Chapter 35

Meeting

Dua truk bergerak dengan pelan menuju ke salah satu Markas Angkatan Laut Jepang. Di dalam salah satu truk tersebut, terdapat enam orang yang akan dipindahkan dari Yokosuka menuju ke Markas Angkatan Laut lain ditambah dengan dua tentara yang menjaga mereka. Mereka adalah Viltus Amarov, Magyar Libyet, Anastasia Konoplyanka, Marcos Luiz de Souza, Frederich Willhelmson, dan Elisa von Manstein. Mereka berenam merupakan anggota yang dipindahkan dari Yokosuka karena beberapa tekanan dari dalam

Saat ini di dalam truk tersebut, mereka semua melakukan berbagai kegiatan masing-masing. Anastasia terlihat sedang sibuk dengan alat komunikasinya dan terkadang tersenyum sendiri pada saat melihat pesan yang masuk. Marcos dan Magyar membicarakan mengenai wanita ideal bagi masing-masing orang dan terdapat sedikit perdebatan antara mereka. Elisa tertidur dengan bersandar di bahu Frederich yang memperhatikan luar truk dan terkadang memperhatikan Elisa yang sedang tertidur pulas. Dan pemimpin mereka semua, Viltus Amarov, sedang membaca buku yang ia bawa dari Yokosuka.

Pada awalnya ia dapat membaca dengan tenang, hingga akhirnya ia sadar Magyar dan Marcos yang terdiam. Ia melihat ke arah dua orang tersebut dan berkata,

"Akhirnya kalian berdua diam juga."

"Viltus..." ujar Magyar

"Dapatkah kau diam sebentar ?" ujar Marcos

"Huh ? Mengapa kalian berkata demikian ?" tanya Viltus sembari melihat ke arah yang dilihat oleh Marcos dan Magyar

Selain Viltus, dua penjaga mereka pun melihat ke arah yang dilihat oleh Viltus. Di sana mereka melihat Frederich dan Elisa yang tertidur dengan pulas dan terlihat sangat tenang, namun pemandangan di sebelahnya adalah Anastasia yang mengambil foto mereka berdua beberapa kali. Viltus langsung menghela nafas dan berkata,

"Kalian jangan ganggu mereka berdua, biarkan saja mereka berdua istirahat."

"Namun, ini sangat jarang mengerti." ujar Magyar

"Jarang ?" ujar Viltus

"Mereka itu jarang sekali berbicara satu sama lain selama di Yokosuka dan kemudian melihat hal ini." ujar Marcos

"Tidak. Mereka sama sekali tidak tertarik satu sama lain. Aku tahu apa yang kalian berdua pikirkan." ujar Viltus mendadak.

"Eh ? Dapat saja mereka dekat tanpa kita ketahui." ujar Magyar

"Seperti kasus Marcos ? Aku sangat ragu dengan hal tersebut." ujar Viltus

Marcos dan Magyar melihat ke arah Viltus dengan wajah kecewa. Mereka setidaknya mengharapkan dapat membicarakan hal tersebut, namun sudah ditolak mentah-mentah oleh Viltus mengenai hal tersebut. Walaupun demikian, mereka berdua tetap melanjutkan pembicaraan mereka.

Viltus kembali membuka bukunya kembali dan kali ini ia mendapat tatapan dari salah satu penjaga di dalam truk tersebut. Ia langsung berkata,

"Maafkan kelakuan dari anak buahku ini."

"Ah... Bukan masalah. Justru saya cukup senang di dalam sebuah truk yang sangat hidup seperti ini. Pada umumnya semua yang dipindahkan akan diam saja dan sama sekali tidak berbicara kepada kami, namun kalian berbeda." ujar penjaga tersebut

"Apa yang kau harapkan dari sekelompok orang yang sudah melanggar banyak peraturan di Yokosuka." ujar Viltus sembari tertawa

"Kau ada benarnya. Ahahahahaha."

Penjaga yang kedua mengeluarkan sebuah termos, menuangkan isinya ke dalam sebuah gelas dan menawarkannya kepada Viltus. Viltus menerimanya dengan senang hati dan kemudian meminum. Ia langsung berkata,

"Coklat hangat... Sangat jarang sekali seseorang menawarkan diriku hal ini."

"Dapat dikatakan ini yang dapat kami berikan kepada kalian. Lagipula sekarang kita sudah mulai memasuki musim dingin, tentu saja kalian butuh minuman hangat seperti itu." ujar penjaga tersebut

"Bagaimana dengan kalian sendiri ?" tanya Viltus

"Kami sudah cukup biasa dengan situasi seperti ini. Lagipula minuman ini memang diperuntukkan kepada kalian semua." ujar penjaga lain

"Tidak... Tidak... Aku melihat di sana cukup banyak termos, bagaimana jika kalian juga mencicipinya ?" ujar Viltus

"Ah... Tidak bisa. Itu peraturan yang diberikan oleh atasan kami. Minuman ini untuk kalian semua." ujar penjaga tersebut

Viltus melihat ke arah Anastasia yang langsung mengerti apa yang ada di dalam kepala Viltus. Ia langsung mengetuk kaca yang memisahkan bagian belakang dan depan. Ia memberitahukan untuk berhenti sebentar saja. Salah satu penjaga tersebut sangat terkejut dan kemudian berkata,

"Kita tidak dapat..."

"Kita sudah bergerak cukup jauh dari Yokosuka tanpa berhenti. Ada kalanya kita butuh istirahat sebentar untuk merenggangkan diri kita. Dan juga menikmati coklat hangat ini." sela Viltus sembari menaruh bukunya ke dalam salah satu tas miliknya.

"Tapi, kami..."

"Kalian ini dari Polisi Militer tempat tujuan kami atau dari Yokosuka ? Aku bertanya demikian karena diriku tahu setiap Markas Angkatan Laut memiliki peraturan yang sedikit berbeda satu sama lain. Dan aku akan memberitahukan kepada mereka alasan kenapa kita berhenti sekarang." ujar Viltus

Kedua penjaga tersebut terlihat tidak yakin dan akhirnya langsung menghela nafas. Salah satu penjaga tersebut membuat tanda agar truk yang berada di belakang mereka berhenti bersamaan dengan truk mereka yang berhenti. Frederich dan Elisa terbangun dikarenakan truk yang berhenti. Elisa langsung menguap dan berkata,

"Kita sudah sampai ?"

"Belum. Aku tidak terlalu tahu berapa jauh lagi kita sampai di tempat tujuan kita, namun sekarang kita semua akan meminum coklat hangat ini." ujar Viltus

"Eh ?! Coklat hangat ?! Aku mau !" ujar Elisa

Magyar dan Marcos sudah turun lebih dahulu dan langsung membagikan gelas kepada seluruh penjaga mereka. Anastasia sendiri langsung mengambil termos yang ditaruh di dalam truk mereka. Semua penjaga di sana terihat sangat tidak percaya dengan apa yang mereka lihat saat ini.

Sekelompok orang yang berasal dari luar negeri berbagi kepada mereka semua dan mereka sama sekali tidak memperdulikan status mereka yang sedang diperhatikan oleh atasan di Yokosuka. Namun, sedikit demi sedikit mereka semua menerimanya dan berbincang-bincang dengan kelompok Viltus. Setelah cukup pulih, mereka semua kembali berjalan. Pada saat menunggu giliran untuk naik ke truk, salah satu prajurit tersebut berkata,

"Setelah tiba di tempat tujuanmu, kami sama sekali tidak bertanggungjawab atas apa yang akan dilakukan pemimpin di sana."

"Tenang saja. Aku dapat memberikan alasan yang masuk akal." ujar Viltus

"Namun, jangan memberitahukan atasan kami di sana mengenai hal ini. Atau jangan menceritakan hal ini kepada atasanmu." ujar prajurit tersebut sedikit khawatir

"Tenang saja. Lagipula, siapa atasan kalian tersebut ?" tanya Viltus

Prajurit tersebut melihat ke arah temannya dan melihat tanda untuk beritahu saja. Ia melihat ke arah Viltus dan berkata,

"Nama atasan kami di Polisi Militer adalah Kapten Okada Hayate."

"Huh ? Hayate ?" ujar Viltus

"Iya. Sepertinya anda mengenalnya beliau." ujar prajurit tersebut

"Mungkin saja. Dapat saja itu adalah orang lain." ujar Viltus

Prajurit tersebut tersenyum dan kemudian naik ke truk diikuti oleh Viltus. Truk pun mulai berjalan. Viltus kemudian berkata,

"Aku ingat Polisi Militer terkenal cukup beringas jika ada orang yang tidak mengikuti peraturan. Mereka semua akan melakukan berbagai cara agar orang tersebut mematuhi peraturan bersangkutan. Namun, entah mengapa kalian cukup berbeda."

"Dapat dikatakan ini adalah hasil dari pelatihan Kapten Okada. Beliau itu cukup baik, sehingga kami dapat menjadi seperti ini." ujar prajurit tersebut

"Begitu, ya..." ujar Viltus

"Kami dapat saja memberi kalian semua pelajaran dengan memberlakukan kerja rodi atau bahkan hukuman mati. Namun, mengingat kekuatan kalian yang mampu menghadapi Gadis Kapal." ujar prajurit lain sembari melihat ke arah Anastasia

"Hei ! Kenapa kau melihat ke arah diriku ?" ujar Anastasia

"Kami mendapatkan perintah untuk hati-hati dengan kelompok anda Kapten Amarov." lanjut prajurit tersebut

"Sebuah keputusan yang sangat logis untuk masalah ini, ahahahahahaha." ujar Viltus sembari menghindari sebuah gelas yang dilempar oleh Anastasia

Kedua prajurit tersebut ikut tertawa bersama dengan Viltus dan akhirnya berbicara mengenai sedikit masa lalu mereka.


