Chapter 34

Order


Operasi besar bagian kedua dari pihak Jepang pada akhirnya gagal dikarenakan armada pengintaian mereka mendapatkan serangan mendadak dari Abyssal yang sangat besar dan terpaksa meninggalkan wilayah laut tersebut. Itu semua merupakan perintah yang diberikan langsung oleh Grand Admiral Ichijo Mo dan juga Laksamana Muda Yoshida Satoshi selaku pemimpin dari seluruh operasi ini setelah mendengar kabar tersebut. Kapten Fujiwara Megumi, selaku pemimpin dari armada pertahanan, dan Kapten Takagi Akihiko, selaku pemimpin dari armada penyerangan, langsung memimpin armada mereka untuk membantu armada pengintaian yang diserang oleh Abyssal.

Setelah membantu armada pengintain, mereka semua langsung meninggalkan markas darurat yang mereka buat dan kembali ke Yokosuka. Itu semua dikarenakan satu hal. Kapten Viltus Amarov, pemimpin dari armada pengintain, cedera sangat parah dari serangan Abyssal tersebut. Baik Megumi dan Akihiko sangat terkejut pada saat mendengar Viltus yang menyerang maju ke depan untuk membuka jalan kembali Gadis Kapalnya dan ia kembali ke kapal komandonya dalam keadaan utuh dengan cedera yang cukup parah. Dan yang semakin membuat mereka berdua sangat terkejut adalah siapa yang membawa Viltus kembali ke kapal komandonya.

Pada saat itu, terdapat kekacauan di dalam kapal komando. Taihou yang sangat panik dikarenakan mendengar apa yang dikatakan oleh Aoba mengenai keberadaan Viltus dan juga Houshou yang marah kepada seluruh krunya membiarkan Viltus pergi. Tepat pada saat itu, Taihou mendadak terdiam sebentar dan langsung berlari keluar dari ruang komando di kapal tersebut. Semuanya mengikuti Taihou dan melihat Viltus yang dibawa oleh seseorang.

Deskripsi yang diberikan mengenai orang tersebut sama sekali tidak dapat dipercaya. Seorang pria dengan rambut putih dan kulit yang sangat pucat. Ia mengenakan pakaian laksamana hitam yang rusak di bagian lengannya. Selain itu, yang membuatnya menakutkan adalah warna matanya yang berwarna merah darah seperti milik Viltus yang sedang marah.

Pria itu langsung memberikan Viltus yang pingsan dan terluka sangat parah kepada Taihou dan kemudian berkata,

"Sebaiknya kau menjaga pria ini baik-baik... Dan jangan biarkan dia bertindak gegabah seperti ini."

"Mengapa dia pergi ke depan sana ?" tanya Taihou

"Pria yang jatuh cinta akan kehilangan akal sehatnya... Terutama jika dia tidak ingin kehilangan wanita tercintanya sekali lagi." jawab pria tersebut

"Lalu... Mengapa dirimu menyelamatkan dirinya ?" tanya Taihou sekali lagi

"Aku masih membutuhkan dirinya..." ujar pria tersebut

Taihou dan seluruh orang di tempat tersebut sangat terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh pria tersebut. Mereka semua masih berusaha memproses apa yang ada di hadapan mereka. Seorang pria yang berdiri di atas air diiringi dengan aura hitam dan lautan yang menghitam. Seperti yang selalu dilakukan oleh Abyssal. Ditambah dengan radar mereka yang menangkap keberadaan satu Abyssal di dekat mereka, mereka semakin yakin pria di hadapan mereka adalah Abyssal. Namun, pria itu berkata,

"Diriku bukanlah Abyssal yang kalian cari... Jika kalian bertanya di mana Abyssal tersebut, aku pun tidak tahu."

Semuanya semakin bingung dengan apa yang dikatakan oleh pria tersebut. Tidak berapa lama, ia menunduk dan kemudian berkata,

"Urusanku sudah selesai. Sampai jumpa di kemudian hari..."

Semuanya terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh pria tersebut. Tepat sebelum ia pergi, ia kembali berkata,

"Sampai jumpa ini tidak hanya untuk Taihou... Namun, kepada kalian semua."

Megumi berusaha mencerna cerita yang diberikan oleh Frederich, sementara Akihiko langsung memerintahkan seluruh Gadis Kapalnya untuk memperkuat radar mereka. Satoshi sendiri saat ini sedang menemani Taihou yang terlihat sangat bersalah atas kejadian yang menimpa Viltus. Ia melihat ke arah Viltus dan langsung berpikir,

"Ini semua akan sangat sulit... Teramat sangat sulit untuk dirimu dan dirinya."

Ia kemudian melihat ke arah Taihou yang benar-benar terus melihat ke arah Viltus dan juga mendengarkan beberapa suara. Suara dari Shoukaku yang ingin masuk ke dalam ruangan tersebut dan akan menyerang Taihou. Ia mendengar dari kru Viltus bahwa Shoukaku menyerang Taihou beberapa kali untuk melepaskan kekesalannya.

Satoshi langsung menarik nafas panjang dan kemudian berdiri dari kursinya. Ia kemudian berjalan ke arah pintu dan membuka pintunya. Ia melihat Zuikaku, Unryuu, Katsuragi, Amagi, dan Aoba yang berusaha menahan Shoukaku. Selain itu, semua Gadis Kapal kelas Kapal Perusak menangis karena apa yang dilakukan oleh Shoukaku.

Satoshi melihat ke arah Shoukaku dan berkata,

"Shoukaku, sebaiknya dirimu tidak melakukan untuk memperunyam kondisi ini. Semakin dirimu melakukan tindakan kasar, kau akan mempersulit kondisi dari Laksamanamu sendiri."

"Tch."

"Kau seharusnya sadar akan hal tersebut, Shoukaku." ujar Satoshi

"Jika demikian, mengapa dirimu masih melindungi orang ini ? Gadis Kapal yang gagal menjaga Laksamananya ? Ia tidak pantas disebut sebagai pelindung manusia jika ia gagal melindungi Laksamananya !" ujar Shoukaku

"Dengar... Kapten Amarov..." ujar Satoshi yang langsung disela

"Tetap saja dirinya gagal !" ujar Shoukaku

Aoba terlihat tidak tahan mendengar apa yang dikatakan oleh Shoukaku dan langsung menampar Shoukaku. Semuanya sangat terkejut dan sama sekali tidak menyangka Aoba akan melakukan tindakan seperti itu. Aoba kemudian melihat ke arah Shoukaku dan berkata,

"Kau jangan seenaknya saja berkata seperti itu Shoukaku ! Kau hanya melihatnya saja tanpa merasakan apa yang saat ini dirasakan oleh Taihou !"

"Oh... Jadi dirimu mengerti ? Ah... Aku lupa dirimu pun gagal melindungi Laksamanamu." ujar Shoukaku

"Kau..." ujar Aoba mengangkat tangannya sekali lagi

"Kalian berdua hentikan sekarang ! Jangan membuat situasi ini semakin rumit lagi !" teriak Satoshi

Semuanya melihat ke arah Satoshi yang marah kepada mereka berdua. Kemudian, Satoshi menarik nafas panjang dan berkata,

"Kalian semua keluar dari kapal komando ini dan bantu armada lain untuk melindungi kapal komando yang bergerak kembali ke Yokosuka."

"Baik." jawab semuanya

"Dan diriku tidak ingin mendengar pertengkaran antara kalian berdua. Maka dari itu, Shoukaku kau akan berada di sisi kanan dari formasi dan Aoba kau ada di sisi kiri dari formasi." ujar Satoshi

"Siap." ujar kedua Gadis Kapal tersebut sembari melihat ke arah satu sama lain.

Mereka semua kemudian meninggalkan Satoshi yang langsung menghela nafas. Ia langsung masuk dan melihat Taihou yang sedikit bergetar dengan hebat. Ia langsung mendengar Taihou berkata,

"Maafkan aku... Ini semua karena diriku... Aku..."

"Jangan salahkan dirimu, Taihou. Situasi seperti ini akan membuat semuanya menjadi tidak dapat berpikir dengan kepala dingin." ujar Satoshi

"Tetap saja... Jika saja diriku tidak memaksakan diri untuk menahan mereka..." ujar Taihou yang terdengar ingin menangis

"..."

"Maafkan aku... Maafkan aku... Maafkan aku..." ujar Taihou yang akhirnya menangis di depan tubuh Viltus yang sedang tertidur.

Satoshi tidak dapat mengatakan apapun mengenai kondisi ini dan hanya memilih diam saja. Taihou kemudian menangis di samping Viltus, sementara Satoshi meninggalkan Taihou sendirian untuk memimpin armada kembali. Semua di dalam kapal komando tersebut terdiam hingga akhirnya sampai di Yokosuka.


