Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
Pair : SasuNaru, Slight SasuSaku, n XXXNaru
Genre : Hurt/Comfort, Romance (yang diragukan).
Warning : Boys Love/Sho-ai/Homo, mungkin OOC, AU, typo(s), newbei, dan masih banyak lagi kesalahan lainnya.
Klo nggak suka tolong jangan baca, dan bagi yang suka Read n Review.
.
.
.
Sepasang kaki jenjang yang terbalut celana jeans biru dan sepasang sepatu berwarna putih melangkah keluar dari pesawat yang baru ditumpanginya, dilangkahkan terus kaki tersebut hingga akhirnya berhenti karena ulah pemilik sepasang kaki itu yang terlihat kebingungan. Kening dari kepala yang bertahtahkan surai pirang terlihat berkerut ketika sebuah pernyataan muncul di dalam kepalanya.
'Aku 'kan tidak tau rute untuk sampai ke rumah sakit desa Ame, hm...,' kelopak mata berwarna tan itu menutup, menyembunyikan sepasang mata safir dibaliknya. Disilangkannya tangan di depan dada, berpikir keras tentang sesuatu yang bisa menyelesaikan permasalahannya sehingga menyebabkan kerutan di keningnya semakin terlihat jelas. Tak berapa lama sebuah idepun terlintas di kepalanya, sehingga membuatnya kembali membuka mata. 'Ah! Kenapa tidak telepon saja Baa-chan dan bertanya kemana aku harus pergi.' iapun tersenyum lebar karena pemikiran otak pintarnya dan segera meronggoh saku celananya untuk mengambil handphonenya.
"Ah! Dapat!" serunya.
Segera dicarinya kontak yang ingin ia hubungi, setelah dapat ditekannya tombol hijau pada handphone tersebut dan menunggu selama beberapa saat untuk menyambungkan telephonenya.
TUUT...
TUUT...
TU...
"Halo? Ada apa Naruto, kenapa kau menelponku? Apa kau sekarang sudah sampai?" ucap suara di seberang sana yang sudah cukup ia kenali.
"Ya, aku sudah sampai. Um...Baa-chan, ada yang ingin aku tanyakan."
"Memangnya apa yang ingin kau tanyakan?"
"Hehehe... aku tidak tau rute ke Rumah Sakit Ame, jadi bisakah Baa-chan memberitahuku?"
"Ck, sudah kuduga kalau kau akan bertindak ceroboh seperti ini, seharusnya kau itu lebih teliti lagi, Naruto. Untung saja kau masih bisa meneleponku, kalau tidak, mungkin entah seperti apa nanti nasibmu di sana."
"Iya...iya, aku minta maaf, aku akan coba untuk tidak ceroboh lagi. Jadi bisakah sekarang Baa-chan memberitahuku!"
"Hah... baiklah. Dari bandara kau hanya perlu..."
Saat Tsunade menjelaskan pada Naruto, tiba-tiba dilayar handphone Naruto terlihat sebuah peringatan, dan tak lama setelah peringatan itu layar handphonenya berubah warna menjadi hitam. Naruto yang merasa kalau wanita yang ia anggap neneknya itu tidak melanjutkan perkataannya melihat kearah layar handphonenya yang berwarna hitam, ia menekan salah satu tombol, memastikan apakah handphonenya masih menyala. Namun handphone tersebut sama sekali tidak bereaksi, layarnya masih tetaplah hitam tanpa ada cahaya yang menunjukkan bahwa ia masih menyala.
"?!"
"..."
'HEEE..., KENAPA HANDPHONENYA HARUS MATI SEKARAAANG. KALAU BEGINI, BAGAIMANA AKU BISA KESANAAA...!' batinnya berteriak horor.
Naruto pun melampiaskan kekesalannya dengan mengacak-acak surai pirangnya dan menghentak-hentakkan kaki, sehingga menyebabkan ia dihadiahi tatapan aneh dari orang-orang di sekitarnya.
'Nggak nyangka ada juga orang gila yang nyasar ke bandara.' mungkin itulah batin semua orang yang melihat tingkah Naruto.
Puk!
Sebuah tepukan pelan di bahu Naruto menghentikan tingkah konyol pemuda tersebut dan membuatnya mengalihkan pandangan pada sosok di belakangnya.
