Not Mainstream

Summary : Bagi penduduk Konoha, Minato itu shinobi yang paling hebat. Bagi Sarutobi, ninja anti mainstream. Bagi Kushina, suami terbaik. Bagi Shikamaru dan Choji, ayah yang buruk dan pilih kasih. Tapi bagi Naruto, ayahnya itu crazy. Tidak ada yang bisa menandingi Minato dalam hal ke-crazy-an, bahkan seorang Orochimaru yang sudah diakui seluruh shinobi. MinaKushi_alive

DISCLAIMER : Naruto Belongs to Masashi Kishimoto

Genre : Adventure dan Family

Rating : T

WARNING : Ide pasaran, bertebaran typo, gaje, smart_Naru, Canon dan bashing beberapa chara.

Author Note :

Sepertinya ada yang gagal fokus. Ai sudah beberapa kali memberi tahu tentang umur Naruto, tapi kenapa masih nggak 'Ngeh' ya? Jika Naruto terlihat hebat, kuat dan smart, bukan karena ia sudah tumbuh dewasa, tapi memang sudah turunan dari ayahnya.

Waktu pertama kali dilatih Minato, Naruto umur 6 tahun. Latihannya 1,5 tahun. Jadi tinggal hitung sendiri berapa umur Naruto.

Don't Like Don't Read

Chapter Four

Pembantaian Uchiha

Itachi duduk di hadapan kedua orang tuanya. Ia mengenakan baju berwarna hitam lengkap dengan kedua tanto di balik punggungnya. Wajahnya datar tanpa ekspresi, tetapi sorot matanya tampak lebih sendu dari biasanya. Ia mengepalkan tangannya mencegah gigilan yang merambat di tubuhnya.

"Tousan! Kaasan!" panggilnya lirih penuh hormat, layaknya seorang anak pada kedua orang tuanya.

"Itachi," panggil ayahnya dengan suara penuh wibawa. Gestur tubuhnya tampak kokoh, tak bergeming.

"Tekad kami sudah bulat. Lakukanlah apa yang harus kau lakukan. Kami tak akan berubah pikiran." Ujar ibunya membalikkan badannya, memunggungi Itachi yang menggenggam tantonya dengan tangan gemetar.

"Kau seorang shinobi, Itachi. Jadilah shinobi sejati dan tunaikan tugasmu! Aku tak pernah membesarkan anak berwatak pengecut." Cela ayahnya yang juga memunggungi Itachi seolah sudah pasrah jika nyawanya akan melayang di tangan sang putra sulung.

"Tousan! Kaasan..!" gumam Itachi menahan gumpalan rasa sakit di dadanya.

Sumpah demi apapun, ia tak menginginkan ini. Meskipun ia seorang shinobi yang dituntut untuk selalu mengutamakan misi, tapi tetap saja ia hanyalah manusia biasa. Hatinya juga bisa terluka jika disakiti, lebih-lebih jika ia harus mengambil nyawa orang-orang yang sangat disayanginya. Rasanya seperti ditusuk pedang 1000 kali. Sakit dan perih tak tertahankan.

"Kami titip Sasuke padamu," kata ibunya memejamkan mata bersiap jika ujung tanto sang putra menggores kulitnya dan mengantarnya pada Dewa Kematian.

Itachi menarik nafas panjang. Ia sudah menarik tantonya dan bersiap menebaskan tantonya, ketika bayangan kuning dan hitam tiba-tiba muncul di hadapannya dan menahan tantonya. Tubuh Itachi mengejang. Diam-diam menarik nafas lega, ada seseorang yang menghentikan tindakan gilanya itu. Meski, hanya sementara waktu.

"Hentikan, Itachi!" kata suara serak dalam dan berwibawa yang familiar menyapa gendang telinganya.

Itachi melirik, terkejut melihat Yondaime-sama datang ke kediamannya bersama dengan Menma, putranya lengkap dengan atribut bertempurnya. Keduanya bahkan sudah membawa senjata andalan mereka yakni kunai bercabang tiga spesial dan pedang yang ia beri nama 'ama-no-murakumo-no-tsurugi'. 'Mungkinkah dua orang ini datang ke sini untuk menuntaskan misinya, menggantikan dirinya?' pikir Itachi.

...*****...

Naruto terbangun tengah malam karena haus. Ia terpaksa turun ke bawah karena dapur ada di bawah untuk mengambil air. Ia sudah berniat tidur kembali, ketika ia merasakan keanehan di rumahnya. Rumahnya terlihat sepi, melompong, seolah-olah hanya dihuni Naruto seorang.

Kamar pertama yang didatanginya adalah kamar Menma. Ia mengetuk pintu dan memanggil, "Menma! Menma!" beberapa kali, namun tidak ada sahutan. Dahinya mengerut. Seingatnya Naruto, adiknya itu tidak sedang ada misi dan ia masih melihatnya makan malam bersama keluarga tadi. Tapi, kenapa ia tidak ada di kamarnya?

Tak ingin dipenuhi rasa penasaran, Naruto memberanikan diri membuka pintu kamar adiknya yang ternyata tak dikunci. Naruto mengedarkan penglihatannya ke seluruh ruangan, memuaskan diri melihat-lihat perabotan dan pernak-pernik di kamar adiknya. Maklumlah, ini kali pertama ia memasuki kamar adiknya. Jadi, ia dilanda rasa kepo tingkat tinggi akan isi kamar adiknya.

Kerutan di dahinya semakin dalam. Ia bergumam, "Aneh," terus-menerus. Setahunya Naruto, Menma itu anak kesayangan. Apa-apa selalu saja Menma. Tapi, kenapa barang-barang Naruto jauh lebih banyak, daripada milik Menma? Sudahlah sedikit, semuanya ternyata pemberian orang lain pula. Benar-benar aneh.

Masak sih Minato se-kere itu sampai-sampai tak sanggup membeli hadiah untuk Menma barang sebiji aja? Naruto saja dibelikan beberapa mainan oleh ayah dan ibunya, masak Menma yang anak emas tidak? Memang sih jumlahnya masih kalah jauh dari kawan-kawannya yang lain, tapi setidaknya ia punya. Tidak seperti Menma.

Naruto jadi bingung sendiri. Sebenarnya siapa sih yang berperan sebagai anak kesayangan dan anak buangan di fic ini? Naruto apa Menma? Sekilas terlihat Menma yang anak emas, tapi kenapa ada kesenjangan yang mencolok antara isi kamar Naruto dengan Menma? Apa tidak tertukar nih ceritanya? Naruto menelengkan kepalanya bingung. Sumpah, ini luar biasa aneh. Salah satu dari tujuh keajaiban di Konoha.

"Mungkin Menma menyembunyikannya di suatu tempat," ujar Naruto mengambil kesimpulan.

Tiba-tiba ada kilatan api terbit dari bola matanya. Ia jadi bersemangat untuk menjelajahi kamar sang adik, mumpung adiknya tidak ada di tempat dan kedua orang tuanya tak akan merecokinya, memarahinya ini, itu jika ia lancang mencoba memasuki kamar Menma.

30 menit kemudian, tampak Naruto terduduk di ranjang Menma yang sebelumnya sangat rapi, seolah tak pernah dijamah oleh manusia sekalipun. Kebingungan Naruto semakin menjadi-jadi usai ia menjelajahi dan mengobrak-abrik seisi kamar. Ternyata, di kamar Menma memang tak ada satu pun yang asli pemberian dari orang tua. Semuanya pemberian orang lain.

"Apa mungkin Menma menjual semua pemberian kaasan dan tousan? Tapi..., tak mungkin, ah. Menma tidak terlihat seperti orang yang butuh uang banget. Dia juga terlihat tak pernah beli barang mahal apapun? Apa aku tanya kaasan saja ya, besok? Ku rasa begitu saja." ujar Naruto bicara sendiri.

Naruto merapikan kembali kamar adiknya seperti sedia kala. Ia berniat kembali tidur. Ia berhenti di depan kamar kedua orang tuanya. Dahinya kembali mengernyit, saat ia juga merasakan kedua orang tuanya tak ada di kamar. Kali ini, ia melewatkan prosedur mengetuk pintu dan memanggil orang tuanya baik-baik terlebih dahulu. Ia langsung masuk kamar begitu saja.

Seperti dugaannya semula. Kamar kedua orang tuanya juga kosong. Ia meraba kasur orang tuanya yang dingin, tanda jika keduanya sudah lama pergi. "Dimana kaasan dan tousan? Kenapa mereka pergi tidak bilang-bilang padaku? Aneh!" kata Naruto keheranan.

Ia menjelajahi kamar orang tuanya untuk mencari petunjuk kira-kira dimana orang tuanya berada. Hasilnya nihil. Tak ada memo atau apapun yang menunjukkan kemana orang tunya pergi. Iseng-iseng, Naruto mengambil album foto yang disimpan ibunya di meja belajar.

