The Happy Days

CHAPTER 2

"Pelanggan Untuk Bambam"

Bambam bangun pagi-pagi sekali, bertelanjang kaki berjalan ke halaman depan rumah. Langit masih gelap, udara benar-benar dingin dan kakinya basah menginjak rumput yang dipenuhi embun. Hanya butuh beberapa menit untuk berdiam diri dan menghirup udara, tetapi itu kebiasaan yang dilakukan Bambam sejak dia tinggal dirumah Jungkook. Kemudian ia pergi tidur.

Bambam pernah tertangkap basah oleh Mom disuatu hari. Saat itu Seokjin baru saja dari kamar mandi, melihat Bambam dengan tenang dan santai jalan kedepan rumah. Diteras, Seokjin mengamati apa yang dilakukan Bambam, ia mengira Bambam berjalan dalam tidurnya, tetapi jelas sekali kedua mata Bambam tidak terpejam. Alasan yang diberikan Bambam kepada Seokjin juga tidak jelas saat itu.

"Bamie, apa yang kau lakukan?"

"Mom? Kau sudah bangun?" Bambam hanya mengusap kakinya yang basah dengan kain yang ada diteras.

"Ya. Dan barusan kau melakukan apa?" Seokjin mengajak Bambam masuk ke dapur.

Bambam tertawa. "Bintang-bintang mengatakan padaku aku harus bersyukur, Mom."

Waktu itu Seokjin hanya tersenyum, membuatkan susu hangat untuk Bambam karena ia bilang tidak bisa kembali tidur.

Jungkook sudah ada di ruang TV menonton Jimmy Neutron saat Bambam terbangun di jam 7. Seokjin sudah memakai apron, tergesa-gesa menuju toko kue sambil membawa bungkusan terigu, dibelakangnya Youngjae membuntuti. Youngjae salah satu pegawai part-time di toko kue, yang tertawanya sangat keras. Dan Bambam bertaruh dengan uang koin yang ada di pouchnya, Dad pasti masih tertidur.

"Mom bilang makan ini dulu karena dia tidak sempat membuat sarapan pagi ini," Jungkook menunjuk panekuk yang ada didepan meja saat Bambam duduk disampingnya, wajahnya bosan.

"Kenapa?" tanya Bambam.

"Kata Mom banyak pesanan." Kata Jungkook, matanya benar-benar serius melihat tayangan televisi.

"Kamu kenapa nggak makan itu?"

"Serius deh," kata Jungkook kesal, sekesal yang bisa dirasakan Bambam, "siapa sih yang mau makan panekuk dengan toping mayones?"

"Aku yakin Youngjae hyung yang membuatnya," cetus Bambam.

"Wah, benar. Karena Mom selalu memakai toping madu dan raspberry," sahut Jungkook.

"Aku sih lebih suka aprikot,"

Jungkook langsung berkata 'ew' ketika mendengar aprikot karena ia tidak menyukainya. Mereka berdua mendiamkan panekuk itu sampai dingin diatas meja, lebih memilih untuk menonton televisi.

Mereka berdua gagal bermain bersama Yugyeom di hari Minggu ini. Mom menyuruh mereka membantu-bantu di toko kue, karena Hoseok hyung absen. Jungkook sudah merasa bosan, tetapi kemudian hidung lancipnya mengerucut, mencium bau asap hangat dari kue yang baru saja keluar dari oven. Pasti cinnamon.

"Apakah cinnamonnya sudah siap?" Jungkook berharap setidaknya ia bisa mencicipi satu atau dua potong.

"Akan kusiapkan satu piring cinnamon untukmu begitu kau mau mengantar pesanan ini kerumah Seokmin," kata Jinyoung sambil tersenyum.

Jungkook menatap Jinyoung sebal. "Berikan padaku pesanannya." Lalu pergi dengan sepedanya kerumah Seokmin setelah mengambil mantel dikamarnya. Sudah memasuki akhir bulan November, setidaknya butuh penghangat untuk berada di luar karena angin yang dingin.

Bambam sibuk dengan menata kue-kue di etalase kaca, sampai seseorang menghampiri counter.

"Ambil yang ini." Kata pembeli itu, menunjuk cranberry scone yang ada di etalase kaca. Dia menggunakan aksen yang berbeda dan terkesan asing, pasti dia bukan orang Korea.

