Not Mainstream

Summary : Bagi penduduk Konoha, Minato itu shinobi yang paling hebat. Bagi Sarutobi, ninja anti mainstream. Bagi Kushina, suami terbaik. Bagi Shikamaru dan Choji, ayah yang buruk dan pilih kasih. Tapi bagi Naruto, ayahnya itu crazy. Tidak ada yang bisa menandingi Minato dalam hal ke-crazy-an, bahkan seorang Orochimaru yang sudah diakui seluruh shinobi. MinaKushi_alive

DISCLAIMER : Naruto Belongs to Masashi Kishimoto

Genre : Adventure dan Family

Rating : T

WARNING : Ide pasaran, bertebaran typo, gaje, smart_Naru, Canon dan bashing beberapa chara.

Author Note : Diperkirakan Sasuke umur 7 tahun jalan 8 tahun, ketika klannya dibantai. Karena itu, Ai buat Naruto 7 tahun.

Kenapa tidak ada scane Menma?

Karena nggak ada scane di rumah. Dan chapter kedua fokus pada latihan keras Naruto.

Kenapa tidak latihan bareng Menma?

Karena Menma sudah berlatih bersama tim geninnya. Dan Naruto butuh latihan khusus untuk mengejar ketertinggalannya.

Tolong jangan buat kekuatan Naruto melebihi Minato!

Naruto baru belajar cakra. Teknik ninja yang dikuasai masih basic seperti bunshin, kawarimi, henge. Soalnya, jutsu punya Minato seperti rasengan, hiraishin, dll belum bisa dilakukan Naruto mengingat tubuhnya yang masih anak-anak. Jika dipaksakan malah akan merusak tubuh Naruto itu sendiri. Seberapa kuat Naruto? Reader bisa menilainya dengan hasil tes Naruto nanti.

Kenapa masuk academy dan bukannya langsung dipromosikan jadi chuunin?

Minato ingin Naruto menikmati masa anak-anaknya dan tidak dibebani dengan segala konflik di dunia ninja yang keras. Biar Naruto tetap polos. Rencana awalnya, Minato baru mau melatih Naruto kalau ia sudah berumur 11-12 tahun saat ia akan ujian genin. Tapi, ada perubahan mendadak karena ups cukup sekian bocorannya.

Setting cerita ini dimulai sebelum Naruto masuk akademi Ninja. Itachi belum membantai klannya. Menma sudah lulus akademi.

Don't Like Don't Read

Chapter three

Tes dan Akademi Ninja

Hari ini, si kecil Naruto tidak sedang berlatih seperti biasanya. Ia juga tidak sedang bermain-main bersama teman-teman sebayanya. Ia tengah asyik memelototi catatan kaki yang dibuatnya sendiri. Deretan tulisan lumayan rapi yang tertera pada kertas itu terus dipandanginya hingga menghabiskan waktu berjam-jam lamanya.

Kertas itu berisi beberapa informasi penting yang didapatnya dengan susah payah. Ia memerlukannya untuk menyusun strategi demi kesuksesan misi pertama dari tou-sannya. Hokage ketiga pernah bilang, "Membuat strategi tanpa dibarengi informasi yang akurat, itu sama saja dengan bunuh diri,"

Dengan kata lain, proses mengumpulkan informasi termasuk bagian terpenting bagi keberhasilan sebuah misi. Tanpa informasi, shinobi seperti meraba-raba di tempat yang gelap dan membuatnya rentan untuk terbunuh. Karena itulah, hokage ketiga menggunakan istilah bunuh diri.

Naruto sepakat dengan pendapat Hokage ketiga. Untuk itu, Naruto mengumpulkan informasi terlebih dahulu, sebelum mengatur strategi. Ia tak mau bertindak gegabah dan akhirnya berujung pada kegagalan. Meski, ini hanya misi kecil dan lawan yang dihadapinya masih shinobi Konoha, Naruto tetap melakukannya dengan serius dan hati-hati.

"Hm, baiklah. Ini saatnya Namikaze Uzumaki Naruto yang keren ini beraksi. Bersiaplah kalian bertiga melawanku nanti. Ha ha ha..." katanya lantang, untuk menyemangati dirinya sendiri dan mengabaikan rasa takutnya, mengingat beratnya misi yang kini tengah menantinya.

Ia lebih memilih bersikap optimis —ia bisa melakukannya— daripada menghabiskan waktunya untuk mengasihani dirinya sendiri karena punya ayah yang gila dan super tega, seperti Namikaze Minato. Percuma ia pundung di pojokan atau mendemo ayahnya hingga berbusa-busa. Semua itu tak akan merubah keadaan. Percayalah! Naruto sudah sangat hafal karakter ayahnya.

Ayahnya itu punya pendirian seteguh baja. Ia tak mengenal kata penolakan, saat ia sudah memutuskan sesuatu. Istrinya yang katanya sangat dia cintai saja tak digubrisnya, apalagi cuma untuk seorang Naruto. Pret! Sampai kiamat juga nggak bakal didengerin. Persis seperti kata pepatah, 'Anjing menggonggong kafilah tetap berlalu.'

Tapi, ya sudahlah. Sudah nasib dia punya ayah kurang waras. Ambil saja sisi positifnya. Dengan melawan ketiga orang ini, Naruto akan belajar banyak hal. Jika berhasil, artinya ia sudah selangkah lebih hebat dari teman-teman sebayanya. Jika pun gagal, setidaknya ia punya kebanggaan karena pernah menantang jounin-jounin elit Konoha yang terkenal seantero negara elemental.

# Mengambil Kunciran Uchiha Itachi

Untuk permulaan, Naruto lebih memilih Uchiha Itachi. Menurutnya, melawan ketua anbu sekaligus prodigy Uchiha ini jauh lebih mudah daripada dua orang lainnya yang harus dilawannya. Bukannya ia meremehkan Itachi. Ia punya pertimbangan sendiri, setidaknya ada empat sebelum memutuskan Itachi sebagai target pertamanya.

Pertama, ia punya informasi yang cukup mengenai kekuatan dan kelemahan seorang Uchiha Itachi, dari cerita nenek Orihime. Kedua, ia sudah hafal dengan kebiasaannya. Ketiga, Itachi tidak begitu mengenalnya sehingga tidak tahu kekuatan dan kelemahan Naruto, beda dengan Kakashi yang selama ini melatihnya kenjutsu. Empat, kemampuan doujutsu sharingan dalam melihat pergerakan dan arus cakra tidak sebaik byakugan sehingga Naruto lebih mudah menipu pengguna sharingan daripada byakugan.

Naruto melakukan persiapan sebelum menjalankan misinya. Ia menunggu dibalik semak-semak sang target yang akan muncul kira-kira sebentar lagi. Ia mengatur jumlah cakranya agar tidak mencolok dan membuat Itachi curiga.

Tap tap tap...

'Itu dia, datang!' serunya dalam hati, ketika telinganya menangkap suara langkah kaki dari ujung jalan setapak.

Naruto segera bersiap-siap. Ia menarik nafas untuk menghentikan keraguan dalam hatinya, sekaligus memberinya ketenangan yang sangat dibutuhkannya saat ini. Ia mengeluarkan shurikennya dan melemparnya tepat pada Itachi yang sudah berdiri tepat di titik targetnya.

Jangan sebut Itachi prodigy Uchiha, kalau ia tidak bisa menghindari serangan lemah itu! Ia cukup berkelit ke samping untuk menghindarinya. Itachi melihat tempat dimana penyerangnya bersembunyi dan lalu menyuruhnya keluar, "Aku tahu dimana kamu bersembunyi. Keluarlah, Sasuke!"

'Ternyata benar. Uchiha memang jago melacak cakra,' batin Naruto mengakui. 'Sekarang kita lihat, bagaimana pemilik sharingan ini membedakan cakraku dengan cakra hengeku ini. Pasti menarik jika aku berhasil menipu pengguna sharingan sepertinya. Itu akan jadi modal yang berharga untuk lawan keduaku nanti,' pikir Naruto tersenyum bahagia.

Naruto yang telah melakukan henge —merubah dirinya jadi Sasuke— keluar dari semak-semak tempatnya bersembunyi. Ia tersenyum secukupnya, tidak lebar ciri khasnya selama ini, melainkan meniru senyuman ala Uchiha Sasuke. Ia juga mengatur cakranya meniru persis dengan cakra Sasuke untuk mengelabui saringan Uchiha di hadapannya ini. Satu kata 'Perfect' untuk penyamaran Naruto.

"Huh!" Naruto mendengus manja. "Nii-chan tak pernah mau melatihku lagi akhir-akhir ini, karena itu…" keluh Naruto persis seperti gaya bicara Sasuke, "..aku memilih cara ini."

