Seat belt dalam genggamannya ia jadikan tumpuan hidup. Manik cokelat itu terpejam erat. Ia tak memiliki keberanian untuk menatap jalanan dalam keadaan secepat ini. Semua jalanan yang dilihatnya terasa mengabur. Rasanya ia bisa mati sekarang juga.

"Sialan, kenapa polisi itu masih bisa mengejar kita? dia pembalap, hah?" Taehyung mendesis menatap sebelah kacanya yang dihiasi satu mobil polisi. Ia tidak mungkin menambah kecepatan mobilnya begitu melihat keadaan Jungkook yang siap mati seperti itu. Taehyung masih tahu diri untuk tidak membunuh pemuda itu dengan kecepatan mengemudinya.

"Jungkook, kau mendengarku? tolong ambilkan kawat di bawah kakimu. Aku memiliki firasat kita akan tertangkap." pinta Taehyung tanpa mengalihkan pandangannya. Jungkook membungkuk dan mencari benda itu. Ia menyerahkannya kepada Taehyung.

"Taehyung aku takut." bibir itu gemetar. Maniknya menyiratkan kecemasan yang luar biasa.

"Apa yang kau takutkan, kelinci manis?" Taehyung tersenyum. Apa Jungkook takut mati? jika iya, maka Taehyung tidak akan membiarkan hal itu terjadi.

"Aphrodisiac, bodoh! bagaimana kalau aku horny sekarang!? aku tidak mungkin masturbasi di sini!"

"Bicaramu terlalu blak-blakan. Kata Jimin sih reaksinya cuman sebentar karena itu produk percobaan katanya."

"Biar kata percobaan tetap saja obat itu akan membuatku seperti jalang!"

"Kan ada aku yang bisa membantumu. Aku membuka jasa jilat penis jika kau mau. Ah, tapi jasa itu hanya dibuka khusus untukmu." Taehyung menginjak pedal dan menambah kecepatan mobilnya.

Kecepatan mobil polisi itu setara dengan kecepatan mobil Taehyung. Keduanya saling menginjak pedal untuk mendominasi. Taehyung tersanjung dengan kelihaian polisi lokal dalam hal mengejar buronan. Sepertinya ia tidak bisa meremehkan polisi Korea Selatan lagi.

Taehyung merasa ada sesuatu yang mengarah padanya. Bibirnya menyungging senyum. Sudah ia duga bahwa polisi itu akan memilih menembak kepala. Dengan keadaan seimbang seperti ini, mereka akan lebih mudah menembak Taehyung tanpa takut meleset. Tangannya langsung menarik handle dan memundurkan jok mobilnya dengan cepat.

DOR!

Berhasil. Tembakan peluru itu meleset dan menembus kaca yang berada di sebelah Jungkook.

"Huft, nyaris saja." Taehyung kembali memajukan jok mobilnya. Ia kembali menyetir dengan kecepatan tinggi. Lagi-lagi ia merasa ada sesuatu yang mengarah kepadanya. Kali ini bukan pistol lagi, tetapi senjata laras panjang.

Taehyung bersiap menarik handle lagi, tetapi perasaannya janggal.

'Polisi tidak mungkin melakukan kesalahan yang sama...kan?' Manik hazel itu berusaha fokus menyetir meski sulit. Batinnya bimbang menerka rencana apa yang akan dijalankan oleh polisi ini.

'Belum lagi arah moncong senjata itu tidak terlalu mengarah kepadaku dan terkesan ragu-ragu.' Taehyung bersuara dalam hati. Jika memang benar senjata itu mengarah padanya, ia sudah siap untuk menghindarinya.

"TEMBAK!"

Manik hazel itu membola.

"JUNGKOOK AWAS!"

DOR!

BRAAAAK!

Mobil sport Taehyung menabrak pembatas jalan hingga menimbulkan suara bantingan yang keras. Kap mobil sport itu hancur total hingga mengeluarkan percikap api dan kepulan asap. Taehyung membuka matanya begitu merasakan ledakan kecil di dalam kabin. Ia segera melepas seat belt yang dikenakan Jungkook dan menariknya keluar dari mobil. Lima detik setelahnya, mobil sport merah itu meledak dan menimbulkan kebakaran.

"Jungkook, kau tidak apa-apa? Hei, sadarlah!" Taehyung menatap dengan sirat kekhawatiran. Ada sedikit darah yang mengalir di pelipis dan pergelangan tangan Jungkook. Meskipun mereka tadi menggunakan seat belt, tabrakan mobilnya itu cukup membuat kepala keduanya ikut terbanting.

Jungkook masih bergeming. Matanya tak kunjung terbuka. Taehyung semakin khawatir meskipun ia tahu Jungkook tidak mati.

"Angkat tangan!"

Taehyung mendecih begitu kedua polisi yang tadi sanggup mengejarnya kini mengarahkan senjata mereka. Fabrik yang melekat pada tubuh kedua polisi itu bersih dan kulit mereka tidak terluka sedikitpun—dan hal itu membuat Taehyung mendecih tak suka. Rasanya biar ia saja yang menorehkan luka sayatan dan tembakan kepada dua polisi itu.

Kedua tangan Taehyung terangkat sebagai tanda menyerah. Taehyung memang tidak menyimpan senjata apapun di balik fabrik yang dikenakannya. Ia hanya menyimpan pisau lipat di dalam saku celana, tetapi ia tidak mungkin menang melawan senjata laras panjang. Pistol yang sempat ia gunakan saat membunuh polisi di rumah Jungkook sudah ia letakan dalam mobil, dan mobilnya kini sudah hancur dan terbakar.

Kedua polisi itu mendekat dengan borgol di tangan mereka. Masing-masing dari mereka bergerak ke arah Taehyung dan Jungkook. Polisi yang berjalan ke arah Taehyung masih tetap mengarahkan moncong senjata itu. Taehyung tersenyum remeh melihatnya.

"Aku sudah tidak bersenjata, tetapi kau masih mengarahkan senjatamu? apa aku terlihat sebegitu menakutkan meski tak bersenjata?" nadanya sarkas dengan sirat menghina. Ia tarik kembali ucapannya. Nyatanya polisi lokal masih bernyali ciut ketika menghadapi kriminal professional seperti dirinya.

