Not Mainstream

DISCLAIMER : Naruto Belongs to Masashi Kishimoto

Genre : Adventure dan Family

Rating : T

WARNING : No YAOI, No shounen ai, murni straight, bertebaran typo, gaje, smart_Naru, Canon dan bashing beberapa chara.

Author Note : Beberapa adegan di canon Ai potong dan ubah, menyesuaikan alur yang udah Ai susun.

Karena banyak yang protes dengan chap ini, Ai putusin untuk mengubah alurnya kembali. Beberapa typo di chapter-chapter sebelumnya juga udah Ai benerin, meski belum semuanya. Beberapa kalimat juga Ai tambahin.

Terima kasih Ai ucapkan untuk para reader yang telah berkenan meninggalkan jejak di kotak review, memfollow, dan memfav fic gaje ini yang tidak bisa Ai sebutkan satu per satu. Maaf Ai tidak bisa membalas semuanya. Arigato Gozaimasu. /(_)\

Don't Like Don't Read

Chapter Ten

Invasi Konoha

Di sebuah gua antah berantah, tapi bukan Labirin Monster, tampak beberapa orang dengan wajah yang tak jelas karena hanya berupa bayangan semata sedang berdiri di atas tonjolan batu-batu. Salah satu dari mereka yang tampaknya ketuanya membuka suara. "Misi kita kali ini istimewa,"

"Apa, un?" kata sebuah bayangan yang rambutnya panjang dan diikat sebagian ke atas dengan imbuhan un di akhir kalimat.

"Menginvasi Konoha," jawab sang leader singkat.

"Menginvasi Konoha? Apa itu perlu dilakukan sekarang?" tanya bayangan lainnya yang sedang memegang sebuah pedang yang sangat besar dan berduri tajam.

"Ya. Konoha sudah mencurigai gerak-gerik kita. Kita harus menghancurkan Konoha sekarang, sebelum mereka berhasil mencium rencana besar kita dan lalu menggalang kekuatan dengan desa-desa lainnya,"

"Hm, Konoha ya? Aku jadi tak sabar. Di sana ada banyak shinobi-shinobi berharga jutaan ryo," celetuk bayangan yang bercadar.

"Sayangnya bukan kau yang menerima misi ini, Kuzu, tapi Deidara dan Sasori," kata sang leader berwibawa, membuahkan geraman rendah bayangan bercadar yang dipanggil Kuzu itu. Sang leader menatap dua bayangan yang diduga kuat bernama Deidara dan Sasori. "Aku tak perduli dengan shinobi-shinobi Konoha lainnya. Terserah mau kau apakan mereka. Tapi, aku minta kalian menyerahkan mayat tiga orang ini secara utuh, yakni Uchiha Shisui, Uchiha Sasuke, dan Uzumaki Naruto,"

"Hai'k," balas dua orang itu serempak.

"Kalian bisa pergi sekarang," kata sang leader mengakhiri pertemuan.

Dengan kalimat terakhir sang leader, maka bayangan-bayangan itu pun menghilang dari dalam gua hingga tak ada yang bersisa. Dua bayangan yang tadi mendapat misi dari sang leader mulai menampakkan fisiknya secara nyata.

Sosok pertama mempunyai ciri fisik berambut pirang panjang yang sebagian diikat ponytail dengan poni menjuntai menutupi sebelah matanya yang beriris biru. Ciri fisik sosok yang kedua berambut merah darah cepak dan berwajah seperti remaja tujuh belasan tahun. Keduanya tengah duduk di atas batu kali berwarna hitam yang saling berdampingan di dekat sungai kecil yang mengalir jernih.

"Apa rencanamu, un? Kita tak mungkin menginvasi Konoha hanya berdua saja, Un." kata makhluk berambut kuning dengan ikat kepala dari desa Iwagakure.

"Kita bisa memanfaatkan Otogakure dan Sunagakure. Kedua desa itu memiliki dendam yang sangat mendalam pada Konoha. Aku akan menghubungi mata-mataku di kedua desa itu, untuk mempengaruhi para petinggi desa agar bersedia menyerang Konoha tepat saat ujian Chuunin," usul Sasori.

"Nice idea," komentar Deidara memuji kegeniusan sang partner. "By the way, Uchiha Sasuke dan Uzumaki Naruto ini siapa ya? Sepertinya, aku belum pernah mendengar nama itu masuk dalam buku targetnya si Kuzu," celetuk Deidara.

"Dia genin dari Konohagakure," jawab Zetsu yang tiba-tiba muncul dari dalam tanah.

"Uwach!" pekik Deidara terkejut. "Bisakah kau tidak muncul tiba-tiba Zetsu? Kau mau membuatku mati muda karena serangan jantung?" omel Deidara yang dibalas Zetsu dengan tatapan acuh. "Dan lagi, apa maksudmu dengan genin ini, Huh?" tambah Deidara luar biasa jengkel. Masak seorang buronan ninja rank S seperti dirinya mendapat misi membunuh dua orang genin? Harga dirinya terluka. Marwahnya sebagai teroris elit jatuh.

"Kau akan tahu seberapa penting posisi dua orang itu saat kau sudah bersua dengan mereka," ujar Zetsu memperingatkan sebelum menghilang masuk kembali ke dalam tanah, mengindahkan omelan panjang Deidara yang mungkin bisa memakan waktu sejam lamanya.

"Hm," gumam Sasori. "Aku yang akan melawan Shisui, sedangkan tugasmu mengurus dua genin itu," putus Sasori mengambil enaknya sendiri.

"What? Yang benar saja? Kenapa harus aku?"

"Karena aku yang merancang taktik ini," ujar Sasori mengakhiri diskusi meninggalkan Deidara yang menggerutu tidak jelas.

Beberapa hari kemudian, Sasori berhasil menyusup ke Sunagakure dan Otogakure tanpa ketahuan. Ia menanamkan jutsu pengendalian otak pada para petinggi di kedua desa itu secara diam-diam. Dengan jutsu ini, ia berhasil membuat Sunagakure dan Otogakure saling bekerja sama untuk menginvasi Konoha.

Namun, rencananya tak berjalan lancar. Secara mendadak, kazekage keempat —pemimpin Suna yang sekarang— berniat membatalkan rencana invasi ke Konoha di tengah jalan saat persiapan sudah matang tanpa alasan yang jelas. Karena itulah, dengan terpaksa Sasori menyamar menjadi kazekage keempat, setelah membunuhnya terlebih dahulu untuk membungkam mulutnya.

Jika Sasori menyamar menjadi Kazekage, maka Deidara menyamar menjadi peserta ujian Chuunin dari Otogakure, untuk mengintai sasarannya terlebih dahulu, sekalian mengumpulkan data genin-genin yang potensial untuk direkrut jadi mata-mata Akatsuki.

Di ruang ujian, Deidara melihat kertas ujiannya dengan tatapan bosan. 'Aku sudah terlalu tua untuk melakukan ini,' erangnya dalam hati meringis. Namun, tak urung Deidara mengangkat penanya juga. Dia dengan malas mengisi kertas jawabannya karena tak punya pilihan lain. Ia harus lulus ujian tertulis agar bisa leluasa menghadapi dua targetnya pada tahapan seleksi selanjutnya.

Usai mengerjakan kertas ujiannya, Deidara memperhatikan sekelilingnya. Bibirnya mengulum senyum misterius. Safirnya memindai apa saja yang dilakukan genin-genin itu untuk lulus tahapan ini. Melihat usaha mereka dalam mencontek, memberi hiburan tersendiri untuknya, sampai safirnya bertemu dengan safir yang lain yang juga satu ruangan dengannya, yakni safir milik targetnya.

Deidara menyeringai envy. Ia bisa membaca dengan jelas kelibatan emosi pada safir lawannya, meski bocah itu berpura-pura tidak tertarik. Ia tahu si bocah yang diketahui bernama Uzumaki Naruto ini terus-menerus mencuri pandang ke arahnya. 'Hm, jadi ia tipe sensorik, ya?' pikirnya menilai.

Deidara mengalihkan atensinya pada targetnya yang satu lagi, yakni Uchiha Sasuke. Bocah Uchiha itu tampak sibuk mengkopy jutsu peserta ujian yang lain, begitu sibuknya dia hingga ia tak sadar tengah diamati oleh Deidara dari tempat duduknya. Jika atensi Naruto tercurah pada Deidara, maka atensi Sasuke justru pada genin dari Suna yang berambut merah darah bertato kanji Ai. Mungkin, si bocah Uchiha itu tertarik dengan cakra Ichibi yang samar-samar merembes keluar dari tubuh si Gaara.

Di lain ruangan, para pembimbing tim genin ini tengah sibuk mengamati anggota timnya masing-masing, kecuali Kakashi. Ia tak perduli dengan anggota timnya karena ia yakin anggotanya timnya pasti lolos tahapan ini. Perhatiannya justru tertarik pada si bocah berambut merah darah yang berasal dari Sunagakure. 'Kenapa diantara peserta ujian ada jinchuuriki? Aku harus menyelidiki hal ini,' batinnya penuh curiga.

Setelah melalui sedikit drama yang menegangkan —bagi para genin pemula— ujian tertulis pun diakhiri oleh Ibiki selaku pengawas. Para peserta yang lolos kini masuk ke babak kedua, yaitu tes bertahan hidup di hutan kematian. Usai mendengar penjelasan singkat dari Anko, para peserta pun mulai memasuki hutan kematian. Ada yang tetap bergerombol dengan timnya. Ada pula yang memilih berpisah untuk mengincar gulungan tim lain. Ada yang melompat dari satu pohon ke pohon yang lain. Ada pula yang jalan santai seperti tim 7.

Deidara terus-menerus mengikuti pergerakan tim 7 dari jarak yang aman sejak hari pertama. Ia ingin melihat aksi ketiga bocah genin itu, sebelum muncul di depan mereka. Ia lumayan penasaran dengan ucapan Zetsu. Apa sih keistimewaannya sampai ketua menginginkan mayat dua orang itu secara utuh?

Selama pengintaian, Deidara menyumpah serapah dengan ahlinya saking bosannya. Ia pikir tim 7 akan mulai berburu gulungan begitu memasuki hutan seperti peserta lainnya, eh ternyata tidak. Mereka justru asyik menikmati acara jalan-jalan keliling hutan. Salah satu dari mereka bahkan bersenandung kecil.

'Gess, ini beneran gila,' jerit Deidara dalam hati frustasi.

Tiga bocah ingusan itu sukses menjatuhkan marwah ujian Chuunin yang selama ini terkenal menjadi momok menakutkan bagi para genin. Banyak dari mereka yang setres, kehilangan kewarasannya, dan bahkan gila selama mengikuti ujian Chuunin karena tak tahan menghadapi terror terus-menerus. Tapi, tiga orang itu malah membuat ujian ini seperti sesuatu yang murahan yang tak layak diseriusi.

"Dasar brengsek!" umpatnya lirih. "Memangnya mereka pikir ini acara piknik sekolah apa?" gerutunya lirih sambil tepuk jidat. Malang betul nasibnya dapat misi senajis ini.

Sampai hari terakhir, tim 7 masih saja diam tak bergerak. 'Mereka itu sudah putus asa atau memang tak ingin lulus ujian Chuunin sih?' batinnya tak habis pikir pada tiga orang yang tengah istirahat di tengah-tengah rerimbunan semak-semak. Ia menatap ill feel tiga orang bocah yang dua diantaranya tengah asyik menikmati acara bakar ikan. 'Sepertinya tim ini benar-benar sudah lupa dengan tujuan utama mereka di sini,' batin Deidara sweatdrop. Tangannya bahkan sampai gatal ingin menggetok kepala mereka saking jengkelnya.

Kejengkelan Deidara sedikit berkurang saat melihat adegan KDT (Kekerasan Dalam Tim). 'Bagus,' pujinya dalam hati. "Pukul saja ia sekeras mungkin! Kalau perlu bikin si rambut durian itu berakhir diranjang rumah sakit sampai berhari-hari," ujarnya lirih memberi support pada Sakura yang tentu saja tak tahu kalau ia sedang disupport untuk membantai anggota timnya sendiri.

Namun, adegan KDT itu hanya berlangsung singkat. Deidara kembali dilanda rasa bosan kerena tiga orang brengsek yang ada jauh di depannya kembali melakukan aktivitas tak jelas yang tak ada hubungannya dengan Ujian Chuunin.

"Kalau kalian tak mau bergerak, biar aku saja yang mulai. Aku bisa mati bosan kalau terus-menerus menunggu seperti ini," ujarnya lirih sambil melompati pohon demi pohon dengan gerakan yang halus sambil menekan cakranya serendah mungkin.

…..*****…

Sakura bolak-balik seperti setrikaan. Wajahnya memperlihatkan kegusaran yang amat sangat. Sejak hari pertama di hutan kematian, ia sudah merasakan hawa tak menyenangkan di sini. Kelima inderanya seperti menangkap sesuatu yang mengancam keselamatannya dari balik kegelapan hutan. Namun, jika ia membalikan badan, sesuatu itu tidak ada. Ia jadi tertekan. Hal ini membuatnya gelisah. Ia bahkan tak bisa memejamkan mata sekejab pun. Namun, sepertinya hanya ia saja yang merasakannya.

Dua anggota timnya terlihat biasa saja. Keduanya seolah tak merasakan bahaya apapun di hutan ini, khususnya Naruto. Dia terlihat tak perduli. Tak ada sedikitpun ketegangan menghantui dirinya, meski ia menghabiskan waktunya di hutan yang terkenal dengan keangkerannya. Ia begitu santai dan well nyaman seolah-olah ia berada di rumahnya sendiri.

"Mau sampai kapan kita di sini, Naruto?" tanya Sakura sambil menghampiri Naruto. "Sudah hampir 2 minggu, lho," tambah Sakura.

Naruto menoleh singkat. "Kenapa harus buru-buru, sih? Kan asyik camping bersama..."

DUAK! Naruto tak sempat menyelesaikan ucapannya karena Sakura langsung menggetok kepalanya tanpa ampun. "Ini hutan kematian, Dasar Baka!" raung Sakura.

Naruto mengelus kepalanya yang nyeri akibat jitakan 'Sayang' rekannya. "Santai aja, Sak. Tak baik marah-marah. Nanti cepat tua lho! Cobalah ikan bakar yang baru ku panggang ini. Hm, rasanya sedap lho. Sudah ku bumbui tadi dengan resep rahasia otousanku," ujar Naruto dengan bangganya memamerkan hasil masakannya.

DUAK! Tanpa sungkan, Sakura kembali memukul kepala Naruto sekuat tenaga membuat putra mendiang Yondaime ini lagi-lagi mengaduh kesakitan. "Ukh, Sakura-chan," ujar Naruto dengan ekspresi seperti orang mewek, sambil mengelus-elus kepalanya yang benjol. "Kenapa kau memukulku?" rajuknya.

"DIAM! Kau pikir kita ini sedang apa? Piknik? Kita ini sedang ujian chuunin. Kau malah enak-enakan makan ikan bakar. Otakmu itu dimana?" raung Sakura dengan urat-urat menonjol menghiasi paras cantiknya. Naruto hendak membalas, tapi kepalan tangan Sakura yang bicara, membuatnya lebih memilih mengunci mulutnya daripada dapat bogeman mentah lagi. "Daripada melakukan hal-hal tidak berguna, kenapa kita tidak segera bergerak mencari gulungan?"

"Ini juga sedang nyari. Tapi mau gimana lagi? Tak ada satupun tim yang berhasil kita temukan," ujar Naruto sambil angkat bahu. "Mungkin, Dewi Fortuna belum berpihak pada kita."

"Kau sengaja, kan?" tanya Sakura naik dua oktaf. Matanya melotot sangar pada Naruto. "Kau sengaja membuat kita berputar-putar di hutan ini agar tak bertemu dengan tim lainnya. Iya, kan? Hayo ngaku!" tuduh Sakura.

"Sa-Sakura-chan!" ujar Naruto lirih dengan mata yang berkaca-kaca. "Tuduhanmu itu sangat keji. Mana mungkin aku melakukan hal itu. Aku juga ingin lulus seleksi tahap ini lalu jadi Chuunin, sama sepertimu," Kata Naruto.

"Boong," sahut Sakura ketus sambil mendengus singkat, tak percaya begitu saja dengan alasan Naruto. Ia masih menatap sangar Naruto. "Aku tak tahu rencana bodoh apa yang sedang bertengger di kepalamu, tapi kalau kau tak segera menemukan tim peserta lainnya dengan kemampuan sensorikmu…" Sakura menggantung kalimatnya dan lalu menyeringai keji. Kilatan di emeraldnya menjanjikan neraka dunia untuk Naruto. Naruto sampai panas dingin dibuatnya.

"A-aku mengerti. T-tapi, setelah sarapan saja ya? Aku lapar," bujuk Naruto dengan keringat dingin menggantung di pelipisnya.

"Huh! Dasar gembul. Makan saja tahunya," ujar Sakura sambil bersungut-sungut. Meski demikian, ia tak menampik ikan bakar pemberian Naruto. Ia meletakkan ikannya di atas daun berukuran lebar, memisahkan tulang dan durinya, baru mengunyahnya. Ia takut duri-duri ikan itu melukai gusinya. Di sela-sela makannya, ia melirik Naruto dengan tatapan mencela. Soalnya, Naruto makan dengan cara yang brutal, seperti orang kalap yang sudah tidak makan beberapa hari.

"Lekas habiskan sarapanmu, Sakura!" Ujar Sasuke yang sejak tadi diam geram dengan cara makan Sakura yang menurutnya lelet. Sakura yang dibentak tersentak kaget dan buru-buru menyelesaikan sarapannya hingga gusinya terluka karena tertusuk duri ikan.

Naruto meletakkan ikannya yang tinggal separuh di atas tanah. Matanya mengeras memandang jauh ke dalam rerimbunan hutan. Tangannya terkepal hingga urat-urat nadinya terlihat menonjol. Sasuke yang melihat reaksi ganjil dari sahabat pirangnya ini pun bertanya, "Ada musuh?" tanyanya singkat yang dibalas anggukan kepala dari Naruto.

Sasuke menghela nafas panjang dan lalu membereskan barang-barangnya dalam diam sambil menunggu si musuh tiba di hadapan mereka. Sakura yang duduk di hadapannya bergerak gelisah sambil sesekali merapikan tali tasnya yang melorot terus-menerus.

"Kapan ia tiba?" tanya Sasuke lagi.

