Chapter 30

Dark Sky

Part 1 - Premonition


Viltus sedang duduk di dalam salah satu bangunan di markas darurat yang sudah dibentuk oleh seluruh angkatan laut setelah menguasai pulau target mereka. Ia terlihat sedang membaca seluruh laporan dari divisi pengintaian dan juga dari divisi pertahanan mengenai musuh yang berada di wilayah target dan juga menyerang wilayah mereka.

Ia melihat ke arah peta di depannya dan kemudian memperhatikan blokade yang sudah dibuat oleh Megumi. Di selat antara pulau utama dengan dua pulau lainnya sudah terisi dengan satu tempat dibiarkan terbuka dengan penjagaan ketat dari ketiga radar di ketiga pulau tersebut. Di bagian utara, Viltus sudah meminta ijin kepada Satoshi untuk mempebaiki sistem radar dan membangun markas darurat palsu untuk memancing lawan.

Ia kemudian memperhatikan seluruh daftar Gadis Kapal yang dapat turun, dan juga mereka yang cedera. Viltus langsung berkomentar,

"Ini sangat sulit. Terlampau sulit jika harus menghancurkan kedelapan armada tersebut."

"Tumben sekali dirimu berkata demikian, Kapten Amarov." ujar seseorang

Viltus melihat ke arah pintu dan melihat Satoshi sudah berdiri di sana. Viltus langsung memberi hormat dan kemudian berkata,

"Selamat pagi, Laksamana Muda Yoshida"

"Selamat pagi, Kapten Amarov. Seperti biasanya dirimu bangun paling pagi dari semuanya. Atau mungkin dirimu belum tidur sama sekali ?" balas Satoshi sembari bertanya kepada Viltus

"Saya dapat katakan yang kedua." ujar Viltus

"Ahahahahahaha... Tunggu sebentar, ini sudah berapa hari dirimu bergadang ?" tanya Satoshi

"Tiga hari." jawab Viltus singkat sembari melihat ke arah peta dan menggerakkan posisi lawan berdasarkan dari laporan terakhir

"Tiga hari ?! Dirimu ini benar-benar sulit diatur, ya..." ujar Satoshi

"Setelah ini saya akan istirahat selama dua jam. Itu jika anda mengijinkan saya untuk melakukan itu." ujar Viltus

"Saya ijinkan. Saya justru bingung mengapa dirimu dapat menjadi pemimpin armada pengintaian." ujar Satoshi sembari berpikir

"Saya pun juga bingung..."

"Dan jika dirimu tidak istirahat juga, saya akan memberitahu dirinya." ujar Satoshi

"Dirinya ?"

"Tentu saja Gadis Kapal itu." ujar Satoshi

"Siapapun asal jangan dirinya." ujar Viltus sembari merenggangkan badannya.

Satoshi langsung tertawa dan tidak berapa lama, seseorang mengetuk pintu. Satoshi langsung mengijinkan dan di sana berdiri Frederich yang membawa laporan dari Akira. Ia sangat terkejut melihat Satoshi di dalam dan berkata,

"Selamat pagi, Laksamana Muda Yoshida !"

"Selamat pagi, Letnan Muda Willhelmson. Sepertinya bahasa Jepangmu sudah semakin lancar, saya sangat salut dengan dirimu." ujar Satoshi

"Ini merupakan tugas yang harus saya lakukan. Saya harus memperbaiki bahasa Jepang saya untuk berkomunikasi dalam pertempuran." ujar Frederich

"Ahahahahahaha... Padahal isi kru kapal Kapten Amarov merupakan orang luar negeri semua." ujar Satoshi

"Tapi, tidak dengan Laksamana di dalam armada pengintaian." ujar Frederich

"Kau ada benarnya juga, Willhelmson-kun." ujar Satoshi

Frederich mengangguk dan kemudian melihat ke arah Viltus yang sedang memperhatikan luar jendela. Frederich langsung berkata,

"Kapten Amarov, Elisa memanggil anda perihal kapal komando anda yang sudah diperbaiki sistem komunikasinya."

"Sistem komunikasi di kapalmu rusak ?" tanya Satoshi dengan wajah terkejut

"Iya. Diriku tidak dapat menghubungi siapapun maupun memanggil siapapun. Dapat dikatakan, kami bergerak tanpa telinga dan mata sama sekali selama operasi sebelumnya." ujar Viltus

"Mengapa dirimu tidak kembali saja ?" tanya Satoshi

"Dan mempertaruhkan posisi armada penyerangan ? Saya tidak akan melakukan hal tersebut. Lagipula, kami saat itu sudah berada di pulau di sana." jawab Viltus sembari menunjuk ke pulau yang terlihat jelas dari jendela kamar tersebut.

