Chapter 28

Holiday


Di sebuah rumah yang cukup besar di satu desa yang sangat tenang, seorang pria sedang merebahkan dirinya sembari melihat ke arah langit biru yang sangat cerah di atasnya. Burung-burung yang terbang dapat terlihat dengan jelas, seakan-akan mengolok-olok dirinya yang ada di darat. Selain itu, bunyi serangga yang bernyanyi pun terdengar di dekat rumah tersebut.

Tidak berapa lama, pria tersebut terganggu oleh sesuatu. Beberapa biji semangka lebih tepatnya. Ia langsung ke posisi duduk, dan kemudian berkata,

"Shiro-nee ! Bisakah kau tidak melempar biji semangka itu ke diriku ?!"

"Ahahahahaha... Habis dirimu terlihat kesal terus, sih." ujar seorang wanita yang duduk di sebelahnya.

Mereka adalah Viltus Amarov dan Yanagi Shiro. Jika mereka yang tidak mengetahui asal-usul mereka, tentu saja akan mengatakan Viltus merupakan kekasih dari Shiro. Namun, kenyataanya adalah Viltus merupakan 'adik' dari Shiro setelah suatu kejadian yang menimpa Viltus.

Viltus langsung melihat ke arah Shiro sembari menghela nafas. Ia kemudian berkata,

"Aku setidaknya sudah cukup senang mendapatkan libur yang benar-benar libur, walaupun itu hanya seminggu."

"Baguslah jika kau senang." ujar Shiro sembari mengambil semangka yang lain.

"Tapi, aku sama sekali tidak tahu bahwa dirimu pun dapat libur." ujar Viltus

Shiro hanya tertawa saja mendengar hal tersebut. Ia mendapatkan perintah dari Mo untuk menjaga Viltus yang harus istirahat seminggu di rumah mereka, yang langsung diterima oleh Shiro sendiri. Sementara, Viltus sendiri mendapatkan libur setelah ia sadar dari kondisi 'pingsan'. Ia diberitahu oleh Norio mengenai kondisinya sekarang, dan diberitahu mengenai apa yang terjadi sebelumnya.

Dan saat ini, tiga hari sudah berlalu di rumah tersebut, dengan Viltus terkadang diganggu oleh telepon dari Yokosuka, akhirnya dapat beristirahat dengan tenang. Viltus langsung menghela nafas dan kemudian kembali merebahkan dirinya lagi. Ia masih tidak dapat menerima perlakuan terhadap dirinya, namun ia tidak dapat mempertaruhkan kondisi tubuhnya untuk hal tersebut. Mendadak, Shiro kembali menembakkan biji semangka ke arah dirinya. Viltus langsung duduk dan kemudian melihat ke arah Shiro dengan senyum khasnya. Ia berkata,

"Shiro-nee... Jadi kau mengajak bertengkar, ya ?"

"Ohohohohoho... Kau berani melawan kakakmu ini ?" balas Shiro sembari menaruh sisa dari semangka.

Viltus langsung berdiri dan menerjang ke arah Shiro sekaligus mencubit pipinya. Viltus langsung berkata,

"Lihat... Pipimu semakin kenyal !"

"Kau..." ujar Shiro sembari mencubit pipi dari Viltus.

"Ahahahaha... Kalian berdua ini, walaupun sudah bukan anak-anak masih saja seperti itu." ujar seorang wanita

Viltus dan Shiro melihat ke depan mereka, dan melihat seorang wanita yang sudah cukup tua, dan mengenakan celemek. Ia membawa sebuah nampan dengan dua gelas es serut. Viltus langsung berdiri dan berkata,

"Ibu ! Kau seharusnya tadi kau panggil diriku saja untuk membawa ."

"Ahahahahaha... Tidak apa-apa, Ibu masih cukup kuat koq." ujar wanita tersebut

Nama wanita tersebut adalah Yanagi Chie, istri dari Yanagi Tadahisa, ibu dari Yanagi Shiro, dan juga 'ibu' bagi Viltus Amarov. Viltus langsung melepas Shiro dan kemudian berjalan ke arah ibunya dan membawa nampan tersebut. Chie langsung mengikuti Viltus dan duduk di sebelah Shiro yang sudah ke posisi duduk setelah diserang oleh Viltus. Ia kemudian langsung berkata,

"Shiro, apa yang kau lakukan kepada adikmu ?"

"Ahahahaha... Hanya menjahilinya saja." jawab Shiro sembari menerima es serut dari tangan Viltus.

"Dengan menembak biji semangka ?" tanya Viltus dengan nada cukup kesal.

"Habis... Kau dapat waktu istirahat namun mukamu masam terus." ujar Shiro

Mereka berdua terus berbicara mengenai tindakan dari Shiro dan juga wajah dari Viltus, yang kemudian mendengar tawa dari Chie. Shiro dan Viltus melihat ke arah Chie, yang kemudian berkata,

"Menyenangkan sekali melihat kalian berdua masih akur seperti ini... Layaknya saudara."

Mereka berdua langsung terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Chie. Chie langsung mengelus kepala mereka berdua, dan kemudian berkata,

"Setidaknya, aku cukup bahagia kalian berdua dapat kembali kemari..."

"Ibu..." ujar mereka berdua

"Dan, ibu juga cukup bahagia melihat kalian..."

Viltus langsung melihat ke arah Shiro, dan mendapat anggukan dari Shiro. Mereka sadar, tindakan mereka telah membuat khawatir ibu mereka. Viltus langsung berkata,

"Tenang saja, bu... Kami akan tetap akur koq."

