Not Mainstream
DISCLAIMER : Naruto Belongs to Masashi Kishimoto
Genre : Adventure dan Family
Rating : T
WARNING : No YAOI, No shounen ai, murni straight, bertebaran typo, gaje, smart_Naru, Canon dan bashing beberapa chara.
Author Note : Sekali lagi author tegaskan, fic ini bukan yaoi, shounen ai atau BL, tapi MURNI STRAIGHT. Disorientasi seksual yang dialami Sasuke karena ia salah mengartikan rasa sayangnya yang terlalu besar pada Naruto. Nanti, seiring perkembangan cerita, Sasuke akan kembali normal.
Kematian Shisui adalah berita hoak yang disebarkan Minato untuk menjebak Pria misterius bertopeng yang pernah menyatroni Konoha, membersihkan nama baik klan Uchiha, mengakhiri politik diskriminasi pada Uchiha, dan mencegah kudeta.
Identitas Naruto sebagai jinchuuriki yang tahu hanya Kushina, Minato, dan Hiruzen. Jiraiya dan Shisui tidak diberitahu Minato. Shisui hanya diminta menjaga Konoha dan Naruto oleh Minato dengan jalan menjadi hokage.
Terima kasih Ai ucapkan untuk para reader yang telah berkenan meninggalkan jejak di kotak review, memfollow, dan memfav fic gaje ini yang tidak bisa Ai sebutkan satu per satu. Maaf Ai tidak bisa membalas semuanya. Arigato Gozaimasu. /(_)\
Don't Like Don't Read
Chapter Eight
Kutukan Uchiha dan Misi Tim 7
Pria bersurai putih panjang itu bergaya —memutar-mutar rambut berubannya— sok keren diiringi alunan musik tradisional Jepang untuk memberi efek dramatis, sebelum memperkenalkan namanya. "Aku adalah petapa tampan dari gunung Myobokuzan yang digilai wanita dari segala penjuru negeri dan ditakuti musuh-musuhnya. Akulah yang bernama Jiraiya," ujarnya penuh rasa bangga.
Krik krik krik…
Sayangnya, dua genin muda itu sama sekali tidak terkesan dengan acara perkenalan Jiraiya. Keduanya malah memberi Jiraiya tatapan ill feel. 'Dasar tua-tua keladi. Makin tua makin menjadi,' batin keduanya jengah dengan kegenitan si kakek tua. Sudahlah tua, mesum, genit pula.
'Jadi ini orang yang dimaksud tou-san?' batin Naruto. Tangannya bersedekap di atas dada, memandang penuh selidik Jiraiya. 'Dia kelihatan baik. Ia sepertinya tak punya maksud buruk denganku. Tapi, kenapa tou-san menyuruhku mewaspadainya?' pikirnya heran.
Sikap diam Naruto, memberi pengertian yang salah pada Sasuke. Sasuke pikir, Naruto terganggu dengan kehadiran Jiraiya. Karena itu, ia berfikir untuk mengusirnya dari jalan hidup Naruto. "Aku tak perduli kau itu siapa. Mau petapa sakti kek, mau orang hebat kek, mau ilmuan gila, kek, aku tak perduli. Tapi, jika kau berniat menyakiti Naruto, kau berhadapan denganku." Ujar Sasuke.
"Memang kau bisa apa? Dasar bocah!" gerutu Jiraiya. Dia akui, dulu sewaktu ia seusia dengan bocah itu, ia juga berangasan, berbangga hati, dan tak punya sopan santun. Meski demikian, ia masih punya rasa hormat pada orang yang lebih tua dan ia lebih bisa menjaga mulutnya dari bocah songong di depannya ini.
"Aku seorang shinobi bukan bocah. Dan, berhenti meremehkan aku," Ujar Sasuke tak terima. Hatinya panas sewaktu Jiraiya memandangnya sebelah mata. Jika bukan karena sedang menjaga image di depan Naruto, Sasuke pasti sudah mengaktifan saringannya dan menyerang Jiraiya.
"Memang kenyataannya begitu. Tak perduli, meski kau shinobi atau berasal dari klan Uchiha, yang namanya bocah tetap saja bocah." Balas Jiraiya sengit.
"K-KAU!" geram Sasuke tak terima. Oniksnya mengeras dan memandang Jiraiya dengan tatapan membunuh.
Jiraiya sendiri tak mau kalah. Ia pun membalas Sasuke dengan deathglear yang sama. Keduanya —dua makhluk lintas generasi ini— saling beradu deathglear. Keduanya sama-sama berusaha mengintimidasi satu sama lainnya hingga lawannya terkapar di medan pertarungan.
Naruto yang melihat semua itu hanya geleng-geleng kepala. Baik yang tua maupun yang muda sama gilanya. Masak, mereka bertengkar hanya karena masalah sepele? Kekanakan sekali, bukan? Walaupun begitu, Naruto tak berniat melerai keduanya. Ia memilih jadi pengawas dan wasit yang baik, daripada menengahi pertengkaran keduanya. Anggap, saja keduanya sedang melakukan penjajakan.
Untunglah, tak lama kemudian muncul makhluk bersurai perak dan memakai masker untuk menutupi sebagian wajahnya di tengah-tengah mereka. Makhluk yang ditengarai bernama Kakashi Hatake ini sukses menghentikan perang deathglear antara Jiraiya dan Sasuke.
"Wahhh, ternyata kalian sudah akrab rupanya. Aku jadi terharu," ujar Kakashi sambil memandang Jiraiya dan Sasuke dengan perasaan penuh haru seperti orang tua yang sedang melepas putri semata wayangnya menikah.
Kedutan samar menghiasi pelipis Sasuke dan Jiraiya. Keduanya tersinggung dibilang akrab. "Siapa yang kau maksud sensei mesum?" / "Siapa yang kau maksud bocah?" bentak Sasuke dan Jiraiya kompak dalam waktu bersamaan. Keduanya lalu sepakat untuk melempar deathglearnya pada Kakashi, membuat putra tunggal Sakumo Hatake ini merinding disko.
"Ha ha ha…, aku hanya bercanda," ujar Kakashi sambil garuk-garuk kepala salah tingkah.
Puff…, terdengar suara geli tertahan dari bibir Naruto, menyapa gendang telinga Kakashi. Kakashi melirik Naruto dari sudut ekor matanya dan lalu memberi peringatan pada murid kesayangannya agar tidak menertawainya. Tak ingin harga dirinya semakin jatuh di depan genin asuhannya yang manis-manis dan unyu-unyu —minus Sasuke—, ia pun menanggalkan sikap OOC-nya tadi dan kembali bersikap cool.
"Ehem," dehem Kakashi meminta perhatian. "Abaikan saja kataku barusan. Anggap saja intermezzo," Putus Kakashi tak ingin memperpanjang masalah. "Well aku ucapkan selamat datang kembali ke konoha Jiraiya-sama. Senang melihat anda lagi." Ujar Kakashi berbasa-basi sekedar meraih simpati dari guru mendiang gurunya. "Dan kau, Sasuke. Ikutlah denganku! Ada hal penting yang ingin ku bicarakan denganmu." Lanjutnya.
Kedua alis Sasuke bertemu. Ia heran. Memang hal penting apa yang mau dibicarakan senseinya ini dengannya? Belum juga sejam mereka berpisah, tapi senseinya sudah mencarinya. "Tak bisakah nanti saja?" tanya Sasuke dengan enggan.
"Tidak," tolak Kakashi. "Harus sekarang!"
"Tapi, sensei..?"
"Sekarang S-A-S-U-K-E!"
"Lalu, bagaimana dengan Naruto?"
"Ia punya urusan sendiri. Kau tak bisa setiap waktu bersamanya, menempelinya seperti bayangan."
"Aku bukan bayangannya dan tak pernah ingin jadi bayangannya?" balas Sasuke tak terima. "Aku hanya ingin memastikan ia baik-baik saja."
"Memangnya apa yang bisa terjadi pada Naruto di Konoha yang damai ini? Penculikan? Pembunuhan? Makar jahat? Kau pikir Naruto sehebat itu, sepenting itu, sampai-sampai ada yang ingin menculiknya dan menginginkan kepalanya? Dengar bocah! Kau, Naruto, dan Sakura itu sama, masih amatir. Karir shinobimu dan Naruto bahkan belum mulai. Namamu belum masuk daftar shinobi top dunia, jadi kau tak perlu khawatir jadi target shinobi hunter."
