Chapter 27
Anger
Armada milik Viltus Amarov dan Aoki Akira sudah sampai Yokosuka, dan mereka saat ini sedang menunggu informasi dan juga perintah tambahan dari armada utama di bawah arahan Laksamana Masamune Goroku dan Laksamana Yanagi Tadahisa. Dan selama menunggu perintah tersebut, Viltus membiarkan seluruh kru dan Gadis Kapal di bawah arahannya untuk beristirahat hingga muncul perintah tambahan.
Walaupun demikian, dirinya memilih untuk tetap bekerja selagi menunggu perintah tersebut. Ia memperhatikan kondisi dari seluruh Gadis Kapal di bawah arahannya, terutama kondisi dari Kako yang cedera lebih parah dari dugaan. Perlengkapan dari Gadis Kapal tersebut sudah rusak parah, dan memakan waktu yang cukup lama untuk memperbaikinya.
Setelah membaca hal tersebut, ia langsung menghela nafas dan kemudian bergumam,
"Dapat dikatakan Kako tidak dapat ikut di satu pun operasi dalam waktu dekat."
"Berarti cedera dia jauh lebih parah dari dugaan, ya ?" tanya seorang wanita
Viltus melihat ke depan dan melihat Taihou yang membawa secangkir teh untuk Viltus. Ia langsung menerimanya. Taihou sekali lagi bertanya kepada Viltus, yang langsung dijawab,
"Iya. Perlengkapan miliknya rusak parah ditambah dengan tubuhnya yang cedera cukup parah. Aku cukup yakin dirinya tidak akan ikut kita dalam waktu yang cukup lama."
"Kita kehilangan satu teman dong." ujar Taihou.
"Setidaknya ia dapat istirahat lebih lama."
"Ehehehehe..."
"Kau tidak iri ?"
"Tidak juga. Soalnya kalau aku tinggal di 'rumah' terus, aku tidak dapat melihatmu dalam beraksi."
"Maksudmu, agar dirimu tidak terpisah jauh dariku ?"
"Iya."
Taihou tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Viltus, yang langsung dibalas oleh Viltus. Tidak berapa lama, mereka mendengar ketukan dari pintu dan langsung diijinkan oleh Viltus. Di sana berdiri seorang pria yang sangat dikenal oleh Viltus. Seorang dokter yang selalu membantunya. Viltus langsung berdiri dan berkata,
"Selamat pagi, Dokter Shibata-san."
"Selamat pagi, Kapten Amarov." jawab Norio
Shibata Norio merupakan dokter 'pribadi' Viltus, di mana ia selalu mengukur kondisi tubuh dari Viltus. Viltus langsung berkata,
"Aku sama sekali tidak ingat mengenai kita memiliki pertemuan hari ini. Ada apa gerangan ?"
"Aku mendengar laporan dari krumu bahwa dirimu pingsan pada saat dirimu menjalankan misi." ujar Norio
"Ah... Ada yang memberitahu, ya ?"
"Maka dari itu, aku langsung datang kemari setelah dirimu istirahat sehari."
"Aku sudah cukup yakin diriku..."
"Viltus !" ujar Taihou mendadak
Viltus melihat ke arah Taihou, dan di sana ia tahu siapa pelaku yang memberitahukan masalah ini. Ia langsung menghela nafas dan kemudian berkata,
"Baiklah... Baiklah... Daripada membuat marah gadis ini."
Norio langsung tersenyum dan kemudian meminta tolong kepada Taihou untuk keluar sebentar. Setelah itu, Norio langsung memeriksa denyut jantung dari Viltus, mengambil sampel darah, dan berbagai hal medis lainnya. Norio kemudian bertanya,
"Viltus, pada saat kau pingsan saat itu... Apa yang kau rasakan sebelumnya ?"
"Aku tidak tahu." ujar Viltus
"Kau yakin ?"
"Iya."
"Jika demikian, aku akan bertanya hal lain. Apa yang kau lakukan sebelum kau pingsan ?"
"Tepat sebelum atau apa ?"
"Tepat sebelum."
"Berbicara dengan Magyar dan Marcos mengenai kemungkinan yang dapat diambil oleh kami semua."
"Lalu, apa yang kau lihat ?"
"Huh ?"
"Ada apa, Viltus ?"
Viltus diam sebentar, dan kemudian langsung berkata,
"Pria itu..."
"Pria yang kau sebut dengan nama Hakai ?"
"Iya. Ia muncul kembali di mimpiku walaupun hanya sebentar."
Norio mencatat apa yang dikatakan oleh Viltus, dan kemudian kembali mengambil sampel dari Viltus. Setelah itu, Norio berkata,
"Baiklah. Sebelum itu, apakah kau masih merasa kurang tidur ?"
"Tidak terlalu. Mengapa ?" tanya Viltus
"Jika demikian, aku dapat mengurangi pemberian obat tidur itu kepada dirimu."
"Iya, aku merasa tidak terlalu membutuhkan hal tersebut."
"Hooh ? Ada apa gerangan ?"
"Itu bukan masalah anda, Dokter Shibata."
"Sepertinya Taihou, ya ?"
Viltus langsung tertawa mendengar pertanyaan dari Norio. Norio langsung berdiri, dan kemudian berkata,
"Aku akan memberikanmu obat agar tubuhmu dapat sedikit lebih baik."
"Terima kasih banyak, Dokter Shibata." ujar Viltus
"Dan kau harus istirahat dahulu selama satu minggu."
"Heh ? Aku masih memiliki pekerjaan. Aku tidak yakin dapat beristirahat jika demikian."
"Apa aku perlu beritahu Taihou-san mengenai hal ini."