Dilihatnya sosok tersebut yang ternyata bergender laki-laki, memiliki kulit putih pucat, serta mata dan rambut yang berwarna hitam. Senyum yang entah memiliki arti atau tidak terus terpasang di wajah rupawannya.
"Maaf apa kau yang bernama Namikaze Naruto dari Rumah Sakit Konoha?" ucap sosok tersebut.
"Um... iya, aku Namikaze Naruto." jawab Naruto.
Terlihat sosok itu menghela nafas lega mengetahui hal tersebut. "Ah... syukurlah, akhirnya aku bisa menemukanmu juga. Oh ya, perkenalkan aku Shimura Sai, aku diminta oleh Shizune-sensei dari Rumah Sakit Ame untuk menjemputmu dan salam kenal Naruto." Sai mengulurkan tangannya kepada Naruto.
Naruto menyambut uluran tangan Sai di depannya. "Ah ya, salam kenal." balas Naruto disertai senyum.
Deg Deg Deg
Rona merah muncul perlahan dikedua sisi pipi Sai sering dengan detak jantungnya yang berpacu cepat.
'Apakah aku sudah mati sampai-sampai aku bertemu malaikat di depanku. Tapi setauku aku baik-baik saja daritadi. Atau karena tadi jantungku berdetak cepat dan akhirnya membuatku jadi mati mendadak. Ah sudahlah, aku tidak perduli aku mati atau tidak, satulah yang dapat kupastikan yang berada di depanku ini entah malaikat atau bukan benar-benar...'
"...cantik." gumam Sai.
"Eh? Maaf, kau bilang apa?" tanya Naruto. 'Sepertinya tadi aku dengar dia bilang cantik. Awas saja kalau itu ditujukan padaku, akan kuhajar dia kalau benar. Lalu ada apa dengannya, apa dia sakit sampai-sampai wajahnya merah begitu?'
Sai yang mendengar suara Naruto pun akhirnya tersadar dari acara membatinnya. "Tidak, tidak ada. Lebih baik kita segera pergi sekarang." ucapnya, dan kemudian berjalan mendahului Naruto, mencoba menyembunyikan semburat merah di pipinya.
"Um... baiklah." Naruto menggendikkan bahu, tidak perduli terhadap perubahan rona wajah Sai.
Mereka berdua akhirnya melangkahkan kaki keluar dan menjauh dari bandara yang penuh dengan hilir mudik orang-orang yang ingin berpergian.
.
.
.
Entah kemana sebenarnya Sai membawa Naruto pergi, setelah menempuh perjalanan selama setengah jam mereka berhenti di sebuah bangunan bertingkat yang terlihat seperti apartemen. Naruto hanya menatap bingung pada bangunan di depannya, sebenarnya untuk apa mereka datang kemari.
"Hei, Naruto! Apa yang kau lakukan di sana, ayo cepat ikut aku."
Naruto tersadar dari pemikirannya dan segera berlari menuju Sai yang ternyata sudah berjalan cukup jauh darinya.
"Sai, untuk apa kita ke sini?" tanya Naruto, melepaskan pertanyaan yang muncul di otaknya saat tiba di tempat ini.
"Sudahlah kita naik saja dulu."
Naruto pun hanya meng-iyakan perkataan Sai tanpa berkata lebih lanjut dan menaiki tangga menuju lantai yang lebih tinggi.
Setelah menaiki tangga, mereka akhirnya sampai di lantai yang ingin dituju, yaitu lantai 2 dan mereka berhenti tepat di depan pintu bertuliskan nomor 110. Sai meronggoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kunci, terakhir ia menyerahkan kunci tersebut kepada Naruto.
"Untuk apa ini?" Naruto menatap bingung kunci yang telah beralih ke tangannya.
"Kunci kamarmu."
"Hm?"
Sai menghela nafas mencoba untuk memaklumi sikap Naruto yang sepertinya masih belum paham. "Ini adalah kamarmu. Selama kau di sini kau akan tinggal di apartemen ini." ucap Sai sambil menunjuk pintu yang berada di depan mereka berdua. Naruto pun hanya meng-ohkan perkataan Sai.
"Kamarku ada di lantai 3 kamar 129, jika kau membutuhkan sesuatu kau bisa minta tolong padaku, Naruto."
"Oh baiklah. Kalau begitu terima kasih, Sai."
