The Happy Days
CHAPTER 4
"Jungkook dan Taehyung" (2)
(This story is kind of a mellow version than other parts in this fanfiction. LOL)
Sesudahnya, setiap hari Jungkook menemukan bunga-bunga di bawah pohon pinus itu. Maka dengan lembut diambilnya bunga-bunga itu dengan perasaan heran dan senang. Dia ingin menemui Taehyung untuk mengucapkan terima kasih, tak menyadari bahwa Taehyung mengamatinya setiap hari dari balik semak-semak di kebunnya; baru beberapa waktu kemudian kesempatan itu datang. Suatu senja Jungkook lewat, dan Taehyung, yang tidak menduga kedatangannya, sedang bersandar di pagar kebunnya sambil membaca buku. Jungkook berhenti di bawah pohon pinus itu.
"Taehyung hyung," katanya lembut, "aku ingin mengucapkan terima kasih atas bunga-bunga itu."
Taehyung terkejut dan serasa ingin masuk saja ke dalam tanah. Rasa malunya yang jelas-jelas tampak itu membuat Jungkook tersenyum kecil. Taehyung tak sanggup berkata-kata, maka Jungkook meneruskan dengan lembut.
"Kau baik sekali. Aku sangat senang dengan bunga-bunga itu—sangat senang."
"Itu buka apa-apa—bukan apa-apa," sahut Taehyung tergagap. Bukunya jatuh ke tanah, di dekat kaki Jungkook. Jungkook mengambilnya dan menyodorkannya padanya.
"Rupanya kau suka membaca karya Ruskin," katanya. "Mom juga. Tapi Mom sepertinya belum membaca yang satu ini di rumah."
"Kalau Mom-mu... mau... membacanya... kau boleh membawa ini untuknya," Taehyung berkata susah payah.
"Benarkah? Ngomong-ngomong, aku Jungkook."
Taehyung hanya menatap dan menelusuri dengan teliti wajah Jungkook. Dia sudah menduga lelaki ini pasti berwajah yang manis, persis seperti imajinasinya. Lelaki itu juga memiliki mata cokelat terang, gigi yang lucu, dan rambut yang lembut; tetapi itu tidak aneh. Dia sudah lama tahu, lelaki itu pasti akan berwajah seperti ini; dan dia yakin namanya pasti Jungkook. Ketika kemudian terbukti namanya memang Jungkook, Taehyung sama sekali tidak terkejut.
Maka Jungkook membawa pulang buku itu. Taehyung tidak bersembunyi lagi kalau dia lewat, dan ketika Jungkook datang untuk mengembalikan buku itu, mereka mengobrol sedikit dari balik pagar. Sekarang Taehyung tidak canggung lagi mengobrol dengan Jungkook; rasanya seolah-olah dia berbicara dengan Jungkook yang diimpikannya, dan semua ini anehnya begitu wajar. Dia tidak terlalu banyak bicara, tetapi Jungkook menganggap apa yang diucapkannya layak didengar. Kata-kata Taehyung selalu tersimpan lama dalam ingatannya, dan menimbulkan musik dalam pikirannya. Dia selalu menemukan bunga-bunga yang ditaruh Taehyung di bawah pohon pinus dan beberapa kuntum bunga itu selalu dibawanya, namun dia tidak tahu apakah Taehyung memperhatikannya atau tidak.
Suatu senja, dengan malu-malu Taehyung mengiringinya berjalan dari pintu pagar kebunnya sampai ke pohon-pohon pinus. Pada kesempatan-kesempatan berikutnya dia selalu menemani Jungkook berjalan sebatas jalan pohon-pohon pinus. Andai tidakditemani, Jungkook pasti akan merasa kehilangan. Tidak terpikir olehnya bahwa sebenarnya dia mulai beajar mencintai Kim Taehung. Dia pasti akan menertawakan dirinya sendiri kalau hal itu sampai terpikir olehnya. Dia sangat menyukai Taehyung; sifat Taehyung yang sederhana dan tulus dianggapnya indah. Meski Taehyung dingin, Jungkook merassa lebih nyaman berada di dekatnya daripada di dekat siapa pun yang pernah dijumpainya selama ini. Taehyung adalah salah satu jiwa langka yang persahabatanya memberikan rasa tenang dan syukur, karena hatinya yang sebening kristal memancarkan cahaya ke sudut-sudut gelap jiwa orang lain, sehingga siapa pun yang terkena pancaran sinarnya, memantulkan kembali kemuliaan hati sumber cahaya tersebut.
Tetapi Jungkook tidak pernah berpikir tentang cinta. Seperti gadis-gadis lainnya(lah dia cowok ya), dia juga memimpikan seorang Pangeran Tampan yang masih muda, gagah, dan penuh daya pikat. Tidak pernah terpikir olehnya bahwa sang pangeran tampan mugkin bersembunyi di dalam sosok dingin dan pemimpi yang tinggal di rumah 'segar'nya.
