusou, pesawat jenis baru tersebut memiliki pergerakan yang lebih lincah dari biasanya. Dan hal tersebut mempersulit mereka semua untuk menghancurkan mereka semua. Tidak berapa lama ada panggilan dari Akira,
"Kapten Amarov, Unryuu telah menghancurkan sebagian dari kapal pengangkut lawan. Dan mereka sudah memasuki daerah 50 KM dari pulau."
"Tarik mundur pesawat Unryuu dan yang lainnya, fokus untuk melindungi Fusou dan Yamashiro." ujar Viltus
"Huh ? Kenapa memangnya ?"
"Taihou dan Fusou memberitahu diriku adanya pesawat jenis baru yang cukup lincah. Jadi, aku harus mengirimnya ke sana untuk tenaga bantuan."
"Baik, Kapten Amarov. Akan saya laksanakan." ujar Akira
Akira menutup komunikasi, dan Viltus sendiri langsung melihat ke arah peta. Ia memperhatikan dengan seksama semua posisi dari Akira, Unryuu, Taihou, Fusou dan Yamashiro. Akhirnya, Viltus berkata,
"Magyar !"
"Ada apa, Viltus ?" tanya Magyar
"Menurutmu, mungkinkah kita menyerang lawan dari jarak Fusou dan Yamashiro sekarang ?"
"Memangnya berapa jaraknya ?" tanya Magyar
"Berdasarkan laporan terakhir, jarak mereka masih 500 KM dari posisi pulau target."
"Hmmmm... Sulit juga..." jawab Magyar
"Jika kau ingin membombandir pulau tersebut, jarak tersebut masih terlalu jauh. Jika kau mau masuk ke kawasan 75-100 KM dari pulau, walaupun masih belum sepenuhnya akurat." ujar Marcos mendadak
"Begitu ya... Hmmmm..." jawab Viltus sembari berpikir
Namun pada saat Viltus melihat ke depannya, semuanya mendadak berhenti bergerak. Viltus langsung melihat ke kiri dan kanannya, dan melihat pria yang ia lihat di mimpi duduk di kursinya. Viltus langsung berkata,
"Hakai..."
"Lama tidak jumpa, ahahahahahaha." jawab pria bernama Hakai tersebut
"Apa maumu kemari ?"
"Hanya ingin melihat dirimu saja menghadapi lawan tersebut."
"..."
"Ya, itu bukan..."
"Hakai... Apakah kau tahu mengenai suara seorang wanita yang telah membantuku ?" tanya Viltus mendadak
"Seorang wanita ? Ah... Dia rupanya."
"Siapa ?"
"Seseorang yang sangat dekat dengan dirimu... Walaupun kau sudah melupakannya."
"Apakah itu Kaede ?"
"Bukan Kaede... Tetapi yang lain."
"Huh ?"
"Kau tidak perlu tahu lebih lanjut lagi. Kau akan mengetahui itu, seiring waktu yang berjalan."
Hakai langsung berdiri dan melewati Viltus. Dan pada saat itulah, Hakai melihat ke arah Viltus, tersenyum dan berkata,
"Jika kau masih ingin hidup... Menghindar."
"Huh ?"
"Aku tidak akan mengulanginya... Sampai jumpa, Ahahahahaha"
Viltus bermaksud mengejar Hakai, namun ia mendengar suara yang lainnya memanggil dirinya. Viltus langsung membuka matanya, dan melihat wajah khawatir dari Anastasia, Magyar dan Marcos. Anastasia langsung berkata,
"Jangan pingsan sekarang, Viltus..."
"Ahahahaha... Cuma sedikit..." jawab Viltus yang langsung disela oleh Magyar
"Untung saja Taihou tidak tahu mengenai hal ini. Jika dia tahu, pasti semuanya kacau."
"Maaf... Maaf..."
