Chapter 32

Dark Sky

Part 3 - One Hope


Setelah melakukan beberapa pengarahan dengan seluruh Gadis Kapalnya dan melihat semuanya pergi untuk menjalankan operasi mereka, Viltus langsung duduk di kursinya dan kemudian melihat ke arah layar dan juga peta di meja tengah dari ruang komando. Ia kemudian langsung menghela nafas dan kemudian mendengar suara dari Marcos yang berkata,

"Kau pasti masih memikirkan mengenai sesuatu. Apakah itu benar ?"

"Sepertinya dapat terlihat dengan jelas dari wajahku, benar ?" tanya Viltus sembari tertawa kecil

"Tentu saja kami mengetahuinya, idiot." ujar Magyar sembari membuka satu botol minuman soda favoritnya

"Ahahahahahaha... Kalian ada benarnya." ujar Viltus sembari melihat ke arah layar di depannya.

Layar di depannya menunjukkan beberapa laporan yang dihasilkan dari operasi kecil penunjang dari operasi kedua ini. Ia merasakan sesuatu yang aneh dari beberapa laporan tersebut. Jika ia mengingat mengenai apa yang dilaporkan sebelum seluruh operasi ini berjalan, Abyssal menurunkan delapan armada untuk menjaga daerah tersebut.

Namun, berdasarkan apa yang tertera di laporan dari Akira, Toshiko, dan Frederich beberapa hari yang lalu terdapat sesuatu yang berbeda. Akira menemukan delapan armada, sementara Toshiko menemukan sepuluh armada. Untuk Frederich sendiri menemukan tujuh armada. Laporan dari Toshikolah yang membuat dirinya sangat khawatir.

Jika benar apa yang diberitahukan oleh Toshiko itu benar, maka Abyssal menurunkan armada jauh lebih banyak dari yang dilaporkan sebelumnya. Frederich yang melihat wajah dari Viltus kemudian berkata,

"Sepertinya ini ada hubungannya dengan laporan dari Komandan Natsume."

"Iya. Laporan yang diberikan olehnya menunjukkan bahwa lawan kita terdiri dari sepuluh armada." ujar Viltus

"Tambahan dua armada dari lawan seharusnya bukan masalah besar." ujar Anastasia

"Justru yang kukhawatirkan adalah kemungkinan lawan masih menyembunyikan armada utama mereka." balas Viltus

"Menyembunyikan... Itu merupakan salah satu kemungkinan yang dapat terjadi di medan pertempuran." ujar Marcos

"Aku yakin dirimu pernah merasakan atau mungkin melakukan hal demikian selama masih aktif di Brazil, benar ?" tanya Viltus

Marcos hanya mengangkat bahunya saja, dan kemudian langsung berjalan ke tempat Anastasia untuk membantunya. Frederich sendiri sedang memperhatikan seluruh dokumen yang diberikan oleh Viltus. Untuk Magyar, dirinya terlihat memperhatikan layar yang kosong di depannya. Tidak ada apapun dari layar Anastasia dan Magyar untuk posisi 500 km di sekitar kapal komando mereka.

Viltus kembali menghela nafas mendengar itu semua hingga Frederich bertanya kepada Viltus,

"Pada saat seluruh Gadis Kapal akan pergi, apa anda lakukan kepada mereka ?"

"Mungkin lebih tepatnya mengantar kepergian dari Taihou." ujar Magyar yang langsung mendapat lemparan dokumen dari Viltus

Semuanya tertawa melihat hal tersebut, dan apa yang dilakukan Magyar sedikit mengangkat suasana berat di kapal komando tersebut. Setelah tertawa sebentar, Viltus melihat ke arah Frederich dan berkata,

"Hanya memberitahukan mengenai tujuan utama dari operasi ini..."

"Dengan diakhiri ciuman ke bibir Taihou." ujar Anastasia, yang juga mendapatkan lemparan dari Viltus

"Dapatkah kalian berdua berhenti melakukan hal tersebut ?" protes Viltus

"Bukankah itu kebiasaan dirimu selama ini ?" tanya Magyar

"Tepat sekali. Aku sangat iri dengan hal tersebut, mengerti." ujar Anastasia

"Makanya jangan bertengkar terus dengan dirinya." ujar Viltus kepada Anastasia

Viltus, Magyar dan Anastasia berbicara sebentar mengenai beberapa hal, dan hal tersebut membuat Frederich terdiam. Pertanyaannya seakan-akan menghilang dari pembicaraan mereka, namun hal tersebut membuat suasana di tempat tersebut lebih hidup.

Marcos yang melihat hal tersebut langsung menepuk pundak dari Frederich dan berkata,

"Kau sepertinya masih belum terbiasa dengan mereka bertiga, benar ?"

"Dapat dikatakan seperti itu." jawab Frederich

"Sudahlah. Jangan terlalu kaku seperti itu, namun jangan memaksakan diri juga. Aku yakin, lambat laun kau akan cukup dekat dengan mereka bertiga." ujar Marcos

"Aku dapat melihat hal tersebut." ujar Frederich sembari tertawa kecil

"Jadi, kau masih bertanya-tanya apa yang diberikan oleh Viltus kepada mereka semua ?" tanya Marcos

"Mungkin apa yang dikatakan oleh Magyar dan Anastasia ada benarnya, dan apa yang dikatakan oleh Viltus pun juga ada benarnya. Jadi, jawabannya adalah aku sudah mendapatkan jawabannya." jawab Frederich

"Ahahahahahahaha... Aku cukup senang dirimu dapat membaca pesan dari mereka bertiga dengan mudah." ujar Marcos

Frederich pun ikut tertawa. Namun, tawa mereka semua di dalam kapal komando terhenti karena mendengar bunyi panggilan dari seseorang. Viltus langsung berdiri, dan semua orang di dalam komando langsung dalam posisi siap semua. Walaupun Frederich sudah beberapa kali bersama dengan mereka semua, dirinya masih belum terbiasa dengan perubahan mendadak dari mereka semua.

