Chapter 33

Dark Sky

Part 4 – Destruction


Viltus membuka matanya dan kemudian melihat pohon yang sangat indah di depannya. Selain itu, ia pun melihat langit biru yang cerah dan juga tanaman hijau di sekitarnya. Di dekat pohon tersebut, ia melihat sebuah sungai yang mengalir dengan tenang. Sesuatu yang berbeda jauh dengan apa yang ia rasakan selama ini.

Ia melihat ke kiri dan kanan, lalu melihat ke arah tubuhnya sendiri. Ia mengenakan pakaian yang berbeda. Ia langsung berkata,

"Apakah yang kurasakan ini hanya mimpi ?"

Ia langsung menggerakkan tangannya sebentar dan ia tidak merasakan sakit sedikit pun. Ia kembali bergumam,

"Atau mungkin ini adalah dunia kematian ? Mungkin saja..."

Viltus kemudian melihat kembali ke arah langit biru di atas dan langsung menghirup udara yang cukup sejuk. Ia ingat pohon tersebut merupakan pohon yang berada di desanya. Pohon di mana dirinya bertemu dengan Kaede dan saling mengenal satu sama lain. Ia langsung menghela nafas dan berkata,

"Lalu... Ledakan... Ugh..."

Kepala Viltus terasa sangat sakit pada saat berusaha untuk mengingat apa yang terjadi di dalam mimpinya. Ia langsung memegang kepalanya dan kemudian langsung menggelengkan kepalanya. Dengan wajah kesal, ia tidak memikirkan hal tersebut kembali. Ia menghela nafas dan berkata,

"Lagipula... Mengapa diriku di sini ?"

Tidak berapa lama, ia mendengar suara seorang wanita yang memanggil namanya. Ia sedikit terkejut dan kemudian melihat ke arah belakangnya. Ia melihat seorang wanita dengan rambut hitam seperti dirinya yang panjang dan mengenakan pakaian berwarna pink dan rok berwarna coklat muda. Wanita tersebut juga memiliki warna mata yang sama dengan dirinya.

Viltus diam sebentar pada saat melihat itu dan langsung mendapat teguran dari wanita tersebut,

"Oni-chan ! Kenapa kau meninggalkan diriku tadi ?"

"Ahahahaha... Tadi... Ummm..." ujar Viltus berusaha untuk mencari alasan

"Jangan bilang dirimu melamun pada saat pergi tadi." ujar wanita tersebut

"Ti... Tidak... Bukan seperti itu, Keiko." ujar Viltus

Wanita di depannya adalah Hakuno Keiko, adiknya yang sangat ia cintai. Ia merupakan seorang gadis yang periang dan juga cukup tomboi. Walaupun ia cukup tomboi, terkadang dirinya memperhatikan penampilannya sehingga ia terlihat cukup feminim dan cantik. Hal tersebut yang menyebabkan dirinya banyak diincar oleh banyak laki-laki, yang kemudian mundur karena Viltus yang tidak setuju dengan hal tersebut.

Keiko langsung menghela nafas dan kemudian bertanya,

"Oni-chan... Jangan bilang pikiranmu benar-benar kacau karena Kaede-nee, ya ?"

"Itu bukan urusanmu, Keiko." ujar Viltus dengan wajah yang sedikit malu

Mendadak Keiko langsung memotret Viltus yang sedang malu dan itu membuat Viltus sangat terkejut. Viltus langsung berkata,

"Keiko ! Apa maksudmu..."

"Ehehehehe... Aku yakin Shiro-nee, Kaede-nee, dan Hayate-san akan tertawa melihat ini." ujar Keiko

"Tidak... Tidak... Jangan sampai Kaede melihat itu." ujar Viltus panik

Keiko langsung menjulurkan lidahnya dan kemudian berlari sedikit menjauh dari Viltus. Viltus menerima fakta tersebut dan kemudian langsung menghela nafas. Ia kemudian melihat sebentar ke arah Keiko dan bertanya,

"Daripada itu, mengapa dirimu membiarkan rambut terurai seperti itu ?"

"Ah... Ibu berkata untuk mencoba gaya rambut yang lain." ujar Keiko

"Menurutku, kau lebih cocok menggunakan gaya rambut yang diikat Side Tail." ujar Viltus

"Ehehehehe... Kau dan Kaede-nee sama saja. Kenapa kalian tidak pacaran saja sih." ujar Keiko

"Itu bukan urusanmu." ujar Viltus

Viltus tersenyum sebentar dan kemudian mendapat balasan senyum dari Keiko. Ia menutup matanya sebentar dan kemudian langsung berjalan ke arah Keiko. Tepat pada saat itu, ia mendengar suara yang cukup familiar,

"Apakah Laksamana memiliki saudara satu darah ?"

Viltus berhenti sebentar dan melihat ke arah belakang. Ia tidak melihat siapapun, namun ia cukup familiar dengan suara wanita tersebut. Ia melihat ke kiri dan kanan dengan wajah bingung. Keiko yang melihat Viltus mendadak berhenti langsung berkata,

"Oni-chan ! Sampai kapan dirimu akan berhenti di sana ? Nanti Kaede-nee dan Shiro-nee marah lho."

"Ah... Maaf... Aku..." ujar Viltus

"Sepertinya ini yang kau harapkan... Hakuno Kazuki." ujar seseorang

Viltus sangat terkejut dan melihat ke arah belakang. Suara yang kedua ini sangatlah ia kenal. Suara seorang pria yang selalu menghantui mimpinya selama ini. Suara seorang pria yang mengaku sebagai Tuhan di dunianya. Suara dari Hakai.

Viltus melihat ke arah kiri dan kanan sekali lagi untuk mencari Hakai. Ia tahu Hakai berdiri di dekatnya dan tidak ingin menunjukkan dirinya sama sekali. Ia ingin memanggil namanya, namun ia urungkan karena ia sadar Keiko melihat ke arah dirinya dengan wajah khawatir. Ia melihat ke arah Keiko yang berjalan ke arah Viltus dengan wajah khawatir sembari berkata,

"Oni-chan... Kau baik-baik saja ? Apa efek dari sakitmu masih terasa ?"

