Chapter 2 : Narnia

Courage

Disclaimer : J.K Rowling & C.S. Lewis

PeterxHermione

Rating : T

Summary :

Voldemort akhirnya berhasil dikalahkan oleh Harry, Ron, dan Hermione. Tapi semua itu harus dibayar dengan kematian Ron. Harry pun mematahkan tongkat elder, tapi terjadi hal aneh yang menyebabkan Harry dan Hermione terperangkap didunia asing yang tidak mereka ketahui. Disinilah petualangan mereka dimulai.

.

.

Ketiga saudara Pevensie tersebut duduk di taman Cair Paravel. Mereka duduk sambil mengamati dan Lucy yang sedang merangkai mahkota bunga.

"Jadi Peter, apa menurutmu ini hanya kebetulan saja? Maksudku, tidak semua orang bisa datang ke Narnia. Bahkan tidak ada yang tahu dimana kan?" kata Susan sambil memakan kue di hadapannya.

Edmund menghentikan kegiatannya mengelap pedangnya dan memandang Peter. Sejujurnya ia setuju dengan pendapat Susan, tapi ia enggan mengungkapkannya.

Peter mengadahkan kepalanya menatap langit, kemudian matanya melihat kearah Susan dan Edmund. Ia berdehem sebentar dan mulai meminum sedikit tehnya.

"Aku tahu itu. Tapi dilihat dari kondisi mereka, sepertinya mereka tidak berbohong soal itu. Menurutku ini bukan kebetulan semata. Mereka hampir mirip dengan kita, secara tiba-tiba menemukan dunia dibalik lemari pakaian, yeah walaupun agak aneh awalnya. Dan soal identitas mereka—" ucapan Peter terhenti.

Edmund menaikkan sebelah alisnya melihat tingkah Peter. Susan menundukkan kepalanya menatap cangkir teh yang digenggamnya.

"Menurutku mereka benar-benar penyihir. Dan kata Harry mereka baru saja dari medan pertempuran sebelum sampai ditempat ini kan? Berarti pertempuran mereka lebih mengerikan dibandingkan pertempuran kita melawan Jadis." Kata Edmund sambil memasukkan pedangnya kedalam sarungnya.

Susan mengangguk setuju atas perkataan Edmund. Peter memejamkan matanya. Ia memikirkan perkataan Edmund.

Mungkin Ed benar, mereka benar-benar datang dari dimensi lain. Semoga saja langkah yang ku ambil ini benar. Peter masih terus memejamkan matanya menikmati hembusan lembut angin yang menerbangkan rambut coklatnya.

.

.

Hermione menikmati pemandangan dihadapannya. Ia tersenyum kecil melihat lumba-lumba yang berenang dengan riang di laut. Hermione merasa beruntung karena bisa sampai ditempat ini. Tepat didepan kastil Cair Pavarel terdapat taman bunga dan laut yang indah karena lokasi istana ini berada di atas bukit.

Tanpa Hermione sadari, Peter berjalan mendekat kearahnya. Peter berdiri disamping Hermione. Peter mengalihkan pandangannya dari laut menuju Hermione.

"Bagaimana kabarmu hari ini?" Tanya Peter.

Hermione melirik sedikit kearah Peter dan tersenyum. "Sudah lebih baik dari kemarin. Aku suka tempat ini. Tempat ini membuatku merasa tenang dan damai." Kata Hermione seraya memejamkan matanya.

Peter tersenyum mendengar jawaban Hermione. "Baguslah kalau begitu. Aku senang mendengarnya. Sudah kukira kau akan menyukai tempat ini. Pertama kali aku melihat pemandangan ini, aku tidak pernah beranjak kemanapun sampai aku puas. Bahkan saat itu Lucy menyerah untuk membujukku pergi." Peter terkekeh kecil mengingat kebiasaannya dulu.

Hermione tertawa mendengar cerita Peter. Ia bisa membayangkan raut wajah kesal Lucy yang permintaannya tidak di dengarkan saudaranya.

Ia kembali teringat dengan teman-temannya di Hogwarts. Apakah ada yang mencarinya dan Harry? Tapi itu mustahil mengingat peperangan mereka yang telah memisahkan mereka dengan teman-teman mereka.

Peter melihat raut kesedihan yang terpancar di muka Hermione. Tiba-tiba Hermione merasakan tangannya digenggam seseorang. Hermione melihat kearah Peter. Peter membalas tatapan Hermione sembari mengelus punggung tangan Hermione menggunakan jempolnya.

"Semuanya akan baik-baik saja. Jangan terlalu memikirkan hal yang telah berlalu. Apa yang telah berlalu biarlah berlalu. Yang terpenting untuk saat ini adalah bagaimana menghadapi masa depan nantinya. Jadi tersenyumlah Hermione. Menurutku kau jauh lebih manis kalau sedang tersenyum." Kata Peter.

Hermione terdiam mendengar perkataan Peter. Peter benar, ia tak boleh bersedih terus. Ia tak boleh menangisi kepergian teman-temannya. Karena selama Hermione masih mengingat mereka, maka mereka akan terus hidup dihati kecil Hermione.