Bulan Agusus membawa warna-warna keemasan dan biru. Jungkook melangkah keluar dari balik pepohonan. Angin meniup helaian rambutnya dibawah topi birunya. Dibawah pohon pinus dia menemukan seikat bunga mignotte yang harum. Diambilnya bunga-bunga itu dan dibenamkannya wajahnya dalam keharumannya yang lembut.
Dia sudah berharap Taehyung akan berada di kebunnya, sebab Mom ingin minta dipinjami sebuah buku yang ingin Mom baca. Tadinya Bambam meminta ikut, karena ditinggal sendirian bersama dengan Dad membuatnya sedikit bosan. Tapi Jungkook menolaknya, ayolah Bam, Jungkook kan ingin bertemu dengan Taehyung. Taehyung, lho!
Dilihatnya Taehyung sedang duduk dibangku kayu agak di ujung. Dia duduk membelakangi Jungkook dan tubuhnya setengah tertutup serumpun bunga lilac.
Dengan wajah agak memerah, Jungkook membuka selot pagar kebun dn menyusuri jalan setapaknya. Jantungnya berdebar-debar aneh.
Taehyung tidak mendengar langkah-langkah kakinya. Setelah berada di dekatnya, Jungkook mendengar suaranya dan baru tersadar bahwa Taehyung sedang berbicara sendiri, dengan suara pelan penuh khayalan. Sewaktu menyadari makna ucapan-ucapannya, Jungkook terperanjat dan wajahnya merah padam. Dia tak sanggup bergerak atau berbicara; seperti di dalam mimpi dia berdiri diam saja mendengarkan kata-kata lelaki dingin itu, yang sama sekali tidak menyadari ada sepasang telinga yang mendengarnya.
"Betapa aku sangat mencitaimu, Jungkook," Taehyung berkata tanpa takut-takut, tanpa nada malu dalam suara maupun sikapnya. "Apa yang kau katakan andai kau tahu. Kau pasti akan menertawakan aku—meski kau begitu manis, kau pasti akan tertawa mencemooh. Aku tidak akan pernah bisa memberitahumu. Aku hanya bisa bermimpi memberitahumu. Dalam mimpiku kau berdiri disini, disampingku. Aku bisa melihatmu dengan jelas, manisku, begitu jangkung dan anggun, dengan rambutmu yang berkilau dan sepasang mata indahmu. Aku hanya bisa bermimpi menyatakan cintaku padamu—impian paling mustahil dan paling manis—dan mengkhayalkan kau membalas cintaku. Dalam mimpi segalanya mungkin terjadi, sayangku. Hanya mimpi-mimpi itu yang kumiliki, maka aku berani bermimpi jauh, bahkan mengkhayalkan kau sebagai istriku. Aku membayangkan membangun rumah tuaku yang membosankan itu untukmu. Betapa bahagia membayangkan apa yang akan kulakukan untukmu! Lalu aku akan membawamu pulang, membimbingmu melewati kebunku, dan masuk ke dalam rumahku sebagai nyonya rumah. Aku akan melihatmu berdiri di sampingku di depan cermin tua di ujung lorong—sebagai milikku, dan wajahmu merah merona. Aku akan mengajakmu memasuki semua ruangan yang sudah dipersiapkan untuk menyambut kedatanganmu, lalu akan kubawa kau ke kamarku. Aku akan melihatmu terwujud pada saat-saat bersejarah itu. Oh, Jungkook, kita akan menjalani kehidupan indah bersama-sama! Betapa manisnya mengkhayalkan semua itu. Kau akan menyanyi untukku di kala senja, dan kita akan mengumpulkan bunga-bunga yang tumbuh lebih cepat pada hari-hari musim semi. Kalau aku pulang bekerja, lelah, kau akan memelukku dan membaringkan kepalamu di bahuku. Aku akan membelai kepalamu—kepalamu yang indah dan rambutmu yang berkilau itu. Jungkook, Jungkook-ku—milikku dalam mimpi—takkan pernah menjadi milikku dalam kehidupan nyata—betapa aku sangat mencintaimu!"
Jungkook yang berada di belakangnya tidak tahan lagi. Dia menjerit kecil tertahan, sehingga kehadirannya ketahuan. Taehyung melompat bangkit dan melihatnya. Dia melihat Jungkook berdiri di sana, di tengah bayang-bayang bulan Agustus yang membuat mata mengantuk. Jungkook tampak pucat, gemetar, kedua matanya terbuka lebar.
Sejenak rasa malu menyergap Taehyung, kemudian lenyap tak bersisa, digantikan rasa marah yang amat sangat dan datang tiba-tiba, menguasai dirinya. Dia begitu geram dan sakit hati seperti orang yang ditipu dan diambil harta miliknya yang paling berharga—seolah-olah ruang tempat dia menyimpan emosinya yang paling sakral telah dimasuki dengan tidak selayaknya. Dengan wajah pucat pasi dan tegang oleh amarh dia menatap Jungkook dan berbicara, bibirnya pucat seperti terluka oleh kata-kata yang dilontarkannya.
