Yang nggak suka sama cerita yang mengandung unsur homo harap jangan baca!
Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
Pair : SasuNaru
Genre : Hurt/Comfort, Romance(?), dll.
Warning : BOYS LOVE, typo, AU,OOC, dll.
Read and Review!
.
.
.
Langit dihari ini begitu cerah dengan warna biru dan sedikit awan di atas sana. Walaupun matahari sudah berada tepat di atas kepala, tapi hal itu tidak membuat orang untuk berhenti beraktivitas hanya untuk menghindari sengatan matahari yang cukup panas.
Namun, sepertinya itu tidak berlaku untuk pemuda satu ini. Pemuda yang bisa kita sebut dengan nama Naruto ini masih tetap meringkuk di bawah selimutnya, walaupun jam yang ada di samping kasurnya sudah menunjukkan pukul 11:48. Jika kalian pikir dia sedang tidur, maka kalian salah. Ia bahkan sudah membuka matanya sebelum matahari terbit di timur sana. Ia hanya sedang malas untuk bangun dan mengerjakan aktivitas apapun. Kejadian lusa kemarin dimana Sasuke memutuskannya, membuatnya sangat malas untuk melakukan apapun, ia bahkan mengabaikan pekerjaannya sebagai dokter di Rumah Sakit Konoha karena terus mengingat hal itu.
Ia tidak bisa melepaskan Sasuke begitu saja, ia masih mencintai Sasuke. Tapi, bagaimana ia bisa mendapatkan Sasuke kembali. Apa ia harus menyerah saja.
'Menyerah...'
'Apa aku harus menyerah?'
'Tidak, aku tidak akan menyerah semudah itu! Aku akan menyakinkan Sasuke kembali. Bagaimanapun caranya aku pasti akan menyakinkannya. Aku akan ke apartemen Sasuke sekarang dan berbicara langsung dengannya kali ini.' batinnya dengan mantap.
Naruto pun bangun dan menyibak selimut yang menyelimutinya. Ia pun bergegas menuju kamar mandi untuk membasuh diri. Setelah dari kamar mandi Naruto pun segera mengambil baju yang akan ia kenakan dari lemari. Setelah dirasa baju yang dikenakannya cocok, Naruto pun segera mengambil kunci sepeda motornya di laci lemari dan setelah itu menuju garasi dimana motornya diletakkan. Kemudian ia menyalakan mesinnya dan mengendarai melaju di jalanan yang cukup ramai menuju apartemen Sasuke.
.
.
.
Setelah menempuh perjalanan selama 20 menit akhirnya Naruto sampai di depan apartemen Sasuke. Naruto pun segera memarkirkan motornya di tempat khusus parkir, setelahnya ia melangkahkan kaki menuju kamar apartemen Sasuke di lantai empat dengan nomor 107. Sesampainya di sana ia segera menekan bel kamar tersebut.
Ting tong!
Setelah menunggu beberapa saat, Naruto menekan bel kembali karena tidak mendapat sahutan dari penghuninya.
Ting tong!
"Sebentar!"
Naruto pun bernafas lega ketika mendapati suara Sasuke dari dalam apartement.
Cklek
Sasuke yang membuka pintu pun terkejut ketika mengetahui kalau ternyata Naruto lah yang telah bertamu ke apartementnya.
"Naruto!"
"Hai, Sasuke!" ucap Naruto dengan nada riang dan cengiran yang menghiasi wajahnya.
"Ada apa kau kemari?" ucap Sasuke tanpa membalas salam dari Naruto.
"Um, itu..., oh ya, aku hampir lupa. Ini untukmu."Naruto pun mengangkat kantong plastik yang berisi tomat-tomat segar yang sempat ia beli di Minimarket ketika dalam perjalanan kemari.
Sasuke hanya melirik kantong plastik yang dibawa Naruto. "Masuklah!" Sasuke pun menggeser tubuhnya dan mempersilahkan Naruto untuk masuk.
Tanpa berpikir lagi, Naruto segera masuk ke dalam apartement Sasuke dan menaruh kantong plastik yang dibawanya di atas meja makan.