"Sama-sama, Naruto. Dan kalau kau ingin ke rumah sakit, dari sini kau hanya perlu berjalan 600 m ke depan kemudian belok kiri. Kalau begitu aku pamit dulu Naruto, sampai jumpa lagi." pamit Sai dengan senyumnya.
"Ya, sampai jumpa." balas Naruto sembari tersenyum.
Setelah Sai pergi, Naruto melangkah masuk ke dalam kamar apartemen yang akan ia tempati. Diletakkannya koper yang ia bawa sejak tadi didekat sofa yang berada di ruang tengah.
Kamar yang Naruto tempati lumayan minimalis, terdiri dari ruang tengah, dapur, kamar tidur, dan kamar mandi. Yah, walaupun begitu Naruto bersyukur, setidaknya ia memiliki tempat tinggal daripada tidak ada sama sekali.
.
.
.
Disebuah tempat yang dipenuhi pohon sakura terlihat seorang sosok yang berjalan diantara pohon-pohon sakura yang bermekaran. Kakinya melangkah menuju sebuah pohon Sakura yang cukup ia kenali karena pohonnya yang lebih besar daripada pohon-pohon sakura di sekitarnya. Sosok itu akhirnya sampai di dekat pohon itu, padangannya pun ia alihkan ke atas menatap kelopak-kelopak sakura yang berjatuhan diterpa angin. Kegiatan itu terus dilakukan selama 10 menit, tanpa sedetikpun ia mengalihkan pandangannya dari sana.
"Kuharap aku diberi satu kesempatan lagi untuk bisa bertemu denganmu." ucap sosok itu.
Ia kemudian berbalik dan melangkah menjauh, meninggalkan tempat tersebut.
.
.
.
Pagi menjelang, langit masih seperti biasanya, cerah berwarna biru dan dihiasi sedikit awan putih tanpa ada awan hitam yang mengganggu. Naruto tengah berjalan kaki menuju rumah sakit yang ia tuju. Ia sangat bersyukur jarak apartemennya dengan rumah sakit tidak jauh, jadi ia tidak perlu mengeluarkan ongkos untuk bisa sampai ke sana. Dan ditambah lagi ia bisa sekaligus berolahraga.
Bangunan rumah sakit sudah mulai terlihat dipandangan Naruto, ia segera mempercepat langkahnya menuju rumah sakit tersebut. Sesampainya di sana Naruto segera menuju pintu kaca rumah sakit. Namun baru saja ia memegang ganggang pintu tersebut suara seorang wanita tiba-tiba mengagetkannya.
"Namikaze Naruto-sensei?" ucap wanita itu.
"Ah, ya?"
Wanita itupun tersenyum. "Perkenalkan aku Shizune, salah satu dokter di sini, salam kenal." wanita yang bernama Shizune itu membungkuk.
"Salam kenal, Shizune-sensei." Naruto balas membungkuk.
"Akhirnya kau datang juga, aku sudah menunggumu dari tadi."
Naruto menggaruk belakang kepalanya yang sebenarnya tidak gatal sama sekali. "Ah, kalau begitu maafkan aku karena sudah membuat Shizune-sensei menunggu lama."
"Sudahlah, tidak apa-apa. Kalau begitu kita langsung saja, aku akan mengantarmu ke ruanganmu. Silahkan ikut denganku."
"Baik!"
Mereka pun memasuki bangunan rumah sakit tersebut. Aroma khas obat-obatan pun masuk ke dalam indera penciuman Naruto saat ia sudah memasuki bangunan itu. Bagi sebagian orang pasti tidak suka mencium bau obat-obatan, dan mencium saja mereka tidak mau apalagi memakannya. Tapi jika itu Naruto maka pasti akan berbeda. Ia justru sangat menyukai obat, karena baginya berkat obat-obatanlah manusia bisa sembuh dari penyakitnya dan saat dimana ia bisa melihat rona kebahagiaan di wajah orang-orang yang sembuh dari penyakitnya adalah hal yang paling ia sukai dari semua itu.
"Ini adalah ruanganmu, Naruto-sensei. Kalau kau memerlukan sesuatu kau bisa katakan padaku atau pada dokter dan perawat di sini, tak perlu sungkan." ucap Shizune setelah mereka sampai di depan ruangan yang akan Naruto pakai.
"Baiklah, aku mengerti. Tapi bagaimana dengan pekerjaanku?"