"Sasuke, lain kali saja. Kakak..."

"Tidak, aku mau hari ini," potong Naruto langsung menyerang Itachi dengan melemparkan beberapa shuriken yang ia simpan di sela-sela jarinya, namun bisa dihindari Itachi dengan mudah.

Naruto berlari menyongsong Itachi, melancarkan serangan demi serangan. Pukulan, tendangan, sikutan, dan guntingan mewarnai gaya taijutsunya. Lagi-lagi masih meniru gaya Sasuke yang berhasil ia copy saat bocah itu mengajak orang se-klannya sparring.

Itachi bergerak ke kanan dan kiri, menghindari serangan Sasuke yang menggebu-gebu. Tidak ada niatan sedikit pun dirinya untuk membalas serangan sang adik. Yeah level Sasuke memang sangat jauh di bawahnya, karena itu tak perlu ditanggapi secara serius. Ia berniat bermain-main sebentar dengan Sasuke sebelum mengakhirinya.

Naruto dalam hati bersorak-sorak heboh karena taktiknya berhasil. Ia sengaja memilih Sasuke sebagai henge, karena kalau dengan adiknya, Itachi pasti menurunkan kekuatan bertarungnya. Dengan demikian, rencananya mengambil kunciran Itachi akan berjalan mulus.

SRAAATT!

Dengan sekali tebasan kunainya, Naruto berhasil memotong ujung lengan baju Itachi, membuat Itachi lengah dan memperhatikan kunai Naruto yang masih tertempeli helaian benang dari baju Itachi. Saat itulah bunshin Naruto mengambil ikat rambut Itachi, membuat rambut panjangnya terurai bebas. Senyum kemenangan tersungging di bibirnya.

Dahi pria tampan itu mengernyit dalam. Kedua alisnya menyatu dengan mata menyipit tajam pada Sasuke. Tubuh Naruto menegang, kaku dengan bulir keringat dingin menggantung di keningnya. Ia susah payah meneguk air ludahnya sendiri dan membatin ketakutan, 'Jangan-jangan ketahuan,' Saking takutnya, Naruto bahkan tak sadar sudah menahan nafas.

Ia baru bisa menghembuskan nafas lega, ketika Itachi berkata, "Untuk apa kau mengambil ikat rambut nii-chan, Sasuke?"

Naruto mengatur ekspresi wajahnya, berusaha berkata sewajar mungkin dengan sedikit improvisasi, "Sebagai tanda kemenanganku hari ini," dalam hati, ia bersorak, 'Yei, berhasil,' karena mampu bicara lancar tanpa gagap dan nada gemetar ditengah-tengah intimidasi.

Kerutan di dahi itu bukannya berkurang, tapi justru semakin dalam, membuat jantung Naruto terus berpacu cepat memompa darah ke seluruh tubuhnya. Tenggorokannya terasa kering kini. Tubuhnya pun kini dilanda panas dingin. Kakinya gemetar tak bisa diam, seolah ingin segera angkat kaki, meninggalkan orang beraura seram di depannya.

'Oh, inikah kelasnya seorang jounin paling elit se-Konoha? Betapa bodohnya orang yang mau-maunya jadi lawannya?' pikir Naruto. 'Dan orang bodoh itu aku,' tambahnya dalam hati yang hanya bisa menangis pilu karena menjadikan Itachi sebagai lawan pertamanya.

Memangnya Uchiha Itachi idiot seperti Guy-sensei yang lebih banyak menggunakan otot daripada otaknya? Itachi itu luar bisa cerdik, seperti gabungan Kakashi-Minato-Hokage-ketiga sekaligus. 'Setelah ini, habislah aku,' batin Naruto sudah merana terintimidasi oleh KI yang dikuarkan Itachi.

Kita tinggalkan Naruto dengan segala percakapan batinnya sendiri. Kita beralih pada Minato yang berdiri di samping bocah tampan yang wajahnya menyerupai ketua anbunya sedang berbaring di atas rumput. Ia bukannya tidur, melainkan pingsan karena obat tidur yang Naruto berikan sebagai persiapan misi pertamanya.

"Kau memang hebat putraku. Kau memilih lawan yang paling sulit sebagai tugas pertamamu. Ayah bangga padamu." Katanya penuh bangga. "Tapi, Nak. Ini tidak akan seru kalau hanya berakhir begini saja. Jadi, Ayah bantu biar lebih ramai." Lanjutnya dengan senyum evil, membangunkan Sasuke asli.

Sasuke terbangun. Ia mengerjabkan bulu matanya, merasa silau oleh sinar matahari yang merasuk ke matanya. Ia baru membuka mata lebar-lebar saat mendengar suara deheman orang dewasa di sampingnya. Sasuke mendongak ke atas untuk melihat pria berambut pirang dan bermata safir yang balas memandangnya.

"Kau sudah bangun, Nak? Sedang apa bocah Uchiha sepertimu tiduran di sini?" tanya Minato ramah.

Sasuke berfikir sebentar, mengingat kejadian sebelum ia tertarik dalam kegelapan. "Tadi ada yang menyerangku saat aku latihan."

Wajah ramah itu berubah prihatin, sangat ahli memainkan ekspresinya. "Oh, benarkah? Itu berbahaya sekali. Lebih baik kau pulang. Aku akan menyuruh anbu untuk menyelidikinya." Kata Minato ramah yang dibalas anggukan Sasuke. "Jangan lupa beritahu Itachi, jika kalian berpapasan!" lanjutnya sebelum Sasuke pergi jauh.

Senyuman Minato bertambah lebar begitu Sasuke pergi ke arah yang sudah dipersiapkannya, yakni arah tempat Naruto mencegat Itachi. Dengan kedatangan Sasuke asli, kedok Naruto pasti terkuak. 'Ah, ini pasti bakal bertambah seru,' pikirnya senang. Ia bisa melihat anaknya bertarung serius dengan Itachi. Sayang, ia tak bisa menontonnya secara langsung karena itu pasti akan membuat Itachi curiga.

Kita kembali lagi pada Naruto yang masih berdiri kaku dengan Itachi yang menjulang tinggi dengan aura mengintimidasi. "Kemenangan seperti apa, Sasuke?"

Naruto membasahi bibirnya yang mendadak kering sebelum menjawab, "Kemenangan jika seranganku berhasil mengenai kakak."

"Oh," gumam Itachi. "Sekarang sudah puas kan? Lebih baik kau pulang. Hari sudah sore," lanjutnya, perhatian.

"Hai'k, nii-chan," balas Naruto gembira karena berhasil selamat dari jebakan maut.

Sayangnya, sepertinya Dewi Fortuna kurang berpihak padanya. Tiba-tiba dari ujung jalan, Sasuke asli sedang berjalan agak sempoyongan. Naruto terkesiap dan membatin, 'Matilah aku,' sambil melirik takut wajah Itachi yang kini menggelap dan bersikap waspada.

Naruto tak tahu kapan Itachi membuat bunshin. Ia bahkan tak melihat Itachi membuat segel. Tiba-tiba saja, sudah ada bunshin yang membawa Sasuke pergi entah kemana. 'Mungkin ke kompleks Uchiha, memastikan adik kesayangannya itu aman,' pikir Naruto.

Setelah Sasuke tidak ada, barulah perhatian Itachi terfokus pada Naruto. Kali ini, ia menyerang Naruto dengan serius. Ia tidak lagi menurunkan kemampuannya karena menganggap Naruto berbahaya, mengingat ia bisa meniru Sasuke dengan sempurna sampai pada cakranya yang mirip sekali.

Naruto dengan gesit menghindari serangan Itachi yang datang bertubi-tubi dan tak memberinya jeda waktu untuk bernafas. Ia mengerahkan segenap kemampuannya yang telah dipelajarinya selama ini, hasil latihan keras selama 6 bulan belakangan bersama sang ayah.

Ia cukup beruntung sudah biasa dihujani serangan macam apapun dari ayahnya. Ya, ayahnya tak segan-segan menghujaninya shuriken, kunai, sampai rasengan padanya. Ia juga tak pernah luput dari pukulan, tendangan dan berbagai macam serangan taijutsu yang mematikan dari sang ayah. Karena itu, ia bisa mengimbangi Itachi, meski ia belum bisa membalas serangan Itachi.

Mata Naruto membola, ketika ia melihat Itachi membuat segel tangan. 'Ga-gawat! Ia mau membuat jutsu katon. Uuh, habislah aku sekarang.' Pikir Naruto kebingungan bagaimana caranya melawan. Di tengah-tengah kepanikannya, ia berhasil membuat selubung seperti ketika ia latihan di bawah air terjun untuk menghindari serangan mematikan Itachi.

