Disclaimer : Naruto belong Masashi Kishimoto

Pair : SasuNaru, Slight SasuSaku n XXXNaru

Genre : Hurt/Comfort, dan Romance (yang diragukan).

Warning : Boys Love/Sho-ai/Homo, mungkin OOC, AU, typo(s), Author newbei, dll

Klo nggak suka tolong jangan baca, dan bagi yang suka Read n Review.

.

.

.

Ting tong!

Terdengar bunyi bel yang ditekan oleh seseorang dikediaman keluarga Uchiha. Seorang yang bercirikan fisik rambut raven yang cukup panjang dan sepasang mata onix yang memandang tajam apa saja di depannya, jangan lupakan juga dua garis melintang di kedua sisi hidungnya. Orang itu terus berdiri di depan pintu yang cukup besar, menunggu seseorang untuk membukakan pintu tersebut.

Cklek!

Pintupun terbuka dan memperlihatkan seorang pria yang berpakaian khas kepala pelayan. Sesaat kepala pelayan yang membuka pintu tersebut tersentak kaget melihat orang yang menekan bel tadi. Namun kemudian pelayan itu mengukir senyum dibalik masker yang menutup wajahnya.

"Itachi-sama, senang melihat anda sudah pulang kemari. Bagaimana kabar anda selama ini disana?" ucap kepala pelayan tersebut setelah membuka pintu untuk mempersilahkan seseorang yang menekan bel tadi yang ternyata bernama Itachi , putra sulung dari keluarga Uchiha.

"Aku sehat-sehat saja, Kakashi. Ngomong-ngomong dimana Kaa-sama?" tanya Itachi sambil melirik keseluruh ruangan di mansionnya.

"Beliau sedang pergi keluar bersama teman-temannya, dan kemungkinan akan kembali sore nanti. Apa anda ingin saya memberitahukan kepada Mikoto-sama bahwa anda sudah pulang?" jawab sekaligus tanya Kakashi.

"Tidak perlu, aku tidak ingin mengganggu waktu Kaa-sama." jawab Itachi. " Sepertinya tempat ini masih sama seperti dulu tidak ada yang berubah sama sekali." gumamnya masih sambil melihat-lihat ruangan tersebut.

"Setelah perjalanan jauh anda pasti lapar, apa anda ingin saya mempersiapkan makanan?" tanya Kakashi.

Itachi melirik kearah Kakashi setelah selesai melihat-lihat dan berucap "Tidak perlu, kurasa aku akan langsung istirahat saja, badanku sudah sangat lelah saat ini karena terlalu lama duduk di pesawat. Apa kamarku bersih?"

"Ya, pelayan disini selalu membersihkan kamar anda setiap hari. Jadi anda bisa langsung beristirahat di kamar anda. Apa anda masih memerlukan sesuatu?" Kakashi kembali bertanya.

"Tidak!" ucap Itachi seadanya.

"Kalau begitu saya pamit dulu. Masih banyak pekerjaan yang harus saya lakukan."

"Hn."

Setelahnya Kakashi pergi meninggalkan Itachi untuk mengurusi pekerjaannya. Itachi pun melangkahkan kakinya menuju tangga yang menghubungkannya dengan lantai dua dimana kamar Itachi berada. Saat menaiki tangga Itachi melihat Sasuke yang sedang menuruni tangga sambil merapikan pakaiannya. Ia menghentikan langkahnya menaiki tangga dan memanggil Sasuke.

"Sasuke!"

Sasuke segera mengalihkan pandangannya ketika mendengar suara yang cukup familiar baginya. Dan ekspresi yang dikeluarkan Sasuke tidak jauh berbeda dari Kakashi tadi ketika pertama melihat Itachi, kecuali bagian tersenyumnya.

"Aniki?" tanya Sasuke, menyakinkan dirinya bahwa yang di depannya kini adalah kakak tercintanya yang selama 3 tahun ini berada di luar negeri untuk mengurusi cabang perusahaan disana.

"Apa kabar Sasuke?"