Viltus mendengar suara seorang wanita dari seberang komunikasi, dan mendengar

"Kapten Amarov, kami sama sekali belum menemukan posisi lawan. Itu laporan dari Aoba kepada saya."

"Itu bukan masalah, Komandan Natsume. Kami pun belum mendapat laporan dari Taihou." balas Viltus

"Ummm..."

"Ada apa, Komandan Natsume ?" tanya Viltus

"Apakah kau yakin semuanya akan baik-baik saja ? Aku khawatir terhadap Aoba, Uzuki dan Yayoi di depan sana." ujar Toshiko

"Aku sama sekali tidak dapat menjawab hal tersebut." jawab Viltus

"..."

"Tidak hanya dirimu yang khawatir. Semuanya pun khawatir. Operasi ini sangat besar, dan ada kemungkinan akan memakan korban." ujar Viltus

"Aku tahu..."

"Namun, yang dapat kita lakukan adalah percaya pada mereka semua. Aku yakin mereka dapat menemukan posisi lawan kita dan juga kembali dengan selamat." ujar Viltus

Toshiko yang mendengar itu langsung tertawa dan kemudian berkata,

"Saya rasa saya harus percaya dengan dirimu deh."

"Huh ? Jawaban macam apa itu ?" tanya Viltus dengan wajah sedikit kurang yakin

"Saya akan melaporkan kepada anda jika saya menemukan sesuatu yang baru." ujar Toshiko

Setelah itu komunikasi terhenti. Viltus kemudian memperhatikan beberapa dokumen dan kemudian langsung terdiam sebentar. Tidak berapa lama, ia mulai menguap dan membuat semuanya sedikit kaget. Frederichlah yang pertama berbicara,

"Kapten... Dirimu..."

"Sepertinya rasa lelah selama beberapa hari ini benar-benar sudah merasuki tubuhku." ujar Viltus yang menyela Frederich

"Viltus, bagaimana jika dirimu beristirahat saja sekarang ?" tanya Anastasia

"Tidak bisa." jawab Viltus

"Seperti dugaanku." ujar Magyar yang langsung berdiri dari kursinya

"..."

"Kapten, sebaiknya dirimu istirahat saja dahulu." ujar Frederich

"Aku..."

"Percaya saja pada kami. Kau sudah cukup lama bersama kami, setidaknya percaya saja pada kami." ujar Marcos menepuk pundak dari Viltus

"Jika kalian berkata demikian." ujar Viltus

Viltus kemudian berdiri, merenggangkan diri, dan berjalan ke arah pintu. Tepat sebelum keluar, ia melihat ke semuanya dan berkata,

"Diriku akan tidur selama 30 menit. Jika diriku belum datang dalam 30 menit, hubungi diriku. Jika terdapat pengumuman penting, hubungi diriku."

"Baik !" ujar semuanya

Viltus langsung keluar dan berjalan menuju ke kamarnya. Ia terus berjalan dan melihat sebuah bayangan hitam yang berdiri di depannya. Ia langsung berkata dengan pelan,

"Inikah yang kau rasakan pada saat itu... Kimura."

Viltus diam sebentar dan kemudian masuk ke dalam kamarnya. Ia kemudian melihat ke arah cincin miliknya dan berkata,

"Pada saat itu, diriku sama sekali tidak mengalami sesuatu bernama cinta. Namun, sekarang berbeda karena diriku sudah memiliki seseorang yang sangat penting. Sama seperti dirimu."

Ia mencium cincin di jarinya dan kemudian berkata,

"Kumohon... Kembalilah kemari... Dengan selamat..."

Ia kemudian berjalan ke arah kasurnya, merebahkan diri, dan tidur sebentar.


Tiga puluh menit berlalu dan Viltus sudah berjalan kembali ke ruangan komando. Ia memperhatikan seluruh krunya sedang berbincang-bincang ringan mengenai beberapa hal, terutama mengenai Frederich yang baru saja datang dari luar ruang komando dan tersenyum. Ia kemudian masuk dan berkata,

"Baik... Istirahat sudah selesai."

"Ah... Kau sudah lebih segar sekarang." ujar Anastasia

"Tidur tiga puluh menit sudah lebih dari cukup bagiku." ujar Viltus sembari berjalan ke arah kursinya

Setelah ia duduk, ia langsung melihat ke semuanya dan kemudian bertanya,

"Apa saja yang kulewatkan selama diriku tertidur tadi ?"

"Tidak ada yang istimewa. Hanya laporan mengenai langit yang masih biru dengan lautan luas yang kosong." canda Magyar

"Heh ? Cuaca seperti itu sepertinya cukup baik untuk piknik." ujar Viltus sembari tertawa

Semuanya tertawa mendengar jawaban dari Viltus. Setelah itu, Frederich berkata,

"Setidaknya tadi Komandan Aoki menghubungi kita."

"Huh ? Akira ? Ada apa gerangan..." ujar Viltus sedikit berpikir

"Ia menanyakan mengenai kondisi di kapal komando ini karena bukan dirimu yang menjawab panggilannya." ujar Marcos

"Ah... Kau ada benarnya. Selain itu, apa yang ia laporkan kepada kalian ?" tanya Viltus

"Unryuu pun tidak menemukan apapun. Sebenarnya informasi tersebut sudah diberikan kepada Taihou, namun supaya dirimu mendapatkan informasi yang lebih lengkap saja." ujar Anastasia sembari merenggangkan badannya.

Pada saat Anastasia melakukan hal tersebut, semua pria di sana memperhatikan Anastasia sebentar sebelum Viltus berkata,

"Tidak ada laporan sedikit pun mengenai kehadiran lawan di daerah tersebut."

