Not Mainstream
DISCLAIMER : Naruto Belongs to Masashi Kishimoto
Genre : Adventure dan Family
Rating : T
WARNING : No YAOI, No shounen ai, murni straight, bertebaran typo, gaje, smart_Naru, Canon dan bashing beberapa chara.
Author Note : Beberapa adegan di canon Ai potong, menyesuaikan alur yang udah Ai susun. Untuk pairing bisa mengikuti canon bisa juga Ai buat pairing sendiri. Naruto bisa Ai pasangin sama siapa saja atau bahkan dengan OC.
Terima kasih Ai ucapkan untuk para reader yang telah berkenan meninggalkan jejak di kotak review, memfollow, dan memfav fic gaje ini yang tidak bisa Ai sebutkan satu per satu. Maaf Ai tidak bisa membalas semuanya. Arigato Gozaimasu. /(_)\
Don't Like Don't Read
Chapter Nine
Ujian Chunin
Shisui menatap Kakashi dan Itachi, dua orang kepercayaannya, bergantian. Dengan isyarat mata, ia menyuruh bawahannya untuk melaporkan apa saja yang perlu dilaporkan, dimulai dari Kakashi.
"Misi sukses, meski ada sedikit gangguan…" Kakashi berhenti sejenak untuk mengambil nafas. "..dari missing nin Kirigakure, Momochi Zabuza," lapornya.
Tubuh Itachi dan Shisui sesaat menegang, mendengar tim 7 berhadapan langsung dengan Momochi Zabuza dari Kirigakure. Selama ini, Zabuza terkenal sadis dan tak pandang bulu. Ia selalu menghabisi semua lawannya, meski ia hanya seorang bocah. Dan, tim 7 mendapat lawan seperti itu di misi pertamanya keluar desa? Entah ini termasuk keberuntungan tim Sasuke atau justru sebaliknya kesialan.
"Lalu, bagaimana kalian bisa selamat?" tanya Shisui berusaha tetap tenang, meski hatinya mencak-mencak tak karuan.
Misi rank B untuk genin pemula? Huh, dengusnya kasar. Shisui menyumpah serapahi dirinya sendiri dalam hati, mengutuk ketololannya karena telah salah memberi misi. Bagaimana bisa ia seceroboh itu, hingga tidak menyadari gelagat aneh si Tazuna-san, ketika ia mengajukan misi pengawalan ke desa Nami? Ia merasa kecolongan kali ini. Ia mencatat dalam hati, untuk lebih hati-hati dan memeriksa lebih seksama latar belakang si pemberi misi, sebelum memilih tim yang tepat untuk misi itu.
Untunglah, yang menerima misi berbahaya ke desa Nami ini tim7. Jika tim genin lain yang menerima? Tubuh Shisui bergidik. Bulu halus di tengkuknya meremang. Ia tak berani membayangkannya, sungguh. Terlalu ngeri soalnya. Bukannya ia menyepelekan tim genin lainnya, atau mengagungkan kemampuan Sasuke dan Naruto, tapi itulah faktanya. Faktanya, kemampuan Sasuke dan Naruto memang melampaui teman-teman seangkatannya, hampir setara dengan Iruka-sensei dan sedikit di bawah Kakashi.
"Naruto bertarung dengan Zabuza, sedangkan Sasuke melawan…" lapor Kakashi memutus lamunan indah Shisui.
Braakk! Terdengar suara barang terjatuh memecah keheningan yang mencekik. "Kau bilang apa tadi? Naruto melawan Zabuza?" potong Shisui dengan wajah horror. Ia setengah tak percaya mendengar penuturan Kakashi. Kakashi mengangguk sebagai jawaban. Wajah Shisui memucat. "Kau gila!" pekik atau maki Shisui.
"Well, aku tak berniat menyuruh Naruto melawan Zabuza, tapi kondisi di lapangan menuntut demikian," bela Kakashi. "Lukaku belum sembuh benar dan aku gagal menemukan posisi Zabuza. Ia bersembunyi dengan sangat baik diantara kabut tebal. Saringanku tidak banyak berguna." dalihnya
"Itu tidak bisa dijadikan sebuah pembenaran. Itu adalah keputusan yang sangat tolol dan fatal. Sebagai seorang pembimbing, kau gagal," Desis Shisui dengan wajah yang merah padam, terbakar oleh amarah.
"Aku tahu Naru-chan seorang sensorik yang handal, tapi tetap saja itu berbahaya." Ujar Itachi yang sejak tadi diam, berpendapat. Ia setuju dengan Shisui, jika keputusan Kakashi kali ini sulit dibenarkan.
"Aku tahu dan aku sadar itu. Tapi, sekali lagi aku tak punya pilihan lain. Hanya Naruto yang bisa melawan Zabuza, karena hanya dia yang bisa mendeteksi keberadaannya. Dan, ku pikir keputusanku sudah tepat," aku Kakashi.
"Tepat? Apa kau masih waras Kakashi? Apa menjadi pemimpin anbu membuat sekrup-sekrup di otakmu longgar?" omel Shisui tak habis pikir.
"Zabuza terkenal dengan kepiawaiannya menggunakan pedang. Ia termasuk 7 dari pendekar pedang legendaries dari Kirigakure. Bagaimana mungkin Naruto bisa mengalahkannya? Dan lagi, dengan apa Naruto melawan Kubikiribocho milik Zabuza, Hah? Dengan kunai? Shuriken? Pedang kayu? Centong sayur? Atau pisau dapur?" Sindir Shisui dengan sorot mata menyalahkan.
"Buktinya, ia mampu mengatasi perlawanan Za..."
"Tak mungkin," potong Shisui sangsi.
"Hn?" gumam Itachi tak jelas, lagi-lagi menyetujui pendapat Shisui dalam diam.
"Aku tak bohong. Naruto benar-benar bisa mengimbangi permainan Zabuza. Ia bahkan berhasil mematahkan Kubikiribocho dengan pedang peninggalan Menma. Tahu sendiri kan kehebatan pedang Menma?" Jelas Kakashi mengingatkan.
Shisui dan Itachi diam menyimak. Mereka sudah tahu kehebatan pedang peninggalan Menma. Pedang itu selain sangat tajam juga mampu mengendalikan angin. Konon, Menma bisa membunuh puluhan bahkan ratusan musuhnya yang bersembunyi di tengah kobaran api dengan pedang ama-no-murakumo-no-tsurugidalam sekejab mata. 'Kalau dengan pedang Menma sih mungkin saja,' pikir keduanya mulai percaya.
"Lalu?" ujar Shisui menyuruh Kakashi melanjutkan laporannya.
"Lalu, Zabuza mati. Ia mati bukan karena dibunuh Naruto, tapi mati kehabisan darah dan kelelahan, usai bertarung dengan Naruto dan 1000 orang pasukan Gotou yang berniat mengkhianatinya sekaligus. Begitu pula rekannya yang bernama Yuki Haku. Ia mati ditangan Sasuke," Pungkas Kakashi mengakhiri laporannya.
"Jika semuanya kau serahkan pada murid-muridmu, lalu tugasmu apa?" sindir Shisui sinis.
"Jadi mandor mereka lah," jawab Kakashi seenak udelnya, yang mendapat lemparan shuriken dari Shisui dan getokan gagang tanto di kepala dari Itachi, atas sikap kurang ajarnya yang melewati batas. "Well, maksudku, aku mengawasi dan melindungi mereka dari jauh. Aku kan mentor mereka," belanya sambil nyengir gaje di balik maskernya.
Shisui diam mencerna. Ia cukup puas dengan laporan Kakashi, meski kurang sreg juga melihat bagaimana tidak bergunanya Kakashi dalam misi ke desa Nami. "Kau harus lebih bijak menggunakan saringanmu, Kakashi. Jangan sampai kejadian overload seperti misi ke desa Nami terulang lagi!" ujar Shisui mengingatkan dan diiyakan Kakashi. Selanjutnya, ia menoleh pada Itachi. "Lalu bagaimana dengan kau?"
Itachi menarik nafas panjang sebelum menjawab. "Persis seperti dugaanmu. Yagura digenjutsu seseorang, sehingga ia berubah menjadi sangat kejam pada rakyatnya sendiri. Tebakanku, dia pria yang sama dengan yang menyerang kompleks Uchiha beberapa tahun yang lalu. Dia muncul sesaat usai kami bersama tim Terumi Mei berhasil mengalahkan Yagura."
"Apa yang diinginkannya?"
"Mengambil Sanbi dari Yagura. Tapi, gagal karena Sanbi terlanjur melarikan diri, entah kemana. Sekarang Sanbi jadi satu-satunya bijuu yang tidak memiliki host."
"Satu-satunya? Lalu Kyuubi?" tanya Kakashi heran.
"Kyuubi tidak mati, Kakashi. Dia masih hidup dan kini sedang bersemayam di tubuh seseorang."
"Itu tidak mungkin, Itachi? Kita semua tahu, Kyuubi sudah tewas bersamaan dengan matinya Menma," tutur Kakashi tak percaya.
"Aku mendengarnya sendiri dari Sanbi setelah genjutsu pada Yagura aku patahkan. Ia bilang para bijuu memiliki cara tersendiri untuk berkomunikasi. Ia tahu Kyuubi masih hidup di dunia ini di tubuh seseorang. Hanya saja, dia tak tahu dimana tepatnya?"
Shisui manggut-manggut. 'Persis seperti dugaanku,' batinnya. Dan, ia sudah bisa menebak siapa jinchuuriki Kyuubi yang baru. Dia..
"Sekarang bagaimana?" tanya Itachi membuyarkan lamunan Shisui.
"Kita pending dulu masalah ini. Kita punya masalah yang lebih penting saat ini."
"Apa?" tanya Kakashi / "Hn?" Itachi.
"Tahun ini, Konoha ditunjuk sebagai tuan rumah ujian Chuunin. Kita harus mempersiapkannya secara matang. Jangan sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan selama ujian Chuunin berlangsung." Ujar Shisui. Kakashi dan Itachi mendengarkannya dengan penuh khidmat.
"Itachi, misimu membentuk tim pengamanan selama ujian Chuunin. Kakashi, aku memberimu misi mengirim surat ke Amegakure. Amati keadaan desa itu khususnya pemimpinnya. Aku mencium sesuatu yang tidak beres di sana dari laporan Tuan Jiraiya."
"Lalu bagaimana dengan timku?" tanya Kakashi terdengar enggan.
"Oh, tenang saja. Kau bisa mempercayakan timmu pada Maito Guy." Ujar Shisui.
Singg… Ruangan Shisui mendadak hening senyap. Tak ada suara apapun yang terdengar, bahkan tarikan nafas nan halus pun terdengar seperti sebuah dosa besar. 'Si monster hijau itu,' pikir Itachi / 'Si gila semangat masa muda itu,' pikir Kakashi tak suka. 'Tak bisa dibiarkan,' pikir keduanya kompak. Kedua mata Kakashi dan Itachi kini memicing. Aura keduanya yang tadinya netral berubah jadi lebih suram. Jika di anime, mungkin background keduanya digambarkan seperti ular hitam yang meliuk-liuk.
"Aku yakin ia tidak..ukh.." Shisui menelan air ludahnya susah payah, merasa tak nyaman dengan aura yang sejak tadi dikuarkan oleh kedua orang kepercayaannya. "…keberatan…" lanjut Shisui lirih nyaris seperti sebuah bisikan.
Tubuhnya mendadak menggigil, merasakan KI yang begitu intens dari dua orang bawahannya. Kakashi bahkan dengan kurang ajarnya memamerkan tantonya, mengasahnya dan mengayun-ayunkannya tepat di depan Shisui. Sedang, Itachi? Yach jangan tanya! Ia sudah bersiap dengan teknik sharingannya. Oniksnya perlahan berubah warna begitu pula bentuk pupilnya. Bulir keringat dingin membasahi punggung Shisui. "Ka-kalian kenapa?" tanyanya gugup.
