The Happy Days

CHAPTER 3

"Jungkook dan Taehyung" (1)

(This story is kind of a mellow version than other parts in this fanfiction. LOL)

Taehyung tinggal sendirian bersama Mingyu sejak ibunya meninggal. Ayahnya yang kaya menikah lagi dan tinggal di Jepang, selalu memberi uang tanpa mereka minta. Ketika itu umurnya Taehyung lima belas tahun dan sekarang sudah hampir dua puluh tahun, meski penampilannya jauh dari cowok dewasa dua puluh tahun. Tetapi dia juga tidak bisa dikatakan muda; dia tidak pernah kelihatan muda seperti orang-orang muda pada umumnya; sejak dulu ada sesuatu dalam penampilannya yang membuat dirinya berbeda dari laki-laki biasa. Sikapnya tak kasat mata, tak dapat diraba antara dia dan orang-orang lainnya. Pembawaan dirinya benar-benar alami, dan membuat orang disekitarnya betah untuk bersamanya.

Sepanjang hidup mereka dihabiskan di komplek perumahannya—sampai Taehyung menerima beasiswa di Yale—dan orang-orang di perumahannya merasa mengetahui segala sesuatu tentang merea. Mereka tidak pernah ambil bagian dalam kehidupan sosial yang sederhana diperumahan mereka. Taehyung menjauhkan diri dari kegiatan luar, menjaga jarak dan tertutup—bukan karena angkuh dan memandang rendah, tetapi karena baginya hal-hal seperti itu tidak terlalu penting. Dia sangat suka membaca dan berjalan-jalan seorang diri.

Mereka tidak mempunyai pengurus rumah; tetapi rumahnya selalu bersih dan rapi karena kadang Taehyung memanggil tukang pembersih lewat telepon. Perabotannya mudah berdebu, karena rumah mereka terlalu besar untuk ditinggali dua-bersaudara, mereka pasti jarang memakai ruangan atau menyentuh perabotan yang tidak perlu.

Rumahnya memiliki halaman dengan taman yang luas dan diurus dengan baik, dan pada musim panas dia menghabiskan sebagian besar waktu luangnya disana. Kabarnya dia banyak membaca, sebab kata petugas kantor pos dia sering sekali memesan buku-buku dan majalah-majalan lewat pos. Kelihatannya dia puas dengan gaya hidupnya, menikmati kesendiriannya, dan orang-orang tidak mengusiknya. Tidak terbayangkan bahwa di akan pernah memiliki kekasih. Tidak seorang pun menduganya.

"Kim Taehyung tidak pernah MEMIKIRKAN cinta," demikian kata para peramal dan website-website zodiak yang kadang ia kunjungi. Tetapi omongan para peramal tidak selalu bisa dipercaya.

Dibalik sikap tidak pedulinya dan menjaga jarak, Kim Taehyung adalah laki-laki yang romantis dan puitis. Karena tak bisa mengekspresikan rasa cintanya dikehidupan sehari-hari, maka di mencurahkannya dalam bentuk angan dan imajinasi. Ketika sedang berkembang darianak remaja menjadi laki-laki dewasa, Taehyung berpaling ke dalam dunia fantasinya dalam segala hal yang tidak bisa diberikan dunia nyata kepadanya. Cinta—yang terasa asing dan hampir-hampir tak terbayangkan—memainkan perannya disini. Dia mengkhayalkan sosok yang mencintai dan bisa dicintainya; dia menghidupkan sosok ini sehingga terasa nyata baginya, senyata dirinya sendiri.

Sewaktu musim salju, Jungkook dan Bambam menggunakan jalan setapak yang panjang untuk menuju jalan utama, untuk pergi sekolah. Tetapi setelah musim semi tiba, mereka mengambil jalan pintas melewati pohon-pohon pinus besar, menyeberangi anak sungai, melewati kebun Taehyung, dan keluar melalui jalan setapak Taehyung. Suatu hari, ketika mereka lewat, Taehyung sedang berada di kebunnya.