"Sungguh aneh." ujar Frederich

"Laporan kemarin dan hari ini sangat berbeda. Terlalu berbeda." ujar Magyar sembari mengambil satu dokumen

"Hubungi Laksamana Muda Yoshida sekarang juga." ujar Viltus mendadak

Semuanya sangat terkejut pada saat mendengar hal tersebut. Namun, tidak satu pun dari mereka yang menentang apa yang diminta oleh Viltus. Itu semua karena rasa khawatir mulai mereka rasakan setelah beberapa jam tanpa ada kejelasan mengenai kehadiran lawan mereka. Satoshi langsung menjawabnya,

"Kapten Amarov, ada apa gerangan dirimu menghubungi diriku ?"

"Laksamana Muda Yoshida, apakah operasi ini memang diperlukan ?" tanya Viltus

"Mengapa dirimu bertanya sekarang ?" tanya Satoshi

"Itu semua sangat mudah. Kami semua sudah berada di tempat ini selama lima jam, namun kami sama sekali tidak menemukan lawan sama sekali." ujar Viltus

"Itu menjelaskan mengapa dirimu masih tidak melakukan satu pun gerakan sampai sekarang." ujar Satoshi

"Sebenarnya saya ingin menarik mereka semua untuk mundur sekarang. Namun, jika demikian tentu saja atasan akan marah besar kepada saya. Maka dari itu, saya akan bertanya kepada anda selaku pemimpin utama dari seluruh operasi ini, apakah kami dapat mundur sekarang ?" tanya Viltus

"Saya sebenarnya ingin menerima usulanmu untuk mundur. Namun, Grand Admiral sudah memberitahu diriku untuk melanjutkan operasi tersebut hingga akhirnya tercapai seluruh targetnya." ujar Satoshi

"Begitu ya..."

"Selain itu, Grand Admiral pun mengirimkan kepada dirimu bantuan. Mereka terdiri dari Houshou, Akatsuki, Hibiki, Inazuma, dan Ikazuchi." ujar Satoshi

"Tambahan armada ? Ada sisi bagusnya sih. Namun, jika Grand Admiral sudah berkata demikian, saya tidak memiliki hak untuk menolaknya." ujar Viltus

"Terima kasih banyak, Kapten Amarov. Dan maafkan saya tidak dapat menerima usulanmu sekarang." ujar Satoshi

"Itu bukan masalah. Saat ini situasi memang sangat berat sehingga dapat dimaklumkan." ujar Viltus

Satoshi sedikit tertawa dan berkata bahwa dirinya masih memiliki pekerjaan lain sehingga menutup komunikasi dengan Viltus. Viltus menghela nafas dan kemudian melihat ke anggota krunya dan berkata,

"Lanjutkan pekerjaan kalian... Kita tidak dapat mundur sekarang."

"Baik." jawab semuanya

"Daripada itu, hubungi Taihou sekarang juga." ujar Viltus

"Eh ? Baik." ujar Frederich sembari berusaha untuk menghubungi Taihou

Tidak berapa lama, terdengar suara yang memberitahukan bahwa sudah terhubung. Viltus langsung bertanya,

"Taihou, bagaimana kondisi di luar sana ?"

"Kami tidak menemukan mereka sama sekali." jawab Taihou

"Kami pun tidak menemukan apapun dari radar kami." ujar Viltus sembari menghela nafas.

"Jangan terlalu memaksakan diri. Lagipula, dirimu yang akan menjadi pusat dari setiap perintah di operasi ini." ujar Taihou sedikit tertawa

"Begitu pula dengan dirimu" ujar Viltus

"Daripada itu, Vil... Laksamana Amarov..." ujar Taihou

"Aku tahu... Aku hanya ingin memberitahukan bahwa ada perintah tambahan dari Laksamana Muda Yoshida." ujar Viltus

"Eh ? Apakah itu ?" tanya Taihou

"Beliau berkata bahwa ada sedikit perintah dari Grand Admiral Ichijo. Dan dirinya akan mengirimkan Houshou ke tempat operasimu." ujar Viltus

"Eh ?! Houshou-san ?" tanya Taihou dengan nada sangat terkejut

"Iya. Aku sama sekali tidak tahu apa alasannya. Namun jika dirimu mampu, lindungi Houshou juga." ujar Viltus

"Tentu saja. Karena ia merupakan figur seorang ibu untuk kita semua." balas Taihou

Viltus langsung tersenyum dan kemudian berkata,

"Yang penting kau kembali dengan selamat. Itu saja."

"Tenang saja. Semuanya akan baik-baik saja." ujar Taihou

Setelah itu, Viltus menutup komunikasi dengan Taihou dan melihat ke semuanya. Semua anggota krunya mengangguk dan kembali bekerja di posisi masing-masing.


Viltus terlihat diam di tempat dan kemudian melihat ke seluruh krunya kembali. Tepat pada saat itulah, dirinya menyadari kembali. Semuanya terdiam di tempat. Ia langsung menghela nafas dan berkata,

"Ada apa gerangan dirimu datang kemari, Hakai ?"

"Hoooh... Dirimu sudah mengerti kapan diriku datang ya ? Luar biasa." ujar Hakai

"Tentu saja diriku dapat mengerti kapan seseorang yang menyebalkan seperti dirimu akan muncul jika kau terus melakukan hal yang sama." ujar Viltus

Hakai sendiri mendadak muncul di belakang Viltus dan kemudian memperhatikan seluruh ruang komando tersebut. Ia langsung tersenyum. Viltus yang melihat Hakai terlihat sedikit kesal dan berkata,

"Mengapa dirimu datang kemari ?"

"Huh ? Hanya mengunjungi teman saja." ujar Hakai dengan entengnya

Viltus menatap tajam ke arah Hakai yang sama sekali tidak digubris olehnya. Hakai berjalan ke arah Anastasia, mengelus rambutnya dan kemudian berkata,

"Sepertinya semuanya sangat mencurigakan, benar ?"