Waktu sudah menunjukkan pukul lima pagi. Truk tersebut sudah tiba di tempat tujuan, namun belum diijinkan masuk. Mereka semua harus menunjukkan dokumen mereka agar diijinkan untuk masuk dan tinggal di dalam markas angkatan laut tersebut. Setelah seluruh dokumen itu selesai diperiksa, mereka semua diijinkan untuk masuk. Akhirnya, kelompok Viltus pun turun dari truk tersebut. Viltus berkata kepada seluruh prajurit yang bersama dengan dirinya,

"Terima kasih banyak telah membawa kami semua kemari."

"Bukan masalah. Semoga dirimu sukses di sini." ujar salah satu prajurit

"Tenang saja diriku pasti mampu melakukan hal tersebut." ujar Viltus

"Dan ingat, jangan beritahu Kapten Okada." ujar prajurit lain

"Tenang saja. Diriku tidak akan memberitahu dirinya." ujar Viltus

Setelah itu truk yang membawa prajurit tersebut kembali bergerak untuk kembali ke Yokosuka. Viltus melihat ke arah seluruh truk tersebut dan tersenyum. Ia kemudian menghela nafas dan berkata,

"Markas baru... Entahlah... Diriku tidak yakin dapat menghilangkan pikiran mengenai dirinya dari kepalaku."

"Oi ! Viltus sampai kapan dirimu akan berdiri di sana ?" teriak Elisa

"Iya... Iya... Aku akan datang ke sana."

Viltus langsung mengangkat tas miliknya dan kemudian berjalan ke arah seluruh anggota krunya yang berkumpul di depan sebuah papan petunjuk. Di sana mereka melihat papan petunjuk yang mengarahkan ke gedung administrasi, gedung asrama untuk Laksamana dan Staff, gedung asrama untuk Gadis Kapal, dermaga, dan pabrik untuk perlengkapan.

Viltus sebenarnya ingin secepatnya ke gedung administrasi agar ia dapat beristirahat. Namun, ia sadar Elisa sepertinya sangat ingin menuju ke dermaga. Marcos melihat hal tersebut dan berkata,

"Elisa, sebaiknya kita berjalan ke arah Gedung Administrasi lebih dahulu sekarang."

"Ah... Memangnya diriku ingin pergi ke tempat lain dahulu ?" ujar Elisa sambil tertawa

"Kau terus melihat ke arah pabrik mengerti." ujar Anastasia

"Uuuuhhh... Baik..." ujar Elisa

Viltus tersenyum mendengar jawaban dari Elisa yang menjadi seorang anak yang patuh terhadap orang yang lebih tua. Ia kemudian mengajak semuanya untuk mengikuti dirinya ke arah gedung administrasi setelah memperhatikan petunjuk arah tersebut.

Mereka semua berjalan dan melewati sebuah taman yang cukup besar dengan pohon tinggi di tengahnya. Pohon tersebut tidak menunjukkan satu pun daunnya dikarenakan saat ini sedang musim dingin. Di salah satu sisi dari taman tersebut, mereka dapat melihat dengan jelas lautan dan juga beberapa bangunan di sana. Elisa melihat ke arah tempat tersebut dan menghitungnya. Ia kemudian berkata,

"Di sini ada empat dermaga..."

"Dapat dikatakan cukup sedikit untuk sebuah Markas Angkatan Laut." ujar Magyar

"Setidaknya itu lebih dari cukup. Dengan ukuran dari kapal utama yang jauh lebih kecil dari kapal tempur dahulu, ini jauh lebih baik." ujar Viltus

"Apa yang dikatakan oleh Viltus ada benarnya. Jika terlalu banyak akan memakan cukup banyak ruang." ujar Elisa

"Bagaimana dengan kapal komando kita ?" tanya Marcos mendadak

Elisa menunjuk ke arah dermaga paling besar dan berkata,

"Besar kemungkinan kapal komando kalian berada dermaga tersebut. Ukuran dermaga tersebut lebih besar daripada dermaga yang lainnya."

"Jika diriku tidak salah ingat, di Yokosuka kita membagi dermaga berdasarkan kegunaannya. Namun, diriku kurang tahu apa saja kegunaan dari dermaga tersebut." ujar Anastasia

"Satu dermaga digunakan untuk menyimpan kapal komando yang menjadi penunjang dari operasi. Di Yokosuka itu terdapat empat hingga lima dermaga untuk menyimpan hal tersebut. Lalu, dermaga lain digunakan untuk menyiapkan Gadis Kapal yang akan bertempur dengan memberikan mereka perlengkapan mereka. Dermaga lain digunakan untuk membenarkan perlengkapan Gadis Kapal. Dan dermaga terakhir untuk pengecekan Gadis Kapal." ujar Elisa

"Dermaga terakhir merupakan dermaga yang menjadi masalah pada saat itu." ujar Viltus

"Tidak hanya dermaga terakhir. Dermaga lain pun juga demikian. Haaaahh... Aku pun masih ingat ada beberapa mekanik pria yang cukup idiot menganggu Gadis Kapal pada saat diriku pertama kali masuk." ujar Elisa

"Memangnya masih ada mekanik pria pada saat itu ?" tanya Frederich

"Masih ada. Walaupun jumlahnya lebih sedikit." ujar Elisa

Mereka semua menanyakan berbagai pertanyaan kepada Elisa, hingga akhirnya Viltus berkata,

"Sudahlah... Daripada kita menghabiskan waktu hanya untuk membicarakan dermaga, bagaimana bila kita berjalan sekarang ?"

"Ah... Kau benar." ujar Elisa

"Jariku sepertinya sudah membeku mengerti." protes Marcos

"Maaf... Maaf." ujar Elisa sembari menjulurkan lidahnya

Viltus langsung menghela nafas dan kemudian berjalan lebih dahulu. Ia melihat ke kiri dan kanan, namun ia tidak menemukan satu pun Gadis Kapal atau staff lain di sana. Ia sempat berpikir,

"Apakah tempat ini..."

Namun, ia langsung menghilangkan pikiran tersebut karena ia ingat situasi saat ini sangatlah dingin. Ia melihat ke langit di mana salju turun mengenai dirinya. Ia membuka tangannya dan langsung mengingat pada saat dirinya dapat berbincang-bincang dengan Taihou sendirian di dermaga Yokosuka. Situasi di mana dirinya mulai mempertanyakan perasaan dirinya kepada Taihou.

Ia langsung menutup tangannya dan kemudian langsung menghela nafas. Ia berkata,

"Aku penasaran... Apa yang saat ini sedang dilakukan oleh Taihou. Apakah Laksamananya menjaganya dengan baik atau tidak."

"Tenang saja. Aku yakin Taihou pasti baik-baik saja." ujar Anastasia mendadak

"Kau... Ada benarnya." ujar Viltus tertawa

Tidak berapa lama, ia mendengar protes dari Magyar dan Marcos yang kedinginan dan bertanya mengapa Anastasia dan Viltus dapat berjalan dengan tenang dengan mengenakan pakaian yang lebih tipis dari mereka. Anastasia bercanda dengan mengatakan bahwa mereka merupakan orang Russia, yang tentu saja dapat bertahan di musim yang dingin seperti saat ini. Viltus tertawa mendengar itu dan langsung berjalan kembali.

Mereka terus berjalan dan kemudian melihat sebuah bangunan di dekat lautan. Magyar melihat bangunan tersebut dan melihat sesuatu yang aneh. Jendela bangunan tersebut ditutup oleh kayu dan terdapat garis polisi yang sudah termakan oleh waktu. Selain itu, ia pun melihat sebuah lubang yang juga ditutup oleh kayu. Magyar berkata,

"Bangunan apa itu..."

"Sangat aneh di Markas Angkatan Laut seperti ini ada bangunan yang demikian." ujar Marcos

"Sepertinya bangunan itu terkena serangan meleset dari Gadis Kapal mungkin ?" ujar Elisa

"Namun, dari lubangnya... Huh ?" ujar Frederich yang terkejut melihat Viltus

Viltus terlihat sangat diam dan tatapannya sangat kosong. Dan mendadak ia langsung mundur sedikit dan memegang kepalanya. Sontak Frederich berkata,

"Viltus, kau baik-baik saja ?"

"..."

"Viltus !"

"Tenang saja... Hanya sedikit ingat sesuatu yang buruk." ujar Viltus sembari tersenyum

Anastasia memperhatikan Viltus dan langsung menunduk. Ia melihat ke arah gedung tersebut, kemudian langsung berjalan ke arah Viltus dan menarik dirinya. Ia berkata,

"Sebaiknya dirimu ke gedung administrasi sekarang. Aku yakin pemimpin di markas ini sangat tidak sabar untuk bertemu dengan kita."

"Ah... Kau benar." ujar Viltus

Magyar dan Marcos memperhatikan Anastasia dan langsung terdiam. Mereka hanya mengangkat bahunya dan mengikuti mereka berdua sembari mengajak Frederich dan Elisa.


Mereka akhirnya tiba di kantor dari pemimpin tertinggi di markas tersebut. Viltus menarik nafas panjang dan kemudian mengetuk pintunya dan berkata,

"Mohon ijin untuk bertemu dengan pemimpin tertinggi."

"Kau diijinkan untuk masuk." ujar orang dari dalam

Viltus yang mendengar suara tersebut langsung terdiam. Ia sangat mengenal suara tersebut dan itu membuatnya kembali berpikir. Ia langsung melihat ke arah Magyar dan bertanya,

"Magyar, apakah kau tahu apa nama markas angkatan laut ini ?"