Setelah yakin bahwa orang itu kakaknya, Sasuke melangkahkan kakinya menuju Itachi dan memeluknya dengan erat melepas kerinduannya terhadap kakaknya.

"Baik. Kau sendiri bagaimana?"

"Sama sepertimu." Itachi membalas pelukan Sasuke.

"Lalu, kenapa kau lama sekali pulang?"

"Maaf, pekerjaan di sana sangat banyak jadi aku harus menyelesaikan semua urusan di sana dulu baru aku bisa pulang ke rumah." jawab Itachi sekaligus melepaskan pelukannya.

"Baiklah, kalau begitu apa aku bisa istirahat sekarang. Aku benar-benar sudah sangat lelah dan ingin cepat tidur di kamar." ucap Itachi disertai senyum.

"Hn. Lagipula aku juga harus berangkat ke kantor."

Itachi kembali melangkahkan kakinya menuju kamarnya, tapi sebelum itu ia sempat mengacak-acak rambut adiknya, yang menghasilkan dengusan kesal dari Sasuke.

.

.

.

Cklek!

Itachi membuka pintu kamar yang berwarna coklat. Kemudian melangkahkan kaki menuju kasur yang berukuran king size dan menghadap sebuah balkon.

Tap

Tap

Tap

Brugh!

Itachi merebahkan tubuhnya pada kasur tersebut. Tak berapa lama kemudian senyum mengembang di bibirnya.

"Ini merupakan salah satu hari yang menyenangkan yang pernah kumiliki." gumamnya.

.

.

.

Pagi sudah menjelang dan matahari mulai menampakan sinarnya menggantikan tugas bulan untuk menerangi bumi. Naruto terlihat berdiri di depan cerminnya, membenarkan dasi yang berada di kerah kemejanya.

Sudah delapan hari ini ia membolos kerja, Ia tidak mau berakhir dengan diberhentikan dari pekerjaan karena terlalu lama absen. Oleh karena itu, hari ini ia memutuskan untuk kembali bekerja dan tidak mau berlarut lama dalam kesedihan. Mulai sekarang, ia akan melupakan orang itu dan sebisa mungkin menjauh dari semua hal yang berkaitan dengannya, setidaknya dengan begitu luka di hatinya tidak kembali lagi.

"Yap, selesai!" ucap Naruto setelah merapikan dasinya.

"Baiklah! Naruto, kau harus semangat, dengan begitu kau tidak akan membuat semua pasienmu khawatir." Naruto berucap menyemangati dirinya sendiri disertai cengiran di wajahnya.

Naruto bergegas menuju dapur yang sekaligus merangkap sebagai ruang makan untuk memulai sarapan paginya. Setelah menyelesaikan sarapannya, dia kemudian mengendarai motornya menuju Rumah Sakit Konoha, tempat dimana ia bekerja.

.

.

.

Brum...

Ckiiit!

Naruto telah sampai di rumah sakit. Setelah memarkirkan motornya, Naruto berjalan memasuki bangunan rumah sakit tersebut. Di tengah perjalanan menuju ruangannya, tiba-tiba ia mendengar ada yang meneriakan namanya dan memeluknya dari belakang.

Naruto menolehkan kepalanya kebelakang dan dapat dilihatnya seorang gadis kecil berambut pirang tengah tersenyum kearahnya. Narutopun melepaskan pelukan gadis tersebut dan kemudian berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan gadis kecil di hadapannya.

"Ada apa Shion-chan?" tanyanya pada gadis kecil tersebut.

"Naruto-sensei kemana saja? Kenapa nggak pernah ketempat Shion dan mama lagi?" tanya gadis kecil yang bernama Shion itu.

Shion adalah anak dari salah satu pasien yang ia rawat, setiap ia ingin memeriksa keadaan ibu Shion yang merupakan pasien pengidap penyakit jantung, ia selalu menyempatkan diri untuk bermain sebentar dengan gadis kecil itu. Jadi tidak heran kalau Shion sangat akrab dengan Naruto dan selalu ingin bermain dengan dokter berwajah manis itu.