"Aah... Jangan beritahu dia. Biar diriku saja."
Norio langsung mendekati Viltus dan kemudian tersenyum. Viltus langsung takut melihat senyum yang ditunjukkan oleh Norio. Sebuah senyum penuh kemarahan. Norio langsung berkata,
"Maka dari itu, istirahat sekarang juga. Saya akan memberitahu Laksamana Masamune dan Laksamana Yanagi perihal hal tersebut."
"Baiklah..." ujar Viltus dengan wajah sedikit kecewa.
Norio langsung menghela nafas dan kemudian berjalan ke depan pintu. Ia kemudian berkata,
"Baiklah Viltus, saya pergi dahulu. Jika kau ada keperluan tertentu, temui diriku di kantorku."
"Baik, Dokter Shibata."
"Saya mohon undur diri dahulu."
Norio kemudian langsung keluar dari kantor Viltus, sementara Viltus langsung duduk kembali di kursinya. Ia menghela nafas dan kemudian langsung mendengar Taihou yang masuk kembali ke dalam kantornya. Taihou melihat wajah Viltus dan kemudian bertanya,
"Ada apa, Viltus ?"
"Aku akan beristirahat selama satu minggu." jawab Viltus
"Eh ?! Tumben..."
"Perintah dari Dokter Shibata."
Taihou langsung tertawa, dan itu dikarenakan untuk pertama kalinya ia melihat Viltus yang mengikuti permintaan orang lain jika disuruh istirahat. Walaupun demikian, ia sedikit khawatir karena satu hal. Viltus langsung tahu, dan berkata,
"Aku akan meminta Akira untuk mengurus semuanya selagi diriku istirahat."
"Ah... Baiklah."
"Dan aku akan meminta Marcos untuk menjadi pemimpin sementara dari kapal komando selama diriku istirahat. Dengan begini, tidak akan terlalu banyak masalah untuk membantu armada utama."
Taihou langsung mengelus kepala Viltus dan kemudian berkata,
"Lebih baik seperti ini, daripada kau pingsan lagi."
"Iya... Iya..."
Viltus langsung tersenyum, dan kemudian memberitahu Akira dan seluruh anggota krunya mengenai hal tersebut. Ia memilih istirahat di asramanya dan sama sekali tidak menyentuh satu pun dokumen.
Satu minggu berlalu, Viltus akhirnya kembali bekerja. Dan selama satu minggu tersebut, yang ia lakukan adalah berkunjung ke tempat dokter Norio untuk melakukan pengecekan setiap hari. Dan hari itu, seluruh armada utama sudah kembali ke Yokosuka dengan kemenangan besar. Viltus dapat melihat wajah penuh kebahagiaan dari semuanya. Walaupun demikian, ia merasakan sesuatu yang sangat aneh. Ia bergumam dengan pelan,
"Ini hanya perasaanku saja, atau beberapa dari mereka seperti menghindar dari diriku ?"
Viltus tidak terlalu memperdulikan hal tersebut, dan langsung berjalan ke kantor milik Tadahisa. Viltus menarik nafas panjang dan kemudian langsung mengetuk pintu kantor tersebut. Tidak terdengar satu pun jawaban. Ia terlihat sangat bingung dan kemudian mengetuk sekali lagi, sebelum dikagetkan oleh Houshou yang menepuk pundaknya. Ia langsung melihat ke belakang, dan kemudian berkata,
"Selamat pagi, Houshou."
"Selamat pagi, Laksamana Amarov. Tumben sekali dirimu mengunjungi kantor ayahmu." ujar Houshou.
"Aku hanya ingin memberikan laporan perihal pertempuran terakhirku. Aku belum memasukkan dokumen tersebut kepada beliau." ujar Viltus
"..."
"Huh ? Ada apa, Houshou ? Apa ada yang salah dari diriku ?" tanya Viltus
Houshou terkejut mendengar pertanyaan tersebut, dan langsung berkata,
"Ah... Tidak... Tidak ada yang aneh koq."
"Kau sedikit aneh, Houshou. Ada apa ?" tanya Viltus kembali
"Tidak apa-apa. Hanya sedikit lelah saja."
"Iya juga sih, setelah pertempuran yang cukup berat tersebut." ujar Viltus sembari melipat tangannya.
"..."
"Mungkin itu alasan mengapa beliau tidak ada di ruangannya saat ini."
"Laksamana Yanagi saat ini sedang menjalani rapat dengan Laksamana Masamune dan petinggi lainnya, termasuk dengan Laksamana Tinggi Ichijo."
"Heh ? Beliau datang ke Yokosuka ?"
"Tidak. Laksamana Tinggi Ichijo masih di Kure."
"Ah... Baiklah."
"Jadi, sebaiknya anda kembali saja ke kantor anda sekarang. Jika beliau sudah tiba, saya akan memberitahu anda."
"..."
"Ada apa, Laksamana Amarov ?"
"Tidak... Tidak apa-apa. Saya akan menunggu di kantor saya. Hubungi saya jika beliau sudah kembali ke ruangan ini."
"Siap Laksamana."
Viltus langsung hormat kepada Houshou dan langsung meninggalkan Houshou. Dan pada saat itu, wajah yang ditunjukkan oleh Houshou kembali di ingatannya. Wajah seseorang yang baru saja kehilangan salah satu orang yang ia kenal. Ia langsung bergumam,
"Apa yang terjadi dengan pertempuran tersebut ?"
Viltus berhenti sebentar, dan kemudian langsung berkata,
"Sebaiknya aku akan meminta tolong kepada Aoba. Aku yakin ia dapat memberitahu diriku."