"Iya..." ujar Shiro

"Ibu tahu kalian pasti akan tetap akur... Ibu tahu semuanya." ujar Chie

Viltus dan Shiro langsung tersenyum melihat senyum dari Chie. Setelah itu, mereka bertiga berbincang-bincang mengenai beberapa hal, terutama apa yang mereka lakukan di markas angkatan laut sebagai Laksamana.


Malam pun tiba, dan Viltus sudah bermaksud untuk tidur. Namun, ia mendengar suara yang cukup berisik dari luar ruangannya. Tidak berapa lama, ia melihat pintu yang terbuka dengan Shiro yang membawa futon miliknya. Melihat itu, Viltus langsung berkata,

"Ummm... Shiro-nee ?"

"Kita sudah lama tidak tidur bersama, benar ?" ujar Shiro sembari menaruh futon miliknya di dekat futon milik Viltus.

"Aku sudah cukup dewasa untuk tidur sendiri..."

"Tapi, aku dengar di Yokosuka kau selalu ditemani oleh Taihou sebelum tidur."

"Ugh..."

"Ahahahahaha... Mukamu merah."

"Diam."

Viltus langsung merebahkan dirinya di futon miliknya. Shiro sendiri tersenyum dan kemudian langsung berkata,

"Kau sudah berubah..."

"Entah mengapa semua orang berkata demikian. Lama-lama menyebalkan, tahu ?" ujar Viltus sedikit kesal.

"Ehehehehe, Begitukah ?"

Shiro langsung merebahkan diri futon miliknya, dan kemudian langsung bertanya,

"Jadi, apakah ada kemajuan antara dirimu dengan Taihou ?"

"Kemajuan ?" tanya Viltus dengan nada kurang yakin

"Mungkin akan kuubah pertanyaanku, apakah kau sudah memberikan cincin tersebut kepada Taihou ?"

Wajah Viltus langsung memerah mendengar apa yang dikatakan oleh Shiro. Ia kemudian menunjukkan tangan kanannya kepada Shiro. Shiro melihat itu langsung tersenyum dan berkata,

"Kukira dirimu akan menaruhnya di tangan kirimu, ternyata imajinasiku saja yang terlalu liar."

"Heh ? Lebih baik seperti ini, memasangnya di tangan kanan. Daripada seperti seseorang yang tidak memiliki pasangan hingga hari ini." ujar Viltus langsung mendapat lemparan bantal dari Shiro

"Kau sebaiknya berhati-hati dalam berbicara, Viltus-chan." ujar Shiro dengan senyum palsu

"Hoooh ? Rupanya wanita ini sudah mulai panas, ya ?" ujar Viltus sembari mengambil bantalnya.

Viltus langsung melempar bantal miliknya, yang langsung ditangkap oleh Shiro untuk dilempar ke arah Viltus. Mereka terus melakukan hal tersebut, hingga akhirnya mereka merebahkan diri karena kelelahan. Setelah itu, mereka berdua tertawa bersama dan kemudian Viltus berkata,

"Sudah lama sekali diriku tidak seperti ini... Ahahahahaha"

"Sama... Ahahahahaha." ujar Shiro

"Lemparanmu itu sangat menyakitkan mengerti..."

"Maaf... Maaf..."

"Ahahahahahaha..."

Mendadak Viltus melihat ke kirinya dan melihat kacamatanya yang rusak. Ia langsung berkata dengan lirih,

"Kacamataku..."

"Ah... Maafkan aku Viltus, aku tidak memperhitungkan kacamatamu ada di sana." ujar Shiro panik

"Sudahlah... Memang sudah saatnya aku mengganti kacamataku, koq."

"Huh ?"

"Setelah berbagai tamparan, pukulan, dan semacamnya... Memang sudah saatnya menggantinya."

"Ahahahahahaha..."

"Jika kau berkata aku sudah berubah aku akan... huh ?!"

Shiro langsung memeluk Viltus dan kemudian mengelus kepalanya. Viltus sangat terkejut dengan hal tersebut, dan kemudian mendengar Shiro yang berkata,

"Setidaknya... Sekarang kau sudah lebih lepas dari bebanmu dan rasa sakit di dadamu..."

"..."

"Kau tidak merasakannya sekarang, benar ?"

"Tidak... Hingga kau memberitahukan hal tersebut."

"Maaf..."

"Tapi, memang ada benarnya juga sih..."

"Apakah itu ?"

Shiro langsung melepas pelukannya, dan melihat ke arah Viltus. Viltus menghela nafas dan kemudian berkata,

"Jika diriku terus seperti itu, aku tidak dapat berkembang... Dan apa yang dilakukan oleh ayah juga ada baiknya."

"..."

"Namun, mereka seharusnya memberitahu diriku saja secara langsung tanpa menyembunyikannya."

"Ooooohhhhh... Adikku yang sedang kesal ini imut sekali... Tidak mau rasanya dirimu diambil orang lain."

Shiro kembali memeluk Viltus sembari mengelus kepala Viltus yang memerah karena hal tersebut. Viltus langsung berkata,

"Shiro-nee ?!"

"Ahahahahaha... Setidaknya kau sudah lebih menerima fakta tersebut, benar ?"

"Iya... Iya..."

"Ehehehehehe."

Shiro tersenyum ke arah Viltus yang terlihat tersenyum juga. Viltus sendiri membenamkan kepalanya di dada Shiro, dan mulai menerima fakta yang ia dengar sebelumnya di Yokosuka. Tidak berapa lama, Shiro dengan wajah merah berkata,

"Ummm... Viltus..."

"Ada apa, Shiro-nee ?" ujar Viltus dengan kepala masih di dada Shiro

"Sampai kapan kau membenamkan kepalamu di sana ?"

