Not Mainstream
DISCLAIMER : Naruto Belongs to Masashi Kishimoto
Genre : Adventure dan Family
Rating : T
WARNING : Ide pasaran, bertebaran typo, gaje, smart_Naru, Canon dan bashing beberapa chara.
Author Note : Ai datang lagi. Maaf nunggu lama. Ai lagi sibuk ngurus sawah. Sedikit penjelasan, dari literatur yang Ai baca, Sarutobi dan Danzo murid Hashirama dan Tobirama Senju, jadi tidak ada salahnya jika Ai nyebut keduanya murid Hashirama.
Terima kasih Ai ucapkan untuk para reader yang telah berkenan meninggalkan jejak di kotak review, memfollow, dan memfav fic gaje ini yang tidak bisa Ai sebutkan satu per satu. Maaf Ai tidak bisa membalasnya satu per satu. Arigato Gozaimasu. /(_)\
Don't Like Don't Read
Chapter Six
Rahasia Minato
Konoha saat ini sedang genting-gentingnya. Kepergian pilar-pilar penting desa Konoha yakni hokage keempat, hokage ketiga, dan salah satu tetua desa sekaligus ketua Anbu-ne dalam waktu semalam, memberi pukulan telak pada Konoha. Akibat kepergian mereka, keamanan desa Konoha menjadi rapuh.
Mereka sadar sepenuhnya. Tak ada satu pun dari shinobi Konoha saat ini yang benar-benar tangguh dan mumpuni, minimal yang mendekati ketiga orang itu, terkecuali segelintir orang saja. Ini masih ditambah lagi dengan matinya Kyuubi, senjata utama desa Konoha. Akibatnya bisa ditebak. Konoha hidup dalam cekaman ketakutan.
Para shinobi dan penduduk Konoha kini hidup di bawah tekanan, bayang-bayang ancaman serangan dari desa-desa ninja lainnya seperti Amegakure, Kirigakure, Sunagakure, dan lain-lain yang telah lama berseteru dengan Konoha. Jika mereka ingin meratakan Konohagakure, sekaranglah saatnya, di saat pertahanan Konoha berada di titik nadzir.
Haahh.., mengingat itu, membuat beberapa shinobi kesal pada mendiang Yondaime, khususnya para tetua. Mereka menyesali keputusan gegabah Yondaime-sama yang membawa turut serta Menma dalam pertarungan sengit melawan Pria-bertopeng-misterius yang beberapa hari lalu menyatroni kompleks Uchiha. Yondaime terlalu sembrono, mempertaruhkan keselamatan desa demi klan Uchiha.
Itulah yang membuat kedua tetua yang tersisa ini geram pada Minato. Saking marahnya, sampai-sampai salah satu dari mereka menggebrak meja di kantor hokage hingga meja tak bersalah itu hancur berantakan, begitu kabar duka itu sampai ke telinga mereka.
Braakk!
"Apa sih yang ada di otak si Pirang tolol itu?" geram Koharu Utatane dengan urat-urat yang menonjol di wajah tuanya. "Untuk apa ia mempertaruhkan keselamatan desa ini demi klan terkutuk itu?" lanjutnya gusar.
"Hanya ia dan Tuhan yang tahu." Balas Homura santai, menghirup cangkir berisi teh yang berhasil ia selamatkan dari amukan rekan sejawatnya. "Lebih baik kau simpan amarahmu untuk nanti. Tidak ada gunanya menyesali apa yang sudah terlanjur terjadi. Prioritas utama kita sekarang adalah keamanan Konoha. Baru setelah itu, kita pikirkan siapa yang pantas menjadi pengganti Yondaime."
"Aku tahu itu. Tapi.., tetap saja itu tak mengurangi kejengkelanku padanya. Gara-gara dia, sekarang Konoha dalam bahaya."
Koharu terdiam sejenak. Ia menatap sendu deretan perumahan penduduk sipil yang berdiri gagah dari balik jendela kantor hokage. Saat ini, memang para penduduk masih beraktivitas seperti biasa. Mereka tetap ceria menjalani keseharian mereka. Tapi, sampai kapan?
Koharu sadar semua itu hanyalah perdamaian semu yang cepat atau lambat akan kembali koyak. Suara tawa para penduduk desa sewaktu-waktu bisa berubah menjadi ratapan dan jeritan isak tangis di sana-sini. 'Apakah si Pirang idiot itu tidak berfikir ke sana, sebelum mengajak Menma? Memangnya Uchiha itu lebih penting daripada seluruh penduduk Konoha?' batinnya geram.
Ia geram bukan karena takut mati. Sejak masih belia, ia sudah malang melintang di dunia shinobi yang keras. Ia bahkan turut serta dalam perang dunia ninja, dua periode sekaligus. Kematian sudah menjadi sahabat dekatnya. Setiap saat setiap detik, ia sudah menyiapkan diri, jika sewaktu-waktu Dewa Kematian menjemputnya.
Lalu apa yang membuatnya marah pada Yondaime? Itu karena ia memikirkan masa depan penduduk Konoha nanti. Ia cemas jika hal buruk —serangan dari desa lain seteru Konoha— itu terjadi. Ia tak ingin mimpi-mimpi buruk di masa silam kembali terulang.
Setitik air mata membayang di mata tuanya. Ingatannya melayang pada hari-hari nan suram dalam sejarah peradaban dunia Shinobi yaitu perang dunia ninja ke-2, dan ke-3. Wajah-wajah putus asa para penduduk sipil kembali muncul, menari-nari di pelupuk matanya. Ingatan kala itu —suara jeritan, ratapan, dan bau hangus bangunan terbakar— mengusik ketenangan pikirannya.
Koharu menengadah menatap langit-langit mencegah air matanya jatuh. Tangannya terkepal, mencengkram kuat-kuat kusen pinggiran jendela, menyalurkan emosi terpendamnya. Tidak, Koharu tak akan membiarkan hal buruk itu terulang kembali. Ia tak akan membiarkan para penduduk desa kembali hidup dalam kegelapan dan keputus asaan, meski nyawa taruhannya.
Ia harus melakukan sesuatu untuk mencegahnya, harus. Tapi, apa? Otaknya sudah sampai pada batasnya. Ia tak tahu jalan keluar dari kemelut yang melingkupi seluruh desa, terlebih tanpa kehadiran Minato, Hiruzen, dan juga Danzo. Tanpa mereka, Koharu merasa rapuh dan tak berdaya.
Hah, seandainya saja ia bisa meyakinkan Minato untuk menyetujui rencana Danzo —mengorbankan klan Uchiha demi desa— mungkin hal ini tak perlu terjadi. Minato tidak akan berbuat gila, membawa serta Menma ke dalam pertarungan di malam itu. Dan, desa Konoha akan tetap aman terkendali. Sayangnya, ia gagal.
Lihat bagaimana hasil kegagalannya sekarang! Pria bertopeng misterius itu lepas bersama rekannya. Minato mati. Begitu pula dengan jinchuuriki Konoha yakni Menma bersama Kyuubi di dalamnya dan jangan lupa istrinya Minato juga. Yang tersisa dari keluarga Namikaze hanyalah Naruto, bocah ingusan yang bahkan tak memiliki cakra. Oh, wow mantap. Lengkap sudah.
Haahh.. Koharu menghela nafas panjang. Wajahnya tampak kusut dan tertunduk lesu penuh beban pikiran. Koharu sebetulnya tidaklah benci dengan klan Uchiha, sebaliknya ia segan dengan nama besar klan itu. Ia pun tak rela, jika klan sehebat itu musnah, karena pasti akan membuat keamanan di desa Konoha timpang. Tapi, jika dibandingkan dengan keselamatan desa secara keseluruhan, maka itu keputusan yang paling tepat.
Koharu memejamkan matanya, mengingat wejangan Nindaime-Hokage. Beliau dengan terang-terangan, terus-menerus memantau klan Uchiha, yang di kemudian hari disebutnya klan terkutuk. Akan tetapi, beliau tak pernah memberi tahunya apa yang ia takuti dari klan Uchiha dan apa yang membuatnya menyebut klan Uchiha terkutuk. Kalau saja Beliau mengatakannya, mungkin mereka bisa mencari jalan keluar yang terbaik selain menyisihkan klan ini dari Konoha.