"Diam!" Polisi itu membentak. Ia segera mengeluarkan borgol dan mulai memborgol kedua pergelangan Taehyung. Taehyung hanya diam tanpa melawan.

"Hebat sekali kau sengaja menabrak mobilmu demi melindungi bocah itu. Kau kriminal yang masih menggunakan perasaan, eoh?" polisi itu bertanya remeh kepada Taehyung. Taehyung hanya menyungging senyum—polisi ini memborgol tangannya dari depan.

"Hei," Taehyung menatap polisi lain yang tak jauh darinya, "Jangan borgol pemuda itu. Dia tidak bersalah." ucapnya pada polisi yang mau memborgol pergelangan tangan Jungkook.

"Kau pikir polisi bekerja setengah-setengah ketika menangkap kriminal? Kami bekerja secara menyeluruh. Jika benar bocah itu tidak bersalah, silahkan ucapkan pembelaannya di pengadilan." Ucapan polisi itu membuat Taehyung terdiam. Bagaimanapun juga Jungkook tidak bersalah dan tidak pantas diseret ke pengadilan.

"Baekhyun, cepat borgol bocah itu!"

"T-tapi Tangannya lecet dan sedikit berdarah. Darahnya terus mengalir tidak berhenti." polisi yang bernama Baekhyun itu berucap takut. Keadaan Jungkook tidak sebaik dengan keadaan Taehyung yang hanya mengalami lecet di sekitar kepala.

"Persetan dengan luka, dia itu penjahat, bodoh! aish!" Polisi itu menendang perut Jungkook hingga Jungkook meringis.

Taehyung tersentak melihatnya, "Brengsek, jangan kasar padanya!"

Manik hazel itu melirik sekitarnya seperti mencari sesuatu. Ada batu yang cukup besar di sebelah kaki kirinya.

"Penjahat diam saja." Polisi itu menginjak tangan Jungkook tanpa perasaan.

"Aaah!" Jungkook meringis kesakitan.

Rahang Taehyung mengeras. Alisnya menukik tajam. Sebenarnya siapa yang penjahat di sini?

Polisi itu menyambar borgol di tangan Baekhyun, "Memborgol orang saja tidak bisa. Dasar tidak berguna!" Polisi itu mulai memasangkan borgol pada pergelangan Jungkook dengan kasar. Jungkook merasa luka di pergelangan tangannya semakin lebar hingga likuid merah kembali mengalir.

"S-sakit! Aaa—!"

"BAJINGAN, JANGAN KASAR PADANYA!"

DUAK!

Polisi yang hendak memasangkan borgol di tangan Jungkook itu tumbang seketika. Baekhyun menatap horror partnernya yang kini mati dengan darah yang mengalir di belakang kepala. Taehyung baru saya memukul salah satu polisi itu dengan batu. Tangannya yang terborgol berusaha merogoh saku celana. Ia segera memasukan kawat tersebut ke dalam borgol.

"!?"

Baekhyun terkejut. Tidak sampai satu menit bagi Kim Taehyung untuk melepaskan diri dari borgol yang sempat menguncinya.

"Jangan terkejut seperti itu." Taehyung membuang borgol itu asal. Ia berjalan ke arah polisi yang tak bernyawa dan menariknya, "Baekhyun, kuberitahu kau satu hal. Borgol bisa dibuka dengan kawat, penjepit, dan shim. Kau hanya perlu memasukan benda itu ke sela borgol dan mendorongnya sedikit."

Baekhyun mengerjap bingung. Ia ingin bertanya lebih lanjut, tetapi maniknya membola ketika Taehyung menyeret partnernya dan melemparnya ke mobil sport merah yang masih mengeluarkan kobaran api. Kobaran api itu melahap habis jasad partner kerjanya.

"Aku pembunuh bersih yang tidak suka meninggalkan jejak." Taehyung berjalan ke arah Baekhyun yang menatapnya penuh takut. Ia segera mengangkat tubuh pemuda kelinci yang tampak lemah. Taehyung tidak memiliki urusan lagi dengan polisi di hadapannya. Batinnya memerintah untuk segera pergi ke dalam mobil polisi.

"Aku tidak akan membunuhmu. Sebagai gantinya aku akan mengambil mobil ini." Taehyung mulai menyalakan mesin mobil polisi itu. Suara sirine polisi mulai terdengar. Bibirnya menyungging senyum lagi, "Aku tahu kau polisi baru. Saat kau berusaha menembak Jungkook, kau ragu-ragu karena kau tidak berani membunuh orang meski kriminal sekalipun. Oh iya, aku juga senang saat kau tidak memborgol tangan Jungkook dan lebih mempedulikan lukanya. Setidaknya kau lebih manusiawi dibanding partner brengsekmu itu."

"J-Jungkook?" Baekhyun bertanya pelan. Apa Jungkook nama pemuda yang nyaris ia borgol tadi?

"Ya." Taehyung melihat ke arah spion. Polisi lain sudah mulai berdatangan, "Aku harus pergi. Jangan pernah mengejar kriminal seperti ku jika kau takut mati."

Entah pikiran apa yang membawa Baekhyun untuk menganggukan kepalanya. Seharusnya ia sadar ia sedang berbicara dengan seorang kriminal.

"Oh iya," Taehyung tersenyum jahil seperti anak kecil, "Malam ini aku akan melakukan seks dengan Jungkook. Doakan semoga proses memasukan penisku kedalam anal Jungkook berjalan dengan lancar ya."

Baekhyun melotot.


V UCK YOU

BTS (c) Big Hit

Fanfiction by Rikka-Yandereki

Pairing: Kim Taehyung (V) x Jeon Jungkook

VKOOK

Killer!V x Bartender!JK

Rated: M

WARNING: Typo, Dirty Talk, OOC dll.

Bagi yang tidak nyaman dengan konten tersebut mohon tidak membacanya.


Manik cokelat itu mengerjap pelan. Kepalanya terasa pusing dan tangannya terasa mati rasa. Ia mencoba menatap sekitarnya dan netranya menemukan Taehyung yang tengah menyetir di sebelahnya.

"Sudah sadar, manis?"

