Not Mainstream

DISCLAIMER : Naruto Belongs to Masashi Kishimoto

Genre : Adventure dan Family

Rating : T

WARNING : Ide pasaran, bertebaran typo, gaje, smart_Naru, Canon dan bashing beberapa chara.

Author Note : Buat para reader, thank you so much. Ai pikir para reader udah lupa cerita ini karena lama banget updatenya.

Ae Hatake :Minato + Kushina punya kemampuan menyamar setara dengan Orochimaru. Sharingan Uchiha tidak bisa untuk melacak cakra, sedang Hyuga tidak curiga karena melihat ada cakra Kyuubi di tubuh Menma.

NaYu Namikaze Uzumaki :Yup, diskip sampai pembagian tim. Latihan dengan Jiraiya nanti usai invasi Suna-Oto.

Darkrasenggan : Sesui judulnya.

Laras4TI: Chara Menma tidak ada, hanya karangan Minato. Minato bilang Menma disembunyikan agar ia bisa mencurahkan waktunya untuk membesarkan Naruto dan juga menunggu Konoha sampai kondusif, demi kesempurnaan sandiwara mereka.

Mata: Menurutmu gimana? Mainstream gak?

BlackCrows1001 : Alurnya udah gitu.

Shinzui : Misi Shisui menjaga Konoha dan Naruto. Shisui tidak akan melatih Naruto, hanya sebagai pelindung. Pelatih Naruto tetap Kakashi.

Mtomatjeruk : Ada kok fic Islami. Coba baca Seni Berbohong. Temanya juga Islami.

: Fic ini emang Ai buat karena Ai greget dengan fic yang membashing Minato, Kushina dan saudaranya Naruto. Nyebelin banget bacanya. Alurnya emang Ai bikin beda. Beberapa mengikuti canon, beberapa lagi Ai kreasikan sendiri.

Terima kasih Ai ucapkan untuk para reader yang telah berkenan meninggalkan jejak di kotak review, memfollow, dan memfav fic gaje ini yang tidak bisa Ai sebutkan satu per satu. Maaf Ai tidak bisa membalas semuanya. Arigato Gozaimasu. /(_)\

Don't Like Don't Read

Chapter Seven

Babak Baru

Di pinggiran Amegakure, terdapat sebuah gua yang letaknya sangat tersembunyi. Gua ini diapit oleh dua kaki bukit batu yang terjal dan ditutupi oleh rerimbunan pohon yang tumbuh liar. Cahaya matahari tidak pernah berhasil memasuki mulut gua karena terhalang tebalnya sulur tanaman yang menjalar menutupi pintu gua, sehingga praktis gua ini tetap terlihat gelap gulita, meski hari sudah siang.

Selain letaknya tersembunyi, gua ini juga terkenal dengan labirin batunya. Labirin ini bercabang-cabang dan saling terhubung satu sama lain, saling simpang siur sehingga membingungkan siapapun yang tak sengaja memasuki gua ini. Sampai sekarang, tak ada seorang pun yang berhasil keluar hidup-hidup usai memasuki gua ini. Karena itulah, penduduk desa menyebutnya Labirin Monster.

Di gua inilah, Madara, Zetsu, dan Obito bersembunyi. Mereka menghabiskan banyak waktu untuk berlatih, mengumpulkan berbagai informasi, dan merancang strategi di Labirin Monster. Di tempat ini pula, berbagai intrik-intrik keji yang menghasilkan malapetaka besar di dunia shinobi diciptakan.

Hari ini, ada yang berbeda. Ketiganya secara lengkap hadir di tempat itu untuk kali kedua atau ketiga kalinya dalam satu dasawarsa. Biasanya, hanya ada Madara yang duduk di depan patung Gedomazu dengan raut masam. Terkadang Madara ditemani oleh Obito atau Zetsu seorang. Tak pernah lengkap satu kalipun seperti hari ini.

Cahaya temaram yang berasal dari sebatang lilin —satu-satunya penerangan—berhasil memantulkan wajah-wajah muram ketiga penghuni Labirin Monster ini. Salah satunya tampak pucat pasi seperti mayat hidup. Suara deru nafas yang tersengal-sengal dan dada yang naik turun sebagai bukti kalau pria tua itu masih hidup. Meski ia sudah sekarat, namun sinar keji masih memancar kuat dari mata oniksnya.

"M-I-N-A-T-O!" geram pria tua sekarat itu dengan gigi-gigi saling beradu. Oh, jangan lupakan aura bengis yang memancar di wajah rentanya saat menyebut nama Minato. "Berani-beraninya dia.." lanjutnya dengan tangan terkepal erat, menyalurkan emosinya yang sudah diubun-ubun.

"Tenanglah Madara. Kau tak perlu semarah itu."

"D-I-A-M!" Bentak pria tua yang dipanggil dengan panggilan Madara kasar. "Kau juga sama dungunya dengan dia. Kau biarkan jinchuuriki Kyuubi tewas di depan matamu sendiri. Kau membuat rencana kita jadi berantakan, O-B-I-T-O!" lanjutnya sambil mengeja nama salah satu partner crime-nya tidak senang.

"Tidak seburuk itu. Kita masih bisa mewujudkannya. Proyek mata bulan kita." jawab Obito dengan santainya, mengabaikan delikan maut dari pria sekarat di hadapannya.

"Bagaimana caranya? Huh! Kau lihat sendiri Kyuubi sudah mati."

"Kyuubi memang sudah tidak ada di dunia ini, tapi cakranya masih tertinggal. Kita bisa memanfaatkannya untuk Proyek Mata Bulan kita." ujar Obito masih tetap tenang, tak ambil pusing dengan kemarahan partner crimenya.

'Tapi, itu tak cukup untuk membebaskan kaa-san. Tanpa Kyuubi, Mugen Tsukuyomi tak akan sempurna dan itu artinya kaa-san akan tetap terpenjara di bulan. Bagaimana sekarang? Ini bisa merusak rencanaku dan Kaa-san,' batin seseorang dengan hati yang gundah gulana. Diam-diam, ia pun menyumpah serapahi Minato, bocah kemarin sore yang telah dengan sukses mengacaukan rencana yang telah ia susun berabad-abad lamanya.

'Benar juga, Obito. Aku bisa menggunakan cakra Kyuubi yang tertinggal di dunia ini atau…,' pikir Madara dengan mata yang berkilat licik. '...aku bisa menghidupkan jinchuuriki Kyuubi yang terakhir dengan jutsu-nya Tobirama-chan. Akan sangat menyenangkan, jika si Tolol itu menyaksikan bagaimana jutsu ciptaannya aku gunakan untuk menghancurkan Konoha? Ha ha ha.. Oh, itu akan jadi hari yang paling indah dalam hidupku.' batin Madara.

"Kau ada benarnya." Ujar Madara membenarkan. "Sekarang tugasmu mengawasi Kirigakure. Ku dengar ada yang memberontak pemerintahan Yagura. Pastikan, Yagura tidak jatuh ke tangan pemberontak! Jika ia jatuh, lekas ambil Sanbi dari tubuhnya."

"Hai'k!" ujar Obito sebelum memohon diri.

Madara menatap Obito yang menghilang di balik lorong panjang dan gelap, datar. "Aku kurang begitu percaya padanya. Ia bisa saja mengkhianatiku. Karena itu, aku tugaskan padamu untuk terus mengawasinya. Dan jangan lupa tugasmu, menyusuplah ke Konoha! Ambil tubuh Menma sekarang!"

"Tidak bisa sekarang," tolak Zetsu.

"Kenapa tidak bisa?"

"Kau lupa? Di Konoha masih ada anak Minato. Ia bisa mengetahui keberadaanku dan lalu membocorkannya pada pihak Konoha,"

Dahi Madara berjengit. Ada ketidak percayaan dari tatapannya. "Aku tidak bohong. Untuk apa aku bohong?" ujar Zetsu lagi berusaha meyakinkan Madara.

"Bagaimana ia bisa melacakmu?"

"Aku juga tidak tahu. Mungkin, ia mewarisi kemampuan Senju Mito dalam mendeteksi cakra."

"Mungkin saja. Bagaimanapun bocah itu masih seorang Uzumaki," Gumam Madara.

Ia teringat akan kemampuan unik beberapa anggota klan Uzumaki, salah satunya Uzumaki Mito yang di kemudian hari menjadi istri Senju Hashirama. Kemampuan melacaknya adalah yang terbaik. Tidak ada cakra yang tidak bisa ia lacak. Itulah kemampuan Senju Mito. Jika bocah itu sehebat Mito, maka ia pun harus disingkirkan agar kelak tidak mengacaukan rencananya.

"Menyusuplah ke Konoha saat bocah Uzumaki itu mendapat tugas ke luar desa."

"Hai'k!"