"Ah... Aku baik-baik saja..." ujar Viltus

"Tapi..."

"Tidak apa-apa... Aku hanya sedang melamun saja." ujar Viltus dengan wajah panik

Keiko melihat ke arah Viltus sebentar dengan wajah tidak yakin dan akhirnya ia menghela nafas. Keiko langsung berkata,

"Baiklah... Jika dirimu berkata demikian. Namun, diriku sama sekali tidak menanggung apa yang terjadi seandainya dirimu jatuh pingsan nanti."

"Iya... Iya... Aku tidak akan pingsan koq." ujar Viltus

"Atau jangan-jangan... Ini rencanamu agar Kaede-nee khawatir pada dirimu." ujar Keiko

"Bu... Bukan demikian." ujar Viltus

Keiko memperhatikan Viltus dengan mata yang menggoda Viltus dan itu membuat Viltus semakin panik. Keiko langsung tersenyum dan kemudian langsung berjalan meninggalkan Viltus sembari berkata,

"Namun, itu pilihanmu sendiri... Oni-chan... Karena itu adalah hidupmu sendiri."

"Iya... Aku tahu..." ujar Viltus

"Dan kapan dirimu akan menyatakan perasaan kepada Kaede-nee ?" tanya Keiko kemudian

"KAU !" ujar Viltus dengan panik

Keiko langsung berlari menjauhi Viltus yang mengejar dirinya. Tidak berapa lama sebuah bayangan hitam muncul di dekat pohon tersebut dan langsung berkata,

"Jadi ini yang kau inginkan... Kedamaian... Sesuatu yang sangat mustahil untuk dicapai... Bahkan hingga masaku... Sebagai... Sudahlah..."

Bayangan tersebut langsung menghilang sembari tersenyum untuk memperhatikan apa yang akan ia lihat di tempat ini.


Keiko dan Viltus sudah tiba di halte bus dan terlihat menunggu bus yang akan membawa mereka ke kota. Keiko sedang membaca buku yang ia bawa, sementara Viltus sedang membalas beberapa pesan yang masuk ke dalam handphone miliknya. Tidak berapa lama seorang wanita dengan rambut merah yang dikepang ke bahu datang menghampiri mereka berdua. Ia adalah Yanagi Shiro, seorang wanita yang menjadi figur kakak bagi Keiko dan Viltus. Shiro datang dengan mengenakan pakaian atas putih dan celana jeans coklat. Selain itu, ia pun mengenakan jaket berwarna biru seperti celananya. Shiro langsung berkata,

"Maafkan aku datang sedikit terlambat."

"Itu bukan masalah. Kami pun baru tiba di sini." ujar Keiko

"Aku tidak yakin... Karena ada Kazuki di sini." ujar Shiro

"Ahahahaha..." ujar Viltus dengan wajah sedikit kesal

Shiro langsung memperhatikan jadwal yang tertera di halte bus dan kemudian berkata,

"Sepertinya kita masih menunggu cukup lama, ya ?"

"Iya..." ujar Viltus sembari menghela nafas

"Habis... Ini semua karena Oni-chan sedikit melamun tadi." ujar Keiko

"Kazuki ? Melamun ? Menyebabkan hal ini ? Mustahil." ujar Shiro

"Hei... Hei... Aku pun dapat membuat kesalahan, mengerti." protes Viltus

"Jika itu dirimu, itu yang tidak wajar !" ujar Shiro

Viltus mendengar Shiro yang berkata demikian ditambah dengan beberapa suara yang cukup familiar. Ia melihat ke Shiro sebentar dengan wajah bingung dan langsung menggelengkan kepalanya. Shiro yang melihat Viltus seperti itu langsung berkata,

"Ada apa, Kazuki ? Kau..."

"Oni-chan baru saja sembuh dari sakit... Sepertinya efek dari obatnya masih terasa." ujar Keiko

"Ah... Kau yang sakit selama satu minggu itu, ya ?" tanya Shiro

"Iya." jawab Viltus sembari menghela nafas

Shiro melihat wajah Viltus sebentar dan kemudian langsung tertawa. Ia kemudian mengelus kepala Viltus dan berkata,

"Namun, jika dirimu sudah dapat berdiri seperti ini... Seharusnya kau sudah benar-benar sembuh. Atau kau memaksakan diri untuk menemui istrimu ?"

"Siapa istriku ?!" ujar Viltus dengan panik

"Kaede. Dia istrimu, benar ?" goda Shiro

"Bu... Bukan... Dia..." ujar Viltus semakin panik

"Heeeh ? Kalian berdua sudah sangat dekat. Terkadang berbagai Bento buatan kalian masing-masing pada saat makan siang. Membelikan minuman untuknya. Satu payung berdua dengannya. Tidak mungkin kalian bukan pasangan." goda Shiro

"Uuuugggghhhh..." ujar Viltus sembari memalingkan wajahnya

"Dan bahkan kalian sempat pergi ke taman ria betsama, benar ?" ujar Shiro

"Itu..."

"EH ?! Oni-chan ke taman ria ?! Kapan ?" tanya Keiko

Shiro langsung menutup mulutnya karena telah membeberkan sebuah rahasia yang seharusnya tidak diketahui oleh Keiko. Alasannya sangat mudah, itu karena Keiko belum pernah ke taman ria selama ini dan Viltus berjanji akan membawanya ke sana jika ia pergi ke taman ria. Viltus langsung memalingkan wajahnya dan berkata,

"Itu... sudah cukup lama."

"Ehhhh... Curang... Curang... CURANG !" ujar Keiko

"Keiko... Itu karena diriku diajak oleh Hayate, Kaede, dan Makoto." ujar Viltus

"Tetap saja... Huh ?" ujar Keiko mendadak sedikit terdiam.

