Not Mainstream
Summary : Bagi penduduk Konoha, Minato itu shinobi yang paling hebat. Bagi Sarutobi, ninja anti mainstream. Bagi Kushina, suami terbaik. Bagi Shikamaru dan Choji, ayah yang buruk dan pilih kasih. Tapi bagi Naruto, ayahnya itu crazy. Tidak ada yang bisa menandingi Minato dalam hal ke-crazy-an, bahkan seorang Orochimaru yang sudah diakui seluruh shinobi. MinaKushi_alive
DISCLAIMER : Naruto Belongs to Masashi Kishimoto
Genre : Adventure dan Family
Rating : T
WARNING : Ide pasaran, bertebaran typo, gaje, smart_Naru, Canon dan bashing beberapa chara.
Author Note : Ai membedakan antara ninja tipe Pelacak dengan tipe Sensor. Ninja tipe sensor itu ninja yang bisa melacak seseorang hanya dari cakranya. Shinobi Konoha yang jelas-jelas tercatat tipe sensor itu klan Hyuga, klan Uchiha, klan Yamanaka, dan Shin dari anbu-ne. Naruto berkat mempelajar aliran Chi-kung jadi punya kemampuan sensorik juga. Tapi, ia lebih hebat dari klan-klan tersebut karena ia bisa mendeteksi Zetsu, makhluk paling ahli dalam hal spionase dan menyembunyikan hawa keberadaannya.
Kapan Ai nikah?
Ai udah nikah tgl 12 Desember kemarin. Terima kasih untuk doanya. Semoga pernikahanku yang kedua ini langgeng. Amin!
Ada yang mirip fic lain
Ini murni ide Ai, nggak jiplak. Kalo mirip? Wah Ai nggak tahu. Terus terang Ai jarang baca fic canon, paling baca summarynya saja.
Kushina kemana?
Ada bersama Minato.
Menma sekuat itu ya sampai ikut mendampingi sang ayah? Kapan Menma lulus akademi?
Menma kuat, sekuat Minato dan Kushina. Masuk akademi umur 4 tahun dan lulus 5 tahun.
Kenapa ada unsur yaoi-nya sih?
Mana ada unsur yaoi. Yaoi itu untuk BL yang udah ada unsur lemon, lime dll, sedang BL yang tak ada unsur seperti itu namanya shonen ai. Tapi tenang cerita ini straight kok. Nggak ada BL-nya. Soal Sasuke yang naksir Naruto itu hanya salah paham. Sasuke mengira Naruto cewek. Jadi hubungan SasuNaru just friendship.
Kenapa semuanya dikasih Naruto? Menma jadi seperti anak tiri.
Ini ada alasannya. Ada hubungannya dengan rahasia terbesar Minato.
Minato dan Menma jangan dibuat mati!
Maaf nggak bisa. Udah alurnya begitu. Nanti ceritanya jadi berantakan.
Sebaiknya edit beberapa kali agar tidak ada typo!
Terima kasih untuk sarannya. Jujur, sebelum mempublish, Ai udah baca berulang-ulang, meneliti tiap kalimat untuk mencari typo. Ternyata tetap aja kecolongan. Namanya juga manusia. Tapi, Ai usahkan agar lebih ketat lagi dalam mengedit.
Minato orang tua yang kejam.
Di jaman yang damai, Minato bisa disebut ayah yang kejam. Tapi, di dunia yang dihiasi peperangan itu wajar. Semua itu ia lakukan untuk melindungi putra dan juga desanya. Malah, cara Minato tergolong lembut jika dibandingkan dengan Kazekage keempat, ayah Gaara.
Terima kasih Ai ucapkan untuk para reader yang telah berkenan meninggalkan jejak di kotak review, memfollow, dan memfav fic gaje ini yang tidak bisa Ai sebutkan satu per satu. Arigatou Gozaimasu. /(_)\
Don't Like Don't Read
Chapter Five
Duka Naruto
Minato batuk-batuk darah. Dengan tubuhnya yang penuh luka, ia merayap menghampiri Kushina yang tergolek lemah tak jauh dari tempatnya. Dengan sebelah tangannya, ia menyentuh dan mengelus lengan istrinya. "Kushi-chan," ujarnya lirih. Iris safir di matanya yang biasanya berkilat jenaka, kini nampak keruh dipenuhi kesedihan yang amat dalam.
"Bunuh aku sekarang, Minato! Aku tak bisa membunuh diriku sendiri, tapi kau pasti bisa. Bunuh aku sekarang Minato!"
"T-tidaakk. Aku tak bisa Kushina."
"Kau bisa, Minato! Kau bisa. Lakukanlah, demi desa!"
"T-tidak Kushina, tidak. Aku tak bisa."
"Minato?"
"Jangan paksa aku! Please!" pintanya penuh harap. "Aku tak bisa melakukannya. Aku tak bisa melihatmu mati, terlebih di tangan.."
"Sstt... Jangan bicara seperti itu! Dengar, dengarkan aku! Kau tidak membunuhku. Tidak pernah. Yang kau bunuh adalah Kyuubi dalam tubuhku, hanya dia. Jadi, jangan merasa bersalah." Potong Kushina. Dengan sisa tenaganya, ia mengusap bibir Minato penuh sayang. "Kita sudah sepakat hal ini bukan?" bujuknya.
"Aku tahu, tapi..." Minato menggelengkan kepalanya lemah.
"Jangan sedih, Anata! Ini adalah pilihanku sendiri. Lakukanlah demi desa dan demi anak kita."
Minato terdiam. Ia tidak membantah, namun ia juga tidak kunjung bergerak. Minato hanya diam mematung di depan Kushina yang mengerang menahan rasa sakit. Dan, ini membuat Kushina jengkel.
'Kenapa di detik-detik terakhir seperti ini, pria ini malah bersikap lemah? Apa sih yang dipikirkan pria berambut kuning ini?' pikir Kushina jengkel. Mereka sudah kepalang basah. Tidak bisa mundur lagi. Tidak ada pilihan lain bagi mereka selain maju terus pantang mundur.
Flashback
Beberapa hari seusai kematian tragis Kagami yang ditemukan oleh tim anbu setelah menghilang selama seminggu.
Wajah kushina memucat. Ia tak percaya ini. 'I-inikah.. inikah yang direncanakan pria bertopeng itu?' pikirnya sulit dipercaya. "Ap-apa kau yakin Minato?"
Minato mengangguk. "Ya," desahnya dengan raut muram. "Sebelum tewas, Kagami memberitahukan ini padaku."
Tangan Kushina mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. "Lalu, apa rencanamu selanjutnya, Minato?"
Minato menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya, menyembunyikan kegundahannya. "Aku tak tahu, Kushi. Ini terlalu mendadak," ujar Minato lirih. '..dan juga terlalu mengerikan,' tambahnya dalam hati.
Kushina terkesiap. Ia mengerti kegundahan hati suaminya. Ini terlalu berat untuk dipikul sang ayah muda ini. "Oeekk..oeekk..oeekkk..." tangisan bayi Naruto yang tadi tidur anteng di kamarnya menyentakkan lamunan Kushina.
Tanpa banyak bicara, Kushina bergegas ke kamar bayi Naruto. Ia mengambil Naruto dalam gendongannya, menyusuinya, dan menepuk-nepuk pahanya agar Naruto-bayi kembali terlelap. Setelah itu, ia kembali menidurkan Naruto.
Kushina mengusap pipi tembem sang anak penuh sayang. Melihat Naruto yang tidur dengan damai, entah mengapa berhasil membuat ketakutan Kushina hilang. Senyum polosnya berhasil menguapkan kegundahan hati Kushina, menariknya dari dasar kegelapan dan keputus asaan.
"Ah," pekiknya seperti baru mengingat sesuatu yang penting.
Kushina tersenyum tipis. Ia lalu teringat alasan kenapa ia menamai putranya Naruto. Itu karena baik Kushina maupun Minato berharap kelak Naruto akan jadi anak yang kuat, cinta damai, dan teguh pada pendirian persis seperti tokoh favoritnya dalam novel Jiraiya.
"Naruto.." panggilnya lirih, takut membuat anaknya yang sedang lelap terbangun. Ia mengecup pipi Naruto penuh sayang sebelum meninggalkan Naruto seorang diri ditemani boneka kodoknya. Hatinya kini dipenuhi tekad kuat untuk melindungi dunia Naruto, putranya yang tercinta.
"Aku sudah menemukan caranya, Anata," kata Kushina usai kembali dari kamar Naruto.
Minato mendongak. Matanya menatap antusias istrinya. "Apa?"
"Aku akan membawa Kyuubi mati bersamaku,"
"Tidak, Kushi-chan. Aku tidak setuju. Itu gila,"
"Hanya ini satu-satunya cara, Anata. Dengan kematianku, pria bertopeng itu tak akan bisa menyempurnakan rencananya."
"Justru kematianmu akan membuat segalanya bertambah buruk,"
"Bagaimana bisa?"
"Kenapa tidak? Kematian Kyuubi akan membuat ketidak seimbangan bijuu dan nantinya malah memicu kekacauan di dunia shinobi. Dan lagi, tanpa adanya bijuu, Konoha pasti akan jadi sasaran empuk desa ninja lainnya."