"Huh ? Jangan bilang kau lupa..." ujar Magyar

"Bukan... Bukan demikian. Grand Admiral Ichijo sama sekali tidak memberitahukan diriku mengenai tempat tujuan kita." ujar Viltus

"Grand Admiral melakukan hal tersebut ? Itu cukup aneh." ujar Frederich

"Sudah... Jawab saja. Kita di mana ?" tanya Viltus sekali lagi

"Kita itu ada di Kure. Kau seharusnya... Tunggu sebentar... Kure ?!" ujar Magyar yang langsung menyadari sesuatu

Mereka berdua melihat satu sama lain dan kemudian ke arah pintu tersebut. Viltus menarik nafas panjang dan kemudian membuka pintunya. Di dalam ruangan tersebut duduk seorang wanita dengan pakaian laksamana berwarna putih dan memiliki rambut merah yang dibiarkan terurai. Ia mengenakan sebuah kacamata dan membaca dokumen di depannya. Di sebelah wanita tersebut, seorang pria dengan rambut hitam pendek dan memiliki bekas luka di pipinya yang mengenakan pakaian berwarna hijau tua milik polisi militer. Ia terlihat sedang membantu wanita tersebut dengan dokumen-dokumen tersebut.

Viltus terdiam sebentar dan kemudian menarik nafas panjang. Ia langsung memberi hormat dan berkata,

"Kapten Viltus Amarov, melapor untuk bertemu dengan pemimpin markas angkatan laut Kure."

Wanita tersebut adalah Yanagi Shiro dan ia melihat ke depan dan tersenyum. Ia langsung berkata,

"Kau benar-benar terlambat."

"Maafkan saya, Laksamana Yanagi. Saya dan seluruh anggota kru saya berhenti karena melihat keindahan laut yang terlihat dari markas angkatan laut Kure ini." ujar Viltus

"Sudahlah. Saya mengetahui bahwa Elisa merupakan orang yang paling bertanggung jawab untuk masalah ini. Benar, Elisa ?" tanya Shiro kepada Elisa

Elisa langsung mengangguk mendengar pertanyaan dari Shiro. Shiro kemudian berkata,

"Namun, kalian datang terlalu terlambat. Aku yakin kalian melakukan sesuatu sebelumnya."

"Atas inisiatif saya, saya meminta rombongan yang membawa kami kemari untuk beristirahat sebentar. Itu semua karena saya melihat semuanya terlihat cukup lelah karena perjalanan yang cukup jauh ini." ujar Viltus

"Eh ? Kelompok polisi militer itu mau mendengar dirimu ?" tanya pria di sebelah Shiro

"Iya. Saya meminta mereka untuk beristirahat sebentar. Saya mohon untuk tidak menghukum mereka semua karena diri saya yang memaksa untuk melakukan hal tersebut." ujar Viltus

"Jika kau berkata demikian, saya tidak akan menghukum mereka." ujar pria tersebut

"Walaupun demikian, kalian semua tetap saja terlambat." ujar Shiro kemudian

"Maafkan kami." ujar Viltus

Shiro melihat ke arah pria di sebelahnya dan kemudian ia langsung berkata,

"Baiklah, kalian semua merupakan anggota baru di Kure ini. Saya akan memperkenalkan pemimpin dari Polisi Militer di sini. Perkenalkan Kapten Okada Hayate."

"Salam kenal, Kapten Okada." ujar Viltus yang langsung mendapat senyum puas dari Hayate

Viltus dan Hayate sama sekali tidak mengira mereka berdua akan bertemu kembali di tempat seperti ini. Viltus memang mengenal satu Polisi Militer dari Yokosuka yang bernama Hayate, namun itu adalah Hayate yang berbeda dengan yang ada di hadapannya. Hayate di hadapannya sekarang adalah salah satu teman dari Viltus pada saat SMA bersama dengan Kaede.

Shiro langsung berdehem dan kemudian berkata,

"Apakah kalian semua dapat memberikan dokumen kalian semua kepada diriku ?"

"Baik. Namun, terdapat kesalahan nama dari dokumen milik Frederich." ujar Viltus

"Eh ? Ada kesalahan ?" tanya Shiro

"Kesalahan dalam menerjemahkan beberapa hal di dalamnya. Diriku sama sekali tidak dilibatkan dalam pemeriksaan dokumen ini." ujar Viltus

"Terima kasih atas pemberitahuannya." ujar Shiro

Viltus langsung mengumpulkan semua dokumen milik anggota krunya dan kemudian memberikannya kepada Shiro. Shiro menerimanya dan kemudian membacanya satu per satu. Pada saat itulah, Viltus langsung bertanya,

"Laksamana Yanagi..."

"Ada apa, Kapten Amarov ?" tanya Shiro sembari membaca satu dokumen dan memberikan satu kepada Hayate

"Ini merupakan sesuatu yang sangat jarang untuk melihat dirimu membiarkan rambutnya terurai seperti itu." ujar Viltus

"Ah... Ini... Diriku sedang mencari suasana baru saja." ujar Shiro sembari tertawa

Viltus melihat ke arah Hayate yang memberikan morse kepadanya dengan menggunakan kedipan mata. Yang diberikan adalah

"Dia gagal mengepang rambutnya."

Viltus terdiam sebentar dan langsung tertawa kecil. Shiro melihat ke arah Viltus dan kemudian ke arah Hayate yang langsung fokus membaca dokumen di depannya. Shiro kemudian melihat ke arah Viltus kembali yang sudah cukup tenang dan menunggu apa yang harus dilakukannya selanjutnya.

Shiro langsung menghela nafas dan kembali membaca dokumen itu hingga akhirnya semuanya selesai dibaca. Setelah itu, ia mengeluarkan sebuah map dan berkata,

"Tidak ada masalah dengan kalian semua. Bagaimana menurut dirimu, Kapten Okada ?"

"Satu-satunya yang menjadi catatan adalah penyakit yang diderita oleh Kapten Amarov yang harus mendapatkan perawatan dari profesor Shibata. Namun, selain itu tidak ada masalah." ujar Hayate

"Eh ?" ujar Viltus dengan wajah bingung.

Viltus tahu di dalam dokumen tersebut disebutkan mengenai salah satu yang ia lakukan sebelumnya dan itu telah melanggar salah satu peraturan paling penting di Yokosuka. Melakukan hubungan asmara dengan Gadis Kapal. Sontak ia langsung mengangkat tangan dan berkata,

"Maafkan saya. Namun, apakah Laksamana Yanagi dan Kapten Okada sudah membaca semuanya dengan seksama ?"

"Tentu saja." ujar Hayate

"Namun, di sana diriku..." ujar Viltus yang langsung disela oleh Shiro

"Melakukan pendekatan dengan Gadis Kapal dan memiliki hubungan asmara dengan Gadis Kapal. Kami mengetahui mengenai hal tersebut."

Viltus langsung terdiam mendengar hal tersebut. Shiro kemudian berkata,

"Namun, diriku yakin itu bukanlah sebuah masalah yang cukup besar di sini. Benar tidak, Kapten Okada ?"

"Apa yang dikatakan oleh Laksamana Yanagi ada benarnya." ujar Hayate

"Eh ?" ujar Viltus dengan wajah bingung

"Kapten Amarov, sekarang saya akan memberitahukan kepada dirimu dan seluruh anggota krumu mengenai peraturan di Kure." ujar Shiro

Viltus yang masih terlihat bingung akhirnya menyerah dan mendengarkan semua peraturan di Kure. Mayoritas peraturan di Yokosuka diterapkan di Kure, namun ada beberapa peraturan yang menghilang dan digantikan dengan yang lain. Hingga akhirnya, Shiro berkata,

"Semua peraturan di Kure ini sudah saya bacakan. Saya harap kalian semua dapat mematuhi peraturan ini."

"Eh ?! Tunggu sebentar. Mengapa tidak ada..." ujar Viltus yang disela oleh Hayate

"Maka dari itu, kami berkata itu bukanlah masalah besar."

"Namun, bagaimana jika Grand Admiral..." tanya Viltus yang langsung disela oleh Shiro

"Grand Admiral sudah menyetujui mengenai masalah ini. Bukankah dirimu sudah mengetahui kenyataan bahwa Grand Admiral sudah sedikit melunak ?" ujar Shiro

"Namun, jika dirinya mulai melunak... Mengapa diriku dan Taihou dipisahkan seperti ini ?" tanya Viltus

Shiro dan Hayate melihat satu sama lain dan kemudian Shiro berkata,

"Kau sudah mengetahui alasannya dari Grand Admiral."

"Ah... Aku baru ingat..." ujar Viltus

"Maka dari itu, kau tidak perlu terlalu khawatir." ujar Shiro

Viltus terdiam sebentar dan akhirnya mengangguk. Shiro yang melihat Viltus langsung tersenyum dan kemudian berkata,

"Dan Viltus..."

"Huh ?" ujar Viltus dengan wajah terkejut

"Kau dapat memanggilku seperti biasa jika di luar waktu bekerja. Jangan terlalu kaku seperti itu." ujar Shiro

"Ba... Baik." ujar Viltus

"Sudah. Kapten Okada, antarkan mereka semua ke kamar mereka." perintah Shiro

"Siap." ujar Hayate

Hayate langsung mengajak Viltus dan yang lainnya untuk mengikuti dirinya. Setelah mengantar satu per satu, sekarang hanya tersisa Hayate dan Viltus saja. Viltus langsung berkata,

"Kau..."

"Kau terlihat sangat sehat, Kazuki." ujar Hayate mendadak

"Dapat dikatakan demikian." ujar Viltus

"Sepertinya ada yang ingin kau tanyakan kepada diriku. Namun, diriku tidak akan menjawab pertanyaan apapun darimu saat ini." ujar Hayate sembari mengeluarkan sekotak rokok dari dalam sakunya.