"Dia memang tidak diincar shinobi hunter yang mengincar uang tebusan, tapi bukan berarti ia aman. Apa sensei tak melihatnya? Pria tua mesum mencurigakan ini? Bisa saja ia berbuat yang tidak-tidak pada Naruto."
"Jaga ucapanmu, Sasuke! Pria yang kau maksud itu Jiraiya, petapa senin yang juga guru Minato-sama." Ujar Kakashi memijit pelipisnya yang berdenyut-denyut nyeri. 'Astaga, bocah ini! Siapa sih yang telah meracuni otaknya hingga punya pemikiran ngaco seperti itu?' batin Kakashi pusing tujuh keliling. Catatannya tentang Sasuke semakin bertambah panjang dan membuat Kakashi bingung harus memulai darimana untuk memperbaikinya.
"Hahhh? Gurunya Hokage keempat? Pria tua mesum ini?" Sasuke kembali menatap Jiraiya penuh selidik. Oniksnya memancarkan ketidak percayaan. "Masa sich?"
"Ish kau itu. Kalau tak percaya tanya saja kakakmu,"
"Hn," gumam Sasuke.
Kedut imaginer menghiasi pelipis Kakashi. Sumpah ia benci Uchiha, semua Uchiha khususnya saat mereka bergumam, 'Hn' tidak jelas. Ia punya keinginan kuat untuk memutilasi makhluk-makhluk yang bergumam 'Hn'. Hanya Tuhan yang tahu kenapa Kakashi masih bisa bertahan dengan makhluk-makhluk menyebalkan bermarga Uchiha itu hingga detik ini.
"Aku pergi dulu, Naruto! Tuan Jiraiya!" pamit Kakashi sopan diikuti Sasuke yang terlihat enggan berpisah dengan Naruto.
"Bocah itu kenapa, sih? Sikapnya aneh sekali. Dia bertingkah seperti seorang pria kasmaran yang dipaksa berpisah dari kekasihnya daripada seorang sahabat."
"Hi hi hi…" Naruto tertawa geli menanggapi.
"Dan, aku tambah heran. Kenapa kamu masih bisa tertawa, Naruto? Dia sedang memposesifi mu, menebarkan pesonanya padamu. Kau tak merasa gimana, gitu?"
"Ha ha ha…" Tawa Naruto semakin menjadi. Ia bahkan sampai memegangi perutnya yang sakit karena geli. "Anda benar-benar lucu. Persis seperti yang diceritakan tou-san. Sasuke menebar pesonanya padaku? Khu khu khu.., itu adalah lelucon paling lucu no 2 yang pernah ku dengar,"
"Hei, aku serius. Aku tidak sedang bercanda."
"Aku juga serius." Balas Naruto berusaha untuk menahan tawanya. "Ji-san, tak perlu cemas. Sasuke memang orangnya agak aneh, over protektif padaku, tapi aku yakin ia lurus seluruh tantonya Kakashi-sensei. Aku yakin Sasuke masih menyukai makhluk berdada montok, bertubuh gitar, daripada berdada rata sepertiku,"
"Keyakinan darimana itu?"
"Karena, aku pernah melihatnya bersemu merah saat menatap seorang gadis."
"Tapi, sikapnya padamu itu…." Jiraiya menelan ludahnya. "…tidak mencerminkan perilaku seorang pria normal."
"Ia hanya memenuhi sumpah dan janji seumur hidupnya pada mendiang tou-sanku, Ji-san." ujar Naruto. "Untuk menjagaku." Tambahnya sambil senyum muram tersungging di bibirnya. Meski sudah lama tiada, hampir 4 tahun, namun Naruto masih sering berduka jika teringat padanya, seakan-akan baru kemarin ayahnya meninggal.
Naruto mengerjabkan bulu mata lentiknya, mengusir rasa sedih yang menggerogotinya. Ia tak ingin seorang pun tahu kesedihannya, lalu memandangnya penuh rasa iba. Ia tak mau itu. Ia tak butuh belas kasihan dari siapapun. Ia hanya ingin diakui sebagai shinobi Konoha yang hebat seperti ayahnya. Ah bukan. Tapi, melampaui ayahnya. Itu cita-citanya.
Naruto memberi Jiraiya-guru-ayahnya senyum terbaiknya untuk menunjukkan kalau ia baik-baik saja. Naruto merendahkan suaranya dan berkata dengan suara lirih, "Sikap over protektifnya padaku adalah bukti kalau ia sayang padaku dan menganggapku sebagai saudaranya."
"Tapi..."
"Ia pernah melihatku nyaris mati, Ji-san. Karena itu, ia over protektif padaku. Ia tak mau aku terluka seperti dulu."
Mata Jiraiya memicing. Ia masih belum percaya 100% dan berniat mencari tahunya sendiri. Ia tak akan membiarkan Naruto-putra-kesayangan-mendiang-muridnya-tercinta berada di dekat orang-orang dengan dugaan orientasi seksual yang menyimpang. Hell no! Langkahi dulu mayat Jiraiya sebelum itu terjadi.
"So, apa maksud kakek menemuiku?"
"Aku ingin mengangkatmu jadi murid," ujarnya penuh sayang pada Naruto.
Safir Naruto berkilat senang karena tiga alasan. Satu, ia bangga karena diangkat murid oleh salah satu sanin legendaris Konoha. Berarti kemampuanya diakui dong. Kedua, karena ia bisa berguru pada guru yang dulu pernah mengajari tou-sannya hingga ia menjelma jadi seorang shinobi elit yang ditakuti para musuhnya. Ketiga, orang itu sendiri yang meminta kesediaan Naruto dan bukan sebaliknya. Itu sesuatu banget.
Naruto nyaris berkata iya dengan senang hati, sebelum ingat kalau kini ia telah memiliki tim sendiri, dan besok mereka sudah akan melakukan misi bersama. Ia tak bisa membuang rekan dan sensei pembimbingnya begitu saja dengan alasan egois, bahwa ia diangkat jadi murid seorang sanin legendaris. Ia merasa seperti pria brengsek, tidak setia kawan, dan juga serakah jika ia berlaku demikian.
"Aku ingin sekali bilang iya, tapi…" Naruto menarik nafas panjang dan lalu membuangnya perlahan. "…maaf. Aku tak bisa meninggalkan timku yang baru terbentuk." Lanjutnya.
"Pikirkan baik-baik, bocah! Tidak semua orang ku angkat jadi murid. Kau orang kelima yang ku akui dan ku minta langsung."
"Aku sungguh merasa tersanjung, tapi sekali lagi maaf. Aku tak bisa membuang tim ku begitu saja," ujar Naruto keras kepala.
Jiraiya menatap Naruto penuh sayang. Sebuah senyuman mengembang di bibir Jiraiya. Ia tahu bocah pirang ini sangat keras kepala dan teguh pendiriannya. Ia tak akan bergeser seincipun dari keyakinannya, meski keadaan tak lagi mendukungnya bahkan memusuhinya. Ada rasa bangga di hati Jiraiya melihat tekad baja sang calon murid.
"Aku akan tetap membuka tawaranku. Kau bisa datang kapan saja padaku." Ujarnya. "Well, sebagai hadiah perkenalan, akan ku ajarkan kamu satu jutsu hebat." Tambahnya.
"Apa itu sensei?"
"Jutsu andalan ibumu, fuinjutsu."
Wajah Naruto berseri-seri. Ia memang sangat ingin belajar fuinjutsu, namun sulit sekali mencari master fuinjutsu —selain kedua orang tuanya— di Konoha ini. Kakashi sensei lumayan bisa, tapi hanya dasarnya saja, tidak sampai tingkat lanjut, alias hanya sampai rank C atau D. "Benarkah itu, sensei?"
"Hm. Besok kita bertemu di apartemenmu pukul 7 malam,"
"Hai'k, sensei. Terima kasih banyak, sensei."
"Hmm."