Menyadari hal tersebut, Viltus langsung sadar dan melihat ke arah Shiro. Ia tidak menyadari apapun karena merasakan kekenyalan dan kelembutan yang sudah lama tidak ia rasakan. Shiro sendiri langsung tertawa dan berkata,

"Sepertinya kau menikmatinya, ya ?"

"Ti... Tidak..." ujar Viltus

"Mukamu merah..."

"Uuuuuhhhh..."

Shiro langsung memeluk Viltus kembali dan kemudian menyeretnya untuk tidur. Mereka berbincang-bincang sebentar, hingga akhirnya Shiro mendengar suara Viltus yang tertidur. Shiro langsung tersenyum dan kemudian berkata dengan pelan,

"Aku berharap kau dapat terus seperti ini, Viltus... Hingga waktunya tiba..."

Shiro langsung tertawa dan kemudian menutup matanya. Tidak berapa lama, ia pun tertidur dengan pulas. Dan tanpa sepengetahuan mereka, Chie membuka pintu dan tersenyum melihat mereka berdua yang tertidur pulas. Chie langsung berkata,

"Anak-anak ini... Sudahlah, selama mereka terus seperti itu... Aku dapat tenang."


Keesokan paginya, Chie berdiri di depan pintu keluar dan melihat Shiro dan Viltus yang sedang bersiap-siap untuk pergi. Chie langsung berkata,

"Tumben sekali kalian pergi pagi-pagi, ada apa gerangan ?"

"Aku ingin membeli kacamata baru." ujar Viltus.

"Oh, yang dipecahkan oleh kakakmu, ya ?" tanya Chie

"Iya... Ahahahahaha" jawab Shiro sembari tersenyum

Saat ini, Viltus mengenakan kontak lensa untuk sementara waktu sebagai pengganti dari kacamata miliknya yang rusak. Sebenarnya, Shiro sudah memberitahu Viltus untuk menggunakan lensa kontak saja daripada kacamata, namun Viltus berkata bahwa dirinya kurang nyaman jika tidak menggunakan kacamata.

Viltus mengenakan sepatunya, dan kemudian bertanya kepada Chie,

"Ibu, apakah kau ingin menitipkan sesuatu kepada kami ? Mumpung kami akan keluar."

"Hmmmm... Tunggu sebentar, ya." ujar Chie sembari berjalan masuk ke dalam.

"Tumben sekali dirimu baik seperti itu, Viltus." sindir Shiro

"Hei, kita harus berbuat baik kepada ibu, benar ? Bukankah ada pepatah surga ada di telapak kaki ibu ?" ujar Viltus

"Ahahahahaha... Kau ada benarnya, sih."

Tidak berapa lama, Chie berjalan ke arah mereka berdua dan memberikan secarik kertas. Viltus dan Shiro melihat kertas tersebut, dan kemudian Viltus langsung berkata,

"Hooh... Ingin membuat udon, ya ?"

"Ahahahahaha... Dirimu benar-benar sangat ahli dalam hal ini." ujar Chie

"Tidak seperti seorang wanita di sini." sindir Viltus

"Hei ! Aku kan belum membaca semuanya." teriak Shiro cukup kesal

"Haaahhh... Shiro, Ibu bingung mengapa kau masih juga tidak dapat memasak sampai sekarang." ujar Chie

"I... Ibu..." ujar Shiro sedikit panik

"Ibu merasa kasihan dengan kekasihmu nanti. Jika dirimu tidak juga memperbaiki masakanmu, suamimu pasti akan menderita." ujar Chie sembari menghela nafas.

Viltus menahan tawa, sementara wajah Shiro menjadi merah karena malu. Chie kemudian melanjutkan,

"Tapi, aku penasaran dengan satu hal."

"Apakah itu, Ibu ?" tanya Viltus

"Kalian berdua ini sudah dewasa, tapi entah mengapa kalian belum pernah membawa pasangan kalian ke rumah ini. Ibu khawatir dengan kehidupan kalian nantinya." ujar Chie

Kata-kata itu membuat Shiro dan Viltus terdiam. Apa yang dikatakan Chie itu ada benarnya. Mereka berdua belum memperkenalkan satu pasangan mereka kepada Chie, dengan asumsi Shiro sudah menemukan pasangannya. Namun, melihat wajah yang ditunjukkan oleh Shiro, Viltus dapat menebak bahwa belum ada pria yang berani mendekati dirinya hingga saat ini. Sementara Viltus sendiri juga cukup khawatir dengan kondisinya. Ia memiliki pasangan seorang Gadis Kapal, yang merupakan salah satu hal yang cukup tabu bahkan di masyarakat sekalipun. Walaupun ayahnya sudah mengijinkan, entahlah dengan ibunya.

Chie mendadak berkata,

"Kau tahu... Ibu ingin menggendong cucu..."

"Uuuuhhh... Ibu..." ujar Shiro semakin panik

Akhirnya Viltus mengambil inisiatif dengan berkata,

"Ummm... Ibu, maaf ya. Tapi, kami sepertinya harus berangkat sekarang."

"Ah... Kalian benar. Jika Ibu menahan kalian lebih lama lagi, kalian bisa mengantri cukup lama di sana." ujar Chie

Viltus mengangguk dan kemudian pamit kepada Chie dengan diikuti oleh Shiro di belakangnya. Setelah di luar rumah, Viltus langsung berkata,

"Pukulan telak, ya ?"

"Iya... Huhuhuhuhu..." ujar Shiro

"Bagaimana jika aku memperkenalkan salah satu temanku di Yokosuka ?" goda Viltus

"Tidak mau..."

"Seperti dugaanku."

Viltus langsung berjalan di depan Shiro, diikuti oleh Shiro. Mendadak Shiro bertanya kepada Viltus,

"Kau sendiri bagaimana ? Tidak memberitahu Ibu mengenai hubunganmu dengan Taihou ?"