"Sekitar 10 menit," ujar Naruto segera meraih pedangnya waspada merasakan cakra orang itu mendekati tempat mereka dari arah jam 10.

Sebetulnya, ia sudah merasakan cakra tak wajar orang ini sejak hari pertama. Cakranya terlalu besar untuk ukuran genin, hampir setara dengan jounin. Orang misterius ini terus-menerus membuntuti timnya dari balik bayangan. Namun anehnya, dia tak langsung menyerang timnya dan merebut gulungannya. Dia hanya mengikuti pergerakan tim 7 semata, berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Itu sangat mencurigakan. Meski demikian, Naruto diam saja. Ia tak mau membuat kedua rekannya cemas.

'Sebenarnya, apa yang diinginkannya? Gulungannya ataukah sesuatu yang lain,' pikirnya. Matanya melirik Sasuke tepatnya pada oniks Sasuke, lalu pindah ke Sakura, dan akhirnya pada dirinya sendiri. 'Apapun itu, aku tak akan menyerahkannya,' batinnya penuh tekat.

Naruto memicingkan matanya merasakan cakra orang itu sudah sangat dekat dengan posisi mereka. Ia tanpa menoleh melempar shurikennya pada sesuatu yang bergerak di tengah rimbunnya dedaunan. Ekor matanya memberi isyarat pada Sasuke. Sasuke mengangguk mengerti. Ia memberi isyarat pada Sakura untuk waspada.

Sesuatu itu akhirnya keluar dari persembunyiannya. Berdiri di depan mereka seorang ninja yang tidak jelas gendernya. Dibilang cewek, kok dadanya rata. Dibilang cowok, kok cantik banget. Dia hampir mirip dengan Yamanaka Ino versi dewasanya, err mungkin. Yang jelas, dia cantik sekali. Shinobi paling cantik no 2 setelah kaa-sannya Naruto.

Melihat sosok yang diragukan gendernya itu, mau tak mau Naruto teringat pada sesosok makhluk aneh yang dulu pernah menyatroni Konoha hingga menyebabkan kedua orang tuanya tewas. 'Mungkinkah orang di depannya ini satu komplotan dengan makhluk wanna-be yang tak jelas apakah ia manusia apa tumbuhan itu?' pikir Naruto, Ah, kalau begitu, ia pasti juga ada hubungannya dengan pria bertopeng misterius itu.

"Siapa kau?" tanya Sasuke terdengar dingin, berhasil menyentakkan lamunan Naruto, membuatnya kembali fokus pada sosok di hadapannya itu. Sasuke memberi isyarat pada Sakura untuk pindah ke belakangnya. Meski menjengkelkan, ia tak ingin Sakura kenapa-napa.

"Deidara," ujarnya memperkenalkan namanya.

'Setidaknya ia masih tahu etika, menyebutkan nama sebelum bertarung. Tidak seperti si Pria bertopeng misterius itu,' pikir Naruto melantur. 'Meski, ia sama menyebalkannya dengan dia,' tambahnya dalam hati, menilik senyum miring yang tersungging di bibir lawannya.

Sorot menyebalkan di safir lawannya, membuat tangan Naruto gatal untuk menculeknya. Sasuke pun sama geram dengannya. Mungkin, ia merasa terhina. Tahu sendirilah gimana Sasuke? Harga dirinya yang setinggi langit itu pasti terluka karena disepelekan oleh lawannya. Meski demikian, baik Sasuke maupun Naruto tetap diam di tempat. Keduanya tak mau gegabah menyerang lawannya.

"Apa tujuanmu? Kau ingin gulungan ini?" Tanya Sasuke sambil menunjukkan gulungan di tangannya.

"Wajah putih pucat, mata oniks dan lambang kipas di baju bagian punggung. Hm, tak salah lagi. Kau pasti yang bernama Uchiha Sasuke," ujarnya mengabaikan pertanyaan Sasuke. Ia melihat bocah di samping Sasuke. "Dan, kau pasti anak Yondaime! Rambut pirang, kulit tan, dan safirmu itu persis seperti otousanmu," lanjutnya.

Naruto tersenyum kecil. "Terima kasih untuk pujiannya. Kalau boleh tahu apa tujuan ninja-san mengikuti tim kami?" tanya Naruto sopan.

"Ha ha ha…" Dia tertawa tergelak-gelak. Entah bagian mananya yang lucu. "Kau pun mewarisi kata-kata manisnya. Tch, memuakkan. Tipe orang yang paling ku benci di dunia setelah Uchiha," geramnya.

"Dan, aku paling benci makhluk wanna-be yang tak jelas gendernya sepertimu," sindir Naruto. "Kau pasti satu kawanan dengan makhluk tak jelas, entah dia manusia apa tumbuhan, yang tubuhnya dicat sebelah hitam dan sebelahnya putih. Tebakanku benar bukan, Ninja-san?" tanya Naruto dengan nada paling manis dan yeah paling menyebalkan.

Deidara terkejut. Bagaimana bocah ini bisa tahu keberadaan Zetsu? Dia aja baru tahu sosok Zetsu setelah jadi member Akatsuki. Zetsu terkenal sebagai member Akatsuki yang sulit diprediksi dan sulit dideteksi. Ia bisa muncul tiba-tiba dan menghilang tiba-tiba juga. Ia mampu menembus barier sehebat apapun. Ia sanggup mengunjungi ke berbagai tempat terlarang untuk mengumpulkan informasi dan tak ada satupun shinobi yang tahu. Tapi, kenapa bocah ini bisa mengetahuinya? 'Ada yang tak beres di sini,' batin Deidara curiga.

'Bocah ini pasti bukan sembarang bocah,' batin Deidara melirik Naruto. Pantas saja kaichou menginginkan kepalanya tepat di atas piringnya. Naruto rupanya memiliki kemampuan sensorik yang tak kalah dari Zetsu. Kelak, bocah ini bisa membahayakan Akatsuki. Oh, itu tak bisa dibiarkan.

"Aku akan menjawab pertanyaanmu kalau kau sudah mengalahkanku, Bocah," ujar Deidara dingin sambil melompat maju ke depan lalu menyerang Naruto secepat kilat. Ia menyarangkan satu pukulan ke dada Naruto secara tiba-tiba. Namun untunglah, pukulan Deidara berhasil ditahan Naruto dengan tangan, meski tubuh Naruto ikut terdorong ke belakang mengingat kuatnya pukulan Deidara.

"Oh, itu akan membuat ujian ini jadi lebih menarik. Bukan begitu, Ninja-san?" kata Naruto dengan nada riang sambil melancarkan tendangan balasan ke betis kiri lawan.

Naruto melayani tantangan Deidara. Mereka beradu taijutsu, saling jual beli serangan. Terkadang Naruto yang menyerang, namun lebih sering Deidara yang melakukannya. Untunglah, Naruto sering berlatih dengan ayahnya yang terkenal dengan kecepatannya dan kebuasannya di medan pertempuran, sehingga ia mampu mengimbangi style taijutsu Deidara yang condong kasar dan brutal.

Sasuke pun tidak tinggal diam. Ia ikut maju menyerang Deidara. Keduanya saling bahu-membahu untuk mengalahkan lawannya. Sasuke berkali-kali melindungi Naruto dari sikutan dan pukulan Deidara, dan begitu juga sebaliknya. Serangan SasuNaru yang dikombinasikan dengan baik mampu membuat Deidara terdesak hingga nafasnya tersengal-sengal.

"Cih," Deidara meludah jengkel, merasakan amis di bibirnya akibat pukulan Naruto yang diperkuat dengan cakranya tepat mengenai hidung dan rahangnya. Ia bisa merasakan nyeri di tempat yang kini membiru. 'Mereka tak bisa diremehkan. Pertahanan keduanya sempurna. Nyaris tidak ada celah,' pikirnya.

"Aku terkesan dengan kalian. Sebagai hadiah, ku berikan kalian C1," kata Deidara mengeluarkan tanah liat dari balik tangannya berbentuk burung berukuran mini.

Mata Naruto menyipit curiga. Ia melihat burung dari tanah liat itu kini hidup dan terbang ke arahnya dan Sasuke. Ia juga merasakan aliran cakra pada tanah liat itu. 'Apa yang mau dilakukannya?' pikir Naruto bingung. Ia belum pernah melihat jutsu seperti itu. Ini kali pertamanya.

Deidara berteriak "Katsu!" begitu ia selesai membuat segel.

Mata Naruto membulat menyadari kalau burung dari tanah liat itu adalah bom. 'Gawat,' batinnya panik. Naruto melompat mundur ke belakang menjauhi bom Deidara. Tangannya menjambret Sasuke dan Sakura di samping kanan dan kirinya. Dengan cepat ia membuat bulatan kubah untuk mengurung burung-bom-buatan-Deidara yang disebutnya C1 yang jumlahnya lumayan banyak. Kekuatannya mungkin setara dengan granat. Buktinya, ia mampu meledakkan kubah Naruto yang terkenal sangat kuat. Bahkan, rasengan pun sulit menghancurkannya.

Naruto terengah-engah usai mengeluarkan jutsunya. Jantungnya berdentam-dentam di telinganya. Darahnya berdesir, bergairah dan begitu hidup. Adrenalin meningkat tajam. Hatinya diliputi perasaan senang yang tak terkira. Akhirnya, ia menemukan lawan yang sepadan untuk mengukur kemampuannya di tengah ujian Chuunin. Tanpa sadar, Naruto tersenyum tipis.

"Kau lumayan juga bocah, berhasil menghindari C1 ku. Tapi, bagaimana dengan yang ini?" kata Deidara tak memberi waktu Naruto untuk berfikir. Seekor burung kini sudah berada tepat di samping kanan Naruto dkk, siap meledak.

Kali ini, Sasuke yang beraksi. Ia menggunakan sharingannya untuk menangkal C1 Deidara. Ia membawa Naruto dan Sakura melompat menjauhi kawah hasil ledakan C1. Ia berbisik pada Sakura, "Pergilah dari tempat ini!" yang dibalas gelengan Sakura. "Aku tak akan meninggalkan kawanku apapun taruhannya," balas Sakura keras kepala. Ia mungkin lemah, tapi ia bukanlah kunoichi pengecut.

"Sakura kita satu tim bukan? Tugasmu mencari pasangan gulungan ini. Pergilah ke arah jam 9 kira-kira 700 meter dari sini! Kau akan bertemu tim Shibire. Aku percaya dengan kemampuanmu itu, kau bisa merebut gulungannya. Biar dia kami yang atasi," ujar Naruto memberi Sakura misi, untuk menjauhkan gadis itu dari pertarungan ini.

Saat ini, Naruto tak punya keyakinan tinggi bisa mengatasi Deidara. Kemampuan Deidara kira-kira setara dengan Itachi. Dan semua orang tahu, kalau sampai detik ini, ia tak pernah bisa mengalahkan kakak Sasuke itu satu kali pun. Bahkan, meski ia bergabung dengan Sasuke pun belum tentu mereka bisa mengalahkan Deidara.

'Tapi, ini tetaplah menyenangkan,' pikirnya eror tak perduli hidup matinya. Yach, kapan lagi ia dapat lawan yang hebat seperti Deidara mengingat Itachi sangat jarang, hampir tak pernah mau diajak sparring dengannya.

"Tapi.."

"Nanti kami menyusul," ujar Sasuke bicara dengan nada lembut —untuk pertama kalinya— pada Sakura.

Sakura mengangguk, paham. Ia tahu saat ini ia hanya akan jadi beban bagi Sasuke dan Naruto. Jika ia masih ada di sini, SasuNaru tak akan bisa bertarung secara maksimal. Karena itu, ia memilih pergi dan melakukan hal yang berguna bagi rekannya. 'Aku akan mencari pasangan gulungan ini dan lalu lolos ke babak selanjutnya,' tekatnya bulat.

Sakura pun pergi membuat Sasuke dan Naruto bernafas lega. Kini, mereka tak perlu menahan kekuatan mereka lagi. Sasuke berdiri diam di tempat untuk menganalisa serangan lawan dan sekaligus mencari kelemahannya. Sharingan satu tomoe Sasuke berputar cepat, mengikuti gerakan lawan yang tampaknya berniat membombardir mereka dengan rentetan bomnya.

Naruto maju ke depan menyongsong musuh. Tangannya menggenggam erat pedangnya yang sudah diperkuat cakra untuk membelah burung dari tanah liat buatan Deidara dengan bantuan angin. Deidara bergerak ke kanan dan kiri menghindari sayatan pedang yang mengincar tubuhnya. Beberapa burung tanah liatnya hancur oleh Naruto, tapi ada beberapa yang lolos. Deidara membentuk segel dan berkata, "Katsu!" untuk mengaktifkan C1-nya.

Naruto tidak tinggal diam. Ia membuat kubah-kubah untuk mengurung C1 yang menyebar di sekelilingnya. Dengan aliran Chi-nya, ia memperkuat kubahnya agar kuat menahan ledakan C1 Deidara. Ia terengah-engah di udara. Ia kembali membuat bola-bola dari uap air di udara sebagai pijakan agar ia bisa mendarat dengan selamat ke bawah. Naruto menjejakkan kakinya di tanah kuat-kuat. Matanya menatap tajam Deidara yang tersenyum mengejek di atas puncak pohon.

"Turunkan tangan kananmu, Dobe! Dan lalu mundur lima langkah ke belakang," ujar Sasuke yang terdengar seperti perintah. Naruto mengikuti intruksi Sasuke tanpa banyak protes, meski ia tak mengerti alasan Sasuke. Ledakan terdengar keras di tempat Naruto berdiri tadi.

"Maju ke arah jam 8, 10 langkah!" perintah Sasuke lagi.

Lagi-lagi, Naruto mengiyakannya. Naruto memasrahkan pencarian bom-bom milik Deidara yang jumlahnya ada ratusan atau bahkan ribuan itu pada Sasuke, daripada mencarinya sendiri. Terlalu lama dan merepotkan soalnya. Naruto maju ke depan sesuai intruksi Sasuke menebaskan pedangnya pada ratusan C1 ukuran mini dalam beberapa kali tebasan. Giginya bergemeletuk geram dengan bom-bom yang sepertinya tidak ada habisnya ini.

"Maju lagi 20 meter, arah jam 11!" intruksi Sasuke.

Naruto bergerak cepat ke arah yang ditunjuk Sasuke. Ia menghancurkan sisa C1 lainnya, sebelum melompat tinggi jauh ke udara untuk menyarangkan tendangan berkali-kali disertai kibasan pedangnya secara teratur dan terukur pada lawannya. Ia mengincar organ-organ vital Deidara. Deidara bergerak ke kanan dan kiri mengindari sabetan pedang Naruto.

Diam-diam, Deidara bersyukur dalam hati bisa mengikuti gerakan Naruto. Jika tidak? Tubuh Deidara bergidik membayangkannya. Ia mungkin akan berakhir jadi potongan-potongan tubuh, seperti pohon-pohon yang bergelimpangan di tanah sana dengan bentuk sayatan yang sangat rapi, hampir menyerupai hasil kerja Kubikiribocho milik Momochi Zabuza.

"Very Shit!" gumam Deidara kesal. Ia tak menyangka bocah ini mampu membuatnya keteteran. Ia kesulitan mengaktifkan bomnya, karena serangan bocah berambut pirang ini. Teknik pedangnya tak bisa dipandang sebelah mata. Lengah sedikit saja, tubuhnya pasti terbelah menjadi beberapa bagian.

Deidara memutar kakinya menghadap Naruto. Tangannya dengan cekatan membuat segel. Tak lama kemudian, tanah yang dipijak Naruto bergetar dan lalu naik menjulang tinggi ke atas membentuk dinding pelindung nan tebal. Naruto terpana untuk sesaat sebelum menghancurkan dinding itu dengan pedangnya.

Matanya membulat menyadari sebuah boneka berbentuk naga dari tanah liat mengambang di atas udara begitu dinding pelindung Deidara menghilang. 'Apalagi ini?' pikirnya jengah. Tangan Deidara tepat di depan mulutnya, bersiap mengaktifkannya. "Katsu!" ujar Deidara.

"Dobe mund..Oh Shit!" gumam Sasuke menyumpah serapah menyadari intruksinya terlambat, sangat-sangat terlambat. Naruto tak akan sempat menghindari ledakan bom itu. Terpaksa, ia harus turun tangan menghilangkan bom itu dengan sharingannya. Tapi, sepertinya itu tak perlu, karena Naruto berhasil mengurung bom berbentuk naga Deidara ke dalam kubahnya.

DUARRR!

Bom itu meledak hebat, memecahkan kubah Naruto, hingga Naruto terpaksa melompat mundur jauh ke belakang untuk mengindari efek ledakan. Naruto juga membuat perisai pelindung untuk melindungi dirinya dari serpihan bom. Bom ini ternyata lebih kuat dari C1 tadi. Ledakannya berhasil melukai tubuh Naruto, meski ia sudah terlindungi oleh perisainya.

"Bagaimana seni ledakanku? Cantik bukan?" ujar Deidara berbangga hati.

"Tidak lebih indah dari seni kenjutsuku," ledek Naruto membuat urat-urat di wajah cantik Deidara menonjol. "Dasar bocah brengsek, sialan!" ujarnya melayangkan sumpah serapah yang tak patut didengar oleh bocah-bocah imut seperti Sasuke dan Naruto.

Deidara yang kesal membuat banyak C2 dan menerbangkannya ke arah Naruto. Ia tertawa psycho membayangkan tubuh bocah pirang itu meledak jadi serpihan tanah. Setelah itu, akan ia bungkus dan ia jadikan oleh-oleh untuk Kisame, rekannya di Akatsuki sebagai makanan hiu piaraannya. Sayangnya lamunan indah Deidara tidak jadi kenyataan. SasuNaru berhasil melenyapkan seluruh C2 milik Deidara dengan teknik andalan masing-masing.

Deidara tak tahu kapan, tapi Sasuke dan Naruto sudah bergerak di samping kanan dan kirinya, bersiap menyerangnya. Naruto mengayunkan pedangnya ke arah Deidara dari sisi kiri, sedangkan Sasuke bersiap dengan pedang yang dialiri Chidori. Kalau kena mantap tuch. Deidara tersenyum masam melihat posisinya yang terjepit saat ini. 'Kanan kiri remuk,' pikirnya.

