Not Mainstream

DISCLAIMER : Naruto Belongs to Masashi Kishimoto

Genre : Adventure dan Family

Rating : T

WARNING : No YAOI, No shounen ai, murni straight, bertebaran typo, gaje, smart_Naru, Canon dan bashing beberapa chara.

Author Note : Aku publish ulang semua chapter. Ada yang aku tambahin ada yang cuman benerin typonya saja. Jadi bagi yang bingung silakan baca chapter-chapter sebelumnya.

Terima kasih Ai ucapkan untuk para reader yang telah berkenan meninggalkan jejak di kotak review, memfollow, dan memfav fic gaje ini yang tidak bisa Ai sebutkan satu per satu. Maaf Ai tidak bisa membalas semuanya. Arigatou Gozaimasu. /(_)\

Don't Like Don't Read

Chapter Eleven

Rencana Shisui vs Akatsuki

Naruto dkk umur 16 tahun

Mengekstrak bijuu dari jinchuurikinya bukan perkara mudah. Ada syarat dan ketentuan yang harus dipatuhi. Syarat yang utama, jinchuurikinya harus yang sudah berusia di atas 16 tahun, baru ritual bisa dilakukan. Oleh karena itu, suka maupun tidak, Tobi harus menunda proses ekstraksi bijuu selama beberapa tahun sampai seluruh jinchuuriki mencapai usia matang, aka di atas 16 tahun.

Markas rahasia Pain. Masih di kawasan Amegakure, tapi bukan di Labirin Monster. Labirin Monster hanya milik Tobi dan Zetsu setelah Madara dinyatakan mati.

Nagato berada di singgasananya. Tubuhnya terlihat kurus, meski sudah ditutupi dengan jubah yang berukuran besar. Di samping kanannya berdiri dengan setia sahabat karibnya sejak kecil, Konan. Ia tengah memeriksa peralatan medis yang menempel di tubuh Nagato. Ada gurat kesedihan terlukis dari wajah cantiknya.

Nagato hampir memejamkan matanya karena kelelahan setelah pemeriksaan medis secara menyeluruh dan mendalam, ketika pria itu datang. Nagato melihatnya datar, meski ada sorot kebencian terpancar dari matanya.

Yach, sejak awal ia emang tidak suka dengan dia sih. Firasat Nagato mengatakan kalau pria bertopeng ini bukanlah tipe orang yang dapat dipercaya. Ia tipe orang yang akan menikam kita dari belakang atau memanfaatkan orang lain untuk kepentingannya sendiri.

"Ada perlu apa?" tanya Nagato menyembunyikan ketidak sukaannya. Meski membencinya, Nagato tidak memperlihatkannya terang-terangan.

"Aku akan muncul sebagai anggota baru Akatsuki." Jawabnya to the point.

Alis Nagato terangkat. "Kenapa? Bukannya kau senang bekerja di belakang layar? Sama seperti Zetsu,"

"Masa itu sudah lama berlalu. Sudah saatnya aku menampakkan diri karena kita harus memulai proyek utama kita, proyek mata bulan."

"Kau ingin memulai perburuan bijuu?"

"Ya. Kita mulai dengan bijuu yang dimiliki desa ninja kecil,"

Alis Nagato kembali terangkat. "Bukannya harus berurutan?"

"Disegelnya memang berurutan, tapi bukan berarti menangkapnya harus berurutan pula. Kita harus menghindari desa-desa besar khususnya desa yang beraliansi dengan Konoha,"

"Konoha? Kenapa? Kau takut?"

Tobi memicing, mengirimkan peringatan. Ia menghela nafas sebelum mulai berargumentasi. "Konoha curiga dengan gerakan kita. Akhir-akhir ini, mereka terus-menerus memantau kita. Aku menduga hokage yang sekarang menyadari tujuan utama kita. Jika ia mendengar sedikit saja isyarat jinchuuriki Suna diculik, Konoha mungkin akan mengumpulkan seluruh kage dari 5 desa ninja besar seperti Kirigakure, Iwagakure, Kumogakure, dan Sunagakure untuk melawan kita," jelas Tobi.

Mata Nagato menyorot tak percaya. Bagaimana mungkin si hokage itu bisa tahu? 'Pasti ada yang membocorkannya,' pikirnya spekulatif, menebak-nebak siapa diantara member Akatsuki yang berkhianat. Ia menelengkan kepalanya ke kanan, bingung. Soalnya, selain dia, Konon, dan pria ini tidak ada yang tahu. Ia tak mungkin berkhianat. Konan juga tidak. Matanya menatap Tobi penuh selidik.

"Aku tidak mungkin membocorkannya. Ide ini berasal dariku," kata Tobi tahu apa yang dipikirkan Nagato.

"Lalu, bagaimana ia bisa tahu?" tanya Nagato tak percaya.

Tobi menghela nafas lelah. "Ia putra tunggal Kagami Uchiha dan ia seorang prodigy."

"Lalu, kenapa jika ia prodigy Uchiha?" tanya Nagato acuh. Ia paling benci dengan orang-orang yang terlalu membanggakan klannya, seperti pria ini.

"Ia mungkin berhasil membaca tulisan di batu monument Uchiha atau ayahnya memberitahunya sebelum tewas."

"Apa kau yakin?"

"Hanya dugaan."

"Hm, baiklah aku percaya padamu," kata Nagato tak punya pilihan lain selain percaya. "Aku akan mengumpulkan anggota kita dan memperkenalkanmu pada semua anggota," kata Nagato mengakhiri percakapan.

Nagato mengaktifkan doujutsunya. Dengan rinnegan, ia mengendalikan Yahiko, sahabatnya yang lain yang telah lama mati dan mengganti identitasnya menjadi Pain. Cakranya mengalir ke tubuh Yahiko melalui batangan besi yang menancap pada tubuhnya. Setelah itu, Yahiko alias Pain bersama Konan menghilang dari ruangan pribadinya menuju markas Akatsuki.

Pain berdiri di tempatnya. Di samping kanannya berdiri Konan. Lalu, diikuti member Akatsuki yang lain. "Aku akan memperkenalkan anggota baru kita. Namanya Tobi. Dia akan menggantikan posisi Deidara yang sudah mati. Partnernya Zetsu," Kata Pain mulai memperkenalkan pria yang mengenakan topeng lolypop pada rekan-rekannya.

"Cukup perkenalannya. Aku memanggil kalian ke sini karena ada hal penting yang ingin ku bicarakan,"

"Apa itu kaichou? Apa organisasi kita disewa desa besar untuk menginvasi desa lainnya?" tanya bayangan pria dengan senjata reaper di tangan kanannya.

"Tidak, Hidan. Ini lebih penting. Kita akan mulai berburu bijuu. Perburuan dimulai dari bijuu yang dikuasai desa kecil." kata Pain memberi tahu alasan kenapa ia memanggil semua anggotanya. "Kakuzu dan kau Hidan. Kalian berdua bertugas menangkap Nibi,"

Tobi terperanjat. Ia hendak protes ketika Pain menjelaskan alasannya. "Berbeda dengan Hachibi, Nibi tidak mendapat pengawalan ketat dan semua orang membenci jinchuurikinya. Karena itu, mereka tak akan menyadari, jika Nibi diculik."

"Kisame, kau aku tugaskan untuk menangkap Sanbi dan Yonbi,"

"Kenapa aku harus menangkap dua bijuu sekaligus, sedangkan Hidan dan Kakuzu hanya satu?" protes Kisame tidak terima.

"Sanbi tidak memiliki jinchuuriki. Kau tak akan menemui kesulitan yang berarti untuk menangkapnya. Dia hampir tidak punya otak. Hanya mengandalkan instingnya pasca ditinggal mati jinchuurikinya, Yagura. Ujianmu yang sesungguhnya adalah Yonbi. Lain halnya dengan Hidan dan Kakuzu. Mereka selain menangkap bijuu, juga bertugas untuk menambah pemasukan organisasi kita dengan memburu kepala shinobi berharga tinggi," kata Pain tenang.

"Aku dan Konan akan menangkap Rokubi, dan Nanabi, sedangkan Tobi akan menangkap Hachibi bersama Zetsu."

"Ck, dia juga hanya satu bijuu," keluh Kisame.

"Dia masih baru. Dan lagi, diantara semua bijuu hanya Hachibi yang paling kuat. Satu-satunya jinchuuriki yang berhasil bekerja sama dengan bijuunya." Bela Pain. "Setelah semuanya selesai, baru kita membuat perhitungan dengan Ichibi."

"Kenapa justru Ichibi yang mendapat giliran paling buncit? Bukannya ia yang paling lemah dibandingkan dengan saudara-saudaranya?" tanya Hidan yang hari ini tumben cerdas.

"Berbeda dengan desa lainnya, jinchuuriki Ichibi dicintai rakyatnya dan ia mendapat dukungan penuh dari Konohagakure. Jika kita menangkapnya lebih dulu, berarti kita membunyikan genderang perang dengan Suna, Konoha, dan Kiri sekaligus. Atau, bahkan dengan Otogakure,"

"Ketua yakin?" tanya Kisame terdengar tidak percaya. Kesannya, Pain seperti melebih-lebihkan.

"Ya. Hokage yang sekarang sangat mementingkan aliansi. Jika desa aliansinya diserang, ia tak akan segan-segan mengirimkan bala bantuan. Dan, ini berlaku sebaliknya. Kita beruntung jinchuuriki Rokubi melarikan diri dari Kirigakure. Sudah sangat terlambat bagi Kiri untuk meminta bantuan ke Konoha, saat kabar penculikan Rokubi sampai ke telinga mereka,"

"Ketua terdengar hati-hati dengan Konoha? Apa yang ketua takuti dari Konoha?" tanya Kakuzu menganalisis.

"Tidak, aku tidak takut. Aku hanya berhati-hati agar rencana kita tidak berantakan di tengah jalan. Setelah kedelapan bijuu berhasil kita tangkap, kita akan paksa Konoha untuk menyerahkan Kyuubi,"

"Bukannya Kyuubi sudah tewas?"

"Tidak. Yondaime hokage tidak seidiot itu membiarkan Kyuubi tewas. Ia pasti sudah dipindahkan ke tubuh jinchuuriki yang baru. Hanya saja identitasnya sangat dirahasiakan. Mungkin, hanya Shisui yang mengetahuinya," tebak Pain tepat sasaran.

Tobi dan Zetsu saling lirik. 'Itu mungkin saja,' pikir keduanya kompak. Setelah dipikir-pikir, kematian Kyuubi terasa ganjil dan terlihat sekali ada sesuatu yang ditutup-tutupi si hokage Konoha yang hobi nyengir gaje.

Kisame berfikir. Sepertinya ada yang kurang. "Bagaimana dengan Gobi si ekor lima. Siapa yang menangkapnya? Bukan aku lagi, kan?" tanyanya baru menyadari apa yang kurang.

"Akh," pekik Pain. Mungkin efek obatnya masih mempengaruhi kinerja otaknya sehingga ia melupakan bijuu ekor lima. "Well Gobi kau saja yang tangkap, Kisame." Kisame buka mulut hendak protes, tapi dihentikan Pain dengan lirik tajam menusuk darinya. "Sekalian jalan. Kan sejalur, se-lokasi dengan Yonbi." Dalihnya dengan seenaknya.

"Oh, yeah. Akhirnya, aku dapat angka cantik. Ekor tiga, empat, dan lima dikasih ke aku semua. Tinggal nunggu kapan aku dapat piring cantik," gerutu Kisame muram, masih belum terima. Secara ia yang kebagian tugas berat. Meski demikian, ia tidak menolak. Lagipula, itu bagus juga. Ia punya banyak kesempatan untuk memberi makan Samehadanya.

Satu per satu member Akatsuki menghilang dari markas. Mereka berpencar sesuai dengan tugasnya masing-masing.

…..…*****…..

Setahun, setelah Naruto dan Sasuke pergi dari Konoha untuk berlatih ninjutsu bersama gurunya.

Shisui menatap Ibiki. Dengan isyarat, ia meminta laporan penyelidikan mereka pada mayat salah satu anggota Akatsuki, yakni missing nin dari Iwagakure yang bernama Deidara.

"Dia direkrut sebagai member Akatsuki oleh ninja dari Sunagakure bernama Sasori. Karena itulah, mereka ditempatkan dalam satu tim. Spesialisasinya adalah ledakan. Seluruh tubuhnya bisa dibuat menjadi bom. Untunglah, Itachi-san berhasil mengalahkannya sebelum ia meledakkan dirinya. Jika tidak, Konoha mungkin hanya akan tinggal puing-puing saja," jelas Ibiki.

"Hn," gumam Shisui sambil menatap bagaimana kerja tim Inoichi yang ada di depannya. Inoichi dan timnya tampak berkonsentrasi penuh menyelidiki ingatan mayat Deidara. "Apa tujuannya mengacau di Konoha?" tanyanya kemudian.

Ibiki hendak menjawab, tapi sudah didahului oleh anggota tim Inoichi. Ia melaporkan kemajuan misi mereka pada Shisui. "Ia diperintahkan oleh ketua mereka untuk menginvasi Konoha karena dianggap membahayakan rencana mereka. Ah, sebentar.."

Ninja itu minta waktu sebentar untuk mengartikan tulisan panjang dan rumit dari gulungan kertas di depannya yang muncul saat mereka menggunakan teknik khusus mereka untuk menginterograsi mayat. Kerutan muncul pada dahinya.

"Mereka berdua juga diperintahkan untuk menangkap Uchiha Sasuke, Uchiha Shisui, dan Uzumaki Naruto hidup ataupun mati," katanya terdengar tidak yakin. "Jika mereka mengincar hokage-sama aku mengerti. Tapi, kenapa mereka juga menginginkan dua genin itu?"

"Aku tak tahu. Aku belum pernah menjadi bagian organisasi criminal ini," kata Shisui sedikit bergurau. 'Namun, aku bisa menebaknya,' tambahnya dalam hati. Mereka mungkin marah pada SasuNaru karena dua orang itu sudah berkali-kali menggagalkan mahakarya Akatsuki. Jika ia jadi mereka, ia pun akan membunuh dua orang itu terlebih dahulu, sebelum keduanya bertambah hebat dan sulit ditandingi. "Lalu, bagaimana dengan Kazuma?"

"Di luar dugaan, ia memiliki hubungan dengan Akatsuki. Rencana awalnya, Kazuma dan Akatsuki akan memanfaatkan cakra Kyuubi yang ditanam pada tubuh Sora untuk menghancurkan Konoha. Tapi, di tengah jalan Kazuma berubah pikiran. Ia curiga Akatsuki akan merampas cakra Kyuubi darinya setelah mereka berhasil menginvasi Konoha." Lapornya.

"Hn, kerja bagus. Lanjutkan tugas kalian," kata Shisui sebelum pamit undur diri. Ia pergi ke ruangan lain yang letaknya sangat tersembunyi dan hanya boleh dimasuki oleh dua orang saja selain dirinya, yakni Kakashi dan Itachi. Dua orang yang disebut tadi sudah berada di ruangan itu ketika Shisui masuk ke dalam ruangan.

"Apa rencanamu dengan ini, Shisui?" tanya Itachi menanggalkan formalitasnya. Matanya mengarah pada kepala Sasori yang terpejam erat, berbaring diantara kugutsu-kugutsunya.

"Kau akan tahu nanti," kata Shisui datar. Tapi, kilat jahil di oniksnya tak bisa menipu mata Itachi dan Kakashi. Keduanya hanya bisa membuang nafas. 'Lagi-lagi, dia merencanakan sesuatu yang gila,' batin keduanya.

Shisui tersenyum manis, tahu isi pikiran dua orang yang paling dipercayainya ini. Mereka pasti berprasangka buruk padanya, yang kurang lebih benar sih. Tapi, ini kan demi Konoha juga. Ia harus mencoba segala hal yang bisa ia lakukan untuk melindungi Konoha, kan? Lagipula, dibandingkan dengan Yondaime-sama kegilaannya ini masih dalam taraf normal kok.

"Bagaimana kabar Sasuke, Tachi? Ia masih marah?"

