Not Mainstream

Summary : Bagi penduduk Konoha, Minato itu shinobi yang paling hebat. Bagi Sarutobi, ninja anti mainstream. Bagi Kushina, suami terbaik. Bagi Shikamaru dan Chohi, ayah yang buruk dan pilih kasih. Tapi bagi Naruto, ayahnya itu crazy. Tidak ada yang bisa menandingi Minato dalam hal ke-crazy-an, bahkan seorang Orochimaru yang sudah diakui seluruh shinobi. MinaKushi_alive

DISCLAIMER : Naruto Belongs to Masashi Kishimoto

Genre : Adventure dan Family

Rating : T

WARNING : Ide pasaran, bertebaran typo, gaje, smart_Naru, Canon dan bashing beberapa chara.

Author Note : Minato dan Kushina tidak meninggal dalam insiden pasca kelahiran Naruto. Minato berhasil mengembalikan kyuubi ke tubuh Kushina tepat pada waktunya.

Sebelumnya, Ai minta maaf, jika masih banyak typos dan maaf juga karena Ai tak bisa menjawab semua pertanyaan para reviewer.

Apa semuanya genjutsu?

Genjutsu dimulai, saat Naruto pingsan di hutan kematian. Jadi, Kushina tidak mengusirnya, hokage ketiga tidak mati, dan Naruto tidak dicaci maki apalagi dipukuli. Tapi, semua kejadian sebelum Naruto bertemu Pria bertopeng itu nyata.

Alasan Minato kagak masuk akal dan lagi kenapa Minato bisa tahu rencana mata bulan? Aku menyesal baca.

Kenapa Minato begini kenapa Minato begitu? Jawabnya simple, karena ceritanya memang not-mainstream, beda alur sama canon-nya. Dan bisa berbeda pula endingnya. Jika menyesal, silahkan baca tulisan don't like don't read. Silakan tekan tombol keluar. Tak perlu anda repot-repot menyampah di kotak review.

Kushina jinchuuriki? Tapi, kenapa Minato bilang Menma jinchuuriki?

Kushina jinchuuriki. Minato membagi Kyuubi jadi dua. Lebih lengkapnya baca di chap ini.

Setting cerita ini dimulai sebelum Naruto masuk akademi Ninja. Itachi belum membantai klannya. Menma sudah lulus akademi.

Don't Like Don't Read

Chapter two

Latihan

"Bagaimana?" tanya Sarutobi tak sabaran, begitu Minato melongokkan kepalanya di ruang Hokage.

Sarutobi bahkan tak menunggu Minato benar-benar masuk ke dalam ruang kerjanya dan menutup pintu dengan pantas, atau minimal membiarkan Minato duduk terlebih dahulu di kursinya. Ia terlampau penasaran dengan hasilnya, hingga dengan tak berperi kemanusiaan langsung menodong Minato, begitu ia muncul dari balik pintu.

"Berhasil. Dia bahkan melebihi ekspektasiku selama ini," jawab Minato dengan wajah penuh antusias dan mata berbinar-binar. Ia memandang Sarutobi —mantan hokage sebelumnya yang meski sudah berumur, namun intuisinya masih tajam seperti kala beliau muda— penuh rasa hormat. "Terima kasih banyak. Anda sudah bersedia membimbing dia dan mendampinginya selama ini,"

"Tak masalah. Bagaimana pun ia masih anak-anak. Harus ada seseorang yang ada di sisinya, agar ia tidak terpuruk ke dalam kegelapan, mengingat seseorang yang harusnya mengayominya justru lebih memilih peran sebagai antagonis."

"Ha ha ha..." Minato tertawa canggung dan menggaruk-garuk kepalanya yang Sarutobi yakin tidak gatal karena ketombe apalagi kutu rambut.

Minato tersenyum muram dibalik sinar keruh safirnya. Ia mengepalkan jemari tangannya kuat-kuat, hingga buku-buku jarinya memutih, menahan gejolak emosi dan sesak dalam dadanya yang membuncah. Ia mengerti, sangat mengerti malah, sindiran tajam dari hokage sebelumnya ini.

Ia tahu ia salah. Tidak seharusnya ia mengabaikan Naruto. Tidak seharusnya ia bersikap kejam dan dingin pada anak kandungnya sendiri. Jujur, ia pun tak rela, dan tak ingin melakukan ini. Bukan hanya Naruto yang terluka, tapi... 'Aku juga,' batin Minato sambil memejamkan matanya.

Hati ayah mana sih yang tak terluka, jika mendengar isak tangis lirih putranya, ataupun melihat kesedihan yang terpantul dari iris safir putranya? Dan itu terjadi setiap hari. Semua ayah yang waras di dunia ini pasti merasakannya, termasuk Minato.

Entah sudah berapa kali, Minato menyuruh dirinya sendiri untuk berhenti melakukan rencana gila ini, mengabaikan Naruto dan bersikap dingin padanya? Minato sudah tak bisa menghitungnya lagi. Ada belasan, puluhan, atau ratusan kali mungkin, sejak rencana ini berjalan.

Dan jangan kira, hati Minato terbuat dari baja. Ia hanyalah manusia biasa. Hatinya pun sering kali goyah. Minato sering kali tergoda untuk meraih Naruto dalam pelukannya, dan melupakan segala rencana gila yang sedang bertengger di tempurung otaknya, begitu matanya menangkap kesedihan pada safir anaknya. Tapi, ia selalu saja tak bisa.

Minato tak bisa berhenti melanjutkan rencana gila ini. Bayangan Naruto menderita di masa depan, terseret dalam kekacauan dunia shinobi, dan terombang-ambing oleh kepentingan berbagai friksi yang bertikai-lah, yang membuat Minato mengeraskan hatinya dan menulikan telinganya. Ya, ia harus tega, demi kebaikan Naruto.

Jika bukan karena memikirkan masa depan Naruto nanti, tak sudi ia melakukan ini. Sungguh, sama sekali tak ada niatan untuk kepentingan pribadi Minato secuil pun untuk ini. Semua yang dilakukan Minato adalah untuk kebaikan putranya, Konoha, dan juga dunia shinobi. Harapannya, jika ini berhasil, maka sesuatu yang buruk di masa depan akan bisa dicegah.

Mata Minato menerawang jauh. Pikirannya melayang pada kenangan-kenangan di masa silam. Ia teringat akan perjuangan panjangnya. Selama berbulan-bulan, ia menenggelamkan diri dalam tumpukan berbagai literatur sejarah milik klan Uzumaki, Senju, dan Uchiha yang tersimpan rapi dalam perpustakaan Konoha.

Awalnya, ia hanya ingin tahu mengapa Kyuubi disegel di tubuh Kushiha. Namun, semuanya berubah setelah pria bertopeng misterius itu menyerang Konoha, menggunakan Kyuubi yang ia rampas dari Kushina 6 tahun yang lalu. Untunglah, Minato berhasil mencegah insiden buruk itu sehingga Konoha selamat dari amukan Kyuubi.

Setelah itu, Minato terobsesi dengan rahasia hubungan antara Kyuubi dan Uchiha. Ia bekerja keras menyelidikinya secara diam-diam dan rahasia. Ia mengerahkan segenap waktu, tenaga, dan pikiran demi itu. Tapi, ia tidak melakukannya seorang diri. Ia mendapat bantuan dari Kagami, sahabatnya dari klan Uchiha yang juga ayah dari Uchiha Shisui.

Kagami bersedia membantunya dengan harapan, hal ini dapat membersihkan nama baik klan Uchiha yang tercemar gara-gara ulah si Pria bertopeng yang diduga kuat memiliki darah Uchiha pada tubuhnya. Sejak insiden penyerangan Kyuubi pada desa, klan Uchiha dikucilkan dari pergaulan antar klan di Konoha dan secara tidak langsung dibuang.

Kagami pikir, 'Jika ini dibiarkan, suatu saat masalah ini akan meledak dan menimbulkan masalah besar nantinya,' Mungkin saja, para Uchiha yang memiliki harga diri sangat tinggi, mencoba untuk melakukan kudeta pada desa Konoha karena tidak terima didiskriminasi dan terus-menerus dipandang negatif.

Awalnya, mereka berdua kesulitan mencari benang merah antara tindak-tanduk Madara Uchiha dengan Kyuubi, mengingat sedikitnya bahan rujukan mereka. Minato hanya berhasil mendapatkan informasi sejarah mengenai Rikudou Sennin dan asal usul cakra. Konon, menurut gulungan clan Uzumaki, cakra berasal dari pohon shinju.

Kemajuan penyelidikan mereka baru membuahkan hasil, setelah Kagami berhasil membaca tulisan pada monumen batu di kuil Nagano dan memberitahukan isinya pada Minato secara diam-diam. Meski untuk itu, Kagami harus menukarnya dengan nyawanya. Ia mati dibunuh seseorang yang tak ingin rahasia klan Uchiha tersebar.

Minato menyatukan informasi yang sudah didapatnya dengan berbagai peristiwa yang terjadi di dunia ninja yang terserak, tercecer, dan terlihat acak, padahal saling berkaitan satu sama lain, dan lalu menganalisisnya. Setidaknya ada lima peristiwa penting di dunia ninja, yang tercatat memiliki hubungan dengan isi monumen Uchiha.