Dan dengan kalimat terakhir, tinggallah pria tua yang sudah sekarat itu seorang diri. Ia menatap sayu patung Gedo Mazu yang jadi sumber kehidupannya saat ini. Tanpa benda itu, ia pasti sudah tewas dulu-dulu, menyusul rivalnya Senju Hashirama. Meski sudah dibantu patung Gedo Mazu, Madara sadar cepat atau lambat ia akan mati juga. Oleh karena itu, di sisa umurnya ini ia merencanakan banyak hal untuk memastikan rencananya berjalan sempurna.

...*****...

Di lain pihak, Konoha kini tengah sibuk berbenah. Usai status diturunkan, dilakukan upaya pencarian jinchuuriki Kyuubi secara besar-besaran. Mereka bergantung pada harapan tipis bahwa Minato sudah mengekstrak Kyuubi dari tubuh Menma ke tubuh orang lain sebelum mati. Mereka percaya Minato masih waras, dan tidak akan segegabah itu membiarkan Kyuubi mati, baik itu demi desa maupun keseimbangan dunia.

Sayangnya, meski semua shinobi Konoha dengan kemampuan sensor paling hebat dikerahkan, hasilnya tetap nihil. Tak ada satupun shinobi-shinobi yang berada satu area dengan Minato di malam itu yang jumlahnya ada sekitar 100-an yang terpilih jadi jinchuuriki.

Oh, abaikan Naruto dalam kasus ini. Meski bocah itu berdarah Uzumaki, tapi ia hanya memiliki sedikit cakra. Jadi, kecil kemungkinan jika ia terpilih jadi jinchuuriki. Mereka tahu resikonya, jika Minato nekat memindahkan Kyuubi dari tubuh Menma ke tubuh Naruto. Itu sama halnya dengan Minato membunuh dua orang anaknya sekaligus. Karena itulah, Naruto lolos dari segala macam sesi interograsi paling menyiksa dan paling mengerikan bersama Yamanaka Inoichi.

Mereka harus terima kenyataan sekarang, jika monster mengerikan berjuluk Kyuubi sudah mati bersamaan dengan kematian Menma jinchuurikinya. Sekarang, mau tak mau, suka maupun tidak suka, pihak Konoha hanya bisa menggantungkan diri pada kehebatan deretan shinobi yang mereka miliki.

Untunglah, mereka memiliki Hokage semacam Uchiha Shisui. Shisui berhasil membuktikan rumor kalau ia memang genius dan bertangan dingin. Ia dengan cerdik membentuk tim elit yang anggotanya sangat misterius, tapi selalu berhasil menggagalkan segala macam usaha penyusupan. Tim ini bahkan membuat nyali desa yang nekat mengerahkan jinchuurikinya untuk menyatroni Konoha menciut.

Motto tim ini adalah Selamat datang ke Konoha, tempat yang akan jadi kuburanmu atau Silahkan datang para jinchuuriki dan akan ku curi bijuumu.' Sebuah moto yang mengerikan bukan?

Itu salah satu dari sekian alasan yang membuat desa-desa ninja yang tersebar di berbagai negara enggan menyerang Konoha secara frontal. Para pemimpin desa tidak cukup idiot dengan mempertaruhkan bijuunya demi kemenangan yang belum tentu didapat, hanya untuk dicuri Konoha. Hell no! Itu namanya bunuh diri politik.

6 tahun kemudian, Naruto berumur 12

Shisui duduk dengan punggung yang lurus dan juga tegap sesuai tata krama Uchiha. Irisnya yang sewarna dengan kegelapan malam membaca dengan teliti setiap laporan misi dari para anak buahnya. Baris demi baris, kata demi kata dilahapnya tanpa terlewatkan satupun. Karena baginya, semuanya penting dan tidak ada kata yang tak penting yang tercantum dalam laporan sebuah misi.

Shisui menunaikan tugasnya dengan serius. Tak pernah terdengar keluhan sedikit pun keluar dari bibirnya, meski tumpukan tugasnya sangatlah banyak dan jadwal kerjanya amatlah padat. Ia menyelesaikan semua tugasnya dengan tenang dan tanpa banyak bicara. Benar-benar tipikal seorang Uchiha sejati.

Tak berapa lama kemudian, masuklah beberapa orang shinobi. Mereka masuk ke ruangan dengan tertib dan nyaris tanpa suara. Mereka tahu kalau hokage mereka yang baru karakternya bertolak belakang dengan Yondaime yang lebih fleksibel dan tak perduli dengan segala tetek bengek sopan-santun. Karena itu, mereka sebisa mungkin tidak menimbulkan suara gaduh saat memasuki ruang Hokage.

Shisui mendongakkan kepalanya, menjauhkan diri dari kertas yang dibacanya, setelah menyadari kehadiran orang-orang yang ditunggunya sejak tadi di kantornya. "Kalian sudah datang?" tanyanya berbasa-basi, sekedar untuk mencairkan suasana sekaligus menciptakan relation yang baik dengan para anak buahnya. Namun, hasilnya tak sesuai harapan.

Tak ada yang memberi respon bagus seperti yang diharapkannya. Respon mereka hanya berupa gumaman 'Hn,' ala-ala klan Uchiha, 'Ya,' malas-malasan, dan sisanya tatapan datar sedatar tembok cenderung dingin yang menatap Shisui balik. Tatapan mereka membuat perut Shisui mencelos tak nyaman. Ia merasa seperti ada binatang liar yang sedang memilintir dan mengoyak-ngoyak ususnya.

Sebulir keringat dingin menggantung di pelipisnya. Tangannya mendadak gatal, tergoda untuk memijat keningnya yang pusing tujuh keliling, namun berhasil ia tahan. Ia tak mungkin melakukannya saat ini, di tempat ini, dan di bawah mata-mata yang tajam layaknya sebuah laser.

Kenapa? Karena, itu melanggar pedoman perilaku anggota klan Uchiha yang sudah susah payah disusun oleh leluhur mereka pasal 1 ayat 1. Bunyinya: Uchiha pantang bertingkah memalukan di muka umum. Ia harus selalu cool everytime dan everywhere.

'Ukh, selalu saja seperti ini?' keluh Shisui dalam hati dengan hati yang sudah gimana gitu —mellow, sedih, dan gusar jadi satu—, meski ekspresi wajahnya tidak nampak perubahan yang berarti. Ia tetap datar sedatar tembok kamar Naruto.

Hanya di saat-saat seperti inilah, Shisui merindukan kehadiran seorang Maito Guy, shinobi nyentrik penggemar warna hijau atau yang Kakashi dan sebagian besar shinobi Konoha sebut monster hijau. Tingkah laku Maito Guy memang membuat banyak orang sweatdrop, ill feel, dan, segudang keluhan lainnya. Tapi, menurut Shisui itu lebih enak dilihat daripada reaksi mereka yang kaku.

Shisui menghela nafas, menata hatinya yang goyah tersengat oleh rasa kecewa. Ia sebetulnya paham dengan reaksi mereka. Mereka bersikap seperti itu bukan karena mereka benci padanya. Dan, juga bukan karena mereka menolak Shisui sebagai hokage mereka. Sama sekali bukan. So far-lah.

Tapi, semua ini karena kebiasaan. Selama ini, penduduk Konoha —sipil maupun shinobi— terbiasa bersikap tenang dan datar saat berhadapan dengan anggota klan Uchiha, mengikuti pembawaan klan Uchiha. Nah, karena Shisui masih bagian dari Uchiha juga, maka ia pun kena imbasnya pula.

Grekkk

Tiba-tiba, muncul suara gaduh yang mengganggu. Dari balik jendela yang ditarik ke samping, muncullah shinobi yang terkenal doyan terlambat aka Kakashi Hatake. Kakashi muncul dengan gayanya yang khas yakni asyik menenteng buku Icha-Icha paradis yang ditengarai buku ero karangan Jiraiya-sama. Matanya dengan malas menyapu rekan-rekannya yang hadir berikut hokage, pimpinannya.

"Eto, maaf aku terlambat. Tadi di perjalanan ada nenek-nenek tua sedang menyeberang jalan. Sebagai shinobi yang baik, aku pun membantunya hingga sampai rumah. Eh, siapa sangka aku tersesat di jalan bernama 'Kehidupan' dan bla bla bla.." ujarnya dengan alasan klasiknya yang menuai helaan nafas panjang dari para rekan sejawatnya. Beberapa dari mereka bahkan bergumam, "Sudah ku duga,"

Bibir Shisui sedikit tertarik ke samping sekitar 3 mili. Ia lumayan terhibur dengan aksi Kakashi yang tak biasa baca kurang ajar. Mana ada seorang bawahan yang berani menghadap atasannya melalui jendela, lalu dengan seenaknya jongkok depan jendela mengabaikan siapa yang tengah dihadapinya, selain Kakashi? Mana telat pula. Hadeuh, orang ini. Sumpah gila banget. Namun, Shisui menghargainya dengan segala keunikannya.