"Menurutmu?" dengusnya sebal, teringat hal-hal menyebalkan beberapa tahun silam.

Gara-gara Shisui, ia jadi repot. Ia dengan seenak udelnya menyuruh Sasuke berlatih bersama Orochimaru di desa dekat Otogakure sekaligus untuk mengawasi desa itu. Keduanya diberi otoritas untuk bekerja penuh. Mereka halal membunuh para shinobi Otogakure, jika mereka terbukti melakukan sesuatu yang mencurigakan.

Oke, secara teknis itu bukanlah misi yang buruk. Malah, itu misi yang elit yang mungkin didapat seorang bocah genin sepertinya. Biasanya, Sasuke cuman dapat misi jadi babu dan hal-hal remeh lainnya di luar job rahasianya sebagai tim elit bayangan bentukan Shisui. Bonusnya lagi, Sasuke dimentori oleh Orochimaru secara langsung pula. Sasuke sungguh-sungguh beruntung. Sayangnya, tidak demikian yang dirasakan oleh Sasuke.

Ia justru merasa sial. Ia bahkan melayangkan protes dan ngamuk-ngamuk di kantor hokage. Sasuke tak terima jika ia harus berpisah dari Naruto sementara waktu karena Naruto mendapat misi memata-matai Amegakure bersama Jiraiya. Ia memaksa Shisui agar membatalkan misinya ke Otogakure.

Butuh waktu berhari-hari untuk membujuk Sasuke. Sasuke bersikeras menolak. Bujukan keluarganya saja sama sekali tidak mempan, apalagi gurunya, Kakashi? It's so far. Ia baru luluh setelah Naruto yang bicara. Entah apa yang dikatakan si rambut durian itu hingga bisa membuat Sasuke berubah pikiran. Dan, itu membuat ketakutan Itachi akan orientasi seksual adiknya kembali muncul.

Masalahnya tidak sampai di situ saja. Menjelang perpisahan mereka, Sasuke melanggar selusin peraturan klan Uchiha. Uchiha tidak mewek. Uchiha tidak mellow. Uchiha tidak boleh terlihat menyedihkan. Dan, yang utama Uchiha harus tetap cool bukannya merengek-rengek seperti bayi. Tapi, semua larangan itu dilanggar Sasuke.

Sasuke bertingkah seperti kekasih yang dipaksa berpisah dari kekasihnya, daripada seorang sahabat. Persis seperti salah satu adegan film Bollywood, lengkap dengan derai air mata yang sangat bombastis. Sasuke mewek saat melepas kepergian Naruto. Sangat tidak Uchiha.

Itachi yang melihatnya sampai ingin ikut nangis juga. Bukan nangis karena terharu dengan adegan SasuNaru yang melodramatis. Ia bahkan tak bersimpati dengan Sasuke. Tapi, ia menangisi jatuhnya marwah Uchiha gara-gara Sasuke. Kalau tidak ingat Sasuke ini adiknya sendiri, ia pasti sudah membunuhnya.

'Oh, God. Bunuh saja aku,' batin Itachi merana meratapi nasib keluarganya nanti. Sepeninggal Sasuke, Itachi jadi makhluk yang sangat religius. Ia jadi lebih banyak berderma, berdoa pada Kami-sama agar adiknya normal.

Shisui tertawa kecil yang lalu dihadiahi pelototan kejam Itachi. Shisui nyengir gaje sebagai balasan. Soalnya, kan jarang-jarang Itachi memperlihatkan ekspresinya. Wajahnya biasanya datar sedatar tembok kantor hokage, tipikal Uchiha sekali. Shisui berdehem untuk mengembalikan wibawanya.

"Kakashi, kirim surat ke Sunagakure! Sudah saatnya kita menjemput tawanan kita," katanya dengan suara dan ekspresi yang ceria. Saking cerianya hingga membuat tubuh Itachi dan Kakashi bergidik. Keduanya saling pandang, berkomunikasi lewat mata, lalu menggeleng kepalanya pelan, iba dengan nasib shinobi muda dari Sunagakure itu.

Dalam hati, mereka berdoa semoga Sunagakure baik-baik saja. Shisui berikut obsesinya adalah penyakit yang sangat berbahaya dan sekaligus mematikan bagi kewarasan. Entah sampai kapan mereka harus bersabar menghadapi Shisui ini? Hanya Tuhan yang tahu.

"Kakashi?" ulang Shisui untuk memastikan Kakashi menaati perintah.

"Hai'k Hokage-sama," kata Kakashi hikmat dan patuh.

"Hn," gumam Shisui. Ia melangkah ke depan mendekati kepala Sasori. Ia membuat segel nan rumit. Entah apa namanya jutsunya. Lima menit kemudian mata Sasori terbuka. Oniks Shisui berubah warna menjadi merah begitu pula dengan pupilnya. Pupilnya tidak lagi bulat, melainkan sudah berbentuk seperti shuriken. Rupanya, Shisui tengah mengaktifkan Mangekyo Saringannya.

Itachi mencengkram bahu Shisui. Matanya menonjol, melotot seram. Giginya bergemeletuk geram. Rasanya ia ingin mengguncang-guncang tubuh sahabatnya ini, saking jengkelnya. "Kau jangan gila! Kenapa kau mengeluarkan jutsu Kotoamatsukami-mu? Kau tahu kan resikonya, jika kau menggunakan jutsu ini?" tukas Itachi kasar.

"Tenanglah Chi, aku sudah mempertimbangkan hal ini masak-masak." Bela Shisui.

"Sebenarnya apa rencanamu? Jika ini salah satu kegilaanmu, tolong hentikan. Konoha masih membutuhkanmu sebagai hokage, Shisui, meski kau jelas bukan hokage ideal di mata mereka," puji atau sindir Itachi.

Shisui tersenyum miring. "Kau akan tahu pada waktunya nanti, Chi."

"S-H-I-S-U-I !" Sebuah peringatan datang dari Itachi. Aura Itachi benar-benar mengerikan, seakan-akan ia sudah dalam Susano'o mode.

"Aku hanya ingin memberikan hadiah pada Sunagakure. Itu saja. Tidak kurang dan tidak lebih." jelas Shisui merajuk seperti anak kecil yang merengek minta permen pada ibunya, yang justru membuat Itachi ingin memutilasinya.

'Dasar nggak tahu diri. Nggak nyadar umur,' gerutu Itachi dalam hati dengan enggan melepas cengkramannya. Shisui melanjutkan kembali kotoamatsukami jutsu-nya yang tertunda. Kali ini, tidak ada yang berniat menghentikan Shisui. Mereka sudah pasrah. Percayalah, saat Shisui sudah terobsesi dengan sesuatu, ia sangat mustahil dihentikan. Mungkin yang bisa hanya Yondaime atau Sandaime seorang.

….*****…..

Gaara genap berusia 16 tahun tahun ini. Tepatnya bulan Januari kemarin. Ia kini sudah diangkat menjadi Kazekage kelima menggantikan posisi sang ayah yang sudah lama tewas di tangan Sasori. Selama kurang lebih 2 tahun, posisi Kazekage dibiarkan kosong karena mereka menunggu Gaara siap menjadi seorang Kazekage. Kenapa menunggu Gaara? Karena hanya Gaara yang memenuhi syarat sebagai seorang Kazekage. Selain Gaara, baik dari segi relasi, keahlian memimpin, sampai kecakapan dalam teknik ninja tidak ada satu pun shinobi Suna yang bisa menyamainya.

Tubuh Gaara mengejang di balik kursinya. Jadenya menatap lesu selembar surat dari Konoha yang memintanya ke Konoha. Ia tahu jika hari dimana ia dijemput Konoha sebagai tawanan akan tiba, tapi tetap saja ia terkejut. Ada sebagian dari dirinya yang tak rela meninggalkan Suna, namun apa boleh buat. Ia tak bisa berbuat apa-apa. Menolak pergi berarti kehancuran bagi desa Suna. Konoha tidak pernah main-main.

"Kirim surat kembali. Kami akan berangkat ke Konoha sebulan lagi." Kata Gaara tenang.

"Gaara, apa kau yakin?" tanya Temari. Matanya memperlihatkan kecemasan akan nasib sang adik bungsu. Bagaimana jika perlakuan Konohagakure lebih buruk dari warga Sunagakure? Atau, yang terburuk, Gaara dibedah untuk merebut Ichibi dari Suna.

"Kita tidak punya pilihan Temari. Segera bersiap. Kita akan mengadakan rapat darurat besok. Aku akan membuat surat pengunduran diri hari ini. Aku yakin Baki bisa menemukan pengganti Kazekage yang lebih hebat dariku,"

"Kau shinobi terbaik Suna, Gaara. Selain kau, tidak ada lagi yang cakap."

"Omong kosong. Suna tak pernah kekurangan shinobi hebat. Sepeninggalku nanti, Suna akan tetap baik-baik saja," elak Gaara. Ia tahu kemampuannya sudah di atas hampir seluruh shinobi di Sunagakure. Karena itulah, ia diangkat menjadi Kazekage termuda Suna. Meski demikian, Gaara tidaklah jumawa. Ia tetap rendah hati dan menganggap masih ada shinobi Suna yang lebih hebat darinya.

…..*****…..

Naruto berusia 15 tahun 5 bulan, sedangkan Sasuke berumur 15 tahun 8 bulan. Shika dkk sudah berumur 16 tahun.

Di lain tempat dan di waktu yang berbeda, Naruto tengah lompat dari satu pohon ke pohon lainnya. Matanya fokus menatap ke depan. Tidak jauh darinya, ada empat shinobi yang mengikutinya. Tapi, mereka bukan shinobi Konoha. Keempatnya shinobi dari Kirigakure yang telah lama menjadi sekutu Konoha.

Sebenarnya, Naruto tak berniat melakukan misi dengan mereka. Naruto bahkan tidak sedang mendapat misi. Mereka berpapasan di tengah jalan, ketika Naruto sedang dalam perjalanan ke Kirigakure. Naruto tertarik membantu shinobi Kiri karena faktor Akatsuki.

Tim shinobi dari Kiri yang dipimpin oleh Ao sedang mengejar anggota Akatsuki yang bernama Hidan dan Kakuzu. Keduanya diduga kuat telah menculik salah satu shinobi penting dari Kirigakure untuk ditukar dengan uang. Mengingat shinobi yang diculik ini memiliki jutsu-jutsu yang sangat berharga, maka Ao diperintahkan oleh Mizukage untuk merebut kembali shinobi ini, hidup atau mati.

Naruto memberi isyarat pada Ao untuk berhenti sebentar. Ao melompat ke dahan dimana Naruto berhenti. "Ada pertarungan di depan sekitar 15 km dari sini," kata Naruto.

"Siapa?"

"Aku tidak tahu. Tapi,.. sepertinya aku mengenali cakra ini. Ini seperti cakra…" Naruto terbelalak. Wajahnya pucat pasi. "Ini cakra Asuma sensei dan Shikamaru. Kita harus ke sana. Mereka dalam bahaya," kata Naruto sebelum hilang dalam kepulan asap. Ia pergi dengan shunsinnya meninggalkan keempat teman seperjalanannya.

"Sekarang bagaimana?" tanya salah satu dari mereka pada Ao.

"Tentu saja mengikuti Naruto. Kita harus membantu shinobi Konoha, sekutu kita. Lagipula, itu kan memang tempat tujuan kita," kata Ao sambil geleng-geleng kepala. "Dasar anak muda. Selalu saja tidak sabaran," gerutunya. Ao memimpin timnya untuk menyusul Naruto.

…*****…

Tubuh Asuma kaku, tak bisa bergerak. Ia merasakan sakit yang amat sangat pada sekujur tubuhnya, padahal lawannya tidak melukainya. Sebaliknya, lawannya justru menyiksa tubuhnya sendiri. Tapi, entah kenapa Asuma yang merasakan sakitnya. "Uhuk!" Asuma memuntahkan darah dari mulutnya. Matanya mulai berkunang-kunang, namun ia memaksakan diri untuk tetap sadar.

Tak jauh dari Asuma, Shikamaru tengah berkonsentrasi penuh dengan Kagemane no jutsu andalannya. Ia mengerahkan segenap kemampuannya untuk menahan Hidan agar tidak menusuk jantungnya sendiri. Bulir keringat dingin membasahi pelipisnya. Cakranya sudah sampai pada limitnya. Namun, ia tak mau dan tidak boleh menyerah, karena hanya dia seorang yang bisa menolong Asuma-sensei mengingat dua rekannya sudah terkapar pingsan.

Shikamaru mengertakkan rahangnya menahan jutsunya, tapi keterbatasan cakra dan stamina yang kurang membuat jutsunya melemah. Hidan berhasil lepas dari pengaruh Kagemane no jutsunya Shikamaru. Sambil tertawa psycho, ia mengarahkan kunainya pada jantungnya. "Mati kau serangga!" teriaknya puas melihat keputus asaan di wajah-wajah lawannya.

"Tidakk!" teriak Shika panik. Wajahnya pucat pasi menyaksikan bagaimana Asuma pasrah menjemput Dewa kematian. Ia belum pernah setakut dan sengeri ini. Berbagai pertempuran dan misi sulit sudah sering kali dilakoninya dengan tim yang berbeda-beda, tapi baru kali ini ia merasakan keputus asaan.

"Nikudan Sensha!" Sebuah bola nan besar tiba-tiba muncul di tengah-tengah pertarungan. Bola itu berputar-putar menyerang Hidan dan menghancurkan altar ritualnya. Hidan menghentikan jutsunya sambil melompat menghindari jutsu itu. Matanya membelalak marah karena ritualnya digagalkan si pendatang baru.

Dari balik kepulan asap, muncullah sosok remaja bertubuh tambun berdiri membelakangi Shikamaru. "Apa kau baik-baik saja, Shika?" tanyanya dengan nafas terengah-engah. Tadi, ia lari secepat mungkin untuk mendatangi lokasi tim Asuma setelah mereka mendapat tanda bahaya dari tim ini.

Shikamaru mengulum senyum tipis. Hatinya berdesir lega. Bantuan tiba tepat waktu. "Aku baik-baik saja, tapi sensei, Izumo, dan Kotetsu..," Shika menatap sedih tiga rekannya yang lain "..mereka terluka," lanjutnya sambil menghapus bulir air mata yang mengalir dari rongga matanya.

"Shika kita harus membawa sensei pergi. Ia butuh perawatan medis. Segera!" teriak Ino panik berusaha menyembuhkan luka Asuma yang tampaknya terluka paling parah.

"Aku tahu," balas Shika. Ia memaksakan dirinya bergerak. Tubuhnya terhuyung-huyung. Kakinya terlalu lemah hingga tak sanggup menopang tubuhnya untuk berdiri tegap. Salah satu anggota tim Choji yang baru datang membantunya dengan memapahnya. Sedangkan, satunya lagi membantu Izumo dan Kotetsu.

"Kita pergi," kata orang itu memberi isyarat agar mereka semua mundur.

BRAKKK

Hidan menghantamkan aritnya yang besar pada mereka, menghalangi kepergian mereka. "Enak saja. Apa kau pikir kami akan membiarkan kalian pergi begitu saja? Kalian akan membayar mahal karena telah berani mengganggu upacara suciku,"

"Hidan, aku tak perduli dengan shinobi lainnya, tapi jangan kau cabik-cabik tubuh Sarutobi Asuma. Harganya sangat mahal," kata Kakuzu si member Akatsuki yang paling gemar menabung alias mata duitan. Ia menatap acuh pertarungan Hidan dengan shinobi-shinobi Konoha. Menurutnya, ia tak perlu turun tangan untuk menghabisi kecoak-kecoak macam mereka. Cukup Hidan saja. Ia hanya akan membantu menjahit kembali tubuh Hidan yang terpotong-potong seperti tadi.

"Diamlah! Jangan ganggu kesenanganku," gerutu Hidan jengkel. Ia paling benci Kakuzu karena dia selalu meremehkan ritualnya. 'Kenapa aku harus berpasangan dengan kakek bangkotan ini sih? Suatu saat nanti aku pasti akan menjadikannya tumbal untuk Jashin-sama,' janjinya dalam hati.