"Bukan apa-apa. Hanya memeriksa tantoku. Sepertinya sudah lama sekali tanto ini tidak ku gunakan. Apa hokage-sama mau membantu saya untuk mengujinya?" jawab Kakashi dengan entengnya sambil mengayunkan tantonya. Trang! Dalam sekejab mata, ranting tanaman bonsai yang terletak di salah satu sudut meja Shisui terbelah jadi dua. Matanya berkilat berbahaya, membuat Shisui mendadak sesak nafas. Ia merasa pasokan oksigennya direbut semua oleh Kakashi.
'Timku dilatih si Guy? Hell no. Selama aku masih hidup jangan harap itu terjadi. Aku tak akan membiarkan si Guy menularkan virus semangat mudanya pada murid-muridku yang manis-manis.' batin Kakashi menatap hasil karyanya penuh dendam, seolah-olah itu tubuh musuhnya, alih-alih ranting tanaman.
Tak tahan dengan ekspresi psycho di wajah tampan Kakashi, Shisui pun berpaling pada sahabat karibnya. Deg. Jantung Shisui berdegup kencang. Shisui melotot horror melihat mata merah Itachi berputar sangat cepat, terarah padanya. Tangannya yang gemetaran berpegangan pada tepi meja, menahan tubuhnya agar tidak tersungkur ke lantai. "Chi?" cicitnya was-was. 'Apa yang mau dilakukannya?' batinnya tidak tenang.
"Hn, sepertinya sudah lama sekali kita tidak berlatih bersama. Bagaimana kalau kita melakukan sparring ringan? Hari ini, kau tidak terlihat sibuk," ujar Itachi dengan seringai mencurigakan di bibirnya. Auranya tak kalah kelamnya dengan Kakashi.
'Mana mungkin aku membiarkan otoutoku dekat-dekat dengan si Guy. Bagaimana kalau ia mencemari pikiran Sasuke seperti yang dilakukannya pada Rock Lee dan Naruto. Aku tak mau adikku menjadi the next Maito Guy kedua setelah Lee?' pikir Itachi. Bayangan Sasuke mengenakan spandek ketat seperti lontong warna hijau lumut dan berteriak, 'Semangat masa muda!' berkecamuk liar di kepala Itachi. Huek! Tubuhnya bergidik ngeri. 'Langkahi dulu mayatku sebelum itu terjadi,' tekadnya bulat.
Ia sudah berusaha menolerir kegilaan Shisui selama ini, tapi ini sudah sangat keterlaluan. Ia sudah cukup bersabar, menerima apapun perintah Shisui tanpa banyak protes, meski itu berat. Ia bahkan tak mengeluh menjalani misi berat ke Kirigakure beberapa hari yang lalu, meski itu sangat menguras tenaga dan emosinya.
Ini bukan karena lawannya jinchuuriki Sanbi, atau pria bertopeng misterius. Tapi, karena teman seperjalanannya itu Jiraiya. Kau tahu, melakukan misi bersama Jiraiya yang doyan ngintip cewek-cewek mandi itu sebuah perjuangan yang maha berat bagi Itachi. Dia sukses membuat Itachi setres berat dan ingin melakukan harakiri.
Nama baik Itachi yang selalu ia jaga secara hati-hati selama ini, hancur dalam waktu semalam oleh seorang Jiraiya. Sungguh, Itachi tergoda untuk menggunduli rambut indahnya bak bintang iklan sunk***k sampai licin plontos seperti kepala Chiriku, saking frustasinya.
Tak sampai di situ saja kesialannya. Ketika sampai di Kirigakure, ia menjadi korban harassment seksual oleh mbak centil bin kegatelan aka si Terumi Mei. Apa wanita cantik nan seksi ini kehabisan stok pria ganteng di desanya, sampai ia melemparkan dirinya pada Itachi? Itachi tak tahan dengan godaan si Mei hingga membuatnya berniat mencari kunainya untuk melakukan sepuku saat itu juga.
Tapi, sepertinya itu belum cukup untuk memuaskan kegilaan seorang Shisui. Ia masih perlu menambahkan cobaan lagi untuk Itachi dengan melempar adik kesayangannya pada makhluk ganas macam Maito Guy. 'What the hell? Apa-apaan ini?' batin Itachi sambil menyumpah serapah dengan ahlinya dalam hati.
Sudah cukup. Ini tak bisa dibiarkan lagi. Ia harus bertindak untuk menghentikan Shisui dan segala obsesinya. Sumpah, demi kipas kesayangan Madara, ia akan mengirim Shisui ke dunia Tsukuyomi yang paling menyakitkan, jika Shisui jadi menyerahkan adiknya pada Maito Guy.
Aura yang dua orang itu kuarkan semakin tidak enak, membuat Shisui berfikir, 'Apa aku akan mati di tangan orang kepercayaanku sendiri. Ukh, tragis sekali nasibmu, Shisui. Kau mati muda seperti Minato. Tapi, setidaknya Minato sudah beristri dan punya keturunan untuk meneruskan namanya, sedangkan kau masih bujangan. Ukh, itu lebih miris lagi,'
Shisui meneguk susah payah air ludahnya untuk membasahi kerongkongannya yang kering. "Well, ku-kurasa Guy tidak bisa melatih tim 7. Aku baru ingat kalau ia ada misi keluar desa." Ujar Shisui mencari-cari alasan yang tepat untuk membatalkan rencana awalnya, demi keselamatan jiwa dan raganya. "Lebih baik Naruto dkk ikut tim 10 melakukan misi ke kuil api," tambah Shisui yang menuai helaan nafas lega dari Kakashi dan Itachi.
Itachi dan Kakashi segera menon aktifkan KI-nya, setelah yakin Shisui tidak akan menyerahkan Naruto dkk pada Monster Hijau Konoha. Kakashi menyimpan kembali tantonya, sedangkan Itachi yach matanya kembali seperti semula. "Itu bagus juga." Sahut Kakashi menimpali.
"Ehem!" Shisui berdehem untuk menyelamatkan wibawanya yang tersisa. "Ku rasa tidak ada lagi yang perlu dibahas sekarang. Kalian bisa kembali ke kediaman kalian masing-masing untuk beristirahat," ujar Shisui sambil mempersilakan keduanya keluar ruangan. Fiuhh.. terdengar suara helaan nafas lega. 'Akhirnya, aku selamat,' batin Shisui. Ia mengusap peluh yang menggantung di keningnya.
Usai kepergian Kakashi dan Itachi, Shisui termenung seorang diri di ruangannya. Ia mengeluarkan selembar foto dari dalam laci penyimpanannya dan memandanginya dengan penuh kerinduan. Foto itu berisi foto sang ayah yang sedang menggendong Shisui kecil bersama Minato muda.
"Tou-san. Aku janji akan melindungi Konoha dari pria misterius itu, meski nyawaku taruhannya," ujar Shisui lirih dengan tatapan mata penuh tekad. Ia buru-buru menyimpan kembali fotonya, ketika pintu ruangannya diketuk dari luar. "Masuk!" perintah Shisui penuh wibawa dari dalam.
…*****….
Naruto berjalan dengan riang. Sesekali, ia bersenandung. Suaranya tidak merdu, tapi juga tidak buruk-buruk amat. Setidaknya itu masih lebih baik daripada suara 'Kress…kress..kraukk…kraukk…' dari Choji yang tengah sibuk ngemil sepanjang perjalanan. Dan, pasti lebih merdu dari suara 'Hoahh..hm..' kuapan lebar dari seorang Shikamaru. Atau, suara cekikan dari dua kunoichi Konoha yakni Ino dan sahabatnya Sakura. Asuma dan dan Sasuke absen menyumbangkan suaranya untuk meramaikan rombongan ini.
"Oy, Dobe!" bisik Sasuke sambil mencolek bahu Naruto untuk minta atensinya.
"Apa?" balas Naruto sudah terlalu malas mengoreksi panggilan Sasuke. Percayalah, meluruskan Sasuke itu salah satu pekerjaan paling sulit di dunia. Orang tuanya yang garang saja mental, apalagi seorang Naruto.
"Kenapa kau setuju dengan misi ini?"
"Daripada disuruh bersih-bersih sungai Yamatai."
"Apa bedanya? Kan sama-sama bersih-bersih juga,"
"Setidaknya di sini, aku bisa bertemu dengan Chiriku, salah satu dari 12 ninja pelindung Negara Api. Itu tuch yang punya simbol kanji api seperti punya Asuma-sensei," kata Naruto sambil menunjuk kain segitiga di bagian pinggang jounin pembimbing tim Shikamaru.
Sasuke melirik Asuma, tepatnya pada kain di pinggang Asuma. "Memang apa hebatnya?" bisik Sasuke setengah mengejek.
"Aish, kau itu pernah baca sejarah Konoha nggak sih? 12 ninja pelindung negara api itu pasukan elit penjaga daimyo. Tapi, karena lain sebab, anggotanya yang masih hidup tinggal dua orang, yakni Chiriku dan Asuma." Jelas Naruto.
"Lalu?"
"So, kepala mereka sangatlah mahal, dihargai sampai puluhan juta ryo."
Tubuh Sasuke bergidik. "Aku tak percaya kau punya hobi seperti itu. Sadis! Tidak sesuai dengan wajahmu yang innosen," desis Sasuke.
"Is, bukanlah. Aku mana ada niat seperti itu. Memangnya aku ini orang kere yang butuh uang banget sampai rela melakukan pekerjaan hina itu. Aku hanya menunjukkan padamu betapa penting posisi Chiriku di dunia shinobi," ujar Naruto kesal dituduh yang bukan-bukan oleh Sasuke.
"Kalian bisik-bisik apaan, sih?" tanya Choji mendadak muncul diantara SasuNaru.
"Uwach," pekik Naruto kaget hingga terlonjak ke belakang, nyaris terjengkang dengan tidak elitnya. Begitu pula dengan Sasuke, tanpa adegan nyaris terjengkang. Wajah Choji yang mendadak close up muncul di depan mereka itu horror banget, mirip setan badut yang sedang melakukan cilukba pada korban-korbannya.
Naruto tertawa hambar begitu berhasil menguasai diri. "Ha ha ha.. bukan apa-apa. Aku hanya well sedang membicarakan Kakashi-sensei. Ya Kakashi-sensei," bohongnya.
Wajah Choji tertekuk masam. "Sekarang kau berubah, Naru. Semenjak se-tim dengan Sasuke, kau mulai main rahasia-rahasiaan dengan kami. Kau sudah lupa dengan kami, sahabat pertamamu," keluh Choji kecewa.
"Choji bukan begitu. Aku tak bermaksud menyembunyikan sesuatu darimu," jelas Naruto, namun Choji melengos tak percaya. "Sungguh, aku tak bohong. Bagiku kau dan Shika tetap teman terbaikku. Tadi kami hanya bicara masalah sepele, bukan sebuah rahasia besar. Please, percayalah padaku!" pinta Naruto dengan suara dan ekspresi memelas banget.
"Ha ha ha.." Choji tertawa terbahak-bahak hingga air mata menggenang di sudut matanya. "Kau tertipu, Naruto. Lihatlah wajahmu! Itu lucu sekali. Ha ha ha…" kata Choji masih asyik tertawa geli. Naruto menatap Choji bingung. Choji tersenyum tipis dan lalu menepuk bahu Naruto ringan. "Tenanglah, aku hanya bercanda kok. Aku ngerti. Terkadang ada kalanya kita ingin menyimpan rahasia untuk sesama anggota tim saja," tambah Choji dengan murah hatinya.