"Ada apa, Keiko ?" tanya Viltus

"Oh...Oohh... Oooooohhhhh." ujar Keiko

Mendadak Keiko yang tadinya marah kepadanya langsung diam dan kemudian tersenyum. Ia ingat hari di mana Viltus pergi dengan wajah tersenyum. Keiko langsung berkata,

"Jadi... Oni-chan."

"Entah mengapa diriku sama sekali tidak menyukai apa yang akan kau tanyakan kepadaku, Keiko." ujar Viltus melihat ke arah Keiko

"Apakah itu benar Kaede-nee yang mengajak dirimu ?" tanya Keiko

"Iya. Kenapa dengan hal tersebut ?" tanya Viltus

"Soalnya jika itu dirimu, pasti kau akan mencari alasan untuk tidak ikut. Oni-chan kan sedikit panikan." ujar Keiko

"Ti... Tidak demikian." ujar Viltus

Shiro langsung tertawa melihat tingkah laku dari kakak adik di depannya. Ia langsung menepuk pundak dari Keiko dan kemudian berkata,

"Sebenarnya bukan Kaede yang mengajaknya. Namun, yang mengajak mereka ke taman ria adalah diriku."

"Seperti dugaanku. Oni-chan berbohong." ujar Keiko

"Ugh..." ujar Viltus memalingkan wajahnya

Shiro dan Keiko langsung tertawa melihat ekspresi dari Viltus. Semenjak Viltus mengakui perasaannya kepada Kaede, dirinya menjadi bulan-bulanan dari Shiro dan Keiko. Dan itu yang membuatnya seperti ini. Viltus langsung berkata,

"Sudah ! Jangan bahas mengenai..."

"Oni-chan, Ibu sudah setuju dengan pilihanmu,lho." ujar Keiko

"Ugh..." ujar Viltus yang mendengar hal tersebut

"Dan ayah sepertinya setuju juga dengan hal tersebut." lanjut Keiko

"Oh... Paman dan bibi setuju dengan pilihan Kazuki ? Itu bukannya hal yang cukup baik ? Sudah, nyatakan saja perasaanmu." ujar Shiro

Viltus dengan wajah yang merah langsung protes kepada mereka. Dan sebuah keberuntungan datang. Bus yang akan membawa mereka ke kota sudah datang dan Viltus langsung naik ke bus tersebut. Tepat pada saat ia masuk ke dalam bus, ia melihat seorang wanita dengan rambut ungu yang bertanya kepada dirinya,

"Kau mencintai ******, ya..."

Viltus langsung sedikit terkejut dan berhenti di depan pintu bus. Keiko dan Shiro yang melihat ke arah Viltus yang terlihat kebingungan. Shiro langsung menepuk pundak dari Viltus dan berkata,

"Kazuki... Kau yakin kau sudah sembuh benar ?"

"Iya..." ujar Viltus

"Tapi..."

"Kalian ingin naik ini atau tidak ?" tanya supir bus tersebut

"Ah... Maafkan kami." ujar Viltus

Viltus kemudian masuk ke dalam dan kemudian duduk di kursi kosong. Begitu pula dengan Shiro dan Keiko. Selama perjalanan tersebut, Viltus bertanya-tanya mengenai beberapa hal. Terutama gadis dengan rambut ungu yang ia lihat, pertanyaan yang diberikan dan satu nama yang sama sekali tidak dapat ia dengar. Ia bergumam,

"Apa... yang barusan kudengar dan lihat..."


Mereka bertiga sudah tiba di kota dan langsung berjalan ke tempat pertemuan mereka semua. Pada saat mereka berjalan mereka melihat dua orang yang sedang berbincang-bincang. Melihat salah satu dari orang tersebut membuat jantung Viltus berdetak dengan cepat. Ia melihat ke arah seorang wanita dengan rambut coklat pendek dan mengenakan pakaian berwarna putih dan rok panjang berwarna hitam. Sementara di depan wanita tersebut seorang pria yang duduk dengan rambut hitam dan sedikit bekas luka di pipinya. Ia mengenakan pakaian berwarna putih dengan celana jeans yang sedikit robek.

Shiro langsung berlari dan memeluk wanita tersebut dan mendapat sambutan dari pria di depannya. Keiko dan Viltus langsung berjalan ke arah mereka dan mendapat sambutan yang sama. Pria di depan Shiro langsung berkata,

"Tidak kusangka dirimu dapat sakit juga. Kukira orang idiot seperti dirimu tidak dapat sakit."

"Itu bukan urusanmu, Hayate." ujar Viltus

Pria itu adalah Okada Hayate. Ia merupakan salah satu teman dekat dari Viltus yang dapat dikatakan paling pertama menerima fakta bahwa Viltus merupakan seseorang dengan kewarganegaraan ganda. Ia pun terkadang memanggil Viltus dengan nama lainnya jika dia merasa kesal dengan Viltus. Mendadak Hayate langsung merangkul Viltus dan berkata,

"Jadi, bagaimana menurutmu mengenai Kaede ?"

"Uuuhhh..."

"Kau pun tidak dapat berkata apa-apa, benar ? Ahahahahaha... Aku sangat salut dengan kinerja dari Makoto untuk membantu Kaede." ujar Hayate

"Eh ? Makoto ?! Dari semua wanita yang kukenal, Makoto ?!" ujar Viltus dengan wajah terkejut

"Tepat sekali." ujar Hayate

Viltus langsung menghela nafas dan melihat ke wanita yang sedang berbincang-bincang dengan Keiko dan Shiro. Namanya adalah Chiba Kaede, gadis yang dicintai oleh Viltus. Ia langsung menghela nafas dan berkata,

"Semenjak kalian berkencan, Makoto semakin ahli dalam hal ini."

"Dapat dikatakan diriku cukup beruntung mendapatkan Makoto." ujar Hayate

"Sepertinya dirimulah yang membuat Makoto seperti itu." ujar Viltus

"Daripada itu... Kazuki, apakah kau sudah menyatakan perasaanmu pada Kaede ?" tanya Hayate

"Mengenai itu..."