Hermione mendongak melihat Peter dan senyum tulus pada Peter dan mulai tertawa. Peter yang melihat hal itupun ikut tertawa. Mereka berdua tertawa bersama. Lucy yang melihat hal itu tersenyum menggoda.

Aku baru pertama kali ini melihat Peter tertawa sambil menggenggam tangan seorang gadis, ya kecuali aku dan Susan tentunya. Aku harus mencari Susan dan membei tahukan hal ini padanya. Lucy berlari kecil keluar Cair Pavarel untuk mencari Susan. Well, seperinya kau harus berterima kasih padaku setelah ini Peter.

Senyuman Lucy semakin lebar saat ia berhasil menemukan Susan.

Susan yang melihat kedatangan Lucy hanya menaikkan sebelah alisnya bingung. Kenapa adiknya ini berlari kearahnya sambil tersenyum lebar? Dia tidak menemukan hal-hal yang aneh lagi kan?

Lucy sampai didepan Susan dan duduk di hadapannya. Lucy mengatur nafasnya yang terengah-engah akibat berlari mencari Susan. Setelah nafasnya normal ia pun terkekeh kecil yang membuat Susan semakin bingung dengan keadaan adiknya ini.

"Kau kenapa Lu? Kepalamu tidak terbentur sesuatu kan?" Tanya Susan heran. Lucy pun berhenti tertawa dan mulai menceritakan hal yang dilihatnya barusan.

"Kau tidak akan percaya dengan apa yang kulihat tadi Susan." Kata Lucy. Susan semakin penasaran dengan hal yang ingin disampaikan Lucy. "Memangnya ada apa Lu?"

"Tadi aku melihat Peter tertawa sambil menggenggam tangan Hermione di kastil. " Lucy menatap Susan dengan mata berbinar-binar. Susan terdiam sesaat, beberapa detik kemudian dia baru melebarkan matanya setelah mencerna apa yang dikatakan Lucy.

"Hah? Kau serius Lucy?" kata Susan yang masih kaget dengan apa yang baru saja didengarnya. Senyuman Lucy semakin lebar saat melihat reaksi Susan. "Tentu saja. Oh aku tidak pernah berpikir untuk membohongi saudaraku sendiri."

Kemudian gelak tawa mereka pecah membuat suasana ceria di taman itu. Tidak lama setelah itu mereka berdua pun berhenti tertawa. Susan mengedipkan sebelah matanya kepada Lucy yang dibalas cengiran lebar dari Lucy.

Susan bangkit dan mulai berjalan masuk ke dalam kastil. Seringai jahil nampak diwajahnya. "Ed harus tahu dengan berita langka ini."

.

.

"Kau sedang apa, Harry?"

Hermione berjalan mendekat kearah Harry yang duduk di salah satu batu besar yang ada di tepi pantai. Harry yang melihat kedatangan Hermione pun menggeser duduknya, memberi ruang supaya gadis itu duduk disebelahnya. Hermione duduk disebelah Harry dan melirik Harry yang masih terdiam ditempatnya.

"Aku hanya berpikir sampai kapan kita akan terperangkap didunia ini." Kata Harry tenang. Hermione setuju dengan perkataan Harry, tapi lebih baik dia menikmati waktunya selama dia masih disini .

"Kau benar Harry, kita harus mencari cara agak kita bisa kembali ke Hogwarts. Tapi kuakui aku cukup menyukai tempat ini. Setidaknya disini kita bisa menghilangkan kesedihan kita sejenak." Balas Hermione sambil menggoyangkan kakinya.

"Oh aku baru ingat, kita bisa tiba disini karena kau mematahkan tongkat elder kan. Lalu saat kita bangun, patahan tongkat elder itu hanya sebagian yang ada pada kita. Menurutmu, sebagiannya lagi ada dimana?" kata Hermione sambil memegangi dagunya seraya berpikir.

Harry menggeleng kecil menandakan ia tidak mengetahui hal itu. Memang pada saat mereka sadar, patahan tongkat elder yang dipatahkan olehnya hanya ada sebagian, sedangkan sebagiannya lagi tidak ada.

Mereka sudah mencari sebagian tongkat itu, tapi mereka tetap tidak bisa menemukannya dimana pun. Hermione benar, mereka harus tinggal lebih lama disini untuk menemukan patahan tongkat itu dan kembali ke Hogwarts.

Cukup lama mereka berdua berdiam diri di tepi pantai itu. Tak lama kemudian Lucy datang dan mengajak mereka kembali ke kastil untuk makan malam. Mereka pun bangkit dan mulai melangkah mengikuti Lucy menuju kastil.

Saat sampai di kastil, mereka pun langsung duduk dimeja makan dan mulai makan dengan tenang. Setelah itu mereka duduk di salah satu ruangan di kastil tersebut sambil mengobrol.

Edmund bersama dengan Lucy memakan kue yang tersaji di meja depan mereka. Susan sedang menyusun anak panahnya di bantu oleh Reepicheep. Hermione sedang membaca buku tentang sejarah Narnia. Sedangkan Peter yang duduk disebelah Hermione sedang bermain catur bersama Harry.