Ingatannya lalu beralih pada salah satu anggota klan Uchiha yang sangat dikenalnya, yang dulu pernah juga menjadi rekan setimnya dalam perang dunia ke dua, beberapa tahun yang silam. Darah Uchiha memang mengalir kental dalam tubuhnya, tapi ia mewarisi tekad api seperti yang dimiliki Hashirama Senju. Bahkan, Tobirama-sama pun memujinya. Siapa lagi kalau bukan Kagami? Seandainya ia masih hidup, mungkin ia bisa mencegah rencana kudeta itu. Sayang seribu kali sayang, ia mati muda secara tragis.
"Apa yang kau fikirkan?" tegur Homura membuyarkan lamunan Koharu.
"Masa depan Konoha." jawab Koharu lirih. "Ku harap si Pirang-tukang-cengar-cengir itu tidak kehilangan kegeniusannya dan ia sudah membuat skenario tambahan jikalau ia tewas bersama Menma. Aku bersumpah akan mengejarnya hingga ke alam baka, jika ia tak membuat rencana cadangan untuk melindungi desa ini," geram Koharu. Giginya saling beradu, gemeletukan.
"Ku rasa ia sudah berfikir sejauh itu."
Koharu membalikkan tubuhnya cepat dengan mata menyipit tajam. "Maksudmu?"
"Jiraiya-chan memberi kabar —menurut jaringan mata-matanya— jika tak ada pergerakan apapun baik desa Ame, Kiri, maupun Suna usai berita meninggalnya Yondaime, Hiruzen, dan Menma sampai pada telinga mereka."
Kedua alis Koharu menyatu. "Kenapa bisa begitu?"
"Katanya, saat ini tersiar kabar jika ada orang misterius yang mengincar para bijuu. Karena itulah, alih-alih membuat persiapan untuk menyerang Konoha, mereka justru mengetatkan keamanan desa mereka masing-masing. Mereka tak ingin kehilangan bijuu-senjata-pamungkas mereka seperti halnya Konoha,"
'Orang misterius?' batin Koharu. Ingatannya melayang pada dua peristiwa penting yang membuat Konoha geger, beberapa hari sebelum hari naas itu. "Hmm, apa mungkin ini ada hubungannya dengan ulah penyusup yang membuat Konoha heboh tempo dulu? Itu yang menyamar jadi Tenno dan juga yang telah berani menyatroni kompleks Uchiha?"
"Bisa jadi." Komentar Homura. "Lupakan itu! Lebih baik kita fokus pada keamanan desa kita dan juga negara Hi. Suruh para anbu dan anbu-ne untuk berjaga di pos-pos perbatasan selama sebulan ke depan! Jika keadaan sudah terkendali, baru status diturunkan."
"Hm," gumam Koharu tak semangat.
"Koharu?"
"Memangnya kita punya pilihan lain?" ujar Koharu miris, disertai desahan nafas panjang.
Dengan alasan itulah, kini para shinobi jarang sekali terlihat berkeliaran di tengah-tengah desa. Sebagian besar dari mereka, khususnya tim anbu dan para shinobi elit mendapat misi berjaga di pos-pos perbatasan, berjaga-jaga jika ada serangan mendadak. Hanya shinobi yang berhubungan dengan penduduk sipil seperti, polisi desa, tim penyelidik dan investigasi, pengajar di akademi, dan medis saja yang ada di desa. Sisanya berjaga di perbatasan.
Penduduk sipil juga sudah dikondisikan untuk keadaan darurat. Mereka dilatih dengan berbagai simulasi untuk menyelamatkan diri di bunker-bunker penyelamatan, jika hari-H-nya tiba. Di luar itu, mereka tetap menjalani aktivitas seperti biasanya, berusaha hidup sewajarnya.
Hampir dua minggu lamanya status darurat itu diberlakukan, sebelum akhirnya diturunkan menjadi status waspada. Sepertinya kabar angin tentang orang misterius yang mengincar bijuu-bijuu itu berhasil meredam ambisi desa-desa ninja lainya untuk menyerang Konoha. Dan, itu sangat disyukuri oleh seluruh penduduk desa. Mereka kini bisa memfokuskan diri untuk memulihkan desa seperti sedia kala.
Selanjutnya usai status diturunkan, para tetua, daimyo, dan petinggi-petinggi klan berkumpul di ruang pertemuan, membahas kandidat yang pantas menjadi hokage mereka yang baru. Wajah-wajah tegang mewarnai orang-orang yang hadir, terkecuali para daimyou yang masih belum memahami betapa gentingnya kondisi Konoha dan negara Hi saat ini.
"Aku mengusulkan Jiraiya sebagai hokage yang baru. Dia salah satu shinobi hebat dari Konoha yang sudah diakui dunia. Selain itu, dia juga masih murid dari Hokage ketiga." Usul Koharu yang diamini sebagian besar yang hadir.
"Maaf, bukannya aku tak menyetujui. Tapi, adakah diantara kita yang tahu dimana keberadaan Jiraiya? Kita saat ini dalam kondisi darurat. Kita butuh pemimpin sekarang juga untuk memulihkan keadaan. Karena itu, akan lebih repot lagi bagi Konoha jika kita masih harus berpencar mencari Jiraiya yang entah dimana keberadaanya." ujar Fugaku yang membuat banyak kepala menoleh padanya.
Mereka bukannya tak suka dengan kehadiran Fugaku hanya belum terbiasa, mengingat klan Uchiha sudah lama absen dalam berbagai pertemuan antar klan di Uchiha. Kira-kira, 7 tahun hampir 8 tahun lamanya, yakni semenjak penyerangan Kyuubi ke tengah-tengah desa Konoha yang ditengarai dikendalikan oleh Uchiha Madara. Waktu yang cukup panjang, bukan?
"Apa? Ada yang salah?" tanya Fugaku dengan ekspresi datar andalan klannya. Akan tetapi, oniksnya menatap tajam, menantang balik para ketua klan lainnya untuk menimpali pernyataannya.
Para ketua klan sontak memalingkan muka karena malu. Ada yang menengadahkan kepalanya, mendadak tertarik dengan langit-langit ruangan yang konon dibangun dari kayu berumur ratusan tahun. Ada juga yang menundukkan kepalanya disertai semburat pink di pipi karena malu. Dan sisanya lagi bergumam tak jelas.
"Ah, bukan apa-apa. Hanya.. well.. itu.. err.. maksudku, itu baru terpikir tadi. Ku rasa kau ada benarnya juga. Namun, kita semua juga tahu kalau hanya Jiraiya-sama yang kemampuannya paling unggul diantara kita-kita. Jadi, mau tak mau, suka maupun tidak, kita harus membentuk tim untuk mencari Jiraiya-sama," Ujar Asuma disertai senyum kikuk di bibir hitamnya akibat keseringan merokok, mewakili para ketua klan lainnya menjelaskan.
Asuma menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal untuk menutupi rasa groginya. Sumpah, tatapan Uchiha benar-benar maut. Tidak ada duanya di dunia ini. Tatapannya sangat tajam seperti tatapan elang yang siap mencabik-cabik mangsanya. Siapapun yang menatap mata itu pasti nyalinya menciut.
'Apalagi Uchiha Madara yang itu? hahh... this is big troublesome,' keluh Asuma dalam hati, yang ternyata sama dengan yang dipikirkan para kepala klan lainnya. Diam-diam, mereka mengacungi jempol mental para Hokage penduhulu mereka, yang tidak jeri meski harus berkonfrontasi dengan para Uchiha.
"Hm, " gumam Fugaku singkat.
"Soal Jiraiya, serahkan saja padaku!" ujar Homura dengan tenangnya, usai minum secangkir teh hijau yang disajikan di atas mejanya. "Aku tahu bagaimana caranya menemukan Jirai..."
"Tidak perlu," tukas Jiraiya —yang mendadak muncul dalam kepulan asap dengan gayanya yang sedikit didramatisir, membuat yang hadir sontak berjengit kaget— memotong ucapan Homura.