"Jangan bilang kau melewatkan kesempatan itu ! Pada saat itu kalian benar-benar berdua saja, benar ?!" ujar Hayate

"Hei... Hei... Hei... Hayate... Diriku bukanlah dirimu yang dapat berbicara dengan mudah seperti itu." ujar Viltus

"Dengar... Diriku dan Makoto..." ujar Hayate

"Lagipula siapa yang mengatakan bahwa diriku belum melakukan hal tersebut." ujar Viltus

Yang tidak disadari oleh Viltus adalah Keiko sudah di sebelah Hayate untuk mendengar jawaban dari Viltus. Viltus yang melihat Keiko langsung memerah dan panik. Keiko sendiri langsung berkata,

"Oooohhhh... Jadi, Oni-chan menyembunyikannya dariku."

"Bu... Bukan demikian..." ujar Viltus

"Heeehhh..." ujar Keiko sembari tersenyum

Ia kemudian langsung berlari ke arah Shiro dan membisikkan sesuatu, sementara Viltus sama sekali tidak bergerak sama sekali. Hayate langsung merangkul Viltus sekali lagi dan berkata,

"Jika demikian... Selamat untuk dirimu."

"Uuuuhhh..."

Viltus langsung menghela nafas dan melihat ke langit. Ia melihat langit biru yang luas dan sangat menenangkan hatinya. Tidak berapa lama, ia melihat sebuah pesawat yang lewat dan pada saat bersamaan, ia mendengar suara dua orang yang berbicara,

"Viltus... Serahkan ini pada ahlinya !"

"Huh ?! Kukira dirimu..."

"Aku tidak dapat membiarkan mereka semua mati di depan sana... Dengan kondisi seperti ini !"

"Apakah kau benar-benar siap ?"

"Tentu saja ! Akan saya tunjukkan kepadamu kemampuan terbaik dari ****** ******!"

"Tunjukkan kepada diriku hal tersebut."

Viltus langsung terdiam sembari melihat ke kiri dan kanan, namun ia tidak melihat apapun. Ia diam sebentar dan kemudian bergumam,

"Ada apa... Mengapa diriku... Mendengar itu semua ?"

"Kazuki-kun ? Kau baik-baik saja ?" tanya seseorang

Viltus melihat ke belakangnya dan melihat Kaede yang sudah di dekatnya. Ia sangat terkejut melihat wajah Kaede yang cukup dekat. Sontak ia langsung berjalan menjauh sedikit sembari melihat Kaede yang tersenyum ke arahnya. Kaede kemudian berjalan ke dekat Viltus dan berkata,

"Kau benar-benar sudah sembuh."

"Iya..." ujar Viltus

"Setidaknya itu sudah cukup bagiku." ujar Kaede

"Daripada itu... Terima kasih... Sudah menemani diriku selama diriku sakit." ujar Viltus

"Ehehehehe..." ujar Kaede

Kaede kemudian melihat ke arah Shiro, Keiko, dan Hayate yang tersenyum ke arah mereka berdua. Ia langsung bertanya,

"Mereka sepertinya sudah tahu..."

"Maafkan aku... Tadi... Ummm..." ujar Viltus

"Itu bukan masalah, Kazuki-kun. Kita tidak dapat selamanya menyembunyikan ini, benar ?" ujar Kaede

"Kau benar..."

"Ehehehehehe..."

"Daripada itu... Apakah keluargamu..." tanya Viltus

"Mereka menerima dirimu." ujar Kaede sembari tersenyum

Viltus langsung membalas senyum dari Kaede yang sangat cerah di hadapannya. Tidak berapa lama, Kaede langsung menarik lengan dari Viltus sembari berkata,

"Ayo... Kazuki. Mereka menunggu kita."

"Iya."

Viltus mengikuti Kaede dan kemudian bergumam,

"Ini... Kehidupan ini... Tidak ada salahnya..."

Dan pada saat itulah, ia mendengar suara seorang wanita yang menangis,

"Mengapa... Mengapa... Mengapa dirimu tidak memilih diriku ?"


"Mengapa kalian datang kemari ?!"

Itulah pertanyaan yang dilayangkan oleh wanita yang akan mengambil pesanan Keiko, Viltus, Shiro, Hayate, dan Kaede. Wanita dengan rambut putih panjang tersebut mengenakan pakaian pelayan dan terlihat sangat kesal, terutama ke arah Hayate. Namanya adalah Noguchi Makoto, teman baik dari Kaede yang sangat dekat dengan kelompok Viltus dan juga kekasih dari Hayate. Ia langsung melihat ke arah Hayate sembari berkata,

"Ini pasti ulahmu..."

"Bukan demikian. Kaede-chan yang ingin melihatmu bekerja di sini." ujar Hayate

"Jangan bohong." ujar Makoto

"Aku tidak berbohong." ujar Hayate

"Kaede ! Apakah yang dikatakan oleh pria mesum ini, benar ?" tanya Makoto mendadak

Kaede langsung terdiam mendengar itu. Ia melihat ke arah Viltus untuk meminta bantuan. Viltus sendiri diam saja hingga akhirnya Shiro yang berkata,

"Kami semua ingin datang kemari karena tempat ini direkomendasikan oleh banyak orang. Maka dari itu, kami semua datang kemari untuk mencicipinya langsung."

"Begitukah, senpai ?" ujar Makoto dengan wajah kurang yakin

"Lagipula, setelah ini kami semua akan pulang dan akan ada yang berkencan setelahnya." ujar Shiro

"Berkencan ? Diriku dan Hayate tidak memiliki jadwal..." ujar Makoto yang langsung sadar

Makoto melihat ke arah Kaede dan Viltus selama beberapa saat, hingga akhirnya ia berkata kepada Kaede,

"Tunggu... Tunggu... Tunggu ! Kalian sudah... Eh... Tidak... Sejak kapan kalian berkencan ? Tidak... Mengapa kau tidak memberitahu diriku ?!"

