Seventeen and Acemax Black belong to God, Pledis and Checkmate and their parents
Gagal Move On © Bianca Jewelry
Yao Mingming X Wen Junhui
Rating: T
Warning: Boys Love. AU. OOC.
.
"Kita sudahi saja ya?"
Kata-kata itu meluncur begitu saja dari pemuda Cina kelahiran tahun 1997 itu. Ia merutuk dalam hati dan ingin memutar waktu agar kalimat bodoh itu tidak diucapkannya, tapi apa daya nasi sudah menjadi bubur.
"Apa?"
"Kita sudahi saja ge," ulang Mingming.
"Kenapa tiba-tiba? Aku rasa kita baik-baik saja."
Mingming dapat melihat raut wajah Jun yang shock namun lelaki di depannya berusaha menutupinya dengan mencoba biasa saja. "Um…" Mingming bingung harus memberikan jawaban apa.
"Jadi dua tahun ini kau anggap main-main?" Jun menatapnya tajam.
"Aku tidak main-main denganmu ge."
"Terus?"
Mingming diam lagi.
"Apa aku tidak cukup?" tanya Jun.
Mingming buru-buru menjawab. "Tidak ge, kau lebih dari cukup. Kau yang terbaik untukku."
"Kau meragukanku?"
"Tidak ge."
"Terus kenapa?"
Mingming menggaruk kepalanya.
"Kau menyembunyikan sesuatu," kata Jun dengan mata memicing.
Mingming menundukkan kepalanya.
"Ya sudah, kita putus saja kalau kau tidak jelas begini," kata Jun kesal. Ia meletakkan beberapa lembar uang di meja lalu mengambil tasnya dan pergi meninggalkan Mingming.
"Maaf."
Mingming jadi menyesal. Lalu ia membenturkan kepalanya pada meja di hadapannya hingga salah satu pelayan di café itu menghampirinya untuk menanyakan keadaannya. Setelah meyakinkan pelayan café itu bahwa ia baik-baik saja, Mingming meninggalkan café dengan langkah gontai dan pulang ke apartemennya. Tetapi sebelum pulang, ia menekan bel apartemen tetangganya dan langsung masuk tanpa izin ketika sang empunya apartemen membuka pintu.
Mingming masuk ke kamar pemilik apartemen dan merebahkan badannya di tempat tidur yang berada di tengah-tengah kamar.
"Kau ini kenapa sih? Sudah masuk tanpa izin, langsung ke kamar lagi. Tidak sopan sekali," omel sang pemilik apartemen, namanya Bae Jongin.
"Aku putus dengan Jun-ge."
"Terus?"
"Aku menyesal."
"Rasakan! Kenapa juga kau memutuskannya kalau masih suka."
"Kalimat itu keluar begitu saja tanpa bisa kukendalikan."
Jongin mendengus lalu meninggalkan Mingming dan pergi ke dapur.
"Hyung, aku menginap di sini ya?" teriak Mingming.
"Sesukamu saja."
.
Penyesalan tiada akhir menghantui Mingming sejak lelaki itu memutuskan si pemuda manis asal Cina.
"Kau memberi kode lagi?!" seru Jongin, ia menaikkan nada bicaranya.
"Jangan teriak-teriak hyung," kata Mingming sambil menutup telinganya. Sejak putus dengan Jun, ia jadi sering main ke tetangganya itu untuk menghabiskan waktu.
"Mataku sakit melihat timeline!" seru Jongin dan membanting ponselnya ke sofa.
Mingming hanya cengar-cengir.
"Usaha dong!"
"Aku takut dia tidak mau menerimaku lagi."
"Payah," komentar Jongin lalu pergi ke kamarnya.
Jadi begitulah, selain main ke tetangganya, setelah putus dari Jun, Mingming selalu memberi kode kepada Jun lewat postingan di Instagramnya. Walaupun dia tahu postingannya tidak akan diperhatikan karena Mingming dan Jun sudah tidak saling follow, tapi masih ada harapan bahwa—siapa tahu—Jun sedang iseng dan tidak ada kerjaan lalu stalking Instagram mantan pacarnya.
.
"Hyung, fotoku yang paling baru tampan tidak?" tanya Mingming di suatu sore ketika ia—lagi-lagi—sedang berada di apartemen tetangganya. "Semoga Jun-ge melihat," gumamnya penuh harap.
"Aku tidak tahu, aku sudah unfollow Instagrammu," jawan Jongin cuek.
"Jahatnya…"
"Sampai kau berhenti memberi kode."
Mingming hanya terdiam.
"Hei, dengarkan aku."
"Apa?"
"Kembalilah padanya jika kau masih menyukainya."
Mingming hanya diam.
"Percaya padaku, jika dia masih menyukaimu dia tidak akan menolakmu."
Mingming masih diam.
"Dia sangat sayang padamu. Mungkin waktu itu ia marah karena kau tiba-tiba memutuskannya."
