Disclaimer by Masashi Kishimoto

Pairing : NaruSaku

Rated : T

Genre : Drama & Romance

Warning : OOC, Typos etc.

Jangan di baca kalau tidak suka!

Happy reading!^_^

"Bunga Desa"

'Story by NamiKura10'

"Kalian tahu, nanti malam keluarga Haruno mengadakan pesta untuk mencarikan jodoh putrinya?"

"Maksudnya si Sakura?"

"Iya...si Bunga Desa itu"

"Tapi bagaimana bisa mereka mengadakan pesta, Kizashi-san saja hanyalah seorang petani"

"Iya...dan Mebuki-san hanyalah ibu rumah tangga, darimana mereka mendapatkan uang untuk mengadakan pesta?"

"Kalian tidak tahu ya?, kalau mereka memiliki sawah yang luas dan peternakan sapi yang banyak. Mungkin mereka menjual beberapa sawahnya untuk menga-..."

Ucapan wanita bersurai merah terhenti ketika melihat gadis bersurai pink mendekat ke stand sayur yang saat ini menjadi tempat mereka bergosip.

"Selamat pagi ibu-ibu?"

Sapa gadis bersurai merah muda itu.

"Selamat pagi..." balas sapa para ibu-ibu.

"Wah...belanja banyak nih?" Wanita bersurai merah berujar sinis.

"Ah...iya" jawab gadis itu tanpa mengalihkan pandangan dari sayuran yang berada di depannya, ia tampak sibuk memilih sayuran untuk di masak hari ini.

Ibu-ibu yang berada di samping gadis itu tampak berbisik-bisik sambil memperhatikannya.

"Jadi semuanya berapa paman?" Tanyanya setelah selesai memilih sayuran. Ia harus cepat pergi, kalau tidak ingin sakit hati.

Setelah membayar, ia buru-buru mengambil tas belanjanya dan segera pergi dari sana.

Ia berjalan tergesa keluar dari pasar. Ia memutuskan pergi ke pasar dengan jalan kaki, karena jarak pasar dan rumahnya tidak terlalu jauh.

Sebenarnya ia mendengar gosipan ibu-ibu tadi. 'Jadi pesta ini diadakan untuk mencarikan jodoh, aku harus bertanya kepada ayah dan ibu', ia sudah pernah mengatakan kepada kedua orang tuanya untuk tidak repot-repot mencarikan jodoh. Ia bisa mencarinya sendiri.

"Hai cantik, mau aku antar?"

"Hai,,, sendirian saja?"

"Kamu tambah cantik saja"

Sepanjang perjalanan pulang, banyak pemuda ataupun pria yang menggodanya. Ia acuh saja dan terus berjalan cepat, ia sudah biasa.

Mereka hanya menggodanya dengan sapaan, tak lebih. Karena mereka tahu kalau sang bunga desa mereka ini sangat galak dan memiliki 'kekuatan super', jadi mereka takut babak belur. Pernah satu minggu yang lalu seorang pemuda hidung belang babak belur di hajar sang bunga desa karena berani hampir melecehkannya.

Sebenarnya Sakura heran, bagaimana bisa dia di sebut sebagai Bunga Desa oleh para penduduk desa Konoha tempat tinggalnya ini. Banyak yang mengatakan kalau tidak ada gadis secantik dirinya di desa ini, mangkanya ia di sebut sebagai Bunga Desa. Tapi tidak sedikit juga yang membenci atau iri padannya karena hal itu.

Menurut Sakura sendiri, ia tidak terlalu cantik dan biasa-biasa saja. Namun ia juga merasa tersanjung karena mendapat pujian seperti itu.

"Ibu..."

Ia meletakkan tas belanjanya di atas meja makan, dan berjalan cepat mendekati sang ibu yang tengah sibuk di depan kompor.

"Ada apa sih Sakura, kenapa berteriak-teriak?"

Ia sedikit berjengit mendengar teriakkan Sakura saat dirinya fokus dengan penggorengan di depannya.

"Ibu...kenapa ibu tidak bilang padaku kalau pesta ini diadakan untuk mencari jodoh?"

Ia menatap sang ibu dengan mata berkilat tajam, ia berdiri di samping ibunya.