Satu minggu berlalu semenjak pertempuran tersebut. Viltus masih belum sadar dan dirawat di salah satu ruang gawat darurat di Yokosuka. Dan selama satu minggu itu, Taihou selalu menunggu di sebelahnya dengan wajah bersalah. Selama satu minggu itu, ia mempertanyakan mengapa Viltus melakukan hal tersebut dan juga menyalahkan dirinya sendiri yang menyebabkan Viltus seperti itu.

Sementara itu, di ruangan Grand Admiral. Ichijo Mo selaku pemimpin tertinggi dari angkatan laut Jepang dan Yanagi Tadahisa selaku salah satu tangan kanan dari Mo sedang membicarakan sesuatu. Tadahisa langsung berkata,

"Laksamana Masamune berkata bahwa ini merupakan urusan yang sangat penting untuk Yokosuka di kemudian hari."

"Beliau berkata apa, Laksamana Yanagi ?" tanya Mo

"Beliau berkata bahwa sebaiknya mereka tetap dibiarkan bersama jika itu merupakan yang terbaik untuknya." ujar Tadahisa

Mo langsung menghela nafas mendengar apa yang dikatakan oleh Tadahisa. Ia tahu situasi di Yokosuka sedang sedikit panas. Terdapat perpecahan di antara para Laksamana mengenai satu hal. Hubungan antara Gadis Kapal dan Laksamana. Banyak di antara mereka yang memilih untuk tetap menjaga jarak antara posisi Gadis Kapal dan Laksamana hanya sebagai atasan dan bawahan yang dapat digantikan. Namun, ada pula yang berpikir bahwa Gadis Kapal itu sederajat karena mereka pun manusia. Itu semua dikarenakan banyak yang mengikuti apa yang dilakukan oleh Kimura dan Viltus saat ini.

Dan dikarenakan kejadian ini, perpecahan itu semakin menjadi-jadi. Pihak yang pertama melayangkan protes kepada Mo secara langsung untuk menindaklanjuti peraturan di Yokosuka. Mereka merasa dengan semakin erat hubungan antara Gadis Kapal dan Laksamana, semakin besar pula kemungkinan sang Laksamana akan melakukan tindakan seperti Viltus dan menyebabkan kehilangan yang cukup besar. Tadahisa kemudian bertanya,

"Jadi, apa yang diinginkan oleh mereka ?"

"Mereka menginginkan Taihou untuk berhenti mendekati Laksamana Amarov atau membesituakan dirinya..." ujar Mo

"Hanya Taihou saja ?" tanya Tadahisa

"Iya. Hanya dirinya." jawab Mo

"Mengapa mereka hanya meminta Taihou saja ? Apakah karena saat ini dirinya dan Viltus sudah menjadi sepasang kekasih ?" ujar Tadahisa

"Itu sangat mudah. Akar dari seluruh masalah ini adalah tindakan dari Viltus dan Taihou." balas Mo

"Seharusnya anda sudah mengantisipasi kemungkinan ini." ujar Tadahisa

"Saya sama sekali tidak memikirkan hal ini dapat terjadi kembali setelah kejadian Laksamana Okazaki. Seharusnya dari dahulu diriku sadar Laksamana Okazaki merupakan orang yang sangat tidak pantas untuk membantu Laksamana Amarov." ujar Mo

"Mau dirimu membenci dirinya sekali pun, nasi sudah menjadi bubur." ujar Tadahisa

"Namun, diriku berterimakasih kepada dirinya mengajarkan sesuatu yang bernama sisi manusia kepada Laksamana Amarov... Tidak... Kepada Kazuki." ujar Mo

"Akhirnya dirimu memanggil dirinya dengan nama itu." ujar Tadahisa sembari menghela nafas

Mo sendiri langsung tersenyum pada saat Tadahisa berkata demikian. Namun, senyum itu langsung menghilang dan berkata,

"Terima kasih kepada semua kejadian kecil di Yokosuka ini, kita dapat melihat dirinya yang mengarah kepada kita."

"Kau benar." ujar Tadahisa

"Namun, entah mengapa Dokter Shibata belum melaporkan apapun kemari. Dirinya seharusnya sudah tiba di sini untuk memberi masukan apa yang akan kulakukan selanjutnya." ujar Mo

"Sebaiknya dirimu memikirkannya lebih lanjut lagi, Mo-san. Jika dirimu salah sedikit saja, kau akan kehilangan banyak hal." ujar Tadahisa

"Diriku mengetahui hal tersebut, Tadahisa-san." ujar Mo

Tidak berapa lama, mereka mendengarkan ketukan pintu diiringi dengan suara dari Norio. Mo langsung mempersilahkan dirinya masuk. Setelah masuk, Mo dan Tadahisa menyadari sesuatu yang sangat salah dari Norio. Ia terlihat sangat khawatir. Norio langsung menarik nafas panjang dan berkata,

"Diriku sudah melakukan tes berulang-ulang selama memperhatikan dirinya. Diriku berharap apa yang kulihat itu salah. Padahal dahulu dia lebih ke arah kita. Tidak mungkin dalam..."

"Dokter Shibata, sebaiknya dirimu memberitahukan saja langsung kepada kami apa hasil tes tersebut." ujar Mo

"Baiklah. Dirinya saat ini lebih mendekati mereka. Delapan puluh persen adalah mereka." ujar Norio

"Eh ?! Delapan puluh persen ?!" ujar Tadahisa dengan wajah terkejut

"Diriku pun sama terkejutnya seperti anda sekalin. Sisa dua puluh persen dari dirinya adalah kestabilan mentalnya. Jika kalian salah membuat keputusan mengenai nasib dari Taihou, itu akan membuat situasi kita semakin runyam." ujar Norio

"Saya sadar mengenai hal tersebut." ujar Mo

"Saya mendengar rumor bahwa ada beberapa orang yang membenci mereka. Dan saat ini mereka sedang melakukan berbagai tindakan untuk menjauhkan mereka. Jika mereka berhasil, tentu saja ini semua akan sia-sia." ujar Norio

"Saya tahu itu. Jika dirinya mengetahui hal tersebut dan bersama dengan mereka, diriku sudah kehilangan sesuatu yang memiliki nilai cukup tinggi untuk ditawarkan kepada dirinya." ujar Mo

"Dirinya ? Maksud anda Hakuno Natsumi ? Ah, tidak... Katerina Amarov." ujar Norio

"Tidak kusangka dirimu masih ingat nama asli dari wanita itu." ujar Mo

"Bagaimana diriku tidak mengingat namanya ? Dirinya merupakan wanita yang membuat diriku seperti ini. Jika saja pria itu tidak ada di sana, aku pasti sudah merebutnya." ujar Norio

"Kau masih dendam dengan keluarga itu rupanya." ujar Tadahisa

"Memang diriku masih kesal dengan keluarga itu. Namun, setidaknya diriku sudah melakukan berbagai percobaan dengan dua anak dari mereka." ujar Norio

Mo dan Tadahisa diam saja mendengar apa yang dikatakan oleh Norio. Mereka tahu Norio hanya menganggap Viltus sebagai bahan percobaannya, sama seperti apa yang menerima Keiko adik dari Viltus dahulu. Walaupun demikian, Mo pun hanya menganggap Viltus sebagai calon senjata jika terdapat masalah yang sangat besar di kemudian hari.

Tadahisa langsung menarik nafas panjang dan berkata,

"Dokter Shibata, apakah dirimu mampu membuatnya dirinya lebih stabil kembali ?"

"Mengenai itu sangat sulit." ujar Norio

"Eh ? Sulit ? Apakah tidak dapat menggunakan obat yang dibuat oleh Natsumi dan Masayuki ?" tanya Mo

"Tidak bisa. Obat yang dibuat oleh kedua orang itu cukup ampuh dahulu. Namun, untuk kasus satu ini..." ujar Norio dengan wajah sedikit khawatir

"Ada apa, Dokter Shibata ?" tanya Tadahisa

"Apa yang membuat dirinya menjadi delapan puluh persen ke arah mereka... Itu bukanlah hasil percobaan dari Masayuki." ujar Norio

"Bukan dari percobaan Masayuki ?!" ujar Mo

"Iya. Ini jauh lebih sulit dari dugaanku karena terdapat faktor lain yang membuatnya seperti itu." ujar Norio

"Namun, apakah kau tahu akar dari penyebab semua ini ?" tanya Tadahisa

Norio berpikir sebentar dan kemudian ingat sesuatu. Ia langsung melihat ke arah Tadahisa dan Mo dan berkata,

"Aku ingat seluruh kru dan Gadis Kapal di kapal komando dari Viltus melihat seseorang yang membawa Viltus kembali kepada mereka."

