BRUK!
Tubuh bartender itu dihempaskan ke kasur. Manik cokelat sang bartender terbelalak begitu melihat suara kenop pintu yang sengaja dikunci.
Kunci private room dimasukan ke saku celana. Taehyung menatap bartender itu remeh. Ia menjilat bibirnya sensual begitu melihat bartender kesayangannya—Jeon Jungkook—menatap dirinya penuh takut dan waspada. Tatapan mangsa di hadapannya justru mengundang birahinya untuk berbuat lebih kejam. Rasanya ekspresi Jungkook yang ketakutan merupakan hal yang paling disukai Taehyung.
Taehyung menindih Jungkook begitu bartender itu berusaha melarikan diri. Kedua pergelangan tangan Jungkook di bawah kuasa Taehyung. Bibirnya menyungging senyum saat Jungkook bergerak risih karena netra hazelnya memandang setiap inci wajah sang bartender.
"Kau takut?" Jungkook mendelik begitu Taehyung bertanya kepadanya.
"Pergi dariku, brengsek." jawab Jungkook acuh.
Seringai Taehyung semakin tercetak jelas, "Hebat juga."
Tubuh Jungkook tersentak ketika Taehyung dengan sengaja meraba area pribadinya yang menegang dengan gerakan sensual.
"Astaga!" Jungkook merapatkan kakinya sebagai refleks, tetapi hal itu malah membuat tangan Taehyung terjepit di area kejantanannya, "S-singkirkan tanganmu!"
"Heh?" Taehyung berpura-pura bodoh. Ia mulai meremas pelan 'benda' dibalik celana lawan mainnya itu. "Benda apa ini? kok bisa menegang begini? sudah berapa lama kau menahannya?"
"Aah... singkirkan—argh—brengsek— DASAR PENJAHAT KELAMIN!" Jungkook berteriak begitu jari Taehyung semakin melakukan gerakan sensual yang mungkin saja membuat dirinya orgasme jika ia tidak menahannya.
Taehyung semakin menyeringai, "Ya, aku memang penjahat kelamin." Ia meremas kejantanan lawan mainnya yang semakin menegang, "Dan penjahat kelamin ini akan merebut keperawanan kelaminmu."
"Brengsek."
"Aku pesan satu gelas sperma Jeon Jungkook ya tuan bartender. Ah, ratusan gelas juga boleh." Jari Taehyung mulai membuka resleting celana Jungkook.
"DASAR CABUL BRENG—" Umpatan itu terputus ketika bibir Jungkook dibungkam oleh Taehyung. Jungkook segera menutup bibirnya sebab ia tidak mau mengulangi kesalahan yang sama, membiarkan lidah Taehyung masuk karena ia lalai membuka mulutnya seperti beberapa hari yang lalu.
Ciuman itu diputus sepihak oleh Taehyung karena ia jengkel melihat Jungkook yang tak membuka bibirnya.
"Buka mulutmu saat aku mencium mu. Jangan khawatir, kau dibayar olehku untuk melakukan seks ini. Aku akan membayar dengan semua gajiku sebagai pembunuh." manik hazel itu menatap Jungkook tajam penuh keyakinan.
"Aku tak butuh uangmu. Aku tidak serendah pelacur yang rela menyerahkan tubuh hanya demi uang. Lebih baik aku mati daripada bersetubuh dengan pria cabul sepertimu." Jungkook menatap tajam pemuda di atasnya tanpa rasa takut, "Aku tidak peduli kau pembunuh bayaran atau apa, tetapi aku tidak akan pernah tunduk kepadamu hanya karena kau orang yang menakutkan."
Manik hazel itu sedikit terkejut. Untuk pertama kalinya ia melihat ada korban yang berani berbicara seperti itu kepadanya.
Menarik. Pemuda dibawahnya ini sungguh menarik.
Ia sangat menyukainya.
"AH!"