Pertama, dari Tsunade. Putri Tsunade menemukan bekas gigitan pada lengan kakeknya, usai pertempuran antara kakeknya dengan Madara di lembah akhir. Kedua, penelitian Orochimaru yang bisa menggabungkan dua sel dari orang yang berbeda. Ketiga, info penting dari Jiraiya mengenai seorang anak dari Amegakure yang memiliki rinnegan. Keempat, percobaan pencurian bijuu-bijuu seperti sanbi dan Kyuubi —se-pengetahuan Minato— yang untungnya tidak berhasil.

Terlalu mencurigakan, jika semua itu dikatakan kebetulan. Pasti semuanya sudah direncanakan secara matang. Dan Minato mengambil kesimpulan bahwa, Madara berhasil menggabungkan DNA-nya dengan DNA Hashirama yang berhasil ia dapatkan dalam pertarungan mereka di lembah akhir, memanfaatkan hasil penelitian Orochimaru.

Penggabungan DNA itu berhasil menciptakan doujutsu baru yakni rinnegan yang sebelumnya hanya dimiliki Rikudou Sennin. Dengan percobaan pencurian-pencurian bijuu-bijuu, itu sudah memperkuat dugaan Minato, jikalau Madara merencanakan, membuat jutsu Mugen Tsukuyomi, yakni Genjutsu tanpa batas, seperti yang tertera pada monumen Uchiha.

Minato tak bisa membiarkan itu terjadi. Itu adalah rencana yang sangat berbahaya. Alih-alih menciptakan perdamaian, justru proyek bulan ini akan menyebabkan musnahnya dunia shinobi. Kenapa? Karena, berdasarkan cerita dari tetua katak digabungkan dengan gulungan sejarah milik Uzumaki, jutsu Mugen Tsukuyomi akan membangkitkan pohon shinju yang memiliki kemampuan menyerap semua cakra para shinobi, hingga akhirnya tewas.

Memang itu masih berupa dugaan Minato semata. Meski demikian, Minato tidak bisa mengabaikannya begitu saja. Ia tak bisa diam menunggu, Madara berhasil mengumpulkan bijuu-bijuu dari seluruh dunia untuk yakin bahwa memang proyek mata bulan-lah yang direncanakan Madara.

Untuk itulah —sebagai antisipasi kemungkinan terburuk, jika dugaan mereka terjadi— Minato melakukan banyak hal, merencanakannya secara hati-hati bersama orang-orang yang sangat dipercayainya yakni Kushina dan Hokage ketiga. Naruto di sini, menjadi bagian terpenting dari rencana ini.

Keberhasilan Naruto akan menentukan arah masa depan desa Konohagakure khususnya dan dunia ninja pada umumnya. Pada Naruto-lah, Minato meletakkan seluruh harapannya. Minato mempertaruhkan semuanya, pada sang anak. Sedangkan untuk Menma...? Minato mendesah. Wajahnya tertekuk muram... Menma, ia akan...?

"Apa rencanamu selanjutnya?" tanya Sarutobi membuyarkan lamunan panjang Minato.

Ada keheningan sekitar 30 menit, sebelum Minato menjawab, "Aku akan melatih Naruto, mulai besok."

"Secepat itukah?"

Minato tersenyum miris dibalik ekspresinya yang muram, menambah suasana suram di ruang kerjanya sendiri. "Tak ada pilihan. Aku terdesak oleh waktu."

"Memang teknik itu sudah sempurna?"

"Naruto, anak yang pintar. Aku yakin ia mampu mengembangkan teknik yang baru setengah jadi ini, dan menyempurnakannya suatu saat nanti." ujar Minato optimis.

"Ya. Untunglah Naruto mewarisi otakmu dan bukan Kushina. Soalnya Kushina itu agak.. ehem... kurang daya tangkapnya," ujar Sarutobi.

Minato membalasnya dengan cengiran bodoh ciri khasnya yang juga ia turunkan pada anaknya, selain rambut dan warna matanya. Minato tersenyum kecut, mengingat kecerdasan sang istri yang payah dalam memahami teori. Kushina cuman bagus di bagian prakteknya doang.

"Ku harap Naruto bisa mencegah hal yang buruk di masa depan nanti, dan berhasil mewujudkan perdamaian dunia, seperti yang dicita-citakan oleh para hokage sebelumnya." Ujar Minato penuh harap, sebelum meraih lembaran kertas yang menumpuk di atas mejanya.

Sarutobi meniup asap dari cerutunya. Matanya yang sudah tidak jernih lagi karena dimakan usia, tampak keruh. Ia mendesah. "Semoga saja," harapnya lirih, sambil mengeratkan tali obinya dengan tangannya yang sudah keriput.

Ia bisa merasakan beban di pundak Minato. Saat ini, Konoha memang terlihat tenang. Namun, ia tahu itu hanyalah ketenangan semu. Saat ini, bom waktu masih berdetak di atas langit Konoha. Jika jarum sudah pada posisinya, bom itu akan meledak dan siap meluluh lantakkan Konoha kapan saja. Inilah, yang dikhawatirkan Sarutobi dan ini pula satu-satunya alasan kenapa ia setuju terlibat dalam rencana gila Minato.

...*****...

Biasanya, pagi Naruto diisi dengan bermalas-malasan di atas kasur, menggeliat-geliat, mengulet ke kanan dan ke kiri seperti ulat bulu, sebelum menendang selimutnya jatuh dari atas tempat tidur, begitu mendengar keluarganya sudah selesai sarapan dan terik matahari mencapai kamarnya yang berakibat mengganggu acara tidur paginya.

Seperti itulah aktivitas pagi seorang Naruto. Ia baru memulai harinya, begitu keluarganya usai sarapan bersama tanpa Naruto. Naruto sebenarnya tidak dilarang makan semeja dengan mereka, namun ia memilih makan sendirian. Ia tak ingin melukai dirinya sendiri dan lalu memenuhi hatinya dengan bibit-bibit kebencian pada keluarganya sendiri, ketika ia jelas-jelas diabaikan.

Tapi, pagi ini beda. Dini hari sekali, ayahnya sudah menyeretnya dari tempat tidur, ketika sebagian besar orang bahkan belum membuka matanya, dan masih asyik dengan mimpinya. Ia berteriak tepat di telinga Naruto hingga Naruto kaget dan terjatuh dari ranjangnya.

"BANGUN! Kita mulai latihan hari ini," kata Ayahnya.

Naruto dengan mata yang masih mengantuk menyeret dirinya sendiri ke kamar mandi. Ia mengguyur tubuhnya dengan air dingin di hari yang masih dingin pula, mengabaikan rasa dingin yang begitu menusuk tulang. Ia berganti pakaian secepat mungkin dan lalu dengan secepat kilat minum air putih yang banyak. Semua ia lakukan dalam kurun waktu kurang dari 15 menit. Begitu siap, ia pun bergegas meninggalkan rumah tanpa sarapan mengingat ibunya baru bangun tidur.

Naruto menyusul sang ayah di halaman belakang rumah. Pertama-tama, ayahnya menyuruh Naruto melakukan pemanasan terlebih dahulu untuk mencegah kram dan keseleo. Selanjutnya ayahnya menjelas tentang isi menu dasar latihan yang dijanjikan ayahnya. Menu latihan Naruto dibagi menjadi 3, yakni latihan fisik sebagai dasar taijutsu, latihan menggunakan senjata, dan terakhir bagian terpenting yakni latihan pengontrolan cakra.

# latihan fisik : Kecepatan bergerak

"Selain menguasai jutsu, seorang shinobi juga harus memiliki fisik yang kuat. Karena itu, sebelum belajar teknik ninja, kita akan melatih fisikmu terlebih dahulu." Kata ayahnya usai Naruto melakukan pemanasan. "Latihan fisik ini berguna untuk meningkatkan kemampuanmu mengatur nafas, kekuatan daya tahan tubuhmu, dan kecepatanmu bergerak selama pertarungan."

Menu latihan Naruto —Lebih mirip menu penyiksaan— diawali dengan latihan fisik seperti push up 100x, sit up 100x, back up 100x, dan squat jump 100X hanya untuk minggu pertama sebagai pembiasaan. Hari-hari selanjutnya, frekuensinya diperbanyak. Latihan ini berguna untuk memperkuat daya tahan tubuhnya dan sekaligus membuat otot-otot tubuhnya tidak kaku dan lentur.

Kalau menu latihan yang ini, Naruto tak merasa keberatan. Ia bisa menyelesaikan latihannya dengan baik. Soalnya, ia sudah biasa melakukannya bersama Shika dan Choji, disela-sela acara bermain mereka. Nah, yang jadi masalah Naruto itu, latihan sesudahnya.

"Setelah itu, lari keliling desa Konoha sebanyak 5 kali putaran bla bla bla..." kata ayahnya yang dihiraukan oleh Naruto.

Naruto sudah mematung begitu mendengar kata, 'Keliling Konoha 5 kali putaran,' terucap dari bibir sang ayah. Gejlig! Yang bener saja? 5 kali putaran? Keliling Konoha? Oh, Kami sama. Satu putaran saja sudah makan jarak 5 km. 5 kali putaran berarti... Naruto menghitung mental dalam otaknya. Matanya membola begitu tahu berapa jarak yang harus ditempuhnya. '25 km? Astaga! Aku tak percaya ini,' batin Naruto syok berat.

