Courage
"Sudah ku bilang, aku tidak mau!" teriakan itu berasal dari sebuah tenda yang terletak dipinggiran hutan. Hermione mengatur nafasnya yang terputus-putus akibat berteriak tadi. Matanya memandang Haary dan Ron dengan tatapan yang tajam. Harry menggapalkan tangannya kuat-kuat. Sungguh ia heran dengn temannya yang satu ini.
Ron memijit pelipisnya dan menggeram frustasi. Kepalanya sakit mendengar perdebatan mereka yang tiada henti-hentinya. Sifat keras kepala Hermione muncul disaat yang tidak tepat.
Mereka sudah tidak punya banyak waktu lagi. Mereka cukup lama menunda hal ini. Tapi saat mereka sudah memutuskan, salah satu dari mereka malah tidak mau. Sungguh ini semua membuat kepala Ron ingin meledak.
"Lebih baik aku di detensi bersama Mr. Filch dan kucingnya Norris atau disuruh Professor Snape untuk membelah kodok ataupun ikut dengan Fred dan George mengerjai Rita Skeeter." Batin Ron.
Ia sudah membayangkan hal-hal itu dalam pikirannya. Hampir saja ia tertawa sendiri sampai ia mendengar Harry membuka suaranya. Ia pun kembali fokus dengan dua orang dihadapannya yang saling memberikan argumen mereka.
"Ini adalah saatnya, oh ayolah Hermione. Kita harus siap." Harry berusaha menenangkan teman mereka yang duduk dengan gelisah.
"Harry benar Hermione, bagaimanapun kita harus segera mengalahkan Voldemort." Kata Ron. Hermione pun mendesah letih dan mulai duduk dengan tenang di hadapan Harry dan Ron.
Ketiga sahabat ini duduk di dalam tenda yang tampak seperti rumah berukuran kecil. Tenda ini sebenarnya adalah tenda ajaib yang telah dimantrai terlebih dahulu oleh Hermione. Mereka sekarang bermalam dihutan yang cukup jauh dari permukiman penyihir dan muggle.
Tapi walaupun begitu, merka harus tetap waspada. Karena mereka sedang berada di lingkungan bebas. Apapun bisa terjadi disini. Tapi untunglah Hermione sudah membacakan beberapa mantra untuk melindungi mereka.
Jadi mereka tidak akan khawatir kalau ada yang menemukan mereka. Bahkan suara teriakan Hermione seperti tadi pun tidak akan ada yang mendengarnya. Tapi mereka tidak boleh lengah, karena kejadian beberapa hari yang lalu dimana mereka ditangkap dan dibawa ke Malfoy Manor hampir saja membunuh mereka bertiga.
"Tapi aku tidak yakin dengan hal ini Harry, Ron. Kalian tahu kan, kalau DIA itu sangat kuat." Kata Hermione menghempaskan kepalanya ke sandaran sofa dibelakangnya. Ron melakukan hal yang sama dengan Hermione. Harry terdiam sebentar dan mulai memejamkan matanya.
Hermione sudah mulai cemas saat mengetahui rencana Harry untuk menyerang kementrian. Suatu keuntungan karena mereka memiliki jubah gaib Harry, jadi mereka bisa melakukan tugas itu dengan cukup mudah. Pangeran Kegelapan sekarang sudah hampir berhasil menguasai kementrian sihir. Dan sebentar lagi pangeran kegelapan pasti akan bisa menguasai Inggris. Dan semua akan berada di bawah kendalinya.
Ketiga sahabat ini sudah sudah mengetahui rencana ini, dan mereka harus segera bertindak untuk mencegah hal ini terjadi. Selama ini mereka sudah berjuang dengan keras. Sejak meninggalnya Albus Dumbledore di tahun keenam mereka, mereka sekarang hidup dengan satu tujuan, yaitu membebaskan dunia dari Pangeran Kegelapan.
Dan sekarang adalah saatnya untuk menyerang Voldemort dan menyelamatkan dunia. Sudah cukup lama mereka menunggu saat hari ini. Hari dimana mereka akan mempertaruhkan apa yang mereka miliki termasuk nyawa mereka sendiri.
"Hermione, ini kesempatan kita. Kita harus memanfaatkannya sebaik mungkin. Inilah takdir kita. Dan kita harus menerimanya." Kata Harry dengan suara yang tenang sambil membuka matanya.