Viltus kembali berjalan ke kantornya, dan berharap setidaknya menemui Aoba di perjalanan.
Namun, hingga siang ia sama sekali tidak menemukan Aoba sama sekali. Ia duduk di kursinya dengan gelisah, dan kemudian melihat ke arah langit-langit. Magyar dan Ryuujou melihat ke arah Viltus dan terlihat mereka berdua ingin mengatakan sesuatu namun tertahan. Anastasia dan Marcos sendiri saat ini sedang pergi keluar karena mereka ada suatu keperluan.
Viltus langsung berdiri dan kemudian bertanya kepada Ryuujou,
"Ryuujou, kau tahu di mana Taihou sekarang ?"
"Dia saat ini sedang bersama dengan Houshou-san. Lebih tepatnya mayoritas Kapal Induk sedang bersama dengan Houshou-san." jawab Ryuujou
"Heh ? Lalu kau sendiri ?"
"Aku bilang mayoritas. Kapal Induk Ringan seperti diriku, Junyou dan Hiyou tidak dipanggil untuk menemui Houshou-san sekarang."
"Aneh sekali." ujar Viltus
Viltus kembali berpikir sebentar, dan kemudian membuka jendela. Ia melihat ke arah semua Gadis Kapal di situ, dan juga beberapa laksamana. Dan pada saat itu, Viltus berkata dengan pelan,
"Aku mencium bau kematian."
Baik Magyar maupun Ryuujou terdiam mendengar hal tersebut. Viltus masih memperhatikan semua orang di sana, dan kemudian seperti menyadari sesuatu. Walaupun demikian, ia berusaha sebisa mungkin untuk menghilangkan kemungkinan tersebut dan melihat ke arah Magyar dan Ryuujou. Ia berjalan ke arah mejanya, dan duduk di mejanya sembari berkata,
"Apa saja yang terjadi selama satu minggu ini ?"
"Tidak ada apa-apa." jawab Magyar
"Kau yakin tidak ada apa-apa ?"
"Iya."
Viltus kemudian langung menatap tajam ke arah Magyar dan kemudian membenarkan kacamata miliknya. Setelah itu, ia berdiri dan duduk kembali di kursinya. Ia kemudian berkata,
"Laporan apa saja yang masuk ke radio kita selama diriku istirahat ?"
"Hanya memberitahukan mengenai hasil pertempuran tersebut." ujar Ryuujou
"Apakah ada yang tenggelam ?"
"Iya."
"Berapa banyak ?"
"Cukup banyak."
Viltus langsung menutup matanya dan kemudian berkata,
"Setidaknya kita cukup beruntung dapat kembali dalam keadaan utuh. Aku tidak tahu apa yang dapat dilakukan oleh mereka yang kehilangan seseorang yang penting di pertempuran tersebut. Seperti yang dialami oleh diriku dan Aoba. Apakah mereka dapat menghadapinya atau benar-benar hancur."
Ryuujou dan Magyar kembali terdiam mendengar hal tersebut. Mereka berdua terlihat tidak ingin membahas siapa yang tenggelam di pertempuran tersebut. Viltus langsung menghela nafas dan kemudian berkata,
"Tidak ada gunanya berkata seperti ini. Setidaknya kita dapat mensyukuri bahwa kita semua masih dapat bersama, benar ?"
"Semua ?" tanya Magyar
"Iya. Semua yang bersama kita semua."
"Iya." ujar Ryuujou sembari tersenyum
Viltus sempat melihat ke arah Ryuujou dan kemudian langsung terdiam. Pikiran dirinya kembali ke kejadian di kapal komandonya pada saat bersama Taihou. Ia melihat seseorang dengan rambut pink yang berlari di depan ruangannya di kapal komando. Viltus langsung bergumam pelan,
"Tidak mungkin dia, kan ?"
Rasa khawatir dari Viltus langsung menghilang karena melihat Gadis Kapal yang ia khawatirkan terlihat sedang berlari ke arah Yayoi yang berjalan di depannya keesokan harinya. Ia melihat Uzuki yang tersenyum dan penuh semangat seperti biasanya. Viltus langsung menghela nafas dan berkata,
"Sepertinya aku terlalu banyak memikirkan yang tidak-tidak deh."
Viltus langsung tertawa kecil, dan kemudian langsung berjalan ke arah kantornya. Dan pada saat itulah, ia sadar bahwa Houshou belum memanggil dirinya sama sekali. Viltus langsung berkata,
"Hmmm... Ayah seharusnya sudah ada di kantornya sih. Tapi, Houshou koq belum memberitahu diriku sama sekali."
Viltus berpikir sebentar, dan bermaksud untuk menemui ayahnya. Namun, ia terpaksa berhenti karena melihat Taihou yang berjalan ke arah dirinya. Viltus langsung menyapa,
"Selamat pagi, kekasihku yang cantik."
"Selamat pagi, Viltus." jawab Taihou sembari tersenyum.
Taihou langsung menggandeng tangan Viltus, dan Viltus sendiri langsung tersenyum. Ia langsung berkata,
"Tumben sekali dirimu sedikit lebih lengket dari biasanya."
"Memangnya tidak boleh ?" tanya Taihou
"Bukan masalah sih. Ehehehehe."
Taihou kemudian langsung mengajak Viltus ke kantor, yang langsung disetujui oleh Viltus. Viltus kemudian bertanya kemana saja dirinya pergi kemarin, yang langsung dijawab oleh Taihou mengenai dirinya yang mendapat sebuah pemberitahuan singkat dari Houshou diikuti dengan latih tanding antar kapal induk. Viltus berpikir sebentar, dan kemudian bertanya,
"Ada apa gerangan dengan adanya latihan mendadak seperti itu ?"