Tubuh Kushina lemas. Ia pikir rencananya tadi sudah sempurna. Tapi, ia salah. Sekarang apa? Apa yang bisa ia lakukan untuk melindungi Naruto? Ia harus bagaimana? Ia meremas rambut merahnya hingga kusut. Pikirannya buntu. Diam-diam, Kushina menangis. Ia menangisi masa depan sang anak nanti, jika Pria bertopeng itu nekat menjalankan rencananya. Kegelapan, suram, dan keputus asaan, itulah yang akan mewarnai masa depan dunia Naruto nanti.
'Tidak, tidak boleh. Itu tidak boleh terjadi. Tidaakk!' Jerit pilu Kushina dalam hati. "Lalu..." Kata Kushina dengan suara gemetar, "...apa yang harus kita lakukan sekarang? Kita tidak mungkin duduk diam berpangku tangan seperti ini, Minato," lanjutnya menahan isak tangis yang sudah mau pecah.
"Aku juga mengerti itu, Kushi. Aku juga tak ingin itu terjadi. Tapi, masalahnya aku tak tahu cara mengatasinya. Hahh.. ini membuatku gila." Balas Minato dengan hati yang perih. Informasi dari Kagami membuat hidup seorang Minato hancur berantakan.
"Kau benar, Anata. Ini memang gila." Kata Kushina menyetujui. "Hahhh, seandainya saja kita bisa membelah Kyuubi jadi dua, yang satu kita segel pada seseorang yang identitasnya sangat dirahasiakan, sedang sisi satunya tetap padaku. Maka, aku bisa mati dengan tenang membawa Kyuubi bersamaku. Pasti kita tidak akan dalam keadaan sesulit ini,"
Mata Minato berbinar. "Kau genius, Kushina. Itu ide yang brilian."
"Eh," Gumam Kushina bingung. Bagian mananya yang Minato anggap genius?
Namun, Minato tidak menyadari kebingungan yang dirasakan Kushina. Ia sibuk mengoceh sendiri. "Kenapa tidak terpikirkan olehku, ya? Dengan cara ini, Pria bertopeng itu pasti akan menyerah dan tidak akan melanjutkan proyek mata bulannya."
'Ooo yang itu toh. Jadi, Minato berniat membagi Kyuubi jadi dua bagian,' batin Kushina kini mengerti maksud suaminya. Ia tersenyum untuk pertama kalinya dalam beberapa jam terakhir. "Tunggu apalagi? Ayo kita lakukan sekarang!"
"Tidak sekarang, tapi nanti malam di kuil Uzumaki. Kita harus melakukannya dengan sangat hati-hati. Ini adalah rahasia tingkat triple S. Tak ada seorang pun yang boleh tahu."
"Termasuk Hokage ketiga?"
"Tidak. Aku akan memberitahukan ini pada Beliau. Jaga-jaga jika kita mati terlebih dahulu, sebelum memberitahukan rahasia kita pada anak kita,"
"Aku setuju Minato. Aku mendukungmu,"
"Terima kasih, Kushi. Aku beruntung memiliki istri sepertimu. Aku tak tahu apa aku masih bisa bertahan tanpa kau di sisiku,"
Kushina tak menjawabnya. Ia hanya membalas ucapan sang suami dengan senyuman teduh yang membuat hati Minato tenang dan damai.
...*****...
Tengah malam di kuil Uzumaki
Minato mempersiapkan upacara untuk jutsu hakke no fuin shiki. Di depannya ada ranjang kecil dikelilingi lilin di tengah-tengah altar upacara yang berisi anaknya. Minato menarik Kyuubi dari dalam perut Kushina setelah segelnya terbuka. Ia lalu membelah Kyuubi menjadi dua yakni Kyuubi Yang dan Kyuubi Yin. Kyuubi Yin ia tarik dan ia segel ke dalam tubuh anaknya sedangkan Kyuubi Yang ia biarkan tetap berada di tubuh Kushina.
"Oeekk.. oeekk.. oeekk..." jerit tangis sang bayi mewarnai sepanjang upacara berlangsung.
"Kyuubi sudah terbagi jadi dua bagian. Sekarang aku bisa mati dengan ten.."
"Tidak Kushina. Kau tidak boleh mati sekarang."
"Kenapa?"
"Belum waktunya. Tunggulah saat anak kita berusia 11-12 tahun."
"T-tapi.."
"Anak kita masih butuh perhatianmu, Kushina. Ia masih butuh sosok seorang ibu."
"Aku mengerti. Aku akan menunggu saat itu tiba. Berjanjilah padaku! Bunuhlah aku saat hari itu tiba."
End Flashback
Kushina yang sudah tak bisa menahan diri, menggeplak kepala Minato dengan tenaga monsternya yang tersisa. "Jangan bodoh! Apalagi yang kau tunggu? Lakukan sekarang juga!"
"T-tapi, nanti kau.."
"M-I-N-A-T-O!" Raung Kushina dengan habanero-mode. "Kau ini seorang Hokage, Minato. Sebagai seorang hokage, kau dituntut untuk mengutamakan kepentingan rakyatmu, meski untuk itu kau harus berkorban nyawa. Dan inilah waktunya. Lakukanlah sekarang, selagi aku masih mampu mengontrol Kyuubi. Ukhh..., bunuh aku sekarang!" ringis Kushina saat merasakan cakar-cakar tajam Kyuubi yang mendesak ingin keluar dari host-nya.
"Kushi..!" jerit Minato panik.
"LAKUKAN SEKARANG!" Bentak Kushina mengabaikan rasa sakitnya.
Minato mengangguk. Ia memejamkan matanya sejenak untuk menenangkan dirinya sekaligus untuk menjernihkan pikirannya. Kushina benar. Ia seorang hokage, sudah sewajarnya, jika ia melakukan yang terbaik untuk rakyatnya, meski nyawanya-lah taruhannya.
Tak mungkin bukan jika ia menunggu kedatangan Hokage ketiga yang sudah tuwir ke sini —satu dari empat orang Konoha yang master fuinjutsu— hanya untuk menyelesaikan tugas Minato? Betapa pengecutnya dia, jika itu yang terjadi. Sangat memalukan.
"Baiklah jika memang itu keinginanmu, Kushina. Tapi, tenang saja. Kau tak akan pergi ke alam baka seorang diri. Aku juga akan menemanimu,"
"Apa maksudmu, Minato? Minato jawab aku!"
Minato menghiraukan pertanyaan Kushina. Ia bersiap-siap membuat segel untuk memanggil hewan Kuchiyosenya. Beberapa katak dari gunung Myobokuzan datang sesuai panggilan Minato dipimpin langsung oleh Gamabunta.
"Tolong kalian jaga tempat ini! Tak ada yang boleh menginjakkan kaki di tempat ini sebelum ritual ini selesai." Matanya terpejam mengingat baik-baik wajah anaknya. "Dan lindungi anakku! Tidak ada yang boleh menyentuhnya selain Shisui." Perintah Minato yang diiyakan oleh para katak.
Usai memberi perintah, Minato membuat segel tangan shiki fuujin yakni ular-babi-domba-kelinci-anjing-tikus-burung-kuda-ular- lalu menepukkan kedua tangannya. Shiki fuujin adalah teknik memanggil Dewa Kematian. Dewa Kematian yang dipanggil akan melayang di belakang si pengguna teknik dengan lengan kirinya yang terbungkus tasbih dan mulut yang menggigit sebilah pisau.
"Apa yang kau lakukan, Minato? Kau jangan gila!" teriak Kushina terkejut.
...*****...
Pertarungan Hiruzen Sarutobi dengan Danzo Shimura tidak kalah sengitnya dengan Minato dan Pria bertopeng. Baik Hiruzen maupun Danzo sama-sama mengerahkan segenap kemampuannya dengan teknik-teknik tingkat S dan jutsu terlarang. Dua orang mantan murid Hashirama Senju ini sama-sama tidak ada yang mau mengalah. Ledakan terjadi dimana-mana, membuat basement markas anbu ne luluh lantak.
Trang trang trang... Suara benda tajam saling beradu terdengar tak jauh dari pertarungan antara Hokage ketiga dengan Danzo. Anbu di bawah pimpinan Hokage ketiga bertempur dengan gagah berani melawan anbu ne. Selain benturan kunai dan tanto, pertempuran itu juga diselingi dengan adu ninjutsu.
"Menyerahlah Danzo! Hosh hosh hosh..."
"Kaulah yang harusnya menyerah Hiruzen, hah hah hah. Kau jangan terlalu naif. Sadarlah! Mempercayai Uchiha sama halnya dengan mempercayai serigala."
"Kau terlalu curiga, Danzo. Rasa curigamu yang berlebihan itulah yang kelak akan menghancurkan Konoha."
"Berhentilah jadi orang idiot, Hiruzen! Prinsip naifmu itu akan jadi bumerang di masa yang akan datang."
"Itu tidak akan pernah terjadi."