Taehyung tak bisa menahan napsunya untuk tidak membuat tanda. Giginya menciptakan warna yang kontras dengan warna kulit leher bartender itu. Dengan cepat ia kembali membungkam bibir sang bartender. Berhasil, mulut lawan mainnya itu terbuka. Taehyung segera menjelajahi mulut Jungkook dengan brutal.
"Hmmgh! Hmmph!"
Desahan tertahan itu semakin membuat birahi Taehyung meningkat. Pikirannya tertuju untuk segera merasakan tubuh Jeon Jungkook.
"!"
Manik hazel itu terbelalak ketika Jungkook mengigit bibirnya. Ciuman itu kembali terlepas. Taehyung merasakan likuid merah yang keluar dari belah bibirnya. Taehyung lengah, dan itu menjadi kesempatan yang dimanfaatkan Jungkook untuk mendorong pemuda itu. Jungkook mengubah posisi, kali ini ia yang menindih Taehyung.
"Masih seratus tahun untukmu agar bisa menyetubuhi Jeon Jungkook." tangan Jungkook menelusup ke dalam saku celana Taehyung, "Maaf tuan, tapi lubangku mahal. Kau harus membayarnya dengan nyawamu kalau ingin menyodok lubangku, brengsek."
Jungkook langsung berlari menuju pintu begitu kunci kamar sudah ditangannya. Ia memasukan kunci itu dan langsung berlari keluar kamar begitu pintu terbuka. Tak lupa ia kembali mengunci private room itu—dengan kata lain, Jungkook mengunci Taehyung dalam ruangan private room itu.
Taehyung tercengang menatap pintu kamar yang terkunci. Ia merasa dibodohi.
"Astaga aku gagal lagi."
.
.
.
Jungkook berlari menuju meja bartender dengan napas terengah-engah. Ia segera melempar kunci private room itu ke tempat sampah yang tak jauh dari meja itu. Jungkook ingin pergi lagi, tetapi pergelangan tangannya ditahan hyungnya.
"Jungkook kau mau kemana?" pertanyaan yang dilontarkan hyungnya itu membuat Jungkook kesal.
"Yoongi hyung maafkan aku. Hari ini aku absen dulu. Tolong gantikan jam kerjaku dengan bartender lain."
Yoongi ingin protes tetapi ia menelan kembali rasa protesnya begitu melihat satu tanda yang sangat kontras dengan warna leher Jungkook. Sebuah tanda kepemilikan.
Wajah Yoongi sedikit memerah. Ia memberanikan diri bertanya, "K-kau sudah melakukan 'itu' dengan Kim Taehyung?"
Jungkook reflek menutupi bekas itu dengan sebelah tangannya. Wajah bartender itu turut memerah. Ia mengabaikan pertanyaan itu dan memilih untuk segera pergi dari tempat ini.
"Dilihat dari penampilannya, sepertinya dia belum melakukannya."
Yoongi menatap Jimin yang baru saja mengungkapkan kesimpulan. Apa? Belum melakukannya? rasanya Yoongi tak bisa menerima kesimpulan itu karena tanda kissmark itu jelas berada di leher Jungkook.
"Ayolah berpikir rasional, Yoongi. Penampilan orang yang telah melakukan seks itu kemeja yang berantakan, rambut acak-acakan, bibir yang membengkak karena terlalu banyak dicium, banyak kissmark sana-sini, dan bau sprema yang menusuk. Dari semua penampilan itu, hanya kissmark yang ada di tubuh Jungkook. Itu pun hanya satu. Kau lihat sendiri 'kan kalau penampilan Jungkook masih terbilang rapih untuk seseorang yang baru melakukan seks?" Penjelasan panjang lebar Jimin cukup masuk akal. Yoongi mengangguk-angguk tanda mengerti.
Dor Dor Dor
Samar-samar Yoongi mendengar ada suara tembakan dari ruang privasi yang tak jauh dari meja barnya. Ia menatap pemuda bersurai hazel yang perlahan-lahan menampakan diri. Pemuda itu berjalan mendekati meja bar. Tatapannya membuat Yoongi merinding. Nampaknya Taehyung sedang marah.