"Ibu sudah tidak sabar lagi sayang, lagipula pesta ini di adakan bukan hanya untuk mencari jodoh tapi juga untuk menyambut kedatangannya yang pertama kali di sini kan?"

Sakura bersemu mendengar ujaran sang ibu, 'benar juga pesta ini kan untuk menyambut kedatangannya, aku sangat merindukannya'.

"Kalian berdua pasti sangat merindukannya kan?"

Mendengar godaan sang ibu, membuat Sakura semakin bersemu.

"Ibu apaan sih, tentu saja kami sangat merindukannya. Iya kan Karin?"

Ia merangkul bahu sang adik yang baru saja tiba di sampingnya.

Karin yang sedari tadi mendengar pembicaraan sang kakak dan ibunya dari ruang tengah, memutuskan untuk ikut bergabung.

"I-iya...kami sangat merindukannya" jawab Karin.

"Tapi ibu, aku bisa mencarinya sendiri. Ibu tidak usah repot-repot mencarikan jodoh"

"Maaf sayang, tapi undangannya sudah tersebar di seluruh penjuru desa. Jadi tidak ada jalan keluar lagi"

Sakura cemberut, ia beralih menatap sang adik "Karin-chan...apa kau setuju jika ayah dan ibu mencarikan jodoh un-..."

"A-aku setuju saja, ini demi kebahagiaan ayah dan ibu kan?" Ia yakin pilihan kedua orangtuanya sudah benar untuk kakaknya dan dirinya.

Sakura menghela nafas. Jika ini memang keputusan kedua orang tuanya yang terbaik baginya, maka ia hanya bisa pasrah.

"Baiklah..."

Karin membenahi kacamatanya yang melorot, ia tersenyum melihat tingkah sang kakak. "Sakura-nee tidak perlu khawatir semuanya akan baik-baik saja" ia memandang sang kakak dengan lembut.

Melihat tatapan Karin, membuat Sakura merasa tenang. 'Semoga ini yang terbaik'

"Wah...apa benar ini adikku?, kenapa bisa secantik ini?"

Karin tersipu mendapat pujian dari Sakura.

"Apaan sih"

Sakura memandang pantulan sang adik di dalam cermin. Karin terlihat cantik dengan polesan makeup tipis. Kacamatanya tak pernah lepas dari wajahnya. Rambut merahnya di kepang dua, ia tampak seperti gadis desa. Memang penampilan Karin kali ini tidak hampir beda dengan penampilan seperti biasanya.

Beginilah penampilan adiknya, ia terlihat seperti gadis culun. Berbeda sekali dengan dirinya, ia selalu berpenampilan modis dan kasual bak model.

Ia pernah meminta sang adik untuk mengubah penampilannya, namun dia menolak karena tidak nyaman. Ia hanya bisa pasrah menghadapi sang adik.

"Nee-chan...kenapa melamun?, sudah tidak sabar ya?"

Karin berdiri dari kursi riasnya, sehingga tampaklah ia mengenakan gaun berwarna abu-abu tanpa lengan sepanjang menutupi kakinya. Ia terlihat begitu anggun di mata Sakura.

"Nee-chan...jangan menatapku seperti itu, aku kan jadi malu" Karin mengalihkan pandang untuk menyembunyikan wajah bersemunya.

Sakura tersenyum melihat adik yang lahir dua tahun darinya itu, "hah...ternyata kau sudah besar ya?, baiklah kita keluar!"

Mereka berdua melangkah keluar kamar dengan bergandengan tangan.

Mereka berdua tampak kaget melihat halaman depan rumahnya di sulap bak aula hotel bintang lima, di sana sini terpasang lampu kerlap kerlip dan karangan bunga yang membuat halaman rumahnya tampak begitu mewah.

Mereka berdua berjalan beriringan dengan bergandengan tangan. semua pandangan tertuju pada mereka berdua, mungkin kebanyakan pandangan tertuju pada gadis bersurai merah muda.

Sakura memang tampak begitu sempurna dengan gaun berwarna merah tanpa lengan dengan rok mengembang sepanjang menutupi kaki, surai merah mudanya yang panjang di sanggul sehingga menampakkan leher jenjangnya yang mulus.

Para pemuda yang siap merebutkannya tampak memandangnya tanpa berkedip.