Viltus meminta maaf kepada semuanya, sembari memikirkan apa yang dikatakan oleh Hakai sebelumnya. Ia mengingat wajah Hakai yang tersenyum pada saat berkata seperti itu. Dan ia melihat ke arah radar milik Magyar. Ia terus meminta maaf, hingga menyadari sesuatu. Radar milik Magyar sama sekali tidak menampilkan kondisi di sekitar kapal komando. Viltus langsung berkata,
"Magyar... Radar kita..."
"Kenapa ? Eh ? Kenapa ini mati ?!" ujar Magyar
Semuanya sangat terkejut mendengar hal tersebut. Dan karena hal tersebut, Viltus langsung berteriak,
"Laksamana kepada sistem ! Nyalakan mesin sekarang, bergerak dengan kecepatan penuh. Arahkan 45 derajat ke arah kanan !"
"Viltus kau kenapa ?" tanya Anastasia
"Semuanya bersiap-siap dengan ledakan !" teriak Viltus
Semuanya masih bingung, dan dalam hitungan detik mereka mendengar ledakan di dekat mereka. Mereka langsung kembali ke posisi masing-masing, begitu pula dengan Viltus yang langsung duduk di kursinya. Marcos langsung berkata,
"Kita memutar sekarang saja !"
"Tidak bisa jika memutar sekarang kita akan menjadi sasaran empuk untuk mereka semua." ujar Viltus
"Kau benar..."
"Marcos, siapkan satu slot chaff grenade pada hitungan 60 detik setelah aku mengarahkan kapal ini semakin ke arah kanan." ujar Viltus
"Ah... Baik..." ujar Marcos yang langsung menyiapkan semuanya
Viltus melihat Magyar yang sedikit takut karena ia hampir saja membawa kematian untuk semuanya. Viltus langsung berkata,
"Magyar, ini bukan salahmu."
"..."
"Ini semua karena diriku yang pingsan tadi, sehingga diri tidak, huh ?" ujar Viltus yang langsung disela oleh Magyar
"Ya... Ini salahku juga sih. Ini dapat menjadi pembelajaran juga. Jika aku terus menerus dilindungi oleh dirimu, aku khawatir diriku akan karatan." ujar Magyar
Viltus langsung menghela nafas dan sadar Magyar benar-benar sudah berubah. Ia langsung berdiri dan kemudian berkata,
"Magyar, terus perhatikan pergerakan pesawat dan kapal lawan."
"Siap, Kapten." ujar Magyar
"Anastasia..."
"Aku sudah tahu, aku akan melakukannya." ujar Anastasia
"Marcos, siapkan torpedo dan ledakkan 360 detik setelah masuk ke dalam air. Setelah itu, arahkan semua perlengkapan untuk menghadapi pesawat."
"Siap, Kapten." jawab Marcos
"Laksamana kepada sistem. Hubungi Taihou sekarang." ujar Viltus
Tidak berapa lama, Taihou langsung menjawab dengan nada cukup khawatir,
"Viltus ! Kau baik-baik saja ?! Tadi aku..."
"Sebuah peluru hampir mengenai kapal komando." ujar Viltus dengan tenang
"Eh ?! Hampir ?!"
"Sudahlah, yang penting adalah kami semua selamat. Kami akan memindahkan kapal komando ke tempat yang lebih aman."
"Kau yakin semuanya..."
"Lanjutkan misimu, kami semua dalam keadaan waspada saat ini. Jadi kau tidak perlu khawatir."
"Tetapi..."
"Lanjutkan saja, Taihou. Percaya saja pada kami."
Terdapat keheningan dari sisi Taihou selama beberapa detik, dan itu membuat Viltus sedikit khawatir. Hingga akhirnya, Taihou berkata,
"Baiklah..."
"Terima kasih sudah mau mendengarkan perintahku." ujar Viltus
"Tapi, Kau harus kembali dengan selamat ! Aku tidak ingin melihat semua anak-anak ini menangis karena kematianmu mengerti !"
"Aku tahu... Aku tidak akan mati di sini."