"Gimana? sudah bersenang-senang?" Jimin bertanya sambil terkekeh. Padahal ia tahu jawaban apa yang akan dilontarkan Taehyung.
"Dia kabur lagi, brengsek." Taehyung mengacak surainya frustasi, "Dia merebut kuncinya dan balik mengunciku."
"Oh, jadi suara tembakan tadi karena kau menghancurkan kenop pintu?"
Yoongi terbelalak. Apa? menghancurkan kenop pintu?
"Maaf tuan, tapi di peraturan private room dilarang keras merusak properti atau fasilitas yang disediakan. Karena Anda telah merusak pintu private room kami, Anda harus ganti rugi." Yoongi membuka suara. Diam-diam ia memegang gelas wine dengan kuat. Ia sedikit kesal pada Kim Taehyung—dan mungkin ini perasaan yang dirasakan Jungkook begitu berhubungan dengan pemuda ini.
Yoongi tidak mendapatkan uang ganti rugi, tidak mendapatkan layangan protes, tidak mendapatkan permohonan maaf.
Ia mendapati moncong revolver di dahinya.
"Beritahu aku semua informasi tentang Jeon Jungkook." satu perintah keluar dari bibir kotak itu. Yoongi merinding merasakan dinginnya moncong revolver yang menekan dahinya.
"Aish, jangan membunuh Yoongi," Taehyung merasakan sesuatu mengarah kepadanya, "Kalau tidak ingin dibunuh juga."
Jimin juga mengarahkan revolvernya, tetapi kepada Taehyung. Taehyung mengernyit. Nampaknya Jimin serius akan membunuhnya jika ia membunuh bartender ini.
"Baik, aku menyerah." Revolver dimasukan kembali kedalam saku. Taehyung merogoh ponselnya, "Aku akan mengganti kerugiannya. Kukirim sepuluh juta won ke rekeningmu, Min Yoongi."
Yoongi terbelalak untuk kedua kalinya. "A-apa? harga pintu itu tidak sampai sepuluh juta won. Kau tidak perlu mengirim sebanyak itu."
"Sisanya bisa kau pakai buat beli sex toy atau pabrik kondom." Taehyung menjawab dengan dirty talk. Jimin terkekeh geli melihat wajah Yoongi yang sangat shock mendengar jawaban nista itu.
Taehyung memasukan ponselnya setelah berhasil mengirimkan uang itu, "Nah, sekarang beritahu aku semua informasi Jeon Jungkook."
"Kau mau apa? aku tak bisa memberitahu informasi sahabatku kepada orang yang baru saja menodongkan revolvernya pada seorang bartender." sindiran tajam yang dikemas dalam bahasa halus. Taehyung menghela napas mendengarnya. Ternyata bartender ini hampir sama dengan Jungkook, sama-sama menyebalkan.
"Lanjut memerkosanya." jawab Taehyung acuh.
"Ew, Dasar pria bejat."
Taehyung menatap tajam kepada Jimin.
"Kan sudah kubilang untuk menahan napsumu. Lagipula tindakanmu itu tidak sopan. Kau memaksa seseorang untuk berhubungan badan denganmu sedangkan orang itu tidak mau. Harusnya kau merayunya dulu, memberi hadiah, dan menunjukan perbuatan bahwa kau mencintai dia. Mana ada orang yang menunjukan rasa cintanya hanya dengan seks? pikiranmu sempit sekali." Jimin menepuk bahu temannya itu.
'Tetapi sebenarnya dia menerima perlakuanku kok. Buktinya dia menegang tadi.' batin Taehyung membela diri.