"Mengenai itu..."
Taihou tidak dapat berkata apa-apa. Viltus langsung menghela nafas, dan kemudian berkata,
"Sepertinya efek dari pertempuran sebelumnya, ya ?"
"Iya." ujar Taihou
Mereka berdua terus berjalan, dan Viltus melanjutkan,
"Aku tahu ada beberapa Gadis Kapal yang tenggelam di pertempuran sebelumnya."
"..."
"Dan itu membuat suasana di sini cukup berat. Walaupun beberapa masih memaksakan diri untuk tersenyum, seperti Ryuujou dan Magyar."
"Eh ? Mereka..." ujar Taihou yang langsung disela oleh Viltus
"Tentu saja aku mengetahui ada yang tenggelam. Aku dapat membacanya dengan jelas dari wajah mereka."
"..."
"Pertempuran sebesar itu pasti membutuhkan pengorbanan. Yang dapat kulakukan adalah membantu mereka yang kehilangan seseorang di pertempuran tersebut."
"I... Iya..." ujar Taihou
"Namun sayangnya belum ada laporan masuk mengenai siapa saja yang tenggelam di pertempuran tersebut." ujar Viltus
Taihou semakin diam mendengar apa yang dikatakan oleh Viltus. Ia kemudian berkata,
"Sebenarnya aku ingin ke tempat ayah untuk menanyakannya. Namun, aku merasa itu kurang etis untuk menanyakan hal tersebut. Jadi, biarkan mereka yang bersangkutan mendapat bantuan dari sekitarnya saja dahulu. Aku yakin, lambat laun diriku akan mengetahuinya juga."
"Iya..." jawab Taihou pelan
"Taihou, semenjak tadi kau sedikit tidak bersemangat ? Apa karena aku membicarakan yang tidak-tidak, ya ?"
"Bu... Bukan demikian..."
"Lalu, mengapa kau seperti itu ?"
"..."
Viltus melihat ke arah Taihou sebentar, dan langsung tersenyum. Ia langsung mengelus kepala Taihou dan berkata,
"Tenang saja. Diriku sudah lebih kuat dari sebelumnya."
"Iya..." jawab Taihou lirih
"Sudahlah, ayo kita ke kantor sekarang. Aku yakin semuanya menunggu kita semua."
"Iya."
Mereka berdua terus berjalan hingga tiba di depan kantor Viltus, dan melanjutkan aktivitas mereka di Yokosuka.
Walaupun semuanya terlihat normal, Viltus semakin curiga dengan kondisi di Yokosuka. Selama satu minggu terakhir, seluruh anggota krunya dan seluruh Gadis Kapal di bawah arahannya bertindak sangat aneh. Termasuk divisi milik Yamashiro yang sudah kembali ke Laksamana mereka. Selain itu, ia belum bertemu sama sekali dengan Aoba maupun Tadahisa untuk menanyakan masalah tersebut. Dan khusus untuk Aoba, semuanya memiliki alasan yang sama,
"Aoba sedang mencari bahan berita."
Viltus duduk di kursinya, dan kemudian berkat dengan pelan,
"Apa jangan-jangan Aoba yang tenggelam..."
Mengatakan hal tersebut membuat wajahnya sedikit pucat. Ia langsung menutup matanya, dan kemudian berkata dengan lirih,
"Jika benar, apa yang dapat kukatakan kepada Kimura... Padahal aku berjanji pada diriku sendiri untuk menjaga dirinya. Dan mungkin itu alasan Yayoi dan Uzuki tidak mendekati diriku, agar diriku tidak khawatir."
Viltus langsung menghela nafas, dan tidak berapa lama telepon di ruangannya berdering. Ia mengangkatnya dan mendengar mengenai panggilan tugas untuk operasi selanjutnya. Ia langsung menerimanya dan kemudian menghela nafas. Ia kemudian berkata,
"Tidak ada gunanya terlalu banyak bepikir seperti ini. Ada tugas lain yang jauh lebih penting."
Ia kemudian berjalan keluar menuju ke tempat rapat. Setelah menjalani rapat yang cukup panjang dan juga panas, Viltus akhirnya keluar dari rapat tersebut. Ia menghela nafas karena terdapat perbedaan pendapat untuk melakukan penyerangan berikutnya agar target operasi di akhir tahun tercapai. Ada sebagian yang meminta untuk melakukan penyerangan selanjutnya, dan ada pula yang meminta waktu lebih banyak untuk persiapan. Viltus tahu, kedua belah pihak sama sekali tidak salah. Di satu sisi, mereka sudah kehilangan cukup banyak sumber daya dan tenaga dalam operasi skala menengah sebelumnya, namun di sisi lain waktu adalah segalanya.
Setelah perundingan yang cukup panjang tersebut, akhirnya rapat memutuskan untuk mengistirahatkan seluruh Gadis Kapal di Yokosuka hingga pertemuan berikutnya yang akan berjalan satu bulan dari sekarang. Viltus sebenarnya cukup senang dengan keputusan tersebut, dan kemudian berjalan ke arah lapangan luas di depan gedung pertemuan. Di sana, ia melihat seorang Gadis Kapal dengan rambut ungu yang sangat ia kenal. Ia membawa sebuah kamera yang juga cukup familiar dan hal tersebut membuat Viltus cukup lega. Viltus langsung berjalan ke arah dirinya dan bermaksud untuk memanggilnya.