Naruto membuka lembar demi lembar fotonya waktu masih bayi. Ada foto ia lagi nangis ketika digendong ibunya, sedang ayahnya hanya tertawa geli melihat Naruto-bayi nangis. Ada foto Naruto-bayi sedang terlelap ditemani sang ayah yang berbaring di sampingnya sambil tersenyum, sedangkan Ibunya duduk di sisi satunya lagi dengan jari mengelus pipi Naruto-bayi lembut. Naruto tersenyum lembut melihat foto-foto itu. Naruto-bayi terlihat sangat disayang kedua orang tuanya, sangat jauh dari Naruto yang sekarang.

Masih banyak lagi foto-foto yang memperlihatkan besarnya cinta kedua orangnya pada Naruto. Semua moment indah —ketika ayahnya memakaikan popok untuk Naruto, ayahnya yang menyelimuti Naruto-bayi yang lelap dengan jubah hokagenya, atau saat Naruto berjalan untuk pertama kalinya— itu terrekam jelas dalam tiap lembar foto.

Sisanya berisi foto-foto bayi Naruto yang sedang dikerjai Sasuke, anaknya Fugaku-jisan dari ia masih ngempong sampai Naruto beranjak berumur 2 tahun. Sepertinya, Sasuke-bayi menganggap pipi Naruto itu bakpau. Karena itu, ia sering menowel pipi tembem Naruto-bayi. Dan, itu membuat Naruto mencebik kesal dan ngedumel tidak jelas.

Selain dengan Sasuke, Naruto-bayi juga tampaknya sering menghabiskan waktu dengan Kakashi-sensei. Beberapa kali Kakashi terlihat menggendong dirinya dari berbagai tahap umur. Kakashi bahkan terlihat di foto sedang mengaitkan jari dengan Naruto-balita, menunjukkan kedekatan keduanya.

Namun, diantara foto-foto yang oh-so-sweet, anehnya, tak ada satupun foto yang memperlihatkan Naruto sedang bersama Menma. Jangankan foto Naruto dengan Menma, foto Menma-bayi satupun tak ada. Semua album di kamar itu sudah ia buka, tapi sebiji pun tidak ia temukan.

Ia jadi bingung sendiri. Ini beneran tidak sih? Masak Menma yang anak kesayangan malah tak pernah orang tuanya foto? Semua foto Menma diawali ketika ia besar. Itu pun semuanya bukan foto Menma seorang, melainkan foto saat Menma diajak menghadiri acara pertemuan antar klan di Konoha, masuk akademi, de el el.

"Ini makin aneh. Ada apa ini? Aku harus menyelidiki hal ini." tekad Naruto.

Ia berkonsentrasi mencari cakra orang tuanya. Alisnya terangkat tinggi begitu berhasil mendeteksi cakra orang tuanya di kediaman klan Uchiha. Untuk apa ayahnya berkunjung ke klan Uchiha tengah malam begini? Memang urusannya tak bisa ditunda esok hari?

"Lebih baik aku menyusul kaasan dan tousan," kata Naruto menutup album-album foto yang bertebaran di ranjang orang tuanya.

Naruto bersiap pergi dengan baju ninja ciri khasnya. Ia berlari cepat menuju kompleks Uchiha. Naruto mengambil jalan pintas, lewat danau agar lebih cepat sampai. Ia kaget mendapati Sasuke sedang terbaring di rerumputan. Ia menghampiri Sasuke dan mencoba membangunkannya.

Meski tidak begitu dekat di akademi, jarang bertegur sapa, dan ia sering jadi korban bully Sasuke, bukan berarti Naruto orang tegaan. Hatinya iba juga melihat Sasuke tiduran di luar rumah, di rerumputan yang basah, tengah malam begini pula. Bagaimana kalau ia sakit?

"Hei bangun! Nanti kamu sakit, kalau tidur di tempat seperti ini?"

Sasuke menggeliat tak nyaman. Hawa dingin menyergap tubuhnya ketika ia tersadar dari tidurnya. Sepertinya ia ketiduran setelah kelelahan berlatih. Birulah yang pertama kali dilihatnya, ketika ia membuka matanya. Dalam hati, Sasuke mengagumi keindahan warna bola mata yang menatap balik Sasuke.

Itu adalah warna yang selalu membuat Sasuke tertegun, terpesona, dan terhipnotis hingga terseret jauh ke dalamnya. Persis, seperti warna mata orang yang disukainya dulu, kala ia masih sangat kecil. Ya, harus Sasuke akui, ia menyukai balita menggemaskan bermata safir, putra sulung Yondaime mereka.

Sasuke ingat. Kala ia sudah menginjak usia 4 tahun, ia pernah berjanji dalam hati akan berlatih keras agar jadi shinobi yang hebat melebihi ayah dan kakak yang dikaguminya. Lalu setelah itu, ia akan melamar sang pujaan hati yang Sasuke klaim calon istri dengan seenak udelnya sendiri, tanpa mengecek jenis kelamin sang pujaan hati.

Betapa syoknya dia, waktu tahu kalau orang yang telah mencuri hatinya itu ternyata seorang bocah laki-laki, dan bukannya anak perempuan seperti perkiraannya semula. Sasuke-kecil merasa dunianya hancur, tertipu mentah-mentah oleh wajah androgini Naruto yang condong ke arah cantik, karena ia mewarisi kecantikan sang ibu dan bukannya ketampanan sang ayah.

Uh, itu kenangan paling mengerikan yang pernah dialami Sasuke seumur hidupnya. Saking syoknya, Sasuke sampai sakit 7 hari 7 malam dan dihantui mimpi buruk. Untuk melupakan rasa sakitnya karena patah hati, ia jadi bersikap dingin dan cenderung memusuhi anak sulung Yondaime itu, tersangka utama yang telah membuatnya patah hati.

Ia selalu melengos jika kebetulan berpapasan dengan Naruto. Entah itu ketika Naruto sedang mengunjungi nenek Orihime, ataupun di jalan ketika Naruto pulang usai bermain dengan teman-temannya. Ia juga selalu memberi tatapan paling sadis dan paling sinis untuk Naruto, jika kebetulan mata mereka bertemu. Tak lupa ia berikan pada si penipu itu desisan.

Gara-gara itulah, hubungan keduanya memburuk. Keduanya sering terlibat cekcok bahkan nyaris baku hantam di akademi, kalau saja Shika dan Choji tidak menyeret Naruto dan menjauhi Sasuke. Mereka bukannya mengasihani Sasuke yang nanti tubuhnya bonyok karena Naruto —Sasuke yakin itu— melainkan karena tak ingin Naruto terlibat masalah.

Uhhh, insiden merasa ditipu mentah-mentah itu, bukan hanya membuat hubungan Sasuke-Naruto merenggang. Tapi, juga membuat tekad Sasuke —menjadi seorang shinobi yang hebat— luntur. Ia baru bersemangat lagi berlatih, ketika ia melihat bagaimana kegigihan mantan-korban-cinta-pertama-Sasuke berlatih. Semangat Naruto berhasil menulari Sasuke, membuat Sasuke malu akan dirinya sendiri. Sejak itulah, Sasuke kembali giat berlatih agar ia tak kalah dari Naruto.

Berkat kerja kerasnya, kemampuan Sasuke melesat cepat. Diam-diam, Sasuke sudah berhasil menguasai beberapa ninjutsu katon rank C, satu rank B, dan sekaligus bisa melakukan shunshin layaknya para Chuunin. Ia hanya sedikit di bawah kakaknya di usia yang sama. Namun, Sasuke tak pernah menampakkannya dan memilih menyembunyikan kekuatannya dari siapapun.

Kenapa?

Alasannya simple. Ia ingin merasakan satu akademi dengan Naruto yang baru masuk akademi di usianya yang sudah menginjak usia lebih dari 7 tahun. Ia juga ingin, bahkan ngarep banget, bisa satu tim dengan orang yang pernah ia harapkan jadi calon istrinya. Biar kata impiannya hancur, tetap saja ia ingin dekat dengan Naruto. Ia ingin mengagumi keindahan bola matanya yang mempesona dari dekat.

Ah, bukan hanya matanya, senyumnya juga oke. Cengiran Naruto saat ia tengah malu-malu kucing pun jauh lebih sedap dipandang daripada para cewek yang sok cakep dan tebar pesona di depannya. Bahkan, teriakan cempreng Naruto terdengar lebih merdu di telinga Sasuke, daripada kata-kata manis dan mendayu-dayu dari FG-nya. Haaahh, Naruto memang sedap dipandang. Salah satu makhluk Tuhan yang paling seksi di mata Sasuke. Sayang... hik hik hik.. dia laki-laki.