"Mengenai itu..." ujar Kaede

"Kazuki ! Sejak kapan dirimu berani melakukan itu ?! Aku yakin dirimu bukanlah orang yang demikian." tanya Makoto dengan wajah terkejut

"..."

"Ayolah... Sampai kapan kalian..."

"Sebaiknya dirimu mengambil pesanan kami sekarang. Kau tidak ingin menarik perhatian pemilik restoran ini, benar ?" ujar Viltus berusaha menghindari topik tersebut

"Ah... Kau benar !" ujar Makoto baru menyadarinya

Makoto langsung menanyakan kepada mereka semua apa yang akan mereka pesan. Setelah selesai mengambil pesanan, Makoto langsung berkata kepada mereka semua sembari menunjuk ke arah Kaede,

"Setelah giliranku bekerja sudah selesai... Aku akan mendengarnya secara langsung mengenai kalian berdua !"

Kaede dan Viltus hanya diam saja mendengar apa yang dikatakan oleh Makoto dan kemudian langsung tertawa bersama.


Makoto duduk bersama dengan mereka semua dikarenakan dirinya mendapatkan waktu istirahat lebih awal. Ia berkata bahwa pemilik dari restoran tersebut akan memberikan waktu tambahan minggu depan karena saat ini kondisi tidak terlalu sibuk.

Ia duduk di depan Kaede dan Viltus sembari meminum jus yang ia beli sendiri. Ia kemudian menatap tajam ke arah mereka berdua dan berkata,

"Kalian ini..."

"Ummm... Ini semua karena..." ujar Kaede

"Kukira kalian tidak akan pernah menyatakan perasaan kalian berdua." goda Makoto

Viltus dan Kaede sama sekali tidak melihat ke arah Makoto yang tersenyum ke arah mereka berdua. Makoto langsung melihat ke arah Shiro dan Keiko dan bertanya,

"Apakah kalian berdua menerima hubungan dua orang idiot ini ?"

"Mengapa kau bertanya kepada diriku juga ?" tanya Shiro

"Karena kau ini kakak dari pria idiot ini. Jadi, apakah kalian berdua menerima hubungan mereka ?" tanya Makoto kembali

Keiko dan Shiro melihat satu sama lain, sementara Hayate langsung menyentil dahi Makoto yang terus bertanya demikian. Keiko akhirnya yang angkat bicara,

"Jika diriku, itu bukanlah masalah. Jika Kaede-nee yang menjadi pacar kakak idiotku, justru diriku akan sangat senang."

"Keiko !" ujar Viltus sedikit panik

"Dan ini lebih baik daripada setiap hari curhat kepada diriku... Terkadang bertindak aneh..."

"Ah... Keiko !" ujar Viltus semakin panik

Viltus berusaha membuat Keiko diam, sementara Shiro yang sekarang angkat bicara,

"Jika diriku... Itu bukanlah masalah besar. Dapat dikatakan diriku sangat senang pada saat mendengar mereka berdua benar-benar berkencan."

Viltus, yang berusaha membuat Keiko diam, dan Kaede terlihat memperhatikan Shiro dengan seksama. Shiro melanjutkan,

"Pada saat kalian berdua bertemu pertama kali, dapat dikatakan sangat sulit untuk menghentikan kalian berdua yang bertengkar terus. Namun, pada saat kalian sedikit demi sedikit mulai dekat hingga akhirnya seperti ini... Diriku sangat senang."

Kaede dan Viltus langsung tertunduk malu mendengar apa yang dikatakan oleh Shiro. Makoto dan Hayate sendiri melihat satu sama lain dan langsung tersenyum. Mereka berenam kemudian kembali berbincang-bincang mengenai banyak hal dan yang menjadi bahan pembicaraan mereka adalah Kaede dan Viltus.

Setelah selesai makan dan membayar semua makanan tersebut, mereka berempat berpisah dikarenakan Shiro akan membantu Keiko untuk membeli beberapa bahan makanan, Hayate dan Makoto pergi bersama, sementara Viltus dan Kaede pergi bersama untuk mencari beberapa barang yang diinginkan oleh Kaede.

Sepanjang perjalanan mereka, Kaede bercerita banyak hal sementara Viltus hanya mengangguk mendengar apa yang dikatakan oleh Kaede. Hingga akhirnya Kaede berkata,

"Dunia ini sangat damai, ya."

"Iya. Sangat damai... Dan tenang." ujar Viltus

"Itu semua terima kasih kepada ayahmu, Kazuki. Jika dirinya tidak ada, kita pasti akan berperang terus." ujar Kaede

"Ayah... Eh... Ayahku..." ujar Viltus

"Huh ? Iya. Ayahmu." ujar Kaede.

"Bukankah... ayahku sudah meninggal ?" tanya Viltus

"Eh ? Kau kenapa berkata demikian ? Kau masih sakit ?" tanya Kaede

"Huh ?"

"Ayahmu masih di militer saat ini dan sedang melakukan penelitian untuk teknologi selanjutnya." ujar Kaede

Viltus terdiam sebentar pada saat mendengar apa yang dikatakan oleh Kaede kepada dirinya. Ia kemudian langsung mengangguk dan berkata,

"Ah... Kau benar."

"Kazuki ? Kau yakin sudah sembuh benar ?" tanya Kaede

"Iya..." ujar Viltus

Kaede terlihat tidak terlalu yakin pada saat mendengar jawaban dari Viltus. Viltus melihat ke arah Kaede sebentar dan langsung mengelus kepalanya. Kaede sangat terkejut karena hal tersebut dan berkata,

"Kazuki..."

"Kau tidak perlu khawatir dengan diriku, Kaede. Aku sudah cukup sehat sekarang." ujar Viltus

"Tapi... Kau terlihat seperti orang bingung..." ujar Kaede

"Tenang saja, Kaede." ujar Viltus

Kaede langsung melihat ke arah Viltus dan kemudian memegang tangan Viltus sembari berkata,

"Baiklah... Jika kau berkata demikian."