"Boleh aku tanya sesuatu?" kata Hermione mengalihkan pandangannya dari buku yang ia baca. Susan menatap Hermione kemudian mengangguk kecil. Hermione tersenyum melihat anggukan Susan.

"Jadi bagaimana kalian bisa menjadi raja dan ratu di Narnia? Dan siapa itu Aslan?" Harry melihat Hermione dengan pandangan geli. Dimana pun Hermione berada, pasti ia akan sedikit cerewet apabila ada hal yang membuatnya penasaran.

Ya karena sudah kebiasaan, mau bagaimana lagi?, Harry menggeleng-geleng kan kepalanya dan kembali fokus ke caturnya.

"Kami sebenarnya bukan berasal dari Narnia. Kami sama seperti kalian, kami datang dari tempat lain. Tapi saat Lucy menemukan negeri dibalik lemari pakaian, semuanya berubah. Awalnya kami tidak ada yang percaya dengan perkataan Lucy. Bukankah itu terdengar aneh? Mana ada negeri dibalik lemari."

Susan tertawa diselah-selah ceritanya dan melanjutkannya lagi. "Kami baru percaya saat kami sendiri secara tidak sengaja masuk kedalam lemari itu dan menemukan dunia ini. Dan dimulailah perjalanan kami yang panjang hingga kami bisa menjadi raja dan ratu disini."

"Aslan adalah pemimpin negeri ini. Kami sangat menghormatinya karena selain derajatnya lebih tinggi, Aslan juga lah yang membantu kami dalam kesusahan, terutama saat adanya perang besar." Peter melanjutkan cerita Susan.

Hermione menyimak dengan sungguh-sungguh. Matanya memancarkan kilatan cahaya ketertarikan yang mendalam pada kisah ini. Dia semakin antusias saat sesi cerita tersebut semakin lama semakin seru. Akhirnya malam itu dihabiskan mereka untuk saling bercerita tentang negeri asal mereka dan penyebab mereka tiba di Narnia.

.

.

Mrs. Beaver membantu Hermione mengatur rambutnya. Rambut Hemione digulung ke atas dan menyisikan sedikit rambut ikal tersebut di sebelah kanan dan kiri sehingga rambut tersebut seperti membingkai wajahnya.

Di tambah dengan jepit rambut berbentuk bunga sakura yang semakin menambah nilai plus dari penampilannya hari ini. Hermione menggunakan gaun warna biru laut yang dipadu dengan warna putih.

Setelah selesai, Hermione keluar dari kamarnya diikuti Mrs. Beaver dibelakangnya. Hari ini mereka akan ikut dengan Pevensie bersaudara ke hutan. Sesudah itu mereka akan mengunjungi Raja Caspian X di kerajaan Telmarine.

Mereka sudah bersiap-siap didepan dan sudah ada Mr. Tumnus yang sedang mengelus kuda-kuda tersebut. "Apa kalian bisa menunggangi kuda?" kata Peter.

Harry dan Hermione saling berpandangan sejenak. Hermione menggelengkan kepalanya. Ia memang tidak bisa menunggangi kuda karena dia tidak belum pernah mencobanya.

"Ya setidaknya dulu aku pernah menungganginya, walau hanya sekali." Kata Harry nyengir. Lucy dan Edmund tertawa mendengar jawaban Harry.

"Baiklah kalau begitu, Harry dan Edmund kalian bisa menaiki kuda kalian masing-masing. Lucy, kau seperti biasa bersama Susan. Sedangkan Hermione akan bersamaku." Kata Peter memutuskan.

Harry dan Edmund bersiul-siul menggoda. Sedangkan Susan dan Lucy menyeringai geli melihat muka Hermione yang merah padam. Peter berdehem kecil dan menyuruh Hermione menaiki kudanya. Hermione pun menurut dan mulai menaiki kuda Peter.

Setelah memastikan Hermione duduk dengan nyaman di atas kuda. Peter mulai menaiki kudanya dan duduk di belakang Hermione. Hermione tersentak dan memutar kepalanya kebelakang menghadap Peter.

Peter menatapnya bingung. "Apa?"

"Kenapa kau dibelakangku? Kalau kau di depanku, kau bisa menunggangi kuda ini dengan baik."

Seringai kecil nampak di wajah Peter. "Posisi seperti ini lebih bagus menurutku. Karena selain aku bisa mengendalikan kuda ini, aku juga bisa memastikan keadaanmu Mione."

Muka Hermione semakin merah. Peter meletakkan tangannya di perut Hermione dan menarik gadis itu sehingga punggung Hermione bersandar didada Peter. Sebelah tangan Peter menggenggam tangan Hermione yang memegang tali kemudi kuda tersebut.

Peter menundukkan kepalanya hingga mencapai telinga Hermione. "Tenang saja, kau akan aman bersamaku Mione." Kata Peter. Hermione mengangguk kecil, wajahnya masih merah padam. Kuda tersebut mulai berlari menyusul Harry dan yang lainnya yang sudah lebih dulu.