Terkadang Sasuke berharap Naruto memang cewek yang gara-gara sikap lebay sang ayah —dengan dalih untuk melindunginya dari musuhnya— lalu mengubah gender anaknya jadi cowok dengan fuinjutsu andalannya. Yach, berharap boleh saja kan? Judulnya saja Not Mainstream, jadi bisa saja kan ceritanya berakhir seperti itu.

Sayang seribu kali sayang, harapan Sasuke harus terkubur dalam, karena author tak akan mengabulkannya. Ia tetap harus menerima kenyataan kalau Naruto cowok tulen dan Sasuke tak akan pernah bisa bersatu dengannya. Jadi ia harus mencari chara cewek lainnya di fandom ini untuk dijadikan istri.

Oke abaikan pikiran absurd Sasuke yang sudah melantur kemana-mana. Back to story. Sasuke berusaha bangun dari tempatnya berbaring. Ia tak nyaman dengan posisinya saat ini. Dalam hati merutuki Itachi yang sudah dengan seenaknya membokongnya dari belakang, ketika ia sedang berlatih. 'Pasti, kakaknya sedang merencanakan sesuatu.' Pikirnya sudah su'udzon duluan.

"Kenapa kau tiduran di sini?" tanya Naruto menyentakkan Sasuke dari lamunannya.

"Bukan urusanmu!" bentak Sasuke kasar, masih saja merasakan sengatan pahit yang menghimpit dadanya, saat ia tertipu oleh Naruto mentah-mentah, meski sudah lewat beberapa tahun.

Pelipis Naruto berkedut. Giginya bergemeletuk, jengkel. Ada apa sih dengan makhluk Tuhan yang paling songong ini? Ia kan nanya baik-baik, kenapa malah dibalas dengan bentakan? Emang salah Naruto apa? Tsk, menyebalkan. Naruto mendecih dalam hati dan ngedumel sendiri.

"Kenapa kau mengikutiku? Lupa jalan pulang, Dobe!" ujar Sasuke yang karena malu malah jadi bicara kasar pada Naruto.

Huh? Mulut Naruto menganga kehilangan kata-kata. Sesuatu yang jarang sekali terjadi padanya, mengingat itu salah satu keahliannya. Bagaimana tidak syok? Ia baru saja dikatai Dobe. What the hell? Naruto itu genius sama seperti ayahnya yang konon bahkan melebihi kecerdasan otaknya klan Nara. Dan, sekarang ia dikatai Dobe? Itu penghinaan namanya.

"Mulutmu itu tak pernah disekolahkan, ya? Atau kau itu memang payah dalam hal sopan santun?" gerutu Naruto yang dibalas kedikan acuh dari Sasuke, membuat wajah Naruto merah padam dan kembali komat-kamit layaknya mbah dukun yang sedang membaca mantra.

"Aku tanya sekali lagi, kenapa kau mengikutiku?"

"Jangan GR! Aku tidak sedang mengikutimu. Tapi, aku sedang mencari tousan dan kaasanku yang berkunjung ke rumahmu." Balas Naruto sambil bersunggut-sungut.

"Hokage-sama ke rumahku? Untuk apa?"

"Mana ku tahu. Memangnya aku cenayang?" ujar Naruto sewot.

"Cih!" kembali Sasuke mendecih, membuang ludah, sebelum melempar komentar pedas lainnya, "Bilang saja, kau takut tidur sendiri. Makanya itu, kau mencari orang tuamu. Huh! Dasar anak mama!" celanya.

Naruto yang sudah tak sanggup lagi menahan amarahnya, berniat memukul Sasuke-orang-songong-bin-menyebalkan itu, kalau saja ia tidak merasakan keberadaan cakra asing yang bukan bagian dari Konoha, tak jauh dari tempat mereka berdua berada. Naruto dengan sigap melempar kunainya pada sosok penyusup itu.

Kunainya melayang, menancap pada batang pohon. Tak ada suara teriakan 'Auch' apalagi 'Kyaa!' khas cewek ababil, meski ada darah yang mengalir membasahi batang pohon, bukti nyata kalau serangan Naruto tepat sasaran. Akan tetapi, tak lama kemudian dari batang pohon itu muncullah makhluk paling absurd yang pernah Naruto lihat.

Dibilang manusia, kok sosoknya tidak seperti manusia. Penampilan penyusup itu luar biasa aneh. Ia memiliki bagian tubuh yang bisa membuka-menutup layaknya bunga kanibal dengan nama spesies Venus-fly-trap. Dibilang tumbuhan, tapi kok punya kepala lengkap dengan indera mata, telinga, mulut, hidung layaknya manusia. Jadi, makhluk di depannya ini apa, ya?

"Siapa kau? Kenapa kau ada di sini?" tanya Naruto dengan mata waspada.

Ia memberi isyarat mata, agar Sasuke menjauh dari tempat ini, karena ia merasakan orang atau tumbuhan, atau apalah namanya ini berbahaya. Makhluk itu sangat ahli dalam memanipulasi cakranya, hampir menyerupai alam itu sendiri, sehingga sangat sulit dilacak. Mungkin itulah yang membuatnya bisa melangkah sedemikian jauh memasuki Konoha tanpa terdeteksi oleh para anbu yang berjaga.

Sayangnya, Sasuke terlalu keras kepala. Ia tak menggubris isyarat Naruto. Sebaliknya, Sasuke justru menyiapkan senjatanya, bersikap sama waspadanya dengan Naruto, sembari mengagumi kehebatan Naruto dalam merasakan cakra seseorang. 'Tipe sensorik,' batinnya kagum. Soalnya tipe seperti ini masih sangat jarang dan tergolong langka di dunia ninja.

"Namikaze-Uzumaki Naruto dan Uchiha Sasuke," sapanya yang membuat dua orang yang disebut terkejut.

Pasalnya, keduanya masih tercatat sebagai murid akademi belum resmi sebagai shinobi. Karena itu, seharusnya nama keduanya belum dikenal dunia luas, kecuali bagian kecil penduduk Konoha saja. Namun kenyataanya, makhluk di depannya itu tahu identitas mereka. Dan, itu semakin membuktikan kalau ia sangat berbahaya.

Sasuke maju ke depan dan menyerang makhluk itu tanpa basa-basi. Naruto memilih berdiam diri untuk menganalisis pertarungan antara Sasuke dan si penyusup yang enggan menyebutkan identitasnya. Ia bukanlah bocah bodoh yang bergerak serampangan mengikuti emosi. Maaf-maaf sajalah, ia bukan tipe orang idiot yang bermoto, 'bergerak dulu mikir belakangan'.

Ia justru tipe pemikir sama halnya dengan ayahnya. Namun, levelnya masih di bawah sang ayah yang mampu menganalisa dengan cepat sambil maju melawan musuh. Naruto butuh waktu berfikir terlebih dahulu untuk menganalisa sebelum bertindak, sama halnya dengan anggota klan Nara.

Awalnya, Zetsu bisa menghindari semua serangan Sasuke yang sangat bernafsu untuk membunuhnya. Namun lama kelamaan, ia terdesak juga oleh kecepatan serangan bocah Uchiha itu. Zetsu beberapa kali dibuat timbul tenggelam diantara tanah dan pohon, untuk menghindari serangan fatal yang ditujukan padanya. Maklum, ia ini bukan tipe penyerang.

Tapi, bukan berarti serangan Sasuke tidak mengenainya sama sekali. Serangan Sasuke yang cepat dan sukar diprediksi beberapa kali mengoyak tubuhnya dan beberapa diantaranya hampir mengenai bagian vitalnya. Untunglah, ia memiliki kemampuan berregenerasi level tinggi, sehingga dengan cepat luka itu menutup kembali.

'Uh, bocah ini hebat juga.' puji Zetsu dalam hati, sambil bergerak lincah. 'Ia bisa jadi lawan yang berbahaya di masa depan. Aku harus membunuhnya saat ini juga, agar rencanaku tidak hancur berantakan,' pikir Zetsu.

Ia menyemprotkan spora berwarna putih ke udara dan menempel pada tubuh Sasuke. Sasuke tidak menyadarinya karena sibuk menyerang Zetsu. Zetsu lalu mengaktifkan kemampuan Hoshi no jutsu-nya untuk menyerap cakra Sasuke sampai habis dan bocah Uchiha itu akan tewas dengan sendirinya.

Namun, sebelum rencana itu berhasil, sebuah pukulan melayang di wajahnya. Bocah berambut pirang yang sejak tadi berdiri diam, entah bagaimana sudah berdiri tepat di depannya dan menghajarnya hingga ia terlontar beberapa meter. Zetsu mendecih dalam hati dan membatin, 'Tsk, bertambah lagi orang merepotkan yang harus ku lenyapkan!' batinnya jengkel, begitu melihat kemampuan bocah kecil anak dari Yondaime.