"Terima kasih, Kaede." ujar Viltus

Viltus tersenyum ke arah Kaede dan kemudian mengajak Kaede untuk berjalan. Mereka berdua pergi untuk mencari beberapa pakaian untuk Kaede karena sebentar lagi mereka berempat akan pergi untuk mengisi waktu libur musim dingin mereka. Pada awalnya Viltus menolaknya karena ia berjanji akan membuatkan Kaede beberapa jaket untuknya, namun karena dirinya sakit ia tidak dapat menyelesaikannya tepat waktu.

Setelah membeli beberapa jaket, mereka berjalan keluar dari tempat tersebut dan berbincang-bincang singkat. Hingga akhirnya salju pertama turun. Kaede terlihat senang dan bahagia pada saat salju tersebut turun, sementara Viltus terdiam sebentar. Ia membiarkan salju tersebut mengenai tangannya.

Dan pada saat itulah, ia ingat beberapa hal. Ia melihat ke depannya dan melihat api yang sangat panas. Ia melihat bangunan yang runtuh dan juga suara dari Keiko yang meminta tolong kepada dirinya. Ia kemudian melihat seseorang yang menyerupai dirinya mengulurkan tangannya yang penuh darah.

Viltus langsung mundur selangkah dan itu membuat Kaede langsung terdiam. Ia melihat wajah pucat dari Viltus. Kaede langsung berjalan ke dekat Viltus dan bertanya,

"Kazuki, kau yakin sudah benar-benar sembuh ? Jika diriku melihat dirimu sekarang entah mengapa aku tidak yakin."

"Mungkin..." ujar Viltus

"Sudahlah... Kita kembali saja sekarang. Kedai kopi yang kau katakan cukup enak kita kunjungi saja nanti." ujar Kaede

"Iya..."

"Aku akan menemani dirimu hingga dirimu sampai di rumahmu."

"Terima kasih, Kaede." ujar Viltus

Kaede langsung berjalan di depan Viltus, sementara Viltus sendiri masih berdiri di tempatnya sekarang. Ia langsung menggelengkan kepalanya dan mulai berjalan. Dan pada saat itulah, ia melihat seorang pria yang berdiri di depannya. Ia tersenyum ke arah dirinya dan berjalan melewati dirinya. Sontak Viltus berkata,

"Kimura..."

Pada saat ia melihat ke belakang dan sekitarnya, ia melihat dunia yang berhenti. Ia diam sebentar dan kemudian melihat dua orang pria yang sedang berbincang-bincang dan tertawa. Selain itu, ia melihat wanita di antara mereka berdua. Ia diam sebentar hingga mereka berdua melewati Viltus. Tidak hanya itu, semua orang di sekitar Viltus berubah menjadi orang-orang yang ia kenal. Hingga akhirnya ia melihat seorang wanita dengan rambut pink yang sangat ia kenal. Ia langsung berkata,

"Harusame... Kau masih... Eh... Tunggu... Mengapa kau..."

Pada saat Viltus mendekati Harusame, ia langsung menghilang. Ia melihat ke sekitarnya dan mulai panik. Dan pada saat itulah, ia mendengar suara seorang wanita yang sangat ia kenal. Suara yang sangat lembut yang berkata,

"Tidak ada gunanya dirimu terikat dengan masa lalu... Itu adalah dirimu yang dahulu... Sekarang kau adalah Viltus yang kukenal yang sama sekali tidak terikat dengan masa lalu... Dan kau seharusnya terikat dengan masa depanmu sendiri, bukan masa lalumu."

Ia diam sebentar dan melihat seorang wanita yang tersenyum di depannya. Ia langsung terdiam sebentar dan sedikit demi sedikit ia mulai mengingat apa yang terjadi. Ia melihat Kaede yang berdiri jauh di depannya sedikit demi sedikit mulai menghilang. Ia terdiam melihat itu dan kemudian melihat sebuah meja di ruangan yang ia kenal. Ia melihat wanita yang ia lihat sebelumnya yang sedang memeluk seorang pria. Ia terdiam sebentar dan mendengar apa yang dikatakan oleh wanita tersebut,

"Aku akan menjadi pengganti dari..."

"Tidak... Kau tidak dapat menggantikan gadis itu..." ujar Viltus mengikuti apa mulut dari pria tersebut

"Eh ? Mengapa ?"

"Karena... Kau adalah Taihou..." ujar Viltus yang langsung terdiam

Ia diam sebentar dan kemudian kembali berkata,

"Taihou..."

Tidak berapa lama, ia kembali melihat berbagai ingatan dengan gadis tersebut. Ia melihat senyumnya. Wajah marahnya. Wajah sedihnya. Wajah takutnya. Hingga akhirnya ia mendengar apa yang dikatakan oleh wanita tersebut

"Jangan melakukan tindakan idiot pada saat operasi tersebut."

"Aku tahu..." ujar Viltus

"Kau... Tidak akan melakukan tindakan idiot, kan ?"

"Aku... Tahu... dan aku melakukan hal tersebut... Taihou..." ujar Viltus

Viltus langsung terjatuh di lututnya. Tidak berapa lama, ia merasakan tangan yang mendekati dirinya. Ia melihat ke depan dan melihat Taihou yang berdiri di depannya. Ia langsung berkata,

"Taihou..."

Namun, itu semua hanyalah ilusi semata. Dari balik Taihou muncul sebuah bayangan hitam yang kemudian mengikat Viltus dan memakan seluruh tubuhnya.


Viltus membuka matanya dan Hakai berdiri di depannya yang langsung menjentikkan jarinya. Ia kemudian berkata,

"Sungguh mimpi yang indah..."

"Hakai... Kau..." ujar Viltus

"Namun, mimpi ini terlalu cliché untuk urusan seseorang yang sedang berperang." ujar Hakai

"Eh ?"