"Itu pasti akan terjadi. Suatu saat, para Uchiha itu pasti akan menusuk Konoha dari belakang sama seperti yang mereka lakukan 7 tahun yang lalu. Apa kau mau mempertaruhkan masa depan Konoha hanya karena Shisui seorang? Shisui bukanlah representasi Uchiha secara keseluruhan."
"Ya, mereka mungkin saja melakukan kudeta, tapi itu bukan karena mereka Uchiha, melainkan karena perlakuan diskriminatif kita pada mereka. Klanku pun pasti akan memberontak juga, jika diperlakukan seperti itu. Terlebih ini Uchiha,"
"Percuma saja bicara denganmu. Kau rupanya hanya mengenal bahasa perang. Benar begitu kan, Hiruzen?"
"Kata-kata yang sama aku kembalikan padamu. Kita sudahi saja diskusi ini dan kita selesaikan semua ini hari ini juga." Ujar Hiruzen.
Pertarungan keduanya berjalan semakin sengit dan juga brutal. Meski keduanya sudah penuh luka-luka, nafasnya terengah-engah, dan juga batuk-batuk darah, keduanya tetap enggan menghentikan pertarungan mereka. Keduanya sama-sama bertekad untuk meneruskan pertarungan ini hingga ada satu dari mereka berdua yang bertahan mati, persis seperti yang dilakukan oleh Madara Uchiha dan Hashirama Senju di lembah akhir.
Pertarungan itu akhirnya berakhir saat semburat merah menghiasi langit dari ufuk Timur, berselang sejam dari berakhirnya perang antara Minato plus Menma dengan Pria bertopeng di lembah akhir. Ruang basement sudah runtuh, terkubur oleh reruntuhan bangunan menutupi mayat-mayat yang bergelimpangan, baik dari anbu maupun dari anbu-ne.
Beberapa meter dari reruntuhan markas Danzo terdapat cekungan tanah yang sangat dalam menyerupai kawah. Di tengah-tengah cekungan itulah, Danzo dan Hiruzen terbaring berdampingan. Mereka sudah tak bisa bergerak seinchi pun. Syaraf-syaraf di tubuh mereka sudah putus akibat ninjutsu yang keduanya hantamkan dan mengenai tubuh lawannya dengan telak. Keduanya, mantan rekan setim itu saling bertukar senyum, entah apa maksudnya sebelum menutup kelopak mata mereka untuk terakhir kalinya.
Bersamaan dengan kematian keduanya, para anbu dan anbu ne yang tadinya saling bertarung ikut berhenti.
"Lebih baik kita hentikan pertarungan kita. Toh, tidak ada gunanya." Kata Asuma membujuk.
"Apa maksudmu dengan tidak berguna?" tanya Fuu marah.
"Bukankah kita sama-sama memiliki tujuan yang sama yakni untuk melindungi desa kita, hanya caranya saja yang berbeda. Jadi, kenapa kita tidak kembali bersatu dan menghentikan perang saudara yang tak berguna ini?"
"Dia benar Fuu. Lebih baik kita hentikan saja," saran Shin.
"Apa kau mau berkhianat, Shin?"
"Tidak bukan begitu maksudku. Lihatlah sekeliling kita! Banyak dari shinobi konoha, baik anbu, anbu ne, maupun shinobi biasa yang tewas. Bahkan Hokage ketiga dan Danzo-sama juga tewas. Itu pasti akan mengurangi kekuatan tempur Konoha. Jika Suna, Kiri, ataupun Oto tahu, mereka pasti akan mengambil kesempatan ini untuk menghancurkan desa kita. Itukah yang kita inginkan?"
Fuu merenung. Ia memikirkan ucapan Shin. 'Shin adanya benarnya. Tak ada manfaatnya ini diteruskan,' batinnya. "Sekarang kita harus bagaimana?" tanyanya meminta pertimbangan dari rekan sesama anbu-ne.
"Lebih baik kita bergabung dengan Yondaime-sama. Kita meminta pengampunan dan memohon agar diijinkan untuk tetap menjadi anbu-ne, tapi kali ini di bawah pimpinan Yondaime secara langsung,"
'Bukan ide buruk,' pikir Fuu dan anbu-ne yang tersisa. "Lebih baik kita ke kompleks perumahan Uchiha! Kita cari Yondaime-sama." Ujar Fuu secara tidak langsung menyetujui usul Shin.
Setelah itu, dua pasukan yang tadinya saling bertempur kini berjalan beriringan menuju kompleks perumahan Uchiha yang masih membara penuh kobaran api dan hirup pikuk para shinobi dan tim medis yang berdatangan untuk menyelamatkan para korban yang masih hidup.
...*****...
Mata Naruto terbuka. Ia mengerjab-ngerjabkan bulu matanya, mati-matian menahan kelopaknya agar tidak kembali menutup. Dimana aku? Pertanyaan pertama yang terlintas dalam benaknya begitu ia membuka mata. Pertanyaan keduanya. Apakah aku sudah mati?
Suara kasak-kusuk orang bercakap-cakap dan teriakan-teriakan riuh rendah yang tertangkap indera pendengarannyalah yang menjawab pertanyaan kedua Naruto, bahwa ia masih hidup.
"Cepat bawa ia ke rumah sakit! Kondisinya kritis," ada juga yang berteriak, "Padamkan apinya sebelum menyebar luas!" dan ada pula yang berteriak panik, "Ia masih hidup. Tim Medis, cepat ke sini!" Teriakan-teriakan itu semakin terdengar riuh seiring berjalannya waktu.
"Ukhh," ringis Naruto merasakan rasa nyeri di sekujur tubuhnya. Dinginnya angin malam yang menusuk membuat keadaannya semakin buruk. Meski demikian, itu tak menghentikan Naruto untuk menggerakkan tubuhnya yang remuk redam. Ia harus bangun untuk mencari tahu dimana dia berada sekarang dan sekaligus mencari tahu apa yang terjadi setelah ia tak sadarkan diri.
Luka yang tadinya tertutup perban putih kini kotor oleh warna merah darah, gara-gara Naruto memaksakan diri untuk bangun dari tempatnya berbaring. Naruto kini duduk di lantai beralaskan tikar di sebuah ruangan nan luas yang dindingnya terbuka lebar karena hancur akibat sesuatu, menyisakan atap dan tiangnya yang berdiri gagah. Dari bantuan sinar obor yang temaram, Naruto berhasil menangkap simbol berbentuk kipas khas klan Uchiha yang terukir pada tiang-tiang di ruangan ini.
'Rupanya, aku masih berada di kompleks Uchiha. Mungkin tousan dan kaasan berhasil mengalahkan pria bertopeng itu dan sekaligus meringkusnya,' pikirnya. Naruto kembali menggerakkan tubuhnya —kali ini ia lakukan dengan amat perlahan dan hati-hati— mencari posisi enak.
Selanjutnya, Naruto melacak keberadaan sang ayah dan ibu, seperti tujuan awalnya ke kompleks Uchiha. Dahinya mengernyit tak nyaman. Ia merasakan cakra ayah dan juga ibunya menipis di lembah akhir. Tak hanya sampai di situ saja, ia juga merasakan cakra si penyusup no satu yang bentuknya seperti tumbuhan dan juga si penyusup no dua yakni pria bertopeng.
Rasa cemas merasuki tubuhnya. Berbagai pikiran buruk memenuhi benaknya, jikalau ayah dan ibunya akan..akan… "Ti-tidak!' jeritnya tertahan. Bayangan kepergian nenek Orihime yang terjadi tepat di depan matanya membuatnya bangkit dari tempat duduknya.
Naruto berlari keluar, menabrak dan menerobos para tim medis dan shinobi Konoha yang berkeliaran di dalam gedung. Ia berlari membabi buta hingga ia tak menyadari rombongan tim anbu dan yang di luar dugaan tim anbu-ne yang tersisa berada di jalur larinya. Brakkk! Tubrukan pun tak terhindarkan. Naruto terjengkang, nyaris saja terjatuh. Untung ada Asuma yang dengan sigap menangkap tubuhnya.
"Naruto!" panggil Asuma antara heran dan cemas jadi satu. "Sedang apa kamu di sini, Nak?"
"Maaf Jisan. Aku tak bisa menjelaskannya pada Jisan sekarang. Aku sedang terburu-buru,"
"Memangnya kau mau kemana?"
"Menyusul tousan dan kaasanku,"
"Jangan Naru-chan! Di situ berbahaya," larang Asuma.
"Aku harus pergi, jisan. Harus!"
"Jangan bodoh!" bentak Asuma yang karena mengkhawatirkan Naruto malah jadi bicara kasar. Tatapan penuh luka di iris muridnya itu membuat Asuma dihantui perasaan bersalah. Ia jadi menyesal karena sudah membentak putra dari Yondaime yang amat disayanginya itu.
Ia meremas rambut hitamnya kasar karena frustasi, "Dengarkan aku! Ayahmu saat ini sedang bertarung dengan orang yang sangat berbahaya. Kehadiranmu hanya akan membuat segalanya jadi sulit."
"Aku tak perduli," raung Naruto tak kalah keras kepala.