"Apa yang kau lakukan, Dobe? Aku tidak meminta bantuanmu," Bentak Sasuke yang masih sempat-sempatnya menghina Naruto di tengah-tengah pertarungan karena tersinggung. Menurutnya, Naruto terlalu lancang ikut campur pertarungannya.

"Menyelamatkanmu, apalagi? Kau tidak lihat? Jika aku tidak memukulnya, ia pasti menyerap cakramu hingga habis. Kau merasakannya, kan?"

"Ya, hanya saja aku tak tahu bagaimana ia bisa melakukannya?" ujar Sasuke akhirnya mengalah. Ia bersedia bertukar pikiran dengan Naruto, tanpa mengurangi kewaspadaannya.

"Dengan benang putih yang ia sembur ke udara. Benang itu nantinya akan menempel di tubuhmu dan lalu menyerap cakramu. Cara kerjanya hampir mirip dengan spora pada tanaman jamur. Itulah medianya." Jawab Naruto tanpa menoleh. "Sasuke aku minta kerja samanya. Kita harus menyatukan kemampuan kita untuk mengalahkannya."

"Hn," gumam Sasuke yang bisa diartikan sebagai sebuah persetujuan.

"Berhati-hatilah! Ia lawan yang tangguh," Kata Naruto memperingatkan. 'Ia juga punya kemampuan regenerasi seperti hokage pertama,' tambahnya dalam hati.

Keduanya lalu melakukan serangan kombinasi untuk melawan Zetsu. Sasuke menyerang Zetsu berturut-turut, sedangkan Naruto mencegah Zetsu mengeluarkan kemampuan hoshi no jutsunya. Serangan dua bocah genius itu berhasil membuat Zetsu yang memang bukan tipe petarung terdesak.

Zetsu yang tak ingin mati konyol, memilih kabur dari pertarungan dan meninggalkan partner crime-nya. Toh, tugasnya memang bukan untuk bertarung kali ini, melainkan untuk memata-matai aksi Obito dan Itachi dalam menghabisi seluruh anggota klan Uchiha, lalu melaporkannya pada Uchiha Madara yang sudah sekarat di gua persembunyian mereka.

Sasuke berniat mengejarnya, namun ditahan Naruto. "Percuma, ia sudah pergi jauh," jelas Naruto.

"Cih!" Sasuke mendecih. "Aku tahu itu. Aku tidak buta," sergah Sasuke kasar.

Sekarang, kekhawatiran Sasuke semakin menjadi-jadi. Jelas, saat ini klannya sedang dalam bahaya dan ia yakin kakaknya sedang merencanakan sesuatu di belakangnya. Karena itulah, ia membokong Sasuke dari belakang, agar Sasuke tidak terlibat masalah. Tsk, menyebalkan. Double menyebalkan.

Sasuke menggeram marah, sebelum berlari diikuti Naruto dengan kecepatan tinggi memasuki kompleksnya. Mata keduanya membola melihat kekacauan yang terpampang di hadapannya. Para Uchiha terlihat panik, dilanda histeria, melawan pria bertopeng yang datang dengan cara tak terduga. Mereka tampak kewalahan menghadapi pria bertopeng itu.

...*****...

"Ukh, sial!" Rutuk salah satu Uchiha berambut cepak, karena lagi-lagi jutsunya menembus si pria bertopeng.

Selalu seperti itu. Serangan mereka tidak pernah berhasil mengenainya. Setiap kali jutsu mereka hampir mengenai tubuh si pria bertopeng, tubuh pria itu berubah menjadi transparan, sehingga serangan mereka menembus tubuh si pria bertopeng dan mengenai sisi lainnya. Mereka juga selalu kesulitan mendeteksi cakra si pria bertopeng. Ia bisa hilang dan muncul dalam sekejab layaknya Yondaime mereka. Entah, jutsu macam apa yang ia gunakan? Mereka juga tidak tahu.

"Argghh..!" teriak salah satu Uchiha yang lehernya ditebas dengan kunai dan kini kepalanya menggelinding di tanah, menyusul Uchiha-Uchiha lainnya yang juga sudah jadi korbannya.

"Bagaimana ini?" pekik para Uchiha yang tersisa panik. Sepertinya harapan merea untuk bisa bernafas esok hari sudah lenyap. Mereka kini terperosok dalam keputus asaan dan kengerian.

Salah satu dari Uchiha yang bertahan adalah, Uchiha Orihime. Meski, sudah renta, tubuhnya masih sanggup bertahan. Pengalamannya dalam berbagai pertempuran yang dulu diikutinya sangat membantunya untuk bertahan. Tapi, sampai kapan? Cakranya sudah menipis. Staminanya juga sudah sampai pada limitnya. Ia dan juga Uchiha lainnya sangat membutuhkan bantuan saat ini dan detik ini juga.

BRUUK!

Nenek Orihime terjerambab ke tanah. Kakinya tersandung oleh bongkahan batu. Dadanya naik turun tak beraturan. Rambut putihnya yang terlepas dari ikatan rambutnya menempel erat pada rahangnya, basah oleh keringat dan darah yang mengucur dari luka di pelipisnya.

Deg!

Jantung nenek Orihime hampir berhenti berdetak. Tubuhnya menegang, ketika ia merasakan keberadaan si pria bertopeng tepat di belakangnya. Ia hanya bisa memejamkan kelopak matanya yang sudah kisut oleh keriput. Tak ada lagi yang bisa ia lakukan selain pasrah.

Naruto yang baru tiba berlari panik dengan kecepatan mengagumkan, hampir setara dengan Kakashi saat melakukan shunshin. Tangannya dengan sigap menangkis kunai pria bertopeng yang hendak menebas kepala nenek Orihime. Ketiganya sama terkejutnya dengan kejadian itu dengan alasan yang berbeda-beda.

Orihime obasan yang sudah terluka parah dan sudah bersiap-siap menjemput ajal, terkejut karena tiba-tiba ada yang datang menolongnya. Pria bertopeng itu kaget karena tak menyadari kehadiran Naruto sebelumnya. Sedang Naruto, terperanjat karena cemas takut terlambat menyelamatkan sang nenek.

"Dasar pengecut! Beraninya cuma sama nenek-nenek tua yang sudah tidak berdaya? Kalau kau memang hebat? Hadapi aku," tantang Naruto.

Para Uchiha yang menyaksikan hal itu cuman bisa membelalakkan mata, menatap tak percaya pada sang penolong. Mereka tadinya sudah dilanda rasa putus asa, dan sudah berfikiran buruk kalau Konoha memang menginginkan kematian mereka semua. Buktinya, tak ada satu pun yang datang menolong mereka sejak tadi. Karena itu, mereka tak mengharapkan bantuan apapun dari Konoha.

Mereka cukup bernafas lega, ketika tiba-tiba saja ada yang datang menolong mereka. Kirain yang datang seorang anbu elit macam Kakashi, Guy, atau Asuma. Menma juga boleh. Siapa nyana kalau yang datang menolong itu malah seorang bocah yang bahkan baru masuk akademi.

'Damn'it! Yondaime sialan! Niat nggak sih nolongnya?' rutuk mereka secara berjamaah pada hokage mereka.

"Cih! Akhirnya, pahlawan kesiangan datang juga. Pesta hampir berakhir lho," katanya dengan nada ramah, sedikit kekanakan yang tak sesuai dengan perbuatan sadisnya yang telah membunuh dan melukai puluhan Uchiha yang rata-rata sudah Chuunin dan sebagian jounin.

"Kau baru boleh bilang, 'Pesta sudah usai,' Kalau sudah tak ada yang bisa ku selamatkan. Hiaat!" teriak Naruto sambil menyentak pedangnya untuk menyerang balik si pria bertopeng.

Safirnya berkilat penuh amarah pada pria yang telah dengan sengaja melukai nenek Orihime. Biar kata Orihimie obasan bawel, suka bicara ngelantur, plus sangat membosankan, Naruto tetap menganggap nenek itu baik hati dan ia cukup menyayanginya. Karena itu, Naruto tak terima jika nenek Orihime dilukai.

Pria bertopeng itu tersenyum sinis dan meremehkan Naruto yang masih bocah. Pria-pria dewasa yang kemampuannya di atas Naruto saja tak sanggup menandinginya dan bergelimpangan di tanah, beberapa diantaranya mati seperti sampah. Apalagi ini Naruto yang cuman murid di akademi ninja?