"...Kau siap, Naruto?" tanya sang ayah mengakhiri pidatonya, sambil menatap wajah sang anak. Ia bisa menangkap pergulatan batin di safir Naruto. Minato menghela nafas, berusaha sabar. Bagaimana pun Naruto masih anak kecil, jadi wajar jika ia merasakan berat dengan latihan yang disusun Minato susah payah.

"Ehem," Minato berdehem untuk menarik perhatian sang anak dan berhasil. Kini, fokus Naruto tercurah pada Minato. "Apa kau siap?" Minato mengulangi pertanyaannya dan masih dibalas dengan keheningan. Minato mengetuk-ngetuk sepatu ninjanya ke tanah, tak sabar. Tangannya bersedekap di dada. "Kau mau meneruskan latihan ini atau berhenti sekarang dan untuk selamanya juga? Aku tak mau membuang waktuku yang berharga untuk hal yang sia-sia," Sindir Minato.

Naruto mengepalkan tangannya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, mengusir rasa malas yang membuatnya enggan berlatih. Bukankah ini yang ia inginkan sejak dulu, dilatih langsung oleh sang ayah seperti Menma, adiknya? Lalu, kenapa sekarang setelah keinginannya tercapai, ia justru ragu?

Memangnya jadi shinobi itu gampang apa? Bisa dijadikan selingan di waktu luang? Bukan, bung. Tugas shinobi itu berat. Seorang shinobi selalu mempertaruhkan nyawanya sendiri saat menjalankan sebuah misi, karena itu latihan yang mereka jalani juga pasti berat. Para shinobi hebat di Konoha termasuk ayahnya ini, pasti pernah menjalani latihan berat seperti ini, atau mungkin lebih untuk bisa menjadi mereka yang sekarang.

"Aku siap, tousan!"

"Kau yakin?"

"Yosh. Aku tak akan pernah menarik kata-kataku. Itu jalan ninjaku." Tanpa sadar, Naruto sudah menemukan mottonya sendiri.

"Baguslah! Dalam waktu dua jam, kau harus sudah selesai memutari Konoha, sebanyak 5 kali. Ingat, atur pernafasanmu! Seperti ini!" Minato mencontohkan posisi dan cara mengatur pernafasan yang baik. Setelah Naruto paham, barulah Minato memberi aba-aba, "Dan, mulai dari…. S-E-K-A-R-A-N-G!"

Naruto mulai berlari mengelilingi Konoha. Di sampingnya, ada sang ayah yang memantaunya. Putaran pertama bisa Naruto lewati dalam waktu setengah jam kurang. Putaran kedua, ia masih kuat. Putaran ketiga larinya mulai melambat. Masuk di putaran keempat nafasnya sudah ngos-ngosan, tak beraturan. Di seperempat putaran kelima, nafas Naruto sudah terputus-putus, dan di akhir putaran Naruto ambruk. Ia tersungkur di tanah.

"Kau baik-baik saja, Naruto?" tanya ayahnya datar, sedatar jalan tol, seolah-olah ia sedang bertanya 'Apa cuaca hari ini?' pada anaknya.

"Hosh hosh hosh.., Ak-aku hosh.. ba-baik-baik hosh.. hosh saja, tou hosh san." Katanya diantara deru nafasnya yang tersengal-sengal. Paru-parunya terasa sesak karena dipaksa bekerja begitu keras. Mulut Naruto terbuka lebar dan dengan rakus menghirup udara bersih sebanyak-banyaknya.

"Baguslah," Kata Minato. "Sekarang kita lihat, berapa waktu yang kau habiskan untuk memutari Konoha," lanjutnya terdengar riang. "Hm, kau terlambat 30 menit. Itu artinya hari ini kau gagal menyelesaikan misimu,"

Naruto menyembunyikan wajahnya dibalik rambutnya yang maju ke depan menutupi sebagian dari wajahnya. Ia tak henti-hentinya menyalahkan dirinya sendiri, karena telah mengecewakan kepercayaan ayahnya. 'Setelah ini, ayah pasti tak bakal mau melatihku lagi. Aku memang payah dan pecundang persis seperti ucapan para penduduk desa,' pikir Naruto muram.

"M-maaf, tousan," kata Naruto sedih.

"Kau tahu kenapa kau gagal memenuhi target?" tanya Minato yang dijawab dengan gelengan lemah oleh Naruto. "Itu karena kau tak bisa mengatur pernafasanmu. Setelah ini, perbaiki teknik pernafasanmu."

"Hai'k, tousan!"

Latihan fisik ini terus Naruto lakukan 3 kali sehari, pagi-siang-sore sampai Naruto benar-benar bisa menyelesaikan 5 kali putaran keliling desa Konoha sesuai waktu yang sudah ditentukan, atau lebih baik lagi melebihi catatan waktunya. Naruto melakukannya dengan tanpa lelah, meski tousannya tak menemaninya latihan. Tekad Naruto sudah bulat. Ia harus bisa.

Terkadang, Naruto berlatih dengan ditemani oleh pria aneh mengelilingi Konoha 5 kali putaran. Bedanya, jika Naruto lari, maka orang aneh itu berjalan dengan posisi terbalik. Ia menggunakan tangan sebagai pengganti kakinya. Sungguh cara berlatih yang aneh, persis seperti penampilannya yang aneh.

Meski demikian, pria aneh yang memperkenalkan diri dengan nama Maito Guy ini, orang yang murah hati. Buktinya, ia bersedia memberi Naruto tips-tips untuk berlatih teknik pernafasan yang baik. Berkat dia, Naruto berhasil melampui catatan waktu yang ditetapkan ayahnya, dan kecepatan larinya meningkat drastis, hampir mengimbangi kecepatan Maito Guy saat lomba lari bersamanya. Naruto nyengir malu saat si Guy memujinya hebat.

"Semangat, Nak! Berlatihlah terus yang giat. Dan, mari kita kobarkan semangat masa muda ke seluruh penjuru dunia." Katanya berapi-api, lengkap dengan background ombak yang sedang menggulung-gulung di bawah matahari senja. Itu yang selalu dikatakannya untuk memberi suntikan semangat pada Naruto.

Naruto mengangguk sopan sebagai ucapan terima kasihnya. Ia menahan diri untuk tidak meneriaki Maito Guy 'aneh', atau menjulukinya 'monster hijau berjalan', mengingat ia selalu memakai pakaian spandek yang pres body warna hijau dan super ketat di tengah matahari yang sedang terik-teriknya. Rasanya, julukan-julukan itu terdengar sangat kurang ajar dan tak tahu diri banget.

# latihan fisik : Fokus pada Target

"Selain kecepatan, seorang ninja harus bisa merasakan gerakan lawan dan fokus pada target yang akan diserang. Latihan menangkap ikan ini berguna untuk melatih kecepatan dan fokusmu." Ujar sang ayah memberi Naruto pengarahan.

Minato mencontohkan bagaimana caranya menangkap ikan dengan tombak di tengah-tengah arus sungai yang mengalir deras. Ayahnya berdiri tegak, memperhatikan pergerakan ikan-ikan yang berrenang-renang di sekitarnya, memilih target, dan lalu menghujamkan tombaknya.

"Seperti ini!" katanya sambil menunjukkan ikan tangkapannya. "Sekarang, coba kau lakukan!"

Naruto mengikuti petunjuk sang ayah. Ia menghujamkan tombaknya pada ikan yang jadi targetnya, dan... byuur... Air sungai memercik ke segala arah dan beberapa diantaranya mengenai tubuh dan baju Naruto yang kini basah kuyub. Tapi, tidak ada ikan yang tertangkap. Ikan buruannya berhasil kabur dan hanya meninggalkan bunyi kecipak air di dalam sungai yang kini airnya keruh.

"Rasakan gerakan ikannya Naruto dan fokus!" teriak sang ayah dari pinggir sungai.

"Iya, tousan," sahut Naruto tak berniat memalingkan wajahnya. Matanya kembali waspada, mengintai target selanjutnya. Kegagalan pertamanya tidak membuatnya jera dan takut mencoba, tapi sebaliknya justru memacu semangat Naruto untuk bisa.

Ia mencobanya lagi, lagi, lagi, dan lagi. Hasilnya masih tetap sama, tak berhasil. Ternyata susah sekali menangkap ikan-ikan itu. Mereka bergerak sangat gesit. Ketika Naruto sudah siap menghujamkan tongkatnya tepat pada titik vitalnya, ikannya sudah bergerak gesit menghindari serangan Naruto.

"Lupakan rasa takutmu, Naruto! Ikan juga bisa merasakan ketakutan dan kebimbangan hatimu. Karena itu, mereka lolos. Lakukan dengan penuh keyakinan dan cepat! Kau mengerti?" kata Minato dari pinggir sungai.

"Akan ku coba lagi, Tousan," balas Naruto dari tempatnya berdiri. 'Fokus Naruto, fokus,' gumamnya memperingati diri sendiri.

Ia mengingat-ingat lagi gerakan sang ayah. Ah, iya. Ayahnya tidak membuat banyak gerakan sepertinya. Beliau dengan tenang membiarkan ikan-ikan bergerak di sela-sela kakinya, lalu mengayunkan dengan cepat. Naruto menarik nafas panjang, memberikan ketenangan pada dirinya sendiri agar gigilan pada tubuhnya berhenti. Dengan ketenangan yang sama pula, ia menombak salah satu ikan yang berrenang di sela-sela kakinya. Dan, kali ini berhasil.