"Hei Peter! Bisa cepat sedikit? Atau kau akan kami tinggal dibelakang! Jangan sibuk bermesraan terus dong." Kata Edmund berteriak dari arah depan. Yang lainnya hanya tertawa mendengar perkataan Edmund.

Harry pun ikut menertawai muka Hermione yang memerah karena malu dan kesal. "Hei dari pada mengurusiku, lebih baik kau fokus saja dengan kudamu, Ed. Aku hanya memastikan tuan putriku baik-baik saja. Benarkan Mione?" kata Peter sambil meremas tangan Hermione digenggamannya.

Hermione hanya diam, ia tak tahu harus membalas apa. Ini baru pertama kali ia diperlkukan seperti ini oleh laki-laki. Selama 6 tahun hidup di Hogwarts, ia hanya sering diejek dari orang sekitarnya hanya karena dia keturunan Muggle.

Orang keturunan Mudblood sepertinya dianggap tidak pantas untuk menjadi penyihir. Apalagi anak-anak Slytherin yang menjadi orang tetap dalam kategori musuh besarnya di Hogwarts. Kecuali mereka yang masih bisa menghargai Hermione disana.

Perasaan asing ini membuatnya nyaman. Ia tak tahu apa arti dari perasaan ini. Tapi, jujur ia tidak rela bila rasa ini hilang dari hidupnya. Disini ia merasa disayangi, dihormati, diperlakukan lebih layak.

Walaupun masih ada orang yang menghargainya dalam kehidupan nyatanya, tapi hidup di Narnia membuatnya bisa melupakan masa lalunya yang kelam. Terutama tentang pertempuran besar melawan Voldemort dan Orang tuanya yang ia hapus ingatannya.

Hermione tersentak ketika jempol Peter mengelus lembut punggung tangannya. Hermione tersenyum kecil dan membalas genggaman tangan Peter. Ia juga mulai menyamankan posisi duduknya dan menyandarkan tubuh kecilnya di pelukan Peter.

Bunyi sepatu kuda dan lengkingan kuda saling bersahutan seiring perjalanan mereka yang menuju Hutan dan Kerajaan Telmarine.

Diam-diam Hermione berpikir. Seandainya Pevensie bersaudara adalah penyihir dan mereka bersekolah di Hogwarts, pasti mereka akan menjadi sahabat baik. Tapi sayangnya dunia mereka berbeda, Hermione sangat bersyukur ia dan Harry bisa sampai ke dunia ini.

Dunia dimana mereka bebas untuk melakukan apapun tanpa ada kata 'MudBlood' lagi dalam hidupnya. Suasana damai yang selama ini selalu diinginkannya. Rasanya ia tak mau kembali lagi ke Hogwarts.

Lamunan Hermione buyar saat mereka sampai di hutan dan kuda mereka berhenti didepan tiang yang lebih mirip lentera. Tapi didalam lentera itu bukan bola lampu, melainkan sebuah api kecil yang tidak pernah padam walupun dicuaca sedingin apapun.

Peter membantu Hermione turun dari kuda dan mengiring Hermione kedepan Lentera tersebut yang diikuti semua saudaranya dan Harry.

"Apa ini?" Tanya Harry sambil memperaiki posisi kacamata yang sedikit merosot.

Lucy mengelus tiang lentera itu dan senyum kecil terpatri diwajahnya.

"Ini adalah hal pertama yang kami temukan saat kami semua sampai pertama kali di Narnia. Kami datang dari semak-semak disebelah sana. Itulah asal lemari pakaian yang kami ceritakan pada kalian." Kata Susan menunjuk kearah semak-semak lebat yang berada di sebelah kiri posisi mereka berdiri.

Hermione dan Harry hanya mengangguk dan mulai menelusuri tempat-tempat disekita semak-semak dan lentera tersebut. Lucy menunjukkan rumah Mr. Tumnus dulu sebelum dihancurkan oleh Jadis yang merupakan penyihir putih jahat yang berambisi untuk menguasai seluruh isi Narnia.

Pada saat ini di Narnia sedang musim semi, sehingga pemandangan disekitar sangat indah. Hermione memejamkan matanya dan merentangkan kedua tangannya menikmati hembusan angin musim semi yang lembut.

Tiba-tiba ia merasakan tangan seseorang mendekap perutnya. Wajah orang tersebut di letakkan di bahu Hermione. Hermione membuka matanya dan melirik tangan yang melingkar nyaman diperutnya.

Senyum Hermione merekah saat ia mengetahui tangan siapa yang memeluknya. "Kau suka tempat ini?" bisik Peter di telinga Hermione. Hermione terkekeh kecil dan menganggukkan kepalnya nya.

"Aku suka tempat ini. Tempat ini sangat indah dan nyaman. Terima kasih Peter." Kata Hermione tulus. Peter semakin mempererat pelukannya. "Apapun untukmu Mione."

Mereka masih menikmati suasana itu sampai Edmund datang dan mengajak mereka melanjutkan perjalanan mereka ke kerajaan Telmarine. Mereka pun menaiki kuda masing-masing dan berjalan menuju kearah utara hutan tersebut.