Naruto tak sendiri. Ia maju menyerang dibantu oleh Sasuke yang tak bisa tinggal diam, melihat anggota klannya dibantai di depan matanya sendiri. Keduanya dibantu para Uchiha yang lain yang masih punya tenaga menyerang bergantian pria bertopeng itu. Sisanya mengevakuasi para korban luka yang masih bisa diselamatkan. Kelibatan pedang Naruto yang bergerak lincah berbaur dengan para Uchiha yang mengandalkan jutsu Katon dan beberapa jutsu khas klan Uchiha lainnya.

Kompleks Konoha membara oleh bara api malam itu. Kobaran api ditengahi oleh suara riuh rendah suara benturan, teriakan dan lain-lain memenuhi setiap sudut tempat. Jika dilihat dari kejauhan, kompleks Uchiha tampak seperti gunung berapi yang hendak memuntahkan lahar panas.

Ada yang bertanya, mengapa tak ada satupun dari anggota klan Uchiha ini yang menggunakan sharingan?

Bukannya mereka tak ingin, tapi tak bisa. Doujutsu sharingan tidak seperti byakugan yang tiap anggotanya pasti memilikinya. Doujutsu sharingan memiliki syarat dan ketentuan yang tidak setiap anggota memilikinya. Hanya sedikit dari anggota klan Uchiha yang berhasil membangkitkan doujutsu sharingan, dan hampir semuanya sudah tewas sejak pria bertopeng misterius itu muncul di kediaman Uchiha menyisakan Itachi seorang. Karena itu, anggota klan yang tersisa hanya bisa mengandalkan kemahiran mereka dalam taijutsu, kenjutsu, dan teknik katon mereka saja untuk melawan si penyusup.

'Aku harus mengakhiri semua ini, sebelum pihak Konoha berdatangan ke tempat ini untuk menyelamatkan Yondaime beserta jinchuuriki Kyuubi yang menyambangi kompleks ini. Tapi, sebelum itu akan ku habisi dulu bocah pirang itu. Jika ku biarkan hidup, ia bisa jadi ancaman di masa depan.' pikirnya yang mulai kewalahan.

Sejak kedatangan bocah pirang itu, serangan para Uchiha jauh lebih terpadu dan bersinergi satu sama lain. Mereka menyerang silih berganti dan saling menutupi kelemahan masing-masing, sehingga ia tidak bisa mengeluarkan jutsu Jikukan ido andalannya secara maksimal.

Akibatnya, serangan para Uchiha yang awalnya bisa ia lenyapkan dengan jutsu Jikukan Idonya —membuat serangan mereka menembus tubuh pria bertopeng itu dengan mengirimnya ke dimensi lain— kini berhasil mengenainya dan melukainya. Jika ini terjadi terus-menerus, pria bertopeng itu pasti kalah telak dengan serangan beruntun dan berkekuatan besar dari para Uchiha yang tersisa.

'Bocah itu pasti tipe sensorik, tipe ninja menyebalkan dan juga merepotkan. Uhh, sial!' rutuknya dalam hati meringis ketika serangan katon Sasuke mengenai punggungnya yang tak sempat ia buat transparan. 'Aku harus berbuat sesuatu, sebelum aku mati konyol di sini,' pikir pria bertopeng itu.

Memanfaatkan kelengahan mereka, pria bertopeng itu berhasil mengecoh mereka dan lalu melompat tinggi di atas tiang listrik. Ia bersiap membuat segel. "Uh, gawat," gumam salah seorang Uchiha panik, begitu menyadari apa yang hendak dilakukan pria bertopeng itu. Ia berteriak nyaris menjerit histeris pada teman-temannya.

"Siapa yang bisa membuat dinding pelin.." matanya membola putus asa. "..terlambat. Habislah riwayat kita sekarang," lanjutnya yang hanya bisa menunduk pasrah, menatap kematian yang sebentar lagi menghampirinya, ketika bola api yang sangat besar menyembur dari mulut pria bertopeng itu.

Tubuhnya membeku di tanah, tak sanggup bergerak. Begitu pula dengan yang lainnya. Oh, mereka bukannya tak sanggup bergerak. Melainkan, memang tak punya pilihan lain selain menyongsong kematian yang ada di depan mata. Tidak ada tempat yang bisa membuat mereka terhindar dari serangan fatal itu, sedangkan mereka juga tak akan sempat membuat dinding pelindung untuk menahan serangan.

Naruto yang tak ingin ada yang terluka, mengerahkan segenap kekuatannya yang ia simpan selama ini untuk melindungi mereka semua dari serangan api sapu jagat pria bertopeng itu. Naruto membentuk bola air raksasa yang mampu menahan serangan api si pria bertopeng.

Benturan jutsu hebat itu tak terelakkan. Terjadilah ledakan yang sangat kuat dan asap tebal mengepul dimana-mana. Hanya orang dengan doujutsu sharingan atau byakugan yang masih bisa melihat dibalik ketebalan asap kabut. Naruto terengah-engah kelelahan setelah mengeluarkan jutsu terhebatnya, hasil latihan kerasnya selama 6 bulan ini.

Kini, tak ada satupun dari pria-pria dewasa itu yang memandang sebelah mata Naruto dan Sasuke. Meski keduanya masih belia, nyatanya mereka bisa mengimbangi kemampuan si Pria Bertopeng. Naruto bahkan mampu mengeluarkan jutsu yang belum mereka ketahui namanya dan akhirnya berhasil menghindarkan mereka dari kematian.

Pria bertopeng itu tidak tinggal diam. Ia melesat cepat, tidak menunggu kabut asap itu hilang, dan lalu menyerang targetnya yakni Naruto. Dalam sekejap mata, ia berhasil berdiri di depan Naruto dan menghajar Naruto yang sudah kelelahan dan lemah, hingga babak belur. Kunainya berhasil menorehkan ukiran luka yang sangat dalam pada organ vital Naruto. Namun, Naruto masih bisa bertahan.

Sasuke yang masih terengah-engah kelelahan hanya bisa bergumam, "Sial! Tidak berguna," memaki dirinya sendiri yang lemah dan tak bisa berbuat apa-apa untuk menolong sang pujaan hati. Matanya melotot seakan-akan hendak keluar dari rongga matanya, ketika si pria bertopeng bersiap mengeluarkan jutsunya untuk membunuh Naruto. "Naruto!" teriaknya parau diantara keputus asaannya.

Dan, tepat saat serangan itu akan mengenai Naruto, seorang nenek tua berrambut putih sudah berdiri di depan Naruto, merentangkan kedua tangannya. Serangan pria bertopeng itu mengenai si nenek dan membuat si nenek terluka parah dan batuk-batuk darah, sebelum akhirnya terjengkang ke belakang. Matanya menatap sayu Naruto. Ia memang sudah tak bisa mengeluarkan jutsu apapun, namun tekadnya untuk melindungi Naruto sekuat baja. Karena itu, ia menjadikan dirinya perisai untuk Naruto.

"Na-Naru-chan," panggilnya lirih diantara nafasnya yang tersengal-sengal. "K-kau ti-tidak apa-apa, kan?"

"Nenek..! hik hik hik.." sahut Naruto parau disertai isak tangis. Matanya masih menatap tidak percaya pada sang nenek. "Kenapa? Kenapa nenek melakukan ini? Kenapa nenek melindungiku?"

"Huh, mana ku tahu. Badanku bergerak sendiri," dengusnya masih bisa bersikap sombong di saat ia sudah sekarat. Ia terkekeh geli dengan leluconnya sendiri. Matanya yang sudah sayu menatap langit malam. "Kemarilah, bocah! Ada yang mau ku berikan padamu, sebagai hadiah karena kau berhasil masuk akademi. Tenang saja! Ini bukan barang tak berguna seperti biasanya," lanjutnya.

Naruto mendekati sang nenek dengan wajah bingung. Ia melihat tangan keriput nenek Orihimi menyentuh matanya. Tiba-tiba saja ia teringat akan percakapannya dengan Kakashi di waktu lampau, mengenai saringan yang tertanam di mata Kakashi. Naruto dengan sigap menahan tangan nenek Orihime.

"Tidak, Nek. Jangan lakukan itu! Aku tidak akan senang dengan hadiah nenek. Aku tidak butuh sharingan nenek," tolak Naruto halus.

Ternyata, nenek Orihime di usianya yang sudah senja berhasil membangkitkan sharingannya. Ia sebelum mati menghadap Kami-sama, berniat memberikan tanda mata, satu-satunya miliknya yang berharga pada Naruto, orang yang amat disayanginya setelah anak dan cucunya yang telah pergi mendahuluinya.

"Lalu, apa yang kau inginkan, Cu?"