"Ah... Itu..."

"Kau tidak perlu malu untuk memberitahu hal tersebut mengerti."

"Iya... Iya... Jika waktunya tepat, aku akan memberitahu Ibu."

"Kau yakin ?"

"Iya, aku yakin."

Viltus langsung berjalan lebih cepat dari Shiro agar tidak ditanya lebih banyak lagi, sementara Shiro hanya tertawa saja. Ia langsung bergumam dengan pelan,

"Dia sudah jauh lebih tenang dan lepas dari kemarin, baguslah..."

"Shiro-nee ! Sampai kapan kau akan diam di sana ?" teriak Viltus

"Iya... Iya..."

Shiro langsung berjalan ke arah Viltus yang menuggu dirinya.


Sekitar pukul 2 siang, Viltus dan Shiro membawa pulang barang belanjaan mereka. Bahan makanan untuk siang itu, sebuah semangka yang diberikan gratis oleh salah satu penjual yang sudah cukup rindu dengan mereka berdua, beberapa botol minuman ringan, dan yang paling penting adalah kacamata.

Shiro langsung berkomentar,

"Kau tahu... Kau menghabiskan banyak waktu untuk memilih kacamata barumu."

"Shiro-nee... Sebagai sesama pengguna kacamata, seharusnya kau tahu... Yang kita butuhkan adalah kenyamanan dalam menggunakannya sehari-hari." ujar Viltus

"Iya juga sih."

"Tapi, ada sisi bagusnya juga sih. Jika kita terlalu cepat, pasti kita akan keluar lagi untuk belanja."

"Hmmm... Kau ada benarnya sih."

Jika memperhatikan jumlah barang belanjaan yang mereka bawa, jumlah itu membengkak dari apa yang dititipkan oleh Ibu mereka. Viltus langsung melihat kembali ke barang belanjaan di tangan mereka dan kemudian berkomentar,

"Jumlah ini terlalu banyak untuk kita bertiga..."

"Berarti ada tamu yang datang kemari." ujar Shiro

Viltus memperhatikan wajah dari Shiro, yang langsung dibalas oleh Shiro dengan berkata,

"Aku tidak mengetahui apapun untuk masalah ini."

"..."

"Hei, percaya sedikitlah dengan kakakmu ini." ujar Shiro dengan nada kesal

Viltus langsung tertawa kecil, dan langsung tersenyum. Ia berkata,

"Aku hanya bercanda koq..."

"Tapi, wajahmu berkata lain tadi..." ujar Shiro dengan wajah tidak percaya

"Berarti diriku sudah dapat menipu orang dengan wajah itu, ya ?"

"Kau..."

Shiro langsung melayangkan buah semangka yang ia bawa, sementara Viltus berusaha untuk menghindarinya. Tidak berapa lama, mereka melewati sebatang pohon di dekat sebuah sungai. Viltus berhenti dan langsung berkata dengan pelan,

"Pohon itu..."

"Viltus..." ujar Shiro sedikit khawatir

"Tanpa pohon tersebut, diriku tidak akan di sini. Tanpa pohon tersebut, semua kejadian ini tidak akan pernah terjadi."

"Huh ?"

"Di balik sebuah kejadian yang buruk, akan muncul sebuah kejadian yang baik. Itu yang kupelajari hingga saat ini."

"Begitukah ?"

"Iya." ujar Viltus sembari membalikkan badannya ke Shiro

Viltus memberitahu ia kehilangan Kaede, namun ia dapat bertemu dengan Taihou. Ia kehilangan keluarga aslinya, namun sekarang ia memiliki sebuah keluarga kecil di Yokosuka. Dan banyak hal lain yang ia alami di Yokosuka.

Shiro langsung tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Viltus, hingga akhirnya Viltus berkata,

"Yang harus kulakukan adalah melihat ke masa depan. Menunggunya dan melihatnya dengan semangat tinggi."

"Kau..."

"Aku sudah bilang, jika dirimu mengatakan bahwa diriku sudah berubah sekali lagi, aku akan menghajar dirimu."

"Ehehehehe... Entahlah apa yang telah dilakukan oleh Taihou selama diriku di Kure. Namun, aku yakin itu yang paling mengubah dirimu."

"Begitukah ? Mungkin saja."

Viltus langsung tertawa sembari melihat ke arah pohon tersebut. Shiro sendiri langung menepuk pundak dari Viltus dan kemudian berkata,

"Sudahlah... Ayo kita pulang sekarang. Ibu pasti sudah menunggu kita."

"Iya." jawab Viltus

Mereka berjalan meninggalkan pohon tersebut untuk kembali ke rumah mereka.


Setelah tiba di rumah, mereka berdua melihat beberapa pasang sepatu di sana. Viltus langsung berkomentar,

"Entah mengapa aku mengenal semua sepatu ini..."

"Sepatu ini cukup familiar." ujar Shiro kemudian

Tidak berapa lama, Chie datang menyambut mereka dengan Viltus berkata,

"Kami pulang, Bu. Maaf, sedikit terlambat."

"Bukan masalah anakku. Setidaknya kau dapat berbincang-bincang dengan kakakmu, benar ?" ujar Chie

"Iya... Ahahahahaha..."

"Oh, iya. Ini dari keluarga Saito." ujar Shiro sembari menunjukkan semangka di tangannya.

"Ah... Baik sekali mereka. Dan sepertinya itu cukup untuk tamu kita hari ini." ujar Chie kemudian

"Ummm... Ibu, jika boleh tahu siapakah yang datang berkunjung sekarang ?" tanya Viltus.

"Ah... Itu... Sebaiknya sih kau ke ruang tamu saja sekarang." jawab Chie seakan-akan ia sudah diberitahu untuk tidak memberitahu Viltus mengenai siapa yang datang.