"Sebuah mimpi di mana kau mendapatkan sebuah kedamaian dalam hidup... Di mana mereka yang seharusnya sudah mati bersama dengan dirimu kembali..." ujar Hakai

"Jadi..."

"Namun, itulah manusia... Mereka akan mengharapkan sesuatu yang mustahil dan terkadang masuk ke dalam dunia mimpi mereka untuk meraih hal tersebut." ujar Hakai

Viltus langsung melihat ke arah Hakai dan berjalan ke dekat Hakai. Hakai yang melihat Viltus mendekat langsung berkata,

"Apa yang ingin kau tanyakan ?"

"Apa yang kau lakukan kepada Kaede ? Apa yang kau lakukan kepada mereka ?!" tanya Viltus

"Kau masih terjebak di dalam mimpimu rupanya." ujar Hakai

"Itu bukan mimpi ! Itu adalah..."

"Kau membuatku muak !" ujar Hakai

Ia kemudian memegang kepala Viltus. Dalam sekejap berbagai ingatan dari Viltus mulai masuk ke dalam kepalanya dan itu membuat dirinya berteriak dengan keras. Semua kesedihan yang ia rasakan. Semua kesenangan yang ia rasakan. Semua rasa sakit yang ia rasakan. Ia merasakan semuanya kembali.

Hakai memperhatikan Viltus yang sudah mulai sedikit tenang dan kemudian melihat Viltus yang menangis. Viltus ingat semuanya. Kaede tidak akan bersama dengan dirinya karena dirinya sudah meninggal. Makoto sendiri meninggal pada satu pertempuran dengan Abyssal. Untuk Hayate, ia sudah cukup lama tidak bertemu dengan dirinya semenjak meninggalnya Kaede. Keiko, Ibunya, dan ayahnya juga sudah tidak ada di sisinya. Sekarang dirinya sendirian.

Namun, pada saat bersamaan ia merasakan beberapa tangan yang sangat hangat memegang pundaknya. Ia melihat ke belakang dan melihat semua krunya dan seluruh Gadis Kapal di bawah arahannya. Dan yang paling terang dan hangat adalah tangan dari Taihou. Ia langsung berdiri dengan diperhatikan oleh Hakai. Hakai sendiri langsung tersenyum sinis dan berkata,

"Kau akhirnya bangun dari mimpimu... Baguslah."

"Aku ingat semuanya." ujar Viltus

"Dan kau tahu apa yang harus kau lakukan, benar ?" tanya Hakai

"Iya... Aku ingat... Aku harus kembali untuk bertemu dengan mereka." ujar Viltus

Viltus langsung berjalan meninggalkan Hakai. Hakai sendiri langsung tertawa dan berkata,

"Kau ingin pergi ke mana, Kazuki ? Kemanapun kau pergi, kau tidak akan menemukan satu pun pintu keluar di sini."

"Keluar dari mimpi ini..." ujar Viltus

"Ini bukan mimpi." ujar Hakai

"Apa maksudmu ?" tanya Viltus sembari menatap tajam ke arah Hakai

"Ini bukan mimpi. Kau ada di tempatku." jawab Hakai

"Jangan main-main dengan diriku !" teriak Viltus

Viltus langsung berlari ke arah Hakai dan menarik kerah baju Hakai. Hakai sendiri tersenyum dan berkata,

"Aku tidak menyangka... Dengan tangan seperti itu, kau masih dapat mengangkat diriku."

"Apa maksudmu ?" tanya Viltus

"Kau tidak merasa sakit ?"

"Eh ?"

Dan pada saat Hakai selesai berkata demikian, tangan kanannya yang mengangkat Hakai terjatuh. Ia hanya melihat tangan kanannya hanya sampai di siku saja. Dan pada saat itulah, ia merasakan rasa sakit yang sangat parah di tangannya. Ia berteriak dengan keras karena hal tersebut. Hakai sendiri langsung merapikan bajunya dan kemudian berkata,

"Menyakitkan, benar ?"

"Kau... apa yang..."

"Bukankah kakimu pun demikian ?" ujar Hakai kemudian

"Eh ?"

Viltus langsung jatuh ke arah kirinya. Ia melihat kaki kirinya hancur lebur. Tidak hanya itu, kaki kanannya pun juga hilang hingga lutut. Hakai langsung tertawa dan kemudian berkata,

"Bagaimana rasanya melihat kenyataan dari tubuhmu, Kazuki ?"

"Tidak... Tidak... Tidak... Ini..." ujar Viltus

"Hei... Perutmu terbuka tuh." lanjut Hakai

Viltus langsung muntah darah dan melihat perutnya yang berlubang dengan isi dari tubuhnya keluar. Ia tidak dapat berpikir dengan jernih. Hakai kemudian menjentikkan jarinya dan dalam sekejap semua bagian tubuhnya kembali. Ia langsung berkata,

"Seperti yang kukatakan tadi... Saat ini dirimu ada di daerahku. Daerah yang bukan tempat orang hidup maupun tempat orang mati."

"Jadi... Diriku... Sudah..." ujar Viltus

"Aku tidak akan menjawabnya..." ujar Hakai

"Tidak... Aku harus..." ujar Viltus jatuh berlutut

Hakai langsung tertawa melihat wajah Viltus yang hancur. Tidak berapa lama, mereka berdua seperti mendengar suara air laut yang sangat dekat. Tidak hanya itu, mereka berdua pun mendengar suara sesuatu yang mendekat. Hakai sendiri langsung tersenyum dan berkata,

"Mereka semua mendekat."

"Mereka ?"

"Abyssal. Mereka yang telah membunuhmu." ujar Hakai

"..."

"Hei, Kazuki." ujar Hakai

"..."

"Apakah kau akan meminta bantuanku ? Untuk kembali ke duniamu ?" tanya Hakai

"Ini hanya perasaanku saja... Atau kau sedikit lebih sopan ?" tanya Viltus

"Jawab saja pertanyaanku." ujar Hakai

"Jika... Jika diriku dapat kembali... Maka..."