"Walaupun demikian, kalian mampu melakukannya. Saya sangat salut dengan dirimu, Kapten Amarov." ujar Satoshi

"Itu bukan sesuatu yang harus dipuji. Itu karena saya sudah melanggar salah satu protokol untuk mundur jika demikian." ujar Viltus

Satoshi langsung tertawa dan kemudian melihat ke arah Viltus. Ia langsung memerintahkan Viltus untuk mendatangi Elisa sekarang. Viltus langsung menangguk dan kemudian berjalan ke arah dermaga. Tepat setelah keluar dari ruangan tersebut, ia merasakan sesuatu yang salah. Sesuatu yang sudah ia rasakan semenjak operasi ini berjalan.

Lorong dari markas tersebut sangat gelap, sesuatu yang tidak mungkin terjadi di siang bolong tersebut. Selain itu, Frederich pun tidak keluar dari ruangan tersebut. Ia langsung melihat ke salah satu ujung dari lorong dan melihat sosok bayangan hitam yang berdiri di sana. Ia tersenyum, seakan-akan mengolok-olok dirinya.

Viltus menarik nafas panjang dan kemudian berjalan melewati bayangan tersebut. Ia sudah terbiasa dengan hal tersebut, dikarenakan ia tahu siapa bayangan tersebut. Seseorang yang sudah lama tidak berkomunikasi dengan dirinya. Seseorang yang sudah bertemu dengan Taihou dan dirinya. Seseorang yang seharusnya tidak ada di dunia ini.

Setelah melewati bayangan tersebut, semuanya kembali normal dengan Frederich yang berdiri di belakangnya. Viltus langsung berkata,

"Jadi, apa yang dikatakan oleh Elisa mengenai perlengkapan kita ?"

"Tidak ada yang salah." ujar Frederich

"Eh ? Apa maksudmu ?" tanya Viltus dengan wajah terkejut

"Sebaiknya kau berbicara saja dengan Elisa. Ia dapat menjelaskannya dengan benar." jawab Frederich

Viltus melihat wajah dari Frederich dan langsung sadar, sepertinya ini akan menjadi sesuatu yang sangat berat.


Viltus dan Frederich sudah tiba di dermaga, dan di sana ia melihat Anastasia, Marcos, dan Magyar bersama dengan Elisa. Mereka berkumpul di depan kapal komando Viltus dan terlihat sangat bingung. Viltus langsung berjalan dan berkata,

"Elisa, apa yang salah dengan kapal komandoku ?"

"Ah, Viltus-san. Mengenai kapal komandomu..." jawab Elisa sembari mengambil salah satu kertas catatannya

"Daripada itu, mengapa kalian semua di sini ?" tanya Viltus sembari melihat ke arah ketiga anggota krunya

"Kami pun dipanggil oleh Elisa kemari untuk membahas masalah ini." ujar Anastasia

Viltus melihat ke arah kapal komando miliknya dan mengingat apa yang terjadi sebelumnya. Pada saat operasi pertama, kapal komando miliknya sama sekali tidak dapat menghubungi siapapun. Selain itu, radar dan sonar pun tidak presisi. Bahkan, sistem persenjataan di mereka sama sekali tidak dapat digunakan.

Elisa melihat ke arah Viltus dan kemudian berkata,

"Tidak ada satu pun yang salah dengan sistem di dalam kapal komandomu."

"Aku sudah mendengarnya dari Frederich. Apa yang terjadi ?" tanya Viltus

"Sepertinya lawan memiliki sistem yang dapat mengacaukan seluruh sistem kapal komandomu." ujar Elisa

"Mereka memiliki teknologi seperti itu ?" tanya Frederich

"Kita sama sekali tidak mengetahui hal tersebut. Pengetahuan kita mengenai Abyssal itu masih terbatas, jadi dapat kita asumsikan demikian." ujar Elisa

"Semua ini sangat berbahaya. Apakah kita dapat memiliki kapal komando pengganti untuk sementara waktu ?" tanya Viltus

"Tidak bisa. Kapal komando kalian itu khusus, maka dari itu akan memakan waktu yang cukup lama jika mengirim kapal komando lain kemari." jawab Elisa sembari melipat tangannya.

"Begitu, ya..." ujar Viltus

Viltus berpikir sebentar, hingga akhirnya ia bertanya,

"Mungkin jika menggunakan kapal komando yang sama seperti yang lainnya ?"

"Tidak bisa juga. Di sini sama sekali tidak ada kapal komando cadangan." jawab Elisa sembari menghela nafas.