"Beraninya kau? Kau memata-matai aku—kau datang diam-diam dan mendengarkan! Beraninya kau? Kau mendengarkan mimpi-mimpiku? Oh, silakan tertawa—ejek saja aku! Aku tahu aku menggelikan! Lalu kenapa? Kau tidak akan rugi apapun! Kenapa kau mengendap-endap untuk mendengarkan dan membuatku malu? Oh, aku mencintaimu—akan kukatakan terus terang, silakan tertwa. Anehkah bagimu bahwa aku mempunyai hati seperti orang-orang lain? Ini bisa kau jadikan bahan tertawaan!"
"Taehyung hyung! Hyung!" seru Jungkook setelah berhasil menemukan suaranya kembali. Amarah Taehyung menimbulkan rasa pedih tak tertahankan pada dirinya. Sungguh tidak terbayang Taehyung bisa begitu marah padanya. Dan baru pada saat itulah dia menyadari bahwa dia mencintai lelaki itu—kata-kata yang diucapkan Taehyung saat tidak menyadari kehadirannya adalah kata-kata paling manis yang pernah didengarnya, atau yang akan pernah didengarnya. Tidak ada lagi yang lebih penting dari itu, selain bahwa Taehyung mencintainya dan sangat marah padanya. Jungkook tahu dengan benar bahwa Taehyung memiliki hati yang sensitif dan pemalu.
"Jangan berkata begitu padaku," dia terbata-bata. "Aku tidak bermaksud menguping. Aku kebetulan saja mendengarmu. Aku tidak akan pernah menertawakanmu. Oh, hyung..." —ditatapnya laki-laki itu dengan berani, dan jiwanya yang bersih terpancar dari dalam dirinya, seperti cahaya lampu—"aku senang kau mencintaiku! Dan aku senang tak sengaja mendengarnya, sebab kalau tidak begitu kau tidak akan pernah berani mengatakannya padaku. Aku senang—senang. Mengertikah kau, hyung?"
Taehyung menatapnya. Meski hatinya pedih, matanya bisa melihat kebahagiaan besar yang menantinya.
"Mungkinkah itu?" Taehyung bertanya heran. "Kook—aku jauh lebih tua darimu—dan orang-orang menganggapku tertutup dan dingin—mereka bilang aku tidak seperti Mingyu atau orang lain."
"Kau TIDAK seperti orang-orang lain," Jungkook berkata pelan, "dan itu sebabnya aku mencintaimu. Sekarang aku tahu, aku pasti sudah mencintaimu sejak pertama aku melihatmu."
"Aku mencintaimu lama sebelum aku melihatmu," kata Taehyung.
Dia menghampiri Jungkook dan meraihnya ke dalam pelukannya, lembut dan penuh cinta, semua rasa malu dan kecanggungannya lenyap tertelan kebahagiaan yang amat sangat. Di kebun itu dia mengecup bibir Jungkook.
Sifat malu dan canggung Taehyung perlahan hilang, keluarga Jungkook begitu hangat dan memberikan apa yang hilang dari Taehyung. Mom benar-benar menyukai Taehyung yang sederhana dan alami. Dad kadang merasa iri ketika melihat Jungkook yang sangat nempel dengan Taehyung, tapi Dad sangat senang ketika Taehyung datang ke rumah. Bambam yang tadinya merasa Taehyung adalah orang aneh, sekarang dia menganggap Taehyung orang yang sungguh-sungguh adorable. Yugyeom bahkan dengan tulus tersenyum dan mengakui betapa Taehyung sangat keren akhir-akhir ini. Mingyu awalnya curiga, tapi akhirnya menyadari bahwa Jungkook bisa membawa Taehyung ke dunia yang berbeda. Hoseok sangat bahagia ketika berkenalan dan berbincang dengan Taehyung. Jinyoung kadang memberi kue-kue untuk Taehyung dan mulai membicarakan tentang Mark. Bahkan akhir-akhir ini Taehyung selalu membuat Youngjae kesal karena selalu menggoda dan mengerjai kepolosannya.
Taehyung mulai berubah. Ternyata ia hanya perlu peduli dengan yang lain, ternyata dunia luar salah satunya seperti keluarga Jungkook adalah satu dari beberapa yang dibutuhkannya. Ternyata Taehyung mempunyai hati, walaupun sekeras batu es. Dan setiap harinya Jungkook selalu berdo'a, jika ia tidak bisa mencairkan hati Taehyung, biarkanlah hati itu mencair sendiri.
Sesudahnya, Jungkook sering menghabiskan waktu berdua dikamar Taehyung. Satu-satunya tempat yang selalu ia dan Taehyung kunjungi adalah kamar itu, melakukan kegiatan apa saja. Setelah Taehyung pergi ke Yale, Jungkook sellu mengetuk pintu kamar Taehyung sebelum masuk, dan menjaganya tetap harum dengan bunga-bunga segar. Walaupun Taehyung tidak ada dikamar itu, tapi Jungkook beranggapan ia harus melakukanya, karena Taehyung-nya suka dengan rumah 'segar'nya.
—