Suara Taehyung sedikit menyadarkan Jungkook. Pandangan pemuda kelinci itu mulai terlihat jelas. Samar-samar ia mendengar suara sirine polisi. Apa ia berada di mobil polisi?

"Taehyung kita masuk penjara?"

"Masuk ke anal Jungkook."

"Brengsek, Aku bertanya serius." Jungkook mendecih. Dalam keadaan seperti ini pun Kim Taehyung masih menjadi orang yang mesum.

Taehyung tertawa ringan, "Tidak, kita lolos dari polisi. Mobil sport merahku meledak dan terbakar, jadinya aku mengambil mobil polisi ini. Lagipula dengan bunyi sirine polisi ini, warga sipil tidak akan menyadari kalau aku seorang buronan. Mereka hanya menganggap kita adalah polisi yang sedang berpatroli."

Jungkook baru menyadari sebuah perban yang melingkar di kepalanya. Pandangannya tertuju pada pergelangan tangan yang dipenuhi perekat luka, "Ulahmu?" tanyanya sambil menunjuk perekat luka tersebut.

"Iya. Aku bukan dokter, jadi maaf jika tidak bisa menyembuhkanmu." Taehyung tersenyum miris. Jujur saja ia merasa bersalah membuat wajah cantik pemuda itu menjadi terluka karena perbuatannya.

"Tak apa. Justru aku yang minta maaf karena tidak berguna."

"Kau tidak perlu meminta maaf, sayang. Minta maaflah ketika kau tidak bisa memuaskanku nanti."

"Ap—Hei Kim brengsek, kau serius mau meniduriku malam ini?"

"Tentu saja, baby. Lihat, kita sudah sampai ke hotel yang dituju."

Jungkook meruntuki niatnya yang tadi meminta maaf. Dirinya benar-benar lupa bahwa Kim Taehyung adalah Kim brengsek yang mesum, cabul, bajingan, dan pernah menciumnya sembarangan.

Taehyung memberhentikan mobil polisi itu di balik pepohonan. Mereka berdua segera turun dari mobil dan berjalan sedikit ke hotel tersebut. Jungkook memakluminya karena mereka tidak mungkin memarkirkan mobil polisi di hotel.

.

.

.

"Aku pesan kamar ukuran king size untuk satu malam."

Jungkook terkejut. Ia segera mencubit pinggang Taehyung hingga pemuda itu meringis, "Kenapa king size!? pesan single bed sekarang juga!"

"Kan sudah kubilang aku ingin seks denganmu—"

Jungkook segera membungkam mulut kotor itu dengan tangannya, "Kau mau membuatku malu, hah? jangan ucapkan kata mesum itu di depan resepsionis, dasar Kim brengsek!" bisik Jungkook dengan aura membunuh.

"Hmmp..." Taehyung mendengus. Lidahnya menjilat telapak tangan Jungkook yang membungkam mulutnya.

"Ah, dasar mesum!" Jungkook segera melepaskan tangannya begitu merasakan tangannya basah karena saliva Taehyung.

"T-tuan? jika Anda ingin melakukan 'itu', ada minimarket di dekat hotel kami. Kalian bisa membeli beberapa kebutuhan seperti kon—errr—ya seperti itulah." resepsionis itu tersenyum kaku. Rona merah juga nampak di kedua pipi yang berpoleskan make up itu.

"Tidak perlu. Aku ingin melakukannya tanpa pengaman." Taehyung menolaknya secara halus.

"Uhm.. b-baiklah..." Resepsionis itu mulai menuliskan kamar yang dipesan Taehyung, "Atas nama siapa?"

"V."

Taehyung segera membayar harga kamar itu dan menerima kunci kamar yang dipesannya. Ia segera menyeret Jungkook secara paksa. Selama di lift, Jungkook sangat berisik karena mengomel kepada Taehyung perihal kamar yang dipesannya. Taehyung hanya menanggapi dengan gumaman singkat tidak peduli. Sepertinya Jungkook sedang menstruasi, mungkin?

"Yak! Kim Taehyung kau dengar tidak!?" Taehyung merebahkan tubuhnya pada kasur king size itu. Ia memilih untuk tenggelam dalam alam mimpi dibandingkan harus mendengar ocehan Jeon Jungkook yang kelewat berisik itu. Suara dengkuran halus mulai terdengar dari bibir kotaknya.

"Taehyung sana mandi dulu! Jangan seenaknya tidur dalam keadaan kotor!" Taehyung terbangun ketika Jungkook mengambil bantalnya secara kasar. Taehyung mendecih kesal. Jungkook sangat cerewet seperti ibu-ibu.

"Bangsat, jangan ganggu aku. Aku sedang lelah dan tidak ingin berdebat denganmu, Jeon Jungkook."

"Bangsat menghina bangsat. Mandi dulu sana, brengsek!"

"Mandi bersama, mau?"

"KAU GILA, YA!?"

Taehyung menutup telinganya karena Jungkook berteriak sangat keras. Pemuda itu dengan malas menyeret kakinya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.

"Dasar jimin brengsek. Aphrodisiac tidak membuat Jungkook terangsang tetapi membuatnya cerewet." umpat Taehyung kesal. Ingatkan dirinya untuk menguliti teman penipunya itu.

Selagi Taehyung membersihkan diri, Jungkook terdiam di depan benda yang memantulkan bayangan dirinya. Penampilannya cukup berantakan, apalagi ia diperban dan ditempeli perekat luka. Pemuda itu menghela napas mengingat kejadian tadi. Ia melirik jam yang menunjukan pukul 11PM. Cukup lama ia bermain kejar-kejaran dengan polisi itu. Untunglah ia masih selamat.

KRIING

Jungkook merasa ponselnya berbunyi. Manik cokelatnya berbinar begitu nama 'Min Yoongi' tertera pada layar benda pintar itu. Jungkook segera mengangkat panggilan itu.

"Halo, hyung?"

"Jungkook? syukurlah kau selamat. Kau ada dimana sekarang?"

Jungkook tersenyum, "Aku baik-baik saja. Aku berada di hotel dan untungnya aku membawa ponselku."

"Dasar bodoh! berita tabrakan itu sudah disiarkan di tv dan aku panik begitu ada rekaman wajahmu. Meski samar, tapi aku yakin itu kau." Jungkook dapat mendengar suara helaan napas, "Tolong jangan melakukan hal yang membahayakan. Aku tak mau kau mati."

