Chapter 31

Dark Sky

Part 2 - Great Phoenix


Taihou sudah meluncur dari kapal komando Viltus, bersama dengan seluruh armada di divisi pengintaian. Dan untuk operasi ini, Taihou yang akan menjadi flagship dan memimpin seluruh operasi tersebut jika komunikasi antara dirinya dengan Viltus terputus. Semuanya sadar, situasi saat ini akan sangat berbahaya dikarenakan mereka tidak mendapatkan laporan dari Kapal Komando, dan juga sebaliknya.

Namun, beberapa saat setelah mereka semua meluncur, Taihou langsung berkata,

"Aku tahu ini semua akan sangat berbahaya... Terutama untuk mereka semua. Namun, diriku percaya mereka pasti akan baik-baik saja."

Sesuatu yang sering diucapkan oleh Taihou karena ia percaya Viltus akan membawa semuanya kembali dengan utuh dan kemudian mereka akan bersama kembali seperti biasanya.

Untuk operasi ini, mereka memiliki misi untuk mencari posisi lawan, terutama mengenai seorang Abyssal wanita yang telah membunuh Kimura dan Harusame. Untuk masalah Abyssal wanita tersebut, itu merupakan permintaan dari Viltus. Ia berkat bahwa divisi penyerangan harus menghindari area tersebut karena kerusakan yang pernah dilakukan oleh wanita tersebut terhadap operasi besar dahulu.

Sudah dua jam berlalu, namun tidak satu pun pesawat dari Shoukaku, Zuikaku, Ryuujou dan Taihou menemukan lawan mereka. Ryuujou langsung berkata,

"Ini sangat menyebalkan... Di mana mereka bersembunyi di lautan luas tanpa halangan apapun."

"Bukankah jika demikian lawan akan menurunkan kapal selam ?" tanya Shoukaku

"Uuuuuhhhh... Apapun asal jangan kapal selam deh..." ujar Ryuujou

Taihou melihat ke arah Ryuujou sebentar dan kemudian langsung menghubungi divisi lain. Aoba yang pertama menjawab Taihou,

"Ada apa, Taihou-san ?"

"Aoba, bagaimana kondisi di sana ?" tanya Taihou

"Tidak ada pergerakan... Aoba sangat khawatir... Teramat sangat khawatir..." ujar Aoba

"Terlalu tenang... Bukan sesuatu yang biasa jika ini menyangkut mengenai Abyssal." ujar Taihou

"Tepat sekali..." ujar Aoba

"Mungkin dirimu melihat sesuatu di udara atau cuacanya ?" tanya Taihou

"Cuaca ? Mengapa kau bertanya mengenai cuaca ?" tanya Aoba

"Itu karena Viltus-san memberitahu mengenai kondisi saat itu... Cuacanya sangat buruk..." ujar Taihou

Aoba mengingat pada saat itu, dan langsung menelan ludahnya. Ia baru ingat, pada saat wanita tersebut muncul cuacanya berubah dari buruk menjadi sangat buruk sekali. Ia langsung berkata,

"Di tempatku tidak ada perubahan sama sekali... Baik, Yayoi dan Uzuki pun tidak melihat satu pun perubahan cuaca."

"Baik. Terima kasih banyak, Aoba. Lanjutkan tugasmu, beritahu jika ada perubahan yang mencolok di sekitarmu. Dan jika dalam satu jam tidak ada perubahan, kembali kemari." ujar Taihou

"Baik !" jawab Aoba

Setelah itu, Aoba menutup pembicaraannya. Taihou kemudian menghubungi divisi lainnya. Kali ini yang menjawabnya adalah Furutaka. Furutaka langsung berkata,

"Furutaka melapor kepada Taihou !"

"Bagaimana kondisi di sisi selatan, Furutaka ?" tanya Taihou

"Saya tidak menemukan satu pun Abyssal di area ini. Baik radar milikku, Kako, Akizuki, Teruzuki dan Hatsuzuki tidak menemukan posisi lawan." jawab Furutaka

"Furutaka, dapatkah kau memberitahu Akizuki, Teruzuki dan Hatsuzuki untuk mengganti sistem mereka menjadi sonar ? Saya khawatir terdapat kapal selam di sana." ujar Taihou

"Ah... Baik." jawab Furutaka

"Terima kasih banyak. Lanjutkan tugasmu. Jika dalam satu jam tidak ada laporan apapun, berkumpul kembali di posisi saya." ujar Taihou

"Siap !" balas Furutaka

Taihou langsung menutup komunikasi dengan Furutaka untuk sementara waktu. Saat ini, di posisinya terdiri dari Shoukaku, Zuikaku, Ryuujou, dan dirinya yang ditunjang oleh Yahagi, Agano dan Noshiro. Noshiro melihat ke arah Taihou dan berkata,

"Kau bekerja dengan keras, Taihou-san."

"Ini adalah tugas yang diemban olehku sebagai pemimpin sementara. Jadi, memang hal yang wajar jika diriku menanyakan hal seperti ini." jawab Taihou

"Asal jangan terlalu memaksakan diri. Aku tidak ingin melihat dirimu sakit seperti Laksamana Amarov, mengerti ?" ujar Noshiro sembari menunjuk ke arah Taihou

"Aku tahu... Aku tahu..." ujar Taihou

"Tidak dengan jawaban yang sama dengan yang biasa dikatakan oleh Laksamana !" ujar Noshiro

Taihou berusaha untuk menenangkan Noshiro, sementara Ryuujou sendiri langsung menghela nafas. Shoukaku yang melihat itu hanya dapat tersenyum kecut dan melihat berbagai arah. Ia sebenarnya ini yang menemukan posisi lawan sehingga akan dipuji oleh Viltus, namun saat ini situasi tidak memungkinkan karena Abyssal sama sekali tidak ditemukan.