.

.

"Harry, kenapa kau tidak makan siang? Apa ada yang salah?" Tanya Hermione. Mereka sudah pulang dari Kerajaan Telmarine 1 jam yang lalu.

"Aku masih kenyang Mione. Nanti saja aku makan kalau aku lapar." Kata Harry tanpa mengalihkan pandangannya menatap laut didepan matanya. Pandangannya kosong, ia juga tidak tahu kenapa ia jadi begini.

Hanya karena melihat Susan dekat dengan Raja Caspian, dadanya jadi sesak dan ada perasaan tidak rela hinggap dihatinya.

Hermione memandangnya dan menepuk pelan pundak Harry. Harry mengalihkan pandangannya kearah Hemione yang sedang tersenyum tulus kearahnya.

"Kalau kau ada masalah, kau bisa menceritakannya kepadaku. Kau sudah ku anggap sebagai saudara laki-lakiku yang kusayangi." Kata Hermione lembut. Harry tertegun sebentar dan menggenggam tangan Hermione di pundaknya.

"Terima kasih Mione. Kau satu-satunya orang yang paling kusayangi didunia ini. Seandainya Ron masih bisa bersama kita." Pandangan Harry berubah menjadi sendu setelah mengingat jasad Ron yang tak berdaya berputar-putar di kepalanya.

Senyuman Hermione luntur. Ia menundukkan kepalanya. Melihat ekspresi Hermione yang hampir menangis, Harry buru-buru mengganti topik pembicaraan mereka.

Harry menarik tangan Hermione hingga gadis itu duduk di hadapannya.

"Dari pada memikirkan masa lalu yang sudah lewat, aku ingin tahu dengan hubunganmu dan Peter. Kau tahu Mione, kata Edmund itu adalah pertama kalinya Peter memperlakukan seorang gadis dengan sebegitu istimewanya. Aku rasa dia menyukaimu. Bagaimana menurutmu?" Kata Harry panjang lebar.

Muka Hermione memerah mendengar hal tersebut. Ia memalingkan wajahnya saat melihat seringai jahil di wajah Harry. "Ak..Aku tidak tahu Harry. Sejujurnya aku juga baru pertama kali merasakan hal ini. Su..sudahlah! berhenti menggodaku!" seru Hermione.

Harry tertawa melihat Hermione yang terbata-bata. Untuk saat ini mereka bisa menghilangkan kesedihan mereka. Hermione menekuk wajahnya melihat reaksi Harry.

Tawa Harry sudah reda walaupun dia masih terkekeh kecil. Harry mengacak-acak rambut Hermione. Hermione langsung protes dengan apa yang dilakukan Harry.

Harry mengulurkan tangannya kepada Hermione. Hermione menerima uluran tangan Harry dan mulai beranjak menuju tempat Pevensie bersaudara berkumpul.

.

.

"Hei, kalian dari mana saja?" kata Susan saat Harry dan Hermione sampai ditempat mereka.

"Hanya melihat lautan," jawab Harry duduk disamping Susan.

Hermione duduk disamping Lucy yang sedang meminum minumannya. Didepan Hermione ada Reepicheep beserta kawanannya yang sedang membersihkan pedang-pedang mereka.

"Hermione, menurutmu aku cocok menggunakan yang mana?" kata Lucy menunjukkan 2 buah jepit rambut.

Hermione mengamati kedua jepit rambut tersebut. Jepit rambut yang pertama berbentuk beberapa helai daun yang disekelilingnya terdapat hiasan lingkaran kecil yang menyerupai buah beri.

Sedangkan jepit yang kedua berbentuk kelopak bunga mawar merah yang dikelilingi oleh butiran-butiran menyerupai butiran salju kecil dan beberapa daun kecil di balik kelopak bunga tersebut.

"Hmm…menurutku, kau lebih cantik kalau menggunakan jepit rambut yang berbentuk bunga mawar ini Lucy. Karena sangat kontras sekali dengan kulit putihmu dan rambutmu yang berwarna kecoklatan." Kata Hermione sambil menyematkan jepit rambut tersebut dikepala Lucy.

Lucy tersenyum dan berterima kasih kepada Hermione. "Kalau begitu, coba kau gunakan ini dikepalamu Mione." Kata Peter tiba-tiba datang.

Hermione kaget saat mendengar suara yang berasal dari belakang tubuhnya. Ia memutar tubuhnya dan melihat Peter memegang sebuah jepit rambut berbentuk kerangka bunga berwarna putih, ditengah-tengah kelopak bunga ada mutiara kecil berwarna biru safir yang indah.

Disekeliling kerangka itu ada taburan manik-manik berwarna merah cerah. Hermione tertegun saat melihat jepit rambut tersebut. Seumur hidupnya, baru kali ini ia diberi hadiah seindah ini.

Susan melirik kearah Harry dan tersenyum kecil. Harry membalas tatapan Susan sambil terkekeh kecil. Lucy tersenyum menggoda, sedangkan Edmund bersiul-siul senang dipojokan ruangan bersama dengan Mr Beaver.