Wajahnya sumringah. Matanya berbinar-binar dengan bibir melekuk senyum penuh rasa bangga. Ia menoleh pada sang ayah dan menunjukkan hasilnya pada sang ayah. Ayahnya memberinya cap jempol sebagai pujian dan menyuruh Naruto melakukannya lagi hingga embernya penuh oleh ikan.

Naruto mengangguk, setuju. Kali ini, setelah tahu tekniknya, ia bisa lebih mudah menombak ikan-ikan yang bergerak gesit itu. Dalam waktu sehari, sampai matahari sudah beranjak ke Barat, Naruto berhasil mengumpulkan ikan-ikan itu dalam beberapa ember. Sebagian diantaranya sudah ia makan bersama sang ayah, karena mereka malas pulang ke rumah. 'Tanggung,' pikir keduanya kompak.

"Cukup, Naruto! Besok kita lanjutkan lagi, tapi kali ini dengan tangan kosong."

Naruto mengangguk, mengiyakan sang ayah. Ia menahan diri untuk tidak mengerang panjang, mengingat latihan berat esok hari. Bayangkan! Menombak ikan yang licin dan gesit itu saja, susahnya sudah bukan main. Lah, ini menangkap ikan dengan tangan kosong? Bagaimana caranya pula? Namun, Naruto percaya ayahnya pasti akan mengajarinya caranya. Karena itu, ia tak perlu risau.

"Ini bagaimana?" tanya Naruto menunjuk tumpukan ikan di dalam ember.

"Minta saja pada ibumu untuk memasaknya."

"Tak mungkin semuanya, tousan. Lihat! Ada banyak ikan di sini," tunjuk Naruto pada ember-embernya.

"Kasih saja pada orang lain yang kau kenal! Aku pergi dulu, ada urusan. Sampai ketemu lagi di rumah. Chao!" kata Ayahnya sebelum bershunshin meninggalkan Naruto seorang diri dengan ember-ember berisi ikan.

Naruto mengambil 4 ember ukuran tanggung itu sekaligus. Ia mendatangi kenalannya untuk membagikan ikan hasil tangkapannya. Pertama, ke rumahnya Hokage ketiga yang diterima dengan senang hati satu ember penuh, berbagi dengan Asuma-ji san yang kebetulan berkunjung.

Naruto ingat, Asuma jisan menepuk pundaknya lembut dan mengusap puncak kepalanya, secara tidak langsung memuji Naruto. Naruto tersenyum lega. Ia sekarang percaya 100% kalau kejadian waktu Asuma jisan mencaci maki, menghardik, dan mengusirnya, memanglah hasil karya ayahnya dan bukan kejadian sebenarnya.

Selanjutnya, Naruto mendatangi kediaman Shikamaru. Ia menahan diri untuk tidak meringis, dan bergumam dalam hati 'Sudah biasa, sudah biasa. Abaikan saja!' ketika telinganya menangkap suara wanita sedang mengomel panjang. Wanita itu ibu Shikamaru, Yoshino. Ia sedang mengomel dan mengeluh mengenai kemalasan Shika dan ayahnya.

Oh, mereka —setahu Naruto— memang pasangan ayah-anak termalas di Konoha. Bukan hanya Naruto lho yang menjuluki mereka demikian. Hampir semua penduduk Konoha juga berfikir demikian, mengingat kemalasan mereka. Jadi, pantas kiranya jika istri dan ibu dua orang itu sering mengomel setiap hari.

Naruto sudah biasa mendengarnya sih. Tiap kali ia berkunjung ke rumah ini, ia selalu mendengar omelan dan keluh kesah dari Yoshina basan. Namun, tetap saja ia tak kuasa menahan diri untuk tidak meringis. Soalnya, ia jadi teringat dengan sang ibu yang juga sering mengomel soal pola makan yang sehat, ini, itu yang tidak ada habis-habisnya.

Heran, dech. Apa sih rahasia para ibu-ibu itu? Mereka kok bisa tahan ngomel berjam-jam tanpa jeda. Nggak capek apa mulutnya? Nggak habis apa cadangan suaranya dihambur-hamburkan dengan boros seperti itu? Itu salah satu misteri yang sulit Naruto pecahkan hingga kini

Naruto menunggu dengan sabar, mencari waktu yang tepat untuk mengintrupsi sang bibi yang tengah menceramahi anak dan suaminya. Namun, Shika bertindak cepat mencari alasan menghindari ceramah sang ibu yang sepertinya masih lama, dengan menghampiri Naruto.

Shika tanpa berperi kemanusiaan, langsung memberondong Naruto dengan pertanyaan, "Kenapa kau jarang datang ke lapangan? Apa yang terjadi padamu? Kau sakit?" Ia bahkan tak mempersilakan Naruto masuk dan membiarkan Naruto berdiri di depan pintu lengkap dengan ember-ember di tangannya. Sungguh tuan rumah yang tak ramah.

"Aku baik-baik saja. Aku jarang datang karena aku sibuk latihan bersama tousan," jelas Naruto begitu ia dipersilakan masuk.

"Melatihmu? Jadi, sekarang tousanmu sudah tidak pilih kasih dan mengabaikanmu? Wah, bagus dong. Ada kemajuan," ujar Shika turut senang dengan nasib baik yang mulai menghampiri sahabatnya ini.

"Pilih kasihnya sih masih. Tetap saja Menma yang diutamakan oleh tousan. Tapi, lebih baiklah. Setidaknya, tousan sudah mau memperhatikanku dan melatihku. Tidak seperti kemarin-kemarin, diabaikan begitu saja." Jelas Naruto sambil memamerkan senyuman manis di bibirnya. "Oh ya, hampir saja lupa. Aku ke sini mau ngasih ini, ikan hasil tangkapanku," tambahnya dengan bangga, waktu menyadari kemana arah pandang Shika dari tadi.

"Ikan? Wah, senangnya. Kau memang anak yang pintar, Naruto. Tidak seperti si pemalas ini," Bukan Shika yang membalas ucapan Naruto, melainkan Yoshina basan yang tiba-tiba saja ikut bergabung dengan Shika-Naru. Tak lupa, ia lemparkan sindiran pedas pada anaknya yang pemalas. "Terima kasih banyak ya untuk ikannya." Ujarnya lagi dengan wajah ceria.

"Sama-sama basan. Maaf, saya permisi dulu, masih ada urusan lain." kata Naruto berpamitan dengan sopan.

Selanjutnya, Naruto ke rumah Choji yang disambut Choji dengan wajah ehem super tidak enaknya. Bukanya Choji tidak bersikap ramah, malah sebaliknya ia ramah banget dan sangat antusias dengan kunjungan Naruto. Masalahnya, Choji melihati Naruto koreksi ikan Naruto dengan air liur yang hampir menetes di mulutnya. Sepertinya, ia tengah membayangkan bakal pesta ikan hari itu.

Naruto mendesah, menahan diri untuk tidak mengernyit jijik. Bagaimana pun jorok dan noraknya Choji, dia masih tetap teman baik Naruto. Hanya dia selain Shika yang mau menemaninya bermain selama ini. Ia terkadang juga membagi cemilannya untuk Naruto. Jadi, tak sepantasnya ia bersikap tidak sopan padanya.

Sekarang tinggal sisa satu ember lagi. Naruto membaginya separoh untuk yang di rumah dan sisanya lagi ia berikan pada keluarga Kiba. Ia memang tak begitu dekat dengan anak penggemar anjing itu, namun Kiba juga tidak bersikap buruk padanya. So, apa salahnya jika ia bersikap baik padanya.

Begitulah kegiatan Naruto usai latihan menangkap ikan di sungai yang dari hari ke hari, semakin bertambah tingkat kesulitannya. Dari menangkap ikan dengan tangan kosong, menangkap ikan dengan diberi pemberat pada kedua kaki dan tangannya, sampai menangkap ikan dengan shuriken.

Jangan pikir menangkap ikan dengan shuriken ini lebih mudah! Sebaliknya, ini lebih sulit dari sebelum-sebelumnya. Sebelum praktek dengan shuriken asli, Naruto harus berlatih ratusan kali dengan papan target untuk memastikan shurikennya tepat pada sasaran.

Selain keterampilan menggunakan shuriken, Naruto juga harus pintar-pintar membaca arah angin dan menghitung arus sungai. Salah sedikit saja, bisa dipastikan serangannya akan meleset dan membuang-buang senjatanya dengan mubazir. Karena itu, Naruto harus memperhitungkannya dengan teliti sebelum melempar shurikennya.

Tapi, tidak ada yang lebih sulit dan mendebarkan jantung selain berlatih menangkap ikan dengan tangan kosong di bawah tekanan sang ayah. Ayahnya menghujaninya dengan tendangan, pukulan, dan juga hujan shuriken, di tengah misi Naruto menangkap ikan.

Naruto harus berlari dengan cepat, menghindar dengan gesit, setiap serangan sang ayah untuk bisa selamat. Gara-gara, itulah misinya menangkap ikan gagal total. Jangankan untuk menangkap ikan, menghindari serangan sang ayah pun ia kewalahan. Fokus Naruto sering kali terpecah, antara misi dan menyelamatkan diri. Akibatnya, ia sering pulang dengan tangan kosong dan tubuh yang babak belur.