"Berhubung semuanya sudah hadir, lebih baik kita bicara pada intinya saja," Ujar Shisui menyerah untuk berbasa-basi.

Ia memang payah dalam hal bacot-no-jutsu, kelemahan terbesar para Uchiha yang sangat pelit dan irit dalam kosakata. Ia tak seperti Minato yang sangat manis bicaranya baca perayu ulung. Jadi, ia memilih to the point daripada bicara ngalor ngidul yang justru malah membuatnya mati gaya di depan bawahannya.

Shisui menatap para anak buahnya, menelisik dan membaca setiap perubahan raut wajah mereka. Meski ekspresi semuanya terlihat datar-datar saja, Shisui tetap mampu membaca kegelisahan beberapa dari mereka, yang terpantul di bola mata. Dan itu berarti, mereka ada masalah pribadi yang lumayan serius yang membuat mereka tidak setenang seperti biasanya.

Shisui membuat catatan untuk dirinya sendiri, meneliti apa yang membuat beberapa dari anak buahnya gelisah dan sebisa mungkin membantu memecahkan masalah mereka. Ia bukannya mau ikut campur urusan dalam negeri seseorang, ia hanya mengikuti pakem 'Mencegah lebih baik daripada mengobati,'

Siapa tahu saja masalah pribadi mereka, ternyata menyangkut masalah klan, yang jika dibiarkan akan membesar dan lalu merembet hingga merugikan Konoha? Seperti yang pernah menimpa pada klan Hyuga dan yang terbaru klannya sendiri, klan Uchiha.

Ia tak mau hal itu terulang kembali. Karena itu, Shisui bekerja aktif mencari tahu sendiri, apa saja yang bisa jadi pemicu masalah dalam hidup para anak buahnya. Ia selalu berusaha memadamkan percikan api terlebih dahulu sebelum membesar dan sulit untuk ditangani.

"Beberapa hari lalu, murid-murid akademi sudah menyelesaikan tes untuk menjadi seorang genin. Aku sudah membagi murid akademi yang lolos ke dalam tim." Jelasnya lumayan panjang untuk seseorang yang terbiasa mengirit kosakata.

"Apa Hokage-sama bermaksud menjadikan kami penanggung jawab tim baru ini?" tanya Kakashi dengan raut tidak suka.

Entah karena alasan apa, tapi Kakashi yang jenius ini tak pernah memiliki tim asuhan sendiri. Rumor yang beredar mangatakan, Kakashi terlalu sadis dalam menyeleksi para genin asuhannya. Sampai detik ini, tak ada satupun yang berhasil lulus dari tesnya. Semuanya dikembalikan Kakashi ke akademi. Oh yeah, inilah sisi kejam dari seorang Kakashi Hatake.

"Ya," jawab Shisui. "Ini daftar anggota tim yang akan kalian asuh!" lanjutnya seraya mengulurkan lembaran kertas masing-masing selembar pada mereka.

"Naruto!" pekik Kakashi terkejut mendapati muridnya ini masuk dalam daftar tim genin asuhannya.

"Kenapa? Apa kau keberatan dengan ini, Hatake-san?" tanya Shisui.

"Tidak. Tak ada masalah sama sekali." ujar Kakashi dengan terampil menyembunyikan isi pikirannya. "Aku sudah menerima misinya, aku pergi dulu. Chao!" pamitnya sebelum menghilang dengan shunshin.

"Apa tak apa-apa memberikan Naruto pada Kakashi?" celetuk Asuma terdengar cemas.

Ia kan tahu watak asli Kakashi yang agak-agak alergi dengan tim genin dan sangat malas mengurus genin-genin ingusan. Kalaupun selama ini ia mau mengajari Naruto, itu karena ia tak kuasa menolak permintaan khusus dari Kushina-istri-Minato-yang-terkenal-gahar. Memang siapa yang berani melawan Kushina? Minato aja jeper, apalagi Kakashi?

"Jangan khawatir! Naruto pasti baik-baik saja. Aku percaya, Naruto pasti bisa lulus tes." Ujar Shisui dengan keyakinan mutlak.

"Ku harap juga begitu," gumam Asuma berusaha yakin, seyakin Shisui.

Satu per satu para jounin penanggung jawab tim genin yang baru meninggalkan ruangan Shisui. Shisui pun kembali pada aktivitasnya semula yakni mengerjakan laporan misi yang sudah berkurang separuhnya. Beberapa kali ia memainkan penanya membubuhkan tanda tangan pada secarik kertas, sebelum berhenti. "Itachi!" panggil Shisui lirih, tanpa menoleh sedikit pun, pada bayangan yang bergerak samar dan senyap memasuki ruangannya.

"Hn," balas orang itu yang kini memperlihatkan sosoknya dari balik kegelapan.

"Hentikan gumaman tak jelasmu itu! Aku benci mendengarnya."

"Hm!" balasnya menuai kedutan imaginer berupa persimpangan jalan di dahi Shisui.

'Itu sama saja. Cuman beda hurufnya doang,' batin Shisui jengkel. "Apa tujuanmu ke sini, Itachi?" tanyanya.

"Jangan masukkan Sasuke dalam tim Naruto!" ujar atau perintah Itachi.

Oniks Shisui memancarkan tatapan terkejut. "Seriously! Kau capek-capek datang ke sini hanya untuk mengatakan itu?"

"Hn,"

"Harus berapa kali aku bilang? Berhenti bergumam 'Hn' di depanku! Ia hate this." sergah Shisui geram. Sepertinya Itachi berniat menguji kesabarannya.

"Hm,"

Shisui menyipit tak suka. Ia menghadiahkan 'Glear' pada Itachi secara cuma-cuma, namun tidak ditanggapi dengan baik oleh Itachi. Itachi tetap mempertahankan ekspresi emotionless-nya yang dimata Shisui diartikan sebagai tantangan. 'Dam'n it.' Rutuk Shisui. Kesal dengan sikap cuek yuniornya ini, ia pun melirik samping kanan kirinya, mencari benda-benda potensial —selain kunai dan shuriken— yang bisa ia lemparkan pada orang yang berdiri dengan gaya songongnya tepat di depannya ini.

"Aku serius, Shisui." ujar Itachi menghentikan apapun yang hendak Shisui lakukan.

"Tapi, kenapa? Beri aku alasan, kenapa aku tak boleh menyatukan dua orang itu dalam satu tim. Ada masalah dengan keduanya?"

"Ya dan sangat serius."

Dahi Shisui mengerut bingung. "Bagian mananya?"

"Aku sudah pernah cerita soal Sasuke dan obsesinya padamu, bukan?" tanyanya dingin.

Ingatan Shisui melayang pada percakapan panjang antara dia dan Itachi di atas bukit Konoha di salah satu waktu senggangnya yang berharga. Ia ingat, Itachi pernah bercerita dan mengeluh panjang lebar padanya mengenai adiknya dan obsesinya yang menimbulkan perseteruan baru antara Sasuke dengan ayahnya.

Flashback

"Aku cemas soal Sasuke," ujar Itachi membuka percakapan. Oniksnya menatap gusar tanah yang dipijaknya, seolah-olah ia pun turut bersekongkol untuk melawannya, membuat kekacauan dalam hidup Itachi yang tenang dan damai.

"Memang Sasuke kenapa? Bertengkar lagi dengan ayahmu?"

Itachi menggelengkan kepalanya dengan anggun. "Tidak. Ini lebih buruk."

Shisui tak merespon sedikitpun. Ia tetap diam sambil memainkan bunga rumput yang ia ambil serampangan diantara jari-jemari tangannya. Ia lebih memilih menunggu hingga Itachi menyampaikan kegundahannya —apapun yang mengganggu pikirannya— daripada memaksanya bercerita. Percayalah! Memaksa Itachi bicara adalah pekerjaan sia-sia. Dia tak akan bicara kalau ia tak mau bicara. Harapannya terbukti. Itachi melanjutkan kegiatan curhatnya.

"Sepertinya adikku menyukai Naruto,"

Tangan Shisui terhenti di udara. Ia menatap Itachi bingung. Oniksnya menatap penuh selidik, mencari inti masalah dari percakapan ini. Namun, tak ada apapun yang bisa dia jadikan petunjuk selain well Itachi mengatakan yang sebenarnya. "Bukannya itu bagus?" celetuknya.

"Bukan suka seperti pada umumnya. Tapi, suka yang lebih, seperti antara wanita dan laki-laki," ujar Itachi lirih tapi di telinga Shisui seperti suara petir yang bergemuruh hebat dan membuat Shisui kehilangan kata-kata.