"Tak apa. Aku punya tumbal yang bisa kugunakan untuk mati terlebih dahulu."

"Kim Taehyung? boleh juga. Tapi kau tidak tega melakukan hal itu kepada pacarmu sendiri?"

"Pacar? hyung, kau gila. Aku tidak pacaran dengan Kim brengsek itu."

"Kalian pasti akan pacaran. Aku dengar dari Jimin kalau Taehyung menaruh zat lain di dalam beer yang kau minum. Kuperingatkan saja ya, Aphrodisiac itu sangat menyiksa. Rasanya bermain solo itu tidak cukup untuk menuntaskan hasratmu. Aku dan Jimin sampai melakukan lima ronde lebih agar aku puas." ucapan hyungnya itu membuat Jungkook teringat tentang zat sialan itu.

"Astaga hyung jangan menakut-nakutiku."

"Uhm... saat kau menelponku dalam keadaan errr mendesah, saat itu aku dalam pengaruh aphrodisiac. Jimin sialan itu memasukannya juga dalam minumanku. Rasanya sangat menyiksa. Setidaknya kau beruntung kau dapat melakukan 'itu' di hotel. Tidak sepertiku yang horny di tempat kerja dan kami harus menyewa ruangan mau tidak mau."

Jungkook menghela napas mendengar penjelasan itu, "Hyung aku takut..."

"Tak perlu takut. Rasanya enak kok—ups, sepertinya aku mulai tertular otak mesum Jimin. Besok kau harus bekerja dan tidak boleh membolos! aku sudah bosan meladeni yeoja yang selalu menanyakan dimana Jungkook oppa. Sudah ya, selamat malam."

"Ne..."

Panggilan terputus. Jungkook menghela napas lagi. Jantungnya berdegup kencang.

"Sudah teleponnya?"

Jungkook tersentak ketika Taehyung bertanya kepadanya. Ia segera berbalik dan sialnya ia terpana melihat penampilan Taehyung yang sedikit basah karena air. Jungkook menampik pikiran nistanya. Ia segera berlari menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.

"Aku tidur duluan, ya. Jangan ganggu aku jika kau tidak mau kutusuk."

Napas Jungkook memburu. Jantungnya berdegup kencang. Padahal ia tahu yang dikatakan Taehyung adalah ditusuk dengan pisau.

Tapi mengapa ia justru berpikiran lain?

.—.—.

Tubuhnya tersentak ketika merasakan banyak keringat yang mengalir di setiap inci tubuhnya. Napasnya memburu dan detak jantungnya tidak normal. Bibirnya terasa basah dan bagian privasinya terasa sesak. Jungkook segera bangun dan merubah menjadi posisi duduk. Ia menatap jam yang masih menunjukan pukul 1AM. Dia baru tidur dua jam.

"hah...hah..."

Jungkook merasa panas, padahal Jungkook yakin pendingin kamar hotel itu masih berfungsi dengan baik. Ia mencoba menetralkan detak jantung dan napasnya, tetapi usaha itu tidak berhasil. Ia beranjak dari kasur king size itu dan berjalan menuju cermin. Ia sangat terkejut, ekspresinya saat ini persis dengan pelacur yang sering ia temui di bar Yoongi.

"Astaga Jungkook kau kenapa..." Jungkook merasa semakin panas—dan yang paling parah adalah dia merasa celananya sangat basah. Ia segera berlari ke kamar mandi dan menguncinya. Ia menatap miliknya sendiri yang benar-benar menegang dengan mesumnya. Jungkook berani bersumpah jika ia benar-benar ingin masturbasi sekarang.

'Kuperingatkan saja ya, Aphrodisiac itu sangat menyiksa. Rasanya bermain solo itu tidak cukup untuk menuntaskan hasratmu.'

Tiba-tiba Ucapan Yoongi melintas di pikiran pemuda kelinci itu. Jungkook menjambak rambutnya frustasi.

"Kenapa obatnya berefek di saat yang tidak tepat..." Jungkook menghela napas.

'Kan ada aku yang bisa membantumu. Aku membuka jasa jilat penis jika kau mau.'

Entah tersambar apa, ingatannya tentang ucapan Kim Taehyung di mobil tadi membuat Jungkook orgasme seketika.

"Aanh..."

Hebat. Jeon Jungkook orgasme hanya karena kata-kata mesum Kim Taehyung.

Jungkook menstabilkan deru napasnya. Ia kira orgasme sekali akan membuatnya terbebas meski sedikit, dan nyatanya malah membuatnya ingin melakukan lebih. Shit.

Kejantanannya masih menegang melawan gravitasi. Oke, Jungkook akan melakukan cara ini. Ia akan mengingat segala kata-kata Taehyung agar ia bisa orgasme dan menuntaskan hasratnya seorang diri. Ia tidak mau melakukan seks dengan Taehyung. Bahkan sampai seperti ini pun, Jungkook masih kuat dengan pendiriannya.

Jungkook mulai memegang kejantanannya. Membayangkan segala kata-kata Taehyung.

"Jungkook, sedang apa?"

Pemuda kelinci itu tersentak.

Taehyung mengetuk pintu kamar mandi, "Kau sedang apa? Aku melihat kasurmu basah. Apa kau mimpi basah?"

"Aaakh...!" Jungkook terkejut karena kata-kata seperti itu membuatnya orgasme lagi.

"Jungkook?" Taehyung terdiam beberapa detik.

BRAAK

Jungkook membuka pintu kamar mandi dengan kasar. Ia segera berlari menuju kasur dan membungkus dirinya dengan selimut. Ia mengeratkan tubuhnya dengan posisi membelakangi Taehyung, "Maaf aku mengganggumu. Silahkan tidur lagi."

"Ooh... obatnya bereaksi rupanya."

Pemuda kelinci itu terkejut.

"Tidak mau dibantu?" Taehyung berjalan mendekat dengan seringai yang terlukis di bibirnya. "Jangan sungkan. Kau tidak sendirian, jalang."

Seharusnya Jungkook marah dikatai sebagai jalang.

"Taehyung..."

Tapi kenapa ia merasa senang dikatai jalang?