"Jangan keras kepala, Dobe! Ikuti saja kata-kata paman itu. Meskipun kini kau sudah kuat, kau itu tetaplah hanya seorang anak kecil. Jangan besar kepala hanya karena kau memiliki kemampuan sedikit di atas teman-teman sebayamu," Kata Sasuke yang sejak tadi tak meninggalkan sisi ayahnya yang tengah menjelaskan semuanya pada anbu secara garis besarnya.
"Diam kau, Teme!" Sergah Naruto tak terima. "Tahu apa kau tentang aku? Kau tak tahu apa-apa. Jadi jangan sok ikut campur!"
"Naruto!" Cela Asuma tak suka mendengar Naruto mengumpat, meski masih tetap dengan suara lembut. "Tak baik bicara seperti itu."
"Aku..." Naruto terdiam mengerti maksud kilauan mata Asuma. Itu peringatan. Oke, ia akui ia salah. Tak seharusnya ia mengumpat dan bicara kasar seperti itu. Terlebih di depan orang-orang dewasa. Itu sangat tidak sopan. Jika kakek hokage tahu atau yang lebih buruk lagi ibunya tahu, tamat sudah riwayatnya. Hanya Kami-sama yang tahu bagaimana akhirnya.
"Jiji tak mengerti." kata Naruto lirih dengan nada seperti orang putus asa. Air mata yang tadi berusaha ditahannya merembes dan meluap keluar. "Aku harus pergi, Jiji. Aku harus pergi menyelamatkan tousan dan kaasan. Aku..aku merasakan cakra mereka berdua menipis. Ak-aku takut..teramat takut mereka akan ukh…"
Dahi semua orang yang mendengar ucapan Naruto mengernyit bingung. Mereka memang melihat Yondaime datang ke kompleks Uchiha sebelum bertarung dengan Pria bertopeng itu di lembah akhir, namun mereka tak melihat keberadaan Kushina, istri hokage mereka berkeliaran di sekitar sini. Mereka hanya melihat Minato datang ditemani oleh Menma.
"Ayahmu memang ada di sini semalam, Naruto. Tapi, ibumu tidak," kata Fugaku sambil batin, 'Mungkin dia tipe sensor. Karena tak mungkin Minato memberi tahu Naruto kalau ia akan ke rumah kami. Menma sih lain cerita.'
"Tidak mungkin. Aku jelas-jelas merasakan cakra tousan dan kaasan di sini. Aku tak mungkin salah. Tolong percayalah padaku!"
"Naru..!"
"Jika jisan tak percaya, aku bisa membuktikannya." Potong Naruto bersikukuh. "Aku bisa merasakan cakra Kurenai basan dan Guy sensei menuju lembah akhir. Di belakang mereka ada Genma jisan, Hayate jisan, dan ukh aku lupa namanya, yang jelas aku sering melihatnya menjaga pintu gerbang Konoha. Aku juga merasakan.."
"Menma? Apa kau bisa merasakan cakra Menma bersama dengan ayahmu?" potong Fuu tak sabaran.
Ia mencemaskan nasib Jinchuuriki atau lebih tepatnya masa depan Konoha. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Menma? Kyuubi yang terpenjara dalam tubuh Menma bisa saja keluar lalu mengobrak-abrik Konoha seperti 7 tahun lalu. Uhh, sial. Double sial.
Kenapa harus terjadi sekarang? Di saat tak ada Danzo maupun Hokage ketiga di tengah-tengah mereka. Minato pun sepertinya sudah sekarat, jika cerita anak itu bisa dipercaya. Lalu bagaimana Konoha bertahan sekarang? Ini sih namanya sudah jatuh tertimpa tangga lalu tertimpa lagi dinding batunya sekalian. 'Semoga saja itu tak terjadi,' harap Fuu.
Kini gantian dahi Naruto yang mengerut. Ia menelengkan kepalanya bingung. "Menma? Memangnya kenapa dengan Menma?"
"Ia berada di sini semalam, sebelum pergi membantu ayahmu bertarung dengan pria bertopeng itu di lembah akhir," jelas Fugaku.
"Apa jisan yakin?" Fugaku mengangguk. 'Tapi, itu tidak mungkin. Aku sama sekali tak merasakan cakra Menma dari semalam.' Bantah Naruto dalam hati.
Ah, kalau dipikir-pikir, Naruto juga tak pernah bisa melacak keberadaan Menma maksudnya Naruto tak pernah bisa menangkap cakra Menma. Ia hanya bisa melacak Menma dengan mengandalkan inderanya. Mungkin Menma me-nol-kan cakranya untuk membuat ia tak bisa dilacak dalam kehidupan sehari-hari. Tapi, masak sih dalam pertarungan pun ia masih juga me-nol-kan cakranya. Memangnya ia tak butuh cakra untuk bertarung? Lebih-lebih jika lawannya kuat. Ini sungguh tak masuk akal.
"Kau bisa melacaknya tidak?" desak Fuu.
Naruto menggeleng. "Aku tidak bisa merasakan cakra Menma. Kalau cakra tousan dan kaasan bisa."
"Huhh.. percuma bicara dengan bocah tengil sepertimu. Bodohnya aku pakai berharap segala," gerutu Fuu. "Shin, coba kau lacak Menma!"
Shin berniat melakukan permintaan Fuu rekannya, sebelum ia mendengar suara erangan kesakitan dari bocah pirang, anak sulung Yondaime. "Ukhhhssszzt.. klstrjksd #*&^..." Naruto mengerang panjang. Tiba-tiba tubuhnya menggigil seperti cacing kepanasan.
"Naruto! Naruto, kau tak apa-apa?" Tanya Sasuke dan Asuma bersamaan karena cemas melihat Naruto yang seperti tengah mengalami termor. Dari tubuhnya mengeluarkan asap pekat. Mereka merasakan luberan cakra menakutkan dari tubuh Naruto. Belum hilang kekagetan mereka, tiba-tiba muncullah kepulan asap di dekat mereka.
"Naruto, tenanglah. Aku akan membawamu ke tempat ayah dan ibumu," kata Shisui untuk pertama kalinya muncul setelah diduga tewas.
Luberan cakra itu terhenti. Tubuh Naruto tak lagi mengejang kesakitan. Ia mengangkat kepalanya, melihat sosok orang yang telah berbaik hati menawarkan diri padanya untuk membantunya bertemu kedua orang tuanya. Ternyata, orang itu adalah Uchiha Shisui.
Naruto mengenalnya karena pernah berpapasan dengannya beberapa kali, ketika ia berkunjung ke kompleks Uchiha untuk menemui nenek Orihime. Ia bahkan beberapa kali bertegur sapa dengannya. Di luar dugaan, orangnya ternyata cukup ramah. Sama sekali tidak sesuai dengan raut wajahnya yang terlihat dingin.
"Nii-chan." Pekik Naruto kaget. "Benarkah itu nii-chan? Nii-chan sungguh-sungguh mau membantuku?"
"Mm," Ujar Shisui mengiyakan. Shisui menghampiri Naruto. Ia memapah tubuh mungil Naruto lalu dalam satu kedipan mata, keduanya sudah menghilang meninggalkan semua orang yang masih belum move on dari kebingungannya. Persis seperti julukannya Shunshin no Shisui atau Shisui si teleport.
"Ukhh.." terdengar erangan untuk kedua kalinya. Kali ini dari Shin yang tadi melacak keberadaan Menma. "Aku merasakan cakra yang sangat mengerikan ada di lembah akhir. Ini seperti cakra.. Oh ya Dewa.." lanjutnya dengan wajah pucat pasi.
"Ada apa, Shin? Apa yang kau takuti?" tanya Fuu ikut cemas.
"Kyuubi..." pekik Shin lemas seperti orang yang rohnya sudah tercerabut dari tubuhnya.
"Kyuubi!" pekik semua orang secara bersamaan.
Namun tak butuh lama untuk mereka sadar. Satu per satu dari mereka menghilang meninggalkan tempat itu, dan hanya menyisakan Sasuke yang bertanya-tanya seorang diri. Ia angkat bahu tak mau ambil pusing. Toh, masalah klannya sudah selesai. Sedangkan, untuk si Dobe..
"Ah, aku lupa. Naruto..!" pekik Sasuke yang lalu ikut menyusul mereka ke lembah akhir.
...*****...
"Apa yang kau lakukan, Minato? Kau jangan gila!" teriak Kushina putus asa. "Kau jangan bertindak bodoh. Hentikan jutsu shiki fuujinmu! Pikirkanlah nasib anak kita nanti." Bujuk Kushina agar Minato membatalkan jutsunya.
Teriakan Kushina-lah yang pertama kali Shisui dan Naruto dengar begitu mereka berada di lembah akhir. Mata Shisui membola, terperanjat kaget. Ia pernah diberi tahu mendiang ayahnya mengenai jutsu shiki fujin. Itu adalah jutsu terlarang yang pasti akan membuat si pengguna jutsu ini mati. "Hokage-sama," pekiknya panik.
"Siapa?" tanya Minato yang konsentrasinya pecah karena melihat kehadiran orang asing dalam radius 100 m dari tempatnya berdiri.
"Saya Hokage-sama, Uchiha Shisui."