Deidara dipaksa SasuNaru bertarung mati-matian. SasuNaru mampu membuatnya berjumpalitan hingga nafasnya terengah-engah di tengah-tengah pertarungan. Jika bukan karena sudah sangat berpengalaman di berbagai medan pertempuran, mungkin Deidara sudah KO dari tadi. Deidara membuat gerakan tipuan untuk mengelabui SasuNaru. Serangan SasuNaru pun mengenai tempat kosong.

Deidara mengambil jarak dari dua bocah itu. Tangannya dengan lincah dan terampil membuat boneka burung kali ini dengan ukuran yang sangat besar. Burung itu terbang di udara seolah-olah burung sungguhan. Sayapnya mengepak-ngepak dengan gagahnya. Deidara lompat ke atas, menaiki burung buatannya dan terbang menjauhi pasangan SasuNaru.

Terdengar sumpah serapah lirih dari Sasuke yang membuahkan delikan maut Naruto. "Apa?" tanya Sasuke terdengar kasar. "Nggak perlu nyebut nama-nama binatang bisa kan?" tanya atau sindir Naruto mengingatkan membuat bungsu Uchiha ini menggerutu tidak jelas.

"Sekarang bagaimana?" tanya Sasuke kesal melihat lawannya kabur.

"Kita lompat ke pohon yang paling tinggi dan lalu lempar aku ke arahnya,"

"Apa? Kau gila!" seru Sasuke terkejut.

"Tidak ada waktu untuk berdiskusi Sasuke. Ia pasti sudah menyiapkan bom yang lebih besar lagi. Jika dilempar dari atas, semua peserta Chuunin pasti kena ledakannya," ujar Naruto menarik Sasuke ke atas pohon. Mau tak mau Sasuke pun menuruti permintaan Naruto. Ia melempar Naruto sedekat mungkin dengan Deidara dengan bantuan cakranya.

Benar dugaan Naruto. Deidara tengah membuat patung tanah liat yang mengambang di udara. Naruto mengayunkan pedangnya. Dengan bantuan angin, ia mengayunkan pedangnya untuk menebas patung buatan Deidara. Akan tetapi, Deidara berhasil melindungi patungnya, meski itu harus mengorbankan sebelah tangannya yang jatuh entah dimana.

"Very SHIT," maki Deidara menyumpah serapah kasar. Ia dengan emosi mengaktifkan bom berbentuk patungnya.

Mata Naruto membulat merasakan besarnya cakra bom jenis baru itu. 'GAWATTT!' pikirnya panik. Jika bom itu dibiarkan meledak satu desa bisa kena ledakannya. Kali ini, kubah Naruto tak akan sanggup menahannya.

Naruto sambil masih melayang di udara membentuk bola air raksasa seperti yang dibuatnya untuk menahan jutsu bola api milik pria bertopeng misterius itu. Bola air raksasa itu berhasil mengurung patung tanah liat Deidara seluruhnya. Untuk memperkuatnya, Naruto membuka gulungannya yang berisi jutsu milik Yuki Haku yakni kubah cermin es yang berhasil disegelnya. Ia pun membuka segel fuinnya. Kini, bola air raksasanya sudah terlidungi oleh kubah cermin es rapat.

DUARR! Ledakannya sangat kuat hingga terdengar ke seluruh penjuru desa. Hampir mirip bom TNT. Ledakan ini menyebabkan lapisan-lapisan pelindung Naruto bergetar hebat, retak dan pecah berantakan. Akan tetapi, berhasil menahan efek ledakannya secara keseluruhan.

Tubuh Naruto terpental jauh ke belakang, akibat tenaga ledakan yang begitu besar usai lapisan-lapisan pelindungnya pecah. Tubuhnya menabrak beberapa batang sekaligus, meninggalkan luka memar mengerikan di punggunngnya. Sebuah ranting yang terlontar di udara tak sengaja berhasil menusuk paha kaki Naruto, meninggalkan lelehan darah yang mengalir deras. Naruto merasakan pusing yang amat sangat, sebelum kegelapan menyergapnya tepat setelah tubuhnya ambruk ke tanah.

"Naruto!" raung Sasuke melotot horor.

Kejadiannya begitu cepat hingga ia tak sempat melakukan apapun untuk menolong Naruto. Melihat Naruto yang terkapar, membuat pikiran Sasuke blank seketika. Memori pahit beberapa tahun silam berputar kembali ke dalam benaknya. Sasuke seperti orang yang kehilangan arah. Mendadak segalanya jadi gelap. Mata Sasuke berubah. Jika tadi pupilnya berbentuk tomoe, kini pupilnya seperti tiga berpotongan elips. Matanya menyorot menyeramkan, menjanjikan kematian menyakitkan bagi lawannya.

Tubuh Deidara bergidik di atas burung tanah liatnya. Ia tak sempat mengelak ataupun kabur saat mata merah Sasuke berhasil memerangkapnya. Tahu-tahu, Deidara sudah berada di dunia yang berbeda. Langit di atas kepalanya tampak berwarna merah. Tak ada awan yang menghiasi. Hanya ada bulan yang bersinar terang tergantung di atas langit.

Deidara berdiri panik. Ia merasa tubuhnya kaku. Matanya melotot horror begitu sadar kedua tangan dan kakinya kini terikat di atas pancang kayu, layaknya orang yang tengah di salib. Meski ia bergerak sekuat tenaga, ia tetap tak mampu membebaskan dirinya. Matanya membelalak lebih lebar lagi menyadari bukan hanya satu Deidara yang terikat, tapi ada ratusan atau bahkan ribuan Deidara dalam posisi yang sama.

'Gez, sial sial sialll!' rutuknya dalam hati menyadari kalau ia kini tengah terperangkap dalam dunia genjutsu paling kuat di muka bumi.

Deidara menatap nanar sosok yang melangkah santai ke arahnya dengan nafas yang sudah kembang kempis. Sasuke memandangnya datar, tapi sorot matanya persis seperti mata psikopat. Kali ini habis sudah riwayatnya. Kenapa ia bisa begitu sesial ini sih? Kenapa tak ada yang memberi tahu kalau lawannya sudah menguasai Mangekyo Sharingan?

Deidara menyumpah serapah dengan ahlinya. Ia hanya bisa mengerang berteriak kesakitan saat Sasuke menusuk tubuhnya dengan pedangnya. Ia tahu ini hanyalah genjutsu, tapi ia tak kuasa melawannya apalagi melepaskan diri dari dunia buatan Sasuke. Luka tusukan itu terasa nyata dan berlangsung berhari-hari, hingga membuat psikis Deidara terganggu.

DUARR!

Terdengar sebuah ledakan di dekat Deidara berhasil mengalihkan perhatian Sasuke, sekaligus mengeluarkan Deidara dari dunia Tsukuyomi Sasuke. Rupanya masih ada bom Deidara yang tadi gagal dihancurkan Naruto. Deidara terengah-engah merasakan kelelahan yang amat sangat di sekujur tubuhnya. Deidara dengan sisa-sisa tenaganya segera melompat ke burung raksasanya dan kabur sebelum mati konyol di tangan seorang bocah.

Ia bersyukur dalam hati, Sasuke belum begitu ahli menggunakan Mangekyonya. Jika tidak habislah dia. Deidara tahu hanya satu orang yang bisa menyembuhkan trauma akibat terjebak dunia Tsukuyomi —jika berhasil keluar dari dunia Tsukuyomi hidup-hidup— yakni Senju Tsunade. Dan ia yakin 100 %, seyakin jika seni ledakannya adalah yang terbaik di muka bumi ini, jika ia tidak akan sudi membantu Deidara.

Sasuke hendak mengejar, tapi ia mengurungkan niatnya. Baginya, menolong Naruto jauh lebih penting daripada menghabisi baling (banci kaleng) itu. "Naruto, apa kau baik-baik saja?" tanyanya cemas, namun tak ada sahutan.

Tanpa menonaktifkan mangekyonya, Sasuke merobek baju bagian atasnya dan lalu mengikat paha Naruto kuat-kuat untuk mengurangi pendarahannya. "Aku akan membawamu ke tempat Sakura dan lalu kita pergi ke menara. Dengan begitu, kau akan mendapat perawatan yang memadai," ujar Sasuke sambil menggendong Naruto dengan posisi bridal style.

Sasuke tak mungkin menggendong Naruto di punggungnya, apalagi memanggulnya layaknya sebuah karung, karena ranting itu masih menancap di paha Naruto. Ia tak berani mencabutnya karena takut membuat lukanya kian parah. Sasuke menggendong Naruto dengan sangat hati-hati layaknya porselin antik dan mahal.

…******….

Di lain tempat, Sakura tengah bersembunyi, mati-matian menekan cakranya. Tubuhnya menggigil ketakutan merasakan tekanan cakra yang seperti monster dari shinobi Suna berrambut merah tak jauh dari tempatnya itu. Sakura tidak sendiri. Ketiga temannya pun merasakan hal yang sama. Baik Shika maupun Sakura, sama-sama bersiap memberikan gulungan jutsu yang mereka peroleh susah payah pada makhluk berbahaya itu daripada mati di tangannya.

Gaara tahu ada empat cakra yang bersembunyi di balik semak-semak. Namun, ia sedang malas membunuh hari ini. Toh, ia sudah punya gulungan lebih dari tiga sebagai syarat kelulusan Chuunin. Matanya menatap jauh ke depan. Bibirnya tersenyum miring merasakan intensitas cakra yang membuatnya hidup.

'Sepertinya yang di sana lebih asyik,' pikirnya senang. Ia mendengar beberapa kali ledakan bom dengan intensitas tinggi. 'Lawannya pastilah sangat hebat hingga bisa menahan ledakan cakra yang demikian besar,' pikirnya semakin girang. Tekanan cakra itu bahkan bisa ia rasakan di tempatnya berdiri. Ia seperti menemukan oase di tengah ujian Chuunin yang menurutnya membosankan.

Gaara tergerak mencari pemilik cakra itu usai ledakan besar itu berakhir, namun mengurungkannya karena merasakan pergerakan cakra berkapasitas besar ke arahnya. Eye greennya berhasil menangkap sosok satu-satunya Uchiha yang jadi peserta ujian Chuunin tahun ini tengah menggendong rekannya yang sedang terluka. Gaara mengulum sebuah senyuman, merasa mendapat jackpot hari ini.

Ia sudah berniat menyongsong dua orang yang mulai menampakkan wujudnya. Tapi, cakra Shukaku menekannya agar ia tetap diam di tempat. Gaara menahan nafasnya saat eye greennya menangkap mata merah mengerikan yang sedang berputar cepat itu ke arahnya. Mata itu terasa sangat mengintimidasi dan seakan-akan menyedot hawa kehidupan lawannya. Gaara sampai merinding dibuatnya. Bukan hanya Gaara, bahkan Shukaku yang disegel dalam tubuhnya pun mengkeret di kandangnya, tak tahan dengan tatapan si Uchiha.

"Apa yang kau inginkan?" tanya Sasuke tanpa basa-basi, masih dalam posisi menggendong Naruto.

"Tidak ada. Aku hanya sedang menunggu kedua rekanku di sini," ujar Gaara di luar dugaan. Ia pikir akan lebih baik jika ia menghadapi si Uchiha ini nanti. Akan sangat menarik, jika ia bisa mengalahkan teknik matanya yang belum pernah dilihatnya ini. "Ah, itu mereka," ujarnya menunjuk dua orang yang baru datang.

"Sampai ketemu lagi. Ku harap aku bisa bertarung denganmu nanti, Uchiha," ujarnya tampak senang membuahkan kernyitan heran di kening dua rekannya. Tak biasanya Gaara seperti itu, terlalu antusias untuk ukuran seorang emotion-less sepertinya.

"Hn," gumam Sasuke datar.

Begitu Gaara dan dua rekannya pergi, barulah Sakura dan tim 10 keluar dari persembunyian. "Oh, ya Tuhan. Tadi nyaris sa..." Mulut Choji menganga lebar karena terkejut mendapati sahabat pirangnya terluka sangat parah. Ia bahan lupa apa yang hendak dikatakannya tadi.

Dengan panik, ia menghampiri Naruto. "Oh, ya Tuhan. Naruto.. Apa yang terjadi?" gumam Choji prihatin. Sakura memang sudah cerita sekelumit kenapa ia terpisah dari timnya, tapi ia tak menyangka jika lawan keduanya sebegitu hebatnya hingga bisa membuat Naruto terluka parah.

"Nanti saja ceritanya. Kau sudah menemukan pasangan gulungan tim kita kan?" tanya Sasuke pada Sakura yang dibalas dengan anggukan dan tatapan bangga karena ia pun berguna untuk timnya. "Lebih baik kita pergi ke menara sekarang. Naruto butuh perawatan segera," kata Sasuke memperbaiki gendongannya yang melorot.

"Tak akan sempat. Akan ku coba mengobatinya," kata Sakura yang sudah belajar medis sedikit-sedikit. Ia menyuruh Sasuke membaringkan Naruto ke tanah dan menyuruh Ino dkk menyiapkan ramuan obat. Naruto mengerang, menjerit kesakitan saat Sakura mencoba mencabut ranting yang menancap pada pahanya.

"Naruto bertahanlah," bisik Sasuke sambil menggenggam tangan dan kaki Naruto yang bergerak liar dibantu anggota tim 10 agar Sakura bisa menyelesaikan tugasnya.

"Bunga mawar bermekaran di pinggir sungai. Sungai yang indah sekali berkilau tertimpa cahaya," gumam Naruto tak jelas begitu ia siuman.

Shikamaru yang tengah merebus obat, menoleh cemas. "Jangan itu sungai Sanzu (sungai perbatasan dunia dan akhirat menurut kepercayaan orang Jepang). Jangan menyeberang! Meskipun di sana ada orang-orang yang kamu sayangi menjemputmu," ujar Shika.

"Apa? Kenapa tidak boleh?" gumam Naruto melantur. Kesadarannya semakin tipis seiring pendarahannya yang belum berhenti.

Sakura bertindak cepat. Ia membalur luka Naruto dengan ramuan yang dibuatnya, menghiraukan erangan menyayat hati rekannya. Ia lalu memaksa Naruto minum ramuan anti demam dan suplemen tambah darah untuk mengatasi anemianya akibat pendarahan.

"Beres, sekarang kita bisa pergi ke menara," ujar Sakura yang diamini keempat temannya. Naruto tidak dihitung karena ia tengah tidur akibat ramuan dari Sakura. Sasuke kembali menggendong Naruto, kali ini di punggunggnya, dan bersiap meninggalkan hutan kematian bersama teman-temannya yang lain.

…..*****….

"Kau kalah dari dua orang genin itu?" tanya Sasori tak percaya dibalik kain halus yang menutupi wajahnya.

"Genin apanya?" rutuk Deidara. "Itu sih penipuan. Si Uchiha itu menguasai mangekyo sharingan, sedang si Pirang sangat ahli melacak cakra. Ia bahkan tahu keberadaan Zetsu," tambahnya sambil meringis, menahan sakit saat Sasori bermurah hati menyambung tangannya yang putus.

Sasori diam sejenak. Otaknya mencerna informasi dari Deidara. 'Mangekyo?' batinnya mengingat-ingat literature terlarang yang tak sengaja dibacanya saat ia menyambangi rumah Kazekage kedua.

Kalau tak salah ingat, mangekyo adalah tahapan evolusi sharingan selanjutnya. Kemampuan genjutsu mangekyo sangatlah hebat hingga mampu mengendalikan monster liar seperti Kyuubi. Pengguna Mangekyo adalah mimpi buruk para shinobi pada perang dunia ninja bertahun-tahun yang lalu. Dan, bocah itu sudah berhasil mengaktifkannya di usia yang masih sangat belia?

"Lalu, sekarang bagaimana?" tanya Deidara mengusik lamunan Sasori.

"Kita tetap pada rencana semula. Saat perang nanti, kau bisa menyusup kembali untuk menghabisi dua orang itu," kata Sasori.

"Hm," gumam Deidara. Ia merebahkan tubuhnya yang kelelahan ke ranjangnya. Ia lebih memilih beristirahat daripada memikirkan sesuatu yang rumit. Biarlah, urusan SasuNaru ia selesaikan nanti. Toh, ia masih punya banyak waktu untuk menuntaskan misinya.

…..*****…..

Shisui menatap Naruto yang terbaring di ranjang rumah sakit. Meski wajahnya tampak datar, namun sorot matanya tampak sayu. Ia berduka atas kejadian naas yang menimpa Naruto. Ia tak menyangka, jika team Naruto akan diserang oleh anggota kawanan Pria bertopeng misterius di Konoha, tepat di bawah hidungnya. Terlintas dalam benaknya pun tidak. Namun, ia cukup lega. Naruto dan Sasuke mampu menghadapi si pembunuh itu. Sasuke bahkan berhasil membuatnya lari tunggang langgang.

Haahh.. Shisui menghembuskan nafas membuat kaca di depannya berembun. Hatinya sedang dilanda gundah gulana. Ia memang sudah merasakan firasat buruk saat telinganya menangkap suara ledakan yang sangat besar di Shi no mori, tapi ternyata ini lebih buruk dari dugaannya semula. Sasuke babak belur dan Naruto nyaris tewas.

Shisui bertanya-tanya dalam hati, 'Kenapa harus Sasuke dan kenapa harus Naruto?' Berbagai pertanyaan berputar-putar liar di dalam otaknya. Apa istimewanya SasuNaru hingga pria itu sangat menginginkan kepala keduanya? Ia bahkan sampai menyuruh shinobi rank S untuk turun tangan menghabisi SasuNaru. Haahh… Shisui kembali menghembuskan nafas. Semakin dipikirkan semakin membingungkan. Kepalanya seperti mau pecah. Pusing tujuh keliling.

"Bagaimana keadaannya?" tanya Itachi yang baru bisa menjenguk, usai melakukan misinya.

"Sudah lebih baik. Untunglah, lukanya tidak mengenai organ vital," sahut Shisui tanpa mengalihkan perhatiannya.

"Hn," gumam Itachi yang kali ini tidak membuat Shisui jengkel. Mungkin, ia sudah lelah memperingatkan sahabatnya untuk tak bergumam 'Hn,' di depannya. "Aku akan mengumumkan pengunduran diri Naruto,"

"Tidak. Naru-chan akan tetap mengikuti ujian Chuunin,"

"Apa? Kau serius?" tanya Itachi terkejut dan dibalas anggukan kepala oleh Shisui. "Kau gila. Kau mau membunuh Naru-chan? Dengan lukanya itu, Naru-chan tak mungkin melanjutkan seleksi tahap selanjutnya,"

"Naruto tak akan mengikuti seleksi tahap ketiga besok. Ia masih butuh istirahat untuk memulihkan lukanya setidaknya 2 hari ini,"

Itachi bingung. "Lalu bagaimana caranya Naru-chan lolos, kalau ia tidak mengikuti seleksi besok?"