"Jiraiya..!" ujar atau cela Koharu. Ia tidak suka dengan sikap kurang sopan Jiraiya sejak dulu.
"Aku menolak menjadi hokage," kata Jiraiya mengacuhkan delikan Koharu.
"Kenapa?" celetuk Hyuuga Hiashi menyuarakan keheranannya.
Baru kali, ia menyaksikan ada orang yang menolak dipilih menjadi pemimpin desa, khususnya desa elit seperti Konohagakure ini. Jika ia yang terpilih? Sudah pasti Hiashi akan menerimanya dengan senang hati. Kalau perlu ia akan membuat acara syukuran 7 hari 7 malam secara nonstop sesudah upacara pengangkatannya.
"Itu bukan passionku. Cari orang lain saja!" jawab Jiraiya dengan entengnya.
Tanpa merasa bersalah, ia menyuruh Yamanaka Inoichi minggir yang dibalas erangan keberatan empunya sebelum mengiyakan dan pindah ke tempat duduk di sebelahnya yang kosong. Jiraiya kini menempati tempat Inoichi. Sesudah itu, dengan kurang ajarnya Jiraiya mencomot berbagai hidangan yang tersaji di atas meja panjang di depannya.
Ia memakan berbagai hidangan lezat itu dengan kalap seperti orang kesurupan, membuat kerutan di dahi orang-orang yang hadir semakin dalam. Namun anehnya, tak ada satupun dari mereka yang berani bersuara. Mereka hanya menghela nafas pasrah, memaklumi sikap Jiraiya yang memang dari dulu terkenal selengekan dan kurang tahu tata krama.
"Kalau kau tak mau, lalu siapa lagi yang pantas menjadi hokage?" tanya Koharu menahan emosinya, berusaha untuk tidak melempar tubuh Jiraiya keluar dari ruang pertemuan.
Kepala Jiraiya mendongak, menatap orang-orang yang hadir. "Selain aku, masih ada Tsunade-hime,"
"Dia sudah tak perduli dengan Konoha. Aku bahkan tak yakin ia masih tertarik menjadi ninja semenjak insiden itu," tukas Hotaru sengit.
"Kalau begitu angkat saja salah satu anggota klan Uchiha sebagai Hokage," ujar Jiraiya yang membuat semua orang tersentak termasuk Fugaku. "Klan Uchiha adalah salah satu dari pendiri desa, klan elit yang terkenal dengan kehebatannya dan kecerdikannya. Sudah sepantasnya mereka juga diberikan kesempatan untuk menjadi hokage." Lanjutnya bertindak cepat sebelum terdengar dengungan lebah tak terima dari para yang hadir.
"Tapi.."
"Apa kau ingin mencalonkan diri sebagai hokage, Inoichi?" potong Jiraiya menatap tajam pada Inoichi yang tadi berani menyela ucapannya.
Inoichi salah tingkah ditatap seperti itu. "Aku..err uh, tidak. Bukan begitu maksudku." ujar Inoichi salah tingkah. "Maksudku itu.. Ehem, begini maksudku, biasanya hokage dipilih dari klan Senju atau turun-temurun muridnya. Karena itu, err agak aneh rasanya jika kita memilih klan selain itu. Dan lagi.." ujarnya melirik gelisah Fugaku disertai senyum kaku. 'Dia kan pernah merencanakan kudeta di Konoha. Masa mau diangkat jadi hokage,' tambahnya dalam hati.
"Aku tahu itu. Tapi, saat ini hanya klan Uchiha atau Hyuuga yang kemampuannya paling unggul dibanding yang lainnya."
"Dan, anda condong pada klan Uchiha? Benar begitu, Jiraiya-sama?" tebak Shikaku.
"Ya," jawab Jiraiya mantap.
"Hahhh..." Mereka semua yang hadir minus Fugaku dan Hiashi menghela nafas berat entah untuk yang ke berapa kalinya.
Katakanlah, mereka sedang dilanda dilema. Jujur, sebagian besar yang hadir belum siap dipimpin klan Uchiha yang terkenal dengan jiwa antisosialnya dan karakter emonya. Jangan lupakan dengan muka tembok ciri khas klan ini, yang membuat mereka sulit ditebak isi pikirannya. Lalu, bagaimana caranya mereka berkomunikasi dengan hokage baru mereka nanti?
Namun, jika dibandingkan dengan Hyuuga.., mereka juga tak rela. Mereka berkaca pada selentingan kabar beberapa tahun silam, jika klan ini sempat mengalami perpecahan gara-gara Hyuuga garis bunke berniat melakukan pemberontakan. Mengurus anggota klannya aja tidak becus, apalagi mengurus Konoha yang dihuni beberapa klan dengan segala adat dan karakter yang berbeda? Bisa-bisa terjadi huru-hara jilid kedua di desa ini lagi?
So?
Mereka saling menoleh kanan kiri, meminta pertimbangan. Mata mereka saling berbicara, berkomunikasi untuk menentukan sikap. Kerutan-kerutan dahi saling bertemu. Mereka bertukar picingan mata, anggukan, dan gumaman lirih di bawah tatapan tajam para kandidat hokage Konoha yang kelima. Akhirnya, setelah melewati berbagai debat samar-samar, mereka pun sepakat.
"Kami setuju mengangkat anggota klan Uchiha sebagai hokage yang baru." Ujar Akamichi Chouza.
"Kami usul, bagaimana Uchiha Shisui?" lanjut Shikaku.
"Shisui? Kenapa Shisui?" tanya Hiashi heran. "Apakah ia tidak terlalu muda untuk mengemban tugas itu?"
"Minato juga masih muda saat diangkat jadi hokage..." Balas Shikaku bijak.
"Dan mati muda pula setelahnya. Jangan lupa itu!" sindir Koharu mengingatkan, masih dendam pada Minato rupanya.
"Shisui berbeda dengan Minato. Dia lebih bijak dan tidak sembrono seperti Minato," bela Fugaku serta merta. 'Dan lagi, ia satu-satunya yang tak terjebak rencana Pria bertopeng yang berniat mengadu domba Konoha,' tambahnya dalam hati menahan info penting ini untuk klannya semata.
"Siapa lagi yang keberatan dengan Shisui?" tanya Homura sambil mengedarkan pandangannya, yang dibalas oleh kesunyian. "Kalau begitu kita sepakat, memilih Shisui menggantikan Minato sebagai hokage," Putusnya.
Usai mencapai kesepakatan, pembicaraan beralih pada berbagai hal yang harus dipersiapkan untuk melantik Hokage yang baru. Mereka merencanakannya dengan hati-hati khususnya dalam hal pengamanan desa. Mereka tak ingin kecolongan, tepat di hari H nanti.
Setelah itu mereka bubar dan kembali ke rumahnya masing-masing, menyisakan para tetua dan Jiraiya. Tugas para pemimpin klan itu selanjutnya menginformasikan hasil rapat pada anggota klannya masing-masing. Diantara para pemimpin klan itu, Fugaku-lah pihak yang paling merasa menang malam itu.
Ia tidak hanya berhasil memulihkan nama baik Uchiha yang ternoda karena ulah Pria bertopeng misterius 7 tahun lalu, tapi juga berhasil mengembalikan martabat Uchiha sebagaimana mestinya. Uchiha kembali mendapat hak politiknya. Bahkan, posisi puncak Konoha yaitu hokage berhasil mereka amankan. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Konoha, hokage terpilih berasal dari klan Uchiha.
Dengan pengangkatan Shisui sebagai hokage maka berakhir pula episode pendeskriminasian klan Uchiha. Peran klan Uchiha tak lagi terpinggirkan dan kini terlibat penuh dalam roda pemerintahan Konoha. Dan dimulailah episode dimana klan Uchiha memerintah Konoha untuk pertama kalinya. Kini, eranya Uchiha mengukir sejarah.
...*****...
"Kenapa kau menolak jabatan hokage, Jiraiya?" tanya Koharu tak sabar, usai mereka tinggal bertiga saja.