Naruto manyun. Ia baru nyadar sudah dikerjai sahabat baiknya. "Dasar Dobe. Sekalinya Dobe tetap saja Dobe!" ejek Sasuke tidak membuat keadaan jadi lebih baik. Shika melirik malas tiga orang sahabatnya yang tengah saling meledek. "Tsk, mendokusai," gumam Shika dengan mata ngantuknya.
"Cih! Bagimu, apa sih yang tidak merepotkan," sindir Naruto pada temannya yang hobi tidur.
"Shika? Tidur mungkin," ujar Sasuke menimpali membuat Choji dan Naruto tertawa riang dan Shika tersenyum masam.
Tak jauh dari empat kuartet SasuNaruShikaChoji, tampak Ino tengah menowel bahu Sakura. "Apa dua orang itu selalu begitu?" bisiknya merujuk Sasuke dan Naruto. Sakura mengangguk sebagai jawaban. "Dua orang itu normal, kan?" tanyanya masih sambil berbisik.
Sakura tersenyum canggung. "Iya, ku rasa," balas Sakura.
"Kau tidak yakin?"
Sakura melirik kanan kiri, memastikan tidak ada yang mendengar percakapan mereka berdua. "Sasuke sangat posesif pada Naru-chan, tapi ku rasa ia masih tertarik pada wanita. Buktinya, wajahnya pernah memerah waktu tak sengaja melihat tubuh wanita yang terbuka," bisiknya sok rahasia.
Ino menganggu-angguk, paham. "Kalau begitu, aku masih ada kesempatan. Aku kan seksi," ujarnya PD.
Sakura mendelik galak. "Coba saja, kalau kau bisa merebutnya dariku," ejeknya menantang Ino. Ino balas mendelik pada Sakura. Dua orang sahabat itu mungkin masih akan saling mendelik dan mengejek, kalau saja Naruto tak ikut campur.
"Teman-teman lihat!" teriak Naruto girang dengan suara cemprengnya.
"Apa?" tanya Sasuke tak mengerti begitu pula dengan teman-temannya.
"Chiriku. Aku merasakan cakranya di dekat kita. Ah, itu mereka," pekiknya antusias sambil melompat-lompat seperti anak kecil, menunjuk gerombolan bayangan yang berlari menuju ke arah mereka.
"Hentikan tingkah bodohmu, Dobe! Kau membuat kita malu saja," ejek Sasuke membuat Naruto lagi-lagi merengut.
Asuma, Sakura, dan Ino terkekeh geli melihat pertengkaran SasuNaru. Shika? Oh, ia sedang sibuk merajut mimpi. Entah bagaimana caranya, Shika berhasil tidur pulas dengan posisi berdiri sambil menyandar pada batang pohon oak. Sedangkan, Choji sibuk mengunyah keripiknya.
"Maaf, kami terlambat." Ujar Chiriku memimpin rombongan biksu menyambut kedatangan Asuma dan tim.
"Tak apa. Aku juga baru tiba." Ujar Asuma maklum.
Sasuke lagi-lagi menowel lengan Naruto. "Mana simbol kanji apinya?"
"Mana ku tahu. Mungkin disimpan di suatu tempat. Dia kan sudah jadi biksu. Jadi, sudah tidak punya urusan dengan masalah duniawi," ujar Naruto.
"Sensei, bisakah kita langsung saja ke lokasi. Aku sudah tak sabar melakukan misi ini," ijin Naruto dengan wajah yang berbinar karena sebentar lagi ia akan melihat makam orang-orang penting, yakni anggota 12 ninja pelindung negara Api.
"Hei, jangan..!" teriak Asuma panik. "..sembarangan," lanjutnya lemas. Asuma tak sempat mencegahnya, karena Naruto sudah menghilang dengan shunsinnya diikuti Sasuke. Asuma hanya bisa geleng-geleng kepala, tak bisa berbuat banyak. 'Untung mereka bukan anak didikku,' batinnya penuh syukur. Baru jadi pembimbing tim 7 sementara saja ia sudah pusing, apalagi dalam waktu panjang. Ia mungkin berakhir di rumah sakit jiwa.
"Huh, selalu saja begitu. Selalu saja aku ditinggal. Mentang-mentang bisa melakukan shunshin." Keluh Sakura.
"Sudahlah, Sak. Biarkan saja dua orang idiot itu. Kau ikut kami saja. Kita istirahat," kata Shika ketus. Ia juga jengkel dengan ulah SasuNaru yang seenaknya sendiri dan tidak taat aturan. Kalau terjadi sesuatu bagaimana?
Sakura meski kesal, akhirnya nurut juga. Ia dengan terpaksa mengikuti tim 10 dan rombongan biksu yang menjemput mereka. Menurutnya, percuma saja menyusul SasuNaru. Keduanya pasti sudah tiba di makam duluan dan memulai misi tanpa Sakura. Biasanya juga begitu. Sakura menatap dirinya miris. Ia merasa tidak berguna di tim 7, hanya seperti tempelan. Ia sadar, selama ini ia lebih banyak merepotkan daripada membantu.
…..*****…
Naruto berhenti di tengah perjalanan. "Aku merasa ada yang aneh," katanya.
"Apa?"
"Entahlah, aku kurang tahu. Tapi, lebih baik kita menghubungi Asuma-sensei. Untuk jaga-jaga," jelas Naruto.
"Lebih baik kita segera ke sana. Kita periksa keadaannya sebelum melaporkannya ada Asuma sensei," kata Sasuke dengan sikap waspada. "Iya kalau dugaanmu benar. Kalau salah? Bisa-bisa kita jadi bahan ledekan Shika dan Choji seperti tadi. Mau?"
"Enggak, sih!"
"Tuch, tunggu apalagi," ujar Sasuke melanjutkan perjalanannya yang tinggal seperempatnya. Karena tak mau ditinggal sendiri, Naruto pun menyusul Sasuke.
Sasuke dan Naruto bersembunyi diantara rerimbunan pohon yang tumbuh lebat. Mereka melihat gerombolan orang bertopeng tengah melakukan sesuatu yang mencurigakan di area makam. 'Jangan-jangan mereka pencuri mayat untuk ditukar dengan sejumlah hadiah,' pikir Naruto dan Sasuke kompak. Naruto terlebih dahulu memberi tahu Asuma sensei melalui surat yang ia berikan pada Pakkun —pinjam punya Kakashi sensei—, sebelum memutuskan muncul di depan para pencuri itu.
"Apa yang anda lakukan di sini?" tanya Naruto dingin pada tiga orang pria yang tampak mencurigakan berdiri di area makam. Naruto menyiagakan pedangnya. Begitu pula dengan Sasuke.
"Bukan urusanmu," balas salah satu dari mereka galak.
Mata Naruto menyipit tak suka. Ia bisa melihat beberapa lubang bekas digali di area makam. Ada empat keranda tergeletak di atas tanah. Salah satu dari keranda itu terbuka tutupnya. Mata Naruto semakin sipit, ketika irisnya menangkap jenasah sosok yang tak asing di matanya.
"Oh, rupanya aku berurusan dengan pemburu uang. Cih, memuakkan. Dasar pencuri!" hina Naruto sambil melemparkan kunainya ke arah tiga orang itu.
Pertarungan sengit pun tak terelakkan. Naruto dan Sasuke melawan gerombolan pencuri itu. Kedua tim ini saling beradu kelihaian mereka dalam memainkan seni senjata dan jutsu andalan masing-masing. Mungkin karena kalah jumlah, gerombolan pencuri itu berhasil mengecoh Sasuke dan Naruto. Mereka berhasil kabur membawa tiga keranda yang tersisa. Hanya satu yang berhasil Naruto selamatkan.
Sasuke mengejar gerombolan itu dengan wajah garang, meski sudah dilarang Naruto. Naruto berniat mengubur kembali keranda yang berhasil ia selamatkan lalu menyusul Sasuke. Namun, sebuah shuriken yang dilempar dari arah belakang, membuatnya menghentikan niatnya. Tubuhnya bergidik, merasakan tekanan cakra yang mengerikan dan penuh kebencian dari sosok yang kini memperlihatkan wujudnya.
"Jadi, kau pelakunya. Masih bocah, tapi nyalimu besar juga. Berani membuat onar di kuil api," tuduh sesosok laki-laki yang usianya kira-kira sebaya dengan Naruto. Mata cokelatnya menatap penuh benci Naruto. Salah satu tangannya terangkat ke atas memperlihatkan senjata berupa tiga paku besar nan runcing diantara jari-jarinya yang disebutnya Cakra enhanced triple bladed claw. Sekilas, senjatanya mirip dengan salah satu peralatan ninja berupa cakar besi yang biasanya digunakan para shinobi untuk memanjat tebing.
Naruto diam di tempat, tak bereaksi, meski lawannya sudah mengalirkan cakranya pada senjata di tangannya. Ia hanya bisa diam membeku, tak siap berkonfrontasi langsung dengan pemilik cakra mengerikan ini.
"Akan ku beri kau pelajaran karena sudah berani menodai kesucian tempat kami," ujar Sora sambil menyerang Naruto yang mengenai tempat kosong. Di saat-saat terakhir, Naruto berhasil keluar dari transnya dan melompat ke samping, menghindari serangan lawannya.
"Hup," gumam Naruto sambil salto menghindari serangan lawannya yang datang bertubi-tubi. Tak ingin mempersulit keadaan, Naruto enggan menyerang balik. Ia hanya bergerak ke kanan dan ke kiri disertai lompatan ke belakang untuk menghindari serangan.
Ia mati-matian menekan rasa takutnya yang seakan-akan mencekik lehernya, sambil berkonsentrasi penuh menghadapi lawan barunya. "Apa kau biksu dari kuil Api?" tanya Naruto mencoba beramah tamah sekaligus mencairkan kesalah pahaman ini. Ia tak punya banyak waktu meladeni orang itu, karena ia harus mengejar gerombolan pencuri makam dan membantu Sasuke.
"Memangnya kau buta?" ejeknya sinis mengayunkan kepalan tangannya ke bagian jantung Naruto yang lagi-lagi berhasil ditepis Naruto. "Kau tidak lihat pakaianku," tambahnya mengejek. Tangannya yang lain dengan cepat mengarahkan senjatanya ke bagian dada, nyaris merobek baju Naruto plus kulit di bawahnya, jika Naruto tak cukup sigap menghindar.
"Dengarkan penjelasanku dulu! Bukan aku pencurinya," jelas Naruto di sela-sela menghindari pukulan, sikutan, dan tendangan yang menerpa tubuhnya.
"Penjelasan apalagi? Sudah jelas-jelas salah, masih saja mengelak. Dasar pencuri!" umpatnya merujuk pada bukti kuat Naruto tengah memegang keranda di atas lubang makam yang terbuka. Ia kembali menyerang Naruto. Kakinya terayun ke depan menendang kaki kanan Naruto lalu mengincar bagian kiri, disusul tendangan melayang ke ulu hati Naruto. Naruto berhasil menghindarinya dengan cara merendahkan tubuhnya lebih ke bawah.
"Kau salah paham. Aku ini bukan pencuri makam, melainkan tim Konoha yang diutus hokage-sama ke sini," ujar Naruto masih berusaha menjelaskan. Ia dipaksa lompat-lompat di atas tanah oleh lawannya yang sepertinya bernafsu sekali ingin mematahkan kedua kakinya.