Naruto tak sempat bernafas lega, ketika ia merasakan adanya serangan genjutsu. Itachi sudah mengaktifkan sharingan satu tomoenya. Naruto berusaha tetap tenang dan mengingat percakapannya dengan Guy sensei. Kalau tidak salah Guy sensei berhasil membuat teknik untuk mengatasi sharingan, setelah berkali-kali kalah melawan Kakashi-si-ninja-peniru.

Naruto berkelit sebelum Itachi menodongkan kunainya pada lehernya. Ia kembali terlibat adu taijutsu dengan Itachi. Ia mengikuti teknik Guy sensei, yakni lebih mengandalkan serangan lewat kakinya, untuk bisa selamat dari jebakan genjutsu sharingan.

Itachi kini serius. Ia berusaha mengukur kemampuan si penyusup, sambil melancarkan serangan. Itachi menilai, lawannya ini cukup kuat. Selain bisa meniru cakra orang lain, ia juga berhasil membaca kelemahan dari mata sharingan. Ia pasti sudah lama memata-matai klan Uchiha.

'Ini tidak bisa dibiarkan. Dia sangat berbahaya.' Batin Itachi menilai.

Ia masih menggencarkan serangannya pada Naruto, berusaha mencari celah dari lawannya. Namun, Naruto bergerak gesit. Tubuhnya dengan terampil berhasil mengatasi serangan maut Itachi. Bahkan serangan Naruto beberapa kali berhasil masuk dan mengenai Itachi. Pukulan Naruto berhasil membuat Itachi mundur, meski tidak menyentuh tubuh Itachi secara langsung.

Mata Itachi menyipit menilai. Hasratnya untuk menangkap orang misterius itu semakin besar. Ia ingin tahu identitasnya. Darimana dia berasal? Apakah dari Amegakure? Kirigakure? Sunagakure? Atau bahkan Otogakure? Ini sangat menarik. Akan jadi hal yang luar biasa, jika ia berhasil mengungkap kemampuan misterius orang ini dalam hal meniru cakra.

'Aku harus segera mengakhirinya,' batin Itachi dan bersiap memerangkap Naruto dalam genjutsu kuat.

Naruto kembali waspada. Sumpah, meski ia sering digenjutsu oleh sang ayah. Tapi, ada perbedaan yang sangat besar antara genjutsu ayahnya dengan master genjutsu dari Konoha ini. So far. Naruto dibuat keringat dingin. Naruto berlari menyerang Itachi dengan kunai. Ia tak mau menunggu diserang. Menurutnya pertahanan terbaik itu ya menyerang.

Sayangnya, ia terlambat. Itchi berhasil memerangkapnya dalam genjutsu. Naruto berdiri kaku, matanya membola ketika ia merasa berada di alam yang berbeda dari sebelumnya. Tanah yang dipijaknya berubah jadi gersang dan dia entah bagaimana sudah terikat pada tiang. Langit senja yang menggantung di atas sana juga terlihat berbeda dengan senja yang tadi dilihatnya.

Tap tap tap...

Naruto mendengar suara langkah kaki mendekat. Ia berhasil melihat Itachi sedang menghunuskan pedangnya. Naruto bergerak liar, berharap kedua tangan dan kakinya lepas dari ikatan pada tiang. Tapi, belum juga lepas, Itachi sudah berada tepat di depannya. Itachi sepertinya hendak mengatakan sesuatu, namun Naruto tak mendengarnya karena ia sudah menghilang.

"Cih, hanya bunshin," geram Itachi.

Ternyata sosok yang dilawannya selama ini hanyalah bunshin. Ia berhasil mengecoh Itachi. Meski demikian, ia tak menon-aktifkan saringannya. Ia berlari menjelajahi tempat ini dengan aura angker. Ia tak bisa membiarkan orang berbahaya itu lolos dan berkeliaran seenaknya. Itu bisa membahayakan klannya dan juga Konoha.

Sebuah tepukan di bahu dan nyaris membuat Itachi menyarangkan tinjuan padanya yang untungnya berhasil ditepis orang tersebut. Karena, orang yang menepuk bahunya tidak lain adalah Shishui, sahabat baiknya sendiri.

"Ada apa, Chi? Kenapa kau berkeliaran dengan aura horor seperti itu?"

"Ada penyusup. Dia menyamar menjadi Sasuke. Kita harus menangkapnya."

Mata Shisui ikut menyipit. Orang yang berhasil memperdaya Itachi, pastilah bukan orang sembarangan. "Kita harus melaporkannya pada..." Matanya terperanjat melihat Fugaku yang biasanya jam segini masih di kantor kepolisian Konoha tampak datang tergopoh-gopoh diiringi Uchiha lainnya.

"Mana penyusup itu?" tanya Fugaku begitu ia tiba.

"Maaf, tousan. Ia berhasil lolos dariku. Darimana tousan tahu kabar ini? Apa Sasuke yang bilang?"

"Bukan. Tapi, dari Shinichi. Ia bilang, ada cakra mencurigakan yang beberapa hari ini menyatroni kompleks Uchiha."

Itachi dan Shisui saling pandang. Mereka lalu mengangguk seolah bisa menerjemahkan arti tatapan lawannya. "Sebaiknya, kita perketat keamanan kompleks. Situasi saat ini sangatlah genting," kata Fugaku memberi perintah pada dua Uchiha andalannya.

Di lain tempat, Naruto mengelus dadanya dan bergumam, "Selamat..selamat..." Ia tak henti-hentinya mengucapkan puji syukur pada Kami sama karena berhasil menyelamatkan diri dari Itachi-si-master-genjutsu. Naruto cukup beruntung berhasil membuat bunshin dan segera menghilang begitu Itachi mengeluarkan jutsu katonnya.

Naruto menggenggam ikat rambut Itachi. Ia meneguk air ludahnya kasar sebelum menghela nafas panjang. Untuk tugas pertamanya saja sudah sesulit ini, bagaimana dengan yang kedua dan ketiga? Ia harus ekstra hati-hati lagi agar kejadian seperti dengan Itachi tidak terulang kembali.

# Mengambil kunciran Hyuga Hiashi

Untuk tugas yang kedua, Naruto tidak akan menggunakan cara yang sama seperti saat ia melawan Itachi. Percuma, tidak akan berhasil. Klan Hyuga berbeda dengan klan Uchiha. Hyuga sangat ketat dalam menjaga generasi muda. Berbeda dengan Uchiha yang membiarkan Uchiha muda berkeliaran seorang diri selama masih di kawasan Konoha. Karena itu, anaknya Hiashi yang bernama Hinata dan Hanabi pasti dikawal sangat ketat oleh para Hyuga. Jadi, tak mungkin ia menggunakan Hinata sebagai samaran.

Kalau ia memaksakan diri, maka yang akan terjadi ia bakal dikejar oleh lebih dari satu peleton pasukan dengan mata byakugan aktif semua, sebelum berhasil bertemu dengan Hiashi sama. Itu sih sama saja dengan tindakan bunuh diri.

Jadi, alternatif lainnya, ia harus menggunakan chara lain. Chara dengan karakter kuat yang cukup pantas untuk menantang seorang Hyuga Hiashi yang terkenal dengan aura kebangsawanannya, tanpa harus repot-repot melawan para Hyuga yang lain. Untuk itu ia harus menyamar menjadi orang dewasa yang cukup terpandang kira-kira di mata seorang pemimpin klan Hyuga.

Pilihan Naruto jatuh pada seorang samurai perantauan bernama Tenno yang berasal dari desa terpencil dekat Kirigakure. Ia berkunjung ke Konoha dengan alasan untuk melatih ilmu pedangnya. Naruto beberapa kali melihatnya bertarung dengan Hayate, salah satu shinobi penganut aliran kenjutsu. Jadi, Naruto cukup hafal dengan teknik bertarungnya.

Pagi-pagi sekali, Naruto datang sebagai Tenno di depan kediaman Hyuuga, tepat saat Hyuga Hiashi menemui Hokage ketiga, Shikaku Nara, dan Hokage keempat berkunjung ke rumahnya. Naruto sengaja memilih waktu itu untuk memaksa Hiashi melayani tantangannya.

"Mana yang namanya Hyuga Hiashi, yang katanya ahli taijutsu itu?" tanya Naruto dengan gaya selengekannya, meniru gayanya si Tenno.

"Siapa kau? Beraninya bersikap tidak sopan di depan Hiashi-sama!" bentak salah satu anggota klan Hyuuga.