Noshiro baru berhenti setelah Taihou mendapat panggilan dari Unryuu. Unryuu langsung berkata,

"Tidak ada apapun di area ini..."

"Apakah ada yang menyerang kalian atau semacamnya ?" tanya Taihou

"Tidak ada sama sekali." jawab Unryuu

"Baiklah, Unryuu... Sebaiknya divisimu kembali kemari." perintah Taihou

"Sudah saatnya untuk kembali kapal komando ?" tanya Unryuu

"Tidak, kau yang paling jauh dari kami semua. Maka dari itu, kau kuminta untuk berkumpul lebih dahulu dengan kami." terang Taihou

"Baik." jawab Unryuu

Taihou langsung menghela nafas, dan mendengar pertanyaan dari Zuikaku,

"Apakah ada kabar mengenai lawan dari yang lain ?"

"Tidak ada. Semuanya kosong." jawab Taihou

Zuikaku langsung terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Taihou. Untuk pertama kalinya, mereka sama sekali tidak dapat menemukan posisi lawannya. Tidak berapa lama, mereka mendengar panggilan dari Viltus,

"Taihou, bagaimana kondisi di luar sana ?"

"Kami tidak menemukan mereka sama sekali." jawab Taihou

"Kami pun tidak menemukan apapun dari radar kami." ujar Viltus sembari menghela nafas.

"Jangan terlalu memaksakan diri. Lagipula, dirimu yang akan menjadi pusat dari setiap perintah di operasi ini." ujar Taihou sedikit tertawa

"Begitu pula dengan dirimu." ujar Viltus

Taihou langsung tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Viltus. Setelah itu, Taihou berbincang sebentar sebelum melanjutkan operasi mereka. Agano langsung berkomentar,

"Masih mesra seperti biasanya..."

"Ahahahahaha... Begitukah ?" tanya Taihou

"Iya."

Taihou tersenyum sebentar, setelah itu ia melihat ke arah semuanya dan berkata,

"Viltus memberitahu diriku bahwa kita akan mendapatkan bantuan untuk operasi ini."

"Bantuan ? Siapa yang akan datang kemari ?" tanya Yahagi

"Houshou-san bersama dengan Akatsuki, Hibiki, Ikazuchi, dan Inazuma." jawab Taihou

"Tambahan seorang kapal induk dan beberapa Kapal Perusak ? Mengapa mereka mengirim mereka kemari ?" tanya Shoukaku

"Entahlah. Dan sepertinya itu bukanlah permintaan langsung dari Viltus." jawab Taihou

"Eh ? Bukan dari Laksamana itu ?!" ujar Ryuujou dengan wajah terkejut

"Iya. Aku mengetahuinya dari nada bicaranya." ujar Taihou

Semuanya melihat ke arah Taihou dengan wajah sedikit khawatir. Sepertinya, ini semua adalah perintah dari Satoshi dikarenakan mereka masih belum menemukan posisi lawan. Tapi, dengan tambahan Houshou semuanya dapat sedikit lebih mudah karena lebih banyak pesawat yang dapat dikirim. Akhirnya Taihou berkata,

"Kita akan menunggu Houshou. Kalian mengerti ?"

"Siap !"


Houshou sudah tiba di posisi Taihou, sementara kelompok Aoba, Unryuu, dan Furutaka pun sudah tiba juga. Mereka sangat terkejut melihat Houshou yang datang ke tempat tersebut. Setelah semuanya sudah datang, Houshou langsung berkata,

"Ini perintah langsung dari Grand Admiral."

"Huh ? Laksamana Ichijo ?!" ujar Taihou dengan wajah terkejut

"Kita harus menemukan posisi lawan. Dan jika ada masalah, terdapat dua divisi lain yang akan membantu. Mereka dipimpin oleh Kongo dan Kirishima." terang Houshou

Taihou terlihat sedikit bingung dengan apa yang dikatakan oleh Houshou. Untuk pertama kalinya, Laksamana Ichijo memberi perintah seperti itu. Akhirnya, Taihou langsung memberi perintah semuanya untuk melakukan hal tersebut.

Pada saat Taihou sudah selesai memberitahu perintah selanjutnya, Houshou langsung menepuk pundak dari Taihou dan bertanya,

"Jika boleh tahu, apa yang terjadi pada Laksamana Amarov minggu lalu ?"

"Eh ?" ujar Taihou sedikit terkejut

"Taihou ?"

"..."

"Ada apa, Taihou ?" tanya Houshou sekali lagi

"Aku sedikit terkejut saja dirimu menanyakan hal tersebut." jawab Taihou

"Ini semua karena Laksamana Ichijo menyebut namanya beberapa kali. Begitu pula dengan Laksamana Masamune dan Laksamana Yanagi." ujar Houshou

Taihou sangat terkejut mendengar ketiga nama tersebut disebut oleh Houshou. Sontak, ia langsung bertanya,

"Apa yang mereka bicarakan mengenai Viltus ?"