"Baiklah..." ujar Viltus sedikit tidak yakin

"Daripada kalian berdiri terus di sini, bagaimana jika kau membawa barang belanjaan ini ke dapur." ujar Chie mendadak

"Ah... Baik." jawab mereka berdua

Shiro dan Viltus berjalan bersama ke arah dapur yang melewati ruang tamu di rumah tersebut. Di sana Viltus melihat beberapa orang yang duduk di sana. Dua orang pria dari luar negeri, dua orang wanita dari luar negeri, seorang wanita dengan rambut ungu yang membawa kamera, dan juga seorang wanita dengan rambut coklat pendek yang ia cintai. Namun, dirinya terus berjalan ke arah dapur sementara Shiro berhenti karena melihat mereka semua. Viltus langsung berkata,

"Shiro-nee... Kenapa dirimu berhenti, ayo..."

"Ummm... Viltus kau yakin ?" ujar Shiro dengan wajah kurang yakin

"Yakin apa ? Ibu sudah meminta kita untuk membawa barang ini ke dapur benar ?"

"Iya sih... Tapi..."

"Shiro-nee..."

"Baik... Baik..."

Viltus langsung melanjutkan langkahnya, sebelum berhenti kembali. Ia menaruh barang tersebut di lantai dan kemudian melihat ke arah ruang tamu dengan lebih fokus lagi. Dan di sana ia melihat Anastasia, Elisa, Magyar, Marcos, Aoba dan Taihou yang sedang duduk di sana. Viltus sontak langsung berteriak,

"Kalian ?!"


Shiro dan Chie duduk bersama dengan mereka semua, sementara Viltus menyiapkan minuman untuk mereka semua. Pada awalnya, Taihou dan Aoba ingin membantu, namun Viltus sudah mengatakan untuk membiarkan ini semua diserahkan kepada tuan rumahnya saja. Setelah Aoba dan Taihou kembali, Chie kembali bertanya kepada Anastasia,

"Jadi, apakah benar dirimu sudah mendapatkan pasangan ?"

"Mengenai itu... Ahahahahahaha." ujar Anastasia sedikit malu-malu

"Sudahlah, Anastasia beritahu saj... Uhuk..." ujar Magyar yang langsung dipukul dari bawah tanpa diketahui oleh Chie.

"Setidaknya, bibi cukup senang dirimu dapat menemukan pasanganmu, Anastasia." ujar Chie

Semuanya tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Chie, hingga akhirnya Chie kembali berkata,

"Sebenarnya, bibi cukup khawatir dengan kondisi dari kedua anak bibi ini. Soalnya, mereka sama sekali tidak membawa pasangan mereka kemari."

"I... Ibu !" teriak Shiro dengan wajah merah

"Ahahahahaha... Ibu tahu koq, kalau dirimu sibuk. Namun, anak itu..." ujar Chie sembari melihat ke arah luar

Mereka semua tahu bahwa yang dimaksud oleh Chie adalah Viltus yang sedang sibuk di dalam dapur. Mereka sadar, Viltus sama sekali tidak memberitahu Chie mengenai hubungannya dengan Taihou. Dapat dikatakan Viltus masih khawatir ibunya tidak akan menerimanya.

Mendadak Chie melihat ke arah Aoba dan juga Taihou. Ia melihat dengan seksama dan kemudian berkata,

"Kalian berdua ini Gadis Kapal, benar ?"

"Eh ? Bagaimana anda tahu mengenai..." ujar Aoba yang langsung mendapat senyuman dari Chie

"Bibi tahu semuanya." ujar Chie

"Ah... Dari Laksamana Yanagi-san, ya ?" tanya Aoba

"Iya... Ahahahahaha." ujar Chie sedikit tertawa

Ia kemudian melihat ke arah Taihou sebentar, dan tersenyum. Taihou ingin menjawab, namun tertahan oleh Chie yang berkata,

"Anak itu... Pasti jatuh cinta kepada dirimu, ya ?"

"Mengenai itu..." ujar Taihou sedikit panik

"Bibi dapat melihat dari cincin yang kau kenakan. Cincin yang sama dengan yang dikenakan oleh Viltus-chan. Sepertinya kalian sudah berkencan."

"Uuuuuhhhh..."

"Atau jangan-jangan dirimu dan dirinya sudah menikah ?"

"Be... Belum..."

Wajah Taihou sangat merah pada saat mengatakan hal tersebut. Pada saat bersamaan dengan itu, Magyar bertanya kepada Chie,

"Mengapa anda berasumsi seperti itu, Nyonya Yanagi ?"

"Intuisi seorang Ibu. Karena terkadang aku melihat wajah konyol dari anak itu sembari melihat ke arah handphone miliknya. Bibi melihat foto dari gadis ini." ujar Chie

Taihou melihat ke arah Chie dan demikian, di dalam hatinya ia masih khawatir Chie akan menolak hubungannya dengan Viltus karena dirinya merupakan seorang Gadis Kapal. Namun, yang dikatakan oleh Chie berikutnya adalah sesuatu yang tidak diduga olehnya.

"Taihou-chan, benar ?"

"I... Iya..." jawab Taihou

"Bibi yakin, dirimu pasti khawatir akan sesuatu."

"..."

"Sepertinya mengenai dirimu yang merupakan seorang Gadis Kapal mencintai dan berkencan dengan manusia, benar ?"

"..."

"Sepertinya, benar. Baiklah, Bibi akan tanya ini kepada dirimu, Taihou. Apakah kau mencintai dirinya ?"

"Iya... Aku mencintai Viltus."