Shisui tersenyum manis, teramat manis sampai melampaui manisnya gula, membuat perut Itachi mengejang tak nyaman. Ia merasakan firasat buruk. Ia hanya bisa berdoa dalam hati, semoga sahabatnya ini tidak menyuruhnya melakukan sesuatu yang aneh-aneh lagi. "Kan ada kau. Kau yang akan menggantikan Naru-chan besok," kata Shisui riang yang ditelinga Itachi bagai suara petir.

Jeglerrr! Dunia Itachi retak, hancur berantakan. Mulutnya sampai menganga lebar. Ia syok berat. Bayangan Itachi mengenakan baju Naruto membuat perutnya mulas. Dango yang tadi sore ia makan seperti naik ke kerongkongan terasa masam dan sangat tak enak karena telah bercampur dengan asam lambungnya. Itachi mendongak dan menutup mulutnya agar ia tidak muntah di tempat. "Itu melanggar peraturan," sergahnya.

"Kau lupa dengan pakem, 'Peraturan ada untuk dilanggar,'?"

"Oh, God. Shisui! Kau itu benar-benar..ukh.." Saking emosinya, Itachi sampai kehilangan kata-kata. Tangannya mengepal, gemes ingin mencabuti rambut SHisui satu per satu. "..keterlaluan. Apa terlalu lama berdiam diri di kantor hokage membuatmu gegar otak?" sambung Itachi dengan nada tinggi.

"Aku sudah pernah bilang bukan, jika SasuNaru adalah kartu trufku?" ujar Shisui.

"Itu tak bisa dijadikan pemben…," sergah Itachi dengan mata mendelik.

"Aku lebih mengkhawatirkan nasib genin-genin Konoha yang manis dan imut daripada peraturan," potong Shisui bersikukuh.

Keduanya saling melotot, mengadu keterampilan masing-masing dalam mengintimidasi dan mempengaruhi lawan. Namun, akhirnya Itachi si pria Uchiha yang berhati lembut dan baik itu pun mengalah. Ia pikir percuma juga melawan. Ia bakal masuk di rumah sakit jiwa terlebih dulu sebelum ia berhasil mempengaruhi Shisui. Kekeras kepalaan Shisui hanya bisa ditandingi oleh mendiang Yondaime atau Sasuke, adiknya.

"Lalu, bagaimana caraku mengelabui hidung si Inuzuka dan anjingnya, serangganya si, Aburame, atau shinobi tipe pelacak lainnya?" ujar Itachi masih berusaha mengelak.

"Tenang, aku sudah mempersiapkan semuanya. Kau bisa mulai pakai sabun, sampo, minyak wangi dan baju-baju Naru-chan mulai hari ini," balas Shisui dengan sangat manis membuat bulu kuduk Itachi meremang.

Wajah Itachi memucat. Matanya menatap horror barang-barang milik Naruto yang entah kapan diambil Shisui. Ia menelan ludahnya kasar. Mendadak, tenggorokannya terasa sangat kering. 'Haruskah aku pakai barang-barang itu?' pikirnya horror. Ini mungkin misi paling sulit yang pernah dilakoninya.

"Hanya kau yang ku percaya, Chi. Karena itu, aku memberimu misi ini. Jika bukan kau siapa lagi?" ujar Shisui dengan raut sedih, membuat Itachi mencelos tak enak hati.

Dalam hati, ia misuh-misuh, menyesal kenapa dulu mau berteman dengan Shisui? Gara-gara itu, ia sulit menolak permintaan Shisui, meski sebagian besar permintaannya sering kali menistai Itachi. Shisui dan obsesinya pada kemeriahan memang kombinasi maut, lebih mengerikan daripada duet Danzo dengan pria bertopeng misterius sialan itu. Menghadapi mereka jauh lebih mudah daripada Shisui berikut kegilaannya.

"Hn," gumam Itachi yang diartikan sebagai sebuah persetujuan oleh Shisui.

"Trims, Chi. Kau memang selalu bisa diandalkan," ujar Shisui terdengar riang seperti anak seorang remaja tanggung yang tengah kasmaran.

Itachi memutar bola matanya, sebal. 'Seperti aku punya pilihan lain saja,' pikirnya merutuki nasib sialnya.

Syukurlah, Dewi Fortuna masih tersenyum pada Itachi. Ia tak perlu repot-repot mengenakan baju kebesaran Naruto yang sangat dibencinya, karena Naruto sendiri yang maju. Naruto memaksakan diri mengikuti seleksi selanjutnya, walaupun lukanya belum sembuh benar. Ia berhasil lanjut ke tahap selanjutnya usai mengalahkan Kiba dan partnernya, Akamaru.

Sasuke yang bertanding setelahnya pun berhasil mengalahkan lawannya dengan telak. Ia tak menonton pertarungan antara Sakura vs Ino karena ingin menemani Naruto yang kembali dilarikan ke rumah sakit. Selama menunggu di rumah sakit, ia dikejutkan oleh kehadiran Maito Guy dan panitia Chuunin. Mereka datang dengan wajah panik membawa Rock Lee, the next Maito Guy yang terluka parah. Katanya, ini ulah shinobi dari Suna yang berambut merah darah.

Tangan Sasuke terkepal erat. Walaupun ia tak begitu dekat dengan Lee, namun ia simpati dengan perjuangannya. Lee hampir mirip dengan Naruto, sama-sama tak memiliki cakra. Keduanya, sama-sama berlatih begitu keras, siang dan malam untuk menjadi shinobi yang hebat. Akan tetapi, semua impian Lee kini harus pupus. Lee diprediksi tak akan bisa lagi menjadi shinobi mengingat urat-urat di tubuhnya yang putus.

"Gaara!" Desis Sasuke. Matanya menyorot penuh dendam, memikirkan berbagai macam cara untuk menyiksa orang yang telah membuat impian Lee hancur.

Peserta ujian Chuunin yang berhasil lolos ke tahap selanjutnya adalah Uchiha Sasuke, Gaara, Hyuuga Neji, Naruto, Kankurou, Aburame Shino, Nara Shikamaru, dan Temari. Nama mereka kembali diacak. Kali ini, mereka diberi kesempatan untuk berlatih selama sebulan dan memulihkan kesehatannya untuk kasus Naruto.

Naruto dijadwalkan melakoni pertandingan perdana yang disaksikan oleh masyarakat umum melawan Hyuuga Neji. Selanjutnya, Sasuke vs Gaara. Lalu, Kankurou melawan Aburame Shino. Pertarungan antara Shika melawan Temari jadi pamungkas di babak keempat ini.

Hampir semua peserta puas dengan lawannya masing-masing, kecuali Shika. Ia marah-marah dalam hati. "Kenapa sih lawanku selalu cewek?" ujarnya menggerutu. Menurutnya, cewek itu merepotkan. Meski, menang pun ia tak akan bangga. Naruto yang mendengarnya jadi geli sendiri. "Mungkin sudah nasibmu, Shik," gurau Naruto membuat pria pemalas itu mendengus dengan tidak anggunnya.

…******…

Shisui menatap lilin di depannya datar. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Ia hanyut dalam lamunannya sendiri hingga tak sadar jika anggota klannya sudah mulai berdatangan satu per satu. Shisui baru sadar saat telinganya menangkap suara deheman Itachi.

Samar-samar, ia mendengar Itachi bergumam, memberi tanda padanya, jika anggota klan sudah lengkap. Ia pun memutus lamunannya. Ia menatap satu per satu anggota klannya yang menatapnya balik. Meski terlihat datar, ia masih bisa membaca rasa heran, cemas, dan keingin tahuan di balik sorot mata mereka.

"Ada apa?" tanya Fugaku selaku pemimpin klan singkat dan to the point.

"Kondisi desa kita saat ini sedang genting, karena itu aku mengumpulkan kalian semua di sini," kata Shisui. Masing-masing Uchiha saling pandang, sama-sama bingung. "Lalu, kenapa kau hanya mengumpulkan kami saja? Kenapa tidak melibatkan klan lainnya?" tanya salah satu Uchiha bernama Tajima.

"Hasil pertemuan ini akan diberitahukan pada masing-masing pemimpin klan secara diam-diam. Aku tak ingin musuh tahu, jika kita sudah mengendus rencana busuk mereka," kata Shisui. Ia memberi isyarat pada Itachi untuk menjelaskan maksudnya.

Itachi lalu membeberkan rencana busuk shinobi Sunagakure dan juga Otogakure. Kedua desa aliansi Konoha ini bersekongkol untuk menginvasi Konoha tepat saat Sasuke dan Gaara bertarung.

"Berarti besok," simpul Izanami, gebetannya Itachi.

Shisui mengangguk. "Oleh karena itu aku mengumpulkan kalian. Aku percaya kalian tidak akan mengkhianatiku ataupun Konoha," ujar Shisui mengharapkan kesiapan dan kesetiaan anggota klannya. Secara aklamasi, mereka mengangguk menyetujui. Usai peristiwa di malam naas itu, klan Uchiha sudah tak lagi menyimpan dendam pada Konoha, khususnya semenjak Shisui menduduki jabatan hokage.

"Lalu, apa rencanamu?" tanya Tajima.

"Aku yakin saat ini pasukan bantuan dari kedua desa itu sedang menuju ke sini. Kita harus memotongnya dan mencegah mereka memasuki Konoha," papar Shisui sambil membentangkan peta wilayah di depan mereka.

"Butsuma pilih beberapa anggota klan untuk memberi tahu pemimpin klan secara diam-diam. Ajak mereka bersama pasukan regular untuk membentuk pasukan pengamanan dan evakuasi warga jika keadaan sudah sulit dikendalikan," perintah Shisui tegas yang diiyakan yang bersangkutan.

Butsuma langsung menunjuk beberapa temannya untuk berkumpul di tempat yang berbeda. Mereka perlu merancang pelaksanaan misi saat itu juga agar misi berjalan lancer, mengingat waktu mereka tidaklah banyak. Pagi beberapa jam lagi tiba dan ujian Chuunin babak keempat akan dimulai.

Shisui kini menatap kedua orang tua Itachi. "Paman Fugaku dan bibi Mikoto tetap menghadiri seleksi ujian Chuunin bersamaku besok. Akan sangat mencurigakan, jika paman dan bibi selaku orang tua Sasuke dan sekaligus pemimpin klan tidak hadir," ujarnya yang dijawab anggukan kepala Fugaku. "Bersiaplah jika ada tanda bahaya dibunyikan," tambahnya.

Shisui mengalihkan perhatiannya pada orang di sampingnya. "Itachi ajak serta Hoheto Hyuuga dan beberapa anggota klan terpercaya untuk mencegat shinobi Suna di sini. Beritahu juga Shin dan anbu-ne untuk menghadang shinobi Oto yang menyusup lewat titik ini. Sedangkan, Sasuke mencegat gabungan musuh di titik ini," ujar Shisui memberi intruksi.

"Aku? Lalu, bagaimana dengan ujian Chuuninku?" tanya Sasuke yang duduk di sebelah ibunya terkejut.

"Mundur saja," jawab Shisui dengan entengnya.

"Enak saja. Aku menolak," balas Sasuke dengan egoisnya.

"Sas.." erang Itachi tak habis pikir dengan keegoisan adiknya yang satu ini.

Di sisi lainnya, tampak Kakashi —satu-satunya non Uchiha yang menghadiri rapat—menatap Sasuke jengkel. 'Hei-hei, jangan bersikap egois seperti itulah!' celanya dalam hati. 'Nanti, aku nih yang dimarahi. Bukan kamu,' batinnya yang ternyata sama egoisnya karena hanya memikirkan keselamatan dirinya sendiri.

Di sisi lain tampak Fugaku geleng-geleng kepala. Ia sudah angkat tangan dengan anaknya yang satu ini. Sulit sekali mendidik Sasuke. Sasuke sangat keras kepala dan juga sangat egois. Berbeda jauh dengan kakaknya yang bahkan sudah berfikir dewasa saat ia seusia dengan Sasuke.

Namun, bukan Sasuke namanya kalau tidak keras kepala. Ia masih bersikukuh menolak. 'Jadi genin lagi, enak saja. Siapa sudi?' pikirnya egois tak mengindahkan beberapa pasang mata yang menatapnya tajam.

"Ini misi rank S," bujuk Shisui berharap membuat Sasuke luluh. Namun, percuma. Sasuke masih menggeleng. "Jika kau bersedia, aku janji akan mengajarimu teknik sharingan terbaru," bujuk Shisui lagi.

Percuma mengultimatum atau bersikap otoriter pada Sasuke. Itu sama sekali tak mempan padanya. Satu-satunya cara untuk melunakan kekeras kepalaan Sasuke adalah dengan bujukan dan iming-iming. Mungkin tawarannya kurang menggiurkan. Sasuke masih terlihat enggan menerima. "Sebagai tambahan, aku akan mengijinkanmu melawan Gaara dari desa pasir nanti," tambah Shisui riang.

"Oke, deal," balas Sasuke cepat, mensyukuri keberuntungannya.

'Dasar kemaruk. Udah egois, serakah pula. Oh, ya Tuhan. Apa aku salah mendidiknya?' pikir Itachi, Fugaku, dan Mikoto sedih. 'Sepertinya, treatment Kakashi belum membuahkan hasil yang berarti,' batin ketiganya.

"Ingat! Lakukan secara diam-diam dan jangan sampai mereka menyadarinya," ujar Shisui memperingatkan sebelum mereka bubar dan mengambil tempat masing-masing.

Malam itu, juga anggota klan Uchiha, para anbu, dan beberapa anggota klan lain bergerak secara cepat, diam-diam ke posisi yang sudah ditentukan oleh Shisui. Jantung mereka berdegup kencang, mengintai pasukan musuh yang malam ini bergerak menyusup ke Konoha.

Tak berapa lama kemudian, sosok yang mereka tunggu-tunggu muncul juga. Mereka menyerang pasukan ninja yang berseragam gelap. Pertarungan sengit pun tak terelakkan. Tidak mudah mengatasi mereka, tapi berkat kesiapan yang lebih matang dan efek kejutan, Konoha berhasil menghalau pasukan bantuan dari Suna dan Oto tepat saat hari sudah mulai terik. Itu berarti ujian Chuunin sudah dimulai.

…..*****…..

Neji senang coret bahagia. Kebahagiaan pertama yang dirasakannya setelah kepergian tragis sang ayahanda. Ia akhirnya bisa bertarung dengan Naruto, orang yang selama ini selalu gurunya banggakan karena dilatih oleh Yondaime secara langsung. Ia ingin menjajal sendiri kehebatan Naruto yang kata gurunya terbaik, entah dilihat dari sisi mananya? Karena terus terang, Neji tidak percaya.

Neji turun ke arena dengan pongah dan rasa percaya diri yang tinggi layaknya anggota Hyuga kelas atas. Ia memandang rendah lawannya yang wajahnya memucat dari atas podium. Ia berdiri diam, tapi tetap waspada menunggu lawannya turun ke gelanggang. Neji baru menyiapkan kuda-kudanya saat ia melihat Naruto melakukan sesuatu.

Naruto tampak melompat dari podium tempat para peserta dan ia lalu meledakkan cakra dalam dirinya hingga membuat tanah di sekitarnya berhamburan terangkat ke atas. Naruto memutar pedangnya dan membuat gerakan mengikuti aliran angin untuk membuat tornado berskala besar dan sangat pekat oleh material tanah dan batu yang hancur, mirip badai padang pasir. Naruto lalu bersembunyi di dalam tornado buatannya.

Di salah satu tempat duduk diantara para penonton, terdengar pekikan pelan dari bibir Hiashi. "Jadi, itu dia," desis Hiashi berdecak antara kagum dan jengkel. Kini, Hiashi tahu siapa sosok yang dulu pernah menyamar menjadi Tenno untuk menantangnya bertarung di hadapan para petinggi Konoha dan mempecundangi pula. 'Pantas hokage-sama tidak terlihat pusing dengan adanya si penyusup. Rupanya, ia sudah tahu kalau itu perbuatan anaknya,' batinnya.

"Sebaiknya kau menyerah saja sekarang, karena takdirmu hari ini kalah denganku," ujar Neji angkuh dengan byakugan yang sudah aktif.

"Huh?" gumam Naruto menatap Neji bingung. "Memangnya kau Tuhan tahu takdirku segala," ujar Naruto dibalik tornadonya.

"Cih! Dasar bodoh! Lagi-lagi, aku bertemu dengan si Bodoh yang tak tahu kapan waktunya menyerah," umpatnya.

"Jaga mulutmu! Aku tidak bodoh dan aku tidak lemah," raung Naruto geram. Dari balik tornado yang melindunginya dari byakugan Neji, ia melemparkan shurikennya dari arah depan pada Neji yang berhasil ditangkis Neji dengan kaitennya. Naruto menatapnya datar. Ia tidak heran jika Neji berhasil menangkisnya. Kaiten memang salah satu jutsu pertahanan terkuat di Konoha.

Naruto kembali melemparkan shurikennya, kali ini tidak dari arah depan, melainkan mengelilingi tubuh Neji. Neji menyiagakan kaitennya. Tangannya tampak berputar 360o menepis semua shuriken yang menyerangnya.

Neji tak sempat mengambil nafas panjang. Begitu shuriken Naruto rontok berjatuhan di atas tanah, Naruto tiba-tiba muncul tepat di belakangnya dan melayangkan sebuah pukulan yang tak bisa ia anggap enteng ke kepalanya. Untunglah, Neji cepat menyadarinya dan langsung melompat ke belakang menghindari pukulan Naruto. Jika terlambat sedetiknya saja, bogem mentahnya itu pasti mengenai tubuhnya alih-alih tanah yang kini sudah hancur membentuk kawah itu.

Neji kembali memasang kuda-kudanya. Matanya menatap waspada sekelilingnya, karena Naruto kembali menghilang, mungkin bersembunyi di dalam tornado buatannya lagi. Neji tersentak menyadari Naruto sudah ada tepat dihadapannya menyarangkan pukulan bertubi-tubi yang ditahan Neji dengan kaitennya.