"Oh Peter, ini….ini sangat indah." Kata Hermione. Ia masih terpesona dengan jepit rambut dihadapannya. Peter tersenyum lebar melihat reaksi Hermione. Ia pun menyelipkan jepit tersebut di antara helaian rambut Hermione.

Setelah selesai, tangan Peter turun dari rambut Hermione ke pipinya. Hermione merasakan tangan Peter mengelus lembut pipinya. Muka Hermione semakin merah seiring usapan lembut itu berlanjut.

Deheman Lucy memecahkan susana tersebut. Peter melepaskan tangannya dan duduk disamping Hermione. Hermione meminum minumannya untuk menghilangkan rasa gugupnya.

"Harry, besok mau ikut denganku dan Susan?" Tanya Edmund. Harry menaikkan alisnya bingung. "Kemana?" kata Harry penasaran.

"Ke hutan. Mengambil buku Professor Digory dirumah Mr. Tumnus." Jawab Edmund. Harry dan Hermione tersentak saat mendengar nama tersebut. "Diggory?" kata Hermione memastikan. Susan menganggukkan kepalanya, "Ya, Profssor Digory Kirke."

Hermione dan Harry paham sekarang. Awalnya mereka pikir Diggory yang mereka maksud adalah Diggory yang merupakan penyihir berdarah murni yang mereka kenal di tahun keempat mereka di Hogwarts -Cedric Diggory-, ternyata bukan. "Apa ditempat kalian juga ada yang bernama Digory?" Tanya Lucy penasaran saat melihat tingkah Harry dan Hemione.

Hermione menganggukkan kepalanya dan memandang kearah Harry. Harry membalas memandang kearah Hermione.

"Iya, ditempat kami ada keluarga penyihir berdarah murni ynag bernama Diggory. Anak tunggal keluarga mereka berusia 3 tahun diatas kami. Tapi saat mengikuti turnamen sihir, ia meninggal karena terkena kutukan musuh." Cerita Harry.

"Oh maafkan aku, aku sudah menanyakan hal itu padamu." Kata Lucy bersimpatik. Harry menggelengkan kepalanya sambil tersenyum kecil kepada Lucy.

"Tak apa, Lucy."

Setelah mengatakan hal itu suasana kembali hening. "Jadi, kau mau ikut, Harry?" Tanya Susan. Harry berpikir sejenak, dan ia menyutujui usulan tersebut. Well, tidak ada salahnya menikamati waktu ditempat ini.

.

.

Keesokan harinya, Harry, Edmund, dan Susan tiba di hutan. Mereka segera menuju ke rumah Mr. Tumnus. Sebelum mereka berangkat, Mr. Tumnus sudah memberitahu letak buku yang dititipkan dari Professor Digory kepadanya.

Harry turun dari kuda dan mengamati sekeliling mereka. Tiba-tiba ia merasakan ada yang memperhatikan mereka dari jauh. Harry mengusap belakang kepalanya dan mulai menyusul Edmund dan Susan kedalam rumah.

Rumah Mr. Tumnus sangat berantakan. Katanya, dulu disini ia pernah ditangkap oleh prajurit penyihir putih, tapi ia berusaha melawan sehingga rumahnya menjadi berantakan begini. Kalau dilihat-lihat, rumah ini memang sudah tak layak untuk dihuni lagi. Sudah banyak kerusakan disana sini. Pintunya pun sudah setengah roboh.

"Ed, kita harus cepat temukan buku itu dan pergi dari sini." Kata Susan saat ia membaca kertas yang terletak disalah satu meja di depan pintu.

Edmund mengerutkan alisnya bingung, "Memangnya ada apa, Susan?".

Susan segera menyerahkan surat yang dibacanya. Harry mendekat kearah Edmund dan mulai membaca surat itu dengan seksama. Ia sedikit bingung dengan tulisan di surat itu karena tulisan itu sedikit tidak beraturan dan memang cukup sulit dibaca.

Harry menaikkan alisnya saat melihat raut wajah Edmund yang tiba-tiba berubah serius. Harry berusaha keras agar ia bisa membaca surat ini. Matanya melebar saat ia mengetahui isi surat tersebut.

'Aku belum menyerah untuk mengambil Narnia dari kalian. Ingatlah wahai menghuni Narnia. Nikmatilah kenyamanan ini selagi kalian bisa. Karena tidak lama lagi, ini semua hanya akan ada didalam mimpi kalian semua. Aku akan selalu mengawasi setiap pergerakan kalian semua. Walaupun kalian telah mengalahkan aku, tapi ingatlah aku tidak akan pernah mati karena jiwaku masih berada di dunia ini. Jadi bersiaplah untuk menjadi hancur dan menderita. Karena aku, Jadis sang Ratu Narnia telah kembali untuk Narnia.'

Mereka bertiga terdiam sesaat, kemudian Edmund segera berlari keluar sambil memegang buku yang mereka perlukan. Susan mengikuti Edmund di belakangnya.