"Buktinya aku tidak memaksa Yoongi untuk melakukan seks denganku—yah meskipun aku sangat ingin." Yoongi terbelalak untuk ketiga kalinya mendengar ucapan Jimin, "Tapi aku melakukan perbuatan yang menunjukan bahwa aku mencintainya. Di toko boneka pagi tadi aku membawa boneka kumamonnya, memeluknya, dan menautkan jemari ku dengannya. Itu perbuatan sederhana tetapi dapat membuat orang senang."
"Cih, anak-anak sekali." Taehyung mendengus.
"Tetapi Yoongi menerimanya. Sedangkan kau? jangankan diterima, kejantananmu malah ditendang. Dan apa tadi? kau dikunci olehnya saat mau melakukan hubungan badan? ahahaha."
Jleb. Sakit tetapi tidak berdarah.
Taehyung menghela napas. Mungkin ia harus mengendalikan napsunya kepada Jungkook kalau ingin pemuda kelinci itu menerima cintanya.
"Tolong beritahu aku alamat rumah Jungkook. Aku ingin minta maaf padanya."
V UCK YOU
BTS (c) Big Hit
Fanfiction by Rikka-Yandereki
Pairing: Kim Taehyung (V) x Jeon Jungkook
VKOOK
Killer!V x Bartender!JK
Rated: M
WARNING: Typo, Dirty Talk, OOC dll.
Bagi yang tidak nyaman dengan konten tersebut mohon tidak membacanya.
Hari ini Jungkook tidak melakukan aktivitas yang berarti. Kerjaannya dari pagi hingga sore hari ini hanya bergelut dalam kasur dan membungkus tubuhnya dengan selimut tebal. Kejadian kemarin membuat dirinya malas keluar rumah. Baru beberapa menit yang lalu ia keluar dari rumahnya, ada tetangga yang melihat kissmark di lehernya dan bertanya 'Kau sudah memiliki kekasih, ya?'
Jungkook lelah dengan pertanyaan itu. Ia sama sekali tidak memiliki kekasih. Kemarin ada pria cabul yang nyaris memerkosanya. Beruntung kemarin akal sehat yang mengambil ahli pikiran Jungkook sehingga pemuda kelinci itu tidak terbuai dengan perlakuan Kim Taehyung. Ia memang terangsang tetapi hanya sedikit.
Tidak. Ia tidak berharap agar Taehyung melakukan lebih.
Tangannya mengambil ponsel yang tak jauh darinya. Jam menunjukan pukul 6:30 PM. Ia mengecek dan melihat ratusan pesan yang menumpuk. Isinya hampir seluruh nomor yang tak dikenal.
"Brengsek, pasti ini si Kim sialan itu." Jungkook menenggelamkan wajahnya dalam bantal. Ia lelah dengan semua ini. Haruskah ia melakukan operasi plastik agar wajahnya tidak dikenali lagi oleh Kim Taehyung? jujur saja Jungkook memang sering digoda oleh pelanggan, tetapi ia selalu menang. Ia selalu berhasil menolak pelanggannya dengan halus dan pelanggannya juga menyerah untuk menggodanya.
Tetapi Kim Taehyung tidak menyerah terhadapnya.
Jungkook membuka situs berita kriminal di ponselnya. Hampir seluruh judul berita itu tentang pembunuhan—dan Jungkook mengernyit ketika tempat terjadinya pembunuhan itu merupakan tempat yang pernah ia kunjungi.
"Terjadi pembunuhan di toko boneka—"
DING DONG
Suara bel itu menyita perhatianya. Jungkook segera turun dari kasurnya dan berjalan menuju pintu. Seingatnya tidak ada temannya yang akan datang ke rumahnya. Lantas siapa?
"Siapa—"
Jungkook langsung menutup pintunya begitu tahu siapa yang datang. Sialnya kaki sang tamu itu lebih dulu mencegah pintu agar tidak tertutup.
"Begitu caramu memerlakukan tamu yang datang? dasar tidak sopan."