Viltus memperhatikan Hayate dan langsung merebut batang rokok yang akan dinyalakan oleh Hayate. Ia langsung berkata,

"Sejak kapan dirimu merokok ?"

"Itu bukan masalahmu, Kazuki." ujar Hayate

"..."

"Sudahlah. Yang akan kau lakukan besok adalah bertemu dengan Gadis Kapal yang akan membantumu di sini." ujar Hayate

"Membantuku ?"

"Iya. Dan yang akan mengantarmu... Kau akan mengetahuinya besok." ujar Hayate

Hayate kemudian berhenti di depan sebuah kamar dan kemudian berkata,

"Ini kamarmu mulai saat ini, Kazuki. Ingat salah satu peraturan di Kure adalah kau harus sudah ada di kamarmu sebelum pukul dua belas malam, kecuali kau memiliki alasan khusus."

"Kau pasti akan sering menemukan diriku di kantorku karena dokumen yang kukerjakan." ujar Viltus

"Aku tahu kau pasti akan berkata demikian." ujar Hayate

Hayate kemudian melempar kunci kepada Viltus dan berjalan melewati dirinya. Tepat di sebelah Viltus, Viltus langsung bertanya,

"Apa yang terjadi pada Taihou ?"

"Mengapa dirimu bertanya kepada diriku ?" tanya Hayate

"Kau merupakan salah satu anggota dari Polisi Militer. Aku yakin kalian yang melakukan sesuatu kepada Taihou."

"Tidak. Kami tidak melakukan apapun kepada dirinya." ujar Hayate

"..."

"Apakah ada pertanyaan lain ?" tanya Hayate

"Jika demikian... Di manakah..."

"Kau harus menemukannya sendiri, Kazuki." ujar Hayate

"..."

"Itu merupakan apa yang dapat kuberitahukan kepada dirimu saat ini. Kau harus menemukannya sendiri." ujar Hayate

"Bagaimana diriku dapat mengetahuinya jika diriku sama sekali tidak mengetahui apapun ? Bagaimana diriku dapat mengetahuinya jika semuanya menyembunyikan sesuatu dari diriku ?!" ujar Viltus

"Cepat atau lambat kau akan mengetahuinya." ujar Hayate

"Iya... Mengetahui fakta bahwa ingatannya akan dihapus kembali atau sudah digantikan dengan yang lain !" ujar Viltus

Hayate mendadak mengeluarkan pedangnya dan menusuk tembok di sebelah Viltus. Viltus langsung terdiam dan terlihat sangat terkejut dengan hal tersebut. Pedang tersebut hampir mengenai telinganya dan itu membuatnya sedikit ngeri. Setelah itu, Hayate langsung menarik pedang tersebut dan kemudian berkata,

"Aku sama sekali tidak menyangka dirimu akan menjadi seperti ini Kazuki. Yang kuketahui adalah dirimu merupakan seseorang yang sangat penuh perhitungan dan sangat dingin dalam berpikir."

"..."

"Sudahlah. Sebaiknya dirimu istirahat sekarang. Besok pagi akan ada seseorang yang mengantarmu ke asrama Gadis Kapal." ujar Hayate

"Baik..." jawab Viltus yang langsung berjalan ke arah pintunya dan membukanya.

Hayate memperhatikan Viltus dan langsung berjalan meninggalkan Viltus untuk istirahat. Sementara itu di dalam kamarnya, Viltus bersandar di pintu dan kemudian berkata,

"Aku... Benar-benar... Tidak dapat... Ugh... Maafkan aku... Taihou..."


Keesokan harinya, Viltus sudah mengenakan pakaian Laksamananya dan kemudian keluar dari ruangannya. Ia sangat terkejut pada saat melihat Gadis Kapal yang berada di depan ruangannya. Seorang Gadis Kapal dengan rambut ungu yang diikat ke belakang. Ia langsung berkata,

"Aoba ?!"

"EH ? Tunggu sebentar... Yang Aoba akan antar keliling asrama Gadis Kapal adalah dirimu Viltus ?!" ujar Aoba dengan wajah terkejut

Aoba langsung ingat dengan apa yang dikatakan oleh Hayate dan Shiro kepada dirinya sebelum menunggu Viltus. Yang dikatakan oleh Hayate adalah,

"Kau akan mengenal orang tersebut. Dan sebaiknya kau jangan memberitahukan apapun mengenai satu hal. Biarkan dirinya yang mengetahuinya sendiri."

Aoba langsung menelan ludahnya dan berkata dalam hati,

"Jadi ini yang kau maksud, Hayate-san ! Kau membuat Aoba bersama dengan harimau satu ini ?!"

Viltus melihat ke arah Aoba dengan wajah bingung dan kemudian berkata,

"Jangan bilang dirimu tidak mengetahui bahwa diriku adalah yang akan kau ajak keliling markas ini."

"Tidak... Baik Laksamana Yanagi maupun Kapten Okada sama sekali tidak memberitahu Aoba mengenai hal ini." ujar Aoba

"Dari nada bicaramu... Kau benar-benar tidak tahu bahwa diriku yang datang kemari." ujar Viltus

"Iya... Ahahahahahaha."

Mendadak wajah Viltus sangat dekat dengan Aoba dan itu membuat Aoba sangat terkejut. Viltus langsung berkata,

"Kau siapa ? Kau bukan Aoba yang kukenal."

"Ayolah, adik iparku jangan berkata seperti itu !" ujar Aoba

"..."

"Dan jika dirimu di sini berarti..."

"Ya... Anastasia di sini." ujar Viltus

"TIDAAAAKKKK !" teriak Aoba

Viltus langsung menjitak Aoba karena teriakan Aoba membuat beberapa orang melihat ke arah dirinya. Dan pada saat itu, ia melihat dua orang wanita dengan pakaian biru dan topi biru. Satu memiliki rambut perak pendek dan satu lagi memiliki rambut merah pendek. Selain itu, ia melihat Frederich yang sedang berbincang-bincang dengan mereka. Viltus langsung berkata,

"Mereka tidak terlihat seperti dari Jepang."

"Iya. Mereka Gadis Kapal dari luar negeri yang ditempatkan di sini." ujar Aoba

"Begitu ya." ujar Viltus

"Sudahlah. Viltus, ayo kita jalan sekarang. Daripada Aoba dimarahi oleh Shiro-san." ujar Aoba

"Dan sekarang dirimu memanggil Shiro-nee demikian. Sudahlah." ujar Viltus

"Habis... Laksamana yang harus Aoba ajak keliling adalah dirimu !" ujar Aoba

"Sudahlah. Lakukan saja sekarang. Atau Shiro-nee benar-benar akan memarahi dirimu."

Aoba langsung berjalan dengan Viltus mengikuti Aoba di belakang. Mereka berdua berjalan melewati sebuah taman yang cukup besar dengan banyak tanaman di sana. Ia melihat sekelilingnya dan semua orang mengenakan pakaian yang cukup tebal untuk berjalan dari satu gedung ke gedung lain. Aoba melihat ke arah Viltus dan kemudian bertanya,

"Kau tidak kedinginan ?"

"Huh ? Tidak. Kenapa ?" tanya Viltus

"Ah... Aoba lupa. Betapa sintingnya dirimu dan Anastasia dengan musim dingin seperti ini." ujar Aoba

"Kau ingin kulempar ke bawah sana ?" tanya Viltus mendadak

"Tentu saja tidak." jawab Aoba

Mereka berdua tertawa dan kemudian kembali berjalan di sepanjang jalan tersebut. Di sana mereka melewati gedung yang digunakan oleh Mamiya sebagai kantin pada pagi hari dan kedai khusus untuk minuman alkohol yang dijalankan oleh Houshou di malam hari. Viltus yang mendengar itu langsung melihat ke arah Aoba dan bertanya mengenai salah satu peraturan di Kure tersebut. Jawaban Aoba adalah,

"Eh ? Hayate-san saja sering berkunjung ke tempat Houshou. Aku tidak tahu ada peraturan seperti itu."

Viltus mendengar itu dan langsung berpikir untuk berbicara empat mata dengan Hayate nanti. Setelah itu, Aoba menceritakan dirinya yang bekerja di bawah Shiro selama beberapa dirinya di Kure. Viltus yang mendengar itu sedikit tertawa hingga akhirnya mereka tiba di depan sebuah gedung. Aoba langsung berkata,

"Gedung ini adalah gedung asrama Gadis Kapal untuk kelas Kapal Perusak dan Kapal Penjelajah."

"Huh ? Penjelajah Ringan dan Berat digabung ?" tanya Viltus

"Iya. Itu karena jumlah Kapal Penjelajah Ringan dan Berat di Kure itu tidak terlalu banyak." jawab Aoba

"Begitukah ?"

"Aoba yakin kau pasti mengenal sebagian dari Kapal Perusak di tempat ini. Tunggu sebentar..." ujar Aoba

Viltus menunggu Aoba yang mencari sesuatu di dalam tas kecilnya. Viltus kemudian memperhatikan gedung tersebut dan tersenyum. Ia berkata dengan pelan,

"Saatnya diriku memulai kembali dari awal... Huh..."

Mendadak Viltus mendengar seseorang yang berlari dari dalam gedung ke arah pintu di depannya. Pada saat pintu terbuka, Viltus sangat terkejut karena seseorang yang melompat ke arah dirinya. Dan yang membuatnya lebih terkejut adalah Yuudachi yang melompat ke arah dirinya. Viltus terjatuh ke tanah dengan Yuudachi mendekap dirinya. Viltus langsung berkata,

"Yuudachi..."