"Maaf ya, Shion-chan. Naruto-sensei beberapa hari ini ada urusan, jadi tidak bisa datang ke tempat Shion-chan." ucap Naruto dengan nada menyesal.

"Um... begitu ya." Balas Shion dengan memasang wajah sedih.

Naruto yang tidak tega melihat raut wajah Shion seperti itupun berucap. "Kalau begitu, sebagai permintaan maaf, Naruto-sensei akan menemani Shion-chan bermain setelah ini. Bagaimana?"

"Benarkah?"

"Hu'um." Naruto mengangguk.

"Yay, kalau begitu baiklah!" ucap Shion dengan riang.

"Tapi, sebelum itu Naruto-sensei harus bertemu dan berbicara denganku dulu di ruangan." ucap sebuah suara menginterupsi perbincangan Naruto dengan Shion.

Tubuh Naruto tiba-tiba menegang ketika mendengar suara yang sangat ia ketahui tersebut. Ia pun menolehkan kepalanya dengan kaku dan tersenyum canggung pada orang yang berdiri di belakangnya.

"Tsu...Tsunade...Tsunade Baa-chan?" ucap Naruto tergagap-gagap.

.

.

.

Naruto kini tengah berada di ruangan milik Tsunade. Ia duduk dengan gelisah di kursi yang menghadap kearah dimana Tsunade juga duduk dengan mata yang terus menatap tajam kearah Naruto sejak mereka memasuki ruangan tersebut.

'Aduh, pasti aku akan dihajar habis-habisan oleh Baa-chan.' batin Naruto takut-takut.

Plak!

"Aw! Baa-chan apa yang kau lakukan, itu sakit sekali tau!" Naruto mengusap-usap kepalanya yang baru saja digeplak oleh Tsunade memakai berkas yang ada di mejanya.

"Kau pantas menerima itu! Lagipula kemana saja kau seminggu lebih ini pergi dengan mengabaikan pekerjaan di rumah sakit, hah?" ucap Tsunade dengan kesal.

"Aku ada sebuah urusan."

"Tapi setidaknya kau memberitahukan terlebih dahulu padaku kalau kau ingin cuti, dengan begitu aku tidak perlu khawatir kalau terjadi sesuatu padamu. Memangnya urusan apa yang membuatmu harus menghilang tanpa kabar selama seminggu lebih?" Tsunade memijat-mijat keningnya yang tiba-tiba terasa pusing.

"..."

Tsunade melirik kearah Naruto ketika tidak mendapat jawaban dari pemuda tersebut. Dapat dilihatnya Naruto yang menundukan kepala, sehingga menutupi sebagian wajahnya dari pandangan Tsunade.

Tsunade menghela napas sejenak. "Baiklah kalau kau tidak mau mengatakannya, tidak apa-apa. Lagipula, aku ke sini memanggilmu karena ada hal lain yang ingin kukatakan."

Naruto segera mengangkat kepalanya dan memandang penuh tanya ke arah Tsunade. Tsunade yang melihat raut wajah Naruto itupun segera melanjutkan ucapannya.

"Naruto, beberapa hari lalu aku mendapat perintah untuk mengatakan padamu kalau kau akan dipindah tugaskan ke desa Ame tiga hari lagi. Kau taukan kalau di desa itu tenaga medisnya sangat sedikit," Naruto menganggukkan kepala. "karena itu pemerintah memindahkanmu termasuk beberapa dokter dari rumah sakit lain ke sana. Sebaiknya mulai sekarang kau segera bersiap-siap untuk pergi ke sana dan gunakan sisa waktu untuk berpamitan dengan orang-orang terdekatmu. Aku pasti akan merindukanmu Naruto." raut wajah Tsunade tiba-tiba berubah sendu.

"Apa-apaan kau Baa-chan, aku akan pergi tiga hari lagi. Dan kau bersikap seolah-olah aku akan pergi sekarang!" sungut Naruto kesal.

"Ya, terserah kau saja. Sebaiknya kau cepat keluar dari ruanganku ini dan temui anak kecil itu." ucap Tsunade dengan nada pengusiran.