Setelahnya, mereka berpisah jalan. Naruto meneruskan perjalanan pulang ke apartemen dengan hati riang. Sedang Jiraiya…? Yach, ia tak perlu ditanya lagi. Pasti sedang melanjutkan misinya mencari bahan inspirasi, baca mengintip wanita-wanita cantik dan seksi di pemandian mandi.
Naruto segera membuka gulungan surat dari ayahnya begitu tiba di apartemennya. Hatinya berdebar-debar seperti seorang gadis yang sedang jatuh cinta, tak sabar untuk membaca isi wasiat terakhir sang ayah. Tangan Naruto bahkan sampai gemetaran saat membukanya.
Dear, Naruto.
Ayah berharap kau tak akan pernah membaca surat ini. Karena, jika surat ini sampai padamu, berarti aku sudah tidak ada di dunia ini. Dan, itu artinya ayah tak akan pernah bisa melihatmu tumbuh dewasa. Namun, Ayah yakin kau bisa hidup tanpa kami. Ayah percaya padamu, Nak.
Aku tahu anak ayah yang satu ini berotak cerdas. Sebelum membaca surat ini, ayah yakin kau sudah mengetahui apa yang hendak ayah sampaikan. Namun, tidak ada salahnya jika ayah mengatakannya. Ada rahasia besar setidaknya tiga yang kami sembunyikan darimu. Pertama, kau tidak pernah punya adik bernama Menma. Putra kami hanya satu, yaitu kau, Naruto.
Naruto menghela nafas panjang. Dugaannya selama ini benar. Ia anak tunggal Minato-Kushina. Menma yang selama ini diaku-aku ayahnya adik kembar Naruto tidaklah nyata. Naruto kembali melanjutkan acara bacanya.
Kedua, kau bukannya tak punya cakra atau jumlah cakramu sedikit. Jumlah cakramu banyak sebagaimana keturunan Uzumaki lainnya. Namun, cakramu ayah segel ke dalam tubuhmu. Aku yakin kau pun sudah tahu hal ini, karena aku pasti sudah membuka segel cakramu sebelum aku mati. Tapi, ayah mohon Nak, jangan pernah kau gunakan cakramu. Tak ada seorang pun yang boleh tahu kalau kau memiliki system cakra dalam tubuhmu, termasuk Kakashi dan Shisui.
Naruto lagi-lagi menghela nafasnya. Dua kali helaan nafas dalam kurun waktu 10 menit. Naruto hanya bisa berdoa semoga kegiatan menghela nafasnya tidak mengurangi umur atau keberuntungannya sebagaimana pakem yang dipercayai dan beredar di tengah-tengah masyarakat, bahwa menghela nafas dapat mengurangi umur.
Matanya menatap nanar gulungan surat tak berdosa itu. Ada monster dalam tubuhnya yang berniat berontak, berteriak protes pada sang ayah yang tidak berdiri secara nyata di depannya. 'Why tou-san? Why? Kenapa aku tak boleh menggunakan atau melatih cakraku?' pikirnya dengan perasaan sesak.
Apa karena aku seorang jinchuuriki? Apa karena tou-san takut aku tak bisa melindungi diriku sendiri dari orang-orang yang benci monster itu? Tapi tou-san, keadaannya sekarang berbeda. Penduduk Konoha baik sipil maupun shinobi, kini sadar kalau mereka butuh Kyuubi di tengah-tengah mereka. Mereka tak akan mengapa-apakan aku hanya karena aku seorang jinchuuriki. Tou-san? Apa tou-san tak percaya dengan kemampuanku. Dan berratus kata tanya lainnya.
Kau pasti bertanya alasannya kenapa? Alasannya, ada pada rahasia ketiga, yakni kau seorang jinchuuriki Kyuubi. Tou-san tak ingin seorang pun tahu kalau Kyuubi masih hidup. Tou-san ingin eksistensi Kyuubi hilang dari muka bumi ini.
Nak, tou-san yakin kau pun pasti akan bertanya kenapa tou-san ingin membuat kabar kalau Kyuubi sudah mati. Apa kau ingat Nak? Apa yang kita bicarakan di pinggir sungai di lembah akhir sore itu? Tentang proyek mata bulan?
Proyek mata bulan ini sangat berbahaya, Nak, karena akan menyebabkan musnahnya peradaban shinobi. Hanya ada satu cara untuk mencegahnya, yaitu mencegah mereka mengumpulkan semua bijuu. Dengan berita matinya Kyuubi, tou-san berharap, proyek ini gagal.
Nak, jika ternyata rencana ayah gagal. Proyek mata bulan ini tetap dijalankan oleh orang jahat itu, kau boleh belajar mengendalikan cakramu. Bahkan, tou-san tak akan keberatan jika kau belajar Bijuu-mode di pulau Kura-kura. Ambillah gulungan untuk berlatih bijuu-mode ini dari tangan Fukatsu-sama, tetua kodok dari gunung Myoboku, tepat saat kau mendengar Ichibi dari Sunagakure ditangkap.
Nak, sekali lagi maafkan ayah karena membuat hidupmu susah selama ini. Tapi, percayalah Nak, apapun yang ayah lakukan semua ini karena ayah dan ibumu sangat mencintaimu.
Naruto menutup gulungan surat itu penuh haru. Air mata yang tadi ia tahan sedari tadi kini pecah mengalir seperti anak sungai membasahi wajahnya. Dadanya terasa sesak, dipenuhi perasaan bangga akan ayahnya. Ayahnya benar-benar hebat dan luar biasa. Demi anaknya, ia sanggup berkorban begitu besar. Kini, hati Naruto terasa hangat. Ia merasa sangat dicintai dan dilindungi.
'Arigatou tou-san. Arigatou. Aku juga sayang tou-san,' batinnya diiringi air mata yang tiada henti-hentinya mengalir.
…..*****….
Tim 7 bersiap di tempatnya masing-masing. Sasuke dan Sakura mengintai target mereka. Kakashi memberi pengarahan sambil membaca buku eronya, tidak terlihat serius dalam membimbing. Naruto? Well, jangan tanya Naruto sedang apa? Ia tengah mempersiapkan jebakan untuk si target.
"Aku melihat target arah jam 8 sekitar 5 m sedang mendekati umpan," ujar Sakura memberi laporan.
"Roger, laporan diterima. Sasuke, kau tutup pintu kabur target. Dan, kau Naruto…"
"Aku tahu apa yang harus aku lakukan, sensei." Potong Naruto menuai helaan nafas dari senseinya.
'Aku juga tahu itu. Tapi, apa boleh buat. Sudah begitu prosedurnya,' batin Kakashi tak ambil pusing.
Target mendekati umpan. Sakura dan Sasuke bergerak cepat seperti bayangan hitam yang melintas mendekati umpan. Karena tergesa-gesa ingin segera menyelesaikan misi, Sakura bertindak ceroboh. Ia terpeleset dan mengejutkan target karena muncul tiba-tiba, hingga membuat target teriak, "MIAWW…!"
Ia dengan lihai mencakar tubuh Sakura mengenai lengan dan wajahnya sebelum kabur, meninggalkan Sakura yang menjerit kesakitan. Sasuke tak tinggal diam. Ia mengejar kucing bernama Tora, target tim mereka yang berlari melompat-lompat diantara pepohonan dengan lincah. Namun, pada akhirnya Naruto yang berhasil menangkap Tora tanpa perlawanan berarti. Mereka pun menyerahkan target mereka pada klien mereka dan menerima upah misi.
"Aku tak mengerti kenapa kau bisa menangkap si kucing sialan itu tanpa luka? Kau juga tak kesulitan menangkap ikan-ikan licin di sungai Yama waktu misi kemarin." tanya Sakura mengutarakan keheranannya dalam perjalanan pulang.
Naruto memberi Sakura cengiran ciri khasnya sebelum menjawab, "Aku sudah biasa berlatih menangkap hewan buruan dengan tou-san. Ia mengajariku menangkap target dengan menghilangkan KI (Killing Intent) sehingga target tak tahu kalau ia sudah masuk perangkap."
"Oh, wow. Kau beruntung punya ayah seperti Yondaime-sama, Naruto."