"Katakan, ada apa sebenarnya kau kemari?" ucap Sasuke mengulangi pertanyaannya yang belum dijawab tadi oleh Naruto.
Naruto hanya terdiam ketika mendengar pertanyaan tersebut keluar dari mulut Sasuke. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Setelah terdiam cukup lama, akhirnya Naruto membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan dari Sasuke.
"Sasuke, bisakah kau memikirkan kembali keputusanmu waktu itu?" ucap Naruto tanpa menatap wajah Sasuke.
Untuk sesaat Sasuke terdiam dan detik berikutnya ia menghela nafas. "Maaf Naruto, tapi keputusanku sudah bulat. Aku sama sekali tidak berniat untuk mengubahnya."
Naruto pun menggigit bibir bawahnya dengan kuat. "Tapi aku masih mencintaimu Sasuke." Ucapnya dengan kepala menunduk, tidak ingin membiarkan wajah kecewanya dilihat oleh Sasuke.
"Naruto, aku tidak ingin menyakitimu lebih jauh. Di luar sana masih banyak orang yang lebih baik dariku dan bisa membuatmu bahagia. Aku benar-benar menyesal telah melukai hatimu, tapi aku mohon, tolong lepaskan aku Naruto. Kau bilang kau mencintaiku bukan? Bukankah kalau kita mencintai orang lain, maka kita akan melakukan apapun untuk membuatnya bahagia? Karena itu lepaskanlah aku, Naruto." ucap Sasuke panjang lebar dengan nada penyesalan.
"Kau benar Sasuke, tapi aku ingin kau bahagia bersamaku dan bukan bersama orang lain." Naruto mengepalkan tangan kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. "Aku tidak akan menyerahkanmu pada orang lain, tidak akan pernah sama sekali." ucap Naruto ambisius. "Kalau begitu aku pulang dulu. Aku akan menemuimu lagi nanti. Sampai jumpa." Ia pun melangkahkan kakinya menuju pintu.
Cklek! Blam!
Sasuke menatap kosong pintu yang baru dilalui Naruto, ia kemudian melangkahkan kakinya menuju sofa yang ada di ruangan apertementnya dan mendudukan dirinya di sana. Ia pun mengusap wajahnya kasar dengan tangan.
"Argh... kenapa masalah ini begitu rumit!" ucap Sasuke sambil menyandarkan punggungnya ke sofa dan mengadahkan kepalanya menatap langit-langit apartementnya.
.
.
.
Sudah lima hari sejak kedatangan Naruto ke apartement Sasuke. Dan selama lima hari tersebut itu juga Naruto terus saja menemui Sasuke, entah itu di apartement, di kantor, di cafe tempat Sasuke biasa makan siang saat jam istirahat, maupun tempat-tempat lainnya. Dan setiap kali bertemu Naruto terus saja kembali mengungkit masalah sebelumnya. Tentu saja hal itu membuat Sasuke kesal karena terus diganggu, terutama saat di kantor, Sasuke saat itu sedang serius memeriksa dokumen laporan yang ada di depannya, tiba-tiba Naruto datang dan mengungkit kembali masalah itu hingga merusak moodnya untuk membaca dokumen tersebut dan membuat pekerjaannya menumpuk cukup banyak.
"Sasuke-sama, anda tidak apa-apa?" tanya Sakura, Sekretaris Sasuke yang baru bekerja lima bulan di kantor Sasuke. Ia khawatir melihat bosnya yang beberapa hari ini tidak fokus dengan pekerjaannya.
Karena mendengar suara Sakura, Sasuke pun tersadar dari lamunannya mengenai lima hari terakhir ini. "Ah, ya. Aku tidak apa-apa." ucap Sasuke menyakinkan Sakura dengan disertai senyum kecil.
"Apa anda yakin?" tanya Sakura sekali lagi.
"Hn, kau tidak perlu khawatir. Oh ya, sebentar lagi jam istirahat. Bagaimana kalau kita makan siang bersama?"
"Baiklah!"
.
.
.
Di sinilah sekarang mereka berada, di cafe dekat kantor Sasuke menikmati makan siang bersama. Saling berbincang satu sama lain mengenai kehidupan masing-masing, menghilangkan sementara ikatan antara atasan dan bawahan.