"Seperti... Beberapa keluhan mengenai kalian berdua yang menjadi simbol perlawanan terhadap peraturan di markas angkatan laut Yokosuka." jawab Houshou

"Eh ? Kukira semuanya..."

"Tidak semuanya menerima kenyataan tersebut. Mereka merasa Laksamana Amarov selamat karena koneksi dengan Laksamana Yanagi." ujar Houshou

"Mengapa pada saat seperti ini..." ujar Taihou

"Taihou..."

"Mengapa pada saat seperti ini... Aku harus mendengar berita seperti itu." ujar Taihou

"Maafkan aku..." ujar Houshou

"Itu... Bukan masalah..."

"..."

"Dan mengenai apa yang terjadi pada Viltus satu minggu yang lalu... Dirinya dihantui kembali oleh mimpi buruknya." ujar Taihou kemudian

"Eh ? Mimpi buruk karena masalah Kimura ?" tanya Houshou

"Bukan... Ini yang lain..." ujar Taihou

Houshou melihat Taihou tidak ingin membahas masalah tersebut lebih jauh lagi karena itu akan berpengaruh pada moral seluruh anggota di armada tersebut. Houshou langsung mengangguk dan kemudian berkata,

"Taihou... Apa perintahmu sekarang ?"

"Lakukan sebisa kita... Nanti, aku akan memikirkannya dengan Viltus..." jawab Taihou

"Sebisa mungkin jangan memberitahu Viltus sekarang untuk masalah tersebut." ujar Houshou

"Aku tahu... Karena pikirannya terbebani oleh beberapa hal... Sehingga jika ia mendengar berita ini, semuanya akan menjadi lebih kacau lagi." ujar Taihou

Houshou melihat ke arah Taihou, dan dapat melihat dengan jelas dirinya sangat khawatir walaupun ia sudah berusaha untuk menyembunyikannya dengan berbicara seperti biasanya. Houshou tahu itu karena hal tersebut terpancarkan dari mata Taihou. Houshou kemudian melihat ke laut dan bergumam,

"Apakah... Ini yang terbaik untuk mereka..."


Tiga jam berlalu, dan tidak ada lawan yang mereka temukan. Matahari sudah mulai bergerak ke tempatnya beristirahat, dan hal tersebut membuat Taihou semakin khawatir. Akhirnya, semuanya memutuskan untuk berkumpul sebelum kembali. Setelah berkumpul, Taihou langsung berkata,

"Saat ini kita tidak menemukan posisi lawan sama sekali."

"Apakah petinggi di Yokosuka bermain-main dengan kita dengan memberitahukan hal seperti ini ?" protes Ryuujou

"Tidak mungkin bermain-main. Itu semua karena kita pun mendapatkan dokumen pengintaian sebelum seluruh operasi ini berjalan." ujar Taihou

"Ah... Laporan dari pengintaian satu bulan yang lalu, benar ?" tanya Zuikaku

"Dalam satu bulan tersebut dapat terjadi beberapa hal. Salah satunya mungkin mereka semua pergi..." ujar Taihou

"Namun, pada saat kami melakukan pengintaian beberapa hari yang lalu, kami masih menemukan mereka semua." ujar Aoba

"Itu baru sangat aneh." ujar Agano

"Taihou, kau yakin membaca posisi dari lawan dengan benar ?" tanya Shoukaku dengan wajah menuduhnya

"Iya ! Aku membacanya dengan benar." ujar Taihou

"Lalu, mengapa lawan tidak ada di sini ?" tanya Shoukaku kemudian

"Itu yang sedang kita bicarakan saat ini." ujar Taihou

"..."

"Ada apa, Shoukaku ?" tanya Taihou

Shoukaku hanya tersenyum sinis sembari melihat ke arah Taihou. Ia menantang Taihou karena ia merasa dapat menjatuhkan Taihou yang mulai panik saat ini. Tepat sebelum Taihou berkata kembali, Houshou berkata,

"Shoukaku, sebaiknya dirimu tidak melakukan tindakan apapun. Saat ini, kita sama sekali tidak dapat menemukan posisi lawan kita."

"Aku tahu... Ini tidak ada hubungannya dengan flagship yang kurang kompeten." ujar Shoukaku

Taihou sama sekali tidak menjawab Shoukaku, dan Shoukaku langsung membuat wajah penuh kemenangan. Taihou tidak ingin membiarkan apa yang dikatakan oleh Shoukaku merasuki kepalanya dan membuatnya terjatuh. Namun, pada saat itulah ia mendengar suara,

"Sampai kapan dirimu akan buta dengan semua ini ?"

Taihou sangat terkejut dan kemudian melihat ke kiri dan kanan. Ia kenal suara tersebut. Sebuah suara yang telah memasuki mimpinya dan juga mimpi Viltus. Suara seseorang yang membuatnya takut untuk kehilangan Viltus. Suara dari seseorang yang sangat kuat, bernama Hakai.

Shoukaku yang melihat itu langsung berkata,

"Ada apa, Taihou ? Kau sudah mulai gila karena gagal ?"

"Shoukaku-san ! Hormati dirinya !" ujar Houshou

"Sepertinya hubungan antara dirimu dengan Viltus-kun telah membuatmu seperti itu, ya ?" ujar Shoukaku

Houshou langsung menatap tajam ke arah Shoukaku dan berkata,

"Sekarang bukan waktu yang tepat untuk dirimu melakukan ini semua, Shoukaku."