"Aku hanya ingin nenek. Bagiku nenek jauh lebih penting dari jutsu paling hebat sedunia sekali pun. Bertahanlah Nek, ku mohon. Teruslah hidup. Aku masih ingin mendengar nenek bercerita tentang Shisui-nii begini, Itachi-nii begitu, Fugaku-jisan begono. Aku bahkan bersedia mendengar nenek bercerita soal Sasuke. Apapun itu akan ku dengarkan. Karena itu, ku mohon Nek, bertahanlah. Jangan pergi! Jangan tinggalkan aku! Hik hik hiks.."

"Anak bodoh. Setiap yang hidup pasti mati. Aku sudah tua, sudah tiba masanya..."

"Siapa bilang nenek sudah tua? Nenek masih lebih muda dari Sandaime-sama,"

"Terima kasih, Nak. Terima kasih," ujarnya sebelum tersenyum untuk terakhir kalinya.

Hatinya terasa damai. Untuk pertama kalinya ia bertemu dengan seseorang yang tidak bernafsu dengan Sharingan, salah satu doujutsu yang sangat hebat di dunia ninja. Ia memang hanya seorang anak kecil, tapi hatinya seluas samudra. Ia yang bukan bagian dari Uchiha, tapi rela melindungi klan Uchiha yang bukan apa-apanya, meski harus bertaruh nyawa.

Orihime merasa well katakanlah tersanjung. Itu adalah sebuah penghargaan tertinggi dari orang di luar klan Uchiha, menurutnya. Sesuatu yang tak ternilai harganya di masa sekarang ini. Sebuah penghormatan kalau ia bagian dari Konoha, seseorang yang berarti karena dia orang Konoha dan bukan karena sharingan yang ia miliki.

Dengan ini, ia bisa pergi dengan tenang. Ia yakin, di masa yang akan datang Uchiha akan baik-baik saja. Uchiha tidak akan pernah hancur selama bocah berhati emas ini masih bernafas. Hanya dengan memandang safir Naruto, Orihime bisa melihat perdamaian yang sejati akan terwujud dan bukan hanya perdamaian semu seperti saat ini.

Naruto merasakan tubuh nenek Orihime terasa dingin, meski wajahnya terlihat tersenyum berseri-seri. Rasa curiga menyeruak dalam hatinya. Ia menggoyang-goyangkan tubuh nenek Orihime lembut. "Nek, bangun! Bangun, Nek! Neneekk!" jeritnya pilu ketika nenek Orihime sama sekali tak merespon panggilannya.

"Tenang saja, Bocah. Kau tidak akan sendiri. Aku akan segera mengirimmu ke sana, menemui nenek tercintamu itu," katanya dingin sama sekali tak tersentuh oleh adegan haru di depannya.

Untunglah, refleks Naruto sangatlah bagus. Ia berhasil berkelit dari serangan terakhir si pria bertopeng, meski ia tak bisa menghindari luka yang pria bertopeng itu torehkan. Si pria bertopeng sama sekali tak memberi Naruto jeda, ia kembali menyerang membuat si bocah pirang mengerang panjang. Dan, pada serangan ketiga Naruto terkapar bersimbah darah, entah hidup entah mati.

Sasuke membola melihat Naruto yang sudah terbaring tak berdaya di atas permukaan tanah. Saat itulah, ia merasakan denyutan rasa sakit yang amat sangat. Ia seperti tersesat ke dalam lubang kegelapan yang membelenggu tubuh, hati, dan pikirannya. Ia tenggelam dalam penyesalan dan keputus asaan untuk pertama kalinya.

Setelah itu, Sasuke merasakan adanya ledakan energi yang menyelimuti dirinya, mengalir dari pusat cakranya lalu menjalar ke seluruh tubuhnya dan berakhir pada matanya. Luapan energi itu terasa sangat kuat dan Sasuke yang sudah terbakar api amarah melesat cepat menghantam si pria bertopeng sebelum ia berhasil menorehkan kunainya ke jantung Naruto.

Sasuke tak mengerti ada apa dengan dirinya. Yang ia tahu, kini ia bisa lebih bisa membaca gerakan si pria bertopeng dengan jelas. Ah, bukan hanya mengimbangi kecepatannya, ia bahkan sanggup meniru gerakan lawannya lebih baik dari saat sharingan Sasuke masih bertomoe satu. Ia seperti melihat gerak lambat dari si pria bertopeng. Dengan kekuatan barunya, ia menyerang si pria bertopeng dan tak membiarkannya menyentuh Naruto lagi seujung kuku pun.

...*****...

"Hokage-sama," katanya sembari memberi hormat pada pimpinan desa Konoha, hendak bertanya, namun sudah didahului oleh Fugaku dengan suara dinginnya.

"Mau apa kau kemari?"

"Mencegah kegilaan ini." jawab Minato tenang. Ia mengambil tempat duduk di depan Fugaku diikuti Menma di sisinya.

"Sudah terlambat Minato. Tekad kami sudah bulat."

"Pikirkan sekali lagi Fugaku. Pikirkan akibatnya pada Uchiha-Uchiha muda dan yang sudah kakek-nenek. Mereka tak bersalah apa-apa. Haruskah mereka turut jadi korban akibat keegoisanmu itu? Tolong pikirkan! Jangan bertindak gegabah!"

Fugaku mencengkeram jemari tangannya erat. "Aku sudah memikirkannya masak-masak Minato. Kau pikir kami senang melakukan ini? Kau pikir kami tidak sakit melihat penderitaan Itachi yang harus menanggung kegagalanmu sebagai seorang hokage. Anak kami, Itachilah yang harus berlumuran darah keluarganya, klannya. Ia-lah yang harus rela diusir dari desa dengan membawa nama yang tercemar. Dan, ia juga masih harus menanggung kebencian adiknya? Kami juga terluka. Tapi, apa kau memberi kami pilihan?"

"Karena itulah, hari ini aku datang untuk negoisasi. Kita bicarakan ini baik-baik."

"Baik-baik? Katakan itu pada tetua desa busuk desa ini! Mereka yang baru datang belakangan, menumpang jerih payah klan kami, lalu memperlakukan kami layaknya sampah. Padahal, klan kamilah yang pertama berkeringat dan berdarah-darah membentuk desa ini." ujar Fugaku dengan nada tinggi.

Tangannya kembali mengepal erat, menahan segala jenis ejekan dan himpitan beban karena dikucilkan dari pergaulan antar klan di desa. "Kami para Uchiha juga memiliki harga diri. Kami tak terima dicurigai dan diperlakukan layaknya penjahat. Karena itulah, aku akan memimpin revolusi dan mengembalikan track record awal tujuan pendirian desa Konoha."

"Aku mengerti Fugaku. Kesalahan kami pada klanmu memang banyak. Aku bersedia menebusnya hari ini. Aku bersedia mengundurkan diri dari jabatan hokage dan menawarkan jabatan itu padamu. Tapi, ku mohon hentikan perang ini,"

Semua Uchiha yang berada di ruangan itu terkesiap, tak menyangka kalimat itu bisa keluar dari bibir seorang Minato. Fugakulah yang pertama terjaga dari kebekuan, efek maut dari pernyataan Minato yang mendadak. "Percuma. Tak akan berhasil. Kalau pun bisa, ku rasa jabatan itu hanya ada di atas kertas, seperti jabatan kami selama ini." tolak Fugaku.

"Bisa, pasti bisa. Aku bisa meyakinkan para tetua. Sandaime-sama juga sudah setuju. Karena itu.."

"Karena itu, itu tak mungkin terjadi. Kau lupa alasan utama kenapa kami dikucilkan? Selama isu mengenai keterlibatan klan kami dengan pria bertopeng yang mengendalikan Kyuubi untuk menghancurkan Konoha 7 tahun lalu belum cair, maka selamanya, kami akan terus dijadikan tersangka."

"Itu perkara mudah. Aku bisa menyelesaikannya mal..."

DUARRRRR

Suara ledakan nan hebat akibat dua jutsu tingkat tinggi berbenturan mengintrupsi percakapan mereka. Tak berapa lama muncul kepulan asap. Seorang anbu dengan topeng inu memberi laporan pada Minato.

"Ada apa?" tanya Minato dengan penuh wibawa.

"Lapor Hokage-sama. Ada penyusup. Pria bertopeng yang pernah mengacau Konoha 7 tahun lalu muncul kembali di kompleks Uchiha, menimbulkan banyak kekacauan dimana-mana."

'Jadi, dia sudah datang.' Pikir Minato. Sekarang akan jauh lebih mudah meyakinkan para tetua itu untuk menghentikan diskriminasi pada Uchiha. "Apa para anbu sudah berdatangan ke sana untuk mengamankan keadaan?"

Bulir keringat dingin mengalir di balik topengnya. Ia menelan ludahnya susah payah, seakan-akan ada yang menyumbat tenggorokannya. "M-maaf Hokage-sama. Tak ada satu pun anbu yang datang."