Mereka memang hanyalah keluarga sederhana, namun demi mengadakan pesta ini mereka berani mengeluarkan uang banyak. 'Ini demi seseorang yang akan datang pertama kalinya di rumah ini atau di desa Konoha ini'.

Pesta ini di hadiri oleh banyak pemuda atau pria lajang, dan tidak sedikit pula wanita atau para gadis.

"Sakura...apa benar dia akan datang?"

Ino tampak antusias, ia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan dia.

Sakura mengangguk, "hm...tiga puluh menit lagi dia akan tiba" ia tadi sempat menghubunginya, dan dia bilang sebentar lagi akan tiba.

Semua pemuda atau pria yang menghadiri pesta yang bertujuan ingin menjadi jodoh untuk putri Haruno tampak berbaris karena perintah dari sang tuan Haruno.

"Sakura...jadi kamu pilih yang mana?"

Ino tampak heran melihat Sakura celingukkan seperti mencari seseorang.

"Sakura...kau mendengarku?" Ino tampak jengkel karena tak di gubris oleh Sakura.

"Nee-chan..." Karin menepuk bahu sang kakak yang berada di sampingnya dengan pelan.

"Eh...ya?" Ia tersentak merasakan tepukan di bahunya.

"Sakura...sudahlah dia pasti datang" ujar Ino.

"Jadi...Nee-chan, menurut nee-chan siapa yang nee-chan pilih?" Karin tampak ragu harus memilih yang mana.

Sakura memperhatikan dengan jeli semua pemuda atau pria yang berbaris. 'Demi aku, mereka rela berbaris seperti itu'.

"Sakura pasti akan memilihku" ujar seorang pemuda bersurai merah bata, ia berdiri di barisan terdepan dengan ekspresi datar. Ia tampak tenang dan percaya diri kalau sang Bunga Desa akan memilihnya. "Karena aku tampan, berkulit putih, seksi, tinggi dan kaya raya. Itu sudah pasti"

"Heh...percaya diri sekali kau panda, sudah pasti dia akan memilihku. Karena aku memiliki segalanya daripada kau" ujar seorang pemuda bersurai coklat gelap panjang bermanik amethyst yang berdiri di samping pemuda panda, ia berujar sinis.

"sudah pasti Sakura-chan akan memilihku, karena aku berjiwa muda" seorang pemuda berambut klimis potongan batok berujar keras sambil mengangkat kepalan tangannya.

Semua tamu terkikik melihat tingkahnya. Sedangkan Sakura tampak jijik dengan sikap pemuda itu.

"Hn...sudah pasti Sakura akan memilihku" giliran pemuda bersurai raven bermodel pantat ayam menyombongkan diri.

"Hahh~…mendokusai" pemuda bersurai nanas tampak berdiri dengan malas, ia bosan melihat tingkah para pemuda yang menyombongkan dirinya sendiri. Ia sendiri memilih diam, ia hanya bisa pasrah.

Mata Sakura terhenti pada sosok tinggi berkulit kuning keputihan, dia mengenakan kemeja kotak-kotak dengan kancing teratas terkancingkan, kemeja itu tampak melekat pas pada badannya sehingga menampakkan tubuh seksinya yang terbentuk sempurna, dia memakai kaca mata bulat dan di pipinya terdapat lingkaran hitam besar seperti tompel, surai pirangnya di sisir rapi. dia memang terlihat culun, namun juga seksi. 'Ada juga orang seksi berpenampilan culun' batin Sakura terkikik merasa lucu melihat penampilan pemuda pirang itu.

"Nee-chan...jadi siapa yang nee-chan pilih?" setelah beberapa menit, Karin memutuskan bertanya kepada kakaknya. Ia merasa sangat gugup, dan kurang yakin dengan pilihannya.

"Menurutmu yang mana?" Sakura balik bertanya pada Karin.

"Eh...emm, k-kalau menurutku pemuda berambut putih keabu-abuan dan biru itu" ujar Karin gugup.

Sakura tersenyum melihat Karin yang bersemu "baiklah...nee-chan akan memilih"

Sakura melangkah dengan anggun, ia menjalankan kakinya menuju pemuda pirang culun yang tengah tersenyum manis ke arahnya. Sedari tadi ia tidak dapat melepaskan pandangannya dari pemuda culun itu, entah ia merasa familiar dengan pemuda jelek itu.