Viltus pun ikut menghela nafas dikarenakan mereka akan menggunakan kapal komando mereka yang 'rusak' untuk menghadapi Abyssal. Tidak ada yang mengetahui alasan mengapa sistem di kapal komando tersebut rusak, hingga akhirnya Viltus sadar akan sesuatu. Ia berkata,

"Sama seperti waktu itu..."

"Huh ? Apa kau bilang ?" tanya Magyar

"Sama seperti operasi besar yang gagal tersebut." ujar Viltus

Semuanya terdiam mendengar hal tersebut. Ia kemudian memanggil mekanik lain untuk melakukan pengecekan dari radar semua kapal komando untuk melihat apa yang dilihat pada saat mereka semua kehilangan kendali komunikasi dan peralatan mereka. Hal tersebut memakan waktu yang cukup lama, dan itu membuat Viltus terlihat sedikit khawatir.


Megumi, yang mendengar permintaan dari Viltus yang aneh, akhirnya tiba di dermaga. Ia melihat Viltus yang bersandar di beberapa boks di dermaga dan terlihat sedang menggigit jarinya. Ia terlihat sangat tidak nyaman dan khawatir. Megumi langsung turun dan kemudian berjalan ke arah Viltus dan berkata,

"Selamat siang, Kapten Amarov."

"Ah... Selamat siang, Kapten Fujiwara." balas Viltus sembari memberi hormat

"..."

"Ada apa Kapten Fujiwara ?" tanya Viltus

"Saya akan langsung ke pokok permasalahan. Saya mendengar dirimu meminta kepada para mekanik untuk mengambil data radar di kapal komando lain. Ada apa gerangan ?" tanya Megumi

"..."

"Kapten Amarov ?"

"Kapten Fujiwara, apakah pada saat operasi sebelumnya dirimu mengalami gangguan di komunikasi atau radar ?" tanya Viltus

"Iya. Terdapat masalah selama lebih kurang 5 jam." jawab Megumi

"Sama seperti diriku. Sebagai pemimpin dari armada pengintaian, hal tersebut sangat fatal dan dapat mengakitbatkan kegagalan dari seluruh operasi." ujar Viltus

"Lalu, apa hubungan dengan hal tersebut semua radar milik kita ?" tanya Megumi

"Kapten Fujiwara, apakah dirimu ingat operasi besar kita di Yokosuka yang memakan korban Komandan Okazaki ?" tanya Viltus

"Ah... Iya, diriku ingat dengan hal tersebut. Pada saat Abyssal dengan gaun itu muncul, diriku sama sekali tidak dapat... Eh ?"

Megumi langsung menyadari apa yang ada di dalam pikiran dari Viltus. Kejadian yang sama dapat saja terulang kembali, dan hal ini akan sangat berdarah. Hal tersebut dapat terlihat dengan jelas dari wajah Viltus yang sangat khawatir. Viltus langsung berkata,

"Saya meminta kepada para mekanik untuk melakukan pengecekan dikarenakan dari sana dapat kita masukkan di mana Abyssal sialan itu pada saat kita semua menjalankan operasi kemarin."

"..."

"Ada apa, Kapten Fujiwara ?"

"Jarang sekali diriku melihat dirimu khawatir dan berkata kasar seperti itu, Kapten Amarov. Saya yakin dirimu masih tidak dapat memaafkan dirinya atas kematian Komandan Okazaki." ujar Megumi

"Lebih kurang seperti itu. Diriku tidak ingin ada satu orang Laksamana pun di sini yang melakukan tindakan bodoh dengan mendekati lawan." ujar Viltus

"Bukankah orang yang harus diperhatikan itu dirimu, ya ?" tanya Megumi

"Eh ?" ujar Viltus dengan wajah terkejut

"Saat itu, Komandan Okazaki memiliki hubungan asmara dengan Aoba. Dan hal tersebut merenggut nyawanya demi melindungi Aoba. Aku tahu hal tersebut karena aku cukup dekat dengan dirinya di Yokosuka." jelas Megumi

"..."

"Dan saat ini, yang memiliki kasus yang sama adalah dirimu dengan Taihou. Aku harap dirimu masih dapat menggunakan akal sehatmu dalam membuat keputusan." ujar Megumi

"Tenang saja. Diriku tidak akan mati di medan pertempuran ini. Lagipula, diriku tidak ingin membawa korban tambahan berupa anggota kru di kapal komandoku sendiri." ujar Viltus

"Tentu saja. Dirimu itu jauh lebih perhitungan daripada Komandan Okazaki." ujar Megumi sembari tertawa

"Dan sejak kapan diriku pernah mengingkari janjiku kepada orang lain ?" tanya Viltus

"Kau ada benarnya sih." balas Megumi sembari tertawa

Tidak berapa lama, Akihiko datang sembari berlari dan ia menanyakan hal yang sama dengan Megumi. Megumi menjelaskan dengan cepat dan membuat Akihiko melihat ke arah Viltus dan berkata,

"Jangan melakukan tindakan idiot."