Taehyung menyeringai melihat Jungkook yang mulai berbalik dan menatapnya dengan mata berair. Uh, manisnya.

"Sakit..." Jungkook menatap manik hazel yang menatapnya penuh lapar, "Sesuatu ingin keluar..."

"Itu minuman yang kupesan beberapa hari yang lalu, sayang. Akhirnya datang juga." Taehyung menyeringai sadis. Rasanya ia benar-benar gila memercayai dirinya akan meniduri Jeon Jungkook malam ini.

Jungkook tersentak ketika selimut yang membungkus dirinya disingkap. Taehyung menindih tubuhnya. Netranya menatap lapar tiap jengkal tubuh Jungkook yang basah karena keringat dan sprema.

"Kau baru saja masturbasi, hm? apa-apaan cairan yang terus mengalir ini? kau membuat minumanku terbuang sia-sia." Taehyung mencubit nipple Jungkook yang masih terbungkus kain.

"Aanhh..." Jungkook menggeliat tak nyaman. Taehyung yang melihatnya semakin gila.

Jari Taehyung perlahan-lahan membuka kaus yang dikenakan Jungkook. Sedikit hati-hati karena ia tidak mungkin melukai pergelangan tangan Jungkook yang dipenuhi perekat luka. Ia mendecak kagum menatap tubuh Jungkook yang sangat menggoda untuk dicumbui.

"Hhngh... Tolong aku...Taehyung...cepaath.." Jungkook menatap Taehyung dengan sayu.

"Kemana Jeon Jungkook yang bersikeras tidak mau melakukan seks dengan siapapun?" Taehyung menyentuh kejantanan pemuda dibawahnya, "Siapa kau? aku tak kenal Jeon Jungkook dalam wujud jalang seperti ini."

Jungkook mendesah nikmat ketika Taehyung mulai bermain pada alat pribadinya itu, "Akuhh? hnnngh...Aku...jalangmu...hhh."

"Wow. Aku harus merekam perkataan mu ini sebelum kau tidak dipengaruhi obat lagi, Jungkook." Taehyung menarik celana Jungkook dalam sekali hentakan. Kini Jungkook benar-benar telanjang bulat tanpa sehelai benang pun.

Jungkook terpana melihat Taehyung yang juga membuka bajunya. Kini hanya menyisakan celana jeans hitam yang melekat di tubuh Taehyung.

"Aku tidak suka jika aku ikut telanjang. Aku lebih senang melihat kau yang telanjang."

Taehyung mengecup bibir merah Jungkook yang basah. Lidahnya mulai menelusup dibalik belah bibir lawan mainnya yang terbuka. Jungkook mengalungkan tangannya pada bahu sang dominan. Lidah saling membelit hingga menimbulkan decak ambigu. Jungkook sedikit kewalahan mengimbangi perang lidah itu. Ia membiarkan Taehyung menjelajahi setiap sudut bibirnya tanpa perlawanan. Benang saliva mengakhiri ciuman panas mereka.

"..hnngh..."

Jari Taehyung tidak tinggal diam. Ia segera meraba kedua nipple merah muda yang tengah menegang. Taehyung menyusu seperti bayi sambil sesekali mencubit gemas dua tonjolan itu. Mulutnya mulai menjelajahi perpotongan leher sang kelinci. Aroma vanilla yang menguar itu sungguh menggoda. Lidahnya mulai menjilat dan mengecup hingga menciptakan warna yang kontras dengan kulit pemuda itu. Bibirnya tersenyum puas menatap beberapa tanda yang terlukis di leher Jungkook. Ia ingin melukis lebih, tetapi bagian tubuh Jungkook yang lain juga harus ia sentuh.

"Kau cantik kalau jadi jalang. Aku menyukaimu." Taehyung membuka lebar kaki Jungkook hingga ia bisa melihat portal berwarna merah muda yang berkedut minta diisi. Taehyung memikirkan bagaiman portal itu akan membawanya menuju lapisan langit tertinggi. Ia menjilat salivanya yang sempat keluar begitu memikirkan hal kotor itu. Berniat jahil, Taehyung menghembuskan napasnya tepat di depan portal merah muda itu.

"Taehyungggh... jangan menggoda...ku...hhh"

Tidak hanya menghembuskan napas, Lidahnya mulai menjilat hole menggoda itu.

Jungkook mengeliat tak nyaman. Setiap godaan Taehyung, ia ingin merapatkan holenya. Sayangnya lidah Taehyung memaksa holenya untuk terbuka kembali.

"Aaanghhh.. Tae..."

"Maaf, aku tak sabaran ingin menyodok penisku di dalam analmu. Aku sampai melupakan adik kecilmu yang minta dikulum." Taehyung tersenyum menatap kejantanan Jungkook yang tegak dan mengeluarkan sedikit cairan di ujungnya. Taehyung menjilat kejantanan itu dan mengulumnya dalam sekali lahap, menjilati organ itu dengan lidah lihainya. Jungkook mendesah lagi atas perlakuan Taehyung. Ini benar-benar nikmat. Jauh lebih nikmat dibanding ia bermain sendirian.

Manik cokelat yang berair itu menatap 'benda' yang menggembung diantara selangkangan Taehyung, "Hhhng..Taehyung... punyamu..."

"Iya, sudah tegang. Tapi aku harus menuntaskanmu dulu."

Jungkook merasa gila atas perlakukan Taehyung. Pemuda itu semakin mengulum kejantanannya seperti permen, bahkan memberikan gigitan kecil yang membuatnya semakin menegang. Rasanya ia akan keluar.

"Keluarkan, sayang. Aku haus dan butuh minum. Seorang bartender tidak akan membiarkan pelanggannya kehausan 'kan?"

Perkataan itu membuat Jungkook orgasme. Seluruh cairan putih itu dengan senang hati Taehyung telan. Jungkook dapat melihat berapa kali leher Taehyung meneguk cairan putihnya. Sebanyak itukah Jungkook orgasme?

"Astaga, ini benar-benar enak. Tahu begini kau harus membuat minuman baru di bar Yoongi. Mungkin judulnya Jungkook's Sperma?" Taehyung bergumam senang. Ia mengecup bibir Jungkook sekilas, "Tapi itu menu spesial khusus untuk Kim Taehyung. Pelanggan lain tidak boleh memesannya."