Secepat serangannya, secepat itu pula Naruto menghilang tanpa jejak. Byakugannya hanya bisa mendeteksi beberapa detik begitu Naruto muncul, tapi gagal membaca aliran cakranya. 'Aku harus bisa menahan Naruto beberapa detik, agar aku bisa menggunakan Jyukenku,' pikir Neji waspada sambil menjaga irama pernafasannya. Bermain kucing-kucingan dengan Naruto memang tidak menguras cakranya, tapi membebani mentalnya karena ia tak tahu kapan Naruto muncul dan menyerangnya.

Tubuh Neji bergidik merasakan luberan cakra yang sangat besar dari atas langit. Ia mendongak ke atas yang tampak hitam kelam. Ia melihat hujan yang turun dari langit. Sayangnya, itu bukanlah hujan air, melainkan hujan shuriken dan kunai yang mengarah ke tempatnya berdiri semua. Neji melidungi dirinya dari hujan shuriken dan kunai dengan kaitennya, tapi tak semuanya berhasil ia tepis. Beberapa shuriken tampak mengenai anggota tubuhnya. Darah mengalir laksana sungai ditempat shuriken itu menancap.

Neji terengah-engah di tempatnya berdiri. Tubuhnya bergidik merasakan kekuatan lawannya yang diluar prediksinya sangat hebat, persis seperti yang dikatakan gurunya. Hormone adrenalinnya bergejolak, merasakan kepuasan yang amat sangat karena berhasil menemukan langit yang ingin dilampauinya. Mulai detik ini, Neji menjadikan Naruto rival dan tembok yang harus bisa ia robohkan.

Neji tak sempat berfikir apalagi menyiapkan kaitennya, ketika Naruto muncul tepat di bawah hidungnya menyarangkan pukulan tanpa ampun ke dadanya. Neji hanya bisa menahan serangan Naruto dengan menyilangkan kedua tangannya untuk melindungi organ-organ vitalnya. Tubuhnya terseret ke belakang beberapa langkah.

Naruto tersenyum kecil dan lalu dengan kecepatan tinggi sudah muncul secara tiba-tiba di samping kanan Neji, menyerang Neji dengan pedangnya, kiri, kanan, atas, bawah, samping dan dari berbagi penjuru. Namun, Neji masih bisa menepisnya.

Sebelum Naruto menghilang, Neji berhasil menahan tubuh Naruto lima detik lebih lama. Tak menyia-nyiakan kesempatan yang ada, Neji pun membalas Naruto dengan Jyukennya. Jari-jari tangan Neji yang sudah dialiri cakra dengan gesit berhasil menotok aliran cakra Naruto di beberapa tempat.

"Aughe #$.." Pekik Naruto sambil melompat masuk kembali ke badai pasirnya. Terlalu sibuk menyerang Neji membuat konsentrasinya pecah dan ia terkena pukulan Neji. Naruto mengertakkan rahangnya menahan nyeri yang berdenyut-denyut di pipinya. Selain menotok titik cakra Naruto, Neji juga sempat melayangkan pukulan ke pipinya.

Neji menyeringai, merasa sebentar lagi kemenangan akan diraihnya. Dengan titik cakra yang tertotok, Naruto tak akan bisa melawannya. Totokannya akan membuat aliran cakra Naruto yang sedikit itu pasti berantakan. Jika Naruto memaksakan diri, ia pasti tewas saat itu juga. 'Akhirnya, satu orang bodoh lagi tumbang di tanganku,' batinnya kejam.

Sayangnya itu tidak terjadi. Neji memang berhasil menotok titik-titik aliran cakranya. Tapi, Neji lupa memperhitungkan, jika Naruto menguasai aliran senjutsu. Dengan cakra alam yang diserapnya. Naruto berhasil membebaskan dirinya dari totokan Neji. Kini, ia berbalik menatap bengis pada Neji.

'Orang ini tidak bisa dimaafkan. Dia sangat kejam,' batin Naruto. Tindakan Neji tadi memang tergolong kejam. Neji bertarung bukan untuk melumpuhkan lawannya, tapi sudah pada tahap membunuh. Naruto tahu, tadi Neji mengincar titik cakra pada bagian jantungnya yang untungnya berhasil Naruto elakkan sehingga mengenai titik cakranya yang lain.

Naruto memandang dingin Neji. Ia lalu memperbesar tornadonya hingga menutupi seluruh arena. Genma, Kakashi, Kotetsu, dan Izumo selaku panitia sampai dipaksa mundur ke belakang untuk menghindari matanya kelilipan. Naruto mengeluarkan shurikennya dan menggandakannya menjadi ribuan, lalu menghujani Neji dengan ribuan shurikennya untuk kedua kalinya. Hujan shurikennya lebih kuat dan lebih banyak dari yang pertama.

Neji pun jadi sibuk setengah mampus menghalau hujan shuriken yang menyerangnya tanpa ampun dengan kaitennya. Naruto tidak tinggal diam. Di tengah-tengah hujan shuriken, ia mengayunkan pedangnya ke depan mengincar organ-organ vital Neji membuat Neji sangat kerepotan dan misuh-misuh tidak jelas. Naruto tersenyum evil mendengarnya. Ada kepuasan tersendiri mendengar Neji yang angkuhnya 11-12 dengan Sasuke kepayahan.

"Ah, di situ rupanya," pekik Naruto antusias. Ia berhasil menemukan sudut buta Neji yakni di tengkuknya. Diantara serangannya, hanya di bagian itu saja yang tak berhasil Neji tangkis. Shurikennya mengenai Neji di titik itu, menambah deretan shuriken yang sebelum juga menancap di sekitar tempat itu.

Begitu tahu titik butanya, Naruto pun mengarahkan ribuan shurikennya di bagian sudut itu. Neji tampak kerepotan melindungi sudut butanya. Matanya bahkan sudah berkunang-kunang merasakan betapa banyaknya cairan merah yang meninggalkan tubuhnya. Ia bernafas tersengal-sengal. Cakranya masih lumayan setidaknya masih bisa mengaktifkan byakugannya, tapi staminanya sudah hampir pada limitnya. Namun, sepertinya itu hanya dialaminya saja.

Naruto mungkin mewarisi stamina iblis layaknya anggota klan Uzumaki lainnya. Meskipun Naruto lebih banyak bergerak darinya, memforsir tenaganya sejak awal pertandingan, namun Neji tidak mendengar suara nafasnya yang berderu kencang apalagi tersengal-sengal. Nafas Naruto tampak normal senormal orang yang sedang duduk sambil membaca sebuah novel. "Kuso!" umpat Neji kesal.

Dengan tubuh yang sudah kepayahan, Neji hanya bisa bertahan tanpa bisa membalas. Neji semakin terdesak hingga ia mmembuat banyak celah. Naruto tak menyia-nyiakannya. Ia mengalirkan cakranya pada tangan kanannya dan lalu menghantamkannya tanpa ampun pada Neji hingga Neji terbanting-banting ke belakang sebelum jatuh terkapar di tanah.

Neji mendengar suara krak di tubuhnya. 'Mungkin tulang-tulangku ada yang patah,' pikirnya. Neji mencoba mengangkat kepalanya, namun gagal. Kepalanya terkulai lemah di tanah. Tubuhnya terlalu lemah hingga ia bahkan tak mampu menggerakannya seujung kuku pun jarinya.

"Ini untuk Hinata yang kau hajar babak belur kemarin," kata Naruto yang kini berdiri di hadapannya menatapnya dingin sambil menginjak perut Neji membuatnya muntah darah dan lalu menendangnya hingga tubuh Neji membentur dinding pembatas arena.

Meski sudah lemah, Neji masih sempat menatap Naruto dengan tatapan mengejek. "Kau memang anak Yondaime. Pantas saja kau hebat. Huh! Bodohnya aku melawanmu," gumamnya membuat Naruto melihat Neji bingung. "Memang benar ya. Takdir tak bisa diubah sekeras apapun aku berusaha. Aku tetap saja tak bisa mengalahkan seseorang yang sudah ditakdirkan jadi hokage," tambah Neji lirih membuat kebingungan Naruto semakin menjadi-jadi.

"Haahh," gumam Naruto bingung. 'Dia ngomong apaan sih?' pikirnya tak mengerti. Sungguh, Naruto gagal paham. Apa hubungannya coba antara takdir, kekalahan Neji di tangannya, dan statusnya sebagai anak hokage? 'Pikiran orang ini benar-benar kacau,' batinnya geleng-geleng kepala.

"Jika kau memang begitu yakin dengan takdirmu, maka kau seharusnya tak mengikuti pertarungan ini sejak awal. Kau ikut ujian ini karena kau ingin melawan takdirmu bukan?" tanya Naruto.

Neji tersenyum masam. "Dan, nyatanya kalah bukan?" sahutnya getir. "Sekeras apapun aku berlatih, aku tak akan pernah bisa menang melawan takdirku, takdir sebagai seorang pecundang," sambungnya.

"Mana mungkin," sergah Naruto tak percaya.

Tangan Neji dengan susah payah menarik headband Konohanya, memperlihatkan segel di dahinya. "Kau lihat tanda di dahiku ini? Ini adalah kutukan untuk kami, tanda perbudakan para souke atas kami para bunke dan juga bukti jika takdir tak bisa diubah," ujar Neji pahit.

"Ayahku adalah saudara kembar Hiashi-sama, tapi karena perbedaan waktu lahir, ayahku ditandai dengan ini. Meski ayahku lebih berbakat dari dia, tapi karena tanda ini, takdirnya tetap saja jadi orang kelas bawah yang tak akan pernah diijinkan mempelajari jutsu-jutsu hebat dalam klan kami. Meski ayahku lebih kuat darinya, tetap saja ia ada dipandang rendah. Sampai matipun, ayahku akan tetap berstatus sebagai budak,' lanjutnya getir penuh emosi. Ia teringat peristiwa kelam beberapa tahun silam saat ia masih kecil. Ia tertawa melengking.

"Memangnya salah ayahku apa? Ia tak pernah memilih lahir sebagai anak terakhir. Tapi, kenapa nasibnya begitu tragis? Ha ha ha…" Itu bukan sebuah tawa bahagia melainkan tawa kemarahan, marah pada takdir kejamnya.

Naruto tertunduk. Ia merasakan empati yang mendalam akan nasib Neji. Ia pasti sangat menderita menjalani hidup dengan pikiran bahwa ia adalah budak yang bisa ditumbalkan sewaktu-waktu oleh majikannya tanpa bisa melawan. Neji pasti sangat mengharapkan kebebasan. Tapi, membully Hinata sampai gadis itu kritis juga tak bisa dibenarkan.

"Takdir setiap manusia memang sudah ditentukan sejak lahir, tapi dengan kerja keras kita bisa mengalahkan takdir," balas Naruto tersenyum tipis. "Berbeda denganmu yang jenius, aku lahir tanpa cakra. Sejak kecil, aku dicap pecundang. Produk gagal. Tapi, aku tak menyerah. Akan ku buktikan pada dunia kalau kata-kata mereka salah. Seorang pecundangpun bisa hebat, selama ia tak menyerah pada mimpinya," lanjutnya.

Naruto memandang Neji dengan tatapan lembut. "Jika kau terlahir lemah, maka berlatihlah agar kau kuat. Jika kau bodoh maka belajarlah agar kau pintar. Dan, lalu taklukkan takdirmu. Saat itulah, kau akan mendapatkan kemerdekaanmu yang hakiki," petuah Naruto sebelum meninggalkan Neji yang bungkam seribu bahasa.

"Cih," decih Neji mengumpat. Hatinya yang kemarin diliputi kemarahan, kini terasa kosong. Naruto berhasil membuatnya mengeluarkan setiap inchi kemarahannya hingga tak bersisa lagi. Ia menatap nanar Naruto yang berbalik memunggunginya kembali ke podium para peserta ujian bersama peserta yang belum tampil hari ini. Naruto terlihat gagah jika dilihat dari tempatnya. Ia seperti melihat cahaya nan hangat memancar dari tubuh anak laki-laki yang sering ia ejek cowok cantik secara diam-diam.

Neji menyunggingkan senyum samar, kagum akan keberanian Naruto. Naruto memang hebat. Ia tidak diam berpangku tangan dan menyerah dengan keadaannya yang terlahir tanpa cakra. Sebaliknya, ia mendobrak takdirnya dan berlatih keras untuk mewujudkan mimpinya sebagai seorang shinobi.

"The power of dream," ujarnya lirih saat beberapa ninja medis mengangkatnya ke atas tandu dan membawanya keluar dari arena. Pasti itu yang membuat Naruto tampak keren. "Tunggulah aku di tempatmu, Naruto! Aku pasti datang lagi untuk menantangmu. Saat itu, akan ku perlihatkan kehebatanku sebagai seorang Hyuga Neji dan bukannya bocah menyedihkan seperti diriku hari ini," tambahnya lirih nyaris seperti bisikan angin.

Neji tersenyum tipis. Kali ini, bukan senyuman pahit, masam ataupun getir. Ini senyum penuh kebahagiaan, senyum harapan bahwa esok akan lebih baik dari hari ini.

"Otousan?" panggil Hanabi adiknya Hinata lirih di samping ayahnya. Ia menatap gelisah sang ayah yang ekspresinya tampak keruh dan terganggu. Mungkin ada hubungannya dengan perkataan kakak sepupunya yang tengah ditandu oleh para ninja medis.

"Belajarlah untuk tidak pernah meremehkan musuhmu, meski ia terlihat lemah, jika kau tak ingin berakhir seperti kakak sepupumu itu," kata Hiashi memberi petuah singkat. Ia bangkit untuk menemui Neji yang tengah dirawat tim medis.

"Kau suka Hinata, ya Nar?" todong Ino begitu Naruto bergabung dengan mereka. Hinata yang tadi berniat menghampiri Naruto diiringi Kiba di sampingnya tertunduk malu mendengarnya. Meski, hatinya pun berdebar-debar sangat ingin tahu jawaban Naruto, pria pujaannya selama ini.

"Tentu saja aku suka padanya. Dia kan baik. Manis lagi," jawab Naruto membuat Ino tersenyum penuh arti melirik Hinata yang wajahnya sudah semerah tomat, buah kesukaan Sasuke. "Aku juga suka kau," lanjut Naruto membuat wajah Hinata memucat, Ino bergumam tak jelas, dan Sakura mengikik geli.

Shika yang berdiri dekat Ino mengalihkan tatapannya pura-pura tak dengar, meski telinganya siaga. Lumayan ada bahan untuk menggoda Ino yang terkenal bawel di timnya. Choji dan Kiba tak ambil perduli. Kiba sibuk mengelus-elus akamaru yang bertengger di atas kepalanya, sedangkan Choji sibuk makan snacknya.

"Terus, aku juga suka Sasuke, Shika, Choji, Guy-sensei, Kakashi-sensei, Shisui-nii, Iruka-sensei, Kiba, Sakura-chan, dan masih banyak lagi. Hmm, sepertinya aku suka semua penduduk Konoha," tambahnya membuat Ino nyaris terjungkal ke belakang karena syok. Shika dkk mengikik geli menertawakan ekspresi bodoh Ino. Akhirnya, ada juga saat dimana seorang Ino kehilangan kata-kata.

'Bukan suka seperti itu yang ku maksud,' batin Ino menatap Naruto iba. 'Dasar telmi,' umpatnya dalam hati.

"Apa?" tanya Naruto menyadari tatapan aneh temannya. "Ada yang salah?"

"Tidak sama sekali," balas Ino sarkastik. Naruto hendak membalas, tapi mengurungkan niatnya karena Ino sudah mendelik galak padanya.

Usai pertandingan menegangkan dan penuh tensi antara Naruto vs Neji, Genma memanggil peserta selanjutnya untuk tampil. Gaara sudah turun di arena pertandingan, menunggu Sasuke, lawannya dengan wajah lempeng. Eye green-nya tampak berkilat, tak sabar bertarung dengan si Uchiha itu. Akan tetapi setelah sekian lamanya menunggu, Sasuke tak kunjung datang.

Semua orang yang menonton pertandingan menunggu dengan gelisah Sasuke yang sedari tadi tidak tampak batang hidungnya. Sejam sudah mereka menunggu, namun yang ditunggu belum muncul juga. Kesabaran mereka sudah sampai pada puncaknya. Mereka pun berteriak riuh, menyoraki para panitia yang juga dilanda kebingungan. Para penitia tampak panik menenangkan penonton yang mulai tak terkendali.

Naruto juga bingung ditempatnya berdiri di samping Sakura-Ino yang sibuk ngoceh tidak jelas. Ia merasakan cakra Sasuke ada di luar desa bersama cakra asing dan cakra beberapa shinobi Konoha. 'Apa yang sedang kau lakukan, Sasuke?' pikirnya gelisah mengabaikan gumaman tak jelas Sakura dan teman-temannya.

"Sesuai peraturan, Sasuke akan kami…" kata Shisui bijak hendak menyuruh Genma memberi pengumuman.

"Tunggu dulu. Aku ingin melihat Gaara kami melawan Uchiha, salah satu klan elit Konoha. Kami tidak akan puas sebelum melihat keduanya bertarung," potong Kazekage keempat.

"Tapi, waktunya sudah lewat."

"Kita bisa memajukan pertandingan selanjutnya bukan?" tawar Kazekage yang dengan terpaksa diamini Shisui.

"Pertarungan Sasuke vs Gaara ditunda untuk sementara waktu. Selanjutnya, kita lihat pertarungan antara Kankurou vs Aburame Shino," teriak Genma mengumumkan.

Kankurou terkejut mendengarnya. Ia menatap boneka di punggungnya. Tampak lekukan samar di dahinya. Wajahnya memperlihatkan ketidak sukaan. 'Jika aku maju sekarang, nanti rahasiaku terbongkar dan itu akan merusak rencana kami. Lebih baik aku..' pikir Kankurou. Ia menatap Temari saudaranya. Keduanya saling berkomunikasi dalam diam. Temari mengangguk dan ia pun mengacungkan tangannya ke atas.

"Maaf, aku memilih mundur," teriak Kankurou menolak tanpa alasan yang jelas.

Gumaman riuh kembali terdengar. Mereka memekik tak suka karena taruhan mereka jadi berantakan hari ini gara-gara absennya dua pertandingan sekaligus dalam satu waktu. Gumaman itu berhenti berkat teriakan membahana seorang Genma.

"Karena Kankurou mundur, maka Shino kami nyatakan menang," putus Genma yang disambut raut masam Shino. Ia tak senang dinyatakan menang secara WO dengan kata lain, ia tak bisa menunjukkan kebolehannya. "Cih!" decihnya dibalik jaketnya. Ia menghibur dirinya, berharap nanti bisa melawan Gaara, Sasuke, atau Naruto. Itu cukup menghiburnya.