Kring
Bunyi bel yang diletakkan di pintu masuk cafe berbunyi menandakan ada orang yang masuk ke dalam cafe. Pemuda yang baru memasuki cafe tersebut mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut cafe mencari sosok yang ingin di temui. Setelah mencari beberapa saat akhirnya ia menemukan sosok yang dia cari. Melangkahkan kakinya menuju meja dimana sosok itu duduk bersama seorang gadis, menyantap makan siang dan sekekali berbincang-bincang. Entah mengapa pemuda itu seperti melihat kelembutan di mata sosok itu ketika berbicara dengan gadis yang ada di depannya. Seketika itu ia ragu apakah ia akan menemui sosok itu atau pergi saja dari sini. Melihat tatapan lembut yang pernah sosok itu berikan padanya dulu dan sekarang malah diberikan ke orang lain membuat hatinya berdenyut sakit. Tapi akhirnya pemuda itu memantapkan hatinya untuk tetap menemui sosok itu, dan setelah sampai di meja tersebut pemuda itupun menyapa.
"Hai, Sasuke!" sapa Naruto dengan senyuman dan hanya mendapat lirikan sementara dari Sasuke.
Mendapat perlakuan Sasuke yang seperti itu seketika senyum tersebut luntur, Naruto pun mengalihkan pandangannya kearah gadis di depan Sasuke.
"Halo! Aku Namikaze Naruto, salam kenal." sapa Naruto kepada gadis itu.
"Ha-halo, aku Haruno Sakura." balas Sakura.
"Boleh aku ikut duduk?" tanya Naruto kepada Sakura.
"Ah, iya. Tentu saja boleh." jawab Sakura disertai senyum. Naruto pun balas tersenyum dan duduk di samping Sasuke.
Sakura kembali menyantap makan siangnya yang tertunda. Naruto yang duduk di samping Sasuke melipat tangannya di atas meja dan menolehkan wajahnya ke samping, menghadap Sasuke.
"Jadi, seperti itukah dia?" ucap Naruto pada Sasuke.
"..." Sasuke tidak menjawab pertanyaan Naruto, saat ini ia sedang tidak ingin berdebat dengannya dan memulai kekacauan.
Naruto yang tidak mendapat jawabanpun berucap kembali. "Apa yang kau sukai darinya? Bagiku dia tidak ada istimewanya sama sekali." Naruto mendengus dan tersenyum sinis. "Sepertinya kau sudah buta Sasuke, sampai-sampai kau menyukai orang seperti itu yang tidak ada menariknya sama sekali."
Brak
Sasuke pun menggebrak meja, menyebabkan bunyi keras dari meja tersebut dan membuat semua pasang mata yang ada di cafe tersebut memandang kearahnya. Ia berdiri dari duduknya...
"Ikut denganku!"
...dan menarik paksa tangan Naruto menuju pintu keluar cafe. Sakura yang sebelumnya kaget karena Sasuke yang menggebrak meja, akhirnya hanya menatap bingung Sasuke yang menarik Naruto keluar.
.
.
.
Setelah sampai di luar cafe, Sasuke berjalan sambil menyeret Naruto menuju celah sempit yang berada di samping cafe tersebut. Setelah sampai ia pun menghempaskan tubuh Naruto dengan kasar ke dinding bangunan di sebelah cafe tersebut, sehingga menghasilkan bunyi debuman yang cukup keras.
Bugh!
"Argh!" Naruto pun menggeram kesakitan akibat punggungnya menghantam dinding di belakangnya.
"Apa yang kau lakukan Sasuke?!" ucap Naruto kesal dengan perlakuan Sasuke.
"Berhentilah menggangguku!" ucap Sasuke dengan suara dan sorot mata yang tajam.
"Aku akan berhenti mengganggumu bila kau melupakan gadis itu dan kembali padaku! Sebenarnya apa yang dia lakukan sampai membuatmu seperti ini padaku. Gadis sialan sepertinya tidak pantas untuk kau cintai Sasuke!"