Jungkook terkejut ketika Taehyung langsung memasukan satu jari ke dalam lubangnya.

"Aaakh!" Jungkook meringis kesakitan. Lubangnya ditelusup tanpa pelumas dan itu cukup menyakitkan.

Jari itu mulai menelusup semakin dalam, mencari titik kenikmatan sang pemuda kelinci, "Rileks, sayang. Tanpa pelumas pun ini akan terasa nikmat. Aku menggunakan sisa orgasme mu sebagai pelumas."

Manik cokelat itu terpejam beberapa menit. Badannya menggeliat ketika Taehyung berhasil menemukan titik nikmatnya begitu cepat. Jari Taehyung menelusup semakin dalam, bahkan sudah menambah menjadi dua jari dan membentuk pola menggunting. Jungkook mengerang saat titik nikmatnya digelitik oleh dua jari Taehyung dalam lubang analnya itu. Jungkook reflek mengeratkan holenya lagi.

"Kau menelan jariku dalam lubangmu? Sebenarnya yang ingin kau telan penisku atau jariku?"

"Hhhngh...Aaah..Penis Tae...hyung..."

"Nah, biarkan jariku keluar."

Jungkook menurut. Ia merenggangkan holenya dan membuat jari Taehyung yang basah terlepas dengan mudah.

"Taehyung..." Jungkook menatap Taehyung yang sudah melepas resleting celananya dan mulai menunjukan kejantanan yang menegang itu. Jungkook menelan ludah, takut melihat ukuran yang tak biasa itu. Ia merasa lubangnya bisa robek jika dimasuki kejantanan sebesar itu.

"Kalau lubangmu robek, keperawananmu berarti sudah kuambil. Bagus kan?" Taehyung menyeringai seakan-akan bisa membaca pikiran Jungkook.

Air mata mulai mengalir di sudut mata Jungkook. Entah itu efek obat atau ia yang takut melihat ukuran kejantanan itu, "Pelan-pelan, ya? Aku takut..."

"Tenang saja. Kalau urusan ranjang, aku akan bersikap sangat lembut."

Taehyung memosisikan kejantanannya tepat di depat portal merah muda itu. Bagai tersihir, Jungkook tidak merasakan sakit yang berarti. Kejantanan Taehyung perlahan masuk ke dalam lubangnya. Kini kejantanan itu berhasil dilahap seluruhnya oleh lubang anal Jungkook.

"See? lubangmu jauh lebih besar dibanding milikku. Harusnya kau berprofesi jadi jalang di bar Yoongi saja. Eh, tapi aku tak sudi. Biar lubang ini jadi milikku saja." Taehyung berucap sambil tersenyum miring, "Aku bergerak ya."

"Hnngh...i-iya..."

Taehyung mulai menghentakan kejantanannya dan menumbuk titik nikmat Jungkook dalam tempo lambat sebagai permulaan. Jungkook mendesah nikmat. Sebenarnya Taehyung ingin melakukan lebih kasar, tetapi melihat Jungkook dibawah pengaruh obat yang membuat tubuhnya menjadi lebih lemah, Taehyung tidak tega.

"Nnngh...AAhh!"

Hentakan itu semakin cepat dan membuat Jungkook mendesah nikmat. Taehyung berusaha menikmatinya, tetapi entah mengapa ia merasa masih kurang. Jungkook yang seperti ini bukanlah yang ia inginkan. Dia membutuhkan sesuatu yang lebih beringas dibanding ini.

"Aaangh.. Taehyuuuunghhh—"

Terlarut dalam pikirannya, Taehyung baru sadar kalau Jungkook tidak mendesah lagi.

"Eh? Jungkook?"

Manik hazel itu menatap manik cokelat yang tidak sayu seperti sebelumnya.

"K-Kau—"

Taehyung terkejut. Jungkook menatapnya dengan marah.

"Brengsek, apa yang kau lakukan!?"

Sang dominan mengerjap kaget. Apa katanya?

"J-Jungkook?"

"Astaga kenapa aku telanjang bulat seperti ini!? bangsat, apa yang kau—" Jungkook menatap horror begitu melihat kejantanan Taehyung yang berada di dalam lubangnya. Pantas saja Jungkook merasa tidak bisa bergerak bebas.

"TAEHYUNG BRENGSEK KELUARKAN PENISMU DALAM LUBANGKU!"

Jungkook berteriak cukup keras. Taehyung menutup kedua telinganya, "A-apa maksudmu? Kau yang minta dimasuki tahu!"

"Keluarkan sekarang bajingan cabul!" Jungkook berontak. Ia berniat bangun, tetapi Taehyung mendorongnya lagi untuk terlentang di kasur.

Taehyung baru menyadari. Inikah yang dinamakan efek sementara dari obat yang ia peroleh dari Jimin?

"Untung aku sudah memasukimu sebelum efek obatnya habis." Taehyung menghela napas. Kini kilat hazel yang semula terlihat sendu kini terlihat keji. Sirat berbahaya terlihat sangat pekat di kedua hazel itu, "Aku tidak suka Jungkook dengan aphrodisiac. aphrodisiac malah membuatmu terlihat manja dan menjijikan. Aku lebih suka Jungkook yang senang mengatakan hal-hal kotor dan berani seperti ini."

Jungkook menatap semakin horror ketika Taehyung meraba nipple nya, "AAh! Jangan sentuh aku, bangsat!"

"Iya, aku tak menyentuhnya tetapi aku sudah mengulumnya. Dengan kata lain nipplemu itu sudah tidak perawan lagi." Taehyung menjilat bibirnya sendiri. Sebuah ide gila melintas dalam benaknya, "Jungkook, Mau bermain game sebentar? sekarang keperawanan yang bisa kau pertahankan adalah lubangmu ini. Aku belum orgasme di dalamnya."

"Ap—"

"Bagaimana kalau kau melepaskan lubang analmu dari penisku? Jika kau berhasil mengeluarkan penisku dalam lubangmu sebelum aku orgasme, maka aku akan berhenti melakukan seks dan menghilang dari kehidupan mu. " Taehyung tersenyum, "Menghilang disini adalah aku akan bunuh diri, dengan begitu kau tidak akan dicap sebagai buronan.