"Apa? Bagaimana bisa?" teriak Minato murka karena ini tidak sesuai dengan rencananya. 'Apa mungkin ini ulah dari para tetua busuk itu?' batin Minato.

'Tuh, kan apa ku bilang? Ini percuma. Mereka memang berniat membiarkan klan kami habis tak bersisa.' Pikir Fugaku, Mikoto dan Itachi secara bersamaan sudah pasrah akan nasib para Uchiha.

"Sebagian membantu Sandaime-sama untuk melawan Danzo dan anbu ne yang terbukti telah mencoba membunuh Shisui untuk merebut sharingannya."

'Uh, ini juga tak sesuai kesepakatan. Apa yang sebenarnya sedang direncanakan Sandaime-sama? Kenapa Sandaime-sama berbuat sejauh itu?' keluh Minato dalam hati. "Sisanya lagi?"

"Mengamankan para penduduk desa. Sekarang desa tengah mencekam berkat benturan hebat yang terjadi dari kompleks ini."

'Oh, begitu. Pantas saja.' pikir Minato. Ia sudah berniat memberi perintah selanjutnya pada Kakashi, sampai ia melihat ada kilatan tak nyaman di mata Kakashi yang coba-coba ditutupinya di balik topeng inu-nya. "Apa ada yang kau sembunyikan dariku, Inu-san?" tanyanya dengan nada berbahaya.

Tubuh Kakashi mengejang kaku. Bulir keringat dingin sebesar biji jagung kembali mengalir di pelipisnya. "Ho-hokage-sama. Mohon jangan marah dulu!" katanya mengawali, terdengar tak yakin bahkan di telinganya sendiri.

Mata Minato menyipit tajam. "Kenapa aku tak boleh marah?"

"Err.." gumam Kakashi terdengar kurang yakin dan memperlihatkan ketidak profesionalannya. "Saat ini para Uchiha sedang bertarung dengan pria bertopeng itu. Karena kalah hebat, banyak dari para Uchiha yang tewas dan terluka,"

"I-N-U-S-A-N!" panggil Minato dengan nada yang menjanjikan neraka pada bawahannya. Ia mau jawaban pasti bukan yang berbelit-belit.

"D-diantara pasukan para Uchiha itu, ada dia." Pekiknya serak, mirip seperti suara orang sedang tercekik.

Minato dan Menma bergerak tidak nyaman di tempat duduknya. "Dia? Siapa yang kau maksud dia, itu?" tanya Minato berdoa semoga dugaannya salah.

"Na-Na-ru-to.." sahut si anbu inu terbata-bata dan lirih.

"APA!" teriak Minato dan Menma bersamaan dengan mata membulat.

Minato langsung menghilang dengan hiraishinnya menuju tempat Naruto bertempur, menyisakan Menma yang berniat menginterograsi si anbu inu yang malang. "Untuk apa Naruto ke sini dan terlibat pertempuran ini? Memangnya, ia bisa apa?" tanya Menma berusaha menyembunyikan kepanikannya.

Anbu inu itu panas dingin dengan deathglear gratisan dari putra atasannya. Ia merasa neraka sudah di depan mata hanya dengan memandang iris Menma. Ia makin cemas akan nasibnya nanti, jika ia mengutarakan berita lainnya. Ia hanya bisa komat-kamit berharap masih bisa bernafas setelah ini.

"Ha ha ha..." tawa Fugaku menggelegar, memberi waktu si anbu inu untuk berdoa lebih khusyuk dan menata hatinya yang sedang gundah.

Fugaku menertawakan wajah syok Minato yang sehari-harinya selalu cangar-cengir tidak jelas. Ia pernah mendengar kabar kalau Minato itu anti-mainstream. Banyak dari kebijakan dan taktiknya yang tidak mengikuti aturan pada umumnya. Diantara semua tindakan gilanya itu —menurut Fugaku— inilah yang paling gila. Bisa-bisanya ia menyuruh anaknya yang masih duduk di akademi melawan pria misterius, berbahaya dan sangat kuat itu?

"Mu-mungkin Naruto-sama mengikuti Sasuke. Ia juga terlihat di sana membantu para anggota Uchiha lainnya melawan pria bertopeng itu," ujar si anbu inu dengan suara yang semakin terdengar lirih yang berhasil membuat Fugaku terdiam dan berganti jadi syok.

Mata Fugaku, Mikoto dan Itachi sama-sama melotot sempurna. Mereka terkejut luar biasa mendengar Sasuke mereka yang rencananya akan dibiarkan tetap hidup untuk membersihkan nama klan Uchiha suatu saat nanti, malah sudah terlibat pertarungan, menghadapi pria berbahaya itu.

Tanpa menunggu kelanjutan dari laporan bertele-tele si anbu inu, keempatnya langsung pergi meninggalkan rumah dengan shunshin, menuju medan pertarungan antara pria bertopeng dengan para Uchiha lainnya.

...*****...

Safir Minato membola. Ia dilanda rasa terkejut ketika ia disuguhi dengan pemandangan Sasuke bertarung satu-satu dengan pria bertopeng itu, di tengah para jounin dan Chuunin Uchiha yang bergelimpangan. Ia melihat sharingan Sasuke sedikit berbeda dengan sharingan pada umumnya. Bentuknya hampir menyerupai sharingan Itachi. Kalau tidak salah ingat, Itachi bilang itu...

"Mangenkyo sharingan," pekik Minato lirih. 'Sejak kapan Sasuke punya mengenkyou?' pikirnya heran. Ia bahkan tak tahu kapan sharingan Sasuke bangkit. 'Tapi, kenapa ia masih duduk di akademi ya? Seharusnya, dengan kemampuannya sekarang, ia sudah layak menyandang gelar chuunin. Ah bukan, seharusnya jounin, setara dengan Kakashi.' Pikir Minato bertambah bingung.

Jauh di belakang Sasuke, Minato melihat Naruto yang terbaring di tanah bersimbah darah. Urat-urat syaraf di sekujur tubuh Minato bereaksi. Hatinya seperti dibakar api amarah melihat putra kesayangannya terbaring di tanah. "Naruto!" panggil Minato sedih.

Ia menguatkan mentalnya memeriksa denyut nadi Naruto untuk memastikan kondisi putranya, hidup atau pun mati. Betapa leganya dia, begitu tangannya berhasil mendeteksi denyut nadi Naruto yang masih berdetak, meski lemah. Ada rasa bahagia menyeruak, memenuhi rongga tubuhnya. Harapannya akan keselamatan Naruto membuncah dalam dada.

"Putraku masih hidup. Bawa dia ke tempat yang aman. Akan ku urus sisanya. Kalian pergilah! Obati luka-luka kalian!"

Mereka tidak segera melakukan perintah Minato. Bukannya mereka mau membangkang. Mereka hanya terkejut dan bingung. "Ho-Hokage-sama," pekik para Uchiha yang masih bisa berdiri tegak, gembira.

Ternyata Hokage mereka tidaklah sejahat yang mereka pikir. Hokage mereka tidak menelantarkan mereka dan membiarkan mereka dibantai begitu saja. Hokage mereka bersedia turun tangan, untuk menolong mereka. Beliau bahkan mengirim putranya untuk membantu mereka. Oh, itu sesuatu banget.

"Anda datang! Anda sungguh-sungguh datang! Untuk kami?" tanya salah satu dari mereka masih tak percaya dengan yang mereka lihat. Matanya berkaca-kaca penuh haru.

"Tentu saja. Aku mungkin terlambat menyelamatkan nyawa Obito dan Rin. Tapi, kali ini tidak akan terulang lagi. Tak akan ku biarkan rakyatku dari klan Uchiha musnah tepat di bawah hidungku."

"Kenapa Anda mau berbuat sejauh itu?" tanya pria tua yang tangannya terluka.

"Aku sudah berjanji pada Kagami akan selalu menjaga klan Uchiha, tak akan membiarkan hal buruk menimpa klan ini," kata Minato dengan wajah sendu mengingat sang sahabat yang sudah lama pergi dari dunia ini. "Lagipula, ini juga sebagai bentuk pemintaan maafku pada kalian, untuk kegagalanku menghentikan kebijakan mengisolasi klan Uchiha." Lanjutnya muram.

"Uwah, manis sekali. Hokage-sama kita yang terhormat, memang pandai berkata-kata dan juga bersandiwara! Kau pura-pura datang, jadi pahlawan kesiangan hanya untuk menikam kami dari belakang. Iya, kan? Rencana yang sangat licik. Persis seperti yang dilakukan Senju Hashirama dulu." Hina pria bertopeng itu. Kehadiran Minato berhasil membuat pertarungannya dengan Sasuke terhenti.

"Tutup mulutmu! Yondaime-sama tidak serendah itu," geram Sasuke.