Ada keheningan menggantung diantara dua sahabat beda umur ini. Masing-masing dari mereka seolah enggan berbicara meski hanya sepatah kata. Mereka terlalu takut bertanya —apa yang kau pikirkan?— meski ada perasaan ingin tahu juga di hati keduanya.

"Shisui?" panggil Itachi ragu.

Fiuuhh.. Shisui menghela nafas secara perlahan dan senormal mungkin, meski hatinya sudah bergemuruh layaknya badai di padang pasir. Itachi tak perlu tahu. Cukup Shisui yang tahu apa yang tengah berkecamuk dalam pikirannya. "Mungkin itu hanya pikiranmu saja. Mereka masih terlalu kecil, Chi. Mereka bahkan baru berumur 8 tahun," ujar Shisui dengan suara gemetar, tak meyakinkan bahkan di telinganya sendiri.

Sebagian dari dirinya percaya dengan pernyataan Itachi, jika Sasuke memang memiliki perasaan lebih dari sekedar sahabat. Soalnya, ia pernah memergokinya secara langsung. Sasuke pernah memberinya tatapan keji yang seakan-akan ingin memutilasi Shisui menjadi beberapa bagian, ketika Shisui tertangkap basah sedang mengusap rambut pirang Naruto.

Sasuke berhasil membuat Shisui dipenuhi perasaan bersalah. Ia berhasil membuat Shisui berfikiran kalau dia ini seorang pria dewasa dengan disorientasi seksualnya yang suka sesama jenis. Oh, jangan lupakan dengan gelar pedofilinya mengingat Naruto masih bocah dan ia pria dewasa.

Geezzz.., benar-benar gila. Pemikiran absurd dari mana itu? Masak ia dituduh seperti itu hanya karena ia mengusap kepala Naruto? Gila, kan?

Mana mungkin Shisui menyukai Naruto yang sama-sama punya benda yang menggantung diantara pangkal pahanya —hanya beda ukuran saja—, jika ada banyak cewek cantik dan seksi yang berseliweran di depan matanya menunggu untuk disentuh. Hei, dia ini masih lurus selurus tiang bendera di depan kantornya bekerja. Meski sering menghabiskan waktu dengan kaum pria, bukan berarti ia harus belok.

Namun, sebagian dari dirinya berusaha menolaknya, menganggapnya sebagai lelucon konyol. Ia berusaha percaya jika Sasuke masih normal, senormal matahari terbit dari Timur dan tenggelam dari arah Barat. Ia berusaha berfikir rasional. Jika keposesifan Sasuke pada Naruto lebih didasari oleh rasa sayang dari seorang kakak pada adiknya yang berlebihan sehingga yang terlihat seperti Sasuke naksir Naruto layaknya Sasuke naksir seorang gadis.

Itachi memutar tubuhnya cepat, menatap tajam tepat pada oniks sahabatnya. "Kau tak lihat bagaimana tatapan memuja Sasuke pada Naruto? Atau, ucapan Sasuke yang terlalu antusias menyangkut Naruto? Naruto beginilah. Naruto begitulah. Aku sampai tak kenal lagi dengan adikku sendiri. Ucapan lebay itu bukan karakter Sasuke. Itu lebih..." Itachi menarik nafas panjang, menahan lidahnya agar tidak keseleo karena pengaruh emosi kuat yang menguasainya. "... seperti Inuzuka."

Puff... Diam-diam, tanpa sepengetahuan Itachi, Shisui mengikik dalam hati. Bibirnya tertarik satu mili. 'Ini juga bukan karakter seorang Itachi Uchiha.' balas Shisui dalam hati. 'Itachi yang ku kenal tidak akan ngomel-ngomel dan ngadu ini, itu. Ia lebih banyak bertindak daripada berkata-kata. Sosok di sampingku ini lebih seperti Anko yang mengomel panjang lebar pada penjual dango karena dagangannya habis dan ia tak kebagian, dari pada seorang Itachi Uchiha,' lanjutnya masih dalam hati.

"Bla bla bla..." ujar Itachi melampiaskan unek-uneknya. "Semua hal-hal yang tidak Uchiha yang dilakukan Sasuke selalu berujung pada Naruto. Tidakkah itu membuat berfikir lain? Tentang hubungan mereka?" simpul Itachi setelah penjelasan panjang dan menggebu-gebunya.

End flashback

"Oh, yang itu," ujar Shisui manggut-manggut. "Itu kan hanya masalah sepele. Tak perlu dibesar-be..."

Brak!

Itachi menggebrak meja Shisui kasar, membuat hokage muda kita mengelus dada karena kaget. Shisui tak sempat protes atau meneriaki Itachi, karena ia sudah berhadapan dengan oniks Itachi yang menyala-nyala dengan sorot keji terarah padanya.

"Sepele apanya?" Teriak Itachi dengan nada tinggi. "Kau tak lihat Sasuke..Sasuke... itu dia..dia sudah.. uh uh.." Itachi untuk pertama kalinya kehilangan kata-kata, saking emosinya. Ada banyak kosa kata yang hendak ia hambur-hamburkan, namun semuanya macet dan mengganjal lubang pita suaranya.

"Itu karena Sasuke bagian dari Uchiha. Dan, Uchiha memang punya kecenderungan aneh soal siapa yang diposesifinya. Bisa jadi ia menikah dengan seorang gadis dan bahkan memiliki anak darinya. Namun, orang yang benar-benar membuatnya gila dan kehilangan kewarasannya justru bukan istrinya. Tapi, orang lain. Orang itu bias kakak, ayah, ibu, atau bahkan teman dekatnya. Ini juga berlaku untuk Sasuke. Kau masih ingat sejarah bangkitnya doujutsu saringan itu, kan? Itu adalah anugerah sekaligus kutukan klan kita," sergah Shisui.

"Uh, kau masih percaya dengan mitos itu,"

"Ya. Aku percaya 100%, persis seperti yang diyakini Tobirama-sama," sahut Shisui singkat. "Lagipula, aku punya tujuan lain dengan memasukkan Sasuke di tim Naruto."

"Apa?"

"Untuk melindungi Naruto."

Itachi terdiam mungkin terlalu terkejut dengan pernyataan sahabatnya barusan. "Sekarang, kau yang berlebihan. Sudah ada Kakashi di tim Naruto." ujar Itachi keberatan dengan ide Shisui.

"Tidak, tidak ada yang berlebihan menyangkut Naruto. Keselamatan Naruto, bagiku mutlak,"

"Kenapa itu begitu penting untukmu? Apa kau juga tertular penyakit obsesinya Sasuke?" tanya Itachi ingin tahu.

"Absolut not." Tukas Shisui sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Ia menahan diri untuk tidak melirik bulu-bulu halusnya yang tersembunyi dengan baik di balik pakaiannya. Mungkin bulu kuduknya sudah berdiri sempurna saat ini. Ia memang tak pernah nyaman dengan topik percakapan percintaan sesama jenis. Itu menjijikkan.

"Terus?"

"Karena ia amanah dari Minato-san. Aku ingin melakukan yang terbaik untuknya sama seperti Minato-san yang menjalankan amanah dari tou-san dengan sebaik-baiknya. Aku tak mau terjadi sesuatu pada Naruto saat ia mendapat misi keluar desa." balas Shisui singkat namun bisa dimengerti Itachi.

Shisui tak perlu bercerita lebih lanjut, Itachi sudah paham. Ia sudah mendengar rumor dan nama besar Minato di dunia shinobi. Minato seorang diri berhasil membantai pasukan Iwagakure yang jumlahnya ada ratusan dan mungkin ribuan. Gara-gara itulah, Minato punya banyak musuh. Jika mereka tahu Naruto anak Minato, sudah pasti keselamatan Naruto terancam. Karena itulah, Shisui sangat berhati-hati dalam memilih anggota tim Naruto dan pembimbingnya.

'Shisui ada benarnya. Tapi, siapa yang nanti melindungi Naruto dari Sasuke?' pikir Itachi masih tak sepaham dengan Shisui. Ia tetap tak menginginkan Naruto dan Sasuke berada dalam satu tim, apapun alasannya.

"Tapi, kau tak perlu khawatir! Aku sudah memikirkan solusi yang tepat untuk masalah Sasuke dan obsesinya." Ujar Shisui. 'Jika itu mengganggu pikiranmu,' tambahnya dalam hati.

"Oh ya? Seperti apa?" ujar Itachi dengan suara antusias yang kentara.

"Aku telah menempatkan kunoichi paling cantik, paling pintar, dan paling potensial dalam tim Sasuke. Namanya Sakura Haruno." ujar Shisui dengan wajah sumringah —karena telah melakukan hal baik untuk sohib kentalnya— menyodorkan foto kunoichi yang dia maksud.