Namun, pada saat itulah ia merasakan sesuatu yang aneh. Ia tahu Gadis Kapal di hadapannya adalah Aoba, namun tindakannya bukan seperti Aoba yang ia kenal. Tubuh gadis tersebut ada di sana, namun pikirannya entah melayang kemana. Ia dapat melihat wajah penuh kesedihan dari Aoba, dan ia berusaha sebisa mungkin untuk tidak terlihat oleh yang lainnya. Viltus diam sebentar dan memperhatikan ada beberapa Gadis Kapal yang mendatangi dirinya dan seperti memberikan dukungan kepada Aoba.
Viltus langsung meninggalkan lapangan tersebut dan bermaksud mencari Tadahisa. Ia sampai di depan ruangan milik Tadahisa dan bermaksud mengetuk pintu tersebut. Namun, ia urung mengetuknya karena mendengar suara Houshou dan Tadahisa,
"Sampai kapan kita akan diam saja ? Dia cepat atau lambat akan mengetahuinya..." tanya Houshou dengan nada cemas
"Aku tahu mengenai hal tersebut." ujar Tadahisa
"Apa karena kau khawatir itu akan mempengaruhi tubuhnya ?"
"Itu salah satunya."
"Apa yang kau sembunyikan dariku dan juga darinya, Laksamana Yanagi ?"
"Tidak ada. Aku sebagai ayahnya sama sekali tidak ingin melihat dirinya tertekan atau semacamnya. Maka dari itu, aku meminta semuanya untuk diam."
"Namun, suasana di sini sangat berat. Pasti ia merasakannya dari suasana di sekitar dirinya."
Viltus terdiam sebentar mendengar itu. Ia langsung memikirkan siapa Gadis Kapal yang terikat langsung dengan Aoba yang sama sekali tidak ia temui di Yokosuka. Baik Yayoi maupun Uzuki ada di sana, jadi mengapa mereka berkata seperti itu.
Ia mundur sebentar dan kemudian langsung meninggalkan ruangan milik Tadahisa. Ia terus berjalan hingga akhirnya ia bertemu dengan Taihou. Taihou menyapa Viltus yang terlihat sedikit bingung. Taihou langsung bertanya,
"Ada apa, Viltus ?"
"Taihou..."
"Iya ?"
"Siapa yang tenggelam ?" tanya Viltus
"Huh ?"
"Kau mengetahuinya kan ?"
"Aku..."
"Kau menyembunyikannya dariku ?"
"..."
"Mengapa ?"
"Karena..."
"Kau khawatir dengan kondisiku jika mengetahuinya ?"
"Iya..."
Viltus langsung terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Taihou. Ia langsung bertanya,
"Siapa saja yang tahu ?"
"Semuanya..." ujar Taihou
"Selain diriku ? Hebat sekali."
Dada Viltus sedikit sakit mendengar fakta bahwa semuanya bersengkongkol untuk menyembunyikannya dari dirinya. Begitu pula dengan Taihou yang mendengar jawaban dari Viltus. Viltus langsung bertanya kembali,
"Siapa ?"
"Mengenai itu..."
"Siapa yang cukup dekat dengan Aoba yang tenggelam kembali ?"
Taihou langsung menarik Viltus sebentar. Viltus dapat merasakan tarikan dari Taihou yang cukup kuat, dan ia merasakan Taihou yang berusaha untuk menahan diri untuk tidak memberitahu Viltus. Namun, Viltus akan mengetahuinya sebentar lagi.
Mereka tiba di sebuah taman bunga di Yokosuka, dan di sana berdiri Yayoi dan Uzuki. Viltus memperhatikan mereka berdua, dan kemudian berkata,
"Mengapa kau membawaku kemari ?"
"..."
"Hei, Taihou..."
"Apa kau tidak merasa ada sesuatu yang aneh di antara mereka ?" tanya Taihou
"Huh ?"
Viltus memperhatikan kembali Uzuki dan Yayoi yang bermain-main di taman bunga tersebut. Dan ia dapat melihat Uzuki yang menunjuk ke arah bunga-bunga tertentu dan terlihat bertanya kepada Yayoi. Yayoi dengan tenang menjawab semua pertanyaan dari Uzuki. Terkadang Uzuki memperhatikan serangga yang terbang di sana, dan juga burung-burung yang terbang. Yayoi dengan sabar memberitahu Uzuki, dengan wajah yang sangat sedih.
Viltus langsung mundur sebentar dan kemudian berkata,
"Jadi... Yang kita lihat di kapal saat itu..."
"Iya... Uzuki..." jawab Taihou sembari memperat genggaman tangannya ke Viltus
"Tidak... Mungkin... Tidak mungkin, kan ?"
"Apa kau melihat ikat rambut buatanmu ?"
Viltus memperhatikan Uzuki sekali lagi, dan ia sama sekali tidak menemukannya. Ia langsung menggelengkan kepalanya, hingga akhirnya Taihou berkata,
"Houshou sudah memberi peringatan kepada diriku untuk tidak memberitahu dirimu."
"..."
"Begitu pula dengan ayahmu..."
"..."
"Namun, aku merasa ini yang terbaik."
"..."
"Uzuki, Kapal Perusak keempat dari kelas Mutsuki, telah tenggelam di pertempuran tersebut. Dan sekarang sudah digantikan dengan yang baru."
Viltus semakin terdiam mendengar hal tersebut. Viltus langsung merasakan tangan Taihou semakin erat menggenggam tangannya. Ia tahu, Taihou sama sekali tidak dapat menahan rasa sedihnya karena kehilangan salah satu teman mereka. Viltus menunduk sebentar, dan kemudian melepas genggaman tangan Taihou. Taihou melihat ke arah Viltus dan berkata,
"Viltus !"
"Tenang saja... Aku hanya akan berbicara sebentar dengan Laksamana Uzuki dan Aoba." ujar Viltus.
