Chapter 29
Preparation - German Friend
Di sebuah ruangan kecil, tiga orang sedang duduk bersama sembari meminum beberapa gelas kopi bersama. Di depan mereka, terdapat beberapa dokumen yang cukup banyak. Dokumen yang mencakup operasi besar mereka dalam waktu dekat.
Orang pertama yang duduk dekat dengan jendela yang menghadap ke arah taman adalah seorang wanita di usia 26 tahun dengan rambut berwarna coklat panjang, ia mengenakan sebuah kacamata, dan pakaian laksamana berwarna putih. Namanya adalah Fujiwara Megumi. Ia memiliki pangkat kapten.
Orang kedua yang duduk di dekat pintu sembari melihat ke atas adalah seorang pria di usia 27 tahun dengan rambut berwarna hitam yang sedikit acak-acakan. Ia mengenakan pakaian laksamana yang dilipat di bagian lengannya dan mengenakan sarung tangan berwarna hitam. Namanya adalah Takagi Akihiko. Sama seperti Megumi, ia memiliki pangkat kapten.
Dan orang terakhir adalah karakter utama kita yang sangat kita kenal, Viltus Amarov. Mereka bertiga adalah pemimpin di armada pengintaian, penyerangan dan pertahanan. Fujiwara Megumi menjadi pemimpin di armada pertahanan dikarenakan taktik dia yang cukup baik dalam mempertahankan formasi dan melindungi armada utama. Takagi Akihiko menjadi pemimpin di armada penyerangan karena intuisinya dalam menyerang yang sangat baik dan cukup disegani di Yokosuka. Dan Viltus Amarov menjadi pemimpin di armada pengintaian karena teknik komunikasinya yang lebih baik dan juga mampu mencakup area yang luas.
Setelah cukup lama hening, Akihiko langsung berdiri dan memukul meja sembari berkata,
"Mengapa ini sangat sulit sekali ?!"
"Tentu saja ini sangat sulit karena ini merupakan operasi yang cukup besar." ujar Megumi
"Tapi, tetap saja... Semua sumber daya yang kita punya dan kekuatan Gadis Kapal kita sekarang akan cukup sulit." ujar Akihiko
"Yang kita lakukan adalah memutar otak kita sedikit lebih keras saja." ujar Viltus kemudian
"Apa yang dikatakan oleh Kapten Amarov ada benarnya. Kita harus lebih memutar otak untuk urusan ini." ujar Megumi
"Haaahhhh... Kalian berdua itu dapat dikatakan monster di angkatan kita. Mampu memikirkan taktik yang tidak terduga di medan perang. Jadi, jangan bandingkan kalian dengan diriku." ujar Akihiko
"Apakah aku mendapat julukan monster juga di kalangan teman-teman kita ? Tidak kusangka." ujar Viltus
"Ehehehehehe... Habis dirimu ini sangat sempurna dalam semuanya." puji Megumi
"Tidak semuanya. Setidaknya Anastasia, Magyar dan Marcos pun membantu diriku." ujar Viltus sembari mengambil dokumen lain.
"Setidaknya armadamu memiliki jumlah Laksamana yang sedikit, namun dapat diajak kerja sama seperti Komandan Aoki dan Komandan Natsume." komentar Akihiko sembari berdiri dan merenggangkan badannya.
"Huh ? Komandan Natsume masuk ke armada pengintaian ? Bukankah dia di armada pertahanan ?" tanya Viltus dengan wajah terkejut
Akihiko dan Megumi cukup terkejut mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Viltus. Akihiko langsung menepuk wajahnya dan kemudian langsung berkata,
"Ah... Aku baru ingat dirimu istirahat penuh satu minggu yang lalu."
"Ah, iya... Kau benar." ujar Megumi
"Aku punya firasat Komandan Natsume meminta ijin kepada Laksamana Masamune atau Laksamana Yanagi untuk pindah ke armada pengintaian." ujar Viltus
"Hampir benar." ujar Akihiko
"Huh ? Hampir benar ?" tanya Viltus
"Ia meminta ijin kepada Grand Admiral Ichijo selaku pemimpin tertinggi dan juga Laksamana Muda Yoshida." jawab Megumi
"Meminta ijin langsung kepada Grand Admiral... Tunggu sebentar, bagaimana caranya dia mendapatkan koneksi seperti itu ?" tanya Viltus
"Kakek Komandan Natsume merupakan mentor dari Grand Admiral Ichijo, dapat dikatakan itu merupakan koneksi dari keluarga." ujar Akihiko
"Setidaknya tidak seperti dirimu yang merupakan ayahnya langsung yang merupakan salah satu petinggi di sini." ujar Megumi
"Sudahlah..." ujar Viltus sedikit menyerah
Viltus memikirkan taktik untuk pengintaian dengan isi mayoritas Kapal Induk ditambah Kapal Penjelajah Berat dan beberapa Kapal Perusak. Namun, ia terganggu dengan Akihiko yang berkata,
"Aku ingat dirimu adalah teman baik dari Kapten Kouga, benar ?"
"Ada apa lagi dengan dirinya ?" tanya Viltus
"Dia itu salah satu Laksamana yang sangat baik dan cukup disegani di lini depan. Namun, tingkah lakunya jika bukan di medan perang itu membuatku sakit kepala. Mungkin kau dapat memberikan masukan untuk menghadapi dirinya ?" tanya Akihiko
"Tidak ada. Biarkan saja dia melakukan hal tersebut. Karena intuisinya sama kuatnya dengan dirimu." jawab Viltus dengan enteng
"Tapi..."
"Tenang saja, dirinya pasti mengetahui tanggung jawabnya." ujar Viltus
"Kapten Takagi, jika Kapten Amarov sudah berkata demikian berarti sudah tidak ada yang dapat diganti." ujar Megumi
"Haaahhhh... Apa kata Laksamana Muda Yoshida nanti." ujar Akihiko
"Ngomong-ngomong mengenai Laksamana Muda Yoshida, di mana beliau sekarang ? Aku justru bingung mengapa armada pengintaian belum mendapatkan perintah untuk melakukan pengintaian dari sekarang." ujar Viltus
"Beliau berkata sedang bertemu dengan Laksamana Masamune dan Laksamana Yanagi untuk membahas perihal Gadis Kapal yang akan turun di operasi tersebut." ujar Megumi
"Dan kudengar kita akan mendapatkan Gadis Kapal baru di armada penyerangan. Namun, masih belum ada yang tahu dia akan masuk ke armada milik siapa." ujar Akihiko sembari melipat tangannya.