"Hei, aku tidak akan melakukan hal tersebut, Kapten Takagi." ujar Viltus sembari menghela nafas

"..."

"Lagipula, saat ini masih banyak yang harus kulakukan. Terutama untuk membuat dirinya tenang di dunia sana. Membuktikan bahwa diriku mampu menghadapi hal yang membuatku terpuruk selama bertahun-tahun." ujar Viltus

Megumi dan Akihiko tahu apa yang dimaksud oleh Viltus dan hanya tersenyum saja. Tidak berapa lama, seorang mekanik datang dan berkata,

"Kapten Amarov, data radar sudah dirangkum."

"Terima kasih, dapatkah kau menaruhnya di kantor ?" tanya Viltus

"Baik."

Mekanik tersebut pergi, dan Viltus kemudian melihat ke arah Megumi dan Akihiko sembari berkata,

"Ayo... Kita mulai kembali memutar otak. Kita tidak mau ada orang yang meninggal di pertempuran ini dengan percuma." ujar Viltus

Megumi dan Akihiko mengangguk dan kemudian berjalan mengikuti Viltus.


Malam itu, Viltus bersama dengan Megumi dan Akihiko memperhatikan seluruh data radar dari semua kapal komando yang terlibat di dalam operasi tersebut. Dan tidak berapa lama, pintu ruangan mereka diketuk. Viltus membuka pintu dan ia sangat terkejut dikarenakan melihat Mo berdiri di sana. Mereka bertiga langsung memberi hormat dan berkata secara bersamaan,

"Selamat malam, Grand Admiral !"

"Selamat malam kalian bertiga." balas Mo

Mo memperhatikan ruangan tersebut dan melihat berbagai kertas di atas meja dan banyak coretan di peta yang tertempel di dinding. Ia melihat berbagai titik merah di sana, dan kemudian bertanya,

"Semua titik merah... Ada apa gerangan dengan ini semua ?"

Tidak ada satu pun yang berani menjawab pertanyaan dari Mo. Mo langsung tertawa dan kemudian berkata,

"Sepertinya ada hubungannya dengan laporan yang kudengar... Mengenai sistem kapal komando kalian yang rusak pada saat operasi."

"Apa yang anda katakan tepat sekali, Grand Admiral." jawab Akihiko

"Dan rapat saat ini ada hubungannya dengan hal tersebut, benar ?" tanya Mo sekali lagi

Viltus dan Megumi langsung mengangguk mendengar hal tersebut. Mo kemudian melihat ke peta dan kemudian bertanya,

"Dari hasil rapat kalian, apa yang dapat kalian simpulkan ?"

"Abyssal dengan gaun hitam dan satu tanduk tersebut." jawab Megumi

"Battleship Water Oni kalian bilang ?" tanya Mo

Ketiga Laksamana tersebut bingung mendengar nama tersebut. Mo melihat ke arah mereka bertiga dan kemudian berkata,

"Sepertinya diriku lupa untuk mengumumkan beberapa klasifikasi baru untuk Abyssal."

"Maksud anda, mereka yang memiliki daya serang dan daya tahan yang lebih baik dari yang lainnya ?" tanya Akihiko

"Tepat sekali, Kapten Takagi." jawab Mo

Mo kemudian memberikan mereka bertiga tiga buku mengenai data Abyssal yang dimaksud. Viltus melihat semuanya dan kemudian mengangguk, hingga akhirnya ia berhenti di Abyssal yang telah merenggut nyawa Harusame dan Kimura. Matanya kosong dan hal tersebut membuat Mo tersenyum. Megumi membaca semuanya dan kemudian berkata,

"Jumlah mereka lebih banyak dari yang kuperkirakan..."

"Mereka selalu muncul dan terus bertambah. Maka dari itu buku ini akan diberikan selalu diperbaharui demi kalian semua." ujar Mo

"Terima kasih banyak, Grand Admiral." ujar Akihiko

Mo mengangguk dan kemudian melihat ke arah peta di hadapannya. Ia langsung berkata,

"Diriku tidak akan memimpin langsung operasi ini. Laksamana Muda Yoshidalah yang bertanggungjawab atas operasi ini."

"Lalu, apa yang anda lakukan ?" tanya Akihiko

"Operasi lain. Saat ini kita sedang menjalankan tiga operasi besar secara bersamaan. Ke arah utara, selatan dan tempat ini." terang Mo

"Anda menjalankan operasi lain, lalu mengapa dirimu..." tanya Megumi yang langsung disela

"Hari ini diriku singgah sebentar sebelum berjalan ke arah utara. Daripada itu, Kapten Amarov..."