"Nikudan sensha!" Choji mengubah tubuhnya menjadi bola yang bergulung-gulung menyerang Hidan dibantu shinobi Konoha yang tersisa.

"Hati-hati Choji. Jangan sampai kau tergores!" peringatan dari Shikamaru. Ia mendecih dalam hati, merasa tidak berguna dengan kondisinya yang sekarang. Diliriknya Ino yang tengah berjuang menyelamatkan nyawa Asuma. Air mata tak henti-hentinya menetes dari kelopak mata Ino. Shika tertunduk sedih. Hatinya merintih sakit melihat pemandangan itu.

"Sudahlah Ino, cukup. Jangan membuang-buang cakramu untukku! Aku sudah tidak tertolong. Lebih baik kau…" kata Asuma lirih diantara deru nafasnya yang terputus-putus.

"Tidak, sensei. Jangan bicara seperti itu, atau aku akan marah pada sensei. Kemampuan medisku tidak kalah dari Sakura. Aku pasti bisa menyembuhkan sensei." Kata Ino keras kepala. Air matanya mengalir semakin deras merasakan detak jantung Asuma yang semakin lemah. Semua jutsu medisnya seolah tidak memberi pengaruh apa-apa.

Asuma tersenyum tipis. "Kemarilah! Ada yang ingin ku sampaikan kalian," kata Asuma meminta Ino dan Shika mendekat.

"Sensei, tolong jangan bicara yang bukan-bukan. Kau harus bertahan. Kita pasti.."

Asuma menggeleng perlahan. "Percuma, lukaku sangat parah. Sudah tidak ada harapan." Asuma menoleh pada Ino yang tersedu-sedu. "Ino, kau memang keras kepala. Tapi, kau anak yang suka menolong. Choji juga Shikamaru sedikit kikuk. Mereka ku serahkan padamu. Lalu, jangan kalah dari Sakura dalam ninjutsu juga cinta," pesannya pada Ino. Ino mengangguk sedih mendengarkan petuah gurunya.

Asuma beralih pada Shika. "Otakmu cerdas. Sensemu sebagai shinobi juga bagus. Sosok yang pantas menjadi hokage. Yach, untuk kamu yang tidak suka repot pasti tak mau," kata Asuma. Matanya mulai sayu. Ia mulai kesulitan melihat sekitarnya. Telinganya sudah berdengung tak jelas, tapi ia memaksakan diri untuk tetap bicara.

"Kau harus selamat. Pastikan hanya aku seorang yang gugur dalam misi ini. Berjanjilah padaku, Shika?" hibanya diantara deru nafasnya yang semakin pelan.

Shika mengangguk, "Aku janji sensei," katanya.

Asuma tersenyum lemah. "Kemarilah!" kata Asuma menyuruh Shika mendekat. Ia membisikkan sesuatu pada Shikamaru. Shikamaru terbelelak. Ia terkejut dengan penuturan senseinya. "Katakan pesanku ini padanya dan Choji!" kata Asuma pada Shika. Shika mengangguk menyanggupi.

Perlahan nafas Asuma mulai menghilang, hingga deru nafasnya tak terdengar lagi. Tubuh Asuma terkulai di tanah. Matanya terpejam erat. Kali ini, mungkin untuk selamanya.

"SENSEI!" teriak Ino panik masih memaksakan diri menyembuhkan Asuma, bersikeras jika Asuma masih bisa selamat. Shikamaru tertunduk sedih di bawah tetesan air hujan. Alam seolah ikut berduka atas kepergian Asuma. "Sudahlah Ino! Hentikan. Sensei sudah.."

"Tidak!" bentak Ino tidak terima. "Sensei tidak mungkin mati meninggalkan kita. Ia sudah berjanji akan mentraktirku jika misi kita berhasil," ujar Ino dengan suara serak. "Aku tidak akan menyerah," tekadnya bulat.

"INO!" bentak Shika tidak kalah kasar. Ia mengguncang-guncang bahu Ino, memaksa Ino untuk menghadapi kenyataan, jika sensei mereka sudah pergi meninggalkan mereka untuk selamanya.

"Ino benar. Jangan pernah menyerah sampai titik darah penghabisan!" kata Naruto tiba-tiba muncul di samping Ino. "Ia memang sudah tidak bernafas, tapi belum mati. Jantung Asuma sensei masih berdetak, meski lemah. Itu artinya masih ada harapan," tambahnya.

"Naruto!" pekik Ino dan Shika kaget. Mereka tak menyadari kehadiran cakra Naruto sejak tadi. Bukan berarti selama ini mereka bisa, tapi tetap saja mereka terkejut. Naruto itu seperti hantu, datang dan pergi sesukanya dan tidak ada yang tahu satu pun.

Naruto duduk di samping Asuma menggantikan posisi Shika. Ia memaksa Asuma untuk duduk bersandar pada tubuhnya. Naruto menarik botol kecil dari lehernya. Ia meneteskan satu tetes cairan yang ada di botol itu pada mulut Asuma. Dua tetes lagi pada dada Asuma.

"Apa itu Naruto?" tanya Shika ingin tahu.

"Ini nektar bunga lili kehidupan. Nektar ini sangat ampuh mengobati berbagai macam luka dan racun seperti apapun. Bahkan, konon ia bisa menarik kembali roh orang yang baru saja meninggal. Karena itulah, di desa Uzumaki, bunga ini disebut bunga keabadian,"

"Apa dengan ini sensei bisa selamat?" tanya Ino penuh harap.

"Aku tidak tahu, tapi kita coba saja."

10 menit kemudian. Asuma bergerak-gerak. Ino-Shika-Naruto menahan nafas saat luka di dada Asuma menutup lalu menghilang. Mata Asuma yang tadi sudah tertutup kini terbuka lagi. Ia mengerjab-ngerjabkan bulu matanya, menatap bingung tiga orang shinobi remaja di depannya. 'Bukannya tadi ia sudah mati, kenapa sekarang hidup lagi?' pikirnya.

"Syukurlah sensei selamat," pekik Ino senang sambil menubruk penuh sayang gurunya. Ia menangis di dada gurunya. Asuma menepuk-nepuk punggung Ino penuh sayang. "Nektar itu sangat ampuh, Naruto. Sangat ajaib," katanya lagi yang membuat kerutan di dahi Asuma semakin bertambah.

"Bisa kalian jelaskan ini!"

"Nanti saja penjelasannya. Kita harus mengatasi dua orang itu. Lihat, Choji sudah terdesak. Asuma sensei dan Shika pulihkan tubuh kalian. Ino sembuhkan shinobi-shinobi yang terluka. Aku akan maju menghadapi mereka,"

"Naruto, jangan gegabah! Jangan melawannya sendiri! Lawan kita ini Akatsuki." Teriak Asuma cemas.

Naruto tersenyum manis. "Aku tidak melawannya sendiri, sensei. Aku membawa bala bantuan. Tuh, mereka sudah datang!" Naruto menunjuk shinobi-shinobi dari Kirigakure yang datang satu per satu.

"Ukh, akhirnya sampai juga. Kenapa kau pergi seenaknya sendiri, Naruto?" gerutu salah satu ninja Kirigakure.

"Maaf, keadaannya darurat," jelas Naruto sambil nyengir minta maaf. Ekspresinya lalu berubah jadi serius. Matanya menatap waspada dua orang musuhnya yang mengenakan jubah hitam dengan motif awan merah. Begitu pula dengan tim dari Kirigakure. Mereka sudah menyiapkan senjata dan jutsu andalan masing-masing. "Apa yang kau ketahui tentang mereka, Shika?" tanya Naruto.

"Yang ubanan namanya Hidan. Kemampuannya tidak bisa mati. Meski, tubuhnya dipotong berkali-kali, ia tetap hidup. Senjata utamanya sebuah reaper bermata tiga. Walaupun bentuknya besar dan berbahaya, menurutku senjata itu bukanlah untuk meninggalkan luka fatal pada lawannya, melainkan untuk mengambil darahnya." kata Shika membeberkan analisisnya.

"Darah? Untuk apa?"

"Untuk ritual pada Dewanya. Aku kurang begitu mengerti mekanismenya, yang jelas begitu ia meminum darah lawannya, ia bisa menghubungkan antara dirinya dengan lawannya, lalu ia mulai melukai tubuhnya sendiri. Tapi, bukan dia yang merasakan sakit, melainan lawannya. Begitulah, cara psikopat itu menghabisi lawan-lawannya. Dia menyiksa lawan-lawannya terlebih dahulu sebelum membunuhnya."

"Apa ritual itu tak bisa dihentikan?"

"Bisa. Ritual bisa dihentikan, jika Hidan keluar dari symbol atau ditahan dengan kagemane no jutsuku,"

"Cerdas seperti biasanya, ya Shika," puji Naruto. "Lalu, yang satunya lagi?"

"Aku tidak tahu. Ia sama sekali tak ikut bertarung, kecuali hanya membantu menjahit tubuh Hidan kembali," Shika lalu menjelaskan jalannya pertarungan hingga Asuma sekarat.

"Oh," gumam Naruto. Dahi Naruto berkerut. Ia tengah berfikir mengatur strategi yang tepat untuk mengalahkan dua Akatsuki di depannya itu. "Kita harus memisahkan dua orang itu agar mereka tidak bisa bekerja sama. Untuk Hidan, ku serahkan pada kalian. Formasi kalian cocok untuk menghadapi Hidan. Sedangkan, yang satunya biar aku dan tim Kirigakure yang maju. Sebelum itu, kita harus memulihkan Shika. Shik.."

"Jangan! Cukup Ino saja. Lukaku tidak parah. Kau harus menggunakan nektarmu itu untuk sesuatu yang benar-benar genting," tolak Shika sopan.

"Hm, terserah. Aku pergi dulu," kata Naruto berpamitan sebelum melesat pergi bergabung dengan tim Kirigakure yang tengah bertarung melawan Hidan. Asuma-Ino-Shika menyusul di belakangnya.

"Aku punya rencana untuk mengalahkan mereka. Tapi, aku butuh bantuan kalian," kata Naruto usai menendang Hidan hingga terlempar beberapa meter.

"Apa?" tanya Ao dengan mata byakugan yang sudah aktif.

Naruto lalu memaparkan idenya pada rekan-rekannya. Mereka serempak menyetujui. Mereka lalu bergerak sesuai dengan taktik Naruto. Tim Kirigakure dibantu Izumo dan Kotetsu dan Naruto melawan Kakuzu. Mereka bahu membahu menyerang Kakuzu dengan tanto, pedang, dan senjatanya masing-masing. Kakuzu berkelit ke kanan ke kiri, melompat, dan berlari dari satu dahan ke dahan yang lain untuk memblok serangan mereka.

Salah satu shinobi Kirigakure berhasil memperoleh kesempatan emas. Ia menusuk bahu Kakuzu, tapi Kakuzu berhasil menghindar dengan menendangnya. Shinobi Kiri itu terlempar ke belakang menabrak rekannya hingga membentur pohon di belakangnya.

Di sisi lain, Naruto sudah berada di sisi Kakuzu dengan pedang ama-no-murakumo-no-tsurugi. Ia menebas tubuh Kakuzu dengan posisi melintang. Kakuzu berhasil menghindar. Naruto mengejarnya. Pedangnya diayunkan ke kanan, ke kiri, atas, bawah, melintang dan vertikal mengincar bagian-bagian vital Kakuzu. Naruto mendesak Kakuzu dan mengarahkannya ke jebakannya.

Naruto menahan nafas, berusaha untuk tidak tersenyum ketika Kakuzu mendarat di tempat yang sudah ia persiapkan bersama timnya. Tepat saat Kakuzu menginjak tanah itu, tanah itu bergerak. Dari dalam tanah, muncul rantai nan panjang yang langsung mengikat tubuh Kakuzu. Masing-masing rantai dipegang oleh shinobi Kirigakure.

Izumo tidak tinggal diam. Ia membuat segel dan keluarlah suiton : mizuame nabara no jutsu. Cairan seperti sirup nan lengket menyembur keluar untuk melumpuhkan gerakan Kakuzu. Naruto datang dan mengayunkan pedangnya ke arah Kakuzu. Namun, Kakuzu berhasil membebaskan dirinya dari sirup lengkep Izumo dan menarik rantainya hingga membuat shinobi Kiri saling tertarik dan lalu bertubrukan.

Kakuzu memang berhasil membebaskan dirinya dari perangkap mereka, tapi ia tak cukup cepat untuk menghindari serangan Naruto. Pedang Naruto berhasil merobek kain jubahnya di bagian tangan, memperlihatkan tangan Kakuzu yang tidak mulus dan penuh jahitan aneh.

Kakuzu menatap Naruto geram. Matanya berkilat penuh dendam, menjanjikan neraka untuk remaja itu. Jujur, diantara member Akatsuki, ia yang paling pelit. Ia paling anti membeli baju, jika bajunya masih bisa dipakai. Makanya itu, ia benci setengah mampus pada Hidan karena Hidan sering merusak kostum kebesaran mereka. Untungnya, Hidan sangat ahli menemukan kepala berharga tinggi, sehingga kebiasaan buruk Hidan masih bisa ditolerirnya. 'Tapi, tidak ada ampun untuknya,' tekadnya bulat.

Kulit lengan kanan Kakuzu bergerak-gerak. Benang hitam pada lengan Kakuzu tertarik sebelum akhirnya terlepas. Lengan Kakuzu dengan kecepatan tinggi meluncur ke arah Naruto dan lalu mencekiknya. Ia mengangkat tubuh Naruto ke udara. Naruto meronta-ronta di udara merasakan asupan oksigennya berkurang drastis.

Tim Ao tidak tinggal diam melihat Naruto dalam bahaya. Ia membuat segel. "Suiton no jutsu," ujarnya sebelum menyemburkan bola air berukuran besar pada Kakuzu. Tubuh Kakuzu oleng karena tekanan bola air. Cengkramannya pada leher Naruto pun terlepas.

Shinobi-shinobi Kiri dan Konoha kembali maju menyerang Kakuzu. Kakuzu bergerak lincah menghindari ayunan pedang, tanto, dan kunai mereka. Sesekali, begitu ada kesempatan, mereka menggunakan teknik jutsu andalan mereka. akan tetapi, Kakuzu berhasil menepis semuanya.

Di sisi lain, Naruto yang berhasil lepas dari maut mengumpulkan cakra alamnya. Ia memanipulasi cakra alam dan membentuknya menjadi spiral yang berputar cepat berbentuk bola pejal. Bola pekal itu mengumpul, menghasilkan tekanan energi yang sangat besar. Begitu jutsu ini terbentuk, Naruto melesat ke arah Kakuzu.

Walaupun sibuk menangkis serangan kombinasi shinobi Kiri dan Konoha, Kakuzu tidak melewatkan Naruto. Ia berhasil memblok rasengan Naruto dengan teknik jiongu-nya. Benang berbentuk abu-abu gelap keluar dari tubuhnya yang terbuka setelah jahitan pada tubuhnya terlepas. Kumpulan benang itu saling terjalin dan bergerak cepat memblok rasengan Naruto.

Meski gagal melukai Kakuzu, setidaknya Naruto berhasil mendapatkan darah Kakuzu. Darah itu secara diam-diam ia berikan pada temannya untuk selanjutnya diserahkan pada tim Shika. Ia yakin Shika tahu apa yang harus ia lakukan dengan darah itu, tanpa harus diberitahu.

Kakuzu kini bertarung satu-satu dengan Naruto. Ia berlari ke arah Naruto dan menyerangnya dengan kecepatan tinggi. Benang abu-abunya yang menjulur keluar membantunya untuk menjerat, menusuk, dan melukai Naruto. Namun, Naruto dengan teknik hiraishinnya berhasil menghindarinya.

Naruto membuat gerakan menipu. Ia menghilang sekejab mata dari Kakuzu lalu muncul tepat di depan Kakuzu dengan bola pejal yang berputar-putar di tangan. Bola pejal itu lalu berubah bentuk menjadi shuriken. Naruto memberinya nama rasen-shuriken no jutsu, hasil pengembangan jutsu rasengan ayahnya. Kakuzu tidak sempat mengelak. Rasen-shuriken itu menghantam dadanya dengan telak. Jubah Kakuzu yang pertama koyak, disusul kulitnya, lalu terakhir jantungnya.