"Cuih," Naruto meludah kasar, memainkan batang padi yang digigitinya sejak tadi. "Aku tidak punya urusan dengan cecunguk sepertimu. Aku hanya mau berurusan dengan Hyuuga Hiashi. Mana yang namanya Hiashi? Panggil dia keluar!" katanya sambil mencengkram kerah kimono pria itu dan mengangkatnya ke udara dengan bantuan cakra dan melemparnya ke tanah.

Para Hyuga yang lain yang tak terima salah satu dari mereka diperlakukan tidak senonoh bergerak maju. Mereka ingin membela kehormatan mereka yang tercoreng di depan para tamu penting, akibat ulah samurai tak tahu diri itu. Naruto mengedikkan bahunya arogan tidak ambil pusing dengan kemarahan mereka. Toh, memang itu tujuannya, kan?

Untuk menghindari bentrokan tak perlu, Hiashi mengambil alih. "Aku yang bernama Hiashi. Ada urusan apa kau ingin bertemu denganku?" tanyanya dengan aura penuh wibawa yang mau tak mau harus diakui oleh Naruto.

Dengan kepala mendongak angkuh dan mata yang melecehkan, ia berkata, "Aku menantangmu bertarung. Apa kau bersedia menerima tantanganku, Hyuga-sama?"

Hiashi bersikap tenang tak terpengaruh sikap provokatif si ronin samurai itu. Ia memang sudah mendengar sepak terjang si samurai perantauan bernama Tenno ini. Menurut kabar yang ia dengar, Tenno terkenal kurang ajar dan sangat senang menantang shinobi-shinobi hebat khususnya yang ahli kenjutsu dan taijutsu.

"Baiklah. Aku terima tantanganmu. Mari kita masuk ke dalam."

Naruto mengikuti Hiashi, para tamunya dan Hyuga lainnya ke dalam kediamannya. Mereka menuju arah samping rumah, tempat para Hyuga selama ini berlatih jutsu khas klan ini yakni jyuuken, kaiten, dan juga sekaligus melatih byakugan mereka.

Mereka saling memberi hormat layaknya dua orang petarung sebelum memulai pertarungan. Naruto menyiapkan kuda-kuda dan pedangnya, hasil pinjam punya Kakashi-sensei. Dia mana punya sendiri. Sedangkan, Hiashi menyiapkan kuda-kuda khas klan Hyuga.

Hiaaatt!

Naruto melesat ke depan dengan ayunan pedangnya mengarah pada perut Hiashi yang bisa ditangkal Hiashi dengan kunainya. Sringg... Suara dua buah logam saling beradu. Kedua logam beda ukuran itu terus beradu hingga terdengar suara, 'Trangg..tranggg..trangg..' Sambil mengadu kedua senjata mereka, Hiashi dan Naruto sama-sama melancarkan tendangan pada lawan. Serangan demi serangan silih berganti. Keduanya saling menyerang dengan harapan pihaknya lah yang jadi pemenangnya untuk mempertaruhkan nama baik masing-masing.

Hup!

Hiashi melompati kepala Naruto, ketika Naruto mengayunkan pedangnya ke depan, mengarah pada perutnya. Naruto segera maju melayangkan tendangan ketika Hiashi masih di udara membuat pemimpin klan Hyuga ini jatuh terguling. Namun, ia berhasil membalas serangan Naruto hingga Naruto pun ikut berguling sepertinya.

Mereka kembali beradu tendangan dan pukulan diselingi dengan ayunan pedang dan kunai mereka. Gerakan pedang Naruto cepat mengimbangi kekuatan seorang Hiashi yang sudah veteran. Naruto sama sekali tak memberi celah bagi lawannya untuk menyarangkan serangannya padanya.

Dari tempatnya duduk, Minato menatap Naruto bangga. Putranya yang satu ini benar-benar hebat. Di usianya yang masih sangat belia, ia berhasil membuat Hiashi lumayan terdesak dengan serangan cepat, bertubi-tubi, tapi terukur dari putranya. Ia berhasil memojokkan Hiashi sedemikian rupa. Tak sia-sia usaha Minato selama ini melatih Naruto. Kerja kerasnya berbuah manis.

Senyum Minato mengembang lebar. Selain berhasil memojokkan Hiashi, Naruto juga hebat dalam menyamar. Ia berhasil mengelabui byakugan, doujutsu yang terkenal sangat ahli melacak cakra seseorang dalam radius tertentu, setelah sebelumnya berhasil mengecoh sharingan. Henge Naruto persis seperti aslinya berikut warna dan aliran cakranya. Wajar, jika baik Itachi maupun Hiashi terkecoh. Jika dikembangkan, Naruto bisa jadi mata-mata yang sangat handal.

Srattt..!

Terlalu banyak berfikir membuat Minato melupakan pertarungan antara Naruto versus Hyuga. Naruto mulai kelihatan kepayahan. Gerakannya jadi lebih lamban dan sering membuat kesalahan, sehingga beberapa pukulan dan totokan Hiashi berhasil mengenai tubuh Naruto secara telak. Yeah, pengalaman memang tidak bisa bohong, sudah pasti memberi jarak diantara keduanya.

Tapi, Naruto tidak cemas. Karena, ia sudah berhasil mengambil targetnya. Di balik kimononya, sudah tersimpan potongan rambut plus kunciran Hiashi. Targetnya memang bukan untuk mengalahkan, karena itulah ia mengerahkan seluruh tenaganya, tidak setengah-setengah untuk menyerang demi mendapat kesempatan menebas rambut Hiashi yang panjang itu.

Tap tap tap..

Telinganya yang sensitif berhasil menangkap langkah kaki nan halus, melompat-lompat diantara genting-genting rumah penduduk menuju tempat pertarungannya. 'Pasti itu anbu yang mau memberi laporan pada tousan,' pikirnya. Dalam hati ia mendesah. Rupanya aksinya sudah ketahuan. Berarti, ini saatnya ia mengakhiri permainan ini.

Naruto mulai membuat ancang-ancang untuk mengeluarkan jutsu aliran pedang yang ia kembangkan sendiri dan belum sempat ia beri nama. Ujung pedangnya ia arahkan ke bawah. Naruto mengeluarkan cakra yang selama ini ia simpan untuk membebaskan totokan Hiashi. Lalu, cakra itu ia alirkan pada pedangnya.

Naruto melesat ke depan dengan kekuatan penuh menyerang Hiashi. Naruto meninggalkan kepulan debu pada tempat yang dilaluinya. Lalu, ia melompat ke atas dan menyerang Hiashi bagian kepalanya yang lagi-lagi berhasil ditahan dengan kunai oleh Hiashi.

Naruto melompat mundur ke belakang dan meledakkan energi alamnya hingga membuat bebatuan dan tanah di sekitarnya terangkat ke atas. Naruto memutar pedangnya dan membuat gerakan mengikuti aliran angin untuk membuat tornado kecil, tapi cukup untuk menghalangi pandangan semua orang yang melihat.

Setelah itu, Naruto lenyap dari pandangan, bersamaan dengan kedatangan anbu yang memberi laporan pada Minato. Minato mungkin seorang aktor kawakan. Ia berhasil membuat gerakan terkejut, cemas, dan gusar secara bersamaan dengan apik, ketika mendengar berita yang dibawa anbu bawahannya.

"Celaka!" seru Minato melompat dari tempat duduknya. Ia berdiri dengan raut gusar. Tak ada cengiran main-main di wajahnya. "Cepat cari samurai itu! Dia penyusup." Serunya memberi perintah yang membuat dengungan dari kalangan Hyuga.

"Maksud hokage sama?" tanya Hiashi berusaha tetap tenang dan anggun, meski rambutnya sudah awut-awutan karena kuncirannya dicuri Naruto.

"Dia penyusup yang menyamar jadi Tenno. Ada anbu yang menemukan Tenno terkapar di pinggiran hutan."

"Bagaimana mungkin? Cakranya dan teknik berpedangnya persis dengan Tenno."

"Aku juga kurang tahu. Tapi, ku dengar beberapa hari yang lalu, Itachi juga diserang oleh orang misterius yang meniru gaya dan cakra adiknya. Kalau adiknya tidak kebetulan lewat, Itachi juga tak tahu kalau ia seorang penyusup."

Para Hyuga tersentak dengan mata membola tak percaya. Mereka tertunduk malu. Pasalnya mereka yang mengaku sebagai ninja ahli mendeteksi, tapi hari ini berhasil dipecundangi di depan orang-orang penting Konoha pula. Tak hanya itu, sampai orang itu menghilang pun mereka masih tak menyadari keberadaan si penyusup. Kalau tidak ada laporan dari anbu, mungkin selamanya mereka tidak akan tahu.