"Itu menurutmu saja, Houshou. Tapi, jika dirinya jatuh sekarang... Aku akan sangat bahagia." ujar Shoukaku

Semuanya melihat ke arah Shoukaku dengan wajah jijik, kecuali Taihou yang menatap ke satu arah. Houshou yang menyadari hal tersebut langsung berkata,

"Taihou, ada apa ?"

"Tidak... Tidak mungkin... Tidak mungkin..." ujar Taihou

"Taihou... Hei !"

"Kau tidak mungkin... Muncul di dunia ini... Kau berkata demikian..." ujar Taihou kembali

Houshou sangat bingung dengan apa yang dikatakan oleh Taihou dan melihat ke depannya. Tidak ada siapapun di depan sana. Shoukaku yang mendengar itu langsung berkata,

"Heh ? Wanita gila ini menjadi kekasih dari Viltus-kun ? Tidak dapat kuterima..."

"Shoukaku kau diam sekarang !" ujar Houshou

"Tch." ujar Shoukaku

"Taihou, apa yang kau lihat ? Apa yang kau dengar ?" tanya Houshou

Mereka semua mendekati Taihou, dan berusaha untuk menenangkan dirinya. Mereka semua sama sekali tidak dapat melihat apa yang dilihat oleh Taihou. Yang dilihat oleh Taihou adalah seseorang dengan pakaian laksamana hitam dan rambut perak pendek yang mengenakan sebuah penutup mata. Ia tersenyum ke arah Taihou. Setelah itu, ia menjentikkan jarinya dan dalam sekejap semua di sekitar Taihou berhenti. Ia berkata,

"Yah... Sudah lama sekali diriku tidak berbincang-bincang dengan dirimu, Taihou-chan."

"Hakai... Kau berkata kau tidak akan muncul di dunia ini !" ujar Taihou

"Hei... Kau malah mengusir salah satu temanmu. Sangat menyakitkan mengerti." ujar Hakai

Taihou menatap tajam ke arah Hakai, hingga akhirnya ia menyadari di sekitar dirinya. Semuanya berhenti bergerak. Hakai sendiri langsung berjalan ke arah Taihou dan kemudian berkata,

"Jadi, apa yang akan kau lakukan di operasi ini ?"

"Itu bukan urusanmu, Hakai !" ujar Taihou

"Begitukah ? Aku yakin dirimu sudah mendengarnya dari calon suamimu sendiri mengenai apa yang kukatakan." ujar Hakai

"Aku sudah tahu. Dan akan kuberitahu dirimu satu hal, diriku tidak akan mati !" ujar Taihou

"Baguslah... Usahakan seperti itu..." ujar Hakai

"Huh ?"

"Jika kau tidak ingin memiliki masa depan dunia yang sangat suram di kemudian hari." ujar Hakai

"Apa maksudmu ?" tanya Taihou

Ia baru merasakan sesuatu yang aneh dari Hakai. Sesuatu yang membuatnya cukup rindu akan sesuatu. Hakai langsung tertawa dan kemudian berkata,

"Itu bukan urusanmu. Itu adalah urusan mereka yang berada di masa depan."

"Kau ini siapa ?" tanya Taihou mendadak

"Diriku adalah sesuatu yang tidak akan muncul jika kalian memilih jalur terbaik." jawab Hakai

"Jalur terbaik ?" tanya Taihou

"Iya. Jalur terbaik untuk dunia ini." ujar Hakai

Hakai melihat ke arah Taihou dan tersenyum. Dan untuk pertama kalinya, Taihou melihat sesuatu dari Hakai. Ia langsung bertanya,

"Kau ini... Siapa dari..."

"Itu bukan urusanmu. Yang pasti, itu adalah situasi terberat darinya." ujar Hakai

"..."

"Jika kau tidak ingin kacau, lakukanlah sebaik mungkin." ujar Hakai

Taihou menunduk ke bawah, dan terlihat tidak dapat berpikir sama sekali. Tepat sebelum Hakai menghilang, ia menunjuk ke satu arah. Taihou melihat ke arah tersebut dan kemudian bertanya,

"Ada apa di sana ?"

"Apa yang kau cari. Kau akan menemukan hal tersebut di sana." ujar Hakai

"Eh ?"

"Sudahlah... Selamat tinggal, karena diriku masih memiliki pekerjaan." ujar Hakai

Setelah itu, Hakai menghilang dan seluruh orang di sekitar Taihou dapat bergerak kembali. Yang ia dengar adalah suara khawatir dari Houshou. Taihou langsung bertanya,

"Ada apa, Houshou ?"

"Ah... Akhirnya... Akhirnya kau dapat menjawabku." jawab Houshou sembari memeluk Taihou

Taihou langsung sadar semua orang di sekitarnya sangat khawatir pada dirinya, kecuali Shoukaku. Houshou terus bertanya kepadanya, hingga akhirnya Taihou menjawab,

"Aku baik-baik saja..."

"Apakah kau..." ujar Houshou yang langsung disela oleh Taihou

"Aku baik-baik saja, Houshou. Daripada itu, dapatkah kau mengirimkan pesawat ke arah sana ?"