Naruto melompat menjauhi tubuh Kakuzu untuk menghindari efek rasen-shuriken. Kepulan asap disertai debu mengaburkan pandangan, tempat dimana Kakuzu terkena jutsu Naruto. Naruto mendarat dengan anggun di samping Ao yang sedang memulihkan stamina dan cakranya.

"Apa dia mati?" tanya Ao.

"Ya, kecuali dia punya lebih dari satu jantung," kata Naruto.

Ao hampir tersenyum penuh kemenangan, begitu pula dengan tim Kiri lainnya, tapi raungan kemarahan Kakuzu membuyarkannya. Di depan sana, Kakuzu masih berdiri dengan tegap. Jubahnya sudah tak bersisa, meninggalkan baju ninjanya saja. Mata Kakuzu berkobar penuh amarah menatap Naruto bengis.

Pada punggung Kakuzu terdapat empat topeng. Topeng-topeng itu bergerak liar seperti membentuk tonjolan-tonjolan sebelum topeng itu lepas dari punggung Kakuzu. Dari topeng itu terbentuk empat monster berwarna hitam dengan bentuk abstrak. Tiap monster memiliki topeng yang berbeda.

Bulir keringat dingin menggantung di pelipis Naruto. Tangannya tampak bergetar di bawah sana. Firasatnya mengatakan ini akan jadi pertarungan yang sulit dan memakan waktu lama. "Berhati-hatilah! Ke depan akan jadi semakin sulit," Sebuah peringatan datang dari Naruto.

"Kau tahu itu apa?" tanya salah satu shinobi Kiri.

Namun, bukan Naruto yang menjawab, melainkan Ao. "Monster yang masing-masing memiliki jantung,"

"Sekarang bagaimana?" tanya Shinobi Kiri yang lainnya sambil menghindari benang jingou Kakuzu berikut keempat monsternya.

"Targetnya tetap, jantung Kakuzu. Kita harus menghancurkan jantung itu satu per satu, jika ingin membunuh Kakuzu." Kata Naruto sebelum melompat maju. Naruto tiba-tiba mengerem larinya karena Kakuzu sudah mengeluarkan katon no jutsu dikombinasikan dengan futon no jutsu. Naruto membuat kubah untuk melindungi dirinya dan timnya, mengingat gabungan dua jutsu itu sulit dibendung.

Naruto melepas kubahnya dan menghilang dari tempatnya berdiri. Rupanya dari atas sana, ada kumpulan benang abu-abu yang saling terjalin mengincar kepala Naruto. Jingou no jutsu Kakuzu mengenai tempat kosong, menghancurkan permukaannya hingga terbentuk kawah nan besar.

"Jangan diam saja bantu aku!" bentak Naruto melihat rekannya yang diam melompong karena terkejut dan juga terpesona.

Mereka lalu membantu Naruto melawan Kakuzu begitu sadar dari keterpanaan mereka. Untungnya, tim Naruto menguasai elemen yang berbeda-beda sehingga mereka bisa memblok jutsu Kakuzu dengan lawan elemennya. Kecuali, futon. Tak ada satu pun dari mereka yang memiliki elemen angin, sehingga ini sedikit menyulitkan pergerakan mereka.

Kotetsu lengah. Ia berhasil ditangkap oleh salah satu monster Kakuzu. Kotetsu hanya bisa menutup mata, pasrah dengan hidupnya. Soalnya, kecil kemungkinan ia selamat. Mulut topeng air yaitu monster yang bisa menggunakan elemen air terbuka. Dari mulutnya, keluar bola air yang sangat besar siap meluluh lantakkan tubuh Kotetsu.

Naruto bergerak cepat. Dengan hiraishinnya ia berhasil memindahkan tubuh Kotetsu ke tempat yang aman. Bola air dari monster topeng air mengenai tanah dimana Kotetsu tadi berdiri. Ledakan nan dahsyat pun terbentuk. Debu dan asap saling berhamburan membuat mata perih dan nafas sesak.

Si monster topeng air terbang di atas udara mencari posisi terbaik untuk menenggelamkan seluruh lawannya. Ao membuat segel. "Kanchi shisutemu no jutsu," teriak Ao membuat penghalang di atas kepala mereka sehingga naga yang meluncur dari atas tidak mengenai mereka.

Penghalang itu hilang. Monster topeng air meluncur ke bawah menyerang mereka. monster topeng angin, monster topeng api, dan monster topeng petir menyusul di belakang. Tiba-tiba monster topeng air bergerak aneh. Topengnya retak dan lalu pecah. Darah keluar dari tubuh monster itu sebelum monsternya hilang. Kini hanya tersisa tiga monster lagi.

"Apa yang terjadi?" tanya Izumo bingung.

"Ini pasti pekerjaan Shika. Ia berhasil membuat Hidan mengutuk rekannya sendiri," kata Naruto sambil tersenyum geli, menertawai kebodohan rekan Kakuzu. Pantas saja Kakuzu kesal pada patnernya sendiri.

"Ayo berjuang! Tinggal tiga lagi," kata Naruto memberi semangat.

"Hm," gumam mereka menatap Naruto dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Kita hancurkan monster itu satu per satu. Terlalu sulit jika dihabisi sekaligus," kata Ao berpendapat.

"Aku sepakat. Kita hancurkan monster topeng yang memiliki tubuh berkaki empat yang aneh dengan sayap tipis. Kombinasinya dengan si monster topeng berbentuk harimau sangat sulit diblok," kata rekannya sesama shinobi Kiri.

"Sepakat," kata shinobi yang tersisa mengamini.

Kakuzu menatap mereka penuh perhitungan, baca menghitung mana shinobi yang berharga tinggi. Dilihat dari harga kepala, harga Naruto yang paling rendah karena ia baru genin dan jarang dikenal dunia shinobi. Tapi, Naruto jelas yang memiliki skill paling tinggi dan sekaligus yang paling menyulitkan. Lengah sedikit saja, ia pasti tinggal nama. Buktinya, ia berhasil membuatnya kehilangan salah satu jantungnya.

'Dia yang pertama aku eliminasi. Selanjutnya, Ao dari Kirigakure. Ia punya kemampuan menyebalkan. Sisanya…' pikir Kakuzu memandang remeh shinobi yang tersisa. Kemampuan selain dua orang itu cukup bagus, tapi tidak terlalu istimewa. Kakuzu sama sekali tak terkesan.

Naruto baru maju ketika benang abu-abu menyembur dari mulut dan kulit Kakuzu yang terbuka. Ia menyerang Naruto, mengikuti gerakannya, dan memaksa Naruto berlari ke sana ke mari dari satu pohon ke pohon lainnya, menyusuri batangnya dengan anggun dan gesit untuk menghindar. Sedangkan, monsternya yang lain bertarung melawan shinobi lainnya.

"Auch!" pekik Naruto merasakan sakit di tubuhnya ketika benang abu-abu itu berhasil menusuk tubuh Naruto. "Naruto!" pekik Izumo dan Kotetsu terkejut. Gara-gara terkejut, mereka jadi lengah. Mereka tak menyadari bahaya yang tengah mengancam mereka. Sebuah bola api nan besar meluncur ke arah mereka. Untunglah, ada Ao yang bijak dan waspada. Ia berhasil memblok bola api itu dengan kanchi shisutemu no jutsunya.

Naruto yang ditusuk Kakuzu menghilang meninggalkan jejak darah yang berceceran di tanah. "Cih! Cuman bunshin," umpat Kakuzu kesal. Matanya melirik kanan kiri mencari keberadaan si pirang berambut durian. Naruto muncul dengan rasengan di tangannya. Kakuzu yang melihat adanya bahaya segera menghancurkan tubuh Naruto dengan benangnya sebelum rasengan itu mengenainya.

Lagi-lagi, tubuh Naruto hilang usai kena tusuk. Tiba-tiba, dari arah kanan atas Naruto muncul dengan jutsu yang sama yang menghancurkan jantung pertamanya, yakni rasen-shuriken. Kakuzu tidak sempat menghindar saat rasen-shuriken Naruto mengenai jantung si monster topeng angin telak.

Blarr! Terdengar ledakan nan hebat bersamaan hancurnya monster topeng angin. Kepulan asap dan debu saling berhamburan begitu percikan api itu hilang. Uhukk! Uhukk! Mereka batuk-batuk akibat debu yang beterbangan di udara. Pandangan mereka kabur sesaat sampai kepulan itu menghilang.

Naruto mendarat di tanah dengan mulus. Ia lalu roboh di atas tanah. Kakinya lumer seolah tak bertenaga. Nafasnya terdengar putus-putus. Teknik terbarunya itu sangat menguras stamina dan cakranya. Ia akan merasakan kelelahan yang luar biasa saat menggunakannya dua kali dalam sehari. Persis seperti yang dialami Kakashi-sensei saat ia menggunakan sharingannya.

Ao langsung berlari di sisi Naruto bersama rekannya untuk melindungi Naruto. kondisinya yang lemah sangat rentan terhadap serangan. Ia berdiri sebagai barier. "Naruto, apa kau masih bisa bertarung?"

Naruto menggeleng lemah. "Be..hah hah hah..beri aku hah hah hah waktu 10 hah hah hah menit lagi.," tutur Naruto diantara deru nafasnya yang tak beraturan.

"Aku akan mengulur waktu. Selama itu, menyingkirlah ke tempat yang aman," perintah Ao yang langsung disetujui Naruto.

Naruto mengangguk setuju. Ia memaksakan diri merangkak mundur dari areal pertarungan, mencari tempat yang tenang untuk menyerap cakra alam. Ao mengkoordinir rekan-rekannya yang tersisa. Ia memberi arahan kapan bergerak dan kapan mundur. Kombinasi mereka cukup bagus. Izumo berhasil menangkap monster topeng petir selama sedetik, waktu yang cukup bagi Ao untuk meledakkan monster itu dengan kertas peladaknya.

"Tinggal satu!" ujar Kotetsu senang. Ia seperti sudah melihat kemenangan di depan mata.

"Osh!" jawab teman-temannya yang lain ikut tertular semangat Kotetsu.

Kakuzu menjadi kalap begitu melihat keempat jantungnya berhasil dihancurkan. Ia menyerang dengan membabi buta. Ia berhasil membuat Izumo pingsan usai kena tendangannya. Kotetsu sukses ia benamkan ke dalam tanah, tak bisa bergerak. Shinobi Kiri lainnya terluka parah. Darah mengalir dari sayapan panjang di dada mereka.

Ao maju seorang diri. Tekadnya satu menyelesaikan misi dan menang. Ia dengan lincah menghindari benang abu-abu Kakuzu yang berhamburan dari mulut Kakuzu membentuk jaring laba-laba dengan Ao sebagai mangsanya. Tak jarang Ao memotong benang itu dengan kunai yang sudah ditempeli kertas peledak.

Ao hampir mencapai tempat Kakuzu berada, tapi benang jingou dan monster topeng bumi milik Kakuzu datang mengganggunya. Ao dipaksa menjauh. Ao membuat segel nan rumit dengan cepat. " Suiton no jutsu," Dari telapak tangan Ao, keluar bola air menyembur monster topeng bumi. Monster topeng bumi menahannya dengan doton barier. Sebuah dinding raksasa yang terbuat dari tanah berdiri menjulang ke atas, menahan bola air Ao.

Ao terengah-engah usai mengeluarkan jutsu suitonnya. Ia menghirup oksigen dengan rakus untuk memulihkan stamina dan cakranya yang mulai menipis. Ini pertarungan paling panjang kedua yang dilakoninya usai pertarungannya dengan Shisui saat perang dunia dulu. Bedanya, dulu ia masih memiliki rekan untuk membantunya. Sedangkan, sekarang tidak. Ia harus pintar-pintar menyiasati hal ini, jika tidak ingin mati konyol.

Bulir keringat dingin menggantung di pelipisnya. Ada rasa takut mencengkram dadanya. Tidak, ia tidak takut mati. Sebagai shinobi, ia sudah siap mati kapan pun dan dimana pun. Tapi, ia cemas akan nasib rekan-rekannya yang sedang sekarat. Jika ia gagal, maka mereka tidak ada harapan lagi untuk hidup.

Monster topeng bumi kembali maju menyerangnya. Benang jingou Kakuzu menjulur keluar mengincar organ-organ vitalnya. Naruto yang sudah pulih datang membantu. Ia bekerja sama dengan Ao. Ao yang bertugas mengatasi monster topeng, sedangkan Naruto yang memotong benang jingou yang mengganggu pergerakan mereka.

Ao terus membuat celah agar Naruto bisa menggunakan teknik rasengan atau rasen-shurikennya lagi. Tapi, itu sulit. Kakuzu bukan gesit, tapi sangat gesit. Ia selalu bisa menghindarinya. "Rasengan," teriak Naruto begitu ia mendapat kesempatan. Tapi, Kakuzu berhasil menghancurkan rasengan sesaat sebelum Naruto mendekatinya.

Tiba-tiba saja, Naruto menghilang dalam sekejab mata. Kakuzu berdiri di tempatnya. Matanya terlihat gusar. Ia selalu kesulitan mendeteksi makhluk brengsek itu. Berkat jutsu-sialan-hiraishi ciptaan Yondaime, Naruto jadi sangat menyulitkannya.

Naruto muncul 10 langkah di depan Kakuzu. Di sampingnya, ada Ao yang berdiri mengambang di atas kubah berbentuk bola dengan nyamannya. Kakuzu melihat keduanya bingung. Ia mengira-ngira jutsu apalagi yang akan dikeluarkan remaja itu. Tangan Naruto membentuk segel. Mata Kakuzu menyipit.

'Sepertinya, aku kenal segel itu. I-itu mirip segel…'pikirnya. Matanya terbelalak. Ia melirik ke samping. Ia meneguk ludahnya kasar. Ia melihat burung kecil-kecil dari tanah liat terbang di sekitarnya. Bahkan, ada juga yang menempel di monsternya yang terakhir.

"S-I-A-L-L-L!" raung Kakuzu untuk terakhir kalinya karena Naruto sudah meneriakkan, "Katsu!" burung-burung itu pun meledak hebat. Kulit Kakuzu tertarik dan mengelupas seluruhnya. Darah keluar dari topeng lalu topeng itu pecah menyisakan tubuh Kakuzu yang kini kosong tak berjiwa. Tubuh Kakuzu ambruk ke atas tanah. Kali ini, ia mati untuk selamanya.

Ao dan Naruto langsung ambruk di tanah. Stamina dan cakra mereka terkuras untuk pertarungan ini. Kaki mereka bahkan sudah tak sanggup lagi menopang tubuh mereka. Meski demikian, mereka tidak mengeluh. Mereka tersenyum puas karena mereka berhasil mengalahkan salah satu dari member Akatsuki yang terkenal kuat dan sadis.

"Apa itu tadi?" tanya Ao mengajak berbincang.

"Tekniknya Deidara. Aku sempat menyegel C4-nya Deidara saat kami bertarung dulu,"

"Kau mengalahkan missing nin dari Iwagakure itu?" ujar Ao antara kagum dan terkejut.

"Tidak, Itachi-nii yang membunuhnya. Aku pasti mati di tangannya kalau tidak ada Sasuke di sampingku," jawab Naruto jujur. "By the way, apa Ao-san menguasai jutsu medis?" tanya Naruto sopan yang dibalas gelengan kepala Ao. "Jadi, hanya Ino yang bisa?" gumamnya.

Naruto berjalan terhuyung-huyung dari tempatnya rebahan. Ia mendekati rekan-rekannya. Izumo dan Kotetsu perlahan sadar. Keduanya mengerang, merasakan sakit di sekujur tubuhnya, tapi secara garis besar keduanya baik-baik saja. Shinobi dari Kiri yang justru keadaannya gawat.

Naruto mengeluarkan toples bening dari dalam tasnya. Dengan bantuan ranting kecil, tapi mulus tak berduri, ia mengoleskan krim berwarna hijau tua keunguan yang bau menyengat ke dada para shinobi Kiri. "Apa itu?" tanya Izumo. Hidungnya mengerut jijik, tak tahan dengan baunya.