Ron di sebelah Harry mengangguk setuju. "Percayalah pada kemampuanmu sendiri Hermione. Kau tidak sendiri, ada aku, Harry, dan teman-teman kita yang akan maju bersamamu." Timpal Ron.
"Aku tahu! Tapi bagaimana kalau kita gagal membunuh Voldemort ? Kita belum mempersiapkan hal ini dengan maksimal. Kita masih jauh dari kata siap. Aku tidak mau terjadi sesuatu yang buruk." Kata Hermione frustasi.
Harry bangkit dari dudukya dan berpindah tempat di samping Hermione dan memegang tangan Hermione. Hermione menghela nafas menoleh ke arah Harry.
"Mungkin kau benar Hermione. Kita memang belum siap secara maksimal. Tapi aku tidak mau kita menundanya terlalu lama. Ingatlah, kita sudah merencanakan hal ini dalam waktu yang cukup lama. Dan sekaranglah saatnya untuk kita melawan mereka." Kata Harry tersenyum lembut kearah Hermione. Dia sudah berusaha untuk meyakinkan Hermione untuk terus tetap maju.
"Kita pasti bisa, jangan khawatir." Kata Harry mengeratkan genggaman tangan Hermione. Lalu Harry pun bangkit menyusul Ron yang telah lebih dulu membereskan barang-barangnya.
Hermione tahu semua yang dikatakan Harry adalah benar. Selama ini mereka telah melewati bahaya bersama-sama. Mereka telah berjuang untuk mencari Horcrux dan menghancurkannya. Sudah banyak yang mereka korbankan. Dan sekarang masih ada satu Horcrux lagi yang harus mereka hancurkan. Tapi ini adalah Horcrux yang sangat sulit untuk dihancurkan.
Sejak kebangkitan Voldemort beberapa tahun silam, ia telah memiliki pengikut yang cukup banyak dan memperluas kekuasaannya. Dan sekarang ini tinggal selangkah lagi untuk mencapai tujuannya untuk menguasai dunia. Dia masih tetap kuat walaupun sudah tidak bisa hidup abadi lagi dan fisiknya sudah rusak akibat pembuatan Horcrux. Dan apabila dia berhasil menguasai kementrian sepenuhnya, maka ia sudah tidak bisa lagi untuk dilawan.
Oleh karena itu, setelah mendengar kabar ini, Harry segera menyusun rencana untuk menyerang Voldemort. Ia sudah memutuskan untuk memenuhi ramalan itu. Ramalan yang menyatakan bahwa dirinya lah yang akan membunuh Pangeran Kegelapan suatu hari nanti. Dan inilah saatnya untuk membuktikan kebenaran tersebut.
Kilatan cahaya merah dan hijau saling membentur dan bunyi ledakan disana-sini. Voldemort berdiri tegak dan tertawa gila melihat mayat yang terbujur kaku di beberapa tempat tak jauh dari tempatnya berdiri.
Hermione melirik Harry dan Ron berdiri kaku disebelahnya. Mereka memang tidak berada diruangan itu. Tapi mereka bisa mengetahui apa yang terjadi di ruangan itu setelah melihat cahaya hijau yang melesat cepat di balik kaca jendela kantor kementrian tersebut.
"Harry, Ron, sudah saatnya kita menyerang." Ucap Hermione berusaha menyembunyikan getaran di suaranya dan menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Sekarang dia sudah agak tenang dari sebelumnya. Ron maju selangkah dan mengintip dibalik tembok tempat mereka bersembunyi sekarang.
"kita harus menghabisi dua orang yang berjaga di depan pintu itu. Dan sekitar 3 orang di lantai satu dan dua. Voldemort ada di kantor mentri bersama dengan Bellatrix Lestrange." Kata Ron pelan dan kembali menatap Harry dan Hermione .
Mereka terdiam sesaat, dan Harry pun mulai bicara dengan suara pelan. "Oke, aku dan Ron akan menghabisi dua orang di gerbang depan. Hermione, kau cobalah untuk masuk secara diam-diam." Hermione mengangguk mengerti
"Baiklah, sekarang saatnya." Harry dan Ron berlari dan melempar kutukan kearah kedua Pelahap Maut di depan pintu secara bersamaan. Kutukan tersebut tepat mengenai kearah kepala dan dada pelahap maut tersebut tanpa menimbulkan suara ledakan.