"Begitulah," kata Naruto dengan enteng tanpa beban. Ia terus menerus tersenyum, menikmati kebersamaannya bersama anggota timnya —minus Kakashi-sensei yang cabut duluan untuk membaca novel eronya dengan dalih melaporkan misi mereka— sebelum pulang ke apartemennya untuk berlatih dengan Jiraiya-sensei. "Well, aku pergi dulu ya. Petapa genit itu pasti sudah menungguku di apartemen,"
"Kau masih berlatih dengannya?" tanya Sasuke.
"Ya, tentu saja. Aku ingin jadi master fuinjutsu seperti kaa-san,"
"Hn. Oke, good luck,"
Naruto mengangguk sebelum cabut duluan, membiarkan dua orang lawan jenis Sakura dan Sasuke berdua saja. "Emm, Sasuke-kun. Apa kau mau…"
"Aku pulang dulu. Aku ada janji dengan aniki," Potong Sasuke sambil berlalu pergi menuai desahan kecewa dari Sakura. Dengan langkah gontai ia kembali ke rumahnya. 'Setidaknya ia tak lagi membentakku,' batinnya positif thinking.
Hari-hari tim 7 disibukkan dengan misi rank D dan berlatih. Kakashi sensei cukup serius dalam melatih genin-genin asuhannya, khususnya latihan tim. Ia beberapa kali menguji formasi mereka. Namun, ia tak lupa memberi anggota timnya menu latihan individual pada masing-masing anggotanya.
Khusus untuk Sakura, ia mendapat porsi latihan genjutsu lebih banyak. Kakashi niat banget untuk menghapus penyakit fansgirlnya Sakura yang sering kali malah menghambat misi mereka.
Naruto lebih banyak mendapat latihan fisik dari Kakashi. Mengingat Naruto yang tak punya cakra, maka mau tak mau, Kakashi harus memperkuat taijutsu dan kenjutsu Naruto agar ia bisa mengimbangi kekurangannya. Terkadang, ia pun memantau perkembangan pelajaran fuinjutsu Naruto.
Untuk memperdalam teknik Chi-kungnya, Naruto belajar otodidak. Ia berlatih seorang diri. Berkat latihannya yang rutin, kini ia sudah bisa bergerak secepat Shisui. Ia bisa muncul dan menghilang secara tiba-tiba dalam sekejab mata, persis seperti hantu yang tak bisa dilacak hawa keberadaannya bahkan oleh hewan pelacak seperti Pakun dkk.
Untuk Sasuke..., sifat pilih kasihnya Kakashi muncul. Well sebetulnya Kakashi tak ingin pilih kasih sih, tapi sikap buruk Sasuke yang songong, judes, arogan dan minim rasa hormat pada yang lebih tua, membuat Kakashi bersikap demikian. Sasuke jarang, nyaris tidak pernah dilatih secara individual oleh Kakashi. Sasuke lebih banyak diberi pekerjaan kasar, diperbantukan tanpa upah oleh Kakashi, dengan dalih latihan hidup bermasyarakat.
Hal ini jelas membuat adik Itachi Uchiha ini tak senang. Tapi, ia tak bisa berbuat banyak selain mengikuti apa kata Kakashi. Soalnya, ayah dan kakaknya memberi restu penuh pada Kakashi untuk mendidik Sasuke. Mengingat hal itu, membuat Sasuke ingin mengumpat saja. Nasibnya apes betul.
Seperti hari ini. Sasuke berjalan menyusuri jalanan Konoha yang tampak lengang karena hari sudah sore, dengan tubuh yang lelah dan kotor. Bibirnya tak bosan-bosannya menggerutu panjang lebar. "Sialan tuh, Kakashi. Seenaknya saja menyuruhku ini, itu. Memangnya aku ini babu?"
"Sas!" panggil seseorang yang tak digubris Sasuke karena ia sibuk dengan berbagai umpatan yang ia layangkan pada Kakashi. "Sasuke! Ada apa? Kenapa kau bicara sendiri?" ulangnya.
Sasuke mengangkat wajahnya. Niat awalnya menyemprot orang tak tahu diri yang sudah berani mengganggu acara mengutuknya, namun ia telan kembali segala macam caciannya. "Hn, bukan apa-apa." Balasnya. "Nii-chan sedang apa?"
"Jalan-jalan. Bagaimana latihanmu hari ini? Sukses?"
"Hn," gumam Sasuke enggan menceritakan menu latihan najis dari senseinya.
Kedua kakak beradik itu lalu berbincang singkat sambil jalan santai menikmati pemandangan sore di Konohagakure. Sesekali, Itachi menyapa warga desa atau rekannya dan membalas sapaan mereka, sepanjang perjalanan pulang. Ia juga terkadang berhenti untuk membeli sesuatu seperti dango atau barang tak jelas yang diam-diam dikoleksi Itachi. Obsesi Itachi ternyata mengumpulkan pernak-pernik unik yang menurut Sasuke sampah.
Tiba-tiba, Sasuke berhenti. Ia menatap jauh ke depan dengan tatapan yang sulit diartikan. Itachi melirik adiknya dengan perasaan was-was, meski berhasil ia tutupi dengan baik dibalik face pokernya. Hatinya dilanda perasaan galau akut. "Sas, ada apa? Kenapa berhenti?" tanya hati-hati, berusaha menahan perasaan cemas yang berkecamuk dalam dadanya.
Mata Sasuke berkaca-kaca, dengan pandangan yang masih membuat hati Itachi kebat-kebit. 'Adikku bukan maho. Adikku bukan maho,' batin Itachi dalam hati berulang-ulang. Rasa takut jika adiknya menyimpang membuat tubuh ketua anbu kita ini gelisah, berdiri tak nyaman.
"Aku tak tahu, Nii-chan. Melihat Naruto seperti itu…" Sasuke menunjuk Naruto yang berdiri di sana sedang tersenyum simpul di depan pria tua yang Itachi ketahui bernama Jiraiya dan Jiraiya yang mengelus-elus puncak kepala Naruto penuh sayang. "…membuat hatiku… entahlah. Aku tak tahu bagaimana mengatakannya. Rasanya sesak di sini." Lanjut Sasuke menunjuk dadanya, yang membuat Itachi nyaris berhenti bernafas.
Itachi seperti tersedak air ludahnya sendiri. Oniksnya melotot horror. 'Adikku tidak maho. Adikku tidak maho,' rapalnya dalam hati berulang-ulang dengan dada yang semakin berdegup kencang. Bulir keringat dingin menggantung di pelipis pria tampan ini, meski ada ada dua luka yang melintang mengotori kemulusan wajahnya.
"Aku tak tahu kalau Naruto bisa tertawa tulus seperti itu. Ku pikir setelah kematian ayah dan ibunya, ia tak akan bisa tersenyum seperti itu lagi." Ujar Sasuke lumayan boros kosakata.
"Eh," gumam Itachi kini bingung. "Maksudmu?" tanyanya berusaha agar nadanya tetap datar dan tidak terlihat menggebu-gebu.
"Naruto dulu memiliki sebuah senyuman yang sangat indah, yang membuat siapapun yang melihatnya ikut bahagia. Senyuman Naruto seperti mentari yang menyinari hati siapapun. Aniki juga pasti merasa begitu." Ujar Sasuke dengan mata menatap langit senja.
Lalu, wajah Sasuke berubah masam. Ia menyunggingkan sebuah senyuman muram. "Namun, setelah malam naas di kompleks Uchiha itu, ia berubah. Bibirnya memang sedang tersenyum dan selalu terlihat biasa saja, tapi aku tahu senyum indahnya tak pernah lagi muncul. Senyumnya tak pernah sampai ke mata. Naruto tak lagi bahagia seperti dulu. Dan, semua ini salahku,"
Itachi terkejut. Ia tak pernah tahu jika Sasuke menyalahkan dirinya sendiri atas kematian Yondaime beserta istri dan anaknya Menma. Sasuke tak pernah mengatakannya ataupun membahasnya selama ini. Ia terlalu sibuk bercerita soal kegiatan si pirang dengan antusiasnya, menimbulkan pikiran yang bukan-bukan akan hubungan SasuNaru.