Aoba yang melihat itu langsung tersenyum dan kemudian melihat ke arah pintu bersama dengan Viltus. Di sana ia melihat Shigure bersama dengan Murasame dan Shiratsuyu yang terkejut melihat Viltus yang berdiri di sana. Viltus melihat Shigure dan membaca mulutnya yang berkata,

"Tidak mungkin... Bukankah..."

"Shigure..." ujar Viltus sembari berusaha berdiri bersama dengan Yuudachi

Shiratsuyu dan Murasame langsung berjalan ke dekat Viltus untuk membantunya dan Shigure memanggil Yuudachi untuk membiarkan Viltus berdiri. Viltus langsung mendengar Yuudachi berkata,

"Laksamana... Kembali bersama kita, poi~"

"Laksamana..." ujar Shigure

Viltus dapat melihat dengan jelas wajah khawatir dari Shigure karena apa yang terjadi sebelumnya. Viltus langsung berjalan melewati Shiratsuyu dan Murasame dan kemudian langsung mengelus kepala Shigure sembari berkata,

"Maafkan aku pada saat itu, Shigure."

"..."

"Aku benar-benar..." ujar Viltus yang langsung disela oleh Shigure

"Kau tentu saja tahu apa yang akan kukatakan kepadamu."

"Aku tahu..." ujar Viltus

"Maka dari itu... Mulai sekarang jangan melakukan tindakan gegabah lagi..." ujar Shigure

"Aku tidak akan melakukannya." ujar Viltus sembari mengelus kepala Shigure

Setelah itu, Yuudachi langsung menarik lengan Viltus begitu pula dengan Shiratsuyu untuk mengajaknya ke dalam. Murasame tersenyum bersama dengan Aoba dan kemudian Murasame berkata,

"Keluarga itu kembali berkumpul rupanya."

"Eh ?" ujar Shigure

"Ah... Kau benar, Murasame-chan. Keluarga itu kembali terbentuk di Kure." ujar Aoba

"Keluarga... Ah..." ujar Shigure yang langsung sadar akan sesuatu

"Ada apa, Shigure-chan ?" tanya Murasame

"Ah... Tidak... Tidak ada apa-apa." ujar Shigure sembari tersenyum.

Setelah itu, Shigure mengajak Murasame dan Aoba untuk masuk ke dalam mengikuti Viltus.


Di dalam gedung asrama, Viltus mendengarkan cerita dari Shiratsuyu dan Yuudachi secara bergantian hingga akhirnya dirinya bertemu dengan Kako dan Furutaka di dekat salah satu ruangan. Kako yang pertama berbicara,

"Ah... Laksamana !"

"Laksamana ?! Kau di sini ?!" ujar Furutaka dengan wajah terkejut

"Kako, Furutaka. Lama tidak berjumpa." ujar Viltus

Furutaka dan Kako melihat satu sama lain dan terlihat bingung akan sesuatu. Viltus yang melihat itu langsung terdiam dan kemudian bertanya kepada Aoba,

"Aoba, apakah Kako dan Furutaka akan kembali di bawah arahanku ?"

"Tentu saja ! Bahkan Aoba pun akan di bawah arahan diri... AH !" ujar Aoba

"Oh... Kau di bawah diriku kembali. Baguslah." ujar Viltus sembari tersenyum sinis.

"Laksamana... Apakah dirimu sudah mengetahui mengenai Taihou ?" tanya Furutaka mendadak

Viltus melihat ke arah Furutaka dan langsung menggelengkan kepalanya. Furutaka kemudian melihat ke arah Aoba yang langsung mendapat gelengan kepala. Viltus langsung bertanya,

"Memangnya... Taihou ada di mana ?"

"Taihou..." jawab Furutaka yang langsung melihat wajah dari Aoba

"Iya ?"

"Anda harus mencari tahu sendiri."

"Dia ada di sini... Benar ?" tanya Viltus mendadak

"Eh ?!" ujar semuanya yang ada di gedung tersebut

"Sepertinya tebakanku tepat." ujar Viltus

Ia kemudian berjalan lebih dahulu dan kemudian melihat ke arah Aoba sembari bertanya,

"Siapa yang akan di bawah arahanku kembali ?"


Viltus sudah selesai di gedung asrama milik Gadis Kapal kelas Kapal Perusak dan Kapal Penjelajah. Di sana ia bertemu kembali dengan Akizuki, Teruzuki, Hatsuzuki, Yura, Kinu, Agano, Noshiro, dan Yahagi. Yang membuat dirinya terkejut adalah Agano yang sedikit membesar. Sontak ia langsung menghela nafas dan berkata bahwa Anastasia akan mengawasi Agano mulai sekarang yang mendapat anggukan dari Noshiro. Selain itu, ia mendapatkan tambahan Gadis Kapal kelas perusak Akatsuki, Ikazuki, Inazuma, dan Hibiki. Di sana mereka berempat berkenalan dengan Viltus secara langsung dan terlihat sangat ketakutan. Viltus melihat ke arah Aoba dan berkata,

"Rumor... Ini pasti pengaruh dari rumor."

"Ah... Tidak koq." ujar Aoba sembari melihat ke arah lain

"Mengapa dirimu melihat ke arah lain, Aoba ?" tanya Viltus

"Tidak... Aoba tidak melihat ke arah lain." ujar Aoba semakin panik

"Aoba... Sudahlah." ujar Viltus

Viltus kemudian menjelaskan sedikit mengenai dirinya kepada mereka berempat sebelum mendapat hidangan berupa minuman hangat dari Noshiro. Dan sekarang dirinya berjalan bersama Aoba untuk ke tempat selanjutnya. Viltus melihat ke arah langit dan terlihat melamun. Aoba yang memperhatikan Viltus akhirnya bertanya,

"Sejak kapan dirimu mengetahui hal tersebut ?"

"Hal apa ? Mengenai Taihou ?" jawab Viltus

"Iya."

"Pada saat Hayate berkata untuk mencari tahu sendiri. Dan juga alasan mengapa diriku dipindahkan kemari yang memiliki atasan kakakku sendiri dengan tambahan peraturan yang cukup aneh. Selain itu, diriku dapat melihat kalian semua kembali di Kure ini." jawab Viltus

"Begitu ya..."

"Namun, aku yakin Taihou akan menjauhi diriku atau semacamnya. Aku dapat merasakan hal tersebut." ujar Viltus

"Hei, Viltus..."

"Huh ?"

"Kau mencintai Taihou, benar ?"

"Tentu saja."

"Maka, jangan berpikir seperti itu mengerti !" ujar Aoba

Viltus sangat terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Aoba. Ia melihat wajah Aoba yang sangat serius pada saat mengatakan hal tersebut. Pada akhirnya, ia tersenyum dan berkata,

"Jika kakak iparku berkata demikian, maka diriku akan melakukannya."

"Baguslah !" ujar Aoba

"Daripada itu, di mana Yayoi dan Uzuki ?" tanya Viltus

"Oh... Mereka sedang menjalankan ekspedisi." jawab Aoba

"Di udara sedingin ini ? Mungkin diriku akan menyiapkan coklat hangat untuk mereka." ujar Viltus

"Ahahahahaha... Kau benar-benar perhatian dengan mereka ya." ujar Aoba

Setelah itu, mereka berdua berbincang-bincang sedikit mengenai beberapa hal hingga akhirnya mereka berdua tiba di depan gedung asrama lain. Viltus berkata,

"Biar kutebak... Ini adalah Gedung Asrama untuk Kelas Kapal Induk dan Kapal Tempur."

"Tepat sekali !" ujar Aoba

"Berarti... Dirinya ada di sini ?" tanya Viltus

"Di mana lagi, dasar idiot." ujar Aoba

"Jarang sekali diriku mendengar dirimu berkata seperti itu." ujar Viltus sembari menghela nafas

"Ayo kita masuk sekarang." ujar Aoba

"Iya... Iya..."

Tepat pada saat Viltus membuka pintunya, ia merasakan pintu tersebut mengenai seseorang. Dan pada saat bersamaan ia melihat Fusou yang berlari. Sontak Viltus langsung mundur dan berdiri di belakang Aoba. Ia langsung berkata,

"Aku... Tidak... Mau... Berurusan... Dengannya."

"Eh ? Tumben sekali dirimu seperti ini." ujar Aoba

Pada saat Viltus dan Aoba melihat ke depan, ia melihat Yamashiro dan Fusou yang melihat mereka. Yamashiro langsung menunjuk ke arah Viltus dan berkata,

"KAU !"

"Maafkan diriku." ujar Viltus

"Tunggu... Kenapa dirimu di sini ?! Bukankah dirimu dan..." ujar Yamashiro yang langsung dicubit oleh Fusou

Viltus hanya tersenyum saja pada saat mendengar apa yang dikatakan oleh Yamashiro barusan. Ia kemudian langsung berjalan ke depan dan menunduk sembari berkata,

"Sekali lagi, maafkan diriku. Diriku sama sekali tidak mengetahui bahwa dirimu ada di belakang pintu, Yamashiro-san."

"..."

Viltus sama sekali tidak mendengar jawaban dari Yamashiro dan kemudian melihat ke depan. Ia melihat Yamashiro yang bingung akan sesuatu dan pada akhirnya ia langsung menghela nafas. Yamashiro langsung berkata,

"Itu semua..."

"Yamashiro memaafkan dirimu." ujar Fusou

"Onee-sama ! Aku tidak..." ujar Yamashiro yang langsung disela oleh Fusou

"Jika dirimu ada di sini, berarti dirinya pun juga di sini, ya ?"

"Dirinya ?" ujar Viltus dan Aoba secara bersama-sama

"Iya. Salah satu anggota krumu." ujar Fusou

"Tentu saja semua anggota kruku... Huh ?!" ujar Viltus yang sadar akan sesuatu

Ia melihat ke arah Yamashiro yang mendapat jawaban dengan sedikit kasar,

"Apa ?"