Di lain pihak, Naruto sedang bersiul senang di tempat tidurnya. Ia berhasil menyelesaikan dua dari tiga tugas sulit dari ayahnya. Dua benda milik shinobi paling elit dari dua klan berbeda dengan keahlian yang berbeda pula sudah ada dalam genggaman tangannya. Tinggal satu lagi.

Naruto sama sekali tidak tahu, kalau aksinya menantang dua klan ternama Konoha yakni Uchiha dan Hyuga telah menimbulkan kehebohan di kalangan petinggi Konoha. Para pemimpin klan khususnya Hyuga dan Uchiha memperketat penjagaan agar tidak sampai kecolongan, mengingat lawan mereka bisa meniru cakra orang yang jadi hengenya.

Anbu ne, anbu dibawah pimpinan Danzo tidak kalah hebohnya. Kehebatan si penyusup dalam menyamar dan mampu menembus keamanan Uchiha yang konon terkenal sangat ketat, membuat mereka panas dingin. Mereka cukup beruntung kalau si penyusup adalah missing nin, tapi buntung jika ia shinobi dari desa lain yang ingin memata-matai Konoha. Itu bisa jadi alamat perang dunia.

Di tengah kehebohan dan kecemasan para petinggi Konoha, hanya satu orang yang masih bisa cengar-cengir dan menanggapinya santai. Orang itu tidak lain dan tidak bukan hokage mereka. Untungnya, hanya satu orang yang tahu sikap santai Yondaime ini, yakni Sandaime-sama. Jadi, Minato tidak perlu cemas bakal didemo massa yang sedang dilanda histeria.

Sebenarnya sih, Hiruzen juga ingin protes dan berharap tindakan tegas Yondaime. Istilah kasarnya begini. 'Oh, lakukanlah sesuatu, apapun itu selain cengar-cengir,' Namun, ia juga paham dibalik sikap santai Minato, ia pasti sudah melakukan sesuatu. Atau justru ia sudah tahu? Hanya Kami-sama, orang misterius itu, dan Minato yang tahu.

# Mengambil buku Icha-Icha Paradise milik Kakashi

Tidak seperti dua tugas sebelumnya, kali ini Naruto resah. Ia tidak bisa tenang dan merancang strategi dengan kepala dingin. Ia akui inilah tugasnya yang paling sulit dan tidak ingin dilakukannya kalau ia bisa meminta, mengingat senseinya itu sudah tahu seluk-beluk, kelebihan dan kekurangan Naruto.

'Kali ini habislah aku. Aku tak mungkin bisa melakukan tugas ketiga ini.' pikirnya resah.

Naruto mondar-mandir, gelisah seharian. Pikirannya penuh dengan tugas ketiganya. Namun, meski sudah seharian berfikir ia masih juga belum menemukan caranya. Naruto seperti menemukan dinding nan tinggi yang sulit ditembus. Pikirannya sudah mentok, buntu, tak ada jalan keluar.

Kakashi yang Naruto kenal termasuk ahli genjutsu juga seperti Itachi, meski levelnya masih dibawah Itachi. Dalam hal taijutsu juga, Naruto tidak yakin. Selama ini, Naruto tercatat belum pernah bisa mengalahkan Kakashi baik dalam seni pedang, maupun taijutsu. Padahal, itulah andalan Naruto selama ini.

Selain itu, Kakashi juga menguasai banyak ninjutsu hasil mengcopy jutsu lawan-lawannya selama ini, sebaliknya Naruto tak menguasai satu pun ninjutsu selain yang basic seperti kawarimi, henge, dan bunshin. Dan, itu sama sekali tidak membantu sama sekali.

Atau bisa? Mata Naruto berbinar-binar. Ia akhirnya berhasil menemukan jalan untuk menunaikan misi ketiganya. Jika dengan cara fair seperti tugas pertama dan kedua, ia pasti kalah. Karena itu, kali ini Naruto akan beradu kecerdikan dengan sang sensei. Ia harus lebih lihai dari senseinya untuk merebut benda kesayangan sang sensei.

"Hmm," gumamnya senang.

Otaknya kini berganti dengan berbagai macam cara untuk mengelabuhi Kakashi tanpa harus berhadapan muka dengannya. Ia akan melakukan rencana ini dua hari lagi, mengingat itu adalah hari libur Kakashi. Dengan kata lain, ia akan melepas topengnya dan berjalan-jalan di jalanan Konoha seperti warga biasa. Itulah kesempatan emas yang harus dimainkan Naruto sebaik-baiknya.

...*****...

Seperti biasanya, Kakashi menghabiskan waktu santainya dengan jalan-jalan keliling Konoha sebelum mampir ke kedai Ichiraku untuk menyantap semangkuk ramen yang lezat. Ia bersiul-siul santai dan menyapa beberapa penduduk dengan ramah. Biasanya mereka membalas ramah pula, tapi kali ini mereka membalas Kakashi dengan tatapan membunuh.

Awalnya Kakashi mengabaikannya. Tapi, lama-kelamaan ia jadi kepikiran juga. Orang-orang yang dilewatinya selalu memandang Kakashi dengan tatapan aneh, penuh perhitungan bagi laki-laki dan merona bagi kaum perempuan. Oh ada juga yang mendelik galak padanya.

'Ada apa ini? Kenapa sikap mereka aneh begitu?' pikirnya bingung.

Ia baru bisa menerka kira-kira apa masalahnya, ketika ia mendengar kasak-kusuk dari beberapa orang yang dilewatinya. "Hati-hati dengannya nanti kamu diintip," Awas! Dia itu orang mesum," atau ucapan, "Hati-hati nanti celana dalammu dicuri olehnya,"

Kakashi cengok mendengarnya. Oke, harus ia akui ia ini mesum. Buktinya, ia punya koleksi novel mesum karangan Jiraiya hingga beberapa edisi. Semua tersimpan rapi di lemari rumahnya. Ia akui pula ia senang menilai ukuran dada para kunoichi yang demen memakai baju yang memperlihatkan lekuk tubuhnya. Tapi, ia tidak punya hobi ngintip apalagi mencuri celana dalam.

'Idih, najis. Seperti orang tidak laku saja. J ika mau, aku bisa dapat 10 gandengan sekaligus dalam satu waktu.' Batin Kakashi merasa terhina. Secara, ia termasuk salah satu shinobi paling ganteng se-Konoha. Masak, ia dituduh ngintip untuk memuaskan penyakit mesumnya. Itu sih pelecehan namanya.

Dan, saat Kakashi mencoba bersikap acuh sembari mempercepat langkahnya, tiba-tiba dari arah belakang ada seorang wanita nan cantik dengan tubuh seksi menabrak Kakashi. Keduanya langsung jatuh seketika dengan tubuh Kakashi di atas dan si wanita di bawah.

Kakashi yang pertama menyadari posisinya yang agak ganjil. Ia segera berdiri dan mengulurkan tangannya pada si wanita itu dengan niat menolongnya, namun si wanita itu justru salah paham. Ia bukannya menghargai kebaikan Kakashi, tapi malah menjerit histeris, "Tolonggg! Tolong aku. Ada orang mesum. Ia mau memelorotkan celana dalamku, hik hik hiks.." sambil terisak-isak.

"Bohong! Jangan bicara sembarangan! Mana mungkin aku melakukan hal rendahan seperti itu." Tukas Kakashi dengan mata melotot tak percaya. Najis amat dirinya sampai dituduh melakukan pelecehan di tempat umum saat sedang ramai-ramainya orang. Memangnya, ia sekesepian itukah hingga berniat alih profesi menjadi seorang PK (Penjahat Kelamin).

"Siapa yang bicara sembarangan? Aku punya buktinya. Kau pasti berniat melakukan itu mengikuti bacaan mesum yang sedang kau bawa itu, kan?" tuduh wanita cantik itu sambil terisak-isak disaksikan banyak orang.

"Nona kau salah paham. Aku tidak ada niat untuk ukh maksudku..aku..." Kakashi kehabisan kata-kata. Ia menelan kembali apapun yang hendak dikatakannya tadi. Ia meneguk ludahnya kasar, menghilangkan sumbatan pada tenggorokannya. "Ak-aku bisa jelaskan ini," ujarnya pada kawanan penduduk yang menghampirinya dengan aura angker.

Dan tanpa mendengar pembelaan dari Kakashi, para penduduk desa yang tadi berkerumun menonton Kakashi berdebat, kini menyerang Kakashi tanpa ampun. Mereka melayangkan pukulan, tendangan, dan bogem ke wajah tampan Kakashi yang tertutup oleh masker. Dan, setelah itu yang terdengar hanya teriakan nista dari si-ninja-peniru yang legendaris dari Konoha. Malang betul nasib putra tunggal Sakumo Hatake ini.