"Apa kau ingin membawanya pulang?" tanya Bambam.

"Aku bisa makan itu disini?" lalu pembeli itu menoleh ke setiap sudut ruangan, menemukan beberapa set meja dan kursi yang tersedia.

"Tentu."

"Beri aku kopi juga, kalau begitu."

"Kami hanya menyediakan teh,"

Ia hanya menggaruk belakang kepalanya ketika mendengar jawaban ketus dari Bambam. Pembeli didepannya benar-benar tidak melihat list menu yang sudah disediakan.

"Ya. Buatkan aku teh," pembeli itu tersenyum kecut.

"Teh apa?"

Bambam melihat pembeli itu menghela napas. "Dari sekian banyak teh disini, mana yang kau suka?" tanyanya.

"Citrus mint." Ujar Bambam semakin kesal. Ia sudah tidak sabar dengan pembeli ini.

"Aku mau itu,"

"Oke. Tunggu sebentar." Lalu Bambam meneriakkan pesanan teh itu kepada Mom dan Jinyoung yang ada didapur toko.

Pembeli itu menunggu dengan terus melihati wajah Bambam. Bambam terasa ngeri dan malu, makanya ia pura-pura sibuk menata kue yang ada di etalase. Dan tak lama kemudian, teh pesanan pembeli itu datang.

"Teh citrus mint. Apa ada yang bisa kubantu lagi?" Bambam bertanya was-was.

"Tidak. Terimakasih," pembeli itu pergi menuju mejanya, ada jeda sejenak ketika dia tersenyum kepada Bambam. Menyadari bahwa pembbeli itu benar-benar tampan dan membuat Bambam tersipu karena senyumnya.

"Apakah surat kabarnya akan dicetak?" tanya Mingyu. Hari ini Minggu lagi, tetapi Mom tidak menyuruh Bambam dan Jungkook untuk membantunya karena Hoseok tidak absen. Dan sejak jam 10 pagi tadi, Yugyeom, Mingyu dan Seokmin ada dirumah Jungkook, mengerjakan tugas surat kabar.

"Oh, tidak," kata Bambam. "Tidak bisa dicetak. Kita tuliskan saja—Mom punya banyak kertas folio diruang baca."

"Menurutku kurang asyik kalau surat kabarnya tidak dicetak," kata Seokmin meremehkan.

"Tidak penting apa pendapatmu," ujar Jungkook, kemudian menjulurkan lidahnya. Seokmin tertawa.

"Seberapa sering surat kabar ini terbit?" tanya Mingyu.

"Sebulan sekali."

"Kupikir surat kabar terbit setiap hari, atau setidaknya seminggu sekali," ujar Yugyeom.

"Kita tidak mungkin menerbitkannya seminggu sekali," Bambam menjelaskan. "Terlalu merepotkan."

"Nah, benar sekali," Yugyeom mengakui. "Semakin sedikit bekerja, semakin baik, menurut pendapatku. Tidak, Seokmin, kau tidak usah berkomentar. Aku tahu persis kau mau bilang apa, jadi simpan saja napasmu buat meniup-niup bubur supaya dingin. Aku sependapat denganmu, aku tidak bakal pernah bekerja, kalau bisa."

"Tidak melakukan apa-apa itu lebih susah," Jungkook berpetuah dengan nada menegur.

"Aku tidak percaya itu," Yugyeom menimpali. "Aku kan seperti orang Irlandia yang bilang bahwa orang yang sudah memulai bekerja harus menyelesikannya sampai tuntas."

"Terserah," Jungkook mendengarnya bosan.

Kemudian kepala Mom menyembul dibalik pintu, apronnya masih melekat ditubuhnya dengan krim warna-warni yang belepotan. "Kookie, bisakah kau menjaga toko? Mom akan pergi keluar bersama Dad, tidak ada yang menggantikan Youngjae karena dia akan menggantikan Mom di dapur toko."

"Tidak, Mom. Aku sedang asyik membuat kolom Rumah Tangga."

Mom menghela napas lalu melirik ke Bambam, dan ia balik melirik Mom.

"Aku tau pasti aku yang harus melakukannya." Bambam berkata malas-malasan, menyusul Mom yang sudah pergi duluan sambil cekikikan minta maaf kepada Bambam.