"Jangan coba-coba menipuku!" hardik lawannya. Ia sama sekali tak memberi Naruto waktu untuk menarik nafas. Ia melemparkan shuriken dalam jumlah besar ke arah Naruto yang berhasil ditangkap sebagian. Sisanya ia biarkan menancap pada tanah dan batang pohon. Naruto bersyukur dulu dilatih ketat sang ayah dengan hujan shuriken, sehingga lemparan shuriken lawannya hari ini sama sekali tidak menyulitkannya.
Naruto mengerang panjang. Ia sudah kehabisan ide, tak tahu lagi bagaimana caranya menjelaskan kesalah pahaman ini. Satu-satunya cara untuk membuat lawannya mengerti, mungkin dengan melumpuhkan pergerakannya.
Ia mengejar Naruto dengan niat membunuh. Ia membuat segel tangan, mengalirkan cakranya ke tangan kanannya dan mengalirkan gelombang angin yang dapat mengiris dan memotong benda menjadi dua bagian. Hampir mirip dengan jutsu kepunyaan Asuma sensei. Ia menyerang Naruto dengan membabi buta dan brutal. Ia tak memberi waktu pada Naruto untuk mengambil nafas sejenak pun.
Untunglah, Naruto pernah beberapa kali melakukan sparring dengan Asuma sensei, sehingga ia tahu bagaimana caranya mengatasinya. Dengan gesit, ia menghindari serangan lawannya. Gelombang angin lawannya hanya berhasil mengenai batang pohon dan bebatuan tak bersalah, tapi tak meninggalkan luka sedikitpun pada Naruto. Beberapa dari serangannya, berhasil ia blok dan pantulkan kembali pada si penyerang, membuat baju lawannya koyak di sana-sini.
"Grrr..," geram penyerangnya kian marah. Ia begitu bernafsu ingin membunuh Naruto hingga ia tak lagi memperhatikan langkah kakinya.
Naruto berhasil menangkap tangan lawannya yang memegang senjata yang sudah dialiri cakra, ketika ia lengah. Lawannya tak sempat menyiapkan serangan balik, karena Naruto dengan lihai berhasil menotok titik cakra di bagian punggung tangan lawannya dengan tangan kanannya, dan di bagian tangan dekat ketiak dengan tangan kirinya. Praktis tangan kanan lawannya lumpuh seketika.
Lawan Naruto mengumpat. Ia marah karena sebelah tangannya mati rasa. Ia tak mampu mengalirkan cakranya dengan baik akibat dari totokan Naruto. Tapi, bukan berarti ia menyerah. Ia menendang betis Naruto kuat-kuat, hingga cengkeraman tangan Naruto padanya terlepas. Naruto mundur ke belakang sambil menyiapkan kuda-kudanya.
Naruto yang tadi memilih menghindar, kini merengsek maju. Ia menyerang lawannya dengan serangan terukur. Begitu ada kesempatan, ia langsung menotok titik cakra lawannya di beberapa tempat. Taktiknya jitu juga, terbukti lawannya kini lumpuh tak bergerak karena aliran cakranya kacau balau.
"Aku kan sudah bilang ini hanya salah paham. Pencuri makam yang sebenarnya sudah pergi. Sasuke rekanku sedang mengejar mereka. Maaf, aku meninggalkanmu di sini. Aku harus pergi menyusul Sasuke." Ujarnya terdengar menyesal.
"Kau pikir ini sudah selesai? Belum, bodoh!" raung si biksu tak terima.
Alis Naruto terangkat ke atas. Ia bingung. Namun, kebingungan Naruto tak berlangsung lama. Lawannya menunjukkan sesuatu yang membuat Naruto membeliak horror. Lawannya berhasil membebaskan totokan Naruto dengan ledakan cakra mengerikan yang tersimpan dalam tubuhnya.
Begitu kuatnya ledakan cakranya, hingga Naruto terlontar ke belakang. Tubuhnya menabrak batang pohon hingga batangnya patah. Naruto merasakan sesuatu yang amis di mulutnya. Naruto pun memuntahkannya. Rupanya, ledakan itu berhasil membuatnya luka dalam.
Mata Naruto membeliak horror, ketika tubuh lawannya berubah. Cakra merah mengerikan menguar keluar dari tubuh lawannya. Cakra merah itu lalu membentuk sesosok makhluk besar nan ganas berbentuk rubah. Dari belakang punggungnya muncul satu ekor nan panjang. Ekor makhluk mengerikan itu bergerak ke kanan dan ke kiri, menyapu bebatuan dan ranting pohon hingga terpelenting ke mana-mana.
"Oh," gumam Naruto horror. Untuk sesaat otaknya blank. Untunglah Naruto segera sadar. Ia dengan cepat membuat tabir pelindung, ketika ekor matanya menangkap ujung ekor makhluk itu terarah padanya.
Braakk! Ujung ekor makhluk itu menabrak dinding pelindung Naruto. Naruto berkonsentrasi penuh pada dinding pelindungnya. Ia mengalirkan cakra alamnya pada tiap lapisan dinding untuk menguatkannya. Jika ada bagian yang retak, Naruto segera memperbaikinya kembali.
Namun, sepertinya ia memang sedang sial hari ini. Kapasitas cakranya sama sekali tak sebanding dengan cakra lawannya. Ia akhirnya kuwalahan hingga tak sanggup lagi mempertahankan bariernya. Dinding pelindungnya pun retak dan lalu hancur berantakan di tanah. Bersamaan dengan itu, tubuh Naruto kembali terlontar ke belakang.
Naruto merayap mundur dengan kedua tangannya yang gemetaran, menyeret tubuhnya yang lemah, menjauh dari makhluk berbahaya itu. Sayangnya, ia kalah cepat dengan monster itu. Dia berhasil menekan mental Naruto hingga dia merasakan keputus asaan yang amat sangat.
"Ugyaa!" teriak Naruto histeris. Suaranya terdengar melengking. Naruto mencoba menahan rasa sakit yang amat sangat, ketika ujung ekor makhluk itu berhasil menancap kuat pada betisnya. Naruto merintih dan terisak-isak pilu di tempatnya berbaring.
Tangan atau cakar makhluk itu terangkat, mencengkeram leher Naruto ke atas. Refleks, Naruto segera memegang cakar yang kini tengah mencekiknya. Mata Naruto melotot dan terengah-engah merasakan berkurangnya pasokan udara bersih pada paru-parunya. Tangan dan kakinya bergerak lemah, mencoba melepaskan cekikan makhluk itu.
"Lepaskhan akhu!" pekik Naruto tak jelas.
Monster itu lalu melempar tubuh Naruto ke kanan hingga tubuh Naruto meluncur layaknya anak panah, menghancurkan batang pohon yang tersisa. Naruto batuk-batuk dan muntah darah. Ia kembali menyeret tubuhnya ke belakang, menyadari langkah besar makhluk ganas itu. Wajahnya memucat dan berfikir, 'Inikah akhir hidupku,' batinnya kehilangan harapan. Dan, tahu-tahu Naruto sudah terjebak ke dalam kegelapan yang amat sangat.
….*****….
Asuma tengah berbincang-bincang santai dengan mantan koleganya, Chiriku di ruang pribadi Chiriku. Keduanya saling bertukar kabar setelah lama tak bersua. Kemudian, percakapan mereka berubah serius. Asuma mendengar penjelasan Chiriku dengan perasaan cemas. Entah mengapa firasatnya mengatakan kalau beberapa jam ke depan, ia dan tim asuhannya akan terlibat misi berbahaya.
Mungkin, ini ada hubungannya dengan tim 7 yang secara mendadak ikut melakukan misi bersamanya akibat ketiadaan jounin pembimbing mereka. Ia sudah mendengar kabar perihal Kakashi yang dimarahi habis-habisan oleh hokage mereka karena ia gegabah tetap melanjutkan misi ke desa Nami, meski tahu lawan mereka seorang missing nin berbahaya, dengan hanya mengandalkan anggota tim 7 yang masih genin dan baru merintis karir. Ia cemas, ia juga akan mengalami hal yang sama.
"Beberapa hari terakhir, kompleks makam yang terletak di hutan Akasaka sering disatroni orang-orang mencurigakan," cetus Chiriku membuyarkan lamunan Asuma. Dengan sangat terpaksa, ia mendengarkan cerita Chiriku seksama, agar tidak melewatkan satupun info penting dari Chiriku.
"Kami kira mereka hanya pencuri makam biasa, yang mengincar harta benda pemilik makam. Tapi, kini aku tak yakin lagi. Aku curiga komplotan pencuri itu seorang ninja, dilihat dari kemampuan mereka. Bagaimana kalau ternyata mereka berniat mencuri jenasah milik Nauma, Seito, Kitane, dan Tou. Itu bisa berakibat sangat buruk bagi kuil ini dan juga Konoha. Karena itu, aku meningkatkan patroli sekitar makam," curcol Chiriku seperti ibu-ibu tukang ngerumpi.
"Aku mengerti. Aku akan menyuruh timku untuk lebih berhati-hati. Dan, mungkin lebih baik kita menghubungi Konoha untuk minta …" Terdengar sebuah ledakan yang amat besar dari arah kompleks makam. "..bantuan," lanjutnya dengan suara bergetar. Matanya membeliak horror. "Sasuke! Naruto!" pekiknya panik, mengingat dua orang genin asuhannya yang tadi pamit pergi ke makam duluan.
Kepanikan seorang Asuma bertambah ke tingkat akut ketika pesan Naruto sampai ke tangannya. Sasuke dan Naruto tengah menghadapi komplotan pencuri makam. Keduanya akan menghambat laju para pencuri itu dan sekaligus merebut keempat keranda mayat plus isinya dari tangan mereka, sampai bantuan tiba.
Wajah Asuma memucat, seolah darah tak mengalir ke pembuluh darahnya. Ia mengumpat dengan ahlinya, menyesali ketidak beruntungannya. Beberapa hari yang lalu ia mengejek kesialan Kakashi yang salah menerima misi, eh sekarang ia pun mengalaminya. Mungkin ini yang dinamakan karma. Misi rank D-nya berubah menjadi misi rank B atau bahkan rank A.
Asuma melirik Chiriku yang berdiri di sampingnya dengan wajah yang sama pucatnya. 'Setidaknya ada Chiriku yang membantuku. Nasibku tidak sesial Kakashi. Mungkin,' batinnya tak yakin.
Di tengah kekalutan dan kepanikan, ia mendengar gumaman lirih Chiriku, "Sora," Asuma tak begitu mendengar dengan jelas kelanjutan gumaman Chiriku karena ia sudah keburu keluar kamar diikuti Chiriku. Tapi, ia sempat bertanya, "Siapa Sora?" pada Chiriku sebelum memberi intruksi singkat pada Shika, Choji, Ino, dan Sakura mengenai kondisi darurat mereka.
"Biksu kecil bimbinganku. Dia entah bagaimana memiliki cakra Kyuubi dalam dirinya. Sepertinya, ada orang yang dengan sengaja menyegel gumpalan cakra Kyuubi dalam tubuh bocah itu."
"Dia jinchuuriki Kyuubi?" tanya Asuma terkejut sambil berlari mengimbangi lari Chiriku ke area makam disertai para biksu yang kemampuannya cukup mumpuni bersama tim 10 plus Sakura.
"Bukan. Hanya imitasinya saja. Sora tak punya kapasitas cakra yang besar seperti klan Uzumaki. Karena itu, ia tak mungkin sanggup menahan cakra Kyuubi dalam tubuh mungilnya. Meski demikian, tingkahnya seperti jinchuuriki asli. Ia sering lepas kendali dan mengeluarkan cakra Kyuubi saat ia tengah emosi atau posisinya terdesak," jelas Chiriku diantara acara larinya.