Beberapa ninja yang baru pulang dari misi dan kebetulan melihat keduanya berlatih hanya mampu meneguk ludah susah payah. Mereka jadi punya pandangan yang berbeda, setelah melihat keganasan Yondaime Hokage kebanggaan mereka dalam menyerang anaknya sendiri dengan dalih latihan.

Ada yang berfikir, 'Serius ini latihan? Kok niat banget nyerangnya?' atau 'Itu latihan apa mau bunuh orang? Buas sekali,' Ada juga yang berfikir, 'Latihan sebelum masuk akademi saja sudah seperti itu, lalu bagaimana kalau Naruto sudah genin? Hiii, seram,'. Ada juga yang berbaik hati mendoakan, 'Semoga kamu bisa pulang hidup-hidup, Naru-chan'.

Ada juga yang melihatnya dengan mata berbinar-binar dan berkata, "Kau memang hebat, Naruto. Penuh semangat masa muda. Ah, aku juga harus berlatih seperti Naruto agar tidak kalah darinya," yang menuai kernyitan dan tatapan tak percaya dari rekan-rekannya. Mungkin mereka menganggap pria itu gila. Nah, kalau yang ini bisa nebak kan siapa orangnya?

Selain itu, ada juga yang pandangannya berbeda. Matanya justru melihat apa yang dilewatkan orang lain. Di matanya, kemampuan Naruto dari hari ke hari semakin meningkat dan matang. Memang ada beberapa serangan yang berhasil menembus pertahanan Naruto, namun sebagian besar yang bisa berakibat fatal bisa dielakkannya. Ini pemikiran pria penggemar buku 'Icha-Icha Paradise'.

Meski sulit, namun bukan Naruto namanya jika menyerah. Ia terus berlatih dengan keras seorang diri. Terkadang, ia meminta tips pada hokage ketiga. Berkat beliau-lah, Naruto kini bisa membaca serangan lawan dan mengantisipasinya. Akhirnya, ia berhasil juga melakukan misinya, yakni menangkap ikan ditengah serangan bertubi-tubi sang ayah.

Usai latihan, biasanya Naruto selalu membagi-bagikan ikan-ikan tangkapannya pada kenalan atau yang hanya sekali dua kali ia dengar namanya, seperti keluarga Aburame, Hyuuga, dan yang ia agak malas mendatanginya, yakni klan Uchiha.

Bukannya ia mau bersikap diskriminan pada Uchiha sama seperti penduduk Konoha lainnya. Sama sekali bukan. Ia malas ke sana karena tak suka aja ketemu dengannya, nenek Uchiha Orihime, satu-satunya Uchiha yang Naruto kenal. Ada beberapa hal yang tak disukainya dari orang itu. Namun, ia akhirnya tetap datang ke kompleks Uchiha juga. Itung-itung untuk mempererat ikatan antar warga desa Konoha.

Dan sampai di sana, Naruto hanya bisa mendesah menerima siksaan lahir batin dari si nenek tua selama bermenit-menit yang dirasa Naruto seperti bertahun-tahun. Soalnya, ia malas mendengarkan ocehan tak penting si nenek mengenai Itachi begini, Itachi begitu, Itachi begono dengan penuh rasa bangga. Kalau tidak Itachi, maka ia akan membanggakan dengan berlebihan Shisui, anak teman baik ayahnya. Capek tahu, dengarnya.

Masih mending kalau dua orang yang disebutkan itu cucunya sendiri, atau keluarganya dekatnya. Masalahnya, dua orang itu kan bukan apa-apanya si nenek. Dari urutan pohon Uchiha, dia ini kerabat jauh dan sangat jauh dari Itachi dan Shisui. Lucu, kan? Buat apa coba membanggakan anak orang lain? Memangnya ia nggak punya anak atau cucu yang layak dibanggakan apa?

Terkadang Naruto tergoda ingin nyeletuk juga dan bilang Menma begini, Menma begitu, Menma begono. Tapi, ia menahannya. Karena, menurutnya itu sangat kekanakan. Dan lagi, apa sih yang bisa dibanggakan dari membanggakan orang lain. Itu malah akan membuat kita kehilangan jati diri kita. Iya, kan?

Setelah dipikir-pikir, Naruto jadi merasa bangga pada orang tuanya sendiri. Walau orang tuanya pilih kasih, namun mereka tak membangga-banggakan anak tetangga, sehebat apapun dia, melainkan masih anaknya sendiri. Ehem, Menma maksudnya. Kalau Naruto sih tak pernah orang tuanya memujinya di hadapan orang lain. Hanya saat tak ada orang lain saja, baru mereka memuji Naruto.

Meski kesal, Naruto tidak buru-buru menyetop ocehan ngelantur si nenek yang sudah sampai kehebatan Itachi dalam menyelesaikan misi sulit di desa kecil dekat desa Kirigakure yang tengah konflik. Samar-samar ia mendengar bagaimana si nenek membanggakan kehebatan Itachi dalam kenjutsu. Diam-diam, Naruto mencatatnya dalam hati, untuk meminta sang ayah melatihnya tehnik kenjutsu juga.

Naruto masih bertahan dengan senyum simpulnya, menunggu dengan sabar cerita panjang si nenek hingga selesai dengan sendirinya, baru ia berpamitan dengan sopan. Tentu saja setelah memberikan ikannya yang disambut si nenek penuh suka cita dan rasa haru.

Ia bilang, "Terima kasih, Nak. Kau sudah perduli pada kami, para Uchiha."

Naruto tersenyum tulus, "Sama-sama, Nek. Kita kan sama-sama warga Konoha. Jadi, sudah sepantasnya untuk saling membantu dan memberi."

"Kau masih anak-anak, tapi pemikiranmu sudah dewasa. Kau sangat pantas jadi anak Yondaime. Dia pasti bangga memiliki anak sepertimu."

Naruto tersipu malu. "Terima kasih, Nek. Aku juga bangga memiliki kenalan seorang Uchiha yang terkenal seantero dunia seperti nenek."

Untuk pertama kalinya, Naruto melihat binar kebahagiaan dan rasa bangga terpancar dari mata tua si nenek. Dengan lembut ia berkata, "Sudah malam, lekaslah pulang! Nanti, kau dimarahi ibumu."

"Baik, Nek. Aku pergi dulu. Mungkin besok aku datang lagi, jika ikan tangkapanku banyak. Doakan ya?"

"Hn," gumam si nenek melambaikan tangan untuk Naruto.

# latihan fisik : Merasakan KI (Killing Intens)

" Seorang shinobi harus bisa merasakan hawa membunuh dari lawan, sehingga ia bisa mengantisipasi setiap serangan, meski orang itu menyembunyikan cakranya dan ia belum menampakkan batang hidungnya."

"Mengerti, tousan,"

"Nah, sekarang. Tugasmu adalah berburu kelinci di tengah-tengah hutan. Kau harus bisa menangkapnya dengan tangan kosong. Ingat! Dengan tangan kosong. Berhati-hatilah, karena di hutan ini ada banyak predator buas yang bisa saja mengintaimu," kata sang ayah sebelum pergi meninggalkan Naruto seorang diri.

Naruto tak ambil pusing dengan sang ayah yang main pergi meninggalkan sang anak yang baru berumur 7 tahun di tengah-tengah hutan kematian dengan banyaknya hewan buas di dalamnya. Ia percaya, ayahnya tidak benar-benar pergi dan memantaunya dari tempatnya bersembunyi.

Naruto berdiri tegak, mengambil nafas panjang untuk memberinya ketenangan batin. Ia lalu mengedarkan pandangannya, mencari setiap gerakan di balik semak-semak, pohon, dan apapun di dalam hutan ini. Telinganya dengan waspada mendengarkan setiap gerakan, bisikan, sibakan dedaunan yang lemah.

Naruto berhasil menangkap suara kelinci yang melompat-lompat ringan diantara semak dari arah jam 7, kira-kira 50 meter dari tempatnya. Ia juga mendengar gerakan samar, seperti berdesis, mengikuti kelinci yang jadi buruan Naruto. Tak jauh dari suara desisan, ada suara langkah berat namun ringan yang juga mengikuti kelinci.

"Jadi lawanku ada dua, ular dan singa? Menarik-menarik sekali. Ini pasti akan jadi pertarungan yang seru," katanya penuh semangat.

Naruto bergegas menuju tempat si kelinci dengan gerakan cepat, ringan, dan halus, agar tidak meninggalkan suara berisik yang akhirnya menggagalkan misinya. Naruto berhasil mencapai tahap ini berkat latihan-latihan sebelumnya bersama sang ayah, secara rutin selama hampir kurang lebih setahun penuh.

Naruto tiba tepat ketika si ular sudah membuka mulutnya lebar-lebar dan siap menggigit kaki si kelinci. Naruto dengan kilat melempar kunainya dan tepat mengenai kepala si ular dan memakunya di tanah. Ia tak memeriksa apakah ularnya sudah mati atau tidak karena ia harus segera mengejar kelinci buruannya yang kabur.