"Kenapa kau berada di sini Shisui? Apa misi yang ku berikan padamu sudah beres?"
"Sudah Hokage-sama, tapi..." Kepala Shisui tertunduk sedih dan malu jadi satu.
"Tapi apa?"
"Danzo dan Hokage ketiga.. Mereka berdua tewas dalam pertarungan."
"Ouch.." pekik Minato terpukul mendengar kematian Sandaime-sama. Jika kakek Hokage ketiga tewas, lalu siapa yang kelak akan menjaga Naruto. Bagaimana dengan Naruto?
"Kau dengar kan, Minato? Hokage ketiga sudah pergi untuk selamanya. Sekarang hanya ada kau yang bisa melindungi anak kita. Karena itu, hentikan jutsu shiki fuujinmu ini, Minato! Sebelum terlambat."
"Tidak, aku tidak akan berhenti."
"Dasar idiot! Keras kepala." maki Kushina kasar. "Kau jangan egois. Pikirkan anak kita! Bagaimana dengan nasibnya?"
"Kau tidak perlu khawatir Kushina. Anak kita sudah besar. Ia bisa menjaga dirinya sendiri."
"Tapi.."
"Dan lagi ada Kakashi, Jiraiya, Shikaku dll yang akan melindungi anak kita." Potong Minato.
"T-tousan," Panggil Naruto. "Tousan bicara apa? Kenapa tousan bicara seolah-olah tousan akan pergi? Memangnya tousan mau kemana? Kenapa tidak mengajakku?" tanya Naruto bertubi-tubi.
"Naru-chan! Kau ada di sini juga, Nak? Apa kau sudah sehat?"
"Jangan mengalihkan pembicaraan tousan! Tolong jawab pertanyaanku? Tousan dan kaasan mau kemana?" Pinta Naruto.
"Naruto! Kau ingin menjadi seorang hokage, kan?" kata Minato yang malah balik nanya dan dibalas anggukan kepala oleh Naruto. "Ini pelajaran terakhir dari tousan, Naruto. Lihatlah tousan baik-baik! Inilah yang harus kau lakukan jika kau ingin menjadi seorang hokage."
"T-tousan..!" pekik Naruto sedih. Ucapan ayahnya terdengar seperti kata-kata perpisahan untuknya.
"Ingatlah? Menjadi hokage bukan hanya harus memiliki skill ninjutsu yang mumpuni, kegeniusan di atas rata-rata, dan kepintaran berdiplomasi. Lebih dari itu, syarat yang lebih utama adalah tekad api yang kuat, dan pantang menyerah hingga titik darah penghabisan untuk melindungi warga desa. Hokage terlahir bukan untuk mencari jalan termudah, melainkan menempuh jalan berliku yang panjang demi terciptanya perdamaian desa seperti yang dicita-citakan oleh para pendiri desa Konoha," petuahnya sebelum ayahnya menarik Kyuubi dari tubuh Kushina yang mengerang kesakitan ke dalam tubuhnya sendiri.
"T-tousan! K-Kaasan! Tidakk! Jangan lakukan itu, jangan! Hik hik hiks.. please, jangan lakukan! Jangan tinggalkan aku sendiri!.. hik hik hiks.." teriak Naruto sambil berurai air mata. Ia memang tak tahu jutsu apa yang tengah ayahnya keluarkan, tapi ia mengerti jutsu itu pastilah sangat berbahaya dan mengakibatkan kematian bagi penggunanya.
"Kaasan!" ujarnya lirih diantara sesenggukannya sambil berlari kencang untuk mencegah ayahnya.
Biar kata ayah dan ibunya selalu bersikap dingin padanya, bukan berarti ia ingin jadi anak yatim piatu. Tidak, ia tak mau itu. Ia masih ingin hidup didampingi mereka. Ia ingin menunjukkan pada orang tuanya kalau ia juga bisa seperti Menma dan membuat keduanya bangga.
Tapi terlambat. Naruto terlambat. Minato sudah mengaktifkan jutsunya. Dewa Kematian yang cakranya membuat bulu kuduk Naruto meremang dan tubuhnya gemetaran sudah hadir di balik punggung ayahnya. Sang Dewa Kematian yang Minato panggil kini membuat segel untuk memotong dan memisahkan jiwa Kyuubi Yang yang keluar dari tubuh Kushina dan lalu melahapnya secara perlahan.
"TIDAKK!" Jerit Naruto histeris. Air matanya bercucuran menganak sungai, mengotori wajah tampannya.
"Naruto, jangan menangis! Seorang laki-laki tidak boleh cengeng," kata Kushina yang meski nyawanya sudah di ujung tanduk, namun masih bisa menasehati. Kushina menggigit bibirnya, menahan diri agar tidak berteriak menyuarakan rasa sakitnya, ketika ia merasakan perlahan tapi pasti Kyuubi meninggalkan tubuhnya dan memasuki tubuh Minato.
"Kaasan! Tousan!" ujarnya Naruto pilu menggapai-gapai tubuh ayahnya yang kini sudah diselimuti oleh cakra Dewa Kematian. "Tidakk, hik hiks.. Tidakk!"
Raungan dan sumpah serapah dari Kyuubi Yang memenuhi lembah akhir disaksikan Naruto dan Shisui. "Kurang ajarr..! Kau memang brengsek, Minato!" raung Kyuubi Yang marah sebelum menghilang, terhisap sepenuhnya ke dalam tubuh Minato.
Tubuh Kushina yang sudah tak lagi dihuni Kyuubi tergolek lemah di tanah, begitu pula dengan Minato. Ia bersimpuh di depan Kushina. Di sampingnya, Naruto terisak-isak. Tangannya menggenggam tangan ibunya dengan putus asa. "K-kaasan, Tousan! Hik hik hiks… kenapa? Kenapa tousan melakukan ini?"
"Maaf Naruto, maafkan keegoisan ayahmu ini. Tapi percayalah semua ini tousan lakukan untuk kebaikanmu."
"Kebaikan seperti apa yang tousan maksud?" teriak Naruto gusar.
"Suatu saat kau akan mengerti, Nak. Sekali lagi maafkan tousan, Nak!" hiba Minato yang tak digubris Naruto. Naruto masih menunduk terisak-isak, dilanda amarah dan putus asa jadi satu. Mengerti keadaan psikologis putranya yang sedang terguncang, Minato tak lagi berkata apa-apa.
"Naruto, kemarilah! Ada yang ingin ayah berikan padamu. Anggap saja sebagai hadiah atas keberhasilanmu masuk akademi ninja."
"Aku tak butuh hadiah, Tousan! Aku tak butuh gulungan jutsu hebat. Aku tak butuh pedang paling tajam. Aku tak butuh semua itu," raung Naruto kalap. Wajahnya menyendu melihat tatapan penuh luka di mata sang ayah. Hatinya dipenuhi rasa sesal dan perasaan bersalah karena telah berani membantah ayahnya. "Aku hanya mau tousan dan kaasan di sampingku. Itu sudah lebih dari cukup. Tolong, jangan tinggalkan aku tousan. Jangan pergi, hik hik hiks. Jika tousan dan kaasan pergi, aku bagaimana? Huwaaa.."
"Naruto!" panggil ibunya dengan suara sayup-sayup sisa tenaganya yang terakhir. "Naruto jangan nangis. Jangan jadi anak cengeng. Kau mau jadi ninja yang hebat melebihi ayahmu, kan?"
"K-kaasan," isak Naruto.
"Kushina waktu kita tidak banyak. Katakanlah apa yang ingin kau katakan pada Naruto," sela Minato.
Kushina menatap suaminya dengan wajah tak rela, meski akhirnya mematuhi anjuran sang suami. Dia sadar. Minato benar. Waktunya tidaklah banyak. Sebentar lagi ia akan menghadap Dewa Kematian.
"Naruto nanti jangan jadi orang yang pilih-pilih makanan. Makanlah yang banyak dan tumbuhlah jadi anak yang besar. Mandilah setiap hari dan jaga tubuhmu tetap hangat. Tidurlah yang cukup. Carilah teman. Tak perlu banyak yang penting mereka benar-benar teman, orang yang dapat dipercaya dan belajarlah ninjutsu. Ibumu tak terlalu jago soal itu, namun kamu pasti bisa. Tiap orang punya kelebihan dan kekurangan, jadi jangan sedih jika tak bisa melakukannya. Patuhilah gurumu dan ingatlah 3 pantangan shinobi. Jangan minum alkohol sampai umur 20 tahun atau tubuhmu akan sakit. Dan untuk wanita... Ibumu ini juga wanita, jadi ibumu tak tahu apa yang harus ibumu katakan padamu, tapi pilihlah yang seperti ibumu ini." Kushina menangis. Naruto menangis. Minato menangis. Begitu pula dengan Shisui.
"Naruto, kau akan mengalami banyak kesakitan dan penderitaan di masa depan. Ingatlah siapa dirimu..milikilah sebuah impian dan buat itu menjadi nyata. Masih..masih banyak lagi yang ingin Ibumu sampaikan. Aku..aku ingin tinggal bersamamu dan menjagamu. Ingatlah selalu kalau aku dan ayahmu sangat mencintaimu. Maaf Minato, aku menggunakan semua waktumu, hiks.." kata Kushina dengan suara bergetar dan serak.