Pagi musim semi itu sunyi, hati Taehyung begitu penuh oleh kebahagiaan saat melihat keindahan sekitarnya, bunga-bunga dikebunnya baru saja mekar; perasaan di dalam jiwanya terasa sesakral doa. Pada saat itulah dia mengangkat kepala dan melihat Jungkook.

Jungkook sedang berdiri di luar pagar kebun, dalam bayangan sebatang pohon pinus besar, tidak melihat ke arahnya, sebab dia tidak menyadari kehadiran Taehyung. Dia sedang melihat kearah kanan dan kiri, mengawasi jalan raya dan akan menyeberanginya bersama Bambam. Kadang-kadang Jungkook tertawa karena ulah Bambam, rasa bahagia terpancar jelas di wajahnya. Sejenak Taehyung yakin sosok impiannya telah mengambil wujud nyata di hadapannya. Orang ini begitu mirip—begitu mirip; mungkin bukan dalam kemiripan wajah, melainkan dalam gerak luwes tubuhny serta warna rambut dan matanya, serta giginya.

Jungkook jelas berbeda dengan Taehyung yang sederhana. Jungkook adalah salah satu dari beberapa orang yang selalu menyapa siapapun yang melewatinya, melambaikan tangan dan tertawa. Tetangga-tetangganya sudah terbisa dengan Jungkook periang yang banyak bicara dan tidak segan-segan bergabung dalam kehidupan sosial di lingkungan sekitar. Jungkook sama sekali tidak pemalu, tetapi jiwanya peka seperti bunga.

Kemudian Jungkook tak sengaja menatap ke arahnya dan pesona sihir itu pun sirna. Taehyung tetap berlutut membisu ditempatnya, kembali menjadi lelaki dingin, wajahnya merah padam. Sosoknya nyaris mengibakan. Seulas senyum kecil hinggap disudut-sudut bibir Jungkook yang lembut, namun dia membalikkan badan dan melangkah cepat-cepat ke halte yang ada diseberang jalan.

Taehyung memandangi kepergiannya dengan perasaan kehilangan dan keindahan yang pedih. Sungguh berat merasakann tatapan Jungkook atas dirinya, tetapi sekarang dia menyadari bahwa ada kesan manis yang aneh dalam tatapan itu. Namun kepedihannya lebih besar ketika menyaksikan lelaki itu pergi menjauh darinya.

Sore harinya dia melihat lelaki itu lagi, ketika Jungkook sedang berjalan pulang. Jungkook tidak berhenti di dekat kebun Taehyung, melainkan cepat-cepat melewatinya. Sesudahnya, setiap hari selama seminggu Taehyung menunggu ditempat tersembunyi dan memandangi sewaktu Jungkook melewati rumahnya. Sekali waktu Jungkook muncul dengan seorang lelaki lain disampingnya, Taehyung yakin itu teman dekatnya.

Keesokan harinya, untuk pertama kali Taehyung tidak menaruh bunga-bunga di vas rumahnya—karena hampir setiap har ia melakukan itu. Dia justru memotong segenggam bunga dafodil, dan setelah menoleh sekelilingnya dengan sembunyi-sembunyi, seperti orng yang melakukn kejahatan, diletakkannya bunga-bunga dafodil itu di jalan setapak dibawah pohon pinus. Jungkook pasti akan lewat disana; kaki-kakinya akan menginjak bunga itu andai dia tidak melihatnya. Setelah itu Taehyung menyelinap ke dalam kebunnya, berdebar-debar sekaligus setengah menyesali. Dari tempat amn dia melihat lelaki itu lewat dan membungkuk untuk mengambil bunga-bunganya. Sesudahnya, Taehyung menaruh bunga-bunga di tempat yang sama, setiap hari. Rela dirinya berlari-lari sebelum gerbang sekolah ditutup, karena ia hampir saja terlambat demi mengamati Jungkook.