"Sas? Are you oke?" tanya Itachi hati-hati, namun tidak beroleh jawaban. Sasuke sibuk dengan pikiran muramnya dan itu membuat Itachi cemas. "Kata siapa ini salahmu? Ini bukan salah siapa-siapa. Ini adalah takdir," lanjut Itachi bijak.
Sasuke mengerjab-ngerjabkan bulu matanya agar air matanya tidak turun dan membasahi pipinya. "Tidak Aniki. Ini bukan takdir, tapi salahku. Salahku Naruto tak bahagia." ujarnya dengan pandangan menerawang jauh. Sasuke menggigit bibirnya kasar untuk mencegahnya menangis. Pria tak akan menangis lebih-lebih Uchiha. Di tempat umum pula. Itu memalukan, melanggar kode etik Uchiha pasal 10 ayat 3.
"Aku tahu, jika Minato-sama bersama Menma dan istrinya tidak datang ke kompleks Uchiha malam itu, hari ini akulah yang berada di posisi Naruto. Aku akan hidup sebatang kara seperti Naruto. Dalam semalam, aku akan kehilangan seluruh orang yang ku sayangi. Dalam waktu semalam, hidupku tak akan sama lagi. Karena itu… aku… aku…"
"Ap-apa?"
"Karena itu, aku berusaha untuk menebusnya. Aku rela jadi apa saja untuk Naruto. Aku mau jadi bodyguard, ayah, ibu, kakak, atau siapapun asal Naruto bahagia. Aku rela bertingkah OOC, tidak berperilaku layaknya seorang Uchiha, asal Naruto tersenyum seperti itu lagi. Aku..aku sayang pada Naruto, aniki. Apa yang membuatnya sakit, aku pun sakit. Aku tak mau ia terluka dan lalu menangis."
Itachi mengusap rambut Sasuke penuh sayang. Ada rasa plong tumbuh di hatinya mendengar pengakuan Sasuke. Sepertinya kali ini Shisui benar dan ia salah. Hubungan Naruto dan Sasuke tidaklah seperti yang ia pikirkan dan Sasuke tidak punya perasaan menyimpang. Ia hanya agak berlebihan dalam menyayangi Naruto.
Mungkin kutukan Uchiha itu benar adanya. Para Uchiha bisa bersikap over protektif pada orang yang disayanginya, cahayanya. Catat disayanginya dan bukan dicintainya sebagai seorang pendamping hidup. Mereka bersedia melakukan apa saja untuk cahayanya, hingga melakukan hal-hal yang OOC dan bukan Uchiha sekali demi dia. Yach, seperti Sasuke dengan Naruto itu.
"Aku senang kau menyayangi Naruto seperti kau menyayangi keluargamu sendiri. Tapi, itu salah."
"Maksud aniki?"
"Jika kau terus-menerus menyortir siapa yang boleh dan tidak boleh berdekatan dengan Naruto, lalu bagaimana Naruto belajar? Ia tak akan jadi kuat jika kau terus-menerus jadi babysisternya." Ujar Itachi penuh sayang memberi pengertian pada adiknya. "Kau tak perlu jadi ayah, ibu, atau bodyguardnya untuk menunjukkan rasa sayangmu pada Naru-chan. Cukup jadi saudara dan sahabat untuknya, yang menemaninya dan memberinya tempat bersandar saat ia sedih, lelah, dan terluka."
"Aniki.." bisik Sasuke menenggelamkan wajahnya pada tubuh sang kakak.
Sekarang, ia sadar kesalahan apa yang telah diperbuatnya selama ini. Ia memang terlalu over protektif, mencurigai siapapun yang terlihat dekat dengan Naruto. Ia bahkan curiga dengan kedekatan Kakashi-Naruto. Ia berpikir jika Kakashi punya maksud terselubung pada Naruto karena itu, ia selalu bersikap buruk di depan senseinya. Sasuke janji, setelah ini, ia tak akan lagi over protektif dan memberikan kebebasan yang pantas pada sahabat yang amat disayanginya.
"Bagaimana dengan rekan timmu yang lain? Kunoichi berambut pink itu?" tanya Itachi mengalihkan percakapan.
"Haruno? Yach lumayan. Dia cukup bagus untuk pekerjaannya. Tapi, dia terlalu berisik. Aku tak suka,"
Itachi tertawa geli mendengarnya. "Semua wanita memang berisik. Bahkan Ka-san juga berisik. Kau ingat? Ia sering memarahiku untuk segera menikah karena ingin segera menimang cucu. Tapi, itulah kelebihannya."
"Kelebihan?"
"Heem. Keberisikan wanita itu adalah tanda jika ia perduli dengan kita. Dengar Sasuke! Nii-chan kasih tahu rahasia besar tentang wanita," ujar Itachi membuat Sasuke menghentikan langkahnya sejenak. Ia mendengarkan dengan seksama apa yang hendak anikinya sampaikan.
"Wanita bisa jadi malaikat jika kau memperlakukan mereka dengan baik dan rendah hati. Karena itu, kau harus menjaga sikapmu di depan wanita. Jika tidak.."
"Jika tidak?" celetuk Sasuke penasaran.
"Jika tidak hidupmu tak akan pernah tenang. Kau akan dibayangi dengan kesialan dan segala macam kemalangan dari kaum ini." Ujar Itachi menuai tatapan tak percaya dari Sasuke. Itachi tersenyum kecil dan berbisik, "Wanita bisa jadi iblis jika kau bersikap buruk pada mereka. Itu sebabnya tou-san tak pernah memperlakukan kaa-san dengan buruk, meski kaa-san terkadang melakukan kesalahan,"
Dahi Sasuke mengernyit. Apa yang dikatakan kakaknya, ada betulnya, meski Sasuke tak akan mengakui. Sakura memang sangat memperhatikan rekan-rekan timnya ketika aura angelnya sedang keluar. Ia pasti yang pertama tahu, jika ada rekan timnya yang terluka. Dan, gadis pink itu akan sibuk dengan peralatan P3K dan akan berceramah macam-macam soal keselamatan tim.
Sebaliknya, saat aura iblisnya keluar, Sakura bisa jadi sangar layaknya monster. Biasanya sih, Sakura-evil-mode ini muncul pada saat Naruto sudah keterlaluan menggoda gadis itu. Gadis itu pasti langsung mengamuk dan menghajar Naruto sampai babak belur.
Kakashi biasanya langsung menyingkir begitu Sakura mengaktifkan mode evilnya. Ia tak ingin jadi korban amukan Sakura. Sedang, Sasuke? Yach, Sasuke bisa ditebak. Sasuke melihat acara pembantaian Naruto oleh Sakura dengan wajah bengong, tapi tetap cool andalannya seakan-akan itu sebuah film.
Di luar mode evilnya dan kecentilannya yang selalu mencoba menarik perhatian Sasuke, Sakura cukup membantu tim. Beberapa dari misi mereka nyaris gagal kalau Sakura tidak ada. Sakura yang pertama maju menghadapi klien mereka yang cerewet dan bengisnya minta ampun. Dan yang terpenting, gadis itu sangat bisa diandalkan dalam membuat laporan tim. Soalnya, Naruto dan Sasuke lumayan malas membuat laporan. Jadi, untuk urusan laporan mereka menyerahkan sepenuhnya pada Sakura.
"Atau kau lebih suka satu tim dengan Hyuuga?" ujar Itachi membuyarkan lamunan indah Sasuke. "Dia cukup hebat."
"Nope, nggak sudi." Balas Sasuke. "Dia itu terlalu suram dan yang terburuk dia sering pingsan jika diajak bercakap-cakap oleh lawan jenisnya. Misi kami pasti berakhir berantakan jika satu tim dengannya." Dalihnya ketika kakaknya dengan isyarat meminta penjelasan.
"Atau, nona Yamanaka?"
Sasuke membuat tanda silang besar, menolak mentah-mentah usul kakaknya. "Hiiiy…, lebih baik aku satu tim dengan Maito Guy daripada satu tim dengan gadis centil sok seksi itu."
Senyum Itachi semakin lebar. Tiba-tiba, ia ingin menggoda Sasuke lebih jauh. "Kau yakin? Haruno-san tidak terlihat kompeten. Dia tak punya jutsu andalan yang khas seperti nona Yamanaka dan nona Hyuuga itu. Aku yakin ia hanya akan membuat repot timmu saja."