Mereka menyusul Hermione yang sudah sampai terlebih dahulu di depan pintu. Harry dan Hermione bersiap di kedua sisi pintu, sedangkan Ron berada di belakang Hermione dengan posisi yang siap untuk menyerang.
Hermione merasakan ketakutan yang luar biasa saat mereka sudah sampai di pintu Kementrian hingga nafasnya terasa sangat sesak. Dia berusaha untuk menenangkan jantungnya yang terus berdetak dengan cepat. Dia sudah kehilangan konsentrasinya, untuk sesaat ada pemikiran untuk kabur. Tapi Hermione cepat-cepat menggelengkan kepalanya dan mengeratkan genggaman pada tongkatnya.
Oh Tuhan, aku tak ingin melihat teman-temanku mendapat kutukan lagi. Lindungilah kami Tuhan, batin Hermione antara takut dan panik.
Ia pun menolehkan kepalanya ke arah Ron. Ron balas menatapnya dan mengangguk kecil. Hermione pun mengalihkan pandangannya ke arah Harry. Harry balas menatapnya dan tersenyum meyakinkan.
Harry pun menghancurkan pintu dengan mantra dan melempar kutukan ke salah satu pelahap maut yang posisinya tak jauh dari Harry. Mantra itu langsung menghantam tubuh pelahap maut tersebut. Pelahap maut itu langsung meninggal saat itu juga.
Hermione tahu dia sudah tewas. Mereka memang tidak bisa menghindari kematian. Hermione dan Ron menghabisi pelahap maut yang tersisa di ruangan itu dan mereka segera menuju ke kantor menteri.
Pintu kantor menteri itu terbuka dan seseorang berjalan dengan tenang seolah-olah tidak pernah terjadi pembunuhan di sekitarnya, Voldemort. Dibelakangnya Bellatrix Lestrange tersenyum licik, seperti predator yang telah siap untuk menerkam mangsanya.
"Ah, kau memang selalu melakukan hal bodoh yang sia-sia," kata Voldemort dingin dan tersenyum meremehkan.
"Kau dan teman-temanmu tidak akan pernah bisa mengalahkanku Potter." Harry masih terus menatap Voldemort yang kini berjalan kearahnya. Tongkatnya sudah terangkat dan siap untuk menangkis serangan yang akan diluncurkan oleh Voldemort.
Voldemort berhenti di hadapan Harry dengan jarak kurang dari 4 meter. Harry menatap Voldemort dengan tatapan datar, sedangkan Voldemort menatap Harry dengan pandangan kejam dan menyeringai menyeramkan.
Ron melihat Harry mengerutkan alisnya sedikit, pasti bekas lukanya sakit lagi, batin Ron. Tapi Harry hanya mengerutkan alisnya saja dan tidak ada respon lainnya seperti yang sudah-sudah selama ini.
"Aku melihat peningkatan dari kemampuanmu di banding saat terakhir kali kita bertemu. Kau bahkan sudah belajar bagaimana caranya menutup pikiranmu saat berhadapan denganku. Well, peningkatan yang luar biasa." Kata Voldemort dengan nada mengejek. Sedangkan Bellatrix tertawa gila melihatnya. Ron dan Hermione mengerutkan alisnya dan bergidik mendengar tawa Bellatrix yang cukup horror itu.
"Dengan pencapaian ini aku akan mengalahkanmu Riddle. Aku tak akan membiarkanmu menguasai dunia sihir!" Kata Harry tegas dan bersiap pada posisi menyerang.
Voldemort memandang harry dengan penuh kebencian dan mencabut tongkatnya. "Beraninya kau! Kau akan merasakan akibatnya Potter. Bersiaplah untuk menemui ajalmu."
"Kapanpun aku siap untuk melawanmu Tom Riddle." Tantang Harry.
Voldemort semakin berang mendengar jawaban Harry. "Bella, habisi pengikutnya! Jangan lakukan hal yang tidak aku suruh!" perintah Voldemort pada Bellatrix yang ada di belakangnya.
Ron dan Hermione langsung menghindar ketika Bellatrix dan beberapa pelahap maut lainnya mengejar mereka dan melemparkan kutukan pada mereka berdua. Ron bisa merasakan perisainya yang sudah semakin melemah akibat serangan Bellatrix. Bellatrix melemparkan kutukan berikutnya kearah Hermione. Hermione yang lengah pun terkena kutukan itu. Seketika perisai Hermione hancur dan Hermione mundur beberapa langkah ke belakang.