"Jika kau yang berkata demikian, berarti ini merupakan sesuatu yang sangat berbahaya." ujar Viltus

"Mengapa dirimu mengasosiasikan diriku dengan sesuatu yang berbahaya ?" tanya Hakai

"Intuisi." ujar Viltus

Hakai melihat ke arah Viltus dengan wajah yang cukup senang dan kemudian duduk di atas meja yang ada di depan Viltus. Hakai langsung berkata,

"Namun, apa yang kau katakan itu sama sekali tidak memiliki dasar."

"Apa maksudmu tidak memiliki dasar ?" tanya Viltus

"Entahlah..." ujar Hakai sembari mengangkat bahunya

Viltus langsung terdiam mendengar itu. Ia bermaksud menanyakan sesuatu, namun Hakai berkata,

"Namun, setidaknya diriku tahu... Manusia itu sama saja satu sama lain."

"Huh ? Apa maksudmu ?" tanya Viltus

"Ya... Itu bukan sesuatu yang dapat dibahas di sini. Tema dari kisah ini tidak ada hubungannya dengan hal tersebut." jawab Hakai

"..."

"Eh ? Sepertinya dirimu penasaran, ya ? Aku yakin dirimu penasaran... Ahahahahaha" ujar Hakai

"Tidak... Yang kau lakukan sekarang hanya membuang waktuku saja." ujar Viltus

"Begitukah ? Yang kulakukan sekarang ini hanyalah membantumu mengisi waktu kosongmu." ujar Hakai

Viltus sama sekali tidak mengerti apa tujuan dari Hakai muncul di hadapannya kembali. Hakai kemudian berdiri dan berkata,

"Manusia akan kehilangan akal sehatnya pada saat sesuatu yang sangat dicintainya akan dilukai. Baik itu sesuatu yang nyata seperti sesama manusia atau sesuatu yang spiritual."

"..."

"Dan pada saat itulah, mereka lupa padahal di hadapannya adalah sesama manusia normal. Hanya karena sesuatu yang konyol oleh manusia lain." ujar Hakai

"Apakah kau menyindir apa yang terjadi di dunia ini ? Atas apa yang dilakukan oleh keluargaku ?" tanya Viltus

"Mungkin..." ujar Hakai

"Eh ? Tunggu... Kau berkata yang sangat dicintai." ujar Viltus

Hakai melihat ke arah Viltus dan pada saat bersamaan Viltus langsung berdiri dan menarik kerah dari Hakai. Ia langsung berkata,

"Kau jangan berani-beraninya menyentuh Taihou !"

"Aku tidak akan menyentuhnya." ujar Hakai

"Bagaimana diriku dapat percaya dengan hal tersebut ?!"

"Mudah. Diriku tidak dapat seutuhnya muncul di dunia ini. Diriku hanyalah seorang pemain tambahan saja. Jadi, itu sangat mustahil."

"Apa yang akan terjadi pada dirinya ?!"

Hakai semakin tersenyum pada saat melihat ke arah Viltus dan kemudian berkata,

"Entahlah... Namun, itu semua tergantung dari keputusanmu."

"Tch..."

"Walaupun demikian, diriku penasaran... Apakah yang akan terjadi selanjutnya."

Mendadak dunia di sekitar Viltus dan Hakai bergetar dengan hebat. Hakai tersenyum dan kemudian berkata,

"Ya... Sampai di sini saja perbincangan kita. Mereka memanggil dirimu."

"Jika dirimu berani melakukan sesuatu pada Taihou..." ujar Viltus yang langsung disela oleh Hakai

"Semua tergantung dari keputusanmu... Kazuki." ujar Hakai sebelum menghilang.

Dan setelah Hakai menghilang, Viltus mengedipkan matanya dan melihat Magyar dengan Anastasia yang terlihat khawatir. Anastasia langsung berkata,

"Viltus... Kau..."

"Tenang saja... Sepertinya diriku tertidur di sini." ujar Viltus sembari menyela Anastasia

"Walaupun demikian, kau mendapatkan mimpi buruk." ujar Magyar

"Sepertinya terlihat dari wajahku, ya ?" ujar Viltus yang langsung memegang kepalanya

Ia kemudian meyakinkan kedua koleganya bahwa dirinya baik-baik saja. Namun, di kepalanya masih terngiang-ngiang dari apa yang dikatakan oleh Hakai sebelumnya.

"Semuanya tergantung dari keputusanmu... Kazuki."

Viltus menghela nafas dan kemudian duduk di kursinya dengan tegap. Dan pada saat bersamaan, ia kembali melihat seorang pria yang berdiri di tengah ruang komando. Viltus langsung berkata dengan pelan,

"Dan sekarang... Dirimu yang akan memperhatikan apa yang akan kulakukan... Kimura."


Masih belum ada laporan dari Taihou mengenai apakah dirinya sudah bertemu dengan Houshou atau belum. Dan itu membuatnya sedikit khawatir. Semuanya pun juga merasa khawatir karena Houshou hanya dikawal oleh beberapa Gadis Kapal dari kelas Perusak. Anastasia dan Marcos berdiri di belakang Magyar yang sibuk memperhatikan radar miliknya.

Frederich lebih memilih untuk memperhatikan peta di hadapan mereka. Yang ia lihat adalah peta kosong yang tidak terdapat satu pun pion yang melambangkan Abyssal. Mereka semua bersembunyi di lautan yang sangat luas tersebut. Frederich langsung berkata,

"Bagaimana mungkin di lautan yang luas ini kita sama sekali tidak menemukan mereka ?"

"Itu yang menjadi pertanyaanku selama ini." jawab Viltus

"Apakah mereka semua dapat menyelam ?" tanya Frederich

"Huh ?" ujar Marcos dengan wajah sedikit bingung pada saat mendengar pertanyaan dari Frederich

"Ah... Maaf, namun itu dikarenakan di Jerman kami menghadapi Gadis Kapal yang dapat menyelam dan muncul secara mendadak." ujar Frederich

"Bukankah itu yang disebut dengan kelas Kapal Selam, ya ?" ujar Marcos

"Tidak... Yang muncul adalah kelas Ri pada saat itu." ujar Frederich

Mendengar itu, Viltus diam sebentar dan kemudian memperhatikan sonar dari Anastasia yang ditinggalkan. Ia tidak terlalu yakin dengan apa yang dikatakan oleh Frederich, namun hal tersebut merupakan salah satu yang dapat dipertimbangkan. Tidak berapa lama, ia mendapat panggilan dari Aoba. Ia sedikit terkejut pada saat mendapat panggilan tersebut dan pada saat bersamaan dirinya sangat khawatir. Ia langsung berkata,

"Aoba, ada apa ?"

