Geenie Nam dot blogspot dot com

(Geenie Nam POV)

Hhh... setelah seharian bekerja aku akhirnya sedang duduk di sini. Bersama dengan Kim Namjoon. Dia sedang mengutak-atik laptopku yang satu lagi. Kemarin kami sudah janji bertemu disini, di cafe Hitam Putih, cafe favoritku dan Namjoon. Aku tidak tahu sejak kapan Namjoon suka dengan cafe ini, kami tidak sengaja bertemu sekitar tiga bulan yang lalu. Yang akhirnya aku ketahui Kim Namjoon adalah saudara Kim Chanyeol, pacar Baekhyun.

Aku jadi ingat pada Yoongi lagi. Apa dia akan mengucapkan selamat ulang tahun untukku lima hari lagi ya? Ah, lupakan.

Oh ya, semalam Jungkook membaca postinganku. Dia langsung menyerbuku dengan sejuta argumennya. Entah kenapa aku malah memang menantikan kebawelan Jungkook itu. Saat itu juga aku dan Jungkook langsung ber-chatting-ria sampai pukul setengah empat pagi. Gila.

Rupanya Jungkook ketiduran dari jam 5 sore dan bangun jam 12 malam. Jungkook, kau itu tertidur atau mati suri? Aku yang kebetulan tidak bisa tidur karena kepikiran Kim Taehyung pun malah senang bukan kepalang saat chatting dengan Jungkook. Oh ya, Jungkook bersedia jadi adikku. Oh God, Thanks.

Ah iya, tadi pagi-pagi sekali Taehyung membalas pesanku. Senang. Yap, tentu itu yang ku rasakan. Dan,,,,

"Jin, sistemnya aku kunci saja, ok?" Kim Namjoon memecah konsentrasiku. Ku tatap dia sekilas lalu kembali fokus ke notebook ku.

"Apa yang menurutmu baik sajalah, Namjoon," jawabku sekenanya.

Dan ternyata Taehyung masih seperti dulu. Lucu dan selalu bisa membuatku tertawa. Ada satu isi pesannya yang membuatku langsung tertawa di tempat. Kira-kira begini :

Oh, aku sehat kok, Hyung.
Oh ya, kabar ibuku di sana bagaimana, hyung? Sehat?

Aku langsung speechless. Bagaimana bisa Taehyung malah menanyakan kabar ibunya? Kurasa jahilnya sedang kumat. Aku langsung membalas :

Hah,,,
Kenapa kau malah menanyakan kabar ibumu?
Bibi baik-baik saja, Tae.

Pasti dia tertawa juga saat membaca balasan dariku. Aku tidak peduli. Yang penting aku senang.

Hari ini lagi-lagi aku tidak dalam mood yang baik untuk menulis. Aku hanya ingin curhat saja. Ideku sedang menggantung. Pasti gara-gara aku terus teringat dengan Kim Taehyung.

Hari ini tidak ada kabar apapun tentang Baekhyun. Kurasa dia sedang asyik menyiapkan pernikahannya bersama Chanyeol. Aku kapan ya?

Drrttt,,,drrttt,,,,,

Ku lirik ke smartphone-ku sebentar. Jungkook?

Buru-buru kubuka pesan dari Jungkook. Aku tersenyum simpul. Selalu saja seperti ini. Dia pasti mengirim pesan dengan hanya sebuah kata 'hyung' saja, atau dengan tambahan 'Seokjin hyung'. Segera ku balas pesan dari Jungkook. Setelah itu ku lirik Namjoon yang sedang serius membuka-buka windows.

"Namjoon, maaf ya?" Sesalku.

Ia terhenyak.

"Maaf kenapa?" Tanyanya dengan raut super bingung.

"Karena aku sudah mengacuhkanmu dan malah asyik membuat blog."

Ku dengar ia terkekeh kecil. Ku dongakkan kepalaku. Mata bening kami bertemu. Sungguh Kim Namjoon membuatku ingin terbang melayang. Tapi aku buru-buru menghilangkan semuanya, kami hanya teman.