Asuma menghentikan larinya, ketika ia lagi-lagi menerima surat. Kali ini dari Sasuke. Sasuke bilang, ia dan Naruto terpisah. Naruto masih di area makam, sedangkan Sasuke mengejar para komplotan pencuri ke arah hutan sebelah Barat. Asuma pun membagi rombongan mereka menjadi dua. Chiriku, Asuma dan lima orang biksu tetap ke makam, sedangkan sisanya menyusul Sasuke.
Asuma kembali melanjutkan perjalanan mereka. Di tengah jalan, mereka bertemu gerombolan mencurigakan menuju area makam. Ia tak tahu dua orang lainnya, tapi ia mengenal pria yang berdiri paling depan yang ia perkirakan pemimpinnya. "Kazuma? Itu kau bukan?" tanyanya.
"Asuma! Senang bertemu denganmu. Sudah lama ya? Aku memang sangat ingin bertemu denganmu untuk membalas perbuatanmu dulu padaku, Tapi, tak ku sangka akan secepat ini bertemu denganmu. Ini tidak sesuai rencanaku," katanya sinis.
"Apa sebenarnya rencanamu kali ini, Kazuma?" tanya Asuma dengan nada dingin.
"Sama seperti 13 tahun yang lalu, yaitu membunuhmu dan lalu menghancurkan Konoha kembali," jawab Kazuma dengan nada bengis diiringi serangan jutsu andalannya.
"Tak akan ku biarkan itu terjadi," balas Asuma meladeni Kazuma. Sedangkan, Chiriku melawan rekan Kazuma.
Di sela-sela pertarungan, Chiriku dan Asuma masih sempat saling bertukar pandang. Mereka sepakat untuk segera menyelesaikan pertarungan ini. Mereka harus segera ke area makam untuk mengurus Sora plus ledakan cakranya dan juga memastikan keselamatan Naruto.
….*****…
Di lain tempat, tampak Sasuke mengejar gerombolan pencuri makam untuk mengambil kembali keranda yang berhasil mereka curi. Sebelum mengejar si Pencuri, ia menghubungi pihak Asuma terlebih dahulu mengenai kejadian ini. Berjaga-jaga jika ia tak sanggup menanganinya sendiri. Tangannya beberapa kali melempar shuriken, fuma shurikan, dan bahkan kunai untuk memperlambat lari musuhnya.
Para pencuri makam itu akhirnya berhenti dan melanjutkan pertarungan sengit mereka. Sasuke yang mulai kepayahan meladeni mereka, akhirnya mengeluarkan sharingan satu tomoenya. Sharingannya cukup membantu dalam pertempuran ini. Berkatnya, ia mampu membaca gerakan lawan lebih baik sehingga ia tahu bagaimana cara mengatasinya.
Sasuke tengah mempersiapkan jutsu katon andalannya, ketika ia mendengar ledakan nan keras dari arah makam. Pupilnya membola sempurna melihat cakra kemerahan menguar ke atas udara, mirip cakra Kyuubi. "Na-Naruto," pekiknya panik mencemaskan keselamatan rekannya.
Pimpinan pencuri itu menyipit. Matanya terarah pada ledakan cakra itu berasal. "Sial," gumamnya mengumpat. 'Ini terlalu cepat. Aku harus mencegah anak bodoh itu hilang kendali, sebelum rencanaku hancur berantakan,' batinnya. Ia memberi isyarat pada anak buahnya untuk menghabisi bocah Uchiha yang sejak tadi mengejar mereka.
Ia bergegas pergi meninggalkan pertarungan dan kembali ke makam. Sasuke tak bisa menghalanginya karena dia dihadang oleh satu orang komplotannya yang tersisa. Meski tinggal satu orang, bukan berarti urusannya jadi lebih mudah. Soalnya, lawannya membangkitkan ketiga mayat hasil curian mereka untuk membantunya. Dan, ukh sialnya, mayat itu mayat shinobi penting yang kemampuannya setara dengan Asuma-sensei. Mantap, dech! Ini lawan terberatnya kedua setelah yeah pria misterius bertopeng yang dulu menyatroni Konoha.
Sharingan tomoe Sasuke meningkat menjadi dua. Ia tak bisa bermain-main lagi dengan mereka. Kali ini, ia serius. Ia mengerahkan segenap kemampuannya untuk mengalahkan lawan-lawannya yang ia perkirakan setara dengan chuunin level tinggi atau bahkan jounin.
Diam-diam, Sasuke menyeringai girang. Misi rank D-nya lagi-lagi berubah pangkat menjadi rank B atau bahkan A, jika ledakan cakra Kyuubi di sana dihitung. Oh, ia benar-benar sangat beruntung. Dengan lawan seperti mereka, kemampuannya akan semakin terasah.
Sasuke bekerja keras melawan satu orang musuhnya yang hidup dan tiga mayat hidup lainnya. Ia menguras hampir seluruh cakranya untuk melawan mereka. Namun, hasilnya setimpal. Ia berhasil mengalahkan musuhnya. Mayat hidupnya berhasil disegel kembali, sedangkan lawannya sudah terkapar tak berdaya.
Usai pertarungan Sasuke terkapar di tanah. Ia sudah tak punya tenaga bahkan untuk menggerakkan satu jari tangannya. Cakranya sudah sampai pada limitnya. Matanya menatap ke atas langit nan gelap yang kini tercemar warna merah kesal. Ia memaki kelemahannya sendiri. Melihat keadaannya yang menyedihkan seperti ini, membuatnya hanya bisa berdoa semoga Asuma sensei segera datang memberi bantuan pada Naruto tepat pada waktunya.
Samar-samar telinganya menangkap suara langkah kaki ah bukan hanya satu tapi banyak langkah kaki ke arahnya. Ada kemungkinan itu bantuan dari Asuma atau bisa jadi teman komplotan pencuri itu yang kembali lagi untuk menghabisinya. Ia menarik nafas lega, ketika ekor matanya menangkap warna pink mencolok diantara warna cokelat yang begitu membosankan dan deretan kepala plontos.
'Itu pasti Sakura,' batinnya senang. Siapa lagi kunoichi atau bahkan manusia di muka bumi ini yang berambut pink norak selain Sakura?
Sasuke mencoba bangkit dari tempatnya berbaring dengan susah payah. Bibirnya menyeringai melempar tatapan mengejek pada Shika. "Kau terlambat," ujar Sasuke. Kepalanya memberi isyarat pada musuh-musuhnya yang sudah berhasil ia lumpuhkan.
"Setidaknya, aku masih bisa membantumu meninggalkan tempat merepotkan ini," balas Shika dengan wajah kecut. Ia membantu Sasuke berdiri dan lalu menggendongnya. Sedangkan, rombongan biksu lainnya mengamankan tiga mayat dan satu orang musuh yang sedang pingsan. Setelah itu, mereka pergi meninggalkan lokasi ke tempat yang lebih aman.
"Kau seperti kakek-kakek, Sas," ejek Shika yang dibalas deathglear oleh Sasuke. Shika terkekeh geli menanggapinya puas karena bisa membalas ejekan Sasuke.
"Bagaimana dengan Naruto?" tanyanya diantara acara lompat-lompat pohon mereka.
"Entah. Asuma sensei dan Chiriku-san sedang menuju ke area makam. Semoga saja Naruto selamat."
"Ukh, sial. Tidak berguna," maki Sasuke pada dirinya sendiri.
"Aku yakin Naru-chan selamat. Ia punya simpanan keberuntungan yang sangat besar, melebihi orang normal," hibur Choji terdengar aneh dan tak masuk akal.
Ino yang tak tahan dengan celetukan aneh rekannya menjitak kepala Choji. "Kita sedang serius. Jangan bercanda!" kecam Ino.
"Memangnya apalagi yang bisa kita lakukan selain berdoa dan mengandalkan keberuntungan?" tanya Choji retoris. Matanya memandang jauh ke area makam. Irisnya tampak berkabut, dibayangi kesedihan. Sejujurnya, ia pun cemas. Tapi, ia bisa apa? Jika ia memaksakan diri ke sana, yang ada ia malah tambah merepotkan mereka daripada membantu.
"Kau benar," aku Ino enggan. Keempat temannya menghela nafas berat. Meski enggan, mereka akui Choji ada benarnya. Kini, mereka hanya bisa berdoa untuk keselamatan Naruto. Mereka sadar kemampuan mereka yang sekarang tak bisa berbuat banyak untuk menolong Naruto.
…..*****…
Naruto tak ingat, sungguh. Ia juga tak mengerti bagaimana ceritanya ia bisa terdampar di tempat ini. Kaki kecil Naruto melangkah menyusuri lorong panjang nan lengang yang digenangi air selutut. Ia mendengar suara geraman rendah. Suaranya terdengar sangat marah dari arah tempat yang ia tuju.
Wajahnya membelalak dan melotot seakan-akan mau keluar dari cangkangnya. Ia tak percaya berada di depan sebuah ruangan yang mirip penjara dengan jeruji besi yang menjulang tinggi ke atas entah sampai mana batasnya Naruto pun tak tahu, saking tingginya.
"Naruto ya? Akhirnya, kau kemari juga, Bocah," ujar sesosok makhluk keluar dari balik kegelapan. Sosok itu mirip seekor rubah berwarna oranye. Bedanya, ia berukuran raksasa. Sosok itu lalu menggeram di depan Naruto, memperlihatkan taring dan giginya yang runcing.
"K-kau si-siapa?" tanya Naruto ketakutan.
"Aku? Kau itu bodoh atau kuper? Masak kau tak tahu siapa aku?" tanya makhluk itu sinis sambil mengibas-ngibaskan ekornya yang berjumlah sembilan.
Makhluk raksasa berbentuk rubah, cek. Berekor Sembilan, cek. Memiliki cakra yang sangat besar, mengerikan dan dipenuhi hawa kebencian, cek. Cakra warna merah menyelimuti tubuhnya, cek. Segel di depan jeruji kandang yang ditulis dengan huruf fuin, cek.
"K-kau K-Kyuubi?" pekik Naruto setengah takut setengah kagum. Ayahnya ternyata sangat hebat. Ia berhasil menyegel makhluk mengerikan, kuat dan besar ini ke dalam tubuh Naruto yang kecil.
"Hm," gumam Kyuubi acuh. "Mau apa kau ke sini, Bocah?" tanya Kyuubi ingin tahu, mengingat selama hampir 12 tahun ini, Naruto sama sekali tak pernah berkunjung ke kandangnya, apalagi menggunakan cakranya.
"Apa kau tahu makhluk apa di luar sana?" tanya Naruto mengindahkan pertanyaan Kyuubi. "Apa itu bijuu juga sepertimu?"
Kyuubi mendengus tidak sopan. "Mana ada bijuu yang lemah sepertinya. Dia itu hanya gumpalan cakraku,"
Gumpalan cakra? Hm.. Naruto tampak berfikir. 'Mungkin, itu gumpalan cakra yang terbang ke udara bebas, saat Kyuubi menyerang konoha 12 tahun yang lalu. Lalu, ada orang yang dengan sengaja mengumpulkannya dan menanamkannya pada tubuh biksu ini,' pikir Naruto. "Apa kau tahu bagaimana caranya menghentikan dia?" tanya Naruto menunjuk pseudo jinchuuriki Kyuubi.
"Kenapa aku harus memberi tahumu?" ejek Kyuubi jahat.
"Karena kau baik hat.." Naruto cepat-cepat menutup mulutnya karena Kyuubi terdengar marah dan menjulurkan cakar besarnya pada Naruto, saat Naruto bilang dia baik hati. Ia menjauh dari Kyuubi agar kejadian nyaris dicabik tidak terulang kembali. "Maksudku kau itu bijuu paling kuat, paling keren, dan paling hebat diantara bijuu-bijuu lain," puji Naruto setinggi langit.