"Ada apa, Grand Admiral ?" tanya Viltus

"Laksamana Yanagi ada di markas ini dan akan berangkat besok pagi bersama diriku." jawab Mo

"Laksamana Yanagi anda bilang ?" tanya Viltus dengan wajah terkejut

"Iya. Dan sepertinya dirinya ingin bertemu dengan dirimu." ujar Mo

"Terima kasih atas informasinya, Grand Admiral." balas Viltus

Mo mengangguk dan kemudian bermaksud berjalan keluar. Tepat sebelum keluar, ia melewati Viltus dan berbisik,

"Jangan melakukan tindakan bodoh... Demi seseorang yang kau cintai..."

Viltus terkejut dan melihat ke arah Mo yang sudah menjauh dari ruangan tersebut. Megumi dan Akihiko melihat wajah Viltus yang pucat dan mulai berkeringat. Mereka berpikir sebentar hingga akhirnya mereka sadar mengenai sesuatu. Akihiko ingin menanyakannya kepada Viltus, namun Megumi langsung menahannya.

Viltus menarik nafas panjang dan kemudian melihat ke arah kedua temannya dan berkata,

"Kita lanjutkan sebentar lagi. Setelah itu kita beristirahat untuk memikirkan langkah selanjutnya bersama Laksamana Muda Yoshida."

"Baik..." jawab mereka

"Dan saya meminta maaf jika saya keluar lebih cepat. Saat ini saya sedang sulit untuk berpikir dengan jernih." ujar Viltus

"Bukan masalah..." ujar Akihiko

"Mungkin, sebaiknya kita istirahat saja sekarang." ujar Megumi

"Tidak. Kita harus memikirkannya sekarang..." ujar Viltus yang langsung dipegang bahunya oleh Megumi

Viltus melihat ke arah Megumi dan ingin berkata sesuatu, namun Megumi mencengkram bahunya dan dari situ Viltus tahu Akihiko dan Megumi sadar mengenai apa yang ia takutkan. Akihiko langsung berkata,

"Sebaiknya dirimu pergi saja sekarang... Menemui gadis itu."

"Tapi..." ujar Viltus

"Tidak ada tapi-tapi... Kami tidak ingin kehilangan figur ayah dan ibu di markas kami." ujar Megumi

"..."

"Bagi kami kalian itu adalah simbol dari melunaknya atasan. Maka dari itu kami tidak ingin kehilangan simbol tersebut." ujar Akihiko

"Kalian..."

"Sudah, temui Taihou sekarang !" ujar Megumi sembari mendorongnya keluar.

Viltus terjatuh dan kemudian melihat ke arah mereka berdua yang tertawa. Viltus mengangguk dan kemudian berlari ke arah ruangan Taihou. Megumi dan Akihiko langsung menghela nafas dan kemudian Akihiko langsung berkata,

"Aku semakin khawatir dengan masa depan operasi ini..."

"Sudahlah, yang penting kita sekarang memikirkannya berdua." ujar Megumi

Akihiko mengangguk dan kemudian kembali melihat ke arah peta di hadapan mereka.


Viltus berlari di lorong yang gelap untuk menemui Taihou karena khawatir atas apa yang dikatakan oleh Mo. Dan karena rasa khawatir tersebut, ia merasa lorong tersebut seperti lebih panjang dan terlihat tanpa akhir. Dan akhirnya ia berhenti. Ia berhenti bukan karena ia sampai di depan ruangan Taihou, melainkan seseorang berdiri di ujung lorong.

Seorang pria dengan pakaian laksamana hitam dan memiliki warna rambut putih. Senyum sinis khasnya pun dapat terlihat dengan jauh. Viltus langsung berkata,

"Hakai ! Apa yang kau lakukan ?!"

"Tidak ada... Hanya ingin menyapa dirimu sekali lagi." ujar Hakai sembari mengangkat bahunya.

"Bohong ! Dirimu pasti akan melakukan sesuatu." ujar Viltus

Hakai melihat ke arah Viltus dan mengangkat bahunya. Viltus langsung berlari ke arah Hakai dan melewati dirinya. Hakai langsung berkomentar,

"Dirimu dingin sekali, Hakuno Kazuki..."

"Kau..." ujar Viltus berhenti dan melihat ke arah Hakai

"Aku hanya akan memberi peringatan kepada dirimu. Apapun yang akan kau lakukan... Seseorang akan mati di medan pertempuran." ujar Hakai

"Siapa ?" tanya Viltus

"Kau bertanya siapa ? Aku tidak akan memberitahukannya. Karena di mana kesenangan dari hal tersebut ? Yang menyenangkan untuk dilihat dari penderitaan adalah proses dan akhir dari sebuah kejadian." ujar Hakai

"Kau..."