"Tidak... Tidak apa-apa..." ujar Viltus sembari tertawa kecil

"Kau !" ujar Yamashiro yang langsung ditahan oleh Fusou

Fusou berusaha menenangkan Yamashiro sementara Aoba bertanya kepada Viltus apa yang dimaksud olehnya. Viltus hanya mengangkat bahunya sembari berkata bahwa Aoba harus menebaknya sendiri. Mendadak, ia mendengar teriakan yang sangat ia kenal. Teriakan dengan logat kansai yang cukup kental dari arah dalam gedung diiringi dengan langkah kaki yang sangat cepat. Viltus tersenyum dan langsung mundur sedikit. Tidak berapa lama, Ryuujou sampai di depan Viltus dan berteriak,

"Kau ada di sini ?! Bagaimana mungkin ?!"

"Jika dirimu mencari Magyar, dia seharusnya sedang menghangatkan diri di salah satu ruangan di gedung administrasi. Kenapa kau tidak ke sana saja ?" ujar Viltus

"Begitukah ?! Terima kasih banyak... EH ?! Tunggu sebentar ! Kau belum menjawab pertanyaanku !" ujar Ryuujou

"Tch... Tidak dapat kutipu rupanya." ujar Viltus

"Aku mendengarmu !" ujar Ryuujou

"Aku rasa apa yang ditanyakan oleh Ryuujou-san ada benarnya. Mengapa dirimu ada di Kure ini ? Bukankah Yokosuka tidak ingin dirimu dan Taihou..." ujar Fusou yang langsung disela oleh Viltus

"Jika diriku melihat situasi di sini... Aku sadar, ini satu-satunya cara agar diriku dapat bertemu dengan Taihou kembali." ujar Viltus

"Huh ?"

"Mereka tidak ingin diriku bertemu dengan Taihou di Yokosuka. Satu kelompok yang cukup memiliki pengaruh di Yokosuka yang mendorong hal tersebut. Dan sepertinya, Grand Admiral Ichijo terpaksa mengalah untuk masalah ini, sehingga beliau melakukan hal ini setidaknya agar diriku jauh dari pengawasan kelompok tersebut." ujar Viltus

"Eh ?"

"Aku yakin ada campur tangan Shiro-nee di balik semua ini." ujar Viltus

Aoba melihat ke arah Viltus dengan wajah sangat terkejut. Intuisi yang dimiliki oleh Viltus benar-benar tajam dan ia semakin yakin dengan hal tersebu saat ini. Setelah itu, Viltus berkata,

"Namun, terdapat beberapa efek samping dari rencana itu. Kesehatanku sama sekali tidak stabil pada saat pertama kali mendengar hal tersebut. Apalagi ayah dan Grand Admiral tidak memberitahukan ke mana perginya Taihou. Bahkan diriku sempat bertengkar dengan Kapten Okada di sini."

"Lalu... Sejak kapan dirimu..." tanya Yamashiro yang langsung dijawab oleh Viltus

"Pada saat aku bertemu dengan Aoba kembali. Ditambah dengan ekspresi yang ditunjukkan oleh Gadis Kapal yang pernah di bawah arahanku. Aku yakin alasan utama mereka semua dipindahkan adalah kalian semua yang sangat dekat dengan diriku sehingga harus dipisahkan. Apakah itu benar, Ryuujou ?"

"Ah... Iya... Maka dari itu aku bertanya seperti itu." ujar Ryuujou

"Dari situ diriku sadar... Itu adalah satu-satunya cara agar diriku dapat berkumpul bersama kalian kembali. Apalagi di Kure ini terdapat beberapa peraturan yang tidak ada di Yokosuka dan terdapat beberapa peraturan yang menghilang dari peraturan di Yokosuka." ujar Viltus

Semua terlihat sangat terkejut pada saat Viltus menjelaskan hal tersebut dengan tenang. Viltus kemudian melanjutkan,

"Walaupun demikian... Diriku masih sedikit khawatir akan satu hal."

"Mengenai Taihou, benar ?" tanya Yamashiro

"Iya. Semua kejadian ini karena diriku yang bertindak ceroboh pada saat itu. Aku yakin pada saat bertemu dengan dirinya... Dia akan..." ujar Viltus tidak dapat melanjutkan apa yang ingin dikatakannya

"Ya... Taihou sangat menderita karena semua tindakan bodohmu." ujar Yamashiro

"Yamashiro !" ujar Fusou

"Ia terlihat sangat murung dan terkadang ingin menangis setiap kali berada di sisimu pada saat di Yokosuka. Aku yakin dirinya pun merasa bersalah karena telah membuat keputusan itu di masa lalu. Aku yakin pada saat dirimu bertemu dengan dirinya, situasi pada saat itu akan sangat berat." ujar Yamashiro

"..."

"Baik dirimu maupun Taihou sama saja. Sama-sama bodoh. Dan sangat menderita." lanjut Yamashiro

"Eh ?"

"Namun, hanya dirimu saja yang dapat mengembalikan dirinya menjadi normal. Tidak.. Bahkan lebih baik lagi. Maka dari itu... Masuk ke dalam sekarang. Aku yakin kau pasti kedinginan dengan pakaian setipis itu." ujar Yamashiro sembari berjalan lebih dahulu.

Semuanya melihat ke arah Yamashiro yang masuk ke dalam dan kemudian melihat satu sama lain. Viltus terdiam sebentar dan kemudian tersenyum. Ia berkata,

"Kapan diriku pernah mendengar itu, ya ?"

"Eh ? Kau pernah mendengar itu ?! Kapan ?" tanya Aoba

"Entahlah... Hanya sedikit orang saja yang mendengar itu. Dan konteksnya pun berbeda." ujar Viltus sembari berjalan masuk ke dalam mengikuti Yamashiro

Semuanya kembali melihat satu sama lain dan kemudian berjalan mengikuti Viltus.


Di dalam asrama Gadis Kapal tersebut, Viltus mengikuti Yamashiro hingga akhirnya Yamashiro berhenti dan bertanya,

"Mengapa dirimu mengikuti diriku ?"

"Kukira dirimu akan membawaku ke satu tempat. Dan sepertinya tidak." ujar Viltus

"..."

"Hei, jangan menunjukkan wajah seperti itu." ujar Viltus

Yamashiro sama sekali tidak menggubris Viltus dan terus berjalan hingga akhirnya tiba di salah satu ruangan. Ruangan tersebut cukup luas dengan sebuah televisi terpasang di salah satu sisi. Di tengah ruangan tersebut terdapat sebuah kotatsu dan beberapa meja di pinggirnya. Di sana, Viltus melihat lima Gadis Kapal yang dikenalnya. Mereka adalah Houshou, Zuikaku, Hiryuu, Souryuu, dan Zuihou.

Pada saat Yamashiro masuk ke dalam, Houshou langsung menyambutnya dan kemudian terdiam karena melihat Viltus yang berdiri di sana. Sontak ia langsung berdiri dan membuat semua Gadis Kapal lain sedikit penasaran apa yang membuat Houshou seperti itu. Dan wajah mereka sangat terkejut pada saat melihat Viltus yang berdiri di sana.

Houshou langsung berjalan ke depan Viltus dan berhenti di depannya. Viltus tersenyum dan berkata,

"Lama tidak jumpa, Houshou."

"Lama tidak jumpa, Viltus-san." ujar Houshou

"Tidak kusangka dirimu... Eh ?"

Viltus langsung terdiam pada saat ia melihat Houshou yang mulai menangis. Viltus langsung menutup mata dan kemudian menyeka air mata Houshou sembari berkata,

"Maafkan aku atas kejadian itu, Houshou-san."

"Aku tahu... Aku tahu... Itu semua... karena rasa cintamu pada Taihou..." ujar Houshou

"Walaupun demikian... Itu sama sekali tidak membenarkan apa yang telah kulakukan sebelumnya." ujar Viltus

Houshou melihat ke arah Viltus dan kemudian tersenyum. Viltus sangat terkejut melihat hal tersebut. Setelah itu, Houshou langsung mengusap pipi dari Viltus dan berusaha mengusap rambutnya. Ia kemudian berkata,

"Setidaknya... Sekarang dirimu sudah cukup sehat."

"Dapat dikatakan diriku sudah sangat sehat. Jauh lebih sehat dari sebelumnya." balas Viltus

"Baguslah..."

Houshou kemudian berjalan ke arah dapur dan kemudian berkata,

"Diriku akan menyiapkan minuman untuk dirimu. Apakah kau memiliki sesuatu yang ingin kau minum ?"

"Satu botol Vodka." jawab Viltus

"Oh... Tidak bisa. Kecuali kau datang ke kedaiku nanti malam." ujar Houshou

"Ahahahahaha... Aku tahu koq. Jika demikian, secangkir teh sudah cukup." ujar Viltus

"Baiklah."

Viltus melihat ke arah Houshou dan kemudian langsung tersenyum. Mendadak Ryuujou menarik Viltus dan mengajaknya duduk di kotatsu yang tersedia. Zuikaku langsung bergeser agar Viltus dapat masuk ke dalam kotatsu. Setelah ia duduk, Ryuujou melihat ke arah Yamashiro dan Fusou dan kemudian bertanya,

"Kalian berdua tidak ingin bergabung dengan kami ?"

"Tidak. Untuk apa diriku berbicara dengan Laksamana pembawa sial tersebut ?" ujar Yamashiro

"Ahahahaha... Ada benarnya juga sih." ujar Viltus yang mendengar jawaban dari Yamashiro

Yamashiro hanya memalingkan wajahnya dan kemudian berjalan keluar sembari mengajak Fusou. Viltus hanya tersenyum saja pada saat melihat Yamashiro yang berjalan keluar dari ruangan tersebut. Setelah itu, Zuikaku melihat ke arah Viltus dan berkata,

"Diriku sama sekali tidak menyangka akan bertemu dengan dirimu di sini."