Tak jauh dari tempat itu, wanita cantik yang tadi menabrak Kakashi tersenyum misterius. Di tangannya kini sudah ada novel Icha-Icha Paradise kesayangan Kakashi. Tadi, sebelum Kakashi dihajar masal, ia berhasil mencurinya secara diam-diam dan lalu menukarnya dengan buku lain yang sampulnya mirip dengan aslinya. Wanita cantik itu lalu berubah menjadi Naruto.

Puas dengan buku di tangannya, Naruto langsung melesat pergi ke kantor hokage. Ia berniat menyerahkan tiga benda yang jadi syarat bagi Naruto untuk masuk akademi ninja. Kebetulan sang ayah sedang sendiri, jadi Naruto lebih leluasa memberikannya.

"Selamat Naru-chan! Kau berhasil." Puji ayahnya sambil mengusap puncak kepala Naruto. "Besok, ayah akan mendaftarkanmu ke akademi sesuai dengan janji ayah." Lanjutnya membuat senyum cerah di wajah Naruto.

Meski tubuh Naruto lelah, karena baru saja menjalani tes yang sangat sulit dari ayahnya, Naruto tetap bisa berlari-lari kecil, meluapkan kegembiraannya. Ia lari-lari kecil mengitari meja kerja sang ayah, sebelum akhirnya ayahnya menyuruhnya pulang ke rumah.

...*****...

Meski, sudah lulus tes, Naruto tetap rajin latihan. Ayahnya semakin keras melatih Naruto agar ia bisa lebih baik lagi. Khususnya dalam hal fisik agar Naruto tidak terengah-engah kehabisan nafas di tengah-tengah pertarungan. Ayahnya terus menerus menguras tenaga Naruto hingga Naruto ambruk ke atas tanah. Baru setelah itu latihan mereka disudahi.

Naruto susah payah bangun dari posisinya tengkurap. Ia memaksakan dirinya menyeret kakinya yang gemetar karena kelelahan. Ayahnya tampak berjalan menghampiri Naruto. Naruto pikir, ayahnya berniat membantunya berdiri lalu memapahnya, eh tak tahunya ia pergi dengan shunshin.

Naruto menghembuskan nafas panjang. Ia melihat tempat ayahnya berdiri tadi dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada rasa kecewa terguris di safirnya. "Bodoh! Bodohnya aku pakai mengharapkan segala." Gumam Naruto lirih, memaki dirinya sendiri yang sempat-sempatnya berharap sang ayah akan memapahnya.

Selama ini, ayahnya tak pernah mau tahu bagaimana caranya dia pulang ke rumah setelah latihan begitu keras. Selalu saja Naruto pulang sendiri ke rumah dengan tubuh terhuyung-huyung dan tenaga yang sudah terkuras habis, sedang ayahnya menghilang entah kemana, well pengecualian untuk kasus di hutan kematian dulu atau saat di sungai usai Naruto kena genjutsu ayahnya.

Hanya dua kali itu saja Naruto tercatat pernah menghabiskan waktunya dengan penuh kehangatan, tangannya digandeng, atau dipeluk, layaknya seorang ayah dan anak. Pujian, 'Kau hebat Naruto. Kau memang anak ayah,' itu pun jarang sekali. Naruto bisa menghitungnya hanya dengan jari-jari pada sebelah tangannya. Beda sekali dengan Menma.

Kalau Menma mah, ia bertaburan pujian. Apapun yang Menma lakukan, di mata ayahnya selalu dipandang hebat. Ayahnya pasti bertepuk tangan dengan hebohnya, memujinya setinggi langit, dan mengelus rambutnya. Padahal, itu kan hanya masalah sepele. Naruto biasa melakukan itu dan ia tak pernah dipuji sekalipun. Ayahnya sungguh tak adil.

Naruto menggeleng-gelengkan kepalanya, mengusir pikiran negatif yang menyusup dalam hatinya. Ia tak boleh sedih lagi. Sudah bukan waktunya lagi untuk merisaukan perihal sikap pilih kasih sang ayah. Toh, ayahnya sudah bersikap lumayan baik, mau melatihnya, mengajaknya bicara, dan terkadang memintanya bercerita jika mereka di rumah berdua saja. Itu saja Naruto sudah bersyukur.

Naruto baru saja mau pergi, ketika ada sebuah suara yang menyapanya, "Oh kau Naruto? Ku pikir siapa. Sedang apa kau di sini?" kata bibi tua, salah satu anggota klan Inuzuka yang cerewetnya seperti petasan.

"Ak-aku..." Naruto tak bisa melanjutkan perkataannya karena sudah dipotong si nyonya.

"Apa yang sedang kau lakukan bersama Yondaime di sini? Berlatih?" tanyanya lagi.

"Aku dan ayah sedang..." lagi-lagi ucapannya terpotong.

"Oh, itu dia, ayahmu!" pekiknya dengan nada riang yang ditelinga Naruto terdengar berlebihan, sok manis. "Dia sedang bersama Menma. Hah, bodohnya aku mengira Yondaime melatihmu. Ia pasti sudah menyerah untuk melatihmu, karena kau itu anak yang payah. Mana mungkin bisa jadi bla..bla..bla..." Ocehnya yang malas didengarkan Naruto.

'Tch, menyebalkan. Kapan burung beo ini berhenti bicara?' rutuk Naruto dalam hati, jengkel.

Meski jengkel luar biasa dan jengah mendengar ocehannya, Naruto tak beranjak pergi. Ia menunggu si bibi selesai mengabsen setiap anggota klannya dan memuji mereka setinggi langit. Kan, tidak sopan jika ia pergi begitu saja. Setelah ia selesai melakukannya baru Naruto pamitan pulang.

Naruto sampai di rumah, ketika jam masuk sekolah tinggal 30 menit, tersita oleh kegiatan mendengarkan ocehan si bibi tua. Ia membuka pintu rumah dan memberi salam, "Tadaima!" sesuai kebiasaan. Dan seperti biasanya pula, keadaan rumahnya sunyi senyap, tak ada sahutan. Padahal, Naruto tahu keluarganya ada di rumah lengkap, tapi membalas salamnya pun mereka enggan. Tch, dasar payah.

Tak ingin larut dengan pikiran negatifnya, Naruto bergegas naik ke atas dan masuk ke dalam kamar mandi sambil menenteng handuk dan baju bersih untuk sekolah nanti. Sejuknya air menyentuh kulitnya, memberi kesegaran pada tubuhnya yang tadi kelelahan karena latihan dan sekaligus melarutkan pikiran negatif yang bercokol pada benaknya. Naruto menyabuni sekujur tubuhnya, menggosok-gosoknya lembut untuk menghilangkan bau keringat dan kotoran-kotoran yang menempel di tubuhnya. Naruto merasa segar dan fit kembali usai mandi.

Naruto keluar dari kamar mandi sudah mengenakan pakaiannya lengkap. Ia memilih jump suit warna oranye sebagai seragam ninjanya seperti yang disarankan Maito Guy. Kata Guy sensei, "Kalau kau ingin popular, dikenal banyak orang, kau harus punya penampilan yang unik. Seperti aku ini," Naruto pikir guru Guy ada benarnya. Agar ia mudah dikenali, seragam kebesaran ninjanya haruslah unik, anti mainstream dan mencolok.

Pilihannya lalu jatuh pada warna oranye menyala. Pertama karena warna ini tidak ada yang menyamainya. Naruto satu-satunya pemakainya di Konoha atau bahkan di seluruh duniaa. Kedua, yach itu karena ia sudah jatuh cinta pada warna ini pada pandangan pertama, ketika untuk pertama kalinya ibunya mengajaknya belanja bersama ke pasar. Awalnya sih, ibunya protes tak setuju, ketika Naruto minta dibelikan baju itu. Ibunya bahkan sampai mogok, ngotot tak mau membelikannya.

Menurut ibunya, warna bajunya terlalu ngejreng, model bajunya norak, tidak modis, dan mampu menenggelamkan ketampanan Naruto yang memang sudah pada garis kemiskinan, baca wajah Naruto pas-pasan mendekati jelek. Soalnya, masih kata ibunya, ayahnya enggan menurunkan ketampanannya pada sang anak. Jadilah, rupa anaknya jelek begini.

Ucapan yang sungguh nyelekit. Masak anak sendiri diejek jelek? Umumnya kan, seorang ibu akan tetap bilang anaknya tampan, meski faktanya memang jelek. Ia akan tetap bilang hidungnya mancung, walau kenyataannya pesek, dan sebagai - dan sebagainya. Tapi, mungkin ibunya memang beda, lain dari ibu-ibu yang lainnya. Karena itu, beliau tidak segan-segan bilang Naruto jelek.