Sedangkan Harry yang agak bingung juga mengikuti Edmund dan Susan. Mereka pun segera naik ke kuda masing-masing dan kembali ke Cair Paravel.

.

.

"Expecto Patronum," bisik Hermione.

Tak lama kemudian muncullah cahaya kebiruan dari ujung tongkat Hermione. Cahaya itu lama kelamaan berbentuk seperti berang-berang yang lucu. Saat ini Hermione sedang duduk di dekat danau.

Ia duduk sendirian disini. Lucy sedang pergi menemui Aslan, Harry sedang pergi bersama Susan dan Edmund. Sedangkan Peter tak tahu kemana.

Hermione masih terus menikmati waktunya melihat pemandangan sambil bermain-main dengan patronusnya. Tak lama kemudian, Peter datang dan duduk disebelah Hermione. Hermione mengalihkan pandangannya dan menemukan Peter yang sedang memandang Patronusnya dengan pandangan tertarik.

"Apa ini Mione?" Tanya Peter sambil menunjuk Patronus Hermione.

"Ini Patronus," jawab Hermione.

"Apa itu Patronus?" Tanya Peter lagi. Hermione mengayunkan tongkatnya sehingga membuat Patronusnya berputar mengelilingi Peter.

"Ini adalah mantra pelindung yang berbentuk hewan. Mantra ini biasanya digunakan untuk melindungi kita dari serangan makhluk jahat yang aura kegelapannya sangat tinggi."

Hermine memasukkan tongkatnya ke dalam tas kecilnya. Patronus tersebut hilang beberapa saat kemudian. Hermione menyandarkan tubuh nya ke pohon besar dibelakangnya dan mulai memejamkan mata menikmati hembusan angin pagi yang segar.

"Tidak terasa, sudah 2 bulan kami disini. Sejujurnya aku sempat melupakan dari mana aku berasal. Tapi saat melihat tongkatku, memori tentang kenangan itu muncul lagi." Kata Hermione sambil membuka matanya dan menatap Peter.

"Sudahlah Mione, itu semua sudah berlalu. Sekarang kau harus melihat kedepan, jangan sampai bayang-bayang masa lalu terus menghantuimu. Aku tahu bagaimana perasaanmu." Kata Peter sambil menggeser duduknya dan menarik Hermione kepelukannya.

Hermione menyandarkan kepalanya didada Peter dan melingkarkan tangannya di sekeliling pinggang Peter. Peter mempererat pelukannya dan meletakkan kepalanya diatas kepala Hermione.

"Sejujurnya, aku baru pertama kali ini diperlakukan sebaik ini oleh orang lain selain Harry, karena dia sahabtku dari kecil jadi wajar saja. Tapi hei, kita baru 2 bulan berteman dan sudah seperti ini, rasanya aku…" Hermione tidak melanjutkan perkataannya.

Ia menutup wajahnya yang memerah dengan kedua tangannya. Peter tertawa kecil melihat reaksi Hermione. "Kau sangat manis kalau mukamu memerah Mione."

Muka Hermione semakin merah mendengar perkataan Peter. "Sudah, berhenti menggodaku Peter." Kata Hermione bangun dari duduknya dan menjauh sedikit dari Peter. Peter masih menahan tawanya melihat hal itu. Peter bangkit dari duduknya dan menuju kearah Hermione.

Peter pun memeluk Hermione dari belakang. Hermione merasakan tangan Peter melilit pinggangnya. Ia tak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum saat ini.

"Sudahlah, jangan ngambek lagi. Padahal aku serius tadi." Kata Peter lembut. Hermione mengangguk kecil dan memainkan jari Peter di pinggangnya.

Mereka masih menikmati posisi tersebut sampai mereka mendengar derap langkah kuda yang mulai mendenkat kearah mereka. Mereka pun melepaskan pelukan itu walaupun ada perasaan tak rela untuk melepasnya.

"Sepertinya mereka sudah kembali. Ayo Hermione, kita kesana." Kata Peter seraya mengulurkan tangannya kearah Hermione. Hermione menerima uluran tangan tersebut dengan senang hati. Merekapun berjalan menuju kembali kastil yang letaknya tak jauh dari danau yang mereka kunjungi.

.

.

"Selamat datang kembali Yang Mulia." Kata Oreius sambil memeberi hormat yang diikuti prajurit lainnya. Susan hanya mengangguk dan berjalan menuju istana. Harry megikuti Susan di belakangnya. "Apa kau melihat Lucy?" Tanya Susan ke salah satu prajurit.

"Yes, Your Highness. Queen Lucy tadi pergi menemui Aslan di dekat hutan sebelah Barat." Kata Prajurit tersebut. Susan mengucapkan terima kasih.

Ia menatap Edmund sesaat, memberi tahu kalau ia akan mencari Aslan dan Lucy bersama Harry. Sedangkan Edmund harus menemui Peter untuk membahas masalah surat yang mereka temukan.

Edmund mengalihkan pandangannya kearah Oreius saat Susan dan Harry sudah menghilang dari pandangannya. "Apa kau tahu dimana Peter?" Tanya Edmund.