Itachi menatap Shisui tak yakin. Meski kemudian, tangan pucatnya meraih foto Sakura dari atas meja Shisui. Oniks yang biasanya menyorot tenang kini berubah. Itachi melotot horor begitu oniksnya menangkap siluet foto Sakura yang diklaim Shisui sebagai kunoichi tercantik itu. Itachi bahkan membiarkan dagunya terjatuh dan mulutnya menganga lebar saking terkejutnya.

'Ini matanya yang katarak atau selera Shisui yang aneh? Masak yang begini dibilang paling cantik. Cantikkan juga gadis Hyuuga,' pikir Itachi tak habis pikir. Sudahlah pinky abis, dahinya juga kinclong dan ehem luas banget, hampir seluas training ground tempat Itachi biasa berlatih.

Itachi mencoba bersikap lebih fear. Ia tak ingin ketidak sukaannya akan warna-warna mencolok mempengaruhi opininya, membuat penilaiannya berat sebelah. Itu membuat Itachi merasa sangat brengsek, yang gemar menilai seseorang dari sisi subyektifnya saja.

Ia kembali menatap foto Sakura. Kali ini beberapa detik lebih lama. Dan, hasilnya? Tubuh Itachi bergetar hebat. Ia bisa merasakan bagaimana bulu kuduknya berdiri. Perutnya kini bahkan sudah bergejolak —seperti diaduk-aduk— mual. Efek memandang foto Sakura bahkan lebih maut dari penampakan seorang Maito Guy dengan seragam ijo-ijonya yang berdiri tegak dengan latar ombak yang bergulung-gulung. Sumpah, ia tak tahan.

'Oh, ya Tuhan! Dia ini mau nolong adikku apa mau membunuhnya pelan-pelan, sih?' batin Itachi dengan mata menyipit curiga. Baru sebentar melihatnya saja, mata Itachi sudah mengalami gangguan, apalagi mata Sasuke yang lebih sensitif? (Naruto pengecualian. Apapun yang dikenakan Naruto, di mata Sasuke selalu keren.)

"She is so beautifull. Rambutnya panjang, sedikit berombak namun halus seperti aliran air sungai. Warnanya mengingatkanku pada pohon Sakura yang tumbuh di belakang halaman rumahku. Emeraldnya yang bundar, jernih, dan tajam seperti elang. Otaknya pun tak kalah brilian dari Sasuke. Dia sempurna untuk pasangan hidup adikmu, Chi. Kelak keponakanmu pasti cantik, pintar, bla bla bla..." Puji Shisui setinggi langit. Ia tak menyadari aura Itachi yang sudah kelam dengan latar malaikat kematian di belakangnya.

Itachi sama sekali tidak senang mendengarnya. Sebaliknya, ia justru gatal ingin menonjok wajah sahabatnya sendiri —lebih baik lagi kalau Itachi bisa memutilasinya—, terutama ketika ia dengan antusiasnya membicarakan perjodohan antara Sasuke dengan Sakura. Hellow, siapa dia? 'Seenaknya saja mengatur-ngatur pasangan hidup adikku.' Gerutu Itachi dalam hati.

Itachi sekali lagi melirik deretan foto yang berjajar di atas meja Shisui. Menurutnya, lebih baik mencari tahu identitas anggota tim yang nanti akan jadi tim adiknya, daripada mendengar celotehan Shisui yang sudah seperti penjual obat keliling. Itachi sekali lagi menahan diri untuk tidak muntah di tempat, ketika makhluk-makhluk dengan warna yang merusak mata menatap oniksnya balik.

'Seriously, Shisui mau membentuk tim begini?' batin Itachi skeptis.

Daripada disebut tim ninja, Itachi lebih senang menyebutnya tim pemandu sorak. Ada begitu banyak warna di sana. Dari Naruto yang ngejreng dengan oranyenya, Sakura yang girly dan pinky abis, Sasuke yang dark, dan terakhir Kakashi yang abu-abu. Tim 7 kelak akan menjelma jadi tim paling meriah yang pernah dimiliki Konoha.

Itachi mengepalkan kedua tangannya erat, menahan diri untuk tidak menepuk dahinya. Itachi untuk sesaat lupa dengan obsesi tersembunyi sahabatnya. Diam-diam, Shisui terobsesi dengan kemeriahan. Mungkin akibat bergaul terlalu lama dengan anggota klan yang dominan penggemar dark, Shisui jadi punya kelainan seperti itu.

Selera Shisui soal cantik dan tampan lain daripada yang lain. Baginya, kunoichi yang cantik itu yang penampilannya mencolok seperti Sakura yang serba pink, dan yang tampan itu yang seperti Naruto yang ngejreng. Di luar itu, jelek. Well, setidaknya ia tak menobatkan Guy sebagai shinobi paling tampan dan panutan para shinobi Konoha. Nah, itu baru bencana.

Dan, gilanya yang begini ini malah yang terpilih sebagai hokage? 'Oh, GOD! Semoga saja Konoha baik-baik saja sampai Shisui lengser nanti, dan semoga hokage yang baru nanti lebih waras dari yang ini.' batin Itachi. Ia berjanji dalam hatinya akan mengirim Shisui ke dimensi lain, jika adiknya sampai mengalami step dan kejang-kejang akibat satu tim dengan Sakura. Biar tahu rasa dia.

"Bagimana dengan tugasmu?" tanya Shisui dengan kecepatan mengerikan sudah mengganti topik percakapan.

Itachi mengerjabkan bulu mata lentiknya berusaha mencerna pertanyaan Shisui. Ia masih belum terbiasa dengan mood Shisui yang hobi menggonti-ganti topik percakapan seenak perutnya, meski sudah berteman sekian lama. "Aku tak berhasil menemukan kerangka Obito di bawah reruntuhan jembatan Kannabi. Sepertinya, ada yang labih dulu membawa pergi tubuh Obito." Ujar Itachi tenang.

"Apa kau bisa memastikan dia sudah mati ataukah tidak? Kakashi hanya bilang Obito sudah sekarat saat ia pergi untuk menyelamatkan Rin. Ia tak bisa memastikan Obito sudah mati."

"Mungkin ia masih hidup dan diselamatkan seseorang. Ada jejak-jejak sisa makanan di sekitar tempat itu."

"Dengan kata lain, pria bertopeng misterius yang menyerang desa kita, bisa jadi Obito dan bukan Madara seperti dugaan mendiang Minato-sama." simpul Shisui manggut-manggut. Oh itu menjelaskan kenapa ia hanya menggunakan sharingan sebelah saja, meski kekuatannya tak bisa dipandang sebelah mata juga.

"Sekarang bagaimana?"

"Kita sudahi saja. Fokuslah pada gerakan organisasi akatsuki! Ajak Hoheto Hyuuga dan Ibiki Morino bersamamu. Sekarang pergilah!"

"Ha'ik," ujar Itachi memberi hormat dan lalu menghilang dengan shunshin, meninggalkan ruangan Shisui.

Shisui menghela nafas berat, memijit keningnya sebentar, sebelum melanjutkan kembali pekerjaannya.

...*****...

Kakashi membaca profil genin asuhannya di depan batu nisan tim geninnya dulu. Mulutnya beberapa kali komat-kamit, membaca dengan serius data yang tertera. Ada rasa bangga membuncah tumbuh dalam dadanya melihat hasil latihan Naruto. Naruto —menurut data di tangannya— dinyatakan sebagai lulusan akademi terbaik diantara angkatannya dibawah Sasuke.

Naruto berhasil melempar kunai dan shuriken semuanya tepat pada sasaran. Ia berhasil menciptakan kawarimi dan hampir sempurna melakukan henge Fugaku. Dikatakan hampir karena sosoknya sih persis seperti Fugaku, tapi stylenya masih jauh. Menurut Iruka, Naruto terlalu ramah untuk ukuran Fugaku yang wajahnya angker, pelit senyuman dan malas berramah tamah.

Oh, Kakashi jadi ingin melihatnya. Ia ingin tahu bagaimana tampang Fugaku versi konyolnya. Itu pasti lucu sekali, mungkin lelucon paling lucu yang pernah dilihatnya, melebihi lawakan garing Maito Guy si monster hijau yang ngebet sekali ingin mengalahkan Kakashi.

Tiba-tiba Kakashi terkekeh geli hingga air matanya terkumpul di sudut matanya. Ia mendapat ingatan dari bunshinnya, yang ia suruh bersembunyi untuk mengamati dan menilai kemampuan calon anggota timnya secara kasar, sebelum Kakashi muncul di hadapan mereka.

Awalnya, ia pikir tidak ada yang istimewa dari calon tim geninnya selain penampilan mereka yang ehem meriah. Ia baru terhibur setelah menyaksikan bagaimana anggota timnya berinteraksi. Ia nyaris tak bisa menahan tawanya melihat bagaimana wajah datar si bocah Uchiha itu berubah-ubah dari senang, jengkel, dan marah gara-gara ulah Si Pinky girl yang tidak henti-hentinya mengganggunya.