"Yang tidak sopan itu kau Kim Taehyung!" Jungkook mendorong pintu agar segera tertutup, tetapi anehnya kaki yang mencegah itu seakan-akan jauh lebih kuat darinya. Pintu itu semakin terbuka perlahan dan hal itu membuat Jungkook panik. Ia segera meninggalkan pintu itu dan berlari menuju kamarnya yang berada di lantai dua.
'Astaga darimana dia tahu alamat rumahku?' batin Jungkook gelisah.
Taehyung menendang pintu yang tak berpenghalang itu. Bibirnya menyungging seringai begitu kakinya berhasil melangkah masuk ke kediaman sang bartender kesayangannya. Netranya menyelidik tiap sudut rumah. Ia bisa memerkirakan bahwa rumah ini memiliki dua lantai.
"Jungkook kau dimana?" suara Taehyung menggema di ruangan yang minim barang itu. Ia meletakan plastik di meja tamu. Sebuah ide licik melintas di pikirannya.
"Ah, baik aku mengerti. Kau bersembunyi dan aku harus mencarimu 'kan? rupaya kau mau bermain game denganku. Baik dengan senang hati akan kuturuti." Taehyung berjalan menuju lantai dua. Ia tidak akan mencari Jungkook di lantai satu karena insting pembunuhnya berpikir demikian.
Pintu kamar segera dikunci oleh Jungkook. Pemuda kelinci itu meraup oksigen sebanyak mungkin. Detak jantungnya tak karuan—antara takut, gelisah, cemas, senang.
Apa? Senang?
"Jungkook buka pintunya~ aku tahu kau di sini~"
Manik cokelat Jungkook terbelalak. Jantungnya semakin berdetak kencang. Sebisa mungkin ia tidak akan bersuara agar Taehyung tidak menganggapnya ada di kamar ini.
"Aku datang kesini dengan maksud baik kok. Aku datang dengan membawa oleh-oleh vibrator."
"Bangsat..." Jungkook berbisik pelan. Ia harus menahan diri agar tidak naik pitam.
Taehyung mengetuk pintu kamar itu, "Keluarlah kelinci manis. Aku punya oleh-oleh yang lebih dari itu. Aku punya penis yang panjaaang sekali. Aku bisa membawamu ke lapisan langit tertinggi begitu penisku tertanam di lubang analmu." Taehyung berucap dengan nada gembira tanpa dosa.
Jungkook menutup telinganya dengan kedua tangannya. Jangan sampai dirty talk itu membuatnya orgasme.
"Aku ingin menyodok lubangmu dengan tempo yang sangat cepat, aku ingin kau mendesah-desah seperti jalang, dan aku ingin sekali membuatmu tidak bisa berjalan karena aku terlalu kasar melakukan seks denganmu." Taehyung merogoh sakunya dan mengeluarkan kunci replika yang memang sengaja ia siapkan sebelum datang ke rumah Jungkook. Ia memasukan kunci ke dalam kenop pintu tetapi belum berniat memutarnya, "Aku cinta kau. Karenanya aku ingin menunjukan rasa cintaku dengan perbuatanku."
Jungkook terkejut begitu kunci pintu kamarnya bergerak ke arah berlawanan—yang artinya seseorang membuka pintu itu dari luar. Astaga, Taehyung bisa membuka pintu kamarnya? rasanya rumahnya seperti dibobol maling.
Jungkook segera bersembunyi dibalik lemari baju yang berada di sudut kamar. Ia bisa mendengar suara pintu kamar yang terbuka. Sekarang ia tidak tahu apa yang harus ia perbuat jika Taehyung berhasil menemukannya. Ia tidak siap melakukan seks jika ia tertangkap oleh pria brengsek itu.
"Lho? dimana kelinci manisku? permainan masih berlanjut rupanya." Taehyung menyeringai. Netranya menangkap lemari baju di sudut ruangan. Sekali lagi, Taehyung bergerak dengan insting. Ia hanya merasa hawa keberadaan Jungkook berada di sana.