"Aku mengerti. Tidak apa-apa, kau teruskan saja, Jin." Ia menatap ke samping kananku. "Itu smartphone-mu berbunyi."

Aku menoleh ke kanan dan segera menyambar smartphone-ku. Entahlah, aku selalu semangat bila Jungkook mengirimiku pesan. Banyak cerita unik di dalam kehidupan Jungkook yang membuatku penasaran. Ku tekan tombol buka.

Aku memekik, Namjoon sontak menoleh ke arahku. Aku tersenyum kaku dan langsung membalas pesan Jungkook dengan gerakan cepat.

Ku ketuk-ketukan jariku di layar smartphone-ku. Lama sekali dia membalasannya. Aku mulai gusar. Namjoon mengoceh lagi.

"Dari siapa? Heboh sekali."

Aku berfikir sebentar sebelum menjawab. "Dari Jungkook."

"Dia kenapa?"

"Dia ja…" Aku harus memakai akal sehatku. Jangan gegabah.

"Ja apa?"

"Jatuh. Ya, Jungkook jatuh. Jadi ya aku sedikit panik."

Namjoon mengangguk-angguk sesaat kemudian kembali larut mengotak-atik laptopku.

Huh, yang benar saja. Jeon Jungkook baru saja jadi pacar Park Jimin? Aku memutar keras otakku. Apa peristiwa perampokan waktu itu sungguh membuat Jungkook luluh pada Jimin? Aku harus menanyakan semuanya.

Kulirik lagi smartphone-ku. Belum ada tanda-tanda berbunyi atau apalah. Oh Jungkook, Come On.

Drrttt,,,drrrttt,,,,

Aku segera menyambar smartphone-ku.

Shit. Jungkook meminta negosiasi, dia akan bercerita bila aku mau menuruti salah satu permintaannya. Dasar, anak kecil yang tidak pernah mau rugi.

Namjoon menegurku. "Ada masalah?"

"Tidak."

Namjoon mengangkat bahunya lalu kembali fokus ke jajaran windows. Aku seketika kehilangan mood untuk melanjutkan postingan curhatku. Terserah lah, semua gara-gara Jungkook. Jadi bad mood kan.

Ku tekan beberapa tombol di notebook ku lalu ku tekan dengan perasaan sebal sebuah tombol bertuliskan enter.

Namjoon menoleh lagi padaku, kurasa tadi aku sedikit menimbulkan suara gaduh. Lalu kuketik beberapa kata di salah satu kotak saran.

(Geenie Nam)
[25 Tahun vs 15 Tahun]
Publish

Lalu aku logout tanpa membaca pesan mini dari 'Jin', salah satu dari dua member favoritku. Lagipula, dia pasti sedang sibuk dengan acara pernikahannya. Sial, aku jadi semakin kesal. Langsung ku shut-down notebook-ku.

Ku lirik Kim Namjoon. "Aku pulang. Bawa saja laptop itu."

Namjoon bangkit dan segera menahan lenganku. "Kau tidak apa-apa, Jin?"

"Aku baik-baik saja."

Namjoon berfikir sejenak. "Aku antar ya?"

"Tidak perlu."

Ku tepis halus tangan Namjoon dan aku pun melangkah meninggalkannya.

"Aku khawatir kalau kau pulang sendirian, Jin."

Aku berhenti sebentar, tapi kemudian melanjutkan kembali langkahku. Kurasa itu hanya khayalanku saja, tak mungkin kan itu benar-benar guibun kecil dari Kim Namjoon?

Ku lirik lagi smartphone yang aku genggam. Ah, dari Jungkook. Walaupun tadi Jungkook sempat membuatku kesal, tapi kekanak-kanakan sekali bila aku langsung marah padanya. Lagi pula aku yakin sebentar lagi dia akan bercerita tentang dirinya dengan Park Jimin.