"Bukankah sudah ku katakan tadi? Itu bukan passionku,"
"Jiraiya?" panggil Koharu manis, namun dengan nada yang berbahaya, mengirimkan peringatan tersirat pada Jiraiya.
'Ukh,' rintih Jiraiya menelan ludahnya susah payah. Harus ia akui, meskipun sudah tua, power Koharu masihlah kuat sama seperti saat ia masih muda. Kemampuannya dalam mengintimidasi seseorang tidak berkurang sedikitpun. "Itu karena ramalan," ujarnya jujur.
Kedua alis Koharu dan Homura saling bertaut. Keduanya sama-sama dilanda kebingungan. "Ramalan?" pekik keduanya serampak.
Jiraiya mengangguk. "Ya, ramalan," ujarnya tegas. "Tetua katak meramalkan kalau aku akan hidup berkelana dari satu daerah ke daerah lainnya, menjadi penulis buku dan juga jadi seorang guru untuk seorang anak yang kelak akan menciptakan perdamaian dunia seperti dulu kala."
"Dan, apakah kau sudah menemukan anak dalam ramalan itu?" tanya Koharu antusias.
"Ku pikir sudah. Tapi, sekarang aku tidak yakin lagi." desah Jiraiya lelah.
Matanya menerawang sendu, terkenang akan murid-muridnya di Hidden Rain, khususnya Nagato yang memiliki doujutsu Rinnegan, sama seperti Rikudo sennin. Ia pikir, anak dalam ramalan itu Nagato, tapi sekarang ia tak yakin. Sepak terjang Nagato selama ini, tidak seperti yang diceritakan oleh tetua katak padanya. Mungkin ada baiknya ia mengangkat murid lagi, seorang anak yang masih lugu, tapi memiliki tekad api dalam dadanya.
"Jiraiya!" panggil Homura menyentakkan lamunan Jiraiya. "Apa yang akan kau fikirkan?"
"Aku akan mengangkat murid lagi."
"Siapa?"
Jiraiya tidak langsung menjawab. Ia tampak berfikir sejenak, menyeleksi shinobi, calon shinobi, hingga penduduk sipil yang dikenalnya. Mungkin ini takdir, tapi matanya kini terpancang pada ukiran wajah salah satu muridnya yang kini sudah tiada yakni Yondaime. Ia ingat, muridnya itu pernah meminta ijin, meminta nama Naruto —tokoh dalam novelnya— untuk nama anaknya nanti. Minato ingin anaknya kelak tumbuh menjadi sosok seperti tokoh dalam novelnya Jiraiya.
Jiraiya mengulaskan senyum tipis. Matanya tampak berseri-seri. Ia sudah memantau anak itu. Naruto dalam beberapa hal mirip dengan karakter tokohnya yakni pantang menyerah. Ia punya tekad sekuat baja. Dan, yang terpenting ia bukan tipe orang yang mudah dipengaruhi. Apa yang sudah diputuskannya tidak akan ia tarik kembali. Dia sangat mirip dengan Naruto-nya. Mungkin Narutolah —putra mendiang Minato— anak dalam ramalan itu?
"Namikaze-Uzumaki Naruto. Aku akan mengambil anak itu sebagai murid."
'Naruto?' pikir Koharu dan Homura kaget. Ia memang sudah mendengar kehebatan bocah itu dalam pertempuran melawan Pria Bertopeng Misterius itu, tapi kan ia tak punya cakra. Ditambah lagi dengan kondisi mentalnya yang masih terguncang paska kepergian seluruh anggota keluarganya. Apa ini tidak terlalu riskan?
"Kau yakin?"
"Ya, aku yakin. Aku belum pernah seyakin ini." ujar Jiraiya tegas.
...*****...
Naruto mengipas-ngipasi tubuhnya dengan kipas kertas untuk mengusir gerah. Kibasan angin nan lembut dari kipas itu sedikit meredakan siksaan panas yang mendera sekujur tubuhnya. Sesekali, tangan Naruto yang bebas mengusap peluh yang bercucuran membasahi kening, dagu, dan lehernya.
"Uuuh, panasnya..." keluh Naruto semakin kalap menggerak-gerakkan kipasnya hingga kipasnya 'Breett..' sobek.
Naruto melempar kipas yang sudah tak layak pakai itu ke tempat sampah. Dengan malas, ia meraba-raba sebelah sampingnya, mencari cadangan kipasnya. Dahinya berjengit, saat jemari tangannya tak merasakan keberadaan benda maha penting itu. Ia memiringkan tubuhnya untuk memudahkannya mencari kipas, namun hasilnya tetap nihil.
Ia pun menoleh dan bergumam, "Oh," ketika mendapati tumpukan kipasnya yang ia beli secara borongan kemarin sudah tandas. Mereka semua sudah berpindah tempat ke tong sampah di pojok ruangan. "Yach, habis. Padahal kan aku belinya banyak. Emang ya, harga nggak bisa bohong," gerutunya.
Naruto kini merebahkan tubuhnya di lantai kayu kamarnya, mencari kesejukan. Ia terlalu malas untuk keluar rumah, mengingat matahari sedang terik-teriknya. Ia menyamankan dirinya. Matanya kini beralih memandang langit-langit kamar barunya, membandingkannya dengan kamar lamanya.
Tinggi kamar barunya hampir sama dengan kamar lamanya. Bedanya, kamar lamanya jauh lebih luas daripada kamar ini. Tapi, tak apalah. Tujuan utamanya pindah ke apartemen ini memang bukan untuk mencari keluasan tempat, melainkan untuk membuka lembaran baru hidupnya.
Naruto merasa sesak, jika harus tinggal di rumah peninggalan mendiang kedua orang tuanya. Kenangan-kenangan semasa keluarganya masih hidup terus-menerus mengganggunya, menghantuinya, dan menyiksa batinnya sepanjang waktu. Karena itulah, ia memutuskan untuk keluar dari rumahnya.
Sebenarnya, banyak orang yang menawarkan rumahnya untuk Naruto. Mereka bersedia menampung Naruto dan menjadikannya bagian dari keluarga mereka. Bibi Yoshino bahkan sudah menyiapkan kamar untuk Naruto jauh-jauh hari, jika sewaktu-waktu Naruto setuju untuk tinggal bersama keluarga Nara. Tapi, Naruto menolaknya. Ia memilih tinggal sendiri di sebuah apartemen sederhana, dengan alasan ingin belajar mandiri. Dan, di sinilah Naruto berakhir sekarang.
Tiga minggu yang lalu, Naruto mulai pindah rumah. Ia membawa barang-barang pribadinya dan beberapa barang yang dibutuhkannya seperti perlengkapan masak, alat kebersihan, alat mandi, dan lain-lain dari kediamannya yang lama ke apartemennya. Ia tidak melakukannya sendiri. Ada Choji, Shika, Kiba, dan yang di luar dugaan Sasuke yang bersedia jadi kuli panggulnya.
Naruto jadi geli sendiri mengingat proses pindahannya. Teman-temannya ribut sekali dalam urusan atur-mengatur barang-barang Naruto agar muat di apartemen barunya yang sempit. Khususnya Sasuke dan Kiba. Keduanya, tak mau ngalah dan ngotot kalau merekalah yang paling benar. Naruto membiarkan pertengkaran keduanya dan lebih memilih menata barang pribadinya di kamarnya. Ia pikir, 'Nanti juga berhenti sendiri,'
Akhirnya —setelah melewati berbagai perdebatan sengit, pekikan, sungutan, dan teriakan-teriakan tidak jelas di sana-sini— tugas mereka selesai juga menjelang malam. Karena sudah letih habis acara pindahan, Naruto mentraktir mereka cup ramen instan sebagai upah.
Naruto ingat. Keempat teman akademinya itu makan dengan lahap ramen instan bikinan Naruto. Mungkin, mereka punya pikiran yang sama seperti Naruto, terlalu malas dan letih untuk keluar mencari makan. Atau bisa jadi, mereka memaklumi kemampuan Naruto yang hanya bisa masak cup ramen instan, mengingat Naruto baru berusia 7 tahun jalan 10 bulan.