"Mengenai hal itu, sudah ada daftar pasien-pasien yang akan kau tangani di atas meja kerjamu. Jadi kau bisa bekerja sekarang." jelas Shizune.
"Terima kasih, Shizune-sensei."
"Ya, sama-sama. Apa kau perlu hal lain lagi?"
"Tidak, tidak ada."
"Kalau begitu selamat bekerja, Naruto-sensei, dan semoga kau betah di sini. Aku permisi dulu, masih ada hal yang harus aku kerjakan." setelah berucap Shizune pun membungkuk dan dibalas serupa oleh Naruto.
.
.
.
Sai baru saja berniat untuk membeli makan siang disebuah cafe seberang rumah sakit, tapi tiba-tiba saat ia memasuki cafe, secara tidak sengaja ia melihat 'malaikat'nya berada di meja paling sudut cafe tersebut. Ia pun tanpa ragu-ragu melangkah menuju meja yang tengah ditempati 'malaikat'nya tersebut.
"Hai, Naruto!" sapa Sai.
Naruto yang sebelumnya tengah asyik menyantap makanannya pun akhirnya menoleh kesumber suara yang berada di depannya.
"Sai? Sedang apa kau di sini? Dan..." Naruto melirik pada jas putih yang dikenakan oleh Sai. "...kau seorang dokter?" tanya Naruto dengan kernyitan di dahinya dan memiringkan sedikt kepalanya.
"Sebelum aku menjawab pertanyaanmu bolehkah aku duduk di sini dan memesan makanan terlebih dahulu?"
Naruto memutar bola matanya malas mendengar perkataan Sai barusan.
"Ya baiklah, terserah kau saja."
Sai tersenyum mendengar jawaban dari Naruto, ia pun segera memanggil pelayan. Setelah mengatakan pesanannya kepelayan dan pelayan yang mencatat pesanannya pergi, ia segera menjawab pertanyaan Naruto yang dilontarkan kepadanya tadi.
"Baiklah, kembali kepertanyaanmu sebelumnya. Ya, aku sebenarnya juga dokter yang bekerja di rumah sakit yang sama denganmu. Kau tidak tau?"
"Bagaimana aku bisa tau. Kau sendiri saja tidak mengatakan padaku kalau kau itu seorang dokter waktu kita berkenalan."
"Ah, benarkah? Sepertinya aku lupa mengatakannya padamu waktu itu?"
Hening melanda diantara mereka, sampai akhirnya getaran dari handphone milik Sai terasa di saku jasnya. Sai mangambil handphone yang tersimpan di sakunya dan melihat nama si penelpon.
"Naruto, aku permisi dulu, ingin menjawab telephone."
"Hm." Naruto mengangguk.
Sai segera menjauh, mencari tempat yang tenang agar ia bisa mengangkat telephone.
Beberapa saat kemudian Sai kembali, di meja sekarang juga telah tersedia pesanannya tadi, Naruto pun sepertinya sudah menghabiskan makan siangnya. Baru saja ia duduk di kursi suara Naruto tiba-tiba terdengar.
"Siapa yang menelponmu tadi sampai-sampai kau cukup lama kembali kemari? Kupikir tadi terjadi sesuatu denganmu, makanya kau lama pergi." tanya Naruto.
"Wah, tidak aku sangka ternyata kau perhatian juga denganku, Naruto. Apa jangan-jangan kau menyukaiku?" Sai berucap dengan nada riang, menganggap bahwa pertanyaan Naruto tadi adalah wujud perhatian untuk orangnya yang disukainya.
"Siapa yang perhatian, aku hanya penasaran saja. Dan aku sama sekali tidak menyukaimu!" balas Naruto. Raut kekesalan muncul di wajahnya akibat perkataan Sai. Padahal ia bertanya karena penasaran. Eh, malah ditanggapi seperti itu. Mereka kan juga belum lama saling kenal, tapi orang di depannya ini malah menganggap kalau ia memiliki perasaan padanya. Dasar manusia aneh.
"Oh...begitu,"
Raut muka Sai langsung berubah lesu ketika mengetahui bahwa anggapannya salah. Ternyata 'malaikat'nya tidak menyukainya. Tapi, ia tidak akan menyerah semudah itu, ia pasti akan membuat 'malaikat' di depannya ini menyukainya suatu saat nanti. Tidak lama kemudian ia kembali memasang senyum yang selalu terpajang di wajahnya.