Viltus mendengar Taihou menghela nafas, dan langsung tertawa. Setelah itu, Viltus berkata,
"Lanjutkan misimu."
"Baik, Laksamana." jawab Taihou
Setelah itu, Viltus langsung berdiri dan berkata,
"Kita harus sebisa mungkin menghindari serangan mereka. Kita akan pindah ke lokasi kedua dan kemudian bergerak ke posisi darurat, apakah kalian mengerti ?"
Tidak ada yang memberi komentar mengenai rencana dari Viltus dan dengan keputusan bulat, mereka langsung bergerak.
Sesampainya di lokasi kedua, ia dapat melihat dengan jelas ledakan di daerah pulau lawan dengan menggunakan teropong miliknya. Ia langsung tersenyum dan kemudian langsung terdiam sebentar dikarenakan melihat satu hal. Seorang wanita yang menatap tajam ke arah dirinya di pantai dari pulau tersebut.
Viltus melihat wajah dari gadis itu, dan melihat dengan jelas wajah kesepian dan rasa benci darinya. Ia membaca dari bibir wanita tersebut berkata,
"Kalian... Tidak... Mengerti..."
Viltus langsung berkata,
"Tidak mengerti apa... Eh, tunggu sebentar... Dia dapat berbicara ?!"
Viltus melihat kembali ke wanita tersebut, dan berpikir sebentar. Dan tidak berapa lama, wanita tersebut masuk ke dalam hutan. Viltus diam sebentar untuk beberapa saat, hingga akhirnya ia masuk ke dalam ruang komando, menghubungi Yamashiro dan kemudian bertanya kepadanya,
"Yamashiro, berikan laporan mengenai pulau tersebut."
"Seluruh target di pulau tersebut sudah hancur. Apakah saya harus..." jawab Yamashiro yang langsung disela oleh Viltus
"Semuanya kembali, target kita sudah tercapai. Pulau tersebut tidak dapat memberikan bantuan kepada target utama dari divisi utama." ujar Viltus
"Baguslah..."
"Aku yakin kau sudah mendengar mengenai situasi di pulau tersebut, benar ?"
"Iya..."
"Gadis itu masih selamat. Aku melihatnya di pantai menggunakan teropong milikku."
"Eh ? Begitukah ?!"
"Sudah, balik saja kemari."
"Baik."
Setelah itu, Viltus melihat ke arah semua anggota krunya yang terlihat sangat tenang mendengar kabar tersebut. Viltus langsung berkata,
"Tidak ada korban dari pihak yang tidak terlibat, benar ?"
"Iya... Ahahahahaha." ujar Magyar sembari meminum air mineralnya
"Aku akan melaporkan hal ini kepada Akira dan ayah. Setelah itu, kita akan kembali ke markas darurat lalu ke Yokosuka. Dan kemudian, kalian semua akan mendapatkan libur."
"Baguslah ! Ahahahahaha." ujar Marcos
Viltus sendiri langsung melakukan yang baru saja ia bicarakan, dan kemudian langsung duduk di kursinya. Namun, pikirannya fokus ke hal lain. Apa yang menjadi alasan bagi Hakai untuk muncul di hadapannya dan juga siapakah gadis di pulau tersebut. Namun, pikiran tersebut ia kesampingkan karena mendapat panggilan dari atasannya, dan juga dari Gadis Kapalnya.
Semua Gadis Kapal sudah kembali ke kapal komando Viltus. Beberapa berada di geladak kapal, sebagian di ruang komando bersama dengan kru Viltus. Sementara, Viltus sendiri sudah meminta ijin untuk ke kamarnya lebih dahulu karena merasa sedikit kurang sehat. Taihou mengerti sesuatu terjadi pada Viltus selama dirinya di lini depan. Ia langsung berjalan ke ruangan Viltus, mengetuk pintunya, dan mendengar ijin dari Viltus.