"Bagus... Anak pintar." ujar Hakai

Viltus langsung menyadari pilihannya. Ia tidak berpikir sama sekali mengenai konsekuensi dari jawabannya pada saat menjawab pertanyaan tersebut. Dan ia baru sadar Hakai akan membuatnya melakukan sesuatu dari senyumnya.

Hakai langsung tertawa dan kemudian melihat ke arah Viltus. Ia langsung berkata,

"Baiklah... Pada akhirnya... Kau menerima dirimu."

"Eh ?"

Dari bawah Viltus muncul beberapa tangan yang mulai menarik tubuhnya ke tanah. Ia berusaha untuk melepaskan dirinya dari tangan tersebut, namun ia tidak mampu. Selain itu, ia melihat ke belakang Hakai dan melihat seseorang yang berdiri di sana. Hakai langsung tersenyum dan berkata,

"Selamat tidur, Kazuki... Kita akan lanjutkan... Di duniamu."

Setelah itu, semuanya menjadi sangat gelap.


Viltus membuka matanya dan melihat air yang di depannya. Selain itu, ia melihat sisa dari kapal yang ia gunakan sebelumnya. Selain itu, ia melihat banyak asap di sekitarnya. Bau dari pertempuran yang baru saja terjadi di sana. Ia kemudian memegang kepalanya dan merasakan darah yang mengalir di sana. Ia langsung berkata,

"Jadi... Itu benar-benar..."

"Mimpi yang sangat indah, benar ?" tanya Hakai

Viltus melihat ke depannya sekali lagi dan melihat Hakai yang berdiri di depannya. Ia melihat dengan jelas Hakai yang berdiri di atas air seakan-akan dirinya benar-benar di dunia ini. Hakai langsung berkata,

"Selamat datang kembali, Kazuki !"

"..."

"Inilah kenyataan dari duniamu, Kazuki."

"Aku tahu..." ujar Viltus

"Penuh darah... Penuh emosi... Penuh pertempuran... Sungguh sebuah dunia yang sangat indah." ujar Hakai

"Kau tidak perlu memberitahukan hal tersebut !" ujar Hakai

Hakai tersenyum pada saat ia mendengar teriakan dari Viltus. Ia langsung tertawa dan melihat ke arah Viltu sekali lagi. Ia berkata,

"Itu semua sangat disayangkan, benar ?"

"Aku... akan..." ujar Viltus

"Tapi, harap kau ketahui... Aku sedikit kecewa pada saat dirimu meninggal di tempat ini." ujar Hakai

"Eh ?"

"Kau tidak boleh mati di sini... Aku membutuhkan dirimu..." ujar Hakai

"Apa maksudmu ? Aku sudah mati ?!" ujar Viltus dengan wajah terkejut

"Jangan bilang kau menganggap apa yang kau dengar di tempatku sebagai mimpi ? Harap kau ketahui... Di garis waktu ini... di pertempuran ini... Kapten Viltus Amarov meninggal." ujar Hakai

"..."

"Kau tidak boleh mati di sini... Maka dari itu, aku menghidupkan dirimu kembali." lanjut Hakai

"Aku... Aku..." ujar Viltus tidak percaya.

"Untuk apa ? Untuk banyak hal... Untuk semua yang akan terjadi di masa depan !" ujar Hakai

"Tidak... Ini pasti... Mimpi..." ujar Viltus

"Ini bukan mimpi... Ini kenyataan..." ujar Hakai

Tidak berapa lama, Viltus dapat melihat Abyssal yang mulai mendekati mereka berdua. Hakai langsung berkata,

"Aku berkata bahwa diriku tidak akan muncul di dunia ini... Namun, situasi ini mengharuskan diriku untuk turun kemari."

"Mengapa..." tanya Viltus

"Karena kau adalah pion terpenting di dunia ini... Bila dirimu menghilang lebih dahulu..." ujar Hakai

"Jika aku menghilang ?" tanya Viltus

"Dunia ini akan sangat membosankan." ujar Hakai

Hakai kemudian melihat ke arah Abyssal di hadapannya. Viltus dapat melihat dengan jelas aura hitam mengitari tubuh Hakai dan pada saat itulah ia merasakan rasa ngeri yang terpancarkan dari aura Hakai. Hakai langsung tersenyum dan berkata,

"Sebaiknya kau tidur saja sekarang... Aku akan membantumu kali ini saja."

"Kau..."

"Aku tidak akan menghubungi dirimu lagi setelah ini... Hingga waktu yang tepat. Hingga saat itu tiba, sampai jumpa. Selamat tidur... Kazuki." ujar Hakai

Dan setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Hakai, semuanya pun menjadi sangat gelap bagi Viltus.


HakunoShibou di sini !
H : Huh ?! Kau ganti nama ?
HS : Kazuki merupakan nama lain dari Viltus, jadi aku pun mengganti namaku ahahahahahah

Maaf ya udah lama nggak lanjut cerita ini. Itu semua karena hampir satu bulan yang lalu cukup sibuk untuk masalah di luar ini dan juga sedang mempersiapkan sesuatu untuk acara dalam waktu dekat.

Untuk salah satu pertanyaan yang dilayangkan oleh guest. Alasan saya mengganti namanya. Cerita ini merupakan awal dari cerita yang akan ditulis (mungkin) di kemudian hari bersama dengan kedua temanku. Dan di sepanjang cerita ini, seharusnya terdapat dua karakter yang kupinjam dari mereka. Salah satunya adalah Sirene. Pada saat awal dari penulisan dari cerita Great Phoenix ini terdapat sebuah kesalahpahaman mengenai kapan pertama kali munculnya Sirene. Akhirnya, saya memutuskan untuk mengganti namanya dan membuatnya menjadi mekanik khusus untuk divisi dari Viltus. Semoga jawaban ini memuaskan.

Sekian saja dari saya. Semoga kalian semua masih menikmati seri ini dan masih menunggu chapter berikutnya keluar.

Sampai jumpa !