"Dasar Darah Lumpur kecil. Kau tidak akan bisa melawanku. Kau akan menjadi sasaranku berikutnya kecil." Kata Bellatrix tertawa menyeramkan.
Ron yang telah berhasil mengalahkan pelahap maut yang lainnya pun segera menghampiri Hermione. Tapi ada dua pelahap maut lain yang menghalanginya, sehingga dia harus menunda untuk melindungi Hermione dari serangan Bellatrix.
Hermione tahu dia harus berjuang sendiri seperti yang di lakukan Harry dan Ron. Ia tahu, sangat tahu, bahwa ia tidak boleh terus bergantung kepada kedua sahabtnya. Terkadang ada sesuatu yang memang harus di selesaikan dengan pertempuran, batin Hermione sedih mengingat kata-kata terakhir Neville sebelum pada akhirnya ia tidak bisa lagi berjuang bersama mereka.
Hermione berusaha untuk tidak menangis di tengah-tengah pertarungan. Ia tahu ini sangat berat untuknya. Tapi selama ia bisa berjuang, maka ia akan tetap terus berjuang.
"Avada Kedavra!" teriak Bellatrix.
Sebuah kilatan hijau segera meluncur kearah Hermione. Tapi Hermione segera menghindar sehingga kutukan tersebut meleset beberapa inci darinya.
"Sayang sekali Lestrange," jawab Hermione setengah mengejek. Ia berdoa semoga saja apa yang ia lakukan sekarang adalah hal yang benar.
Sekarang giliran Hermione yang melemparkan kutukannya kepada Bellatrix. Bellatrix segera mebentuk perisai. Karena sedikit terlambat, maka kutukan itu hanya menggores tangannya saja. Bellatrix semakin marah karena kutukan itu berhasil melukainya. Ia pun langsung meluncurkan kutukan lagi kearah Hermione.
Hermione segera membuat perisai untuk melindunginya. Tapi kutukan yang dilemparkan Bellatrix sangat kuat, sehingga perisainya retak. Ia tahu kalau perisainya pecah, maka kutukan tersebut akan menghantamnya dan membunuhnya. Bellatrix masih mengacungkan tongkatnya tinggi-tinggi ke arah Hermione sambil tertawa nyaring.
Hermione bangkit dan mulai memanggil semua sihirnya. Dia pun mulai merentangkan tangannya dan melemparkan kutukan balik kearah Bellatrix. Bellatrix yang kaget dengan penyerangan itu dan tetap mencoba mempertahankan kutukannya.
Tapi Hermione tidak berhenti untuk terus berusaha. Akhirnya perisainya hancur dan mengakibatkan ledakan yang cukup besar yang membuat kutukan mereka hilang seketika.
"Dasar Mudblood tak berguna!" ucap Bellatrix semakin marah dan mulai mengacungkan tongkatnya kearah Hermione. Ron yang sudah berhasil mengalahkan pelahap maut yang menghadangnya pun segera bergegas menuju ke arah Hermione dan Bellatrix. Bellatrix yang melihat hal itu mengarahkan tongkatnya ke arah Ron dan bersiap untuk melempar kutukan ke arahnya.
Hermione menatap Bellatrix yang menyeringai kejam ke arah Ron. Hermione bergidik ngeri saat memikirkan Ron yang akan terkena salah satu kutukan mematikan yang ditembakkan oleh Bellatrix.
"RON! AWAS!" Hermione menjerit memperingati saat Bellatrix mulai mengayunkan tongkatnya.
Seringai Bellatrix semakin lebar saat melihat hal itu. "Avada Kedavra!" kata Bellatrix sambil tertawa gila. Ron yang terbelalak kaget dan tidak sempat menghindar pun terkena kutukan itu tepat di dadanya.
"TIDAKK! RONNN!" jerit Hermione histeris Hermione hanya bisa menyaksikan adegan mengerikan dihadapannya. Adegan dimana salah satu sahabat terbaiknya terlempar cukup jauh dan keras ke belakang, hingga akhirnya terbujur kaku di hadapannya.
"RON! ROONNN!" Hermione mendengar Harry menjerit keras. Harry masih terus berusaha untuk melawan Voldemort dihadapannnya. Hermione sudah tidak sanggup lagi untuk berkata apa-apa.