Itu bukan game. Jelas sekali itu taruhan yang tidak menguntungkan bagi Jungkook.

"Jika kau kalah, kau harus dihukum."

"Aku tidak percaya mulutmu, brengsek. Lebih baik kau keluarkan penismu dan aku akan membunuhmu."

"Game start."

Jungkook nyaris menjerit ketika Taehyung menumbuk lubangnya dengan tempo yang sangat cepat. Setiap hentakannya yang menumbuk titik nikmatnya itu membuat Jungkook melayang. Tubuhnya bergerak sesuai hentakan yang Taehyung lakukan pada analnya. Bagaimana Jungkook bisa mengeluarkan penis Taehyung jika Taehyung terus menumbuknya tanpa jeda sedikit pun?

"Aangh—aakkh brengsek—AAAH!" Jungkook semakin berteriak ketika Taehyung mempercepat temponya menjadi sangat kasar. Bahkan tangan jahil Taehyung mulai bermain pada kejantanannya yang menegang. Tubuhnya semakin panas ketika kejantanannya disentuh dan digoda dengan nakalnya.

"Tae—hyunghhh—Aaghh.." Jungkook menyerah. Taehyung bergerak semakin liar dalam lubang analnya. Jungkook ingin lebih. Ia ingin Taehyung menumbuknya lebih hebat hingga ia lupa akan dunia ini.

Jungkook menatap tajam Taehyung yang memperlambat temponya, "Jangan lama, dasar banci!"

Hazel kembali membola, "Kau mengataiku banci, eh?" dan Jungkook berani bersumpah bahwa tatapan Taehyung kepadanya seratus kali lebih seram dari pembunuh.

"!"

Jungkook merasa tubuhnya dibalik. Posisinya kini membelakangi Taehyung. Hal itu membuat lubang Jungkook terlihat semakin jelas dan Taehyung dapat menyodoknya lebih dalam. Taehyung meletakan kedua tangannya pada pinggang Jungkook agar pemuda itu tidak berontak.

"Jalang Jeon Jungkook, ini hukuman yang menyenangkan karena sudah mengataiku banci." Taehyung berucap dengan suara rendah yang sialnya terdengar seksi di telinga Jungkook.

"Ap—"

Dan Jungkook yakin jika ia benar-benar lupa akan seluruh dunia ini. Taehyung menghantam titik nikmatnya berkali-kali dengan tempo yang sangat cepat, belum lagi posisi ini membuat kejantanan Taehyung semakin menelusup ke dalam analnya.

"Hggh—Uughh—aku...mau keluar—" Jungkook benar-benar lemas. Orgasmenya akan segera datang.

"Hah...Aku juga. Mau bermain game siapa yang paling banyak mengeluarkan sperma?"

"Bangs—nghh—AAH"

Jungkook pertama kali yang orgasme. Ia mengeluarkan cairan putih itu hingga mengotori kasur dan perutnya. Tak berapa lama, Taehyung menyusulnya dan Jungkook terkejut merasakan perutnya yang penuh secara mendadak.

"AANGH Brengsek—ughh!" Jungkook lemas. Orgasme Taehyung sangat banyak hingga ia merasa banyak sprema yang mengalir dari lubang analnya.

"Hah...hah..." napas keduanya memburu. Taehyung segera mengeluarkan kejantanannya dan berbaring di sebelah Jungkook. Ia dapat melihat bagaimana Jungkook memejamkan matanya dengan napas tersengal-sengal.

Taehyung berniat mencium Jungkook, tetapi Jungkook sudah lebih dulu menutup bibirnya dengan tangannya.

"Aku capek. Tolong jangan berbuat lebih dari ini." Jungkook memejamkan matanya lagi.

"Kau tidak marah?"

Manik cokelat itu kembali terbuka, "Marah untuk?"

"Aku baru saja merengut semua keperawanan tubuhmu. Harusnya kau marah sekarang." Taehyung menghela napas. Ia mengusap dahi Jungkook yang masih terbalut dengan perban, "Dan harusnya kau marah karena ini. Aku melukai wajah cantikmu."

"Tidak. Ini semua sudah terlanjur." Jungkook memegang tangan Taehyung yang mengusap wajahnya, "Kau pelanggan yang tidak menyerah ya. Kau orang pertama yang berhasil bersikap mesum sampai aku kehilangan segalanya seperti ini."

Taehyung tersenyum, "Semua itu karena aku benar-benar mencintaimu. Kalau kau tidak mencintaiku, tak masa—"

"Iya. Kuterima pernyataan cintamu yang menggelikan itu. Aku menyerah. Aku luluh padamu."

Taehyung mengerjap pelan menatap nipple merah Jungkook yang kembali menegang itu, "Wae?"

"Kubilang—aish, dasar mata keranjang! kau lihat apa!?" Jungkook menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.

"Hmph, maaf." Taehyung cemberut lucu. Jungkook jadi terkekeh melihatnya.

Jungkook tersenyum sangat tipis, "Sebenarnya sejak dulu aku sudah menyukaimu, Taehyung. Aku tak menyangka jika anak berprestasi yang kusukai justru tumbuh menjadi seorang pembunuh. Saat reunian nanti, mau ditaruh mana mukamu saat teman-teman mengetahui pekerjaan mu?" Jungkook mendegus, "Apa kau ingat Jungkook si culun berkacamata yang suka dibully di sekolah Bangtan School?"

"Eh? Jungkook itu—APA!?" Taehyung terkejut, "K-kau Jungkook yang itu!?"

"Kaget, eoh? iya itu aku. Si culun kacamata yang suka dibully kini tumbuh menjadi pria manly yang menggoda. Bahkan yang membully ku saja luluh dengan pesonaku, ew dasar menjijikan." Jungkook mendecak lidah, "Kau pikir aku lupa pada murid berprestasi dan merupakan idola sekolah yang dibelakangnya hobi membully anak lemah seperti Jungkook?"

Taehyung menatap tak percaya pemuda di depannya. "Astaga aku tak menyangka dulu kau adalah anak yang kubully. Jungkook maaafkan aku. Maaf karena sudah membully mu."

"Tidak kumaafkan."

"Andwe Jungkook—"

"Kalau tidak menikahiku."

"...wae?"