"Jika aku memenangkan hide and seek ini, hadiah apa yang kuterima?" Taehyung berjalan semakin dekat menuju lemari, "Bagaimana kalau tubuhmu? Yup, sudah diputuskan hadiahnya adalah tubuhmu."
Taehyung membuka lemari, dan saat itu Jungkook mendorong tubuh Taehyung agar terjatuh. Taehyung hanya kehilangan keseimbangannya beberapa detik, tetapi Jungkook memanfaatkannya untuk kabur. Jungkook segera berlari meninggalkan kamar, kembali ke lantai satu. Ia bergerak menuju pintu keluar. Beruntung Ia membawa ponselnya. Jarinya dengan cepat mencari kontak bernama 'Min Yoongi'. Ia segera menekan telepon hijau untuk memulai panggilan.
"Kumohon angkat..." Jungkook mengigit bibirnya gelisah. Sekarang dirinya di ujung tanduk.
Manik cokelat itu berbinar begitu panggilannya terjawab, "Ah, Hyung! Yoongi hyung! Tolong aku! Saat ini ada Kim Taehyung di rumahku!"
"..."
Jungkook semakin gelisah ketika hyungnya tidak menjawab apapun, "Hyung? apa kau di sana? yak, kumohon jawab aku!"
"Aggh..."
Manik cokelat itu terbelalak. Suara nista apa itu?!
"Yoongi hyung? hyung! apa kau mendengarku?"
"J-Jimin...aagh...pelan-pelan...khh...aanhh.."
"Yoongi hyung!"
"Aahh...Jimin ja...ngann..hhhh—Ne, ada apa Jungkook?"
Jungkook merinding begitu mendengar suara itu. Tidak, itu bukan suara Yoongi, "Siapa kau?! kemana Yoongi hyung!?"
"Aku Jimin. Yoongi ada di bawahku."
"Apa? bawah? bawah mana?! astaga." Jungkook mengusap wajahnya frustasi. Ia tidak mau pikirannya menjurus ke hal 'itu'.
"Ada apa kau menelponnya? kau mengganggu kami." Jimin meremas bagian privasi orang dibawahnya itu dan memberikan gerakan sensual, "Aah.. aku suka desahanmu Yoongi..."
"Yak, kalian sedang apa!?"
"Seks."
"Bangsat, bukan itu yang kumaksudkan!"
Jungkook bisa mendengar kekehan Jimin dari ponselnya, "Aku tak peduli kau dalam bahaya atau apa, tetapi jangan ganggu kami. Urus masalahmu sendiri, jangan libatkan Yoongi."
"Ck, Apa ini rencana kalian?" nada bicara Jungkook menajam.
"Lebih baik kau menoleh ke belakang sekarang juga. Aku merasakan hawa keberadaan Kim Taehyung di belakangmu. Happy sex day with Taehyung. Bye."
"Apa? H-hei!"
Panggilan diputuskan sepihak. Jungkook tak terima. Ia berniat menelpon lagi kalau saja ia tidak merasakan hembusan napas yang menggelitik tengkuknya.
"Gagal meminta bantuan, eh?"
Jungkook merasa pergelangan tangannya ditarik. Tubuhnya disudutkan di pintu oleh Taehyung. Revolver tepat berada di dahi sang pemuda kelinci.
"Kau kira maksud dari hadiah 'tubuhmu' itu apa? seks? konyol. Aku menginginkan tubuhmu—maksudnya adalah membunuhmu." Taehyung berucap dingin. Manik hazelnya menatap tajam korbannya dengan tatapan membunuh. Nyali Jungkook menciut. Badannya gemetar ketakutan.
"Game over. Kau kalah. Selamat tinggal, Jeon Jungkook."
Jungkook memejamkan kedua matanya. Ia tidak ingin melihat peluru yang menembus kepalanya.
Tidak ada suara tembakan, tetapi Jungkook merasa bibirnya dikecup sekilas.
"Bercanda. Kau terlalu manis, aku tak tega membunuhmu."