"Aku memilihmu"

Lontaran Sakura spontan membuat semua tamu terkejut, mereka tidak menyangka bunga desa memilih pemuda yang jelas jauh dari mereka soal ke tampanan.

Mereka saling berbisik, bahkan ada yang memprotes kejadian ini. Bagaimana bisa dia memilih pemuda culun yang tidak memiliki tampang handsome sama sekali.

Sakura tak mengindahkan kejadian itu, ia lebih memilih menatap pemuda ini dengan intens.

Tatapan yang di keluarkan manik safirnya tiba-tiba membuat dirinya kaku, ia terjerat oleh keindahan di balik kaca mata bulatnya. Ia juga merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya, seperti perasaan rindu.

"K-kenapa kau menatapku seperti itu?" Sang pemuda yang di pandang seperti itu tampak gugup.

"N-naruto?" Sakura merasakan sesuatu akan keluar dari sudut matanya, ia tidak bisa menahannya lagi. Ia berhambur memeluk sang pemuda dengan erat.

Para tamu di buat binggung dengan Sakura menangis lalu berhambur memeluk pemuda culun itu, dan pemuda itu membalas pelukkannya.

"Sakura...apa yang kau lakukan?, lepaskan pemuda culun itu!. Ibu tidak merestui kamu memilih pemuda ini" Mebuki terlihat berusaha melepaskan pelukkan Sakura dari pemuda culun, namun semakin ia berusaha melepaskannya semakin erat pula pelukkan Sakura.

"Tidak mau ibu, hiks aku sangat merindukannya hiks" terdengar sesegukkan dari suara Sakura saat berbicara.

"Biarkan saja ibu!, biar dia melepaskan rasa rindunya dulu" sang pemuda mencoba menasehati Mebuki.

"Hei...apa maksudmu?" Mebuki tersulut amarah mendengar tuturan dari pemuda culun.

"Ibu...tolong jangan marahi dia!, dia adalah Naruto-ku" Sakura mengangkat kepala meninggalkan dada bidang pemuda culun untuk menatap sang ibu.

"Naruto?" Mebuki tampak tak percaya, bukankah Naruto itu sangat tampan tapi ini.

Naruto tersenyum, ia lalu melepaskan dekapannya pada Sakura. Ia melepaskan kaca mata bulatnya dan sesuatu yang menempel di pipinya seperti tompel tadi, "aku adalah Namikaze Naruto, ibu Mebuki".

Hal itu membuat semua tamu terkejut, apalagi para gadis-gadis langsung berteriak histeris.

"Kyaaa...itu Namikaze Naruto sang actor film terkenal itu"

"Kyaaa...aku sangat mengidolakannya"

"Jadi dia sudah datang?"

Begitulah uforia para tamu ketika mengetahui kebenarannya.

"Nak Naruto kenapa kamu berpenampilan seperti tadi?" Kizashi bertanya ketika tiba di dekat mereka.

Naruto tersenyum kikuk "Ah...tadi saya tidak sempat untuk berganti, karena saya takut telat untuk sampai di sini. Jadi saya putuskan untuk ganti di sini"

"Owh...begitu, baiklah...Sakura kau antar Naruto-kun untuk berganti" titah Mebuki.

Naruto tersenyum lembut ke arah Sakura. Sakura tersipu mendapatkan senyum lembut dari Naruto.

"Kizashi-sama...apakah pemilihan jodoh ini sudah selesai?" Pemuda berambut nanas bertanya mewakili semua pemuda peserta pemilihan jodoh ini. Ia bertanya setelah kepergian Sakura dan Naruto.

"Maaf ya!, ada gangguan sedikit" Kizashi tersenyum kikuk, ia merasa tidak enak akibat kejadian tadi. "Pemilihan jodoh ini masih belum selesai, setelah Naruto kembali acaranya akan di mulai lagi"

"Bukankah Sakura-san sudah memilih?" Tanyanya lagi, ia tadi sempat terkejut dengan kehadiran sang actor film terkenal di pesta seperti ini.

"Tidak, sebenarnya dia-..."

"Ayahh...cepatlah kemari!" Karin berteriak memanggil sang ayah, ia sangat membutuhkan bantuan sang ayah.