'Gadis itu pasti naksir si bocah Uchiha,' pikir Kakashi.

Oh, bukan hanya Kakashi sih yang terhibur. Naruto juga. Bocah pirang itu diam-diam menikmati acara 'Ayo ganggu Sasuke' diantara kegiatan baca gulungannya. Dia sesekali mencuri pandang ke arah Sasuke yang gusar gara-gara Sakura. Tak jarang pula, Naruto tertawa tanpa suara.

Kakashi menegakkan tubuhnya, menepuk-nepuk debu yang menempel di celananya, setelah berhasil menguasai dirinya. Tak ada lagi ekspresi ingin ketawa di wajahnya. Wajahnya kini datar dengan mata agak sayu, seperti orang bosan hidup andalannya.

"Sekarang saatnya memperkenalkan diri pada anak-anak manis itu," gumamnya dengan suara riang yang kentara.

Kakashi bersiap melakukan shunshin biar keren ke akademi yang sudah sepi melompong, menyisakan tiga genin calon anggotanya. Kakashi baru mau membuka mulutnya, mengeluarkan alasan klasiknya, ketika sebuah suara dingin menyapa gendang telinganya dan membuat Kakashi memutuskan untuk membencinya saat itu juga. Heck ia benci Uchiha, semua Uchiha sebetulnya, minus Obito Uchiha rekannya dulu.

"Lebih baik kau kembali ke akademi. Datang tepat waktu saja tidak becus, masa begitu mengaku jounin elit," ejek seorang bocah berambut raven dengan oniks yang menatap sengit Kakashi.

Gigi Kakashi gemeletuk jengkel. Ia belum pernah dihina seperti itu, terlebih oleh seorang genin ingusan macam bocah tengik di depannya ini. Mentang-mentang Uchiha dan mentang-mentang punya Saringan, lagaknya sudah seperti yang paling hebat saja.

'Hey bukan hanya kau yang punya Saringan, aku juga punya. Mau beradu denganku? Fuck You!' balas Kakashi sengit dalam hati.

"Jangan bicara kasar seperti itu, Sasuke! Ia tak sepayah seperti yang kau fikirkan. Ia profesional." Cela Naruto pada rekan setimnya menengahi, sebelum mengalihkan pandangannya menatap Kakashi dan menghadiahinya senyum lembut khas Minato-mendiang guru Kakashi. '..dan ia tidak terlambat,' tambahnya dalam hati.

Kakashi berkeringat dingin. Ia tersenyum canggung di tempatnya berdiri. Kakashi tahu —meski Naruto tak mengucapkannya tadi—jika Naruto berhasil mengetahui dimana bunshinnya bersembunyi di salah satu sudut gedung academy ini. Padahal, ia sudah menekan cakranya sampai nol, tapi masih juga bisa dideteksi Naruto. 'Oh, God!' jerit Kakashi dalam hati frustasi. Kakashi membuat catatan dalam hati untuk lebih hati-hati jika berhadapan dengan anak Yondaime ini.

'Serius bocah ini masih genin?' pikir Kakashi tak yakin.

Jika ia yang jadi hokage, ia pasti sudah memasukkan Naruto dalam tim chuunin. Dia terlalu hebat untuk seorang genin. Sebuah gerakan menarik perhatian Kakashi. Matanya melirik malas pada calon anggota timnya yang lain aka bocah Uchiha yang masih menatap Kakashi sengit entah karena alasan apa. 'Oh, dia juga.' batinnya dengan tidak ikhlas.

Sasuke juga layak menjadi seorang chuunin. Ia di usia yang masih belia berhasil menguasai saringan dan beberapa jutsu sulit. Hanya Tuhan dan hokage yang tahu kenapa dua orang potensial ini masih menjadi genin, dan kenapa pula ia yang terpilih sebagai pembimbing tim ini. Kenapa bukan Itachi yang Uchiha dan genius? Kenapa harus Kakashi?

Kakashi berdehem untuk menarik perhatian calon anggota timnya. Ia memberi intruksi singkat pada tim geninnya agar ke atap akademi, sebelum meninggalkan mereka dalam kepulan asap. Kakashi menunggu mereka dengan tenang di atap academy. Ia mengira baik Naruto maupun Uchiha muda itu akan datang dengan sedikit memamerkan kemampuannya dalam bershunshin ria. Tapi, dugaannya salah. Keduanya datang bersamaan dengan kunoichi berambut pink-ngejreng-noraknya.

'Ukh,' gumam Kakashi sambil menyumpah serapah dalam hati. Ia terganggu dengan kilauan warna-warna ngejreng yang tersaji di depannya. Warna oranye milik Naruto sebetulnya biasa saja, meski mencolok mata. Tapi, dampaknya akan sangat dahsyat jika dikombinasikan dengan pink milik Sakura, bisa menyebabkan kerusakan parah pada mata, khususnya yang memiliki mata sensitif seperti Kakashi.

Tadi di kelas, tak begitu terasa dampaknya. Soalnya, ia sempat gagal fokus gara-gara insiden dengan Sasuke. Tapi, jika dilihat dari jarak sedekat ini, barulah terasa efeknya. Matanya terasa pedih seperti ada yang menusuk-nusuk pakai jarum. Ia hanya bisa berdoa dalam hati, semoga setelah ini ia tak mengalami buta permanen.

Kakashi lalu menyuruh mereka bertiga duduk melingkari dirinya, usai memulihkan diri dari transnya. 'Teganya hokage-sama padaku. Ada dendam apa sih hokage-sama padaku, sehingga ia memberiku tim seperti ini?' batinnya curiga. Ehem! Kakashi kembali berdehem. "Sekarang, perkenalkan diri kalian! Sebutkan nama, apa yang disukai dan tidak disukai, dan juga cita-cita kalian." perintahnya.

"Kenapa sensei tidak mencontohkannya lebih dulu?" tanya bocah berambut pink yang disetujui oleh dua rekan geninnya.

Fiuhh, Kakashi menghela nafas lelah sebelum menjawab dengan enggan, "Nama Kakashi Hatake. Apa yang ku sukai dan tidak ku sukai tidak ada. Cita-citaku bukan urusanmu," dalam satu tarikan nafas. Ia menahan diri untuk tidak terkekeh geli melihat kekecewaan yang terpantul pada bola mata calon anggota timnya. "Sekarang kau anak ayam!" tunjuk Kakashi.

Sasuke mengirimkan deathglearnya pada Kakashi karena sudah berlaku tidak sopan padanya, dengan memanggilnya anak ayam. "Nama Sasuke Uchiha. Yang tidak ku sukai banyak, sedang yang ku sukai..." Sasuke terdiam, namun ekor matanya melirik bocah pirang yang duduk di sebelah Sakura. "..tidak ada. Cita-citaku mengalahkan aniki," lanjutnya.

Ada bulir keringat dingin menggantung di pelipis Kakashi. Ia tanpa sadar menahan nafas untuk sesaat saat matanya menangkap kerlingan Sasuke pada Naruto tepat saat bocah itu mengatakan apa yang disukainya. Duduknya mulai tak nyaman.

Ia memang sudah mendengar rumor —hanya beredar di kalangan terbatas— jika Sasuke ada hati dengan Naruto. Namun, Kakashi tak percaya dan malah menertawakannya. Sekarang, bukti sudah ada di depan mata. Mau tak mau ia pun harus percaya. Catatan pribadinya semakin panjang saja, yakni menjauhkan Naruto dari Sasuke.

"Namaku Sakura Haruno. Yang ku sukai.." Sakura melirik Sasuke sambil mengikik tak jelas. "Yang tidak ku sukai..." Sakura melirik Naruto yang duduk dengan anteng di sebelahnya. "Cita-citaku.." Sakura kembali melirik Sasuke dan lagi ia berkya-kya yang membuat telinga Kakashi berdenging ngilu.

Kakashi menepuk dahinya dalam imaginasinya. 'Oh God. Dosa apa aku sehingga aku punya tim seperti ini,' keluh Kakashi dalam hati. Satunya seorang pengidap disorientasi seksual, sedangkan satunya lagi seorang fans girl akut. 'Akan jadi seperti apakah timnya ke depan?' pikir Kakashi cemas. Dalam hati, ia berharap Naruto agak normal, di luar selera fashionnya yang nyeleneh.

"Namaku Naruto Uzumaki." Ujar Naruto memperkenalkan diri dengan marga ka-sannya. Shisui melarang Naruto menggunakan marga ayahnya demi keselamatannya. "Yang ku sukai ramen dan berlatih. Yang tidak ku sukai menunggu ramen matang. Cita-cita meneruskan impian tou-san dan Hokage ketiga," lanjut Naruto.