Maniknya terbuka perlahan. Jungkook melihat Taehyung yang berjalan ke arah ruang tamu.
"Aku datang untuk meminta maaf. Aku belum berniat seks hari ini. Temanku menyarankan agar aku mengendalikan napsuku." Taehyung menduduki sofa berwarna hitam itu. Jungkook juga ikut duduk di sofa, tetapi sofa yang berseberangan dengan Taehyung demi menjaga jarak.
Taehyung merogoh plastik yang sempat ia bawa. Ia meletakan dua kaleng beer dan makanan ringan lainnya.
"Kau tidak membawa vibrator?" Jungkook bertanya dengan polosnya. Taehyung yang mendengar pertanyaan itu justru terkejut.
"W-Wae? kau benar-benar ingin aku membawanya, ya?"
"Eh? Ap—Tidak!" Jungkook meralat ucapannya. Astaga ia tidak sadar jika pertanyaannya terlalu ambigu.
"Tandanya terlalu menyolok ya?" Taehyung menyeringai melihat bercak merah yang ada di leher Jungkook. Warnanya masih pekat karena itu bekas kissmark kemarin malam.
"Sialan." Jungkook mengganti topik pembicaraan, "Darimana kau tahu alamat rumahku?"
"Yoongi yang memberitahu."
Jungkook meremas fabrik bajunya menahan amarah. Ingatkan Jungkook nanti malam untuk memukul hyungnya yang seenaknya memberitahu alamat rumahnya.
Taehyung membuka beer dan menyerahkannya kepada Jungkook, "Minumlah."
Yang ditawari minuman masih bergeming. Ia menatap curiga minuman kaleng itu.
"Aku tidak memasukan racun. Santai saja."
Jungkook menerima minuman itu dan meminumnya perlahan. Dirasa tak ada racun, Jungkook meminumnya lebih banyak. Jungkook menatap jam yang menunjukan pukul 7:05 PM. Taehyung mengambil ponsel dan memainkannya. Kali ini Jungkook merasa jengkel karena Taehyung malah mengacuhkannya dan tenggelam dalam dunia ponselnya.
Taehyung melanjutkan, "Kau tahu berita pembunuhan yang terjadi akhir-akhir ini?"
"Ya."
"Pembunuhan toko boneka kau tahu?"
Jungkook mencoba mengingat judul berita yang sempat ia baca, "Iya."
"Aku yang melakukannya. Aku membunuh wanita penjaga toko itu begitu kau menendang kejantananku kemarin."
"APA!?" Jungkook terkejut bukan main, "Jadi semua pembunuhan yang terjadi akhir-akhir ini—"
"Itu ulahku." potong Taehyung cepat.
"Astaga... aku lupa kalau kau seorang pembunuh."
"Asal kau tahu semua pembunuhan yang terjadi akhir-akhir ini karena kau. Saat kau nyaris melukaiku dengan gelas wine, aku membunuh warga sipil. Kemarin saat kau menendang kejantananku, aku membunuh penjaga toko boneka itu. Kalau kau tidak menghindariku, aku tidak akan membunuh mereka semua."
"Ap—"
DING DONG
Jungkook kembali mengernyit ketika bel rumahnya berbunyi. Siapa lagi yang datang ke rumahnya?
"Siapa?" Jungkook membuka pintu dan ia cukup terkejut mendapati dua polisi di hadapannya.
"Selamat malam. Kami dari pihak kepolisian. Apakah kau tahu pria bernama Kim Taehyung? Dia seorang pembunuh berusia 21 tahun. Dia yang menyebabkan akhir-akhir ini banyak terjadi kasus pembunuhan. Kami mendapat laporan dari warga sipil saat insiden penembakan di toko boneka distrik Dobong-gu. Mereka mengatakan bahwa Anda memiliki hubungan dengan pembunuh ini. Kriteria yang disampaikan warga sipil sangat mirip dengan Anda."