"Gombal," balas Kyuubi sambil mendelik galak, meski pipinya terlihat merona. "Kau memang pandai bicara, Bocah. Persis seperti ayahmu," ejeknya pada makhluk kuning berbentuk durian yang dulu pernah menyegelnya ke dalam tubuh Naruto.
"Aku bicara jujur. Bohong itu dosa," ujar Naruto tersinggung. "Jika kau tak mau menolongku ya sudah. Tapi, jangan salahkan aku jika kita nanti mati bersama. Hm, mati bersama Kyuubi yang agung terdengar tidak buruk juga," tambahnya sambil senyum-senyum sendiri mencurigakan.
'Betul juga. Kalau dia mati, aku juga mati,' pikir Kyuubi. "Hanya ada satu cara untuk menghentikan makhluk itu. Kau harus membiarkan aku mengambil tubuhmu agar aku bisa menyerap cakraku kembali!"
"Itu tidak mungkin. Aku tak bisa melakukannya," protes Naruto membuat Kyuubi curiga. "Nanti ketahuan, kalau akulah jinchuuriki Kyuubi. Terus, nanti pria bertopeng misterius itu datang lagi ke Konoha untuk mengejarku, memburuku, menangkapku, dan lalu mengeluarkanmu dari tubuhku. Aku tak yakin ia akan bersikap baik padamu sepertiku. Bisa saja ia memperlakukanmu tidak lebih baik dari seekor hewan peliharaan atau yang lebih buruk lagi menghilangkan eksistensimu untuk selamanya. Mau?"
Kyuubi menatap Naruto dengan pandangan yang sulit diartikan. Selama hidupnya yang hampir makan waktu 1000 tahun, baru kali ini ada yang memperhatikannya dan mengkhawatirkan keselamatannya. Naruto orang kedua selain kakek Rikudou yang melihat Kyuubi sebagai makhluk yang punya hati dan perasaan. Dan itu membuatnya tersentuh.
"Kau gigit saja dia. Tahan jangan sampai lepas. Selanjutnya serahkan semuanya padaku,"
"Apa kau yakin?" tanya Naruto cemas.
"Sangat yakin. Dulu, ada shinobi dari Kumogakure yang berhasil menyerap cakraku dengan cara seperti itu."
"Sepakat. Aku akan membuat barrier pelindung agar tak ada seorang pun yang bisa mengganggu kita sampai ini selesai." Kata Naruto lalu berbalik pergi. "Kyuu trims sudah membantuku. Walau banyak yang bilang kau ini monster, berhati keji, dan jahat. Menurutku, kau tidak seperti itu," tambah Naruto sebelum benar-benar pergi membuat Kyuubi memerah. Untung warna kulitnya oranye sehingga warna merah yang menyebar di seluruh wajahnya tidak kentara.
"Gombal," ejeknya yang masih bisa didengar Naruto, untuk menutupi isi hatinya.
Naruto berhasil keluar dari alam bawah sadarnya. Oranye kemerah-merahan, itu yang pertama kali dilihatnya, saat ia membuka mata. Naruto mengerang panjang merasakan perih menggores kulit lehernya yang terpapar. Cakar monster, coret makhluk yang berasal dari cakra Kyuubi ini masih mencengkeram lehernya seperti saat ia belum pingsan.
'Good Timing,' pikirnya. Naruto tak perlu repot-repot menyusun strategi bagaimana caranya menggigit makhluk itu, karena ia sendiri yang menyodorkan tubuhnya untuk digigit. Naruto menundukkan kepalanya susah payah dan segera menggigit cakar yang mencengkeram lehernya.
Perlahan tapi pasti, cakra pseudo-jinchuuriki-Kyuubi berpindah ke tubuh Naruto. mata Naruto membelalak merasakan sel-sel tubuhnya memanas seakan-akan direbus ke dalam kuali besar yang sedang mendidih. Naruto merasakan kulitnya perih karena terkelupas, ketika cakra Kyuubi memaksa masuk. Meski demikian, ia tak melepaskan gigitannya. Ia terus bertahan hingga cakra Kyuubi berhasil kembali pada pemilik aslinya seluruhnya.
Pseudo-Jinchuuriki-Kyuubi kembali pada wujudnya yakni seorang biksu yang sepertinya sepantaran dengannya. Naruto melepaskan gigitannya dan menangkap tubuh si biksu yang oleng dan nyaris membentur tanah. Ia membaringkannya ke tanah sampai bantuan yang tadi ia panggil tiba. Sebab, terus terang, Naruto sudah tak punya tenaga lagi untuk bergerak.
Naruto duduk bersila di samping biksu itu. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, prihatin. Kondisi si biksu tampak menyedihkan. Bajunya yang berwarna putih hitam kelabu senada dengan warna matanya tampak koyak di sana-sini. Kulitnya tampak mengelupas semuanya, menyisakan warna kemerah-merahan di sekujur tubuhnya. Naruto bergidik ngeri. 'Pasti perih,' batinnya. Kulit Naruto juga mengelupas, tapi tak separah si biksu.
Naruto masih setia menunggu di tempatnya hingga ia merasa bosan sendiri. 'Lama sekali,' keluhnya dalam hati. Naruto sudah hampir terlelap ketika rombongan Asuma, dan Chiriku berikut para kepala plontos tiba. Naruto nyengir gaje melihat penampilan mereka yang berantakan dengan baju yang sudah compang-camping seperti para gelandangan.
Chiriku terkejut menatap Sora yang seperti bukan Sora. Dengan kulit yang mengelupas sempurna, membuat Sora sulit dikenali. Jika tidak melihat sisa bajunya yang melekat, rambut kelabunya, dan tasbih pemberiannya, mungkin Chiriku gagal mengenali anak muridnya. "Dia..?"
"Dia baik-baik saja. Aku sudah memeriksanya. Sebentar lagi juga ia sadar," potong Naruto menjelaskan.
"Apa yang sebenarnya sedang terjadi di sini, Naruto?" tanya Asuma lembut, namun penuh tekanan.
"Dia mengira aku pencuri makam, tepat saat aku sedang mengubur kembali keranda itu," jelas Naruto sambil menunjuk keranda yang untunglah selamat dari pertarungan Naruto-Sora diantara batang pohon yang terserak di tanah. "Lalu, ia menyerangku. Aku berusaha menjelaskannya, tapi gagal. Dan, yach begitulah. Ia menyerangku," jelasnya.
"Tapi, kenapa bisa ada ledakan cakra Kyuubi di sini dan kenapa kulit Sora mengelupas seperti ini?" tanya Chiriku beruntun.
"Oh, jadi namanya Sora?" tanya atau simpul Naruto. Akhirnya, ia berhasil mengetahui identitas pseudo-jinchuuriki-Kyuubi yang menyerangnya. "Sepertinya, ia memaksakan diri untuk menang. Ia hilang kendali dan akhirnya dikuasai cakra merah. Cakra merah itu menyakiti tubuhnya, mengakibatkan kulitnya terkelupas seperti ini. Untunglah, Jiraiya-sensei sempat mengajariku fuinjutsu. Aku berhasil menyegel cakra merahnya sehingga kami berdua selamat."
Alis Chiriku saling bertaut. "Anak sekecil kamu menyegel cakra Kyuubi? Bagaimana bisa?" tanya Chiriku heran. Ia tak bisa mempercayai cerita Naruto sepenuhnya. Itu terdengar seperti sebuah bualan di telinganya. Dia yang sudah jounin saja kesulitan mengatasi Sora saat ia hampir hilang kendali. Apalagi dengan kondisi Sora yang hilang kendali sepenuhnya?
"Aku seorang Uzumaki, meski hanya separoh." Kata Naruto seolah itu menjelaskan semuanya.
Chiriku hendak buka mulut, tapi tak jadi karena Asuma sudah menjelaskan semuanya. "Klan Uzumaki terkenal dengan fuinjutsunya. Hanya klan ini yang mampu bertahan hidup setelah menyegel Kyuubi ke dalam tubuhnya. Ku rasa bukan hal yang aneh, jika Naruto bisa menyegel sebagian cakra Kyuubi."
Chiriku manggut-manggut. "Kau benar. Lebih baik kita kembali ke kuil!" ujar Chiriku yang diamini Naruto dan Asuma. Chiriku membawa Sora yang masih tak sadarkan diri. Asuma membantu Naruto yang kelelahan usai pertarungan berdiri. Mereka kembali ke kuil saat sang fajar terbit dari arah Timur laut, memperlihatkan keindahan sang fajar pada mereka.
Beberapa hari kemudian. Asuma memimpin tim 10 dan tim 7 termasuk SasuNaru yang sudah pulih luka-lukanya untuk menjalankan misi mereka yang sebenarnya, yakni membersihkan makam. Banyak sekali yang harus mereka kerjakan untuk menyelesaikan misi ini, mengingat betapa berantakannya tempat itu.
"Kau beruntung, Naruto. Dengan cakra Kyuubi, kau bisa bertambah hebat," ujar Sasuke terdengar cemburu di sela-sela pekerjaan mereka bersih-bersih makam.
"Beruntung apanya? Kau pikir gampang mengendalikan cakra Kyuubi? Hanya orang-orang tertentu yang bisa. Dan, aku tak yakin aku termasuk orang-orang tertentu itu." Jelas Naruto sambil mengangkat batang pohon yang rubuh dari tanah. "Hup," gumamnya saat ia berhasil memindahkannya bersama tumpukan batang lainnya. "Kau terlalu meremehkan dirimu, Sas. Dengan sharinganmu itu, cakra Kyuubi tidak ada artinya sama sekali. Hanya Uchiha dan sharingannya yang bisa mengendalikan Kyuubi."
"Hn," gumam Sasuke dengan bibir kaku, tak setuju. Ia masih iri pada keberuntungan Naruto.
Naruto menghela nafas. "Daripada mengeluh tak jelas seperti itu, kenapa kau tak berlatih saja perubahan elemen cakra? Itu akan membuat kemampuanmu jauh lebih berkembang."
"Memang apa hebatnya perubahan elemen cakra?" tanya Sasuke sangsi.
"Aish kau itu. Pernah baca buku nggak sih?" ejek Naruto setengah menyalahkan. "Dengan belajar perubahan elemen cakra, kau bisa membuat kekuatan jutsumu yang sekarang meningkat atau bahkan membuat jutsu baru. Misal, Asuma sensei memanfaatkan perubahan elemen cakranya untuk memperkuat pisau Chakura To-nya. Hm, mungkin memadukan Chidorinya Kakashi-sensei dengan pedang juga bagus. Itu pasti akan jadi jutsu yang hebat." Ujar Naruto lebih seperti pada dirinya sendiri.
Matanya melirik Sasuke dan Asuma yang tepat pada garis pandangnya. "Kenapa kau tak belajar perubahan cakra sekarang? Mumpung ada Asuma sensei di sini. Kalau Kakashi sensei, aku tak yakin ia mau melatihmu. Dia itu kan agak pelit," ujarnya jahil.
Bibir Sasuke mengerut mengingat jounin pembimbingnya sendiri. "Dia memang aneh. Pemalas. Tukang telat. Mesum. Dan juga, pilih kasih. Diantara kami bertiga, hanya kau yang benar-benar dilatihnya. Kau pasti murid kesayangannya Kakashi-sensei,"
"Tidak juga. Sebetulnya, ia pun malas melatihku."
"Nggak mungkin," tukas Sasuke tak percaya.
"Sungguh. Ia baru mau melatihku kenjutsu setelah kaa-sanku turun tangan. Ia kan takut pada kaa-sanku."
"Hm, apa aku juga menyuruh kaa-sanku seperti itu ya, biar sensei mau mengajariku," gumam Sasuke.