"Ah... Laksamana Amarov... Ini..." ujar Aoba yang sedikit tidak yakin

"Apa yang terjadi di sana ? Apakah kalian diserang ?" tanya Viltus

"Bukan demikian..." ujar Aoba

"Lalu... Apakah terjadi sesuatu dengan Taihou ?" tanya Viltus

Viltus dapat mendengar dengan jelas Aoba yang terkejut pada saat Viltus menebaknya. Viltus langsung berkata,

"Apa yang terjadi, Aoba ?"

"Taihou... Dia sama sekali tidak menjawab kami sama sekali." ujar Aoba

"Eh ? Kalian terpisah ?" tanya Viltus

"Tidak... Dia di depan Aoba... Namun, dirinya terdiam dan matanya kosong." ujar Aoba

"..."

"Sebenarnya... Apa yang terjadi pada dirimu dan Taihou, sih ? Kalian cukup sering seperti ini." tanya Aoba

"Itu bukan masalahmu saat ini... Aku akan menghubungi Taihou secara langsung." jawab Viltus

"Jangan melakukan tindakan idiot !" ujar Aoba

"Huh ? Apa maksudmu ?" tanya Viltus

"Entahlah... Sebuah firasat. Itu saja." ujar Aoba

"Aku tahu... Aku akan menghubungi Taihou sekarang." ujar Viltus

Aoba langsung menghela nafas dan kemudian menutup komunikasinya saat ini. Viltus kemudian menghubungi Taihou, namun tidak ada jawaban sama sekali. Semuanya melihat ke arah Viltus yang sedikit khawatir hingga akhirnya ia berkata,

"Taihou ! Jawab sekarang... Taihou !"

"Ada apa, Viltus ?" tanya Taihou

Viltus sangat lega pada saat Taihou menjawabnya, begitu pula dengan seluruh krunya. Ia kemudian berkata,

"Aku mendengar kabar dari Aoba bahwa dirimu membatu di sana. Sama sekali tidak menjawab apapun."

"..."

"Huh ? Taihou, ada apa ?" tanya Viltus dengan nada khawatir

"Kau... Tidak akan melakukan tindakan idiot, kan ?" tanya Taihou

"Huh ? Pertanyaan macam apa itu ?" tanya Viltus sekali lagi

"Aku khawatir..."jawab Taihou

"Tentu saja tidak akan..." ujar Viltus yang akhirnya sadar apa yang dipikirkan oleh Taihou

Ia langsung menghela nafas dan melihat ke arah langit-langit ruang komandonya. Ia kemudian bertanya,

"Apa yang kau lihat ?"

"Dia." jawab Taihou

"..."

"Dia muncul di depanku." lanjut Taihou

"Dia ? Siapa yang dimaksud oleh Taihou ?" tanya Anastasia

"Sepertinya seseorang yang kalian berdua kenal. Siapakah itu ?" tanya Magyar

"Itu bukan masalah kalian saat ini..." ujar Viltus sembari berpikir.

Viltus diam sebentar, hingga akhirnya ia berkata,

"Baiklah..."

"Eh ? Baiklah apa Viltus ?" tanya Taihou

"Kalian kembali sekarang. Situasi di depan sana cukup berbahaya..."

"Kapten... Terjadi gangguan di komunikasi kita." ujar Frederich

"Eh ?! Taihou ! Kau mendengarku ? Hei !" ujar Viltus

Yang didengar oleh Viltus berikutnya adalah suara statis saja. Viltus langsung terdiam dan pada saat bersamaan ia melihat bayangan hitam di tengah ruangan tersebut menatap tajam ke arah dirinya. Ia langsung bergumam,

"Apakah ini... Yang kau rasakan..."


Seluruh anggota kru dari Viltus berusaha untuk menghubungi Viltus dan armada lain, namun tidak satu pun yang menjawab mereka. Viltus sendiri sudah terlihat sangat resah pada saat komunikasi sudah terputus. Saat ini, sudah beberapa puluh menit berlalu semenjak hal tersebut terjadi.

Tidak berapa lama, terdengar laporan beberapa Gadis Kapal yang meminta ijin untuk kembali. Viltus langsung mengijinkannya dan memerintahkan mereka untuk langsung ke ruang komando. Ia pun meminta kepada Frederich untuk memberitahu Akira dan Toshiko bahwa seluruh armada mereka ada di kapal komando miliknya.

Setelah mereka semua kembali, mereka langsung melapor kepada Viltus. Namun, dirinya tidak melihat Taihou dan Houshou di sana. Viltus langsung bertanya,

"Aoba, jika boleh tahu di mana Taihou ?"

"Mengenai itu..." ujar Aoba

"Apakah dia sedang menahan lawan di depan sana ?" tanya Viltus

Sebuah pertanyaan yang sangat tepat sasaran dan itu merupakan pertanyaan yang paling ingin dihindari oleh Aoba. Namun, dikarenakan hal tersebut Aoba langsung berkata,

"Jika Aoba menjawabnya, apakah dirimu dapat tenang ?"

"Itu..." ujar Viltus

"Maka dari itu..." ujar Aoba yang langsung disela

"Sebaiknya dirimu menjawab pertanyaan itu, Aoba. Kapten menanyakannya kepada dirimu." ujar Frederich

"Frederich, ini bukan urusanmu. Aoba sedang berusaha untuk mencegah..." ujar Aoba

"Jadi, benar Taihou sendirian di depan sana." ujar Viltus

"..."