"Kalau benar apa yang kau katakan, dia tidak pernah menghubungiku setelah itu."
"Gengsi Ming." Jeda sebentar. "Mengalahlah pada egomu," kata Jongin lalu meninggalkan Mingming sendirian di apartemennya.
.
Setelah memikirkan matang-matang perkataan Jongin, akhirnya ia memutuskan untuk mengalah pada egonya. Mingming menghampiri Jun ketika melihat pemuda itu sedang duduk sendirian di kantin. "Ge..."
Jun mengangkat kepalanya dan terkejut melihat pemuda Yao berdiri di dekat mejanya.
"Sibuk?" tanya Mingming.
"Tidak. Kenapa?"
"Boleh duduk di sini?"
Jun mengangguk.
"Sedang apa?" tanya Mingming basa-basi.
"Kerja tugas," jawab Jun tanpa melihat Mingming.
"Nanti sore sibuk tidak?"
Jun menatap Mingming. "Kenapa?"
"Boleh main ke tempatmu?"
Mingming dapat merasakan kalau pemuda di hadapannya itu marah. Jadi ia bertanya lagi dengan nada takut. "Boleh tidak?"
"Ya."
"Terima kasih," kata Mingming sambil tersenyum dan bersorak dalam hati. Lalu selanjutnya ia menatap Jun yang mengerjakan tugasnya. Wen Junhui memang yang terbaik.
.
"Bagaimana ge? Mau kembali padaku lagi?" tanya Mingming dengan wajah tanpa dosa. Walaupun dalam hati sangat gugup karena takut ditolak. Akhirnya ia mengajak Jun balikan setelah bertarung dengan pikirannya semalam suntuk.
Jun memijat pelipisnya. "Kau brengsek ya."
"Aku tahu."
Jun menghela napas dan menyandarkan tubuhnya pada kursi.
"Ge."
"Beri aku waktu satu minggu untuk berpikir."
"Tidak mau dijawab sekarang saja? Aku rasa kau masih menyukaiku."
"Percaya diri sekali kau Ming."
"Terus kenapa gelangnya masih kau pakai?" tanya Mingming sambil menunjuk gelang di pergelangan tangan Jun.
Jun buru-buru menyembunyikan tangannya di bawah meja dengan wajah merona. Ia merutuk dalam hati. "Satu minggu."
"Baiklah. Kutunggu jawabanmu minggu depan. Aku pergi dulu, kalau begitu," pamit Mingming lalu meninggalkan Jun.
.
Satu minggu kemudian…
"Ge."
"Hyung."
"Jun."
Mingming melirik kedua orang yang berada di sampingnya. Ia sangat cemas menanti jawaban Jun, karena ia tahu bahwa selama Jun putus dari Mingming, kedua orang itu mendekati mantan pacarnya.
Jun mengangkat kepalanya dan menatap ketiga pemuda itu secara bergantian. Ia menghela napas, dan merasa pusing mendadak menghadapi tiga orang di hadapannya.
Ia mengemasi barang-barangnya lalu memakai tasnya. Orang pertama yang didekatinya adalah Wonwoo. Jun tersenyum. "Won, kau tahu 'kan kita berteman baik selama ini?"
Wonwoo mengangguk.
"Jadi maaf, aku tidak ingin merusak tali persahabatan kita," tolak Jun secara halus sambil tersenyum lalu meninggalkan Wonwoo yang mematung di tempat dan beralih ke Mingyu yang berdiri di sebelah Wonwoo.
"Mingyu-ya."
"Ya hyung?"
"Maaf, kau adalah hoobae yang baik. Aku tidak bisa menyukaimu lebih dari ini."
Mingyu diam sejenak sebelum menjawab, "Aku mengerti hyung." Ia tersenyum.
Jun ikut tersenyum lalu ia beralih ke Mingming. Senyumnya hilang dan ia menatap Mingming tajam.
"Dan kau brengsek." Jun meninju perut Mingming.
Mingming meringis kesakitan.
"Aku tidak paham dengan diriku yang menerimamu kembali," kata Jun lalu menarik Mingming meninggalkan kantin.
Mingming tersenyum. "Kau gagal move on ge."
Rasa cemas itu menguap begitu saja ketika Mingming mendengar jawaban Jun.
Jun melirik Mingming dengan wajah merona. "Putuskan aku sekali lagi dengan alasan tidak jelasmu itu dan enyahlah dari hadapanku," ancam Jun.
Mingming mengacak rambut Jun lalu merangkulnya. "Ya sayang, tidak akan aku ulangi."
Dan Mingming merasa bersyukur karena Jun mau menerimanya kembali. Ia berjanji kepada dirinya sendiri akan menjaga Jun sebaik mungkin dan tidak akan pernah meninggalkannya apa pun yang terjadi. Karena seperti Jun, Mingming juga gagal move on dan tidak akan pernah mau move on dari lelaki berparas manis itu.
.
FIN
.
Mingming's POV ketika putus dari Jun! See you again, terima kasih udah mau baca!