"Iyaaa...ah maaf ya, aku sangat sibuk" Kizashi berlalu meninggalkan pemuda nanas itu.

'Sebenarnya apa urusan Namikaze Naruto di sini?, apakah dia juga ikut memperebutkan Sakura?. Sial...kalau begini sudah pasti dia yang akan menang'

Itulah yang saat ini ada dalam pikiran para pemuda atau pria.

Acara kembali di mulai setelah Naruto berganti penampilan, dia tampak begitu berbeda dengan tadi. Saat ini ia memakai setelan tuxedo hitam dengan kemeja merah dan dasi kupu-kupu hitam, surai pirangnya di sisir rapi seperti model rambut kpop. Ia tampak begitu sempurna, sehingga membuat para gadis akan pingsan saat melihatnya.

Semua peserta tampak kembali berbaris, namun Naruto tetap berdiri di samping Sakura.

'Jika dia bukan tamu undangan atau peserta, lalu siapa dia?'

Kembali pikiran para peserta di hinggapi soal Naruto.

"Jadi Karin, menurutmu pemuda tadi adalah pilihan darimu?" Sakura kembali bertanya.

Karin mengangguk dengan pipi merona.

Sakura mengalihkan pandang ke sampingnya, ke arah Naruto "Naruto-kun...bagaimana menurutmu pemuda bersurai abu-abu biru itu?" Ia meminta saran dari Naruto.

Naruto memandang pemuda yang di tunjuk Sakura, mencoba meneliti "emm...lumayan" katanya setelah mendapat kesimpulan.

"Baiklah, aku pilih dia"

Sakura melangkah menuju pemuda yang di tunjuk Karin.

Semua pandangan tertuju pada Sakura, jantung mereka berdetak lebih cepat. Mereka merasa panas dingin dan merinding dengan bersamaan, mereka begitu takut tidak di pilih oleh bunga desa.

"Siapa namamu?" Sakura bertanya ketika langkahnya telah sampai pada pemuda yang di tunjuk Karin tadi.

Semua tampak kaget untuk yang ke dua kalinya, bagaimana bisa Sakura memilih pemuda bertaring sebelah itu. Yang memiliki ketampanan sedikit itu.

"N-namaku Suigetsu" ia terkejut, dan tidak menyangka bunga desa memilihnya.

"Baiklah Suigetsu...ikutlah denganku"

Jderrr...

Bagai tersambar petir, pupus sudah harapan para pemuda. Padahal mereka sudah menyombongkan diri bahwa Sakura akan memilih salah satu dari mereka.

"Sial...bagaimana bisa pemuda bertaring sebelah itu mengalahkan aku yang tampan, seksi, tinggi dan kaya raya ini" pemuda bersurai merah tampak menggerutu.

"Diamlah panda, aku sendiri juga heran bagaimana bisa dia mengalahkan pemuda sempurna seperti aku" giliran pemuda bersurai coklat panjang yang menggerutu.

"Hilang sudah jiwa mudaku" pemuda berambut klimis dengan model batok itu tampak menagis bombay.

'Hn...sudahlah, lagipula masih banyak gadis cantik selain Sakura' pemuda bersurai raven memilih pergi meninggalkan pesta.

Suigetsu melangkah mengikuti Sakura dengan ragu, ia masih tidak percaya. Tubuhnya sulit di gerakkan karena masih merasa terkejut, bahkan debar jantungnya masih berisik tidak mau berhenti.

"Karin...sebelum itu, biar ayah meng-interview pemuda ini dulu. Jadi bersabarlah!" Sakura menepuk pundak sang adik dengan senyum menggoda.

"Apaan sih" Karin bersemu mendengar godaan dari sang kakak.

"A-apa maksudnya ini?" Suigetsu merasa binggung dengan apa yang di katakan Sakura.

"Nanti kau juga akan tahu" ujar Sakura sambil tersenyum manis ke arah Suigetsu.

"Sakura...sudah waktunya acara selanjutnya!" Mebuki mengingatkan Sakura.

"Baiklah ibu" Sakura beralih memandang Naruto dengan tersenyum,

Naruto balas tersenyum, ia menggenggam tangan Sakura dengan lembut. Dan membawanya ke atas podium.

Para tamu di buat bertanya-tanya dengan kedekatan Sakura dan Naruto.