Mungkin ibunya jarang atau tak pernah berkaca di depan cermin. Coba beliau mau berkaca sebentar? Pasti ibunya bakal menyadari ini. Kalau faktanya, wajah Naruto itu duplikat dari ibunya. So, kalau ia men-cap Naruto jelek, berarti ia menjuluki dirinya sendiri juga jelek.

Tentu saja semua itu cuman diucapkan Naruto dalam hati. Ia masih sayang nyawanya. Soalnya, ibunya itu bisa jadi sangat mengerikan saat sedang marah. Tubuh Naruto menggigil ketakutan mengingat kala ibunya mengamuk dulu. Naruto sempat trauma dan berjanji dalam hati, tidak akan pernah membuat ibunya marah lagi. Cukup sekali saja. Ia kapok.

Oke, kita kembali ke masalah seragam Naruto. Meski ibunya ngotot dan keras kepala, Naruto juga tak kalah ngotot dan keras kepalanya. Bukan Naruto namanya, jika ia mau mengalah begitu saja. Ia tetap menginginkan baju warna oranye menyala itu sebagai seragam ninjanya.

Naruto sampai nekat mau memecah celengan kodoknya, karena ibunya mogok tidak mau membelikannya baju itu. Untung, ketahuan ibunya. Jadi celengan kodoknya selamat dari hantaman martil yang akan membuatnya pecah berderai, mengeluarkan seluruh koin isi tabungannya.

"Kenapa sih kau ingin baju itu?" tanya ibunya gemas begitu berhasil mengamankan celengan Naruto.

"Karena aku suka."

"Tapi, kenapa harus oranye? Oranye itu silau, bikin mata sakit."

"Justru itu bagus. Jadi, aku bakal terlihat mencolok di tengah keramaian. Teman setimku nanti bisa dengan mudah menemukanku."

"Dan musuhmu juga." tukas ibunya tak habis pikir. "Warna oranye yang kau pilih seolah meneriakkan, 'Ayo, tangkap aku!' pada musuhmu. Kau bisa jadi sasaran empuk mereka." Bujuk ibunya.

"Tidak perduli. Pokoknya aku mau jump suit oranye itu. Kalau kaasan tak mau membelikannya, aku akan mengambil tabunganku. Kalau kaasan menyembunyikan tabunganku, aku akan pinjam pada Hokage ketiga atau Shika, atau bahkan nenek Orihime." Balas Naruto ngotot.

"Kau itu benar-benar keras kepala," rutuk ibunya,

"Persis seperti kaasan." Balas Naruto.

Mungkin seharusnya Naruto mengalah, karena itu kali pertama ibunya mengajaknya bicara, benar-benar bicara dalam arti antara ibu-anak. Waktu ibunya kan selama ini tersita untuk ayahnya dan Menma semua. Tapi, susah memang menghapus sifat keras kepalanya. Sudah bawaan bayi soalnya. Jadi, jangan salahkan Naruto, tapi salahkan orang tua yang menurunkan watak itu padanya.

Mereka saling beradu mata, percikan api memancar dari dua bola mata beda warna itu, sebelum akhirnya ibunya mengalah. Ia berkata, "Baiklah, kaasan belikan. Tapi, sebagai gantinya uang sakumu kaasan potong sebulan."

"Hore! Terima kasih kaasan. Aku sayang sekali sama kaasan." Sorak sorai Naruto merayakan kemenangannya.

Dan berkat itulah, kini Naruto sudah mempunyai dua setelan baju seragam yang sangat ia inginkan dan sama persis baik model maupun warna di dalam lemarinya. Salah satunya sedang ia kenakan di hari pertama ia masuk akademi. Tasnya yang berisi buku dan alat tulis juga berwarna oranye. Pokoknya Naruto beneran kinclong, ngejreng, dan mencolok mata dari ujung kaki sampai ujung kepala.

Naruto turun ke bawah, sambil mencangklong tas barunya. Cengiran lebar terpajang di wajahnya, menunjukkan betapa bahagianya dia pagi ini. "Ohayo!" sapa Naruto pada anggota keluarganya yang lain.

"Hm!" balas sang ibu acuh dan sibuk menata sarapan untuk anak kesayangannya dan suaminya. Di meja hanya tertata tiga mangkuk saja, dengan kata lain Naruto harus ambil mangkuk sendiri di dapur. Sang ayah melengos dan asyik dengan gulungan entah isinya apa, sedang adiknya sibuk berceloteh dengan ibunya. Naruto hanya bisa bergumam lirih, "Sabar Naruto, sabar!"

Naruto pikir, ayahnya akan mengantarnya ke sekolah di hari pertamanya masuk, sama seperti Menma dulu. Bagaimana pun ia masihlah anak kecil. Jadi, wajar saja jika ia menyimpan rasa takut dan grogi, ketika pertama kali masuk sekolah. Sayang harapan tinggal harapan. Ayahnya memilih langsung pergi ke gedung hokage tempat ayahnya bekerja daripada mengantarnya.

Naruto meremas baju depannya, menahan dirinya agar tak berkaca-kaca karena lagi-lagi ayahnya bersikap pilih kasih padanya. Ia tak berharap banyak, kok. Ia cukup paham, kalau ayahnya itu sibuk. Ayahnya kan seorang hokage yang dituntut untuk menyelesaikan berbagai persoalan pelik di Konoha, jadi wajar kalau waktu luangnya sedikit. Namun, boleh kan kalau ia berharap, sekali ini saja ayahnya mau mengantarnya sekolah.

Dulu, Menma diantar sang ayah ketika pertama kali masuk akademi sampai seminggu malah. Ayahnya bahkan juga bersedia tinggal sejenak. Kenapa hanya pada Naruto, sikapnya lain? Apa ayahnya benar-benar kecewa dengan latihannya tadi pagi, makanya itu ayahnya kembali bersikap dingin padanya?

Naruto menoleh pada sang ibu. Ia berniat meminta ibunya mengantarnya ke akademi, tapi... ibunya sudah sibuk dengan Menma. Ia mengajak Menma berlatih di halaman belakang rumah, meninggalkan Naruto menghabiskan sarapannya sendiri.

Naruto sudah hampir mewek di tengah acara sarapannya. Ia hampir protes dengan ketidak adilan ini, sampai ia melihat wajah ibunya yang tampak lebih tirus. Ia jadi tak tega. Ibunya akhir-akhir ini terlihat kelelahan, sering ketiduran, dan wajahnya agak pucat. Naruto jadi tak tega meminta ibunya mengantar ke sekolah. Ia berasa jadi anak egois yang masih rewel dengan segala sesuatu yang remeh temeh seperti minta diantar ke sekolah.

Naruto akhirnya berangkat sendiri ke sekolah. Sepanjang perjalanan, Naruto berlatih untuk memperkenalkan diri di depan kelas nanti. Naruto ingin memberi kesan baik, mengikuti pepatah yang berbunyi, 'Kesan pertama sungguh menggoda selanjutnya terserah anda!' Eh, kok malah jadi iklan. Ups, abaikan. Maksudnya memberi kesan pertama yang baik itu sangat penting dalam menjalin hubungan dengan orang lain.

Dunia sosial itu tergolong kejam lho, bahkan di kalangan anak-anak. Jika kita salah memberi kesan pertama, maka akan sulit membangun hubungan untuk tahap-tahap selanjutnya. Soalnya, otak mereka sudah terlanjur terpaku pada image dari kesan pertama yang kita tanam ke benak mereka. Kalau Hokage ketiga bilang, "Hasil pemikiran itu ditentukan oleh informasi pertamanya,"

Nah, seperti itulah alasannya kenapa Naruto sibuk berlatih dan mematut dirinya sebaik mungkin. Naruto ingin memberi kesan yang baik di hari pertamanya sekolah, agar ia lebih mudah dalam menjalin pertemanan dengan teman-teman se-akademinya. Kan mereka suatu saat nanti akan jadi anggota timnya juga. Apa salahnya jika ia membangun hubungan pertemanan lebih dini?

Naruto masih sibuk mematut dirinya dari pantulan kaca gedung sekolah, memastikan penampilannya sempurna dengan jump suit warna orange mencolok dan simbol spiral di punggungnya, simbol khas klan Uzumaki. Karena, ia seorang Uzumaki, maka simbol bajunya juga harus Uzumaki.

Ia masuk ke kelas untuk perkenalan setelah namanya dipangggil. Ia baru masuk, namun telinganya sudah menangkap kasak-kusuk yang membuat telinganya merah. Seperti, "Eh, itu kan anak Yondaime yang payah itu!" atau "Ngapain anak pecundang itu masuk akademi?" dan komentar miring lainnya.