"Ah! Benar juga, aku hampir lupa." Naruto menepuk dahinya dan berjalan keluar dari sana tanpa mengucapkan pamit terlebih dahulu.

"Haah...anak itu, tidak ada sopan-sopannya sama sekali."

.

.

.

"Tiket sudah, pakaian sudah, sepatu sudah, sikat gigi sudah, um...apa lagi yang belum. Kalau ada yang tertinggalkan bisa gawat."

Di kamarnya, Naruto tengah mengecek semua barang-barang yang akan ia bawa nanti ke desa Ame. Besok dia sudah akan berangkat ke sana, namun ia baru menyiapkan keperluannya sekarang. Padahal Naruto sudah diberi petuah agar menyiapkannya sesegera mungkin oleh Tsunade. Tapi memang dasarnya Naruto ceroboh, ia bahkan lebih memilih menggunakan waktunya untuk istirahat daripada menyiapkan barangnya, "Perjalanan ke ame jauh dan perlu banyak waktu, jadi harus banyak-banyak istirahat untuk mengumpulkan tenaga." itulah alasan yang dia katakan.

"Ah, iya! Aku hampir saja melupakan buku tabunganku, kalau lupa nanti bagaimana aku makan di sana." seru Naruto, kemudian ia berjalan kearah laci meja yang terdapat di samping kasurnya, lalu mengacak-acak isinya.

"Ketemu!"

"Eh? Punya siapa ini?" ucap Naruto ketika mendapati sebuah sapu tangan berwarna ungu yang bukan miliknya berada di laci tersebut. Naruto pun memandang heran benda tersebut, beberapa saat kemudian ia membelalakkan matanya ketika mengingat sesuatu.

"Kalau tidak salah ini milik laki-laki yang waktu itu, deh." Naruto memperhatikan sapu tangan tersebut, kemudian ia mengeryitkan keningnya ketika melihat sesuatu yang berwarna hitam di sudut sapu tangan itu.

"Eh? Ternyata ada tulisannya, apa ini namanya ya?" Naruto makin memperhatikan sesuatu yang berwarna hitam tersebut yang diduga sebagai nama dari pemilik sapu tangan itu.

"Ah, sudahlah. Kurasa aku akan menyimpannya sementara waktu dan mengembalikan pada orang itu ketika aku kesini lagi." ucap Naruto, ia lalu memasukkan buku tabungan serta sapu tangan itu ke dalam kopernya.

"Haah...akhirnya selesai juga. Hoahm...sekarang waktunya untuk tidur." Naruto melangkahkan kaki menuju kasurnya, bersiap-siap untuk tidur. Yah, walaupun jam masih menunjukkan pukul 7:23, tapi setidaknya dia ingin mengumpulkan energi untuk perjalanannya besok.

.

.

.

Itachi tengah duduk di ruang tamu sambil membaca sebuah buku dengan tenang, namun ketenangannya itu langsung sirna ketika ia mendengar suara bel rumah yang berbunyi.

Ting tong!

Setelah bunyi bel itu dapat dilihatnya seorang pelayan yang berjalan tergesa-gesa menuju pintu. Tak lama kemudian pelayan tersebut kembali dengan seorang gadis di belakangnya. Pelayan itupun berbicara sejenak dengan gadis yang ada di belakangnya dan kemudian berlalu menuju lantai dua.

'Sepertinya dia ingin bertemu Sasuke.' pikir Itachi.

Gadis itu melangkah menuju sofa di hadapan Itachi dan mendudukkan dirinya di sana. Ia tersenyum ketika Itachi menatapnya. Itachi yang mendapat senyuman dari gadis tersebut itupun balas tersenyum.

"Apa kau ingin bertemu Sasuke?" tanya Itachi pada gadis di depannya.

"Um, iya. Saya memang ingin bertemu dengan Sasuke-sama, Sasuke-sama memerintahkan saya untuk menyerahkan berkas-berkas yang diminta olehnya."

"Begitu. Ngomong-ngomong perkenalkan, namaku Uchiha Itachi, kakak dari Sasuke." Itachi memperkenalkan dirinya.