Jungkook menelan ludahnya gugup. Ia lupa kalau tamu yang berkunjung ke rumahnya adalah seorang buronan. Dengan kata lain ia mempersilahkan seorang kriminal untuk duduk manis di ruang tamu.
"Maaf aku tak mengenalnya. M-mungkin Anda salah orang." Jungkook mencoba tersenyum meyakinkan.
"Anda berbohong kepada kami." dua polisi itu menatap Jungkook tajam. Shit.
"Sekarang ikut kami ke kantor po—"
DOR
DOR
Manik cokelat itu membola. Dua polisi yang mendesak Jungkook langsung tumbang dengan dahi mereka yang berlubang. Bau anyir mulai menusuk penciuman Jungkook.
"Jungkook maafkan aku." Taehyung memasukan revolvernya. Ia mendekati pemuda kelinci itu. Jungkook merasa tubuhnya melayang. Taehyung menggendongnya bak putri kerajaan, "Sepertinya kita harus kabur dari sini."
Dengan cepat Taehyung menggendong Jungkook sampai menuju mobil sport merah miliknya. Ia memasangkan sabuk pengaman untuk Jungkook dan segera menyalakan mesin mobil.
PRANG!
Kaca spion sebelah kanan pecah ditembus peluru. Taehyung menyeringai melihatnya. Itu tembakan peringatan pertama. Rupanya dua polisi yang dibunuh Taehyung hanya sebagai pengecoh. Dibelakangnya ada sepuluh polisi lebih dengan senjata mereka.
DOR DOR DOR
Taehyung segera tancap gas. Sebisa mungkin ia menghindari peluru yang merusak body mobilnya. Seringainya semakin lebar ketika ia melihat kaca spion kirinya yang dihiasi bayangan lima mobil polisi. Suara sirine polisi itu membuat Taehyung semakin tertantang. Sudah lama ia tidak bermain kejar-kejaran dengan polisi.
"Taehyung aku masih ingin hidup. Bisakah menyetir pelan-pelan?" Jungkook mengeratkan seat belt nya. Taehyung menyetir dengan kecepatan tinggi seperti orang kesetanan. Rasanya ia bisa mati terlempar dari mobil.
"Kecepatan ini belum seberapa, ini cuma 160 km/jam. Kau tidak pernah merasakan bagaimana dikejar Interpol(*). Saat aku dikejar Interpol, aku menyetir dengan kecepatan yang lebih tinggi dari ini. " Taehyung tersenyum melihat satu mobil polisi yang masih bisa mengejarnya. Taehyung menginjak pedal untuk menambah kecepatan mobil sportnya.
"Astaga Taehyung pelan-pelan! Aku masih ingin meracik minuman di bar Yoongi hyung!" Jungkook memejamkan matanya. Ia berdoa semoga ia tetap selamat fisik dan psikisnya begitu keluar dari mobil ini.
"Lebih baik kau khawatirkan dirimu," Taehyung menggantungkan ucapannya. Ia masih fokus menyetir, "Karena..."
"Karena?" Jungkook masih memejamkan matanya.
"Beer kaleng yang kau minum tadi kumasukan aphrodisiac. Berdoalah semoga kau tidak horny sekarang karena aku tidak mungkin melakukan seks denganmu dalam keadaan dikejar polisi begini."
Jungkook melotot.
"APA!?"
.
.
.
.
.
.
TBC
(*) Interpol: International Criminal Police Organization (Interpol) adalah organisasi yang dibentuk untuk mengkordinasikan kerja sama antar kepolisian di seluruh dunia.
Maaf lama apdetnya, Rikka banyak tugas hiks :") seminggu kedepan Rikka ada 10 pr. Jadi belum tahu kapan apdet lagi. Semoga bisa apdet lebih cepat untuk chap selanjutnya. Kemungkinan chap selanjutnya adalah chap terakhir dari ff V UCK YOU.
Sampai jumpa di chap selanjutnya~ jika berkenan silahkan tinggalkan kesan kalian di kotak review. Terima kasih. ^^