Sudah cukup, Sasuke sudah tidak bisa bersabar terhadap kelakuan Naruto. Naruto sudah bertindak keterlaluan, ia tidak bisa membiarkan Naruto menghina Sakura seperti itu. Ia tidak akan pernah memaafkan Naruto untuk semua hal ini, tidak akan pernah.
Sasuke pun mengepalkan tangannya kuat-kuat dan memejamkan mata, berusaha untuk meredamkan amarahnya. Namun, sepertinya ia tidak bisa menahan amarahnya ketika Naruto menghina tentang Sakura lagi.
"Gadis sialan seperti Sakura seharusnya enyah saja dari muka bumi ini!"
Plak!
Tamparan telakpun Sasuke daratkan di pipi tan Naruto, sehingga membuat wajah Naruto menghadap kearah kiri.
"JAGA BICARAMU NAMIKAZE! KAU BENAR-BENAR TELAH MEMBUATKU MUAK! JANGAN PERNAH MENAMPAKAN WAJAHMU DIHADAPANKU LAGI! DAN AKAN LEBIH BAIK LAGI KALAU KAU JUGA MENGHILANG DARI DUNIA INI!" bentak Sasuke dengan keras dan kemudian ia meninggalkan Naruto seorang diri.
Tes tes tes
Lagi, air mata kembali lagi menetes dari mata safir. Hanya saja, kali ini air matanya tidak disertai isakan tangis. Ia sekarang hanya bisa menangis dalam sepi, suara tidak mau keluar sekedar untuk menyuarakan rasa sakit hatinya. Ia melangkahkan kakinya keluar dari sana dan saat sudah keluar ia melihat ke dalam cafe. Di sana, Sasuke tertawa lepas bersama Sakura, seakan-akan kejadian tadi tidaklah pernah ada.
'Kenapa, kenapa harus aku yang terus merasakan sakit? Kenapa harus aku?' batin Naruto sedih. Ia sudah tidak kuat lagi, jika Sasuke menyuruhnya pergi maka ia akan pergi, lagipula ia sudah tidak mau lagi merasakan sakit melihat Sasuke bahagia dengan orang lain, bukan dengannya.
Naruto berlari menjauh dari cafe tersebut. Berlari tanpa melihat arah, sehingga ia beberapa kali menabrak orang yang sedang berlalu-lalang yang menghasilkan umpatan dari orang-orang yang ditabraknya.
.
.
.
Lari, lari, dan lari. Hanya itulah yang terus Naruto lakukan, ia bahkan tidak perduli dengan kakinya yang terus meminta untuk beristrahat. Namun, karena telah kehabisan tenaga untuk berlari ia pun menghentikan larinya. Dilihatnya ke depan dimana terdapat pohon Sakura yang tengah berbunga.
'Kenapa aku harus ketempat ini lagi? Kenapa harus di tempat yang membuatku sakit ini aku harus berhenti?' batin Naruto.
Naruto melangkahkan kaki ke depan menuju pohon tersebut. Disandarkan punggungnya pada pohon itu dan merosotkan tubuhnya ke bawah. Dipeluknya kaki yang ia tekuk guna menyembunyikan wajahnya.
"Hiks...hiks...hiks..."
Akhirnya, isakan yang tadinya tidak keluar akhirnya terdengar juga. Isakan yang menyuarakan semua rasa sakit dan pedihnya hatinya, mengeluarkan semua rasa yang ia pendam. Ia berharap dengan ini ia bisa melupakan Sasuke, membuang semua perasaan yang pernah ia miliki pada pemuda itu dan berharap semoga ia bisa hidup tenang tanpa pernah memikirkan Sasuke lagi. Tak apa bila ia tidak bisa bahagia lagi, yang terpenting ia tidak akan pernah merasakan sakit hati lagi. Ia rela bila Tuhan mau mengambil kebahagiannya, asalkan Tuhan tidak akan pernah membiarkannya mendapatkan rasa yang menyakitkan ini. Apapun, apapun akan ia lakukan untuk satu hal itu.
Puk
"Kau tidak apa-apa?"