"Ke arah sana ?" tanya Houshou sembari menunjuk ke arah yang ditunjuk oleh Taihou

Taihou mengangguk, dan melihat ke arah Houshou. Houshou pada awalnya tidak terlalu yakin, namun ia akhirnya mengirim pesawatnya. Tidak berapa lama, ia mendapat panggilan dari Kapal Komandonya. Yang ia dengar adalah suara khawatir dari Viltus,

"Taihou ! Jawab sekarang... Taihou !"

"Ada apa, Viltus ?" tanya Taihou

Terdapat nada lega dari Viltus pada saat Taihou menjawab pertanyaannya. Ia langsung mendengar Viltus berkata,

"Aku mendengar kabar dari Aoba bahwa dirimu membatu di sana. Sama sekali tidak menjawab apapun."

"..."

"Huh ? Taihou, ada apa ?" tanya Viltus dengan nada khawatir

"Kau... Tidak akan melakukan tindakan idiot, kan ?" tanya Taihou

"Huh ? Pertanyaan macam apa itu ?" tanya Viltus sekali lagi

"Aku khawatir..." jawab Taihou

"Tentu saja tidak akan..." ujar Viltus yang menyadari apa yang dipikirkan oleh Taihou.

Taihou mendengar Viltus menghela nafas dan kemudian bertanya,

"Apa yang kau lihat ?"

"Dia." ujar Taihou

"..."

"Dia muncul di depanku..." lanjut Taihou

Viltus sama sekali tidak menjawab, dan ia mendengar seluruh kru dari Viltus bertanya kepada Viltus mengenai apa yang dikatakan oleh Taihou. Namun, Viltus sama sekali tidak menjawab. Hingga akhirnya Viltus berkata,

"Baiklah..."

"Eh ? Baiklah, apa Viltus ?" tanya Taihou

"Kalian... kembali... berbahaya..."

"Huh ? Halo, Viltus..." ujar Taihou

"Taihou... mendengar... hei..." ujar Viltus yang kemudian terputus.

Taihou memanggil Viltus beberapa kali, dan hal tersebut membuat dirinya panik. Aoba yang melihat itu langsung teringat sesuatu dan kemudian memegang pundak dari Taihou dan berkata,

"Taihou ! Jangan panik sekarang ! Yang harus kita lakukan adalah..."

"Aku menemukan lawan..." ujar Houshou menyela apa yang dikatakan oleh Aoba

Semuanya melihat ke arah Houshou, dan kemudian Shoukaku bertanya,

"Kau menemukannya ? Di mana ?"

"Di sana..." ujar Houshou sembari menunjuk ke satu arah.

Shoukaku dan Zuikaku langsung mengirimkan pesawatnya, sementara Unryuu langsung melihat sesuatu yang aneh. Langit yang sebelum cerah mendadak menjadi hitam kelam. Selain itu, lautan pun juga berubah menjadi sangat ganas. Taihou melihat ke arah sana, hingga akhirnya Zuikaku berkata,

"Mereka bilang yang akan kita hadapi hanya delapan armada Abyssal saja ?!"

"Apa maksudmu, Zuikaku ?" tanya Furutaka

"Mereka sangat banyak... Terlalu banyak..." ujar Shoukaku

"Shoukaku, beritahu diriku ada berapa banyak lawan kita ?" tanya Taihou

"Sekitar dua puluh armada..." jawab Shoukaku

Mendengar itu, Taihou langsung melihat ke arah Abyssal dan kemudian ke arah semua armadanya. Ia langsung berkata,

"Operasi kita sudah selesai. Tugas kita selanjutnya adalah..."

"Kau... ingin... pergi... ke mana, Burung... yang manis ?"

Taihou sangat terkejut mendengar hal tersebut, dan pada saat bersamaan sebuah peluru mengenai Kako. Furutaka langsung berteriak melihat hal tersebut, sementara Taihou sangat tidak dapat berkata apapun. Ryuujou langsung berkata,

"Jarak mereka masih sangat jauh. Mustahil mereka dapat menembak seakurat itu !"

"..."

"Houshou-san, apa yang menembak kita ? Ru atau Ta ? Atau mungkin Re ?" tanya Yahagi

"Battleship Water Oni." jawab Houshou dengan wajah pucat

Mereka semua sangat terkejut mendengar hal tersebut. Mereka semua siap jika menghadapi sebagian kecil dari Abyssal, namun menghadapi armada yang sangat besar dan Battleship Water Oni, Abyssal yang telah membunuh Kimura, merupakan sesuatu yang tidak mereka perkirakan.

Taihou langsung sadar, dan kemudian berteriak,

"Semuanya ! Kita kembali ke kapal komando !"

"Namun, bagaimana jika mereka menemukan kapal komando kita ?" tanya Shoukaku

"Kita akan membagi kelompok kita." ujar Taihou

"Aku yakin mereka memiliki target. Namun, siapa ?" tanya Aoba

Semuanya terdiam mendengar itu, dan pada saat itulah Taihou melihat Hakai yang berdiri di depannya. Ia tersenyum dan menunjuk ke arah Taihou. Taihou langsung terdiam dan kemudian berkata,

"Shoukaku, kau pimpin Zuikaku, Ryuujou dengan Yahagi, Agano, dan Noshiro kembali ke kapal komando. Furutaka, lindungi Kako bersama yang lainnya. Unryuu, pimpin divisimu melewati utara. Begitu pula dengan dirimu Aoba."