Dia masih syok atas kepergian Ron yang secara tiba-tiba. Tapi tidak ada kata terlalu mendadak atau belum siap di dalam peperangan. Inilah resiko yang akan di ambil apabila berada didalam peperangan besar.
"Sekarang kau mnyesal karena sudah melawanku, Potter?" ujar Voldemort dengan nada mengejek.
"Dulu orang tuamu, bahkan Dumbledore. Sekarang sahabat-sahabatmu yang mati satu persatu hanya untuk membantumu. Apa sekarang kau senang? Kau selalu mengandalkan orang lain sebagai tamengmu itu. Akuilah bahwa kau itu sangat lemah sehingga selalu bersembunyi dibelakang temanmu."
Tongkat Voldemort terangkat tinggi kearah Harry. Harry tidak menghiraukan perkataan Voldemort yang terus menerus menghasut dirinya. Dia melirik kearah Hermione yang masih berjuang melawan bellatrix. Harry bisa melihat raut kelelahan dan kesakitan yang terpancar di mata Hermione.
Harry mengalihkan pandangannya kearah mayat Ron yang terletak tak jauh darinya dan Hermione. Harry pun bertekad untuk segera mengakhiri peperangan ini. Dia sudah kehilangan Ron, dia tidak ingin lagi kehilangan Hermione.
Harry menjadi lebih serius dan focus dari sebelumnya. Voldemort yang melihat keseriusan dimata Harry mendecih kesal. "Sepertinya kau memang ingin mati di tanganku, Potter. Aku akan dengan senang hati mengabulkannya." Kata Voldemort dingin.
"Aku tidak akan menyerah. Kaulah yang akan mati ditanganku Riddle." Jawab Harry tenang.
Voldemort tertawa kesetanan mendengar jawaban Harry. Harry memanfaatkan kelemahan Voldemort saat ini dan mengayunkan tongkatnya kearah Voldemort. "Avada Kedavra." Ucap Harry dingin.
Seketika itulah kilatan cahaya hijau meluncur dengan cepat kearah Voldemort. Voldemort yang kaget dan tidak siap di tambah dengan kondisi fisiknya yang kurang kuat pun tidak bisa menghindari kutukan itu. Mau membuat perisai pun percuma, karena waktunya pasti tidak akan cukup.
Kutukan tak termaafkan itu pun menghantam tubuh Voldemort dengan keras sehingga membuat tubuh Voldemort telempar kebelakang dan menabrak tembok kementrian.
"TIDAKK! MY LORD!" Teriak Bellatrix menyaksikan Voldemort yang berhasil dikalahkan oleh Harry. Hermione tesenyum melihat keberhasilan Harry mengalahkan Voldemort. Air matanya jatuh tanpa ia sadari, ia tidak menyangka perjuangan mereka selama ini tidak sia-sia.
Kita berhasil Ron, kita berhasil teman-teman. Semua perjuangan kalian tidak sia-sia. Pada akhirnya kebebasan itu datang. Walaupun kita sudah tidak bisa bersama lagi, tapi kalian kan selalu kukenang seumur hidupku. Batin Hermione sambil sesegukkan kecil. Ia melihat kearah Bellatrix yang wajahnya merah penuh amarah.
Bellatrix mengangkat tongkatnya dan mengarahkan tongkat tersebut kearah Harry. Hermione yang melihat hal itu langsung meluncurkan peisai pelindung kearah Harry. Harry mengucapkan terima kasih kepada Hermione dan berjalan kearah mayat Voldemort.
Harry mengambil tongkat elder yang ada di sebelah Voldemort. Setelah itu ia menatap kearah Bellatrix yang terlempar akibat terkena kutukan Hermione.
Tanpa memberi waktu untuk Bellatrix bangkit, Hermione segera melemparkan kutukan lagi kearah Bellatrix. Bellatrix berteriak nyaring selama beberapa saat, kemudian jatuh terbujur kaku di pojok ruangan.
Hemione menghela napas letih dan berjalan kearah Harry. Hermione segera memeluk Harry dan air matanya kembali jatuh membasahi pipinya. Harry membalas pelukan Hermione dan berusaha untuk menenangkan Hermione.