"Aku penasaran... Siapakah yang akan mati..." ujar Hakai sembari melihat ke arah luar ruangan

"Jika... Jika kau berani menyentuh Taihou... Aku akan menghabisi dirimu !" ujar Viltus

"Aku sama sekali tidak tahu." ujar Hakai

"Huh ?"

"Mungkin seseorang akan mati, mungkin juga tidak. Aku tidak tahu." ujar Hakai

"Kau jangan main-main dengan diriku !"

"Aku tidak main-main. Ini semua dikarenakan pemilik dari dunia ini sudah memiliki rencana dan ia sama sekali tidak memberitahukan rencananya kepadaku sama sekali. Sangat disayangkan." ujar Hakai

"..."

"Ada apa, Viltus ?" tanya Hakai

Viltus langsung berjalan ke arah Hakai dan kemudian menarik kerahnya. Ia berteriak,

"Apa yang kau sembunyikan dariku !"

"Tidak ada." jawab Hakai

"Jangan bercanda !" teriak Viltus sekali lagi

"Daripada kau berhenti di sini, bagaimana jika dirimu secepatnya ke tempat istri tercintamu ?"

Viltus langsung teringat apa tujuannya berjalan ke arah ruangan Taihou dan melepas kerahnya. Dan tepat setelah Viltus melepasnya, Hakai berkata,

"Secepatnya... Sebelum semuanya hancur... Eh, jika sekarang hancur, berarti masa depan itu tidak mungkin terjadi... Atau mungkin lebih baik lagi."

"Apa maksudmu ?!"

Viltus melihat ke arah belakang dan tidak menemukan siapapun. Ia melihat ke kiri, kanan dan luar dari lorong. Tidak ada satu pun sisa dari Hakai. Ia berpikir sebentar dan kemudian langsung berlari ke ruangan Taihou.


Ia tiba di depan ruangan Taihou. Ia tahu, di dalamnya tidak hanya ada Taihou. Ada pula Aoba dengan Shigure dan Yuudachi. Ia menarik nafas panjang dan kemudian mengetuk pintu ruangan tersebut. Ia dapat mendengar suara sangat terkejut dari dalam ruangan tersebut. Tentu saja, waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Waktu tersebut bukanlah waktu yang tepat untuk menemui orang.

Viltus menarik nafas panjang sembari menunggu siapapun membuka pintunya. Dan jika perlu, yang membukanya adalah Taihou sendiri. Ia terlihat sangat khawatir, hingga akhirnya pintu terbuka. Di sana berdiri Taihoudengan Aoba dan Shigure di belakangnya. Mereka terlihat sangat terkejut melihat Viltus yang berdiri di sana. Ia menunjukkan wajah seseorang yang sangat ketakutan. Dan tubuhnya sedikit bergetar. Taihou melihat ke arah Viltus yang sangat ketakutan dan kemudian berkata,

"Viltus... Eh ?"

Viltus langsung memeluk Taihou dengan erat, dan itu membuat Taihou sedikit panik. Namun, rasa panik tersebut menghilang dikarenakan ia merasakan tubuh Viltus yang bergetar dengan hebat. Ia tahu, operasi ini sepertinya benar-benar sudah memakan seluruh tenaga dari Viltus. Ia langsung memeluk Viltus dan kemudian mengelus kepalanya.

Aoba yang melihat hal tersebut langsung berbisik kepada Taihou untuk membawa Viltus masuk saja, yang langsung ditolak dengan senyum dari Taihou. Taihou langsung mengelus kepala Viltus lagi dan kemudian mendengar suara Viltus yang sangat pelan,

"Aku... tidak ingin... kehilangan dirimu..."

Taihou sudah terbiasa mendengar Viltus berkata demikian, namun untuk pertama kalinya ia mendengarnya di tengah operasi dan dalam keadaan seperti ini. Taihou tersenyum dan kemudian berkata,

"Aku tidak akan kemana-mana... Aku ada di depanmu..."

"Aku tidak ingin... kehilangan dirimu..." ujar Viltus sekali lagi

"Viltus..."

"Aku... Aku..."

Taihou langsung mengeluskan wajahnya ke rambut Viltus, dan ia dapat mendengar dengan jelas Viltus sedikit menangis. Aoba langsung mengajak Shigure untuk masuk ke dalam dahulu untuk membiarkan mereka berdua sendirian saja dahulu.

Setelah Aoba sudah masuk, Taihou langsung bertanya,

"Ada apa, Viltus ?"