"TAKSI!"

Sedan biru pun berhenti tepat di depanku. Aku masuk. Ku rasa obrolanku dan Jungkook akan berlangsung sampai tengah malam nanti. Syukurlah, untung ada Jungkook.


(Kim Jin POV)

Aku terpaku melihat sebuah pantulan di cermin. Sesosok pria dibalut tuxedo putih serta make up natural menghiasi wajahnya. Cantik sekali. Aku terhenyak, itu aku?

Ayahku tersenyum manis ke arahku. Matanya berbinar, senyumnya merekah. Membuat hatiku semakin damai. Aku kembali menoleh ke cermin, ternyata itu benar-benar pantulan diriku.

"Sayang, ayo kita pergi."

Aku mengangguk, menggamit lengannya, dan mengikuti langkah ayahku menuju altar. Bisa ku lihat beberapa orang telah memenuhi kursi tamu. Pangeran Kim-ku yang tampan sudah berdiri di atas altar dengan mata membulat dan wajah terkejut. Dia sepertinya tercengang melihat penampilanku.

Namjoon tersenyum sangat lebar saat menyambut tanganku yang disodorkan oleh ayah.

"Aku memang tidak salah pilih." Ia berbisik tepat di telingaku. Aku hanya tersenyum simpul dan berusaha fokus ke prosesi acara.

Tak lama…

"Aku bersedia."

Tepuk tangan kebahagiaan seketika menyeruak memenuhi tempat resepsi pernikahanku. Aku dan Namjoon kini tak ada pembatas lagi. Semuanya menghilang, aku dan Namjoon menyatu.

Aku bahagia sekali. Ku lirik Namjoon, dia balas melirikku kemudian bibir kami bertemu, menandakan kepemilikanku seutuhnya untuknya.

###

Pagi ini tak seperti biasanya, aku bangun dan mendapati Namjoon terbaring di sebelahku. Wajahnya begitu teduh.

"Jinseok sudah bangun?" Namjoon menguap sambil mengelus pipi ku. Aku tersenyum.

"Kau mimpi apa semalam, Joon-ah?"

Ia mengerutkan keningnya, tapi menjawab juga.

"Mimpi pangeran berkuda putih bernama Mr. Kim akhirnya mendapatkan sosok cantik dihidupnya." Ia terkekeh.

Aku melotot. "Namjoon-ah, itu tidak lucu."

"Hei, kan tadi kau sendiri Jinseok sayang yang bertanya. Ya itu jawabanku."

Aku masih memasang tampang sebal. "Kau tidak pernah serius, Joon."

"Cepcepcep,,, Seokjinku yang cantik ini kenapa malah cemberut, sih?" Ia mengelus pipi ku –lagi– dengan manja.

"Aku cinta padamu, Kim Namjoon."

"Kau tahu aku lebih mencintaimu, Kim Seokjin."

Aku pun bangkit dan segera ke kamar mandi. Tubuhku terasa lengket sekali. Aku berfikir, ternyata aku memang tidak salah pilih. Namjoon tetap yang terbaik bagiku. Oh ya, dari kemarin aku belum membuka blog Geenie-Nam barang sedetikpun. Kira-kira Seokjin curhat apa lagi ya? Dan apakah pesan yang dikirimnya untuk Kim Taehyung mendapat balasan? Dan bagaimana dengan Jungkook-Jungkook itu?

Ku percepat gerakanku membilas sabun. Tiba-tiba Namjoon berteriak.

"Sayang…"

Aku percepat lagi gerakanku dan ku sambar baju handuk yang tergantung di belakang pintu. Aku segera berlari keluar kamar mandi. Namjoon sudah berkutat di depan laptop. Ia melihatku dan segera menarikku ke depan laptop.

"Lihat ini."

Ku ikuti arah tunjuk Namjoon. Aku langsung tercekat. Ku lirik Namjoon, ku lirik lagi layar laptop, lalu ke Namjoon lagi. Ini tidak mungkin, kenapa bisa sekebetulan ini?