"Tentu Yang Mulia, tadi hamba melihatnya di dekat danau bersama dengan Lady Hermione." Jawabnya. Edmund mengangguk kecil, setelah mengucapkan terima kasih ia pun berlari menemui Peter di danau.

Beberapa saat kemudian, akhirnya ia bertemu dengan Peter dan Hermione di dekat taman. Ternyata Peter dan Hermione juga mau menemui mereka di halaman. Peter menaikkan sebelah alisnya melihat Edmund berlari kearah mereka berdua.

"Hahh… akhirnya ketemu juga." Kata Edmund sambil mengatur napasnya yang tersenggal-senggal akibat berlari tadi. Hermione mengerutkan dahinya melihat tingkah Edmund. Ia menatap Peter yang dibalas dengan gelengan kepala dari Peter.

"Kau kenapa, Ed? Habis dikejar-kejar dari Ginarrbrik dan antek-anteknya, eh?" kata Peter dengan nada geli. Edmund mengendus jengkel mendengar ejekan kakaknya itu.

Hermione hanya menggelengkan kepalanya melihat keakraban kedua saudara ini. "Dari pada membahas si cebol itu, lebih baik kau baca ini. Tadi Susan menemukannya di rumah Mr. Tumnus."

Peter menerima surat itu dan mulai membacanya. Hermione merapatkan tubuhnya ke Peter sehingga ia juga bisa membaca surat yang di pegang oleh Peter. Peter membelalakkan matanya kaget setelah membaca surat tesebut.

Hermione bingung dengan reaksi Peter. Peter memasukkan surat itu kedalam saku bajunya dan menarik Hermione kedalam kastil. "Ayo, Ed. Kita harus membicarakan hal ini dengan yang lainnya."

.

.

Diruangan itu Pevensie bersaudara beserta Hermione, Harry, dan Oreius sedang serius membahas masalah surat yang diyakini ditulis oleh salah satu bawahan Jadis sang Penyihir Putih. Haary dan Hermione hanya diam mendengarkan perdebatan para Pevensie itu. Mereka tidak tahu apa-apa tentang masalah ini.

"Aku tidak percaya kalau dia masih hidup." Kata Peter.

"Tapi siapa tahu, kan. Dulu saja ia muncul dibalik bongkahan es yang dibuat antek-anteknya." Jawab Edmund.

Suasana hening kembali. Sudah 2 jam lebih mereka berdebat mengenai hal ini. Akhirnya Peter bangkit dari duduknya. Semua mengalihkan pandangan mereka kerah Peter.

"Kalau sudah begini, kita harus bersiap-siap untuk menghadapinya. Aku tak ingin saat mereka menyerang kita, kita tidak punya persiapan untuk bertempur." Kata Peter tegas.

"Oreius! Gunakan waktu sebaik mungkin untuk mempersiapkan senjata dan berlatih. Kumpulkan beberapa orang nanti malam di ruang bawah tanah. Aku mau memberikan mereka tugas untuk mencari tahu kebenaran surat ini."

Oreius segera melaksanakan tugasnya setelah mendapat perintah tersebut. Ia keluar dari ruangan itu dan segera mengumpulkan 5-6 orang sesuai yang diperintahkan oleh Peter.

Peter duduk sambil meremas rambutnya, Susan mendesah letih dan menyandarkan punggungnya di sofa. Edmund dan Lucy hanya diam. Mereka semua sangat terkejut dengan fakta yang barusan mereka cerna.

Jadis masih hidup? Ini sungguh pertanda yang sangat buruk.

"Lu, tadi kau menemui Aslan, kan? Apa yang kalian bicarakan?" tanya Edmund. Peter dan Susan melirik Lucy, mereka juga ingin tahu apa yang terjadi dengan Lucy selama mencari Aslan.

Lucy meminum minumannya sejenak dan mulai membuka mulutnya.

"Aku hanya menanyakan kabarnya dan sedikit bercerita tentang Harry dan Hermione. Lalu Aslan bilang begini, 'tidak lama lagi akan ada hal besar yang melanda kita semua. Aku berharap itu bukanlah sesuatu yang buruk, tapi tidak ada salahnya untuk berjaga-jaga. Percayalah pada kekuatan kalian. Kalian tidak akan sendiri, aku akan selalu bersama kalian.' Begitulah."

"Apa menurut kalian, Aslan sudah tahu tentang hal ini? Kalau surat ini benar, berarti apa yang dikatakan oleh Aslan adalah benar dan kita memang harus segera mempersiapkan semuanya untuk menghadapi Jadis." Kata Susan.

Edmund menggeram kecil mendengar hal itu. Oh sungguh sial mereka, harus menghadapi musuh yang sama tiga kali berturut-turut. "Kurasa hal ini kita bahas lagi besok, untuk saat ini kita harus mengetahui kebeneran dari surat ini dulu." Kata Peter.

.

.

.

TBC

a/n :

maaf ya baru publish sekarang, soalnya belakangan ini author sibuk.

makasih ya yang udah review,.. semoga kalian suka ceritanya….

RnR? ^^