Taihou masuk ke dalam dan menemukan Viltus yang sedang melihat ke langit-langit dari kasur. Ia dapat melihat dengan jelas wajah yang penuh pertanyaan dari Viltus. Maka, ia langsung duduk di kasur Viltus, dan tersenyum ke arahnya. Viltus langsung duduk, dan kemudian berkata,
"Kau tentu saja mengetahui apa yang terjadi, benar ?"
"Lebih kurang mengerti dari wajahmu." jawab Taihou
Viltus langsung tersenyum dan kemudian menggunakan paha Taihou sebagai bantalnya. Taihou langsung tersenyum melihat kelakukan dari Viltus, dan kemudian mengelus rambut Viltus. Taihou kemudian berkata,
"Apakah kau melihat sesuatu yang aneh kembali ?"
"Mengapa kau bertanya demikian ?" tanya Viltus
"Habis tadi Anastasia bercerita bahwa dirimu sempat pingsan."
"Ahahahahaha."
"Jangan tertawa seperti itu ! Aku khawatir mengerti..."
"Maaf... Maaf..."
Viltus langsung mengusap pipi dari Taihou yang kesal dan kemudian berkata,
"Aku bertemu dengan seseorang... Pada saat pingsan..."
"Hakai ?"
"Kau dapat menebaknya dengan benar."
"Apa yang kali ini kau lihat ?"
"Dirinya yang memberi peringatan kepada diriku. Seakan-akan dia sama sekali tidak ingin kehilangan diriku."
Taihou melihat Viltus dan langsung berkata,
"Pasti ada hal lain yang kau khawatirkan."
"..."
"Viltus ?"
"Ini mengenai apa yang kulihat di pulau tersebut."
"Huh ?"
"Aku membaca apa yang dikatakan oleh wanita di pulau tersebut sebelum menghilang. Kita tidak mengerti apapun. Aku benar-benar tidak mengerti apa yang dimaksud oleh dirinya."
Taihou melihat wajah dari Viltus yang semakin bingung, dan langsung tersenyum. Ia langsung mengelus pipi dari Viltus kembali dan berkata,
"Kau ini... Terlalu banyak memikirkan hal yang aneh-aneh."
"Begitukah ?" tanya Viltus
"Iya. Jangan berpikir yang aneh-aneh deh... Nanti kerutanmu makin bertambah."
"Iya... Iya... Huh ?"
Viltus melihat ke arah pintu dan mendengar suara yang cukup aneh. Taihou pun mendengarnya. Seperti suara seseorang yang berlari melewati depan pintu mereka. Viltus berdiri dan diikuti oleh Taihou. Pada saat Viltus membuka pintunya, ia seperti melihat seseorang dengan rambut pink lewat di depan mereka. Taihou dan Viltus langsung melihat satu sama lain, dan melihat ke kiri dan kanan. Tidak ada apapun. Viltus langsung berkata,
"Sepertinya... Aku terlalu lelah untuk berhalusinasi seperti itu."
"Iya... Ahahahaha..." jawab Taihou.
"Hei, Taihou... Temani aku..."
"Aku tahu koq..."
Viltus langsung menutup pintunya agar tidak ada yang mengganggu mereka berdua. Dan dengan hal ini, operasi untuk divisinya dan Akira pun telah berakhir. Mereka diijinkan untuk kembali ke Yokosuka untuk beristirahat.
Awan gelap menutupi langit yang indah di atas. Peluru mulai berjatuhan ke mana-mana. Pertempuran antara manusia dan Abyssal semakin panas. Dan itu yang dirasakan oleh seorang gadis kapal di sana. Dirinya telah cedera parah, sendirian dan di depannya mereka melihat seorang Abyssal yang sangat ia kenal.
Abyssal dengan satu tanduk yang telah membunuh 'Ayah'nya di Angkatan Laut. Ia memiliki kesempatan untuk menghadapi Abyssal, namun hal tersebut sangat tidak mungkin dengan kondisinya sekarang. Divisinya sudah kembali atas permintaannya, dan itu dikarenakan kondisi dirinya hanya akan memperlambat pergerakan mereka.