Viltus langsung berjalan meninggalkan Taihou untuk bertemu dengan Laksamana Aoba dan Uzuki yang sekarang.
Viltus tiba di depan kantor dari Laksamana Aoba. Seorang wanita yang sangat periang, dan juga sangat mudah berinteraksi dengan semua Laksamana dan Gadis Kapal di bawahannya. Dan ia pun salah satu pelaku dari berbagai kejahilan Aoba di sekitar Yokosuka. Nama Laksamana tersebut adalah Natsume Toshiko.
Viltus langsung bergumam dengan pelan,
"Seharusnya aku sudah mengetahui ada yang aneh dari ini... Natsume-san jarang sekali terlihat, dan sedikit menjauh."
Viltus menarik nafas panjang, dan kemudian mengetuk pintu kantornya. Tidak berapa lama, terdengar suara dari Aoba dan juga Toshiko dari dalam, diiringi dengan langkah kaki yang mendekati pintu. Pintu terbuka dan sangat terkejutlah Toshiko melihat Viltus, orang yang paling ia hindari, yang berdiri di depan pintunya. Toshiko langsung berkata dengan pelan,
"Selamat siang, Kapten Amarov."
"Selamat siang, Komandan Natsume." ujar Viltus
Viltus dapat melihat dengan jelas wajah Toshiko dan Aoba yang sedikit tertekan dengan kedatangan dari Viltus. Mereka sadar bahwa Viltus sudah mengetahui apa yang terjadi dan besar kemungkinan ia akan memarahi Toshiko atau semacamnya. Namun, yang dilakukan oleh Viltus berikutnya benar-benar bukan sesuatu yang dipikirkan oleh Viltus. Viltus langsung mengelus kepala Toshiko dan berkata,
"Aku yakin... Ini sangat berat untuk dirimu, seorang Laksamana muda yang handal seperti dirimu karena kehilangan salah satu anggotanya..."
"Maafkan aku, Kapten... Aku..." ujar Toshiko yang langsung disela oleh Viltus
"Semuanya dapat membuat kesalahan. Dan kesalahan tersebut dapat berakibat fatal untuk orang di sekitarnya. Aku mengetahui hal itu dengan cara yang cukup kasar." ujar Viltus sembari tersenyum
"..."
"Itulah alasan diriku sedikit keras pada saat mengajari sekaligus membimbing kalian di masa awal kalian... Agar tidak ada yang mengalami kejadian seperti diriku."
"Kapten..."
"Namun, sepertinya aku terlalu naif. Hal tersebut tidak dapat diprediksi. Kita dapat saja kehilangan orang yang penting untuk kita semua di waktu yang sama sekali tidak terduga."
"Viltus..." ujar Aoba.
"Aku tahu... Ini sangat berat untuk kalian berdua. Terutama Aoba. Aku akan membantu kalian berdua sebisaku..." ujar Viltus
"..."
"Ingatlah ini... Tidak hanya kalian saja yang kehilangan gadis yang penuh semangat seperti itu. Semuanya sangat kehilangan... dirinya..."
Viltus tidak dapat berpikir apa-apa lagi mengenai hal ini. Ia mengetahui fakta bahwa Uzuki sudah digantikan dengan Uzuki yang lain. Dia tidak dapat mengubah fakta tersebut. Yang ia lihat di hadapannya adalah dua gadis yang kehilangan Uzuki, dan sangat hancur. Aoba mendekati Toshiko dan Viltus, dan kemudian memeluk mereka berdua. Setelah itu, yang terdengar adalah isak tangis dari Toshiko.
Tidak jauh dari kantor tersebut, Taihou mendengar dan melihat kejadian tersebut. Ia kemudian berkata dengan pelan,
"Viltus..."
Sebelum akhirnya dirinya memilih untuk ke kantor lebih dahulu untuk menunggu Viltus.
Viltus berjalan dengan rasa sakit di dadanya. Itu semua karena tindakan dari semuanya terhadap dirinya, walaupun itu untuk kebaikan Viltus sendiri. Walaupun demikian, ia tidak menerima kenyataan dirinya dibuat seakan-akan tidak boleh mengetahui fakta tersebut. Dan itu sangat menyakitkan, seakan-akan semuanya sama sekali tidak ingin dirinya tahu, bahkan oleh keluarga dan kekasihnya sendiri.
Ia berjalan ke depan pintu kantor Tadahisa, dan kemudian mengetuk pintunya. Tadahisa memberi ijin untuk masuk, dan Viltus langsung membukanya. Melihat Viltus, Tadahisa dan Houshou sangat terkejut. Tadahisa langsung berdiri dan kemudian berkata,
"Selamat siang, Kapten..."
"Ayah..." ujar Viltus
"Iya..." ujar Tadahisa
Tadahisa dapat melihat dengan jelas dari wajah Viltus, bahwa dirinya sudah mengetahui apa yang disembunyikan oleh semua di Yokosuka. Viltus langsung berkata,
"Ayah... Mengapa... Itulah pertanyaanku."
"..."
"Kau tahu apa yang ingin kutanyakan benar ? Jadi, mengapa ?"
"Itu agar dirimu dapat fokus..."
"Fokus ? Ayah, kau sama sekali tidak tahu..."
"..."
"Aku tidak dapat fokus selama ini karena bertanya-tanya dengan suasana di Yokosuka ini. Dan juga bau kematian yang kucium."
"..."
"Apa alasanmu menyembunyikan fakta Uzuki tenggelam dari diriku ?"
"Agar..."
Tadahisa sama sekali tidak dapat melanjutkan apa yang ingin dikatakan olehnya. Houshou sendiri juga terdiam dan tidak dapat berkata apa-apa. Viltus langsung berkata,
"Ayah..."