"Oh ya? Kalau begitu tanyakan padanya, kenapa aku bisa dengan mudah memasuki kompleks Uchiha ini dan membantai kalian satu per satu tanpa ketahuan pihak Konoha? Itu adalah bukti jika memang hokage kalian yang mengundangku kemari untuk memusnahkan kalian. Lihat! Bahkan tak ada anbu yang berdatangan kemari. Kau mau bukti apalagi?"

"BOHONG!" tukas Sasuke sengit, "Kau bisa keluar masuk kompleks Uchiha karena memang kau dulunya bagian dari klan Uchiha. Kau mantan anggota klan Uchiha." Perkataan Sasuke membuat semua orang terkejut. Mereka tak menyangka. Lawan mereka ternyata masih bagian dari Uchiha juga. Jangan-jangan, lawan mereka ini Madara?

"Naruto yang mengatakan itu padaku, sebelum dia.. dia..." Sasuke tergugu di tempat tak sanggup mengatakannya. Ia takut amat sangat takut jika Naruto telah...

"Naruto masih hidup."

"Be-benarkah? Anda tidak bohong, kan?" Minato mengangguk sebagai balasan. Sasuke mengusap air matanya lega. Belum pernah ia selega ini. Rasa takutnya seolah terbang, diterbangkan oleh angin.

"Oh, sungguh adegan yang mengharukan," ejek si pria bertopeng. "Kalau pun aku bagian dari Uchiha. Bukan berarti aku bisa keluar masuk Konoha sesukaku, tanpa diketahui oleh para Anbu. Itu sesuatu yang mustahil bukan?" lanjutnya bengis.

"Sedang, kenapa tidak ada anbu yang menyadari kedatanganmu?.." Sasuke memberi jeda sejenak. "Itu karena separuh tubuhmu memiliki anatomi dan cakra yang sama dengan dia, Penyusup aneh yang berbentuk seperti tanaman Venus-fly-trip. Dia memiliki cakra yang menyerupai pohon atau tanah dan ia juga bisa menyedot cakra seseorang lalu menduplikasi dirinya menjadi orang tersebut sama persis sampai cakranya. Karena itu, para anbu tidak menyadari adanya penyusup dan menganggap mereka berdua bagian dari Konoha juga."

"Uwach, hebat. Benar-benar keturunan Uchiha. Selain genius, kau juga ahli mengarang cerita rupanya," puji Pria bertopeng itu dengan senyum sinis.

"Karangan? Sayangnya, aku punya bukti untuk menunjukkan kata-kataku. Lihat ini!"

Pria bertopeng itu terbelalak kaget, saat Sasuke memperlihatkan potongan tangan dari Zetsu putih. Matanya kini berkilat marah. Hasratnya untuk membunuh bocah cilik itu semakin besar. Tidak ada ampun untuk Sasuke, meski menurut perjanjiannya dengan Itachi, hanya Sasuke yang tak boleh ia bunuh.

"Ini bagian dari tubuh si penyusup, partner crimemu yang berhasil diperoleh Naruto dengan susah payah. Jika kami berhasil mengalahkanmu dan lalu kami meneliti tubuhmu, pasti akan ditemukan kesamaan antara tangan terpotong ini dengan sebagian dari tubuhmu. Benar bukan Uchiha-san?"

"KEPARAT KAMU!" geramnya dalam sekejab berpindah tempat untuk melayangkan pukulan pada Sasuke, tapi Minato tidak kalah cepat langsung melindungi putranya.

"Lawanmu sekarang aku. Aku jauh lebih pantas bertarung denganmu dari pada putra sahabatku yang masih ingusan,"

"H-Hokage-sama,"

"Pergilah Sasuke! Serahkan sisanya padaku,"

"T-tapi..."

"Pergilah! Tolong, jagalah Naruto untukku. Jangan pernah meninggalkannya dalam keadaan apapun!" ujar Minato tak menerima penolakan sebelum menyongsong si Pria bertopeng.

"Hati-hatilah! Ia memiliki jutsu yang mampu membuatnya transparan dan memindahkan seranganmu ke lokasi lain atau dimensi lain. Saat menggunakan jutsu itu, cakranya tidak akan bisa dideteksi. Kelemahannya hanya satu, ia tak bisa menggunakan jutsu itu lebih dari 5 menit. Ia juga memiliki kemampuan regenerasi sel seperti Hashirama Senju." Kata Sasuke mengingatkan.

Lima menit kemudian, rombongan Fugaku tiba. "Mana penyusup itu?" tanya Fugaku pada Sasuke.

"Sedang bertempur dengan Hokage-sama di luar desa."

"Naruto? Bagaimana dengan Naruto?" desak Menma.

"Ia terluka parah, tapi ia selamat." kata Sasuke dengan suara lemah, menunjuk Naruto yang kini sedang diobati oleh tim medis yang dipanggil Minato.

Menma tersenyum tipis sebelum pergi menyusul Yondaime. Ia berpesan, "Jangan ikuti kami. Biarkan kami berdua yang menyelesaikannya," yang mau tak mau dipatuhi oleh para Uchiha dan anbu yang mulai berdatangan di tempat itu.

Malam masih panjang. Dan suasana, mencekam yang menyelimuti desa masih akan berlangsung. Mungkin keadaan ini akan selesai usai matahari terbit dari arah Timur. "Semoga saja," ujar para warga desa Konoha dalam doanya.

...*****...

Pertarungan seru antara Minato dengan pria bertopeng itu terjadi sangat sengit di lembah akhir. Keduanya sama-sama menampilkan jutsu rank S dan terlarang andalan masing-masing. Suara letusan dan kepulan asap beberapa kali mewarnai pertarungan mereka.

Pria itu lalu mengeluarkan jutsu berupa ledakan bom yang sangat besar. Menma yang melihat Minato terluka mengalami trans dan terbakar amarah. Tubuh Menma dilapisi cakra merah berbentuk rubah. Jumlah ekornya bertambah sesuai dengan tambahan cakra yang ia dapat —bukan Kyuubi mode yang sebenarnya—.

Menma mengeluarkan bulatan energi untuk melawan ledakan bom super besar itu. Ia mengeluarkan rantai panjang dari dalam perutnya, ciri khas senjata Kushina untuk menyerang lawannya. Gerakannya lincah dan menyatu seirama dengan gerakan Minato.

Gabungan kekuatan itu membuat pria bertopeng itu kuwalahan. Ia merasakan cakranya menipis dan sebentar lagi ia akan kalah. Pria bertopeng itu berhasil mencuri waktu untuk sembunyi di ruang dimensinya. Ia muncul tepat saat Minato lengah dan menusuk jantungnya. Namun, Minato juga tak kalah cerdiknya, ia juga menusuk pria bertopeng itu di bagian dada dekat jantung, sesaat sebelum ia ambruk.

Si pria bertopeng yang masih kuat, berhasil menghilang dan bersembunyi di dimensinya. Setelah itu, ia muncul dan menembakkan serangan kuat pada Minato yang terbaring terlentang tak berdaya di tanah. Menma tiba-tiba muncul menjadi perisai untuk Minato. Dengan sisa cakranya, ia menyerang si pria bertopeng dengan rantai cakra andalannya.

Kini, mereka bertiga sama-sama terluka parah, terengah-engah di tanah. Zetsu yang tadi menghilang muncul lagi. Matanya hanya melirik sinis Menma dan Minato yang sekarat dan lalu membawa pergi si pria bertopeng yang sudah terluka parah. Ia membiarkan Minato dan Menma hidup karena ia pikir Minato dan Menma tak akan selamat.

Bibirnya tertarik, menyeringai, menertawakan kebodohan dan kelemahan si Yondaime dan anaknya. Semua usaha mereka untuk melindungi Konoha pada akhirnya akan berakhir sia-sia. Setelah ini, Kyuubi yang merasakan jinchuuriki-nya sekarat pasti akan memberontak keluar. Selanjutnya, ia akan mengamuk dan menghancurkan Konoha. Kali ini, tak ada lagi yang bisa menghalangi Kyuubi. Konoha akan hancur dan rata dengan tanah. Oh, Zetsu sangat ingin sekali melihatnya, kalau saja ia tak ada tugas membawa Obito yang terluka.

To be Continue

Sebenarnya aku udah ngetik fic ini bulan kemarin, cuman wordnya kurang. Jadi, publishnya aku tunda. Habis itu, aku sibuk dengan segala persiapan pernikahan, jadilah fic ini terkatung-katung di lappyku berhari-hari dan berminggu-minggu.

Sekian dari saya. Untuk terakhir kalinya, Ai minta saran dan kritiknya dari para reader sekalian. Sudilah kiranya meninggalkan jejak di kotak review.