"Gadis Kapal baru ? Untuk operasi yang cukup dekat seperti ini ? Apa yang dipikirkan oleh atasan kita untuk hal tersebut." protes Viltus
"Sudahlah, yang penting kita mendapatkan tambahan tenaga. Daripada itu, Kapten Amarov dapatkah kau memberikan laporan mengenai kontur alam di area target ?" tanya Megumi
Viltus langsung mengangguk dan kemudian mengambil tiga dokumen yang berisi laporan mengenai alam di sekitar lokasi target. Viltus langsung berkata,
"Berdasarkan hasil dari rapat beberapa minggu yang lalu, target utama kita ada dua tempat. Satu area merupakan sebuah pulau di sebuah kepulauan yang dijaga oleh cukup banyak Kapal Induk kelas Wo dan juga Kapal Tempur kelas Ta. Melihat situasi di sekitar pulau tersebut, dapat diasumsikan mereka akan bersembunyi di teluk-teluk agar tidak terdeteksi."
"Apakah pulau tersebut sama seperti yang kau hadapi dahulu ?" tanya Akihiko
"Dapat kuasumsikan demikian dikarenakan terdapat laporan mengenai banyaknya pesawat di area tersebut." jawab Viltus
"Apakah memungkinkan bagi lawan untuk menurunkan kapal selam ?" tanya Megumi
"Berdasarkan kondisi bawah air di sekitar pulau tersebut... Ya, mereka dapat menurunkan kapal selam ke area tersebut karena banyak batuan yang memungkinkan bagi mereka untuk bersembunyi. Pulau target kita berada di bagian paling utara dari kepulauan tersebut, dan kedalaman laut di antara semua pulau tersebut adalah 2000 m hingga 3000 m. Hal tersebut yang menjadi perhatian utama selama rapat tersebut." ujar Viltus
"Baiklah, aku sudah mendapatkan gambaran mengenai target pertama. Bagaimana dengan target kedua ?" tanya Akihiko
"Sebuah area lautan dengan luas area yang jaraknya 5000 km dari pulau target kita yang pertama. Target utama adalah menghancurkan delapan armada lawan yang menjaga area tersebut. Namun, jumlah tersebut dapat saja berkurang atau mungkin bertambah mengingat laporan ini didapat dari hasil pengintaian tiga minggu yang lalu." ujar Viltus
"Jika boleh tahu mayoritas kapal lawan apa saja ?" tanya Megumi
"Berdasarkan laporan, mayoritas isi dari lawan adalah Kapal Induk kelas Wo dan Kapal Tempur kelas Ta. Namun, ada juga laporan mengenai munculnya Kapal Tempur kelas Re." ujar Viltus
"Kelas Re ?! Ini akan sangat sulit." ujar Akihiko
"Namun, ada hal lain yang membuatku sedikit khawatir." ujar Viltus kemudian
"Apakah itu ?" tanya Megumi
"Adanya kemungkinan Wanita dengan gaun hitam itu muncul kembali." ujar Viltus
Semuanya terlihat sangat terkejut dan membaca dokumen yang ada di tangan Viltus. Mereka berdua langsung mengangguk dan Akihiko terlihat berpikir sebentar. Hingga akhirnya, ia berkata,
"Kita akan melakukan penyerangan ke target pertama lebih dahulu. Pulau tersebut cukup strategis jika kita buat sebagai markas darurat untuk operasi ini. Lagipula, jika kita menyerang target yang berada di lautan terbuka tanpa menyerang pulau ini, pasti kita akan diserang banyak pesawat."
"Menurutku itu adalah jalan terbaik untuk operasi ini." ujar seseorang dari arah pintu.
Akihiko, Viltus dan Megumi langsung berdiri dan memberi hormat kepada pria yang berada di pintu. Pria itu memiliki usia 39 tahun, dan memiliki rambut yang sudah mulai memutih. Ia terlihat cukup kuat, dan mengenakan pakaian laksamana putih yang cukup rapi. Ia adalah Yoshida Satoshi, Laksamana Muda yang bertanggungjawab untuk operasi ini. Ia membalas hormat mereka bertiga dan langsung masuk.
Pada awal pembentukan armada ini, Satoshi menolak untuk mengangkat Akihiko, Viltus dan Megumi untuk menjadi pemimpin di masing-masing armada karena usia mereka. Namun, setelah melihat etos kerja dan berbagai hal yang mereka raih, akhirnya ia cukup melunak. Satoshi langsung berjalan ke dekat Viltus dan membaca laporannya sembari berkata,
"Kapten Takagi, apakah anda masih memiliki masukan ?"