"Seseorang ? Salah satu Gadis Kapal ?" tanya Tadahisa

"Tidak. Ia adalah seorang pria dengan rambut putih dan mengenakan penutup mata hitam." ujar Norio

"Mengapa kau berpikir bahwa pria itu merupakan penyebabnya ?" tanya Mo

"Jika apa yang dikatakan oleh kru Viltus itu benar, dirinya tidak menggunakan kapal untuk membawa Viltus kembali kepada mereka. Ia meluncur di atas air seperti Abyssal dan Gadis Kapal." jawab Norio

Tadahisa dan Mo sangat terkejut pada saat mendengar hal tersebut. Tadahisa kemudian bertanya,

"Dirimu sudah membantu proyek ini semenjak dipimpin oleh Hakuno Masayuki, benar ?"

"Iya." ujar Norio

"Apakah ada pria lain..." tanya Tadahisa yang langsung disela oleh Norio

"Tidak ada. Tidak pria lain yang menjadi bahan percobaan saat itu. Begitu pula pada saat dipimpin oleh Hakuno Natsumi."

"Lalu, mengapa ada pria lain yang dapat meluncur di atas air seperti itu ?!" ujar Tadahisa dengan wajah terkejut

Mo yang diam saja selama pembicaraan itu akhirnya angkat bicara,

"Dokter Shibata, mungkinkah itu pria yang disebutkan oleh dirimu saat itu ?"

"Jika mendengar deskripsi dari semuanya, aku dapat berasumsi dirinya adalah orang tersebut. Namun, bagaimana mungkin seseorang yang berasal dari dalam mimpi Viltus dapat muncul di dunia ini ? Hal tersebut sangatlah tidak wajar !" ujar Norio

"Kita saat ini tidak perlu memikirkan mengenai pria tersebut. Apa yang menjadi masalah saat ini adalah kondisi dari Viltus Amarov dan permintaan dari beberapa Laksamana ini." ujar Mo

Norio dan Tadahisa melihat satu sama lain dan langsung mengangguk. Mo kemudian bertanya,

"Untuk masalah pertama, apakah dirimu yakin obat yang diberikan sebelumnya dapat menahan dirinya ?"

"Aku kurang yakin untuk masalah itu." ujar Norio

"Bagaimana jika dirimu menambah dosis dari obat tersebut ?" tanya Mo

"Jika aku melakukannya, itu dapat membunuhnya." ujar Norio

"Jika dirimu berkata demikian, kita berikan saja seperti biasa. Kita berharap dirinya sama sekali tidak melakukan apapun untuk masalah ini." ujar Mo

"Baik !" ujar Norio

Mo kemudian melihat ke arah Tadahisa dan berkata,

"Untuk masalah kedua, menurut dirimu apa yang harus kita lakukan ?"

"Jika dirimu bertanya demikian, kita tidak dapat memisahkan kedua orang itu. Jika ia mengetahui apa yang terjadi pada Taihou, aku yakin kita akan sangat kesulitan." ujar Tadahisa

"Jika kita meminta Taihou menjauhi Viltus, tentu saja itu akan membuat situasi semakin runyam." lanjut Mo

"Dan bila kita menolak apa yang diminta oleh mereka, tentu situasi di Yokosuka akan semakin runyam." ujar Tadahisa

Norio memperhatikan Tadahisa dan Mo yang terlihat sedang berpikir dengan keras mengenai sesuatu. Hingga akhirnya Norio mendengar ketukan pintu. Mo melihat ke arah Tadahisa dan langsung mempersilahkan orang yang mengetuk pintunya.

Pada saat pintu terbuka, mereka bertiga sangat terkejut melihatnya. Yanagi Shiro, pemimpin dari markas angkatan laut Kure, berdiri di sana. Ia langsung membuat hormat kepada mereka. Tadahisa langsung bertanya,

"Shiro sejak kapan dirimu di Yokosuka ? Dan mengapa dirimu di sini ?"

"Setelah mendengar kabar bahwa Viltus cedera setelah operasi terakhir, diriku langsung berangkat kemari untuk melihat kondisinya. Maafkan diriku tidak memberitahu dirimu, ayah." jawab Shiro

"Jika dirimu pergi, siapa yang memimpin di Kure ?" tanya Mo

"Okada-san yang memimpin untuk sementara waktu selagi saya datang kemari." jawab Shiro

"Orang dari polisi militer itu rupanya." ujar Mo

Norio melihat ke arah Tadahisa, Shiro, dan juga Mo dan kemudian bertanya,

"Laksamana Yanagi, saya mengetahui dirimu datang kemari untuk mengecek kondisi adik anda. Namun, mengapa dirimu datang kemari ?"

"Saya datang kemari dikarenakan mendengar berbagai rumor buruk mengenai Laksamana Amarov di markas ini. Selama beberapa kali saya kemari, saya sedikit pun tidak mendengar adanya keluhan mengenai tindakan Laksamana Amarov. Namun, sedikit demi sedikit saya mendengar kabar buruk tersebut. Sebenarnya apa yang terjadi ?" tanya Shiro

"Itu bukan urusanmu saat ini, Shiro." ujar Tadahisa

Shiro melihat ke arah ayahnya sendiri, lalu ke arah Mo. Ia langsung menghela nafas dan berkata,

"Jika ayah berkata demikian, maka saya tidak akan membahas masalah ini kembali."

"Terima kasih banyak, Shiro." ujar Tadahisa

"Namun sebelum saya pergi, saya memiliki satu pertanyaan yang harus diverifikasi lebih dahulu." ujar Shiro

"Diverifikasi ?" tanya Norio kepada Shiro

Shiro menutup matanya sebentar dan kemudian melihat ke arah Mo. Mo yang melihat mata tersebut langsung tersenyum dan berkata,

"Ya, dia merupakan salah satu yang selamat dari berbagai percobaan itu."

"Percobaan yang mana ?" tanya Shiro

"Seharusnya dirimu mengetahui percobaan yang mana. Saya yakin dirimu sudah membaca semuanya, Laksamana Yanagi." ujar Mo

"Saya tidak dapat mengelak dari fakta tersebut." ujar Shiro

Mendengar hal tersebut Tadahisa sangat terkejut dan melihat ke arah Shiro. Ia langsung berkata,

"Shiro ! Diriku sudah berkata dahulu untuk tidak mencari hal ini kembali !"

"Ayah, ini merupakan sesuatu yang menyangkut dengan kehidupan adikku sendiri. Tentu saja diriku akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi." balas Shiro

"Shiro !" ujar Tadahisa yang langsung disela oleh Mo

"Sudahlah, Tadahisa-san"

Mo kemudian melihat ke arah Shiro dan langsung memberikan dokumen permintaan dari beberapa laksamana. Shiro membacanya dan langsung mengerti pokok permasalahan di Yokosuka ini. Viltus telah melanggar satu peraturan penting di Yokosuka. Mo langsung berkata,

"Intuisimu berbeda dari mayoritas Laksamana di Yokosuka dan diriku mengetahuinya hanya dengan sekali melihat dirimu. Maka dari itu diriku membiarkan dirimu memimpin di daerah Kure."

"Aku sudah mendengar dari markas angkatan laut lain. Walaupun semua markas angkatan laut di Jepang berada di bawah Yokosuka langsung, mereka dapat menambah atau mengurangi peraturan di dalam markas mereka masing-masing." ujar Shiro

"Lihat... Intuisimu sangat luar biasa, Shiro." ujar Mo

"Jadi, dirimu memintaku di Kure untuk membuat beberapa peraturan yang berbeda dengan Yokosuka. Namun, secara keseluruhan hampir menyerupai di sini." ujar Shiro

"Tepat sekali." balas Mo

Shiro membaca dokumen tersebut dan kemudian berkata,

"Apakah kalian sudah mendapatkan solusi untuk masalah ini ?"

"Kami memiliki rencana untuk mengirim mereka berdua bersama-sama..." ujar Mo yang langsung disela oleh Shiro

"Maafkan jika saya cukup lancang, Grand Admiral. Namun, jika dirimu mengirim mereka bersama-sama ke Kure, masalah ini akan kembali timbul ke permukaan dan pada akhirnya akan mereka akan melayangkan tanda ketidakpercayaan mereka kepada anda."