Sasuke melemparkan delikan tak terima pada kakaknya. Entah mengapa ia tak senang mendengar sang kakak menjelek-jelekkan satu-satunya kunoichi dalam timnya. "Jangan bicara sembarangan! Kata siapa Sakura tak berguna? Ia mungkin payah, jutsu yang dikuasainya hanya sebatas rank D saja, tapi bukan berarti ia lemah." Ujar Sasuke ketus mengingat rekannya yang berambut pink.
"Aku tahu lebih dari siapapun. Sakura seorang kunoichi yang gigih. Ia berlatih lebih keras daripada kami untuk mengejar ketertinggalannya. Dan, aku lihat usahanya mulai menunjukkan kemajuan. Aku percaya kelak Sakura akan menjadi kunoichi yang hebat melebihi Yamanaka atau Hyuuga itu. Bahkan, ia mungkin bisa melampaui Tsunade-hime."
Alis Itachi mencuat ke atas, heran. Ini pertama kalinya Sasuke membicarakan orang lain selain Naruto dengan nada menggebu-gebu seperti ini. Jangan-jangan.. Ukh, mendadak perut Itachi mulas memikirkan sang adik jatuh cinta pada gadis berambut pink norak itu. Alamat ia akan menghabiskan waktu lebih banyak dengan gadis pink norak itu, dong? Ugh.. Itachi meneguk ludahnya kasar.
'Jika Sasuke menikah dengan Sakura, kira-kira anak-anaknya seperti apa ya? Jangan-jangan nanti keponakannya penggemar warna ngejreng seperti ibunya dan bukannya mengikuti warna kalem kesukaan ayahnya? Atau, yang terburuk, ia berambut pink seperti ibunya?' pikir Itachi dengan perut yang kini melilit perih seperti dipilin.
Itachi bisa menolerir keberadaan Naruto yang kadang-kadang diundang makan malam oleh ayahnya, tapi keponakan berambut pink? Heck! Tubuh Itachi mengejang membayangkan masa depannya nanti dengan keponakan-keponakan berambut pink yang berkeliaran di sekitarnya dan memanggilnya "Ji-san! Ji-san!" Mata Itachi membeliak horror. Berharap itu hanya bayangannya saja dan tak akan pernah menjadi kenyataan. Itu terlalu mengerikan.
'Semoga Sasuke tidak bersama Sakura. Semoga Sasuke tidak bersama Sakura.' Doa Itachi. Mulai hari ini, Itachi akan berdoa pada Kami-sama agar Sasuke tidak pernah menyukai gadis berambut pink norak rekan timnya di tim 7.
"Jadi kau sudah senang dengan timmu yang sekarang?" ujar Itachi mengabaikan pikiran absurdnya tentang Sasuke dan anak-anaknya kelak. 'Setidaknya, sekarang aku yakin kalau adikku bukan penganut aliran jeruk makan jeruk,' pikir Itachi berpositif thinking.
"Lumayan," ujar Sasuke berkebalikan dengan isi hatinya yang bilang, 'Bukan senang lagi, tapi bahagia. Inilah the dream team,'
Dan tanpa terasa, berkat percakapan ringan mereka, dua kakak beradik Uchiha ini sampai juga di kediaman mereka sebelum matahari tenggelam dari arah Barat.
…..*****…..
"Bagus. Dengan kemampuan kalian dan laporan bagus dari klien-klien kalian selama ini, ku rasa kalian sudah layak naik tingkat. Mulai besok kalian bisa mengambil misi rank C seperti pengawalan."
'Pengawalan? Ke luar desa dong?' pikir Naruto terkejut dan cemas dalam waktu bersamaan.
Naruto begitu larut dalam lamunannya hingga mengabaikan segala perkataan hokagenya. Ia masih diam seribu bahasa dan menanggapi sambil lalu pertanyaan Sakura yang antusias dengan kenaikan tingkat mereka selama perjalanan pulang. Otaknya begitu penuh dengan berbagai kemungkinan jika ia mendapat misi keluar desa.
"Maaf, aku pulang dulu. Aku ada latihan." Ujar Naruto berpamitan dengan sopan pada timnya. Ia butuh waktu untuk berfikir. Ia pun segera menghilang dalam kepulan asap, tak berniat menunggu jawaban rekan timnya.
Malamnya, Naruto berbaring dengan gelisah di kasurnya. Besok, untuk pertama kalinya ia mendapat misi keluar desa. Ia cemas jikalau penyusup yang dulu pernah berniat membantai klan Uchiha sekaligus yang telah membunuh kedua orang tuanya, kembali datang menyatroni Konoha setelah kepergiannya.
Naruto tak akan segelisah ini, jika para shinobi Konoha ada yang bisa mendeteksi kehadiran si penyusup itu. Sayangnya, selain Naruto tak ada yang bisa. Dan, ini sangat berbahaya. Pria bertopeng misterius itu bisa leluasa memasuki Konoha dan menyusup ke tempat-tempat rahasia di Konoha, tanpa ada yang mengetahuinya.
Bagaimana kalau ia memasuki kediaman hokage lalu membunuhnya dan mengambil mata Shisui-nii? Bisa saja kan ia memanfaatkan mata Shisui-nii yang bisa mengeluarkan jutsu Kotoamatsukami untuk rencana jahatnya? Atau, ia bisa saja memasuki tempat-tempat penting di Konoha lalu mencuri barang-barang berharga seperti gulungan jutsu S-rank. Dan, yang terburuk bagaimana kalau ia berusaha mencuri jasad keluarganya untuk mengambil cakra Kyuubi?
Naruto membalikkan tubuhnya jadi miring ke kiri menghadap tembok. Matanya menatap temboknya yang ia cat oranye menyala seperti warna bajunya. Biasanya, ia bisa tertidur setelah memandangi warna kesukaannya, namun hari ini matanya tampak enggan terpejam. Otaknya terlalu penuh dengan segala syak prasangka dan ketakutan ini, itu begitu ia sudah tidak ada di desa.
Kecemasan Naruto bukan mengada-ada. Naruto menyadari sesuatu yang penting yang terlewat dari perhitungan sang ayah untuk mencegah proyek mata bulan. Dari catatan penting ayahnya, ia tahu jika hokage kedua berhasil menciptakan jutsu untuk membangkitkan orang mati. Bagaimana kalau orang jahat itu berhasil menguasai jutsu Hokage kedua? Dengan jutsu ini, orang-orang jahat itu bisa saja membangkitkan ayahnya dan lalu merebut Kyuubi lagi. Dengan kata lain, dunia masih dalam bahaya.
"Ini tak boleh dibiarkan. Aku harus melakukan sesuatu untuk mencegahnya. Tak ada yang boleh mengotak-atik jasad tou-san dan kaa-san, apalagi membangkitkannya untuk tujuan buruk," kata Naruto.
Naruto bangkit dari acara berbaringnya. Sebelum bertindak, Naruto memetakan dimana saja para anbu bersembunyi, berpatroli untuk mengamankankan Konoha terlebih dahulu. Ia ingin memastikan semuanya aman dan misinya hari ini sukses. Ia pun bersiap-siap begitu semua informasi yang ia butuhkan ada di tangan.
Malam ini, Naruto mengenakan baju hitam-hitamnya agar tak menarik perhatian. Baju kebesarannya ia pajang manis dalam gantungan baju di dinding kamarnya. Ia harus melakukan rencananya malam ini juga sebelum ia memperoleh misi keluar desa. Naruto lalu bergerak cepat, namun hati-hati tanpa suara mendekati bangunan makam kedua orang tuanya.
"Ini dia," katanya lirih nyaris seperti hembusan angin. Tangannya dengan cekatan membuat goresan huruf-huruf fuin nan rumit yang hanya bisa dibaca Naruto di atas gulungan kertas. Ia sudah akan mengaktifkan jutsu itu saat sebuah suara menghentikannya.
"Sedang apa kau di sini, Naru-chan?"