Naruto berlari, berlomba dengan para predator untuk memperebutkan si kelinci. Ia sebisa mungkin menghindari kontak fisik dengan predator-predator itu. Bukannya ia takut melawan, namun karena ia tak ingin membuang-buang waktunya. Ia ingin segera menyelesaikan misinya dan pulang.

Namun, suka maupun tidak, Naruto tetap saja harus bertarung dengan para predator itu juga. Bulu kuduk Naruto meremang begitu ia merasuk semakin dalam memasuki hutan kematian. Tubuh kecilnya menggigil gemetar, merasakan hawa membunuh yang berasal dari balik gelapnya hutan kematian di depannya. Naruto merasa seperti ada sesuatu yang sedang mengintai dan mengincar nyawanya.

Naruto mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru hutan, waspada pada setiap gerakan, sehalus apapun. Ia tak lagi berlari, melainkan berjalan pelan-pelan. Tangannya menggenggam erat kunainya seolah itu tali penyambung nyawanya. Begitu eratnya genggamannya hingga tangannya berkeringat.

Srakkk...

Naruto menoleh cepat pada asal suara dengan jantung yang berdebar kencang. Saking kencangnya, sampai terdengar di telinga. Deg deg deg.. Dengan menguatkan mental, Naruto melangkah ekstra hati-hati, mendekati asal suara. Tangannya mengeratkan genggaman tangannya pada kunainya. Dan dengan sekali sibakan...

Srakkk...

Hah... Naruto menghembuskan nafas lega begitu tahu kalau itu adalah suara yang dihasilkan dari ranting yang jatuh pada semak-semak. Ia menghapus peluh dingin yang membasahi dahinya. Ketegangan ini membuatnya tertekan oleh sesuatu tak kasat mata yang mampu membuat otaknya blank dan beku.

Oh, sekarang ia mengerti maksud ayahnya. Ini pastilah yang disebut hawa membunuh. Naruto percaya di suatu tempat di hutan ini, ada hewan buas yang tengah mengintainya dan siap menerkamnya saat ia lengah. Namun, si predator tidak berniat menampakkan diri secara langsung. Ia ingin mempermainkan psikologis Naruto, menebarkan teror, hingga Naruto tertekan oleh pikirannya sendiri.

Rasa takut akan membuat Naruto kehilangan kerasionalannya dan ketenangannya. Ia akan dipenuh rasa curiga pada semua hal dan akhirnya bersikap berlebihan. Setelah panik menguasainya, maka Naruto sendiri yang akan membuat celah bagi si predator untuk menangkapnya dengan mudah. Oh, sebuah trik yang jitu, tapi tak makan banyak tenaga.

Tak ingin mati konyol, Naruto pun mengambil nafas panjang untuk memulihkan ketenangannya. Bersikap waspada boleh saja, namun ia harus tetap tenang. Dengan tenang, menekan rasa takutnya hingga ke titik zero. Dan dengan ketenangan pula, ia tetap fokus melacak hewan buruannya, sembari waspada pada gerakan yang memancarkan KI pekat.

Naruto kembali bergerak, melacak kelinci yang jaraknya semakin jauh. Untuk kali ini, ia melakukannya dengan tenang. Saat ia sudah melihat si kelinci dan hampir mendapatkannya, tiba-tiba saja ada gerakan mendadak yang mengincarnya. Naruto berkelit ke samping dan menggoreskan kunainya.

Sesuatu itu terpotong dua. Ternyata, itu adalah seekor ular. Naruto melihat waspada ke sekelilingnya yang kini penuh mata-mata berwarna kuning. Ia melirik singkat pada kelinci yang tadi diburunya. Tubuh si kelinci sudah masuk ke dalam mulut ular separuhnya.

"Oh," gumam Naruto.

Hanya itu yang sempat ia kuarkan, karena setelah itu makhluk dengan mata kuning muncul dari kegelapan dan menunjukkan bentuknya. Ratusan ular melata, bergerak cepat mengejar Naruto. Naruto dengan sigap melompat dan berkelit dari terkaman ular-ular berbisa yang berjatuhan dari atas seperti hujan.

Crasss...

Naruto mengayunkan kunainya membabat, melukai, dan membelah jadi dua ular-ular yang hampir mengenainya. Ia berlari cepat, meninggalkan tempat yang sepertinya sarang ular itu. Ular-ular itu tidak tinggal diam dan mengejar Naruto yang berlari menuju sisi hutan lainnya.

"Auch...sss..." Desisnya meringis, ketika ada satu atau dua ular berhasil menggigit kakinya.

Naruto mengertakkan giginya menahan rasa nyeri yang berdenyut-denyut dan berlari ke depan. Tangannya tetap terampil dan lincah mengayunkan kunainya, seolah gigitan ular itu tak memberi efek apa-apa padanya. Sambil lari, ia mempersiapkan kertas peledaknya yang semoga saja bisa menghabisi ular-ular itu atau minimal separuhnya.

Duaaarr... Duaaarr..

Suara ledakan terdengar keras, menghasilkan api yang merambat cepat dedaunan kering dan menghanguskan ular-ular yang mengejar Naruto. Namun, rupanya masih ada yang lolos. Ada satu ular berukuran sangat besar berwarna putih mengejarnya. Mungkin dia ratunya.

Naruto mulai merasakan dampak bisa ular itu. Nafasnya kini tersengal-sengal dan gerakannya melambat. Matanya mulai kabur dan menabrak batang pohon. Bukkk! Ia pun ambruk ke tanah. Dengan mata yang kabur. Ia seperti bisa merasakan gerakan si ular yang kini membuka mulutnya lebar-lebar dan menjulurkan lidahnya yang bercabang dua pada Naruto. Ia siap menelan Naruto hidup-hidup.

Naruto mengelak ke samping dan berhasil selamat. Namun, si ular tidak tinggal diam. Ia terus menyerang Naruto dengan membelitkan tubuhnya pada Naruto. Naruto kini bergumul dengan si ular. Naruto merasakan tulang-tulangnya seperti mau remuk dibelit begitu erat oleh ular putih itu, namun masih ada satu tangannya yang bebas yang bisa ia gunakan untuk menyerang balik ular putih itu.

Naruto tak sempat berfikir. Ia hanya mengikuti insting hewannya yang tak ingin mati, tangannya tiba-tiba saja sudah menancapkan kunainya pada mulut ular yang terbuka lebar. Kedua rahang ular tetap menganga, tak bisa menggigit Naruto, apalagi mengatup berkat kunai itu.

Hos hos hosh... dengan nafas yang tersisa dan demi terbebas dari belitan ular, tanpa pikir panjang, ia menggigit tubuh ular biar lepas maksudnya. Siapa sangka gigi taringnya berhasil menembus daging ular. Dan saat ia berniat melepas gigitannya, ia malah menghisap darahnya.

Naruto mati-matian menahan mual, saat rasa amis itu kini berpindah ke tubuhnya. Ia sekarang berasa nyamuk yang hobi menghisap darah manusia untuk hidup. Meski mual, namun karena ia tak bisa melepas taringnya, tetap saja tetes demi tetes, darah ular dia teguk.

Si ular putih yang mulutnya dipaku Naruto melonggarkan belitannya berniat kabur karena tak ingin mati. Ia menggelepar-gelepar dilanda panik, ketika asupan darahnya berkurang akibat disedot Naruto dengan rakus. Ini dimanfaatkan Naruto untuk membebaskan dirinya, ia menarik gigi taringnya begitu gerakan si ular sudah melemah.

Naruto menyeret tubuhnya menjauh dari tubuh ular yang tergolek di tanah. Dia tak ambil pusing apakah si ratu ular itu sudah mati atau masih hidup. Setelah agak jauh, ia meludah membuang darah ular yang berbau anyir dari mulutnya, meski sia-sia mengingat banyaknya darah yang sudah ia sedot.

Tiba-tiba, Naruto merasakan tubuhnya panas seperti saat ia berendam di air panas. Deg deg deg... jantungnya berdegup kencang tak beraturan. Ia merasakan rasa sakit yang amat sangat di sekujur tubuhnya. Naruto terduduk, memegangi kepalanya yang sakit.

Tak berapa lama, sakit itu mereda bersamaan dengan datangnya. Naruto menelengkan kepalanya ke kanan. Ia merasa bingung dengan dirinya sendiri. Tiba-tiba saja ia merasakan begitu banyak energi dan cakra di hutan kematian ini. Ada yang dari pepohonan, hewan-hewan hingga rerumputan. Naruto bahkan sampai merasakan cakra milik sang ayah yang tengah bersembunyi di dalam hutan sekitar 100 m dari tempatnya berada.

"Aneh. Ini aneh sekali. Apa yang terjadi padaku?" gumamnya bingung.

Bruuukk...! Naruto ambruk ke tanah. "Uhh..." erangnya, merasakan sesuatu yang mencoba menyerang organ vital-vitalnya. 'Mungkin bisa ular itu,' pikirnya. Namun, anehnya pula, ia juga merasakan aliran energi dalam tubuhnya yang seolah sedang bertarung melawan bisa ular dan memaksanya keluar dari mulut Naruto.

"Uhukk.." Naruto tersedak hebat.

Wajah Naruto kini kotor dan dekil penuh oleh kotoran muntahan, debu dan darah ular. Mungkin efek dari kelelahan, ketegangan, dan juga bisa ular sekaligus, Naruto merasakan pandangannya meredup sebelum akhirnya jatuh dalam kegelapan total yang nyaman.