"Selanjutnya pertandingan Nara Shikamaru vs Temari," teriak Genma lagi.

Shika berniat mundur juga dari pertandingan kalau saja Naruto tidak mendorongnya kuat-kuat hingga ia terjatuh ke dalam arena dengan posisi memalukan. Ia mendapat teriakan, "Huuu..!" dari penonton untuk aksinya yang payah di awal pertandingan. Shika mau tak mau harus bertarung serius, setidaknya untuk mengurangi kemarahan para penonton akibat dibatalkannya dua pertandingan sebelumnya.

Shika hampir memenangi pertarungan ini, kalau saja ia tak mengangkat bendera putih dengan alasan cakranya tidak mencukupi untuk melawan Temari. Padahal, aslinya ia hendak menghindari pertarungan selanjutnya yang menurutnya merepotkan, mengingat lawan-lawannya selanjutnya kuat-kuat dan berbahaya.

Karena pertandingan yang membosankan dan sama sekali tidak seru ini berakhir cepat, mereka pun terpaksa menunggu kehadiran Sasuke lagi. Namun, lagi-lagi penantian mereka berakhir sia-sia. Si Uchiha tetap tidak datang. 'Mungkin, ia ketakutan melawan si buas Gaara,' pikir para penonton yang untungnya tidak didengar Sasuke. Jika dengar, bisa-bisa mereka pindah ke dimensi lain bersama-sama.

Neji yang sudah lebih sehat bergabung dengan para penonton. Ia duduk di samping Tenten. 'Apa yang sebenarnya direncanakan si Uchiha itu? Apa keegoisannya kumat lagi?' pikirnya kesal. 'Sok penting banget, sih. Berasa raja saja,' batinnya jengkel sama persis dengan yang dipikirkan penonton lainnya minus fans girlnya.

"Maaf, kazekage-sama. Sepertinya, Sasuke berniat mengundurkan diri. Jadi, lebih baik kita akhiri saja dan teruskan pertandingan selanjutnya," kata Shisui ramah.

Kazekage keempat membalasnya dengan senyuman, meski tidak sampai mata. Tangannya tampak mengepal erat dibalik jubahnya. "Ku rasa kau benar," katanya tak ikhlas. 'Sial! Ini tidak sesuai dengan rencanaku,' batinnya yang dengan terpaksa mengubah rencana.

"Karena Sasuke tidak datang sampai batas waktu, maka Gaara kami nyatakan menang. Kita akan mengacak lagi nama para peserta untuk pertandingan selanjutnya!" teriak Genma memberi pengumuman. Ia melihat mesin mengacak nama peserta ujian Chuunin yang kini tinggal empat.

"Yak, kita sudah dapat namanya. Uzumaki Naruto vs Gaara," teriaknya lantang yang disambut sorak senang para penonton. Mereka diam-diam menunggu aksi mengejutkan Naruto yang diluar dugaan tampil bagus, meski sempat masuk rumah sakit usai babak kedua.

Gaara dan Naruto kini saling berhadapan di arena. "Aku tak menyangka, kau yang akan jadi lawanku," kata Gaara terdengar bosan dan meremehkan.

"Begitu pula denganku," balas Naruto sambil menyerang Gaara terlebih dahulu dengan pukulan ke wajahnya yang ditahan Gaara dengan pasirnya. Naruto menarik tanganya sebelum Gaara memerangkapnya dengan pasirnya.

"Apa kau sudah kehilangan kreativitas? Cara yang sama jarang berhasil untuk kedua kalinya," kata Gaara datar. Ia mengubah pasirnya seperti jarum nan runcing yang berjatuhan menyerang Naruto. Untuk menghindari hujan jarum pasir, Naruto membuat kubah perisai dengan cakranya. Semua jarum itu hancur menjadi pasir kembali begitu membentur kubah perisainya.

Naruto bergerak dengan cepat dan gesit, menghindari pasir Gaara yang meliuk-liuk seperti pusaran angin, mengincar bagian-bagian tubuh Naruto untuk diremukkan. Sesekali, ia menebaskan pedangnya untuk menghancurkan pasir yang menyerangnya layaknya debu. Naruto lalu melompat sangat tinggi di atas udara. Tangannya mengeluarkan gulungan bertuliskan deretan huruf fuin nan rumit.

Gaara diam menunggu, menduga-duga apa yang akan dilakukan si pirang di atas sana. Ia terus menunggu hingga Naruto usai membuka segel fuin pada gulungan yang ia bawa. Ia tak tahu kalau itu tindakan yang luar biasa bodoh.

Seharusnya, ia menyerang sebelum lawan mengeluarkan jutsunya. Tapi, Gaara terlalu berbangga hati pada kekuatannya hingga ia teledor, lupa jika tiap jutsu tidak ada yang sempurna. Pasti ada kelemahannya termasuk jutsu pengendalian pasir miliknya. Sudah terlambat baginya untuk menyelamatkan diri, ketika ia tahu jutsu apa yang dikeluarkan Naruto.

Ia mendongak ke atas. Matanya menyipit nan tajam untuk memperjelas penglihatannya. Ia akhirnya menangkap rintik-rintik air yang lalu berubah menjadi hujan bah hingga menenggelamkan seluruh area pertempuran. Sesudahnya, keluarlah sosok naga air yang menyerang pasir Gaara dan membuatnya mengendap di bawah dan basah.

'Brengsek,' umpat Gaara dalam hati. Hanya sedikit pasir yang berhasil ia selamatkan. Sisanya teronggok di bawah sana dalam keadaan basah. Rahang Gaara mengeras. Ia mengeluarkan cakranya plus cakra Shukaku untuk menghancurkan kekkai di sekitar arena dan juga dinding arena —hampir tiga per empatnya— hingga remuk menjadi tanah. Akibatnya, para penonton yang berada di atas podium berhamburan pindah ke posisi yang lebih aman. Sekarang, Gaara memiliki persediaan pasir lagi.

Gaara membuat hujan pasir berbentuk jarum, lalu menyerang Naruto membabi buta, menghalangi si pirang untuk membuka segel pada gulungannya lagi. Ia tertawa evil di tempatnya berdiri, karena berhasil menusuk paha dan kedua tangan Naruto dengan pasirnya. Sekarang, Naruto tak bisa lagi mengeluarkan jutsu air. Gaara bersiap menyiksa korban yang kini sudah terpojok.

Sayangnya, dugaan Gaara salah. Ia tak tahu jika Naruto yang tertusuk jarum pasirnya hanyalah bunshin. Naruto yang asli sudah berada di belakang Gaara dan menendang Gaara sekuat tenaga. Namun, pasir Gaara dengan sigap membloknya. Gaara hanya bergeser beberapa inchi dari tempatnya semula. Serangan Naruto lagi-lagi gagal. Tangannya bahkan tertangkap oleh pasirnya.

"Gotcha. Ia catch you,"

"Oh, really? Are you sure?" ejek Naruto. Tanpa diduga, Naruto melemparkan kunai yang sudah ditempeli kertas peledak.

Gaara dengan cepat membuat bola pertahanan dari pasir untuk melindungi dirinya dari kertas peledak. Lalu terdengar suara, 'DUAARR!'. Sebuah ledakan besar terjadi, tapi bukan dari kertas peledak Naruto, melainkan bom berbentuk burung yang dulu di atas langit sana.

Naruto mengumpat dalam hati. 'Kenapa dia lagi sih?' batinnya jengkel pada makhluk cantik berambut pirang yang tengah terbang di atas burung raksasa berwarna seputih salju, yang disebut Sasuke banci.

Naruto hendak bergerak menghadapi makhluk wannabe itu, tapi pasir Gaara menghalanginya. "Lawanmu aku," katanya dingin. Naruto hendak membalas jika sekarang bukan lagi waktunya memikirkan ujian Chuunin. Desanya sedang diinvasi oleh…

Naruto membelalak terkejut. 'Ada yang salah di sini,' batinnya curiga. Ia melihat para penonton satu per satu bertumbangan secara mendadak seolah tertidur entah karena obat bius atau genjutsu. Dan lalu, terdengar suara poff.. poff.. poff.. dimana-mana bersaing dengan suara duarr..duarrr..duarr… ledakan di hampir tiap penjuru desa. Seakan ingin melengkapi keanehan ini, para penonton yang tertidur itu tiba-tiba berubah jadi batang, batu, atau shinobi Konoha lengkap dengan senjata andalan masing-masing.

'Kawarimi? Kenapa penontonnya kawarimi dan.. ukh shinobi yang melakukan henge? Apa yang sebenarnya sedang terjadi di sini?' pikir Naruto kebingungan.

Setelah itu, shinobi dari desa Oto berdatangan bak hujan. Mereka menyerang para shinobi Konoha. Dua shinobi yang berasal dari desa yang berbeda itu kini bertarung satu lawan satu dengan para shinobi Konoha. Mereka saling beradu ninjutsu masing-masing berharapnya jutsunya lah yang paling hebat. Dari arah lain lagi, muncul shinobi dari desa Suna. Ia juga menyerang shinobi Konoha.

"Oh," gumam Naruto paham sekarang. Mata Naruto mengeras menatap nyalang Gaara. Kemarahan terkumpul dalam dadanya. "Jadi ini rencana kalian. Bekerja sama dengan shinobi Oto untuk menusuk kami dari belakang. Dasar pengkhianat! Pengecut!"

"Grrrr..," geram Gaara dengan suara menyeramkan layaknya binatang buas. Amarah membuat otaknya lumpuh. Gaara membiarkan insting liarnya menguasai dirinya. Baginya, dalam pertempuran semua sah. Pasir Gaara berriak seperti gelombang laut, membabi buta menyerang Naruto yang untungnya berhasil dihindari Naruto dengan melompat-lompat.

Sambil melompat, tangannya sibuk menebas pasir Gaara di sana-sini untuk memutus perangkap pasir Gaara. Terlambat sedikit saja, ia pasti akan berakhir seperti Lee. Naruto tiba-tiba menghilang dan muncul secara mendadak di belakang Gaara. Gaara berhasil menghindari serangan Naruto dengan perisai pasirnya.

Dari jarak 5 meter, Naruto berlari lalu melompat seraya melayangkan tendangan tanpa bayangan secara beruntun disusul dengan pukulan sapu jagat pada Gaara. Gaara tak siap menahan serangan Naruto. Akibatnya, tubuh Gaara terpelanting ke belakang dan menabrak sisa tembok yang masih utuh. Tampak tubuh Gaara retak-retak karena terkena pukulan Naruto. Bahkan, bibir Gaara robek mengeluarkan bau amis darah.

Gaara bangkit. Matanya menatap nyalang Naruto. Baru kali ini ada orang yang berhasil merusak pertahanan absolutnya. Pasirnya kalah cepat dari Naruto sehingga ia gagal membuat tameng terbaiknya. Naruto kembali menyerang Gaara. Gaara menghindar ke samping. Pukulan Naruto mengenai tanah yang tadi dipijak Gaara menyebabkan tanah itu hancur membentuk kawah yang sangat dalam.

Gaara tak sempat menarik nafas lega karena Naruto kembali memberinya pukulan beruntun. Gaara yang tak ingin bonyok melompat menghindar. Ia dengan cepat membuat bola pasir raksasa yang menutupi seluruh tubuhnya begitu ada kesempatan, agar terhindar dari serangan Naruto.

Naruto menyipitkan matanya. Otaknya berfikir keras bagaimana cara terbaik menghancurkan bola pasir raksasa itu tanpa harus mengorbankan salah satu anggota tubuhnya. Naruto menghimpun Chi-nya dalam jumlah besar ke dalam pedangnya. Selanjutnya, ia berlari dan mengayunkan pedangnya dalam beberapa tebasan.

Bola pasir Gaara berhasil terbelah menjadi beberapa bagian, lalu meledak karena Naruto menempelkan kertas peledak sesaat sebelum ia menebaskan pedangnya. Bola pasir Gaara kini hancur sepertiganya dan memperlihatkan Gaara yang menatapnya marah.

"Karena kau telah mendesakku sejauh ini, ku beri kau hadiah," ujarnya dengan senyum psychonya, sembari membuat segel.

Naruto menunggu jutsu apa yang akan dikeluarkan Gaara. Namun, ia tak melihat apa-apa, kecuali tubuh Gaara yang membungkuk ke depan. Kepalanya terkulai lemah dan matanya tertutup rapat. Gaara lalu membuka matanya secara perlahan, tapi sosoknya terlihat berbeda. Matanya berubah dari hijau menjadi kuning seperti mata ular. Sebagaian tubuhnya pun berubah. Tangan kini tak lagi seperti tangan manusia, melainkan seperti tangan seekor rakun berwarna kuning, tapi lebih besar.

Naruto dengan sigap mundur untuk membuat jarak, menghindari pukulan tangan monster itu. Naruto menatap datar bentuk Gaara yang sudah kehilangan separuh sisi manusianya. Perlahan, tubuh Gaara berubah jadi tubuh binatang. Naruto masih facepalm, meski ia bisa merasakan cakra yang luar biasa besar dan menyeramkan dari sosok monster di depannya, sosok bijuu ekor satu.

"Ku bunuh kau!" raung makhluk itu geram.

Keringat dingin menggantung di pelipisnya. Tubuhnya tampak bergetar. Tapi, bukan karena raungan Ichibi yang menyerang Naruto. Melainkan, karena ia merasakan cakra pria bertopeng misterius di Konoha. 'Ia pasti mencari cakra Kyuubi yang ku rebut dari Sora,' batin Naruto sambil melompat menghindari pukulan Gaara-Ichibi.

Ichibi marah karena lawannya hanya lompat-lompat menghindarinya. Ia menyemburkan bijuudama dalam ukuran sebesar bola basket ke arah Naruto. Naruto kembali melompat menghindarinya. Ia tak menyangka jika arah bijuudama itu akan menyasar Temari-Shika yang tengah bertarung dalam jarak 10 meter di belakangnya.

Wajah Naruto memucat. Jantungnya seperti berhenti berdetak. Kejadiannya begitu mendadak hingga ia tak sempat bereaksi. Di depan matanya sendiri, ia melihat Shika yang berreaksi lebih cepat melempar Temari ke tempat yang aman dari jangkauan bijuudama Gaara-Ichibi, tapi ia sendiri tak bisa menghindari serangannya. Shika hanya bisa tutup mata, pasrah dengan kematian yang sudah ada di depan mata.

Bijuudama yang beberapa detik lagi menghantam Shika, tiba-tiba menghilang begitu saja. Sebuah bayangan kini berdiri di samping Naruto. Ia seorang anbu dengan topeng neko di wajahnya. Tangannya bersedekap di depan dada angkuh. "Merindukanku, eh Dobe," ujarnya. Suaranya terdengar dingin, namun juga terasa hangat dalam waktu bersamaan.

"Jangan GR, Teme!" seru Naruto sambil mendengus tidak anggun. "Tapi, ya aku butuh bantuanmu sekarang,"

Anbu itu terkekeh geli. "Apa rencanamu?" tanyanya yakin Naruto pasti punya rencana untuk mengalahkan monster yang tengah mengamuk di depan mereka.

"Itu.." kalimat Naruto terputus. Ia bertindak cepat menggunakan segel hiraishinnya, jutsu andalan sang ayah yang baru dipelajarinya beberapa minggu ini dari Jiraiya. Dengan teknik hiraishinnya, ia berhasil memindahkan bijuudama keluar desa. Terdengar suara, 'Boom!' yang sangat besar dari arah danau di luar desa.

Beberapa ninja yang tadi bertarung di sekitar Naruto menghilang bersama lawannya, menjauhi Gaara-Ichibi agar tidak terkena bijuudama nyasar seperti yang nyaris dialami Shika-Temari. Shinobi yang tersisa tinggal Gaara-Ichibi, Naruto, dan anbu songong yang baru tiba itu.

Naruto membuka gulungannya, membuka segel untuk mengeluarkan jutsu milik Haku yakni kubah cermin es untuk memagari arena pertarungannya dengan Gaara-Ichibi. Ia tak ingin ada yang jadi korban akibat pertarungan mereka. Naruto memperkuat kubah cermin esnya dengan cakra alamnya plus cakra Kyuubi.

Bersamaan dengan berdirinya kubah cermin es Naruto, Gaara-Ichibi menyemburkan bijuudama dengan diameter 1 meter ke arah Naruto dan anbu Neko. Naruto dan anbu neko lompat tinggi ke atas membuat bijuudama itu membentur dinding es. Terdengar ledakan besar disertai kepulan asap. Namun, dinding es Naruto masih berdiri kokoh. Bijuudama itu tak sanggup menghancurkannya.

Naruto dan anbu neko baru saja menjejakkan kaki mereka ke tanah, ketika bijuudama dengan ukuran 1,5 meter kembali menyerang mereka. Anbu Neko dan Naruto melompat lagi ke atas untuk menghindari serangan. Bijuudama itu kembali membentur cermin es seperti bijuudama yang pertama.

Naruto menyerang Gaara-Ichibi dengan jutsu pedang kilat cipataannya sebelum ia menyerangnya dengan bijuudama. Si monster yang kini ukuran tubuhnya sudah sebesar berhasil mengelak serangan Naruto dengan berkelit ke samping. Ternyata ukuran tubuhnya tidak mempengaruhi kegesitan geraknya.

Naruto kembali melancarkan jutsu pedang kilatnya diiringi pukulan dan tendangan ke tubuh sang monster. Anbu neko tidak tinggal diam. Ia ikut maju menyerang dengan style taijutsunya yang khas. "Naruto mundur!" perintahnya yang dipatuhi Naruto. Begitu Naruto sudah berada dalam jarak yang aman, Si Anbu neko mengeluarkan bola api seukuran bijuudama kedua Ichibi pada Gaara-Ichibi.

Bola apinya mengenai Gaara-Ichibi telak, namun tidak memberi efek apa-apa selain kepulan asap dan sedikit gosong pada bagian perutnya. "Percuma. Tubuh monster ini terbuat dari pasir. Api tidak akan memberi efek apapun padanya," kata Naruto dari sebelah kanan si anbu neko.

"Lalu bagaimana? Masak kita diam saja,"

"Aku ada renca.. Awas!" teriak Naruto sambil melompat menghindari pukulan Gaara-Ichibi. Naruto berhasil menghindar, namun tidak dengan si anbu neko. Ia masih terkena pukulan Gaara-Ichibi, meski tidak sampai pada organ vitalnya. "Ugh.." erang si anbu neko memegangi tangannya yang tadi kena pukulan Gaara-Ichibi.