"Saya Haruno Sakura, salam kenal Uchiha-sama." Sakura balas memperkenalkan diri.

"Ah ya! Salam kenal juga. Kau sebaiknya tidak perlu seformal itu berbicara denganku, cukup biasa-biasa saja. Panggil saja aku Itachi."

"Ba-baik."

"Sakura!"

Perhatian Itachi dan Sakura teralihkan pada suara seseorang yang tengah menuruni tangga. Sakura berdiri dari duduknya dan menunduk hormat.

"Sasuke-sama."

"Berkas-berkas yang kuminta apa sudah kau bawa?" Sasuke bertanya pada Sakura.

"Sudah. Ini berkasnya Sasuke-sama." ucap Sakura sambil menyerahkan berkas yang ia bawa daritadi.

Sasuke memperhatikan sebentar berkas yang ia pegang. "Hn, bagus. Oh ya, apa kau sudah makan malam Sakura?"

"Tidak, saya belum makan. Memang ada apa Sasuke-sama?" heran Sakura mendapati pertanyaan Sasuke yang seperti itu.

"Tidak, tidak ada apa-apa. Hanya saja aku ingin mengajakmu makan malam bersama kami di sini, lagipula kau belum makan dan sebentar lagi kami akan makan malam. Jadi sebaiknya aku juga mengajakmu untuk makan malam di sini."

"Apa itu tidak apa-apa?" ucap Sakura ragu.

"Kau tidak perlu khawatir." jawab Sasuke menyakinkan Sakura.

"Baiklah, saya akan ikut."

"Kalau begitu kau duluan saja ke ruang makan, aku akan menaruh berkas ini dulu. Dia akan mengantarmu ke sana." tunjuk Sasuke pada pelayan yang memanggilnya tadi.

"Baik, Sasuke-sama."

Sakura pergi bersama pelayan tersebut menuju ruang makan. Setelah Sakura hilang dari pandangannya, Sasuke berniat untuk menaruh berkas yang dipegangnya ke kamar. Namun niatnya harus dihentikan ketika suara kakaknya yang dari tadi diam menginterupsi.

"Baru pertama kali ini aku lihat kau mengajak seseorang makan malam di rumah. Apa dia pacarmu yang pernah kau ceritakan dulu?" tanya Itachi.

"Bukan!" jawab Sasuke seadanya.

"Bukan? Kalau begitu kenapa kau sangat perhatian sekali dengannya? Oh, apa pacarmu itu yang sudah mengubahmu menjadi orang yang berbeda? Ckckck aku tidak menyangka kalau pacarmu itu sehebat ini."

Raut wajah Sasuke berubah menjadi kesal ketika mendengar perkataan Itachi, "Bisakah kita hentikan pembicaraan ini. Dan kutegaskan padamu, aku sudah putus dengan pacarku itu, jadi jangan pernah lagi membahas tentangnya." setelah mengatakan itu Sasuke pun berlalu pergi meninggalkan Itachi yang heran dengan tingkah adiknya.

.

.

.

Hilir mudik manusia terlihat disepanjang mata Naruto memandang di bandara Konoha. Ia kini duduk disalah satu kursi menunggu jadwal keberangkatanya, di sebelahnya terdapat Tsunade yang senantiasa menemaninya menunggu sampai keberangkatannya tiba.

"Apa kau yakin semuanya sudah siap dan tidak ada yang tertinggal?" tanya Tsunade yang entah keberapa kalinya sejak perjalanan menuju bandara Konoha.

Naruto mendengus kesal ketika mendapati pertanyaan sama yang terus keluar dari mulut Tsunade. "Iya, semua sudah siap, aku sudah mengeceknya beberapa kali, kok. Dan bisakah Baa-chan berhenti menanyakan hal yang sama berulang-ulang, itu membuat telingaku panas mendengarnya."

"Sopan sedikitlah bocah kalau bicara dengan yang lebih tua, aku melakukan ini untukmu juga. Kau itu selalu saja ceroboh dalam melakukan suatu hal, jadi aku hanya ingin memastikan kalau kau tidak melakukan kesalahan lagi kali ini."