"Tak apa Anata." Kata Minato lembut. "Naruto.. pesan ayah sama seperti ibumu. Satu yang harus kau ingat, berhati-hatilah dengan guru Jiraiya."
"T-tousan,"
"Kemarilah! Ayah akan memberikan hadiah terakhir untukmu,"
Bersamaan dengan itu, Minato mengangkat kaos Naruto ke atas memperlihatkan ukiran spiral dihiasi huruf Fuin yang hanya bisa dibaca oleh Minato dan Kushina di perut Naruto. Minato membuat jutsu untuk menyegel sisa cakranya dan Kushina ke dalam perut Naruto melalui segel yang sudah ada pada anaknya.
Naruto mengertakkan rahangnya, menahan diri untuk tidak menjerit ketika ia merasakan aliran cakra kedua orang tuanya memasuki tubuhnya. Bersamaan dengan itu pula, Naruto merasakan adanya aliran cakra miliknya sendiri yang mengalir di dalam tubuhnya dan itu jelas bukan cakra senjutsu yang selama ini dipelajarinya.
"B-bagaimana bisa? K-kenapa begini?" tanya Naruto yang kebingungan melihat kedua orang tuanya bergantian.
Namun keduanya tidak menjawab pertanyaan Naruto dan hanya tersenyum untuknya. "Sampai jumpa nanti, Naruto. Shisui, ku serahkan sisanya padamu. Hanya kamu, selain Hokage ketiga orang yang ku percayai di dunia ini." kata Minato untuk terakhir kalinya.
"H-hokage-sama!" Pekik Shisui antara bangga, sedih, dan takut. Bangga, ada orang selain klan Uchiha yang mempercayainya 100%, sedih karena akan kehilangan orang yang mempercayainya itu, dan takut tak bisa mengemban amanah.
Setelah itu, Minato dan Kushina memejamkan mata untuk selamanya. Maka pecahlah isak tangis dari Naruto yang kini jadi yatim piatu. Ia dengan kalap memeluk jasad kedua orang tuanya yang perlahan mulai membeku, menyalurkan segala emosi yang dipendamnya.
"Tousan! Kaasan! huwaa...! Kenapa...kenapa kalian pergi? Apa yang harus ku katakan nanti pada Menma? Bagaimana aku menjelaskannya pada..." Mata Naruto terbelalak lebar. Saat itulah, Naruto teringat akan adiknya. "M-Menma? Dimana Menma? MENMA!" panggilnya histeris seperti orang kurang waras.
Matanya dengan kalap memandang sekitarnya, mencari petunjuk keberadaan sang adik yang kata Fugaku jisan terakhir kalinya bersama ayahnya. Seperti orang yang sudah kehilangan kewarasannya, Naruto berlari ke sana kemari, mencari-cari adiknya yang tak diketahui keberadaannya dibantu sang mentari pagi yang bersinar malu-malu dari ufuk Timur. "Menma! Menma! MENMAA!"
"Tenang dulu, Naruto. Tenang,"
"Bagaimana aku bisa tenang? Aku tak tahu dimana keberadaan adikku. Apa ia baik-baik saja?" balas Naruto frustasi sebelum lari meninggalkan Shisui.
Ia masih berkeliaran tak tentu arah, memanggil-manggil nama Menma. Tapi, Shisui tidak diam saja. Tangannya dengan sigap menyambar tubuh bocah pirang itu dan menahannya agar diam di tempat, menyandar pada sebatang pohon. Naruto meronta-ronta marah. Kakinya menendang-nendang lemah kaki pria dewasa yang berdiri menjulang di depannya.
"Lepaskan! Lepaskan aku! Aku harus mencari Menma. Aku mengkhawatirkan keadaannya. Bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya?" teriak Naruto jengkel. "Daripada menahanku seperti ini, lebih baik nii-chan bantu aku mencari Menma." Lanjutnya.
"Tenang Naruto, tenang. Kau harus tenang dulu. Kepanikanmu tidak akan membawamu pada apa-apa selain kehancuran." Matanya menatap tajam Naruto. "Aku sudah tahu dimana Menma. Dia.."
"Dimana Menma? Katakan padaku, dimana Menma? Dia baik-baik saja, kan?"
Shisui menunduk. Matanya menatap tanah di bawahnya, menghindari tatapan penuh harap dari safir di depannya, seolah-olah menyembunyikan sesuatu yang besar dan pahit dari orang di hadapannya.
"Nii-chan! Kenapa nii-chan diam saja? Jawab aku!" Naruto mengguncang-guncang kedua lengan Shisui.
Shisui tetap menolak memandang Naruto dan lebih memilih menatap tanah yang dipijaknya. "Nii-chan! Kenapa diam saja? Jawab aku! Hik hik hiks.." ulangnya dengan suara lirih menyayat. "Apa jangan-jangan dia...tidak-tidak...TIDAKK! Itu tidak mungkin. Katakan ini bohong! Katakan kalau ini hanyalah mimpi! Menma tidak mungkin... TIDAKkk.. Hik hik hiks...huwaa..."
"Naruto!" panggil Shisui dengan suara tercekat. "Bersabarlah! Terimalah semua ini dengan..."
"TIDAKK! Aku tidak mau dengar. Kau bohong. Semua ini bohong. Ini tidak mungkin terjadi. Tou-san, ka-san, dan Menma masih hidup. Mereka baik-baik saja. I-ini.. hanya mimpi. Ya, hanya mimpi. Besok saat aku bangun, semua akan kembali seperti sedia kala," racau Naruto.
"Naruto..."
"Ak-aku harus pulang. Me-mereka pasti di rumah sedang menungguku untuk sarapan. Ya, aku harus pulang."
"Naruto sadarlah! Terimalah kenyataan ini. Mereka sudah pergi dengan terhormat."
"Tidak! Jangan bicara lagi. Aku tidak mau dengar apapun darimu. Kau seorang pembohong. Aku benci padamu..." racau Naruto murka sambil memukul-mukul punggung Shisui tidak beraturan, disertai isak tangis.
Shisui memilih diam. Ia membiarkan Naruto memukuli punggungnya, menyalurkan emosinya. Ia sadar, Naruto masihlah kecil. Anak di usianya masih belum cukup mampu menanggung derita kehilangan seluruh anggota keluarganya sekaligus dalam waktu semalam. Terlebih-lebih jika ia tahu apa yang telah menimpa Menma? Shisui yakin, Naruto bisa gila jika mengetahuinya.
Shisui sungguh tak tega memperlihatkan tubuh Menma yang rusak parah hingga sulit dikenali lagi di lokasi ini. Itu pasti akan mengguncang kejiwaan bocah itu, melebihi guncangan menyaksikan kematian kedua orang tuanya sendiri tepat di depan matanya. Karena itulah, Shisui memilih diam, agar Naruto tak tahu-menahu tentang Menma, setidaknya sampai Menma dimakamkan dengan layak.
Lama kelamaan, karena lelah dan juga pengaruh obat yang tadi diberikan ninja medis, Naruto pun tertidur dalam pelukan Shisui. Shisui membetulkan letak tidur Naruto. Ia membaringkan Naruto di tanah. Setelah itu, Shisui sibuk membereskan sisa-sisa tubuh Menma dan membungkusnya dalam sobekan jubah Yondaime Hokage dan meletakkannya di samping jasad Yondaime dan istrinya.
Para katak yang Minato panggil masih terdiam di tempat, menyaksikan tragedi yang menimpa keluarga Yondaime Hokage. Kepala mereka tengadah menatap langit, memberi penghormatan untuk terakhir kalinya pada Minato, Menma dan Kushina. Setelah itu, mereka menghilang satu per satu dan kembali ke gunung Myobokuzan.
Seusai kepergian para katak dari gunung Myobokuzan, Shisui terpekur di tempatnya bersimpuh. Tubuhnya lemah lunglai memandangi jasad Hokage keempat, istri dan anak bungsunya. Ia merasakan duka yang mendalam karena dalam sehari ini, dua orang yang sangat ia percayai dan juga ia hormati pergi untuk selamanya. Dan itu mereka lakukan demi klan-nya? 'Oh Tuhan...' ratap Shisui dengan hati perih.
Selang beberapa menit, para shinobi berdatangan dalam waktu yang kurang lebih bersamaan. Mereka awalnya hendak bertanya apa yang terjadi, namun mereka urungkan. Melihat Shisui yang terisak-isak secara diam-diam di depan jasad yang berderet sudah menjawab pertanyaan mereka. Mereka ikut tertunduk sedih dengan kepergian hokage keempat sekeluarga, demi melindungi Konoha.
...*****...
Hari ini Konoha berduka. Mereka yang gugur dalam pertarungan disemayamkan di pemakaman Konoha, terkecuali tubuh Kushina dan juga Menma. Keduanya disemayamkan di kuil Uzushiogakure, sebagai bagian dari klan Uzumaki. Seperti mengerti duka yang dirasakan oleh desa Konoha, langit pun ikut menangis, mencurahkan airnya membasahi areal pemakaman.