"Maka terus kejar itu. Lindungi perasaanmu terhadap dirinya, dan bersama-sama menghadapi stigma yang diberikan oleh masyarakat kepada kalian berdua. Bibi tahu itu sangat sulit, namun Bibi percaya kalian berdua mampu menghadapinya."

Taihou sangat terkejut mendengar hal tersebut, dan melihat wajah Chie yang tersenyum. Chie kemudian melanjutkannya,

"Bibi sangat berterimakasih kepada dirimu telah mengubah pria tersebut menjadi lebih baik."

"..."

"Semenjak dirinya kehilangan wanita tersebut, Bibi sangat khawatir terhadap dirinya. Namun, melihat dirinya yang kembali kemari dengan wajah yang lebih cerah, sepertinya Bibi terlalu banyak berpikir mengenai hal buruk yang terjadi pada dirinya."

"Apakah anda..." ujar Taihou yang langsung disela oleh Chie

"Tentu saja. Bibi menerima hubungan kalian berdua. Keluarga ini jauh lebih terbuka untuk hal tersebut. Bibi justru senang melihat setidaknya pasangan dari salah satu anak Bibi datang kemari."

Taihou langsung menunduk dengan wajah sedikit malu, sementara Chie langsung menanyakan Shiro kembali mengenai kapan ia akan membawa pasangannya yang diiringi tawa dari yang lainnya. Tidak berapa lama, Shiro mendengar Viltus yang memanggil namanya dan kemudian langsung pergi ke dapur, begitu pula dengan Chie. Aoba langsung melihat ke arah Taihou dan berkata,

"Sepertinya... Ibunya juga sudah setuju tuh..."

"Uuuuuhhhh... Mengenai hal itu..." ujar Taihou sedikit malu

"Wajahmu merah seperti tomat. Dan itu terlihat cukup imut." ujar Magyar

"Hei ! Aku beritahu Ryuujou loh." ujar Anastasia

"Aku hanya bercanda... Hanya bercanda." ujar Magyar

"Aku kurang yakin dirimu bisa selamat sih... Karena reporter itu sepertinya mencatat semuanya." ujar Marcos

"AOBA ! Taihou bantu aku." ujar Magyar langsung ke arah Aoba

"Ehehehehehe... Itu salahmu sendiri Magyar." ujar Taihou

Magyar berlari ke arah Aoba, dengan Anastasia dan Marcos berusaha menahannya. Yang terjadi selanjutnya adalah Magyar terjatuh di depan Aoba dengan Anastasia dan Marcos menahannya Taihou sendiri tertawa melihat tingkah laku keempat temannya ini. Mereka dikagetkan dengan suara dari Viltus,

"Kalian ini..."

"Ara... Ara... Baru saja ditinggal sebentar sudah berantakan seperti ini." ujar Chie sedikit tertawa

Mereka berlima melihat Chie, Shiro dan Viltus yang membawa nampan makanan. Di sana terdapat beberapa piring nasi, ikan panggang, dan beberapa sayuran. Selain itu, terdapat pula beberapa cangkir teh di nampan Shiro. Mereka bertiga langsung menghidangkannya ke tamu mereka, dan setelah itu duduk. Viltus sendiri langsung duduk di sebelah Taihou. Chie langsung berkomentar,

"Wah... Wah... Langsung duduk di sebelah kekasihnya, ya ?"

"Ibu iri ?" goda Viltus

"Tidak juga... Ibu justru cukup senang dirimu dapat menemukan pasangan bagi dirimu."

"Hehehehehe..."

Wajah Taihou sedikit merah mendengar pembicaraan antara Chie dengan Viltus. Viltus melihat ke arah Taihou dan berbisik,

"Aku tahu kau pasti sangat malu..."

"Tentu saja... Bertemu dengan ibumu... Aku sama sekali tidak siap untuk hal ini." jawab Taihou dengan pelan

"Aku tahu..."

"Lalu untuk apa kau bertanya seperti itu ?" tanya Taihou dengan wajah kesal

"Sebenarnya... Apakah Ibuku..."

"Ia menerima hubungan kita."

"Eh ?!"

"Mengapa kau terkejut seperti itu ?"

"Kau tahu, di dalam dapur aku berpikir untuk memberitahu hubungan diriku dengan dirimu. Dan berpikir jika ibu menolak hubungan kita."

"Ehehehehehe."

"Kenapa tertawa ?"

"Habis dirimu berpikir sejauh itu sih."

"Iya juga sih..."

Mereka berdua berbincang-bincang singkat sebelum hingga akhirnya mereka melanjutkan makan mereka. Setelah selesai, topik yang mereka bicarakan adalah menganggu Shiro lebih lanjut lagi.


Malam pun tiba, dan keempat orang tersebut menginap di rumah Viltus. Mereka semua menginap dikarenakan keesokan harinya Viltus akan kembali ke markas angkatan laut Yokosuka. Dan hari itu, Viltus dan Taihou tidur bersama untuk pertama kalinya.

Viltus tidur di futon miliknya, sementara Taihou menggunakan futon milik Shiro yang tertinggal di sana. Dan komentar pertama yang diberikan oleh Taihou adalah

"Aku sama sekali tidak menyangka diri masih tidur bersama dengan Shiro-nee di usia seperti itu."

"Shiro-nee yang memaksa diriku kemarin." jawab Viltus

"Hmmmmm..." ujar Taihou yang membuat wajah sedikit menggodanya

"Ayolah, Taihou"

"Aku tidak yakin dirimu seperti itu..."

"Aku tidak mungkin macam-macam dengan..."

"Kau yakin ?"

Mendadak Viltus ke posisi duduk dan melihat ke arah Taihou. Ia memperhatikan tubuh Taihou yang melihat ke arah dirinya. Ia melihat Taihou yang hanya mengenakan kemeja putih miliknya karena ia sama sekali tidak persiapan untuk menginap di tempat Viltus.