"Benar ?" tanya Viltus sekali lagi

"Iya..."

Viltus yang mendengar itu dari Aoba langsung terdiam sebentar. Ia terlihat berpikir dan pada saat bersamaan ia melihat satu bayangan yang berdiri di belakang Aoba. Ia sedikit terkejut dan kemudian langsung menutup matanya. Ia kemudian berkata,

"Jadi... Ini yang kau rasakan pada saat itu... Kimura."

Mendengar nama Kimura disebut oleh Viltus, Aoba sangat terkejut dan kemudian melihat ke arah Viltus. Rasa khawatir di kepala Aoba benar-benar menjadi kenyataan pada saat melihat Viltus di depannya. Ia langsung berjalan melewati Uzuki, Yayoi, dan Shoukaku, lalu berkata dengan keras,

"Kau tidak akan Aoba ijinkan untuk pergi ke sana, mengerti !"

"Apa maksudmu, Aoba ?" tanya Viltus yang masih menutup matanya

"Walaupun diriku tidak melihat wajah Kimura secara langsung pada saat itu, aku dapat merasakan seperti apa wajah yang ditunjukkan olehnya tepat sebelum pergi menemui kami !" ujar Aoba

"Kau memang pantas menjadi pasangan dari Kimura. Kau mengerti semuanya mengenai dirinya dan juga semua teman-temannya." ujar Viltus yang akhirnya membuka mata

Semuanya sangat terkejut melihat warna mata dari Viltus. Bukan biru laut yang biasa ia tunjukkan pada saat senang dan tenang, juga bukan merah darah yang ia tunjukkan pada saat marah besar terakhir kali. Yang mereka lihat adalah kuning emas. Aoba langsung berkata,

"Viltus..."

"Aku tidak akan pergi ke depan..." ujar Viltus

"Ah... Baguslah..." ujar Aoba dengan nada lega

"Aku tidak akan pergi ke lini depan dengan membawa korban teman-teman baikku, mengerti." ujar Viltus

"Tentu saja..." ujar Aoba

"Berarti dirimu akan pergi sendirian ke lini depan ?" tanya Unryuu mendadak

"Eh ? Apa maksudmu, Unryuu ?!" tanya Aoba

"Tunggu sebentar... Laksamana... Jangan bilang kau akan menggunakan kapal kecil itu ?!" ujar Shoukaku

Viltus sama sekali tidak menjawab pertanyaan dari Shoukaku. Seluruh anggota kru dari Viltus terlihat tidak berbicara sedikit pun. Mereka terlihat sangat tenang dan juga berpikir keras. Viltus langsung berkata,

"Entahlah..." ujar Viltus

"Bohong ! Kau akan pergi ke lini depan dengan menggunakan kapal itu ?! Tidak ! Kau tidak akan Aoba biarkan keluar dari kapal komando ini !" teriak Aoba

"..."

"Sudah cukup Aoba saja yang merasakan ini. Sudah cukup Aoba yang merasakan seseorang yang sangat Aoba cintai di medan perang. Aoba tidak ingin melihat ada orang lain yang bersedih seperti Aoba !" lanjut Aoba

"..."

"Apa yang akan dikatakan oleh Taihou jika ia mengetahui bahwa itu adalah dirimu yang mengorbankan dirinya agar dirinya kembali ? Apa yang akan dirasakan oleh Taihou pada saat itu ?" tanya Aoba kepada Viltus

Viltus hanya tersenyum saja pada saat mendengar pertanyaan itu. Aoba langsung berjalan ke arah Viltus dan menarik kerahnya dan berkata,

"Jangan seenaknya saja membuat keputusan yang akan mengorbankan nyawa orang dengan sia-sia. Apa yang ingin kau raih dengan melakukan ini ?!"

"Hanya Taihou yang kembali kemari. Mudah." ujar Viltus

"Dengan bayaran nyawamu ?" tanya Aoba

"Tidak juga." jawab Viltus

"Bohong."

"Sejak kapan diriku berbohong kepada kalian semua ?" tanya Viltus

Aoba terdiam sebentar pada saat mendengar itu. Armada milik Viltus biasanya dapat membantu Aoba, namun entah mengapa Agano terlihat diam pada saat ini. Selain itu, Ryuujou pun mulai panik dan menarik lengan baju Magyar yang masih terdiam.

Mendadak di dalam ruangan tersebut dapat mendengar isak tangis dari Aoba. Aoba langsung berkata,

"Mengapa... Mengapa ini harus terjadi kembali ? Mengapa ?"

"Tidak ada yang terulang... Aku akan kembali..." ujar Viltus

"Bohong !"

"..."

"Kimura pun berjanji seperti itu. Dan ia sama sekali tidak kembali. Apa yang kembali hanyalah rasa sedih yang dirasakan oleh seluruh Yokosuka." ujar Aoba

"..."

"Jika dirimu meninggal di sana... Apa yang akan Taihou katakan... Apa yang akan Taihou rasakan... Apa yang akan Taihou tunjukkan kepada diriku ? Semuanya akan sangat menyakitkan... Sangat menyakitkan..." ujar Aoba

Anastasia terlihat sudah tidak tenang dan memilih untuk berjalan keluar dari ruangan tersebut, sementara Aoba masih berbicara mengenai bagaimana perasaannya pada saat ia kehilangan Kimura dahulu. Viltus sendiri hanya terdiam pada saat mendengar itu dan kemudian langsung mengelus kepala Aoba. Viltus langsung berkata,

"Hanya ini... Yang dapat kulakukan."

"Kau dapat percaya pada Taihou untuk kembali !" ujar Aoba

"Namun, orang itu berkata lain." ujar Viltus

"Huh ? Orang itu ?" tanya Aoba dengan wajah yang sangat terkejut

Aoba diam sebentar dan kemudian melihat ke arah Viltus. Ia langsung bertanya,

"Siapa yang kau maksud dengan orang itu ?"