Samar-samar ia melihat bayangan sang ayah di depannya yang bergerak panik, menggendong tubuh Naruto yang terkulai di tanah. Samar-samar pula terdengar lolongan menyayat hati keluar dari bibir sang ayah. Naruto tersenyum dalam hati. Ada rasa bangga tumbuh dalam hatinya. Sebab, ia berhasil membuat ayahnya panik dan pucat pasi seperti itu.

Dua hari lamanya Naruto terbaring di ranjang rumah sakit. Jangan tanya apa yang terjadi pada sang ayah! Dua benjolan di kepala sang ayah, cap tangan di kedua pipinya, dan sebelah tangan yang diperban, yang dilihat Naruto ketika ia sadar sudah menjelaskan semuanya. Pasti ibunya yang membuat ayahnya babak belur seperti itu.

'Rasain! Siapa suruh memberi latihan neraka padaku?' batin Naruto agak kejam.

Habisnya, ayahnya tega sih. Masak ia melempar Naruto yang belum juga genin, di tengah-tengah hutan kematian, catat tengah bukan pinggiran, tepat pada daerah yang dekat dengan sarang ular pula, hanya untuk melatihnya? Oh ya Tuhan! Memang nggak ada cara lain selain itu ya? Ayahnya beneran sudah gila.

Namun, dasar ayahnya keras kepala dan anti-mainstream, ia masih saja melanjutkan latihan gilanya itu. Amukan sang istri tak cukup kuat untuk menghentikan seorang Namikaze Minato dengan kegilaannya yang sudah diambang batas. Dan inilah yang membuat Naruto kembali berada di hutan Kematian.

"Kau sudah tahu apa yang harus kau lakukan, kan?"

"Ya," jawab Naruto malas.

"Nah, sekarang lakukan! Tunggu apa lagi?"

"Hm," gumam Naruto sambil memasuki hutan lebih dalam lagi, meninggalkan sang ayah.

Berkat kejadian tempo hari, kini Naruto bisa memetakan seluruh isi hutan kematian. Ia bisa tahu tempat-tempat yang harus dihindarinya, yakni sarang hewan-hewan buas yang tampaknya tengah beristirahat. Naruto juga tahu dimana kelinci buruannya.

Naruto mengernyit, saat ia merasakan cakra ayahnya mendekati makhluk dengan Killing Intens kuat. Makhluk itu kini bergerak menuju arahnya. Oh, sekarang Naruto mengerti. Rupanya, ayahnya yang membuat predator-predator itu bangun dan mengejar Naruto tempo hari.

"Kenapa aku bisa punya pikiran bodoh kalau ini bakal berjalan mudah?" gerutunya, marah pada diri sendiri.

Seharusnya, ia tahu kalau ayahnya tak akan membuat urusannya jadi lebih mudah begitu saja. Ayahnya pasti akan melakukan sesuatu yang sangat berbahaya untuk mengasah instingnya dan panca indera Naruto, sehingga ia bisa menjadi shinobi yang tangguh.

Bagian ininya sih Naruto ngerti. 'Tapi, tak bisakah dengan cara lain?' pikirnya sweatdrop. "Dasar!" gerutunya.

Naruto mengeratkan kunainya, bersiap pada serangan predator itu berasal. Karena lebih siap mental dan bisa membaca gerakan musuh, hasil pekerjaan Naruto kini lebih baik dari beberapa hari lalu. Ia bukan hanya berhasil menangkap hewan buruannya, ia juga berhasil membuat musuhnya lari ketakutan karena gantian ia yang diburu.

# Latihan keterampilan senjata

Naruto sudah mahir menggunakan shuriken dan kunainya, namun ia payah dalam seni kenjutsu. Karena itulah, ia meminta sang ayah mengajarinya dan dibalas dengan tatapan bodoh, seolah Naruto bilang ada tanduk tumbuh dari kepala ayahnya atau ia minta ayahnya hamil.

"Aku tak bisa kenjutsu," katanya dengan watadosnya (wajah tanpa dosa).

"Jadi, tidak bisa ya?"

"Memangnya, kenapa kau ingin belajar kenjutsu?"

"Menurutku, belajar kenjutsu bisa jadi sangat efektif untuk sebuah pertarungan. Aku ingin menjadikannya teknik keahlianku, seperti Guy jisan dengan tonketsunya, tousan dengan hiraishinnya, Uchiha dengan sharingannya, dan seperti..."

"Ayah mengerti maksudmu. Tapi, Ayah benar-benar payah dalam kenjutsu. Kau belajar saja pada orang lain!" Katanya, sambil berfikir keras. "Ah, sepertinya Ayah tahu, orang yang tepat mengajarimu Kenjutsu." Lanjutnya membuat senyum Naruto merekah.

"Siapa?"

"Dia muridku. Akan ku minta dia melatihmu. Mumpung ia tidak ada misi."

"Terima kasih, tousan."

Dengan demikian, Naruto mulai belajar ilmu pedang dari Kakashi. Ia belajar dengan sungguh-sungguh, meski sang sensei malas-malasan mengajarinya teknik pedang khas keluarga Hatake, dan bertekat jadi yang terbaik dalam seni kenjutsu. Ia berencana memasteri aliran ini, karena ia tertarik dengan seni pedang yang biasanya digeluti para samurai.

# Latihan pengendalian cakra

"Energi bisa didapat di dalam tubuh (cakra) ataupun dari luar yakni mengambil energi alam (senjutsu). Yang aku ajarkan ini senjutsu untuk memperkuat cakramu."

"Senjutsu? Apa yang seperti Jiraiya jisan, murid hokage ketiga?"

"Hampir mirip, tapi beda. Senjutsu yang dipelajari Jiraiya sensei hanya bisa dilakukan di gunung Myoboku. Itu tidak praktis, mengingat kita tak bisa leluasa bolak-balik ke sana. Karena itu, ayahnya menciptakan aliran senjutsu baru." jelas ayahnya. "Konsep yang ayah ajarkan bertumpu pada ajaran chi kung dan bisa dipelajari dimana saja dan kapan saja." Lanjut ayahnya.

Dahi Naruto mengernyit bingung. "Bagaimana caranya?"

"Caranya dengan latihan pengolahan pernafasan. Ini berguna untuk mengatur jalannya chi atau cakra yang kau punya hingga tercapai keseimbangan yin dan yang. Seperti kau tahu, Cakra atau chi pada manusia umumnya tetap, tidak bisa bertambah dan berkurang karena berasal dari energi jiwa dan..."

Naruto merengut, dan memotong ucapan ayahnya, "Jika jumlah cakra sesorang itu tetap, lalu bagaimana cakraku bertambah?"

"Dengarkan penjelasan Ayah sampai selesai! Jangan dipotong seenaknya!" kecam Minato yang dibalas gumaman maaf dari Naruto. "Untuk itulah, kita belajar senjutsu. Dengan senjutsu, kita bisa menyerap cakra alam yang melimpah ruah dan menambahkannya pada cakra kita. Dengan begitu, cakramu bisa meningkat drastis tergantung kehebatan dalam menguasai teknik ini,"

"Apa cakra yang kita serap itu bisa kita simpan dalam tubuh layaknya sebuah celengan? Dan, bisa digunakan sewaktu-waktu?" tanya Naruto antusias. "Maksudku, jika aku harus mengumpulkan Chi dulu baru bisa membuat cakraku meningkat di tengah-tengah pertarungan, itu bukannya menjadikanku rentan pada serangan musuh? Karena..."

"Ayah mengerti. Tapi tenang, Nak. Kelemahan seperti itu hanya ada pada aliran senjutsu milik Jiraiya sensei. Sedang teknik chi kung ini memungkinkanmu untuk menyimpan cakra alam yang sudah kau serap dan bisa menggunakannya sewaktu-waktu. Nah, mari kita latihan sekarang."

"Aku harus bagaimana?"

"Berdirilah di bawah air terjun. Satukan kedua tanganmu seperti ini, lalu mulailah melatih pernafasan seperti yang selama ini kau pelajari. Dengan cara itu, kau akan merasakan energi air terjun yang mengalir. Seraplah dan alirkan melalui aliran darah, lalu simpan. Semakin banyak cakra yang kau serap, maka kau akan bisa membentuk selubung seperti kaca yang akan membuatmu tidak basah."

"Ha'ik, tousan." Naruto berdiri di bawah air terjun yang mengalir deras.

'Shuuu... Haaah... Fuuuh...' Naruto mulai mengatur pernafasan, menghiraukan dinginnya air terjun yang mengalir dan menghujani kepalanya hingga pening. Terus-menerus, berulang-ulang dan rutin ia mengatur pernafasannya. Ia bisa merasakan adanya aliran energi hangat yang memasuki tubuhya melalui pori-pori dan ia simpan dalam tubuh.

Naruto mungkin tak menyadarinya karena pikirannya kini sudah menyatu dengan alam. Hawa keberadaannya hilang, tertutup oleh energi alam lainnya yang melimpah ruah. Namun Minato yang berada di luar air terjun, bisa melihat sebuah dinding transparan menutupi tubuh Naruto. Kelihatannya saja lemah, namun aslinya kuat.