Senyum di bibir Naruto semakin lebar, ketika teman-temannya mengutarakan maksudnya untuk menginap. Teman-temannya rela tidur bersempit-sempitan di atas tatami, untuk menemani Naruto, meski hanya semalam. Sungguh, itu adalah momen yang sangat mengesankan dalam hidup Naruto. Ia sampai menitikkan air mata haru. Dadanya bengkak oleh kebahagiaan.
'Oh, inikah yang namanya persahabatan? Alangkah indahnya, jika ini tak tak pernah berakhir,' pikirnya kala itu.
Tak sampai di situ saja. Keesokannya, keempat temannya ikut menemani Naruto menghadap Iruka-sensei, untuk meminta maaf karena sudah bolos akademi selama hampir sebulan lebih, yang dibalas omelan panjang lebar oleh senseinya. Namun di akhir omelan panjang itu, Iruka-sensei menepuk pundak Naruto lembut dan berkata, "Kau hebat, Naruto. Kau tetap tegar dan berdiri dengan tegak setelah peristiwa itu. Aku bangga padamu,"
Naruto sampai terperangah dibuatnya, sebelum matanya berkaca-kaca dan lalu pecahlah tangisnya. Tidak, ia tidak menangisi kepergian seluruh anggota keluarganya, melainkan karena teringat ucapan mendiang ayahnya. Ayahnya pernah melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Iruka-sensei satu, dua atau tiga kali. Tidak sering memang, namun itu sangat membekas dalam ingatan Naruto.
"Naruto..! Apa kau baik-baik saja? Apa kata-kataku menyinggungmu?" tanya Iruka-sensei panik kala itu.
Naruto menggelengkan kepalanya lemah. Dengan suara sengau ia menjawab, "Tidak apa-apa, Sensei. Aku baik-baik saja. Aku hanya terharu. Terima kasih Sensei. Terima kasih banyak. Aku janji, aku tidak akan nakal lagi. Aku akan berlatih dan bekerja keras agar kelak menjadi ninja yang hebat melebihi tou-san, dan membanggakan Sensei."
Naruto ingat, Iruka Sensei kembali menepuk pundaknya sebelum menarik Naruto ke dalam pelukannya. Hangat, itu yang Naruto rasakan. Pelukan senseinya di akademi ini tidak kalah hangat dengan pelukan tou-san dan kaa-sannya. Naruto merasa seperti pulang ke rumah.
Semenjak hari itu, Iruka-sensei masuk ke dalam daftar orang-orang yang spesial di hati Naruto, selain Shika dan Choji sekeluarga, Kakashi-sensei, dan Asuma-sensei. Err, dipikir-pikir... Mungkin si Teme ehem maksudnya Sasuke dan Kiba juga bisa dimasukkan ke dalam daftar. Soalnya si Teme-ehem-Sasuke dan Kiba akhir-akhir ini bersikap baik pada Naruto, khususnya Sasuke. Ia mendadak jadi perhatian banget, sampai-sampai Naruto merasa Sasuke ini kakak kandungnya sendiri.
Berkat mereka, Naruto sudah bisa ceria lagi. Senyum yang beberapa hari ini menghilang kini kembali lagi. Ia melanjutkan kegiatan sehari-harinya seperti kala orang tuanya masih hidup, yakni berlatih, berlatih, dan berlatih. Ia ingin membuktikan pada dunia, kalau ia Uzumaki Naruto juga bisa menjadi shinobi yang tangguh bahkan melebihi hokage-hokage sebelum. Karena itu, ia pun tetap berlatih keras sama seperti hari-hari biasanya.
Tapi, kali ini ia berlatih seorang diri. Ayahnya yang biasanya mengawasi dan menemaninya berlatih sudah tidak ada. Begitu pula dengan Hokage ketiga. Sedangkan Kakashi-sensei yang kadang-kadang menemaninya berlatih sedang sibuk. Kakashi-sensei sedang ada misi maha penting, sehingga menyuruh Naruto berlatih sendiri. Tapi, tak apa. Naruto mengerti. Toh, ia juga lebih dari mampu menyusun menu latihannya sendiri.
Berkat pertarungannya dengan para penyusup misterius itu, Naruto kini mengetahui kelemahan utamanya, yakni pada staminanya. Staminanya masih jauh di bawah standar seorang anggota klan Uzumaki. Dengan dalih itulah, kini Naruto memfokuskan latihannya pada latihan fisik.
Naruto menghindari belajar ninjutsu dan fuinjutsu. Ia tak berani mempelajarinya tanpa ditemani pelatih yang kompeten, seperti Kakashi-sensei. Soalnya, ia masih belum tahu bagaimana caranya mengontrol cakranya. Jangankan mengontrol, cara mengeluarkan cakra pun Naruto tak tahu.
Selama ini, Naruto hanya berlatih cakra alam karena mengira, ia tak punya cakra layaknya seorang shinobi pada umumnya. Siapa sangka, jikalau ternyata di dalam tubuh Naruto mengalir cakra dalam jumlah melimpah, bahkan melebihi jumlah cakra tou-san dan Kakashi-sensei sekaligus. Rupa-rupanya, cakranya disegel sang ayah dengan fuinjutsu andalan ayahnya, dan baru dilepas sesaat sebelum tou-sannya meninggal.
Syok, terkejut, dan bingung jadi satu. Perasaannya campur aduk kala itu. Ia tak tahu apakah harus marah, bersyukur, atau bersedih? Atau, ia harus melakukan ketiga-tiganya sekaligus? Semua begitu tiba-tiba. Semua begitu membingungkan, hingga ia tak tahu harus bereaksi seperti apa?
Naruto tak habis pikir. Apa sih yang dipikirkan ayahnya yang anti-mainstream menurut Hokage ketiga itu? Dugaan pertamanya, ayahnya tak ingin Naruto menjadi seorang shinobi. Ia ingin Naruto hidup layaknya penduduk sipil di Konoha. Karena itulah, ia dengan sengaja menyegel seluruh cakra Naruto.
Tapi.., tetap saja itu aneh. Dia kan shinobi. Masa sih ia tak ingin anaknya mengikuti jejaknya? Dan lagi, buat apa pula tou-sannya capek-capek menciptakan jutsu chi-kung untuk sang anak, jika ia tak ingin Naruto menjadi seorang shinobi? Nah, di situ tuh yang Naruto tak mengerti.
Kerutan di dahinya bertambah dalam. Naruto berfikir keras mencari jawaban-jawaban pertanyaannya sendiri. "Mungkin bukan status shinobi yang dipermasalahkan oleh ayah di sini," gumam Naruto lirih. 'Tapi, cakranyalah yang jadi titik pointnya. Ya, pasti itu.' pikir Naruto.
Naruto tersenyum simpul. Akhirnya, Naruto mendapat titik terang dari masalah ini. Ia, lalu menganalisis dimana letak masalah cakranya. Memang sih, jumlah cakranya sangatlah banyak, tapi ia pikir bukan itu persoalan utamanya. Selain Naruto, masih ada shinobi lainnya di Konoha yang jumlah cakranya juga besar, bahkan lebih banyak dari Naruto. Dan, mereka fine-fine saja tuch. Kenapa hanya Naruto yang dipermasalahkan? Memang ada apa dengan cakranya?
Naruto mengingat lagi kejadian di malam itu, tepatnya saat ia merasakan rembesan cakra asing yang mengalir di tubuhnya. Kalau tak salah ingat, cakra yang dirasakannya ketika itu sangat mirip dengan cakra kaa sannya. Cakranya terasa panas seperti mau membakar tubuhnya dan juga ukh.. —Naruto meneguk ludahnya kasar— dipenuhi aura kebencian. Mungkinkah..?
Sraakk!
Suara jendela diseret dari luar menyentakkan lamunan Naruto. Dari ambang jendela, muncullah sesosok pria dewasa berambut perak yang beberapa minggu ini tidak ditemui Naruto.