"Sebenarnya mereka mempunyai hubungan apa sih?"

"Kenapa mereka terlihat dekat sekali?"

'Kenapa Sakura dan Naruto terlihat seperti sepasang kekasih?, lalu aku di pilih untuk di jodohkan dengan siapa?' Suigetsu menatap Karin yang menatapnya dengan pipi bersemu, 'apa jangan-jangan?'.

"Selamat Suigetsu, kamu..kami terima sebagai calon menantu kami, atau calon istrinya Karin" ujar Kizashi dengan senyum merekah, ia bahagia karena akhirnya kedua putrinya telah memiliki pasangan masing-masing.

"APA?" Suigetsu tercengang mendengar kenyataan ini, ia akan menikah dengan gadis culun ini.

"Semuanya...mohon perhatiannya!"

Seketika semua pandangan tamu beralih dari Suigetsu yang tampak merana karena tertipu, ke arah podium yang saat ini terdapat sang bunga desa dan actor film terkenal tengah berdiri bersandingan dengan bergandengan tangan. Para tamu tampak penasaran.

Sakura memandang Naruto, meminta kepastian. Naruto mengangguk memberi persetujuan.

Sakura beralih memandang para tamu "berdirinya saya di sini ingin menyampaikan sebuah kenyataan yang selama ini tidak di ketahui oleh kalian semua, bahwa-..." ia kembali memandang Naruto dengan tersenyum. "Namikaze Naruto adalah suami saya"

Penyataan Sakura sukses membuat tempat pesta menjadi bising, di sana sini terdengar sebuah bisik-bisik.

"Sebenarnya pesta ini di adakan bukan hanya untuk mencarikan jodoh untuk adik saya tapi juga untuk menyambut kedatangan suami saya untuk pertama kalinya di rumah ini maupun di desa ini"

"Apa?, jadi sang bunga desa sudah mempunyai suami"

"Jadi pencarian jodoh ini di lakukan untuk adik Sakura yang culun itu"

"Jika tau begini mendingan aku tidak ikut"

"Ahaha..kasian sekali pemuda itu, dia kena tipu"

Terdengar bisik-bisik dari para pemuda yang ikut menjadi peserta. Ada yang merasa bahagia, kecewa, sedih malahan bersyukur mendengar kenyataan itu.

"Maaf...sebenarnya kami tidak membohongi kalian semua, hanya saja kalian salah tanggap. Kalian mengira bahwa perncarian jodoh ini untuk saya namun yang sebenarnya untuk adik saya Karin. Jadi, Suigetsu aku mohon kamu tidak terpaksa menerima Karin, karena Karin begitu menyukaimu"

Suigetsu menampilkan senyum paksa "aku akan berusaha untuk membuat adik anda bahagia" ujarnya sedikit keraguan.

Sakura tersenyum mendengar jawaban Suigetsu, "aku pegang janjimu".

Semoga Suigetsu bisa membahagiakan Karin, seperti dirinya yang bahagia karena memiliki Naruto.

End

A/N : ahaha...gaje bingits, Gimana tanggapan kalian?, ada yang bingung?, semoga suka... arigatou untuk yang sudah mau mampir membaca...

Salam Dattebayou by NamikurNamiKura10

Masih berlanjut sedikit...

"kalian berdua tidak merindukanku?"

Sakura tersentak merasakan sebuah lengan kekar merayap melingkari pinggangnya "anata..kau membuatku kaget tau"

"Maaf" bisiknya lirih tepat di dekat telinga Sakura. Ia menyandarkan dagunya pada bahu sang istri, tangannya bergerak mengusap perut rata sang istri dengan lembut. "Apa dia juga tidak merindukanku?" Bisiknya lagi.

Sakura tersenyum, tangannya bergerak membelai pipi sang suami yang berada di samping wajahnya. "Bagaimana bisa kami tidak merindukanmu, kau tau? Anakmu ini selalu meminta diriku untuk menghubungimu" tangannya yang satu di letakkan diatas tangan lebar sang suami yang berada di perut ratanya.

"Benarkah itu permintaan anakku, atau memang keinginan dirimu sendiri?" Ujarnya menggoda sang istri.

"Apaan sih, tentu saja itu permintaan anak kita. Lagi pula siapa yang tidak rindu ditinggal selama satu bulan?" Sakura mengerucutkan bibirnya kesal.