Naruto ingin membalas perkataan Tsunade, namun niatnya ia urungkan ketika mendengar suara yang mengumumkan kalau pesawatnya akan berangkat. Narutopun segera mengambil koper yang tergeletak di dekat kursi.

"Tsunade Baa-chan, aku berangkat."

"Hm, jaga dirimu di sana dan jangan lupa untuk sekali-kali memberi kabar. Aku pasti akan sangat merindukanmu Naruto." Tsunade memeluk tubuh Naruto, yang kemudian dibalas oleh Naruto.

"Baa-chan juga jaga diri baik-baik. Dan aku juga akan merindukan Baa-chan."

Mereka akhirnya melepaskan pelukan masing-masing. Setelahnya Naruto berjalan menuju pintu masuk pesawat dan melambaikan tangan sebentar kearah Tsunade, Tsunadepun juga turut melambaikan tangannya ke Naruto. Ia kemudian kembali melangkahkan kakinya masuk ke dalam pesawat.

"Sampai jumpa Konoha."

TBC

Balas review!

Kyuubi no kitsune 4485 : Ampuuun...jangan begal aku Kyuu-San (eh?). iya-iya ini lagi aku usahain kok supaya happy end. Mau tau siapa yang ngasih saputangan ya? Khukhukhu... klo itu silahkan tebak sendiri ya. ^_^v

Ngomong-ngomong fic kamu yang judulnya Karma Still Exist dihapus ya? Padahal kan aku pengen tau lanjutannya. T_T

Noe Hiruma : Ternyata kita punya kesukaan yang sma, aku juga sebenarnya suka Naru-Chan yang nggak lemah-lemah gitu. ^_^

Gadingtanuki : Untuk pertanyaanmu alasan kenapa Sasuke minta putus itu ada dichap 1. Silahkan dibaca!

Guest : Heee...maaf klo aku buat Naru-Chan ngemis-ngemis cinta ama Sasu-Teme, habis itu tuntutan cerita jadi apa boleh buat. Sebagai gantinya aku akan coba buat Sasu-Teme menderita dichap kedepan-kedepannya.

Aiko Michishige : Makasih udah mau ngerti aku ya. Itu udah aku lanjut.

FriendShit : Emang Sakura keliatan polos gitu ya? Kok aku nggak sadar klo udah bikin Sakura kayak gitu. -_-a. Itu dah dilanjutin.

RisaSano : Sweetdrop nih aku baca reviewmu. Entah kenapa aku malah bayangin perbudakan yang kayak di Mesir itu. Nih dah dilanjutin.

Rheafica : Makasih buat sarannya, tapi aku pikir" dulu ya, abisnya aku masih bingung untuk kelanjutannya.

Yamamura731 : Makasih saran ya. Akan aku coba untuk memperbaiki supaya lebih bagus.

Lelay : makasih buat Lelay teman sekelasku yang udah mau review. tapi aku saranin supaya ikam kada usah gin baca fic ni, aku takutan klo kaina aku ta-bashing karakter Sakura, pas ikam kada katuju. Amun ikam masih handak baca kada papa ai, tpi jangan sarik lawan aku lah? Lagipula ini tuntutan cerita, jadi tapaksa ai aku buat kayak itu.

Fiuh...akhirnya selasai juga balas review. Ngomong" pas aku baca ulang chap 2 sepertinya alurnya agak sdikit cpat, entah itu perasaanku aja atau memang iya alurnya cepat. Dan untuk reader sekalian klo fic aku ada kesalahan silahkan beritahu aja, dengan begitu aku bsa mencoba untuk mengurangi kesalahan dichap kedepannya, hitung" belajar supaya penulisanku jdi lbih baik.

Jum'at besok aku ultah, jadi buat yang mau review aku benar" sangat berterima kasih sekali. Karna review kalian itu akan jadi kado yang buat aku bahagia. Jadi tolong reviewnya ya! ^_^

Terakhir, aku mau ucapin terima kasih banyak buat yang udah review, favorite, dan alert fic aku, makasih ya semua, yang kalian lakukan benar" buat aku senang.