"Itu yang saat ini ada di pikiran saya. Maaf, saya tidak dapat menambahkan apa-apa lagi." ujar Akihiko
"Bagaimana dengan dirimu Kapten Amarov ?" tanya Satoshi kemudian
"Saya mengajukan untuk melakukan pengintaian lebih cepat untuk mengetahui lebih lanjut armada lawan di area pulau tersebut. Dan setelah selesai membuat markas darurat, kami akan mulai bergerak kembali untuk melakukan pengintaian." ujar Viltus
"Wah... Wah... Untuk seorang Laksamana yang sangat peduli terhadap Gadis Kapalnya, kau cukup kejam juga, ya." ujar Satoshi
"Saya sudah memikirkan untuk menurunkan tiga armada pengintaian yang masing-masing dipimpin oleh Komandan Natsume, Komandan Aoki dan saya sendiri. Sehingga saya kami dapat melakukan rotasi untuk melakukan pengintaian." ujar Viltus
"Saya sudah menduga dirimu sudah memikirkan demikian." ujar Satoshi
"Saya akan melakukan taktik yang menurut saya cukup efektif hingga saat ini." ujar Viltus
"Ahahahaha, saya cukup senang dengan cara berpikir dirimu. Bagaimana dengan dirimu Kapten Fujiwara ?" tanya Satoshi
"Saya akan memulai pertahanan di kedua sisi dari armada utama, yang kemudian akan mulai melakukan perlidungan terhadap markas darurat. Terdapat tiga pulau di dekat sana, maka dari itu saya akan membagi armada saya menjadi tiga, di mana semuanya dapat melakukan respon dengan cepat untuk membantu sama lain." ujar Megumi
Satoshi mengangguk mendengar apa yang dikatakan oleh mereka bertiga, dan cukup terkejut melihat mereka bertiga terlihat setuju satu sama lain. Ia langsung tersenyum dan berkata,
"Sepertinya kalian semua sudah setuju sama lain dan terlihat cukup kompak." ujar Satoshi sembari duduk di kursi yang tersedia
"Jika kami yang merupakan pemimpin armada tidak kompak lebih dahulu, bagaimana kami dapat memimpin mereka di lini depan ?" ujar Akihiko sembari tertawa
"Sepertinya memang ini merupakan pilihan yang paling baik saat ini. Memilih kalian bertiga untuk memimpin operasi ini." ujar Satoshi sembari membaca dokumen
"Namun, semua keputusan berada di tanganmu. Kami tidak dapat seenaknya melakukan apapun tanpa ijin darimu." ujar Viltus
"Ahahahahaha... Hal tersebut keluar dari mulut pria yang paling sering melakukan tindakan yang biasanya tanpa persetujuan dari atasan." ujar Satoshi
Viltus langsung memalingkan wajahnya karena komentar dari Satoshi. Satoshi kemudian melihat ke arah Viltus dan berkata,
"Namun, tindakan yang kau lakukan itu cukup benar. Kau membawa semuanya kembali, walaupun tidak mengikuti prosedur."
"Maafkan saya." ujar Viltus
"Bukan masalah. Daripada itu, bukankah dirimu baru saja sembuh ? Sebaiknya dirimu istirahat saja sekarang." ujar Satoshi
"Seperti yang kukatakan sebelumnya, Kapten Amarov. Kau sebaiknya istirahat sekarang." ujar Megumi
"Sulit sekali membuat dirimu mengerti, ya..." ujar Akihiko
"Hei, aku belum menjawab apapun dan kalian berdua sudah berkata demikian." protes Viltus
"Namun, itu kenyataan." ujar Megumi sembari tertawa
Viltus langsung menghela nafasnya dan kemudian mendengar Satoshi berkata,
"Sudahlah. Kau kembali saja ke kantormu sekarang."
"Tidak bisa. Saya sudah satu minggu tidak mengerjakan satu pun tugas ini. Dan saya harus membalas apa yang saya tinggalkan selama satu minggu tersebut." ujar Viltus
"Tidak. Kau kembali ke kantormu. Aku tidak ingin salah satu bagian penting dari tim ini rusak karena kelelahan." ujar Satoshi
"Tapi..." ujar Viltus
"Tidak ada tapi-tapi." ujar Satoshi
"Ba... Baik..." ujar Viltus dengan nada menyerah
"Setidaknya kau masih dapat istirahat sekarang. Kami butuh dirimu untuk operasi nanti." ujar Megumi
"Kau tahu, kami tidak ingin melihatmu pingsan lagi. Kau ini terlalu sering pingsan. Ada baiknya kau tidak terlalu banyak bekerja." ujar Akihiko
"Iya... Iya... Jika demikian, saya mohon undur diri dahulu." ujar Viltus sembari memberi hormat
Akihiko, Megumi, dan Satoshi memberi hormat kepada Viltus. Dan tepat sebelum Viltus keluar, Satoshi berkata,
"Oh iya, Laksamana Yanagi memiliki sesuatu di kantormu. Aku kurang tahu detilnya, namun sepertinya itu cukup penting."
"Dari Laksamana Yanagi ? Baiklah, terima kasih banyak atas informasinya." ujar Viltus sembari berjalan meninggalkan ruangan tersebut.
Viltus sampai di kantornya yang sepi. Ia ingat Anastasia dan Magyar sedang di dermaga untuk membantu Elisa membenarkan masalah sonar dan radar milik mereka, sementara Marcos sedang di pabrik untuk masalah chaff grenade mereka yang terdapat sedikit masalah. Untuk Gadis Kapal di bawah arahannya sendiri sedang berlatih tanding di bawah pengawasan Akira.
Viltus berjalan ke arah mejanya dan kemudian melihat sebuah dokumen sudah berada di atas mejanya. Sebuah dokumen di dalam amplop berwarna coklat dengan cap berwarna merah. Viltus langsung berkata dengan singkat,
"Huh ? Laksamana baru di saat seperti ini ?"
Ia mengambil dokumen tersebut dan dikejutkan oleh seseorang yang menepuknya dari belakang. Pada saat Viltus melihat ke belakang, ia melihat Aoba yang tersenyum lebar. Viltus langsung menghela nafas dan kemudian berkata,
"Kau lagi, paparazzi sinting."
"Ehehehehehe... Bagaimana kabar adik ipar Aoba yang satu ini ? Aoba dengar dirimu memaksakan dirinya kembali, ya ?" tanya Aoba
"Tidak juga. Aku disuruh kembali lebih awal karena mereka khawatir dengan kesehatanku."
"Memang harus seperti itu sih."
"Daripada itu, bukankah semua Gadis Kapal sedang latih tanding. Mengapa dirimu ada di sini ?"
"Kami sudah selesai, dan Aoba salah satu yang tidak cedera sama sekali."
"Huh ? Cedera ?"
"Ada sedikit masalah antara Zuikaku dan Kaga. Dan hal tersebut berakhir dengan kekacauan."
"Sepertinya diriku harus menasihati mereka nanti."
Viltus kemudian menaruh dokumen tersebut dan kemudian berjalan ke arah lemari untuk mengambil beberapa gelas. Ia tahu, Taihou akan kembali dalam keadaan sangat lelah. Aoba langsung berkata,
"Wah... Wah... Menjadi seorang suami yang baik, ya ?"
"Diam kau." ujar Viltus
"Ehehehe... Lalu, untuk kakak iparmu mana ?"