"Jangan berekspresi seperti itu kalau tidak ingin aku cium"

Sakura masih tetap mengerucutkan bibirnya, namun tiba-tiba ia mengingat kejadian tadi. "Anata..apa menurutmu Suigetsu akan membahagiakan Karin?"

Sakura merasakan sang suami mengangguk "hm...kita lihat saja nanti" Naruto mengangkat kepalanya dan membalik Sakura untuk menghadap ke arahnya "apa yang mereka bicarakan tentang kita di pesta tadi?"

"Mereka cuman bertanya-tanya, bagaimana bisa aku menikah dengan actor terkenal seperti dirimu" Sakura mencubit gemas pipi sang suami.

Naruto mendengus "apa cuma itu saja?" Ia curiga dengan para pemuda itu yang sengaja mendekati Sakura.

"Iya sayangg...mereka hanyalah fansku, entah mengapa sejak kepulanganku satu bulan yang lalu aku menjadi terkenal di sini" ia mengalungkan lengannya di sekeliling leher sang suami.

"Bukankah kau sudah terkenal di sini sebelum kau mengenalku?"

"Iya sih, ah...aku jadi mengingat saat pertemuan awal kita, waktu itu-..."

"Sudahlah, besok saja kau mengingatnya. Saat ini aku sangat merindukanmu" Naruto menarik Sakura untuk merapat padanya. Sehingga tubuh depan mereka menempel rapat tanpa ada cela.

"Baiklah ak-..."

Belum selesai dia menjawab, mulutnya telah di bungkam oleh bibir sang suami.

Naruto bergerak pelan mengecup bibir Sakura dengan lembut, dan intens.

"Aku sangat merindukanmu" bisiknya lirih ketika melepas kecupannya. Ia kembali menempelkan bibirnya di atas bibir sang istri yang tampak pasrah menerima perlakuannya, atau bahkan menikmati. Kecupannya berubah menjadi pagutan saat melihat sang istri sudah mulai terbuai, ia menekan, menjilat dan mengigit kecil bibir sang istri dengan mesra.

Ia sangat merindukan saat-saat seperti ini dengan sang istri, semenjak satu bulan mereka tidak bertemu.

Ini semua karena pekerjaannya, ia harus meninggalkan sang istri selama satu bulan untuk menyelesaikan syuting filmnya. Ia tidak bisa mengajak sang istri karena dirinya tengah hamil muda.

Karena hal itu, ia memutuskan untuk menitipkan istrinya di rumah mertuanya. Di rumah orang tuanya sendiri, dia akan merasa nyaman.

Begitulah suaminya, dia sangat overprotective. Dia tidak akan membiarkan sesuatu terjadi pada dirinya, dia selalu membuatnya aman dan terlindungi.

Sebenarnya ia juga tidak menyangka, gadis desa seperti dirinya bisa menikah dengan seorang actor film terkenal.

Semua berawal dari ia mendapat beasiswa untuk kuliah di Tokyo University, ia mengenal suaminya dari sana.

Waktu itu Ia tidak tahu jika Naruto adalah seorang actor film terkenal, ia mengenal Naruto dari sahabatnya. Sahabatnya adalah kekasih dari sahabat Naruto, sedangkan ia dan Naruto berbeda fakultas.

Setelah lama kami menjalin hubungan persahabatan, di akhir semester Naruto menembaknya untuk menjadi kekasihnya.

Siapa coba yang akan menolak seorang actor tampan yang menembaknya, memintanya untuk kekasihnya.

Setelah hampir dua tahun kami berpacaran, akhirnya kamipun memutuskan untuk menikah. Pernikahan kami di adakan secara sederhana dan tertutup, yang hanya di hadiri oleh keluarga dari kedua belah pihak saja.

Naruto tidak bermaksud menyembunyikan pernikahan kami, hanya saja dia tidak ingin diriku terlibat scandal kehidupan selebritis. Katanya ini semua hanya sementara, jika sudah waktunya tiba, dia akan mengungkapkannya sendiri.

Ia percaya kepada suaminya, bahwa yang di lakukan suaminya untuknya karena dia begitu mencintainya.

Ya beginilah, kehidupan sebenarnya seorang Bunga Desa.

Owari