Kakashi mengangguk-angguk puas. 'Setidaknya, ada yang normal dari timnya.' Pikirnya berpositif thinking.

"Besok berkumpul lagi di training ground no 7 tepat pukul 7. Aku sarankan untuk tidak sarapan jika tidak ingin muntah." Ujar Kakashi tak mau menghabiskan waktu lebih lama bersama tim 7. Usai memberikan informasi secukupnya, Kakashi segera pergi.

Sebenarnya, ia masih berniat untuk menguping percakapan calon anggota timnya yang manis-manis dan imut-imut —kecuali Sasuke Uchiha— yang tengah berakrab ria, tapi tidak jadi. Anggap saja ia ngeri melihat bagaimana Naruto menatapnya dengan tatapan —persis seperti Kushina— yang menjanjikan neraka untuknya.

Kakashi memilih kabur ke monumen peringatan daripada dikerjai Naruto. Percayalah! Meski masih kecil, Naruto sudah sangat ahli dalam hal mengacaukan hidup seorang Kakashi. Naruto mampu membuat Kakashi hidup segan mati pun tak mau. Gaharnya persis seperti mendiang ibunya aka Kushina.

...*****...

Training ground no 7 pukul 08.00

Sakura duduk dengan gelisah. Kaki mungilnya ia hentakkan ke tanah tak sabaran. Ia sudah bela-belain datang tepat waktu —padahal aslinya ia malas bangun pagi—namun pembimbing mereka, makhluk bermasker itu lagi-lagi terlambat. Ia masih belum tampak batang hidungnya, meski sejam sudah berlalu dari waktu perjanjian mereka.

"Kemana saja sih Kakashi-sensei? Awas saja kalau ia tak datang." Gumam Sakura sambil menyumpah serapah dalam hati, kesal.

Kekesalannya ini bukan dipicu karena keterlambatan seorang Kakashi. Hell no! Ia tak perduli dengan pembimbing timnya yang sepertinya mesum itu. Malah sebaliknya, ia bersyukur kalau Kakashi datang terlambat. Ia jadi punya waktu lebih lama untuk PDKT dengan pujaan hatinya. Sayang, Sasuke mengacuhkannya dan lebih memilih berbincang dengan Naruto. Inilah yang membuat Sakura jengkel dan cemburu buta.

"Mungkin ia sedang membuat persiapan," balas Naruto disela-sela acara baca gulungannya.

"Persiapan apa, Dobe?"

"Pertama, berhenti memanggilku Dobe! Namaku Na-Ru-To dan aku tidak dobe. Kedua,.."

"Bagiku kau tetap dobe," potong Sasuke dengan menyebalkannya.

Safir Naruto memicing. Ia sudah berulang kali protes pada Sasuke dan memintanya untuk tidak memanggilnya Dobe, tapi si Teme itu masih saja melakukannya. Padahal, Naruto menahan diri tidak mengatainya Teme dengan alasan sopan santun. Tapi, kenapa ia tak bisa melakukan hal yang serupa seperti Naruto? Apa sih susahnya memanggil seseorang sesuai dengan namanya?

Sakura menatap interaksi dua orang rekan setimnya intens. Ada rasa iri tumbuh dalam hatinya melihat kedekatan keduanya. 'Mereka pasti sangat dekat, sampai-sampai punya panggilan kesayangan sendiri,' pikir Sakura sedih.

"Yang kedua apa?" Tanya Sasuke menghentikan Naruto yang tengah sibuk menyumpah serapahi Sasuke dalam hati.

"Persiapan tes untuk kita lah,"

"Tes? Kita kan sudah lulus tes. Untuk apa dites lagi?"

"Itu tes kelulusan akademi. Untuk menjadi seorang genin Konoha, ia masih dites lagi oleh pembimbingnya,"

"Kalau gagal?" Tanya Sakura lirih. Ada rasa was-was berkecamuk dalam hatinya.

"Kembali lagi ke akademi,"

Ada keheningan tercipta. Ucapan Naruto memang sederhana, hanya terdiri dari 4 kata, tapi efeknya seperti ledakan bom. Sasuke hanya sesaat terkejut, sebelum pulih seperti sedia kala. Ia cukup yakin dengan kemampuannya. Ia pasti lulus tes. Lain lagi dengan Sakura. Ia berdiri kaku dengan mata membulat sempurna.

"K-kau bercanda?"

Naruto menggeleng. "Tidak. Itu fakta." Naruto mengambil nafas panjang, merasa tak tega mengatakan kenyataan pahit lainnya pada satu-satunya wanita dalam timnya. "Dan, Kakashi-sensei terkenal tak pernah meluluskan seorang pun. Genin-genin itu, semuanya kembali ke akademi,"

"Ti-tidak mungkin. Itu gila," seru Sakura. Rasa takut yang tadi terbit, kini menjalar menguasai hati dan pikirannya. Tubuhnya kini menggigil ketakutan. Berkali-kali ia menggigit bibirnya, pelampiasan dari kegelisahannya.

"Tenanglah! Kita masih ada waktu untuk mempersiapkan diri, Haruno-san."

"Per-persiapan seperti apa?"

"Tes nanti mungkin diawali dengan tes kemampuan individual sebelum tes sebagai tim. Ku pikir, tes sebagai tim inilah yang menggugurkan para genin itu."

"Kau yakin, Naruto."

"Em. Aku sudah mencari informasi tentang ini kemarin usai pertemuan tim,"

"Lalu, apa rencanamu, Dobe!"

Naruto kembali memberikan delikan mautnya pada Sasuke sebelum menjawab. "Ini rencanaku. Bla bla bla…" ujar Naruto dengan suara lirih mengutarakan rencana briliannya.

…*****…..

Kakashi menatap tak percaya dirinya sendiri. Ia yang seorang jounin elit lengkap dengan gelar geniusnya berhasil dipecundangi bocah-bocah ingusan macam mereka? Itu memalukan, coret sangat memalukan. Sesuatu yang tak bisa dimaafkan.

Seharusnya, salah satu dari mereka —siapa saja boleh, tapi lebih baik lagi si bocah Uchiha— yang terikat di atas tiang dan bukannya malah dia yang terjebak dalam kondisi super duper memalukan ini. "Grembell..grembell…gremberll.." gumam Kakashi berkeluh kesah diiringi sumpah serapah nan lirih, sambil berusaha melepas ikatan tali tambang yang mengikat buku kesayangannya.

Huf, Kakashi menarik nafas panjang, begitu ia berhasil membebaskan buku kesayangannya yang tertawan. Lalu, ia menyiumi buku orange bertitle 'Icha-Icha Paradise' penuh cinta, sebelum memasukkannya dengan hati-hati ke dalam saku penyimpanan senjata ninjanya.

"Puhh…," terdengar suara tawa lirih, mengusik perhatian Kakashi. Mata Kakashi menyipit, memandang penuh dendam pada Naruto. Bocah itu tengah berusaha keras menahan tawa, menikmati penderitaan Kakashi. Tatapan Kakashi menajam. Ia memikirkan berbagai macam cara untuk menyiksa bocah pirang itu, nanti. Dialah tersangka utama yang mengikat buku kesayangannya pada tiang. 'Siapa lagi yang punya ide licik seperti ini selain 'Dia'?' pikir Kakashi.

Krincing… krincing… Sebuah suara lonceng yang saling beradu kini menarik perhatian Kakashi. Si bocah Uchiha sialan tampak tersenyum tipis padanya (baca mengejek), sambil memamerkan lonceng yang tadinya masih berada di tangan Kakashi. Sumpah, Kakashi tergoda untuk memutilasi bocah Uchiha kampret itu di tempat ini dan saat ini juga. 'Berani-beraninya dia!' geram Kakashi.

Di sisi lainnya, ada Sakura yang tengah memamerkan gigi-gigi putihnya pada Kakashi. Ia memang sedang tersenyum manis untuk Kakashi, tapi Kakashi tahu, kunoichi muda ini juga tengah menertawakan kebodohannya sama seperti rekan-rekan setimnya. 'Brengsek! Double brengsek!' gerutu Kakashi dalam hati.

Memang apa yang sebetulnya sedang terjadi hingga Kakashi kehilangan dua benda paling penting dalam hidupnya ini?

Tadinya, Kakashi berniat membuat survival kecil-kecilan sebagai bahan tes tim 7 yang dikomandoinya. Ia lagi-lagi meniru cara Minato-sensei dalam menilai kemampuan para anggotanya, yakni menyuruh mereka merebut dua lonceng yang ia simpan di pinggannya, dengan cara apapun.