"Begitu juga dengan diriku." ujar Viltus

"Daripada itu... Kau sudah bertemu dengan siapa saja ?" tanya Zuikaku

Viltus tersenyum dan langsung menceritakan kegiatannya hari ini sembari mengajak Aoba untuk bergabung.


Tiga puluh menit telah berlalu dan Houshou pun kembali bergabung dengan mereka sembari membawa minuman untuk mereka semua. Setelah bergabung dengan mereka semua, Houshou langsung mendengarkan apa yang diceritakan oleh Viltus sembari menceritakan apa yang mereka semua lakukan selama di Kure.

Mereka semua saling bertukar cerita hingga akhirnya mereka semua dikejutkan oleh seseorang yang masuk ke ruangan tersebut. Yang masuk ke dalam ruangan tersebut adalah Shoukaku dengan wajah yang sangat terkejut. Ia langsung terdiam sebentar dan kemudian berkata,

"Lama tidak jumpa, Laksamana Amarov."

"Lama tidak jumpa, Shoukaku." ujar Viltus

Viltus memperhatikan Shoukaku dan tahu apa yang ada di dalam pikirannya. Ia sudah mendengarkan perangai Shoukaku selama dirinya tidak sadarkan diri dari Anastasia dan juga beberapa pengalamannya selama di Yokosuka. Pada saat Shoukaku akan bertanya kepada Viltus, Viltu langsung berkata,

"Bagaimana kabarmu, Shoukaku ?"

"Ah... Diriku baik-baik saja." jawab Shoukaku

"Baguslah jika demikian."

"Lalu, bagaimana..."

"Apakah dirimu dapat berteman baik dengan Laksamana sementaramu di Kure ini ?"

"Itu..."

"Apakah kau sudah dapat berbicara secara baik-baik dengan semua Gadis Kapal lain di Kure ?"

"..."

"Apakah kau sudah meminta maaf kepada Aoba atas yang kau katakan kepadanya ?"

Shoukaku semakin terdiam pada saat mendengar pertanyaan tersebut. Houshou tahu kejadian antara Shoukaku dan Aoba pada saat itu, namun ia sama sekali tidak menyangka itu sampai ke telinga Viltus. Shoukaku langsung menghela nafas dan berkata,

"Seperti biasa... Dirimu benar-benar tajam jika itu membahas mereka semua."

"Kau seharusnya menyadari itu sebelum melakukan itu semua, Shoukaku." ujar Viltus

"Tch..."

"..."

"Daripada itu apakah kau tahu yang terjadi pada..."

"Aku tahu. Aku mendengar semuanya dari seluruh anggota kruku dan juga Laksamana Muda Yoshida." sela Viltus

Shoukaku melihat sebentar ke arah Viltus dan langsung membuat wajah jijik. Viltus langsung tersenyum dan berkata,

"Aku sangat mengerti apa yang ada di dalam kepalamu, Shoukaku."

"..."

"Namun, sebaiknya dirimu memperbaiki tabiatmu."

"Apa maksud..."

"Diriku masih dapat mentolerir atas semua kejadian ini. Namun, tidak dengan semua anggota kruku. Jika dirimu membuat masalah lagi, aku tidak menjamin keamananmu." ujar Viltus

"Huh ? Maksudmu gadis dari Russia yang..."

"Aku tidak mengada-ngada pada saat berkata Anastasia dapat menghabisi Abyssal. Dia itu memang sangat menakutkan..."

"..."

Shoukaku langsung terdiam dan kemudian berjalan keluar. Sebelum benar-benar keluar dari ruangan tersebut, Viltus berkata,

"Jika kau mengarahkan amarahmu kepada Taihou... Aku tidak akan membiarkanmu kali ini."

"..."

"Aku benar-benar serius, Shoukaku." ujar Viltus sembari menutup matanya

Zuikaku langsung terdiam pada saat mendengar Viltus berkata demikian. Ia sangat khawatir jika Shoukaku akan melakukan sesuatu terhadap Taihou tanpa memperdulikan apa yang dikatakan oleh Viltus. Shoukaku melihat ke arah Viltus dan langsung meninggalkan ruangan tersebut.

Houshou yang melihat itu langsung menghela nafas dan bertanya,

"Kau yakin Shoukaku tidak akan melakukan apapun ?"

"Tenang saja... Itu adalah peringatan yang diberikan langsung oleh diriku." jawab Viltus

"Namun, bagaimana jika Shoukaku-nee..." tanya Zuikaku yang langsung disela oleh Viltus,

"Maka... Aku akan menghukumnya."

Semuanya melihat wajah dingin yang ditunjukkan oleh Viltus dan langsung terdiam karena melihat warna mata Viltus yang berubah menjadi merah selama beberapa detik sebelum kembali menjadi biru. Viltus kemudian tersenyum dan kemudian berkata,

"Daripada kita membicarakan hal ini... Bagaimana jika kalian menceritakan lebih jauh lagi apa saja yang dilakukan oleh Hayate atau Shiro-nee selama kalian semua di sini ? Aku yakin pasti kalian memiliki banyak hal yang dapat diceritakan kepadaku."

Semuanya terdiam sebentar dan melihat satu sama lain. Mereka semua mengangguk dan langsung menceritakan apa saja yang terjadi selama di Kure ini.


Mereka semua bercerita hingga akhirnya Houshou bertanya kepada mereka semua,

"Apakah kalian ingin makan sesuatu ?"

Viltus melihat ke arah jam di dinding dan ia baru menyadari dirinya sudah cukup lama di ruangan tersebut. Ia melihat semuanya meminta untuk dibuatkan makanan berkuah untuk malam yang dingin tersebut. Ia tersenyum dan kemudian langsung berdiri dan berkata,

"Diriku akan membantu dirimu, Houshou."

"Eh ? Tidak perlu. Kau istirahat saja." ujar Houshou

"Ayolah. Diriku sudah lama tidak memasak. Rasanya rindu sekali kembali ke dapur." ujar Viltus

Houshou melihat ke arah Viltus sebentar dan kemudian menghela nafas. Ia kemudian berkata,

"Silakan saja."

Viltus langsung tersenyum dan kemudian keluar dari kotatsu tersebut. Ia kemudian mengikuti Houshou ke arah dapur untuk membantunya membuat makanan. Houshou langsung memberi instruksi kepada Viltus untuk memotong beberapa bahan makanan di sana. Dan pada saat Viltus memotong bahan makanan tersebut, Houshou bertanya kepada Viltus,

"Aku bertanya-tanya... Mengapa dirimu tidak langsung mendatangi Taihou saja sekarang."

"..."

"Kau mengetahui mengenai fakta bahwa dirinya ada di sini. Di tempat yang jauh dari Ichijo-san. Lalu, mengapa dirimu masih menahan diri untuk tidak bertemu dengan dirinya ?" tanya Houshou kembali

"Aku memiliki beberapa alasan... Namun, karena alasan itu diriku dimarahi oleh Yamashiro." ujar Viltus

"Huh ? Yamashiro memarahi dirimu ?" ujar Houshou dengan wajah terkejut

"Iya. Aku pun terkejut pada saat dirinya berkata seperti itu." ujar Viltus

Houshou terdiam sebentar dan kemudian langsung berhenti mengerjakan apa yang ada di depannya. Ia kemudian melihat ke arah Viltus. Viltus menyadari hal tersebut dan langsung terdiam. Houshou kemudian berkata,

"Aku ingat... Pada saat dirimu mendatangi Aoba pada saat dirinya kehilangan pria yang ia cintai dahulu."

"..."

"Kau mampu melakukannya... Kau mampu membuat semuanya kembali terangkat semangatnya." lanjut Houshou

"Itu..."

"Dan dirimu pun yang mengubah beberapa dari kami selama di Yokosuka. Tidak... Tidak hanya dirimu, namun Taihou pun demikian. Kalianlah yang mengubah beberapa dari kami di Yokosuka ini."

"..."

"Maka dari itu... Melihat dirimu dan Taihou yang terlihat sangat menderita itu sangat menyakitkan."

"..."

"Jadi... Maukah kau bertemu dengan Taihou ? Kau tidak perlu memikirkan apa yang ada di dalam kepalamu saat ini... Jika kau membiarkan itu mengambil alih dirimu, semuanya akan sia-sia." ujar Houshou

Viltus kemudian tertawa kecil pada saat Houshou berkata demikian. Ia kemudian melanjutkan memotong bahan makanan di hadapannya. Houshou sangat terkejut melihat reaksi dari Viltus dan dengan sedikit kecewa ia melanjutkan membuat makanan. Namun, pada saat Houshou akan melanjutkannya, Viltus berkata,

"Aku akan menemui dirinya. Aku sudah memutuskan itu semenjak Yamashiro sedikit memarahi diriku."

"Eh ?"

"Maka dari itu... Aku sedang mempersiapkan diriku untuk bertemu dengan dirinya. Aku yakin dirinya akan sangat terkejut melihat diriku." ujar Viltus

"..."

"Kau tidak perlu khawatir, Houshou-san. Aku akan menemui dirinya nanti." ujar Viltus sembari tersenyum

Houshou langsung tersenyum tipis dan melanjutkan membuat makanan untuk Gadis Kapal yang menunggu makanan buatan mereka berdua di kotatsu. Setelah makanan tersebut selesai, Houshou langsung menyiapkan nampan. Viltus sendiri langsung menaruh beberapa di nampan, hingga akhirnya Houshou menyerahkan satu nampan kepada dirinya. Viltus, yang melihat Houshou, langsung terdiam melihat apa yang dilakukan oleh Houshou. Houshou kemudian berkata,

"Kamarnya berada di lantai dua. Dia berada di ujung barat dari gedung ini. Jika dirimu menaiki tangga di kiri sini, kau tinggal belok ke arah kiri saja setelah naik satu tingkat."