"Ngomong-ngomong tadi itu yang menelpon adalah kakakku, atau lebih tepatnya kakak sepupuku." lanjut Sai.
"Kakakmu? Memangnya ada apa dia menelponmu?" tanya Naruto lagi. Sepertinya Naruto sekarang berubah jadi orang yang mudah penasaran.
"Dia hanya menanyakan kabarku dan mengatakan kalau dia sudah pulang dari luar negeri. Sudah lama dia tidak pernah menelponku karena tuntutan pekerjaannya. Oh ya Naruto, kalau tidak salah ingat kau dari Konoha, kan?"
"Iya, memangnya kenapa?"
"Kebetulan sekali, rumah kakak sepupuku ada di Konoha. Kalau kau mengambil cuti dan kembali ke Konoha mungkin aku bisa memperkenalkanmu padanya, bagaimana?"
"Baiklah. Tapi kurasa itu masih lama lagi untuk aku mengambil cuti."
Sai tertawa kecil. "Benar juga, kau kan baru sampai di sini."
"Sudahlah, sebaiknya kau segera makan makananmu itu." Naruto menunjuk makanan Sai yang berada di meja dengan dagunya.
"Ah iya, aku hampir lupa!" pekik Sai pelan.
NARUTO POV
Kulihat Sai mulai memakan makan siangnya yang sudah ia pesan sejak tadi, sedangkan aku hanya meminum jus jerukku yang masih tersisa dari semua menu makan siang yang ku pesan. Pembicaraan yang melibatkan Konoha tadi entah mengapa mengingatkanku dengan laki-laki yang memberiku saputangan waktu itu. Ngomong-ngomong mengenai saputangan dimana aku menyimpannya ya? Kalau tidak salah aku membawanya pagi ini, dimana aku meletakkannya?
Aku memeriksa semua saku yang berada di kemeja, jas, dan celanaku, mencoba mencari keberadaan saputangan tersebut. Sai yang melihat tingkahku yang seakan mencari sesuatu mencoba bertanya.
"Naruto, apa yang kau cari?"
"Bukan apa-apa, aku hanya mencari saputangan." jawabku.
Tiba-tiba aku merasa ada sesuatu kantung kemejaku dan segera saja kutarik sesuatu itu dari sana. Ah! Ternyata saputangan itu, akhirnya aku menemukannya.
"Kalau begitu kau pakai saja punyaku ini." Sai berucap kembali.
"Tidak perlu, aku sudah menemukannya."
Hah... untung saputangan ini tidak hilang, kalau hilang nanti bagaimana aku mengembalikannya. Tapi... rasanya ada yang aneh, inikan hanya saputangan kenapa aku niat sekali ingin mengembalikannya. Lagipula apa mungkin aku bisa bertemu dengannya lagi, kami kan bertemunya secara kebetulan. Tapi tetap saja...
...Kuharap aku diberi satu kesempatan lagi untuk bisa bertemu denganmu.
NARUTO POV END
.
.
.
Salah satu kaca jendela dari sebuah ruangan kantor memperlihatkan warna langit yang sudah gelap, menunjukkan bahwa hari sudah malam. Ruangan kantor yang ternyata dihuni oleh seorang laki-laki itupun hampir saja menyamai gelapnya langit malam, jika saja layar komputer yang berada di dalam ruangan itu tidak menyala. Di samping komputer yang menyala itu terdapat banyak berkas-berkas perusahaan yang menggunung yang sepertinya belum laki-laki itu selesaikan dan diantara berkas-berkas itu terdapat sebuah papan nama bertuliskan 'Uchiha Sasuke' yang juga merupakan nama dari laki-laki itu. Sepasang mata onixnya terus terpaku pada lembaran-lembaran kertas yang berada di tangannya, membacanya semua huruf yang terdapat pada laporan yang telah diberikan bawahannya untuk diperiksa.
Setelah selesai membacanya Sasuke menaruh laporan itu, tangannya seputih porselen yang sebelumnya terus memegang kertas-kertas penting itupun kemudian beralih menuju laci meja kerjanya berniat untuk mengambil pulpen. Dibukanya laci tersebut dan segera mengambil benda yang ia butuhkan, saat ia akan menutup laci tangannya tiba-tiba berhenti mendorong laci itu agar tertutup ketika matanya menangkap sebuah objek yang sangat ia kenali. Sasuke pun mengambil objek itu yang ternyata adalah sebuah foto. Ditatapnya foto itu dengan ekspresi datar.