"Iya, Viltus anakku..." jawab Tadahisa dengan lirih
"Jika kau memberitahuku pada saat awal pun tidak apa-apa. Jika kau memberitahuku beberapa hari kemudian juga tidak apa-apa..."
"..."
"Aku bukan yang seperti dahulu... Aku dapat menerimanya, dan juga akan membantu mereka yang kehilangan."
"Viltus..." ujar Houshou
Mendadak Viltus melihat ke arah Tadahisa dan Houshou dengan wajah jijik sembari berkata,
"Namun, bukan dengan cara ini. Menyembunyikannya dariku. Membuat sebuah kebohongan besar di markas ini, agar diriku tidak terlalu banyak berpikir dan tidak jatuh sakit lagi."
"Viltus, dengar..." ujar Tadahisa yang langsung disela
"Dengar apa ? Kau tidak memberitahu diriku, dan langsung mengganti Uzuki begitu saja untuk menipuku. Untuk membuat seakan-akan kejadian tersebut tidak pernah terjadi."
"Viltus..." ujar Houshou
"Ayah, kau tahu rasanya itu sangat menyakitkan. Untuk ditipu oleh semuanya... Bahkan oleh keluarga dan kekasihnya sendiri ?!"
"Dengar Viltus... Ini untuk..." ujar Tadahisa
"Untuk apa ? Agar tubuhku tidak sakit lagi ? Agar diriku tidak pingsan lagi ?"
"Itu..."
"Ayah... Aku tidak suka dengan hal ini. Ini sangat menyakitkan... Terlalu menyakitkan... Hanya untuk itu saja... aku ditipu..."
"Aku melakukan ini untuk..."
"Kebaikanku ? Iya, benar... Untuk kebaikanku sendiri... Namun, yang kalian lakukan itu sudah terlalu menyakitkan... Dan juga menjijikan... Aku... Ugh..."
Tadahisa dan Houshou melihat wajah Viltus menjadi sedikit pucat. Viltus sendiri merasakan sakit di dadanya, dan isi kepalanya seperti berputar. Ia langsung memegang kepalanya, dan terjatuh. Tadahisa dan Houshou dapat mendengar dengan jelas erangan dari Viltus yang kesakitan. Dan pada saat itulah, Viltus melihat Hakai yang duduk di kursi ayahnya. Ia tersenyum seakan-akan menyukai kejadian tersebut. Viltus langsung berkata,
"Kau..."
"Viltus... Hei... Viltus..." teriak Houshou
"Argh..."
Ia muntah darah, dan berusaha untuk melihat ke arah Hakai. Dan pada saat itulah, Viltus merasakan sesuatu yang aneh di matanya. Ia langsung berkata,
"Panas... Panas... Panas !"
Ia menutupi wajahnya dan mulai berguling-guling. Tadahisa langsung berkata kepada Houshou,
"Panggil Dokter Shibata sekarang !"
"Huh ? Profesor Shibata ?" ujar Houshou dengan wajah bingung
"Panggil saja !"
Houshou langsung menghubungi Norio perihal kejadian tersebut. Tadahisa sendiri berusaha untuk menenangkan Viltus yang terus berteriak di dalam ruangan tersebut. Houshou sudah selesai menghubungi Norio, langsung membantu Tadahisa. Dan pada saat itulah, Houshou langsung berkata,
"Apa... Apaan ini ?!"
"Viltus..." ujar Tadahisa
Kulit dari Viltus mulai pucat, dan juga sebagian dari rambutnya mulai memutih. Mata birunya berubah menjadi merah darah, dan di mata kanannya terdapat api. Api berwarna merah. Viltus langsung berkata,
"Aku... Tidak akan... Mengampuni... Ini... Ayah..."
"Viltus ! Jangan termakan oleh apa yang ada di dalam kepalamu !" ujar Tadahisa
"Aku sudah... Lelah... Ditipu..."
"Viltus !"
Viltus terlihat sangat membenci sesuatu di Yokosuka. Atau lebih tepatnya, seseorang di dalam Viltus membenci sesuatu. Viltus langsung berkata,
"Apa... Yang terjadi... Pada ayah... Ibu... Keiko..."
"Viltus, kembali... Kumohon... Kembali..." ujar Tadahisa semakin panik
"Kalian yang MEMBUANG KAMI !" teriak Viltus
Houshou semakin takut mendengar apa yang dikatakan oleh Viltus. Tidak berapa lama, pintu terbuka dan di sana berdiri Norio, dengan Anastasia, Magyar dan beberapa Laksamana yang lain. Mereka melihat Viltus yang sangat berbeda. Matanya yang merah, dengan api di matanya. Menyerupai seekor monster. Tadahisa langsung berkata,
"Kalian semua kembali ke pos kalian ! Ini bukanlah urusan kalian semua."
"Namun, Kapten Amarov..." ujar salah satu Laksamana tersebut yang langsung dibentak oleh Tadahisa
"Sudah kembali saja !"
Semuanya langsung berjalan meninggalkan ruangan tersebut, termasuk Anastasia dan Magyar. Tepat sebelum mereka pergi, Tadahisa berkata,
"Kalian akan tetap di kantor kalian hingga pemberitahuan selanjutnya."
"Baik... Laksamana Yanagi." ujar Magyar sembari mengajak Anastasia untuk pergi.
Setelah itu, Norio langsung menutup pintunya, dan kemudian langsung mengeluarkan sebuah alat suntik dengan cairan khusus di dalamnya. Ia kemudian meminta tolong kepada Tadahisa dan Houshou untuk menahannya. Setelah ditahan, Norio langsung menyuntikkannya ke tubuh Viltus. Terdapat sedikit penolakan setelah cairan tersebut masuk, namun sedikit demi sedikit tubuhnya mulai tenang. Matanya sudah kembali menjadi biru, dan tidak ada api sama sekali.