Jungkook memerah malu, "B-bercanda! Tidur! cepat tiduuuuur!" Jungkook menutup wajah Taehyung dengan bantal.

"Jungkook kau bilang apa tadi?" Taehyung tersenyum jahil dan menyingkirkan bantal itu.

"Aku bilang cepat mati!"

"Kalau aku mati siapa yang akan menyodok lubangmu lagi, hm?"

"Ada Yoongi hyung."

"Aish, akan kubuat kau tidak bisa berjalan lagi jika kau selingkuh dariku."

"Bercanda. Sana cepat tidur!" Jungkook menenggelamkan wajahnya dibalik selimut. Taehyung tersenyum melihatnya.

Sayangnya senyum itu tergantikan oleh seringai mesum.

"Nee, Jungkook..." Suara itu semakin merendah di telinga Jungkook, "Kau kalah dalam game tadi. Kau harus dihukum."

"Y-yak, siapa juga yang setuju dengan game mesum mu itu!?"

"Tidak bisa begitu. Kau kalah dan kau harus terima konsekuensinya. Kau akan kuhukum." Taehyung mulai menyingkap selimut yang membungkus tubuh Jungkook.

"T-tidak mau. Sana tidur, dasar Kim brengsek!"

"Hukumannya adalah seks setiap hari. Jadi besok kita akan melakukan seks lagi ya, sayang~"

"DASAR TAEHYUNG BRENGSEK MESUM CABUL!"

Dan teriakan Jungkook itu kembali memekakan telinga. Jungkook semakin membungkuskan dirinya dalam selimut. Taehyung gemas melihatnya.

"Aku bercanda, sayang. Selamat tidur. Aku sangaaaat," Taehyung memeluk Jungkook yang terbungkus selimut dan menyamankan dirinya, "Mencintaimu."

"Aku membenci kau. Selamat tidur juga, banci."

Taehyung menatap tajam, "Apa?"

"Aku bercanda. Selamat tidur Kim Taehyung ku yang paling manis." Jungkook merasa sesuatu menelusup dibalik selimutnya, "dan yang paling mesum. AAH! Jangan sentuh penisku lagi, brengseeeeek!"

.

.

.

.

.

.

.

.

"Hahaha rasakan ini!"

sebuah air kotor membasahi tubuh anak berkacamata.

"Dasar culun jelek. Kau pikir aku akan menerima pengakuan cintamu itu? menjijikan. Mana ada si tampan berpacaran dengan si buruk rupa? hahaha!

"Kim Taehyung..."

Anak itu menghentikan aksi menyiram si kacamata.

"Akan kuingat perbuatanmu. Saat aku sudah dewasa nanti, aku akan tumbuh menjadi pria manly yang menggoda. Kupastikan kau akan tergoda dengan perubahanku saat dewasa nanti!

"Oh? coba saja. Jika aku tidak tergoda maka kau akan kubunuh!"

"Jika kau tergoda? kau akan tergila-gila padaku hingga meniduriku."

.

.

.

.

.

.

END


Akhirnya END juga. maaf kalau bagian anunya kurang hot. ini pertama kalinya Rikka nulis rated M. Maaf untuk segala kekurangan ^^ bikinnya buru2 karena ngejar deadline yang lain and sorry for typo.

Silahkan tinggalkan kesan kalian di kotak review. Rikka akan membuat FF Vkook yang lain, so pls wait me, okay?

Terima kasih yang sudah mereview dan menyukai cerita ini. Jumpa lagi di cerita selanjutnya~


OMAKE

Hari ini berlangsung seperti biasanya. Jungkook kembali pada rutinitas malamnya bekerja sebagai bartender. Ia tidak dicap sebagai buronan, karena salah satu polisi yang bernama Baekhyun itu menjelaskan bahwa Jungkook tidak bersalah. Saat ini yang masih menjadi buronan adalah Kim Taehyung. Sayangnya pemuda itu seratus kali lebih cerdik dibanding polisi sehingga bisa lolos dengan mudahnya. Sejak insiden itu, Taehyung hidup dengan nama samaran 'V'. Tujuannya agar polisi lebih sulit mencari identitasnya.

"Selamat datang, minuman apa yang ingin Anda pe—"

"Satu sperma dan saliva Jeon Jungkook."

Jungkook memutar bola matanya malas begitu melihat siapa yang datang.

"Maaf tuan, kami tidak menjual minuman mesum seperti itu."

Lawan bicaranya terkekeh dan menopang dagunya di meja bar itu, "Kau bisa membuatnya sekarang. Perlu kubantu?"

"Tidak, terima kasih. Jadi? apa aku harus masturbasi dulu untuk menghasilkan minuman itu?"

"Tak perlu. Kau bisa memberikan minuman itu nanti malam sebanyak-banyaknya."

"Oke, itu lebih baik. Jadi minuman apa yang akan Anda pesan sekarang?"

"Aku ingin saliva di bibirmu, boleh?"

Jungkook harus sabar menghadapi kemesuman kekasihnya yang bernama Kim Taehyung—ah, bukan. Kekasihnya yang bernama V.

Yoongi yang melihat cara komunikasi dua insan itu hanya bisa terkejut. Jungkook dan Taehyung tampak berbincang dengan akrabnya. Padahal yang ia tahu, Jungkook selalu menolak kehadiran Kim Taehyung bahkan ingin membunuhnya. Rasanya sulit dipercaya bagaimana pemuda kelinci itu kini tengah tersenyum sambil berbincang dengan Taehyung.

"Yoongi~ Yak, jangan mengabaikanku."

Yoongi tersentak. Ia lupa jika Jimin ada di hadapannya.

"Maaf, Jimin. Aku hanya terkejut melihat Jungkook yang tampak akrab dengan Taehyung." Yoongi menyerahkan gelas wine pada pemuda di hadapannya.

Jimin tersenyum, "Mereka sudah pacaran. Lihat kissmark samar di leher Jungkook."

"W-wae?"

"Ah, tidak penting." Jimin meraih pipi porselen sang bartender, "Tidakkah wajahku lebih menarik dibanding dua insan itu? jangan lupa kalau kau juga sudah menjalin cinta dengan Park Jimin."

Samar-samar pipi porselen itu merona, "U-uhm.. maaf."