"Apa yang kau katakan ada benarnya." ujar Mo

"Jika demikian, apakah anda memiliki rencana lain ?" tanya Norio mendadak

"Jika itu adalah diriku, aku akan menampung semua Gadis Kapal di bawah arahan Viltus di Kure. Beritahukan kepada mereka bahwa mereka dipindahkan ke tempat yang sama sekali tidak diketahui." ujar Shiro

"Itu sangat riskan. Jika mereka dipindahkan dari Yokosuka ke tempat lain tanpa memberitahu Viltus, ia dapat saja menjadi sedikit depresi. Kau seharusnya sadar dirinya sudah lebih mendekati mereka dan jika semakin depresi semua ini akan sia-sia." ujar Norio

"Seberapa besar dirinya mendekati mereka ? Dan apa yang terjadi jika ia sudah menjadi seperti mereka ?" tanya Shiro

"Ia dapat memancarkan gelombang yang memancing mereka kemari. Selain itu, gelombang tersebut dapat digunakan untuk membaca pikiran dari mereka dan juga mempengaruhinya. Untuk pertanyaan pertama, dirinya sudah delapan puluh persen mendekati mereka." ujar Norio

"Jadi itu yang menjadi masalah utama dari seluruh pembicaraan ini." ujar Shiro

Shiro berpikir sebentar dan kemudian ia langsung berkata,

"Grand Admiral, walaupun ini terdengar cukup sulit... Namun, saya mengajukan cara yang saya berikan ini untuk masalah ini."

"Namun, bagaimana dengan..." ujar Norio yang langsung disela oleh Shiro

"Untuk masalah Viltus, diriku dapat percaya pada ayahku untuk memberitahu dirinya."

"Diriku kurang yakin untuk memberitahukan dirinya berita tersebut. Namun, akan ayah coba setelah dirinya sadar." jawab Tadahisa

"Setelah dirinya cukup sehat, dirimu dapat mengirimkan Viltus ke Kure. Dan selama di Kure, biarkan saya dan Hayate yang mengawasi dirinya." ujar Shiro

"Apakah dirimu dapat dipercaya ?" tanya Mo

"Anda meminta tolong kepada keluarga Yanagi untuk mengawasi Viltus selama ini. Selama di Yokosuka ini, ayah saya yang memperhatikan dirinya dan memberitahu dirimu. Bila Viltus berada di Kure, maka tanggung jawab tersebut jatuh kepada saya." ujar Shiro

Mo tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Shiro, sementara Tadahisa terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Shiro. Ia sama sekali tidak menyangka Shiro dapat bernegosiasi dengan mudah seperti itu. Akhirnya, Mo berbicara,

"Baiklah, diriku akan mengikuti permintaanmu. Dan sebagai gantinya, sebaiknya dirimu jangan membocorkan masalah ini kepada Kazuki. Dan sebisa mungkin dirimu jangan mendekati gedung itu lagi."

"Siap !" balas Shiro

"Diriku tidak dapat sepenuhnya mengawasi dirimu dan Kazuki di Kure. Namun, mendengar dirimu yang sangat yakin, aku dapat dikatakan rela membiarkan Kazuki di tanganmu." lanjut Mo

"..."

"Sebaiknya kau menambahkan satu peraturan di sana. Tidak ada yang boleh masuk ke dalam gedung tersebut. Termasuk dirimu." ujar Mo

"Baik !" balas Shiro

"Terima kasih banyak telah memberikan masukan kepada saya, Laksamana Yanagi." ujar Mo

"Sama-sama, Laksamana Ichijo. Sayalah yang merasa tersanjung dikarenakan anda mendengarkan masukan dari saya." balas Shiro

Shiro langsung memberi hormat dan menjelaskan lebih terperinci kembali mengenai rencana mereka. Setelah itu, Shiro mohon ijin untuk meninggalkan Yokosuka untuk kembali ke Kure. Norio melihat ke arah Shiro dan berkata,

"Tadahisa-san, semakin lama diriku melihat dirimu dari dalam Shiro-san."

"Anak itu sangat keras kepala jika menyangkut masalah adiknya. Maafkan kelancangan putri saya yang satu ini, Grand Admiral." ujar Tadahisa

"Itu bukan masalah. Menurutku rencananya cukup bagus. Selain dapat meredam berbagai masalah di sini, kita masih dapat menjaga Kazuki di bawah pengawasan kita." ujar Mo

"Namun, Polisi Militer di Kure sedikit berbeda dengan di Yokosuka." ujar Tadahisa

"Aku tahu itu. Diriku sebenarnya menyiapkan Kure jika beberapa rencana awal gagal. Namun, karena hal ini, semuanya berjalan lebih cepat dari dugaan." ujar Mo

"Namun, apakah rencana itu akan berhasil ?" tanya Norio

"Semuanya tergantung kepada anda, Tadahisa-san." ujar Mo sembari melihat ke arah Tadahisa

"Semoga saja diriku dapat melakukan hal tersebut. Permintaan dari putriku yang satu ini... Akan sangat sulit mengingat apa yang diberitahukan oleh Dokter Shibata." jawab Tadahisa

"Baiklah... Kita sudahi saja dahulu pembicaraan ini. Kita akan mengumpulkan semua Laksamana Tinggi di Yokosuka untuk memberitahukan keputusanku." ujar Mo

Tadahisa dan Norio langsung memberi hormat kepada Mo yang meninggalkan ruangan tersebut. Tadahisa terlihat sedikit khawatir dengan keberhasilan dari rencana yang diberikan Shiro kepada dirinya, sementara Norio terlihat tidak senang karena salah satu kelinci percobaannya akan sangat jauh dari genggaman tangannya. Namun, mereka kesampingkan hal tersebut karena mereka tahu Mo akan meminta mereka dan memberikan sedikit masukan di kemudian hari.


Sampai kapan dirimu akan tertidur ?

Jangan membuat diriku kecewa.

Bangunlah dari mimpimu... Dan lihatlah kenyataan di depanmu !

Viltus membuka matanya dan ia masih sedikit kesulitan untuk melihat di sekitarnya. Semua terlihat samar-samar. Ia melihat ke arah kiri dan kanannya. Ia seperti melihat vas bunga dengan beberapa bunga di dalamnya. Selain itu, ia mendengar suara mesin di sebelah kanannya. Ia berusaha berbicara namun tidak dapat ia lakukan karena ia merasa tenggorokannya sangat kering.

Ia kemudian melihat ke arah kiri kembali dan ia dapat melihat sedikit lebih jelas. Seorang suster melihat dirinya dan kemudian langsung berlari ke arah luar. Ia sama sekali tidak mengetahui apa yang terjadi dan tidak berapa lama ia melihat Norio yang masuk.

Norio langsung memegang tangan Viltus dan mengecek denyut nadinya sekaligus ke arah mesin di sampingnya. Ia kemudian melihat ke arah Viltus dan berkata,

"Apakah kau dapat melihat diriku ?"

"I... ya..." jawab Viltus

"Kau tidak perlu menjawab dengan berbicara. Mengangguk bila kau iya, dan gelengkan kepalamu bila tidak." ujar Norio

Viltus langsung mengangguk mendengar apa yang dikatakan oleh Norio. Norio kemudian langsung meminta suster di sebelahnya untuk mengambil sesuatu. Norio langsung memasang stetoskop dan mendengar detak jantung dari Viltus. Tidak berapa lama, suster tersebut kembali membawa satu alat suntik. Norio kemudian mengambil sampel darah Viltus dan kemudian bertanya kepada Viltus,

"Apakah dirimu dapat menggerakkan tanganmu ?"

Viltus berusaha untuk mengangkatanya dengan sedikit susah payah. Norio mengangguk dan kemudian berkata,

"Sebaiknya kau istirahat saja dahulu. Saya akan memanggil ayahmu kemari. Dan untuk sementara waktu biarkan dirimu tenang."

Viltus mengangguk mendengar apa yang dikatakan oleh Norio. Setelah itu ia melihat ke arah langit-langit dan berusaha mengingat apa yang terjadi sebelumnya. Ia terus berusaha hingga akhirnya ia mengingat senyum yang diberikan oleh Hakai kepadanya. Ia ingat darah yang mengucur dari tubuhnya. Ia ingat tubuhnya yang rusak pada saat bersama Hakai. Ia ingat semuanya. Dalam sekejap, ia mulai panik dan berteriak dengan keras. Semua suster di sana langsung berlari ke arah Viltus dan memberikan Viltus obat penenang. Setelah itu, Viltus kembali tertidur.

Norio yang mendengar laporan itu langsung berkata,

"Trauma dari pertempuran sebelumnya... Ini akan sangat sulit."


Tiga hari kemudian, Viltus sudah sedikit tenang dan kali ini ia bersama dengan Tadahisa di sebelahnya. Viltus langsung bertanya kepada Tadahisa,

"Ayah... Bagaimana hasil dari operasi sebelumnya ?"

"Operasi itu gagal. Semuanya terpaksa mundur karena serangan mendadak dari Abyssal." jawab Tadahisa

"Sepertinya, penyebab utamanya adalah diriku. Maafkan aku." ujar Viltus

"Itu bukan sepenuhnya salahmu, Viltus." ujar Tadahisa

Viltus melihat ke arah Tadahisa yang terlihat tidak nyaman akan sesuatu. Viltus langsung berkata,

"Sepertinya diriku akan dihukum oleh Grand Admiral, ya ?"