"Lalu, bagaimana dengan dirimu ?" tanya Ryuujou

"Aku akan membuang waktu mereka." ujar Taihou

"Eh ?! Kau sinting ! Lawanmu ada banyak ! Jika dirimu sudah terjebak di tengah, kau tidak akan dapat melakukan apapun !" ujar Aoba

"Aku dapat melakukannya." ujar Taihou

Houshou mendadak memegang pundak dari Taihou, dan kemudian berkata kepada Akatsuki dan yang lainnya,

"Kalian juga kembali sekarang. Aku akan menemani Taihou."

"Houshou, kau tidak perlu..." ujar Taihou yang mendapat tatapan tajam dari Houshou

Taihou tahu Houshou pasti akan tetap di sana apapun alasan darinya. Ia langsung menunduk dan kemudian berkata,

"Semuanya... Lakukan saja apa yang kukatakan."

Semuanya mengangguk, terutama Shoukaku. Ia tahu, ini akan menjadi akhir yang indah baginya.


Taihou melihat ke arah langit gelap yang semakin mendekat. Semua Gadis Kapal kelas Kapal Induk memberikan pesawat mereka untuk Taihou dan Houshou yang akan menahan lawan selama mungkin. Mereka semua membutuhkan hal tersebut. Houshou berdiri di sebelahnya dan langsung bertanya kepada Taihou,

"Mengapa kau memilih untuk melakukan hal seperti ini ?"

"Target mereka adalah diriku." ujar Taihou

"Dari mana kau mengetahui hal tersebut ?" tanya Houshou

"Dia." jawab Taihou

"Dia ? Dari Viltus-san ?" tanya Houshou

"Seseorang yang menghantui mimpiku dan mimpi Kazuki." ujar Taihou

Houshou sangat terkejut mendengar nama tersebut. Taihou tersenyum dan kemudian berkata,

"Rasanya sudah lama sekali kita tidak berbicara hanya berdua saja, Houshou-san"

"Iya..." jawab Houshou sembari melihat ke arah langit yang semakin mendekati mereka.

"Kau tahu, pada saat dirimu mengatakan bahwa berada di divisi Kazuki itu sangat menyenangkan, aku sama sekali tidak percaya." ujar Taihou

"Aku tahu. Itu semua karena apa yang terjadi pertama kali pada kalian berdua." ujar Houshou

"Ahahahahaha... Namun, setelah diriku di bawah dirinya, aku sadar dirinya itu sangat berubah. Kami merasakan semuanya. Marah. Duka. Sedih. Bahagia." ujar Taihou sembari melihat ke cincin di tangannya.

Houshou terdiam mendengar hal tersebut. Ia tahu, apapun yang terjadi di pertempuran ini, semuanya akan sangat berat bagi Viltus dan Taihou. Taihou langsung tertawa dan kemudian berkata,

"Diriku bukanlah bagian awal dari divisinya, namun sedikit demi sedikit diriku melihat divisi itu berkembang semakin besar. Semua orang di sana membantu Viltus untuk berkembang menjadi seperti ini."

"Aku tahu..." ujar Houshou singkat

"Ehehehehehe... Sudahlah, kenapa diriku terus berbicara sendiri, ya ?" ujar Taihou sembari menyiapkan crossbow miliknya.

Houshou hanya diam saja, dan kemudian menyiapkan busur panahnya. Dan pada saat itulah, ia melihat wajah Taihou yang siap dan berkata,

"Aku akan kembali. Apapun yang terjadi setelah ini, aku akan menghadapinya. Karena diriku yakin, pada saat diriku bersama dengan dirinya, kami dapat menghadapi apapun."

Houshou langsung terdiam, dan sadar dirinya terlalu lama tidak bersama dengan Taihou sehingga tidak menyadari perubahan darinya. Dari seorang Gadis Kapal yang sulit untuk berinteraksi menjadi seseorang yang ceria dan penuh semangat seperti sekarang. Houshou langsung bergumam,

"Pada akhirnya... Burung tersebut bangkit kembali dari kematiannya, untuk melindungi yang penting baginya."

"Huh ? Kau bilang apa ?" tanya Taihou dengan wajah bingung

"Bukan apa-apa. Daripada itu, apakah kau siap dengan apa yang kita hadapi di depan kita ?" tanya Houshou

"Tentu saja." jawab Taihou sembari mengangkat senjatanya.

Houshou tersenyum, dan ia merasa misinya sekarang adalah membawa kembali Taihou kembali ke Viltus. Hanya itu yang dapat ia lakukan sekarang. Membawanya dalam keadaan utuh.

Taihou dan Houshou melihat ke depan, dan kemudian Abyssal mulai muncul sedikit demi sedikit. Taihou langsung berkata,

"Kita akan berusaha untuk menahan mereka selama maksimal dua jam. Aku harap tubuhmu kuat untuk hal tersebut, Houshou."

"Tenang saja. Pengalamanku jauh lebih banyak darimu, Taihou. Aku pasti akan mampu melakukannya." ujar Houshou

Mereka tersenyum dan meluncurkan pesawat pertama mereka.


Satu per satu pesawat jatuh dengan memakan korban cukup banyak Abyssal. Taihou dan Houshou bergerak dari satu tempat ke tempat lain dan meluncurkan pesawat milik mereka. Taihou melihat ke sekitarnya dan kemudian berkata,

"Kita setidaknya berhasil menghancurkan cukup banyak Abyssal."