Taihou sedikit bingung dengan tindakan Viltus, dan langsung terkejut pada saat Viltus menerjangnya. Taihou dapat melihat dengan jelas wajah dari Viltus yang menahan dirinya di futon miliknya. Ia melihat dengan lebih jelas lagi wajah milik Viltus dan langsung memerah. Viltus langsung berkata,

"Tentu saja diriku yakin..."

"Viltus..." ujar Taihou

"Karena aku merupakan pria yang cukup loyal..."ujar Viltus sembari mengelus rambut Taihou

"Eh ? Jika dirimu tidak bertemu dengan diriku, mungkin dirimu akan bersama dengan Shiro-nee ?"

"Tidak juga..."

"Aku tahu... Aku cuma bercanda..."

"Lagipula diriku taat pada aturan keluarga..."

"Namun, tidak di angkatan laut."

"Ehehehehehe."

Viltus langsung mencium bibir dari Taihou. Setelah beberapa saat, Taihou mendadak bertanya,

"Vil... Tidak, Kazuki..."

"Tumben sekali dirimu memanggil namaku yang itu." ujar Viltus sedikit tersenyum

"Kita sedang sendirian, benar ?"

"Iya."

"Ehehehehe."

"Lalu, apa yang ingin kau tanyakan kepada diriku ?"

Taihou diam sebentar, hingga akhirnya berkata,

"Aku yakin ibumu berharap dapat melihat cucunya. Aku dapat melihat dari matanya, ia ingin melihat keluarga ini masih memiliki keturunan..."

"Lalu ?" tanya Viltus kemudian

"Kau tahu, kami Gadis Kapal sama sekali tidak dapat mengandung sama sekali karena bagi ilmuwan hal tersebut akan menganggu pekerjaan kami sebagai Gadis Kapal...Apakah kau yakin... Huh ?"

Taihou sedikit terkejut melihat wajah kesal dari Viltus yang kemudian langsung berkomentar sembari menyentil dahi dari Taihou,

"Jadi, ini toh yang kau pikirkan..."

"..."

"Dan kau ingin membuatku berpikir untuk pindah ke wanita lain ?"

"Setidaknya agar..."

"Tidak ! Aku hanya mencintai dirimu saja. Aku tidak akan membiarkan ada wanita lain yang masuk ke dalam kehidupanku."

"Viltus..."

"Aku tidak peduli dengan hal tersebut. Lagipula, diriku sudah menerima konsekuensinya dengan membuatmu kekasihku. Apakah kau lupa dengan hal tersebut ?"

Taihou terdiam sebentar, dan kemudian mendengar Viltus berkata,

"Aku akan menghadapi apapun itu. Untuk hidup bersama dengan dirimu. Baik itu keluargaku sendiri maupun masyarakat Jepang... Bahkan dunia ini ! Hanya untuk hidup bersama dirimu."

"..."

"Taihou..."

"Ehehehehehe."

"Hei, aku sedang serius saat ini..."

"Aku tahu... Aku tahu..."

"..."

"Mengapa aku berpikir seperti itu... Padahal ibumu sudah mengatakan untuk mengejar dirimu apapun yang terjadi..."

Taihou tertawa sembari melihat ke arah Viltus yang terlihat sedikit kebingungan. Taihou kemudian membuat wajah yang menggoda Viltus dan kemudian bertanya,

"Lalu, Kazuki... Mengapa kau menahan diriku di bawah seperti ini ?"

"Ah... Ini..." ujar Viltus sedikit panik

Mendadak kedua tangan dari Taihou melingkar di leher Viltus dan kemudian berkata,

"Ini akan menjadi pengalaman pertama kita..."

"..."

"Bagaimana Kazuki-chan ?"

Taihou langsung menarik Viltus dan menciumnya. Yang terjadi selanjutnya pada malam itu tidak akan dituliskan secara terperinci oleh penulis kita yang tercinta ini dikarenakan dia merasa akan membuat chapter ini lebih panjang lagi. Maka berharaplah penulis kita tercinta ini akan membuat one-shot untuk masalah ini dalam waktu dekat.


Satu hari sudah berlalu, dan Viltus sudah kembali di Yokosuka. Wajahnya lebih segar dan terlihat sedang bersiap-siap untuk ke kantornya. Kemarin pagi, dirinya dan semua rombongan Yokosuka pergi menggunakan bus untuk kembali ke Yokosuka, dan itu memakan waktu yang sangat lama.

Ia tersenyum sembari melihat ke arah cermin di depannya, dan kemudian berjalan keluar dari kamarnya. Dan ia temui adalah Natsume Toshiko, Laksamana dari Aoba yang saat itu terlihat hancur pada saat kehilangan Uzuki. Namun, yang ia lihat sekarang adalah Toshiko yang ia kenal. Viltus langsung menyapa dirinya,

"Selamat pagi, Komandan Natsume"

"Ah... Selamat pagi, Kapten Amarov. Kapan dirimu kembali kemari ?" ujar Toshiko sembari memberi hormat

"Kemarin sore saya tiba di Yokosuka. Saya langsung kembali ke kamar saya karena ada pekerjaan yang harus kukejar hari ini."

"..."

"Ada apa, Komandan Natsume ?"

"Sepertinya anda jauh lebih tenang dan terlihat lebih dewasa dari sebelumnya..."

"Begitukah ? Aku merasa diriku kembali seperti sebelumnya."

"Apa yang anda katakan itu ada benarnya, ahahahahaha."