Ia melihat ke arah Abyssal tersebut dan mendengar suara yang ia kenal,
"Kau tidak ikut mereka ?"
"Tidak... Aku di sini.. Agar mereka dapat kabur..." ujar Gadis Kapal tersebut
"Sungguh berani... Dan sangat idiot... Sama seperti anakku yang idiot itu."
"Ahahaha..."
"Kau sudah tahu ini mustahil, namun dirimu masih saja ingin melawan. Mengapa ?"
"Ini kesempatanku... Untuk membalas... Atas apa yang terjadi pada Bibi dan Ayah."
"Ah... Mereka berdua..."
"Aku akan menghabisi dirimu di sini."
Gadis Kapal tersebut tersenyum sembari memberitahu hal tersebut. Namun, ia tahu hal tersebut sangat mustahil. Tidak berapa lama, ia melihat seorang Gadis Abyssal yang kakinya telah hilang. Rambutnya yang diikat dengan mode Sidetail, mengingatkannya pada seseorang. Kedua Abyssal tersebut berbincang singkat,
"Kau pergi ke mana saja ?" tanya Abyssal dengan satu tanduk
"Membantu Oni-chan." ujar Gadis Abyssal
"Ah... Jadi, dia hampir mati ya ?"
"Iya... Dia belum dapat kuajak sekarang."
"Memang belum waktunya..."
Mereka melihat ke arah Gadis Kapal tersebut dan langsung tersenyum. Senyum tersebut mengatakan bahwa mereka lupa ada kehadiran Gadis Kapal tersebut walaupun hanya sebentar. Gadis Kapal tersebut menembak mereka dan bergerak sedikit. Namun, hal tersebut sia-sia karena serangan telak dari Abyssal dengan satu tanduk tersebut.
Hempasannya cukup untuk menghancurkan seluruh perlengkapannya, dan ia merasakan tubuhnya yang masuk ke dalam air yang dingin di bawahnya. Ia melihat keindahan dari air di hadapannya, dan kemudian langsung tersenyum. Ia berkata di dalam hati,
"Ahahahaha... Maafkan aku... Aku tidak dapat kembali... Maaf..."
Ia menutup matanya dan kemudian langsung berkata,
"Mama... Maafkan aku ya... Aku menyusul papa.. Walaupun demikian... aku masih sayang sama mama..."
Ia langsung melihat ke atas kembali dan melihat ikat rambut yang diberikan oleh seseorang. Ia langsung berkata,
"Paman... Jangan marahi siapa-siapa... Ini merupakan pengorbanan untuk sesuatu yang lebih besar... Semoga paman... Mengerti..."
Tidak berapa lama, ia melihat sesosok pria yang tersenyum ke arah dirinya. Ia mengulurkan tangannya, yang langsung diterima oleh Gadis Kapal tersebut. Gadis Kapal tersebut langsung berkata,
"Aku pulang,pyon... Papa kita akan memperhatikan mereka bersama-sama"
Ia menutup matanya, dan membiarkan tubuhnya tenggelam di laut dalam.
HakunoKazuki di sini !
Rencana chapter ini akan menjadi chapter yang cukup ringan, yang ternyata menjadi semi-ringan
H : Huh ? Semi-ringan ? Apa-apaan itu ?
HK : Entahlah
Saat ini saya sedang memproses sesuatu untuk cerita One Shot lainnya dan original story... Jadi harap maklum...
Sebenarnya saya ingin mengerti lebih lanjut mengenai taktik dalam dunia kemiliteran, terutama dari angkatan laut dalam hal istilah khusus dan penggunaan perlengkapan mereka. Dan juga beberapa perlengkapannya.
H : Bukannya bisa lewat Internet ya ?
HK : Kalau ada yang mau mengajarkan, mengapa tidak ?
H : Jika ada.
Sekian saja dari saya. Semoga kalian masih menikmati seri ini ya
Sampai jumpa di chapter selanjutnya.