"Sudah Hermione, semuanya sudah berakhir. Akhirnya kita menang, walaupun sekarang Ron sudah tidak bersama kita lagi. Tapi aku yakin Ron pasti sedang tersenyum melihat keberhasilan kita." Kata Harry sembari mengelus rambut Hermione.
Hermione mengangguk dalam dekapan Harry. Hermione pun melepaskan pelukannya dan mundur selangkah dari Harry. Harry pun menatap kearah tongkat elder yang ada pada genggamannya. Lalu ia melihat kearah Hermione yang mengangguk kearahnya.
Harry pun kembali menatap kearah tongkat elder itu. Lalu dia memegang kedua sisi tongkat dan mematahkannya menjadi dua bagian. Setelah itu muncullah cahaya berwarna biru muda yang mengelilingi mereka berdua. Lalu tiba-tiba mereka terhisap kearah lubang yang diciptakan oleh cahaya tersebut.
Harry dan Hermione pun merasakan tubuh mereka berputar-putar dengan sangat cepat dan akhirnya jatuh di atas rerumputan. Harry dan Hermione tidak bisa menganalisis keberadaan mereka karena kepala mereka yang sakit akibat berbenturan dengan tanah.
Pandangan mereka mulai kabur tapi mereka masih sadar. Tubuh mereka yang penuh luka terasa dingin akibat terkena hembusan angin. Tidak lama setelah itu perlahan mata mereka mulai menutup. Tapi sebelum mata meeka tertutup dengan sempurna, mereka mendengar suara beberapa orang yang menghampiri mereka.
Tapi mereka sudah tidak punya tenaga hanya untuk melihat orang tersebut. Akhirnya mata mereka tertutup dan hanya ada kegelapan yang menemani mereka.
"Uhh kepalaku sakit sekali."
Hermione mencoba bangkit dari tempat tidur. Dia menyandarkan punggungnya di kasur sambil memegang kepalanya yang masih terasa sakit. Hermione melihat kearah sekelilingnya. Hermione mengerutkan alisnya.
Dimana ini? Kenapa aku bisa berada disini? Terakhir yang aku ingat, setelah Harry mematahkan tongkat elder, kami jatuh di atas rumput. Kenapa sekarang aku berada di kamar asing ini?. Hermione membatin bingung.
Tunggu dulu, dimana Harry?. Kepanikan mulai menyerang Hermione.
Tak lama kemudian, pintu kamar tersebut terbuka dan muncullah dua orang gadis dengan pakaian seperti putri kerajaan. Kedua gadis tersebut tersenyum melihat Hermione yang sudah sadar. Segeralah mereka menghampiri Hermione dan memberikan minuman yang mereka bawa kepada Hermione.
Hermione menerima minuman itu dan meminumnya dengan pelan. Merasakan aliran air segar yang mengalir pelan di tenggorokannya yang terasa kering. Setelah mengucapkan terima kasih, suasana kembali hening dikamar itu.
Hermione mengamati kedua orang didepannya ini. Gadis yang duduk di samping tempat tidurnya ini sepertinya seumuran dengannya. Sedangkan gadis yang terdiri di sebelah gadis tadi sepertinya baru berumur sekitar 12 tahun.
"Namaku Susan Pevensie, dan yang disebelahku ini Lucy Pevensie adikku. Kalau boleh tahu siapa namamu?" kata Susan.
Hermione terdiam beberapa saat dan mulai membuka mulutnya. "Namaku Hermione Granger. Terima kasih sudah memantuku dan senang bertemu dengan kalian." Kata Hermione sambil tersenyum kecil.
"Bagaimana keadaanmu sekarang? Sudah merasa lebih baik?" kata Susan. Hermione mengangguk kecil. Susan dan Lucy tersenyum melihat hal itu.
Hermione pun teringat dengan suatu hal dan menanyakannya pada Susan. "Ini dimana? Kenapa aku bisa ada disini? Dan dimana Harry?" kata Hermione bertubi-tubi.
"Kau tenang saja, kau sedang berada di Narnia sekarang. Kami menemukanmu di hutan 2 hari yang lalu dalam keadaan pingsan bersama temanmu." Kata Lucy sambil merapikan rambutnya yang terkena hembusan angin.
"Kalau Harry yang kau maksud adalah temanmu yang datang bersamamu itu maka kau tidak perlu khawatir. Dia tidak apa-apa, sekarang dia bersama dengan saudara kami. Dia juga baru sadar 3 jam yang lalu." Jawab Susan.