Di sana, Naruto menatap dengan tatapan kosong tugu monumen yang terukir nama ayahnya, ibunya, kakek hokage ketiga dll. Tak ada lagi isak tangis yang keluar dari bibirnya sepanjang acara. Matanya menatap nanar, jauh ke depan dengan harapan jikalau yang mereka semayamkan bukanlah jasad keluarganya, meskipun ia melihat dengan mata kepalanya sendiri ketiganya tewas. Ia masih berharap semua ini hanyalah mimpi, mimpi buruknya belaka.
Ia masih tak beranjak dari tempatnya, meskipun satu per satu dari warga Konoha sudah meninggalkan areal pemakaman. Ia menghiraukan kata-kata penghiburan dari Asuma-jisan—meski berduka masih meluangkan waktu untuk menghibur Naruto—, dari keluarga Shika, keluarga Choji, keluarga Fugaku, dan keluarga Kiba yang simpatik dengan nasib tragis Naruto. Ia juga mengacuhkan hiburan dari Kakashi-sensei dan juga Shisui-nii.
Ia bukannya tak perduli dengan mereka-mereka yang perduli padanya. Naruto hanya merasa well katakanlah mati rasa. Hatinya terlalu beku hingga ia tak mampu mendengar apapun lagi. Semua ucapan penuh simpatik itu lewat begitu saja dari telinganya. Karena Naruto tahu, amat sangat tahu suara macam apa yang ia harapkan saat ini, yakni suara sang ibu, ayah dan adiknya. Ia tak perduli meski suara itu tak lebih dari teriakan, omelan, dan cacian. Ia terima semua itu asal ia masih bisa mendengar suara mereka.
Naruto mungkin tak akan pernah beranjak dari tempatnya kalau saja ia tak mendengar suara binatang-binatang malam yang mulai berkeliaran mencari mangsa. Ia mungkin tak akan menyadari kalau ia sendirian di tempat itu kalau saja ia tak merasakan dinginnya angin malam berhembus, menyentuh tubuhnya yang beku dengan baju yang kini sudah kering setelah sebelumnya basah kuyub oleh hujan.
Naruto berjalan tak tentu arah membiarkan kakinya melangkah menelusuri tiap sudut desa Konoha. Samar-samar suara orang-orang berlalu lalang, menikmati angin malam memasuki gendang telinganya. Seperti suara seorang anak yang sedang merengek pada ibunya minta dibelikan sesuatu. Naruto menatap datar pemandangan itu.
Naruto teringat salah satu adegan yang diabadikan dengan baik dalam selembar foto yang tersimpan rapi dalam album foto milik kedua orang tuanya. Dalam foto itu terlihat Naruto kecil sedang merengek meminta sang ayah untuk membelikan ramen cup. Ayahnya sambil nyengir membuat isyarat sebuah telunjuk di depan mulut agar Naruto kecil tidak ribut sehingga ibunya yang tengah memilih sabun tidak melihat aksi nakal mereka.
Nyuttt...
Naruto merasakan denyutan nyeri di ulu hatinya mengingat sebagian kecil kebersamaannya bersama keluarganya. Tak ingin semakin larut dalam kesedihan, Naruto pun mempercepat langkahnya. Ia ingin segera sampai di rumahnya, bersembunyi di dalam selimut hangatnya, menjauhkan diri dari kenyataan hidup yang kejam.
Pagi pun tiba. Naruto memandang kosong dapur rumahnya. Biasanya, di jam segini ibunya sudah sibuk di dapur dengan wajan dan panci berisi sayur yang sudah mendidih. Di ruang makan yang terletak tepat di depan dapur mereka, sang ayah sudah duduk manis ditemani gulungan kertas entah isinya apa, sambil mengomentari celotehan ibunya. Tapi, kini dapurnya sepi. Tidak ada suara 'Sreenggg...' ikan digoreng atau kepulan asap dari panci yang airnya mendidih. Yang ada hanya kesunyian dan helaan nafas dari hidung Naruto.
Naruto mengerjabkan bulu matanya. Ia beranjak dari tempatnya melamun menuju lemari penyimpanan bahan makanan untuk keadaan darurat. Dia menatap tak berselera tumpukan cup ramen yang tersusun rapi di atas rak, padahal dulu Naruto memintanya dengan setengah memohon pada sang ibu. Kini yang tersisa tinggal kenangan menyedihkan yang membayangi hidupnya.
Naruto menyeduh cup ramennya dan menyantapnya dengan cepat sebelum membuangnya di tempat sampah. Ia lalu kembali ke kamarnya untuk meneruskan lagi tidurnya yang terganggu gara-gara perutnya yang berteriak keroncongan. Ia mengabaikan bunyi detak jam yang menunjukkan jikalau Naruto seharusnya sudah berangkat sekolah jika tidak ingin terlambat.
Begitulah keseharian Naruto. Hari-harinya kini ia isi dengan makan, tidur, dan melamun sambil memandangi potret keluarganya. Ia selalu menatap penuh rindu foto mereka yang ia pajang semua, memenuhi seluruh dinding kosong di mansionnya. Otaknya terus mengingat-ingat, merekam suara dan wajah mereka untuk ia patri jauh ke dalam hatinya dan lalu membayangkannya seolah-olah mereka masih hidup di sisinya.
Hari-harinya ia lalui di dalam rumah saja. Naruto menolak menghabiskan waktunya di luar rumah. Ia menolak ajakan makan malam bersama dari Shika, Choji, bahkan Sasuke. Ia juga tak mengijinkan siapapun menginjakkan kaki di rumahnya. Naruto menolak bersinggungan dengan dunia luar. Ia hanya ingin sendiri bersama kenangannya di rumah itu untuk mengobati rasa kesepian dan luka di hatinya.
Naruto sama sekali tak tahu kalau sikapnya itu telah membuat banyak orang yang perduli padanya bersedih, khususnya Sasuke. Ia merasa bersalah pada Naruto. Naruto jadi menderita begini, kehilangan semua keluarganya karena dia dan klannya. Kalau saja malam itu, Minato-sama tidak memilih untuk turut campur urusan klannya, pastilah hari ini dia yang jadi anak yatim piatu. Pasti Sasukelah yang berada di posisi hidup sebatang kara di dunia ini.
Tapi ia bisa apa? Naruto terlalu keras kepala dan menolak perhatian orang lain. Shika dan Choji yang akrab dengannya saja ia tolak, apalagi orang luar seperti Sasuke yang notabene selalu memusuhinya? Kakashi-sensei yang ia hormati saja ia usir, apalagi hanya seorang Shisui dan Itachi yang masih asing dalam hidup Naruto?
'Naruto...' batin Sasuke prihatin menatap kediaman Namikaze yang suram dengan cahaya yang redup temaram.
Di hari ketujuh, Kakashi berhasil memaksa Naruto bicara.
"Naruto, ikhlaskanlah kepergian mereka," kata Kakashi lirih memulai percakapan canggung mereka di ruang keluarga. "Mereka sudah melakukan yang terbaik yang bisa mereka lakukan untuk melindungi kau dan juga Konoha. Ku mohon jangan bersikap seperti ini. Jangan menarik diri dari pergaulan! Kau masih muda. Hidupmu masih terbentang panjang,"
"Aku.." Ujar Naruto kaku membuka suaranya. "Aku..aku tak tahu sensei. Aku bingung. Ini..ini seperti mimpi buruk dan aku harap aku..aku akan segera bangun detik ini juga."
"Naru-chan.."
"Sejak hari itu, aku terus bertanya-tanya pada diri sendiri. Aku dihantui berribu tanya kenapa. Kenapa begini? Kenapa begitu? Semua ini begitu membingungkan. Aku tak mengerti lagi semua ini sensei. Tidak mengerti."
"Apa yang bisa ku lakukan untukmu, Naruto?"
"Tolong ceritakan padaku, Sensei! Kenapa.. kenapa tousan berbuat seperti itu? Kenapa tousan membunuh kaasan?" ujarnya dengan nafas tercekat.
"Ceritanya panjang Naruto..." ujar Kakashi sebelum mengambil nafas panjang. "Semua ini bermula dari peristiwa 7 tahun yang lalu. Tepat di hari kelahiranmu ada Pria bertopeng yang menyerang Konoha menggunakan Kyuubi. Saat itu keadaan benar-benar kacau. Banyak orang biasa dan shinobi yang tewas. Banyak orang-orang yang tak bersalah yang jadi korban. Untunglah Minato-sensei berhasil memukul mundur Pria bertopeng itu dan juga Kyuubi."
"Lalu? Lalu, apa hubungannya dengan kematian ayah dan ibu?"
"Satu-satunya cara untuk menghentikan Kyuubi adalah dengan menyegelnya ke tubuh seseorang." Kakashi menatap Naruto tajam. "Dan orang itu adikmu."
Naruto menatap nanar senseinya. Ia memang sudah diberitahu sang ayah soal status Menma yang seorang jinchuuriki. Namun, ia tak mengerti alasan kenapa Kyuubi bisa ada di perut ibunya? Kenapa ayahnya menarik paksa Kyuubi dari tubuh ibunya yang menyebabkan sang ibu dan juga ayahnya sama-sama tewas. Dan berribu tanya kenapa lainnya?