Begitu kata 'Di mulai!' meluncur dengan indahnya dari bibir Kakashi, ketiga genin itu langsung melesat pergi ke tengah-tengah hutan yang rimbun. Mereka menyembunyikan diri dari Kakashi. Diam-diam, Kakashi mengulas senyum tipis. Ia cukup bangga dengan kemampuan individual anggota timnya. Mereka berhasil bersembunyi dengan baik —menekan cakranya sekecil mungkin dan menyatu dengan alam— khususnya Naruto.

Target yang pertama Kakashi datangi yaitu Sakura. Dia yang paling mudah ditemukan. Kakashi cukup menggunakan henge Sasuke dan sedikit genjutsu untuk membuat kunoichi pink itu pingsan dengan mengenaskan. 'Aku harus memperbaiki wataknya ini. Masak pingsan hanya karena idolanya sekarat,' catat Kakashi dalam hati.

Target selanjutnya, Sasuke. Ia memberi perlawanan yang cukup berarti. Ia bahkan sempat beradu taijutsu, beberapa ninjutsu dan saringan. Namun, pengalaman adalah segalanya. Kakashi dengan lihai —memanfaatkan henge Naruto—memperdayai Sasuke dan membenamkan bocah Uchiha itu ke dalam tanah. 'Ini juga butuh perhatian.' Catat Kakashi dalam hati.

Belum apa-apa, perut Kakashi sudah mulas. 'Oh ya Tuhan. Dua orang fans berat coba? Apa satu saja tidak cukup?' jerit Kakashi dalam hati. Oh, pekerjaannya akan tambah banyak dan kepalanya bakal makin pening dengan adanya dua orang itu.

Kakashi menajamkan inderanya, mencari dimana Naruto bersembunyi, namun usahanya nihil. Naruto tak berhasil ditemukan. Ia menyatu dengan alam seolah-olah ia tak berada dalam area ini. "Gezz… Kemampuan Naruto dalam mengelabui semakin meningkat saja," Keluh Kakashi.

Ia segera membuat segel tangan, meminta bantuan Pakun dkk untuk menemukan Naruto. Ia menyuruh Pakun mengendus bau Naruto. Tapi, bukan Naruto namanya kalau tak bisa mengelabui Pakun. Naruto sudah belajar kamuflase dari ahlinya yakni tou-sannya. Saat ia menyamar menjadi pohon, maka baik bentuk maupun baunya akan seperti pohon. Naruto hampir menyamai kemampuan Zetsu dalam menyamar.

Karena Pakun pun gagal, maka Kakashi pun menggunakan cara terakhir. Ia mengeluarkan semangkuk ramen Ichiraku yang aromanya luar biasa sedap. Dan, usahanya tidak sia-sia. Ia berhasil menarik Naruto keluar dari persembunyiannya. Keduanya bertarung dengan sengit.

Dua orang guru-murid ini saling mengadu benda tajam logam tantonya, tendangan, sikutan dan kepalan tangan. Pertarungan mereka berjalan sengit. Saat, Naruto hampir takluk, Naruto segera menghilang dengan shunshin. Rupanya, ia tengah meminta bantuan anggota timnya yang lain untuk mengalahkan Kakashi.

Ketiganya saling bekerja sama, dengan formasi yang diajarkan di akademi dan henge untuk mengelabui Kakashi. Naruto dan Sasuke maju untuk menyerang Kakashi, sedangkan Sakura mencari timing yang pas untuk mengambil loncengnya.

Di tengah-tengah pertarungan, Naruto melemparkan bom asapnya. Ia berhasil menjambret buku Icha-Icha milik Kakashi dan lalu menyamar menjadi buku keparat itu. Sasuke menggandakan buku itu. Dan, lalu menebarkannya di lapangan.

Mata Kakashi menajam, menatap penuh benci pada Sasuke yang telah mempermainkan buku kesayangannya. Ia tahu buku-buku itu salah satunya pasti henge Naruto. Masalahnya, ia tak tahu yang mana? Kakashi kembali memanggil Pakun cs untuk mencari bukunya yang asli, sedang ia melanjutkan pertarungannya dengan Sasuke. Dengan bantuan mereka, ia berhasil mendapatkan bukunya yang asli.

Kakashi menyeringai senang, begitu buku kesayangannya selamat. Ia baru akan menyimpan bukunya saat bukunya berubah jadi Naruto dan berniat mengambil loncengnya. Untungnya, gerak refleks Kakashi bagus, sehingga loncengnya tetap aman di pinggangnya. Dan, ia berhasil menyarangkan satu tendangan keras ke perut Naruto hingga bocah pirang itu terjungkal beberapa meter dan menggelepar di tanah kesakitan.

'Makan tuch, tendanganku!' batin Kakashi girang.

Kesenangan Kakashi tak berlangsung lama. Ia kembali dibuat terkejut oleh para genin muda itu. Mulut Kakashi membuka menutup seperti ikan koi saat matanya menangkap bukunya ternyata sudah berada di tangan Sasuke. Ia dengan seenak udelnya melempar-lemparkan bukunya ke atas. Mata Kakashi melotot horror melihat Sasuke mengikat bukunya dan berniat memanggangnya di tengah api unggun yang Kakashi tak tahu dibuat kapan.

Pikiran Kakashi terlalu kalut, memikirkan nasib buku kesayangannya di tangan Uchiha bungsu, hingga ia tak menyadari gerakan NaruSaku yang dengan gesit berhasil mengambil loncengnya. Tahu-tahu, loncengnya sudah berpindah tangan pada Naruto dan Sakura, sedang Sasuke tengah asyik memamerkan buku oranye Kakashi yang sudah jadi buku panggang.

'Dam'n it. Fuck you!' sumpah serapah Kakashi pada trio menyebalkan di depannya.

"Tenang, Sensei. Bukunya tidak gosong, kok. Ia baik-baik saja…khu khu khu…" kata Naruto sambil tertawa geli. "..di atas tiang." Lanjutnya sambil menunjuk buku Kakashi yang kini sudah terikat di atas tiang yang rencananya mau digunakan Kakashi untuk mengikat Naruto, Sasuke atau Sakura usai permainan nanti.

Itulah awal mula kisah memalukan ini. Dengan bibir manyun dan mata yang menyorot jengkel, ia menatap berang para genin asuhannya. Di luar dugaannya, ketiganya bermain cerdik dan saling bekerja sama hingga berhasil mempecundangi seorang Kakashi. Tanpa kerja sama yang baik, trik ini tak akan berhasil.

'Mungkin memang sudah saatnya Kakashi membimbing tim baru,' batin Kakashi diantara ikhlas dan tidak ikhlas. "Kalian lulus." Ujarnya dengan tidak ikhlas.

"Hore! Lulus!" sorak Sakura senang. "Lalu, kapan kami mendapat misi, Sensei?"

"Besok, kita juga sudah bisa meminta misi. Aku pergi dulu. Besok, kita kumpul lagi di sini dan di jam ini. Chao!" Kakashi menghilang dalam kepulan asap, meninggalkan ketiga tim asuhannya yang tengah bersorak-sorak gembira, merayakan kemenangannya.

….*****…..

Naruto tengah dalam perjalanan pulang ke apartemennya saat ia bersua dengan pria tua berambut putih nan panjang dengan senyum mesumnya. Sasuke mendelik menatap bengis pada kakek tua mesum yang menghadang langkah mereka. "Apa maumu, Pak tua?" tanyanya sinis.

"Dasar bocah! Dimana sopan santunmu? Apa orang tuamu tak pernah mengajarimu tata karma?" dengus pria tua itu.

"Sopan santunku untuk orang baik-baik, bukan pria tua mesum yang hobi mengintip perempuan mandi," ejek Sasuke merujuk pada kegiatan nakal pria tua itu sebelum menghadang langkah Naruto.

"Huh! Aku tak mau diajari bocah ingusan sepertimu,"

"Terserah,"

"Sudahlah Sasuke, tak usah diperpanjang. Ini kan masalah sepele. Ada perlu apa Anda dengan saya?"

"Nih, ambillah!" ujarnya seraya mengulurkan sebuah gulungan pada Naruto.

Naruto menaikkan satu alisnya bingung. Secara, ia tak pernah melihat pria tua ini, tapi kenapa ia memberikan sebuah gulungan yang sepertinya penting itu padanya? Dengan hati-hati, Naruto membukanya. Ia terkejut setelah membaca si penulis surat. Ia dengan cepat menutup gulungan itu dan menyimpannya. Ia berniat membacanya nanti di rumah.

Sasuke bertanya dengan bahasa isyarat 'Ada apa, Naruto? Apa isi gulungan itu?', namun tidak ditanggapi Naruto. Sebaliknya, ia memandang penuh penilaian pada pria tua itu. "Siapa sebenarnya Anda?"

TBC

Akhirnya selesai juga. Ai nyicil ngetik fic ini selama berhari-hari. Sampai jumpa chapter selanjutnya. Aku usahakan updatenya cepat. Terakhir, mohon saran dan kritiknya.