"Kau benar... Walaupun mayoritas jenis Kapal Perusak dan Kapal Penjelajah Ringan." balas Houshou

"Setidaknya, kita menghancurkan tiga Kapal Induk dan dua Kapal Tempur." ujar Taihou

"Walaupun demikian, dia..." ujar Houshou

Taihou tahu, Battleship Water Oni sama sekali tidak tersentuh. Ia terlihat sangat tenang, dan terlihat mencari sesuatu. Taihou melihat ke arah mereka dan kemudian langsung berkata,

"Kita akan bergerak ke arah kanan, dan kemudian meluncurkan pesawat kita."

"Baik." jawab Houshou

Taihou bergerak ke tempat yang ia maksud, namun pada saat itu sonarnya memberitahukan sesuatu kepadanya. Sebuah torpedo yang mengarah ke mereka berdua. Sontak Taihou langsung berteriak,

"Houshou ! Torpedo !"

"Eh ?"

Houshou melihat ke sonarnya, dan melihat tanda torpedo mendekat. Mereka berdua menghindari torpedo tersebut. Taihou langsung berkata,

"Serangan mereka sangat akurat."

"Terlalu akurat jika dapat kubilang." ujar Houshou

Mereka melihat ke langit dan tidak menemukan satu pun pesawat. Selain itu, sonar sama sekali tidak dapat menemukan kapal selam. Taihou langsung berkata,

"Mustahil torpedo tersebut berasal dari Kapal Penjelajah Berat !"

"Dan dari mana mereka menemukan lokasi kita ?" tanya Houshou

Mendadak beberapa peluru menghujani daerah mereka, dan itu membuat Taihou dan Houshou kembali berjalan. Mereka bergerak dan mulai menerbangkan pesawat mereka kembali. Mereka terus bergerak, hingga Houshou terkena serangan yang cukup fatal. Taihou yang melihat itu langsung berhenti, dan kemudian memapah Houshou. Houshou langsung berkata,

"Tidak... Kau tidak perlu..."

"Kita akan kembali bersama. Itu janjiku." ujar Taihou tanpa memperdulikan apa yang dikatakan oleh Houshou.

Houshou melihat ke arah Taihou, dan kemudian menutup matanya. Taihou sendiri memilih fokus untuk bergerak menjauh dari area tersebut. Mereka terus bergerak, hingga akhirnya Taihou berkata,

"Mereka semua seharusnya sudah sampai di kapal komando."

"Iya... Kau benar." jawab Houshou

"Sekarang, kita harus menjauhi area mereka..." ujar Taihou

"Namun, mata mereka sangat jeli jika dapat menyerang kita dari jarak sejauh itu." ujar Houshou

"Dan itu masalahnya. Mereka sama sekali tidak mengeluarkan pesawat mereka, dan juga tidak ada satu pun kapal selam di dekat kita." ujar Taihou

"Apa yang membuat mereka seakurat itu ?!" tanya Houshou dengan wajah khawatir

Tentu saja Houshou khawatir dengan hal tersebut. Itu semua karena Abyssal memiliki sebuah teknologi yang dapat menemukan posisi lawan dengan tepat. Dan hal tersebut akan membuat manusia semakin terdesak dari lautan, dan mungkin akan dikuasai oleh Abyssal dalam waktu singkat.

Taihou kembali bergerak, namun gerakannya jauh lebih lambat karena membawa Houshou di tengah hujan peluru. Hingga akhirnya, sebuah peluru mengenai kakinya dan membuat dirinya berhenti sebentar. Ia melihat ke arah perlengkapannya, dan kemudian langsung berkata,

"Aku masih dapat bergerak..."

"Taihou, tinggalkan saja diriku !" ujar Houshou

"Tidak akan !" ujar Taihou

Houshou melihat ke arah Taihou yang meringis kesakitan dan kemudian bermaksud berjalan. Namun, ia langsung berhenti karena merasakan sesuatu yang menakutkan di belakangnya. Mereka berdua melihat ke belakang dan menemukan Battleship Water Oni. Wajah mereka berdua semakin pucat dan kemudian mendengar Battleship Water Oni yang berkata,

"Ingin... Pergi... Ke... Mana... Burung... Yang... Cantik ?"

"Kau..." ujar Taihou dengan wajah pucat

"Ahahahahahahaha... Aku senang sekali dengan wajah itu..." ujar Battleship Water Oni

Ia tertawa terpingkal-pingkal. Taihou menatap tajam ke arah Battleship Water Oni, dan kemudian langsung mengarahkan crossbow miliknya ke arahnya. Namun, dalam sekejap wanita tersebut berdiri di depannya, dan menahannya. Ia langsung bertanya,

"Apa yang ingin kau lakukan, Burung yang manis ?"

"Ugh..."

Battleship Water Oni langsung mengambil senjata milik Taihou, dan membiarkan Houshou terjatuh. Ia kemudian menyentuh pipi dari Taihou dan kemudian berkata,

"Ah... Kau rupanya..."

"Huh ?" ujar Taihou dengan wajah bingung

"Jawaban macam apa itu ? Tunggu... Jangan bilang pria itu sudah berhasil ?" ujar Battleship Water Oni dengan wajah terkejut.

"Apa maksudmu ?" tanya Taihou

"Wajah ini... Rambut ini... Warna mata ini... Semuanya sama..." ujar Battleship Water Oni

Taihou tidak dapat bergerak sama sekali karena rasa takut. Batteship Water Oni kembali memegang wajahnya dan kemudian berkata,

"Pria itu... Pria bangsat itu... Benar-benar... Berhasil, ya ?"