"Kim,,,Kim Namjoon?"

"Dan namaku juga Kim Namjoon." Ia menunjuk dirinya sendiri.

Aku masih terdiam. Apa dunia sesempit itu ya? Apa tingkat kekreatifitasan orang sedangkal itu ya? Kenapa bisa sama?

Aku terus mencerna semuanya hingga kurasakan sesuatu yang hangat dan basah melekat erat di alat ucapku. Aku langsung mendelik.

"Maaf." Ujar Namjoon dengan sorot mata polos.

Aku memasang tampang dingin. Namjoon langsung menunduk. "Kebiasaan." Ujarku.

Aku berbalik. Namjoon dengan cekatan menahan tanganku.

"Maafkan aku."

"Aku mau pakai pakaianku." Ku lepas genggaman tangan Namjoon.

Namjoon menghadangku dari depan.

"Aku tidak akan mengulanginya." Ucapnya penuh sesal.

"Aku sudah sangat hafal sifatmu Kim Namjoon. So…" Ku angkat wajah Namjoon dengan telunjukku. "Ku maafkan."

Namjoon berlonjak girang dan langsung memeluku penuh dengan kemanjaan. Terbuktikan? Namjoon manjanya ampun-ampunan. Tapi aku tahu Namjoon bisa menjadi pelindung, karena aku pertama kali kenal dengan Namjoon adalah ketika aku nyaris saja kehilangan seluruh masa depanku di ujung gang komplek sekolahku, saat itu hujan deras, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri Namjoon menghajar lima orang berbadan kekar sekaligus. Lalu Namjoon memakaikanku jaketnya, dan kemudian pandanganku mendadak gelap. Tapi aku masih ingat wajah orang yang menolongku waktu itu, yaitu wajah penuh kedamaian yang sedang menatap lekat mataku saat ini.

Lagi-lagi aku merasakan sesuatu yang hangat dan basah melekat erat di alat ucapku. Ah, Kim Namjoon dan kebiasaannya dari tiga tahun lalu.


(Geenie Nam POV)

Benarkan apa yang kubilang. Jungkook menceritakan semuanya padaku. Tapi tetap saja anak kecil itu meminta upah. Aku harus memposting sesuatu. Dasar Jungkook. Aku turut senang Jungkook dan Jimin bisa berpacaran. Selamat ya sweety bunny. Semoga nanti tidak ada acara rampok-merampok lagi. Kan sudah ada surat izin.

Jungkook bilang sekarang ia sedang mengadakan acara panggang-memanggang bersama. Dan Jungkook bilang juga ada Jimin di acara itu. Malah mereka sedang duduk bersebelahan. Hhh, Jungkook malah bertanya padaku kapan aku akan menyusul, ya nantilah.

Semoga Jungkook bisa awet dengan Jimin. Dan aku… lupakan !

Aku termenung sebentar, apalagi ya yang harus ku tulis? Aku tidak mungkin menceritakan tentang Kim Namjoon yang tadi ternyata membuntutiku sampai ke rumah kan? Lagi juga belum ada kisah indah apapun antara aku dan Kim Namjoon.

Aku akhirnya memutuskan menekan tombol enter. Kali ini dengan lembut. Bukan dengan kasar seperti di cafe tadi.

Aku men-scroll ke bagian bawah. Aku sedang mencari dua nama member yang menjadi member favoritku. Dari kemarin aku belum melihat pesan mini mereka.

Terus saja aku men-scroll ke bawah. Ketemu. Aku memicingkan mataku.

(Jin Kim)
Kami tidak menyangka
10 menit yang lalu

Apa maksudnya ini? Ku scroll lagi ke bawah.

(Joon Kim)
Joon Kim… Kim Joon… Kim Namjoon…?
10 menit yang lalu

Aku menganga. Ternyata dunia ini memang sempit.

THE_END