"Ku pikir itu bukan ide yang bagus. Aku yakin Kakashi-sensei tidak akan tertipu dengan cara yang sama dua kali. Lagipula, apa kaa-sanmu cocok dengan peran itu?" tanya Naruto geli.
"Iya-ya, " ujar Sasuke baru sadar.
"Kalau kau tahu caranya membujuk dan kau cerdik memanfaatkan keadaan, aku yakin Kakashi-sensei bersedia melatihmu. Bahkan, ia mungkin akan lebih sering melatihmu daripada aku," tambah Naruto membuat segel penyimpanan agar lebih mudah memindahkan batang-batang kayu yang sudah mereka kumpulkan ke gudang sebagai persediaan kayu bakar.
Tak jauh dari sana, Sakura menatap iri pasangan SasuNaru. Ia berkali-kali menghela nafas, merasa jadi anggota yang tak dianggap. Dua orang itu lebih sering berdiskusi berdua saja tanpa melibatkannya. Padahal, ia kan anggota tim 7 juga. Ia meremat ujung bajunya sedih.
"Kau kenapa, Sakura-chan?" tegur Naruto saat istirahat. Ia duduk di samping Sakura-chan yang memilih menyendiri, terpisah dari yang lainnya.
"Apa?" jawab Sakura terdengar ketus. Ia bukannya benci Naruto. Ia hanya iri.
"Kau terlihat murung,"
"Hanya perasaanmu saja," elaknya enggan berbagi.
"Aku bukanlah orang yang tak bisa membaca situasi Sakura-chan. Aku tahu kau sedang ada masalah. Katakanlah! Mungkin aku bisa membantu."
"Tak perlu. Orang hebat sepertimu untuk apa turun ke bawah, mengurusiku yang lemah dan tak berguna ini?" sembur Sakura meluapkan kemarahannya pada Naruto. Tangannya membekap mulutnya, saat ia sadar apa yang dilontarkannya. Ia ikut sedih melihat safir di depannya berkabut. Naruto pasti terluka oleh kata-katanya. "Maaf," gumamnya menyesal.
"Siapa bilang kau lemah? Kau ini kuat, Sakura-chan. Bahkan, Sasuke pun mengakuimu." Hibur Naruto tak menanggapi permintaan maaf Sakura.
Sakura tersenyum miris. Bibirnya bergetar oleh luapan emosi. "Tak perlu menghiburku, Naruto. Aku tahu aku lemah. Semua misi yang kita lakukan, selalu kau dan Sasuke yang menyelesaikannya. Aku tak banyak berbuat untuk tim kita. Aku seperti benalu." Ujarnya. Isakan kecil lolos dari bibirnya.
"Dulu, aku pun sama sepertimu. Aku bahkan tak becus melakukan apapun. Tapi, aku bekerja keras mengejar ketertinggalanku. Aku bisa jadi seperti ini bukan karena doa atau kemurahan hati Kami-sama semata. Tapi, aku bekerja keras untuk mengubah nasibku menjadi lebih baik," cerita Naruto mengingat masa-masa berlatihnya bersama tou-sannya.
"Aku berlatih hingga tubuhku babak belur dan muntah darah. Aku bahkan sering masuk rumah sakit gara-gara ini." lanjutnya tersenyum tipis. "Tak ada orang hebat di dunia ini tanpa usaha Sakura-chan. Kalau kau ingin kuat, ya berlatihlah." Hiburnya memotivasi.
"Kau benar. Maaf, aku sudah melampiaskan kemarahanku padamu. Tak seharusnya aku begini. Tapi, aku..aku merasa putus asa. Jalanku seperti buntu."
Naruto tersenyum menepuk-nepuk pundak Sakura lembut. "Tak perlu malu. Bukan hanya kau yang pernah merasa di titik nadzir, merasa lemah dan tak berguna. Hampir semua shinobi Konoha pernah mengalaminya. Satu-satunya cara keluar dari lubang gelap itu adalah dengan tetap focus pada mimpimu." Hibur Naruto yang membuat tangis Sakura pecah. 30 menit lamanya Sakura menangis di pundak Naruto.
"Sak, ini hanya pemikiranku saja sih. Kau bisa menerimanya atau membuangnya,"
"Apa?" tanya Sakura usai menguasai dirinya sendiri.
"Kau kan sangat ahli mengontrol cakra. Kenapa kau tak memperkuat genjutsumu atau jika perlu belajar medis? Dengan adanya ninja medis di tim kita, oh wow tim 7 pasti akan jadi tim yang benar-benar wow, tak terkalahkan," ujar Naruto setengah jumawa.
Sakura tertawa kecil. Setelah bicara dengan Naruto, hatinya jadi lebih lega. Beban di kepalanya terangkat. "Akan ku coba," putus Sakura. Ia berdiri membersihkan sisa debu di bajunya. "Aku sudah selesai istirahat. Aku mau berlatih sekarang, agar aku tak jadi beban di tim 7," ujarnya berlalu pergi meninggalkan Naruto yang tersenyum sumringah.
"Apa yang sedang kalian perbincangkan?" tanya Sasuke yang mendadak muncul membuat Naruto terjengkang ke belakang karena terkejut.
"Sasuke!" raung Naruto tak terima. "Tak bisakah kau muncul dengan cara yang normal? Kau membuatku jantungan," semburnya.
"Hn," gumam Sasuke acuh. "Jadi, kalian tadi bicara apa?"
Naruto hampir buka mulut sebelum menutupnya kembali. Mendadak, ia ingin mengusili Sasuke. "Mau tahu aja," ujar Naruto menghiraukan Sasuke yang menatapnya penuh amarah. Naruto tertawa geli melihat ekspresi sahabatnya ini. "Kenapa kau tak tanya dia saja?" usulnya jahil membuat delikan Sasuke semakin tajam.
"N-A-R-U-T-O !" geram Sasuke terdengar membahana ingin menjitak si rambut durian itu. Hatinya dipenuhi perasaan tak suka dan amarah melihat kedekatan NaruSaku. Jangan tanya kenapa! Karena, Sasuke sendiri juga tak tahu alasannya. Ia hanya tahu, tangannya gatal ingin memisahkan dua orang itu.
….*****….
Shisui membaca laporan Asuma setengah tak percaya. Baru beberapa minggu yang lalu, di ruangan ini, ia memarahi Kakashi karena nekat meneruskan misi, meski misinya sudah berubah rank. Masak sih, sekarang ia pun harus memarahi Asuma juga, dengan alasan yang sama? Shisui memijit keningnya lelah. Baru sekarang ia merasa lelah dan ya merasa sudah tua.
SasuNaru satu-satunya pasangan shinobi yang bikin dia pusing tujuh keliling. Dua orang itu selalu saja terlibat dalam misi berbahaya. Misi mereka yang awalnya hanya rank D entah bagaimana ceritanya, di tengah jalan sering berubah menjadi rank B. 'Apa mungkin SasuNaru ini punya bakat menarik bahaya?' pikirnya eror.
"Jadi, sekarang Naru-chan punya cakra Kyuubi?" tanya Shisui yang lebih seperti pernyataan. Asuma mengangguk sebagai jawaban. 'Pantas saja Naru-chan terlihat gembira usai misi ke kuil api,' batinnya. Shisui mengetuk-ngetuk meja dengan jari-jari tangannya. "Lalu, bagaimana dengan Sora, biksu dari Kuil Api itu?"
"Dia baik-baik saja, setelah tak memiliki cakra Kyuubi di tubuhnya."
"Aku mengerti. Terima kasih untuk laporannya dan juga terima kasih karena kau mau melatih Sasuke. Dia jauh lebih berkembang usai misi ke Kuil Api," puji Shisui.
Pipi Asuma merona malu. Hatinya melambung tinggi. Tak setiap hari, ia dipuji anggota klan Uchiha terlebih ini seorang Shisui yang terkenal hanya dekat dengan Itachi seorang. "Itu bukan karena aku, tapi memang Sasukenya yang berbakat," ujarnya merendah. "Saya permisi dulu,"
"Silahkan. Ah, jangan lupa! Informasikan pada timmu tentang ujian Chuunin itu. Mungkin mereka tertarik ikut serta," ujar Shisui memamerkan senyumnya yang teramat langka itu.
Asuma mengangguk sebelum benar-benar menghilang dari ruangan. Usai kepergian Asuma, tampak Kakashi dan Itachi datang menghadap untuk melaporkan misinya masing-masing. Itachi bilang, persiapan sudah matang. Sedang, Kakashi bilang, "Tak ada yang aneh dengan Amegakure, meski mereka menolak undangan kita. Aku tak bilang desa itu damai, tapi setidaknya Hanzo masih bisa menangani pemerintahan Amegakure."
"Kau yakin?"
"Ya. Tapi, dalam perjalanan pulang. Aku mendengar desas-desus tentang kelompok Akatsuki. Katanya, kelompok ini sering menerima misi-misi yang sangat berbahaya dengan bayaran yang sangat tinggi. Mereka juga ditengarai terlibat dalam konflik di Amegakure, Kirigakure dan desa-desa lainnya."
Shisui mengangguk, paham. "Aku tahu. Mata-mataku juga mengatakan kalau Akatsuki sudah memasuki Otogakure. Katanya, mereka menculik anggota klan-klan penting seperti Kurama, Yuki, beberapa Uzumaki, dan lain-lain entah untuk apa. Karena itu, kita harus lebih berhati-hati dalam ujian Chuunin kali ini. Perhatikan peserta Otogakure nanti baik-baik! Jangan sampai lepas dari pengawasanmu! Jika ia melakukan sesuatu yang mencurigakan, segera amankan." Katanya memberi intruksi. "Kakashi, pastikan timmu ikut ujian Chuunin!"
"Apa rencanamu, Shisui?" tanya Itachi menanggalkan sikap resminya.
"Aku akan menggunakan SasuNaru sebagai kartu trufku,"
"Kau yakin?"
"Belum pernah aku seyakin ini." ujar Shisui. Ketiganya lalu terlibat dalam diskusi panjang.
…*****….
Tobi menggeram marah mendengar laporan Zetsu. Kazuma tewas. Rencananya menyerang Konoha sekaligus merebut cakra Kyuubi dari tangan Sora praktis gagal. Lagi-lagi gara-gara ulah SasuNaru. Firasatnya benar. Dua orang itu memang jadi sandungannya. 'Seandainya saja saat itu aku berhasil membunuh keduanya, rencanaku pasti tak akan berantakan seperti ini,' batinnya geram.
Tobi duduk menyender pada dinding gua yang terasa dingin menembus jubah awan merahnya. Ia dengan matanya yang tinggal satu menatap lilin yang sumbunya semakin pendek dari balik topeng. Ia memperhatikan bagaimana kepulan asapnya menjulang naik hingga tak terlihat lagi.
'Sepertinya, Yondaime sudah tahu rencana besarku. Begitu pula Shisui. Karena itu, mereka bisa mencium pergerakanku. Sial! Pasti Kagami yang memberitahukannya.' batin Tobi menyumpah serapah, menyadari keteledorannya. 'Aku harus melakukan sesuatu. Shisui harus mati. Ya, dia harus mati. Dan, selanjutnya SasuNaru. Tiga orang itu harus lenyap dari muka bumi ini,' pikirnya lagi.
"Kita harus membunuh Shisui Uchiha, tepat saat ujian Chuunin berlangsung!" perintah Tobi.
"Tidakkah itu terlalu mencolok?"
"Kalau kita sendiri yang bergerak, iya. Lain cerita, jika kita menggunakan pihak lain, Otogakure. Desa itu sangat membenci Konoha. Dia pasti ingin Konoha lenyap."