Minato sudah pernah mencoba menghancurkannya, bahkan dengan jutsu Rasengan andalannya. Tapi, dinding itu tidak retak sama sekali, menunjukkan betapa kuatnya konsentrasi Naruto. Minato tersenyum bangga. Naruto melebihi espektasinya. Ia pikir untuk belajar teknik Chi kung ini, Naruto butuh waktu minimal setahun. Nyatanya dalam sehari pun latihan Naruto sudah menunjukkan hasilnya.

'Mungkin efek dari darah ratu ular putih yang dihisapnya,' pikir Minato.

Oh, oh, oh... bicara tentang Ratu-ular-putih, membuat Minato tak bisa tidak meringis. Itu adalah kejadian yang gawat sekali. Racun Ratu-ular-putih sangatlah berbisa dan serangannya sangatlah kuat, karena si ratu ular sudah lama mendiami Hutan Kematian dan konon sudah menyerap cakra Hutan Kematian puluhan tahun lamanya.

Karena itu, jangan tanya betapa paniknya Minato ketika menyadari si Ratu-ular-putih menyerang Naruto. Dan begonya dia waktu itu, kenapa ia bisa lupa untuk memasang segel Hiraishin pada anaknya, sehingga ia bisa muncul dengan kilat. Itulah akibat kalau panik, lupa segalanya.

Dan, jangan tanya betapa gusarnya Minato begitu ia mendapati Naruto sudah bersimbah darah dan ambruk di tanah. Tanah yang dipijak Minato berasa amblas ke tanah. Darah seolah meninggalkan tubuhnya dan membuatnya mati rasa. Untunglah, di tengah rasa cemasnya, ia masih bisa berfikir untuk segera membawa Naruto ke rumah sakit.

Dan seharian itu, Minato seperti layang-layang putus, resah, gelisah, dan ketakutan. Ia bahkan tak merasakan sakit ketika istrinya yang bergelar Red Habanero itu menghajarnya hingga babak belur karena sudah membuat Naruto, anaknya celaka. Minato sudah mati rasa saat itu. Semua hal tidak ada yang masuk ke otak dan panca inderanya selama tim medis belum bilang, "Naruto baik-baik saja."

Betapa leganya dia, setelah tim medis keluar dan mengatakan, "Naruto tidak apa-apa. Ia hanya kelelahan. Darah yang mengotori tubuhnya itu cipratan darah ular yang dilawannya. Dan tak ada bisa racun yang menyebar, meski ada bekas gigitan ular. Ia pingsan karena kelelahan. Sebentar lagi juga sadar." jelasnya panjang lebar.

Baru setelah itu Minato merasakan nyeri dari bengkak-memar yang diukir sang istri di tubuhnya. Minato merasa lega. Setelah itu, ia berjanji untuk memasang segel hiraishinnya pada tubuh Naruto agar hal-hal buruk seperti ini tidak terjadi lagi.

"Oh ya Hokage sama, saat pemeriksaan aku melihat adanya aliran cakra yang sangat besar di tubuh Naruto."

Deg. Jantung Minato seperti hampir berdetak, dan membatin, 'Apakah rahasiaku ketahuan?' Namun, Minato berhasil menyembunyikannya dengan senyumnya. Dengan tenang ia bertanya, "Cakra seperti apa?"

"Ini agak aneh. Cakra itu seperti tidak berasal dari tubuh Naruto sendiri. Ini seperti cakra dari luar yang diserap Naruto. Apa ia belajar senjutsu?"

"Ya, ia mempelajarinya. Aku yang mengajarinya," hanya sepenggal informasi itu yang Minato jelaskan, sisanya cukup ia simpan sendiri.

Usai tim medis pergi, Minato memeriksa Naruto sendiri. Dan, benar kata tim medis, cakra dalam tubuh Naruto meningkat drastis. Mungkin Naruto tanpa sengaja menghisap energi dari si Ratu-ular-putih yang melimpah, melalui kegiatan menghisap darah si ular. Tindakan yang sebetulnya untuk mempertahankan diri, namun justru berbuah manis. Dengan limpahan cakra dari si Ratu-ular-putih, Naruto jadi lebih mudah mempelajari teknik Chi kung yang ia kembangkan khusus untuk Naruto.

Latihan selanjutnya, Naruto menghisap cakra alam dari tempat terbuka. Naruto duduk di tanah yang terbuka lebar yang dikelilingi oleh pepohonan nan tinggi. Meski duduk diam, bukan berarti Naruto rentan terhadap serangan. Naruto masih bisa menghancurkan hujan batu yang dilakukan sang ayah berkali-kali dengan ledakan energi yang ia kuarkan saat ia dalam posisi menyerap cakra alam. System pertahanannya berfungsi dengan baik.

Setelah berlatih cukup lama, Naruto sudah bisa menggunakan teknik Chi kung ini. Aliran cakra alam yang ia serap, ia padukan dengan cakra miliknya sendiri, membuat Naruto bisa bergerak sangat cepat. Naruto bisa menghilang dalam sekejab mata seperti shunshin, dan melompat tinggi ke atas hingga ke puncak pohon paling tinggi di Konoha.

Berkat berlatih Chi kung pula, Naruto kini bisa mempelajari ninjutsu, sesuatu yang selama ini terdengar mustahil di telinganya. Ia kini bisa membuat bunshin, kawarimi, teknik henge, dan teknik-teknik dasar ninja lainnya. Kelebihannya, ia bisa menekan cakranya hingga titik nol dan meningkatkannya sesuka hatinya pula.

"Lihat batu karang ini! Coba kau hancurkan batu karang ini dengan pukulan! Alirkan Chi yang sudah kau serap pada kedua tanganmu, lalu pukulkan sekuat tenaga!" intrupsi ayahnya, menghentikan euforia Naruto.

"Hai'k, tousan."

Naruto menarik nafas, mengaturnya dan mengalirkan energinya pada otot-otot kedua tangannya. Lalu, ia memukul batu karang itu sekuat tenaga. Memang tidak roboh dalam sekali pukulan, tapi ada lubang besar di tengah karang itu. Naruto jadi tersenyum penuh semangat untuk melakukannya lagi.

Selama berhari-hari, berminggu-minggu Naruto belajar teknik Chi kung. Kini, ia sudah bisa mengontrol dan memanfaatkan Chi-nya untuk meningkatkan kecepatannya, kekuatan pukulannya, dan juga mengalirkannya pada senjatanya seperti pada shuriken, kunai, atau pun pedangnya. Bahkan dengan tambahan Chi pada pedangnya, pedang kayunya jadi luar biasa tajam dan mampu membuat pedang senseinya retak.

Selanjutnya, Naruto sering melakukan pertarungan satu lawan satu dengan ayahnya. Ayahnya menyerang Naruto tanpa ampun dan juga buas dengan nafsu membunuh, tak memperdulikan usia anaknya yang masih seorang bocah. Berkat belajar teknik Chi kung, Naruto kini bisa mengimbangi serangan ayahnya dan beberapa kali serangan Naruto masuk, mengenai tubuh ayahnya.

"Naruto, kau sudah cukup lama berlatih di bawah bimbinganku, kira-kira 1,5 tahun. Nah, kini tiba saatnya menguji kemampuanmu itu. Jika kau lolos ujian, Ayah akan mendaftarkanmu ke akademi, seperti janji Ayah dulu."

"Hai'k tousan."

"Bersiaplah!"

To Be Continue

Akhirnya kelar juga chapter ini. Ai bikinnya berhari-hari lho, dari berbagai sumber. Soal ular putih jangan samakan dengan Orochimaru. Ini beda. Ai masukkan adegan ini untuk mempersingkat latihan Naruto. Idenya dari habis nonton wuxia Legend of the condor heros. Kan ada tuh adegan kwe cheng gigit ular yang membuat tenaga dalamnya meningkat drastis. Konsepnya sama seperti Naruto.

Soal teknik Chi kung ini, di dunia nyata beneran ada. Teknik ini berasal dari China yang lebih terkenal dengan nama tai chi. Dulu, sewaktu masih SMU, Ai pernah diajarin teknik ini. Namun, Ai nggak bisa menguasainya karena Ai sulit menangkap energi alam lewat pernafasan. Tapi, teman Ai banyak yang bisa. Dengan teknik ini, mereka bisa memecahkan tumpukan batu bata, genteng, bahkan tidur di atas paku.

Ai minta sarannya nih. Apa ya tes untuk Naruto? Ai pikir tidak boleh terlalu berat karena Naruto baru berumur 7 tahun 6 bulan. Jadi Ai kasih beberapa multi choice, tolong bantu Ai memilihkannya. Kirim di kotak review. Nanti tiga terbanya piliha pada reader akan Ai masukkan sebagai bahan uji untuk Naruto. Sampai jumpa di chapter depan. Jaa mina-san!

Mengambil kunciran Itachi Uchiha

Mengambil buku icha-icha paradise milik Kakashi-sensei

Mencuri resep ramen di Ichiraku-ramen

Mengambil kunciran Hiashi

Mengambil jepit rambut Kushina

Mengambil alat penghisap rokok milik Hokage ketiga

Mencuri salah satu serangga milik Shibi Aburame

Memotong rambut Shisui Uchiha

Memotong sedikit jenggot Shikaku Nara

Mencuri rokok Asuma-sensei

Mencuri ikat kepala Chouza Akamichi

Mencuri ikat pinggang Gay-sensei.