"Dia..." ujar Viltus sedikit terbata-bata

"Dia ? Maksudmu, Hakai ?" tanya Viltus dengan tenang

Ia merasakan Viltus yang mengangguk dipelukannya. Taihou langsung tersenyum dan kemudian berkata,

"Aku tidak akan meninggalkan dirimu. Aku tidak akan mati di pertempuran ini. Maka dari itu..."

Taihou langsung melihat ke wajah Viltus dan tersenyum sembari berkata,

"Jangan melakukan tindakan idiot pada saat operasi tersebut."

Viltus melihat ke arah Taihou dan kembali membenamkan kepalanya di dada Taihou. Taihou tertawa kecil dan kemudian mengelus kepala Viltus sekali lagi. Malam itu merupakan malam yang sangat berat bagi Viltus, dikarenakan rasa takut mulai menghinggapi dirinya. Rasa takut untuk kehilangan wanita yang dicintai olehnya.


Tidak jauh dari lorong tersebut, Mo melihat ke arah Taihou dan Viltus yang berpelukan dan tersenyum. Ia kemudian berjalan menjauh dan kemudian melihat Norio di sana. Mo kemudian bertanya,

"Jadi, yang kau katakan itu ada benarnya, Dokter Shibata."

"Tentu saja diriku akan memberitahukan semuanya, Ichijo-san." ujar Norio

"Hanya wanita tersebut yang dapat menenangkan dirinya. Dan yang dapat membuat dirinya tetap di pihak kita." ujar Mo

"Namun, pertempuran ini akan sangat berat. Jika pada akhirnya gadis itu mati di pertempuran ini... Aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya." ujar Norio

Mo langsung berhenti dan melihat ke arah Norio. Norio kemudian berkata,

"Dan harap kau ketahui, banyak Laksamana di Yokosuka tidak menyukai mereka berdua. Dan mereka sudah melayangkan berbagai keluhan kepada Yanagi-san dan Masamune-san."

"Aku sudah mendengar hal tersebut." ujar Mo

"Apa yang akan kau lakukan dengan itu semua ?" tanya Norio

"Entahlah. Aku harus memikirkan satu cara untuk menghilangkan keluhan tersebut."

"Membuang mereka semua ?"

"Tidak bisa. Jika demikian, banyak orang yang akan kecewa dengan kita dan beranggapan dirinya istimewa. Walaupun memang dirinya itu merupakan sesuatu yang istimewa." ujar Mo

Tidak berapa lama, mereka melihat seorang wanita yang berdiri di hadapan mereka berdua. Norio langsung tersenyum dan berkata,

"Ada apa, Anastasia-chan ?"

"Aku sudah cukup lelah untuk memperhatikan dirinya, Master..." ujar Anastasia

"Kau harus melakukan itu semua. Setidaknya agar dirinya tidak mengamuk atau semacamnya." terang Norio

"Namun, di dada ini terasa sangat sakit setiap kali melihat dirinya seperti itu. Dan setiap kali aku mendengar banyak orang yang berbicara buruk mengenai dirinya !" ujar Anastasia

"Kau memang sahabat paling baik bagi dirinya, Anastasia-chan." ujar Mo

Anastasia melihat ke arah Mo dan langsung menutup matanya. Norio kemudian berkata,

"Sudah, lanjutkan saja tugasmu. Kau tentu saja tidak ingin kembali ke tempat itu."

"Tentu saja. Aku akan melanjutkan tugas ini." ujar Anastasia sembari berjalan menjauh dari mereka berdua.

Mo melihat ke arah Anastasia dan langsung berkomentar,

"Anak itu benar-benar cepat naik pitam."

"Itu bukan masalah anda, Ichijo-san." ujar Norio

"Kau ini memang benar-benar dokter yang cukup pintar. Membantu keluarga itu dalam program Gadis Kapal dan juga yang memulai proyek Jaeger." ujar Mo

"Jangan ingatkan diriku pada proyek itu." ujar Norio

"Sudahlah. Sekarang saya harus istirahat, karena... huh ?"

Mo berhenti sebentar, dan hal tersebut membuat Norio pun berhenti. Pada saat mereka melihat ke ujung lorong, mereka melihat bayangan hitam yang tersenyum yang kemudian langsung menghilang. Mo dan Norio tidak dapat berbicara sedikit pun dikarenakan hal tersebut. Mo akhirnya bertanya,

"Apa-apaan tadi ? Seseorang bermain-main dengan kita ?"

"..."