Ketika Bambam masuk ke toko ada 3-4 antrean yang sudah menunggu didepan counter. Bambam tersenyum ketika antrean pertama adalah salah satu teman Mom yang ia ingat wajahnya. Wajahnya tegas dan alisnya yang tebal membuat Bambam iri.

Bambam kaget ketika antrean kedua adalah seorang pembeli yang ditemuinya kemarin—yang menyebalkan itu. Tapi mengingat senyuman dari pembeli itu didepannya membuatnya kembali tersipu.

"Cranberry scone dan teh citrus mint," kata pembeli itu mendahului sapaan yang akan Bambam ajukan. Dia memilih kue tanpa melihat menu atau etalase kaca.

"Baik."

Pembeli itu seorang pemuda. Walaupun aksennya dipaksakan mengikuti aksen Korea, Bambam tahu kalau pemuda ini adalah orang asing. Penampilannya apa adanya, rambut pirangnya dibiarkan jatuh begitu saja. Yang paling disukai Bambam adalah tatapannya yang mengintimidasi.

"Ini pesananmu," kata Bambam menyodorkan nampan berisi pesanan.

"Thanks." Pemuda itu tersenyum lagi, dan Bambam diam-diam tersipu sambil tersenyum.

Sudah satu minggu yang lalu surat kabar itu selesai—walaupun kolom Fashion milik Bambam telat karena ia harus menggantikan Mom di Minggu yang lalu. Sore ini Yugyeom datang untuk memakan walnut muffin ditoko kue. Setidaknya ia dapat bersantai lagi sebelum terbitan surat kabar yang kedua. Jungkook dan Bambam yang baru saja tiba setelah dari pusat perbelanjaan datang menghampiri meja Yugyeom setelah melihatnya.

"Itu apa?" tanya Yugyeom ketika mereka berdua duduk di kursi kosong.

"Barang-barang natal," ujar Jungkook, "ya, kau tahu kalau natal datang 2 minggu lagi."

Mereka mulai bercerita apa saja. Jungkook bercerita tentang seorang nenek tua yang salah menggandengnya di pusat perbelanjaan. Yugyeom bercerita tentang salah satu pelanggan lelaki dengan perut buncit, yang kancing kemejanya terlepas di bagian perut yang menonjol itu. Bambam terus saja tertawa atas perlakuan kedua temannya yang memiliki cerita jahil, tentu saja Bambam juga memiliki cerita-cerita semacam itu, tetapi tidak ada yang bisa ia ceritakan hari ini karena sudah terlalu sering ia menceritakannya.

Seorang pembeli yang membawa kertas kantong berisi kue dan segelas cup teh membuat Bambam berpaling. Pembeli itu tidak asing bagi Bambam, walaupun hoodienya menutupi kepala.

Bambam berdiri dan mendekati pembeli itu dengan gugup. Membuat Yugyeom dan Jungkook berbisik-bisik.

"Cranberry scone dan teh citrus mint?" tanya Bambam.

Pembeli itu berhenti didepan Bambam, membuka hoodie dikepalanya. Wajahnya terlihat kaget ketika melihat Bambam. "Ya." Jawabnya.

"Hari ini kau membawa pesananmu pulang?"

Pemuda itu sedikit bingung dan sadar dengan apa yang dibawanya, sekantung kertas kue scone. "Mau menemaniku?"

"Pardon?"

"Temani aku memakan scone-scone ini." Kata pemuda itu cepat, kemudian mendahului Bambam dan duduk di kursi kosong.

"Kau tahu, aku bisa mengambil scone dengan gratis jika aku mau. Tidak usah repot," Bambam buru-buru mengatakannya ketika pemuda itu mengeluarkan isi dari kantong kertas tersebut, dua cranberry scone.

"Duduklah," katanya.

Bambam dengan patuh duduk didepannya. Memandangi dengan heran pemuda itu. Astaga, tampan sekali dari dekat!

"Aku tinggal dirumah pamanku selama liburan ini," pemuda itu memulai pembicaraan mereka.

"Dan dimana itu?" Bambam bertanya dengan penasaran.

"Tepat didepan rumahmu."

"Oh, ya ampun! Kau tinggal bersama keluarga Wu?" matanya melirik sebentar kerumah yang berada didepan rumahnya.