"..."

"Kau akan menemuinya, benar ?" tanya Houshou kemudian

"Iya. Aku akan menemui dirinya." ujar Viltus

"Baguslah. Semoga kalian dapat bahagia bertemu satu sama lain." ujar Houshou

"Terima kasih banyak, Houshou." ujar Viltus

Viltus meninggalkan dapur tersebut sembari membawa satu nampan tersebut. Sementara, Houshou membawa nampan lain ke arah kotatsu. Viltus sempat mendengar pertanyaan dari Aoba yang mencari Viltus yang kemudian langsung dijawab oleh Houshou mengenai apa yang akan dilakukan oleh Viltus. Viltus tersenyum sedikit dan kemudian meninggalkan ruangan tersebut.


Viltus sudah sampai di lantai kedua dan mulai berjalan ke arah ruangan milik Taihou. Dan sepanjang perjalanan tersebut, ia memikirkan berbagai hal yang akan ia bicarakan dengan Taihou. Namun, yang paling ia khawatirkan adalah Taihou yang akan menjauhi dirinya. Atau bahkan lebih buruk lagi, ingatannya dihapus agar Taihou tidak mengenali dirinya.

Namun, ia ingat semua Gadis Kapal di Kure mengenali dirinya. Tetapi, itu tidak menutup kemungkinan hal tersebut terjadi. Viltus berhenti sebentar dan kemudian berkata,

"Bagaimana jika dia benar-benar tidak ingat dengan diriku ?"

Viltus terdiam sebentar dan kemudian menggelengkan kepalanya. Ia kemudian berkata,

"Jika demikian... Aku akan mengajari dirinya kembali. Aku akan membuatnya jatuh cinta kembali pada diriku."

Ia kemudian kembali berjalan dan kali ini di kepalanya bertanya,

"Bagaimana jika dirinya membenci dirimu karena tindakanmu saat itu ?"

Viltus langsung berhenti dan ia terlihat tidak yakin. Namun, ia kemudian ingat apa yang dikatakan oleh Yamashiro sebelumnya yang mengatakan bahwa Taihou sangat menderita dan melanjutkan bahwa hanya Viltus yang dapat membantu Taihou. Ia percaya dengan apa yang dikatakan oleh Yamashiro dan terus berjalan.

Selama dirinya berjalan, ia mendengar dirinya yang berusaha untuk tidak menemui Taihou. Namun, dirinya benar-benar sudah memiliki tekad yang bulat untuk menemui Taihou. Hingga akhirnya ia tiba di depan pintu kamar dengan nama Taihou di sana.

Ia langsung menarik nafas panjang dan kemudian mengetuk pintu kamar Taihou. Ia sama sekali tidak mendengar jawaban sedikit pun dari dalam. Ia menunggu selama beberapa saat dan kemudian mengetuk pintu tersebut kembali. Dan kali ini, ia mendengar suara seseorang yang berjalan ke arah pintu sembari berkata,

"Ah... Tunggu sebentar..."

Suara dari seseorang yang sudah lama tidak ia temui. Setelah itu, ia mendengar suara kunci pintu yang diputar dan setelah itu pintu pun terbuka. Di sana, Viltus dapat melihat seorang wanita yang terkejut melihat dirinya. Seorang wanita dengan rambut coklat yang sangat ia rindukan. Taihou melihat ke arah Viltus dengan wajah terkejut. Viltus tersenyum, mengangkat nampannya dan kemudian berkata,

"Ah... Diriku membawakan dirimu..."

Mendadak Taihou langsung memeluk Viltus dan membuat nampan yang dipegang oleh Viltus terjatuh. Viltus terdiam sebentar dan dapat merasakan Taihou yang mulai bergetar. Ia pun merasakan Taihou yang mengusap wajahnya ke dada Viltus. Ia kemudian langsung memeluk Taihou dan kemudian mengelus kepala Taihou. Ia tahu, Taihou sangat menderita selama kejadian ini, terutama selama mereka berdua terpisah satu sama lain. Namun, sekarang mereka sudah bertemu kembali dan meluapkan rasa rindu mereka kepada satu sama lain.


Viltus sekarang sudah di dalam kamar Taihou dan duduk di kasurnya. Taihou sendiri duduk di sebelah Viltus dan bersandar di bahu Viltus. Viltus yang memulai lebih dahulu,

"Taihou..."

"..."

"Maafkan aku... Atas kejadian sebelumnya." ujar Viltus

"..."

"Jika saja... Diriku tidak melakukan hal tersebut..."

"Sudahlah, Viltus. Tidak ada gunanya dirimu menyesali hal tersebut. Apa yang terjadi di masa lalu, biarlah terjadi di masa lalu." ujar Taihou

"..."

"Lagipula, diriku pun salah telah membuat keputusan tersebut."

Setelah Taihou berkata demikian, mereka berdua terdiam. Mereka sama sekali tidak dapat mengucapkan apa yang ada di dalam kepala mereka karena semuanya terlalu banyak. Rasa rindu mereka dan rasa bersalah mereka kepada satu sama lain yang menyebabkan hal tersebut. Walaupun demikian, mereka berdua mengetahui apa yang ada di dalam kepala masing-masing. Hingga akhirnya, Viltus berkata,

"Itu semua karena kita berdua yang salah dalam membuat keputusan."

"Kau benar..." ujar Taihou

"Walaupun demikian... Diriku benar-benar kembali. Kembali bersama kalian semua." ujar Viltus

"Namun, tetap saja... Dirimu tidak menepati janjimu kepadaku." ujar Taihou dengan wajah kesal

"Ahahahahaha... Kau ada benarnya." ujar Viltus

Namun, kemudian mereka berdua kembali terdiam. Hingga akhirnya, Taihou bersin karena rasa di dingin di dalam ruangan tersebut. Viltus yang melihat itu langsung mengambil selimut dan menutupi tubuhnya, yang kemudian langsung menarik Taihou ke dalam selimut tersebut. Taihou sangat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Viltus. Tanpa sempat Taihou berkata apapun, Viltus langsung memeluknya dan kemudian berkata,

"Aku benar-benar merindukan dirimu, Taihou. Selama diriku terpisah dari dirimu, entah mengapa semuanya terasa berbeda."

"Aku tahu..." ujar Taihou

"..."

"Dan kau tahu... Aku merasa sangat bersalah selama dirimu tidak sadarakan diri dahulu. Namun, pada saat melihat dirimu sekarang, aku merasa sangat bahagia."

"Aku pun demikian." ujar Viltus

"Pada saat diriku dipindahkan kemari, aku mengira tidak akan menemui dirimu lagi... Tetapi, sepertinya diriku salah..." ujar Taihou

"Begitu pula dengan diriku..." ujar Viltus

"Namun, diriku bertanya-tanya... Apakah diriku benar-benar pantas untuk dirimu ? Apakah aku pantas mengisi lubang di dalam hatimu ? Setelah semua kejadian ini... Diriku merasa..." ujar Taihou yang mulai sedikit menangis.

Viltus dapat merasakan air mata dari Taihou dan langsung menyekanya. Ia kemudian berkata,

"Kau memang pantas menjadi pasanganku. Aku tidak peduli dengan hal lain. Itu semua karena... Dirimulah yang kucintai."

Taihou yang melihat itu langsung tersenyum sembari menangis dan membenamkan wajahnya di dada Viltus. Ia kemudian berkata,

"Berjanjilah kepadaku untuk tidak akan melakukan tindakan bodoh seperti itu lagi."

"Tentu saja..." ujar Viltus

Viltus memeluk Taihou dengan erat dan Taihou semakin tersenyum karena dapat merasakan kembali Viltus yang sudah tidak ia temui selama beberapa bulan. Hingga akhirnya, Taihou berkata,

"Viltus... Maukah kau menemaniku hari ini ?"

"Tentu saja. Aku ingin mendengar semuanya darimu." ujar Viltus

"Terima kasih."


Houshou dan Aoba berjalan ke arah kamar Taihou karena waktu sudah malam. Pada saat mereka hampir sampai di depan kamar Taihou, mereka berdua melihat nampan yang jatuh di depan kamar tersebut. Aoba terkejut dan bermaksud berlari ke sana. Namun, dirinya ditahan oleh Houshou yang berkata,

"Aoba, sebaiknya dirimu membiarkan mereka berdua saja dahulu."

"Eh ? Apakah kau tidak khawatir jika mereka berdua bertengkar ?" tanya Aoba

"Tidak... Aku percaya mereka tidak akan bertengkar." ujar Houshou

Houshou kemudian mengajak Aoba untuk turun sembari berkata,

"Kau tidak ingin menganggu saat-saat seperti ini, kan ?"

"Ah... Aoba tidak akan menganggu." ujar Aoba

"Aku akan memarahi mereka besok. Sebaiknya kau istirahat sekarang, Aoba. Aku yakin Okada-san akan meminta laporan dari dirimu."

"Ah... Baik !"

Aoba kemudian turun lebih dahulu dari Houshou. Houshou kemudian melihat kembali ke arah kamar Taihou dan tersenyum. Setelah itu, ia langsung turun ke bawah menyusul Aoba. Sementara itu, di dalam kamar Taihou. Viltus dan Taihou sudah tertidur sembari memeluk satu sama lain di bawah selimut. Mereka berdua terlihat sangat bahagia karena kembali bertemu satu sama lain. Dan sekarang, mereka menantikan kisah baru mereka di tempat baru ini. Bersama-sama.