Hermione menghembuskan napas lega mendengar kalau Harry baik-baik saja. Susan dan Lucy membantu Hermione untuk bangkit dan membantu Hermione membersihkan tubuhnya serta menggantikan bajunya. Mereka segera turun ke ruang makan di rumah yang seperti istana itu.
Setelah mereka sampai, ternyata sudah ada 3 orang pemuda di situ dan salah satunya ada Harry. Harry yang melihat Hermione pun langsung bangkit dari kursinya dan menghampiri Hermione. Hermione segera memeluk Harry dan terus mengucapkan kata syukur sembari mengeratkan pelukannya. Harry membalas pelukan Hermione dan mengelus surai coklat rambut Hermione.
Mereka pun melepaskan pelukan itu dan mulai duduk di salah satu kursi. Hermione mengamati empat orang diruangan itu. Dua di antaranya adalah gadis yang tadi membantunya. Sedangkan dua orang lainnya adalah laki-laki yang diyakini Hermione sebagai saudara gadis tersebut. Susan menuangkan teh kedalam cangkir sedangkan Lucy menaruh piring yang berisi kue dan buah-buahan di atas meja.
"Sekali lagi terima kasih karena kalian telah banyak membantu kami. Kami sangat terbantu, kami sama sekali tidak mengenal dunia ini. Oh, ini sahabat terbaikku, namanya Hermione Granger. Hermione, ini Peter dan Edmund Pevensie, mereka saudara kandung Susan dan Lucy." Kata Harry tersenyum kecil. Hermione membalas jabatan tangan Peter dan Edmund dan kembali duduk disebelah Harry.
"Kau tahu, aku masih tidak percaya kalau kalian ini adalah seorang penyihir dari dimensi lain. Di Narnia jarang ada penyihir. Dulu ada seorang penyihir di negeri ini, tapi dia penyihir yang jahat yang bermaksud untuk menguasai Narnia. Ini sedikit membingungkan, tapi aku percaya pada kalian." Kata Peter panjang lebar sembari meminum sedikit teh di cangkirnya.
"Bagaimana kalian bisa tahu kalau kami tidak akan berbuat jahat pada kalian?" Tanya Hermione penasaran.
"Karena setelah melihat kalian, kami seperti melihat kami dimasa lalu. Reaksi kalian sama dengan kami sewaktu pertama kali datang ke Narnia." Jawab Edmund melirik kearah Lucy.
Lucy tertawa kecil mengingat kenangan itu. Bagaimana pertama kali mereka menemukan dunia dibalik lemari pakaian, dan pertengkaran mereka Karena tidak mempercayainya. Sungguh itu merupakan kenangan yang tak akan terlupakan.
"Bagaimana kalian bisa datang ke Narnia?" Tanya Lucy terselip nada penasaran di suaranya.
Harry dan Hermione terdiam sesaat. Mereka juga tidak tahu bagaimana caranya mereka bisa sampai di negeri asing ini.
"Sebenarnya kami juga tidak tahu bagaimana kami bisa sampai ditempat ini. Pada saat itu, kami sedang berada dimedan pertempuran. Saat aku mematahkan tongkat musuh kami, tiba-tiba ada cahaya yang membentuk sebuah lubang. Kami terdorong masuk hingga kelubang itu dan disinilah kami berada." Harry mengakhiri ceritanya.
Hermione menundukkan kepalanya dan memori tentang kematian Ron dan teman-temannya kembali berputar-putar dikepalanya. Air matanya mengalir tanpa bisa dicegah. Harry yang melihat hal itu langsung menggenggam tangan Hermione mencoba menenangkannya. Hermione menghapus air matanya dan tersenyum kecil kepda Harry. Susan dan Peter saling berpandangan sebentar lalu bangkit menuju Harry dan Hermione.
"Tidak apa-apa, kalian boleh tinggal disini. Oh tidak perlu sungkan, kami adalah Raja dan Ratu di Narnia, jadi kalau ada apa-apa bilang saja pada kami." Kata Peter memegang bahu Harry dan Hermione.
Harry dan Hermione tertegun sebentar, kemudian mengucapkan terima kasih sambil menjabat tangan Peter dan yang lainnya. Mereka pun makan siang dan istirahat karena Harry dan Hermione baru saja sadar dari pingsannya.