Viltus diam saja, sementara Aoba tertawa dan kemudian duduk di sofa yang berada di kantor Viltus. Viltus kemudian memberikan secangkir kopi kepada Aoba, dan duduk di kursi lain. Aoba langsung meminumnya dan berkata,
"Kopi yang kau buat pasti selalu enak."
"Tapi, kau dilarang meminum terlalu banyak kopi." ujar Viltus
"Aoba tahu koq. Aoba tidak ingin dimarahi oleh dirimu."
Viltus langsung tersenyum pada saat mendengar hal tersebut. Aoba selesai meminum kopinya dan kemudian bertanya,
"Jadi, malam pertamamu bagaimana ?"
"Uuuh... Seperti dugaanku kau akan menanyakannya." ujar Viltus
"Habis wajah kalian terlihat sangat senang keesokan paginya. Dan selain itu, bekas gigitan di leher Taihou dapat terlihat dengan jelas, mengerti ?"
"Aku tidak dapat berkomentar banyak mengenai hal tersebut."
"Seperti dugaan Aoba."
"Jika sudah seperti dugaanmu, mengapa dirimu masih saja menanyakan hal tersebut ?!"
Aoba langsung menjulurkan lidahnya tanda ia tidak akan berbicara apa-apa. Tidak berapa lama, Taihou masuk bersama dengan Shoukaku dan Zuikaku. Wajah mereka bertiga terlihat sangat lelah. Viltus langsung berdiri dan kemudian memberikan air mineral untuk mereka bertiga. Setelah berbincang-bincang sebentar dengan Taihou, akhirnya mereka kembali ke Aoba. Mereka berbincang-bincang sebentar, hingga akhirnya Shoukaku berkata,
"Ummm... Laksamana dokumen ini..."
"Ah, aku lupa mengenai dokumen tersebut." ujar Viltus sembari berdiri
Ia mengambil dokumen tersebut dan kemudian duduk di kursinya. Taihou langsung berjalan ke dekat Viltus, begitu pula dengan Aoba. Viltus langsung berkata sembari melihat ke arah Aoba,
"Hei, sejak kapan aku mengijikan DIRIMU untuk melihat ini juga ?"
"Ayolah, Aoba juga ingin melihatnya." ujar Aoba memohon
"Ini merupakan dokumen penting untuk divisi ini. Aku..." ujar Viltus yang langsung disela oleh Taihou
"Sudahlah, biarkan Aoba melihatnya juga." ujar Taihou
"Uuuuuuhhhh..." ujar Viltus sedikit kecewa
"Ehehehehehe, istrimu sudah berkata demikian. Jadi, biarkan Aoba lihat juga ya." ujar Aoba
"Iya... Iya... Tapi, tidak kau sebarkan." ujar Viltus
"Baik !" ujar Aoba
Viltus membuka amplop tersebut dan mengeluarkan dokumen di dalamnya. Ia mengetahui jika ayahnya memberikan dokumen dengan amplop seperti itu, pasti itu merupakan permintaan yang cukup sulit diselesaikan dalam waktu dekat. Ia membacanya dan langsung terkejut. Taihou, Aoba, Zuikaku dan Shoukaku langsung melihat isi dokumen tersebut dan ikut terkejut. Zuikaku langsung berkata,
"Ummm... Bahasa apakah ini ?"
"..."
"Laksamana mengapa kau diam saja ?" tanya Zuikaku lagi
"Laksamana dari Jerman ? Di saat seperti ini... Dan pangkat dia adalah Letnan Muda." ujar Viltus sembari membaca halaman pertama dokumen tersebut
"Huh ? Laksamana baru ?" tanya Taihou
"Dia masih cukup muda dan masih baru di angkatan laut. Seorang greenhorn rupanya." ujar Viltus kembali
"Ummm, Laksamana..." ujar Taihou sedikit khawatir
"Tenang saja, aku membaca di bagian ini disebutkan bahwa dirinya akan masuk ke divisi kita sebagai tambahan kru." ujar Viltus
"Huh ? Kita mendapatkan tambahan kru ? Bukankah dalam waktu dekat kita akan mejalankan operasi besar ? Apakah itu tidak menganggu operasional kita nanti ?" tanya Zuikaku
"Aku akan memikirkannya bersama dengan Marcos untuk masalah ini. Dia seharusnya sudah memiliki pengalaman di mana mendapatkan kru tambahan yang masih baru sebelum operasi besar." ujar Viltus
"Marcos-san ? Benar juga sih. Mengingat dirinya adalah mantan laksamana di Brazil." ujar Shoukaku
"Bukan Laksamana. Dia merupakan wakil kapten dan juga pengendali senjata di kapalnya dahulu. Lebih kurang sama seperti sekarang." jawab Viltus
Semuanya diam sebentar, dan Viltus langsung membuka halaman kedua. Semuanya memperhatikannya, namun selain Viltus tidak ada satu pun yang mengerti sama sekali. Walaupun demikian, dari wajah Viltus mereka tahu ada sesuatu yang buruk dari dokumen tersebut. Viltus membuka halaman kedua dan juga halaman ketiga. Ia berulang-ulang membacanya hingga akhirnya, ia menutup wajahnya dan berkata,
"Kita mendapatkan seorang laksamana yang memiliki catatan hitam yang cukup panjang."
"Huh ? Seorang laskamana yang membuat masalah ? Masuk ke divisi kita ?" tanya Taihou dengan wajah sangat terkejut.
"Aku tidak dapat berkomentar banyak mengingat terkadang kita melanggar protokol dalam operasi." ujar Viltus
"Apa yang kau katakan ada benarnya juga sih." ujar Taihou sembari berpikir
Viltus kembali melihat dokumen tersebut. Pria yang akan menjadi bawahannya memiliki nama Frederich Willhelmson, seorang pria dengan darah campuran Swedia dan Jerman. Ia melihat catatan yang ada di dokumen tersebut. Frederich selalu melanggar protokol dalam misi, membangkang terhadap atasan, dan yang paling berat adalah menyebarkan informasi yang salah mengenai salah satu informasi yang sangat rahasia.
Viltus membacanya dengan seksama dan kemudian Taihou berkata,
"Namun, tetap saja... Dia dapat saja membuat masalah dengan kita semua."