"Itu bukan urusanmu untuk saat ini. Karena bahkan diriku pun tidak dapat mengetahuinya dengan pasti." ujar Viltus

Aoba terlihat semakin tidak yakin untuk melepas Viltus yang akan pergi sebentar lagi. Viltus langsung berdiri dari kursinya dan Aoba benar-benar menahannya. Dan pada saat bersamaan, Shoukaku sudah cukup kesal dan berkata,

"Mengapa dirimu masih mengejar dirinya ?"

"Shoukaku... Apa maksud dari pertanyaanmu ?" tanya Viltus

"Mengapa kau masih mengejar dirinya yang sudah mati ?!" tanya Shoukaku

"Dia belum mati. Aku percaya itu." ujar Viltus

"Mengapa harus dirinya yang mendapatkan ini ? Mengapa kau harus mengorbankan nyawamu untuk wanita sialan seperti itu ?" tanya Shoukaku dengan nada kesal

"Cara bicaramu tidak seperti biasanya, Shoukaku." ujar Viltus

"Itu..."

"Jawabanku sangat mudah. Seorang pria yang sudah jatuh cinta kepada seorang wanita... Pasti akan kehilangan akal sehatnya... Hanya demi wanita tersebut." ujar Viltus

Viltus langsung berjalan melewati Aoba yang terdiam pada saat Viltus berkata demikian. Ia langsung menaruh topinya dan pada saat bersamaan Marcos berkata,

"Kau dapat menggunakan kapal tersebut dari lambung sebelah kiri. Semuanya sedang dipersiapkan untuk dipergunakan sekarang. Lebih kurang lima menit dari sekarang kau dapat menggunakannya."

"Eh ? Marcos-san ?! Apa yang kau lakukan ?!" tanya Agano

"Viltus, kau harus kembali kemari mengerti. Jika kapal ini kehilangan kaptennya sekarang, semua kilau yang ditunjukkan oleh kapal ini akan pudar pada saat itu juga." ujar Marcos

"Aku akan kembali. Tenang saja." ujar Viltus sembari mengenakan sarung tangannya.

"Marcos-san... Apa yang akan dikatakan oleh Shigure jika dia tahu kau..." tanya Agano yang langsung disela

"Aku yang akan menanggungnya. Lagipula, dia sudah tidak dapat diubah." ujar Marcos tanpa melihat ke arah Agano yang menatap tajam ke arah dirinya.

Viltus terus berjalan dan kali ini dihalangi oleh Akizuki. Akizuki berkata,

"Laksamana, aku percaya Taihou akan kembali. Maka dari itu..."

"Akizuki, aku akan kembali." ujar Viltus yang terus mengulang hal tersebut

Teruzuki dan Hatsuzuki mendadak berdiri di belakang Akizuki dan membantunya menahan Viltus. Tepat sebelum Viltus berjalan, Magyar berkata,

"Kau masih memegang alat komunikasi itu, benar ?"

"Alat komunikasi apa ? Yang dapat menunjukkan lokasi lawan ?" tanya Viltus

"Iya." jawab Magyar singkat

"Tentu saja."

"Baiklah. Aku akan mengirimkan kepada dirimu sinyal terakhir dari lokasi Taihou yang didapat oleh kapal ini. Jika diperhitungkan, Taihou dan Houshou tidak akan bergerak terlalu jauh dari lokasi. Kasarnya adalah 100 km dari posisi terakhir." ujar Magyar

"Magyar ! Apa-apaan kau ?! Mengapa kau memberitahu dirinya ?!" teriak Ryuujou

Magyar langsung membuat tanda untuk diam kepada Ryuujou dan kemudian berkata kepada Viltus,

"Jangan lupa janjimu dahulu. Kau belum membuatkan makanan dari negara kami sampai sekarang."

"Makanya, ingatkan diriku..." ujar Viltus sembari terus berjalan

Magyar tersenyum dan kemudian kembali melihat ke layarnya. Ia sama sekali tidak memperdulikan Ryuujou yang terus menarik lengan bajunya. Frederich yang diam saja akhirnya berkata,

"Kapten Amarov..."

"Ada apa, Frederich ?" tanya Viltus

"Aku akan memimpin kapal ini hingga dirimu kembali. Apakah kau memiliki perintah khusus kepada diriku ?" tanya Frederich

"Jangan biarkan Gadis Kapal turun dari kapal ini. Biarkan mereka beristirahat. Marcos, bantu Frederich untuk masalah ini." ujar Viltus

"Siap !" ujar Marcos dan Frederich secara bersama-sama.

"Jika demikian akan lebih mudah..." ujar Viltus

"Saya akan membuat situasi di mana seakan-akan anda sedang beristirahat atau tidak dapat dihubungi karena masalah Taihou." ujar Frederich

"Terima kasih banyak, Frederich." ujar Viltus

Viltus mendapat panggilan dari Akira dan Toshiko, namun dirinya tidak mengangkatnya karena ia tahu mereka berdua akan menahan dirinya. Pada saat dirinya sudah di depan pintu dari ruang komando, Anastasia sudah berdiri di depannya dan di tangannya terdapat anak panah dan busur panah. Anastasia langsung memberikan itu kepada Viltus dan berkata,

"Diriku sama sekali tidak ingin melihat dirimu yang bersedih karena kehilangan gadis yang kau cintai..."

"Anastasia..." ujar Viltus

"Jika hanya satu dari kalian saja yang kembali, diriku tidak akan memaafkan kalian berdua." ujar Anastasia

"Aku tahu..."

"Kembalilah kemari. Agar semuanya dalam keadaan lengkap." ujar Anastasia

Viltus tersenyum dan mengangguk. Ia kemudian melihat ke belakangnya dan melihat Aoba yang mulai menangis kembali karena ia gagal menahan Viltus. Yang akan dilihat oleh Aoba adalah kejadian yang sama seperti yang dialaminya, namun kali ini yang akan sangat sedih adalah Taihou. Viltus langsung berkata,

"Aku sudah mengatakan ini berkali-kali... Namun, diriku akan kembali. Karena, sejak kapan diriku tidak menepati janjiku ?"