"Ini krim yang terbuat dari lumut hijau keunguan yang tumbuh di sungai desa Uzu. Lumut ini efektif untuk mengobati luka luar," jelas Naruto.

"Ao-senpai mana?" tanya salah satu shinobi Kiri yang sudah diobati Naruto.

"Dia menyelesaikan misinya, mengambil kembali jenazah yang tadi ditukar Kakuzu di tempat penukaran." Kata Naruto sambil istirahat.

"Lalu, bagaimana dengan tim Shika?" tanya Kotetsu.

"Entahlah. Tapi, kurasa mereka bisa mengatasi Hidan setelah tahu rahasia kekuatan Hidan," kata Naruto acuh. Ia memilih beristirahat daripada melihat keadaan tim 10.

Di sisi lain, Hidan tengah bertarung satu lawan satu dengan Asuma. Hidan mengayunkan reaper mata tiganya ke kanan dan kiri. Hasratnya untuk membunuh sangat kuat. Ia tak sabar ingin segera membuat persembahan untuk Jashin-sama yang disembahnya.

Asuma menahan reaper Hidan dengan chakura to-nya. Dengan ketenangan yang luar biasa, ia menahan mata reaper Hidan agar tidak melukainya. Mungkin, karena ia sudah tahu rahasia Hidan, rasa panik tidak lagi menguasainya. Sesekali, ia mengarahkan chakura to-nya untuk memotong tubuh Hidan.

Hidan mengejar Asuma dengan reapernya. Gerakannya gesit, meski tidak terlalu cepat. Reaper yang besar sama sekali tidak menyulitkan gerakannya. Ia bahkan bisa membuat serangan dari sudut-sudut yang sulit dan nyaris dilakukan shinobi lainnya. Kawah dan ledakan mengiringi pertarungan tingkat tinggi keduanya.

Shika, Choji, dan Ino tidak tinggal diam. Choji membantu Asuma melawan Hidan. Ino bersiap di belakang, jika ada anggota timnya yang terluka. Shika di lain pihak melempar kunainya di banyak tempat yang sudah ditempeli kertas peledak untuk mencegah Hidan kabur dari areal pertempuran.

Asuma berhasil memotong tangan Hidan yang memegang reapernya. Reaper itu Asuma tendang hingga terpental jauh. Tepat saat itulah, Ino menggunakan shintenshin no Jutsu untuk mengendalikan tubuh Hidan, disusul kagemane no jutsu, dan diakhiri oleh cho harite milik Choji yakni teknik membesarkan tubuh untuk menghantam lawan hingga penyet.

Tapi, bukan Hidan namanya jika kalah. Ia menarik reapernya dari kejauhan dengan talinya dan menyerang Ino yang tubuhnya lemah kepayahan usai menggunakan shintenshin no jutsu. Shikamaru yang menyadari langsung berlari menolong Ino, namun naas ia terluka di bagian pipi.

Hidan tertawa seperti setan. Ia menjilat darah yang ada di ujung reapernya senang. Ia lalu membuat symbol di tanah yang dipijaknya. Perlahan tubuhnya berubah menjadi hitam dengan symbol jashin di tubuhnya. Ia memulai ritual penyiksaannya.

Asuma, Ino, dan Choji terkejut, menatap cemas Shika. Hati mereka terasa sakit mendengar erangan Shika yang kesakitan, tapi mereka tak bisa berbuat banyak. Karena, mereka tak bisa membuat Hidan melangkah sedikit pun dari symbol jasinnya. Choji sendiri sudah terluka parah usai terkena tendangan Hidan. Mereka hanya bisa melihat Hidan menusukkan tongkatnya yang panjang ke jantungnya persis seperti yang dilakukan Shika pada Asuma.

Ino sudah terisak-isak, berharap Naruto sudah menyelesaikan pertarungannya dengan Kakuzu sehingga ia bisa menyelamatkan Shikamaru. Begitu pula dengan Choji dan Asuma. Hidan tertawa terbahak-bahak, yakin jika Shika sudah mati dengan posisi tertelungkup di atas tanah. Matanya kini ganti melihat Asuma, Choji, dan Ino penuh minat.

Namun, sesuatu terjadi. Shika yang tadi terbaring di tanah bangkit dan menyerang Hidan dengan kunainya. Hidan yang membelakangi Shikamaru tak sempat mengelak. Lengan kanan Hidan terluka. Shikamaru tersenyum penuh arti mengejek Hidan.

"Tidak mungkin. Bagaimana bisa?"

"Darah yang tadi kau ambil untuk ritualmu bukanlah darahku, melainkan darah partnermu. Dengan kata lain, bukan aku yang kau kutuk, melainkan rekanmu sendiri," kata Shika membeberkan kebodohan Hidan. Sikap serampangannya telah membuatnya celaka, tapi kali ini tak ada Kakuzu yang akan menyelamatkannya.

"Dan, kau sudah jatuh dalam kagemane no jutsuku," kata Shika puas. Ia mengarahkan telapak tangannya ke atas menarik kertas peledak yang jumlahnya sangat banyak yang menempel di segala penjuru dengan kagemanenya. Tubuh Hidan kini terikat kuat oleh tali yang terbuat dari kagemane dan hampir seratus kertas peledak bersamanya.

Hidan masih tertawa sombong, merasa berada di atas angin. "Meski kau bisa mengikatku, kau tak akan bisa membunuhku. Aku abadi," katanya.

"Aku memang tidak bisa membunuhmu, tapi aku bisa membuatmu tak bisa bergerak lagi," kata Shika. Tanah yang dipijak Hidan bergetar hebat lalu tanah itu turun membentuk sumur nan dalam yang dipenuhi berbagai macam jutsu berbahaya. Entah kapan Shikamaru membuatnya. Hidan pun terjatuh ke dalam sumur itu. Shika tersenyum puas. "Sensei boleh minta apinya?" pintanya manis.

Asuma tersenyum, salut akan kegeniusan Shika. Dalam waktu singkat, ia berhasil merancang strategi untuk mengalahkan Hidan. Asuma melempar korek apinya pada Shika dan Shika menyalakannya sebelum menjatuhkannya ke dalam sumur itu.

"Apa pertarungannya sudah selesai?" tanya Izumo sambil memapah shinobi Kiri di kiri dan kanannya yang kepayahan. Kotetsu hanya memapah satu orang. Ao memanggul jenazah shinobi Kiri yang tadi diculik Hidan dan Kakuzu. Sedangkan, Naruto memanggul jenazah Kakuzu.

"Mau kau apakan itu?" tanya Choji heran menunjuk jenazah yang dipanggul Naruto.

"Aku tak punya urusan dengan ini, tapi Ibiki-san pasti tertarik dengan ini. Kakuzu menguasai banyak sekali jutsu yang menarik. Atau, bisa juga kita tukar kepalanya dengan uang. Lumayan untuk menambah pemasukan,"

"Uwach," pekik Shika menatap jijik Naruto. "Kau bicara seperti si pelit itu," gerutunya.

Naruto angkat bahu. "Hanya menjawab pertanyaan," jawabnya acuh.

"Sudah-sudah jangan bertengkar," lerai Asuma. "Lebih baik kita mencari tempat penginapan untuk istirahat," tambahnya yang diiyakan semua orang.

Mereka merasakan lelah yang amat sangat, usai pertarungan menegangkan yang makan waktu hampir seharian penuh. Tapi, mereka juga ogah istirahat di dekat tempat mereka bertarung. Selain tempatnya sudah hancur, mereka juga enggan mencium bau anyir darah yang menodai tempat itu.

Mereka beristirahat di desa tak jauh dari tempat itu sekitar 3 hari untuk memulihkan stamina dan juga untuk menyembuhkan luka-luka yang diperoleh selama misi. Mereka kan tak mungkin pulang dengan stamina terkuras dan luka yang parah. Bagaimana kalau mereka bertemu musuh di jalan, bisa mati konyol mereka.

Selama istirahat, Naruto menghabiskan waktu dengan Shika dan Choji. Mereka saling bertukar cerita. Sesekali Asuma ikut bergabung. "Apa rencanamu selanjutnya, Naruto?" tanya Shika sambil memandang sahabatnya lembut.

"Apanya?"

"Kau masih akan berlatih dengan Jiraiya-sama?" jelasnya.

"Ku pikir tidak. Pelatihanku sudah selesai. Sebentar lagi, aku mau pulang ke Konoha. Tapi, itu setelah aku bertemu Jiraiya-sensei di Kirigakure. Aku sudah janji dengannya,"

"Oh, jadi kau akan pulang bareng mereka?" tanya Choji diantara acara ngemilnya.

"Sepertinya begitu,"

"Wah, tidak bisa pulang bareng, dong," desah Choji terdengar kecewa.

"Hei, ini kan hanya sementara. Aku pasti pulang kok," hibur Naruto.

"Hei, Nar! Kau masih ingat Gaara dari desa Suna, kan?" tanya Ino mengalihkan pembicaraan.

Naruto terdiam, mengingat-ingat. "Oh, shinobi berambut merah muda yang selalu bawa gentong tak jelas itu, kan?" tanya Naruto memastikan.

BUAKKK!

Dengan tanpa berperi kemanusiaan, Ino menjitak kepala Naruto gemas. Ia persis seperti Sakura yang hobi menjadikan Naruto sebagai sasak tinju. "Jangan bicara tidak sopan seperti itu! Dia itu keren, jauh lebih keren dari kamu,"

"Keren apanya?" raung Naruto tidak terima.

"Dia itu tampan. Gayanya macho. Skill ninjutsu juga luar biasa. Dan, ia seorang Kage sekarang. Tidak sepertimu," ejek Ino.

"Apa? Gaara jadi Kazekage? Tidak mungkin?" teriak Naruto tak terima, merasa dilangkahi. Soalnya dia yang berkoar-koar ke semua orang akan jadi hokage, eh malah Gaara yang keep silent yang jadi kage. Rasanya ia seperti ditikam dari belakang.

"Kenapa tidak mungkin? Gaara itu sudah jounin. Kemampuannya di atas semua shinobi Suna dan ayahnya juga seorang mantan kage. Apalagi yang kurang?" balas Ino sengit berapi-api usai menjitak kepala Naruto karena berteriak heboh.

"Jounin? Dia sudah jadi jounin?" tanya Naruto terkejut.

"Ya, iya lah. Kan, ia sudah kage," balas Ino.

"Arghkhgg.!" Teriak Naruto tak jelas. Ia mengacak-acak rambutnya frustasi. Asuma yang melihatnya tertawa kecil. Begitu pula dengan shinobi yang sudah dewasa lainnya yang mendengar percakapan ringan mereka. Sedangkan, Shika dkk tertawa terbahak-bahak menertawai nasib Naruto.

Naruto mengangkat kepalanya, melirik teman-teman seangkatannya di akademi. "Lalu, kalian? Bagaimana dengan kalian?"

"Kami bertiga sudah Chuunin." pekik Ino gembira. Ia tersenyum jumawa, merasa menang. "Sakura, Lee, Tenten, Hinata dan Kiba juga. Malah, Neji sudah jadi jounin sekarang," tambah Ino setengah pamer.

"TIDAKKK!" teriakan Naruto makin histeris. Ia pundung di pojokan merenungi nasib malangnya.

"Tenang, kau tak sendiri, kok. Selain kau, Sasuke juga masih genin," hibur Asuma tak tega. "Lagipula, kau kan murid Jiraiya-sama. Kau beruntung diangkat murid olehnya. Dia kan terkenal hebat dan juga sangat selektif dalam memilih murid," lanjutnya.

Naruto mengerucutkan bibirnya. Hatinya masih tidak terima. Tapi, ia lumayan lega. Karena bukan dia seorang yang masih genin. Sahabat setimnya juga mengalami hal yang sama. Setelahnya, mereka berbincang ringan. Sesekali tertawa jika ada guyonan yang bagus.

Tiga hari kemudian, mereka pun berpisah jalan. Tim Ao bersama Naruto kembali ke Kiri, sedangkan tim Konoha kembali ke Konoha.

…..*****…

Dua bulan setelah surat dari Shisui diterima ke Konoha, Gaara dengan dikawal dua orang kakaknya tiba di Konoha. Mereka kini berada di kantor hokage. Gaara duduk di satu-satunya kursi yang tersisa. Sedangkan, dua orang kakaknya berdiri di samping kanan dan kirinya, waspada.

Shisui menatap puas para tamunya. Suna menepati janjinya, mengantarkan jinchuuriki Ichibi ke Konoha, meski ia sudah dilantik menjadi Kazekage dan masih menjadi Kazekage mengingat pihak Suna menolak surat pengunduran diri Gaara. "Kalian telah menempuh perjalanan jauh. Kalian bisa istirahat sekarang di penginapan. Gaara tetap di tempat. Ada yang ingin kami bicarakan berdua saja," kata Shisui secara tidak langsung mengusir Temari dan Kankurou.

"Tidak terima kasih," tolak Temari sopan. "Kami pengawal Gaara. Kami tidak akan meninggalkan Gaara sekejab pun,"

"Anda tak perlu cemas, Hokage sama. Mereka bisa dipercaya. Mereka tak akan membocorkan rahasia percakapan kita apalagi mencederai perjanjian damai desa kita," kata Gaara diplomatis.

Shisui menimbang. Matanya penuh perhitungan sebelum mengangguk menyetujui. "Aku butuh bantuanmu," kata Shisui memulai percakapan.

"Bantuan seperti apa?" kata Gaara tenang.

"Ini agak sulit dan mungkin mengancam nyawamu,"

"Katakan saja!"

"Apa kau tahu Akatsuki?"

"Organisasi yang berisi kumpulan missing nin rank S itu?" tanya Gaara mengkonfirmasi.

"Ya. Organisasi ini mulai membahayakan dunia shinobi. Mereka berniat mengumpulkan bijuu-bijuu di seluruh dunia untuk sebuah jutsu yang sangat berbahaya,"

Gaara menahan nafas. Ia mulai bisa menebak apa yang diinginkan hokage di depannya ini darinya. "Anda ingin menjadikanku umpan?" tebaknya.

"Kurang lebih," jawab Shisui jujur.

Gaara mengangguk mengerti. Ia sadar, posisinya saat ini sebagai tawanan. Hidup dan matinya berada dalam genggaman Shisui. 'Setidaknya ia berkata jujur,' batin Gaara positif thinking. Shisui tidak menyembunyikan niatnya. Ia bahkan mengatakannya secara blak-blakan. Jadi, Gaara tak perlu cemas dengan jebakan batman yang sering digunakan para petinggi desa, desa manapun. "Aku setuju," balas Gaara membuat Temari dan Kankurou tersentak.

"Gaara!" pekik mereka tak terima.

"Kita tak punya pilihan." Jelas Gaara tenang. Kankurou dan Temari meski tidak setuju, akan tetapi keduanya memilih diam. Gaara benar. Mereka tidak punya pilihan selain menuruti permintaan baca perintah hokage.

"Bagus. Meski masih muda, kau sangat bijak. Berbeda dengan para tetuamu yang kolot," sindir atau puji Shisui. Gaara, Temari, dan Kankurou memilih diam, tak membalas. "Kemungkinan besar Akatsuki akan memilih waktu ujian chuunin untuk menangkap Ichibi. Karena itu, pastikan shinobi-shinobi terbaik Suna tetap berada di desa." Lanjut Shisui membagi informasi.

"Aku paham. Aku akan mengirim Temari sebagai perwakilan dari Suna. Kita tidak boleh membuat siapapun curiga dengan hanya mengirim shinobi kelas rendahan untuk mengawal para peserta ujian Chuunin," kata Gaara.

"Cerdas. Pantas saja kau terpilih sebagai kazekage termuda," puji Shisui kagum. Gaara bahkan menjadi Kazekage di umur 16 tahun.

"Hm," gumam Gaara datar, tapi binar di matanya mengkhianatinya, menunjukkan rasa senangnya.