Ternyata di dalam foto tersebut terdapat dua sosok yang memiliki ciri tubuh yang sangat kontras. Salah satu sosok itu adalah dirinya dan yang satunya adalah Naruto. Di foto dengan background taman bermain itu terlihat Naruto tengah memeluknya dari samping disertai dengan cengiran di wajah, sedangkan dirinya menggunakan salah satu tangannya untuk merangkul bahu Naruto, tak lupa juga seulas senyum tipis yang mungkin tidak terlalu terlihat terukir diparas tampannya. Masih segar di ingatannya saat pengambilan foto itu.
FLASHBACK
Hari libur merupakan hari yang tepat untuk barjalan-jalan dengan keluarga maupun orang terdekat. Hal itupun berlaku bagi Sasuke dan Naruto yang memanfaatkan waktu liburan sekolah mereka untuk berkencan di taman bermain. Terlihat mereka sangat antusias mencoba semua wahana-wahana di taman bermain. Eum... kurasa aku harus meralat tulisanku tadi. Sepertinya lebih tepat dikatakan kalau salah satu diantara mereka yang sangat antusias, sedangkan satunya hanya memasang aura suram karena dari tadi terus diseret kesana kemari oleh sang blonde.
"Dobe, berhenti menarik-narikku, aku sangat lelah dan ingin istirahat sebentar!" ucap Sasuke dengan nafas tersenggal-senggal.
"Tidak bisa Teme, aku ingin menaiki wahana itu!" balas Naruto.
"Kau kan sudah menaikinya sebanyak tujuh kali."
"Tapi, aku tetap ingin menaikinya lagi Teme..." ucap Naruto disertai nada merajuk.
"Kalau begitu kau naik saja sendiri, aku akan menunggu di sini."
"Tidak mau! Aku ingin naik denganmu!"
"Aku sangat lelah Dobe, nanti saja naiknya dan biarkan aku istirahat dulu."
"Eum... ya sudah, kalau begitu kau istirahat saja dulu."
Raut kekecewaan terlihat diwajah Naruto. Sasuke yang melihat raut itupun mengusap rambut Naruto dan berhasil membuat sepasang mata sewarna batu safir memandang kearahnya.
"Sudahlah, jangan berwajah seperti itu. Aku janji setelah aku istirahat, aku akan menemanimu ke sana."
Naruto hanya mengangguk untuk menanggapi perkataan Sasuke.
Mereka berjalan kearah sebuah bangku yang terdapat di taman bermain dan mendudukkan diri mereka di sana. Beberapa waktu dilewati dengan keheningan, namun itu tidak berlangsung lama.
"Teme, bagaimana kalau kita berfoto?" kata Naruto.
"Hm? Berfoto? Untuk apa?" tanya Sasuke.
"Untuk kenang-kenangan saja, kok."
"Hn, baiklah."
Setelah mendapat persetujuan Sasuke, Naruto segera memanggil seorang gadis yang berada di dekat mereka untuk dimintai pertolongan agar memfoto mereka berdua. Merekapun memposisikan diri mereka sebagus mungkin. Sesaat sebelum difoto Naruto menyempatkan diri untuk melihat Sasuke. Ekspresinya pun berubah menjadi merengut ketika mendapati wajah Sasuke yang hanya berekspresi datar. Ia pun menghentikan gadis yang akan segera memfoto mereka.
"Maaf, tolong tunggu sebentar!" ucapnya.
Gadis itu menghentikan gerakannya yang akan memfoto. Dan Sasuke pun hanya mengernyitkan keningnya.
"Teme! Apa-apaan ekspresimu itu, cobalah untuk tersenyum!"
"Aku tidak bisa."
"Apanya yang tidak bisa. Kau hanya perlu menarik bibirmu sedikit ke atas, mudah saja kok."
"Hah... masalahnya bukan itu Dobe, aku tidak ingin tersenyum di hadapan orang lain, dan aku hanya akan tersenyum karenamu."
Mendengar kalimat Sasuke seketika Naruto mendapat sebuah ide.
"Mm... kalau begitu..."
Cup!