Tepukan pelan di bahunya membuat Naruto mendongakkan kepala untuk melihat siapa orang yang menepuk bahunya. Dilihatnya sosok yang membungkuk di hadapannya dengan matanya yang sembab.
Seketika sosok di hadapan Naruto membeku sesaat ketika melihat wajah Naruto yang begitu cantik dan mata safir yang begitu indah. Sosok itupun akhirnya sadar ketika mengetahui mata safir tersebut terlihat berair, segera diambilnya sapu tangan yang berada di kantongnya dan menyerahkannya pada Naruto.
"Ini!" ucap sosok tersebut menyerahkan sapu tangannya dan disertai senyumnya yang menawan.
Naruto yang awalnya ragu untuk mengambil sapu tangan akhirnya mengambilnya juga. Digunakannya sapu tangan tersebut untuk mengusap matanya yang berair.
Sosok di hadapan Naruto pun perlahan menjauh, tidak ingin mengganggu Naruto yang kelihatannya masih ingin sendiri. Pergi tanpa sepengetahuan Naruto dan tanpa mengatakan apapun.
"Terima...?"
Naruto yang awalnya ingin berterima kasih, mengernyitkan keningnya ketika mendapati sosok tersebut telah hilang.
TBC
Yeah! Akhirnya chap 2 update juga. Aku benar" terharu, ternyata ada juga yang suka sama fic buatanku, padahal aku sempat frustasi dengan chap 1-nya karna menurutku bahasanya lebay banget , makasih banyaknya. Dan maaf atas keterlambatan fic ini, seminggu ini banyak tugas dari sekolah. Jadi aku ngerjain tugas dulu dan baru ngetik fic ini. Klo fic ini terasa hambar aku minta maaf ya, habisnya aku nulis fic ini saat aku masih kepikiran tugas" sekolah yang masih belum aku selesaikan. Yang di bawah ini adalah balasan yang sudah mereview fic aku ya.
Kyuubi no kitsune : Mengenai pertanyaanmu di pm tentang endingnya, kurasa ini akan happy end deh kyaknya. Tpi klo aku dlam keadaan bad mood ada kemungkinan sad end. Yah, pokoknya do'a in aja setiap aku nulis fic ini msih dlam keadaan good mood ya.
Yap, pasti aku akan buat Sasu-Teme menderita dan menyesal karna udah nyakitin Naru-Chan. Jdi kmu nggak usah khawatir Sasuke akan hidup damai sentosa tanpa penyiksaan terlebih dlu. #smirk
Aiko Michishige : Iya, ini udah aku lanjutin. Sasuke akan aku buat nyesel kok, jdi tenang aja. Um...mengenai orang keempatnya, kurasa aku nggak bisa pke Shika deh, maaf ya. Tpi aku harap kmu suka dngan orang keempat yang aku pilih nanti.
Ai aragaki : Aduh, aku agak bingung bca review kmu karna ada bhasa UpinIpinnya nih ^-^a. Karna aku lihat review kmu sepertinya aku bakal masukin Itachi-Nii dlam list orang keempatnya deh. Klo aku sih pengennya nyembelih Sasu-Teme, abis itu dagingnya aku lempar ke laut biar dimakan sama buaya (emang buaya ada di laut?). Eh, maksudku dimakan sama hiu.
RisaSano : Iya, iya, ini dilanjutin kok. Iya, nanti aku buat Naru-Chan jatuh cinta sma orang lain, tpi cinta hnya sementara aja sih, nggak cinta slama-lamanya. Hbisnya endnya kan kemungkinan akan happy end. Sasuke akan ku buat meminta-minta Naru-Chan kembali ke pelukannya kok. Tpi, sebelum itu kita buat Sasu-Teme menderita dulu ya.
Retnoelf : Ini udah lanjutin kok. Oh ya, nama penname kmu buat aku ingat sma temen aku deh.
Makasih bagi yang udah mau mereview, favorite, alert.
Mimi Auziri, Kyuubi no kitsune, Aiko Michishige, Ai aragaki, LittleStarrieKIM, RisaSano, Rr Elf, dan Retnoelf.
Makasih ya, tanpa kalian aku nggak bkal lanjutin fic ini. Sampai jumpa chap berikutnya.