…..….*****…

Tim Asuma langsung masuk ke gedung hokage untuk melapor agar urusan lekas selesai dan mereka bisa istirahat di rumah. Lari selama 2 minggu nonstop dan hanya istirahat sebentar saja membuat mereka kelelahan. Sebetulnya, mereka bisa saja istirahat lebih lama, toh Shisui bukan orang yang ketat mengenai waktu. Tapi, karena mereka merindukan rumah dan isinya, membuat mereka mempercepat perjalanan mereka.

Ternyata Shisui tidak sendirian di ruangannya. Ada Gaara dan dua orang saudaranya di dalam gedung hokage. Melihat aura gelap yang menguar dari tubuh mereka, sepertinya ini bukanlah percakapan ringan antara dua orang Kage. Karena takut mengganggu, Asuma dan tim nyaris membalikkan badan, kalau saja hokage mereka tidak menegur mereka dan menyuruh mereka untuk diam di tempat.

"Melihat kalian pulang dengan selamat, aku yakin misi kalian sukses," kata Shisui. Ini bukanlah sebuah pertanyaan, melainkan pernyataan.

"Kurang lebih," kata Asuma mengawali laporannya. Ia meletakkan plastik berisi jenazah Kakuzu di atas lantai.

Shisui melihatnya dengan mata yang berbinar-binar. 'Shinobi Konoha memang oke,' pikirnya. Tim desa lain boleh gagal menangkap penjahat Akatsuki, tapi timnya tidak. Mereka sukses meringkus penjahat paling menyusahkan itu dan membawa kepalanya berikut badannya ke Konoha. Hebat, kan?

Gaara, Temari, dan Kankurou menatap penuh minat. Ada rasa kagum terpancar dari iris mereka. Pantas saja Suna dan desa-desa lainnya iri pada Konoha. Konoha memang hebat. Mereka tidak pernah kekurangan para shinobi prodigy dan masih memproduksinya. Itu sebabnya, Konoha menjadi salah satu desa ninja yang sangat disegani di seluruh negara elemental.

"Aku nyaris mati, Kotetsu dan Izumo terluka parah, sedangkan cakra Shikamaru sudah sampai pada limitnya. Tapi, untunglah tim bantuan tiba. Bantuan datang tidak hanya dari Konoha, tapi juga ada Naruto yang datang bersama tim Kirigakure. Jadi, kami berhasil selamat dan misi sukses," tambahnya.

"Naruto? Kenapa ia bisa berada bersama kalian? Bukannya ia di Ame? Dan, mana dia sekarang?" tanya Shisui beruntun dalam satu nafas.

"Panjang ceritanya. Naruto sedang ada keperluan di Kiri. Di tengah jalan, ia berpapasan dengan tim Ao. Ia lalu membantu tim Ao dari Kiri karena musuh Ao ternyata Akatsuki," Jelas Asuma sabar.

"Akatsuki?" pekik Shisui atau yang semisal dengan pekikan. Soalnya, suara pekikannya nyaris sama dengan gumaman tak jelas.

Shisui melirik tempat persembunyian Itachi berharap Itachi tidak melaporkannya pada Dewan kode etik Uchiha. Akhir-akhir ini, ia telah melanggar hampir semua peraturan Uchiha. Ia bergerak semakin jauh mendekati ambang batas. Total pelanggarannya hanya sedikit di bawah Sasuke dan Obito saja. 'Fiuh,' desahnya dalam hati miris, sadar sesadar-sadarnya, jika ini bukanlah prestasi yang membanggakan.

"Akatsuki menculik salah satu shinobi penting Kiri untuk ditukar dengan uang, sama seperti yang dilakukannya pada Chiriku," kata Asuma. Ia lalu menceritakan kronologinya. Bagaimana Naruto menyelamatkan nyawa Asuma dengan bunga lili kehidupan? Asuma juga menjelaskan jalannya pertempuran mereka hingga mereka berhasil mengalahkan Hidan dan Kakuzu. "Begitulah ceritanya," pungkas Asuma mengakhiri.

Shisui mengangguk perlahan. Matanya berkilat puas. "Bagus." Puji Shisui. "Sekarang kalian bisa istirahat, kecuali Shikamaru. Aku ada misi penting untuknya."

Kepala Shikamaru yang terkulai ke bawah setengah mengantuk langsung terangkat. Matanya yang tadi menyipit sayu kini terbuka lebar. Matanya berkilat tidak suka. Please, dech. Ia kan baru pulang dari misi yang panjang dan berbahaya, masak sudah diberi misi lagi. Lalu, kapan ia istirahat? Ternyata isu itu benar. Hokage mereka sangat kejam dan pelit untuk urusan cuti. "Hokage-sama menginginkan saya?" tanya Shika memastikan.

"Ya. Aku lihat misimu sebagai panitia Chuunin tahun kemarin sangat bagus. Karena itu, aku akan menunjukmu sebagai panitia lagi. Kau bisa membicarakannya dengan Temari. Ia panitia dari Suna," jelas Shisui.

Mata Shika menyorot tidak suka. 'Huh, lagi-lagi misi merepotkan,' pikirnya dalam hati. "Hai'k hokage-sama," kata Shika menyanggupi, berbeda dengan suara hatinya. "Apa hokage-sama tidak akan memanggil Naruto dan Sasuke untuk ikut ujian? Diantara teman-teman seangkatan, hanya mereka berdua saja yang masih Genin," singgung Shika mumpung ingat.

Kepala Shisui mendongak. "Ah," gumam Shisui seolah baru sadar fakta memalukan ini. Selain menyandang gelar bengal, super egois, pelanggar peraturan no 1, dan tamak, Sasuke juga dikenal sebagai Uchiha dengan minim prestasi. Ia satu-satunya Uchiha yang masih genin di usia yang menginjak 16 tahun. Shisui meringis. Jika Sasuke tahu kabar ini, ia pasti mengamuk lagi di kantornya. Ia hanya berharap saat itu tiba, Naruto ada di sini di sampingnya.

"Err, well sepertinya tahun ini pun mereka tak bisa berpartisipasi. Pembimbing mereka bilang, keduanya belum layak ikut ujian," kata Shisui mengkonfirmasi.

Asuma dan tim menatap Shisui dengan tatapan aneh. Apa sih yang ada di otak hokagenya ini? Naruto itu hebat. Di usianya yang masih belia, ia sudah beberapa kali bertarung dengan shinobi rank S dan masih hidup hingga kini. Kenapa ia masih tetap Genin? Naruto minimal setara dengan jounin atau bahkan lebih. Dari cerita tim Kiri, mereka tahu jika kemampuan Naruto kini sudah di atas Asuma. Tapi, kenapa hokage bilang jika Naruto belum layak ikut ujian Chuunin? Aneh, sangat aneh.

Gaara di lain pihak juga ikut bingung. Ia pernah bertarung dengan Naruto. Naruto satu dari dua orang yang berhasil menahan jutsunya saat ia berada dalam kendali Ichibi. Ia bahkan berhasil memaksa Ichibi yang sedang mengamuk mundur ke dalam benaknya lagi. Dan, sekarang rivalnya itu masih Genin? Unbelievable! Sukar dipercaya. Entah Konoha yang bego atau ia memang disimpan untuk hal-hal genting, hanya Kami-sama dan Shisui yang tahu.

"Sesuai perjanjian, kami akan memberikan tubuh Sasori berikut kugutsu-kugutsunya," kata Shisui beralih pada tamu-tamunya yang hari ini mau pamitan pulang. Well, hanya Gaara dan Kankurou yang pulang. Temari tinggal untuk mengurus tetek bengek ujian Chuunin.

"Hm," gumam Gaara datar, tapi jadenya terlihat antusias.

Shisui tidak melanggar janjinya. Ia juga berbaik hati membiarkannya kembali ke Suna dan tidak membuatnya hidup layaknya tawanan perang. Oke di bagian itu ia senang. Cuman sedihnya, kini hidupnya beralih dari tawanan perang menjadi umpan.

'Oh, God,' batin Gaara miris. Meski untuk kebaikan, tetap saja ia tak senang dijadikan umpan. Setelah ini, ia pasti tak akan bisa tidur nyenyak, kepikiran kapan Akatsuki akan menangkapnya. Well, bukan berarti ia bisa tidur, mengingat ia pengidap insomnia akut karena statusnya sebagai jinchuuriki Ichibi. Intinya, hidupnya tak lagi tenang seperti dulu. Itu yang Gaara tidak suka.

…*****…..

3 bulan sesudah Gaara kembali ke Suna

Semua orang sibuk dalam drama horror para Genin debutan, yakni ujian Chuunin. Persiapan untuk ujian Chuunin tahun ini tidak kalah horrornya dari tahun-tahun sebelumnya. Seleksinya pun lebih ketat dan mematikan, meski korban jiwa yang tidak diperlukan berusaha ditekan seminimal mungkin.

Dan, seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini pun Iwagakure menyatakan absen. Mereka lebih suka menyelenggarakan seleksi ujian Chuunin sendiri daripada bergabung dengan aliansi Konoha-Suna-Kiri-dan-Oto. Begitu pula dengan Amegakure dan Kumogakure. Keduanya pun menolak berpartisipasi.

Akan tetapi, sama seperti tahun-tahun sebelumnya, ujian Chuunin tahun ini pun menyimpan kejutan. Takigakure, desa ninja kecil yang tak begitu terkenal menyertakan genin-geninnya sebagai peserta ujian Chuunin tahun ini. Sangat mengejutkan, mengingat bagaimana tertutupnya mereka. Mungkin, mereka ingin unjuk kekuatan atau ingin menggusur salah satu desa ninja lainnya. Entahlah, tidak ada yang tahu apa motifnya kecuali kage mereka.

Anehnya, meski sudah mendaftarkan tiga tim genin sebagai peserta, sampai menit terakhir tak ada satu pun dari mereka yang muncul di tempat ujian. Mereka pun dinyatakan didiskualifikasi, gagal sebelum bertanding. Akhirnya, peserta ujian Chuunin tahun ini pun sama seperti tahun-tahun sebelumnya, hanya diikuti keempat desa aliansi Konoha.

Di kantornya, Shisui bergerak gelisah. Ia cemas. Feelingnya mengatakan ada sesuatu yang tak beres dibalik menghilangnya peserta ujian dari Takigakure. Menurut gulungan perkamen rahasia milik hokage pertama, Takigakure satu dari sekian desa yang menerima bijuu. Tepatnya Nanabi, bijuu ekor tujuh. Bagaimana jika Akatsuki yang mendalangi menghilangnya peserta dari Takigakure ini? Bisa gawat jika Nanabi jatuh ke tangan mereka.

"Yamato, Sai, Torune, dan kau Fuu. Selidiki kenapa tim dari Takigakure mundur dari ujian," kata Shisui memberi perintah.

"Hai'k," kata mereka serempak sebelum berpamitan. Mereka pulang sementara waktu ke rumah mereka untuk mempersiapkan bekal dalam perjalanan, sebelum berkumpul kembali di pintu gerbang untuk merancang strategi dan lalu berangkat menjalankan misi bersama.

"Itachi apa kau sudah memanggil tim Guy?" tanya Shisui tak sabaran pada bayangan di sudut ruangan.

"Hn," balas orang itu, enggan menampakkan diri.

Tak lama kemudian, terdengar suara heboh dari luar ruangan. Bibir Shisui melekuk, menyunggingkan senyum kecil. Ia sudah hafal dengan cara tim ini muncul. Pasti diawali kehebohan dan gumaman sebal dari satu-satunya shinobi paling waras diantara mereka berempat. Tenten cukup waras sebetulnya, kalau saja ia menanggalkan hobi melempar senjatanya serampangan, atau hardikannya yang melengking menyayat menyerupai suara lengkingan burung hantu.

"Masuk!" kata Shisui memberi perintah.

Tim Guy muncul dengan cara yang unik seperti biasanya. Bukan hanya kostumnya yang unik, tapi juga stylenya. Guy masuk dan berjalan menggunakan kedua tangannya untuk menopang tubuhnya, yang diikuti kopiannya aka Lee. Tenten berteriak-teriak marah di belakang mereka dan Neji yang menggeleng-gelengkan kepalanya dengan anggun, meniru gaya Hiashi saat jengah dengan tingkah polah para shinobi muda. Gayanya itu lho, kayak ia sudah tuwir saja.

"Aku memanggil kalian ke sini untuk misi penting,"

"Apa ada yang tidak beres dengan ujian Chuunin tahun ini?" tanya Neji berkaca dengan ujian Chuunin yang sudah-sudah, yang sering tidak berjalan sesuai rencana.

Ada saja gangguan tak menyenangkan yang membuat ujian Chuunin menarik atau menyebalkan menurut beberapa orang. Habis, mereka selalu tak bisa melihat hasil akhir kompetisi. Di tengah jalan, pasti ujian dihentikan dan pemenangnya selalu tak bisa ditentukan. Akhirnya, Chuunin dipilih dari penilaian subyektif para jounin elit dan bukannya dari hasil pemenang ujian Chuunin.

"Mungkin iya mungkin juga tidak," jawab Shisui tidak meyakinkan, membuat anggota tim Guy melihatnya dengan tatapan ganjil, setengah dari mereka percaya jika Shisui sedang kumat penyakit gilanya, setengahnya lagi tidak mikir seperti Guy-sensei dan kopiannya. "Aku akan memberi kalian misi ke Sunagakure. Kalian harus sampai ke sana secepatnya," kata Shisui tegas.

Tim Guy tersentak. Mereka saling berpandangan. Kali ini mereka yakin, jika penyakit gilanya Shisui memang sudah kumat. Mereka melirik hawa tidak menyenangkan di salah satu sudut ruangan yang entah ditujukan pada siapa. Hawa ini mungkin berasal dari pengawal pribadi Shisiui aka ketua anbu mereka.

"Memangnya kenapa dengan Suna?" tanya Lee mewakili semuanya.

"Suna dalam bahaya, jika firasatku benar." Balas Shisui membagikan isi pikirannya. "Tunggulah di sana sampai keadaan aman,"

"Apa tidak akan timbul masalah di kemudian harinya, jika kita lancang ke sana tanpa tujuan yang jelas?" tanya Neji cerdas seperti biasanya.

"Berikan gulungan ini pada kazekage mereka! Ia tahu maksudku," kata Shisui mengakhiri penjelasan.

Karena tak ada lagi yang harus didiskusikan, mereka pun meninggalkan kantor Shisui. Kantor pun kembali lengang. Hanya ada suara helaan nafas dan goresan pena Shisui yang terdengar.

….….*****…

Cuaca hari itu cerah. Tidak ada awan yang menghiasi langit. Penduduk Sunagakure beraktivitas seperti biasanya. Ada yang melakukan transaksi jual beli, bercakap-cakap santai dengan tetangga, teman atau keluarga. Ada juga yang tengah asyik menyantap masakan istri, ibu, kakak, atau masakannya sendiri. Ada shinobi yang lompat-lompat dari atap rumah. Ada juga yang jalan kaki seperti warga biasa. Ada yang baru pulang dari menjalankan misi. Dan, ada pula yang baru akan berangkat.

Diantara mereka, berbaur manusia-manusia bertopeng yang menyaksikan baca mengawasi aktivitas penduduk desa di balik bayangan. Manusia-manusia bertopeng itu adalah tim anbu. Semua berlangsung seperti biasa dan normal. Tak ada satu pun dari mereka yang hari itu menyangka atau punya firasat desa mereka diserang.

Tiba-tiba dari padang pasir muncul sesuatu berwarna putih bergerak sangat cepat ke arah para penjaga gerbang Sunagakure. Dari kejauhan, benda itu bergerak menyerupai ikan hiu. Para penjaga gerbang langsung waspada. Beberapa dari mereka langsung mengirim sinyal bahaya pada desa, bersiap untuk kemungkinan terburuk.

Benda putih itu lalu muncul ke atas permukaan. Sesosok makhluk yang wajahnya mirip ikan berwarna biru kelabu muncul. Makhluk itu memanggul benda putih yang ternyata adalah sebilah pedang yang dililit dengan kain perban berwarna putih. Dia tersenyu sombong dengan tatapan meremehkan terarah pada shinobi Suna.