Tadahisa langsung menghela nafas, sementara Houshou terlihat sangat terkejut dengan hal tersebut. Norio langsung berdiri dan kemudian berkata,
"Kali ini apa yang dilakukan oleh dirimu, Tadahisa-san ?"
"Aku hanya menyembunyikan fakta bahwa Uzuki telah tenggelam." ujar Tadahisa
"Uzuki ? Salah satu Gadis Kapal yang cukup dekat dengan dirinya ?"
"Iya."
Norio langsung menghela nafas dan kemudian berkata,
"Tadahisa-san..."
"Ada apa, Shibata-san ?" tanya Tadahisa
"Viltus sudah berubah banyak dengan semua interaksi ini. Dan kau tahu, dia sedikit mendekati kita sebelum kejadian ini."
"..."
"Sepertinya... Dia kecewa dengan kalian semua. Dan itu yang membangkitkan sisinya yang lain."
"Maaf..."
"Kukira dirimu akan lebih tahu mengenai perkembangan dari pria ini daripada diriku."
"Aku terlalu sibuk... Sehingga tidak memperhatikan dirinya sama sekali."
Norio langsung menepuk pundak dari Tadahisa dan kemudian berkata,
"Aku akan mengambil sedikit sampel tubuhnya... Dan Houshou..."
"Ah... Iya..." ujar Houshou sedikit kaget
"Jangan memberitahu hal ini kepada siapapun, ya." ujar Norio
"Baik, Profesor Shibata."
Norio langsung mengambil sampel dari tubuh Viltus. Setelah itu, Norio berkata untuk menghubungi Mo untuk membahas lebih lanjut lagi. Tadahisa mengangguk, dan tidak berapa lama beberapa asisten dari Norio datang dan mulai membawa Viltus yang tertidur. Norio langsung berkata,
"Sebaiknya... Jangan biarkan dia bekerja dulu... Pikiran dia... Terlalu gelap."
"Aku tahu... Aku akan bertanya kepada Mo untuk masalah ini." ujar Tadahisa
"Saya permisi dahulu, jika Viltus sudah sadar aku akan memberitahu anda."
"Terima kasih banyak, Dokter Shibata."
Norio langsung meninggalkan kantor Tadahisa. Tadahisa melihat ke arah Houshou dan kemudian berkata,
"Jangan memberitahu siapapun mengenai masalah ini."
"..."
"Ada apa, Houshou ?"
"Viltus itu... Apa ?" tanya Houshou
"Itu bukan masalahmu."
"Tapi..."
"Dia sekarang adalah 'manusia', namun ada kemungkinan dia menjadi 'monster'."
"Maksudmu..."
"Jika dirimu ingin dirinya tetap 'manusia', maka tunjukkan kepadanya bahwa dia manusia... Jangan jauhi dia... Bantu diriku awasi dia."
Houshou ingin bertanya lebih lanjut, namun ia urungkan karena wajah dari Tadahisa. Akhirnya, Houshou mengangguk dan mohon ijin untuk pergi dahulu.
Di Kure
Mo mendapatkan telepon dari Tadahisa. Mo langsung berkata,
"Apa yang terjadi pada anak itu sekarang ?"
"Sebuah kesalahan dari diriku hampir membangkitkan sesuatu di dalam dirinya." jawab Tadahisa
"Apakah dia..."
"Sudah ditangani oleh Shibata-san."
"Haaah... Ilmuwan gila itu."
"..."
"Aku yakin dirimu bertanya-tanya mengenai apa yang harus dilakukan..."
"Iya."
"Istirahatkan dia."
"Huh ?"
"Istirahatkan dia. Aku tidak akan mengulanginya lagi."
"Tapi, hal tersebut pasti dapat..."
"Yang kumaksud adalah mengirimnya kembali ke rumahmu selama satu minggu. Aku akan memberitahu Shiro-san mengenai kondisi adiknya agar ia dapat menemaninya."
"Kau yakin..."
"Iya. Kita harus membuat dirinya menjadi 'manusia'. Bukannya 'monster' di luar sana. Jika ia benar-benar menjadi 'monster' dan sebuah 'senjata', maka ia harus ada di sisi kita dengan semua yang telah kita kerahkan selama ini."
"Baik, jika itu perintah anda Laksamana Ichijo."
"Saya permisi dahulu. Sampai jumpa."
Mo langsung menutup teleponnya dan kemudian langsung berkata,
"Valentina... Aku penasaran sampai kapan anakmu akan seperti ini... Kau tahu, aku membutuhkan dirinya untuk membunuh dirimu... Agar merasakan apa yang kurasakan selama ini."
Mo langsung tersenyum dan kemudian melihat ke arah foto di hadapannya. Ia langsung berdiri dan memanggil Shiro untuk menemui dirinya.
HakunoKazuki di sini
AFA ! SAYA MAU KE SANA !
H : SHUT UP !
V : DIAM KAU !
HK : Uuuuuhhhh...
Ah, sudahlah tidak ada gunanya meratapi apa yang tidak dapat didatangi. Setidaknya dapat menyimpan uang tersebut untuk hal lain... Ahahahahahaha
V : Tepat sekali. Mungkin mempublikasikan ceritamu
H : Hei... yakin nano datang lagi tahun depan
HK : Hakai, kau kejam...
Sudahlah. Semoga kalian masih menikmati seri ini. Sampai jumpa di chapter selanjutnya
Bye !