"Semua tindakannya ada alasannya. Aku dapat merasakannya dari catatan hitamnya ini." ujar Viltus
"Huh ? Memangnya seperti apa ?" tanya Aoba
"Dia membangkang terhadap atasan. Dia melanggar protokol operasi. Dia membuat kekacauan di asramanya. Dan menyebarkan sesuatu. Dari sana aku merasa dirinya memiliki satu alasan yang tidak didengar oleh atasannya di sana." ujar Viltus
"Namun, jika demikian... Dapat saja dia dikirim kemari untuk diperbaiki oleh kita semua agar dapat kembali ke Jerman." ujar Shoukaku
"Apa alasan utamanya ? Apa motifnya ? Itu merupakan pertanyaan utama untuk hal ini." ujar Viltus
Taihou dan Aoba melihat ke arah Viltus dan tahu apa yang ada di dalam pikirannya. Taihou langsung berkata,
"Kau jangan memaksakan orang itu. Aku khawatir kau akan bertengkar dengan dirinya seperti dengan Anastasia."
"Aku tahu. Sebaiknya aku akan memanggil mereka semua untuk berkumpul sekarang untuk membahas masalah ini." ujar Viltus
"Memangnya kapan dirinya akan hadir ?" tanya Aoba
"Besok. Hari ini ia masih dikarantina karena masalah kewarganegaraan." jawab Viltus
Viltus langsung berdiri dan kemudian langsung meminta semuanya untuk mencari anggota krunya. Tepat sebelum Taihou keluar, Taihou langsung berkata,
"Apa yang ada di dalam pikiranmu ?"
"Mengenai salah satu kemungkinan yang menyebabkan dirinya seperti itu." ujar Viltus
"Huh ?"
"Sudahlah. Nanti kita akan tahu apa alasannya. Yang pasti aku akan sedikit bermain-main dengan pria tersebut."
"Namun, jangan terlalu jauh..."
"Aku tahu. Aku masih mengetahui batasan."
Taihou langsung tersenyum ke arah Viltus, dan kemudian mencium dahinya. Setelah Taihou keluar, Viltus langsung menyentuh dahinya dan kemudian berkata dengan pelan,
"Hanya dahi saja... Sudahlah..."
Ia langsung mengambil satu buku untuk pertanyaan yang akan ia berikan.
Keesokan harinya, kantor Viltus sangat sepi. Itu dikarenakan Viltus memerintahkan seluruh anggota krunya untuk tidak hadir hari itu. Dan setelah beberapa masukan dari Marcos, Magyar dan Anastasia, ia sudah mempersiapkan berbagai hal untuk menghadapi pria bernama Frederich tersebut.
Tidak berapa lama, pintu terbuka dan di sana berdiri Taihou. Ia masuk dan kemudian berjalan ke arah Viltus yang sudah duduk di kursinya. Taihou melihat ke kiri dan kanan, lalu bertanya kepada Viltus,
"Jadi, hanya dirimu saja yang di sini ?"
"Semakin sedikit yang akan naik pitam akan semakin baik." ujar Viltus
"Biar kutebak, Anastasia-san ?"
"Siapa lagi ?" jawab Viltus sembari mengangkat bahunya.
Taihou langsung tersenyum dan kemudian mencium dahi dari Viltus. Namun, setelah itu ia dapat melihat wajah kecewa dari Viltus. Taihou langsung tahu dan kemudian berkata,
"Ehehehehehe... Kau pasti sedikit kecewa ya ?"
"Dapat dikatakan demikian." ujar Viltus
"Uuuuhhh... Kekasihku ini imut sekali sih." ujar Taihou sembari memeluk Viltus.
Viltus langsung tertawa dan kemudian mencium Taihou tepat di bibirnya. Namun, mereka tidak dapat terlalu lama bermesraan. Pintu mereka diketuk dan suara dari Houshou terdengar dengan jelas. Taihou langsung berdiri di sebelah Viltus, sementara Viltus langsung merapikan pakaiannya dan menaruh topinya.
Viltus langsung mempersilahkan Houshou masuk. Tepat pada saat pintu terbuka di sana berdiri Houshou dan seorang pria yang cukup tinggi. Jika dilihat ia memiliki tinggi sekitar 50 hingga 60 cm lebih tinggi dari Viltus. Ia memiliki warna rambut Blonde dengan gaya rambut yang cukup rapi. Ia memiliki mata berwarna biru seperti miliknya. Viltus memperhatikan tubuhnya yang dapat dikatakan cukup ideal dan cara berpakaiannya. Pakaian laksamana berwarna putih dengan jaket berwarna hitam dengan lambang angkatan laut Jerman.
Houshou langsung memberi isyarat kepada pria tersebut untuk masuk. Setelah itu, Houshou berkata,
"Laksamana Amarov, beliau adalah Laksamana yang akan berada di bawah bimbinganmu. Semoga kalian dapat bekerja sama satu sama lain."
"Tenang saja, Houshou. Kami akan." ujar Viltus sembari mempersilahkan Houshou untuk pergi.
Setelah Houshou keluar. Pria tersebut melihat ke arah Viltus dengan tatapan yang cukup ragu. Viltus sendiri tidak memperdulikannya, dan berbisik kepada Taihou pada saat pria tersebut masih memperhatikan ruangan tersebut,
"Aku akan menggunakan bahasa ibunya... Apakah itu tidak apa-apa ?"
"Tidak apa-apa... Akashi memberikanku prototype dari alat untuk menerjemahkan bahasa hanya dengan mendengarnya." ujar Taihou
"Kebetulan sekali."
Viltus kemudian melihat ke arah pria tersebut dan kemudian berdiri. Ia langsung berkata sembari membaca dokumen perpindahan dari pria tersebut,
"Berdasarkan apa yang tertulis di dokumen ini, nama anda adalah Frederich Willhelmson. Apakah itu benar ?"