Pupil beberapa penjaga gerbang melebar, tahu pasti siapa yang tengah mereka hadapi. Ia adalah, "Hoshikage Kisame," serunya terdengar syok. Teman-temannya refleks menoleh ke arah temannya yang bergumam tadi. Ketakutan teman itu menular pada mereka. Mereka meneguk ludah mereka kasar, seakan-akan melihat Shinigami tepat di depan mata mereka.

Tak butuh lama bagi Kisame untuk menghabisi para penjaga gerbang Suna. Ia lalu bergerak cepat, pindah ke dalam desa, tepatnya di depan gedung kantor Suna. Matanya melirik desa yang kini lengang tak berpenghuni. Rupanya, para penjaga bodoh itu sudah mengirim peringatan pada desa, sehingga memberi waktu bagi para pasukan regular Suna untuk mengamankan para warga desa.

Kisame kembali menyunggingkan senyum angkuhnya. Matanya menyorot ke atas gedung kantor Kazekage. Di sana berdiri berjajar para shinobi terbaik Suna dan berikut kazekagenya, targetnya. Ia tertawa sendiri. Hatinya senang karena tak perlu repot-repot untuk mencari jinchuuriki Ichibi.

Di sisi lain, Gaara menatap Kisame waspada. Jadenya memang terlihat tenang, akan tetapi tangannya yang tersembunyi di balik jubahnya gemetar ringan. Keringat dingin mengalir di dahinya. Pasirnya memang hebat, tapi jika harus melawan pengguna elemen air yang tangguh seperti Kisame..? haaah…, Gaara menghembuskan nafas perlahan. Ia tak yakin sanggup. Terakhir kalinya ia bertarung dengan pemilik elemen air, ia kalah total.

Kisame merapal jutsu Suitonnya. Dari dalam tanah muncul gelombang air susun tiga yang tinggi ke atas. Pada puncaknya, keluarlah Kisame dengan pedang Samehadanya. Air terjun itu tumpah ruah dan menerjang seluruh bangunan di Suna dan menenggelamkan seluruh desa hingga kini Suna berubah menjadi danau. Gaara menatap cemas sebelum merapal jutsunya, membuat tameng pasir untuk melindungi para shinobinya dari serangan hiu nan ganas yang muncul dari dalam air.

Kankurou dan Baki menatap cemas pada lawan tangguh di depannya. Banyak diantara shinobi Suna yang bertumbangan. Mereka tumbang setelah berkali-kali menahan jutsu Kisame dengan membuat dinding perlindungan menggunakan elemen tanah mereka. Kalau saja Kisame tidak memiliki pedang sialan yang Kisame sebut Samehada, mereka mungkin masih bisa bertahan hingga saat ini. Pedang sialan itu menyerap cakra mereka hingga membuat mereka terkulai tak berdaya dan lalu jatuh seperti dedaunan yang berguguran satu per satu dari pohon.

"Kankurou, gunakan senjata andalanmu!" perintah Baki sambil menahan Samehada dengan kunainya.

"Tapi.." Kankurou terlihat ragu.

"Kau sudah menguasainya kan? Hiaat..!" balas Baki sambil melancarkan tendangan ke arah lawannya.

Kankurou tak punya pilihan lain. Ia mengeluarkan sebuah gulungan bertuliskan Sasori. Lalu, dari gulungan itu keluarlah boneka berambut merah dan bertelanjang dada. Di balik punggungnya menempel senjata tajam. Jemari tangan Kankurou bergerak-gerak untuk mengendalikan kugutsunya. Bonekanya siap beraksi.

"Sasori," desis Kisame di atas air terjun.

Kankurou menggerak-gerakkan bonekanya melawan Kisame. Senjata di tangan dan punggung Sasori berputar lalu berlari menyongsong musuhnya. Sasori menerjang Kisame dan menyabetkan senjatanya. Tapi, sulit. Tubuh Kisame selalu berubah-ubah mengikuti air, elemen dasarnya, membuatnya sulit untuk dilukai.

Keringat dingin menggantung di pelipis Kankurou. Rahangnya mengertak, berkonsentrasi penuh dengan kugutsunya. Satu hal yang ia lupa katakan pada senseinya, ia belum menguasai boneka Sasori sepenuhnya. Masih banyak fungsi-fungsinya yang tidak ia ketahui. Mungkin, ini hanya prasangkanya, tapi ia merasa hokage sama yang terhormat sudah mengotak-atik boneka Sasori.

Kankurou menggerak-gerakkan lagi tangannya, mengarahkan boneka Sasori sesuai perintahnya. Kisame tersenyum mengejek. Rupanya, ia tahu jika sang master boneka muda ini belum begitu ahli hingga ia sering kali salah sasaran. Levelnya sangat jauh di bawah Sasori yang di Akatsuki beberapa tingkat di bawah Kisame.

Kisame menghilang di balik air. Samehadanya bergerak lincah, lurus dan lalu zigzag. Ia timbul dan tenggelam mirip ikan hiu asli. Lalu, Kisame dan Samehadanya muncul di atas permukaan. Kankurou membelalak terkejut. Kisame tersenyum manis, lalu menebaskan Samehadanya untuk memotong benang cakra Kankurou dan selanjutnya menyerap cakra Kankurou.

Kankurou ambruk ke bawah. Kakinya lemas tak bertenaga. Jangankan melawan, menggerakkan satu ujung jaripun ia tak sanggup. Samar-samar, ia mendengar teriakan panik Gaara. 'Maaf otouto. Sepertinya aku hanya sampai di sini saja,' batinnya sedih. Ia sudah bersiap memeluk kematian dengan memejamkan matanya, tapi kegelapan tak kunjung menyeretnya.

Ia membuka mata. 'Apa ini Gaara?' pikirnya menebak. Ah ternyata bukan. Bukan Gaara yang menolong Kankurou. Gaara terlalu sibuk memindahkan para shinobi yang masih bisa diselamatkan dan beberapa fasilitas penting Suna agar tidak hancur di tangan Kisame, sehingga ia tak sempat menolong Kankurou. Begitu pun Baki.

Jadi, siapa yang menolong Kankurou?

Ternyata itu Sasori. Senjata di tangan Sasori menahan Samehada Kisame dan memaksanya mundur. Kankurou kembali terbelalak. Ia menyaksikan mata Sasori terbuka dan bercahaya. Itu bukan mata boneka atau orang yang dikendalikan edo tensei no jutsu, melainkan mata orang hidup. Sasori masih hidup.

'Pantas saja,' pikirnya. Ia kesulitan mengendalikan Sasori karena ia belum belajar dari Nenek Chiyo, sang master kugutsu untuk mengendalikan makhluk hidup. Keahliannya masih sebatas mengendalikan boneka. Mengendalikan orang hidup lebih sulit dari pada mengendalikan boneka, karena orang hidup punya kehendak sedangkan boneka hanya menurut pada masternya.

'Tapi, kenapa ia melindungiku dan Suna?' pikirnya bingung. "Ah," gumamnya seolah sudah mendapat pencerahan. Dugaannya benar. Hokage memang sudah mengotak-atik Sasori. Ia mungkin menanamkan genjutsu level tingginya hingga membuat Sasori berbalik memihak Suna.

Kankurou tersenyum kecil. Ia bergumam tak jelas. Hokage Konoha memang anti mainstream. Cara pikirnya lain dari pada yang lain. Mereka selalu berfikir di luar kotak sehingga sulit ditebak. Tapi, ini tidak buruk juga. Ini mungkin hukuman yang setimpal untuk Sasori, yakni dijadikan senjata utama desa.

'Brengsek, benar brengsek.' Umpat Kisame dalam hati. 'Kenapa aku harus melawan mantan rekanku sendiri? Ini pasti kerjaannya Shisui,' tebak Kisame tepat sasaran. Sasori levelnya mungkin masih di bawahnya, tapi tidak mudah untuk menjatuhkannya. Sasori sangat ahli dalam kugutsu, dan kugutsunya ada sangat banyak yang bisa ia kendalikan semuanya sekaligus. Sungguh lawan yang merepotkan.

…*****….

Dari Konoha ke Suna butuh waktu sebulan untuk ukuran normal. Jika lari dengan kecepatan tinggi, waktunya bisa diperpendek jadi dua minggu saja. Akan tetapi, jika kau lari dengan kecepatan mengerikan dan hanya mengambil sedikit waktu untuk istirahat, kau hanya butuh waktu seminggu.

Tim Guy mengambil alternatif ketiga. Mereka mengikuti saran Shisui mengingat nada mendesak dari atasan mereka. Mereka bergerak sangat cepat melintasi perbatasan menuju Konoha menuju Suna tanpa istirahat. Mereka baru istirahat saat mereka mendekati padang pasir. Itu pun dilakukan karena terpaksa gara-gara adanya badai pasir yang muncul. Setelahnya, mereka kembali meneruskan perjalanan dengan kecepatan gila-gilaan. Dalam waktu seminggu, mereka sudah sampai Suna.

"Guru Guy berhenti," ujar Neji memberi aba-aba.

Srettt…! Kaki Guy menyeret tanah pasir di bawahnya sebelum benar-benar berhenti, diikuti Lee dan Tenten. "Ada apa?" tanya Guy.

"Ada yang tidak beres di depan. Aku melihat mayat bergelimpangan di pintu gerbang," kata Neji dengan byakugan yang sudah aktif.

"Apa? Bagaimana bisa?" tanya atau teriak Tenten terkejut. Kirain ini hanya kunjungan biasa, kunjungan antar desa aliansi. Ternyata, tidak. Firasat hokage mereka terbukti lebih jitu dari ramalan Mama Laurent atau Nostradamus. Suna memang sedang dalam bahaya. Menyesal dia karena menganggap hokage mereka ehem gila dan parno.

"Kita harus cepat sampai ke Suna, tapi berhati-hatilah. Jangan sampai lengah!" kata Guy memberi aba-aba.

Tim Guy memasuki desa sesuai formasi yang sudah mereka rancang sebelumnya. Guy di depan disusul Lee, Tenten, dan terakhir Neji. Pupil mereka membelalak terkejut menatap seisi desa yang kini tenggelam dalam kubangan air bercampur bau anyir darah. Beberapa mayat shinobi mengambang di atas permukaannya.

"Guru, lihat di sana!" kata Lee menunjuk beberapa orang di atas gedung kazekage.

Tim Guy serentak menatap arah yang ditunjuk Lee. Lagi-lagi, mata mereka membelalak. Di sana, mereka melihat gedung Kazekage hancur. Sisa-sisa pasir Gaara tampak jelas mendarat asal di pagar, dinding, dan atap. Mereka juga melihat bagaimana teriakan nyaring dan kesakitan keluar dari mulut Gaara saat bahunya digigit hiu. Di samping kanan kirinya, bergelimpangan banyak shinobi. Entah hidup entah pingsan.

Tak jauh dari Gaara, Kankurou tengah bertarung dengan makhluk berwajah seperti hiu dibantu Baki, gurunya. Sasori sendiri kini sudah tergeletak di tanah tak bergerak. Di jantungnya tertancap sebilah kunai. Ia sudah mati, kali ini untuk selamanya. Namun, Sasori mati dengan terhormat. Ia mati sebagai seorang shinobi yang melindungi desanya, dan bukan sebagai pengkhianat desa.

Guy melesat ke arah Gaara. Guy lalu menendang hiu itu hingga hancur menjadi serpihan dengan kakinya yang terbakar berwarna merah. Gaara mengerang sebelum ambruk ke lantai. Tenten dengan cekatan memeriksa keadaannya. "Kazekage-sama apa yang terjadi?" tanya Neji yang pertama kali buka suara.

"Kami diserang… arggg…" Jawabnya diantara erangan perih dari obat yang dioleskan Tenten pada bahunya. "…Kisame, member Akatsuki." Lanjutnya.

"Bukankah anda jinchuuriki, kenapa bisa kalah?" tanya Lee ingin tahu.

Mata Gaara menyorot marah, meski tidak lagi seseram waktu ujian Chuunin dulu, karena rasa sakit yang menggerogoti tubuhnya. "Elemennya air dan tidak ada ceritanya pasir bisa mengalahkan air. Kau lihat darah yang mengalir di bahuku ini, kan? Pasirku tidak berfungsi sama sekali. Arrgkkkh *^$%$!" teriak Gaara misuh-misuh saat Tenten dengan kasar membalut lukanya. "Apalagi ia punya pedang yang bisa menghisab cakra. Aku tak ada bedanya dengan warga sipil," curcol Gaara.

"Aku mengerti. Neji dan kau Lee, pastikan Kazekage-sama aman. Tenten kau urus shinobi-shinobi di sini. Selamatkan yang bisa diselamatkan. Aku akan membantu Kankurou dan Baki." Kata Guy memberi intruksi. Guy mengangkat tangan sebelah, memberi tanda diam, saat Lee berniat protes. "Sasaran orang itu pasti Kazekage-sama. Karena itu, kalian harus melindunginya dengan nyawa kalian," ucapnya untuk terakhir kalinya sebelum masuk ke medan pertempuran.

Guy menendang pedang Kisame yang tengah menyerap cakra Baki. Pedang terlepas jauh, tapi bergerak lagi dan kini sudah ada di tangan Kisame kembali. Baki ambruk ditahan Kankurou karena cakranya diserap Samehada separuh lebih. Ia bernafas terengah-engah.

"Hati-hati, ia didekat air. Air adalah keahliannya. Air elemennya," peringat Baki.

"Aku tahu," sahut Guy tenang.

Guy menyerang Kisame dengan taijutsu. Tangan dan kakinya bergerak lincah memasukkan tendangan dan pukulan yang ditangkis Kisame dengan pedangnya atau menghalaunya dengan bergerak ke kanan dan kiri. Tendangan Guy dengan tenaga yang besar berhasil mengenai tubuh Kisame. Kisame terlontar jauh ke belakang dan lalu menghilang ke dalam air.

Pedang Samehada bergerak dalam air dan kembali ke tangan Kisame. Guy mengeluarkan senjata andalannya yakni dua tongkat berukuran kurang lebih 30 cm yang dihubungkan oleh rantai besi. Ia mengayunkan tongkatnya ke kanan dan ke kiri lalu berputar-putar sebelum berlari menyongsong Kisame.

Guy mengarahkan pukulan dan tendangan ke tubuh Kisame yang lagi-lagi berhasil ditangkis dengan mudah. Tongkatnya ia ayunkan ke depan berputar-putar mengincar kepala Kisame. Kisame bergerak ke kanan, kiri, dan sesekali mengayunkan pedangnya untuk menghindari tongkat itu.

Guy melakukan roll depan untuk menghindari Samehada Kisame dan sekaligus masuk ke areal lawan. Kakinya ia ayunkan ke depan dan diterima Samehada. Dari balutan kain putih keluar duri nan tajam. Guy menghentikan kakinya sebelum tertusuk oleh duri itu dan lalu lompat ke belakang.

Kisame mengayunkan Samehadanya ke depan. Guy merundukkan tubuhnya ke bawah untuk menghindari serangan. Ia melompat dan merundukkan tubuhnya untuk menghindari ayunan pedang Samehada yang mengincar kepalanya. Tongkatnya berputar-putar mencari kesempatan untuk membalas. Lalu, muncul gelombang air menyapu Guy-sensei.

Guy menghilang di telan air lalu muncul ke permukaan dan menyerang Kisame. Tongkat dan Samehada mereka saling bertemu dan saling menekan. Akibat energi tekanan itulah, tubuh Kisame dan Guy sama-sama terdorong ke belakang. Keduanya saling menjauhi.

Kisame merapal jutsunya. "Suiton : Suikoudan no jutsu!" rapalnya. Muncullah gelombang air ke atas. Dari gelombang air itu, keluarlah hiu mengerikan menyerang Guy. Kedua alis Guy saling bertemu. Rahangnya mengertak kuat. Ia mengayunkan tongkatnya yang telah ia perkuat cakra untuk menghancurkan hiu Kisame.

Kisame meloncat ke arah Guy. Samehadanya ia ayunkan ke depan yang ditahan Guy dengan tongkatnya. Kisame memukul Guy tanpa ampun hingga tubuhnya jatuh ke dalam air nan dalam. Air masuk dari sela-sela mulut Guy yang terbuka. Tubuh Guy membentur permukaan tanah di bawahnya.