"Sensei!" pekik Naruto antara jengkel dan senang. Jengkel karena senseinya lagi-lagi masuk lewat jendela —mengabaikan sopan santun— dan senang karena dengan kehadiran pria itu berarti ia bisa berlatih jutsu baru. "Tak bisakah sensei datang dengan cara yang normal? Lewat pintu, misalnya. Pintu rumahku ini selalu terbuka untuk sensei, so please jangan lewat jendela lagi,"
"Eto maaf, Naruto. Tak sengaja," ujar Kakashi meminta maaf. "Tadi ku lihat di depan pintu rumahmu ada kucing hitam. Kata orang tua-tua dulu, kucing hitam itu pembawa sial. Jadi, aku memilih lewat jendela untuk menghindari sial," lanjutnya memberi alasan.
"Huh, alasan," Dengus Naruto sambil bersedekap di depan dada, pura-pura marah. "Ney, sensei! Apa sensei kemari untuk mengajakku berlatih lagi?" tanya Naruto antusias dengan mata love-love.
"Itu..." Kakashi menggantung ucapannya, membuat dada Naruto berdebar-debar layaknya seorang gadis yang sedang kasmaran.
Hati Naruto membuncah dipenuhi rasa bahagia karena sebentar lagi bisa berlatih kembali bersama sensei kesayangannya. Kakashi melirik Naruto dari sudut matanya. Bibirnya melengkung, mengembangkan sebuah senyuman tulus melihat ekspresi Naruto yang berseri-seri. 'Sepertinya, ia sudah berhasil mengatasi kesedihannya,' pikir Kakashi.
"Itu, apa Sensei?" tanya Naruto penuh harap.
Kakashi masih mempertahankan senyumnya, memberi angin surga untuk Naruto, sebelum menghempaskan harapannya dengan kejamnya. "Maaf, Naruto," ujar Kakashi dengan wajah lugu tanpa dosanya. Kakashi mengikik geli di balik maskernya, mendengar lenguhan kekecewaan dari anak senseinya itu. "Aku ada misi panjang besok, karena itu maaf. Lain kali saja." ujarnya berusaha memberi pengertian pada Naruto.
Naruto memberi Kakashi senyum maklum menutupi kekecewaannya. Meski masih belia, tapi pemikirannya lebih dewasa dari anak-anak seusianya. "Aku mengerti. Sensei tak perlu minta maaf padaku. Itu kan hanya masalah sepele." Ujar Naruto sambil angkat bahu, untuk menunjukkan kalau ia sungguh-sungguh tidak mempermasalahkannya. "Jadi, apa tujuan sensei kemari?"
"Oh, itu. Aku mau ngasih ini!" ujar Kakashi mengulurkan sebuah buku pada Naruto yang diterima Naruto dengan tatapan bingung. "Peninggalan Menma. Buka saja!" lanjutnya.
"Oh," pekik Naruto terkejut. Ternyata buku yang dibawa Kakashi adalah album foto berisi foto-foto Menma dari kecil hingga sesaat sebelum ia meninggal. Dahi Naruto kembali mengerut. 'Kenapa begini? Kenapa ada album foto Menma? Bukannya Menma itu kaa-san?' pikir Naruto heran. "Sensei!" panggil Naruto ragu-ragu.
"Ya?"
"Tempat apa ini? Aku tak pernah melihatnya di Konoha." tanya Naruto beruntun.
"Oh, itu gunung Myobokuzan."
"Myobokuzan?" beo Naruto. 'Sepertinya, aku pernah mendengarnya. Tapi, dimana ya?' pikirnya.
"Heem. Itu lho tempat ayahmu dan guru ayahmu belajar senjutsu pada tetua katak." Jelas Kakashi.
"Oh itu," gumam Naruto akhirnya berhasil mengingat tempat itu.
Ayahnya pernah bercerita pada ibunya di suatu malam tentang gunung Myobo. Jangan bilang Naruto nguping, ya! Naruto bukannya mau nguping, cuman kebetulan kamarnya dekat dengan kamar kedua orang tuanya dan ia punya indera pendengaran yang sangat tajam, sehingga ia dengar semuanya secara detail.
"Usai kejadian Kyuubi menyerang desa, Konoha bukan lagi tempat yang aman untuk Menma. Karena itu, ayahmu menitipkan Menma pada tetua katak di gunung Myobokuzan, sedang kau tetap di Konoha." jelas Kakashi, tak menyadari perubahan raut wajah Naruto. Ia justru asyik menikmati cemilan-cemilan Naruto. 'Lumayan buat ganjal perut,' Pikirnya.
'Menma diungsikan di gunung Myobokuzan? Menma yang baru lahir itu? GILA! Yang benar aja?' pikir Naruto syok.
Ia ingat, ayahnya pernah bercerita kalau menu makanan di gunung Myobokuzan itu mengerikan, tidak layak untuk dikonsumsi manusia. Waktu itu, ayahnya terpaksa memakannya karena hanya itu saja yang tersedia di sana. Dan sekarang Kakashi-sensei bilang ayahnya mengungsikan Menma yang masih orok ke Myobokuzan? What the hell?
"Sensei serius?" tanya Naruto menyuarakan isi pikirannya, yang dijawab anggukan kepala oleh Kakashi. "Tidak bercanda, kan?" tanya Naruto lagi untuk menegaskan dan lagi-lagi dibalas dengan anggukan kepala.
Naruto patut memberikan ucapan selamat pada dirinya sendiri, karena ia berhasil tidak memasang wajah melongo dengan mulut terbuka lebar seperti orang bloon. Ia tetap calm down dan cool abis, meski hatinya sudah sweatdrop akut.
Ia bertanya-tanya dalam hati, 'Ini sebenarnya yang gila ayahnya atau mereka yang oon yang dengan mudahnya dikibulin ayahnya?' Sumpah Naruto tak mengerti. Sesosok bayi di Myobokuzan? Huh! Ha ha ha.. Naruto mau tertawa terguling-guling saja mendengarnya. Itu adalah lelucon paling garing dan paling tidak lucu di dunia.
Masak sih mereka percaya kalau Myobokuzan itu tempat yang paling tepat untuk merawat Menma? Memang mau dikasih makan apa Menma-bayi di sana? Belatung? Ulat bulu? Kecoak? Atau, kombinasi ketiganya? Karena tak mungkin makhluk amfibi itu bisa memberikan asinya pada Menma.
Tak mungkin pula ibunya berada di sana untuk menyusui Menma, mengingat ada Naruto-bayi di Konoha yang juga butuh asupan ASI. Meski, jumlah cakra ibunya sangatlah besar, tapi membuat klon dalam waktu relatif lama dan di tempat yang amat jauh dari tempat tinggalnya? Naruto tak yakin ibunya mampu.
Dan, lebih tak mungkin lagi jika ayahnya mengirim seorang ibu susu untuk Menma. Itu sama halnya dengan membunuh wanita itu pelan-pelan. Ingat! Hanya orang-orang tertentu, pilihan saja yang mampu tinggal dan menetap di gunung Myobokuzan. Sisanya berakhir menjadi deretan patung katak sebagai penghias gunung Myobokuzan.
Dan, jangan berfikir untuk mengirim bahan makanan dari Konoha ke Myobokuzan! Dijamin pasti rusak! Bahan makanan —selain makanan favorit para katak— yang kau bawa tidak akan tahan dengan temperatur udara gunung yang kontras. Kalau siang sangat panas dan kalau malam luar biasa dingin, hingga tubuhmu membeku kedinginan.
So, bagaimana caranya Menma-bayi bertahan hidup di sana, tanpa ASI dan tanpa bahan makanan yang layak? Terkecuali Menma bisa hidup tanpa makan dan minum atau ayahnya berhasil menciptakan scroll gulungan khusus untuk menyimpan bahan makanan tetap fresh seperti keahlian keluarga Tenten-senpai Naruto. Dan keduanya —Naruto yakin 100%—sama tidak mungkinnya. Jadi, bagaimana Naruto percaya?
'Jangan-jangan mereka tak tahu Myobokuzan itu seperti apa?' tebak Naruto dalam hati sambil membuka lembaran foto yang menurutnya paling lucu agar Kakashi tidak curiga melihatnya senyam-senyum sendiri.