Mereka berdua berjalan bersama ke gedung administrasi. Dan sepanjang perjalanan, semua Laksamana yang melihat Viltus langsung menanyakan kondisi dirinya. Viltus berkata bahwa dirinya sudah lebih baik lagi, namun ada Laksamana yang kurang yakin. Setelah berbincang-bincang singkat, Toshiko berkata,

"Anda tahu, selama dirimu tidak ada di sini... Banyak orang yang membantu diriku untuk berdiri kembali. Mereka semua membantuku untuk berdiri dan kembali berjuang di medan perang."

"Begitukah ? Mereka semua melakukan hal tersebut ?" tanya Viltus

"Sepertinya dari pertanyaanmu, dirimu tidak mendapatkan hal tersebut, ya ? Ah... Aku mengerti mengapa..." ujar Toshiko

"Apapun yang kau pikirkan... Ya, namun satu-satunya yang membantuku adalah Aoba sendiri. Karena jika diriku tidak maju, bagaimana diriku dapat membantu Aoba ?"

"Ehehehehehe... Itu juga yang dikatakan oleh Aoba kepada diriku. Kau yang membantunya dahulu. Kau yang paling peka dengan perasaan Gadis Kapal."

"Begitukah ? Aku kurang yakin jika mengingat diriku yang dahulu."

Toshiko mendadak berjalan lebih cepat dan kemudian berhenti di depan Viltus. Viltus sendiri langsung berhenti dan melihat Toshiko yang tersenyum. Toshiko langsung berkata,

"Dirimu mengalami sesuatu yang lebih berat daripada diriku. Aku seharusnya malu melihat dirimu yang terus berjalan dan bangkit setelah kejadian seperti itu."

"Setiap orang berbeda-beda dalam menghadapi suatu masalah. Namun, bukankah itu tugas seorang teman untuk membantu temannya yang terjatuh ?" ujar Viltus

"Te... Teman ? Saya mengira itu tugas anda sebagai atasan untuk membantu bawahannya..."

"Tidak. Itu murni karena aku menganggap semuanya sebagai teman. Bukan atasan atau bawahan. Aku mempelajari hal tersebut dari seorang pria yang cukup idiot di markas ini."

"Ehehehehehe."

"..."

"Aku yakin dirimu bertanya-tanya apa yang ingin kukatakan sekarang."

"Lebih kurang demikian."

Toshiko langsung berdiri dengan tegap dan tangannya di dadanya sembari berkata,

"Aku akan terus berjuang untuk menghadapi semua Abyssal yang masih menyerang manusia. Itu tugas kita sebagai Laksamana ini. Aku tidak akan membiarkan kejadian seperti itu mempengaruhi diriku, karena aku tahu semua orang akan membantumu untuk berdiri dan kembali berjuang bersama."

"..."

"Ini semua karena aku mengidolai dirimu yang terus bekerja dengan keras walaupun mengalami hal seperti itu. Aku akan terus berjuang... Untuk mengejar dirimu... Tidak, melewati apa yang telah kau raih."

"Aku akan menunggu hingga dirimu dapat melakukannya Komandan Natsume." ujar Viltus sembari tersenyum.

Melihat senyum dari Viltus, Toshiko langsung membalikkan badannya. Viltus langsung tahu apa yang ada di pikiran Toshiko karena apa yang pernah dikatakan oleh Elisa sebelumnya. Ia mendengar sedikit apa yang dikatakan oleh Toshiko,

"Kau ini dengan mudahnya tersenyum seperti itu di depan wanita. Bisa-bisa..."

"Ummmm... Komandan Natsume." ujar Viltus

"Ahhhh... Tidak apa-apa."

"..."

"Seandainya saja dirimu tidak memiliki kekasih, mungkin dirimu akan terus kukejar. Namun, sayangnya kau sudah memilikinya."

"..."

"Sudahlah. Dan mungkin kalau aku ada masalah dengan pekerjaan atau mungkin akan curhat... Bolehkah diriku ke kantormu ?"

"Ya, silakan saja. Pintu terbuka kapan saja untuk mereka yang ingin bertanya beberapa hal kepada diriku dan anggota kruku. Lagipula Akira juga sering datang ke tempatku."

"Aku tahu." ujar Toshiko sembari menjulurkan lidahnya

Toshiko menjadi lebih terbuka karena ia tahu, Viltus tidak terlalu menganggapnya sebagai bawahan, lebih ke arah teman. Viltus sendiri tersenyum kembali, dan berbincang-bincang dengan Toshiko sebentar sebelum pergi ke kantornya.

Setibanya di depan pintu kantornya, ia menutup matanya dan kemudian memutar kenop pintunya. Di sana ia melihat Anastasia, Magyar dan Marcos yang sudah siap untuk menerima tugas mereka. Selain itu, Akizuki dan Taihou pun ada di sana. Viltus masuk sembari tersenyum singkat dan berkata,

"Maafkan saya telah menghilang dari tugas ini selama satu minggu penuh."

"Itu bukan masalah." ujar Magyar

"Yang kami butuhkan adalah dirimu yang lebih tenang dalam membuat keputusan." ujar Marcos

"Yang terpenting adalah dirimu kembali kemari." ujar Anastasia

Viltus langsung tersenyum dan berjalan sembari melepas topinya. Ia melihat wajah penuh semangat dari semua krunya, dan juga wajah tersenyum dari Taihou. Ia langsung berkata,

"Tugas kita masih banyak. Mari kita kembali bekerja dengan semangat tinggi."

Semuanya berteriak dengan keras di ruangan tersebut.


HakunoKazuki di sini

Maafkan saya chapter ini cukup lama untuk selesai, karena satu dan beberapa hal. Apakah itu ? Bukan masalah anda.

Tidak banyak yang dapat dibicarakan karena saya masih memiliki urusan.

Baiklah, sampai jumpa di kesempatan berikutnya !

Sayonara