Pemuda itu mengangguk. "Aku Jackson Wang. Kau?"

"Bambam."

Mereka terus berbincang-bincang sampai Bambam dipanggil Jungkook untuk membawa kembali barang-barang yang dibelinya tadi dan Jackson berpamitan untuk pulang.

Perbincangan mereka memang tidak lama, tetapi dari situlah Bambam tahu kalau Jackson adalah cowok yang humoris dan apa adanya. Jackson 3 tahun lebih tua dari Bambam, dan dia berkuliah di China. Bambam saat ini menyadari bahwa dia menyukai cowok itu setelah mereka berbicara. Cara Jackson ketika berbicara, ketika menyesap tehnya dengan wajahnya yang canggung, dan kening yang berkerut karena merasakan asam buah berry dari sconenya. Bambam mengingat-ingat semuanya dimalam itu, sambil memperhatikan rumah keluarga Wu yang ada didepan rumahnya melalui jendela kamar.

Satu minggu setelah kejadian itu, Bambam sudah bersiap-siap untuk menjaga toko. Ia berdiri di depan counter dan menunggu Jackson datang. Jackson selalu datang ketika hari Minggu sore, dengan hoodie hitam dan pandangan mengintimidasi.

Bambam bahkan rela tidak menonton Asia's Next Top Model hari ini. Jungkook sampai tidak berhenti bertanya-tanya mengapa Bambam siang tadi meminta ijin Mom untuk menjaga toko sampai sore, tumben sekali. Kalau untuk Mom, ini adalah kesempatan yang bagus untuk ia bersantai sambil melihat-lihat majalah GQ ditemani Dad yang menoton televisi.

Saat menjelang sore, toko tidak begitu ramai seperti siang tadi. Dia benar-benar menunggu Jackson hari ini. Bambam yakin sebentar lagi cowok itu pasti datang, setidaknya ia sudah hafal dengan betul kapan Jackson mengunjungi toko kue Mom.

Bambam masih mengobrol bersama Youngjae saat Jinyoung membereskan dapur dan pulang setelah berpamitan dengan Mom diruang baca. Bambam melihat jam di dinding, sudah malam, dan Jackson sampai saat ini belum datang ke toko kue. Bahkan ia harus rela membantu Youngjae dan Hoseok dengan Dad membereskan toko dan menutup toko. Bambam benar-benar kecewa. Padahal ia sangat berharap cowok itu mengunjungi toko.

Jackson hari ini tidak datang.

Sore itu, Jungkook dan Bambam baru saja pulang sekolah. Mereka menggantung mantel mereka, dan berjalan ke meja makan. Yugyeom yang baru sampai menyusul mereka setelah menggantung mantelnya. Yugyeom tetap datang kerumah mereka, walaupun ini hari Senin yang sibuk. Jungkook bilang dia akan menginap dikamarnya.

Mereka sibuk mengobrol dan memutuskan untuk bermain kartu UNO dimeja makan. Bambam hebat dalam bermain UNO, dia belum kalah sejak permainan dimulai. Dad kemudian datang dan mengambil air di kulkas, beruntung sekali Dad bisa pulang lebih awal di hari Senin.

"Dad, ambilkan aku cuties di kulkas," kata Jungkook tanpa menatap Dad, ia masih sibuk mengatur kartu-kartu ditangannya. (cuties: jeruk)

"Tidak ada cuties disini, dan ini bukan McDonald, Kookie." Balas Namjoon setelah mencari jeruk di kulkasnya.

"Jeruk terakhir sudah ku makan," kata Bambam.

"Sialan kau."

Namjoon lalu keluar dan menuju toko kue, sedikit-dikit membantu Mom.

"Halo, Sayang," kata Namjoon kepada Mom.

"Kau sudah pulang?"

"Justru aku akan berangkat lagi nanti malam,"

"Apa kau tidak pulang malam ini?" Seokjin memperlihatka wajahnya yang khawatir.

"Ya. Pekerjaanku masih banyak,"

"Bantu aku menjaga counter dulu, Namjoon. Aku akan menyiapkan makan malam untuk kau bawa,"

Namjoon kemudian melayani satu pembeli dengan canggung. Dia jarang berada di toko, Mom takut Dad akan membuat semuanya berantakan. Karena tangan Dad adalah tangan perusak, kata Jungkook.