Mungkin mereka pikir, Myobokuzan itu tak berbeda jauh dengan desa-desa pada umumnya kali ya, makanya itu mereka mengiyakan saja keputusan tou-sannya. Apalagi mereka baru saja diteror oleh sesosok monster Kyuubi. Hadeuh lengkap dech. Dijamin mereka bakal menelan mentah-mentah apapun yang dikatakan oleh penolong mereka, meski itu sebuah kebohongan besar. Mereka tak akan berfikir 'Ini benar atau tidak'. Bagi mereka yang penting mereka aman.
Naruto kembali melanjutkan kegiatan menganalisisnya usai Kakashi-sensei pamitan dengan sopan —sopan versi Kakashi itu lewat jendela, mengabaikan teriakan orang-orang yang jadi korbannya—. Sekarang, ia yakin jika tokoh Menma tidak pernah ada. Sosok yang selama ini mereka panggil Menma sebenarnya tak lebih dari sebuah henge kedua orang tuanya.
Kadang-kadang ayahnya yang menyamar jadi Menma, namun lebih sering ibunya yang jadi Menma. Itu sebabnya, Naruto tak pernah bisa mendeteksi cakra Menma dan itu pula yang membuat ayah dan ibunya sering kali terlihat kelelahan. Mungkin, mereka terlalu memforsir cakranya untuk menyempurnakan sandiwaranya agar lebih meyakinkan. Karena faktor kelelahan itu pula, yang membuat orang tuanya terlihat enggan menemani Naruto-kecil bermain.
Tapi, apa tujuannya? Mengapa ayahnya membuat sosok rekaan seperti Menma dan mengumumkan kalau ia adalah jinchuuriki Kyuubi? Rahasia besar apa yang sebenarnya ayahnya sembunyikan darinya dan dari Konoha?
"Mungkin ayah berniat menyembunyikan identitas jinchuuriki yang asli — ayahnya kan berprinsip semakin sedikit yang tahu, semakin aman dia—. Karena itu, ayah berbohong soal Menma. Pasti dia orang yang sangat penting dan sangat spesial di hati ayah. Makanya itu, ayah mau berkorban demikian besar untuknya. Tapi siapa?" kata Naruto lirih.
"Kaa-san!" gumam Naruto. "Pasti kaa-san, tapi..." Naruto mengusap hidungnya yang tidak gatal —pose Naruto saat sedang berfikir serius—. Naruto masih merasa ada yang ganjil di sini. Sebelum insiden serangan Kyuubi pada Konoha 7 tahun yang lalu, ibunya sudah menjadi jinchuuriki Kyuubi. Semua shinobi juga tahu itu. Sudah jadi rahasia umum. So? Buat apa tou-sannya berbohong soal status ibunya?
'Apa jangan-jangan jinchuuriki Kyuubi sebenarnya bukan hanya satu, melainkan dua?' pikir Naruto.
Ingatan Naruto melayang pada salah satu gulungan rahasia milik klan Uzumaki yang dulu dipelajarinya secara diam-diam sebelum dimusnahkan oleh ibunya. Dalam gulungan itu, diperlihatkan gambar moster rubah ekor sembilan dengan wajah garangnya sebagai covernya. Di situ tertulis...
Kyuubi, seekor bijuu ekor sembilan memiliki cakra merah yang jumlahnya paling besar daripada saudara-saudaranya. Kyuubi terdiri dari unsur Yin dan Yang. Unsur Yin lebih mudah dikendalikan karena dia otak dari bijuu ini, daripada unsur Yang. Perbedaan unsur Yin dan Yang secara kasat mata terletak pada warnanya. Unsur Yang lebih gelap daripada unsur Yin karena menerima kebencian yang lebih besar dari seluruh manusia. Unsur Yin dan Yang ini bisa dipisahkan dengan jutsu...
Hanya di bagian itu saja yang berhasil diingat Naruto, karena gulungan itu sudah terlanjur terbakar habis. Namun, itu cukup memberi gambaran pada Naruto. Jikalau Kyuubi —ditilik dari warnanya— yang ditarik ayahnya dari tubuh ibunya adalah Kyuubi Yang. Dengan kata lain, Kyuubi sudah dibelah jadi dua unsur oleh ayahnya. Ibunya tetap menjadi jinchuuriki Kyuubi Yang.Sedangkan, jinchuuriki Kyuubi Yin identitasnya dirahasiakan.
Kemungkinan inilah yang paling mendekati. Mungkin ayahnya membuat rencana cadangan ini sebagai antisipasi, jikalau suatu saat nanti ada orang jahat yang berhasil mencuri Kyuubi dari tubuh Kaa-sannya. Ayahnya, mungkin tak ingin peristiwa 7 tahun yang lalu ketika ia baru lahir ke dunia ini, terulang kembali.
"Lalu, siapa jinchuuriki Kyuubi Yin ini?"
Se-pengetahuan Naruto, tak ada satu pun dari shinobi-shinobi tangguh Konoha yang memiliki cakra Kyuubi, selain kaa-sannya. Naruto cukup yakin dalam hal ini, secara kemampuan melacaknya sudah pada tingkat paling tinggi. Bukannya mau menyombongkan diri, tapi itulah kenyataannya.
Tak ada cakra yang tak bisa dilacak oleh Naruto, selama ia masih berada di Konoha. Mau ditekan setipis apapun tetap saja Naruto bisa mendeteksinya. Naruto bahkan mampu melacak cakra makhluk aneh yang diragukan manusia apa bukan berbentuk tanaman Venus-fly-trip. Sesuatu yang gagal dilakukan oleh para shinobi kawakan Konoha. Apalagi yang sekelas Kyuubi yang jumlah cakranya sangat besar? Ah, itu sih perkara mudah.
Apa mungkin dia disembunyikan di luar Konoha? Misal di gunung Myobokuzan. Tapi, kok ia nggak yakin ya. Berkaca dari gaya berfikir ayahnya sebelum-sebelumnya, kemungkinan besar Jinchuuriki Kyuubi Yin ini masih tetap berada di Konoha, berbaur dengan para penduduk desa sebagaimana wajarnya. Masalahnya adalah siapa?
Naruto mengerjab-ngerjabkan bulu matanya yang lentik. Tiba-tiba saja, ia teringat sesuatu yang sangat penting dan sekaligus kunci dari semua misteri ini. Bicara tentang cakra aneh, bukannya di tubuh Naruto juga ada? Naruto ingat, pada malam penyerangan Pria-bertopeng-misterius, Naruto merasakan getaran cakra aneh yang menjalar di sekujur tubuhnya.
Getaran cakra itu berputar, mengalir pada sendi-sendi tubuhnya, dan lalu meluber menembus pori-pori tubuhnya dalam jumlah yang besar. Cakranya terasa panas seperti mau membakar Naruto hidup-hidup dan yang terpenting dipenuhi hawa kebencian pekat. Tak hanya sampai di situ saja. Naruto juga merasa seperti ada kekuatan yang berniat mengendalikan kesadarannya. Untunglah sebelum hal itu terjadi, Shishui-nii chan datang menyelamatkan Naruto.
"Ukhh.." Naruto meringis ngeri. Mendadakk, lidahnya terasa kelu. Tenggorokannya terasa kering hingga menelan ludahnya sendiri pun tak mampu. Jantungnya terus-menerus berdegup kencang. Tubuhnya mengejang kaku. Wajahnya memucat seperti zombie, menyadari kenyataan ini. Ia akhirnya bisa menebak rahasia besar yang selama ini disembunyikan oleh ayahnya dengan taruhan nyawa.
"Ja-jadi..?" gumam Naruto meneguk ludahnya kasar. "..jin-jinchuuriki Kyuubi it-itu a-aku," lanjutnya dengan tubuh panas dingin.
Kenyataan ini menghantam dada Naruto telak. Wajahnya semakin pucat. Ia cukup bersyukur, saat ini ia sedang duduk di lantai kamarnya, jika tidak? Mungkin ia sudah pingsan dengan tidak elitnya di rumahnya sendiri. 'Oh, Ya Tuhan,' pekik Naruto berhasil menyebut nama Tuhan diantara rasa syoknya.
Bagaimana tidak?