"Eh," gumam Naruto dengan mata terbelalak. Ia terkejut mendapati hokagenya sedang menatapnya dengan tatapan malas di balik bayangan. "Aku..aku…"
"Ku harap kau punya alasan yang bagus untuk ini, Naruto. Apa kau tahu menyatroni makam shinobi penting Konoha hukumannya sangat berat. Aku bisa memasukkanmu ke dalam penjara dengan tuduhan mencuri jutsu, tak perduli meski itu jenasah kedua orang tuamu sendiri atau bahkan memberimu hukuman mati." lanjutnya sambil keluar dari balik bayangan.
"Aku tidak mencuri. Aku hanya..hanya menjalankan misi dari tou-san," ujarnya lirih.
Salah satu alis Shisui naik ke atas. "Misi? Misi seperti apa?"
"Nii-chan tahu bukan kalau besok aku ada misi keluar desa?"
"Hn, lalu?"
"Nii-chan masih ingat penyusup misterius yang dulu menyatroni kompleks Uchiha dan membantai sebagian Uchiha itu bukan?" Shisui mengangguk sebagai jawaban. "Dia lolos dari semua deteksi para shinobi sensor Konoha. Hanya aku seorang yang bisa mendeteksinya. Jika ia berniat menyusup ke Konoha lagi tanpa ketahuan, ia pasti akan menunggu aku tak ada di desa."
Naruto mengambil nafas sejenak sebelum kembali menjelaskan. "Dan, sekaranglah waktu yang tepat bagi mereka untuk memasuki Konoha,"
'Masuk akal,' pikir Shisui. Ia juga percaya pria bertopeng misterius itu suatu saat akann kembali ke Konoha cepat atau lambat. "Menurutmu, apa tujuan mereka mereka datang lagi ke Konoha, Naruto?" tanya Shisui ingin tahu opini juniornya ini.
"Mungkin untuk mencuri jasad keluargaku atau lebih tepatnya Kyuubi,"
Alis Shisui naik lebih ke atas. Keheranannya semakin menjadi-jadi. "Mencuri Kyuubi? Bisakah?" tanyanya setengah tak percaya mengingat keluarga Naruto sudah lama mati.
"Bisa dengan jutsu milik Hokage kedua yakni edo tensei. Mereka bisa menghidupkan tou-san atau kaa-san dengan jutsu edo tensei lalu mengekstrak cakra Kyuubi."
'Betul juga,' pikir Shisui menyetujui. "Lalu, apa rencanamu?"
"Aku akan memasang jebakan di jasad kaa-san, tou-san, dan Menma. Aku membuat segel yang berfungsi seperti alarm pada tubuh keluargaku. Siapapun yang datang ke tempat ini selain aku maka alarmnya akan aktif dan memberi tahu Konoha adanya penyusup."
"Dengan begitu kita bisa meringkusnya. Cerdas. Brilian. " puji Shisui.
"Tidak. Biarkan saja dia datang dan mengambil jasad keluargaku,"
"Kenapa?"
"Karena, dengan mengikuti penyusup itu, kita bisa tahu markas mereka bukan?"
"Tapi, bagaimana dengan jasad keluargamu, Naru-chan? Itu terlalu riskan."
"Tenang saja aku sudah menyiapkan rencana cadangan. Aku membuat segel lain yang berfungsi seperti timer. Jika ada yang mengotak-atik tubuh tou-san, kaa-san, atau Menma maka segelnya akan aktif dan berubah jadi bom. Dengan begitu jasad mereka aman dan tak bisa diotak-atik lagi."
"Apa kau yakin?"
"Ya. Aku sudah mengujinya bersama Jiraiya-sensei,"
"Baiklah aku setuju dengan rencanamu. Aku akan memberimu misi ini, misi rank S bersama Kakashi. Kau sudah dengar rencana Naru-chan bukan, Kakashi?"
"Ya," jawab orang yang dimaksud. Tak lama kemudian, Kakashi pun keluar dari balik bayangan.
"Sensei? Kenapa sensei bisa ada di sini?" tanya Naruto terkejut. 'Dan kenapa aku tak menyadarinya?' tambahnya dalam hati.
"Aku jadi anbu elit bukan tanpa alasan Naruto," jawab Kakashi. "Kau mungkin sudah sangat familiar dengan cakraku hingga kau lupa untuk mewaspadaiku. Iya, bukan? Kau ceroboh, Naruto. Itu bisa membahayakanmu. Bagaimana kalau aku ini berubah jadi musuhmu?"
"Maaf, sensei."
"Anggaplah ini pelajaran untuk lebih hati-hati dan tidak meremehkan, meski kau berada di daerahmu sendiri dan bersama orang-orang yang kau percayai."
"Hai'k, sensei."
Setelah itu, Naruto melanjutkan misinya, menulis huruf-huruf fuin yang membentuk segel. Segelnya, ia samarkan dengan sangat baik sehingga jika kau tak menggunakan doujutsu mangenkyou saringan, kau tak akan bisa membacanya.
Diam-diam, Kakashi menatap Naruto penuh rasa bangga. Anak didiknya telah banyak berkembang. Di usianya yang masih belia berhasil menciptakan jutsu baru. Hahh, ia jadi mengingat masa-masa saat ia muda dulu, tepatnya ketika ia menciptakan jutsu chidori yang sampai sekarang belum ia wariskan pada siapapun. Dengan kata lain, baru Kakashi seorang yang menguasai chidori ini.
"Sekarang istirahatlah. Kalian masih ada misi penting besok. Untuk urusan di sini, serahkan padaku."
"Hai'k!" balas keduanya kompak sebelum menghilang.
Shisui menatap keduanya sebelum mengalihkan perhatiannya pada jasad Yondaime. "Anda beruntung memiliki putra yang cerdas seperti Naru-chan. Ia bahkan bisa berfikir sampai sejauh itu." Ujar Shisui sebelum melakukan shunshin kembali ke kediamannya.
…..*****…
Kepergian tim 7 diantar oleh Hokage-sama dan ketua anbu Konoha yang berdiri di sampingnya. Hokage mereka memberi petuah singkat pada tim 7 karena ini misi perdana mereka keluar desa. Khusus untuk Sasuke, ia mendapat tambahan bonus petuah dari Hokage mereka.
"Jaga sikapmu, Sasuke! Aku tak mau dengar hal-hal buruk mengenaimu di luar sana yang akan mencoreng nama baik Konoha dan juga klan kita, klan Uchiha,"
"Hn," gumam Sasuke acuh dan melenggang pergi begitu saja diikuti tatapan minta maaf dari Kakashi.
'Bocah sialan!' gerutu Kakahi dalam hati. 'Ia masih saja tak berubah. Tetap saja songong. Kayaknya ia butuh treatmen yang lebih keras untuk melunakkan sikapnya,' batin Kakashi sudah menyusun tema latihan najis untuk Sasuke.
"Kau kenapa Sakura? Dari tadi diam saja. Ada masalah?" tanya Naruto setelah agak jauh meninggalkan desa.
"Sepertinya anikinya Sasuke tak suka padaku. Ia terus-menerus mendelik padaku," ujar Sakura menghela nafas lelah. "Apa ada yang salah denganku?"
Naruto tersenyum keki. Sebenarnya, ia sudah tahu apa yang membuat Itachi-nii tak suka dengan Sakura. Secara, Naruto juga pernah diberi tatapan yang sejenis karena kegemarannya memakai baju menyala. Tapi, ia tak tega mengatakannya. Ia tak ingin membuat gadis ini terluka dan lalu tak percaya diri dengan dirinya sendiri.
"Mungkin hanya perasaanmu saja."
"Kau pikir aku buta? Ia jelas-jelas menatapku sangar."
"Eto..itu.. Ukh.." Naruto mati gaya. Ia terpojok sekarang.
"Abaikan saja!" balas Sasuke dengan niat menghibur. Namun, Sakura masih berduka. Awan mendung masih menghiasi emeraldnya. "Mungkin aniki kurang piknik. Soalnya, hokage kita lumayan kejam untuk urusan libur. Dalam sebulan ini, aniki hanya mendapat cuti satu atau dua hari saja. Itu pun sering dibatalkan." Jelas Sasuke.
"Benarkah?" tanya Sakura ingin tahu.