"Kita tidak bisa begitu terus, Naruto. Cakraku mulai menipis," keluh si anbu neko berusaha melompat menghindari pukulan Gaara-Ichibi selanjutnya.

"Kau benar," balas Naruto yang juga tengah menghindari serangan Gaara-Ichibi. Nafasnya mulai terdengar tak beraturan. Cakra alamnya pun sudah menipis. Ia mungkin tak bisa bertahan lebih dari 15 menit lagi. "Kita harus membangunkan jinchuurikinya. Dengan begitu, Ichibi tidak akan bisa mengamuk lagi,"

"Caranya?" tanya anbu neko yang melompat di sebelah Naruto.

"Anbu-san, tolong gunakan sharinganmu untuk menggenjutsu monster itu dan tahan dia. Beri aku waktu 1 menit untuk membangunkan Gaara!"

"As your wish," ujar si anbu-neko santai mengiyakan seolah itu sebuah pekerjaan mudah. Anbu-neko tampak melompat diantara pukulan Gaara-Ichibi, mencoba mendekati monster itu, sedekat mungkin agar ia bisa menggenjutsunya. Begitu ada celah, ia langsung menggenjutsu si monster. Ia memberi isyarat pada Naruto untuk menunaikan tugasnya.

Naruto mengangguk, tak menyia-nyiakan kesempatan yang dibuat si anbu-neko. Ia melompat mendekati Gaara yang tengah tidur. Ia mengalirkan cakranya ke tangan, memberi pukulan tidak terlalu keras pada Gaara, karena tujuannya bukan untuk membunuh melainkan membangunkan dia.

Gaara membuka matanya. Terdengar raungan marah melengking saat ia terbangun. Itu pasti suara Ichibi yang marah karena tak bisa mengamuk lagi begitu inangnya bangun. Mata kuningnya kembali ke warna bijau. Begitu pula bentuk tubuhnya menjadi tubuh Gaara kembali. Gaara terkejut. 'Bagaimana bisa?' pikirnya heran. Selama ini yang bisa menghentikan Gaara yang sudah dikuasai Ichibi hanyalah ayahnya seorang. Tapi, kenapa bocah berambut durian itu bisa.

Buakkk… sebuah pukulan melayang dan menghantam perut, tengkuk, kaki, dan dadanya. Huekk.. Gaara memuntahkan cairan plus darah kental melalui mulutnya. Eye-greennya memandang Naruto heran. Naruto berdiri tegak di depannya. Ia tampak terlihat besar, dewasa, dan kuat.

"Berhenti!" teriak Gaara terdengar melengking di tempatnya terbaring masih mencoba melawan. Pasir-pasir berterbangan di sekitaranya.

"Tidak akan. Aku tidak akan membiarkanmu merajalela dan membunuhi orang-orang yang ku sayangi," ujar Naruto teringat insiden saat ia berusaha melenyapkan Shika, dengan bijuudamanya. Ah, ia juga pernah mencoba membunuh Lee yang terbaring sakit di rumah sakit. Dia bahkan tak perduli pada saudaranya sendiri.

Naruto ingat, Gaara pernah mengancam akan membunuh Kankurou dan Temari yang melawannya. Ia pikir ia bercanda, tapi kejadian tadi adalah bukti nyata, jika ia memang tak perduli pada saudaranya. Ia hanya perduli pada dirinya sendiri. Orang macam apa dia ini? Kejam dan tak berperasaan.

"Kenapa? Kenapa kau ingin membunuh semua orang yang ada di hadapanmu? Kau bahkan tak perduli dengan keselamatan saudaramu. Apa kau tak melihat, saudara perempuanmu hampir tewas karena bijuudamamu itu?" tanya Naruto tak habis pikir.

"Huh, siapa yang perduli. Aku tak pernah menganggap mereka saudaraku. Kalau menghalangi, mereka juga akan ku bunuh."

Naruto mengerjabkan bulu matanya sesaat. 'Orang ini sakit jiwa,' batinnya. Ia mendesah. 'Kenapa lawanku selalu bermasalah sih otaknya?' keluhnya dalam hati. Jika Shika mendengarnya mungkin ia akan berkata, "Mungkin sudah nasibmu, Nar," mengembalikan gurauan Naruto.

Naruto maju melayangkan pukulannya pada Gaara. Duakkk! Sebuah pukulan tepat mengenai pipi Gaara membuat tubuhnya terpelanting ke belakang. Pasirnya gagal mengantisipasi. "Kau gila. Apa kau tak mengerti arti keluarga, Huh?" raung Naruto seperti orang kalap.

"Keluarga? Aku beri tahu kau makna keluarga bagiku. Itu hanya seonggok daging yang dihubungkan oleh kebencian dan keinginan membunuh,"

"Kau benar-benar gila. Apa yang ada di otakmu itu? Kenapa kau berfikir seperti itu?"

"Kau mau tahu. Baik akan ku ceritakan, anggap saja sebagai hadiah karena berhasil membuatku seperti ini," ujar Gaara merujuk pada dia yang kini terluka parah. "Aku terlahir dengan merenggut nyawa perempuan yang seharusnya ku panggil ibu. Aku dilahirkan olehnya sebagai monster, karena itu ia sangat membenciku. Aku lahir dengan tujuan untuk membunuh siapapun yang menghalangiku. Aku hidup hanya untuk mencintai diriku sendiri,"

BUAAKK!

Sebuah hantaman kembali menghampirinya dan membuatnya terpelanting lagi. "Jangan bicara sembarangan! Tak ada hal yang seperti itu. Tak ada ibu di dunia ini yang ingin anaknya menjadi monster. Akan ku buktikan padamu kalau kau salah," kata Naruto. Ia bersiap-siap menyerang Gaara, kali ini dengan keinginan membunuh. Ia menyalurkan cakra alam yang sudah dimanipulasi pada pedangnya dan lalu berlari menyerang Gaara.

Mata Gaara terbelalak. Ia bergerak lemah berusaha menghindar, tapi sulit dengan lukanya sekarang. Terjadi sesuatu di luar dugaan. Pasir Gaara dengan taktis dan efisien menghalangi Naruto yang berniat membunuh Gaara. Bentuk pasir itu berbeda dengan yang sebelumnya setelah cakra Ichibi terpisah dari cakra Gaara, yakni seperti bentuk wanita yang tengah melindungi seseorang yang dicintainya.

Naruto menghentikan serangannya secara mendadak dan menyarungkan pedangnya ke dalam sarungnya. Wajahnya menatap teduh patung pasir itu. "Kau lihat ini! Aku mungkin tak pernah melihat wajah ibumu, tapi aku yakin ini adalah bentuk imitasi ibumu. Benar bukan?" kata Naruto lembut.

Gaara mendongak melihat pelindungnya. Matanya nanar melihat patung pasir yang melindunginya. Benar kata Naruto, bentuknya memang mirip dengan potret ibunya. "Kenapa? Bagaimana bisa?" pekiknya bingung.

"Cakra Ichibi dipenuhi oleh kebencian dan keinginan membunuh. Cakranya selalu mencoba melukaimu dan membunuhmu. Tapi, cakra ibumu yang melebur dengan cakramu melindungimu dari cakra Ichibi. Tanpanya, kau pasti sudah tewas dari dulu," jelas Naruto.

"Kenapa kau bisa tahu?" tanya Gaara lirih.

"Karena seperti itulah seorang ibu. Ia lebih memilih mati daripada melihat anaknya terluka. Ia akan melakukan apa saja untuk anaknya agar ia bahagia. Awalnya, ku pikir ibu dan ayahku adalah sosok yang kejam. Ku pikir, mereka membenciku karena aku tidak punya cakra. Tapi, aku salah. Aku baru tahu betapa mereka sangat mencintaiku, setelah mereka tiada. Mereka melakukan itu bukan karena benci, tapi karena cintanya yang amat besar padaku. Mereka hanya ingin melindungku. Aku yakin orang tuamu pun berfikir demikian," kata Naruto selanjutnya.

Gaara terdiam masih mencerna apa yang tengah terjadi. Ia memejamkan matanya. Samar-samar, ia merasakan aliran cakra hangat yang memenuhi tubuhnya. Baru sekarang ia menyadari keberadaan cakra ini, cakra peninggalan ibunya. Hatinya yang berlubang seolah ditambal kini. Belum tertutup sepenuhnya memang, tapi mengurangi sakitnya, pedihnya. Ia merasa dicintai sekarang.

"Orang tua kita, juga pernah menjadi anak-anak. Mereka pernah mengalami apa yang kita alami, tapi kita tak pernah mengalami apa yang mereka alami. Karena itulah, terkadang kita tak mengerti cara berfikir mereka. Apapun itu, pasti mereka lakukan untuk kebaikan kita dan untuk menilai kita. Apa kita pantas mendapat pengakuannya," lanjut Naruto. "Ah, itu saudaramu. Mereka pasti datang menolongmu," kata Naruto sambil melepas kubah cermin esnya.

Temari dan Kankurou segera berlari menghampiri Gaara. Keduanya tampak panic melihat Gaara yang terkapar, babak belur, dan terluka parah. Ini kali pertamanya. Biasanya, ia berada di posisi yang menghajar dan bukannya yang dihajar. Mereka menatap cemas Naruto dan anbu-neko yang sejak tadi diam membisu.

"Tak usah cemas. Ichibi akan memulihkan luka-lukanya. Sekarang pergilah!"

Keduanya masih menatap Naruto curiga. Mereka tak percaya Naruto melepas musuh yang sudah tak berdaya di depannya begitu saja. "Apa maumu?"

"Lebih baik kau pergi karena orang mengerikan itu akan ke sini. Saat itu tiba, jangan salahkan aku jika adikmu mati dan Ichibi dalam tubuhnya dicuri. Kau tak ingin itu terjadi bukan? So, tunggu apalagi?" tanya Naruto dengan nada manis.

Keduanya saling pandang, berbicara lewat mata, lalu mengangguk. Mereka memapah Gaara dan membawanya pergi. Naruto berdiri tegak menyerap cakra alam untuk pertarungan ronde berikutnya. Di sampingnya, anbu neko berusaha memulihkan staminanya yang terkuras akibat pertarungan sebelumnya.

Lima menit kemudian orang itu tiba. Wajah dibalik topengnya mungkin berwarna merah sekarang saking marahnya.

…..*****….

Begitu terdengar ledakan hebat, Kazekage keempat bangun dari tempat duduknya dan melawan Shisui yang duduk di sebelahnya. Pengawalnya melawan pengawal Shisui. Keduanya lalu pindah ke atap rumah yang lebih luas agar bisa bertarung dengan leluasa.

"Kau bukan Kazekage keempat bukan?" tanya Shisui sambil menahan kunai lawannya.

Kazekage keempat mendengus sebelum melompat ke belakang menghindari tendangan super Shisui. "Karena kau sudah tahu, jadi aku tak perlu menyamar lagi," ujarnya melepas hengenya. Kini berdiri di depannya makhluk super jelek dengan seragam jubah hitam motif awan merah.

"Akatsuki," pekik Shisui terkejut.

"Tepat sekali. Aku adalah Sasori master kugutsu yang akan jadi malaikat kematianmu," ujarnya sambil menyerang Shisui dengan ekornya yang menyerupai ekor kalajengking.

Shisui menghindari serangan Sasori dengan melompat ke belakang. Ia tahu di ujung senjata itu pasti ada racun yang sangat ganas yang akan membunuhnya seketika jika kena. Shisui berlari dengan sangat cepat mengitari tubuh Sasori hingga yang terlihat hanya warna bajunya saja untuk mencari celah. Sasori berdiri diam di tempatnya. Hanya matanya saja yang bergerak ke kanan dan ke kiri membaca gerakan Shisui.

Sambil berlari, Shisui menyerang Sasori dengan kunai dan shurikennya, tapi semua kunai dan shurikennya tak ada satu pun yang mengenai Sasori. Ekor Sasori berhasil menahan semuanya dan lalu menjatuhkannya ke tanah. Ekor kalajengking di kugutsu Sasori memberi perlindungan absolute pada Sasori hingga ia sulit didekati.

Ekor Sasori bergerak lincah menyerang Shisui ke atas, bawah, kanan, dan kiri. Sasori sama sekali tak merasa kesulitan mengimbangi kecepatan Shisui yang sudah melegenda. Shisui tersenyum manis di tempatnya. Akhirnya, ia bertemu dengan lawan yang sepadan dengannya dalam hal kecepatan, selain Minato-sama. Kecepatan Sasori dalam menggerakkan kugutsunya sangatlah luar biasa hingga nyaris tak terlihat, kalau saja ia tak menggunakan sharingannya.

Namun jangan panggil Shisui jenius, kalau ia tak bisa membaca kelemahan kugutsu Sasori yang ia beri nama Hiroko. Shisui dengan kecepatannya berhasil menyelinap secara diam-diam memasuki jangkauan ekor Sasori. Ia hampir menebas tubuh Hiroko menjadi beberapa bagian, ketika ujung ekor Hiroko menancap pada punggungnya.

Tubuh Shisui lalu berubah menjadi burung gagak yang berterbangan di udara. Sasori melirik sinis. Meski, Shisui berhasil merubah tubuhnya menjadi gagak, namun ia sudah terluka oleh ujung ekor kugutsunya. Ini terbukti dari ceceran darah di tanah, tempat dimana Shisui tadi berdiri.

Sasori hendak menyerang puluhan ekor gagak yang menyerangnya ketika ia merasakan tubuh Hiroko merekah. Lalu dari rekahannya terdengar suara ledakan beruntun mengakibatkan tubuh Hiroko hancur berkeping-keping. Ekor kalajengkingnya terkulai lemah di tanah dan tercerai berai.

Di tengah kepingan tubuh Hiroko, berdiri seorang pria muda luar biasa tampan berambut merah darah mengenakan jubah yang sama seperti yang dikenakan kugutsunya. "Uchiha Shisui memang hebat. Pantas harga kepalanya menembus angka ratusan juta ryo," ujarnya memuji yang terdengar seperti sebuah ejekan.

"Terima kasih untuk pujiannya," balas Shisui yang kini kembali pada tubuhnya semula, tetap rendah hati.

Mata Sasori berkilat, pertanda jika ia masih punya rencana licik lainnya. "Kau memang hebat bisa mengalahkan Hiroko, tapi bagaimana dengan Kazekage ketiga kami," ujarnya yang secara tiba-tiba memunculkan kugutsu dari tubuh Kazekage ketiga yang terkenal terkuat diantara Kazekage yang pernah memimpin Sunagakure.

Dari tubuh Kazekage ketiga, keluarlah pasir besi dalam jumlah sangat banyak. Pasir-pasir itu lalu berubah menjadi jarum nan runcing yang kini menyerang Shisui laksana hujan jarum-pasir. Shisui bergerak ke kanan ke kiri, melompat ke depan dan mundur ke belakang untuk menghindari hujan jarum besi milik Sasori.

Di sisi lain, ada Itachi yang berhadapan satu-satu dengan Deidara yang mengumpat tak jelas. Lagi-lagi, ia bertemu si prodigy Uchiha, kakaknya si brengsek yang dulu mempecundanginya. Entah ini keberuntungannya atau kesialannya. 'Aku harus hati-hati dengan sharingannya,' batin Deidara dan berteriak, "Katsu," untuk meledakkan boom-bom yang tak terhitung banyaknya untuk mencegah Itachi mendekatinya.

Shisui terengah-engah. Ia kesulitan mengimbangi Sasori dengan kugutsunya yang berbentuk kazekage ketiga. Pasir besi milik Sasori yang bisa berubah bentuk menjadi aneka macam senjata tajam berhasil melukai tubuhnya beberapa kali, hingga membuatnya bersimbah darah.

Shisui merasa tubuhnya kian berat, kepalanya pusing, dan pandangannya berkunang-kunang. 'Aku pasti terkena racunnya,' pikir Shisui cemas. Tapi, luka yang diperolehnya itu sepadan dengan hasilnya. Shisui berhasil memaksa Sasori memperlihatkan tubuhnya aslinya yang juga telah ia ubah menjadi tubuh boneka.

Shisui lalu membuat segel dan menyemburkan bola-bola api ke arah Sasori bersamaan dengan naga air, membuat kabut tebal di sekitarnya. lalu, ia muncul tiba-tiba di sisi Sasori dengan katana terhunus, menghujam tepat ke tubuh Sasori dan lalu menggenjutsunya.

Sasori berdiri diam kaku di tempatnya. Ia tak bisa menghindar atau melawan saat mata merah Shisui memerangkapnya. Selanjutnya, semuanya terasa gelap dan otaknya seperti kehabisan baterai. Mati begitu saja. Kugutsu-kugutsunya yang jumlahnya mencapai seratus lebih saling berjatuhan ke tanah karena tak ada lagi yang menggerakkan mereka. Tak berapa lama, Shisui pun ambruk ke tanah menyusul Sasori. Ia muntah darah, sebelum akhirnya semuanya menjadi gelap.

Di lain tempat, Deidara yang terdesak oleh Itachi membuat membuat ledakan jenis C4. Tapi, lagi-lagi dengan sharingan, C4 nya berhasil dihancurkan. Ia marah luar biasa. Tapi, ia cakranya sudah sampai pada limitnya, sudah tak sanggup lagi membuat bom. "Kau memang hebat Uchiha Itachi, seperti yang sering ku dengar. Tapi, aku belum kalah," ujarnya tertawa psycho.

Ia membuka jubahnya memperlihatkan dadanya yang mulus berwarna putih. Ups bukan mulus ding, ada bentuk mulut menjijikkan di dadanya. Itachi menunggu apa yang akan dilakukan lawannya ini. Deidara lalu membuat segel dan mengubah dirinya menjadi boom dengan harapan membawa serta Itachi mati bersamanya. Itachi bergerak cepat, memindahkan boom Deidara ke tempat lain dengan sharingannya, sehingga Konoha selamat dari ledakan.

Itachi tak bisa beristirahat meski sudah berhasil membunuh Deidara, member akatsuki yang sangat tangguh. Ia bergerak cepat, memperlihatkan bayangannya ke tempat adiknya dan Naruto berada karena ia merasakan cakra pria bertopeng misterius itu tengah bertarung dengan adiknya.

…..*****….