"First Gate : Initial Gate Release!" seru Guy dari dalam air membuka pintu gerbang cakranya. Itu adalah teknik khusus yang diciptakan almarhum ayahnya sebelum tewas yang lalu ia wariskan pada murid kesayangannya, Lee. Guy terus membuka pintu gerbang cakra hingga tingkat 6. Terjadi ledakan energi dari dalam air, membuat air bergolak hebat.

Air itu terbang ke atas bersama batu-batu kecil yang terangkat membentuk tiga pusaran air ke atas. Guy muncul ke permukaan. Kakinya yang diselimuti api merah menyerang Kisame disertai pukulan yang datang beruntun. Dari kejauhan, pertarungan mereka seperti bola-bola api kecil menyerang Kisame. Guy mendapat kesempatan bagus. Ia menyarangkan satu pukulan kuat yang mengenai pipi Kisame hingga Kisame jatuh ke dalam air dan membentuk bunga air nan besar. Guy masuk ke dalam air mengikuti Kisame.

"Sial, dia bahkan mengejarku hingga ke dalam air," gumamnya kesal. 'Baiklah, ini kesempatanku untuk menghabisimu,' pikir Kisame. Ia merapal jutsunya, begitu pula dengan Guy. Keduanya bersiap dengan jutsu andalan masing-masing dan siap bertarung mati-matian.

Guy meledakkan energinya sendiri membentuk monster harimau, sedangkan Kisame membentuk misil hiu raksasa. Harimau vs hiu. Pertarungan sengit mereka akhirnya memasuki tahap akhir.

Kisame tersenyum penuh kemenangan di tempatnya. Teknik ledakan misil hiunya bukan ledakan air biasa, melainkan teknik yang juga berfungsi untuk menyedot cakra target. Semakin kuat teknik musuh, semakin kuat pula tekniknya. Di atas kertas, jelas tekniknya lebih unggul dari teknik lawan.

Monster berbentuk harimau Guy menembus ledakan air hiu Kisame. Pupil Kisame membesar. "Apa?" gumamnya terkejut. 'Ini tidak mungkin,' pikirnya heran. Tekniknya menelan serangan Guy, tapi hiunya tidak bertambah besar sedikitpun. 'Cakranya tidak terserap? Apa mungkin ledakan energinya berasal dari sesuatu yang lain,' batin Kisame cemas. Belum pernah ia mengalami ini. Ini kali pertamanya.

"Raungan masa mudaku," teriak Guy tidak nyambung. Ledakan energi Guy sangat besar dan berhasil menghantam tubuh Kisame dan menghancurkan semua wujud hiunya. Ledakan energi itu menghilang. Tampak Guy berdiri di atas tubuh Kisame yang berbaring telentang tak berdaya. Air yang tadi menenggelamkan Suna pun menghilang.

"Jangan bergerak!" kata Guy masih dengan mata putihnya.

"Serangan itu bukan ledakan cakra kan? Dan, aura biru itu…" kata Kisame terbata-bata menahan sesak di dada.

"Teknik afternoon tiger adalah gerakan perang bukan teknik ninja. Pukulan yang sangat cepat yang memfokuskan tekanan udara yang sangat kuat ke satu titik, lalu meledakkan tekanannya dengan instan," jelas Guy. "Aura ini bukan cakra. Ini adalah aura saat aku membuka gerbang tujuh, mengucurkan keringat yang bersinar di setiap inci tubuhku yang akan segera menguap karena energi panas," tambahnya.

"Tak ku sangka. Aku kira ini bersinar karena ledakan cakra. Ini pertarungan ketiga kita, dan kau masih belum mengingat namaku. CIh, menyebalkan. Tak ku sangka aku kalah dari pria berwajah idiot sepertimu," maki atau puji Kisame tidak jelas.

Guy tak berkata apa-apa. Kisame mencoba menggerakkan tangannya. Guy menendang perut Kisame dan membuatnya muntah darah. "Aku bilang jangan bergerak!" hardik Guy kasar. Kisame memberontak hebat. "Kau ini tak tahu kapan waktunya menyerah, ya?" umpat Guy jengkel.

Kisame membelakanginya acuh. Ia merapal jutsu membentuk penjara air. "Tangkap dia hidup-hidup. Kita akan mendapat banyak informasi darinya," kata Baki yang sudah pulih staminanya. "Aku tahu," balas Guy. Guy masuk ke dalam penjara air. 'Dinding air ini memblok seranganku,' pikirnya.

Kisame dalam gumpalan air mensumon hiu. Kisame yang cakranya sudah menipis batuk darah. 'Sepertinya inilah akhir hidupku. Tidak terlalu mengesankan,' pikirnya teringat pada percakapannya dengan Itachi saat mereka bertarung sebagai dua orang musuh. Hiu yang disumon oleh Kisame lalu memakan tubuh Kisame. Gumpalan air itu lalu berubah menjadi darah dan hancur tak bersisa.

Semua orang terkejut. "Dia membuat summonnya sendiri memakannya? Dia terlalu lemah," gerutu Kankurou dengan tindakan bunuh diri Kisame.

"Tidak, sebaliknya dia mati dengan penuh kehormatan. Dia lebih memilih mati daripada membocorkan rahasia. Itulah inti hidup seorang shinobi selalu menjaga rahasia dengan nyawa sebagai taruhannya," kata Guy menjelaskan. "Hoshikage Kisame. Aku akan selalu mengingat namamu. Kau adalah lawan yang layak dan sepadan, sama seperti Kakashi, rivalku," pujinya.

"BTW, kenapa kalian bisa di sini?" tanya Kankurou dengan wajah heran pada tim Guy saat mereka istirahat di tempat yang masih utuh aka gedung Kazekage berkat pasir Gaara. Ia merasakan lelah yang amat sangat. Ia bertempur hampir seharian penuh dan nyaris tanpa jeda untuk melindungi desa dan Kazekage.

Guy tersenyum bodoh, memamerkan giginya yang putih cling pada shinobi-shinobi Suna. "Kami diperintah hokage-sama ke sini. Ia mengirimkan surat ini untuk Kazekage," kata Guy sambil mengulurkan gulungan surat pada Gaara.

Gaara membukanya dengan tenang. Ia jauh lebih tenang setelah darah tak lagi menetes dari tubuhnya. Fungsi pertahanan pasirnya sudah kembali setelah air Kisame menghilang. Sel-sel tubuhnya yang rusak sudah meregenerasi membuat lukanya menutup kembali. Dengan kata lain, Gaara sudah pulih seperti sedia kala.

"Aku mengerti dan terima kasih. Aku akan ikut kalian ke Konoha setelah perbaikan di desa selesai," kata Gaara mengambil keputusan dan mengulurkan gulungan itu ke Baki dan Kankurou untuk dibaca.

"Hm," gumam Neji tidak begitu senang. Ia tak begitu banyak berperan untuk misi kali ini.

Akhirnya, berakhir sudah episode invasi Suna oleh Kisame member Akatsuki. Sekarang saatnya mereka memulihkan keadaan. Pertama, mereka merawat korban luka, lalu menguburkan korban tewas. Awalnya ada perdebatan sengit untuk Sasori. Untuk semua kejahatannya, tetua berniat mencoret namanya sebagai pahlawan desa. Tapi, karena ia ikut membantu mempertahankan Suna, Sasori mendapat nama baiknya kembali. Namanya ikut tercatat dalam tugu para pahlawan Suna.

Selanjutnya, proses perbaikan desa Suna yang porak poranda karena invasi. Tim Guy membantu Suna mendirikan tenda darurat dan fasilitas-fasilitas umum yang mendesak seperti rumah sakit, sekolah, dan lain-lain. Setelah Suna pulih yang kira-kira makan waktu hingga sebulan lebih, tim Guy kembali ke Konoha disertai Gaara, Kazekage mereka.

…******…

Shisui menatap puas laporan hasil misi tim Guy. Ia tak salah mengirim tim Guy ke Suna untuk menyelamatkan Gaara. Guy memang sesuai dengan prediksinya, sangat tangguh hingga bisa mengalahkan member Akatsuki seorang diri saja. Ia mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja. Matanya melirik Naruto yang kini sudah tiba di Konoha. Lalu, beralih pada Gaara dan kakak-kakaknya.

"Dari tim inteligenku, aku mendapat info jika Akatsuki sudah mulai mengumpulkan bijuu," kata Shisui membuka suara.

"Eh," pekik Naruto terkejut. Ia menutup mulutnya. Safirnya tampak berkaca-kaca. "Ap-apakah Utakata termasuk di dalamnya?" tanya Naruto. Shisui terdiam. Wajahnya tetap datar tak bergeming. Tapi, Naruto tidak tertipu. Shisui tidak setenang biasanya. Oniksnya hari ini tampak lebih berkabut dan wajahnya sedikit lebih sendu. "Di-d-dia selamat, kan?" desak Naruto.

Shisui kembali diam. Ia melengos, enggan menatap Naruto. Sedikit banyak ia tahu mengenai persahabatan antara Naruto dengan jinchuuriki Rokubi. "Aku mengerti," kata Naruto lirih. Ia mengepalkan tangannya erat, menahan sesak dalam dadanya. Gaara dengan penuh simpatik menepuk-nepuk punggungnya halus, menghibur sahabatnya. "Gaara dan juga kakak-kakakmu bisa tinggal di apartemen Naruto sementara waktu. Untuk selanjutnya, aku akan mengadakan rapat dengan para petinggi klan dan tetua," kata Shisui tenang.

"Hai'k!"

Naruto pun keluar dari ruangan hokage diikuti Gaara dan kakak-kakaknya. Mereka berjalan ke apartemen Naruto dalam keheningan. Naruto berubah jadi lebih pendiam. Mungkin, ia terlalu sedih dengan kabar kematian Utakata. Ia menyesal kenapa tidak lebih keras lagi memaksa sahabatnya itu untuk segera kembali ke desa. Ia justru membiarkan sahabatnya keluyuran sendirian hingga Akatsuki dengan mudah menangkapnya.

"Kenapa kau diam saja? Ayolah bicara! Biasanya kau ini berisik," kata Kankurou.

"DIAM!" bentak Naruto dengan pikiran kalut.

Kankurou terdiam. Ia memang bukanlah seorang pencipta mood. Ia malah lebih sering menarik diri dari pergaulan. Tapi, ia juga tidak senang menghabiskan waktu dengan orang yang suasana hatinya sangat gloommy seperti Naruto. "Apa menurutmu ia masih ada harapan?" tanya Kankurou.

Naruto menatap Kankurou. Sungguh-sungguh menatap. "Apa?" tanya Kankurou risih. "Ku pikir untuk mengeluarkan bijuu dari jinchuurikinya bukanlah perkara mudah. Ada syarat-syaratnya kan? Dan, lagi dimana Akatsuki sialan itu menyimpan para bijuu itu?"

Naruto diam. Ia mencerna pertanyaan Kankurou. Kankurou benar. Mengeluarkan bijuu dari jinchuuriki mungkin bukan perkara sulit, mengingat para jinchuurikinya udah pada gedhe, malah ada yang sudah kakek-kakek. Tapi, meleburnya menjadi satu untuk proyek mata bulan, bukanlah perkara mudah. Naruto tak percaya jika bijuu-bijuu itu diekstrak dengan acak. Pasti berurutan dari yang ekor satu sampai ekor Sembilan. Untuk urusan membuat sayur saja urut, masak urusan genting seperti ini dilakukan acak?

Naruto untuk pertama kalinya tersenyum. Ada harapan tumbuh dalam hatinya, jika sahabatnya mungkin masih bisa diselamatkan, selama Gaara baik-baik saja. Ia berjanji akan menjaga Gaara, meski nyawa taruhannya. "Hey, kalian lapar kan? Ayo segera pulang. Aku akan memasak sayur kari dan gyudon untuk kalian,"

"Kau demam ya? Tadi sedih, sekarang kok malah mikir makanan," tegur Kankurou.

"Mau apa tidak? Kalau tidak ya sudah. Silahkan saja nikmati ramen dingin kalian," ejek Naruto sambil bergegas pulang.

Kankurou, Temari dan Gaara mengikuti Naruto di belakangnya. Diam-diam Kankurou tersenyum kecil. Hatinya lega. Naruto yang akan jadi induk semangnya sementara waktu sudah kembali ceria dan suasananya tidak lagi muram seperti tadi.

Malamnya, Shisui mengumpulkan para ketua klan, ketua anbu, dan tetua di aula. "Aku mendapat kabar jika Akatsuki sudah mulai menangkap para bijuu. Dengan tertangkapnya 7 bijuu, kini tinggal tersisa Ichibi dan Kyuubi. Aku mengumpulkan kalian ke sini untuk membahas bagaimana caranya melindungi Ichibi dari Akatsuki. Jangan sampai ia jatuh ke tangan Akatsuki," kata Shisui berwibawa.

"Kenapa kita harus membahayakan Konoha demi Ichibi yang bukan berasal dari desa kita?" tanya Koharu, salah satu tetua Konoha terdengar egois.

"Tidaklah penting Ichibi dari Konoha atau bukan, kita tetap harus melindunginya. Karena, jika Ichibi sampai tertangkap…" Shisui mengedarkan pandangannya ke seluruh shinobi pemimpin klan dan shinobi elit Konoha lainnya. "..sebaiknya kita ucapkan selamat tinggal pada dunia damai dan mengucapkan selamat datang pada dunia penuh kekacauan." Lanjutnya.

"Aku tak mengerti. Memang apa hubungannya?" tanya Hayate menyuarakan kebingungannya.

"Setelah mereka menangkap Ichibi, mereka akan melebur semua bijuu menjadi satu dan membentuk Juubi. Juubi inilah yang akan digunakan sebagai senjata untuk menghancurkan seluruh desa ninja yang tak mau tunduk pada mereka,"

"Tapi, Kyuubi sudah mati. Kita semua tahu itu. Tidak mungkin ini bisa terwujud," balas Fugaku.

"Mereka tak akan percaya,"

"Kenapa tidak?" kejar Fugaku.

"Karena memang Kyuubi tidak mati,"

Ruangan yang tadi tenang kini berdengung seperti lebah. Mereka saling berdebat dengan kawannya masing-masing. "Tapi…"

"Kyuubi masih hidup di dalam tubuh Yondaime. Mereka hanya perlu menghidupkan kembali Yondaime untuk menangkap Kyuubi. Dan, sialnya tubuh Yondaime sudah ada di tangan mereka saat terjadi invasi Oto-Suna beberapa tahun silam. Begitu pula Orochimaru, satu-satunya shinobi yang bisa jutsu edo tensei. Dengan kata lain, Kyuubi sudah ada di tangan mereka," kata Shisui sedikit berbohong. "Harapan kita tinggal pada Ichibi," tambah Shisui.

Ruangan itu kembali berdengung. Mereka saling berdiskusi sebelum mengambil keputusan. Meski kondisinya sangat buruk, masih ada harapan tumbuh dalam hati mereka. "Kita harus merancang tempat persembunyian jinchuriki Ichibi dan melindunginya habis-habisan. Aku akan meminta bantuan Suna dan Kiri, sekutu kita," kata Shisui.

"Apa itu cukup?" tanya Koharu berfikir politis. "Seharusnya kau membuat surat untuk kelima lima desa besar ninja yang berisi permintaan untuk melakuan pertemuan lima kage membahas situasi genting ini," usulnya cerdas.

Shisui mengangguk puas. "Kau benar. Aku akan mengirimkan surat pada mereka," katanya mengambil keputusan.

Rapat selesai. Semua shinobi bubar dan kembali ke rumah masing-masing. Ekspresi cemas menghiasi wajah-wajah mereka, namun mereka berusaha menyembunyikannya agar keluarganya tidak cemas.

To be Continue

Maaf jika penangkapan bijuu-bijuunya tidak dipaparkan secara jelas. Dan, maaf pula jika updatenya lama. Ai berkali-kali mengalami writer deadlock, tidak mood untuk ngelanjutin fic. Terakhir, mohon KRISANNYA…. Ai tunggu.