"Tepat sekali." jawab pria tersebut
"Saya bertanya demikian dikarenakan saya tidak mendapatkan foto mengenai diri anda sama sekali di dokumen saya. Sepertinya ada kekacauan dari atasan saya." ujar Viltus
"Bukan masalah..." ujar Frederich
"Daripada itu, apakah anda sudah cukup lancar dalam menggunakan bahasa Jepang ?" tanya Viltus
"Tidak terlalu lancar. Masih kesulitan..." ujar Frederich dengan bahasa Jepang yang sedikit terbata-bata
Viltus tersenyum dan kemudian melirik ke arah Taihou. Ia langsung berkata,
(Mulai dari sini kita anggap pembicaraan mereka dalam bahasa Jerman)
"Bagaimana jika saya berbicara seperti ini ? Apakah ini sudah lebih dari cukup ?"
"Anda dapat mengerti bahasa Jerman ? Saya cukup terkejut untuk mengetahui anda dapat menggunakan bahasa tersebut." ujar Frederich sembari menutup matanya
"Hahahahahahaha... Dapat dikatakan lidah yang dapat mengerti berbagai bahasa ini sangat berguna juga."
"Sepertinya anda bukanlah orang biasa di markas ini."
Viltus dapat melihat Frederich masih sedikit kaku. Maka, untuk sedikit mencairkan suasana Viltus bertanya,
"Jadi, bagaimana menurutmu mengenai tempat ini ? Saya yakin anda setidaknya sudah berkeliling di markas ini kemarin."
"Saya tidak dapat berkomentar banyak. Saya masih baru dan cukup khawatir jika memberikan pendapat sekarang akan mempersulit saya." ujar Frederich
"Tenang saja. Saya cukup terbuka untuk masalah seperti ini."
"..."
"Sepertinya dirimu masih belum percaya, ya. Saya dapat maklum untuk masalah ini." ujar Viltus sembari menggaruk kepalanya
Frederich melihat ke arah Viltus dengan wajah sangat curiga. Viltus kemudian bertanya,
"Apakah kau mendapatkan perlakuan yang buruk selama dirimu di Jepang ini ?"
"Perlakuan buruk... Daripada perlakuan buruk saya mendapatkan perlakuan spesial." ujar Frederich
"Oleh siapa ?"
"Angkatan Laut Jepang dan Polisi Militer."
"Sepertinya diriku harus menasihati Hayate-san untuk masalah ini."
"..."
"Jika seperti ini terus, saya cukup khawatir tidak akan ada lagi Laksamana luar negeri yang datang kemari."
Terdapat keheningan sementara di ruangan tersebut. Hingga akhirnya, Frederich bertanya kepada Viltus,
"Jika saya boleh tahu, siapakah nama anda ?"
"Apakah mereka tidak memberitahu nama saya kepada anda ?" tanya Viltus kemudian
"Tidak."
"Jika demikian, maafkan saya. Saya mengira anda sudah tahu."
"Itu bukan masalah. Jadi, siapakah nama anda ?"
"Perkenalkan Kapten Viltus Amarov. Pemimpin dari armada pengintaian di operasi selanjutnya."
Mendengar nama itu Frederich sangat terkejut. Viltus langsung tersenyum dan kemudian berkata,
"Saya yakin dirimu bertanya-tanya mengapa ada seorang Laksamana dengan nama barat di Jepang. Jadi kau tidak perlu khawatir mengenai diriku."
"Namun, bagaimana anda dapat bekerja dengan berbagai perlakuan yang buruk dari sekitar anda ?" tanya Frederich
"Dapat saya katakan, saya cukup terbiasa dengan perlakuan tersebut dari saya kecil. Dan di angkatan laut ini dapat saya katakan, semuanya lebih baik. Walaupun masih ada yang menolak diriku yang memiliki kewarganegaraan ganda."
"..."
"Jadi, ini merupakan hal yang wajar jika seorang Laksamana dari luar negeri dimasukkan ke dalam divisi saya."
"Sepertinya saya saja yang terlalu kaku."
"Ahahahahahaha... Itu bukan masalah, karena saya mengetahui seseorang di sini yang memiliki darah Bavaria."
"Siapakah yang anda maksud ?"
"Mekanik saya."
"Mekanik anda merupakan orang Jerman ?" tanya Frederich dengan wajah sangat terkejut
"Mungkin lebih tepatnya Austria. Saya nanti akan meminta bantuannya untuk membantumu semakin terbiasa dengan lingkungan ini dan juga bahasa Jepang."
Frederich terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Viltus. Dan ia masih cukup terkejut melihat Viltus yang tidak membuka halaman kedua dan ketiga dari dokumen tersebut. Viltus kemudian bertanya,
"Ada apa, Letnan Muda Willhelmson-san ?"
"Sepertinya ini yang dimaksud oleh Gadis Kapal sebelumnya mengenai divisi ini cukup unik." ujar Frederich
"Setidaknya saya tidak sendirian di kapal komando saya, karena masih terdapat tiga kru saya di dalam sana." ujar Viltus.
"Kapal komando ?"
"Ah, sepertinya di Jerman menggunakan metode yang berbeda dalam operasi."
"Tepat sekali. Dan sepertinya Jepang menggunakan Kapal Komando untuk melakukan operasi dalam waktu yang cukup lama di laut yang luas. Apakah saya salah ?"
"Tepat sekali."
Frederich sedikit demi sedikit mulai melepas bebannya dan kemudian bertanya,
"Jika saya boleh tahu, siapakah semua anggota kru anda ?"
"Di bagian radar, saya memiliki seorang pria yang cukup handal bernama Magyar Libyet, di bagian sonar diambil alih oleh Anastasia Konoplyanka, dan di bagian persenjataan oleh Marcos Luiz de Souza."
"Sebuah kapal komando dengan isi berbagai orang dari berbagai negara. Sangat menarik. Bagaimana dengan mekanik anda ?"
"Namanya adalah Elisa von Manstein."
"Tunggu sebentar. Elisa ? Mekanik kita seorang wanita ?"
"Tepat sekali. Terakhir kali kami memiliki mekanik pria, dia membuat masalah sehingga sekarang mayoritas mekanik adalah wanita."