"Mengenai itu..." ujar Tadahisa dengan nada kurang yakin

"Tentu saja diriku akan dihukum. Karena diriku, mereka semua mundur dan menyebabkan banyak kerusakan di pihak kita." ujar Viltus

"..."

"Oh... Selain itu, sudah berapa lama diriku tidak sadarkan diri ?" tanya Viltus

"Jika ditambah dengan obat penenang yang kau terima dahulu, itu sudah satu bulan berlalu." jawab Tadahisa

"Satu bulan ? Wah, itu cukup lama juga." ujar Viltus

"..."

"Tapi, itu jauh lebih baik daripada diriku tidak sadarkan diri sama sekali di laut luas sana. Seperti Kimura." ujar Viltus sembari menutup matanya

"Iya. Diriku cukup senang dirimu dapat kembali kemari dalam keadaan utuh." ujar Tadahisa

"Daripada itu, apa yang terjadi di markas ini selama diriku tidak sadarkan diri ?" tanya Viltus

"Kapten Kouga dipindahkan ke markas angkatan laut lain. Semua mengatakan Yokosuka ini terlalu kecil bagi dirinya." ujar Tadahisa

"Begitukah ? Semoga dia sukses di markasnya yang baru dan semoga saja dirinya tidak menyulitkan pemimpin di sana." ujar Viltus sedikit tertawa

"Iya." balas Tadahisa

Setelah itu mereka berdua terdiam karena mereka tidak menemukan apapun untuk dibicarakan saat itu. Viltus dapat melihat Tadahisa terlihat tidak tenang pada saat bersama dirinya. Akhirnya, Viltus langsung berkata,

"Ayah, tenang saja... Diriku sudah cukup sehat saat ini."

"Aku tahu itu." ujar Tadahisa

"Daripada itu, aku penasaran apakah Ibu atau Shiro-nee datang berkunjung kemari selama diriku tidak sadarkan diri." ujar Viltus

"Ibumu datang empat kali kemari. Ia terlihat sangat cemas pada saat mendengar dirimu yang tidak sadarkan diri setelah operasi tersebut." ujar Tadahisa

"Bagaimana dengan Shiro-nee ?" tanya Viltus

"Ia datang pada saat satu minggu pertama dirimu tidak sadarkan diri." jawab Tadahisa

"Sudah cukup lama sekali, ya..." ujar Viltus

Viltus kemudian melihat ke arah pintu ruangannya dan berkata,

"Apakah di sini terdapat peraturan untuk orang tertentu tidak dapat menemui diriku ?"

"Eh ? Mengapa kau berpikir demikian ?" tanya Tadahisa

"Diriku ini sudah sadar dan tentu saja kabar tersebut sudah terdengar oleh seluruh kru di kapal komandoku. Seharusnya mereka menemui diriku sekarang. Begitu pula dengan seluruh Gadis Kapalku." ujar Viltus

"..."

"Namun, aku berpikir seperti itu juga karena diriku merupakan penyebab utama kekalahan tersebut. Dapat dikatakan diriku sudah membuat masalah di dua operasi besar di Yokosuka ini. Diriku sama sekali tidak pantas untuk mengisi posisi dari pemimpin armada pengintaian Angkatan Laut Jepang cabang Yokosuka." lanjut Viltus

"Seperti yang ayah sebutkan tadi. Itu bukanlah salahmu. Tidak ada yang menyalahkan dirimu di kejadian tersebut." ujar Tadahisa

Viltus melihat sekali lagi ke arah Tadahisa yang masih terlihat tidak yakin. Viltus melihat ke depan dan langsung berkata,

"Mengapa ayah di sini ?"

"Tentu saja diriku akan mengunjungi putraku yang baru sadarkan diri." ujar Tadahisa

"Jika demikian... Mengapa dirimu terlihat bingung dan sangat khawatir akan sesuatu ?" ujar Viltus

Tadahisa sangat terkejut pada saat Viltus berkata demikian. Ia benar-benar lupa mengenai Viltus yang dapat membaca seseorang dari ekspresi dan tindak-tanduknya. Ia langsung memalingkan wajahnya dan ingin berbicara sesuatu, namun disela oleh Norio yang masuk,

"Ah.. Maafkan saya. Saya mengira anda sudah selesai berbicara dengan Kapten Amarov."

"Saya yang seharusnya meminta maaf. Sepertinya diriku sudah melebihi batas waktu kunjungan dengan dirinya, ya ?" ujar Tadahisa

"Iya. Apakah..." ujar Norio yang langsung terdiam

Ia tahu bahwa Tadahisa belum memberitahu Viltus apapun mengenai kabar tersebut. Norio langsung menatap tajam ke arah Tadahisa yang langsung mendapat anggukan kurang yakin dari Tadahisa. Viluts memperhatikan mereka berdua dan semakin yakin sesuatu terjadi selama dirinya tidak sadarkan diri. Ia langsung berkata,

"Ayah... Sebenarnya apa yang terjadi ?"

"Viltus... Kumohon dirimu tetap tenang dan tidak panik pada saat mendengar ini." ujar Tadahisa sembari berdiri

"Eh ? Jika kau berkata demikian bagaimana caranya diriku dapat tenang ?" ujar Viltus

Jantung Viltus berdetak kencang pada saat mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Tadahisa. Ia berpikir apa yang terjadi hingga akhirnya ia sadar sesuatu. Ia merasa ini memiliki sangkut pautnya dengan Taihou. Ia langsung berkata,

"Apa yang terjadi pada Taihou ?!"

Tadahisa sama sekali tidak menjawabnya dan langsung menarik tangan Viltus. Ia menaruh sesuatu di telapak tangan Viltus. Viltus terdiam sebentar dan langsung merasakan sesuatu yang sangat familiar. Sebuah cincin. Cincin yang digunakan oleh Taihou setelah ia berikan dahulu. Ia benar-benar terkejut dan langsung terdiam. Setelah terdiam cukup lama, ia melihat ke arah Tadahisa. Baik Tadahisa dan Norio sangat terkejut melihat warna mata yang diperlihatkan oleh Viltus. Warna kuning emas.

Ia langsung berkata,

"Apa yang kau lakukan kepada Taihou ?! Jangan kalian membunuhnya !"

"Tidak kami tidak membunuhnya." ujar Tadahisa

"Jika demikian, apa yang terjadi pada dirinya ?! Di mana dia ?" tanya Viltus sekali lagi

"Dia..." ujar Tadahisa terdiam

Viltus kembali bertanya kepada Tadahisa , sementara Norio memperhatikan monitor dari Viltus. Ia sedikit tersenyum melihat hal tersebut. Tadahisa kemudian menarik nafas panjang dan berkata,

"Dirinya dipindahkan dari Yokosuka setelah berbagai investigasi dari operasi sebelumnya. Semuanya sudah disetujui oleh Grand Admiral Ichijo dan dirinya sudah dipindahkan semenjak tiga minggu yang lalu."

"Mengapa ? Mengapa harus dirinya ?! Apa karena diriku yang..." ujar Viltus yang disela oleh Tadahisa

"Diriku tidak dapat memberitahukan kepada dirimu. Itu merupakan informasi yang sama sekali tidak boleh didengar oleh orang luar selain diriku, Laksamana Masamune, dan Grand Admiral Ichijo." ujar Tadahisa

"Jika demikian... Taihou dipindahkan kemana ?" tanya Viltus

"Itu juga sesuatu yang dapat kuberitahukan kepada dirimu." ujar Tadahisa

Norio memperhatikan dengan seksama monitor di dekat Viltus dan langsung membuat wajah panik. Ia melihat ke arah Viltus yang mulai menggerakkan kakinya. Untuk seseorang yang sudah satu bulan tidak menggerakkan kakinya tentu saja akan sangat sulit untuk menopang tubuhnya. Namun, tidak dengan Viltus. Ia mulai ke posisi duduk dan kemudian langsung berusaha melompat ke arah Tadahisa. Norio langsung berteriak,

"Penjaga ! Bantu diriku menahan pasien ini !"

"AYAH ! Mengapa harus Taihou yang menerima hal tersebut ?! MENGAPA HARUS DIRINYA ?!" teriak Viltus

"Maafkan ayah..." ujar Tadahisa

"Aku tidak akan..." ujar Viltus yang mendadak ditarik oleh beberapa penjaga untuk kembali ke tempat tidurnya.