"Apa maksudmu, monster ?!" ujar Taihou berusaha memberanikan diri

"Monster ? Ah... Tentu saja... Diriku adalah monster... Namun, mereka bukanlah monster... Karena mereka... Di pihak manusia..." ujar Battleship Water Oni.

Taihou semakin bingung dengan apa yang dikatakan oleh Battleship Water Oni. Sedikit demi sedikit, ia merasa mengenal Abyssal tersebut. Ia merasa pernah menemuinya, namun dirinya sama sekali tidak ingat. Battleship Water Oni melihat ke arah cincin dari Taihou dan berkata,

"Dia... Berani..."

"Eh ?"

"Dia... Sudah... Berubah... Ehehehehehe..." ujar Battleship Water Oni

"Siapa ?"

"Taihou... Apakah kau tahu... Siapa yang membuat kami... seperti ini ?" tanya Battleship Water Oni

"Huh ?"

"Siapa yang... membuat... kalian seperti ini ?" tanya Battleship Water Oni sekali lagi

"Eh ? Apa..."

"Siapa... yang membuatku... terpisah dengan... suamiku... putriku... dan putraku ?" tanya dirinya sekali lagi

Taihou sama sekali tidak tahu apa yang dimaksud oleh Battleship Water Oni. Yang ia lihat adalah Battleship Water Oni yang semakin tidak stabil, dan kemudian mengarahkan tangannya ke leher Taihou. Ia mulai mencekik Taihou dan berkata,

"Mungkin... Kau akan... mengetahuinya..."

"Ugh... Kau..." ujar Taihou

"Kau akan... mengetahuinya... jika... dirimu... ke sisi... kami..." ujar Battleship Water Oni

"Apa... maksudmu..."

"Sama... seperti... putriku... yang manis..."

Taihou mulai kehabisan nafas, dan kemudian merasakan tangan yang mencekik dirinya sedikit lepas. Ia mendengar suara Houshou yang berkata,

"Aku tidak akan membiarkan dirimu membunuhnya !"

"Ah... Aku lupa... Ada serangga..." ujar Battleship Water Oni sembari melihat ke arah Houshou

Ia mengarahkan meriamnya ke arah Houshou, dan pada saat itulah Houshou tersenyum. Ia berkata dalam hati bahwa ini adalah akhir untuk dirinya. Namun, tidak terjadi apapun. Yang ia dengar adalah pukulan dari seseorang ke Battleship Water Oni. Ia membuka matanya dan melihat Taihou yang memukul wajah Battleship Water Oni.

Setelah pukulan tersebut, Battleship Water Oni semakin tidak stabil. Ia kemudian mengucapkan beberapa kata yang tidak dimengerti oleh Houshou. Namun, Taihou sedikit terkejut dan berkata dengan pelan,

"Bunuh... Balas Dendam..."

"Huh ?" ujar Houshou dengan wajah terkejut.

"Itu yang ia katakan..."

"Dari mana kau mengetahuinya ?"

"Itu..."

Mereka melihat ke arah Battleship Water Oni yang melihat ke arah mereka. Mata biru dari Battleship Water Oni berubah menjadi merah darah. Ia melihat ke arah Taihou dan Houshou dan berkata,

"Aku... bunuh... Kalian... Entahlah... Apa yang... akan dikatakan... olehnya..."

Ia langsung mengarahkan meriam ke arah Taihou dan Houshou. Kedua target dari Battleship Water Oni mulai bergerak, dan bersiap-siap jika terdengar tembakan. Namun, yang mereka dengar adalah erangan dari Battleship Water Oni. Sebuah anak panah menusuk tangannya, dan membuatnya berteriak kesakitan.

Taihou melihat ke arah belakangnya, dan kemudian langsung melihat mereka semua Abyssal mendekati Battleship Water Oni, sekaligus melihat mereka semua pergi mencari pelakunya. Melihat itu, Houshou langsung berkata,

"Taihou... Ini kesempatan..."

"Iya..." ujar Taihou

"Ada apa, Taihou ?" tanya Houshou

"Siapa... wanita itu ?" ujar Taihou

"Huh ?"

"Aku merasa mengenalnya..." ujar Taihou

Houshou yang melihat dan mendengar itu langsung menepuk pipi dari Taihou dan berkata,

"Sebaiknya... Kita kembali saja. Aku yakin, Viltus menunggu kita."

"Iya." ujar Taihou

Mereka berdua mulai menjauh dari area tersebut kembali ke Kapal Komando pada saat Abyssal dan Battleship Water Oni fokus untuk mencari Gadis Kapal yang menyerang mereka.


HakunoKazuki di sini !

Baiklah, untuk pengumuman ini saya akan mengganti nama pena saya ! Dan itu akan menjadi nama pena final ! Jadi, kalian akan melihat nama HakunoKazuki untuk terakhir kalinya di bagian pengumuman ini.

Selain itu, saya akan kembali mengupload karya saya yang saya tarik untuk diperbaiki dari awal.
H : Memangnya banyak perubahan ?
HK : Lebih baik seperti itu...
H : Terserah katamu...

Baiklah, sekian dari saya. Terima kasih banyak. Sampai jumpa di chapter selanjutnya.