"Semua orang tahu status Menma. Karena itu Menma diperlakukan beda. Ayahmu sangat over protektif pada Menma. Menma selalu dijaga anbu pilihan Minato-sensei 24 jam full dan tidak pernah menerima misi keluar dari desa. Menma tak pernah menerima misi berbahaya," lanjut Kakashi.
"Tapi Menma diajak tou-san ke kompleks Uchiha malam itu." Potong Naruto.
"Aku juga tak mengerti apa alasannya. Tapi mungkin kehadiran Menma adalah untuk memuluskan negoisasi penting. Sampai Pria bertopeng itu hadir dan mengacaukan segalanya. Ia berhasil membunuh Menma dan memaksa ibumu untuk kembali menjadi jinchuuriki Kyuubi. Ibumu lalu membantu ayahmu melawan pria bertopeng itu. Keduanya berhasil mendesak si Pria bertopeng, meski nyawa taruhannya. Ayah dan ibumu sama-sama sekarat,"
"Bisakah sensei mengatakan intinya saja?" celetuk Naruto masih belum paham maksud cerita sang sensei.
Kakashi mengabaikan celetukan Naruto dan fokus pada kenangan di malam itu. "Kyuubi yang tahu jinchuurikinya sekarat memberontak ingin keluar. Dan, itu berarti neraka untuk Konoha. Dengan sekaratnya ayahmu dan juga kematian Hokage ketiga, tak ada lagi orang di Konoha yang bisa melawan ancaman Kyuubi. Pada akhirnya Konoha akan tinggal sejarah."
Nafas Naruto tercekat. Sesaat tubuhnya membeku membayang jika itu benar-benar terjadi. "L-lalu?"
"Satu-satunya cara yang bisa Minato-sensei pikirkan untuk menghentikan Kyuubi adalah dengan kematian ibumu. Tapi ayahmu tak sanggup melakukannya karena itu, ia memilih untuk mati bersama ibumu. Jika mereka mati, Kyuubi juga akan mati dan Konoha selamat. Dan pada akhirnya kau pun selamat, Naruto."
Naruto terdiam. Dia enggan berkomentar. Ia tak tahu apakah cerita Kakashi sensei bisa dipercaya atau tidak. Mungkin sebagian benar, namun sebagian lagi Naruto tak yakin. Feeling Naruto mengatakan ada kesalahan besar dalam cerita Kakashi. Feelingnya mengatakan bahwa semua itu tidak sesederhana yang terlihat.
Setahunya Naruto, ayahnya tidak akan pernah mau melakukan hal-hal bodoh untuk sebuah tujuan sepele apalagi alasan bodoh seperti pepatah sehidup semati. Naruto percaya dibalik semua itu, ayahnya pasti sedang merencanakan sesuatu yang besar. Nah di bagian itu tuh yang Naruto tidak tahu.
"Apa sudah selesai?" tanya Naruto setelah keheningan yang menyiksa.
"Ya," sahut Kakashi muram.
"Kalau tidak ada lagi yang ingin sensei katakan, tolong pergilah!"
"Naruto.."
"Maafkan ketidak sopananku yang tak bisa mengantar sensei sampai di depan pintu." Ujarnya datar.
Kakashi menatap penuh selidik anak dari senseinya, mencoba membaca pikirannya. Namun, raut wajah Naruto datar, sedatar dinding di belakangnya, menyembunyikan emosinya dan isi pikirannya untuk dirinya sendiri. Naruto terlihat enggan berbagi pikiran dengan orang lain.
"Baiklah, aku pergi." Ujar Kakashi menyerah. "Tapi ingatlah pesanku. Kalau kau sedang sedih, menangislah. Setelah itu, hapus air matamu dan tatap masa depan dengan gagah berani." Petuah Kakashi sebelum beranjak dari tempat duduknya.
"Aku mengerti, Sensei. Dan, terima kasih."
"Hm, aku pergi dulu, Naruto,"
Naruto mengangguk memberi isyarat pada Kakashi. Usai kepergian Kakashi, Naruto jadi lebih banyak merenung. Ada banyak hal yang mengganggu pikirannya saat ini. Namun, tak ada satupun yang berhasil ia pecahkan. Semakin banyak yang ia tahu, justru ia semakin terjebak dalam labirin rahasia yang entah sampai kapan berhasil ia lewati.
"Jika kau bingung pada suatu hal, maka kembalilah pada jalan awal kau melangkah. Belajarlah dari dasar sebelum melangkah pada tahap selanjutnya agar kau tak tersesat di tengah jalan." Kata mendiang Hokage ketiga di suatu waktu saat Naruto belajar filosofi hidup dengannya.
Naruto manggut-manggut seakan-akan menemukan jalan keluar. Ia memutuskan mencari segala sesuatu tentang ayahnya dari berbagai peninggalan sang ayah. Naruto sibuk membongkar seisi rumah. Naruto mulai mengumpulkan informasi dari album foto, surat-surat, catatan-catatan, gulungan jutsu, hingga barang-barang pribadi peninggalan keduanya. Semuanya ia geledah dan ia periksa.
Salah satu peninggalan penting sang ayah yang menarik hati Naruto adalah gulungan jutsu berisi aliran Chikung yang dipelajari Naruto selama ini. Ia membaca dengan detail deretan huruf yang tertera di dalam gulungan.
Aliran Chikung sama halnya dengan aliran senjutsu dari gunung Myobokuzan yakni sama-sama belajar memanipulasi cakra alam. Setelah menguasai Chikung, orang itu mampu mendeteksi cakra siapapun yang ia inginkan tanpa terkecuali.
"Tanpa terkecuali?" tanya Naruto pada diri sendiri. 'Bagaimana mungkin?' pikirnya bingung, mengingat ketidak mampuanya melacak cakra Menma.
Tiap kali ia melacak Menma, ia hanya berhasil melacak cakra ayah atau ibunya. Tapi, tidak mungkin pula ayahnya salah karena ayahnyalah yang menciptakan jutsu ini. Ia lebih tahu jutsu ini daripada Naruto. Naruto mengusap dagunya resah. Ia mengingat-ingat semua hal-hal kecil yang selama ini ia lewatkan.
Naruto ingat, setelah ia menguasai jutsu Chikung, Naruto hampir tak pernah berinteraksi dengan Menma. Jangankan bercakap-cakap layaknya saudara, bertegur sapa pun tidak. Dan, Naruto juga ingat, ayah dan ibunya selalu dan selalu menjauhkan Naruto dari Menma. Ia pikir itu karena sifat pilih kasih mereka. Tapi, sekarang ia tak yakin. Pasti ada alasan tersembunyi dari hal ini.
Tapi, apa? Apa yang ditakuti ayah dan ibunya hingga Menma dilarang berada dalam satu ruangan bersama Naruto? Naruto mengerutkan dahinya, berfikir keras. Ingatannya melayang pada ucapan Fugaku jisan pada hari naas itu. Ia bilang ayahnya tidak bersama ibunya. Ia hanya datang bersama Menma, tapi Naruto jelas-jelas merasakan cakra ayah dan ibunya di sana. Tapi, kenapa tidak ada yang menyadari keberadaan ibunya? Rasanya mustahil para Uchiha itu tak berhasil melacak ibunya. Terkecuali, jika..ukh..jika…
"Mustahil. Ini tidak mungkin. Bagaimana bisa? Dan, untuk apa ayah melakukannya?" gumamnya tidak jelas pada dirinya sendiri.
Naruto mondar-mandir di ruangannya. Ia berfikir keras. Ia teringat percakapannya dengan hokage ketiga mengenai sifat anti-mainstream ayahnya, percakapannya dengan ayahnya di lembah akhir saat ia diuji sang ayah apakah ia layak belajar ilmu ninja atau tidak, dan berbagai percakapan kecil lainnya. Semua membentuk sebuah puzzle raksasa yang menggoda Naruto untuk memecahkannya.
"Tousan..." ujarnya lirih. "Terkadang aku seperti mengenalmu, tapi terkadang kau terlihat seperti orang asing di depanku. Semakin aku mencari tahu tentangmu, semakin aku tidak tahu apa-apa. Kau seperti sebuah tanda tanya untukku." Ujarnya bermonolog sendiri.
"Tapi, aku tidak akan putus asa. Aku akan mencari tahu tentangmu, tentang Menma, tentang rencanamu yang sesungguhnya, dan sekaligus meneruskan impianmu yang tak berhasil kau wujudkan. Aku akan jadi hokage yang melebihi hokage-hokage sebelumnya," Janji Naruto dalam hati.
TBC
Maafkan aku yang telah membunuh Minato dan Hokage ketiga. Sudah tuntutan skenario. Adakah diantara reader yang mulai bisa menebak-nebak apa yang direncanakan Minato dan rahasia sosok Menma yang sering disebut-sebut, tapi jarang sekali muncul ini? Sampai jumpa di chap depan : Konoha Era Baru sekitar bulan depan
PS : Mohon sarannya siapa yang pantas jadi hokage yang baru plus alasannya ya?