Viltus meronta dan mampu mendorong satu orang yang menahan dirinya. Norio langsung berlari dan sadar jika ia tidak cepat membuat Viltus tenang, sesuatu akan menangkapnya. Norio mengambil satu alat suntik dan langsung menyuntik Viltus. Setelah itu, Viltus mulai kehilangan kesadarannya dan menjadi sangat tenang. Norio memperhatikan dengan seksama monitor di sebelahnya dan langsung menghela nafas. Ia memperhatikan setidaknya dua penjaga terlempar pada saat menahan Viltus yang mengamuk.

Norio kemudian berjalan ke dekat Tadahisa dan berkata,

"Hampir... Yang tadi itu... Hampir."

"Kau tahu... Ini sangat sulit untuk memberitahukan dirinya bahwa Taihou dipindahkan dan terpisah dari dirinya." ujar Tadahisa

"Bukankah akan lebih sulit lagi untuk memberitahukan... Asal-usul dari Taihou ?" tanya Norio

"..."

"Ini sudah lebih dari cukup. Apakah dirimu memiliki permintaan khusus kepada diriku ?" tanya Norio

"Setelah dirinya sadar dan cukup sehat... Katakan untuk menemui Grand Admiral Ichijo." ujar Tadahisa

"Hanya itu saja ?" tanya Norio kembali

"Ini untuk dirimu... Jangan terlalu membebani dirinya." ujar Tadahisa sembari meninggalkan ruangan tersebut.

"Jangan membebani dirinya ? Bukankah itu dirimu yang membebani dirinya ? Sudahlah. Setidaknya sekarang diriku memiliki kesempatan terakhir untuk mengetes dirinya." ujar Norio sembari tersenyum

Ia langsung memulai kembali pengecekan tubuh Viltus yang sudah tidak sadarkan diri.


Viltus sudah sadar kembali dan kali ini dirinya benar-benar tidak memancarkan hawa kehidupan. Ia memperhatikan cincin di tangannya dan langsung menggenggamnya. Ia berkata,

"Taihou... Maafkan aku... Seharusnya... Diriku tidak melakukan itu..."

Dan dikarenakan kondisi mentalnya yang demikian, ia sembuh lebih lama dari dugaan. Setelah ia keluar dari rumah sakit militer, dirinya langsung berjalan ke arah kantornya. Sepanjang perjalanan ke kantornya, ia bertemu dengan Toshiko, Akira, Akihiko, dan Megumi yang sangat khawatir dengan Viltus. Dan rasa khawatir mereka benar-benar terjadi karena mata Viltus benar-benar kosong. Mereka tahu, Viltus sudah diberitahu oleh seseorang mengenai apa yang terjadi pada Taihou.

Selama satu minggu dirinya di dalam kantornya, semuanya dapat melihat dirinya yang sedikit kaku. Selain itu, walaupun tubuhnya ada di sana, jiwanya menghilang entah kemana. Dan dalam rentang waktu tersebut semua pekerjaannya sedikit kacau.

Seluruh anggota kru dari Viltus benar-benar tidak tahan melihat apa yang terjadi pada Viltus, namun mereka sadar mereka tidak dapat melakukan apapun. Ini semua benar-benar di luar kemampuan mereka semua. Dan yang membuat situasi semakin runyam adalah semua Gadis Kapal di bawah arahan Viltus sudah digantikan dengan yang lain. Viltus sama sekali tidak menyukai situasi saat itu, namun ia harus menerimanya begitu saja karena itu adalah tugasnya sebagai Laksamana yang memimpin Gadis Kapal untuk melindungi manusia.

Ia memperhatikan ruang kerjanya yang sedikit sepi. Ia tidak melihat Hatsuzuki yang selalu duduk di pangkuan Anastasia. Ia pun tidak melihat Ryuujou dan Magyar yang bertengar satu sama lain yang kemudian dilerai oleh Shigure. Ia pun tidak melihat Marcos dengan Shigure yang terkadang bercumbu satu sama lain, yang kemudian diganggu oleh Yamashiro. Dan yang paling penting adalah tidak ada gadis yang ia cintai di sebelahnya. Tidak ada seorang Gadis Kapal bernama Taihou yang menyuruhnya istirahat. Tidak ada seorang Gadis Kapal bernama Taihou yang memberi semangat kepada dirinya. Semuanya hampa di sebelahnya.

Ia kemudian melihat ke arah cincin yang ada di tangannya dan kemudian membuatnya menjadi sebuah kalung. Ia langsung berkata,

"Aku tidak dapat membiarkan ini berlarut-larut. Jika seperti ini terus... Aku akan mempengaruhi semuanya."

Walaupun demikian, sebagian dari hatinya tidak rela dengan hal tersebut. Ia langsung menghela nafas dan melihat ke salah satu sisi dari ruangan tersebut. Ia tersenyum dan berkata,

"Taihou... Berikan kepada diriku kekuatan di sini. Walaupun kita terpisah, aku akan tetap meyakinkan dirimu... Aku masih mencintai dirimu."

Ia kemudian langsung mengerjakan dokumen di hadapannya. Namun, tidak berapa lama seseorang mengetuk pintu kantornya. Viltus langsung mempersilahkan orang tersebut masuk dan melihat Satoshi yang berdiri di sana. Viltus langsung berkata,

"Selamat siang, Laksamana Muda Yoshida."

"Selamat siang, Kapten Amarov." balas Satoshi

"Suatu hal yang langka untuk dirimu datang kemari. Ada apa gerangan ?" tanya Viltus

"Mengecek kondisi dirimu." jawab Satoshi singkat

"Hanya itu ? Aku yakin itu semua karena Akihiko dan Megumi yang khawatir terhadap diriku." ujar Viltus

"Sepertinya dirimu sudah cukup tenang." ujar Satoshi

"Tenang ? Mungkin di luar terlihat tenang, namun di dalam hatiku ini tidak dapat tenang. Dapat dikatakan aku marah. Marah kepada semuanya dan juga diriku sendiri." ujar Viltus sembari melihat ke arah Satoshi

Satoshi dapat melihat dengan jelas warna mata Viltus yang berubah di hadapannya. Warna mata kuning emas yang juga ia sempat lihat dahulu. Satoshi dapat merasakan hawa yang sangat tidak enak dari Viltus dan itu membuatnya benar-benar tertekan. Ia langsung menarik nafas dan berkata,

"Selain ingin mengecek kondisimu, saya pun mendapat perintah dari Grand Admiral Ichijo."

"Grand Admiral ?" tanya Viltus

"Iya. Beliau ingin bertemu dengan dirimu untuk membahas perihal operasi sebelumnya." ujar Satoshi

Jika apa yang dikatakan oleh Norio kepada dirinya benar, ada kemungkinan di mana Viltus akan menyerang dirinya. Ia langsung menyiapkan senjata apinya dan bersiap untuk menembak Viltus jika ia mulai menyerang. Namun, Viltus terlihat diam dan tidak berapa lama berkata,

"Sepertinya beliau ingin menghukum diriku, ya ? Dasar ayah... Kau sering sekali berbohong kepada diriku."

"Eh ?"

"Sudahlah. Saya akan segera mendatangi Grand Admiral. Katakan kepada beliau diriku akan mengunjungi ruangan beliau nanti sore." ujar Viltus

"Ah... Baik." ujar Satoshi

"Apakah ada yang ingin dibicarakan kembali ?" tanya Viltus

"Kau... Baik-baik saja ?" tanya Satoshi

"Entahlah. Aku pun tidak dapat menjawab hal tersebut." ujar Viltus sembari melihat ke arah jendela

Walaupun hanya sebentar, Satoshi dapat melihat sebuah bayangan hitam yang memegang pundak dari Viltus. Bayangan tersebut seperti melihat ke arah dirinya dan tersenyum sinis. Ia langsung menarik nafas dan berkata,

"Saya memiliki urusan setelah ini. Saya mohon undur diri dahulu."

"Silakan. Katakan saja kepada Grand Admiral bahwa diriku akan hadir nanti sore." balas Viltus

Setelah itu, Satoshi langsung meninggalkan ruangan tersebut dan melaporkan kepada Norio apa yang baru saja ia lihat di tempat Viltus. Ia merasa ia membutuhkan banyak penjelasan dari Norio, yang ia yakin akan ditolak mentah-mentah oleh Norio. Sementara itu, Viltus masih terdiam sembari melihat ke arah luar jendela dan kemudian tersenyum. Sebuah senyum yang ia paksakan. Ia langsung berkata,

"Mari kita lihat... Apa yang akan dikatakan oleh Grand Admiral mengenai diriku."


Viltus sudah tiba di depan ruangan Grand Admiral dan kemudian langsung mengetuk pintunya. Tidak berapa lama, ia mendengar ijin untuk masuk dari Mo. Ia langsung membuka pintu dan melihat Mo yang sedang berbincang-bincang dengan Musashi. Viltus langsung memberi hormat dan berkata,

"Kapten Viltus Amarov melapor kepada Grand Admiral Ichijo."