"Sungguh dunia sudah terbalik dengan pria dengan nyaman duduk di kantor dan wanita yang bekerja dengan keras di luar sana. Terutama dalam menghadapi Abyssal"
Mengetahui ia mengatakan sesuatu yang tidak pantas, ia langsung panik dan melihat ke arah Viltus. Baik Viltus dan Taihou akhirnya sadar apa yang menyebabkan Frederich melakukan berbagai tindakan tersebut. Viltus akhirnya tersenyum dan kemudian melihat ke dokumen di hadapannya. Dan dari sana, Frederich mulai sedikit pucat.
Viltus menutup matanya sebentar, dan kemudian berkata,
"Berdasarkan apa yang tertulis di dalam dokumen ini, sepertinya anda memiliki catatan yang cukup buruk jika berurusan dengan atasan anda."
"..."
"Membangkang terhadap atasan. Melakukan berbagai kerusuhan di asrama. Dan melanggar protokol operasi."
"..."
"Kau tahu, itu merupakan suatu tindakan yang akan mendapat hukuman yang cukup berat ?"
"Saya mengerti hal tersebut..." ujar Frederich
"Lalu, mengapa dirimu melakukan hal tersebut ?" tanya Viltus
Frederich terdiam mendengar hal tersebut. Viltus langsung memberi tanda kepada Taihou untuk mengunci pintu kantor tersebut. Setelah pintu terkunci, Viltus langsung tersenyum dan bertanya,
"Ini pasti ada masalahnya dengan Gadis Kapal, benar ?"
"Eh ?"
"Kau tidak perlu terkejut, Frederich. Saya dapat melihatnya dari catatan hitam ini. Semuanya."
"..."
"Pertama, memerintahkan armada miliknya untuk mundur lebih awal dari direncanakan yang menyebabkan satu kekalahan di pihak Jerman. Kau tahu, hal ini sangat membahayakan untuk kita semua."
"Saya tahu mengenai hal tersebut." jawab Frederich
"Kedua, bertengkar dengan sesama Laksamana. Di sini tidak disebutkan apa alasannya anda bertengkar. Namun, apakah dirimu sudah meminta maaf atau semacamnya ?"
"Belum. Dia tidak ingin berbicara dengan saya."
"Sepertinya diri anda dikucilkan di sana, ya ?"
"Saya tidak dapat berkomentar banyak mengenai hal tersebut."
Viltus tertawa kecil, dan Frederich melihat Viltus sedikit merendahkan dirinya dari senyum Viltus. Viltus melanjutkan,
"Melakukan pembangkangan terhadap atasan. Ini sangat berbahaya."
"..."
"Bahkan mendatangi Gadis Kapal dan berbicara dengan mereka untuk masalah yang sangat pribadi. Bukankah ada peraturan untuk tidak mendatangi mereka di luar jam kerja ?"
"Saya mengetahui hal tersebut."
"Di Jepang pun demikian."
"Saya mengerti."
"Berbicara dengan Gadis Kapal... Sungguh sebuah kejahatan yang sangat besar. Dan sepertinya dirimu dikirim kemari untuk membenarkan cara berpikirmu."
"..."
"Jadi, apakah itu Gadis Kapal ?"
"Mereka adalah..." ujar Frederich yang terdiam sebentar
"Jawab saja sejujurmu. Tidak perlu disembunyikan. Diriku akan mendengarkannya dan memutuskan bagaimana cara menghadapi dirimu."
Frederich terdiam dan kemudian melihat ke arah Viltus dengan tatapan yang tajam. Ia berkata,
"Gadis Kapal adalah senjata... Dan juga manusia. Mereka memang bertempur di luar sana, namun tetap saja mereka adalah manusia. Kita tidak dapat seenaknya saja membuat mereka seakan-akan monster yang menghadapi monster lain !"
"Namun, berdasarkan salah satu artikel di angkatan laut... Disebutkan bahwa hal tersebut tidak dapat terjadi. Mereka adalah senjata yang ditujukan untuk menghadapi Abyssal." ujar Viltus
"Bagaimana jika mereka tenggelam ? Mereka masih memiliki nyawa. Mereka seperti kita manusia, dapat tersenyum, dapat tertawa, dapat menangis. Apa yang terjadi jika mereka tenggelam ?"
"Mereka akan digantikan. Mudah."
"Bukankah jika demikian, kita yang menjadi monster ? Kita membunuh manusia lain untuk menghadapi monster ?"
"Siapa ? Siapa yang membuatmu berpikir demikian ?"
"Itu..."
"Saya yakin dirimu memiliki alasan tertentu yang menyebabkan dirimu dapat berkata demikian. Jawab pertanyaan tersebut, maka saya akan melanjutkannya."
Frederich menatap tajam ke arah Viltus dan kemudian berkata,
"Adikku."
"Dia meninggal karena Abyssal ?" tanya Viltus
"Teknologi kami berbeda dengan Jepang."
"Huh ?"
"Kami menggunakan manusia normal untuk membuat Gadis Kapal. Dan diriku menjadi seorang Laksamana karena dirimu."
"Dan dirimu tenggelam di medan pertempuran karena hal tersebut, benar ?"
"Iya... Dan kau berkata aku dapat menerimanya begitu saja dirinya digantikan orang lain ? Kau tidak dapat seenaknya berkata demikian !" ujar Frederich sembari menarik kerah Viltus
"Mudah naik pitam." ujar Viltus sembari melihat ke udara
"Kau sama sekali tidak mengerti untuk masalah ini. Kau yang merupakan seseorang yang hidup bersama keluarganya... Pasti tidak mengerti..."
"Ahahahahaha... Kau mungkin ada benarnya."
"..."
"Namun, kau tahu... Hal tersebut tetap saja melanggar peraturan. Baik itu merupakan adikmu atau Gadis Kapal lain untuk berinteraksi di luar jam kerja."
"Ugh..."
Frederich langsung melepas kerah Viltus dan menunduk ke bawah. Viltus kemudian berkata,
"Walaupun demikian, jika tidak berinteraksi seperti itu... Saya pasti sudah melewatkan sangat banyak... Minum sake bersama, makan-makan bersama, membuat pesta, dan merasakan sesuatu yang bernama cinta."
"Eh ? Apa maksudmu ?"
"Mereka dapat mengganti Gadis Kapal dengan yang baru, namun aku merasakan mereka berbeda. Tidak dapat selamanya sama satu sama lain."
"..."