Naruto tersenyum kecut dari tempatnya berdiri. Ia tidak tuli dan ia tidak bodoh untuk memahami kalau saat ini, ia memang tengah dihina oleh teman-teman sekelasnya. 'Hahh..., tidak di rumah tidak di sekolah, sama saja. Masih saja kena bully,' batinnya sedih.

Matanya lalu menangkap gerakan bibir dari Shikamaru di atas sana, 'Jangan sedih! Abaikan saja,' yang dibalas Naruto dengan acungan jempol jari dan senyum cerah lima jarinya.

Suara berisik itu baru berhenti, setelah Iruka-sensei berteriak, "DIAMMM!" dengan ukuran hampir 100 desibel saking kerasnya. Padahal tak pake toa, atau dibantu dengan cakra, tapi kok bisa sekencang itu ya? Aneh. Mungkin itu salah satu kelebihannya hingga ia terpilih jadi seorang guru di akademi, selain kesabaran tentunya.

Naruto memberikan perkenalan singkat seperti nama, yang disukai dan tidak disukai dan terakhir cita-cita. Ia lalu duduk di samping sohibnya, siapa lagi kalau bukan Shika yang sedang tidur pulas dan Choji yang sibuk ngemil, di deretan bangku paling belakang.

Naruto hanya nyengir dengan ulah dua sahabatnya itu. Maklum, sudah biasa. Daripada menegur keduanya, ia lebih memilih mendengarkan seluruh penjelasan Iruka-sensei. Memang Naruto sudah mendapat materi itu semua dari Hokage ketiga, tapi tidak ada salahnya kan mendengarkan.

Itulah kegiatan sehari-hari Naruto di akademi. Datang, mendengarkan penjelasan sensei, mencatat beberapa poin penting, dan mencari teman. Terhitung sejak sekolah, Naruto berhasil mendapat tambahan teman seperti Inuzuka Kiba. Mereka berempat bersama Shika dan Choji disebut senseinya kuartet biang kerok.

Selain Kiba, ia cukup kenal dengan anak yang lain, cuman tidak terlalu akrab. Seperti Hinata, anaknya Hyuga Hiashi yang dulu jadi lawannya. Orangnya kelewat pemalu. Jika Naruto mengajaknya bicara ia selalu tergagap dan bahkan sampai pingsan. Naruto jadi malas bergaul dengannya.

Ada juga Sasuke, itu lho yang jadi samaran Naruto waktu melawan Itachi. Sekali lihat, Naruto tahu kalau si Sasuke ini orangnya ambius, ingin selalu jadi yang terbaik. Karena itu, ia tak pernah mau menghabiskan waktunya bermain-main dengan teman seakademinya dan karena itu pula ia tak punya teman. Sayang sekali. Padahal kan dia populer.

Eh, tapi ada yang lebih emo dan anti sosial lho dibanding Sasuke. Namanya Shino Aburame. Sumpah saking emonya, Naruto bahkan malas untuk menyapanya. Naruto tak membencinya, karena ia itu tak termasuk anak yang suka membully dan mengejek Naruto. Tapi, yach malas saja. Habisnya, tiap kali diajak bicara pasti jawabannya muter-muter, bahasanya aneh pula. Jadi, Naruto malas dech ngajak berteman.

Meski mengejek Naruto dengan sebutan payah dan pecundang, nyatanya mereka tak bisa mengalahkan Naruto dalam praktek. Naruto selalu unggul dalam hal ini. Naruto ahli melempar shuriken, kunai, dan juga adu taijutsu. Sasuke sendiri juga mengakuinya dan menjadikan Naruto rival utamanya. Ck, menjengkelkan sekali kan? Punya musuh itu tidak enak, kawan.

Bukan hanya dalam hal fisik, nyatanya Naruto juga unggul untuk pelajaran ninjutsu. Naruto yang dicap lemah, tak punya banyak cakra, nyatanya bisa mempraktekkan ninjutsu dasar lebih baik dari mereka semua. Cuman, Naruto orangnya tidak suka berkoar-koar dan tetap enggan mengikuti tes kelulusan genin lebih cepat dari teman seangkatannya.

Kalau ditanya, Naruto akan menjawab, "Aku mau lulus bareng Shika dan Choji," Sebenarnya alasan utama Naruto ingin ikut tes kelulusan bareng Shika itu karena ia ingin menikmati masa kecilnya dan bersenang-senang menikmati masa damai ini selagi bisa sebelum badai di dunia ninja itu muncul.

Di lain pihak, di kantor Minato suasananya tegang. Ia tak bisa menahan diri untuk tidak meledak. Persoalan klan Uchiha semakin meruncing, ditambah lagi dengan isu meninggalnya Shisui. Akibatnya, komunikasi mereka dengan Konoha pun putus. Malah, kini isu kudeta yang muncul ke permukaan.

Tapi dasar para tetua Konoha itu mau ambil gampangnya saja, mereka malah menyuruh Itachi membantai klannya dengan alasan mau melakukan kudeta, malam ini juga. Mereka tak mau tahu dan tak mau perduli kalau masalah ini mereka yang jadi ujung pangkalnya, membuat kepala Minato serasa ingin meledak.

"Aku pulang," kata Minato dengan nada geram, mengabaikan tumpukan kertas di mejanya yang belum berkurang seinchi pun.

Sandaime yang juga berada di kantornya hanya menghela nafas. Ia mengerti kalau juniornya itu perlu udara segar untuk menjernihkan isi kepalanya yang sudah mau pecah kapan saja. Siapa tahu setelah itu, Minato berhasil menemukan ide untuk mencegah isu kudeta itu, tanpa harus disertai tragedi pembantaian klan itu oleh anggota klan itu sendiri.

Minato melakukan shunshin ke rumah. Hal pertama yang dilakukannya adalah mengunjungi kamar Naruto. Naruto mungkin tak tahu, kalau ayahnya sering mengunjungi kamarnya untuk memandangi wajah anaknya yang tengah terlelap. Minato selalu mendapat ketenangan batin usai melihat wajah polos sang anak.

Hari ini, Minato tidak hanya memandang sang anak, melainkan juga mengusap rambut anaknya dan mencium dahinya. Ada sebulir air mata yang mengancam menetes dari bola matanya yang dengan cepat diseka Minato. Ia tak ingin Naruto terbangun. Minato tersenyum kecil melihat air liur menetes di sudut bibir sang anak.

"Naruto!" panggilnya lirih. "Anakku, maafkan ayah, Nak karena mengambil keputusan ini, membiarkanmu melalui hidup yang berat seorang sendiri. Sungguh, Nak. Ayah pun ingin melihatmu beranjak dewasa, memarahimu jika kamu nakal. Berat bagi ayah mengambil keputusan ini. Tapi, percayalah Nak. Semua ini ayah lakukan demi kebaikanmu. Selamat tinggal, Naru-chan. Semoga setelah kepergian ayah, kau tetap bisa hidup dengan baik. Ayah sayang padamu, sangat sayang." Ujarnya berpamitan dan kembali mengecup dahi Naruto yang masih terlelap.

Setelah itu Minato turun ke bawah. Di anak tangga, ia melihat Menma sudah bersiap dengan pakaian bertempurnya. Ia mengangguk paham pada sang ayah. "Apa kau yakin, Menma?" tanya sang ayah begitu ia sampai di bawah tangga.

Menma mengangguk. "Bukankah kita sudah sepakat?"

"Kau sudah berpamitan dengan Naruto?"

Tubuh Menma menggigil. Menma mengepalkan tangannya untuk membuang semua kesedihan dalam dirinya. Sama seperti ayahnya, ia juga enggan berpisah dengan Naruto. Meski, selama ini ia bersikap dingin pada Naruto, ia tetap menyayangi Naruto. Ah, bukan hanya sayang tapi lebih. Baginya, Naruto itu mataharinya.

"S-sudah," jawabnya dengan suara bergetar. "Aku sudah berpamitan," cicitnya lirih.

"Kalau begitu tunggu apalagi. Kita berangkat ke kompleks Uchiha. Kita harus mencegah tragedi itu, meski nyawa taruhannya,"

"Hai'k" balas Menma bershunshin ria mengikuti sang ayah yang sudah melakukan hiraishin.

TBC

Akhirnya selesai juga. Sampai jumpa chapter selanjutnya. Aku usahakan updatenya cepat. Kalau dalam waktu dekat ini belum kelar, jadi nunggu sekitar 2 bulan lagi. Soalnya Ai lagi mempersiapkan pernikahan Ai yang kira-kira dilangsungkan pertengahan bulan Desember.

Terakhir, mohon saran dan kritiknya.