"Selamat datang, Kapten Amarov." ujar Mo

Setelah itu, Mo memerintahkan Musashi untuk meninggalkan mereka berdua sendirian. Musashi langsung mengangguk dan meningalkan ruangan tersebut. Setelah itu, Mo langsung melihat ke arah Viltus dan berkata,

"Baiklah, daripada kita menghabiskan cukup banyak waktu, kita akan langsung ke pokok permasalahannya."

"Baik." ujar Viltus

Mo langsung mengangguk dan berkata,

"Baiklah. Kapten Amarov, berikan alasan kepada diriku mengapa kau menerjang maju ke lini depan sendirian tanpa bantuan Gadis Kapal dan menggunakan kapal kecil."

"Saya melakukan itu untuk membuka jalan kembali bagi Gadis Kapalku agar mereka kembali dalam keadaan utuh." ujar Viltus

"Namun, dengan bayaran nyawamu ? Untung saja dirimu dapat kembali kemari. Jika dirimu meninggal seperti Kapten Okazaki Kimura, pasti semuanya akan jauh lebih runyam lagi." ujar Mo

"..."

"Siapa yang menyebabkan dirimu maju ke lini depan ?" tanya Mo

"Anda seharusnya sudah mengetahuinya karena anda sudah mengirim Gadis Kapal yang bersangkutan keluar dari Yokosuka ke markas lain." jawab Viltus

"Mengapa kau ingin ke lini depan ?" tanya Mo

"Saya akan jujur kepada anda untuk masalah ini. Saya tahu ini merupakan salah satu halangan yang harus saya hadapi dan sekarang saya akan berbicara secara langsung. Saya mencintai Taihou dan tidak ingin kehilangan dirinya." jawab Viltus

"Sama seperti kasus Kapten Okazaki rupanya." ujar Mo

"..."

"Kau seharusnya sadar mengenai peraturan di Yokosuka ini, Kapten Amarov." ujar Mo

"Ya. Saya menyadari saya telah melanggar salah satu peraturan di Yokosuka ini. Dan itu adalah masalah mencintai Gadis Kapal." ujar Viltus

"Gadis Kapal hanyalah sebuah senjata. Mereka dapat digantikan oleh yang baru setiap kali mereka tenggelam." ujar Mo

"Namun, tidak dengan ingatan dan perasaan mereka." balas Viltus

"Kau benar-benar sudah terpengaruh oleh Kapten Okazaki." ujar Mo

"Ya. Dan saya pun tidak malu untuk mengakui hal tersebut. Saya pun sudah berusaha untuk tidak jatuh cinta kepada Taihou. Namun, senyum yang ia berikan kepada diriku, air matanya yang mengalir untuk diriku, tawa yang kudengar bersama, dan berbagai hal lain telah mengubah diriku. Dan itu mengingatkan diriku kepada gadis yang kucintai dahulu." ujar Viltus

"..."

"Dan saya sadar bahwa saya sudah melanggar peraturan tersebut selama anda berada di Kure." lanjut Viltus

Mo hanya terdiam saja mendengar apa yang dikatakan oleh Viltus. Ia langsung melihat ke arah Viltus dan kemudian berkata,

"Apakah dirimu menyadari situasi di Yokosuka ini ?"

"Situasi di sini ?" tanya Viltus

"Terdapat perpecahan di antara para Laksamana. Mereka yang mendukung dirimu dan mereka yang mengikuti peraturan." jawab Mo

"Tidak. Saya sama sekali tidak menyadari hal tersebut." balas Viltus

"Pihak kedua yang tidak ingin Gadis Kapal memiliki hubungan dengan Laksamana sudah melayangkan berbagai keluhan mengenai kalian berdua beberapa kali. Dan dikarenakan operasi terakhir, mereka membuat serangan yang cukup keras untuk kalian berdua." ujar Mo

"Dan sepertinya itu alasan mengapa dirimu mengirim Taihou keluar dari Yokosuka." ujar Viltus

"Iya." jawab Mo

"Jika demikian, Taihou anda kirim ke mana ?" tanya Viltus

"Maaf. Itu sama sekali tidak dapat kuberitahukan kepada dirimu." jawab Mo

Viltus terdiam mendengar itu. Mo memperhatikan Viltus sebentar dan dapat melihat dengan jelas dirinya sedikit kesal. Mo sadar dirinya harus memberitahukan keputusan selanjutnya atau radar akan menangkap sesuatu di Yokosuka. Ia langsung berkata,

"Dan berdasarkan pembicaraan yang cukup panjang dengan seluruh petinggi Yokosuka. Kami semua memutuskan untuk menghukum dirimu atas hal ini."

"Hukuman... Apakah itu ?" tanya Viltus dengan nada sedikit datar

"Dirimu akan dipindahkan dari Yokosuka menuju markas angkatan laut lain." jawab Mo

"Dengan kata lain diriku akan dijauhkan dari Taihou. Seperti dugaanku." ujar Viltus

"Dirimu akan dipindahkan minggu depan." ujar Mo yang langsung disela

"Apakah seluruh anggota kru di kapal komandoku akan dikirim ke markas angkatan laut tersebut ?" tanya Viltus

"Mengenai itu..." ujar Mo dengan nada kurang yakin

"Setidaknya biarkan mereka semua bersama diriku. Magyar Libyet, Anastasia Konoplyanka, Elisa von Manstein, Marcos Luiz de Souza, dan Frederich Willhelmson untuk bersama diriku." ujar Viltus

"Untuk empat orang pertama saya dapat setuju. Namun, untuk orang yang terakhir saya kurang yakin." ujar Mo

"Saya tidak dapat meninggalkan dirinya sendirian di sini. Saya tahu semuanya memberikan masukan yang baik untuk Frederich di sini karena mereka segan kepada diriku. Namun, bila diriku tidak ada di sini, saya sedikit kurang yakin. Lagipula dirinya sudah terdaftar sebagai salah satu kru di kapal komandoku." terang Viltus

"Begitu ya..." ujar Mo

"Jika anda menolak hal tersebut, mungkin saya akan..." ujar Viltus yang langsung disela oleh Mo

"Itu akan saya usahakan. Setidaknya ini yang dapat saya lakukan kepada dirimu."

"Terima kasih banyak." balas Viltus

"Kau akan mendapatkan hasilnya lebih kurang tiga hari dari sekarang. Dan selama menunggu, silakan berbenah dahulu." ujar Mo

"Siap." balas Viltus

Viltus kemudian mohon undur diri dan kemudian bertemu dengan salah satu Gadis Kapal di sana untuk memanggil seluruh anggota krunya untuk bertemu di kantor Viltus. Setelah itu, ia langsung berjalan ke arah kantornya.


"Jadi, kita semua akan dipindahkan bersama-sama ?"

Itulah yang pertama kali ditanyakan oleh Magyar. Viltus langsung menjawabnya,

"Iya. Namun, untuk masalah Frederich mereka sedang membicarakannya."

"Itu semua karena diriku bukanlah Laksamana resmi di Jepang ini. Diriku hanyalah seorang Laksamana yang sedang menjalani rehabilitasi di Jepang." ujar Frederich

"Heh... Rehabilitasi di kelompok paling kacau dari semuanya." ujar Viltus

"Namun, yang paling karismatik dari semuanya." balas Frederich

Viltus hanya dapat tertawa kecil saja mendengar apa yang dikatakan oleh Frederich. Anastasia melihat ke arah Viltus dan kemudian bertanya,

"Jika boleh tahu, kita semua akan dipindahkan kemana ?"

"Grand Admiral sama sekali tidak memberitahu diriku untuk masalah ini." ujar Viltus

"Itu sangat aneh. Pertama mayoritas dari armada kita dipindahkan ke tempat yang masih dirahasiakan. Dan kita pun juga mendapat perlakuan yang sama. Ada apa gerangan ?" ujar Marcos dengan wajah tidak senang

"Itu adalah keputusan Grand Admiral setelah mendapat berbagai keluhan dari Laksamana lain mengenai tindakanku. Dan dengan tidak memberitahukan di mana kita akan dipindahkan, hal tersebut akan memperkecil mereka mencium keberadaan kita." ujar Viltus

"Apa yang kau katakan ada benarnya." ujar Magyar sembari mengambil satu buku di sebelahnya

Setelah itu, mereka semua terdiam karena mereka tidak tahu ingin berbicara apa. Viltus kemudian langsung berkata,

"Baiklah... Kalian semua silakan bersiap-siap untuk dipindahkan. Beritahu Elisa untuk berbenah sekarang. Aku yakin dirinya yang memiliki perlengkapan paling banyak."