Ia, bocah yang baru berusia 7 tahun sebentar lagi 8 tahun, tapi sudah diberi tanggung jawab yang demikian besar, coret luar biasa besar. Bayangkan! Ia masih sangat kecil, tapi sudah diberi amanah maha berat yakni menjaga Kyuubi agar tetap istirahat dengan tenang dan damai di dalam tubuhnya yang mungil.
Kok ada ya, orang yang tega menyegel seekor monster ganas macam Kyuubi ke dalam tubuh seorang bayi? Dan, yang membuat Naruto tambah syok, orang super duper tega bin edan itu tidak lain dan tidak bukan ayah kandungnya sendiri. Oh, God. This is very crazy. Dunia mungkin sedang berputar tidak pada porosnya.
Apa sih yang ada di otak ayahnya itu? Benar-benar crazy, gila, sinting, dan saudara-saudaranya. Sayang sekali ya, ganteng-ganteng gila. 'Mungkin, ini akibat pengaruh keterlibatan ayahnya di perang dunia ninja saat usia masih belia. Mental ayahnya mungkin belum siap, karena diharuskan menghabisi banyak nyawa musuh demi kemenangan Konoha di usia yang masih sangat muda.' Pikir Naruto.
Diam-diam, ia bersyukur karena diijinkan oleh ayahnya untuk mengenyam pendidikan di akademi lebih lama, meski kemampuannya sudah setara dengan para Chuunin di Konoha. Jadi, ia punya waktu lebih banyak untuk mematangkan emosinya, menyiapkan mentalnya untuk menjalani segala suka duka, pahit getirnya kehidupan seorang shinobi. Tidak seperti ayahnya yang dipaksa dewasa sebelum masanya karena kondisinya sedang perang.
Sebuah ingatan lain melintas dalam benaknya. Itu adalah ingatan ketika ia tanpa sengaja mendengar desisan lirih dari mulut para penduduk kala melihat Menma lewat. Memang, di depan Menma yang berjalan bersama Minato, mereka berkata semanis madu. Tapi, usai Menma tak ada, mereka meluapkan caci-makinya pada Naruto dan mengatai Menma 'monster'.
Tak hanya itu saja, diam-diam para penduduk desa, saat Menma sendirian saja tanpa Minato ataupun Kushina di sisinya, akan menyuruh anak-anaknya menjauhi Menma dan menolak diajak main Menma. Mereka bahkan memberi Menma tatapan penuh kebencian. Tak ada lagi rasa hormat atau belas kasih pada Menma, seolah-olah Menma ini musuh mereka.
Gara-gara itulah, Menma tak pernah memiliki sahabat seorang pun. Ia hanya memiliki para penjilat di sekelilingnya. Sangat jauh perbedaannya dengan Naruto. Meski, ia tak sepi dari bully, sindiran, dan ejekan, tapi minimal masih ada yang mau bermain dan berteman dengannya. Tidak seperti Menma.
'I-inikah yang mendorong ayah berbohong? Berpura-pura kalau ia punya anak kembar. Berpura-pura kalau Menmalah anak kesayangannya dan tak memandangku sebagai anak. Se-semua ini untukku? Semua ini beliau lakukan untuk melindungi statusku yang sebenarnya?' pikir Naruto dengan hati teriris bagai diiris sembilu, menyadari kebodohannya selama ini.
"Ukh!" Pekik Naruto sambil membekap mulutnya. Matanya membola sempurna menyadari kenyataan lainnya. Dadanya terasa sesak seakan-akan ada sesuatu yang menghantam ulu hatinya dengan telak. Kini, —usai kepergian sang ayah yang selama ini selalu Naruto cap pilih kasih, ayah yang kejam— ia tahu seberapa besar rasa cinta ayahnya padanya.
Jika ayahnya tak bohong soal Menma, mungkin Naruto-lah yang mengalami apa yang dialami oleh Menma. Berkat Menma —henge orang tuanya—, Naruto tak perlu merasakan tatapan sinis, benci, dan muak sekaligus dari para warga desa Konoha, setiap waktu. Ia tak perlu ditempeli para anbu yang berjaga 24 jam hingga lupa memberi Naruto privasi. Ia tak harus menangis sedih karena tak ada anak yang tak mau main dengannya. Ia tak pernah harus melewati hidupnya dengan deraian air mata, kesepian, dan sandiwara. Ia hanya perlu jadi dirinya sendiri.
Berkat Menma, Naruto bisa tumbuh layaknya bocah normal pada umumnya, yakni bermain, belajar, dan bersosialisasi. Naruto tidak tumbuh dengan pikiran gila, bahwa ia adalah senjata desa yang dilatih ekstra keras untuk menjadi mesin pembunuh no 1. Ia tak perlu hidup dalam kepedihan seperti yang dialami jinchuuriki-jinchuuriki lainnya. Ia hanya cukup jadi Uzumaki-Namikaze Naruto, bocah nakal putra mendiang Namikaze Minato dan Namikaze Kushina.
"Oh, Ya Tuhan. Kaa-san! Tou-san!" pekik Naruto terkejut dan juga terharu. Matanya kini berkaca-kaca. Beberapa tetes air mata lolos dari kelopak matanya. Naruto terisak-isak lirih, teredam dalam bekapan telapak tangannya.
Betapa bodohnya dia selama ini, karena pernah berfikir kalau ayah dan ibunya tidak menyayanginya dan tak mengharapkannya hadir di dunia ini. "Hik hik hiks... Ke-kenapa baru sekarang aku menyadarinya. Setelah-setelah semuanya sudah terlambat. Hik, kenapa? Kenapaa...?" pekik Naruto sedih, meraung-raung di tempat, menyuarakan penyesalannya selama ini. Gemerisik angin musim panas berhembus melalui jendela yang terbuka lebar, seolah-olah berniat menghibur hati Naruto yang tengah berduka.
Sejam setelahnya..
Naruto berkedip, membasahi matanya yang kering karena terlalu lama menangis. Tak ada lagi isak tangis yang keluar dari bibirnya. Mungkin ia sudah lelah menangis. Atau, mungkin ia berfikir sesal kemudian tak ada gunanya, sehingga Naruto memutuskan berhenti menangis dan menyesali yang lalu.
Naruto duduk dengan tegap, menatap potret besar ayah, ibu, Naruto, dan Menma yang Naruto pajang di dinding kamarnya. Memang di matanya masih ada bias-bias luka, tapi diantara bias luka itu, masih ada ruang secercah cahaya dan kemantapan hati di sana.
Mata Naruto terpancang pada safir potret ayahya yang menatap Naruto balik penuh cinta dan kasih. Ingatannya melayang pada ucapan kakek hokage ketiga beberapa tahun yang silam. "Karena ayahmu sangat sayang padamu, Naru-chan. Makanya itu, ia bertindak ekstrim."
"Kakek benar. Mereka..hik, mereka bukan hanya sayang padaku, ta-tapi mereka sangat-sangat mencintaiku hingga mereka rela menukar nyawanya, hidupnya, bahkan rela dibenci olehku karena ingin melindungiku." Ujar Naruto diiringi derai air mata. "Ka-karena aku...a-aku.. hik hik hiks..."
Naruto menangkup kedua tangannya menyembunyikan wajahnya dari mata dunia. Kelibatan emosi memenuhi dadanya. Hatinya membuncah oleh rasa haru mengetahui besarnya cinta dan kasih kedua orang tuanya padanya.
"Aku akan meneruskan tekad ayah, untuk mewujudkan perdamaian dunia. Aku akan memburu pria bertopeng misterius yang telah memaksa ayah berbuat seperti ini, membuat hidup ayah dan para penduduk Konoha menderita. Aku akan mengejarnya ke mana pun, meski ke liang lahat sekalipun. Itu janjiku."
To be Continue
Sebenarnya aku udah ngetik fic ini dari bulan kemarin, cuman wordnya kurang. Jadi, publishnya aku tunda terus-menerus. Jadilah fic ini terkatung-katung di lappyku berhari-hari dan berminggu-minggu.
Sekian dari saya. Untuk terakhir kalinya, Ai minta saran dan kritiknya dari para reader sekalian. Sudilah kiranya meninggalkan jejak di kotak review.