Taehyung terlambat untuk mengamati Jungkook disore harinya karena ia sudah akhir tahun di SMA, ia harus mengikuti jam tambahan, mimpinya ke Yale tidak akan dibiarkan lewat begitu saja. Dan Taehyung benar-benar terkejut, ketika sampai dirumahnya ada sosok yang ia kagumi diruang TV, Jungkook sedang mengejarkan tugasnya dengan adiknya dan beberapa yang lain. Ia benar-benar melupakan seragam sekolah Jungkook yang sama dengan Mingyu—Taehyung sekolah ditempat yang berbeda.

"Kau pulang terlambat, apa kau membawa makanan hyung? Makan apa nanti malam?" kata Mingyu setelah melihat kedatangan Taehyung.

"Ada jam tambahan," jawab Taehyung tanpa melihat adiknya, matanya justru mengamati Jungkook yang sedang makan cokelat M&M sambil membaca buku

"Bawa makan, nggak?" Mingyu bertanya lagi karena pertanyaannya diacuhkan oleh Taehyung.

"Nggak." Taehyung masih memandangi Jungkook, berharap tidak balik melihatnya.

"Aku sarankan, ya, masaklah spaghetti untuk nanti malam," Mingyu benar-benar cerewet, berbeda dengan Taehyung.

Taehyung gugup ketika Jungkook agak terkejut melihatnya, lalu tersenyum manis sekali. Jungkook membenarkan posisi duduknya dan menjilat bibirnya sendiri, siapa tahu ada remahan permen dibibirnya.

"A-aku banyak kerjaan, Gyu. K-kau bisa delivery saja. Permisi," Taehyung jalan dengan cepat menaiki tangga menuju kamarnya. Ya ampun, dia benar-benar gugup setelah melihat Jungkook dirumahnya. Pesona sosok imajinasinya itu sudah lenyap, dia merasa betapa tidak memadainya imajniasnya itu. Wajah Jungkook yang asli jauh lebih manis, sorot matanya jauh lebih polos dan cerah, rambutnya jauh lebih berkilau. Ketika mencoba membayangkan sosok imajinasi yang dicintainya, yang dilihatnya bukanlah roh samar penghuni fantasi otaknnya itu, melainkan Jungkook yang berdiri dibawah pohon pinus, cantik seperti cahaya bulan, atau bunga-bunga putih yang tertiup angin dan tumbuh di tempat-tempat sunyi berbayang-bayang.

Malamnya ketika Jungkook akan pulang dari rumah Mingyu, ia melihat beberapa vas yang terisi bunga-bunga. Rumah Mingyu seakan memiliki kesan 'segar' karena vas-vas itu. Jungkook menatap curiga pada satu vas berisi bunga dafodil yang beberapa tangkainya sengaja dipatahkan. Lalu ia ingat bunga-bunga dafodil dibawah pohon pinus itu, pipinya bersemu merah mengingatnya.

Ketika melihat vas yang janggal itu, karena beberapa tangkai sengaja dipatahkan, Jungkook langsung mengetahui siapa yang meletakkan bunga-bunga dipohon pinus sana, dan dia menduga bunga-bunga itu memang diperuntukkan baginya—setelah membujuk Mingyu memberi tahu hal ini. Dia sudah banyak mendegar tentang Kim Taehyung dan sifat dinginnya; tapi sebelumnya dia pernah melihat Taehyung digereja dan menyukainya. Di matanya, wajah dan sepasang mata Taehyung yang cokelat gelap itu sangat indah; dia bahkan menyukai rambut cokelat dengan garis tengah Taehyung yang sering kali menjadi bahan bicara para tetangga—mereka menyimpulkan Taehyung terlihat seksi dengan rambut dengan belah tengah. Jungkook langsung memahami bahwa laki-laki itu sangat berbeda dari orang lain, tetapi perbedaan itu tidak dianggapnya hina. Barangkali jiwanya yang peka dapat mengenali keindahan dalam jiwa Taehyung. Setidaknya, di mata Jungkook, Taehyung bukanlah sosok yang seperti batu yang dingin.

To be continued