Mumpung semua orang sibuk bertarung, Tobi bersama Zetsu menyusup ke kediaman Shisui. Keduanya mencari wadah atau gulungan dimana cakra Kyuubi milik Sora tersimpan. Namun, hasilnya nihil. Rumah Shisui sangat clean, saking bersihnya sampai kau tak mendapati apa-apa di dalamnya. Jangankan perabotan rumah, sebutir debu pun tak ada, hingga ia tak yakin ini rumah Shisui atau rumah kosong.

Tobi lalu pindah ke gedung hokage. Ia tengah sibuk menggeledah ketika Zetsu muncul dari dalam tanah hingga Tobi menjerit tanpa suara karena kaget. "Ada apa?" ujarnya geram.

"Aku sudah menemukan cakra Kyuubi," lapor Zetsu.

"Dimana?"

"Ada pada Naruto,"

'Sial, bocah iblis itu memang sudah bosan hidup rupanya,' batin Tobi. Tanpa banyak kata, Tobi pun meninggalkan gedung hokage dan pindah ke arena pertempuran. "Berikan padaku cakra Kyuubi yang kau curi!" katanya bossy begitu menampakkan diri di hadapan Naruto dan Anbu Neko.

"Kenapa aku harus memberikannya padamu?" tantang Naruto menyembunyikan gigilan tubuhnya karena menerima aura membunuh si pria bertopeng yang begitu intens.

"Bangsat kau!" murka si Tobi. Ia maju menyerang Naruto dan si anbu neko yang sudah siap menyambut pukulannya. Namun, pukulannya dihentikan seseorang sebelum ia berhasil mencapai targetnya. "Kalian!" geramnya sebelum mundur ke belakang. Matanya menatap dingin jejeran orang-orang dewasa dan renta di depannya yang jadi barier pelindung Naruto.

…..*****…..

Pria bertopeng misterius itu menatap tajam Naruto dan anbu yang diyakini Sasuke. Ia melirik singkat Koharu, Homura, Itachi, dan Kakashi-si-makhluk-yang-sangat-ingin-dibunuhnya. Matanya menatap dingin Kakashi dari balik topengnya, sampai Kakashi merinding tak jelas.

Ia sama sekali tidak takut dengan keempat orang itu. Baginya, mereka tak lebih dari lalat kecil yang hanya berdengung pelan. Sekali tepuk juga mati. Namun, ia memilih pergi meninggalkan Konoha. "Kau beruntung, kali kau ku lepaskan," katanya sebelum menghilang. Mood bertarungnya hilang begitu ia melihat tampang Kakashi. Ia pikir, 'Ini belum saatnya,' Ia ingin memperlihatkan neraka dunia pada Kakashi, sebelum ia mengambil nyawanya.

Brukk… Naruto yang lelah secara fisik dan mental ambruk ke tanah. Kaki pendeknya sudah tak sanggup menahan BB-nya. "Naruto!" panggil Kakashi buru-buru menghampiri Naruto cemas.

"Aku tak apa-apa, sensei. Hanya lelah," balas Naruto.

"Hn," gumam si anbu neko ikut-ikutan duduk di sebelah Naruto. Mungkin, ia juga kelelahan seperti Naruto juga.

Homura dan Koharu menatap Naruto penuh arti. Seulas senyum bangga menghiasi bibir keriput mereka. 'Sepertinya, si setan tukang cengar-cengir itu tidaklah sebodoh yang aku pikirkan. Setidaknya, ia sudah mengkader anak sulungnya hingga ia menyamai kemampuan Menma,' batin keduanya lega. Mereka pikir, selama ada Naruto, Konoha akan tetap baik-baik saja.

Bersamaan dengan perginya pria bertopeng misterius dan tumbangnya dua member Akatsuki yang salah satunya menyamar menjadi Kazekage keempat, pertarungan antara shinobi Konoha dengan shinobi Suna dan Oto pun berhenti. Keduanya memilih mundur setelah melihat banyaknya korban yang jatuh di pihak mereka. Lebih-lebih, setelah senjata utama mereka aka jinchuuriki Ichibi keok di tangan genin Konoha, itu membuat nyali mereka ciut.

Shinobi Konoha yang tidak terluka membantu membereskan kekacauan akibat invasi Oto dan Suna. Mereka membawa shinobi Konoha yang terluka ke rumah sakit. Shinobi Oto dan Suna yang terluka mereka tawan setelah sebelumnya diberi perawatan medis yang memadai untuk selanjutnya diinterograsi, sedangkan shinobi yang tewas disimpan di ruang tertentu untuk diselidiki.

…*****….

Seminggu setelah ujian Chuunin yang kacau

Selama seminggu ini Konoha sibuk berbenah. Para penduduk dan para shinobi kembali bekerja keras membangun Konoha lagi yang porak poranda karena invasi dua desa. Mereka berusaha mandiri, meski hokage mereka tidak ada hadir di tengah-tengah mereka karena sakit.

Selain kesibukan memperbaiki berbagai kerusakan, mereka masih punya PR besar yakni mengumumkan hasil ujian Chuunin yang berantakan di tengah jalan itu. Para jounin dan Chuunin pilihan menatap tegang kertas hasil ujian Chuunin. Mata mereka menyorotkan kecemasan yang tiada tara.

Mungkin ini terdengar menggelikan. Bagaimana mungkin para panitia ujian Chuunin berikut para pembimbing tim yang sudah jounin bahkan diantaranya pernah terlibat dalam perang dunia ketiga, bisa galau hanya untuk mengumumkan hasil ujian Chuunin? Soalnya, hasil ujian Chuunin kali ini ehem sangat-sangat tidak manusiawi dan berpotensi menimbulkan tragedi berdarah di Konoha.

"Ugh…" Asuma meneguk ludahnya kasar menatap horror kertas di tangannya. "Kau saja," kata Asuma memberikan kertas itu pada Kurenai yang ada di sebelahnya.

Kurenai tanpa membaca memberikannya lagi pada Anko. Anko pun melakukan hal yang sama, memberikannya pada orang di sebelahnya dan begitu seterusnya hingga tiba di tangan Kakashi. Kakashi lirik kanan kiri mencari orang yang bisa ditumbalkan. Tepat saat itu muncul Maito Guy yang tengah sumringah karena Lee murid kesayangannya tidak jadi berhenti jadi ninja. Kabuto dengan bantuan ninja medis lainnya berhasil mengoperasi kaki Lee.

"Guy, kau saja yang mengumumkan hasil ujian Chuunin pada para genin di luar sana," kata Kakashi.

"Aku?" tanya Guy balik.

"Ya. Kau kan orang hebat yang ku akui sebagai rival. Jadi, sudah sepantasnya kau dapat kehormatan ini," kata Kakashi semanis madu. Like student like teacher. Mulut manis Minato menurun pada Kakashi rupanya.

Ha ha ha… Guy tertawa terbahak-bahak merasa bangga. Hidungnya mekar. Ia tak sadar kalau ia sedang dikorbankan oleh Kakashi untuk menghadapi makhluk-makhluk buas di sana. "Tentu saja. Aku gitu loch," ujarnya tertular virus alay salah satu shinobi remaja di Konoha.

Guy keluar ruangan dengan jumawa. Rekan-rekannya yang lain hanya menatap Guy iba. "Semoga kau tenang di alam sana," ujar salah satu dari mereka memimpin doa bersama. "Amin," rekannya yang lain mengamini.

Guy menatap para genin yang lolos hingga ke babak ketiga. Semua sudah lengkap termasuk Lee. Ia mengulas senyum bangga. "Karena ada sedikit kecelakaan pada ujian kemarin, pemenang ujian Chuunin jadi tidak bisa ditentukan," ujarnya mengawali pidatonya.

"Jadi, siapa yang berhak menjadi chuunin," tanya Naruto sambil tersenyum manis. Ia optimis kalau dialah yang akan terpilih jadi Chuunin tahun ini, karena hanya dia seorang yang berhasil masuk ke babak semifinal.

"Tahun ini, penilaian para panitia sedikit berbeda. Dan, akhirnya diputuskan yang berhak menjadi Chuunin adalah…" ujar Guy menggantung, menatap puas para audiens yang tampak bersemangat. Semua mata —minus Shika— terarah pada Guy. Jantung mereka berdentam berharap mereka yang terpilih. "Nara Shikamaru," lanjutnya menuai protes.

"Apa? Yang benar saja? Kenapa Shika yang terpilih? Dia kan kalah dari Temari. Ia bahkan tidak lolos di semifinal," protes Naruto tak terima.

"Di sini tertulis, 'Kau terlalu gegabah. Kau memaksakan dirimu bertarung hingga membahayakan nyawamu sendiri.' Beda dengan Shika yang cerdas membaca situasi," dalih Guy.

"Huh, yang benar saja!" cela Naruto. "Maksudmu cerdas itu, aku harus membiarkan Ichibi mengamuk dan membombardir desa dengan bijuudama-nya agar lolos jadi seorang Chuunin, begitu?" sindirnya.

"Tidak juga. Maksudku, saat seleksi babak kedua, kau kan sudah terluka parah dan masuk rumah sakit. Tapi, hari berikutnya, kau malah memaksakan diri ikut seleksi tahap selanjutnya. Itu yang membuat para juri mencoretmu,"

"Huh, alasan." Dengus Naruto tidak sopan.

"Sudahlah, Dobe. Terima saja. Kau memang sudah ditakdirkan tetap menjadi genin hari ini," celetuk Sasuke.

Naruto menyipit berbahaya. "Diam kau, Teme! Orang yang tak berani muncul di arena pertandingan sepertimu tak berhak berkomentar," sindir Naruto tajam.

"Aku tidak kabur. Aku punya alasan tersendiri," dalih Sasuke tak terima. Matanya kini melotot pada Naruto.

"Sudahlah kalian berdua. Tak usah bertengkar. Memang kenapa kalau kalian gagal jadi Chuunin tahun ini? Kan masih ada tahun depan. Anggap saja ini pelajaran agar kalian lebih dewasa. Contohlah Shika bla bla… bla.." Nasehat Guy tidak nyambung. Ia yang awalnya berniat menghibur malah membuat emosi Naruto kian mencuat.

Naruto masih tak terima dengan hasil ujian. Masak Shika yang jelas-jelas menyerah di tengah jalan justru yang terpilih. Sedang, ia yang babak belur menyelamatkan Konoha malah balik jadi genin lagi. Ia merasa harga dirinya sangat terluka. Tanpa sadar ia menguarkan killing intents yang sangat pekat yang membuat siapapun merinding ketakutan, well kecuali Guy. Ia dengan ketidak pekaannya malah memberi Shika semangat seolah-olah sedang mengibarkan bendera merah di depan banteng yang tengah mengamuk.

"Pembimbing kita hebat ya, Ji. Ia tak takut Naruto yang auranya sudah seperti monster itu," kata Tenten.

"Hm," gumam Neji menyetujui.

"Sensei kita tambah hebat ya, Ji. Sekarang, ia memprovokasi Sasuke," kata Tenten lagi merujuk pada si bungsu Uchiha yang auranya mampu membuat semua yang hadir di ruangan itu panas dingin minus Guy dan Naruto.

"Hm," dehem Neji lagi setuju. Gurunya benar-benar super tidak peka. Entah ia itu terlalu jenius atau terlalu idiot untuk menyadarinya.

Shika merenung, memikirkan berbagai alasan kenapa ia yang terpilih jadi Chuunin dan bukannya Naruto. Orang gila pun tahu kalau seharusnya Narutolah yang terpilih dan bukannya Shika. Naruto jauh lebih unggul darinya dilihat dari sisi manapun. Tapi kenapa nama Naruto justru dicoret.

Matanya melirik Sasuke yang tampak tertawa lepas di balik sikap sok coolnya. Pasti ini ada hubungannya dengan Sasuke. Sasuke mungkin mengamuk dan mengacak-acak kantor hokage jika Naruto terpilih jadi Chuunin. Ya, pasti itu alasannya.

Shika mungkin sedikit orang yang menyadari identitas sebenarnya si Anbu neko yang membantu Naruto melawan Ichibi itu. Dia adalah Sasuke. Kemungkinan besar, ia diberi misi khusus oleh hokage-sama karena itu ia tidak datang dalam duel melawan Gaara. Iya, kan?' tebak Shika tepat sasaran.

…..*****….

Dua minggu kemudian, tim Otogakure datang ke Konoha untuk membuat perjanjian damai. Mereka takut desa mereka diluluh lantakkan oleh shinobi-shinobi Konoha akibat invasi mereka. Jika itu terjadi, maka Otogakure akan tinggal sejarah seperti yang terjadi pada Uzugakure.

Sebagai imbalan perjanjian damai antara kedua belah pihak, Kabuto —yang ternyata ninja Oto yang menyusup ke Konoha— bersedia mengobati Shisui hingga ia pulih seperti sedia kala. Dengan kegeniusannya, ia berhasil mengeluarkan racun mematikan milik Sasori dari dalam tubuh Shisui.

Seminggu kemudian, setelah Shisui kembali berkantor, datanglah tim Sunagakure ke Konoha. Mereka menyampaikan maksud yang sama seperti tim Otogakure yakni membuat perjanjian damai dengan Konoha untuk kedua kalinya.

Mata Shisui menyapu tim Sunagakure satu per satu. "Jadi, kalian ingin membuat perjanjian damai dengan Konoha lagi," katanya membuka suara, menekankan pada kata lagi. Ia secara halus menyindir mereka, mengingatkan mereka pada pengkhianatan mereka. Tak ada sahutan. Mereka hanya mengangguk singkat sebagai jawaban. Mungkin karena malu.

"Beri aku alasan, kenapa aku harus menerima perjanjian damai dengan kalian untuk kedua kalinya!" kata Shisui lembut.

Tim Suna saling menoleh. "Maksudnya?" tanya mereka pura-pura tak mengerti, meski faktanya mereka sudah memperkirakan pertanyaan itu.

"Kalian kami jamu sebaik mungkin karena kalian tamu kami. Tapi, apa yang kalian berikan pada kami? Sebuah pengkhianatan," ujar Shisui terdengar pahit. Ia tersenyum miring. "Setelah ini, apa kalian pikir kami akan melupakan begitu saja pengkhianatan kalian?" tanya Shisui masih dengan nada lembut, namun justru itu terdengar seperti lonceng kematian di telinga tim Suna.

"Kami tahu. Tapi, percayalah semua ini berada di luar kehendak kami," kata pemimpin tim Suna ini. "Kami tak tahu jika missing nin kami telah mengendalikan para tetua kami dan juga menyamar menjadi Kazekage kami setelah membunuhnya. Dialah yang menyebabkan…,"

Brakkk! Shisui menggebrak meja. Matanya yang biasanya bersinar teduh kini menatap marah mereka. "Kalian tak bisa melimpahkan kesalahan fatal kalian pada dia seorang. Akui saja! Kalian pun sebenarnya menginginkan kehancuran Konoha, karena itu kalian sama sekali tak menentang rencana tetua kalian. Benar bukan?" kata Shisui dingin.

Salah satu dari tim Suna hendak membuka mulut untuk membela diri, namun tidak ada kata yang keluar dari bibirnya. Ia sadar, apa yang dikatakan Shisui ada benarnya. Jauh di lubuk hati mereka yang paling dalam, mereka menyimpan bara api kebencian pada Konoha.

Mereka sama sekali tak menganggap perjanjian damai yang dulu ditanda tangani tim Kazekage ketiga mereka. Bagi mereka, perjanjian damai itu tak lebih dari kertas kosong agar Konoha berhenti memerangi mereka dan mereka bisa menyusun kekuatan kembali untuk menyerang Konoha lagi.

"Sekarang apa keputusan Anda?" tanya salah satu tim Suna akhirnya dengan kepala tertunduk malu. Kali ini habislah mereka. Jika Konoha menolak perjanjian damai dengan Suna, nasib Suna mungkin akan berakhir lebih tragis dari desa Uzugakure. Shinobi-shinobi Konoha saja sudah luar biasa hebat. Apalagi jika shinobi dari sekutu Konoha yakni Kirigakure bergabung. Ugh, alamat kiamat untuk Suna.

"Aku butuh jaminan, kali ini kalian tak akan mengulangi kesalahan yang sama,"

"Apa yang Anda inginkan dari kami?"

"Ichibi," desis Shisui licik.

Keterkejutan memenuhi wajah-wajah tim Suna. "Ichibi?"

"Ya, Ichibi. Kalian masih ingat moto kami bukan?" tanya Shisui retoris.

Tim Suna saling pandang dengan wajah yang menyiratkan kegalauan tingkat akut. Ya, mereka sudah mendengar moto mengerikan Konoha yang baru yakni, Silahkan datang para jinchuuriki dan akan ku curi bijuumu. Mereka tak menyangka jika hari dimana jinchuuriki mereka diambil alih Konoha tiba. Semua ini akibat kebodohan dan kepicikan mereka. Api kemarahan dan dendam membuat mereka berfikiran pendek dan tidak berfikir jauh ke depan.

"Apa kami punya pilihan lain?" tanya salah satu dari tim Suna.

"Sayangnya tidak," balas Shisui tegas. "Tapi, aku akan memberi tangguh pada kalian. Kami akan mengambil jinchuuriki Ichibi sebagai jaminan setelah ia berusia 16 tahun. Manfaatkanlah kebersamaan kalian selama 4 tahun itu baik-baik," lanjut Shisui sedikit memberi ruang nafas pada Konoha. "Jika jinchuuriki Ichibi sudah diserahkan pada kami, maka Sasori berikut kugutsunya akan kami kembalikan pada kalian sebagai hadiah. Bagiamana?"

"Aku setuju," kata Gaara menyetujui tanpa berfikir dua kali.

Menurutnya itu penawaran yang lumayan murah hati setelah kesalahan besar yang mereka lakukan. Dan, itu juga bisa jadi jalan bagi Gaara untuk menebus kesalahannya pada desa Suna yang dibuatnya menderita selama beberapa tahun terakhir. Anggap saja ini sebagai penebusan dosa.

Setelah Gaara menyetujui, perjanjian damai antara Suna-Konoha pun ditanda tangani. Tim Suna ikut menyetujui permintaan Shisui karena mereka tak punya pilihan lain. Kedua shinobi dari dua desa yang berbeda ini saling berjabat tangan sebelum berpisah kembali.

"Apa rencanamu, Shisui?"

"Nanti kau akan tahu, Itachi." Balas Shisui tenang. Ia mengambil tumpukan kertas yang ada di meja kerjanya. Hari ini ia akan lembur lagi untuk menyelesaikan berkas kerjanya yang menumpuk.

To be Continue