Viltus langsung tertawa dan kemudian berkata,
"Hahahahahaha, mereka mengirim dirimu kemari agar dirimu dibenarkan... Namun, mereka malah memasukkan dirimu ke divisiku yang terkenal paling sering membuat pelanggaran. Sepertinya sentimen mereka terhadap orang luar masih ada."
"Apa maksud anda ?" tanya Frederich
Viltus langsung memberitahu Taihou untuk memberikan alat yang dikenakan olehnya kepada Frederich. Viltus langsung melemparnya dan berkata,
"Gunakan itu, kau akan dapat mendengar kami berbicara dalam bahasa Jepang."
"Eh ?" ujar Frederich dengan wajah bingung
"Sudah kenakan saja."
Frederich mengenakannya, dan Viltus memberi intruksi jika ia mendengar apa yang dikatakan oleh Viltus dengan anggukan dan gelengan. Viltus langsung berkata,
(Kita anggap mereka dalam bahasa Jepang)
"Apakah kau dapat mendengar suaraku ?"
Frederich langsung mengangguk. Viltus langsung berkata kepada Taihou,
"Alat itu memang sangat berguna. Namun, bila masih belum dapat berbicara akan sulit."
"Justru alat itu dapat membantu dirinya untuk sementara waktu. Ini adalah tugasmu dan Elisa-san untuk membantunya lebih lanjut." ujar Taihou
"Kau ada benarnya."
Viltus melihat ke arah Frederich dan kemudian berkata,
"Alat itu akan ada di tanganmu untuk sementara waktu sebagai alat komunikasi dirimu dengan anggota kru yang lain."
Tidak berapa lama, mereka mendengar ketukan dari pintu. Taihou langsung membuka pintunya dan menemukan Akashi di sana. Taihou dan Akashi berbincang-bincang sebentar, dan kemudian masuk kembali. Setelah itu, Taihou berjalan ke arah Frederich dan kemudian memberikan sesuatu. Frederich melihatnya dan kemudian langsung mengenakannya. Sebuah mic kecil. Taihou langsung berkata,
"Silakan berbicara."
"Baik... Eh ?" ujar Frederich sangat terkejut
"Rupanya Akashi sudah selesai membuatnya ? Luar biasa sekali dirinya." ujar Viltus
"Eh ? Anda meminta dirinya membuat hal ini ?" tanya Frederich
"Tepat sekali. Itu akan membantumu dalam operasi nanti. Namun, kau dilarang menggunakannya selama bukan di operasi. Kau harus belajar bahasa Jepang." ujar Viltus
"Ba... Baik..." jawab Frederich
"Kau harus ingat pepatah lama, 'Di Roma jadilah orang Roma'. Pelajari semua hal mengenai Jepang agar dirimu mengerti. Saya tahu hal tersebut akan sangat berat, namun saya percaya dirimu mampu." ujar Viltus
"Baik !" ujar Frederich
Viltus tersenyum dan kemudian langsung mengambil sebotol alkohol. Taihou sendiri langsung menyiapkan dua gelas kosong. Viltus menuangkannya ke dua gelas tersebut dan memberikannya kepada Frederich. Viltus langsung berkata,
"Biasanya diriku akan membuat pesta untuk kehadiran orang baru di divisiku. Namun, kali ini kita semua sedang sibuk, jadi hanya ini yang dapat saya berikan."
"Tidak apa-apa. Ini merupakan kehormatan saya untuk berada di bawah arahanmu." ujar Frederich
"Jika boleh tahu, apa alasanmu bergabung dengan Angkatan Laut ? Apakah hanya untuk melindungi adikmu saja ?" tanya Viltus
"Melindungi semuanya. Baik itu manusia maupun Gadis Kapal." jawab Frederich
"Kau sangat rakus rupanya." ujar Viltus
"Begitukah ?" ujar Frederich sedikit tertawa
"Sudahlah, mari bersulang."
Mereka berdua bersulang, dan kemudian langsung meminumnya. Setelah itu, Frederich langsung menanyakan beberapa hal terutama peraturan di markas tersebut yang mungkin berbeda dengan di Jerman dan juga beberapa hal pribadi. Viltus menjawabnya dengan mudah dan pembicaraan antara mereka berdua terlihat lebih cair dari sebelumnya.
Frederich sudah kembali dengan dipandu oleh Houshou, sementara Viltus dan Taihou masih tetap di dalam ruangan mereka. Viltus langsung duduk dan kemudian bertanya kepada Taihou,
"Jadi menurutmu, bagaimana dengan dirinya ?"
"Koq malah dirimu yang bertanya demikian ?" tanya Taihou
"Diriku sih sudah ada jawabannya." ujar Viltus
"Iya juga sih."
Taihou langsung melihat ke arah luar dan kemudian berkata,
"Aku dapat percaya pada dirinya. Dan dikarenakan dirimu sudah percaya, semuanya jauh lebih mudah." ujar Taihou
"Berarti selanjutnya adalah meyakinkan mereka semua." ujar Viltus sembari melihat ke arah langit-langit
Mendadak Taihou sudah berada di belakangnya dan tersenyum ke arah dirinya. Taihou langsung berkata,
"Setidaknya dirimu jauh lebih bersemangat sekarang."
"Begitukah ? Lebih baik seperti itu daripada tidak sama sekali." ujar Viltus
Taihou semakin tersenyum, sementara Viltus langsung melihat ke arah mejanya. Taihou kemudian memeluknya dari belakang, sementara Viltus mengelus kepala Taihou. Mereka tahu, sebentar lagi mereka akan menghadapi pertempuran yang sangat berat. Dan hal ini demi melindungi manusia dari Abyssal.
HakunoKazuki di sini
Dua chapter tidak ada pertempuran. Dan besar kemungkinan di chapter selanjutnya akan memperkenalkan satu orang lain. Mungkin. Namun, kita lihat saja dikarenakan saya sudah siap untuk menulis chapter mengenai pertempuran besar yang disebutkan beberapa kali di chapter ini.
H : Kau berkata mungkin...
HK : Aku tahu... Kau tidak perlu menyebutkannya
Mungkin sata tidak akan banyak memberitahukan mengenai ini, namun sampai jumpa di kesempatan berikutnya !