Sasuke mengangguk sebagai jawaban. "Kelak, aku tak bakalan mau dipilih jadi ketua anbu. Aku tak mau mengorbankan hari liburku untuk tetek bengek bernama misi."
'Hanya orang gila yang memilihmu jadi ketua anbu,' balas Kakashi dalam hati, mengomentari pernyataan Sasuke sambil berjalan di belakang Tazuna klien mereka. 'Atau orang yang putus asa karena tak ada yang menyalonkan diri selain dirimu,' tambahnya masih dalam hati.
"Tapi, ku rasa Konoha tak akan sesibuk itu kalau kau jadi ketua anbu," celetuk Naruto.
"Maksudmu?"
"Yah, kau dengan tatapan beracun dan kata-kata sadismu sudah cukup untuk membuat musuh-musuhmu lari tunggang langgang sebelum mereka berfikir mau menyerang Konoha." Goda Naruto.
"Diam kau!" gerutu Sasuke galak yang membuahkan tawa kecil dari Naruto.
Naruto menghentikan tawanya saat merasakan cakra asing di depan mereka. Orang itu memang menolkan cakranya, namun Naruto masih bisa merasakan cakra yang familiarnya dan juga hawa membunuhnya. Matanya menyipit curiga melihat genangan air tak jauh dari tempatnya berdiri. Well, begitu pula dengan Kakashi, Sasuke dan Sakura.
Mereka berkomunikasi lewat mata. Mereka membuat formasi dengan hati-hati, berpura-pura tak menyadari keberadaan shinobi yang mengintai mereka di depan. Meski sudah siap, Sakura tetap saja berteriak terkejut saat tubuh dua shinobi muncul dari genangan air dengan rantai panjang membelah tubuh Kakashi jadi dua.
"Sakura ambil posisi!" perintah Naruto. Naruto dan Sasuke maju ke depan untuk menghadapi musuh mereka.
Sakura meski belum hilang rasa terkejutnya dan ada rasa takut menggelayutinya melihat pembunuhan pertama di depan matanya, namun ia tak lupa dengan misinya. Ia menyiapkan kunainya melindungi kakek Tazuna dengan nyawa taruhannya. Ia tak bisa mengendorkan kewaspadaannya sedikitpun sebelum Sasuke dan Naruto membunuh dua shinobi itu.
Setelah membereskan musuhnya, barulah Kakashi muncul. Rupanya, yang lawan mereka bunuh dengan rantai itu adalah chi-bunshin Kakashi untuk memberi kesempatan Naruto, Sasuke, dan Sakura menghadapi lawan mereka. Ia tersenyum bangga dengan cara kerja ketiga genin asuhannya.
"Bagus, kalian hebat. Kalian bisa tetap tenang menghadapi situasi seperti apapun dan tak lupa dengan misi kalian." Puji Kakashi sebelum memandang Tazuna dengan tatapan mengintimidasi. "Well, Tazuna-san sepertinya ada yang lupa kau sampaikan pada kami. Seharusnya misi ini hanya melindungi anda dari gerombolan perampok dan bukannya ninja pelarian seperti..."
"Sudahlah sensei. Tak usah dibahas lagi. Lebih baik kita segera berangkat agar cepat sampai ke desa Nami." Potong Naruto.
"Naruto!" cela Kakashi tak suka dengan sikap seenaknya Naruto yang terkadang muncul.
Kakashi tahu anggota timnya bukan hanya meriah dalam penampilan, dengan kemampuan yang lumayan timpang, namun juga khatam dengan sisi lain dari mereka. Jika Sakura seorang fansgirl Sasuke akut cenderung gila, Sasuke mempunyai watak arogan, egois, megalomaniak, maka Naruto ini orang paling seenaknya sendiri. Di samping berisik.
"Sensei! Anda tahu kan desa Nami itu seperti apa? Desa Nami itu berbatasan dengan Kirigakure yang tengah dilanda perang saudara saat ini. Mana mungkin mereka punya uang yang cukup untuk membayar misi rank B?" jelas Naruto dengan wajah bosan. "Aku tak mau pulang ke Konoha dengan alasan dibohongi klien. Aku tak mau jadi bahan ejekan Kiba. Apapun yang terjadi aku akan tetap melanjutkan misi ini. Jika sensei enggan, sensei bisa balik lagi ke Konoha tanpaku.
'Oh, tambahkan pula kekeras kepalaannya yang melegenda.' Gerutu Kakashi dalam hati. Kakashi hanya bisa mengelus dada dan berdoa agar diberi kesabaran yang tanpa batas oleh Kami-sama untuk menghadapi tingkah polah buruk genin asuhannya. "Bagaimana dengan kau dan Sakura? Apa pendapat kalian?" tanya Kakashi pada Sasuke dan Sakura.
"Aku ikut si Dobe," jawab Sasuke menuai kernyitan tak terima dari Naruto dan celaan dengan sikap tidak sopannya Sasuke dari Kakashi.
"Aku…" Sakura ragu-ragu mengambil keputusan.
"Tenang saja Sakura. Sensei kita ini hebat. Ia mendapat julukan Kakashi Si Ninja Peniru yang konon sudah mencopy 1000 jutsu. Aku yakin ia akan tak akan membiarkan kita mati terbunuh," sahut Naruto dengan santainya membuat Kakashi mengernyit tak suka. Secara tak langsung, Naruto berniat mengorbankan dirinya untuk keberhasilan misi mereka.
"Kalau begitu, aku setuju denganmu," ujar Sakura tak ingin kalah dari dua rekannya. Toh, kemampuan Sasuke dan Naruto juga mumpuni. Keduanya pasti mampu menghadapi lawan mereka nanti.
"Terima kasih," ujar Tazuna tulus. Ia terharu dengan jiwa social para genin muda Konoha. Meski, ucapan bocah pirang itu terdengar egois dan seenaknya, namun ia bisa membaca watak social dan gemar menolong bocah itu. 'Beda sekali dengan genin-genin Kirigakura,' pikirnya muram.
Ia sedih dengan keadaan ekonomi desanya yang terpuruk dan carut marut, terseret dampak buruk dari perang saudara di desa Kirigakure. Tekadnya untuk membangun jembatan semakin berkobar dalam hatinya. Baginya, itu bukan hanya sekedar jembatan, tapi tekad, impian dan semangat untuk melawan kedzaliman dan keserakahan orang-orang jahat seperti Gatou.
….******…..
Tangan Shisui terhenti di udara, ketika Itachi memasuki ruangannya tanpa suara dan juga Jiraiya yang masuk dengan gayanya yang heboh. "Bagaimana?"
"Ada penyusup yang mencuri jasad Menma, seperti katamu." Jawab Itachi.
"Lalu, bagaimana dengan alat pemancarnya?"
"Bekerja dengan baik. Pemancar menunjukkan kalau si penyusup mengarah ke desa Amegakure, lebih tepatnya ke tengah hutan Kengerian. Mungkin, mereka membuat markas di Labirin Monster."
"Bagus. Misimu sekarang menyelidiki Yagura."
"Yagura? Untuk apa?" tanya Jiraiya heran. "Kau jangan ikut campur urusan Kirigakure! Itu sangat berresiko, bisa memicu perang dunia keempat."
"Aku tahu. Tapi, aku harus mengambil resiko ini. Aku curiga ada yang menggenjutsu Yagura untuk memusnahkan pemilik kekai genkai. Yagura yang ku kenal sangat menyayangi warga desanya. Dia tak mungkin mengambil keputusan kejam seperti itu pada warga desanya."
"Genjutsu seperti Kotoamatsukami?" tanya Itachi.
"Aku juga tak tahu teknik seperti apa yang ia gunakan. Tapi, mungkin yang setara dengan itu. Karena itu, aku perintahkan kau dan Jiraiya-san untuk menyelidiki masalah ini. Aku tak akan heran kalau dibalik semua ini ada pria bertopeng misterius yang telah menyatroni Konoha dua kali."
"Hai'k"/ "Hai'k" jawab Itachi dan Jiraiya bersamaan. Mereka lalu undur diri dan membiarkan Shisui kembali berkutat dengan tumpukan laporannya.
TBC
Sampai jumpa chapter selanjutnya. Aku usahakan update cepat lagi. Terakhir, mohon saran dan kritiknya.