Viltus kemudian berjalan melewati Anastasia dan menuju ke arah kapal kecil di kapal komandonya.


Viltus sudah bersiap di kapal kecilnya dan memperhatikan sistem dari kapal tersebut. Tidak berapa lama, ia mendapat panggilan dari seseorang. Viltus langsung mengangkatnya dan berkata,

"Kau sudah mendengarnya dari Aoba kan, Haruto ?"

"Haaaah... Seperti dugaanku kau akan melakukan tindakan idiot yang sama seperti Kimura." ujar Haruto

"Hahahahahaha... Diriku pun tidak menyangka diriku akan melakukan hal ini." ujar Viltus

"Jadi... Apakah yang akan kau lakukan ?" tanya Haruto

"Huh ? Kukira dirimu akan menahan diriku." ujar Viltus

"Tidak ada gunanya. Dirimu pasti akan meluncur ke tempat kekasihmu itu." ujar Haruto

Viltus langsung tertawa pada saat mendengar itu. Haruto kemudian kembali menanyakan hal yang sama. Viltus langsung menjawab,

"Kapal ini bergerak lebih cepat daripada kapal komando... Maka dari itu diriku dapat membuat sedikit kekacauan dengan anak panahku dan kabur dari area tersebut."

"Sepertinya terdengar mudah." ujar Haruto

"Terdengar mudah... Namun, tidak jika sudah di sana." ujar Viltus

"Aku tahu." ujar Haruto

Viltus langsung tertawa. Ia tahu apa yang akan ditanyakan oleh Haruto dan begitu pula sebaliknya Haruto mengetahui apa yang akan dikatakan oleh Viltus. Maka dari itu, Viltus langsung berkata,

"Aku harus pergi sekarang. Putriku sedang menunggu kedatangan pangerannya."

"Silakan. Selamatkan putrimu itu." ujar Haruto

Viltus langsung tersenyum dan kemudian langsung menutup komunikasi dengan Haruto. Ia melihat ke depan dan Hakai berdiri di sana. Ia tersenyum dan bertanya,

"Jadi... Ini jawabanmu ?"

"Iya." jawab Viltus

"Silakan saja. Aku akan melihatnya. Ahahahahahahaha." ujar Hakai yang kemudian menghilang

Viltus menutup matanya dan kemudian mulai menggerakkan kapal kecilnya tersebut. Kapal tersebut bergerak cukup cepat ke arah tempat terakhir kali Magyar memberitahu mengenai lokasi Taihou. Kapal tersebut terus bergerak hingga akhirnya ia melihat langit yang sangat gelap.

Walaupun langit sangat gelap, ia dapat melihat dengan jelas dengan matanya. Dan dapat dikatakan ia dapat melihat cukup jauh. Ia langsung bergumam,

"Di sana terdapat cukup banyak Abyssal... Di manakah Taihou berada ?"

Ia tidak perlu mencari terlalu lama karena ia melihat wanita yang telah merenggut nyawa Kimura dan Harusame. Ia tersenyum dan kemudian menghentikan kapal tersebut. Ia mengambil busur panah miliknya, menarik anak panahnya dan kemudian langsung terdiam. Ia merasakan angin yang berhembus dan kemudian membuka matanya. Ia kemudian dengan tenang melepaskan anak panah tersebut.

Setelah melepas anak panah tersebut, ia menarik anak panah berikutnya dan kemudian melepasnya kembali. Setelah itu, ia dapat melihat wanita tersebut melihat ke arah dirinya. Ia langsung berkata,

"Baiklah... Sekarang saatnya... Untuk pergi."

Viltus langsung mulai menggerakkan kapalnya kembali untuk menjauh dari tempat tersebut. Namun, hal tersebut cukup sulit. Hujan peluru mengarah ke kapalnya diikuti dengan berbagai torpedo. Pergerakan kapal tersebut tidak seperti Gadis Kapal yang dapat menari di atas air, sehingga membuat semuanya menjadi sangat sulit. Dan pada saat itulah ia mendengar suara,

"Kau memihak mereka... Aku kecewa..."

Viltus sedikit terdiam pada saat itu. Suara tersebut merupakan suara yang sangat ia kenal. Suara yang selalu mengajaknya ke 'dunia lain'. Ia tidak tahu asal suara tersebut, namun suara tersebut terasa sangat dekat. Ia kembali mendengar,

"Aku kecewa... Aku kecewa... Aku kecewa... Aku sedih... Aku sedih... Aku sedih... Aku sedih... Kecewa... Sedih... KeCeWa... SeDiH... KeCEwa..."

Semua itu mengulang-ulang dan membuat kepalanya sangat sakit. Ia berusaha sebisa mungkin agar suara tersebut menghilang dari kepalanya, namun dikarenakan hal tersebut ia tidak mendengar suara sinyal dari torpedo yang mendekat. Dan pada saat ia menyadarinya, semuanya sudah terlambat. Ledakan besar terjadi dan setelah itu kapal tersebut mulai tenggelam. Viltus dapat merasakan tubuhnya yang sangat kesakitan dengan darah yang bersatu dengan air. Dan pada saat bersamaan, dirinya masih dapat mendengar suara tersebut. Ia langsung berpikir,

"Siapa yang telah kubuat sedih dan kecewa ? Apakah itu suara Taihou ? Tidak... Itu suara orang lain... Namun siapa ?"

Viltus kembali melihat ke arah atas dan kemudian tersenyum. Ia kembali berpikir,

"Sudahlah... Diriku sudah tidak dapat melakukan apapun sekarang... Dan pasti... Taihou pun kecewa dan sedih... Maafkan aku... Taihou... Ahahahahaha..."

Viltus kemudian menutup matanya dan membiarkan tubuhnya tenggelam ke peristirahatan terakhirnya.