Sasuke refleks membelalakkan mata dan menyentuh pipinya yang baru saja dicium oleh Naruto. Rona merah terlihat dikedua belah pipinya, kontras dengan kulitnya yang putih porselen.
"Apa sekarang kau bisa tersenyum?"
Sasuke mendengus geli akibat perlakuan Naruto tadi padanya. Namun akhirnya ia menuruti Naruto untuk tersenyum. Dan kamerapun ditekan.
KLIK!
FLASHBACK END
Sasuke berdiri dari duduknya dengan foto tersebut yang masih berada di tangannya, dilangkahkan kakinya menuju tempat sampah yang berada di sudut ruangan. Setelah sampai ia termenung sesaat memandang foto di tangannya. Namun kemudian diarahkannya tangannya untuk memasukkan foto itu ke dalam tempat sampah, tergabung dengan sampah-sampah lain yang telah dibuang terlebih dahulu karena tidak berguna.
.
.
.
TBC
.
.
.
Balasan review!
RisaSano : Pasangan baru? Mungkin aja kali ya. Kalo sikap dingin sih udah pasti, giliran dong, masa Sasu-Teme terus yang selalu bersikap dingin. Dan persaingan udah pasti akan ada. Aduh ngakak nih bayangin Sasu-Teme berubah profesi jadi stalker. XD Makasih reviewnya.
Aiko Michishige : Ini udah lanjut, maaf kalo lama updatenya dan makasih buat reviewnya.
Noe Hiruma : Iya bakalan nyesel kok nanti Sasu-Teme. Hayo...siapa yang ngasih ya? Nanti bakalan ketauan kok. Makasih untuk ucapan ultah dan reviewnya.
Yuvikimm97 : Hehehe...iya, aku orang banjar, kok bisa tau kalo itu bahasa banjar. Apa orang banjar juga ya? Makasih reviewnya.
Shinpopay : Iya, makasih reviewnya.
Yukiko senju : Wah, ItaNaru? Benar nggak ya? Makasih reviewnya.
Jongie77 : Pengen ItaNaru ya? Tunggu aja deh dulu sampai ketauan siapa orang yang ngasih saputangan. Makasih reviewnya.
Saera : Makasih buat ucapan ultah dan reviewnya.
Justin cruellin : He...memang alay gitu ya? Nggak nyangka aku malah bikin yang kayak gituan hiks #pundung. Oke, bahasanya akan aku coba untuk baikin lagi dan wordnya akan dicoba untuk dipanjangin, tapi nggak jamin ya, habisnya aku nggak terlalu tau bahasa yang benar dan banyaknya word itu aku tulis sesuai ide yang ada di otak. Kalo mengenai Sakura aku bingung juga sih , nggak tau harus dibikin kayak apa. Kalo alasan putus ada di chap 1. Itachi atau bukan ya? Silahkan tunggu di chap ke depannya nanti. Makasih reviewnya.
Dahlia Lyana Palevi : aduh gimana ya...awalnya sih happy end, tapi sekarang keputusanku udah bulat kalau fic ini bakalan happy end, maaf ya. Makasih reviewnya.
Rheafica : Waduh, ada yang bila ItaNaru lagi nih. Kira-kira siapa yang ngasih hayo? Makasih reviewnya.
Vincent Aresh : Gaara ya? Aduh, liat aja deh nanti.^_^v Makasih reviewnya.
Lelay : Bener ya kada apa-apa, nanti kalo kesel lawan fic ini jangan teror aku lah? AKU KADA HANDAK MATI ANUM... XD ^_^v
Halo, sebelumnya aku mau bilang kalo chap ini nggakku edit, jadi maaf kalo hasilnya jelek. Lalu maaf juga kalo aku lama banget update fic ini, abis aku kena WB nih ditambah lagi kemalasan untuk ngetik yang susah ditangani. Dan makasih buat semua yang udah review, fav, follow, dan yang udah mau baca fic nista ini, aku benar-benar terharu T^T. Mungkin chap depan bakalan lama updatenya karena bentar lagi mau MIT, jadi mau fokus belajar dulu,aku sebenarnya kesel mau MIT masa masih dikasih PR , tapi bakalan aku usahain kok supaya nggak lama kayak chap ini. Udah dulu ya, aku mau bobo, nih aku baru aja kena marahin sama mama karena main laptop.
Sampai jumpa chap depan!