"Apa yang akan kau pesan?" kata Namjoon mengawali.

"Hmm—aku pelanggannya Bambam."

"Kau mencari Bambam?" Namjoon tidak memahami yang dikatakan pembeli itu.

"Tentu saja. Aku pelanggannya, kemarin seharusnya aku datang—tapi aku-"

Perkataan pembeli itu terpotong ketika Namjoon dengan cepat berbicara dangan keras kepada Mom yang akan memasuki rumah, bahwa ada seorang pelanggan untuk Bambam. Seokjin mengangguk dan masuk kedalam rumah.

Namjoon jelas mengerti ini, kemarin Bambam dengan aneh tiba-tiba meminta ijin untuk menjaga toko sampai malam dan Dad melihat wajahnya murung ketika memasuki kamarnya saat malam. Pembeli ini pasti yang ditunggu Bambam.

"Bamie, ada pelanggan untukmu," kata Mom ketika menemukan Bambam di meja makan.

Bambam terkejut. "Benarkah, Mom? Jackson datang?"

Mom bahkan belum sempat menjawab, dan Bambam sudah berlari keluar rumah dan memasuki toko lewat pintu belakang toko. Dad menunjukkan dimana pembeli itu duduk, Dad bilang dia belum memesan apa-apa, katanya hanya menunggu Bambam.

Bambam senang bukan main. Padahal ini Jackson hanya mengunjungi toko kuenya, tapi Bambam mengartikan itu sebagai hal lain.

Kursi kosong didepan Jackson ditarik agar Bambam bisa duduk, lalu meletakkan nampan berisi kue dan teh itu dimeja.

"Cranberry scone dan teh citrus mint sudah datang," kata Bambam tersenyum.

Semoga bukah hanya khayalan Bambam saja, tetapi Bambam benar-benar melihat Jackson menatapnya dengan pandangan seolah-olah ia adalah kekasih yang berhari-hari tidak bertemu satu sama lain.

"Thanks. Apakah kemarin kau menungguku? Seharusnya aku datang, maaf."

"Kau tidak pernah berjanji untuk datang, bukan?" kata Bambam, berpura-pura tidak mengkhawatirkan hari Minggu kemarin.

"Bibi memintaku untuk mengantarkannya ke berbagai tempat, dan ketika pulang kulihat tokomu sudah tutup," kata Jackson menjelaskannya dengan hati-hati.

"Jack, aku bahkan tidak memintamu untuk menjelaskan itu," ucap Bambam diiringi tawa. Bambam melihat Jackson salah tingkah, dan itu benar-benar lucu.

"Ugh—baiklah."

"Kenapa kau membeli scone dan teh citrus dihari Senin?" tanya Bambam.

"Karena aku harus bertemu denganmu hari ini,"

Bambam merasakan pipinya memanas. Ya ampun, Jackson! Kau membuat Bambam malu. Bambam berharap kata-kata barusan hanya untuknya. Mau bagaimana lagi? Tingkat percaya dirinya memang tinggi.

"Kenapa kau selalu datang di hari Minggu?"

"Tidak tahu. Untuk pertama kalinya aku melihatmu dihari Minggu, lalu setiap hari aku perhatikan toko itu dari rumah, ansumsiku, kau selalu menjaga toko di hari Minggu. Dan aku putuskan untuk datang setiap kau ada,"

Bambam merasa kesal ketika Jackson menjelaskannya dengan santai. Ya ampun, tega-teganya membuat jantung Bambam berdetak cepat seperti ini.

"Ngomong-ngomong, apakah nomor telfonmu adalah hadiah untukku karena datang setiap Minggu dan selalu memesan scone ini dan teh citrus mint?"

"Oh, Jackson, kalau kau meminta nomorku tentu saja aku akan memberikannya," kata Bambam, lalu Jackson memberikan ponselnya kepada Bambam, dan mulai mengetikkan nomor diponsel.

"Berjanjilah padaku," kata Jackson.

"Apa?"

"Jangan berikan nomor ini sebagai hadiah lagi jika ada yang memintanya selain aku."

Setelahnya Jackson memang berpamit untuk pulang, tetapi Bambam tidak bisa tidur karena malamnya Jackson menelepon untuk pertama kalinya.