"Siap." ujar semuanya

Seluru anggota kru dari Viltus pun keluar dari ruangan tersebut dan meninggalkan Viltus sendirian. Viltus langsung terdiam dan kemudian melihat ke arah luar ruangan. Ia berkata,

"Diriku sudah kehilangan Kaede... Dan sekarang Taihou... Sepertinya diriku benar-benar memiliki hal buruk dalam urusan asmara..."

Namun, ia langsung terdiam kembali. Ia langsung berkata sembari mengeluarkan kalungnya. Di sana terdapat cincin milik Taihou. Ia kemudian berkata,

"Namun, yang satu ini jauh lebih menyakitkan... Sangat menyakitkan... Aku... Ugh..."

Ia kemudian melihat ke arah cermin di sebelahnya dan melihat matanya yang berubah menjadi warna kuning emas. Ia langsung tersenyum dan pada saat itulah ia berkata,

"Aku memang monster, ya ? Sudahlah... Aku memang tidak pantas... Memiliki sesuatu yang setara... dengan manusia lain..."

Ia kemudian melihat ke arah langit-langit dan menutup matanya sebentar. Setelah itu, ia langsung berdiri dan mulai membereskan kantor tersebut untuk memilah mana yang akan ia bawa dan mana yang akan ia buang.


Satu minggu telah berlalu, dan selama rentang waktu tersebut Viltus mendapatkan ijin untuk membawa Frederich bersama dengan dirinya. Dan mereka semua sudah berdiri di depan gerbang Yokosuka untuk menunggu kendaraan yang akan membawa mereka. Magyar kemudian berkata,

"Diriku sama sekali tidak menyangka kita akan menggunakan truk untuk perjalanan ke markas kita."

"Kapal komando kita sudah dipindahkan lebih dahulu atas perintah dari Grand Admiral bersamaan dengan dikirimnya Gadis Kapal kita. Sangat disayangkan, padahal diriku ingin melihat laut luas." ujar Elisa

"Namun, setidaknya kita bisa duduk dalam satu truk bersama-sama, benar ?" ujar Magyar

"Kau ingin kulaporkan kepada Ryuujou jika berkata macam-macam ke wanita lain ?" tanya Anastasia mendadak

"Apapun selain itu." ujar Magyar

Viltus mendengar pembicaraan mereka dan hanya dapat tersebut saja. Tidak berapa lama, ia mendengar beberapa orang yang memanggil dirinya. Ia melihat ke belakang dan melihat Akihiko, Megumi, Toshiko, dan Akira. Megumi yang pertama berbicara,

"Aku sama sekali tidak menyangka dirimu pun dipindahkan oleh mereka. Seharusnya masalah ini tidak perlu sampai seperti ini."

"Jika saja kami dapat membantu dirimu pada saat itu..." ujar Akihiko dengan muka kesal.

"Itu bukan salah kalian berdua. Kalian sudah melakukan tugas kalian dengan baik pada saat itu. Lagipula, diriku yang tidak dapat berpikir dengan jernih saat itu. Jadi, apa boleh buat." ujar Viltus

"Namun, tetap saja." ujar Megumi

"Sudahlah. Aku tidak ingin membahas masalah operasi tersebut kembali. Sudah cukup diriku kembali." ujar Viltus

"Dengan bayaran kebahagiaanmu sendiri ? Aku rasa itu tidak mungkin cukup." ujar Toshiko

Semuanya sedikit terkejut pada saat mendengar apa yang dikatakan oleh Toshiko. Viltus melihat ke arah Toshiko dan tertawa menyerah. Ia langsung berkata,

"Apa yang kau katakan ada benarnya. Apakah bayaran ini setimpal ? Entahlah. Aku sama sekali tidak dapat menghitungnya. Yang harus kulakukan adalah melihat ke depan dan menentukan apakah bayaran pada saat operasi tersebut setimpal atau tidak."

Tidak ada yang berani berbicara kembali setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Viltus. Ia kemudian langsung tertawa dan berkata,

"Akira, selama diriku tidak ada silakan saja dirimu menghubungi diriku. Jika kau memiliki masalah dengan Unryuu, beritahu diriku saja. Namun, kau harus hati-hati karena tidak ada yang melindungi dirimu di sini."

"Tenang saja. Diriku tahu mengenai hal tersebut. Lagipula, mereka bertiga akan membantu diriku. Termasuk Laksamana Muda Yoshida." ujar Akira

"Baguslah. Lalu, Toshiko. Sebaiknya kau jangan terlalu sering melamun di siang hari. Dan sebaiknya kau mulai mengontrol waktu makanmu. Aku dengar dirimu sempat tidak makan satu hari, kan ?" ujar Viltus ke arah Toshiko

"Ahahahaha... Ketahuan, ya." ujar Toshiko

Viltus kemudian melihat ke arah Megumi dan Akihiko dan kemudian berkata,

"Aku akan menyerahkan Yokosuka ini kepada kalian berdua. Tolong latih pengganti diriku yang menjadi pemimpin dari armada pengintaian. Aku yakin taktik yang dijalankan olehnya pasti berbeda, jadi kalian pun harus beradaptasi dengan taktiknya. Dan semoga kalian berdua dapat sukses di sini."

"Baik. Dan semoga kau sukses di tempat barumu." ujar Megumi dan Akihiko

Viltus mendengar namanya dipanggil karena kendaraan yang akan membawa mereka sudah tiba. Viltus langsung mengangguk dan melihat ke arah mereka berempat. Ia pamit dan mulai berjalan. Tepat sebelum dirinya pergi, Toshiko menahan dirinya dan memberikan sebuah jimat kepadanya. Toshiko berkata,

"Jimat ini untuk dirimu dan seluruh anggota krumu. Untuk keselamatan kalian semua."

"Kau tidak perlu..." ujar Viltus yang disela oleh Toshiko

"Jimat itu adalah doa kami kepada dirimu. Semoga kau dapat menemukan kembali kebahagiaanmu dan tetap selamat di tempat barumu."

Viltus terdiam mendengar itu dan tersenyum. Ia melihat keempat orang tersebut tersenyum ke arah dirinya. Ia kemudian memberi hormat dan berkata,

"Terima kasih banyak kalian berempat. Saya akan menjaga jimat ini di tempat baruku. Tenang saja, diriku tidak akan melupakan kalian semua."

"Itu bukan masalah." ujar Akihiko mewakili mereka semua

"Sampai jumpa di kesempatan berikutnya." ujar Viltus

"Sampai jumpa, Kapten Amarov."

Viltus kemudian naik ke dalam truk sembari melihat ke arah mereka berempat. Ia sadar apa yang ia lakukan selama beberapa bulan ini membuat khawatir semuany dan ini adalah konsekuensi yang ia dapat untuk semua yang ia lakukan.

Truk pun mulai berjalan menjauhi Yokosuka. Viltus memperhatikan pintu gerbang Yokosuka yang semakin menjauh. Tempat di mana dirinya tumbuh menjadi seperti sekarang. Tempat di mana ia merasakan hangatnya kebersamaan, rasanya memiliki sahabat, rasanya kehilangan teman, dan merasakan sesuatu yang bernama cinta. Namun, tempat tersebut sudah menjadi masa lalu baginya sekarang. Yang harus ia lakukan adalah menghadapi apa yang akan menerpa dirinya di kemudian hari.

Ia langsung mengeluarkan cincin milik Taihou dan berkata,

"Tenang saja... Aku akan mampu menghadapi ini semua."


HakunoShibou di sini !

Hyaha ! Akhirnya memiliki waktu luang yang luar biasa banyak sehingga diriku dapat menulis dengan sepenuh hati ! Senangnya hatiku mendapatkan hal seperti ini.
H : Ya... Ya... Itu bukan urusanku sih
HS : Diam kau, Hakai

Untuk salah satu bagian di atas, saya berusaha untuk membuat seperti salah satu adegan yang saya lihat. Walaupun tidak terlalu detil, setidaknya itu lebih dari cukup. Ahahahahahaha
H : M***L G**R
HS : HUSH

Dan mungkin di sini saya akan memberitahukan sesuatu. Saya akan menjual salah satu karya saya di salah satu event di Indonesia. Mungkin saya sudah memberitahukannya di chapter sebelumnya, mungkin juga belum. Semoga saja ini tercapai karena semuanya tergantung dari ilustrator saya. Ahahahahaha.
V : Untuk artnya dapat dikatakan cukup lumayan. Saya cukup tersanjung
H : Covernya ! Kau harus memikirkan covernya !
HS : Kalian berdua diam saja dahulu ! Saya akan memberikan sneak peek di Facebook saya. Jadi silakan ditunggu ya !

Sekian saja dari saya. Semoga kalian semua masih menikmati seri ini !

Ciao !