"Otogakure saja tak cukup untuk melemahkan Konoha. Itu seperti duel cicak dengan buaya." Ujar Zetsu tenang.
"Kau benar. Konoha tak akan hancur hanya dengan Otogakure. Namun gabungan Otogakure dan Sunagakure, aku pikir cukup untuk memporak porandakan Konoha. Saat kekacauan itulah, kesempatan kita membunuh Shisui terbuka lebar. Tak akan ada yang tahu siapa pembunuh asli Shisui. Mereka pasti mengira Suna dan Oto yang melakukannya dan mereka akan saling bertempur sendiri. Ha ha ha… Rencana yang sempurna." Kata Tobi dengan jumawa.
"Kau lupa memperhitungkan anak si Yondaime. Dia bisa mendeteksi keberadaan kita," ujar Zetsu mengingatkan.
Tobi menatap Zetsu kesal. Kenapa Zetsu harus mengingatkannya soal si kunyuk itu sih? Padahal, ia sudah membayangkan saringan Shisui yang sangat special itu berada di tangannya. Ukh sial. Buyar sudah impian indahnya. Semua ini gara-gara Zetsu dan makhluk sial bernama Naruto Uzumaki.
"Suruh Akatsuki untuk menyusup ke Konoha. Gantikan aku membunuh Shisui dan ambil mata Shisui bagaimanapun caranya," ujar Tobi.
"Hai'k!" ujar Zetsu enggan membantah.
"Konoha…" desisnya dengan mata penuh dendam. "Akan ku rebut cakra Kyuubi milikku kembali. Dengan begitu, rencana Mugen Tsukuyomiku pasti berhasil. Dan, aku bisa bertemu kembali dengan Rin," ujarnya bermonolog.
Asap lilin membumbung semakin ke atas. Sumbu lilin semakin pendek dan nyaris habis, membuat ruangan itu kembali diisi oleh kegelapan nan pekat sama seperti hati penghuninya yang kini hidup dalam kegelapan.
…******…..
Tim peserta ujian Chuunin sudah menempati tempat duduknya masing-masing dengan tertib. Masing-masing dari mereka memegang kertas ujian, tahapan pertama dari ujian Chuunin. Kening mereka kini berkerut, melihat betapa sulitnya tes tertulis ini. Tak mungkin mereka yang masih genin bisa menjawabnya.
Satu-satunya cara untuk lolos adalah dengan menyontek jawaban orang lain. Dan, ini bukan sembarang mencontek. Mereka harus melakukannya dengan hati-hati dan mengerahkan keahlian mereka dalam mengorek informasi, jika tak ingin berakhir tragis, dikeluarkan dari ruang ujian karena ketahuan mencontek.
Hampir separuh dari peserta ujian sudah keluar dari ruangan karena mereka ketahuan mencontek dengan bodohnya. Maksudnya, mereka tak menggunakan teknik ninja untuk mencontek, tapi mencontek ala penduduk sipil. Jelas saja aksi mereka ketahuan dan membuahkan dengusan jijik dari para pengawas ujian.
Di bawah mata tajam Morino Ibiki, si iblis dari divisi Penyelidikan dan Interograsi, tak ada satupun yang tak ketahuan. Namun, ia pura-pura tak melihat. Ia hanya akan mengeluarkan peserta ujian yang mencontek dengan bodohnya, sedangkan yang mencontek dengan memanfaatkan kemampuan jutsunya ia biarkan. Seperti, Sasuke dengan Saringannya, Hyuga Neji dan Hyuga Hinata dengan Byakugannya, Gaara dengan mata pasirnya dan lain-lain.
Selain mengawasi peserta ujian, sebetulnya ia punya misi khusus dari Hokage-sama, yaitu mengawasi putra mendiang Yondaime dengan ketat. Entah apa alasannya. Ibiki melepas nafas bosan. 'Misi bodoh,' keluhnya dalam hati merujuk pada misi khususnya.
Memangnya apa yang diharapkan Hokage-sama dari Naruto? Bocah itu dari tadi tak melakukan pergerakan apapun. Ia hanya diam menatap lembaran kertasnya. Pensilnya sama sekali tak bergerak. Entah apa yang dipikirkannya. Bisa jadi ia putus asa, karena tak bisa menjawabnya dan juga tak tahu bagaimana caranya mencontek yang baik.
"Na-Naruto-kun!" panggil Hinata lirih.
Kepala Naruto terangkat. "Ya?" balas Naruto tak yakin. Siapa tahu ia salah dengar, mengingat betapa pemalunya gadis di sebelahnya itu. Rasa-rasanya tak mungkin deh si Hyuga ini memanggil namanya di tengah-tengah ujian tertulis ini. Waktu masih di akademi dulu, si Hinata nyaris tak pernah bicara sepatah katapun dengannya. Gadis itu selalu pingsan tiap Naruto berniat menyapanya sebentar, membuat semua orang sering salah paham padanya dan meneriaki Naruto mesum.
"Ap-apa k-kau su-sudah me-mengerja-jakan so-soalmu?" tanyanya terdengar gagap. Wajahnya juga tampak merah.
Naruto nyaris bertanya, 'Apa kau sakit?' ketika Hinata kembali memanggil namanya untuk meminta jawabannya. "Belum sama sekali," balas Naruto penuh sesal.
"Ji-jika k-kau mau…" Gadis itu menggigit bibirnya tak yakin. "K-kau bi-bisa men-mencontek pe-pekerja-jaanku," tambahnya sambil memperlihatkan hasil pekerjaannya.
Mata Naruto seperti kelilipan bintang. Sungguh, ia tak yakin. Apa ini mimpi atau nyata? Seorang Hyuga menawarkan jawaban tesnya padanya? Mungkin mereka satu desa dan satu akademi. Tapi, di ujian Chuunin ini, mereka ini musuh. Tim mereka saja berbeda. Naruto hendak menjawab tawaran murah hati Hinata, ketika Ibiki selaku pengawas mengeluarkan peserta ujian untuk yang ke 15 atau 17 kalinya.
"Tidak perlu, Hinata-chan. Aku ini shinobi hebat. Aku tak perlu mencontek untuk mengerjakan ujian tertulis yang mudah ini," tolak Naruto halus.
Hinata hendak membantah, tapi Naruto sudah memberi isyarat pada Hinata untuk diam karena si Ibiki seperti mulai mencurigai mereka berdua. Hinata dengan terpaksa menelan kembali bantahannya dan memperbaiki letak jawaban ujiannya. Meski ia gagal membantu Naruto, tapi ia cukup senang dengan perhatian kecil Naruto padanya. Setidaknya, Naruto tidak menganggapnya invisible women atau yang lebih buruk lagi wanita troublesome.
10 menit kemudian…
"Waktu habis. Letakkan pensil kalian!" ujarnya dengan tegas. Matanya menatap tajam semua pasang mata para peserta ujian. "Sekarang waktunya soal no 10. Putuskan! Kalian mau mengambil soal ini atau tidak. Tapi ingat! Jika kalian salah menjawabnya, maka kalian gagal dan jangan harap bisa ikut ujian Chuunin tahun depan," katanya mengintimidasi.
Beberapa dari genin itu berdiri. Mereka menyerah karena takut tak bisa menyelesaikan soal no 10. Mereka lebih memilih menyerah sekarang dan ikut ujian tahun depan daripada jadi genin selamanya. Ibiki masih menunggu, jika ada yang menyusul mereka yang sudah keluar dari ruangan.
Ibiki agak terkejut melihat tangan Naruto terangkat ke atas. Bibirnya mengulum mengejek. Mungkin ekspektasi hokage-sama terlalu tinggi pada Naruto sehingga memberinya misi khusus tak berguna itu. Buktinya, ia menyerah tengah jalan. Ia menahan diri untuk tidak menyeringai melihat tatapan tidak percaya Uchiha Sasuke yang terkenal songong, sengak, dan kurang ajar.
"Jangan bercanda! Mana mungkin kami menyerah hanya gara-gara tes bodoh ini. takk usah bertele-tele, lekas katakan soalnya!" ujar atau teriak Naruto kesal.
Sumpah demi apapun, Ibiki merasakan aura di ruangan ini berubah. Naruto mengacaukan segalanya. Jika tadi aliran aura di ruangan ini suram, dipenuhi keputus asaan, kini auranya jadi penuh semangat dan optimis. Fuck! Ibiki mengumpat dalam hati dengan ulah si bocah pirang menyebalkan itu. Berkat dia, peserta ujian tahun ini jadi lebih banyak dari tahun kemarin. 'Anko pasti mengeluh padanya setelah ini.' pikirnya jengkel.
"Kalian aku nyatakan lulus!" kata Ibiki tidak ikhlas.
Dahi Sakura mengerut. "Kenapa kami lulus? Kami kan belum menjawab soal no 10," ujarnya mewakili peserta lainnya.
"Soal no 10 itu tidak ada. Aku hanya ingin menguji kesiapan kalian saja. Sekarang pergilah ke…"
Ibiki tak sempat menyelesaikan intruksinya ketika Anko tiba-tiba masuk ke ruangannya dengan memecahkan kaca jendela. Dan persis seperti dugaannya, ia mengeluh pada Ibiki dengan banyaknya peserta yang lolos. "Kau terlalu lembut tahun ini," gumamnya menambahkan, membuat Ibiki mendelik tak terima.
'Jangan salahkan aku, tapi salahkan si rambut durian montong di sana. Dia yang mengacaukan segalanya,' katanya tentu saja dalam hati. Mana mungkin ia bicara. Itu sama halnya ia membuka aibnya sendiri.
Ibiki mengumpulkan kertas jawaban para peserta ujian yang lolos tahan kedua dibantu tim panitia ujian Chuunin. Ia bersemangat ingin lihat kertas jawaban si rambut durian montong itu. Ia menatap speechless kertas jawaban Naruto. Kosong melompong. Satupun tak ada yang dijawab. Ia tertawa kecil. Pertama kali dalam sejarah, ada peserta ujian yang lolos, meski tidak menjawab soal satu pun.
Ibiki hampir memasukkan kertas jawaban Naruto ke dalam berkasnya, ketika ia melihat ada sesuatu yang terjadi. Lembar jawaban Naruto mendadak ada tulisannya. Itu adalah jawaban soalnya dan semuanya benar. Matanya semakin membelalak, ketika ia mengenali huruf di kertas ujian Naruto. Itu tulisan salah satu panitia yang sengaja menyamar jadi peserta.
"Mana kertas milik Kyondo!" pintanya pada rekannya. Meski heran, rekannya memberikan apa yang Ibiki mau. Ibiki melihat tulisan sangat kecil dan samar deretan huruf fuin yang memindahkan jawaban si Kondo pada kertas ujian Naruto. Ia tersenyum kecil melihat kecerdikan Naruto. Ia berhasil mencontek dengan sempurna. Ia berhasil lolos dari pengamatannya. Ia bahkan tak tahu kapan Naruto membuat segel di kertas Kyondo. 'Pantas hokage-sama memberiku intruksi seperti itu,' pikirnya paham.
'Tapi, ia pemalas sekali. Si Nara yang rajanya para pemalas di Konoha saja masih sudi menulis jawaban, lah ini,' pikirnya geleng-geleng kepala.
Ujian Chuunin tahap kedua pun tiba. Apakah yang akan terjadi? Ikuti kisah selanjutnya di chap depan.
TBC
Akhirnya kelar juga chapter ini. Ai berhari-hari bikinnya sampai tangan Ai kram. Ai minta sarannya nih. Di ujian Chuunin nanti akan terjadi kudeta seperti canonnya, apakah
Shisui mati
Shisui koma
Shisui sehat wal afiat hanya luka kecil saja
Ai mohon bantuannya. Ai tunggu ya?