"Dokter Shibata, apa-apaan tadi ? Hantu ?" tanya Mo sekali lagi

"Mungkinkah itu pria yang selalu disebut oleh Viltus..." ujar Norio

"Huh ? Pria yang selalu disebut Viltus ?" tanya Mo

"Dia selalu bermimpi bertemu dengan pria dengan ciri-ciri yang kita lihat barusan." ujar Norio

"Huh ?"

"Bagaimana mungkin sesuatu dari mimpi dapat termanifestasi di dunia ini... Ini sangat aneh... Dan juga membuatku semakin senang." ujar Norio

"Sudahlah. Sebaiknya kita istirahat saja dahulu. Bukankah kau akan mengecek Akagi dan Kaga besok ?" tanya Mo

"Iya juga. Saya lupa, ahahahahahahaha."

Mo langsung menghela nafas dan berjalan lebih dahulu dari Norio. Norio sendiri masih berdiri di sana dan kemudian melihat ke arah Viltus dan Taihou. Ia berkata,

"Viltus... Apakah kau dapat memberikanku lebih banyak sampel lagi ? Aku penasaran."


Satu minggu kemudian, operasi kedua pun mulai berjalan. Viltus sudah bertemu dengan Akihiko dan Megumi untuk rapat terakhir. Viltus berkata,

"Jadi, operasi ini akan berjalan cukup lama. Saya akan mulai mengumpulkan data di lapangan."

"Itu merupakan hal yang paling penting." ujar Megumi

"Dan bila lawan menyerang, kau mendapat ijin untuk melakukan serangan balasan." ujar Akihiko

"Terima kasih banyak, Kapten Takagi" jawab Viltus

Mereka berbincang-bincang sebentar hingga akhirnya Satoshi datang dan berkata,

"Kapten Amarov, armada pengintaian harus berangkat sebentar lagi. Saya harap dirimu siap."

"Semua sudah siap, Laksamana Muda Yoshida." jawab Viltus

"Sepertinya dirimu sudah jauh lebih tenang daripada satu minggu lalu." ujar Satoshi

"Yang saya perlukan adalah istirahat yang cukup, dan tidak membiarkan semua pikiran itu masuk ke kepala saya." ujar Viltus

"Dengan bantuan dia, benar ?" tanya Satoshi

Viltus hanya tersenyum kecil saja. Akhirnya Satoshi berkata,

"Saya harap dirimu dapat memberikan hasil terbaik di operasi ini."

"Tentu saja. Itu merupakan kewajiban saya." balas Viltus

"Semoga kau berhasil." ujar Satoshi

"Kapten Amarov, hati-hati di luar sana." ujar Megumi

"Kita akan berpesta setelah ini semua selesai. Jadi, kembali kemari." ujar Akihiko

"Aku akan melakukan itu semua." ujar Viltus sembari meninggalkan mereka.

Ia berjalan ke arah kapal komandonya dan melihat Elisa terlihat sibuk dengan kapal komandonya. Ia berjalan dan langsung menyapa Elisa,

"Elisa..."

"Ah, Viltus selamat datang." balas Elisa

"Jadi, bagaimana kondisi kapal komandoku ?" tanya Viltus

"Semuanya baik-baik saja... Saat ini." ujar Elisa sembari menghela nafas

"Yang penting, selama kami dapat bergerak semuanya baik-baik saja." ujar Viltus

"Kau selalu optimis. Aku iri dengan dirimu." ujar Elisa

"Begitukah ? Ahahahahahaha."

Viltus kemudian berjalan masuk ke dalam ruang komando dan melihat semua Gadis Kapal, Akira, Toshiko dan krunya sudah ada di dalam. Ia kemudian langsung berjalan ke kursinya dan menepuk tangannya. Semua di dalam sana melihat ke arah Viltus yang tersenyum. Setelah itu, Viltus berkata,

"Baiklah, operasi kita akan berjalan pada 1000 jam. Kita akan bergerak secara perlahan ke beberapa titik untuk meluncurkan pesawat sebagai bagian dari pengintaian."

Semuanya mengangguk mendengar apa yang dikatakan oleh Viltus. Viltus kemudian berkata,

"Laksamana Muda Yoshida sudah memberikan ijin kepada kita semua untuk melakukan penyerangan jika mereka menyerang kalian."

"Ba... Baik..." jawab Taihou

"Selain itu, berikan laporan kepada kapal komando setiap lima menit. Agar dapat memikirkan langkah selanjutnya." ujar Viltus

"Baik !" ujar semuanya

"Baiklah ! Semua ke pos masing-masing, setelah tiba waktunya kita akan mulai berangkat !" teriak Viltus

Semuanya berlari ke arah pos masing-masing, begitu pula dengan Akira dan Toshiko yang berlari ke arah kapal komando mereka. Operasi tersebut akan berjalan, dan kali ini mereka akan melawan lebih keras lagi.